LOWONGAN PERMANENT AUTHOR

Keluarga SFF membuka lowongan untuk PERMANENT author baru.. Bagi yang tertarik silahkan lakukan persyaratan dibawah :

1. Like page kami , join group, dan follow twitter sehingga ketika sudah tergabung di SFF bisa terjalin komunikasi yang baik antara sesama author. Linknya lihat di post di bawah.

2. Kirim ff oneshot kamu beserta format data,serta jawab pertanyaan [lihat dibawah] ke superffiction@gmail.com atau kirim ke Facebook admin [Andreany Tyaskentjana]. Lalu jika sudah beri komen di postingan ini “Saya telah mengirim…” etc.

3. Cantumkan nama lengkap dan keterangan ff kalian baik Genre, Cast, Length, Tingkat Usia Reader misal ada hal berbau sedikit dewasa. Ini juga antisipasi supaya reader sudah mengenal kalian.

4. SFF sadar masih banyak sekali comment yang masuk ke ff yang dipublish disini. Maka, SFF menantang kalian buat bisa dapat 15 comment dari readers. Jika kalian dapat maka kalian akan diloloskan menjadi author di SFF. Maka dari itu ajaklah teman kalian berbondong-bondong membaca di SFF.

5. Aturan SFF adalah fanfict tersebut original, tidak mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, antar golongan), yang terpenting tidak ada unsur kata memicu fanwar atau menghina.

6. Kamu niat dan suka menulis fan fiction dengan boyband/girlband/aktor/artis korea sebagai castnya.  Dan kamu harus punya tiga atau lebih fanfiction di tempat ini ataupun di tempat lain yang mesti kamu tunjukin ke kita. Ini sudah merupakan tuntutan wajib dari admin SFF. Lebih bagus kalo kalian punya bakat tulis-menulis atau sudah berpengalaman.

7. Dapat dipercaya, jujur, dewasa, punya tanggung jawab dan perilaku yang baik dengan orang lain. Kita gak mau kan punya author yang suka marah-marah sama reader ato gampang tersinggung layaknya anak kecil kan??

8.Bagi para author yang telah diterima diwajibkan memiliki account wordpress sendiri.

9. Syarat-syarat di atas bisa berubah sewaktu-waktu oleh admin kita. Admin akan berusaha untuk membuat keputusan yang terbaik dan keputusan tersebut tidak dapat diganggu gugat.

 

Jika kamu setuju dengan syarat-syaratnya, kirimkan email kalian ke superffiction@gmail.com dengan subject “I want to be the author of SuperFF” atau “Saya ingin menjadi Author SuperFF” dengan format seperti di bawah ini, kalian bisa menuliskannya dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris.

  1. Nama lengkap/gender/umur:
  2. Tanggal lahir:
  3. Lokasi [negara dan kotanya]:
  4. Username [biasanya komen pake apa]:
  5. Nomer HP:
  6. FB/Twitter/akun lain [sebutkan jenis akunnya. Misal: formspring]
  7. Situs pribadi kalian [WP/Blogspot/situs lain [sebutkan jenis situsnya. Misal: webs.com]: – Jika tidak punya, dikosongi aja-
  8. Email wordpress kalian: -jika tidak punya kosongi- [tapi jika nanti terpilih diwajibkan memiliki acc WP]

JAWAB PERTANYAAN DIBAWAH INI DENGAN JUJUR AGAR ADMIN BISA MENGENALI KALIAN DENGAN BAIK

  1. Mengapa kamu ingin menjadi author SuperFF?
  2. Seberapa banyak kamu tahu dan suka menulis Fanfics mengenai Boyband/Girlband/Aktor/Artis korea?
  3. Apa kamu pernah menulis fanfic sebelumnya?
  4. Apa kamu pernah menjadi author/admin blog atau website fanfiction? Kalau pernah sebutin website apa dan akun yang kamu punya.
  5. Berapa waktu yang kamu butuhkan untuk membuat satu fanfic one shot atau continued?

Admin akan memberitahu keputusannya melalui sms,email,atau inbox fb paling lambat satu minggu setelah kamu mengirimkan email ke SuperFF.

Sincere,

Keluarga SFF

Visit,Join,and Share

Hello….Hello 😀

First I wanna say Thank You for being our Reader 😀

Then…
I Have a good News for you guys…

finally You can also Visit and Join us On Facebook And Twitter…
😀 😀 😀

How??
Lets Check it…

Just Click This Link http://www.facebook.com/pages/SuperFFiction/100595016693655 And Click Like button

Then Join our Group too http://www.facebook.com/home.php?sk=group_195411463828528&ap=1

And then http://twitter.com/superffiction for our Twitter Account

After You Visiting and Join us dont forget to Tell and Share our Link to your Friends

Lets Read,Love,and Imagine ❤

Thanks For your Cooperation….^^v (peace)

NB: Sorry for my bad english here XDD *Janrang Park

We Love You….

And will always love you….

Thank You…

-Warm Hug-

SuperFFiction Crew~

Read,Love,Imagine,and Comment ^^

Support us Comment Please….. ^^

Read, Love, Imagine, & Comment ^^
Kami sangat menghargai adanya comment dan saran dari readers semua. Sebagai author tentunya comment bagi kami sangat berarti. Comment menunjukkan berapa jumlah reader yang membaca dan menyukai fanfict yang kami buat, serta suatu bentuk penghargaan atas usaha kami. Author sadar, kami masih tergolong baru dalam dunia penulisan fanficts. Kami berusaha memberi yang terbaik pada pembaca dan kami akan sangat senang bila pembaca mau lebih dekat dengan author lewat comment yang diberikan.

Comment kalian adalah semangat bagi author untuk terus berkarya dan membuat fanficts yang memiliki cerita lebih bagus dan berkembang, tanpa kritik dan saran dari readers, author tidak akan bisa mengukur seberapa perkembangan kemampuan menulis author. Author ingin sekali memberi fanficts yang bermutu dan mampu menghibur para readers. Tolong dukung kami dengan comment kalian. Comment kalian sangat berarti, motivasi bagi para author di superffiction. Author jamin comment tidak akan merugikan kalian, sejenak menulis comment tidak akan membuang waktu kok ^^

We’ve rule :

1. No Bashing Characters Etc
2. Dont Be Silent Reader… we need your comment here…
3. Feel relax here ^^

Hope, you’re supporting us with your comment

Like Minhyuk and Jungshin bowing to say thanx to Boices (CN Blue fans), we also say thanx for your support…..
Thanx for your many love readers ^^. Don’t forget to give comment ^^

Gamsahamnida…..

Warm hug

SSF’s Family

We love you readers with all our hearts ^^

END AND || Part I ||

Saya buat FF baru lho  ____ (´・∀・`)ノ

pamer banget sih ( -_-)

Gkgkgkgkgkgkgk ~~

saya iseng-iseng buat FF baru  (^Д^)フ

yang jadilah begini ….

semoga yang baca suka   o(≧▽≦)o♪

selamat membaca (>w<*) (´ω`*)

Cerita ini hanya karangan FIKTIF, TIDAK MENJIPLAK, ASLI, dan HANYA SAYA YANG MEMBUATNYA.

endand copy

Dan pada saat itu aku terdiam tanpa kata. Aku bungkam dihadapannya, tapi dia malah tersenyum lebar menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku.

Semua bermula karena aku mendatanginya diperpustakaan.

Ketika aku duduk merenung didalam kelas, seorang yeoja yang merupakan temanku memanggilku, “hei! Hanni, kamu dipanggil ke perpustakaan”

“ne? siapa yang memanggilku?”

“molla, katanya datang saja” lalu yeoja yang memberi tahu padaku pergi begitu saja.

Awalnya aku bimbang untuk datang ke perpustakaan, tapi apa daya kaki ku sudah mebawaku kedepan pintu perpustakaan yang besar ini. Aduh… bagaimana ini?? Apakah aku harus masuk ke dalam???

Ah, mungkin seonseaengnim memanggilku. Eh, tapi kalau seonsaengnim yang memanggil pasti disuruh keruang guru. Aku pun jadi dilema..

Dan akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku membuka pintu yang besar ini dan aku melangkah masuk kedalam ruangan yang luas ini. Tapi apa yang kudapat? Hanya sebuah ruangan luas yang sangat sepi yang dipenuhi dengan banyak buku dan tiada satupun orang disini, hanya sebuah ruangan luas yang terkena seberkas cahaya matahari dari luar sana.

Jantungku berdegub kencang, ingin rasanya aku pergi kembali ke kelas tapi hatiku berkata bahwa ada seseorang yang menungguku walaupun aku tidak melihat siapapun disini.

“ternyata kau sudah datang” tiba-tiba terdengar suara namja yang aku tak tahu dari mana arahnya. Aku berputar ditempatku berdiri dan lagi-lagi hanya ruangan tanpa ada manusia disini. Sekarang pikiran ku tercampur aduk antara manusia atau hantu yang berbicara atau jangan-jangan benda-benda disini bisa berbicara. Huhh.. sungguh pemikiran yang tak masuk akal.

“ahh~ kau takut ya?” suara itu muncul lagi. Suaranya sangat asing ditelingaku.

“nuguseyo?” tanyaku

“aaa.. rambutmu halus dan lembut ya..” ya, dia memegang rambutku dengan lembut, tapi tentu saja aku sangat terkejut. Aku langsung membalikkan badanku menghadapnya.

“hei!! Apa mau mu? Kamu siapa?” Tanya ku bingung. Aku sama sekali tak mengenali wajahnya.

“kamu tidak tahu aku? Padahal aku sangat terkenal disekolah ini, bahkan hampir seluruh dunia mengenalku. Seharusnya kamu mengenali ku sebab aku adalah Lee Seunghyun. Panggil saja Seungri” jawabnya dengan percaya diri sambil mebuka lebar tangannya.

Pertama, aku menelaah dulu perkataannya. Kedua, mata ku terbelalak. Ketiga, jantungku berdegub lebih kecang dari sebelumnya. Terakhir, aku ingin cepat-cepat pergi dari sini ketika aku mengetahui namanya.

“o? s,seu, seungri???!”

Dia terseyum menandakan iya.

OMWO!!? AIGOOYAA~~!! Ini yang namanya Seungri?? Ternyata memang imut seperti kata mereka. Oh, tidak, tidak, aku tidak boleh tergiur akan keimutannya. Oh iya, aku baru ingat kalau tidak salah dia anak pemilik perusahaan Samsung Electronics yaitu perusahaan teknologi terbesar di dunia yang memiliki hampir 80 anak perusahaan. Tapi dia sangat terkenal dengan sebutan playboy. Hampir seisi sekolah menyukainya dan yang kutahu para seonsaengnim juga ikut menyukainya.

“apa tujuanmu memanggilku?”

Je t’aime” jawabnya sambil tersenyum. Tapi aku tak mengerti apa yang dia katakan.

“nde??”

“hahaha, johahae”

Aku terdiam tanpa kata ketika mendengar ucapannya. Tapi aku tetap menahan diri, “lalu?”

“kau harus jadi kekasihku”

Aku bungkam dihadapannya, tapi dia malah tersenyum lebar menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku,

“omwo? Aku tidak salah dengar??” aku mulai heran apa maksudnya berkata seperti itu.

“aniyo. Kau harus jadi kekasihku, menjadi milikku. Itu saja. Gampang kan?”

“untuk apa? Lagipula aku tidak mau. Mian”

“o??! apa yang kurang dariku? Aku tampan, aku kaya, aku pintar, disenangi banyak orang, aku terkenal, dan masih banyak hal yang bagus tentang diriku”

Cihh.. Percaya diri sekali dia.

“kau kira aku perempuan yang begitu saja akan menerimamu? Maaf, aku tidak seperti itu.” Jawabku. aku kesal atas sikapnya yang sangat percaya diri itu. Andaikan aku tidak datang kesini.

Aku melangkah menuju pintu perpustakaan yang tertutup itu.

“hei, hei!! Jamkkanman!”  teriaknya dari belakangku

“wae?”

“aku tidak akan menyerah” ucapnya dengan semangat

“aa~ ne, terserah kamu saja” jawabku lalu aku pergi meninggalkannya.

-Seungri PoV-

Sial, baru kali ini ada yang menolakku. Dasar tidak sopan. Lihat saja, pasti aku akan mendapatkan hatinya. Hahahahahhahahahahaha~~  sebab semua yang kuinginkan pasti akan kuraih dengan tangan ku sendiri,  GWAHahahahahaha

*****

Disisi lain.. para murid perempuan di Seoul Performing Art High School memuja-muja 5 orang murid laki-laki yang memang sangat terkenal dan bisa dibilang mereka unggul dibidang apapun. Dan 5 namja itu diberi julukan BIG BANG.

“cihh, lagi-lagi mereka membicarakan 5 cowok tengik itu” ucap seorang yeoja dengan nada kesal.

Lalu yeoja itu pergi ke taman sekolah dan dia mengomel sendiri.

“apa sih bagusnya 5 orang itu??! Hah??!!” dia menendang sebuah kaleng kosong yang ada didepan kakinya dan kaleng kosong itu melesat jauh ke angkasa.

DUAAKK

“AUWWW!!” rintih seorang namja dari kejauhan.

“hei!!! Siapa yang menendang kaleng kosong ini???!!! HEII!!” amarah yang tak terkalahkan keluar dari namja itu.

“aigooo, jangan-jangan itu Kwon Jiyong?? Aku barusan nendang kaleng, terus kena kepalanya? Aissshhh.. sial” yeoja yang menedang kaleng kosong itu hendak kabur tapi dia tertangkap basah oleh Kwon Jiyong dan teman-temannya.

“HEEIII!! Dasar tidak tahu sopan santun! Kamu tahu, kaleng kosongmu itu mendarat di kepalaku. Cepat minta maaf.” suruh Jiyong pada yeoja itu.

“salahmu sendiri! Kenapa kamu taruh kepala disitu??!” jawab yeoja itu

“nde??? Kau ..” marah Jiyong, kata-katanya terputus karena temannya berbicara.

“o, o, o, ternyata Park Janrang. Murid kelas 2B, yang kabarnya menjadi murid terpintar keempat disekolah dan sangat membenci 5 anggota BIG BANG” kata temannya yang nyatanya bernama Choi Seunghyun.

 

Cihh, Cihh. Cihh. Sial. Orang ini muncul pula. Batin si yeoja yang bernama Park Janrang itu

“OMWO??!! OMWO??!! Kamu membenci BIG BANG??! Hahh??? Sungguh tidak bisa kupercaya” kata yang satu lagi bernama Kang Daesung

“hei, hei, sudahlah. Jiyong, maafkan saja dia.” Kata salah satu dari mereka yang bernama Dong Yong Bae.

Cihh, dia mau pura-pura mengasihaniku ya? Dasar tidak sopan. Batin Janrang

“sudahlah, biarkan saja dia. Ayo kita cari Seungri lagi.” Kata Yongbae lagi.

“baiklah, berterimakasihlah bahwa kali ini aku memaafkanmu” kata Jiyong sinis.

“o,” jawab Janrang. Dia menatap tajam keempat orang yang berlalu meninggalkannya itu.

##To Be Continued

From Hearts {Meeting With Destiny} (Part 1)

Alih2 nge stuck saya rilis ff lagi xDD cast nya sama disini.. si Yoochun sebagai tokoh utama ^^

Happy reading~ ^o^

..::o::..

Title : From Hearts (Meeting With Destiny)

Author : Hota

Cast : Park Hanni (OC), Park Yoochun (TVXQ’s Micky), Kim Jaejoong (TVXQ’s Hero), Hwang Miyoung (SNSD’s Tifanny).

Other Cast : cari ndiri -_____-“

Type : Straight

Genre : Romance, Drama, Sad, Angst

Rating : PG-15

Length : 1/?

OST : TVXQ – Love Is, Yiruma – Do You?

Warn : Typo(s), Miss typo(s), EYD salah mulu, kagak rapi,plot gaje, ide cerita ngawur, serba gaje pokoknye.. Ini asli karangan dari imajinasi aye.. siap2 yang bilang aye plagiat ato ngeplagiatin masuk neraka.. =_=

NB : oh ya, ini dilengkapi beberapa soundtrack biar dapet feelnya.. xDD kalo yg belum punya cari aja digoogle pasti dapet kok xD tapi, sebenarnya aku gak begitu ngerti makna lagu nya apa.. Cuma ngikutin musiknya aja soalnya menurutku cocok xD #nyemplung sumur

..::o::..

Seorang pria tengah berdiri di samping sebuah pusara yang terlihat masih baru. Langit cerah yang membumbung tinggi di atasnya seakan menjadi hal yang berbalik mengenai perasaan di hati pria itu. Angin kecil membelai pipinya, mencoba untuk menghiburnya dari keterpurukan yang dialami olehnya. Hatinya yang hancur dan jiwanya yang terasa kosong… itulah yang terjadi jauh dalam dirinya.

Kehidupannya mulai berangsur-angsur terasa hampa.. Membuatnya seakan hidup di dalam kematiannya. Raganya hidup, tetapi hati dan jiwanya sudah mati.

Mata bening pria itu.. Menggenang banyak air mata yang begitu menyakitkan. Ingin ia menumpahkan semuanya. Ini semua begitu berat untuknya. Bisakah kau merasakan betapa sakitnya jika kau harus ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kau cintai?

Dengan rasa sedih dari puing-puing hatinya yang sudah remuk itu,ia berlutut. Kakinya begitu lemas, bahkan hanya untuk menahan beban tubuhnya sendiri. Tangannya menggenggam tanah pusara itu. matanya berkaca-kaca. Dan tak lama..

Tes..

Air mata itu mengalir dari pipinya. Membasahi sebuah titik dari pusara itu. Ia menangis…

“Hanni-ya…” pria itu mengucapkan sebuah nama ditengah isaknya yang memilukan. Pria itu.. adalah Park Yoochun. Yang kini merupakan salah satu pria termalang. “Park Hanni…” ia tetap menangis. Kepalanya menunduk karena merasa begitu terpukul. Nyaris bibirnya menyentuh pusara itu.

Jauh di dalam pikirannya, ia kembali memutar masa lalu yang sudah dirajutnya dalam memori. Memori itu manis, tetapi menyakitkan. Memori yang berhasil ia ciptakan dengan wanita itu. Wanita yang bernama Park Hanni. Park Hanni yang sangat dicintai oleh Yoochun, namun ia sudah pergi meninggalkan Yoochun ditengah-tengah kesepiannya…

(Ini ceritanya kayak flashback gitu yah.. okeh? xD)

::Flashback ON::

..::o::..

(“TVXQ – Love Is” playing..)

Seorang gadis tengah berlari secepat yang ia bisa menyusuri trotoar Gang-hwamun yang tampak ramai di pagi menjelang siang itu. Langkahnya yang begitu cepat pun tak urung menabrak beberapa orang yang berada di sekelilingnya ketika ia berlari.

“Ah, jeongmal choseonghamnida.. jeongmal choseonghamnida..” gadis itu berkata demikian sambil membungkukkan badan nya beberapa kali ketika ia sudah menabrak beberapa pejalan kaki saat ia tengah berlari. Dan setelah berkata demikian, ia pun kembali melanjutkan langkah larinya.

Ia pun masih berlari dengan kencang ketika ia hendak menyebrangi zebra cross di tengah jalan. Tanpa memperhatikan lampu jalan untuk para pejalan kaki, gadis itu langsung saja melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan. Yeah, ini semua terpaksa ia lakukan karena ia merasa begitu terburu-buru.

Gadis itu pun melangkahkan kakinya dengan cepat menyebrangi zebra cross itu, tetapi tiba-tiba saja..

Ciitt…!!

“Hyaaa~!!” gadis itu langsung berteriak dan berjongkok di aspal seketika saat menyadari ada sebuah mobil yang hampir menabraknya. Dalam posisi jongkoknya, ia memejamkan matanya sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia begitu takut dan refleks saja berjongkok.

Mobil yang hampir menabraknya itu pun berhenti mendadak tepat di depan gadis yang masih memejamkan matanya dengan takut itu. Bibir gadis itu bergetar. Sedikit memanjatkan doa sembari berbisik agar Tuhan mau memberikannya kesempatan untuk hidup.

Dari mobil itu, terdengar suara pintu mobil yang terbuka oleh sang pengemudi. Pengemudi yang rupanya seorang pria berjas dokter itu menghampiri gadis yang hampir ditabraknya. Dengan perasaan yang cukup kesal, pria itu berdiri tepat di samping gadis itu.

“Hei, nona! Bangunlah! Aku tidak menabrakmu!”ujar pria itu pada si gadis.

Pria yang bernama Park Yoochun itu mendengus kesal karena gadis yang ditegurnya itu tidak mau bangkit dari posisinya yang masih berjongkok ketakutan. Park Hanni, nama gadis itu, masih belum mau menggubris Yoochun karena masih terlalu ketakutan.

Yoochun berdecak. Ia pun berjongkok dan menepuk pundak Hanni. Ketika Yoochun mendekatkan tubuhnya pada Hanni, ia mendengar bahwa gadis itu tengah memanjatkan doa-doa dengan begitu khusyuk, “Nona, kau tidak mati. Kau masih hidup. Jadi, tenanglah..” Yoochun berkata demikian sambil menepuk pundak Hanni bermaksud untuk menyadarkan gadis itu atas keberadaannya.

Mendengar suara Yoochun, Hanni membuka matanya. Ia memutar kepalanya menghadap Yoochun hingga matanya menangkap sosok tampan itu. Tetapi, Hanni malah memasang raut wajah kesal pada Yoochun. Alisnya menukik dan mempout-kan bibirnya. Hanni bangkit berdiri dari posisinya. Ditatapnya pria itu, Park Yoochun, dengan pandangan marah.

“Hei, kau! Kau mau membunuhku yah?!” Hanni membentak sambil mengepalkan tangannya. Matanya memandang Yoochun berkilat-kilat tajam.

Yoochun menghela nafasnya. Begitu jengah bila harus menghadapi gadis yang sepertinya merepotkan ini. “Kau yang menyebrang sendiri tanpa memperhatikan lampu untuk pejalan kaki,”balas Yoochun datar.

Hanni terdiam sebentar. Matanya menerawang lurus ketika ia sedang memikirkan satu hal. Oh ya, tadi ia sedang terburu-buru. Ya ampun! Sekarang sudah jam berapa?! Hanni semakin terlambat dan itu membuatnya semakin panik. Ia sungguh tidak mau bila ia harus dimarahi oleh boss nya karena datang terlambat saat bekerja.

“Omona! Aku harus pergi sekarang! Jeongmal choseonghamnida! Sampai jumpa!” Hanni berkata demikian seraya membungkukkan badannya pada Yoochun. Sejurus kemudian ia pun kembali melanjutkan larinya dengan kecepatan yang melebihi sebelumnya.

Menyadari bahwa Hanni kini tengah berlari meninggalkannya, Yoochun menghela nafas. Ditatapnya punggung gadis itu yang semakin menjauh darinya. Dengan mata yang masih mengikuti gerak-gerik gadis itu yang masih berlari, Yoochun mengulas senyuman kecut dibibirnya.

‘Pagi-pagi begini sudah mengalami kesialan..’

Dan ia pun melangkah menuju pintu mobilnya dan kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat yang menjadi tujuannya sejak tadi…

..::o::..

*Hanni POV*

Aku membuka pintu toko bunga yang merupakan tempat kerjaku dengan terburu-buru karena aku datang dengan waktu yang sangat terlambat. Ya Tuhann.. sudah pukul berapa ini? sudah tahu aku mendapat shift pagi pukul delapan, tapi mengapa aku datang pukul sepuluh?! Aish.. Park Hanni babo!

Dan ketika membuka pintu toko, kulihat bossku sudah berdiri di dalam toko sambil menatapku tajam. Tangannya ia lipat didada dan raut wajahnya dengan sangar tertunjuk padaku. Aku menelan ludahku gugup. Oh tidak.. aku akan kena omel.

Dengan langkah ragu, aku pun maju beberapa langkah ke arah bossku. “Maafkan aku, boss.. tadi ada masalah di jalan..”ujarku takut-takut sambil membungkukkan badanku pada boss. Mengingat tadi aku memang ada masalah dengan seorang pria di jalan yang tidak kuketahui siapa namanya. Tapi, alasan yang sebenarnya karena aku sibuk mencari lowongan pekerjaan hingga larut malam diinternet.

Tetapi, tiba-tiba saja..

Bletakk!

Aku meringis kesakitan setelah mendapat jitakan keras dikepalaku dari boss. Aku pun mengangkat kepalaku sambil mengelus kepalaku karena kesakitan. Gigiku merapat untuk menahan rasa sakitnya.

“Kau selalu saja membuat alasan! Apa yang membuatmu terlambat?! Sudah beberapa hari ini kau terlambat dan kau selalu membuat alasan yang sama!”amuk bossku.

Aku berdecak, “Aish.. aku memang ada masalah tadi dengan seseorang di jalan. Kali ini aku serius,” aku cemberut.

Bossku menghela nafas. Sepertinya lelah karena aku memang tidak mau mengalah jika harus berdebat. “Ya sudah, kau bekerja lah sekarang. Cepat sana kau gunting dahan bunga yang sudah jelek agar pembeli tetap mau datang!”pintanya dan kemudian pergi meninggalkanku.

“Baik, boss..”jawabku dan langsung pergi ke toilet untuk mengganti pakaianku dengan seragam toko bunga ini.

Yeah, begini lah aku.. aku memang bekerja di toko bunga empat bulan belakangan ini. Aku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupku.. dan juga kakak perempuanku. Kini, aku butuh uang untuk perawatannya di rumah sakit. Beberapa bulan ini, ia memang dirawat di rumah sakit karena koma akibat kecelakaan yang ia alami. Eonni hanyalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku tidak peduli seberapa mahalnya tagihan rumah sakit untuk merawat Eonni, tetapi aku harus tetap bertahan. Aku akan terus mencari uang dan kemudian Eonni bisa kembali sadar dan menemaniku. Aku sudah lelah hidup sendiri selama ini.

Sebelum Eonni dirawat, kehidupan kami lancar-lancar saja karena Eonni juga bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan. Tetapi, itu semua menjadi sulit ketika perusahaan itu bangkrut dan kemudian Eonni mengalami kecelakaan. Dan begitulah.. hidup ini begitu sulit. Hanya semangat yang paling berharga dan terdapat dalam diriku.

Oleh sebab itu, aku akan terus melakukan hal yang terbaik untuk bertahan hidup.

..::o::..

*Author POV*

Yoochun memasuki ruangannya yang kini sudah ada seorang wanita yang duduk di salah satu kursi ruangannya. Yoochun mendapati wanita itu kini tengah berdiri dan tersenyum padanya.  Wanita cantik dengan pakaian modis dengan rambut panjang cokelat bergelombang. Yoochun menutup pintu. Ditatapnya wanita itu dengan pandangan datar.

“Pagi, Yoochun-ah..”sapa wanita itu dan melangkah mendekati Yoochun.

Yoochun menghela nafas menyadari keberadaan wanita itu. Dan ketika tangan wanita itu terjulur untuk merapihkan jas dokter yang dikenakan Yoochun, Yoochun menghindar dan menjauhi wanita itu. Yoochun duduk di kursinya tanpa berkata apapun atau menganggap wanita itu ada.

Wanita itu tersenyum getir menyadari penolakan Yoochun. Ia sempat hampir putus asa ketika menyadari betapa dinginnya sikap Yoochun kepadanya. Wanita itu adalah Hwang Miyoung. Seorang gadis cantik yang merupakan tunangan Yoochun. Wanita itu bekerja sebagai pemilik sebuah boutiq terkenal di Seoul. Seorang gadis kaya dan penuh prestasi dengan segala usaha mengembangkan bisnisnya itu. Tetapi, entah mengapa seluruh kelebihan Miyoung tidak dapat mengambil hati Yoochun yang dingin seperti bongkahan es itu? Miyoung mencintai Yoochun, meski pria itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Bagi pria itu, perjodohan yang dilakukan oleh pihak orangtua nya dan pihak orangtua Miyoung adalah beban untuk Yoochun. Tetapi, dibalik semua itu Miyoung bersyukur atas perjodohan ini. Ini semakin membuka jalan Miyoung untuk memiliki Yoochun. Tentu saja karena Miyoung memang sudah jatuh cinta pada Yoochun.

“Yoochun-ah, lihat. Aku membawa makanan untukmu. Apa kau mau?” Miyoung menawarkan sebuah kotak bekal pada Yoochun sambil mengulum senyuman diwajahnya.

Yoochun yang saat itu tengah membaca dokumen tentang pasiennya menghela nafas bosan. Ia sangat malas jika harus menghadapi wanita yang tidak disukainya ini. “Letakkan saja diatas meja, nanti aku akan memakannya. Sekarang kau keluarlah dari ruanganku. Praktekku akan segera dimulai..”

..::o::..

(“Yiruma – Do You?” playing..)

Hanni berdiri diambang pintu sebuah kamar dirumah sakit ketika ia membuka pintunya. Dengan perlahan, tangannya bergerak untuk menutup pintu itu. Langkah kecilnya mengantar tubuh itu menuju ranjang yang tergolek sebuah tubuh wanita yang begitu lemah dan tidak berdaya. Wanita yang kini tengah koma dalam keadaan yang menyedihkan.

Hanni duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang. Ia tersenyum saat melihat wajah Eonni nya yang masih terlihat cantik meski tampak pucat dan matanya yang menutup sempurna. Suara mesin rumah sakit yang memeriksa denyut jantung Eonni nya yang lemah terdengar jelas ditelinga Hanni.

Tangan Hanni bergerak menggenggam tangan Eonni nya yang terulur begitu saja. Hanni menggenggam tangan wanita itu penuh dengan kehangatan dan penuh kasih sayang. Melawan rasa dingin yang menyelimuti tangan kurus Eonninya itu.

“Janrang Eonni..” Hanni membisikkan nama Eonninya itu. Yeah, Park Janrang. Itulah nama wanita cantik yang menjadi kakak perempuan Hanni itu. Wanita yang kini tengah terbujur koma, berada diambang kehidupan atau kematian.

“Kau bertahanlah.. aku akan selalu berjuang untuk Eonni. Sampai kapanpun aku akan terus berjuang..” Tak terasa gadis itu mulai menititkkan air matanya. Ia mengucapkan kata yang begitu tulus yang keluar dari dalam hatinya. “Oleh sebab itu, ayolah Eonni. Buka mata mu.. aku ingin melihat Eonni tersenyum lagi. Meskipun itu hanya sebentar, aku benar-benar ingin melihatnya,” Hanni benar-benar menangis sekarang. Tak kuasa menahan beban yang ia coba untuk memikulnya selama ini.

Tetapi tiba-tiba, pintu ruangan itu dibuka dari luar tanpa sepengetahuan Hanni. Hanni terkejut ketika menyadari seseorang telah membuka pintu ruangan itu dengan cukup kasar. Ditatapnya seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu dan tengah menatap Hanni. Hanni buru-buru menghapus air matanya dan bergerak mendekati pria itu. Pria yang cukup tampan, meski sekilas tampak cantik, dengan rambut cokelat almond itu membalas tatapan Hanni.

“Maaf, anda mencari siapa?”tanya Hanni sambil memandang pria itu bingung.

Pria itu terlihat canggung sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Eungg, maaf.. Apakah ini kamar nomor 67?”tanya pria itu pada Hanni.

Hanni mengerutkan keningnya, “Ini kamar nomor 54,”Hanni menunjuk sebuah papan nomor yang tergantung di pintu.

Lantas pria itu membuka mulutnya terkejut. Ia berdecak dan bergumam sendiri mengutuk dirinya karena kebodohan sendiri. “Ah, jeongmal choseonghamnida. Aku terburu-buru jadi tidak sempat melihat papan nomornya. Maafkan aku..” pria itu membungkuk penuh dengan rasa bersalah pada Hanni. Pria itu pun mengulas senyuman manis sebelum ia pergi meninggalkan Hanni yang masih berdiri di ambang pintu.

Hanni masih tetap berdiri di tempatnya sambil menatap pria itu yang kini berjalan cepat meninggalkannya. Sepertinya ia memang tampak terburu-buru.

Tetapi, ketika mata bening Hanni menatap pria itu, ia menggumam kecil. “Pria itu.. sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana, ya? Di TV? Ah, tidak mungkin..”

..::o::..

Jaejoong menolehkan kepalanya kearah samping kanan dan kiri mencari kamar bertuliskan nomor 67 di pintunya. Di dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya karena tadi sempat salah memasuki sebuah ruang inap yang bukan tujuannya. Jaejoong merasa malu ketika menyadari bahwa ada seorang wanita disitu yang mengetahui kebodohannya.

“Aish, bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu, Kim Jaejoong?!”

Jaejoong memaki dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa malu. Hingga akhirnya, mata besar pria itu menangkap sebuah pintu yang berpapan angka 67. Ia tersenyum puas ketika sudah menemukan pintu yang sudah dicarinya. Tangannya terjulur membuka kenop pintu.

Dan ketika pintu terbuka dan sosoknya muncul diambang pintu, dua manusia yang berada di dalam ruangan itu langsung mengalihkan pandangan seutuhnya pada Jaejoong.

Jaejoong tersenyum pada beberapa orang itu, tetapi senyumannya langsung memudar ketika melihat seorang pria yang sebaya dengannya tengah dalam posisi tertidur. Pria yang dilihat Jaejoong itu penuh dengan perban ditubuhnya dan kakinya serta tangannya yang patah itu memakai gips. Jaejoong berdecak ketika melihat kondisi pria yang dipandangnya itu. Berdecak antara kasihan dan kesal.

“Jaejoong-ah, kau kemari?” seorang rekan kerja menegur Jaejoong.

Tetapi, Jaejoong tidak menggubrisnya dan melangkah cepat kearah pria yang tengah tergolek di atas ranjang. “Ya, Kim Junsu! Bagaimana bisa keadaanmu jadi begini?! Sudah kubilang jika kau tidak mengikuti lombar bersepeda gunung itu kau akan baik-baik saja!” Jaejoong mengomel pada pria yang kini keadaannya cukup menyedihkan itu, yang bernama Kim Junsu.

Junsu yang melihat Jaejoong mengomel, mendecakkan lidahnya. Ia menatap Jaejoong dengan tatapan “dasar cerewet”. Junsu menatap Jaejoong kesal, “Ya, kau bisa sekali bicara seperti itu, hyung?! Aku ini kan adikmu!”

“Justru karena kau adikku, aku mengomelimu seperti ini! dasar dongsaeng bodoh! Bodoh!” tangan Jaejoong melayang diudara hendak menjitak kepala Junsu.

Junsu pun langsung memejamkan matanya mencoba untuk siap menerima jitakan Jaejoong. Tetapi, melihat Junsu dalam keadaan baru saja mengalami kecelakaan, Jaejoong membatalkan niatnya untuk menjitak Junsu. ia menurunkan kembali tangannya. Pria itu menghela nafas. Sebenarnya ia memang marah pada dongsaengnya itu, tetapi ia juga tidak tega. Bayangkan saja bagaimana perasaanmu ketika mengetahui adik kesayanganmu mengikuti lomba bersepeda gunung tergelincir jatuh dari puncak bukit hingga terguling-guling dan terbentur bebatuan..

Yeah, hal itu lah yang dialami Kim Junsu.

“Junsu-ya, kau benar-benar membuatku repot. Aku baru saja melakukan tur konser di luar negeri dan langsung buru-buru kembali ke Korea setelah mendengar keadaanmu begini..” Jaejoong kali ini berbicara dengan nada yang lebih lembut. Tidak tinggi seperti tadi.

Benar. Kim Jaejoong. Si penyanyi solo dan merupakan Hallyu Star yang kini tengah naik daun. Hero Jaejoong.. Siapa yang tidak tahu penyanyi terkenal yang satu itu? Pria tampan dan mempesona.. Semua wanita memujanya. Semua wanita tergila-gila dan terhipnotis atas dirinya. Sudah hampir satu dekade Jaejoong menjalani hidupnya sebagai penyanyi solo yang tenar. Dan tentu saja, Jaejoong menikmati semua itu..

Junsu yang mendengar perkataan Hyungnya itu memajukan bibirnya. Bibir tipis Junsu dengan berat mengeluarkan kata ; “Maaf, Hyung…” begitulah ucap Junsu dengan nada yang berat hati. Ia menyesal telah membuat Hyung nya yang super sibuk ini menjadi cemas karena nya. Seharusnya ia menuruti perkataan Jaejoong untuk tidak mengikuti perlombaan tersebut, karena bukit yang menjadi lokasi lomba sering dilanda kabut yang cukup tebal.

“Sudahlah. Semua sudah terjadi.. Aku akan meminta pada pihak rumah sakit untuk memindahkanmu ke ruang VIP,” Jaejoong berkata putus asa. Ia duduk di sebuah kursi yang berada di sisi ranjang Junsu. “Bagaimana keadaanmu? Kaki dan tangan kananmu patah, eoh? Ah, apa bisa cepat sembuh kalau parah begini? Kau sudah harus menjalani perusahaan Appa dua minggu lagi, Junsu,”ujar Jaejoong. Rasa khawatir terpancar jelas dari dalam matanya.

“Aish, maka dari itu doa kan aku cepat sembuh!” kesal Junsu. Jaejoong yang mendengar perkataan adiknya itu berdecak kecil. Ditatapnya tubuh Junsu yang penuh luka dengan pandangan tak tega. “Oh ya, hyung. Bagaimana kau bisa sampai disini?”tanya Junsu pada Jaejoong.

Jaejoong yang mendengar pertanyaan Junsu, merubah ekspresinya menjadi seakan-akan teringat akan sesuatu. Otaknya memutar kejadian dimana ia salah memasuki ruang inap. Dan disana, ia bertemu dengan seorang gadis yang tampak menderita. Tetapi, gadis itu membuatnya malu karena gadis itu tahu kebodohan yang sudah Jaejoong perbuat. Jaejoong yang tahu bagaimana raut wajah gadis itu ketika mengetahui kesalahan yang sudah Jaejoong perbuat, mengacak rambut sedikit frustasi. Tetapi, tiba-tiba saja ia teringat ketika ia sempat mendengar sebuah kalimat dari bibir gadis itu dari luar ruangan. Yeah, meskipun tidak begitu jelas, tetapi Jaejoong yakin itu lah kalimatnya..

“Kau bertahanlah.. aku akan selalu berjuang untuk Eonni. Sampai kapanpun aku akan terus berjuang..”

 

“Oleh sebab itu, ayolah Eonni. Buka mata mu.. aku ingin melihat Eonni tersenyum lagi. Meskipun itu hanya sebentar, aku benar-benar ingin melihatnya…”

 

Kalimat dengan nada tulus itu.. seakan menyetrum salah satu sudut hati Jaejoong. Nada yang begitu tulus dan lembut. Membuat Jaejoong merasakan sesuatu yang aneh, menyadari kalimat itu cukup berkesan menurutnya. Gadis yang penuh perjuangan. Gadis yang jauh dilubuk hatinya masih percaya akan keajaiban. Gadis yang begitu tulus.

Dan Jaejoong benar-benar yakin ketika ia sempat berbicara dengan gadis itu dan menatap matanya, terpancar bahwa hati gadis tersebut murni. Polos. Dan dipenuhi oleh ketulusan.

Sangat natural bila Jaejoong perlahan merasa bahwa gadis itu lucu. Masih ada saja gadis yang seperti itu jenisnya dizaman seperti ini. Dan tanpa disadari olehnya, salah satu sudut bibir nya terangkat. Membentuk sebuah senyuman kecil. Kini, pikirannya dikuasai sudah oleh gadis yang menurutnya lucu meski Jaejoong tak mengenalnya sama sekali.

Junsu yang rupanya tadi menyadari perubahan sikap Hyungnya itu mulai menatap Jaejoong aneh, “Hyung? Ya, Hyung! Kau kenapa tersenyum seperti itu? Apa yang kau pikirkan?” Junsu memberondongi Jaejoong dengan beberapa pertanyaan guna menyadarkan pria itu dari lamunan yang ia ciptakan.

Jaejoong tersentak menyadari Junsu yang memanggilnya. Dengan salah tingkah, Jaejoong menatap Junsu, dongsaengnya, dengan canggung, “Ah, ani.. aku hanya berpikir betapa suksesnya konser kemarin malam..” jawab Jaejoong sedikit berbohong.

Junsu dengan polosnya hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tanpa mengetahui bahwa ada seorang gadis yang berkelebatan dipikiran hyungnya, Kim Jaejoong. Benar.. Gadis itu..

Park Hanni.

..::o::..

*Hanni POV*

“Hanni Eonni,mengapa kau terlihat makin kurus sekarang? Apa karena kau terlalu lelah bekerja?”

Aku sedikit tersentak dengan pertanyaan seorang teman kerjaku yang tiba-tiba saja ia lontarkan ketika aku sedang fokus mengikat bunga yang menjadi salah satu bagian dari pekerjaanku.

Aku membalikkan tubuhku. Mataku memandang teman sekaligus sahabatku yang selalu menemaniku sejak aku bekerja di toko bunga ini. Yeah, meskipun aku beberapa tahun lebih tua darinya. “Aku tidak apa-apa, Jiyeon-ah..”jawabku sambil tersenyum pada gadis yang bernama Park Jiyeon ini. Ia adalah temanku yang juga bekerja di toko bunga ini. Ia adalah gadis yang baik dan cantik. Ia pun tak segan-segan mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya sendiri. Hmm, bukankah ia adalah gadis yang mandiri?

“Kau semakin kurus, Eonni. Berapa berat badanmu sekarang? beberapa waktu yang lalu aku melihatmu tidak sekurus ini. Dan lagi, kulihat wajahmu juga sering pucat. Apa kau baik-baik saja, Eonni?” tanya Jiyeon lagi. Kali ini nadanya jelas terdengar khawatir ditelingaku. “Pergilah ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatanmu, Eonni..”

Tetapi, aku malah tersenyum. Membuatnya untuk tidak terlalu memikirkanku dan bersikap baik-baik saja. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Jiyeon-ah. Ayo, kita kembali bekerja!”kataku pada Jiyeon.

Jiyeon yang sepertinya mulai yakin bahwa aku baik-baik saja hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Gadis itu pun kembali melakoni pekerjaannya, begitu pun juga diriku. Tetapi, diam-diam aku bertanya dalam hati.

‘Apakah aku semakin kurus? Wajahku juga sering pucat katanya.. Aish, adakah sesuatu yang aneh dalam diriku?’

..::o::..

Aku tengah berjalan mondar-mandir di salah satu rumah sakit kecil di kota Seoul. Aku bingung apakah aku harus memeriksa kesehatanku atau tidak sore ini. Aku menjadi kepikiran mengenai perkataan Jiyeon tadi siang.

“Hanni Eonni,mengapa kau terlihat makin kurus sekarang? Apa karena kau terlalu lelah bekerja?”

“Kau semakin kurus, Eonni. Berapa berat badanmu sekarang? beberapa waktu yang lalu aku melihatmu tidak sekurus ini. Dan lagi, kulihat wajahmu juga sering pucat. Apa kau baik-baik saja, Eonni?”

Kalimat Jiyeon kembali terngiang dikepalaku. Membuatku semakin tidak tenang dengan keadaan kesehatanku sendiri. Bagaimana jika aku benar-benar sakit? Bagaimana jika aku terserang penyakit mematikan? Jika aku sakit, lalu bagaimana aku bisa mengumpulkan uang? Aku harus mengumpulkan uang demi kehidupanku sendiri dan biaya rumah sakit Janrang Eonni. Apa yang harus aku lakukan bila itu benar-benar terjadi?

Terlebih lagi, aku pernah demam berkepanjangan beberapa waktu lalu. Aku juga sering nyeri dibagian tulang-tulang sendi. Apa ini gejala salah satu penyakit?

Pikiran buruk berhasil menguasai pikiranku ketika aku masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakit kecil ini. Aku benar-benar bingung dan kalut. Untuk memeriksa kesehatan saja aku harus pergi ke rumah sakit yang kecil karena takut biaya periksa akan lebih tinggi di rumah sakit pusat yang jauh lebih besar.

Aku menghela nafas. Terlalu bingung untuk apa yang harus aku lakukan sekarang. Hingga akhirnya, aku pun memutuskannya.. Lalu, kakiku pun bergerak masuk ke dalam rumah sakit itu untuk memeriksa kesehatanku… Yeah, ini lah keputusanku.

..::o::..

“Bagaimana keadaan saya, dokter?” tanyaku ketika aku sedang duduk dihadapan seorang Dokter yang sudah memeriksa ku tadi.

Kami duduk berhadap-hadapan dan sebuah meja menjadi pembatas diantara kami berdua. Dokter yang dipanggil Dokter Han ini, kini sudah menggenggami beberapa lembar hasil check-up ku tadi. Hal ini semakin membuatku penasaran karena Dokter Han belum menunjukkan hasil check-up nya padaku.

Dokter Han menatap kertas-kertas yang berada digenggamannya itu sekilas. Sampai akhirnya, ia menatapku. “Nona Park, jika kau ingin melakukan pengobatan dan pemeriksaan lebih lanjut, ku anjurkan untuk mendatangi rumah sakit pusat..” nada Dokter Han terdengar sedih.

Ah? Apa artinya ini? Apa jangan-jangan…

Dokter Han menghela nafasnya panjang. Jarinya bergerak membenahi posisi kacamata yang menggantung dihidungnya. Sampai akhirnya, mata Dokter Han pun kembali menatapku. Hendak melanjutkan kalimatnya…

“Kemungkinan besar.. Kau terserang penyakit leukemia, Nona Park..”

..::TBC::..

Wkwkwkwkw~ sudah aku duga pasti Chap 1 bakal jadi awal mula ff yang aneh xD
bahkan, dari chap pertama aja udah ketahuan kalo si Hanni akhirnya mati. Wkwkwkw.. saia cinta ff angst xDD nyahahaha~ #ketawa nista bareng changmin
Ini non edit lho.. langsung aku publish seketika pas udah selesai.. jadi maap kalo ada typo atau EYD salah2.. kata ketinggalan atau gimana.. #nyengir
Yang baca jangan ragu2 untuk komen dan like ya? aku bakal publish chap 2 paling lambat minggu depan.. ^___^

No bash please~ 😀

Gomawo ^^

 

O~MWO??! -eps4#

Setelah lama fakum saya kembali melanjutkan cerita ini ^______^

Cerita ini hanya karangan FIKTIF, TIDAK MENJIPLAK, ASLI, dan HANYA SATU.

Omwo copy

 

“oh iya, Kibum-ah, appa dan Yunho-sshi mau pergi sebentar. Masih ada pekerjaan yang menunggu” ucap appa.

“nde? lalu aku bagaimana??” tanya ku

“ya.. kamu disini saja temani Hyena” jawab appa santai

“NDE?? Omwo!? Omwo!?” sontak aku terkejut ketika mendengar jawaban appa. Untuk apa aku menemani yeoja ini?????

“Kibum, tolong jaga Hye-chan ya … ^^” kata Yunho-sshi dengan senyuman

“Hei, Hei, Jamkkanman …” seruku tidak terima

mereka pergi begitu saja tanpa mempedulikan aku disini, aigooo … sial sekali aku

“kkkkkkkk~” kikik Hyena yang duduk di ranjang

aku heran, apakah dia juga kena sindrom gangguan jiwa. Tiba-tiba tertawa sendiri seperti itu, dasar aneh.

“wae gurae? tertawa tanpa sebab, apa kau sudah gila?” tanya ku memastikan. Siapa tahu dia benar-benar gila.

“ne? aniya .. lucu saja melihat dua ajusshi tadi” jawabnya sambil senyam-senyum

“ajusshi?”

dia menyebut appa nya ajusshi? ckckckck -_-

“o.. hahahaha” jawabnya seraya mengangguk-anggukan kepalanya

Yeoja ini sungguh menyeramkan, pikirannya sama sekali tidak bisa ditebak. Aku tidak boleh dekat-dekat dengannya.

 

-Hyena PoV-

Lucu saja melihat dua ajusshi tadi.. tak biasanya aku melihat dua orang ajusshi yang akan pergi bersama-sama dengan riangnya.

Babo, apa yang sedang kupikirkan sih..

“Huhhhhh..” aku menghela napas panjang, sepanjang mungkin.

aku memperhatikan sekeliling ruangan ini dan baru kusadari aku merasa risih ketika tahu Kibum melihatku seperti melihat mahluk langka yang harus dilestarikan.

“Hei! Jangan melihatku seperti itu, kau kira aku ini apa? spesies langka?”

“ummbb.. GWAHAHAHA, kau menyebut dirimu spesies langka?? baru kali ini kudengar ada orang yang menyebut dirinya spesies langka” dia menertawaiku dan mengejekku. namja sialan .

“HEI!” amarahku sudah sampai puncak gunung Kalimanjo, lahar ku sudah meluap-luap, tinggal keluar saja.

_____________________________________________________________________________________________________________________

krik, krik.. krik, krik..

tiba-tiba suasana hening, hanya terdengar bunyi jangkrik. Walaupun disini tidak ada jangkrik

ya, ruang rawat inap yang ditempati Hyena menjadi hening sejak Hyena marah tadi dan sekarang Hyena sudah tertidur pulas, mungkin dia lelah ..

Kibum pun ikut-ikutan tidur dikursi disamping ranjang Hyena, mungkin dia juga lelah ..

sebenarnya saya juga lelah ..

 

Tidak tahu dari mana datangnya, sang angin membisikan sebuah kabar kepada sang burung. Lalu, sang burung itu terbang dan meberitahu teman-temannya tentang kabar ini.

Sehingga, negara api pun menyerang.

wahh, jadi melancong ke avatar the legend of aang. saya suka tuh, bagus ceritanya. Yeah..

ayo, lanjut-lanjut ..

Sehingga, dunia pun menggempar akibat berita yang dibawakan sang burung.

Penasaran sama beritanya?? Ketik REG Kepo Kirim ke 6288. dijamin kamu pasti kaget. wkwkwkwk #Blettaakk #KetimpaDurian

Kabarnya seorang model + aktor dengan nama Kim Kibum berada di Wooridul Spine Hospital bersama seorang yeoja.

Kalian tahu berita ini dari mana dan dari siapa??? Sebenarnya, sulit untuk jujur, sulit untuk mengatakannya bahwa pelakunya adalah KAMU! Mian, maksud saya kedua appa tadi. Kedua appa tersebut berulah macam-macam untuk membahagiakan diri sendiri. Babo .. ckckckck

setelah kabar itu, beredar. Para wartawan sedang gencar-gencarnya ingin mendapatkan kepastian kabar itu dan para fans Kibum mendengus kesal karena tahu idola mereka  bersama yeoja yang masih samar-samar identitasnya.

Saat itu pula salah satu wartawan yang beruntung menemukan ruang rawat inap Hyena di rumah sakit.

“Yeah, akhirnya kutemukan juga kalian. Ghahahaha” ucap wartawan itu senang

Wartawan itu sampai didepan pintu kamar inap Hyena. Perlahan dia buka pintu itu dan apakah yang akan terjadi pada sang wartawan? Jangan kemana-mana, tetap bersama saya untuk menyimak kisah selanjutnya XD

#BLETTAAKK #dilemparPanciBolong

Wartawan itu memotret Kibum dan Hyena dengan sangat indah *mucul efek-efek yang gimana gitu*

setelah mendapatkan apa yang dicarinya, dia kembali ke asalnya dan mulai merancang sebuah berita yang akan menghebohkan seisi dunia.

berita yang berisi bahwa, Kim Kibum model + aktor terkenal menemani kekasihnya yang dirawat di Wooridul Spine Hospital. Dan bla.. bla… blaa… . Wartawan itu juga menyertakan foto yang sudah diambilnya tadi. Oh, Good Job untuk wartawan ini, dia membuat isu.

Maka, gemparlah para fans Kibum diseluruh penjuru dunia setelah mengetahui berita ini. Mereka sangat marah dan kesal pada yeoja yang saat ini bersama Kibum, yang tak lain lagi adalah Hyena.

“awas saja kau, yeoja nakal! yang berani-beraninya mendekati oppa ku” kata salah satu fans yang hebat amarahnya.

“Lihat saja dia, pulang dari rumah sakit akan terasa lebih sakit lagi dari sebelumnya” ancam yang seorang lagi.

Para fans Kibum memiliki dendam yang sangat besar terhadap Jung Hyena. Yaa, bisa dibilang hampir semua fans Kibum marah besar.

_____________________________________________________________________________________________________________________

Tak lama, Kedua appa yang menjadi pemula terjadinya berita ini datang.

“aaa~~~ manis sekali mereka” kata ayah Kibum

“ne, aigoo~ imut sekali” tambah ayah Hyena.

*sebagai kenangan, aku akan mengambil foto mereka* pikir kedua appa tersebut, yang lagi-lagi akan berulah dan tidak menguntungkan bagi anak mereka.

Lalu, mereka melakukan apa yang tadi terlintas dipikiran mereka dan men-twitpict foto yang mereka ambil. dan juga ada pesan yang dimuat dalam twitpict . Kibum appa: “menemani anakku dan tunangannya dirumah sakit yang terluka parah akibat kecelakaan, sungguh dramatis dan sekarang Kibum tertidur disampingnya. Sungguh manis”. Dan milik Hyena appa: “anakku, Hyena terbaring lemas akibat kejadian yang menimpanya. Aku sangat sedih tapi tidak jadi karena anakku sudah bertemu dengan jodohnya >///<”

Oh, para appa yang menyeramkan …

Mereka tidak tahu situasi sekarang yang sudah gawat menjadi sangat gawat ketika mereka selesai men-twitpict anak mereka.

Beberapa detik kemudian, diluar ruang rawat inap Hyena. Bertambah gemparlah seluruh fans Kibum di segala penjuru dunia ketika melihatn postingan kedua appa tadi.

Banyak media yang mulai memuat berita itu dengan judul “Kim Kibum bersama tunangannya”. Berita ini menjadi berita utama entertainment diseluruh dunia.

Berita ini sangat cepat menyebar. Dari mata ke mata, hidung ke hidung, mulut ke mulut, telinga ke telinga (ini kalau saya lanjutin nggak akan selesai nih).

Dan semua ini akan menjadi kisah baru bagi Kibum dan Hyena.

Simak kisah selanjutnya ^^

TBC ___

 

Yang baca, kasih comment ya supaya saya bisa lebih baik lagi

Terimakasih #WithLove #wkwkwkwk

After A Long Time Has Passed (Oneshot FF)

Annyeong!!! Hota balik lagi dengan epep oneshot gajee… seperti biasa ni ff ancur bin gaje.. banyak banget kekurangan dan kesalahan yg author perbuat disini… tapi mohon komen ya.. huwahahahahahaha..

Dan ini saya gak ngeplagiat apapun!! Kalo ada yg bilang gw plagiat ntar saya cincang jadi daging giling santapan makan malam!!

Whuahahahaha~~

Happy reading sajo lah…

..::o::..

Title : After A Long Time Has Passed
Author : Saiaaaa…
Genre/Type : Romance, Drama, School life, Flashback, Angst/Straight
Cast : Park Hyejin (OC), Jung Yunho, Go Ahra, etc
Length : Oneshot

..::o::..

Kereta ini penuh sekali.. Kalau keadaannya seperti ini apa aku harus berdiri saja,ya? ah, tidak! Aku tidak mau berdiri! Aku tidak mau kelelahan berdiri sebelum sampai ke kantorku. Sebaiknya, aku terus bertahan di tempat dudukku meskipun ku akui, bokong besar dari ibu-ibu disampingku ini membuatku sangat terganggu karena selalu ingin mengambil tempatku. Aish, kalau saja mobilku sudah selesai diservice, aku tidak perlu berdesak-desakkan di kereta seperti ini.

Ah, karena terlalu asyik berpikir sendiri, aku sampai lupa mengenalkan diriku sendiri. Baiklah, namaku Park Hyejin. Mengenai umurku.. apakah itu penting? Yaah sebenarnya,aku tidak  terlalu menyukaimu bila kau bertanya berapa umurku. Umurku tiga puluh empat tahun! Dan aku belum menikah. Kau puas? Apakah kalian kira aku ini bujang lapuk atau perawan tua? Tidak! Aku akan menolaknya jika itu memang takdirku. Lihat saja nanti, aku akan menikah lebih cepat dari yang kalian kira!

Dan saat aku masih tenggelam dipikiranku sendiri, mataku menuju pada seorang pria yang duduk bersebrangan denganku. Pakaiannya rapi. Memakai jas hitam, dasi merah, sepatu kulit, dan membawa tas kerja yang menurutku kualitasnya bagus. Dan wajahnya! Tampan.. mata musangnya, bibir yang berbentuk hati, dan wajah kecilnya memang sangat menawan. Ah, kalau aku terus menatapnya seharian dengan santai sih aku bisa puas. Tapi, kalau keadaan berdesakan di kereta seperti ini mana bisa?! Dari tadi aku hanya bisa menatapnya dari celah kecil yang disisakan oleh seorang bapak-bapak yang berdiri di depanku.

Tapi kalau dicermati lagi, pria itu sebenarnya terlihat seperti orang kaya. Tapi, kenapa ia menggunakan kendaraan umum sepertiku? Apa mungkin mobilnya juga mempunyai nasib yang sama dengan mobilku? Yah, itu terlihat jelas dimatanya. Dari tadi ia terus memasang tampang cemas seolah-olah berpikir : ‘Bagaimana nasib mobilku..?’

Darimana aku mengetahuinya kalau mobilnya sedang diservice? Aku mengetahuinya dari brosur yang ia bawa. Brosur yang mengiklankan sebuah tempat service mobil. Brosur itu juga aku dapatkan setelah aku mengantarkan mobilku ke tempat service waktu itu.

Tapi… sebentar.. aku sepertinya…mengenal wajah orang ini? Wajahnya ini mirip dengan… teman sekolah menengah ku..? bukan teman..tapi, sahabat! Yeah, saat itu aku hanya menganggapnya demikian. Dan ia memasang name tag di jasnya bertuliskan : “Jung Yun Ho”.
Benarkah dia Jung Yunho? sahabatku di masa lalu?

*Flashback ON*

“Hyejin-ah…” seseorang menepuk bahuku. Aku yang saat itu sedang konsentrasi membaca buku di perpustakaan sekolah langsung menoleh kearah orang itu. Oh, ternyata kekasih Yunho yang memanggilku ini.. Namanya Go Ahra. Ah, sebenarnya Ahra ini sering cemburu karena kedekatanku dan Yunho yang menurut Ahra sudah lebih daripada sahabat. Hmm,mungkin ini karena sikap Yunho yang terlalu cuek pada Ahra. Aneh sekali Jung Yunho itu.. Kalau pada akhirnya ia bersikap seperti itu, untuk apa ia menerima pernyataan cinta Ahra dua bulan yang lalu?

“Apa..?”tanyaku dengan nada sepelan mungkin. Tidak mungkin aku berteriak di tempat seperti ini.. Kalian tahu sendirikan kalau ini perpustakaan?

“Yunho memanggilmu. Dia ada di dekat rak buku nomor tujuh belas,”jawabnya.

Aku terdiam sebentar. Mungkin Yunho sudah menemukan bahan yang tepat untuk diskusi tentang pelajaran Sosiologi kali ini. Benar, aku dan Yunho memang sedang berada di perpustakaan. Tapi kami berada di sudut perpustakaan yang berbeda.

Sebenarnya, aku dan Yunho sama-sama mengalami kesulitan mengerjai tugas Sosiologi ini. Ini karena pembahasan Guru yang kurang jelas, sehingga kami juga harus berpikir bagaimana cara mengerjakannya. Ck, memangnya Guru kira murid-muridnya sudah mengerti bagaimana cara mengerjakannya?

Aku pun menemui Yunho. Dan aku pun menemukan nya di samping rak buku .

“Kau memanggilku?”tanyaku pada Yunho. “Apa kau sudah menemukan bahan untuk tugasnya?”

Yunho menoleh kearahku. Ia menyengir dan kemudian menggeleng, “Belum..”jawabnya.

Aku mendengus. Aish, Jung Yunho ini memang benar-benar.. Tapi beginilah ia. Selalu tersenyum padaku tapi cuek pada Ahra.

“..Kalau begitu ikut aku saja! Kita tidak perlu mengerjakan tugas ini!”kata Yunho tiba-tiba.

Aku langsung menatapnya. Apa yang ia pikirkan? membolos? “Mengikutimu?”ujarku menatapnya bingung.

Yunho berdecak, “Sudah! Ikut aku saja!” tiba-tiba saja Yunho menarikku keluar dari perpustakaan dengan cepat.

Aku yang diseret oleh Yunho mencoba memberontak. Anak ini suka sekali menyeretku! Memangnya ia pikir aku hewan ternak? Dasar anak bodoh!

“Ya! Jung Yunho!”bentakku kearahnya ketika ia sudah melepaskan tanganku. Sekarang kami sedang berada di dekat pagar sekolah. Entah apa yang anak ini pikirkan sampai ia membawaku ke tempat ini..

“Loncat! Cepat loncat!”ujar Yunho berbisik. Wajahnya seolah-olah mengatakan : ‘Cepat! Ayo cepat!’

Aku yang mengerti maksudnya mengerutkan alisku, “Membolos lagi? Tidak! Aku tidak mau!”tolakku dan kemudian pergi meninggalkannya. Kemarin ia juga mengajakku untuk melakukan hal ini. Tetapi, saat sudah beberapa meter berjalan keluar sekolah, kami ditangkap oleh penjaga sekolah dan kami dihukum untuk mengepel satu sekolahan. Dan aku tidak mau hal itu terulang lagi. Kalau pun sampai terulang, Jung Yunho lah yang harus bertanggung jawab!

Yunho pun menahan tanganku, “Ayolah sekali ini sajaa..”ujarnya dengan tampang memelas. Aish, jangan beri aku tatapan seperti itu! kalau ia menatapku seperti itu, tentu saja aku akan kasihan padanya dan aku akan mengikutinya! Ck.. Tuhkan.. Akhirnya pertahananku runtuh juga, “Baiklah.. sekali ini saja!”kataku ketus.

Yunho tersenyum senang. Ia pun langsung membungkuk dan menyuruhku untuk menaiki punggungnya untuk melompati pagar. Aku pun melakukannya dan tak seberapa lama, aku sudah berhasil keluar dari sekolah. Yunho pun menyusulku dan ia melompat-lompat gembira ketika mengetahui bahwa dirinya sudah diluar sekolah. Anak ini memang mengalami kelainan jiwa..

“Kalau begitu, ayo!” ia pun kembali mengajakku untuk melakukan hal gila lainnya. Ia mengajakku ke toko baju dan menyuruhku untuk mengambil sepasang baju apa saja yang kuinginkan. Ah, akhirnya.. sahabatku ini mau membelikanku pakaian sebagai hadiah..“Langsung dipakai saja..”kata Yunho ketika aku sedang memilih-milih baju. Dan aku pun memutuskan untuk mengambil baju kaus oversize bergambar puppy dan shorts berwarna hitam. Lalu, kulihat Yunho sudah memakai kaus putih dengan jaket abu-abu, topi putih dan celana jeans.

“Nah, ayo kau yang bayar!”ujarku ketika kami berdua melintasi meja kasir.

Tapi Yunho langsung menyuruhku untuk diam. Perlahan, ia menggenggam tangan kananku dan mengajakku pergi keluar toko dengan langkah yang pelan. Aku yang melihat tingkahnya menatapnya aneh, “Ada apa sih?”tanyaku bingung. Tetapi, Yunho tidak menjawab dan tetap menyuruhku untuk diam.

Dan ketika kami sudah di dekat pintu toko dan hendak keluar, seorang penjaga berteriak kerah kami, “Hei, kalian belum bayar bajunya!”teriak penjaga itu pada kami.

Aku pun langsung menatap Yunho, “Cepat kau bayar pakaiannya!”kataku pada Yunho.

Tapi, Yunho tidak menjawabku. Dan satu detik kemudian, ia berlari kencang-sekencang-kencangnya keluar toko sambil menarik tanganku sehingga terpaksa aku juga ikut berlari bersamanya. Dan kusadari bahwa beberapa penjaga toko itu berlarian mengejar kami sambil berteriak agar kami mau membayar pakaian ini.

“Jung Yunho! apa yang kau lakukan?!”seruku pada Yunho masih terus berlari.

“Sudah! Lari saja yang kencang! Kau mau ditangkap mereka?!”balas Yunho.

“Memangnya kau tidak mau membayar pakaian ini dulu?”tanyaku.

“Tentu saja tidak! Sudah, lari saja yang kencang!”ujar Yunho lagi dan menyuruhku untuk bersembunyi di samping toko bunga. Aku pun langsung bersembunyi bersamanya dan mengamati penjaga toko itu yang terus berlari karena tidak menyadari bahwa kami sedang bersembunyi.

Dan ketika menyadari bahwa penjaga toko itu sudah tidak ada lagi, aku dan Yunho pun langsung jatuh terduduk. Kami berdua sama-sama tegang dan mengatur nafas kami yang sudah tidak beraturan. Setelah itu, aku pun menatap Yunho geram, “Hei! Tadi kita hampir mati! Kenapa kau menyuruhku untuk melakukan aksi gilamu?”bentakku sambil memukul lengan Yunho.

Yunho menatapku sebentar. Namun, tak seberapa lama ia malah tertawa keras. Aku yang melihatnya bingung karena tiba-tiba saja ia tertawa keras. Tetapi, ketika melihatnya yang tertawa seperti itu, aku malah ikut tertawa bersamanya karena mengingat kegiatan bodoh kami tadi..

“Hyejin-ah..ini untukmu,” Yunho menyodorkan setangkai bunga mawar padaku.

Aku pun mengamatinya sebentar, “Darimana kau dapatkan ini?”tanyaku pada Yunho.

Yunho pun tersenyum dan menunjuk ke sebuah rak yang dipajang di depan toko bunga. Di rak itu banyak sekali bunga mawar yang sengaja di pajang. Aku pun sudah mengerti pikiran Yunho. Pasti ketika sebelum bersembunyi disini, diam-diam Yunho mengambil bunga mawar itu. ah.. dasar..

Sambil tertawa, aku menerima bunga itu darinya. Dan kami pun kembali tertawa bersama…

*Flashback OFF*

Kusadari kereta ini berhenti disebuah stasiun. Lumayan banyak penumpang yang turun di stasiun ini. Tapi,stasiun ini bukanlah tujuanku. Aku masih menunggu sampai tempat perbehentian selanjutnya.

Dan ketika sudah banyak sekali penumpang yang turun atau ada beberapa penumpang yang naik ke kereta ini, aku masih saja menatap pria itu.. Pria yang kucurigai bernama Jung Yunho. sekarang aku bisa menatapnya lebih leluasa. Di gerbong ini hanya ada sepuluh orang saja sekarang. Namun tetap saja, sepertinya pria yang kuduga sebagai Jung Yunho itu masih tidak menyadari kalau aku terus menatapnya dari tadi. Seandainya jika benar ia Jung Yunho.. apa kah ia benar-benar lupa?

*Flashback ON*

Ahra menahan lenganku ketika aku melangkahkan kakiku menuju kelasku. Yeah, Go Ahra.. kekasih Yunho.
Karena merasa lenganku disentuh oleh Ahra, otomatis aku menatap kearahnya.

“Ahra-ah?”ujarku sambil menatapnya bingung.

“Hyejin-ah…” kudengar suaranya seperti tercekat. Matanya pun berkaca-kaca. Aneh.. ada apa dengannya?

“Ahra-ah.. kau baik-baik saja?”ujarku sambil berusaha untuk memeluknya. Kurasa Ahra juga sahabatku. Bukankah ia adalah kekasih Yunho yang merupakan sahabatku sejak lama?

Namun, kurasakan Ahra menolak pelukanku. Aku pun tidak mau memaksanya dan tidak jadi memeluknya. Aku menatapnya dengan lembut, “Sebenarnya ada apa?”tanyaku lembut sambil menatapnya. Kudengar ia terisak. Aku pun semakin bingung dibuatnya. Ada apa dengan yeoja cantik ini? Kenapa malah menangis?

Ahra mencoba berkata-kata, “Hyejin-ah.. ada yang ingin kubicarakan denganmu,”katanya dan mulai mengajakku menuju lapangan belakang sekolah.

Dan tak lama kami sampai di lapangan belakang sekolah. Kami berdiri di bawah pohon rindang dan berhasil melindungi kami dari sinar matahari.

“Ada apa Ahra-ah? Katakan padaku sekarang..”ucapku pada Ahra.

“Yunho… Yunho membenciku,”kata Ahra tiba-tiba.

Dan tentu saja aku kaget setengah mati. Apa?! Tidak mungkin Yunho membenci Ahra! “Ahra-ah.. itu tidak mungkin,”aku mencoba menghibur Ahra.

Ahra menggeleng, “Ini semua karena kau!”seru Ahra tiba-tiba.

Aku mengerutkan alisku bingung, “A..apa..?”tanyaku tidak mengerti.

“Yunho bilang ia tidak mencintaiku dan ia hanya memberikan hatinya untukmu! Kau tidak tahu kalau Yunho mencintaimu! Kau jahat! Selama ini ku kira kau adalah gadis yang baik! kau merusak hubunganku dengan Yunho!” seru Ahra sambil menangis.

Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Ahra. Gadis ini bicara apa? Tidak mungkin Yunho mencintaiku! Kami hanya bersahabat.. Kupikir Ahralah satu-satunya wanita yang ada di dalam hati Yunho.

“Aku membencimu!”ujar Ahra dan mulai mendorongku ke sebuah pohon. Tiba-tiba ia mencekikku dengan kuat sehingga aku tidak bisa bernafas.

“A..Ahra..akh.. lepas..”ujarku sekuat tenaga agar Ahra mau melepaskanku. Tapi, Ahra tetap tidak mau. Ahra tetap mencekikku dan aku terus meronta minta dilepaskan sambil menggenggam tangannya yang mencekik leherku. Jujur.. aku sangat takut.. Ahra.. ada apa denganmu?

Ahra pun mulai merogoh saku roknya. Diambilnya sebilah pisau kecil dari dalam saku roknya itu dan ia pun hendak melukai leherku dengan pisau itu, “J..jangan..”kataku takut.. Aku sungguh takut.. Siapapun cepat tolong aku!

Ahra tidak mendengarkanku. Ia pun masih melancarkan aksinya sampai seseorang mendorong keras tubuh Ahra. Alhasil, aku terlepas dari Ahra dan menatap kearah seseorang yang telah mendorong tubuh Ahra itu, “Y..Yunho-ya?”kataku sambil menatap Yunho yang telah mendorong Ahra hingga terjatuh di tanah.

Yunho menatapku sebentar. Dan kemudian ia melangkahkan kakinya kearah Ahra yang jatuh terduduk ditanah sambil menangis dan menggenggam pisau kecil itu. Entah apa yang Yunho pikirkan, Yunho menarik kerah Ahra hingga yeoja itu berdiri.

“Apa yang kau lakukan,hah?!!!”teriak Yunho di depan wajah Ahra yang tengah menangis.

Ahra tidak menjawab. Tangisannya malah semakin keras.

“Jung Yunho! cukup! Hentikan!” kataku pada Yunho agar Yunho mau melepaskan Ahra.

Yunho tidak mau mendengarkanku. Terlihat sekali Yunho sangat marah pada Ahra, “Aku muak melihat yeoja sepertimu! Kau menjijikkan!”seru Yunho dan melepaskan Ahra dengan kasar.

Ahra pun kembali jatuh terduduk di tanah dan masih menangis. Ia menatap Yunho dengan sendu.

“Yunho! kau..!”seruku geram pada Yunho karena tidak terima perilakunya yang begitu kasar pada Ahra. Aku pun mencoba menghampiri Ahra untuk menenangkan yeoja itu, namun Yunho menahanku. Aku pun menepisnya dan menatap Yunho kesal, “Kau pikir kau itu siapa?! Kejam sekali kau terhadap Ahra!”teriakku pada Yunho.

Yunho mendengus. Kemudian ia menyeretku ke suatu tempat. Sedangkan aku memberontak karena sikapnya yang membuatku kesal, “Yunho! lepaskan!!”seruku pada Yunho. Namun, Yunho tidak mau melepaskanku. Dan akhirnya, aku berhasil melepaskan tanganku dari cengkeramannya. Tapi setelah itu, Yunho malah mendorongku ke sebuah tembok dan mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ia hendak menciumku. Tetapi, dengan cepat aku mendorong tubuhnya agar ia tidak menciumku.

“Apa yang kau lakukan?!”seruku pada Yunho. Yunho tidak menggubrisku. Ia kembali mendekatkan wajahnya padaku, namun aku kembali mendorongnya.

 Yunho yang menyadari sikapku menghela nafas. Kemudian ia menatapku putus asa, “Aku sudah putus dari Ahra..”kata Yunho padaku.

Aku terdiam sebentar. Baiklah, aku sudah tahu tentang ini.. “Aku sudah tahu..”jawabku mencoba untuk tenang walaupun sikap aneh Yunho tadi masih saja menjadi tanda tanya untukku.

“Aku memutuskannya karena aku lebih memilihmu,”kata Yunho.

Aku menatapnya dengan pandangan tidak mengerti, “A..apa?”tanyaku bingung. Ya Tuhan, kenapa Yunho dan Ahra sama-sama bersikap aneh padaku hari ini?

Yunho menghela nafas, “Aku menyukaimu, Hyejin-ah..”

*Flashback OFF*

Kereta kembali berhenti ke tempat perbehentian selanjutnya. Dan akhirnya banyak sekali penumpang yang turun dari kereta. Gerbong ini yang tadinya diisi oleh sepuluh orang, sekarang sisa aku dan pria yang kuduga adalah Yunho. Hanya sisa kami berdua disini.

Dan dengan keadaan berdua seperti ini, aku masih saja menatapnya. Benarkah ia Jung Yunho..? dan pria itu sepertinya sadar karena dari tadi terus aku pandangi. Dan ia pun menatapku dengan mata musangnya. Aku terdiam.. Aku membiarkannya memandangku dengan tatapan matanya..

*Flashback ON*

Aku menatap kedua orangtuaku tidak percaya saat kami berdua berkumpul untuk menyantap makan malam bersama di meja makan..

“Apa..? pindah sekolah?”tanyaku dengan nada tak percaya pada ayah dan ibuku.

Kulihat ibu mengangguk, “Ne. Kita pindah ke Boseong untuk beberapa saat. Setelah beberapa tahun menetap disana, kau boleh kembali ke Seoul,”jawab ibu.

Aku menggeleng tidak percaya. Kuletakkan sumpitku disamping mangkuk nasiku. Aku sudah tidak nafsu makan lagi. Kabar ini membuatku terkejut dan kehilangan selera makan.

“Kanapa harus pindah sekolah?”tanyaku lagi. Sungguh,aku tidak ingin pindah dari Seoul!

“Ayah mendapat tugas disana. Ayah harap kau mau mengerti,”jawab Ayah sambil menatapku.

Aku yang mendengarnya menundukkan kepalaku. Hatiku sungguh menolak hal ini. Aku tidak mau pindah..
“Ayah,Ibu.. aku tidak ingin pindah…”ujarku halus agar Ayah dan Ibu tidak marah akan keputusanku ini.

Ayah langsung menatapku marah, “Park Hyejin! Mengapa kau tidak mau menuruti Ayah?! Apa susahnya pindah ke Boseong?! Apa kau tidak suka jika harus meninggalkan sahabatmu yang bernama Jung Yunho itu?! apa kau pikir di Boseong tidak ada orang yang akan menjadi sahabatmu seperti anak itu,eoh?!!”bentak Ayah. Ibu yang mendengar Ayah berbicara sekeras itu cukup terkejut.

Aku menundukkan kepalaku, “Benar…”jawabku.. “Maafkan aku..”ujarku pada Ayah..

Setelah malam tentang berita kepindahanku berlangsung,paginya aku dan Yunho sedang duduk dibawah pohon yang berada di samping sekolah. Kami berdua duduk dalam diam. Sebenarnya aku yang mengajaknya duluan untuk duduk disini. Aku ingin memberitakan tentang kepindahanku. Tapi, aku tidak tahu harus memulai darimana. Apalagi setelah Yunho mengungkapkan perasaannya padaku dua hari yang lalu, hubungan kami semakin memburuk. Dan Go Ahra yang hampir melukaiku waktu itu juga tidak masuk sekolah karena insiden itu.

“Aku…” aku mencoba membuka suara duluan. Aku tidak berani menatap Yunho. Sama sekali tidak berani..

Yunho terdiam. Menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibirku. Aku menghela nafas dan memejamkan mataku untuk mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk menyatakan hal ini, “Aku.. akan pindah ke Boseong..”lanjutku sekuat tenaga. Aku meremas ujung rokku karena perasaanku yang tidak menentu. Apa Yunho akan marah karena aku yang akan pindah tiba-tiba seperti ini?

Yunho langsung menatapku. Namun dengan cepat, ia kembali memandang lurus ke depan, “Mengapa?”tanyanya dengan nada setenang mungkin. Walaupun aku sendiri tahu, bahwa ia sangat terkejut mendengar kabar ini.

“Ayahku mendapat tugas disana. Dan aku harus ikut..”jawabku masih menunduk. Aish, Jung Yunho! sebenarnya aku tidak mau ke Boseong! Hal yang paling berat adalah meninggalkanmu! Kau adalah sahabatku yang terbaik!

Yunho terdiam sejenak. Entah, apa yang ia pikirkan.. “Apa benar begitu?”tanyanya lagi dengan nada lirih.

Aku mengangguk pelan, “Aku akan pindah esok hari..”jawabku dengan nada tercekat. Aku hampir menangis. Aku tidak mau.. aku tidak mau pindah ke kota itu..Kumohon Yunho.. Kuharap kau mau mengerti.  Dan tak terasa air mataku mulai menetes dan mengalir di pipiku.

Yunho yang melihat tetesan air mataku memandang wajahku dengan sedih, “Kalau kau tidak mau,jangan pergi..”

“Aku terpaksa, Yunho…”balasku sambil menangis.

Yunho yang sepertinya mengerti perasaanku langsung memelukku dengan lembut. Aku malah semakin menangis karena pelukannya. Sedangkan, dia mengelus punggungku untuk memberiku ketenangan, “Sudah, jangan menangis.. Aku mengerti. Aku mengerti..”bisiknya lembut. Aku tidak membalasnya.. aku masih menangis. Yunho melepaskan pelukannya dan mencium bibirku. Aku hanya terdiam. Tidak membalas ciumannya sama sekali. Tetapi, aku memejamkan mata. Entahlah.. kurasa aku semakin merasa lebih baik jika ia seperti ini..

Yunho melepaskan ciumannya. Dan kemudian aku kembali ke posisiku semula. Hendak kuhapus air mataku, namun Yunho menghapusnya duluan dengan ibu jarinya.

“Tidak apa-apa.. Aku baik-baik saja kalau kau memang harus ke Boseong..”kata Yunho sambil menatapku lembut. Aku tahu.. Ada rasa sedih yang tersirat dari mata Yunho.

Aku mengangguk. Dan kemudian ia kembali memelukku. Aku membiarkan hari ini menjadi hari terakhir untuk kami berdua..

Dan esoknya, aku sudah berada di bus station untuk menunggu bus yang akan membawaku dan kedua orangtuaku menuju Boseong. Dan ketika aku hendak masuk ke dalam bus, seseorang memanggilku dari belakang.

“Hyejin-ah!!”

Otomatis, aku berbalik. Ayah dan Ibu yang mendengar seruan itu juga berbalik menuju sumber suara. Kulihat teman-teman sekelasku berlarian ke arahku. Aku yang melihat mereka tersenyum.

“Ah, kalian..?”ujarku pada teman-temanku.

“Apa benar kau akan pindah secepat ini?”tanya seorang temanku sambil memasang wajah sedih.

Aku mengangguk, “Benar.. kalian baik-baiklah disini..”jawabku sambil tersenyum.

“Kalau begitu jangan lupakan kami,”ujar mereka sambil cemberut.

Aku tersenyum dan kembali mengangguk, “Mana mungkin? kalian kan teman-temanku..”balasku sambil tertawa kecil. Dan diantara mereka, aku mencari sosok Yunho.. Tapi, aku tidak menemukannya. Dimana dia? Ahra juga tidak ada..

“Ini..”seorang temanku menyerahkan sebuah kotak berukuran cukup besar padaku, “Ini untukmu.. Dari kami semua..”kata temanku. Teman-temanku yang lain tersenyum sambil mengangguk. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan terimakasih.

“Hyejin, ayo..”Ayah mengajakku untuk masuk ke dalam bus.

Aku pun menurut dan melambaikan tanganku pada teman-temanku. Mereka pun membalasnya juga dengan lambaian tangan. Aku masuk ke dalam bus dan tak lama kemudian pintu bus ditutup. Bus mulai berjalan dan aku masih melambaikan tanganku lewat jendela. Ahh, aku akan sangat merindukan mereka..

Setelah itu, aku duduk di kursi penumpang dan mulai penasaran dengan kotak hadiah yang mereka berikan.

“Teman-temanmu sangat baik,ya..”ujar Ibu yang duduk disampingku ketika aku hendak membuka hadiah dari teman-temanku.

Aku tersenyum sambil mengangguk. Aku pun berhasil membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah tas berwarna merah. Wah, tas ini bagus sekali..

Setelah melihat hadiahku itu, aku menghela nafas.. Rasanya ada yang kurang. Tidak ada Yunho disana? Mengapa ia tidak hadir bersama teman-temanku yang lain? Apa ia marah karena aku pindah sekolah?

Kurasakan bus melaju semakin kencang. Aku memejamkan mataku sejenak. Aku mencoba untuk tidur di perjalanan yang cukup panjang ini. Aku hanya ingin menenangkan diriku.. Tapi tidak bisa.. pikiranku masih saja melayang dan terus memikirkannya.. Benar, memikirkan namja itu. Jung Yunho.

Yunho-ya.. mengapa kau tidak datang..?

Kau jahat.. kau sungguh pria kejam.. Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi,eoh?!

Namun, ditengah pergumulan batinku ini, tiba-tiba saja kurasakan bahwa jendela bus disampingku diketuk kencang dari luar. Otomatis,aku yang tadinya memejamkan mataku langsung membuka mataku dan menatap kearah jendela. Dan betapa terkejutnya aku melihat sosok Jung Yunho disitu yang sedang mengetuk jendela disampingku sembari berlari kencang. Aku yang melihatnya pun langsung meminta pengendara bus untuk berhenti sebentar. Setelah bus berhenti, buru-buru aku keluar bus dan menemui Yunho. Aku berlari kearah Yunho yang tampak kehabisan nafas karena terlalu lelah berlari.

“Hye..Hyejin-ah..”ujarnya ketika melihat sosokku yang sudah di hadapannya. Nafasnya begitu tidak beraturan dan ia terlihat cukup lelah.

Aku pun mendekatinya, “Yunho-ya.. kenapa kau lakukan ini?”tanyaku sambil menatapnya.

“Aku hanya ingin melihatmu. Sekali lagi..”ujarnya sambil menatap mataku, “..pada awalnya aku tidak ingin mengantarkan kepergianmu karena aku tidak mau melihatmu pergi. Tapi, aku tidak tahan. Aku sangat ingin melihatmu, sekali lagi..”sambung Yunho dengan nada yang tulus.

Aku yang mendengarnya langsung memeluknya. Ia pun membalas pelukanku, “Yunho-ya.. aku sudah tahu..”ujarku saat memeluknya. Aku tersenyum dan kemudian melepaskan pelukanku. Dan entah mengapa, air mataku menetes.. Aku sangat menyayangi Yunho. Dia adalah sahabatku yang paling istimewa.

Yunho menghapus air mataku dengan ibu jarinya, “Tak akan ku biarkan kau menangis..”kata Yunho sambil menatap mataku lembut. Sedangkan, Ayah dan Ibuku yang masih di dalam bus hanya menatap kami dari dalam sana.

Aku menggenggam tangannya yang ia pakai untuk menghapus air mataku. Tangan besar dan hangat ini.. akan selalu kuingat..

“Ini untukmu..” Yunho menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna putih padaku. Aku pun menerimanya dan menatap kearah kotak itu. “Kembalilah ke dalam bus..”kata Yunho sambil tersenyum padaku.

Aku yang mendengarnya mengangguk kecil dan hendak melangkah menuju bus. Namun, aku berbalik ke arah Yunho dan memeluknya sekali lagi. Memeluknya dengan lebih erat dan hangat..

Dan setelah itu, kami mengucapkan selamat tinggal.. Aku kembali ke dalam bus dan menuju tempat dudukku. Ketika di jendela, aku melambaikan tanganku kearah Yunho, “Kau akan selalu kuingaaat!!”teriakku pada Yunho lewat jendela bus.

“Kau juga akan kuingaat!!”teriak Yunho sambil melambaikan tangannya padaku.

Bus pun kembali berjalan.. Aku menutup jendela bus dengan berat hati.. Yunho dan kenangan manis bersamanya, akan kusimpan dalam memoriku.

 Ketika aku hendak membuka kotak yang diberikan oleh Yunho padaku,Ibu bertanya padaku,“Dari Yunho?”tanya Ibuku. Aku mengangguk dan membuka kotak itu. Ternyata, isinya adalah sebuah cincin. Dan aku melihat dikotak itu ada secarik kertas. Sebuah surat..?
Dengan cepat aku membaca surat itu. Dari Yunho..

‘Hyejin-ah.. Maaf, rasanya begitu sulit jika aku membiarkanmu pergi..Kita sudah bersahabat cukup lama..Aku tidak sanggup melihatmu pergi meninggalkanku.. meninggalkan kami semua.. Sungguh menyenangkan apabila menghabiskan waktu bersamamu seperti yang sudah pernah kita lakukan. Tertawa bersama, menangis bersama.. Semuanya terasa begitu indah. Aku berharap bahwa kau selalu baik-baik saja. Aku akan selalu mendoakanmu dari sini. Kuharap, dimasa depan kita bisa bertemu lagi. Aku menyayangimu, Hyejin-ah.. Aku akan sangat merindukanmu.. Terima kasih kau sudah mau menjadi sahabatku selama ini. Aku sangat berterimakasih…’

*Flashback OFF*

Kereta pun berhenti di tempat pemberhentian selanjutnya. Di tempat pemberhentian inilah sebenarnya aku harus turun. Tapi, bagaimana bisa aku melakukannya? Pria yang kuduga adalah Jung Yunho itu masih saja menatapku.. dengan tatapan tidak percaya..

Aku pun mencoba untuk menormalkan diriku dan menghilangkan anggapan bahwa pria itu memang benar-benar Jung Yunho. Sudah cukup dengan kegiatan mengingat masa laluku sendiri hari ini. Aku pun mulai melangkahkan kakiku keluar dari kereta dan meninggalkan pria itu. Tidak mungkin dia Jung Yunho.. Bukankah banyak sekali orang yang bernama Jung Yunho di dunia ini? Meskipun ia memang benar-benar Jung Yunho, pasti ia sudah melupakanku.. Apalagi, setelah aku putus kontak dengannya karena Ayah yang tidak suka melihatku bergaul dengan Yunho, mungkin menjadi sebuah alasan ia bisa melupakanku. Yeah, dia lupa.. Anggap saja kalau ia telah melupakanku.

Baru saja beberapa langkah kakiku keluar dari kereta, sebuah suara dari belakangku memanggil diriku dengan suara yang lantang, “Hei!!”

Aku yang mendengarnya pun langsung berbalik. Seketika, aku melihat pria yang kuduga bernama Jung Yunho itu tengah berlari kecil kearahku. Mungkinkah..? Apa benar ia adalah Jung Yunho dan ia masih mengingatku?

“Apa kita pernah saling mengenal?”tanyanya padaku. Benar.. ini memang Jung Yunho.. Sungguh, ini memang Jung Yunho!

“Yunho-ya!” belum sempat aku menjawab, sebuah suara menghampiri kami berdua. Kulihat seorang wanita tengah berlari kecil kearah Yunho. Wanita itu menatap aneh kearahku, seolah-olah berkata : ‘Siapa dia..?’

“Ahra-ya?”kata Yunho pada wanita yang menghampirinya itu. Apa? Ahra? Go Ahra?

Dan kulihat di jari manis mereka berdua tersemat cincin yang sama. Apakah itu.. cincin pernikahan? Entah mengapa ketika melihat hal itu, hatiku terasa remuk dan hancur. Ada apa dengan diriku?

“Sepertinya aku pernah melihatnya…”gumam Ahra sambil memandangku penuh selidik.

Aku yang mendengarnya langsung membungkukkan badanku dengan cepat, “Maaf.. mungkin kalian salah orang..”kataku pada Yunho dan Ahra yang kini sudah menjadi sepasang suami istri itu. Buru-buru aku berlari meninggalkan mereka berdua.. meninggalkan Yunho dan Ahra..

Hmmh, baiklah.. kalian berdua adalah bagian dari masa laluku. Bagian dari masa laluku yang entah mengapa tiba-tiba muncul di masa sekarang. Dan kau Jung Yunho… ingatlah,kau akan selalu ada di dalam hatiku…

*END*

Huwhahahaha… author comeback dengan ff oneshot nista author.. sebenarnya ni ff udah pernah aku post di akun fb ku, tapi aku coba buat post di blog ini lagi.. ^^
tapi kalo yang di fb genre nya beda… bukan straight… wehehehe~

Makasih udah mau baca.. mohon tinggalkan komentar, ne?

Yang komen aku doain dinikahin sama biasnya.. xDD

I’m Married! (Part 4)

Nah,ini dia Part 4 nya ^^ Pasti banyak yg nunggu deh ^^ *author kepedean*
mohon dinikmati aja deh ceritanya,,mian kalo gaje,,

FF INI KARYA SAYA!! TANPA NGEPLAGIAT FF LAIN!! JADI,KALAU ADA FF YANG MUNGKIN MIRIP DENGAN YANG SAYA PUNYA,ITU KETIDAK SENGAJAAN!! JADI AWAS AJA KALO ADA YANG SAMPE BILANG KALO AKU INI PLAGIAT!!!! TAK TENDANG KOWE!! *jawanya keluar*

Author nggak akan pernah bosan untuk mengatakan jangan pernah menjadi Silent Reader!! Tolong hargai apa yang sudah aku tulis,,meskipun ceritaku nggak bagus2 banget,seenggaknya tolong kasih komentar yang sekiranya bisa membangun untuk aku dan karyaku,,

Aku nggak akan terima bash! Jadi mendingan komen aja deh,,komennya yang positif,ok? J

..::o::..

Title : I’m Married
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Length : 4/?
Rating : PG 15
Main Cast : Nam Joomin,Park Yoochun,Hwang Miyoung (Tiffany SNSD),Jung Yunho
Other Cast : (Saya males nyantumin nama2nya,, ==” *plakk)

..::o::..

*Cuplikan Part 3*

“Ajusshi,wanita yang bernama Hwang Miyoung ini siapa? Pacarmu?”tanyaku pada Yoochun sambil menunjuk wanita yang berada di samping Park Yoochun.

Yoochun menoleh dan melihat wajah wanita yang bernama Hwang Miyoung itu. Akan tetapi,ia langsung merebut foto berbingkai itu dengan cepat dari tanganku dan langsung menyimpannya kembali ke dalam laci dengan cepat dan agak kasar,sehingga menimbulkan suara yang sedikit keras.

“Bukan siapa-siapa,”jawabnya. Aku yang mendengar jawabannya pun mengangguk. “Ayo, belajar lagi,”kata Yoochun dan memintaku untuk memfokuskan diriku pada pelajaran.

Tetapi,diam-diam aku mengamati laci yang merupakan tempat foto itu berada. Entah mengapa,aku menjadi penasaran akan wanita yang berada di dalam foto tersebut.. Apakah itu kekasih Yoochun? Namun entah mengapa,dadaku terasa sesak jika memikirkan kalau wanita itu adalah kekasih Park Yoochun..

..::o::..

*Author POV*

Seorang wanita yang tengah menggeret kopernya sedang berjalan keluar dari bandara Incheon pagi itu. Setelah keluar dari bandara dan menumpang taksi,wanita itu mulai melepas kacamata hitamnya. Ia tersenyum dan memandang pemandangan disepanjang jalan yang ia lalui lewat kaca jendela taksi.

“Korea Selatan.. Hwang Miyoung sudah kembali…”senyum wanita itu sambil terus memandang antusias pemandangan disepanjang jalan dengan mata indahnya..

*Part 4*

Joomin sedang berjalan ditrotoar sambil menikmati satu cone ice cream bersama dua sahabatnya,yaitu Junsu dan Seorin. Ketiganya baru saja pulang sekolah dan habis melakukan rapat club. Kebetulan mereka bertiga mengikuti club musik disekolah mereka.

“Malam semakin larut,kurasa aku akan pulang sekarang. Aku duluan ya!”pamit Seorin dan mulai bergegas untuk pulang.

“Eh,benar.. Aku juga akan pulang. Joomin Noona,sampai ketemu besok ya!”pamit Junsu pada Joomin. Joomin tersenyum dan sedikit melambaikan tangannya. Junsu pun mengangguk dan mulai menyusul Seorin yang sudah beberapa langkah di depannya, “Yaa,Seorin Ajumma!! Tunggu aku!!”

Seorin yang dipanggil seperti itu hanya bisa mendengus pelan. Sudah selama lima tahun Junsu selalu memanggil Seorin dengan sebutan ‘Ajumma’. Bosan juga rasanya jika harus terus-terusan memarahi Junsu yang notabenenya adalah sahabat Seorin dan Joomin sejak lahir. Seorin pun hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik oleh Junsu untuk naik subway. Joomin yang mengamati mereka dari kejauhan tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

Dan setelah subway itu pergi,Joomin menghela nafas panjang. Mau tidak mau,Joomin harus pulang sendirian. Kebetulan hari ini Yoochun tidak menjemputnya. Mungkin Yoochun sedang sibuk.

Joomin pun mulai memasang headsetnya dan mulai mendengar lagu dari boyband favoritnya,2PM. Ia menikmati alunan musik dari MP3 miliknya sambil menikmati ice creamnya. Tetapi,karena terlalu asyik mendengarkan lagu,tiba-tiba saja Joomin tersandung sesuatu dan..

Bruuukkk!

Joomin terjatuh diatas tanah dan ice cream yang dipegangnya tiba-tiba saja hilang setengah. Dan ternyata,sisa ice cream yang setengahnya lagi ada pada rambut seorang Ajumma-ajumma yang saat itu berada di depan Joomin. Kontan saja,Ajumma itu melompat kaget ketika merasakan sesuatu yang dingin tengah menyelimuti rambutnya. Ia pun bertambah shock ketika menyadari bahwa ada cairan ice cream rasa cokelat menetes dari atas kepalanya. Kini,kepalanya penuh dengan ice cream….

“Aduh..”rintih Joomin yang merasa tubuhnya sakit karena jatuh tersungkur begitu saja. Ia masih tidak menyadari kalau ice creamnya tadi telah tertumpah dan mengotori rambut seorang Ajumma yang berada di depannya. Ketika Joomin hendak bangkit,Ajumma yang berada di depan Joomin pun langsung berteriak shock.

“Kyaaaaa!!! Apa-apaan ini?!! Ada ice cream dirambutku?!! Yaa,kau gadis bodoh!! Kau mau menghancurkan rambutku,huh?!!”jerit Ajumma itu sambil memandang Joomin seram.

Langsung saja,orang-orang yang berada di sekitar situ langsung menatap Ajumma itu dan Joomin dengan bingung dan aneh.

“Ah? Ch..Choseonghamnida..” Joomin buru-buru minta maaf sambil membungkukkan badannya sembilan puluh derajat berulang kali. Joomin benar-benar merasa bersalah dan berharap dalam hati kalau Ajumma itu akan memaafkannya.

“Apa katamu?! Kau hanya meminta maaf saja?!! Aku sudah menata rambut ini disalon setengah jam yang lalu,dan kau merusaknya dengan ice creammu itu?!!”amuk Ajumma itu lagi.

“Choseonghamnida.. Aku juga tidak sengaja melakukan hal ini..”kata Joomin lagi dan berusaha agar Ajumma itu mau memaafkannya.

Dan bersamaan dengan itu,sebuah mobil berwarna hitam tengah melintasi tempat dimana Joomin dan Ajumma itu berada. Ternyata,di dalam mobil itu ada seorang Park Yoochun yang sedang memeriksa beberapa dokumen dan Sekretaris Lee yang sedang menyetir mobil.

“Sekretaris Lee! Sudah pukul berapa ini?!! Kau menyetir lambat sekali! Lain kali,aku tidak akan mengijinkanmu untuk menyetir mobil milik perusahaan!!”bentak Yoochun galak pada Sekretaris Lee.

Sekretaris Lee yang dibentak seperti itu langsung menggigit bibir bawahnya dengan takut, “Ch..choseonghamnida,Sajangnim…”kata Sekretaris Lee takut-takut.

Yoochun yang mendengar hal tersebut mendengus pelan. Dan tak sengaja,manik matanya menangkap sosok Joomin yang sedang membungkuk berkali-kali pada seorang Ajumma di pinggir jalan. Yoochun yang melihat hal tersebut pun langsung menyuruh Sekretaris Lee untuk menghentikan mobil, “Sekretaris Lee! Cepat berhenti!”pinta Yoochun.

“Ye? T.. Tapi,Sajangnim…”

“Kubilang berhenti,ya berhenti!! Kau mau aku pecat,huh!?”bentak Yoochun memotong kalimat Sekretaris Lee. Karena merasa sangat takut atas kegalakan Yoochun,Sekretaris Lee pun langsung menghentikan mobil di sisi jalan. Setelah mobil berhenti,Yoochun pun langsung keluar dari mobil dan langsung diikuti oleh Sekretaris Lee.

Yoochun pun mengarahkan langkah kakinya pada Joomin yang sedang dimarahi oleh seorang Ajumma yang dikepalanya terdapat banyak ice cream.

“Kau ini bodoh sekali! Bagaimanapun kau harus tanggung jawab atas kejadian ini!!”amuk Ajumma itu pada Joomin.

Joomin pun kembali membungkukkan badannya meminta maaf, “Aku tidak sengaja.. Aku tidak tahu kalau hal ini bisa terja..”

“Ada apa ini?”tanya Yoochun yang kini telah berdiri di samping Joomin.

Joomin dan Ajumma itu yang mendengar suara Yoochun pun langsung menatap kearah Yoochun.

“Ajusshi?”gumam Joomin kaget menyadari keberadaan Yoochun.

Ajumma yang kepalanya terdapat ice cream itu langsung tersenyum canggung ketika melihat keberadaan Yoochun. Ajumma itu tampak sungkan ketika melihat sosok Yoochun yang terlihat begitu berwibawa dengan jas ala Presdir yang dikenakannya.

“Ah..begini.. tadi gadis ini menumpahkan ice creamnya dikepalaku..”jelas Ajumma itu sambil tersenyum.

Yoochun yang mendengarnya langsung menatap kearah Joomin, “Apa benar begitu?”tanya Yoochun pada Joomin. Joomin yang mendengarnya pun mengangguk pelan dan kemudian menundukkan kepalanya. “Aku kan tidak sengaja…”kata Joomin takut-takut pada Yoochun. Yoochun yang mendengarnya menghela nafas pendek dan kembali berfokus pada Ajumma itu kembali, “Dia sudah meminta maaf?”tanya Yoochun lagi pada Ajumma tersebut.

“Sudah.. tapi,bagaimanapun rambutku ini sangat berharga. Aku baru menatanya disalon.. Dia juga tidak bertang..”

“Jadi,kau belum memaafkannya?” Yoochun memotong kalimat Ajumma tersebut sambil memandang Ajumma itu lurus.

“Eh?”Ajumma itu memandang bingung kearah Yoochun.

“Dia ini sudah meminta maaf padamu,tetapi kau tidak memaafkannya. Apa kau bisa membayangkan apabila kau lah yang berada diposisi gadis ini? Bagaimana perasaanmu?”ucap Yoochun sambil memandang Ajumma itu. Joomin yang mendengar kalimat Yoochun mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanya kearah Yoochun.

Ajumma itu tampak gugup seketika, “T..tapi..”

Namun,dengan cepat Yoochun memotong kembali kalimat Ajumma itu, “Lagipula,apa kau tidak malu dilihat oleh orang banyak? Apa kau tidak menghiraukan tanggapan orang lain kalau kau lebih memperhatikan rambutmu daripada perasaan seseorang? Apakah kau tidak pernah diajarkan untuk memaafkan orang lain sewaktu kau kecil?”kata Yoochun lagi sambil memandang Ajumma itu tajam.

Joomin yang melihat itu hanya memandang Yoochun kaget dan bingung. Mana bisa Yoochun berkata seperti itu pada seseorang yang lebih tua? Yoochun terlampau berani.. Apa semua ini dilakukan oleh Yoochun untuk membela Joomin?

Ajumma itu kini terlihat gugup dan hendak menjelaskan hal itu sekali lagi, “Be..begini..”

“Masih tidak terima? Baiklah,aku akan memberikanmu uang untuk menata rambutmu kembali,” Yoochun pun mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikan uang itu pada sang Ajumma. “Sekretaris Lee,” Yoochun memanggil Sekretaris Lee yang berada di sampingnya setelah Ajumma itu menerima uang dari tangan Yoochun.

“Y..ye,Sajangnim?”respon Sekretaris Lee.

“Kita antarkan gadis ini pulang,”kata Yoochun sambil melirik Joomin yang sedang menatap Yoochun dengan bingung.

..::o::..

*Joomin POV*

“A..ajusshi! berhenti!” Aku menghadang langkah Yoochun yang hendak menaiki mobil. Kini tubuhku berada di hadapan Yoochun dan berhasil membuat langkah Yoochun berhenti karena terhalang oleh ku.

Yoochun yang menyadari akan tingkahku langsung menatapku, “Apa?”tanyanya.

“K..kau melakukan hal itu untuk..untuk..m..membelaku?”tanyaku dengan nada agak gugup. Aku takut kalau ia menjawab tidak. Kalau ia menjawab ‘tidak’,berarti aku terlalu GR.

Yoochun menghela nafas, “Ne,”jawab Yoochun singkat dan mengambil jalan di samping tubuhku lalu naik ke dalam mobil.

Aku yang mendengar jawabannya mematung di tempatku. A..Apa benar dia melakukan hal ini untuk membelaku? Mengapa ia membelaku? Dia baik sekali..

..::o::..

Malam ini aku sedang menonton TV di ruang tamu. Sejak tadi,Yoochun belum pulang. Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Apa dia kerja lembur,ya? Lalu..Apakah ia sudah makan? Dari pada bingung begini,lebih baik aku mengirimnya pesan singkat..

Ajusshi,kenapa belum pulang? Cepat pulang.. Aku akan membuat makan malam.

From : Joomin
To : Yoochun Ajusshi

Aku mengetik kata-kata itu di ponselku dan hendak mengirimkannya pada Yoochun Ajusshi. Eh,tapi tunggu sebentar! Kenapa aku mulai mencemaskannya? Kenapa aku malah bertingkah seperti seorang istri? Kalau dia belum pulang dan kelaparan,itu bukan urusanku. Terserah saja dia mau melakukan apa.. Apapun yang terjadi padanya,itu tidak ada sangkut pautnya denganku.

Setelah berpikir seperti itu,aku pun menghapus semua kalimat-kalimat itu dan batal untuk mengirimkannya.Tetapi,perlahan aku mengetik kalimat-kalimat itu kembali. Dengan ragu,aku pun hendak mengirim pesan itu. Dan akhirnya,pesan itu terkirim dengan sukses.

“Hyaaa,apa yang telah aku lakukan?!”rutukku ketika menyadari bahwa pesan itu sukses terkirim. Aduh,memalukan.. Kenapa aku mengirimi Ajusshi itu pesan?! Ck,pasti Ajusshi itu akan menganggapku sebagai gadis yang memalukan! Ia pasti tidak akan membalas pesanku..

Beberapa detik kemudian,tiba-tiba saja ada suara mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumah. Ah,pasti itu Yoochun Ajusshi! Semoga,ia belum membaca pesanku! Dengan secepat kilat,aku bangkit dari sofaku dan langsung membuka pintu. Kulihat bahwa Yoochun keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil itu. Ia juga sedikit mengendurkan dasinya dan melepas kancing jasnya. Lalu,ia mulai melangkah hendak masuk ke dalam rumah.

“A..Ajusshi!”seruku di hadapannya.

Dengan cepat Yoochun langsung memandangku. Sepertinya ia agak kaget.

Aku pun langsung berjalan mendekati Yoochun. Kulihat kalau Yoochun membawa sebuah aquarium plastik berisi dua ekor ikan koi. Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahas soal ikan. Yang terpenting adalah pesan singkatku itu!

“Aku pinjam ponselmu!”kataku.

Yoochun pun memandangku heran, “Memangnya kenapa?”tanyanya.

“Sudah,berikan saja!”

Yoochun yang mendengar perkataanku mendengus pelan. Ia pun memberikan ponselnya padaku. Dan secepat kilat,aku menerima ponsel itu darinya dan memeriksa kotak masuk. Hahh…syukurlah..pesanku belum terbaca. Dengan cepat,aku langsung menghapus pesan itu.

“Kau memeriksa kotak masuk?”tanya Yoochun sambil memandangku.

Aku yang mendengarnya langsung terlonjak kaget lalu menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhku, “T..tidak!”bohongku. Aish,pasti dia mengetahui apa yang sedang aku lakukan..

“Tadi kulihat ada pesan masuk dan aku belum membacanya..itu dari siapa?”

“T..tidak ada pesan masuk,”bohongku lagi dengan nada bicara yang gugup.

Tetapi sepertinya Yoochun tidak mempercayaiku begitu saja. Ia pun memandangku dengan curiga. Perlahan,ia meletakkan aquarium plastik yang dibawanya itu ke atas tanah. Dan ia mulai melangkah mendekatiku dengan tatapannya yang lurus kearah bola mataku. Menyadari kalau ia semakin berjalan mendekatiku,aku sedikit berjalan mundur untuk menghindarinya.

Dan tiba-tiba saja,tumitku tersandung oleh sebuah batu. Karena tidak siap,aku pun hendak terjatuh sambil berteriak, “Kyaaaaa!! E..eh?” tiba-tiba saja aku mendadak bingung karena aku tidak jadi terjatuh. Tetapi dengan cepat kusadari,bahwa dengan posisi siap jatuhku,tangan kanan Yoochun menahan pinggangku dan tangan kirinya menggenggam tangan kananku. Tangan kiriku mencengkram bahu kanannya dan kaki kananku tertekuk ke belakang. Namun,yang membuatku tidak sanggup berkata-kata adalah posisi kami yang sekarang ini telah mengakibatkan wajah kami menjadi begitu dekat. Kulihat matanya yang bersinar itu memandang wajahku dengan tatapan yang sedikit kaget. Sedangkan,aku menatapnya dengan gugup dan kaget.

‘Deg..deg..deg..deg..’

Jantungku melompat-lompat di dalam tubuhku. Dengan susah payah,aku menelan ludahku dengan gugup. Tetapi,aku langsung mendorong tubuh Yoochun dan mencoba untuk menormalkan kembali diriku. Kulihat bahwa Yoochun melakukan hal yang sama denganku. Sepertinya ia cukup salah tingkah akan hal ini.

“P..ponselmu terjatuh!”kataku dan langsung menyambar ponsel Yoochun yang terjatuh di atas tanah. Aku mengeluarkan tampilan dari menu kotak masuk dan memberikannya pada Yoochun kembali. Yoochun Ajusshi pun langsung menerima ponselnya dari tanganku dan membawa aquarium plastik berisi ikan itu ke dalam rumah. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukanku. Huh,cuek sekali dia..

*Author POV*

Diluar pagar rumah Yoochun dan Joomin,ternyata ada seseorang yang melihat kejadian yang baru saja terjadi,kejadian dimana Joomin hendak terjatuh namun Yoochun menahannya.

Sosok yang merupakan seorang namja yang memakai jaket training sambil menggenggam tali yang digunakan untuk mengajak anjingnya jalan-jalan itu,tersenyum melihat kejadian itu. tetapi,kemudian ia kembali melirik pada anjingnya yang kini tengah bersamanya, “Taepoong-ah,sepertinya sudah cukup jogging malam-malam seperti ini. Ayo kembali ke rumah,”kata Yunho dan kembali membawa anjingnya yang bernama Taepoong itu untuk pulang ke rumah.

*Joomin POV*

Hari ini adalah hari Minggu. Jadi,aku dan Yoochun hanya berdiam di rumah pada hari ini. Hari sudah siang dan aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke luar rumah. Aku merasa bosan. Bayangkan saja,di hari Minggu ini aku sama sekali tidak ada kerjaan. Apalagi,si Ajusshi itu hanya mengurung diri di kamarnya sepanjang hari. Entah apa yang ia lakukan,aku tidak peduli..

Akhirnya aku memakai sepatuku dan mencoba berjalan keluar rumah. Dan setelah berada di luar rumah,aku tersenyum. Hmmh,setidaknya aku bisa menghirup udara diluar sekarang.

Aku pun membuka pintu pagar dan keluar rumah. Aku berjalan-jalan sebentar sambil mengamati beberapa rumah lainnya yang bersebelah dengan rumahku. Perumahan ini cukup asri dan nyaman. Meskipun sekarang tampak agak sepi,itu tidak menggangguku. Ketika sedang asyik berjalan-jalan,aku melihat seekor anjing besar yang tengah berlari ke arahku. Aku yang melihat anjing itu pun terlonjak kaget. Apalagi ia sedang berlari ke arahku sambil menjulurkan lidahnya. Karena takut,aku pun langsung berlari secepat mugkin.

Hyaaaa,bagaimana bisa hal ini terjadi?! Aku kan takut anjing! Aku pun semakin mempercepat lariku. Tetapi,semakin cepat aku berlari,anjing itu semakin cepat mengejarku.

“Kyaaaa,tolong! Tolong aku! Jauhkan aku dari anjing ini! Kyaaa, jangan mendekat anjing aneehh!”jeritku sambil mencoba untuk mengusir anjing itu.

Tetapi percuma saja,anjing itu masih bersemangat mengejarku. Akhirnya,aku sampai disuatu rumah yang pagarnya terbuka. Aku pun langsung masuk begitu saja ke dalam pekarangan rumah tersebut dan menarik-narik baju sang pemilik rumah yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.

“Hyaaa,tolong! Tolong aku! Anjing itu mengikutiku terus! Tolong jauhkan anjing itu dariku.. Kumohon!”kataku sambil menarik-narik baju si pemilik rumah itu sambil memejamkan mataku takut.

“Eh? Murid Joomin?”

Tiba-tiba saja suara sang pemilik rumah itu sanggup membuka mataku seketika. Aku kenal suara ini. Ini suara… Jung Yunho Seonsaengnim!! Lantas,aku pun langsung menatap wajah Jung Seonsaengnim  dan melepaskan tanganku dari bajunya.

“Ch..choseonghamnida…”ujarku gugup sambil memandangnya takut.

Seonsaengnim hanya tersenyum melihatku dan kemudian ia menghampiri anjing yang tadi mengejarku. Ia mengelus puncak kepala anjing itu dengan penuh kasih sayang. Sedangkan,anjing itu hanya duduk manis sambil menggoyangkan ekornya kesana-kemari ketika menerima sentuhan Seonsaengnim.

“Dia ini anjingku. Namanya Taepoong..”kata Jung Seonsaengnim sambil tersenyum kearahku, “Apa dia ini yang mengejarmu?”tanya Jung Seonsaengnim.

Aku pun mengangguk pelan, “B..benar…”

..::o::..

Sekarang aku dan Jung Seonsaengnim sedang duduk di kursi taman yang terletak di halaman rumah Jung Seonsaengnim. Ia memberiku segelas susu dan beberapa keping biskuit.

“Seonsaengnim tinggal disini?”tanyaku pada Jung Seonsaengnim.

Jung Seonsaengnim mengangguk, “Setelah pindah dari Pusan,aku langsung tinggal disini,”jawabnya sambil mengelus Taepoong yang berada di depan kami. Yahh,ternyata anjing yang mengejarku tadi adalah anjing milik Jung Seonsaengnim. Taepoong namanya.. Kata Jung Seonsaengnim,Taepoong mengejarku karena ia menyukaiku. Huh,apa Taepoong naksir padaku? Menakutkan sekali.. Untung saja di sampingku ada Jung Seonsaengnim. Jadi,aku tidak perlu merasa was-was pada Taepoong.

“Seonsaengnim berasal dari Pusan?”tanyaku.

“Sebenarnya aku orang Gwangju. Tapi,setelah lulus kuliah di Seoul,aku diminta untuk mengajar di Pusan. Setelah beberapa tahun di Pusan,aku dipindah tugaskan ke Seoul,”jawab Jung Seonsaengnim sambil tersenyum.

Oh,ternyata begitu.. dari Gwangju ke Seoul,lalu ke Pusan,dan kemudian kembali lagi ke Seoul. Wah,rumit juga ya.. Pantas saja,saat pernikahanku di Pusan,aku sempat melihat Jung Seonsaengnim di tepi pantai, “Seonsaengnim tinggal sendiri disini?”tanyaku lagi.

“Aku tinggal bersama Ibuku.. Ibuku tinggal di Seoul meskipun aku di Pusan dulu,”jawabnya lagi.

Aku mengangguk tanda mengerti. Dan kemudian,aku pun bertanya, “Seonsaengnim umurnya berapa?”

“Ng? Umurku…”

“Eomoni sudah pulang!” tiba-tiba saja sebuah suara terdengar dari arah pintu pagar. Sontak saja,aku dan Jung seonsaengnim memandang ke arah sumber suara.

“Eomoni?”sambut Jung Seonsaengnim sambil menghampiri Ibunya yang sedang membawa beberapa kantung belanjaan.

Oh Tuhan! Aku..aku kenal akan wajah Mrs. Jung ini! Aku menatap Mrs. Jung dengan kaget. Mrs. Jung juga memandangku kaget. Ya ampun..ada apa ini? Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Mrs. Jung ini kan… Ajumma yang rambutnya terkena ice cream olehku kemarin!! Hyaaaa,bagaimana bisa aku bertemu dengannya disini?!! Dan pada kenyataannya,ia adalah Ibu dari Jung Seonsaengnim!!

“Kau?!”pekik Mrs. Jung sambil menatapku kaget. Aish..pasti dia masih ingat akan kejadian kemarin.. Ck,tamatlah riwayatku sekarang…

..::o::..

“Jadi,Eomoni dan Murid Joomin sudah saling mengenal?”kata Jung Seonsaengnim antusias ketika kami bertiga sedang duduk diruang tamu rumah Jung Seonsaengnim.

Mrs. Jung yang mendengar hal itu mendengus dan kemudian meminum segelas air putih di atas meja dengan cepat. Sepertinya,Mrs. Jung cukup frustasi karena harus bertemu denganku lagi. Apalagi,Yoochun Ajusshi sudah melontarkan kata-kata yang sepertinya menyakitkan hati Mrs. Jung karena membelaku. Aku pun menunduk dalam-dalam karena tidak berani menatap Mrs. Jung.

“Jung Yunho! Apa gadis ini adalah muridmu?! Apa kau tahu kalau dia lah yang sudah mengotori rambutku dengan ice cream kemarin?!”seru Mrs. Jung pada Jung Seonsaengnim.

Seonsaengnim yang mendengarnya sedikit terkejut dan kemudian tertawa kecil, “Sungguh? Hahaha,lucu sekali.. Kebetulan ya,Eomoni dan Murid Joomin bisa bertemu lagi. Hahahaha..,”tawa Seonsaengnim.

“Ya,Jung Yunho! Apa kau tertawa ketika Ibumu ini sedang kesal?!”dengus Mrs. Jung sambil menatapku sinis. Sedangkan,aku yang ditatap seperti itu berusaha menghindar dari tatapan Mrs. Jung. “Ya,neo! Siapa nama pria yang telah membelamu kemarin?! Dia tampan tapi tidak memiliki sopan santun!” tiba-tiba saja Mrs. Jung bertanya padaku dengan nada seketus mungkin.

Aku yang ditanya seperti itu langsung tergugup seketika. Masa aku harus menjawab : ‘Dia suamiku…’
Huh,mana mungkin aku menjawab dengan kata-kata seperti itu?!

“I..itu kerabatku…”jawabku gugup. Setelah berkata seperti itu,kurasakan bahwa Jung Seonsaengnim mendelik kearahku. Apa mungkin ia tahu kalau jawabannya bukanlah ‘Kerabat’ melainkan ‘Suami’?

..::o::..

Aku membuka pintu rumah dengan lesu. Langkahku terasa lambat dan wajahku menunjukkan kalau aku sedang cemberut. Huh,aku merasa sial hari ini.. Aku dikejar oleh anjing dan bertemu dengan Ajumma yang kepalanya terkena ice cream.. Dan parahnya lagi,Ajumma itu adalah Ibu dari Jung Yunho Seonsaengnim!! Ck,aku ini benar-benar malang sekali..

Aku pun menutup pintu rumah perlahan. Tetapi tanpa sengaja,aku melihat Yoochun sedang berdiri di ruang tamu sambil berbicara dengan seseorang diponselnya. Aish,apakah ia baru keluar setelah aku pergi?

“Kenapa… kenapa kau ke Korea? Miyoung-ah,apa yang kau harapkan lagi? Bukankah aku sudah melepaskanmu?”

Diam-diam aku mendengar kalimat Yoochun yang sepertinya sedang berbicara di telepon. Raut wajahnya terlihat kacau dan agak sedih. Ada apa dengannya? Dan siapa itu Miyoung? Ah! apa benar Miyoung yang dimaksudkan oleh Yoochun Ajusshi adalah Hwang Miyoung,gadis yang ada di foto itu?!

“Mianhae,aku tidak bisa…Kumohon,lupakan aku Miyoung-ah..”

Dan setelah berbicara seperti itu,Yoochun Ajusshi terlihat menyudahi percakapan secara sepihak. Ia melemparkan ponselnya disofa dan duduk disofa dengan raut wajah frustasi namun sedih.

“Ajusshi..?” perlahan aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.

Yoochun menolehkan kepalanya kearahku dan kemudian menegakkan posisi duduknya, “Apa?”responnya.

Aku menggeleng, “Ani..”

“Kau habis darimana?”tanya Yoochun Ajusshi lagi.

“Tadi aku jalan-jalan.”

“Oh,jalan-jalan…”angguknya dan ia memandang kearah aquarium kaca berisi ikan koi yang dibawanya tadi malam. Kini,aquarium berisi ikan itu berada di samping sofa.

“Ikan itu..dari siapa?”tanyaku.

Yoochun Ajusshi terlihat menghembuskan nafas panjang, “Sepertinya aku memang salah menerima dua ekor ikan ini darinya..”gumam Yoochun Ajusshi sambil memandang dua ekor ikan yang berenang-renang di dalam aquarium itu.

“Apa?”tanyaku bingung. Apa maksudnya? Aku tidak mengerti gumamannya itu..

Yoochun Ajusshi menggeleng, “Bukan apa-apa.. Malam ini,mau tidak jalan-jalan bersamaku?”

..::o::..

Malam ini aku dan Yoochun Ajusshi sedang berjalan-jalan di sebuah pasar malam. Pasar malam terlihat sangat ramai di datangi oleh pengunjung. Lampion-lampion beraneka bentuk pun digantung di setiap pohon-pohon yang ada disini. Banyak sekali stand-stand yang menjajakan aneka dagangan.. Mulai dari makanan,perhiasan,penghias rambut.. bahkan ada juga stand tempat meramal nasib orang. Tetapi,sekarang aku dan Yoochun Ajusshi sedang berada di sebuah stand kue beras pedas.

“Wahh,ini enak sekali!”kata Yoochun Ajusshi sambil memakan berpotong-potong kue beras.

Aku yang sedang makan kue beras pun menatapnya bingung, “Ajusshi belum pernah makan kue beras pedas?”

“Sudah pernah.. tapi,aku tidak pernah makan yang dijajakan seperti ini.. Biasanya,aku membeli kue ini di restoran. Dan aku rasa yang ini lebih enak,”jawabnya sambil tersenyum.

Ah? Restoran? Ya ampun.. orang ini benar-benar kaya..

“Joomin-ah,ayo kita kesana! Disana ada penjual kue Yaksik!” tiba-tiba saja ia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah stand kue. T..tapi,sebentar.. Apa tadi dia bilang? ‘Joomin-ah’? dia memanggilku.. ‘Joomin-ah’?! Bukan ‘Nam Joomin’?!

Kulihat ia memakan beraneka kue yang dijajakan dengan tampang bahagia. Humh,entah mengapa Yoochun Ajusshi bukan lagi seorang namja yang dingin dimataku. Tapi,ia menjadi berubah seperti ini apa karena seseorang yang meneleponnya tadi siang? Ah,yang benar saja.. Tidak mungkin.. Mungkin saja,Yoochun Ajusshi melakukan hal ini karena ia sedang bosan..

Ketika sedang asyik menyantap kue yaksik sambil berjalan dan mengobrol,tiba-tiba saja tubuhku tertabrak oleh seseorang dari belakang. Aku pun hampir terjatuh,namun aku berhasil menahan diriku. Kulihat seseorang menabrakku tengah berlari secepat mungkin diantara kerumunan orang-orang yang ada.

“Astaga,kau baik-baik saja?”tanya Yoochun Ajusshi padaku. Kemudian, ia memandang orang yang berlari dan telah menabrakku tersebut.

“Aku baik-baik saja,”jawabku sambil tersenyum. Hei! T..tapi.. mana ponselku?!! “P..ponselku hilang!”jeritku sambil memandang Yoochun panik.

Seketika,Yoochun Ajusshi membelalakkan matanya lebar-lebar, “M..mwo?! Pasti orang itu yang sudah mengambil ponselmu!” setelah berkata seperti itu, secepat kilat Yoochun Ajusshi langsung mengejar seseorang yang telah menabrakku.  Aku yang melihat hal tersebut pun ikut berlari untuk mendapatkan ponselku.

“Hei,heii! Ada penjambret!!!”jeritku sambil berlari secepat mungkin.

Meskipun begitu,kerumunan orang-orang banyak menyulitkan kami untuk mengejar penjambret itu. Tadi,pejambret itu hampir saja tertangkap oleh Yoochun Ajusshi. Tetapi gagal karena pejambret itu larinya sangat cepat. Akhirnya,aku dan Yoochun Ajusshi pun berhenti berlari.

“Sial!”umpat Yoochun Ajusshi sambil memandang sekeliling untuk mencari keberadaan pejambret ulung tersebut.

“Ck,bagaimana ini? Ponselku hilang..”kataku sedih. Aku menundukkan kepalaku sambil menggigit bibir bawahku dengan sedih. Kenapa harus hilang?! Ponsel itu adalah ponselku satu-satunya! Kalau sampai hilang,apa yang harus aku lakukan?! Aku tidak bisa lagi menelepon Eomma dan Eonni yang berada di Jepang,ataupun teman-temanku Seorin dan Junsu..

Yoochun Ajusshi yang mendengar perkataanku pun mengelus puncak kepalaku dengan lembut, “Sudahlah..,nanti aku akan membelikan ponsel yang baru untukmu,”kata Yoochun Ajusshi sambil tersenyum.

Aku yang melihatnya tersenyum mulai merasa tenang. Sesuatu yang hangat pun mulai menyelimuti hatiku ketika melihatnya seperti ini.. Kenapa ia bersikap lembut seperti ini padaku? Ini sungguh tidak biasanya..

*Author POV*

Seorin dan Junsu sedang berjalan disebuah pasar malam yang sama dengan Yoochun dan Joomin. Keduanya terlihat sedang adu mulut. Tidak ada yang mau mengalah dan selalu melempar argumen.

“Mana aku tahu kalau jadinya seperti ini!? Aku’kan lupa membawa uang!”sewot Junsu.

“Dasar tidak bertanggung jawab! Tadi katamu kau akan mentraktirku makan! Toh,aku juga yang membayar semuanya!”balas Seorin geram.

“Sudah kubilang kalau uangku ketinggalan!”bantah Junsu.

“Kalau begitu,tidak usah mengajakku keluar!”

“Cerewet!”

“Tidak bertanggung jawab!”

Keduanya terus saja bertengkar sehingga beberapa orang yang berada di dekat mereka menatap Junsu dan Seorin dengan tatapan yang aneh karena keributan mereka.

“Huh..aku sangat kesal!”rajuk Seorin sambil memajukan bibirnya kesal.

Junsu yang melihatnya mendengus dan mencibir sebentar. Sampai akhirnya,tanpa sengaja mata Junsu menangkap sosok Joomin yang sedang berbincang-bincang dengan seorang namja yang tidak dikenal oleh Junsu. Joomin terlihat sedih saat itu dan seorang namja yang berada disamping Joomin berusaha untuk menghibur Joomin. Yeah,Joomin sedih karena ponselnya baru saja hilang dan namja yang berada di samping Joomin adalah Park Yoochun.

Junsu yang merasa bingung pun langsung menyikut Seorin, “Ya,Ajumma!”panggil Junsu pada Seorin.

Seorin mengangkat kepalanya dan menatap Junsu dengan malas, “Ada apa,Duckbutt bodoh?”

“Itu.. ada Joomin Noona!” Junsu menunjuk-nunjuk Joomin yang berjarak beberapa meter darinya.

Seorin yang mendengar kalimat Junsu pun langsung menatap kearah yang ditunjukkan oleh Junsu. Dan benar saja,ada seorang Nam Joomin disitu dan ia didampingi oleh seseorang yang tidak dikenal oleh Seorin. Seorin yang melihatnya pun sedikit mengernyitkan alisnya heran, “Siapa namja yang berada disampingnya itu?”tanya Seorin sambil terus memperhatikan sosok namja yang berada disamping Joomin.

“Benar,aku juga tidak tahu,”kata Junsu.

Seorin berpikir sebentar.. “Wajahnya mirip dengan.. Park Yoochun Sajangnim dari Big East Group!”terka Seorin sambil menatap Junsu. “Aku juga pernah melihat Park Sajangnim disekolah! Sepertinya,saat itu Park Sajangnim sedang mengantar Joomin ke sekolah!”

Junsu kelihatan bingung, “Park Yoochun Sajangnim? Lalu apa hubungannya dengan Joomin Noona?”tanya Junsu pada Seorin.

Seorin pun menghela nafas, “Joomin bilang, dia itu kerabatnya..”

“Tidak mungkin!”kata Junsu tiba-tiba dan berhasil membuat Seorin menatapnya penuh tanda tanya.

“Lalu apa?”tanya Seorin penasaran.

“Pasti Park Yoochun Sajangnim itu pacarnya Joomin Noona!”seru Junsu sambil menatap Seorin.

Seorin yang mendengar Junsu berkata seperti itu pun terlonjak kaget dan membelalakkan matanya lebar,“Mwo?!”pekik Seorin tidak percaya.

*TBC*

Eu kyang kyang,akhirnya selesai juga part 4 nya *tebar kembang 7 rupa#plaakk

Maaf ne Author jarang apdet.. kalo udah apdet pasti lama banget TT^TT
ni Author publish langsung setelah Author bener2 luang.. kebetulan Author abis selesai UN dan kelar semuanya… mohon maaf ne readerdeul TT^TT

Setelah ini Author janji bakal sering apdet.. paling nggak seminggu sekali deh… atau dua minggu sekali #plaakk

Mohon komennya,ne? Yang jd silent reader masuk nerakaaa!! >O<
Okelah,ditunggu aja part selanjutnya ^^

Kamsahamnidaaaaa~!!! *kabuuuuurrrrr

– I GO CRAZY BECAUSE OF YOU – eps 8

Flashback……

Yeonhee menerima sms dari yesung yang isinya permohonan maaf

From : 0109***********

To: Yeonhee.

Subject: pulang sekolah.

Message : Yeonhee, maaf kalau aku menggangu mu. Nanti siang aku betul-betul tidak bisa menjemput

mu. Mungkin Teukie hyung yang akan menggantikan ku menjemput mu atau yang lain nya.

Yesung.

-Yeonhee’s PoV-

Yayaya whatever mauu kamu jemput ato gak aku juga bisa pulang sendiri!!! Batin ku dalam hati. Akhirnya dia bisa pergi menghilang untuk beberapa saat dari hidup ku. “ Uwaa Yeonhee udah bel ayo turun.” Kata Nari pada ku. “ Ne.” “ Memangnya habis ini pelajaran apa?.” Tanya ku saat turun dari tangga. “ Tata Boga.” Jawab nya sambil berlari kecil. “ Nari aku ga ikut ya.” kata ku pelan. “ Uwa pasti mau bolos pelajaran!!.” Kata Nari. “ Habis kamu tau kan aku benci masak!!.” Kata ku pada nya. “ Biar ah kan ada yang lain kayak  Minjoon, ahra, dan lain nya.” kata Nari sambil memegang tangan ku agar tidak kabur. Huh.. dasar betul-betul serigala berbulu domba!! Teriak ku dalam hati.

“ Ayo cepat ntar kalo telat pasti dihukum ama Seongsaenim.” Kata Nari mengingat kan ku. “ Ne..” Jawab ku. “ Yeonhee kamu duduk belakang kan?.” Tanya Minjoon. “ Yoi males duduk depan pasti ntar Seongsaenim nyuruh aku terus.” Jawab ku. “ Sama donk.” Kata Ahra ikut-ikutan. “ Hahaha.” Ejek yang lain. “ Makanya jadi cewek tu harus bisa masak apalagi kamu Yeonhee kamu udah punya tunangan tapi ga bisa masak.”kata Haejin padaku. “ Kenapa aku?! Tunhangan pake dibawa-bawa lagi!.” Tanya ku marah. “ Just kidd kok.” Kata Minjoon. “ kalian dengan kata lain juga ngejek aku yang ga bisa masak! Dalam hidup ku Cuma ada yang nama nya olahraga!.” Sambung Ahra. “ Ya kita ngerti kok kamu suka olahraga.” Kata ku sambil menepuk pundak ahra. “ Udah ah kelamaan disini. Ayo keruang praktek.” Kata Seojin mengingatkan. Kami pun berjalan menuju ruang praktek tataboga. Inilah pelajaran ke dua yang paling ku benci setelah Matematika!!.

“ Yeonhee sebelah sini!.” Panggil Ahra pada ku. Aku pun berjalan kea rah kursi belakang yang dekat dengan nya. “ Oke apa sudah lengkap semua?.” Tanya Seongsaenim pada kami. “ Arisa belum datang seongsaenim!!.” Jawab yang lain pada GaIn Seongsaenim. “ Oke kalau gitu kita tunggu dia sebentar lagi.” Kata Seongsaenim menuju ke meja prakteknya. ‘ Sambil menunggu Arisa gunakan apron kalian.” Suruh seongsaenim. Tiba-tiba Arisa datang dan masuk ke dalam ruang praktek kulihat dia langsung mengambil tempat duduk disamping Haena. Seongsaenim tidak memarahi keterlambatan nya sama sekali. Aku tau kenapa….

“ Hari ini saya akan mengajarkan kalian cara untuk memotong ikan yang baik dan mengolah nya.” kata GaIn Seongsaenim pada kami. “ Huh murid-murid laki-laki pasti sekarang enak sedang pelajaran mekanik….” Desah ku. “ Kenapa?.” Tanya Nari. “ Gapapa.” Jawab ku langsung. “

Sekarang ambil pisau kalian masing-masing.” Lanjut seongsaenim. “ Kemudian lihat contoh yang akan saya berikan, setelah bel istirahat nanti kalian akan mencoba untuk memotong ikan sendiri-sendiri.” Kata Seongsaenim. Karena tempat duduk ku ada di belakang aku melihat kedepan tidak sengaja mata ku bertatapan dengan Arisa. Dia menatap ku dengan tatapan kebencian dan dendam. Aku tau perasaan nya. untung saja bel istirahat menyelamatkan ku. Kalau tidak aku akan di terkam habis oleh Arisa. “ Oke kita lanjutkan setelah ini.” Kata Seongsaenim mempersilahkan kami istirahat. Kulihat gerombolan Arisa yang langsung berjalan keluar kelas bersamaan.

“ Yeonhee kantin yuk!!.” Ajak Seojin pada ku. “ Tapi aku mau ketemu sama Hanjoon oppa.” Jawab ku. “ Yah, kok gitu!..” kata Seojin lagi dengan tatapan memelas. “ Aku kan udah ga ketemu dia selama 4 hari.. jelas aku kangen.” Kata ku sambil tersenyum. “ Ya udah deh.. Ahra kamu temenin aku ke kantin yuk.” Ajak Seojin mencari teman. “ ga males ajak Minjoon aja aku mau nemenin Yeonhee habis kantin ga ada apa-apa nya.” jawab Ahra singkat. “ yah minjoon..” pelas Seojin kali ini. “ Ok.. Arasho.” Jawab nya kami melihat mereka berdua berjalan menuju kantin.

“ Jadi ga?.” Tanya Ahra tiba-tiba pada ku. “ Ke??.” Tanya ku heran. “ Ke kelas nya hanjoon aku lagi bete berat nih.” Kata nya. “ Heeh jadi.” Jawabku. “ Kalian mau kemana??.” Tanya Nari polos. “ Astaga Nari dari tadi kita ngomong kamu ga ngerti?!.” Tanya ku kaget. “ Kagak.” “ Ih… aku gemes sama kamu!!.” Kata Ahra padanya. “ Ikut ga?.” Tanya ku pada mereka berdua. “ JAdi!!.” Teriak meraka seperti anak kecil.

Kami pun berjalan menuju kelas XII Bahasa 3. “ Hanjoon oppa nya ada??.” Tanya ku pada seorang teman sekelas nya. “ Masuk aja didalam. Aku pun melangkahkan kaki ku menuju kedalam kelas. Tapi langkah ku terhenti didepan pintu karena suatu pemandangan yang sangat menghancurkan hati ku.. aku betul-betul sesak saat ini. Air mata ku mulai menetes. Sedangkan Nari dan Ahra hanya dapat terdiam. Ya.. kulihat Hanjoon sedang berciuman dengan seorang perempuan yang sangat familiar untuk ku. Haena.. Kim Haena!!

Continue reading

If You Know Me ? (Part 1)

Title : If You Know Me ? ( part I )

Author : Miss Katara

Cast :

Kim Jong Woon ( Yesung suju )

Cho KyuHYun ( KyuHyun Suju )

Jung Hyorin

All Member Suju

Hyorin Pov

Malam ini aku datang kembali ke cafe di persimpangan jalan itu , untuk melihat namja itu bernyanyi lagi ,entah sejak kapan aku menyukainya, suaranya membuatku jatuh hati begitu saja padanya sungguh konyol bukan ? kenal saja tidak ! tapi tetap saja aku selalu ingin melihatnya apalagi mendengarnya benyanyi, sungguh bodoh tapi aku selalu gelisah kalu semalam saja tidak mendengarnya benyanyi.Apa yang telah namja itu lakukan  padaku ? sehingga aku terbius olehnya …..

Author Pov

semua orang terhibur dan terbius oleh nyanyian dan lantunan suara Yesung yang begitu indah ,semua orang pun seakan terlarut dalam lagu sedih yang sedang dibawakan Yesung dan merasakan apa yang di sampaikan Yesung dalam lagu itu. Malam semakin larut tetapi pelanggan-pelanggan cafe semakin banyak berdatangan dan memenuhi deretan kursi-kursi di cafe ,entah mereka ingin berniat makan atau melihat penampilan Yesung.

ketika Yesung sedang bernyanyi dan menghibur semua orang di cafe dengan suara indahnya tiba-tiba ada 2 orang pengawal berbadan besar datang dan menarik paksa Yesung pergi ,tampak Yesung pun berontak ” Yaa… lepaskan aku !” hal itu tidak membuat kedua pengawal itu bergeming dan langsung mendorong Yesung masuk kedalam mobil sedan hitam dan segera melaju pergi , Hyorin pun segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi  “Mwo ? kenapa namja itu dibawa paksa seperti itu ?” tanya Hyorin bingung sembari melihat mobil sedan itu yang semakin jauh hingga akhirnya tidak terlihat lagi

at Yesung’s House

“Pletakkkkk” pukulan yang keras mendarat di pipi Yesung ” Apa yang kau lakukan ,huh ?” tanya Tn.Kim pada anak sulungnya “appa  apa kau tidak mengerti perasaan ku,menyanyi adalah hobyku sejak kecil  ” jelas Yesung ” Kau ini sudah gila ,eoh ? apa yang akan dikatakan orang-orang kalau pewaris L Group menjadi penyanyi cafe ! kau ini sungguh keterlaluan ,kau mau mempermalukan keluarga kita !” Tn.Kim pun memarahi Yesung dengan amarah yang tidak bisa terbendung lagi “appa” “Sudah … kalau sampai kau ketahuan menyanyi dicafe lagi ,appa tidak akan segan-segan bertindak tegas padamu ! dan lusa kau harus segera pergi ke New York untuk melanjutkan kuliahmu  dan ketika kembali kau harus siap menjadi pewaris L Group ” tegas appanya dan langsung meninggalkan Yesung diruang tengah , butiran-butiran air bening pun terjatuh dari celah mata Yesung yang tidak dapat tertahan lagi ,ia begitu sedih ,bingung , kesal dan frustasi dengan semua ini.Hal ini membuat Yesung teringat kembali kepada eommanya ,hanya eommanya lah yang mengerti perasaannya dan mendukung impian Yesung menjadi seorang penyanyi karena itu impiannya sejak kecil tetapi appa nya memang sangat menentang keinginan Yesung. Dan kini telah berubah setelah 1 tahun lalu eommanya meninggal karena sakit kini tidak ada lagi seseorang yang membela Yesung dan mendukung Yesung untuk menyalurkan hoby nya itu.

Apa yang akan dilakukan Yesung ?apakah dia akan tetap nekad menyanyi ? atau akan pergi ke New York untuk mengikuti keinginan appa nya ? saksikan kelanjutannya di ” If You Know Me ” part 2 …. Arraso^^

%d bloggers like this: