Tag Archives: Jung Yunho

I’m Married! (Part 3)

Nah,ini dia Part 3 nya ^^ Pasti banyak yg nunggu deh ^^ *author kepedean*
mohon dinikmati aja deh ceritanya,,mian kalo gaje,,
Oh ya, maap juga klo saia kelamaan apdetnya.. soalnya banyak tugas+ulangan+persiapan TO & UN.. saia udh kelas 9 sih, jadi sibuk bukan main.. wuahahaha #sok sibuk
FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar
Okelah,cekidot!!
..::o::..
Title : I’m Married
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Length : 3/?
Rating : PG 15
Main Cast : Nam Joomin,Park Yoochun,Hwang Miyoung (Tiffany SNSD), Jung Yunho
Other Cast : (Saya males nyantumin nama2nya,, ==” *plakk)
Warn : BANYAK TYPO ato MISSING TYPO #entah mengapa dari dulu saia selalu bermasalah sama typo..==#! EYD berantakan! Alur gaje & aneh! Sulit di mengerti, amburadul, cerita awut2an kayak rambutnya nenek lampir..==#pletak!

..::o::..
*Cuplikan Part 2*
Aku dan Yoochun sedang makan malam bersama di ruang makan. Dari tadi,kami tidak berbicara sedikit pun saat kami makan. Suasana ruang makan sangat hening dan hanya ada suara sumpit dan sendok yang merupakan alat makan kami. Sambil mengunyah makananku,aku melirik ke arah Yoochun diam-diam yang juga sedang melahap makanannya. Oh,untunglah dia mau memakan masakanku. Semoga di lidahnya, rasa masakanku tidak buruk.
Karena tidak tahan dengan suasana yang begitu sunyi mencekam. Aku mencoba untuk angkat bicara, “Ajusshi,bagaimana rasa masakannya?”tanyaku pada Yoochun.
Yoochun tidak mengalihkan pandangannya dari makanannya dan ia sama sekali tidak menatapku, “Tidak buruk,”jawabnya sangat-sangat-sangat singkat. Oh Tuhan,aku sampai menyatakan kata ‘Sangat’ hingga tiga kali.
Mendengar jawabannya yang begitu singkat,aku mengangguk kecil tanda memberi respon. Berarti,memang tidak ada masalah dengan rasa masakanku. Ilmu memasak dari Min Ajumma memang sangat berguna. Hahahaha..
“Ngomong-ngomong,siapa nama pria yang berbincang denganmu saat di pantai? Ketika hari pernikahan kita,”tanya Yoochun tiba-tiba tanpa menatap ku sama sekali. Ia masih terlihat asyik menyantap makanannya.
Aku langsung memandangnya ketika ia bertanya seperti itu, “Eum? Oh..itu Jung Yunho…”jawabku.
“Siapa dia?”
“Dia.. orang yang baru saja aku kenal..”
“Orang asing?”
“Eumm.. Bisa dibilang seperti itu.”
Kulihat Yoochun hanya mengangguk. Yeah,Jung Yunho.. Sepertinya dia seumuran dengan Park Yoochun. Tetapi,Yunho tampaknya lebih keren. Ia sama sekali bukan seorang ‘Ajusshi’ dimataku. Yunho lebih pantas jika di panggil ‘Oppa’.
Hmm,Jung Yunho.. Apa aku bisa bertemu dengannya kembali?
*Part 3*
Kini aku sedang berada di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Yoochun. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju sekolahku dan kantor Yoochun. Yoochun memutuskan untuk mengantarku ke sekolah lebih dulu agar aku tidak terlambat. Dari tadi kami hanya diam saja di dalam mobil. Tidak ada satu pun yang berbicara di dalam mobil. Suasana sungguh kaku. Dan ketika kami berhenti disebuah lampu merah,tanpa sengaja aku melirik ke arah Yoochun. Aku menyadari kalau dasi yang dipakai oleh Yoochun sedikit berantakan. Karena melihat dirinya yang tidak menyadari hal tersebut,tanpa ragu aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arah Yoochun bermaksud untuk merapikan dasinya.
“Dasimu berantakan,Ajusshi..”kataku dan mulai merapikan dasi yang dipakai oleh Yoochun.
Yoochun yang menyadari kalau aku mencondongkan tubuhku kearahnya sedikit tersentak kaget. Aku yang mengetahui kalau Yoochun kaget seperti itu langsung menatapnya. Dan ketika mata kami berdua saling bertemu,kami menyadari kalau jarak wajah kami begitu dekat. Aku pun membelalakkan mataku dan Yoochun menatapku kaget. Cepat-cepat,akupun langsung menjauh dari Yoochun dan kembali ke posisiku semula. Oh Tuhan,apa yang sudah aku lakukan?
Aku pun menggigit bibirku karena menyadari sikapku tadi yang spontan saja mendekatinya. Aduh,mengapa aku sebodoh ini?
Yoochun yang menyadari kecanggunganku berusaha untuk menyikapinya dengan santai dan berdeham pendek. Aku yang menyadari tingkahnya menatap Yoochun frustasi. Aish,Ajusshi ini…
“Kita sudah sampai,”ujar Yoochun tiba-tiba.
Aku mengangguk. Setelah beberapa lama di perjalanan,akhirnya kami sampai di SMA Dongshin.
“Aku turun disini saja. Tidak perlu masuk,”kataku.
Yoochun sepertinya tidak menghiraukanku. Dengan santainya,ia malah memasuki halaman SMA Dongshin. Aku yang melihat tingkahnya menatap Yoochun kesal, “Yaa,sudah aku bilang turun di luar saja! Bagaimana kalau ada yang lihat kalau aku berduaan di dalam mobil bersama seorang Ajusshi sepertimu?!”amukku.
Yoochun masih saja tidak mempedulikanku. Dari balik saku jasnya,ia mengambil sesuatu dan memberikannya padaku, “Ambillah,”kata Yoochun sambil menyodorkanku sesuatu yang diambilnya dari saku jasnya.
Aku menatap pemberiannya sebentar. Setangkai permen loli. “Itu..bukan racun’kan?”tanyaku ragu.
Yoochun menghela nafas, “Kau kira aku ini penjahat? Cepat ambil dan keluar dari mobilku. Aku mendapatkannya dari pegawai wanita yang baru saja menyatakan cintanya padaku kemarin.”
Aku cemberut mendengar ucapannya. Dia ini ketus sekali. Bahkan dia mengusirku. Dengan cepat,aku menyambar permen itu dari tangannya dan keluar dari mobil. Aku pun menyimpan permen itu ke dalam saku rokku. Lagipula, kenapa ia memberiku permen dari seorang wanita yang menembaknya? Dia memang benar-benar bukan pria yang baik karena tidak mau menerima pemberian seorang wanita yang mencintainya..
Ketika sudah diluar mobil,aku menutup pintu mobil dengan kasar karena aku sudah terlanjur kesal padanya. Huh,biar saja kalau si bodoh Park Yoochun itu tidak terima. Dan ketika sudah beberapa langkah menjauh dari mobilnya,tiba-tiba saja Yoochun memanggilku dari belakang.
“Yaa,Nam Joomin!”

Continue reading

Marry YOU??!! OH GOD !! (Part 1)

“Shim changmin….sekarang kau harus menjaga Danni sepenuhnya…..jangan lukai atau sakiti dia…walaupun ini hanya sandiwara belaka…”bisik jaejoong pelan ditelinga changmin.

“Uwaaa….aku capek…” Teriak Changmin sambil mengipasi dirinya yang bercucuran keringat.

“Good Job….Shim Changmin….” Kata seseorang pria lanjut usia yang adalah bos SM.

“Lee Soo Man Sshi…” sapa changmin.

“Lalu yang ini Danni kan?? Adik nya Kim Jaejoong??” Tanya LSM sambil menghampiri Danni.

“Ye…Soo Man Sshi… Annyeong Haseyo…” sapa Danni.

Continue reading

Letter of Angel XXIV “INSANE”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI, Part XXII, Part XXIII

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

Korea…. I back…..

Langit Seoul hari ini sangat cerah. Sinar matahari yang hangat, menghangatkan dinginnya pagi.

“Tuan Kim, selamat datang kembali di Korea” ujar sekretarisku. Sekretaris aku tak pernah berpikir untuk memiliki tangan kanan yang akan menyelesaikan semua urusan yang tak sempat aku urus sendiri. Dokter Kim Jaejoong hidupmu sudah berubah. Bukan lagi dokter Kim yang selalu mengurusi rumah sakit dan keluarganya saja, Yuri Haejoong sebenarnya kemana takdir akan membawaku?

“Tuan Kim” Sekretarisku menyadarkanku dari lamunan.

“Nyonya Kim menelpon. Dia ingin memastikan anda sudah sampai dengan selamat” Segera kurogoh ponsel dan memakai headset. Suzzy pasti khawatir. Aku sudah janji untuk menghubunginya segera setelah sampai di Seoul.

“Yeoboseyo” ujarku.

“Yeoboseyo, oppa” Aku bisa merasa kelegaan dari suaranya.

“Mianhae, baru bisa menghubungi sekarang”

“Gwaenchana. Asal kau baik-baik saja. Oppa, semua baik saja kan?” tanyanya.

“Maaf Tuan mengganggu. Doojoon menunggu anda di mansion. Ini laporan penyidikan yang anda minta. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan jas anda untuk pemakaman Tuan Shim. Kita akan sampai di mansion kurang dari 15menit lagi. Buket bela sungkawa sudah dikirim. Kikwang dan Junhyung sudah mengirim orang-orang terbaik untuk pengamanan dan pengawasan keluarga dan sahabat anda.”
Jaejoong mengambil nafas panjang.

“Kematian Changmin apa sudah ada titik terang? Bagaimana laporan hasil penyelidikan dan olah TKP?” Sebagai seorang dokter yang juga pernah mengalami rotasi dokter muda di berbagai bagian termasuk bagian forensik sebelum memutuskan menjadi dokter bedah jantung, Jaejoong cukup mengetahui hal-hal semacam ini.

“Sementara ini polisi masih menganggap ini kasus pencurian biasa terkait hilangnya beberapa barang berharga serta mobil di kediaman Kyuhyun, tetapi kemungkinan besar ini adalah alibi”
Jaejoong terdiam sejenak dan berpikir.

“Saat kejadian siapa saja yang berada di sana?”

“Adik Cho Kyuhyun, Lee Jieun. Tidak lama kemudian Goo Hara tiba di TKP dan langsung memanggil ambulance dan polisi”

“Jieun? Jangan katakan kalau…..” Tenggorokan Jaejoong tercekat. The worst thing is standing beside someone that you love in lifeless stage, but the worse than that is realized your soul die in your arms.

“Oppa” Suara Suzzy membawa Jaejoong kembali ke dunia nyata.

“Are you okay?”

“Yes” jawab Jaejoong pendek.

Suzzy menarik nafas panjang.

“I’m your wife even we didn’t know each other so long. I know you’re not okay. Never say you’re happy when you’re sad, never say you’re fine when you’re not okay, never say you feel good when you feel bad. There are times you are afraid, times you are confused and times you feel uneasy. You start to cry, you feel alone, you stop to love. Oppa, you still have me. Even you didn’t want make me worry, you make me worry already. Be strong and courage as you’re, but don’t be afraid to be weak in front of me. It’s not time to act strong. We are here oppa and always be here to support you. Kris has missed you already.” Suzy memberi penekanan pada kata-kata yang menurutnya mampu membuat Jaejoong terbuka padanya.

“I miss you two” Jaejoong tersenyum kecil setelah mendengar kata-kata Suzy.

“Oppa, ….”

“I’m okay. I must stay strong, I ever through this before. Sky is falling down, froze, dark cloud commit to kill myself. I knew it better. If I didn’t have them, I wouldn’t be able met you and had chance once more to have family. Have Kris to protect and feel his slow breath in my tight embrace. I’ll be back soon. Please, take care of Kris and you too for sure. Send Kris my kiss, tell him his father really wants to see his peaceful sleeping face and his cute laugh”

“Tuan, ada telpon dari Kikwang. Nona Lee Jeun berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil yang lewat. Dia diselamatkan nona Jung Jessica yang berlari dan menariknya sebelum sempat tertabrak”

“Suzy, I’ll call you later” Jaejoong siap mengakhiri sambungan telponnya.

“Oppa, wait” Jaejoong bisa mendengar suara kecil tawa Kris.

We love you. Take care appa” teriak Suzy dan menutup telpon. Jaejoong tersenyum.
Jaejoong sampai di mansion dan terlibat pembicaraan sebentar dengan Doojoon dan segera mengganti pakaiannya dengan jas hitam.

Doojoon dan beberapa bodyguard mengikuti Jaejoong yang menggunakan mobil sendiri dan berusaha menjaga jarak agar tidak ada yang curiga.

Di pemakaman Jaejoong bertemu Donghae, Donghwa, Eunhyuk, Siwon dan masih banyak lagi. Suasana yang kembali mengingatkannya dengan suasana waktu itu. Jaejoong segera menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak membuat dirinya lemah di saat seperti ini.

“Hyung” panggil Donghae. Jaejoong mengangguk. Pemakaman Changmin diwarnai tangisan dari ayah, ibu dan saudara serta keluarga besarnya.

Setelah pemakaman mereka berkumpul di rumah Donghae dan sebagian memutuskan untuk menjenguk Jieun yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Kyuhyun tidak bisa membiarkan Jieun semakin terluka karena tinggal di rumah mereka akan mengingatkan Jieun dengan kematian Changmin.

“Bagaimana kronologinya?” ujar Jaejoong memulai pembicaraan. Tidak ada yang bicara.

“Jieun belum bisa dimintai keterangan” Junsu membuka mulut.

“Maksudmu?”

“Jieun adalah saksi kunci” Lanjut Junsu sambil menarik nafas panjang.

“Aku akan mengantar Jiyeon ke rumah sakit” kata Donghae, tetapi Donghwa menahan Donghae.

“Biar aku yang antar Jiyeon. Aku juga ingin menjenguk Jieun”

Donghwa berdiri, Donghae memberi kecupan singkat dan pelukan pada Jiyeon serta menghapus airmata Jiyeon.

Suasana kembali sunyi. Mereka semua terdiam, tidak tahu bagaimana untuk memulai pembicaraan. Terlalu banyak masalah yang terjadi dan semua terasa semakin berat sekarang.

“Donghae, lebih baik kau istirahat. Besok sidang akan dilaksanakan” nasihat Jungsoo.

“Kau pikir aku masih memikirkan sidang setelah apa yang terjadi pada Changmin. Kematian Changmin dan semua hal yang terjadi semua adalah karena aku. Andai saja bukan karena aku pasti tidak akan seperti ini. Aku yakin mereka melakukannya untuk mendapatkan Mavin. Seandainya aku melepas Mavin dari awal maka…”

Jaejoong memukul wajah Donghae dengan keras. Junsu dan Jungsoo berusaha menahan Jaejoong.

“Hyung, Junsu lepaskan aku. Anak ini perlu diberi pelajaran. Aku tahu yang aku lakukan” Junsu dan Jungsoo akhirnya mundur setelah mendengar teriakan Jaejoong yang juga memberi keyakinan pada mereka kalau Jaejoong tahu dengan benar apa yang dilakukannya.

“Kau pikir menyerahkan Mavin akan menyelesaikan masalah. Kau pikir jika sejak awal memberikan Mavin hal ini dapat dicegah? Hah??? Lee Donghae dimana otakmu? Bagaimana kau bisa menyalahkan Mavin atas segalanya” Jaejoong masih memegang kerah baju Donghae.

“Aku tak menyalahkan Mavin” teriak Donghae.

“Kau menyalahkannya. Jika tidak kau tak akan berkata demikian. Mana ada ayah yang berkata demikian? Hah???? Kau ingin berkata menyalahkan dirimu sendiri, tetapi ini sama saja kau menyesali keberadaan Mavin. Kau tahu kami semua berada disini untuk mendukungmu, kami aku, Junsu, Jungsoo hyung, Eunhyuk, Donghwa, Hara, Kyuhyun, dan Yuri, Haejoong, Changmin kami mendukungmu. Mavin adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kau jaga dan kami sudah menganggapnya sebagai bagian hidup kami. Kau pikir aku akan diam saja ketika pikiran bodohmu menguasai otakmu atau perasaanmu membutakan dirimu”

“Look who says that. Kau bahkan ingin mengakhiri hidupmu ketika Yuri noona dan Haejoong meninggalkanmu. Pernah kau memikirkan kami yang berada di sampingmu? Hah?” Jaejoong siap memukul Donghae, tetapi pukulannya jatuh di lantai beberapa inchi dari wajah Donghae.

Jaejoong berdiri dan menarik Donghae untuk berdiri dan memberinya pelukan saudara. Donghae seolah membeku, tetapi sesaat kemudian memeluk Jaejoong. Mereka diam dalam posisi itu dan Jaejoong melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku Hyung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tak tahu ini mimpi, drama atau benar hidup. Kenapa hidupkku seperti scenario drama? Drama sedih yang diatur untuk mendapatkan banyak rating dan nominasi serta penghargaan karena mampu menghadirkan alur sedih tanpa akhir? Pathetic… So pathetic”

“It’s fate not scenario. If it is scenario, God must will be the director” Jaejoong menepuk bahu Donghae.

Junsu meninggalkan mereka berdua dan segera menuju kantor kejaksaan. Laporan terkait penyidikan kasus Changmin yang dia minta langsung dari kepala penyidikan kasus telah keluar. Junsu memohon bantuannya, meski itu jelas terlarang untuk membocorkan dokumen, tetapi akhirnya dia menyerah dan memberikan Junsu informasi paling penting meski tidak semuanya dia berikan.

“Jaksa Kim ada 2 orang tamu di ruang anda. Mereka menunggu anda sejak tadi”

Junsu berpikir kalau Kepala Penyidik datang bersama staff atau polisi lain, Junsu terkejut ketika melihat Yunho di kantornya bersama kepala penyidik.

“Jaksa Junsu ada yang ingin saya bicarakan sebentar” Kepala penyidik keluar untuk memberikan mereka privacy.

“Saya mengajukan ke pengadilan untuk mengundur persidangan sampai pengacara pengganti Shim Changmin diperoleh” kata Yunho. Junsu mengangguk.

“Ada yang lain yang kau ingin sampaikan?” tanya Junsu.

“Temukan pembunuhnya. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku ingin kita bekerjasama, aku akan selidiki keluarga Choi. Harusnya aku menggunakan praduga tak bersalah, tetapi kuakui aku curiga pada Tuan Besar Choi”

“Bukankah dia klienmu?” tanya Junsu.

“Klien? Klien adalah orang yang mempercayai pengacaranya entah bagaimanapun itu. Bagiku klien adalah orang yang mengatakan dirinya bersalah jika bersalah dan tidak jika dia tidak bersalah. Aku bisa meringankan hukumannya dengan memperjuangkannya, tetapi ketika dia sudah menutupi sesuatu yang harusnya aku ketahui, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Berapa banyak kebohongan yang dia rakit, aku tak ingin menjadi boneka dari klien. Dan lagi….”
Yunho menarik nafas panjang.

“Melihat rival pengacaramu dimakamkan bukanlah hal yang mudah. Aku tak punya kata yang baik untuk menyampaikannya. Namun, satu yang pasti aku akan kehilangan seorang rival yang aku prediksi mampu menjatuhkanku untuk pertama kalinya. Seseorang yang mampu membuatku merasakan ketegangan dan harus berpikir sangat keras di persidangan. Aku akan merindukan sensasinya dan aku akan merindukan tatapan dinginnya saat menghadapiku. Shim Changmin…. Prince of Court Yard”

———————————————————————————————–

I will leave for you so I will get to hate you
Now I won’t cling onto you anymore
I’m gonna be better – it’s better if I’m not here
Especially today, you have so many secrets

“Maaf bisa keluar sebentar. Kami perlu memeriksa keadaan pasien”

“Dokter aku ingin berada disini. Aku perlu tahu keadaan adikku” Kyuhyun bersikeras.

“Eunhyuk…. Maaf Dokter Lee. Bolehkah saya juga tinggal disini. Saya harus memastikan kalau dia baik-baik saja agar semua merasa lebih tenang. Kyuhyun, Hara, Jiyeon aku janji akan memberikan informasi kepada kalian. Kami tak akan bohong dan pegang janjiku Kyuhyun. Aku tak akan mengatakan hal yang hanya membuatmu tenang saja” ujar Donghwa meyakinkan.

Kyuhyun akhirnya dengan berat hati mengikuti Hara yang memegang tangannya mengajak keluar dan Jiyeon memberikan tatapan sedih sejenak sebelum keluar menyusul Kyuhyun dan Hara.

Donghwa melihat Eunhyuk yang memeriksa Jieun.

“Hyung, kau meyukainya?” Donghwa terkejut mendengar pernyataan Eunhyuk.

“Aku bisa melihatnya dari matamu”

Donghwa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa.

“Hahaha…. Kau membuatku terkejut. Benar aku memang menyukainya. Dia gadis yang ceria dan manis, dia juga menyenangkan. Siapa yang tidak akan menyukainya?” tanya Donghwa balik.

“Hyung, aku serius” Donghwa menarik nafas panjang dan menatap Eunhyuk yang penasaran menunggu jawaban Donghwa.

“Changmin baru dimakamkan. Apa kau pikir itu pertanyaan wajar sekarang? Dan Jieun masih shock serta depresi. Aku rasa jikapun aku mencurahkan seluruh waktuku dan memandangnya, itu tak lebih karena empati. Kehilangan bukanlah hal yang mudah sebagai dokter kita tahu itu dengan baik. Meski kita terbiasa hidup dengan melihat begitu banyak adegan kesedihan, kemalangan, kehilangan, tetapi kita masih saja merasa bahwa dunia kita runtuh. Mungkin bagi kita dokter yang menangani pasien. Kehilangan pasien mungkin kurang dari 2%-3% dibanding banyaknya jumlah pasien lain yang pernah kita selamatkan selama karir kita, tetapi bagi keluarga dan orang-orang yang mencintainya itu berarti 100% kehilangan. Aku manusia dan aku bisa merasakan perasaan orang lain terutama kehilangan. Big hole inside your heart I ever experienced it. My father, my uncle, my dear patient, my first patient who was die in front of me. I ever knew how misserable it. I don’t know how much pain must endure when your lover left you, but I know really know how much pain that love could cause”

Eunhyuk mengangguk. You love her hyung… You love her

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

——————————————————————————————–

It was a moment where time got slower
The beauty that I learned of, felt and believed in till now
You have changed it all

The front of my eyes became as dark as dawn
Like a single ray of light, she finally found me
My girl, my destiny

As I stomped on the ground, control my exploding breath
I ran (Tonight I’m so lonely, don’t wanna be alone without you)
To you

“Eunhyuk” panggil Jaejoong dan Donghae bersamaan. Eunhyuk langsung berlari dan memberikan big-tight-hug-crush-bone pada Jaejoong.

“Eun…Eun..hyuk… Kau membuatku …ti..dak…bi…bi..sa …ber…nafas” Donghae langsung memisahkan Jaejoong dari Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum tak bersalah dan Jaejoong berusaha mengatur nafasnya yang terpotong akibat pelukan maut Eunhyuk. Donghae memukul kepala Eunhyuk.

“Hei, what was that for?” kata Eunhyuk dan justru menerima pukulan lain dari Donghae. Jaejoong tertawa dan menghentikan aksi Donghae.

“Kau tak bisa membalasku jadi kau melampiaskannya pada Eunhyuk?” seringai Jaejoong. Donghae mengangkat dua jempolnya.

Eunhyuk bingung, tetapi tidak mempermasalahkannya.

“Tuan Kim” beberapa pria berjas mendekati Jaejoong. Jaejoong tersenyum pada mereka. Donghae dan Eunhyuk hanya bertukar pandang. Pria-pria berjas itu membawa banyak plastik berisi makanan dan berbagai macam snack yang kemudian Jaejoong bagikan ke dokter-dokter, suster dan para staff rumah sakit. Jaejoong juga memberikan coklat dan balon pada anak-anak yang dirawat di bangsal anak.

Eunhyuk melongo sedangkan Donghae sedang menerima apa yang terjadi di depannya.

“Hyung, berapa banyak yang kau habiskan untuk itu semua dan siapa pria-pria berjas tadi”

“Tidak banyak dan mereka mungkin orang-orang yang dipekerjakan oleh restoran dan pusat oleh-oleh yang aku pesan” jawab Jaejoong.

Donghae dan Eunhyuk mengangguk.

“Donghae, kau masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan dengan Eunhyuk” kata Jaejoong.

“Bagaimana keadaan Lee Jieun”

“Depresi” Eunhyuk menjawab singkat. Jaejoong mengangguk dan ingin masuk ke dalam ruangan.

“Hyung, ada yang ingin aku sampaikan soal Donghwa hyung” Jaejoong memutar tubuhnya dan kembali menghadap Eunhyuk.

“Ada apa?”

“Ini rahasia bisa kita bicara di tempat lain?” ajak Eunhyuk.

Jaejoong mendekati Eunhyuk dan berbisik.

“Jika ini menyangkut Lee Jieun. Aku sudah tahu dari dulu” Jaejoong tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi Eunhyuk.

“Maybe it’s not good time, but when Jieun find someone else it will ease her pain. I have experienced it”

“Tunggu. Kau menemukan wanita lain?” Jaejoong hanya memberi wink dan masuk ke ruang rawat Jieun.

“Jiyeon” panggil Donghae. Jiyeon, Donghwa dan Hara duduk di kursi tunggu di ruang Jieun. Sedangkan, Kyuhyun duduk di samping ranjang Jieun memegang tangan adiknya dan ekspresinya yang benar-benar lelah dan sedih.

Donghae membawakan makanan untuk mereka.

“Bagaimana keadaan Jieun?” tanya Jaejoong. Donghwa menarik nafas dalam.

“Dia sudah diberi obat penenang dan obat tidur. Dia dalam keadaan shock berat”
Jaejoong mengangguk mengerti. Donghae memberi tatapan aneh pada Jaejoong, tetapi Jaejoong menatap Donghae dengan sedikit tatapan intimidasi dan membuat Donghae mengalihkan pandangannya pada Jiyeon.

“Jiyeon, Donghae kalian pulanglah setelah makan. Hara bawa Kyuhyun pulang. Biar aku yang menunggu Jieun bersama Donghwa”

“Tapi….” Sebelum meneruskan perkataannya Jaejoong memotong Hara.

“Kyuhyun membutuhkan istirahat. Kau boleh khawatir pada Jieun, tapi aku rasa Kyuhyun…”

Mereka mengikuti arah pandangan Jaejoong. Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan mereka dan seolah tidak mempedulikan segala pembicaraan, terlarut dalam dunianya sendiri.
Hara mengangguk. Hara segera menyelesaikan makannya dan mendekati Kyuhyun.

“Oppa” panggil Hara sambil menepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan memberikan senyum kecil yang lebih terlihat sebagai senyum getir pada Hara.

“Kita pulang” tanya Hara. Kyuhyun menggeleng. Jaejoong mendekati mereka berdua.

“Kyuhyun pulanglah bersama Hara. Kalian berdua sama-sama lelah. Biar aku yang menjaga adikmu. Pulanglah sekarang” Kyuhyun masih ingin tinggal disitu, tetapi melihat Jiyeon, Donghae, Hara, Donghwa, dan Jaejoong yang seolah memohon padanya dia akhirnya mengangguk.

“I’ll be back soon, my sister” Kyuhyun mencium kening Jieun dan meninggalkan ruang rawat Jieun.
Setelah mereka semua pergi. Jaejoong duduk di sebelah Donghwa.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghwa.

“Aku yang harusnya bertanya demikian. Bagaimana kabarmu Lee Donghwa?”

“I’m fine” Donghwa tersenyum kecil.

“Bagaimana hatimu?” tanya Jaejoong. Donghwa menoleh pada Jaejoong bingung.

“Lee Donghwa kau lupa aku adalah sahabatmu. Aku mengenalmu dengan cukup baik meski hanya sebagai teman kuliah. Aku mengenal adik dan keluargamu. Aku….”

“Tskk… Kim Jaejoong, kau tetap saja menyebalkan” kata Donghwa.

“Kau juga sangat menyebalkan kau orang kesekian yang memotong perkataanku hari ini” tawa Jaejoong.

“You know me better than anyone else” Donghwa melemparkan pandangannya pada Jieun.

“You love her”

“It’s useless to lie to you. First, I laid my eyes on her I felt something different I want to touch her, want to kiss her. I want her so desperately. I know it is sin to have this feeling. She belongs to someone else. I tried my best to keep this feeling , I could say I’m not good friend at all. I love her Jaejoong and it’s hard for me to see her in this stage. Why… Why it’s not me who killed so she can smile and has beautiful life with Changmin”

Donghwa menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Jaejoong menepuk-nepuk bahu Donghwa dan berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Believe or not. I felt my sky was falling down when I lost Yuri and Haejoong, but from now on from that day I met Suzy my world becomes the bright one. God gives me angels not to replace Yuri and Haejoong. God gives me son and wife to protect better than before. God makes me strong and I know I became stronger to convince everyone in my life that life goes on and is getting better even you got bit sadness, you will get slice of happiness. God has his scenario if I could compare life and film, life would be the best perfect film. You could change the scenario because the director gives you power to do it. We’re not doll actors and actresses, we’re actors and actresses who given choice by God. To live and willing that led survive to reach our aim of happiness or to give up and feel sorrow inside your heart”

Donghwa memandang Jaejoong.

“I have new family. I’ll tell you later, but I tell you I will do everything to pursue my perfect dream of life. Not just imagination or fiction, make it real in real life as fate. Suzy is my wife and Kris is my son. They’re my dream of perfectness that could be I imagine. Lost something precious gave me power to hold the worst scenario on my shoulder, no doubt I could do this because when I do something it will never happen. Just pursue your perfect life”

Donghwa berdiri dari duduknya dan menuju ke sisi ranjang Jieun. Jaejoong tersenyum dan berdiri meninggalkan ruang rawat Jieun.

“Kau sudah disini sejak tadi dan menguping kan?” kata Jaejoong pada Donghae.

“Kau sejak lama sudah menyadari perasaan Donghwa hyung pada Jiyeon? Sejak kapan?” tanya Donghae.
“It’s not such a big deal, Donghae. Did you confess to your wife that you love her a lot?” Mata Donghae membesar.

“I….I….” Jaejoong melihat Jiyeon datang menghampiri mereka dari belakang dan membawa 2 cangkir kopi.

“Kau belum pulang?” tanya Jaejoong.

“Donghae oppa bilang ingin sejenak disini untuk menunggu Jaejoong oppa. Dia memintaku membeli kopi untuk kalian” Jiyeon menyorongkan cangkir berisi kopi pada Jaejoong dan pada Donghae.
“Ohya, ada yang ingin dikatakan Donghae. Dengarkan baik-baik yah. Terima kasih kopinya” kata Jaejoong sambil meneguk kopinya dan berjalan meninggalkan mereka.

Donghae bingung harus bilang apa. Dia menarik nafas dalam dan menatap mata Jiyeon.

“Jiyeonie, Saranghaeyo” Donghae menarik Jiyeon dalam pelukannya. Jiyeon memeluk Donghae erat dan membiarkan air matanya tumpah.

“Nado Saranghaeyo… Nado.. Nado.. saranghaeyo Lee Donghae” ujar Jiyeon.

Dari kejauhan Jaejoong tersenyum melihat mereka berdua.

“Yeoboseyo”

“Suzy-ya. Listen carefully. I love you” It’s my confession.

Lee Jieun, I’ll be your guardian. I’ll never let you sink in sorrow. I’ll make you mine and give the heaven to you. My heaven won’t be heaven if it’s not you here.

I stole those lips, I had to
I want you, without an explanation or excuse, I stole your lips
It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying
I had to make a memory that the both of us can never forget

———————————————————————————————–

DIBUTUHKAN AUTHOR BARU UNTUK SFF. PERSYARATAN BERSEDIA UPDATE STORY DAN MINIMAL SETIAP MINGGU BERSEDIA MENULIS CERITA BARU. SILAHKAN TINGGALKAN EMAIL DI BAWAH. BAGI YANG BERMINAT MENJADI AUTHOR SILAHKAN TULISKAN JUGA KEINGINAN KAMU MENJADI AUTHOR, BAGI READERS YANG TIDAK BERMINAT MENJADI AUTHOR MAKA AKAN DIKIRIM PESAN BERUPA PASSWORD UNTUK LOA PART XXV.

KAMSAHAMNIDA

Lily191

O~MWO?! -eps3#

Appa Hyena, appa Kibum, dan Kibum duduk di Waiting Room dirumah sakit.
Tetapi, appa Hyena tampak tidak tenang.

 

“cheosonghamnida,” kata appa Kibum sambil membungkuk, Kibum yang berdiri disamping appanya juga ikut meminta maaf.

appa Hyena, appa Kibum beserta Kibum pun juga diobati dirumah sakit ini.

“ne.. Gwaenchana” jawab appa Hyena.

 

“Aigoo~~ kau Kim Young woon???!” sahut appa Hyena tiba-tiba.

“ne.., Ah~~ kau Jung Yunho kan???” jawab appa Kibum yang bernama Kim Young Woon itu.

sementara itu Kibum hanya melihat kedua bapak-bapak itu…

 

 

Tiba-tiba ada seorang suster menghampiri mereka  bertiga.

“sillyehamnida.. apa anda wali dari pasien Jung Hyena??” tanya suster itu pada Yunho

“ne, waeyo?” jawab Yunho.

“anak anda sudah sadar. anda dipersilahkan untuk masuk ke ruangannya.” suster itu mempersilahkan mereka bertiga masuk kedalam ruangan yang digunakkan untuk merawat Hyena.

 

 

-Kibum PoV-

“appa..” seorang yeoja yang berbaring lemah ditempat tidur itu memanggil Yunho-ssi.

“Hye-chan.. gwaenchana?..” tanya Yunho ssi pada yeoja yang kepalanya berbalutkan perban serta tangannya juga diperban. Yunho ssi kelihatan sangat khawatir.

 

“Kibum-ah, tanyakan keadaan Hyena!” titah appa tiba-tiba.

“mwo?? tanya pada yeoja itu?!” bisikku kaget

“ne!” jawab appa dengan muka kesal

“ta.. tapi..”

“tidak ada tapi-tapian! aku ini orang tua mu!”

“aa.. ne..” jawabku akhirnya.

 

Aku mendekat ke arah yeoja yang bernama Hyena itu..

huh.. merepotkan… *batinku*

 

“mm.. Hyena ssi, gwaenchana??” tanyaku padanya

“ummm…? NEO!!!” serunya ketika dia melirikku.

“Neo Kim ki bum???!!” sahutnya

“ne.. wae??” tanyaku

 

“Kyyyaaa~~~ appa.. kenapa orang ini ada disini????” tanya Hyena pada appanya

“Kibum itu anak dari teman appa..” jawab appa Hyena tersenyum.

“memangnya kenapa kalau aku disini?? kamu ngefans sama aku yaa??” tanya ku yang keburu seneng, yah nambah fans lagi kali ya…

“andwae~~ kau aktor yang suka tebar pesona itu kan?!” balasnya

“naega???? ” jawab ku tersentak

“YA~~!!! KAU GILA!!” jawabku lagi

“aku bingung kenapa kamu punya penggemar.., padahal kamu kan sok keren, sok cakep, coba fans mu tahu kalau kau seperti ini…” dia malah mengalihkan pembicaraan

 

“cukup.. sudah Kibum!!” sahut appa dari belakang.

“weekk~~” ejek Hyena..

“Hyena hentikan!” ujar appa Hyena..

aku hanya tertawa kecil melihatnya…

 

dasar bodoh…  ucapku dalam hati…

 

TBC ~~~~

Please comment .. ^^

Love Letter Postman [Part 8]

Kyuhyun’s POV

  Aku segera keluar dari ruangan Sungra berjalan menuju UGD – kebetulan sekali rumah sakit ini sama dengan rumah sakit tempat noona bekerja. Aku menunggu di lobi selagi noona menangani Seomin yang tiba-tiba pingsan.

  Selagi aku duduk aku teringat ucapan Siwon tadi.

  ‘Kemungkinan besar Seomin punya kakak perempuan’

  Choi Mihwa… Benar, dia Choi Mihwa. Seperti apa orang itu? Aku harus menyelidikinya. Aku harus benar-benar memastikan kalau Mihwa itu kakak kandungnya. Seomin sangat membutuhkan donor dari keluarganya dan yang tersisa hanya satu, Choi Mihwa.

  Aku merogoh sakuku mengambil ponsel dan menghubungi Tuan Kwan. Dia adalah salah satu tangan kanan ayahku – pemilik sekolah swasta yang cukup ternama di Seoul. Dia kenal denganku sejak aku kecil. Sudah menjadi kepercayaanku selama bertahun-tahun.

  “Kwan ajussi,” panggilku begitu ia mengucapkan salam.

  “Ne, doryeonim?”

  “Aish! Jangan panggil aku seperti itu. Aku sudah besar sekarang. Bisa aku minta tolong?”

  “Tentu. Apa?”

  “Cari semua data, aset-aset keluarga, asal usul, ciri-ciri lengkap tentang seorang gadis bernama Choi Mihwa. Ini tak akan terlalu sulit, ia adalah sepupu Siwon. Kau ingat Siwon kan?”

  “Ne, doryeonim. Saya usahakan sore ini anda akan mendapat 80% dari data lengkapnya.”

  “Gamsahamnida, Kwan ajussi.”

  “Saya mengabdi pada suruhan anda, doryeonim,” aku memutuskan sambungannya. Haish.. Apa aku seorang doryeonim? Siwon yang cocok dipanggil demikian.

***

  Aku duduk di sebuah cafe tempatku dan Kwan ajussi akan bertemu. Tepat pukul lima tak lewat sedetik pun ia sudah duduk di hadapanku. Ia masih tak begitu berubah. Walaupun usianya sudah kepala tiga wajahnya masih seperti usianya saat pertama bekerja pada kami – sekitar 18 tahun. Sepertinya aku yang bertambah tua.==a

  Ia membenarkan letak kacamatanya lalu meletakkan sebuah map di meja. Ia membukanya dan mengambil sejilid kertas lalu menyerahkannya padaku.

  “Choi Mihwa, putri tunggal putra kedua keluarga Choi. Lahir awal musim gugur minggu pertama tahun yang sama dengan Siwon doryeonim. Tinggi165cmberat badan51kg. Sejak kecil selalu berada di rumah dan menjalani home schooling di rumah. Tipe gadis yang ramah tapi suka menyendiri dan sangat diam. Golongan darahnya O. Ayahnya bekerja di luar negeri dan Ibunya sakit-sakitan. Lalu akhir-akhir ini diketahui bahwa gadis ini bukan keturunan asli keluarga Choi, itu yang membuat ia sangat dibenci dan tidak diakui oleh neneknya. Ia selalu memanggil neneknya dengan panggilan Choi Yeojeongnim dan kakeknya juga dipanggil Choi sajangnim. Akhir-akhir ini juga ia sering menghilang dari rumahnya yang dijaga ketat,” jelas Kwan ajussi lengkap sekali. Sangat memuaskan. Aku mengambil sebuah amplop yang ikut dijepitkan pada kertas-kertas itu dan mengambil isinya. Lengkap sekali. Foto-foto Choi Mihwa dari ia kecil sampai sekarang. Aku mengamatinya.

  “Beda karakter wajah dengan Siwon. Jelas sekali ia bukan sepupu kandungnya,” gumamku. Aku mengernyit melihat fotonya waktu masih bayi.

  “Ini agak mirip dengan Seomin. Tapi yang lain tidak,” gumamku lagi. Aku mengangkat wajahku menatap Kwan ajussi. “Apa ia pernah menjalani sesuatu yang berbau operasi plastik?” tanyaku.

  “Ya. Sewaktu umurnya 12 tahun wajahnya tersiram air keras oleh neneknya yang sedang membersihkan peralatan-peralatan dengan air keras tersebut. Menurut saksi itu tidak disengaja,” jawab Kwan ajussi. Aku mengangguk.

  “Aku baru tahu neneknya seperti iblis begitu,” komentarku. Aku mengambil kertas-kertas tadi lalu membaliknya satu per satu. Ia pandai membuat kerajinan tangan. Juga punya dokter pribadi. Guru pribadi juga ada. Bahkan dituliskan nama dokter dan guru serta alamtnya.

  “Antarkan aku ke sini,” aku menunjuk alamat guru pribadinya. Guru lebih tahu banyak tentang perkembangan wataknya. Juga tentang komunikasinya. Setelah itu baru kupastikan dia ada kesamaan DNA dengan Seomin atau tidak lewat dokternya. Kuusahakan aku akan menuntaskannya secepat mungkin. Selain supaya Seomin mendapat donor secepatnya, kurasa gadis bernama Mihwa itu juga bisa mendapat hidup lebih layak bersama Seomin.

Henry’s POV

  Aku sedang duduk di sofa dengan Minn. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Minn sudah nyaris tertidur tadi di ruang makan menunggu Seomin tak kunjung datang. Ia menguap lagi – untuk kesekian kalinya.

  “Tidur saja kalau kau mengantuk,” aku menepuk pelan kepalanya. Ia menggeleng.

  “Tunggu Seomin dulu,” bantahnya. Aku mengangguk pasrah. Seomin di mana sih? Kok nggak pulang?

  Trrtt.. Trrtt..

  Hng? Telepon dari Kyuhyun? Untuk apa malam-malam telepon?

  “Yoboseyo?”

  “Henry-ah,” panggilnya.

  “Ne?”

  “Seomin bilang ia sedang ada urusan. Kau tidak usah menunggunya pulang,” jawabnya. Aku mengernyit. Kenapa Seomin tak langsung menghubungiku saja?

  “Sudah ya,” ucapnya membuyarkan lamunanku.

  “Ah, ne. Gomawo,” aku memutuskan sambungannya dan menatap Minn yang setengah tidur.

  “Minn-ah, Seomin tak bisa pulang. Kau tidur saja,” suruhku menepuk bahunya. Ia mengangguk dan berjalan lemas menaiki tangga menuju kamarnya. Sepertinya dia sangat mengantuk. Tapi aku masih heran. Akhir-akhir ini… Seomin berubah?

Meanwhile…

Kyuhyun’s POV

  Untung saja aku tidak lupa untuk menelpon Henry supaya tidak menunggu Seomin pulang. Mungkin butuh beberapa hari untuk pulih.

  Aku dan Kwan ajussi sedang berdiri di depan sebuah rumah tradisional Korea dengan sebuah papan bertuliskan hanja marga Jung. Hmm.. Mungkin ini rumah keluarga Jung sonsaengnim.

  Aku mengetuk pintunya. Tak lama kemudian seorang pria – yang cukup muda, dengan perawakan yang lebih tinggi dariku sekitar empat senti dengan wajah kecil yang bisa dibilang tampan untuk orang awam.

  “Annyeonghi jumuseyo,” sapaku membungkuk.ia menatapku aneh sembari ikut membungkuk.

  “Annyeonghi jumuseyo. Kalian mencari siapa?” tanyanya.

  “Kami mencari Jung sonsaengnim, guru privat Choi Mihwa,” jawabku to the point. Ia mengangguk paham.

  “Silahkan masuk dulu,” ia sedikit bergeser supaya aku dan Kwan ajussi bisa masuk.

  Kami duduk di ruang tamu yang masih memakai nuansa tradisional. Ia menyuguhkan segelas teh hijau pada kami dan ikut duduk di sana.

  “Kalau boleh tahu mengapa kalian mencariku?” tanyanya membuatku shock menganga lebar. Semuda ini menjadi guru?

  “Permisi?” panggilnya membuyarkan lamunanku.

  “Ah, iya. Anda mengajar Mihwa sejak kapan?” tanyaku. Ia tersenyum.

  “Sejak aku duduk di kelas enam SD dan dia sekitar kelas lima. Wae?” jelasnya membuatku masih terheran-heran. Sejak kelas enam SD? Pantas saja masih muda.

  “Bisa tolong jelaskan tentang perkembangannya?” tanya Kwan ajussi. Ia sempat mengernyit sebelum akhirnya ikut menjelaskan.

  “Ya, dia sebenarnya adalah murid ayahku sebelumnya. Kami kenal sejak kecil. Dia mengikuti metode home schooling sejak dicemooh oleh siswa lain bahkan orangtua mereka saat kelas dua. Akhirnya ia tidak bersekolah sampai sekitar kelas lima aku disuruh mengajarinya. Dia cepat menyerap sesuatu tapi begitu mudahnya dilupakan. Dia harus merasa senang dulu sebelum belajar. Lagipula mood-nya juga cepat berubah,” jelasnya. Aku mengangguk paham.

  “Oh, Jung-ssi, kalau boleh tahu bagaimana saat dia belum home schooling?” tanyaku penasaran.

  “Mm.. Ia termasuk diam dan cerdas saat itu – sebelum ia berubah agak malas sekarang. Temannya hanya ada aku dan seorang lagi. Kami selalu pergi kemanapun bertiga,” jawabnya. Sepertinya temannya itu bisa membantu.

  “Kalau boleh tahu siapa nama teman kalian itu dan di mana alamatnya?” tanyaku lagi.

  “Setahuku ia sedang tinggal di rumah temannya sekarang untuk sementara. Namanya Chang Seomin,” jawabnya. Aku menganga lebar tak percaya. Chang Seomin?!

  “G-geurae. Jung…”

  “Jung Yunho.”

  “Ne. Geurae, Jung Yunho-ssi. Gamsahamnida,” aku mengulurkan tanganku. Ia menjabatnya.

  “Cheonmaneyo… Kyuhyun-ssi,” ia membaca tanda pengenal pada seragamku. Sekarang pada dokternya. Dokter Kim. Hm? Dokter Kim… Jaejoong? Apa noona mengenalnya?

  Aku merogoh ponselku dan menghubungi noona.

  “Yoboseyo?”

  “Yoboseyo, noona!”

  “Ne?”

  “Bagaimana kabar Seomin?”

  “Sudah membaik. Tapi masih harus dirawat.”

  “Ohh… Emm.. Noona, apa kau mengenal Dokter Kim?”

  “Kim siapa? Di sini banyak sekali dokter bermarga Kim. Ada Kim Junsu, Kim Jonghyun, Kim Jae…”

  “Kim Jaejoong? Kau mengenalnya?”

  “Ne. Hmm.. Tapi tidak terlalu kenal sih.”

  “Apa dia ada di sana?”

  “Tidak. Dia membuka klinik sendiri kalau sudah malam begini. Kliniknya ada di samping rumahnya di pinggir Seoul.”

  “Ne. Gomawo, noona,” aku menutup teleponku dan segera masuk mobil bersama Kwan ajussi. Kami punya alamat dokter Jaejoong, karena kliniknya dekat rumah tinggal datangi saja rumahnya.

 

Dr. Kim Jaejoong’s clinic…

  Kami tiba di depan rumah dokter Jaejoong. Kliniknya terlihat gelap dan kosong. Sepertinya dia sudah pulang. Rumah tepat berada di sebelah kliniknya.

  Begitu kami memencet bel rumahnya, seorang pria yang separas dengan Heechul hyung keluar dan membukakan pintu. Ia menatapku dibalik kacamamta tipisnya. Benar-benar kkotminam!

  “Cari siapa?” tanyanya.

  “Kim Jaejoong,” jawab Kwan-ssi mendahuluiku. Aku mengangguk setuju.

  “Ya. Saya sendiri. Kalian siapa?” ia menunjukku dan Kwan ajussi bergantian.

  “Cho Kyuhyun. Dan ini Kwan Sunghyun. Aku teman Choi Siwon, sepupu Choi Mihwa,” jawabku selengkap-lengkapnya. Ia mengangguk.

  “Masuk dulu,” ia membuka gerbang rumahnya lebih lebar dan menyuruh kami masuk.

  Setiba kami di dalam seperti Jung hyung ia menyuguhkan teh untuk kami. Ia duduk di hadapanku.

  “Jadi?” ia menatapku datar. Aku meneguk tehku dan balas menatapnya.

  “Apa benar Mihwa bukan keturunan asli keluarga Choi?” tanyaku langsung. Ekspresinya tak berubah.

  “Ne,” jawabnya datar dan meneguk tehnya. Seperti mengimbangi ekspresinya aku ikut meneguk tehku dengan santai sedatar mungkin, begitu juga Kwan ajussi yang biasa bersikap kaku di depan umum.

  “Tentang keluarga Chang?” tanyaku.

  “Entahlah,” ia masih dengan santainya menyeduh teh lagi.

  “Keadaan tubuhnya?”

  “Sehat. Secara fisik dan psikis baik.”

  “Anda punya info lain?”

  “Ada. Adiknya seorang perempuan. Kalau diperhitungkan umurnya sekitar lima belas, murid SMA. Mihwa pernah melihat adiknya itu saat bayi, tapi Mihwa langsung dibawa kabur ibunya.”

  “Bukankah mereka memiliki ayah yang berbeda?”

  “Tidak. Kurasa tidak begitu. Aku sudah mengenal Mihwa jauh sebelum dia masuk ke keluarga Choi. Aku juga pernah merawat adiknya. Mereka mirip,” ia sontak membuatku mengubah ekspresiku.

  “Kau tahu siapa adiknya? Tidak salah lagi. Kau juru kunci semua permasalahan ini!” seruku tak sabar.

  “Kau harus mencari tahu sendiri,” jawabnya tak peduli.

  “Aku tahu! Aku tahu siapa adiknya – walaupun belum ada kepastian. Adiknya bernama Chang…”

  “Aku tak tahu namanya. Sebelum ia dinamai aku sudah berhenti bekerja pada keluarga Chang dan bekerja pada keluarga Choi setahun berikutnya. Hanya saja…,” ia memotong kalimatku.

  “Inisialnya SM. Ayahnya bernama Chang Minwook. Ibu tiri mereka bernama Kang Seojin. Mereka meninggal baru beberapa hari yang lalu. Namun putrinya selamat. Aku yakin orang itu adiknya,” lanjutnya. Ia beranjak dari tempatnya lalu membuka pintu ruangan lain.

  “Nyonya besar Choi takkan senang melihatmu membongkar semua rahasianya. Menghilanglah dari sini segera,” ucapnya tanpa berbalik dan langsung masuk ke ruangan itu. Aku berrgidik ngeri lalu bertatapan dengan Kwan ajussi.

  “Kajja,” ia tersenyum menepuk pundakku. Aish! Mengerikan sekali! Tunggu! Jangan-jangan nenek itu…otak dibalik kematian Chang ajussi dna ajuma. Aku mengenal mereka. Memang benar Seomin orangnya. Aku hanya perlu bukti lain dan…

  “Kwan ajussi… Panggil pengacara…”

To Be Continued…

Annyeong! maaf banget fanficnya jadi tentang Kyuhyun sang detektif *khekhekhe*
Sebenernya lagi buntu ide makanya dibuat jadi begini 😀

Gomawo~

Marrying an Antis ??? 8 (Saranghajimayo)

Part I, Part II, Part III, Part IV, Part V, Part VI, Part VII

Note : Background song semuanya FT Island Don’t Love, Raining, dan Painful Love.
———————————————————————————————————–

Junsu dan Yoochun menunggu di depan ruang ICU. Yoochun berjalan bolak-balik depan pintu. Terlihat jelas dia sangat khawatir.

Tak lama Jaejoong sudah datang. Keadaannya benar-benar kacau, dia sendiri basah kuyup. Mereka bertiga tidak sempat mengganti pakaian atau apa.

“Untuk apa kau kemari?” tanya Yoochun tajam.

Jaejoong tidak menggubris Yoochun dan berjalan ke arah pintu ICU.

“Apa dia baik-baik saja?” suara Jaejoong parau.

“Masih peduli padanya? Bukankah kau ingin membunuhnya?” kata Yoochun tajam.

Junsu yang merasa emosi Yoochun mulai tak terkendali langsung menengahi.

“Hyung, kita harusnya berdoa bukannya bertengkar” kata Junsu.

“Katakan itu padanya. Dia yang mulai semuanya” kata Yoochun dan memilih duduk di kursi tunggu.

Jaejoong diam terpaku. Dia merasa sangat bersalah. Jika tidak karena dirinya tidak mungkin jadi seperti ini.
Tak lama lampu ruang ICU dimatikan. Mereka bertiga menghampiri dokter.

“Apa disini ada keluarga pasien?” tanya dokter.

“Keluarganya sedang tidak ada di Korea. Anda bisa berbicara dengan saya” kata Yoochun.
Junsu memandang Jaejoong yang terdiam. Dia tahu pasti perasaan hyungnya ini.

“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Yoochun.

“Dia terserang hipotermia karena kehujanan. Keadaannya sangat lemah. Untung kalian segera membawanya kemari. Kelihatannya dari awal kondisi tubuhnya memang sudah tidak fit. Dia butuh istirahat total” sambung dokter.
Yoochun menghela nafas panjang. Dia kembali menuju Jaejoong dan Junsu yang sedang was-was.

“Bagaimana hyung?” tanya Junsu.

Yoochun tak menanggapi Junsu dan memukul Jaejoong sekali lagi.

“Itu pantas untukmu” kata Yoochun.

Jaejoong POV

Yoochun sangat marah padaku. Meski dia memukulku, tak sedikitpun aku ingin membalasnya. Semua salahku……….

Junsu membantuku berdiri dan mengajakku ke cafeteria rumah sakit.

“Hyung, kau baik saja kan?” tanya Junsu.

Aku tetap menunduk menatap kopi panas di depanku.

“Hyung, maafkan Yoochun ya. Dia hanya sedang emosi” sambung Junsu.

Yoochun POV

Haengjin masih sangat lemah. Wajahnya pucat pasi dan matanya sayu. Padahal saat pemotretan tadi dia sangat ceria.

Jaejoong kenapa bisa cemburu pada kami. Kecemburuannya membuat Haengjin harus berada disini.
Aku mengusap rambut Haengjin lembut. Andai saja tadi aku mengantarnya pulang pasti tidak jadi seperti ini.

Tak peduli aku mau Jaejoong cemburu atau apa yang jelas aku tak bisa terima perbuatannya.

Background Song : Sarangun Haji Mayo- FT Island

Jaejoong POV

Saat aku dan Junsu hendak masuk ke kamar inap Haengjin, Yoochun sedang duduk di pinggir ranjang Haengjin. Yoochun terlihat membenamkan wajahnya dan mencium tangan Haengjin.

Sejak awalkah dia menyukai Haengjin? Apakah Yoochun menyukai Haengjin?

Junsu menepuk bahuku.

“Jangan berpikir macam-macam dulu. Ayo, kita masuk” ajak Junsu.

Aku menggeleng pelan.

“Aku lelah, sebaiknya aku pulang dan istirahat. Jaga Haengjin yah. Bilang padanya aku minta maaf” kataku.

sarangeun haji mayo
ibyori kkok ondaeyo
sum shwil sudo obshi apayo
sarangmankeum apeumyon twi-neun chulman
in-neun chulman arat-don gojyo
anijyo su-chonbae-neun do apayo

gomnayo nuntteugo sa-neun-ge
chajado boji mothal-teni
charari keudael keuriwohadaga
jichyo chamdeun chaero sa-neun-ge nat-jyo

Don’t ever love
Heartbreak will surely come
It hurts to even breathe
I thought that this would only hurt
as much as I loved
But I was wrong. It hurts a thousand times more

I’m afraid of living with my eyes open
Because I know I won’t see you even if I look for you
It seems better to fall asleep exhausted
After longing for you

Junsu POV

Aku masuk ke ruang rawat Haengjin. Yoochun yang melihatku masuk hanya memandangku dengan tatapan sulit diartikan dan kembali menatap Haengjin. Aku mengambil kursi dan duduk di sebelahnya.
“Kita perlu bicara” kataku.

Yoochun memandangku tak mengerti.

“Kau menyukai Haengjin?” tanyaku to the point.

Yoochun sedikit terlonjak dengan pertanyaanku. Dia terlihat sedang berpikir mau menjawab apa.
Dia tak menjawab pertanyaanku. Namun, pandangannya saat menatap Haengjin sudah menyiratkan bukan perasaan biasa yang dirasakan Yoochun.

Aku gantian menatap Haengjin yang tertidur.

Kau harus segera siuman…. Saat kau siuman semoga semua terselesaikan

Aku meninggalkan Yoochun di kamar rawat Haengjin.

Jaejoong POV

Bagaimana keadaanmu? Maafkan aku…. Yoochun pasti akan menjagamu dengan baik.

“Yoboseyo”

“Yoboseyo, kau dimana? Kau harus pemotretan prewedding” teriak manager hyung.

“Hyung, aku akan ganti semua biaya untuk pembatalan WGM Jaejoong Haengjin” kata Jaejoong.

“Tunggu…”

Tut…tut..tut..

Jaejoong mematikan sambungan telponnya.

Junsu POV

Manager hyung segera menyusul kami ke rumah sakit setelah aku membertahunya Haengjin dirawat. Dia sangat kaget melihat keadaan Haengjin yang terbaring lemah.

“Jelaskan ada apa ini?” tanyanya.

Aku mengajaknya ke luar kamar.

“Haengjin sakit. Hanya itu saja” jawabku.

Yoochun keluar kamar menyusul kami.

“Tanyakan saja semuanya pada Jaejoong” kata Yoochun dingin.

Manager hyung memandang kami tanda tak mengerti. Dia menarik nafas panjang.

“Jaejoong meminta pembatalan WGM Jaejoong Haengjin dan dia bersedia membayar semua kerugian. Sekarang jelaskan padaku ada apa ini?” tanyanya.

Yoochun terlihat kaget mendengar kata-kata manager hyung. Dia mengajak manager hyung ke luar rumah sakit.
Aku menuju kamar Haengjin dan disana aku melihatnya sudah siuman.

“Kau sudah baikan?” tanyaku.

Dia mengangguk lemah, aku membantunya duduk.

“Aku pesankan makanan untukmu” sejenak aku meninggalkannya.

Aku kembali bersama suster yang membawa makanan dan dokter yang akan memeriksa keadaannya.
“Kondisimu sudah membaik. Tinggal istirahat beberapa hari dan makan yang banyak” kata dokter.

Haengjin mengangguk. Aku mengantar dokter keluar dan tak lupa berterimakasih.

“Gamsahamnida” kataku sambil membungkukkan badan.

Yoochun POV

Aku dan manager hyung berbicara serius di café langganan kami.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” tanyanya.

Aku menarik nafas panjang. Bingung harus menceritakan apa.

“Jaejoong cemburu” kataku.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Pemotretan”

“Pemotretan apa?”

“Haengjin dan aku” jawabku pendek.

“Yoochun, aku tak mengerti maksudmu jika hanya sepotong-potong” bentaknya. Pandangan orang langsung tertuju pada kami.

“Kau mau menggagalkan penyamaranku?” tanyaku. Dia menunduk minta maaf pada pengunjung lain.
“Baiklah, ceritakan semua padaku” sambungnya.

Akhirnya, aku menceritakan semua kejadian kemarin.

Haengjin POV

Junsu-oppa, membantuku makan. Rasanya sangat tidak enak, aku bahkan tak berniat memakan bubur aneh itu sedikitpun. Namun, karena aku tak ingin membuat Junsu-oppa tambah cemas terpaksa aku menelannya. Hanya beberapa suap yang bisa aku paksakan masuk ke perutku.

“Sudah kenyang oppa” tolakku.

Dia menggeleng dan mencoba memasukkan sesendok bubur ke mulutku.

“Yang terakhir dan kau minum obatmu” katanya. Aku mengangguk dan terpaksa menelan bubur aneh itu lagi.
Dia memberikan obat padaku. Aku meminum obat yang diberikannya.

Weeekkk… Pahit…

Dia tersenyum melihat reaksiku. Matanya terlihat sayu dan bajunya aku yakin itu belum diganti dari kemarin.
“Oppa, dari kemarin disini?” tanyaku.

Dia mengangguk dan meletakkan gelas minum di meja samping ranjangku. Dia hendak keluar kamar, tapi aku menahan tangannya.

“Oppa, kemarin apa Jaejoong-oppa kesini?” tanyaku.

Dia terlihat sedang berpikir. Mungkin dia bingung mengatakan tidak.

“Tidak usah dipikirkan oppa. Tak mungkin dia kemari” kataku sambil menarik nafas panjang.

Entah kenapa meski dia membuatku sampai harus berbaring disini. Aku tak bisa membencinya, rasanya ada yang kurang.

Yoochun POV

Manager hyung tidak ikut kembali ke rumah sakit karena dia harus mengurus semuanya setelah insiden ini. Kemungkinan WGM Jaejoong Haengjin dibatalkan.

Saat aku hendak membuka pintu kamar, aku mendengar percakapan Junsu dan Haengjin.

“Oppa, kemarin apa Jaejoong-oppa kesini?” tanya Haengjin

Junsu diam dan tak menjawab.

“Tidak usah dipikirkan oppa. Tak mungkin dia kemari” kata Haengjin lagi. Terdengar jelas dia kecewa.
Aku membuka pintu kamarnya. Mereka sedikit kaget dengan kedatanganku.

“Kau sudah siuman?” tanyaku.

Dia mengangguk semangat. Aku mengacak rambutnya, dia menggembungkan pipinya. Tingkahnya membuatku terkekeh. Junsu mencubit pipinya dan jelas saja Haengjin tak terima.

“Junsu-oppa, kau menggodaku juga. Aiiishhh… kalian bertiga selalu yah” katanya.

Kami mengerutkan dahi.

“Ah… tidak maksudku yah banyak sekali yang menggodaku” katanya dan membuang tatapannya ke luar jendela.

Maksudmu Jaejoong kan….

Background Song : Raining-FT Island

Junsu POV

Kami kembali ke aktivitas normal kami. Sayangnya, sampai sekarang manager hyung tak memberitahu Jaejoong dimana. Ini sudah seminggu dia menghilang. Pemberitaan di media masa juga membuat kami gerah. Setelah sembuh Haengjin sudah mengikuti sesi pemotretan lanjutan dan sekarang ternyata giliranku. Ya, aku baru tahu kalau sesi pemotretannya adalah dengan aku dan Yoochun. Setelah, itu dengan Jajoong tentunya. Namun, karena insiden kemarin akhirnya diputuskan hanya aka nada pemotretan dengan aku dan Yoochun. Konsep pemotretan semua terpaksa diubah yang semula kami berempat sekarang menjadi kami bertiga.

Haengjin bersikap seperti biasa seolah semua baik saja. Namun, tiap kali sendiri dia selalu melamun. Entah melamunkan apa?

“Kau kenapa?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Katakan saja” tambahku.

Dia berpikir sejenak dan sepertinya percuma dia tak ingin menjawab.
Manager hyung masuk ke studio bersama Yoochun sekarang giliran kami bertiga.

“Haengjin” panggil menager hyung.

Haengjin menengok ke belakang.

“Ini tasmu kemarin saat kau sakit pihak rumah sakit menyimpannya”

Haengjin langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan semua isinya. Dia mengaduk-aduk mencari sesuatu bahkan dia juga menjatuhkan handphonenya dan seolah tak perduli handphonenya jatuh. Entah apa yang dia cari.

“Ipodnya mana?” tanya Haengjin.

“Ayo, saatnya pemotretan” teriak sang fotografer.

“Selesaikan pemotretanmu dulu. Nanti, aku carikan ipodnya” kata manager hyung.

Haengjin melakukan beberapa kesalahan saat pemotretan, tapi hampir semuanya berjalan lancar.

Yoochun POV

Haengjin sama sekali tidak berkonsentrasi dengan pemotretan, dia melakukan beberapa kesalahan yang harusnya bisa dihindari. Tak seperti pemotretan kemarin yang berjalan sempurna, kali ini sedikit kacau. Setelah pemotretan tanpa mengganti bajunya dia langsung menghambur keluar. Aku dan Junsu mengejarnya, dia menuju ruang manager hyung.

“Manager dimana ipodnya? Sudah ketemu kah?” tanya Haengjin.

Ipod? Apakah itu ipod yang diambil Jaejoong saat pertama kali bertemu?

“Apakah ipod itu ipod yang diambil Jaejoong waktu itu?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Manager, aku harus menemukannya” kata Haengjin dan menatap lekat manager hyung.

Baru kali ini aku melihat dia benar-benar serius. Dia beranjak keluar ruangan.

“Kau mau kemana?” tanyaku sambil menahan tangannya.

“Ke rumah sakit mencari i-pod” katanya.

“Biar kami antar” kata Junsu yang sudah mengejar kami berdua.

Junsu POV

Haengjin langsung turun setelah mobil kami berhenti di depan rumah sakit. Dia berlari ke dalam membuatku dan Yoochun terpaksa mengejarnya. Saat kami tiba di lobby , dia terlihat marah pada perawat disana.

“Bagaimana bisa? Saya yakin di dalam tas itu ada i-podnya. Saya mohon cek lagi”

“Nona, tenanglah. Kami tidak tahu menahu isinya, kami tidak membukanya” kata perawat menenangkan Haengjin.
Telponku berdering

“Yoboseyo, Junsu. i-podnya ketemu di dalam tasnya sepertinya dia terburu mencarinya sehingga tidak ketemu”
Aku langsung menuju Haengjin dan menariknya, dia menolak. Namun, menurut ketika aku bilang i-podnya ketemu. Aku dan Yoochun membungkuk minat maaf begitu juga Haengjin.

Haengjin POV

Kenapa aku bisa semarah ini gara-gara i-pod.

Aku kendalikan emosiku dan meminta maaf pada manager hyung. Dia menyerahkan i-pod padaku.

“Ini, tadi crew membantuku menggeledah tasmu dan menemukannya terselip di bagian dalam” katanya.
Aku membungkuk berterimakasih sekaligus minta maaf.

“Ohya, dan satu lagi. WGM Jaejoong Haengjin dibatalkan. Besok akan diadakan konferensi pers. Dan…”

“Tunggu, maksudnya apa?” tanyaku.

“Jaejoong meminta semua dihentikan. Dia minta maaf dan akan mengganti semua kerugian. Kau bebas sekarang Park Haengjin”

Prraaakkk…..

Aku menjatuhkan i-pod yang aku pegang.

“Dimana si brengsek itu?” tanyaku dingin.

Manager hyung hanya diam.

“Aku cari sendiri” kataku menghambur keluar.

“Jangan dia tak mau diganggu” teriak manager hyung.

Aku menghentikan langkahku dan kembali ke dalam ruangan.

“Berakhir yah…. Setidaknya lebih baik…”

Aku sadar air mata mengalir dari pelupuk mataku.

Junsu-oppa memelukku dan menenangkanku.

“Jahat… Kenapa seperti ini… Jahat” kataku.

nagareiku jikan wa michi de yuku
kimi e no omoi to
hajimete shitta koi no kaori ga shita

moshimo kokoro no oku fukaku made
aruite iketara
kata wo furuwasete hitorikiri no
sugao ni deaeta no kana

yamanai ame ga moshi boku no
ayamachi wo arai nagasu nara
kimi ni todoku kotoba sagasu yo
ima mo furitsuzukeru ame

As time flows by
My feelings are on the road towards you
With the scent of first love

If I could walk towards
The deepest part of your heart
With shaking shoulders, I wonder,
If we could just meet honestly

If the unending rain could
Roughly wash away my mistakes
I’d search for the words to reach you
But even now, the rain keeps falling

Pengecut… Aku tak membencimu. Tolong, sekali saja biarkan aku melihat wajahmu. Sekali lagi

Jaejoong POV

Konferensi pers akan digelar penghentian acara WGM Jaejoong Haengjin bahkan ini baru episode pertama. Hyunjoong mengatakan padaku agar memikirkannya lagi.

“Ini bukan keputusan bijak” kata Hyunjoong.

“Ini yang terbaik” jawabku.

Aku menelpon manager hyung menanyakan dimana lokasi konferensi persnya, tapi Yoochun yang mengangkatnya.

“Konferensinya di Sungai Han” kata Yoochun.

Sungai Han????

“Tak salah?” tanyaku.

“WGM selalu punya cara yang aneh” kata Yoochun.

Mengapa memilih tempat seindah Sungai Han untuk momen seperti ini. Aku rasa setelah ini Sungai Han bukanlah tujuanku jika ingin menenangkan diri. Sungai Han akan menjadi tempat paling menyakitkan.


Haengjin POV

Pagi-pagi Yunhwa membangunkanku. Dia langsung mengajakku pergi padahal hari ini ada pembatalan WGM.
Dia seenaknya saja sih….

Saat aku di luar aku melihat Soojin. Lho kenapa dia disini?

“Ayo, nanti terlambat” kata Soojin.

Aku bingung, tapi tetap mengikuti mereka berdua menuju mobil.

Mereka berdua membawaku ke butik.

“Yunhwa, Soojin. Aku tak enak badan bisakah kalian saja yang datang ke pembatalan WGM” kataku lemah.

Mereka menggeleng.

Cukup disini yah? Semua berakhir

Jaejoong POV

Ada apa ini? Kenapa banyak crew yah? Kenapa banyak penonton disini? Konferensinya kenapa semeriah ini?

“Ayo, jangan diam saja” kata Hyunjoong dan mengajakku turun.

Junsu dan Yoochun menghampiriku.

“Baguslah, kau sudah datang” kata mereka berdua.

Manager hyung sedang berbicara dengan seseorang tak jauh dari kami.

Ini akan menjadi konferensi pers paling aku benci dalam hidupku.

“Jaejoong” panggil dua orang di belakangku.

Aku sedikit bingung siapa mereka. Mereka membuka sedikit topi mereka. Eh loh….

Yunho & Changmin? Mereka disini, setidaknya ada teman yang akan membuatku tetap tenang selama konferensi pers.

“Kami terpaksa menyamar. Tahu lah maksud kami” kata Changmin.

Aku mengangguk dan tersenyum.

Haengjin POV

“Turun” tarik Soojin.

“Hei… jangan….berlari susah tahu” Aku berlari mengikuti Soojin yang menarik tanganku.

Aku melihat seseorang yang sangat kaget melihat kedatanganku.

“Kau” katanya setelah aku di hadapannya.

You’re so beautiful…….

Bolehkah aku memelukmu, oppa? Jangan bilang ini akan berakhir

geu ri u deh nun ga meu myeon
deo jal bo i neun geu reon sa rang
i jeu ryeo ha go ji u ryeo ha myeon
deo man hi saeng gang na neun sa ram

The kind of person whom you can see better
when you miss them and close your eyes
The kind of person whom you think about more
whenever you try to forget and erase them

Oh My Bodyguard! 1

O1: Hide-And-Seek

“Miss Eunhee,” Hyorin, Eunhee’s personal maid (and only friend in the country) began just when she quickly entered the room and closed the door, slamming it hard and loud. “the prince is here!”

“Bwo?!”, Eunhee replied.

“Prince Changmin is here!”

“Oh shit!”

Fast as lightning, Eunhee threw herself out of the bed. As she got up, she hurriedly entered her walk-in closet, opened the cabinet and got something for herself to get dressed up. Then, she snatched a comb out of the vanity table and she started fixing her messy hair. Hyorin, on the other side, was standing and was curiously looking at her walking to and fro.

“What a re you doing, Miss Eunhee?”, Hyorin asked.

“Come come. Help me.”

“Are you going to…”

“Escape? Yes. So stop asking and just help me. You know I really need one now.”

And so Hyorin helped Eunhee.

A sound of footsteps emerged outside of Eunhee’s room.

Not minding of the possible things to happen, Eunhee puts her shoes on and moved swiftly out of her room through the room’s terrace with the help of her long bedsheets (apparently composed of tied pieces of sheets). She reached the ground and sighed in relief when the ground was clear. No signs of annoying men in black were found. Eyes darting everywhere, she went into the small room where she used to hide whenever she needs to hide from somebody. A couple of minutes, she heard noisy running footsteps and some hushing voices. She remained inside at ease; she knew that they’d never find her.

The noises were all gone. Now, its her turn. Eunhee carefully opened the door and peeked; making sure that nobody is around and she confirmed it herself. Now, she went out of the dark room and tip toed as she was looking behind.

Bumped. Eunhee bumped into something. Trembling. She was trembling. She slowly opened her eyes and seeing a man in black tuxedo in front of herself, Eunhee admitted to herself she’s already caught. But no. She’s not giving up that fast. Taking chances, Eunhee kicked the man but he was quick. Grabbing her by her wrist, Eunhee found herself losing; all trapped into the man’s strong arms and drowned in his chocolate eyes. And so, she felt her heart skipped a beat.

“Wearing that kind of shoes is not going to help you when you’re going to escape.”, the man said.

Eunhee shook her head and looked down, noticing her shoes were different. One was pink with three-inches stiletto and the other one was white with a medium length of hills.

“Oh…”, Eunhee muttered, obviously embarrassed. “You should mind your own business!”

“I know, mistress.”

Eunhee was about to move but decided against it when she felt the man gripping her wrist tighter. Upon noticing that, Eunhee cheeks flushed.

“Where have you been?”, Prince Changmin asked.

When the prince heard Eunhee was missing, he commanded all of his bodyguards to search for her and volunteered to help them as well in the search. And it did look clear, he was really worried.

Prince Changmin noticed the man was holding Eunhee’s wrist. As the man felt the eyes of the prince staring at him, he took his hand off of Eunhee and bowed before the prince.

“What made you think to do it?”, the prince asked again. “I was so worried about you, Eunhee.”

“I’m sorry.”, Eunhee said, feeling guilty for making unnecessary alarm. “I didnt mean to make you all worried.” 

“Dont do this again, please.”

Eunhee knew she cant promise it; she doesnt want to follow anything that is against her will and marrying a prince is not her thing, even if Changmin is just a normal one.

“How could that man dare to do it to me?!”, Eunhee exclaimed, face completely turning to a full red. “He almost shoved me down to the ground. It was hard!”

“Well, you’ve met your mortal enemy then, Miss Eunhee.”, Hyorin said, seated beside Eunhee while brushing her brown, long hair.

“But you know what?”, Eunhee began, turning around just to face Hyorin. “He’s tall,”

“And?”

“and most of all,” Eunhee continued again as a smile was drawn on her lips. “he’s handsome!”

Then Hyorin looked at her suspiciously.

“Why are you looking at me like that?!”

“Well… you gave me a reason to look at you like this. ^^”

Suddenly, the door opened and it got them eyes wide shock. It was Eunhee’s father. Hyorin, able to understand everything went out of the room and leave the daughter and father.

Feeling herself shaking, Eunhee carefully pulled herself up and took a deep breath.

“What did you do lately?”, Mr. Lee started, voice deep, obviously damn serious.

Eunhee, a vulnerable puppy she is to her father, had chose to keep her mouth closed. She knew she will never win against her father.

“You dont deserve the awards you’ve received!”, He shouted, clasping his own fists. “If I was your teacher, I’d probably give you the mentally retarded award!”

Abstaining her tears to fall, she swallowed and closed her eyes as she looked down, trying not to hear all of those painful words. But all of those were replaced by the fast beating of her heart as she saw the door opened and a familiar figure appeared suit; it was the man who had caught her escaping.

Mr. Lee turned around only to look at the handsome man standing behind him. The man bowed politely as he saw Eunhee’s father was looking at him. Then, Mr. Lee looked back to the shocked woman standing again.

“Your wedding is near and we’re expecting that enemies are planning something against it. So Prince Changmin and I agreed to hire somebody to look for you.”

Then her father went out of the room, leaving her and the man alone.

Feeling the dead air in the room, Eunhee shook her head, tried to be calm and fight the pounding of her heart.

“Since you’re going to be my bodyguard, why dont you introduce yourself, mister?”

The man just looked at her, like he has no intention of giving his name out.

“Hello?”

“Yunho. Call me Yunho.”

And the man left the room.

%d bloggers like this: