Tag Archives: Park Jungsoo

Letter of Angel XXII “New Stage”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI

“Well, bagaimana? Apa semua berkas sudah disiapkan?” tanya Yunho pada rekan sefirmanya.

“Semua sudah disiapkan. Jangan khawatir semua sudah beres” jawab Jiyong.

“Kalau begitu tinggal menunggu D-Day”

Count to the D-Day…..

Donghae’s POV

Aku mendapat telpon dari Changmin kalau sidang akan dilaksanakan 2 hari lagi. Apa semua akan baik-baik saja?

“Oppa, sarapan sudah siap” teriak Jiyeon dari dapur.

“Saatnya makan baby” kataku pada Mavin yang dudk di pangkuanku. Dia tertawa seolah mengerti maksudku.

Semuanya akan baik saja karena kita akan tetap bersama. Siriusku… Kita akan tetap bersama.

Changmin’s POV

“Hara, kau sudah pelajari semua berkas yang aku kirimkan padamu?”

“Aku sudah pelajari semuanya. Aku rasa tidak ada masalah sama sekali selama semua sesuai perhitungan, tapi aku dengar pengacara Siwon sekarang adalah Jung Yunho. Kau harus hati-hati, pamornya di AS sebagai pengacara nomor wahid tidak diragukan begitu pula di Jepang. Aku sudah mempelajari track record-nya, jika boleh memberikan penilaian Jung Yunho itu A+ out of A”

“Aku tak tertarik dengan rekornya yang kita butuhkan hanya membuat Donghae mendapatkan hak perwalian Mavin. Lee Mavin, bukan Choi”

Donghae’S POV

Siwon memintaku bertemu dengannya di cafeteria rumah sakit. Aku menyetujuinya, meskipun kami berada dalam situasi yang aku bilang tidak menyenangkan, tapi sepanjang ini hubungan kami baik-baik saja.

“Donghae, mengenai Mavin aku rasa ini saat yang tepat untuk kita berdua meluruskannya. Kita berdua ayahnya, aku adalah ayah biologisnya dan kau juga ayahnya. Kita sekarang sudah tidak bisa mundur dari persidangan. Sejak awal aku menginginkan putraku, tetapi aku tak berpikir kita bisa menjadi sedekat ini. Mudah bagiku bila persidangan ini berlangsung beberapa waktu yang lalu, aku tak akan memiliki keraguan untuk merebut Mavin darimu bahkan aku tak akan memberikan belas kasihan bilapun harus mengambilnya dengan paksa. Namun, keadaannya sekarang aku dank au, entah ini hanya menurutku atau kau juga merasakannya. Aku merasa kita telah bersahabat dengan cara yang aku sendiri tidak mengerti. Sebagai seorang sahabat, aku ingin kita berdua bisa saling mendukung dan memberi semangat, membantu dan tertawa bersama, meski di usia kita yang sekarang hal itu mungkin menjadi hal aneh seolah kita masih terperangkap idealism persahabatan remaja. Bila saja aku tak bertindak bodoh, maka kita tak akan berada di kondisi sekarang” Siwon menarik nafas panjang.

Aku terdiam dan mencari kalimat yang tepat untuk menanggapinya. Memang benar sekarang entah sadar atau tidak kami telah bersahabat. Dengan cara yang aneh dan bahkan tidak aku mengerti, bagaimana merasionalkan persahabatan dengan orang yang hendak kau sakiti, adakah penjelasan rasional terhadap suatu keadaan yang menjebak kami sekarang? Adakah kalimat yang tepat untuk mewakili apa yang kami rasakan. Di depanku adalah musuh, saingan, sahabat, ayah biologis dari Mavin. Dia yang duduk di depanku yang menungguku memberikan jawaban akan semua ketidakrasionalan dan patahnya keegoisan dikarenakan intervensi perasaan. Bisakah kami menjelaskan dengan nalar mengenai perasaan dan keinginan?

“Dokter Lee, ini pesanan macchiato anda” seorang pelayan cafeteria memberikan macchiato pesananku.

“Tuan ini Coffee Americano anda” Siwon tersenyum pada pelayan cafeteria.

“Siwon”

Siwon mengerutkan alisnya mendengar aku memanggil namanya setelah keheningan dan kebisuan kami selama beberapa saat.

“Kau tahu espresso. Kau bisa membuat Coffe Americano, kau bisa membuat cappucinno, kau bisa membuat morachino, macchiato sesuai yang kau inginkan dari espresso”

Siwon memberikan tatapan what-are-you-talking-about.

“Affogato, black eye, long black, frappuchino, flate white, red eye, ristretto, marron, lungo, triplo, corretto and so on. Basic of this all is espresso. We don’t need to explain one by one how is it taste? How good the aroma is? We just know you will find different taste and aroma, but after all the ingredients it’s not a big deal when you have no espresso to add”

Siwon bertambah bingung dan menatapku intens meminta penjelasan.

“I’m not barista and I don’t have good explanation about this all, but I’m doctor I know one the important thing is worth life. Maybe, you won’t have same think as me. Maybe you’ll get it that patient is the most important thing. No, it’s not the most important thing is worth life. You don’t know how many patient want to die and suffer when they found they couldn’t live life as usual. Inside your body, you hold the killer and you don’t know when he will take your soul, this makes they’re suffered at first even before against. Worth life isn’t how long you live, it’s what you will do in the rest of time that God gives to you. Worth life is when you find you have something to get, something to love, something to do, something to fight. Patient survive and hold their worth life and doctor there to help them keep their worth life, worth life that becomes hope, dream, passion of doctor to through all the miserable thing that could happen and being happened. You know how many worth life that I face, I hold, I let to go? Patient and doctor has their different though, but over all they have same conclusion that worth life is everything that give them same feeling and make them get along, support each other.
Macchiato, long black if you get it deeper it’s not just coffee, but its passion. You chose Coffee Americano, I chose macchiato instead. What is the difference them both? Absolutely the ingredients adding beside the major composition that is espresso. I’m too clueless to explain what is going on between us, I have no idea to tell you about our situation, but after all I know we have same feeling that led us same and stand in this way. Feeling to love, hold, keep, takes care of our son. Feeling that given by God to us, simple feeling as father to her son. Simple to explain, but we have no correct answer to give proper explanation what is the feeling? Feeling to our son led us to be here, in this state, in this situation. Did you know I really hate what you had done to Yoona, but I also grateful cause that stupid mistake I can hug Mavin in my arms, felt the warmth of tight embrace, I found my love, I found girl to spend rest of my life with, I found something important to care, to hold, to fight. I got friends, more love, although I couldn’t just shove away how many problems I got”

————————————————————————————————-

“Sial, Hyunday Corp. berusaha mempengaruhi para dewan direksi untuk menjual saham mereka di kala ekonomi sulit. Kita tak akan bisa bertahan jika terus-terusan seperti ini. Aku tak akan membiarkan mereka seenaknya. Ini pasti ada hubungannya dengan sidang hak perebutan wali asuh Mavin” tegas Donghwa.

“Tenanglah. Kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang usahakan agar Donghae tidak mengetahui hal ini. Aku akan cari cara lain untuk menemukan calon pembeli saham yang berani membayar lebih dari Hyundai Corp.”

“Apa itu mungkin?”

“Semua cara perlu dicoba. Aku tak suka cara Hyunday Corp. untuk mendapatkan keinginnannya. Mereka pikir siapa mereka. Kita disini adalah dokter yang melindungi dan merawat pasien dengan seluruh kredibilitas dan kerja keras. Mereka menganggap rumah sakit ini sebagai sarana untuk menekan Donghae. Jangan harap! Tempat ini dibangun dengan dharma dan kesucian hati menolong sesama, bukan sebagai alat untuk menyusahkan orang lain baik itu personal ataupun lainnya”

Donghwa mengerti maksud tersirat dari perkataan Jungsoo. Iya, rumah sakit ini bukanlah tempat untuk pertaruhan hal semacam itu. Disini bukanlah tempat untuk mempertaruhkan nyawa pasien dan kehidupan banyak orang yang bergantung di dalamnya hanya karena tekanan kekuatan besar dengan topeng ekonomi atau harus disebut dengan uang.

Donghwa memutuskan untuk mampir sebentar ke swalayan dan membeli beberapa kebutuhannya sebelum kembali ke apartemennya. Dia terus memikirkan semua masalah rumah sakit hingga dia menabrak seseorang hingga membuat gadis tersebut terjatuh.

“Mianhae, kau tidak apa-apa?” Donghwa mengulurkan tangannya. Gadis itu mendongak dan menerima uluran tangannya.

“Dokter Donghwa lebih baik kau hati-hati jika berjalan dan buang segala masalahmu ke tong sampah terdekat” Donghwa sedikit bingung kenapa gadis ini tiba-tiba bicara seperti itu dan kenapa dia tahu namanya.

“Tch… Dokter Donghwa. Aku adik Cho Kyuhyun” Donghwa langusng menepuk jidatnya. Jieun memutar matanya melihat reaksi lucu Donghwa.

“Sepertinya aku punya tugas sekarang. Kau butuh apa saja?” Donghwa mengerutkan alisnya bingung.

“Aku bantu kau untuk berbelanja” Donghwa pun mengangguk. Jieun dan Donghwa memutari swalayan untuk mencari kebutuhan Donghwa. Donghwa sendiri tak keberatan ketika Jieun yang memilih merk dan barang apa yang harus dia beli bahkan bisa dibilang setengah barang yang Donghwa beli bukanlah barang yang ada dalam daftar belanjanya, tapi dia hanya mengiyakan semua dan membayar di kasir tanpa protes.

“Semua sudah?” tanya Jieun. Donghwa mengangguk.

“Dokter Donghwa, ini perasaanku saja atau kau memang pendiam? Kau mirip Changmin oppa, ya? Jarang bicara, tetapi sekali membuka mulut kata-katamu pedas” racau Jieun.

“Young lady, my name is Lee Donghwa. I’m a doctor not a lawyer. I just need say what I should say and keep silent If I don’t need” Wajah Jieun langsung pucat, terkejut melihat perubahan Donghwa.

“Mi….mian…haeyo” Jieun tergagap.

“Hahaha……….. You don’t need too. I’m the one who should apologize. Nice to see your shocked face” Jieun segera memukul bahu Donghwa jengkel.

“Kau harus mentraktirku sebagai imbalan atas keusilanmu” Donghwa mengangguk dan mereka berdua menuju mobil Donghwa.

Mereka terlibat pembicaraan seru dan tanpa sadar Donghwa menceritakan maslah rumah sakit pada Jieun. Jieun mendengarkannnya dengan seksama.

“Why they could do this to us? Why they just concern of their own life? Why he want to see us flop down?”

“Love”

“What?”

“It’s all cause of what we called with love”

“Pardon me” Donghwa bertanya bingung.

“Find by yourself. You have ability to get it by yourself”

“Benang merah tali jodoh” Mereka langsung mengarahkan pandangan mereka pada seorang ibu seusia ibu Donghwa yang tiba-tiba berada di depan mereka.

“Kalian berdua terhubung oleh takdir”

“Maafkan ibu saya. Beliau memang seperti itu senang meramal dan membuat orang takut karenanya” Seorang wanita muda meminta maaf dan berlalu sambil menggandeng ibu tadi. Sebelum mereka keluar dari cafe itu, si ibu berbalik.

“Kalian ditakdirkan satu sama lain. Tidak ada yang dapat menghindari keinginan Tuhan”

Mereka terdiam sesaat dengan pikiran masing-masing.

“Aku sudah punya Changmin-oppa” kata Jieun memecah suasana.

“Jangan khawatir aku tidak tertarik dengan anak-anak sepertimu” jawab Donghwa tenang dan mendapat tanggapan berupa Jieun yang dengan lucunya menggembungkan pipinya. Donghwa tersenyum dan kembali menikmati cappuccino miliknya.

——————————————————————————————–
“Oppa” Donghae menoleh dan Jiyeon berdiri di sampingnya sambil tersenyum dan membawakan coklat hangat untuk Donghae. Donghae menerimanya dengan senang hati dan meminumnya. Donghae hampir tersedak ketika Jiyeon memeluknya dari belakang kursi duduknya.

“Biarkan dulu sesaat seperti ini” bisik Jiyeon di telinga Donghae. Donghae tidak bergerak, Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu Donghae.

Donghae ragu-ragu memegang tangan Jiyeon yang memeluknya dan mengusapnya dengan lembut.

“Kau lelah?” tanya Donghae.

“Sedikit”

“Kau ingin istirahat”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena aku akan tidur di ranjang dan kau di sofa. Aku lebih suka berada disini dan memeluknya”

“Silly”

“I’m not”

“Yes, you are”

“Oppa, can you hug me this night. It’s cold and don’t wanna be alone. I’m your wife right?”

“What do you want to say? Don’t make it like puzzle” Donghae sudah tahu arah pembicaraan ini. Donghae sadar sekarang usia Jiyeon sudah 19 tahun dan semua orang sudah tahu status pernikahan mereka. Bagaimana dunia tahu? Mereka entah harus berterima kasih atau marah pada ayah Siwon yang berusaha menjatuhkan reputasi Donghae dengan menyebarkan isu bohong terkait hubungan gelapnya dengan muridnya. Donghae membimbing Jiyeon ke ranjang dan membaringkannya. Donghae mengambil tempat di sebelahnya dan memeluk Jiyeon.

———————————————————————————————-
Kau mengerti perintahku kan? Lakukan dengan baik dan bersih. Lee Mavin adalah milik Choi Siwon. Tak peduli siapapun mereka, sekali penghalang harus disingkirkan. Mulai dari Cho Kyuhyun. Satu per satu singkirkan mereka.

NOTE : Part XXII aku ubah jadi unprotect, tapi bagi yang sudah mendapat PW-nya pas masih ke protect maka itu adalah password untuk part XXIII akan publish insyaAllah besok. Terima kasih LOA akan segera tamat mungkin tinggal 5-6 part. Mungkin akan ada sequel-nya, tapi tergantung bagaimana nantinya. Silahkan tinggalkan email atau message ke fb : Setyaning Pawestri atau twitter : @tya191 untuk mendapat passwordnya

LIKE A DOLL {part 1 / -}

INSPIRED BY : FT ISLAND SONG

INYEONG CHOROM

AUTHOR : AISHITA PARK

GENRE : Romance,Angst

MAIN CAST :

1. Shin Chae Ri / Aishita Shin

2. Choi Jong Hoon F.T. ISLAND

3. Leeteuk SUPER JUNIOR

OTHER CAST :

1. Park Shin Hye as Chae Ri Rival

2. Shin Ji Eun as Chae Ri Eonni

3. Choi Si Won SUPER JUNIOR as Jong Hoon Hyung/Ji Eun Fiancee

4. Shin Tae Kyung and Shin Ahn Ri as Chae Ri/Ji Eun Parents

5. Lee Hae Rim as Leeteuk Halmeoni

6. Lee So Man as Leeteuk Ahjusshi

7. Park Dan Na as Leeteuk Eomma

8. Park In Young as Leeteuk Noona

RATING : PG 17

DISCLAIMER : Chae Ri is her parents,Jong Hoon and Leeteuk are Mine^^

LEGTH : Chaptered

Author says : Fanfic pertama saya yang tertema super ga jelas 😀 mian lo jelek.. 😛 RCL please.. gomawo *bow*

PART 1

Backsound : FT ISLAND

MAGIC

SEOUL,AWAL MUSIM GUGUR 2011

Daun-daun di sekelilingku mulai memerah dan berguguran,awal musim gugur yang indah dan menenangkan.Seoul pagi ini sangat dingin ,tapi tidak berpengaruh pada hatiku yang menghangat sepanjang tahun tak peduli apapun musim yang berlangsung selama lima tahun ini, hanya gara-gara satu nama, Choi Jong Hoon.hanya ia yang membuat aku tak mampu bernafas dengan normal.semua yang Ia lakukan untukku benar-benar manis.perhatian,kasih sayang dan cinta yang tak pernah ada habisnya selama kami menjalani hubungan backstreet kami.

Pesonanya yang membuatku tegoda,senyumnya,tawanya,bahkan hanya bayanganya saja mampu membuatku tak berkutik.Ya.. mungkin kalian berfikir aku jatuh cinta pada namja itu,ku akui iya.Aku bahkan terlalu ingin memilikinya lebih dari apapun di dunia ini,aku tahu mungkin kalian mengatakan aku bermimpi terlalu jauh,asal kalian tahu, aku memang tak mungkin menang bersaing dengan sesama teman selebritis wanitanya.tapi jangan terheran-heran dengan keteguhan hatinya yang tidak pernah berubah dari awal dia debut hingga saat ini.namja mantan ulzzang terpopuler itu masih saja selalu ada untuk yeojachingu-nya,Aku.

Hidup dan mengenal Jong Hoon selama lima tahun ini,membuatku tak ingin berpikir mencari namja lain,cara dia mencintaiku dengan unik,perhatian hangatnya apapun keadaanku,penerimaan atas sikap kekanakanku,dan yang terpenting IA JUGA MENCINTAIKU!

DAN AKU MENGAKUI TERGILA-GILA KARENA CARA DIA MENCINTAIKU!

DAN ITULAH CINTA..

Mataku terlalu buta BAHKAN SUDAH TERBUTAKAN untuk melihat ke arah namja lain,padahal banyak sekali temanku di komunitas ulzzang yang memperlihatkan ketertarikanya padaku.tapi tetap saja,HE IS ALWAYS BE NUMBER ONE IN MY HEART.

AKU HANYA TERGILA-GILA PADA JONG HOON!

NO OHTERS COULD LIKE HIM ^^

Tak peduli kami harus menyembunyikan hubungan kami dari publik luas.perusahaan mengharuskan Jong Hoon melakukan itu.statusku yang hanya gadis biasa,tak mungkin dengan mudah diterima oleh Primadonna,Fans FT ISLAND.aku bahkan sempat cemburu buta saat para netizen menyandingkan namjachinguku itu dengan Park Shin Hye.Aku bahkan sampai mendiamkannya berhari-hari,namjaku itu tentu saja kalang kabut.segala cara ia lakukan agar aku melupakan kemarahanku.lucunya aku luluh hanya dengan sepotong coklat praline bikinanya sendiri.Rasanya aku ingin tertawa mengenang semua itu.untuk apa aku cemburu padanya hanya karena gosip murah seperti itu.jelas sekali aku orang yang istimewa di depan mata seorang Choi Jong Hoon.

Darinya,Aku belajar menghargai apa yang sudah Tuhan gariskan untuk hidupku,seperti saat ini berdiri di awal musim gugur yang dinginnya mulai menusuk tulang,menemani Jong Hoon bersama para member FT Island yang terus berkutat dibawah bidikan lensa kamera untuk album comeback mereka tiga bulan lagi,kulihat koordi Eonni sedang asyik mengomeli mereka sekaligus sedang memaksa mereka Untuk mengenakan Pakaian yang sudah ku desain sedemikian rupa sehingga mereka terkesan berimage lebih segar dan tetap elegan.

Aku terkekeh kecil,koordi Eonni benar – benar mampu membuat mereka tak berkutik,bahkan Hong Ki oppa terdiam seraya terus mengunyah pisang candvish yang menjadi propertynya untuk pemotretan kali ini.wajahnya menyiratkan kekesalan yang tak terkira sedari tadi ia dipaksa oleh sutradara dibawah pengawasan koordi Eonni memakan puluhan pisang.kualihkan pandanganku pada sang maknae,Seung Hyun gitaris bertubuh paling bongsor itu tersenyum kecut ke arahku dengan tatapan membunuhnya. Aigoo!!! padahal dia nampak sangat Kyeopta dengan costum semi formalnya.ku balas tatapan itu dengan senyuman terbaikku,Ia hanya mendengus kesal lalu mengalihkan pandagannya ke arah lain.aku tahu ia paling benci berdandan ala AJUSSHI seperti ini.

costum kali ini memang sengaja dikonsep agak formal,Hong Ki oppa ku dandani ala si manis pemikat hati wanita,yang digambarkan dengan setelan jas warna putih yang memikat.Seung Hyun dan Min Hwan,duo maknae kami, kuberikan jas dengan warna cokelat muda khas anak seusia mereka,semi formal tapi tetap profesional.jae jin kuberikan Jas berwarna Shappire blue yang mencerminkan pribadinya yang terbuka dan hangat pada siapa saja.dan terakhir tentu saja pangeranku,Jong Hoon kucerminkan kesan sebagai Pria berkharisma dengan setelan jas berwarna hitam yang elegan sesuai imagenya sebagai leader.hei.. kemana namjaku itu? Sedari tadi aku tak melihatnya.

“jaaagggyyy…” bisikan namjaku itu benar-benar mampu membuatku bergetar hebat,entah ia datang dari mana,tiba-tiba saja ia sudah memelukku dari belakang dan menyimpan dagunya di bahuku.

“aishh.. Hunnie.. lepaskan,ini di tempat umum,kau tidak ingin primadonna mengetahui hubungan kita kan?”

“andwae! Aku merindukanmu jagy.. kau tau sudah 2 jam 45 menit 55 detik aku tidak memelukmu” elakknya seraya menciumi leherku perlahan.

Dengan sigap aku berbalik,lalu menjitak pelan kepalanya..

“aish.. Appeu Choi Chae Ri” rutuknya

“nappeun namja..”

“biarlah,kau juga babo yeoja. . hanya babo yang mau berpacaran dengan nappeun!” jawabnya santai seraya menyimpan kedua tanganku ke dalam saku jasnya,meminta pelukanku lagi.

“aish! Kau ingin mati Choi Jong Hoon?” ancamku

“ne.. asal itu ditanganmu,aku pasrah jagy..”jawabnya seraya menatapku tajam dengan evil smirknya.dengan cepat ia menggulum bibirku.Aku terdiam dan membalas ciumannya.detik berikutnya kami saling menukar saliva kami,dan asyik memainkan lidah kami.

NAPPEUN!!!

Kau membuatku bertekuk lutut lagi di bawah pesonamu..

Saranghaeyo.. nae Choi Jong Hoon. .

Aku masih terus asyik mengexplore dinding mulut Chae Ri dengan lidahku,aku tak peduli seberapa beresikonya perbuatanku padanya.toh ini di dalam studio indoor perusahaan kami yang tersembunyi dan mungkin bebas dari kejahilan paparazi.

“hunnie.. suddahhhh” sela Chae Ri di antara selusupan lidah kami yang saling memagut.kulepaskan ciuman panasku.kupandang wajah yeoja yang sudah lima tahun ini mengisi hari-hari membosankanku.wajah innocentnya yang selalu terlihat segar dan tentu saja kyeopta!

“ne.. baiklah jagy.. aku kembali bekerja lagi.. gomawo untuk kissunya”ucapku seraya menempelkan kedua jariku di bibirnya.lalu mengedipkan mata kananku genit lalu berjalan mundur masih dengan tatapanku yang tak pernah bisa lepas dari mata bulan sabitnya yang mencerminkan ekspresi keluguan.

“yak! Nappeun” teriaknya dengan wajah yang amat sangat merah Continue reading

Letter Of Angel XII (I’ll Never Let You Go)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI

Background Song : Where Are You Now (JB), Stand By You (TVXQ)

“Eonni, Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Jiyeon pada Yuri.

Yuri menghela nafas panjang.

“Tenanglah. Untuk sementara biarkan Lee-ahjumma tenang. Mungkin beliau sedang termakan emosi” kata Yuri berusaha menenangkan Jiyeon yang sedang kalut.

“Kau tunggu disini sebentar yah?” kata Yuri.

Yuri meninggalkan Jiyeon di taman rumah sakit. Yuri sendiri bingung harus apa. Masalah semakin pelik sekarang, belum apa-apa dengan kasus Mavin. Sekarang eumma Donghae meminta Jiyeon bercerai dari Donghae.

“Yoboseyo, Donghwan-shi. Sepertinya ada yang perlu kita bicarakan. Nanti siang ada waktu?” tanya Yuri.
“Ne. Nanti kau akan ke Seoul University Hospital menemui Donghae ya? Baiklah aku akan kesana. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu” kata Yuri lagi.

Aku tahu terlalu banyak ikut campur dalam urusan ini, tapi jika saat itu aku tak menjodoh-jodohkan Donghae dan Jiyeon maka tak akan seperti ini jadinya.

Yuri menghela nafas berat dan kembali ke taman. Namun, saat itu Jiyeon sudah tak ada disana.

Jiyeon POV

Aku tak tahu harus kemana. Ku turuti saja langkah kakiku. Entah berapa banyak pasang mata yang memperhatikanku sejak tadi.

Tin…tin…tin…

Sebuah mobil berhenti di sampingku.

“Jiyeoni…” aku menoleh pada suara yang memanggilku.

Taemin… Aku langsung memeluknya dan menangis di bahunya.

“Kau kenapa? Ayo, masuk ke mobilku” kata Taemin sambil membantuku masuk ke mobilnya.

Selama perjalanan aku berusaha menghentikan tangisku, tapi percuma airmataku terus mengalir.
Taemin menghentikan mobilnya dan menepi.

“Menangislah sepuasnya jika itu akan membuatmu lega”

Mendengar kata-kata Taemin tangisku makin pecah.

Yuri POV

“Eummamu meminta Jiyeon untuk menceraikan Donghae” kataku to the point.

Donghwan yang sedang meminum kopinya terbatuk-batuk.

“Apa?” katanya setengah berteriak.

Aku mengangguk meyakinkan Donghwan.

“Lalu reaksi Jiyeon?”

Aku tak menjawab, tapi kediamanku sudah cukup mengatakan semuanya.

Donghae POV

Hari ini aku ke kantor pengadilan seorang diri. Aku tak mau Jiyeon sampai tahu kalau orangtua kandung Mavin meminta hak asuh atas Mavin.

“Kalau boleh saya tahu siapa yang mengajukan tuntutan atas hak asuh Mavin?” tanyaku pada petugas yang menangani kasusku.

“Anda pasti akan mendapatkan semua informasi itu” katanya.

Dia menyorongkan berkas tuntutan sekaligus siapa yang mengajukan permintaan hak asuh Mavin. Benar dugaanku Choi Siwon.

“Tuan Lee, apa anda sudah menyewa pengacara?” tanya petugas. Aku menggeleng.

“Kami bisa menyediakan pengacara untuk anda atau anda bisa mencarinya sendiri” kata petugas.

Aku mengangguk tanda mengerti. Lebih baik mencari pengacara sendiri dibanding mendapat pengacara dari pengadilan. Yah.. Itu hanya menurutku saja.

“Kami akan menelpon anda jika membutuhkan anda” kata petugas.

Aku pamit dan pergi meninggalkan ruangan. Saat berada di lobi, aku melihat Siwon berbicara dengan entahlah mungkin pengacaranya. Aku sedikit mencuri dengar.

“Jadi tak perlu cara kekeluargaan?” tanya pengacaranya.

“Aku rasa tak perlu, aku yakin dia tak akan menyerahkan putraku begitu saja. Langsung saja ajukan tuntutan ke pengadilan maksudku anda lebih mengerti”

Degh… Dia benar-benar ingin merebut Mavin

Tanganku mengepal sekarang aku sudah mau menghantam wajahnya. Namun, ku urungkan niatku. Keributan justru akan mempersulit posisiku selanjutnya.

Jungmin POV

Aku dengar dari Donghwan kalau Jiyeon dan Donghae sudah kembali ke Korea, tapi tak satupun dari mereka memberi kabar pada kami. Eumma dan appa menjadi sangat khawatir terlebih mendengar kabar eumma Donghwan dirawat karena serangan jantung.

“Apa belum ada kabar juga?” tanya eumma.

Aku menggeleng. Eumma makin khawatir mendengar jawabanku.

“Maksudku karena keadaan Lee ahjumma sedang buruk mereka tak sempat mengabari kita” jawabku sekenanya.
Eumma hanya mengangguk. Aku yakin sebenarnya eumma mempertanyakan jawabanku.

“Eumma, aku janji besok akan ke rumah mereka dan kalau perlu ke kampus atau rumah sakit. Bagaimana?”
Wajah eumma berubah cerah, dia tersenyum lebar.

Donghae POV

Sementara waktu Mavin aku titipkan pada Jaejoong hyung. Ini sebagai langkah antisipasi keadaan memburuk. Aku melihat jam dinding, sekarang sudah menunjukkan pukul 10.00 p.m KST. Tumben sekali Jiyeon belum pulang.

“Yoboseyo, Jungmin-shi” tanyaku.

“Kau kemana saja. Kami sangat khawatir mendengar eummamu masuk rumah sakit. Jiyeon mana? Apa kalian semua baik-baik saja?” tanya Jungmin

“Ne. Ohya, maaf aku ada pasien” ujarku berbohong.

Pertanyaan Jungmin sudah cukup bagiku berarti Jiyeon tak disana. Lalu dimana dia?

“Yoboseyo. Iya, hyung aku belum mendapat pengacara” kataku lemah pada Jaejoong.

“Dia belum pulang dari tadi siang. Gomawo, hyung. Tolong jaga Mavin yah maaf merepotkan”

Where are you now?
When I need you the most
Why don’t you take my hand?
I wanna be close
Help me when I am down, lift me up off the ground
Teach me right from wrong
Help me to stay strong…
So, take my hand and walk with me
Show me what to be
I need you to set me free

Jiyeon… Andai kau disini sekarang pasti tak akan seberat ini rasanya.

@ Han River

“Untukmu” kata Taemin menyodorkan cola pada Jiyeon.

“Gamsahamnida” balas Jiyeon.

Jiyeon meletakkan colanya dan terus memandang ke arah sungai Han.

“Ke depan akankah aku tetap menjadi Park Jiyeon yang bisa tersenyum? Akankah hidupku bahagia? Apa Donghae akan terus mengingatku?” tanya Jiyeon getir.

Taemin memandang Jiyeon dengan perasaan sendu. Baru kali ini dia melihat temannya putus asa dan begitu menyedihkan.

“Menurutmu akankah dia tersenyum saat kami berpapasan?” tanya Jiyeon lagi.

Taemin bingung harus bilang apa. Dia hanya mampu diam dan membisu.

Jiyeon memegang kedua lututnya dan mulai menangis.

Taemin merapatkan tubuh Jiyeon padanya.

“A..ku… ak..ku mencintainya.. mencin..tainya” ujar Jiyeon terisak.

Jessica POV

“Jangan lupa jemput aku nanti sore” kata Jessica pada namja yang mengemudikan mobil.
Jessica hendak turun, tapi namja itu menarik tangannya.

“Noona, bisa kau cari informasi untukku?” tanya namja itu.

Jessica kembali duduk dan memandang namja itu aneh.

“Kau mau aku mencarikan informasi tentang apa?” tanya Jessica.

“Kau kenal dokter Lee Donghae kan?” tanya namja itu.

Tentulah.. sebelum bersamamu aku kan menyukainnya. Pabo!!!!

“Bisa kau mengamatinya untukku. Maksudku keadaannya” kata namja itu.

“Mwo???? Kau kenapa menyuruhku mengamatinya? Kau tidak menyukainya kan?” selidikku.

#Pllettaaakkkk

“Ani… Aku normal noona. Jika aku menyukainya tak mungkin aku biarkan kau duduk di mobilku sekarang” sungut namja itu sebal.

“Lalu untuk apa?” tanyaku terkekeh.

“Pokoknya lakukan saja. Nanti aku traktir kau makan apapun yang kau mau”

“Sudah kewajibanmu sebagai namjachinguku. Pabo!!!”

Dia terkekeh……

“Aku jemput sore setelah selesai urusan di kampus” kata namja itu.

“Bye” kataku lalu membuka pintu mobil.

“Noona” panggilnya.

“Apalagi?” tanyaku sebal. Dia bisa membuatku dimarahi suster kepala.

“Kau tak lupa sesuatu kan?” tanyanya.

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang aku lupakan.

“Kemari aku kasih tahu apa yang kau lupakan” katanya.

Aku mendekatkan telingaku padanya, tapi justru dia memalingkan wajahku menghadapnya.Cuuuppp….

“Love you chagiya” Katanya menyeringai sambil menjilat bibirnya.

Perbuatannya membuatku melongo. Bodohnya aku dikerjai cecunguk macam dia.

Aku keluar mobil dengan perasaan tidak karu-karuan. Aku mengacak rambutku kesal.

Bisa-bisanya aku dipermainkan anak-anak macam dia.

Donghae POV

“Dokter Lee. Mau minum kopi?” tawar suster Jessica riang.

Sedikit canggung atas peristiwa beberapa waktu lalu.

“Lupakan yang kemarin. Kita teman kan?” tanyanya.

“Baiklah” kataku.

Kami memesan 2 latte dan mengambil meja dekat jendela.

“Mengenai yang waktu itu aku tak bermaksud kasar” kataku padanya.

“Tenang saja. Terima kasih juga karena menolakku hehehe”

Jawabannya membuatku kaget. Menolak apa?

“Upz…” Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Itu membuatku terkekeh.

“Begitu donk. Anda tahu pasien dan suster mengkhawatirkan anda loh” celotehnya.

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Yah… Lihat saja wajah anda di cermin. Pasti menakutkan seperti Sodoku” kekehnya.

“Hehehe… Bukankah aku tampan?” candaku.

“Tampan dari Hongkong? Anda itu beberapa hari ini seperti psikopat atau lebih tepatnya hantu yang jalan-jalan di bangsal pasien. Hawa neraka terasa jika di samping anda” paparnya.

Aku tertawa terbahak.

“Kau ini… Lalu kenapa mau mendekatiku? Bilang saja kau terpesona pada wajah tampanku” tanyaku.

“OMG… GR-nya minta ampun. Kalau bukan karena namja bodoh itu aku tak sudilah dekat-dekat dengan Lucifer effect membuat suasana rusak hahaha…”

“Namja bodoh?” tanyaku bingung.

“Ani.. Ani… Bukan begitu maksudku” muka Jessica memerah seketika.

“Hayo… Siapa itu namja bodoh? Dia fansku kah?” tanyaku sepertinya seru ini.

“Andwae.. Bukan.. Bukan” teriaknya.

Shhhuuuttttt……

Orang-orang di kantin merasa terganggu dengan kehebohan Jessica.

“Yoboseyo, Jiyeoni. Kau kemana saja? Baiklah aku akan segera kesana” kataku pada Jiyeon.
“Aku ada urusan suster. Aku permisi yah”

Jessica menahan tanganku.

“Boleh aku ikut?” tanyanya.

Aku berpikir sejenak, haruskah????

“Baiklah, tapi kau tunggu di mobil nanti” kata Donghae.

Jiyeon POV

“Kau yakin ini bakal berhasil?” tanya Taemin.

“Donghae akan melepasku jika aku bilang aku sudah menemukan pria yang tepat” kataku lemah.
“Tapi dia terlanjur tahu kau mencintainya” balas Taemin.

“Aku tinggal bilang. Cintaku padanya ternyata hanya obsesi dan semua sudah berakhir” Taemin menghela nafas panjang.

“Bantu ya?” rengekku.

“Hanya kali ini” tegas Taemin. Aku menggangguk senang.

Donghae POV

“Jiyeon… Kemana saja kau?” tanyaku ketika sudah berada di hadapan Jiyeon dan … Taemin???
Kenapa dia bisa ada disini?

“Aku ingin kita bercerai oppa”

Deggghhh….

“Bercerai. Apa maksudmu?” kataku tak percaya.

“Yah, seperti yang kau dengar. Aku ingin bercerai, sudah bosan aku bersamamu dan ternyata aku hanya terobsesi padamu bukan mencintaimu. Iya kan, chagi?” katanya mesra pada Taemin. Taemin tersenyum puas.

“Apa kau bilang?” teriakku.

Semua pandangan orang di restaurant beralih pada kami.

“Apa perlu aku jelaskan sekali lagi Tuan Lee” kali ini suara Jiyeon terdengar parau. Aku menggebrak meja.

“Tatap mataku. Katakan kau tidak mencintaiku” teriakku.

Bodoh amat dengan pengunjung lain. Jiyeon menatap mataku airmatanya berlinang.

“Aku tak mencintaimu, aku mencintainya” teriak Jiyeon keras. Kami bertatapan lama. Aku memegang bahu Jiyeon keras

“Sakit” keluh Jiyeon.

“Tuan Lee. Lepaskan tanganmu kau melukainya. Jangan pernah berani menyentuh yeojachinguku” bentak Taemin.
Aku hendak melayangkan tinjuku pada Taemin, tapi sebuah suara membuat kami terkejut.

“Mianhae….” Pandangan kami beralih pada suara di belakang kami. Jessica keluar sambil menangis keluar restaurant.

“Jessica…. Tunggu ini tak seperti yang kau kira. Aku bisa jelaskan” teriak Taemin dan mengejar Jessica keluar.

Aku dan Jiyeon ikut berlari mengejar mereka berdua. Aku tak tahu ada apa lagi ini. Taemin berhasil menghentikan Jessica sebelum dia masuk ke taksi.

“Apa hah??? Apa????” teriak Jessica sambil mendorong tubuh Taemin yang berusaha memeluknya.

“Ini tak seperti yang kau kira” jelas Taemin frustasi.

“Iya, memang tak seperti yang aku kira. Aku terlalu bodoh mengira kau menyukaiku. Nyatanya apa hah? Kau hanya memepermainkanku” teriak Jessica.

Taemin terdiam dan jelas dia sangat merasa bersalah.

“Dan kau… Tak cukupkah bagimu memiliki suami, kau ingin merebut Taemin juga hah?” teriak Jessica di hadapan Jiyeon.

“Eonni… Ini bukan demikian” Jiyeon bingung harus berkata apa.

“Kau….” Jessica hendak menampar Jiyeon, tapi aku menghentikan tangannya di udara.

“Jangan sakiti istriku” kataku. Jiyeon menatapku, Jessica mengibaskan tangannya dan hendak pergi. Taemin menarik tangan Jessica.

“Lepaskan aku…” teriak Jessica.

Taemin merengkuh Jessica dalam pelukannya. Jessica menangis hebat dalam pelukan Taemin.

“Noona, saranghae. Dengarkan aku noona. Aku mohon, setelah mendengar penjelasanku kau boleh memutuskan kau ingin bersamaku atau tidak”

“Jiyeon memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya agar dokter Lee bersedia bercerai dengannya. Aku tahu bodoh menyetujui rencana gila Jiyeon, tapi aku terpaksa menyetujuinya karena tak mau melihat sahabatku sedih. Dulu aku memang mencintainya, tapi sekarang aku mencintaimu noona” Jessica melepaskan pelukan Taemin dan mencari kebenaran di mata Taemin. Tidak ada kebohongan sama sekali di mata Taemin.

“Benarkah?” tanya Jessica.

“Ne” ucap Taemin meyakinkan.

“Lalu kenapa Jiyeon ingin bercerai dengan dokter Lee?” tanya Jessica mengalihkan pandangan pada Jiyeon.
“Karena aku tak mencin…”

“Sudah diam kau” perintah Taemin.

“Dokter Lee dengar yah. Jiyeon sangat mencintaimu, dia tak sedikitpun mencintaiku lebih dari seorang teman. Dia melakukan semua ini karena diminta eummamu. Semua yang kau lihat antara aku dan Jiyeon hari ini semua palsu” tegas Taemin.

“Taemin….” ucap Jiyeon lemah.

“Kau itu sahabatku. Aku mau kau bahagia. Sudah ku bilang percuma kan? Jangan sampai kau menderita. Kau sudah membuat hubunganku dan Jessica hampir kandas karena itu ku minta pertahankan pernikahanmu dengan dokter Lee. Dan kau dokter Lee sampai kau menyakiti Jiyeon akan ku hajar kau dan ku pastikan tak akan ada pengobatan dokter untuk lukamu” tambah Taemin.

Aku tersenyum mendengar kata-kata Taemin yang jujur dan polos.

“Ayo.. Sica kita pergi” ajak Taemin.

Jessica menunduk minta maaf pada kami berdua sebelum pergi. Setelah mobil Taemin menghilang, aku mengajak Jiyeon pulang.

Eumma… Kali ini kau benar-benar keterlaluan…

“Jiyeon, apapun yang terjadi kau harus tetap bersamaku dan aku pastikan kau tak akan bisa lari dariku. Walau kau akan membenciku atau menyalahkanku, sekarang kau anaeku serta ibu dari Mavin” tegasku.

Kimi ga sayonara wo tsugezuni dete itta ano hi kara
Kono machi no keshiki ya midori ga kawatta ki ga suru yo
Kimi no subete ni naritai to kawashita yakusoku mo
Hatasarenai mama omoide ni kawatte shimau

Hitori kiri de kimi ga naita ano toki
Sugu ni tonde ikeba ima mo mada kimi wa boku no yoko ni ite kureta
Dekiru naraba mou ichido iitakatta daisuki tte
Kimi he no omoi wo afure dashita kotoba wa mou ima wa todokana

Since the day you left without a word of goodbye
I feel that the scenery around me has changed.
The promise I made
that I would become your everything
and the incomplete memories
have also changed.

When you were crying by yourself back then,
if only had I run to you
you would still be by my side.
If I was given one more chance,
I would tell you once again
that I love you.
But the words that contain my overflowing feelings
cannot reach you anymore

Aku tak ingin kehilanganmu… Kau harus berada di sisiku

Siwon POV

“Kenapa belum bisa diadakan persidangan?” bentak Siwon pada sekretarisnya.

“Mianhae… Sajangnim. Pihak pengadilan menginginkan kita menyelesaikan ini melalui kekeluargaan sebelum membawanya ke meja hijau. Jika pun memaksa maka akan menyudutkan kita dan kita juga harus menunggu jadwal sidang menunggu kasus-kasus yang sedang disidangkan” jelas sekretarisku.

Kepalaku sudah mulai pusing. Jika seperti ini cara apapun akan aku lakukan.

“Kau bilang kekasih Shim Changmin adalah adik tiri dari pemilik perusahaan rekanan kita kan?” tanyaku.
“Iya, Lee Jieun kekasih Shim Changmin adalah adik tiri Tuan Cho Kyuhyun dari Cho Corp.” balas sekretarisku.
Tak ku sangka tiba-tiba Tiffany masuk ke ruanganku.
“Cho Corp. yah? Tarik semua bantuan dana kita dari perusahaan itu” kata Tiffany.

Aku menyuruh sekretaris pribadiku keluar dan meminta penjelasan Tiffany atas perkataanya.

“Waeyo? Bukankah itu salah satu cara untuk mengintimidasi pengacara itu agar membantu kita” ucapnya datar.

“Tapi Fanny-ah itu terlalu…”

“Aku tak peduli aku mau putra kita” jawabnya.

Junsu POV

“Kali ini aku membantumu” kataku pada Jaejoong.

“Gamsahamnida, Junsu”

“Setelah ini, semua bukan urusanku” kataku.

“Iya, aku tahu. Ohya, selamat atas kehamilan Chaerin. Aku doakan semoga anakmu lebih baik darimu” canda Jaejoong.

“Jangan menghinaku. Lebih baik suruh sahabatmu mencari kuasa hukum. Menurut laporan karyawan yang menangani kasus ini dia belum menyewa kuasa hukum” paparku.

“Baiklah. Kau bisa merekomendasikan pengacara yang hebat?” tanya Jaejoong.

“Aku rekomendasikan Shim Changmin, Pangeran Meja Hijau. Namun, tergantung kalian juga apakah dia mau menerima kasus kalian. Shim Changmin itu pengacara yang bisa dibilang entahlah. Jika bertanya soal lidah tajam dan kekuatan menjatuhkan dia ahlinya” jelas Junsu.

Aku mengangguk tanda mengerti.

Shim Changmin POV

Aku pulang lebih awal dari kantor dan memutuskan menemani IU. Seperti biasa bertengkar lagi.

“Makan buburmu sekarang” teriakku.

“Aku sudah kenyang. Bisakah kau bersikap manis padaku?” pinta IU.

“Kau ini… Untuk apa bersikap manis pada gadis keras kepala sepertimu” kataku.

Dokter penanggungjawab masuk.

“IU bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Baik, dokter. Kecuali ada makhluk aneh disini” tunjuk IU padaku.

“Apa kau bilang?” kataku.

“Memang begitukan? Kau itu makhluk aneh Tuan Shim Changmin”

“Kau Shim Changmin?” tanya dokter itu.

“Ne” jawabku.

“Bisa kita keluar sebentar?” tanyanya. Aku mengangguk sedangkan IU memandangku bingung.

“Ada apa dokter? Apakah keadaan IU memburuk?” tanyaku khawatir.

“Bisakah kau menangani kasus? Temanku kau sudah mengenalnya. Dokter Lee Donghae membutuhkan bantuan hukum. Jaksa wilayah Kim Junsu merekomendasikanmu padaku” jelasnya padaku.

“Aku memang berhutang budi kalian menyelamatkan kekasihku, tapi soal kasus aku tak bisa langsung memberikan jawaban. Aku akan pelajari kasus kalian dulu. Minta dokter Lee Donghae datang ke kantor. Setelah, kami bicara akan aku pikirkan menerima kasusnya atau tidak” balasku.

“Oppa, kau taruh majalahku dimana? Itu Big Bang edisi khusus yah? Aku mau baca soal Taeyang” teriak IU dari dalam.

“Ampun… Kenapa dia memusingkan sekali” keluhku.

Dokter itu tersenyum.

“Sepertinya wanita lebih menyusahkan dari kasus yah?” tanyanya.

Aku mengangguk tanda setuju.

“Ohya, sebelumnya Kim Jaejoong imnida” katanya memperkenalkan diri.

“Shim Changmin… Panggil saja Changmin” kataku dan menjabat tangannya.

Donghwan POV

“Tapi eumma tak boleh egois. Kasihan mereka berdua, kasus Mavin sudah cukup membuat mereka menderita” jelasku.

“Kau selalu membela mereka. Pernikahan macam apa itu? Membohongi semua orang” kata eumma kesal.

“Terserah, eumma sekarang. Jikapun eumma memaksa memisahkan mereka Tuhan yang akan marah. Pernikahan itu hanya sekali. Walaupun alasan mereka menikah salah, tapi pernikahan mereka sah dimata Tuhan” kata akhirnya.

Aku meninggalkan eumma, tapi sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat eumma. Aku berbalik sejenak

“Appa akan sangat kecewa dengan sikap eumma”

Letter of Angel 7 (Would You Marry Me?/???)

Part I , Part II ,
Part III,Part IV, Part V, Part VI

Donghae POV

Kondisi Mavin semakin membaik. Meskipun, demikian dia masih harus dirawat di rumah sakit.

Lelah… hanya itu kata yang aku tahu sekarang. Aku tak menghubungi Jiyeon, dia harus keluar dari semua masalahku. Tak seharusnya dia terlibat.

Oppa, bagaimana keadaanmu dan Mavin? Kenapa tak menghubungiku.

Jaejoong POV

“Yuri, kita telah salah paham pada hubungan Donghae dan Jiyeon” kata Jaejoong saat sarapan. Yuri yang sedang menyisir rambut Haejoong berhenti dari kegiatannya.

“Maksud oppa kalau mereka kekasih? Aku kan memang ingin menjodohkan mereka” jelas Yuri.

“Haejoong, ke kamar dulu ya eumma dan appa mau bicara” kata Jaejoong dan menggendong putranya ke kamarnya, dia lalu turun menemui Yuri lagi.

“Masalah berkembang, ibu Donghae mengira Mavin adalah anak Donghae dan Jiyeon setelah memergoki mereka mengurus Mavin. Kakak Jiyeon menghajar Donghae karena salah paham atas perkataan ibu Donghae yang mengatakan kalau Donghae akan bertanggungjawab atas perbuatannya pada Jiyeon. “ desah Jaejoong.

Yuri yang merasa bersalah menundukkan kepalanya. Jaejoong berdiri dari kursi dan mendekati Yuri. Yuri menatap Jaejoong seolah berkata kita harus bagaimana.

“Maaf oppa ini salahku.”

“Sudah, tidak apa-apa. Kita akan menghubungi Eunhyuk dan Donghae untuk mendiskusikan langkah selanjutnya. Jangan kita yang langsung bertindak tanpa persetujuan Donghae agar masalah tak bertambah besar” ujar Jaejoong sambil menepuk bahu Yuri. Yuri tersenyum dan memeluk Jaejoong.

“Hai, soudesu. Arigatou gozaimasu Kim Jaejoong. Aishiteruyo” (Ya. Terimakasih Kim Jaejoong. Love You)

“Mo aishiteruyo Kim Yuri” (Love you too, Kim Yuri)

“Ehm…ehm…. Dame. Chichi to haha…ckckckck… Ima wa asha desu.” (Tidak boleh. Appa, eumma……ckckckck…… sekarang pagi).

Jaejoong dan Yuri yang gemas melihat Haejoong tiba-tiba sudah turun dari kamarnya langsung mendekati Haejoong dan mencubit pipinya.

“Nani Haejoong?” (Apa Haejoong?) tanya Jaejoong mencubit pipi putranya.

“Mau dipeluk juga?” goda Yuri.

“Peko-peko kudasai” (aku lapar)kata Haejoong kesal.

Hahaha….. Yuri dan Jaejoong tertawa mendengar jawaban putranya.

Donghwan POV

“Dokter Park nanti malam bisakah gantikan tugasku memantau pasien? Aku ada urusan penting. Jika bisa semua laporan kesehatan pasienku yang kemarin akan saya serahkan pada anda’ pintaku pada Jungsoo-hyung.

“Ne, serahkan saja padaku Donghwan” jawabnya.

“Gomawo, hyung”

Jungmin, sudah bicara dengan orangtuamu? Jam berapa aku bisa bertemu dengan kalian?

Iya. Jam 7 malam bagaimana hyung? Ayah sangat senang mendengar hyung akan kemari ^^, tapi sebenarnya ada urusan penting apa? Kenapa sampai membawa nama keluarga Lee dan keluarga Park?
Nanti malam kau akan tahu.

Aku menelpon eumma dan Donghae. Kebetulan nanti malam jadwal Donghae kosong.

Baguslah, semua bisa berjalan lancar jika begini.

“Yoboseyo, eumma. Hari ini eumma pulang ke rumah saja ya biar diantar Hae. Eumma perlu istirahat. Jangan membantahku soal urusan ini jika tidak aku tak akan membantu Hae dan Jiyeon” ancamku.

Eumma langsung menurut. Dia pasti tak akan peduli dengan perintahku jika ini menyangkut kesehatannya. Eumma lebih peduli pada Hae dan Jiyeon serta Mavin. Jadi, menggunakan mereka sebagai alasan sangat logis untuk menekan eumma.

Dokter Kim tolong pantau keadaan Mavin. Hae sedang kosong hari ini, tapi aku memerlukannya.

Pesanku pada dokter Kim Jaejoong

Ne, akan aku pantau perkembangan Mavin. Hae perlu sedikit refreshing
Sekarang saatnya aku menuntaskan masalah ini.

Jam 7 tepat aku telah berada di rumah Jungmin. Appa dan eummanya sangat senang melihatku, Jiyeon juga menyambutku dengan ramah.

“Hyung, senang kau bertamu ke rumah kami. Ini pertama kalinya kan? Ohya, masih ingat Jiyeon?” tanya Jungmin. Aku mengangguk dan tersenyum.

Mereka mengajakku makan malam. Aku menunggu saat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Setelah makan malam kami berkumpul di ruang tengah.

Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah atau entahlah jikapun harus menambah masalah

“Ada masalah penting yang membawa saya kemari” kataku. Mereka berempat menatapku.

“Ini mengenai keluarga Lee dan keluarga Park” lanjutku.

Aku mendesah panjang dan mulai berbicara lagi.

“Ahjumma, ahjushi, Jungmin, Jiyeon. Aku tahu kalian sedang menghadapi masalah. Jungmin menceritakan semuanya padaku mengenai Jiyeon”

Jiyeon menunduk.

“Hyung, maaf aku rasa aku belum menjelaskan kalau masalah kemarin salah paham. Eumma dan appa telah menjelaskannya padaku jadi masalah itu bisa dianggap selesai” kata Jungmin.

“Jika masalah itu yang membawa nak Donghwan kemari. Kami rasa itu tak perlu dibicarakan” kata appa Jungmin.

“Paman, aku ingin meminta Jiyeon menjadi menantu keluarga Lee” kataku langsung.

Mata Jiyeon terbelalak. Eumma dan appanya juga kaget, begitu juga dengan Jungmin.

“Maksud hyung menikah dengan hyung?” tanya Jungmin.

Eumma dan appa Jiyeon saling berpandangan.

“Kalau itu aku setuju saja. Lagipula, aku akan sangat senang menyerahkan Jiyeon pada hyung karena pasti hyung bisa menjaganya dengan baik.” kata Jungmin.

Jiyeon yang semula terdiam, angkat bicara.

“Maaf, Donghwan-shi aku tak bisa. Mianhae….” kata Jiyeon dan pergi meninggalkan kami.

“Jiyeon….” Jungmin hendak menarik Jiyeon agar duduk kembali, tapi aku menahannya.

Jiyeon POV

“Donghwan-shi aku tak bisa. Mianhae….” kataku dan pergi meninggalkan mereka.

“Jiyeon….” Oppa memanggilku, tapi aku tak peduli.

Aku kembali ke kamar dan mulai menangis.

Kenapa bukan Donghae-oppa yang melamarku, kenapa justru orang lain yang baru ku kenal. Kenapa tidak kau saja Donghae-oppa?

Donghae POV

Hae, ke rumah Jiyeon sekarang juga.

Ada apa Donhwan menyuruhku ke rumah Jiyeon ya?

Segera setelah mengantarkan eumma, aku menuju rumah Jiyeon.

Tunggu itu kan mobil Donhwan. Kenapa dia kemari?

Aku memencet bel rumah Jiyeon. Pelayannya yang membukakan, dia mempersilahkanku ke ruang tengah. Dimana disana eumma, appa, Jungmin dan Donhwan sedang bicara dengan serius.

Donhwan POV

“Tunggu Jungmin” kataku pada Jungmin yang hendak menyuruh Jiyeon duduk bersama kami lagi.

Jungmin menurut. Setelah, Jiyeon pergi aku mengatakan tujuanku sebenarnya.

“Ahjumma, ahjushi, Jungmin. Aku melamar Jiyeon bukan untukku, tapi untuk keluarga Lee yang lain yakni adikku” kataku.
Jungmin kaget.

Bisa aku lihat ekspresi mukanya, sulit untuk digambarkan.

“Maksud hyung? Bukan hyung yang ingin menikah dengan Jiyeon” tanya Jungmin.

Aku mengangguk mantap.

“Maaf, nak Donhwan. Sejujurnya ahjushi bingung dengan lamaran mendadak nak Donhwan, tapi sekarang ahjushi lebih bingung ketika nak Donhwan mengatakan kalau tujuan kemari melamar Jiyeon untuk adik nak Donhwan. Bagaimana bisa kami menyerahkan putrid kami pada orang yang tak kami tahu” kata appa Jiyeon.

“Saya tak bisa menjamin kalau keluarga Park akan setuju dengan lamaran ini, tapi saya mohon tanyakan dulu pada Jiyeon. Ini menyangkut hidup dan kebahagiaannya” kataku.

Mereka bertiga tambah bingung.

Donghae lama sekali sih kau.

“Permisi” aku menoleh dan ternyata Donghae sudah datang.

Donghae POV

“Permisi” kataku.

Jungmin terperanjat melihatku, begitu juga dengan orangtua Jiyeon.

Donhwan tersenyum ketika melihatku. Dia berdiri dan menghampiriku.

“Inilah keluarga Lee yang saya maksud” katanya sambil tersenyum ke arah mereka bertiga.

Aku memandang Donhwan dengan ekspresi tanda tanya.

“Silahkan duduk, nak Donghae. Kita bicarakan semua sekarang” kata eumma Jiyeon mempersilakan. Aku duduk di samping Donhwan berhadapan dengan Jungmin.

Muka Jungmin masih sedikit kesal.

“Jadi, nak Donghae yang ingin meminang Jiyeon?” tanya appa Jiyeon.

Aku tersedak dan menatap Donhwan minta penjelasan. Donhwan hanya tersenyum innocent.

Lee Donhwan ini yang kau sebut membantu menyelesaikan masalah? Ini justru menambah masalah.

Donhwan menyodokku.

Baiklah kau yang membuat semua tambah parah. Mau apa lagi?

“Kami menyerahkan semuanya pada Jiyeon” kata appa Jiyeon lagi.

Aku permisi sebentar dan mengajak Donhwan bicara.

“Apa maksudmu meminang Jiyeon untukku?” tanyaku marah.

“Menyelamatkanmu, Jiyeon, dan eumma” desah Donhwan.

“Eumma? Ini apalagi Donhwan? Kau membuatku bingung. Katakana pa yang terjadi pada eumma” paksaku.

“Hae, kondisi jantung eumma memburuk. Jungsoo-hyung bilang kita harus menjaga emosi eumma tetap stabil. Kau pikir jika aku menjelaskan semua apa itu yang terbaik?”

“Tapi melamar Jiyeon, bisakah disebut terbaik?” tanyaku.

“Untuk sekarang iya. Pikirkan dirimu, Jiyeon, Mavin. Kau tak perlu memikirkan eumma jika memang menurutmu menikahi Jiyeon adalah kesalahan atau kau masih mencintai Yoona?” tanya Donhwan dan kembali menemui keluarga Jiyeon.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Yoona, andai saja kau disini. Semua tak akan sesulit ini. Yoona, apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku.

“Ini tak ada hubungannya dengan perasaanku pada Yoona. Itu sudah kukubur sejak lama” tandasku.

“Jadi tak masalah, kau tak mencintai Yoona. Menikah saja dengan Jiyeon” kata Donhwan datar.

“Kau ingin aku mengorbankan Jiyeon? Menikah dengan pria yang tak dicintainya? Apa kau sudah gila Donhwan?” tanyaku dengan nada sedikit tinggi.

“Kenapa tak kau tanyakan sendiri pada Jiyeon. Dia mau menikah denganmu atau tidak. Satu hal yang perlu kau camkan Donghea, Mavin butuh figur seorang ibu. Anggap saja kau berbuat baik pada semua orang termasuk dirimu sendiri” kata Donhwan mantap.

Jungmin POV

Sejujurnya, aku lebih menyukai Donhwan dibanding Donghae. Namun, sekarang yang dicintai Jiyeon adalah Donghae bukan Donhwan. Aku tak bisa mengorbankan kebahagiaan Jiyeon demi keinginanku. Meski tak yakin lebih baik semua keputusan aku serahkan pada Jiyeon.

Ketika Donhwan dan Donghae sudah kembali berkumpul dengan kami. Appa sudah mengambil keputusan. Ternyata appa juga mengambil kesimpulan yang sama denganku.

“Nak Donhwan dab Donghae. Mengenai pinangan ini semua kami serahkan pada Jiyeon” kata appa.

“Aku akan menyuruhnya turun” kataku.

Saat tiba di kamar Jiyeon. Keadaan kamarnya tertutup.

Jiyeon POV

Cukup lama aku menangis. Beberapa saat kemudian pintu kamarku diketuk.

“Jiyeon, kami ingin bicara” suara Jungmin-oppa.

Lama dia mengetuk pintu.

Tak akan kubukakan….. Aku tak mau menikah dengan Donhwan-shi. Tidak mau

“Jiyeon, buka sekarang atau kudobrak”

“Aku tak mau buka. Kau mau apa terserah…. Aku… hix…tak mau… menikah dengan Donhwan-shi. Tak mau” kataku sambil menangis. Ku benamkan wajahku memeluk lutut.

Kenapa Jungmin-oppa selalu memaksakan kehendaknya? Kenapa dia tak mengerti kalau aku mencintai……….

Aku mencintai Donghae-oppa.

“Jiyeon, tak kau bukakan kujamin menyesal seumur hidup. Terserah saja ini hidupmu bukan hidupku” ancam Jungmin.

“Aku tak peduli. Memangnya siapa kau bisa mengancamku” jawabku.

Jungmin tak membalas perkataanku.

“Jiyeon, ini aku Donghae”

Deg….. Donghae

“Kau tak perlu membuka pintunya. Cukup dengarkan perkataanku saja.” kata Donghae.

Aku berjalan ke dekat pintu dan duduk bersandar pada pintu.

“Maaf sudah melibatkanmu sejauh ini. Jiyeon mungkin kami terlalu egois, tapi aku mohon maafkan kami dan terutama keluarga Lee. Donhwan kemari meminangmu untukku, adiknya. Aku tak bisa menjelaskan alasannya sekarang. Kau berhak menolak lamaran ini, tidak mungkin menjalani sebuah pernikahan dengan pria yang tak kau cintai. Kau tak perlu menerima pernikahan ini hanya dengan pertimbangan menyayangi Mavin, tapi sebelum kau memutuskannya…………….”

Donghae tiba-tiba terdiam, suasana hening sejenak.

“Would You Marry Me?”

%d bloggers like this: