Tag Archives: Lee Taemin

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 6]

Harin’s POV

“Sejarah, Matematika, Biologi…,” gumamku memasukkan buku pelajaranku satu per satu ke dalam tas. Setelah selesai dengan itu aku menyambar sebuah ikat rambut dan menguncir ekor kuda rambutku. Setelah selesai bersiap, aku melirik lagi ke arah Key yang masih berbaring di lantai. Dalam wujud anjing.

Aku perlahan berjalan ke arahnya. “Yah, ireona,” panggilku menggendongnya. Satu bulan ini berjalan dengan sangat mulus. Key tidak pernah macam-macam, eomma juga tidak tahu kalau anjingku itu Key.

“Key~” panggilku mengelitiki perutnya. Ia mendengkur pelan dan berbalik ke arah lain. Aku mengernyit. Tidak biasanya dia susah dibangunkan begini.

 Ah, jangan-jangan dia cuma main-main.

“Yah,” panggilku mengguncangnya perlahan. Ia masih tidur. Aku memutar bola mataku. Dasar bocah ini!

Aku mendekatkan bibirku dan mengecupnya pelan. Seperti biasa, asap tipis seperti di komik-komik muncul dan Key berubah jadi manusia.

 Tapi posisinya…

“Yah!!!” aku menjambak pelan rambutnya. “Minggir dari pahaku! Byuntae!!” panggilku. Dia masih saja tertidur. Di pahaku!!!

“Key! Neo-” aku terdiam saat tanganku mengenai keningnya. Eh?

“Key? Gwaenchanha?” tanyaku menepuk pelan pipinya. “Kau sakit?”

“Hngg,” cuma itu yang kudengar keluar dari mulutnya. Aku mengerutkan alisku.

“Jinjja?”

Tak ada jawaban. Tiba-tiba aku jadi panik. Duh! Key sakit dan wujudnya wujud manusia, sedangkan aku harus ke sekolah. Kalau kutinggal di rumah eomma atau appa bisa saja tahu kalau aku menyelundupkan cowok di kamar!

Dengan susah payah akhirnya kuangkat Key dan menyeretnya ke kasurku. Aku mengambil berlapis-lapis selimut tebal dari lemari dan menyelimutinya. Di sampingnya kuletakan boneka racoonku, supaya wajahnya tak terlihat kalau eomma masuk.

Dasar merepotkan!

***

Aku mengetuk pelan pipiku dengan bolpen sambil sesekali melirik keluar jendela. Hari ini tidak begitu cerah, walaupun matahari masih sangat terik. Hari ini entah kenapa aku tidak tertarik dengan pelajaran apapun. Sama sekali. Mungkin terdengar bodoh, tapi jujur aku memikirkan Key. Mungkin begini ya rasanya kalau merawat binatang kesayangan dan yang sakit?

 Atau mungkin orang kesayangan?

Aku mengerutkan alisku dan menggeleng pelan mengusir pemikiran aneh yang baru saja lewat di kepalaku. Apa itu? Aku mungkin peduli dengan Key, tapi aku bukannya suka, atau sayang sama Key.

Tapi Key tampan, walaupun mengesalkan, kadang juga baik. Sayangnya cerewet! Bawel!

Ugh! Kenapa aku malah menilai-nilai Key sih?

Aku membaringkan kepalaku di meja sambil mencoret-coret kertas buramku. Menggambar teru-teru bozu, supaya hari ini tidak hujan. Supaya aku bisa lebih cepat pulang ke rumah.

Supaya Key bisa sembuh karena keringatan..

Pluk!

Sebuah pesawat kertas mendarat di mejaku. Aku mengernyit lalu membukanya.

 ’Hey yeoja aneh, memikirkan hyung?’ – Minho

Aku mengernyit dan memutar kepalaku ke arah Minho yang duduk santai menulis catatan di papan. Ia seperti merasa diperhatikan, ia langsung melirik ke arahku dan mengangkat alisnya seakan meminta jawaban. Aku memasang wajah datar.

“Aniya, kau tuan sok tahu,” aku menggerak-gerakkan mulutku tanpa suara. Ia menatapku sejenak sebelum kembali memperhatikan papan. Dasar orang aneh!

***

Aku duduk menatap tray makananku. Sayur lagi, sayur lagi. Menyebalkan. Aku jadi ingat Key yang suka mengomel kalau aku tidak mau makan sayur. Padahal melihat sayur saja rasanya ingin kubuang saja.

 Eh? Bagaimana kalau membawa sayurnya untuk Key? Daripada kubuang kan? Nanti kalau makan sayur dia bisa sembuh juga kan? Lagipula aku tidak bisa masak untuk Key ._.

Aku mengeluarkan kotak bekal pink yang selalu kubawa-bawa kalau ada kelas memasak. Kusisihkan setengah dari nasiku, lalu kumasukkan semua sayuran yang tidak akan kumakan, dan beberapa daging juga tamagomaki.

Baru saja aku selesai dan hendak menutup kotak bekalku seseorang menepuk keras kepalaku.

“Yah, kok tidak dimakan?” aku berbalik dan mendapati seseorang berdiri di sana dengan seragam yang sangat tidak rapi. Aku bisa melihat wajahnya pucat namun memerah karena panas. “Sudah berapa kali aku bilang makan sayur yang banyak? Dasar.”

Aku tercengang menatapnya lekat-lekat. Key?!! Kok di sini??

“Kau kok datang ke sekolah?” tanyaku mengerutkan alisku dalam-dalam. Ish! Orang ini tidak tahu ya kalau sakit harus istirahat??

“Kenapa? Aku kan murid sini,” jawabnya santai.

“Tapi kau sakit!” aku mengulurkan tanganku menyentuhnya. “Tuh kan! Masih panas! Harusnya kau itu istirahat saja di kamarku. Aku bawakan makanan nanti, araseo? Sekarang kau malah di sini! Hih!”

Ia menatapku sepanjang aku mengoceh. Wajahnya semakin merah, aku tidak tahu kenapa.

“Wae? Ada yang salah?” tanyaku menyadari ia sudah menatapku selama itu.

“A-ani,” jawabnya berdeham pelan membenahi dasinya. “Jadi itu untukku, kan?” ia menunjuk kotak bekalku. Sekarang giliran wajahku yang memerah. Untuk apa aku mempedulikannya?!

“Karena kau sudah di sini, ini bukan untukmu lagi! Hmph!” aku kembali membuka bekal itu dan berniat menghabiskannya. Baru saja aku mengangkat sumpitku yang menjepit tamagomaki dan hendak memasukkannya ke mulut, Key mencondongkan tubuhnya dan melahapnya habis.

Aku mengerjapkan mataku.

“Pelit,” Key menjulurkan lidahnya di sela-sela mengunyah. “Suapi lagi~”

 Bletak!

Aku memukulkan sumpitku di kepalanya sebelum kuletakan di meja dan berdiri dari bangkuku, hendak pergi. Aku tidak peduli kalau aku terlihat tidak sopan. Aku kesal.

 Dasar Key! Tidak berterimakasih! Harusnya aku tidak perlu memikirkannya!

Baru tiga langkah aku berjalan tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan di pipiku.

“Gomawo,” gumam Key dengan suara direndahkan. Pipiku langsung merona merah dan terasa panas. Aku berbalik mengintip Key yang sekarang sedang melahap makanannya dengan senyum. Dan tanpa sadar aku juga tersenyum sambil berjalan meninggalkannya.

***

Aku mendengus kesal sambil berpangku tangan menatap jendela. Hujan lagi, hujan lagi. Walaupun sekarang Key sudah ada di sini tapi satu hal lagi yang paling buruk, aku dan Key sama-sama meninggalkan payung di rumah!

Sudah lima belas menit aku dan Key duduk berteduh di depan sekolah menunggu hujan reda. Hari ini Sungra pulang duluan karena sakit, dan Minyeon tidak datang karena urusan keluarga. Minho dan Taemin masih ada kegiatan klub, yang baru berakhir dua setengah jam lagi.

“Yah, kenapa kau ke sini tidak bawa payung?” omelku masih menatap keluar memandangi hujan. “Kan sudah tahu hari ini tidak cerah,” gumamku.

“Mana kutahu?” balasnya cepat. “Aku kan bukan peramal cuaca.”

“Aku mau pulang,” desahku. “Hujannya malah tambah deras.”

Tiba-tiba Key berdiri dan menarik tanganku. “Geurom, ayo berlari pulang.”

“Hah?”

Belum sempat aku melontarkan reaksiku ia sudah menyeretku melewati deraian hujan.

***

Aku menggigil mencengkeram erat lengan baju Key. Key sialan! Hujan angin deras dingin begini masih diterobos saja!

“Yah!” seruku dengan suara bergetar karena dingin. “Jinjja chuwo! Kenapa kau mengajakku berlari??”

Ia menatapku diam.

“Ahh! Jadi basah semua, nanti flu bagaimana?” tanyaku menggigil. Ia tiba-tiba mengecup pipiku lagi.

“Ttatteutdan aniya?” tanyanya tersenyum menunjukkan barisan giginya. Seakan ada rasa panas yang merasuk ke tubuhku, pipiku ikut merona.

“A-aniya!” balasku. “Sudahlah. Ayo masuk!”

***

“Hatchii!!”

“Achoo!!”

Aku dan Key menutup hidung bersamaan. Aku meliriknya sinis.

“Sudah kubilang nanti bisa kena flu!” aku mendorong lengannya. Kami berdua sedang duduk di ranjang dengan piyama masing-masing, dan berebut tisu dari tadi. Dan percaya atau tidak ia memakai piyama berwarna pink, sama sepertiku. Tidak seperti cowok! Dasar aneh!

“Aku sakit gara-gara kau!” omelnya. Aku memicingkan mataku lagi.

“Mworago? Ya! Yang benar itu aku sakit gara-gara kau!” balasku menunjuk-nunjuk wajahnya.

“Che. Sana tidur. Kubuatkan sup,” ia mendorongku perlahan ke kasur. Aku mengerutkan alisku.

“Chamkkamaneyo!” aku menyetopnya. “Harusnya kau yang tiduran! Aku ambilkan air dingin,” perintahku. Ia menatapku aneh.

Ia mengangkat tangannya menyentuh keningku. “Kau lebih panas dariku. Jadi kau saja yang tidur.”

Kini giliran aku yang menyentuhnya. “Kau lebih panas, dasar tuan sok tahu,” balasku.

“Seolma! Aku masih bisa melakukan elephant turn sepuluh kali tanpa jatuh!” tantangnya.

“Che. Aku bisa dua kali lipatmu,” balasku. Ia kemudian membongkar-bongkar laciku. “Yah! Kau mau apa??”

“Cari termometer,” jawabnya masih membongkar laciku. “Yang kalah harus di ttakbam! Dan tidur.”

Aku hanya memutar bola mataku. Jelas kau yang kalah, Key. Kau sudah sakit dari pagi dan hujan-hujanan begitu.

“Watda!” serunya ia memasang termometernya di mulut.

“38.5,” gumamnya mengerutkan alis. “Tinggi sekali?!” protesnya. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Pasti kau yang kalah!” ejekku memasang termometernya di mulutku.

Beberapa saat kemudian kulepaskan termometernya. Key juga mendekat untuk melihat hasilnya.

“Aku menang!!!!” serunya tepat di telingaku. Yah! Apa-apaan ini?!! Kok 39.1??? Lebih tinggi dari Key!

“Sudah sana tidur! Ara? Aku mau masak~” ia memakaikanku bertumpuk-tumpuk selimut. Ugh! Termometer sialan!

Setelah Key lenyap dari pintu, aku memastikan ia sudah ke turun dan langsung mengendap-endap ke kamar mandi, mengisi baskom kecil dengan air dingin dan mencarikan handuk kecil.

 Ah, obat…..eodiseo? ._.

Setelah beberapa lama akhirnya aku menemukan kotak obat di laci kamar mandi. Baru saja aku membuka pintu kamar mandi, Key sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu menatapku tajam.

“Hah! Gamjakiya!” desahku mengelus dadaku. Mengagetkan orang saja!

“Yah, bukannya aku menyuruhmu tidur?” tanyanya. “Kenapa malah keluyuran??” omelnya.

Aku mengangkat sebelah tanganku yang membawa obat dan handuk kecil. “Igeoyo, aku mencarinya,” balasku.

Ia berdecak kesal namun akhirnya tetap membawaku kembali ke kasur dan menyodorkan sepiring sup sayuran. Aku mengerutkan dahiku.

“Ige mwoya?” tanyaku spontan. “Hah! An meogeo! An meogo!” aku menggeleng kuat.

“Wae andweneunde?” tanyanya balik. “Ini bagus untuk kesehatan! Meogeo! Ppalli!”

“Geunyang danggeun,” gumamku memilah-milah wortel dan sayur lainnya. Cukup wortel saja! Aku tidak mau yang lain!

“Yah, kenapa cuma wortel??” tanyanya. “Justru yang tidak enak itu wortel!”

Aku menatapnya aneh. “Wortel itu satu-satunya wortel enak tahu! Dasar!”

“Ani! Itu tidak en-”

Aku memasukkan paksa sesendok sup penuh wortel ke mulutnya. Rasakan itu! Muahahaha!

“Mhnp!!?” ia terpaksa menelan wortelnya, karena tidak sopan ia membuang makanannya. “Yah! Neo!” ia balas merebut sendok dan menyuapiku sesendok penuh sayuran hijau saat aku tertawa terpingkal-pingkal.

Akhirnya lima belas menit berakhir dengan kami suap-suapan sayuran yang tidak kami suka =.=

“Yah,” panggilnya sambil mengunyah. “Gara-gara kau aku jadi makan wortel!” omelnya. Ia meraih handuk kecil dan membasahinya di baskom.

“Kau juga memaksaku makan sayur,” gerutuku. Ia kemudian memeras handuknya dan memasangkannya di dahiku. Belum sempat aku protes ia sudah menempelkan dahinya di handuk yang sama. Pipiku yang panas karena sakit spontan bertambah panas lagi. Bayangkan, jarak dahi kami hanya terpisah oleh selembar handuk dingin.

“Aku cuma mau makan wortel karena kau, ara?” gumamnya dengan suara rendah, yang membuat jantungku seakan mau meloncat keluar. Aku juga berusaha keras supaya tidak tersenyum – Key bisa menertawaiku!

Ia kemudian menutup kedua matanya, mungkin pusing karena suhu tubuhnya yang panas. Tapi kalau dilihat begini, wajahnya sudah seperti peran utama cowok di komik-komik Jepang – memiliki garis frame yang halus tapi tegas, dengan detail wajah seperti ukiran tangan seniman kelas dunia.

Ah, belakangan ini aku jadi sering menilai-nilai Key…

Kalau kalian bertanya-tanya sebenarnya perasaan apa yang kurasakan tentang Key, mungkin aku belum bisa memberi jawaban pasti. Tapi aku sudah punya satu jawaban sementara. Perasaan itu, sudah berada satu tingkat di atasrasa biasa saja, tapi masih satu tingkat di bawah rasa suka. Aku juga tidak tahu apa maksudnya. Aku cuma sedikit takut kalau ia tidak menyukaiku…

 Ani, aku benar-benar takut ia tidak merasakan hal yang sama.

Aku bingung bagaimana. Yah, jangan salahkan aku, karena aku juga cewek, dan aku normal : suka cowok. Jadi intinya, aku memang belum mengakui rasa sukaku, tapi aku tahu aku menganggap Key orang yang spesial.

Tiba-tiba ia menegakkan duduknya sehingga handuk di dahi kami terlepas. Ia kemudian menatapku.

“Kita lupa ttakbam-nya,” ujarnya menunjuk-nunjuk keningku. OH……. ._______.

“Ah!! Andwae! Andwae! And-

TTAK!!

“YAHHH!!!!!!” seruku mengusap-usap keningku.

“Well, perjanjiannya memang begitu kan?”

***

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

 …Sesuatu yang dianggap berharga sejak jaman Aztec. Bahkan dahulu hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan, hingga sekarang rakyat jelata pun bisa dengan bebas membelinya. Bersifat menenangkan karena salah satu kandungan didalamnya. Dan menjadi populer sebagai lambang kasih sayang, di hari Valentine maupun White Day…

“Yah,” panggil Key.

“Hm?”

“Baca apa?” tanyanya. Aku mengangkat kepalaku menatapnya, sebelum menunjuk-nunjuk cover depan buku putih setebal novel dengan titik-titik berwarna gelap di permukaannya.

“Chocolate Story,” balasku.

Hari ini, aku dan Key tidak masuk sekolah karena sakit. Dari kemarin kami tidak sembuh-sembuh. Mungkin karena aku lupa pakai selimut malamnya =.=

“Kenapa baca begituan?” tanyanya meneliti cover bukuku.

“Bosan,” desahku kembali serius dengan bacaanku.

 …Disebut sebagai lambang kasih sayang karena rasanya yang manis dan pahit, melambangkan susah senangnya dalam suatu cerita cinta…

“Yah,” panggilnya lagi. “Kau suka cokelat?” tanyanya. Aku cuma mengangguk.

…Cokelat bersifat memperbaiki mood. Dan membuat orang merasa senang, apalagi yang memberinya orang yang disukai…

Tiba-tiba bukuku tertutup. Tangan Key menahanku untuk membukanya. Ia menatapku lekat-lekat.

“Aku mau masak, mau ikut?” tanyanya. Aku mengernyit.

“Aku kan tidak bisa masak?” balasku.

“Ck, gwaenchanha. Aku ajari, ara?” tawarnya. Mungkin tidak ada salahnya mencoba? Aku pun mengangguk setuju.

***

“Kenapa jadinya masak jjajangmyeon??” tanyaku. Ia mengeluarkan sebuah panci.

“Karena kita sama-sama single,” balasnya sambil bercanda.

“Ini kan bukan valentine!” gerutuku. Ia terkikik geli.

“Arayo, arayo,” balasnya menyalakan kompor dan memanaskan mi. “Kita tidak punya bahan untuk bikin cokelat. Waktu valentine nanti, kuajari buat cokelat, eothae?”

Aku mengangguk-angguk pasrah.

***

Aku mengernyit saat ia cuma memasak satu mangkuk jajangmyeon. Sedikit sekali?!

“Yah, kenapa masak cuma satu,” tanyaku begitu kami tiba di kamar. Ia duduk di depanku dan mengulurkan tangannya.

“Mwo?”

“Ayo main,” ajaknya. “Truth or Eat,” lanjutnya. Hah??

“Geuge mwoya?” tanyaku lagi. Ia menunjuk mangkok jajangmyeon.

“Kita masing-masing akan memakan ujung mi yang tersambung, tapi tidak boleh digigit!” lalu ia menunjuk pen dan notes yang tadi dikeluarkan dari tas sekolahnya. “Tidak boleh bicara, cuma boleh menulis jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan lawan, dan harus jujur. Kalau tidak mau jawab kau harus maju sampai-”

“Maksudmu kita pepero game dengan jajangmyeon?” tanyaku. “Ini belum November! Pepero day masih lama! Dan aku tidak bilang aku mau pepero game denganmu!”

“Ini kan cuma game,” balasnya. “Jebal~ kau tidak takut kan?? Kita sudah sering sekali tiap hari melakukan kiss, jadi-”

“Arayo! Arayo!” potongku. Key menyebalkan!

“Yeah!” ia menyuapiku ujung sehelai mi sedangkan ia memakan ujung satunya. Bibir kami hanya terpisah sebatas mi jajangmyeon seuntas ._.

“Junbi….si…jak!” gumamnya. “Kawi! Bawi! Bo!”

 Sial.

Key tersenyum licik melihat tangannya membentuk gunting sedangkan aku kertas. Ia kemudian menuliskan sesuatu di notesnya.

 ‘Neon nugu johahae?’

Aku mengerutkan alisku. Pertanyaan apa ini?!

 ’Sekarang tidak ada.’

Gunting! Batu! Kertas!

Key gunting, aku batu. Aku memasang wajah berpikir keras. Pertanyaan.. Pertanyaan…

‘Orang paling penting di hidupmu?’

Ia terlihat seperti memutar otak. Tanpa memberi jawaban ia malah memakan mi nya lagi sehingga jarak kami lebih dekat sekarang.

Kami mengangkat tangan lagi menandakan akan menentukan sekarang giliran siapa.

Key batu. Aku gunting.

‘Menurutmu aku orang yang bagaimana?’

Aku terdiam. Apa aku harus jujur? Tapi memang game ini harus jujur kan walaupun aku bisa bohong sekalipun?

 ’Spesial.’

Well, aku tidak bisa bohong padanya entah kenapa.

“Kawi! Bawi! Bo!” gumamnya tak jelas.

Key kertas lagi. Aku batu lagi.

 ’Sejauh apa kamu tahu tentang aku?’

Aku terdiam. Aku harus jawab apa? Itu pertanyaan yang sulit.

Akhirnya dengan pasrah aku memakan sedikit mi di mulutku. Semakin kuingat betapa dekat jarak kami semakin jantungku berdebar keras.

 Kawi! Bawi! Bo!

Aku menang dengan mengeluarkan gunting.

Hmm… Tanya apa ya?

 First Impression tentang aku?

Ia menatapku sejenak sebelum maju lagi. Aku mengernyit. Apa pertanyaanku terlalu susah? Kalau begitu aku tanya gampang-gampang saja lain kali supaya dia tidak mendekat!

Kawi! Bawi Bo!

Aku gunting lagi dan menang. Kali ini aku harus menanyakan yang gampang!

Makanan kesukaanmu?

Ia mengernyit dan menatapku ingin protes tapi karena peraturannya tidak boleh berbicara jadi ia diam saja. Sampai tiba-tiba ia malah maju lagi dan membuatku mengernyit.

Hah! Aku tahu strateginya! Ia tidak mau jujur di setiap pertanyaan supaya maju terus dan membuat aku gugup! Dasar licik! Kalau begini aku harus bagaimana? Kalah di setiap suit? Tapi nanti ia tanya aneh-aneh!

Kali ini aku mencoba untuk kalah. Dan berhasil. Key menang.

 Cowok yang pernah kau sukai.

Aku membulatkan mataku. Tuh kan! Ia menjebakku!

Dengan malas-malasan aku memakan sedikit mi-ku. Ugh! Eotteohke?! Makin lama jantungku makin berdebar-debar!

Kawi..bawi..bo!

Key menang lagi. Sial! Ia menatapku sejenak lalu tersenyum licik. Dan yang paling kutakuti : ia memasang wajah mesum…

 Ukuran dada?

Sekarang kepalaku malah berdenyut keras karena kesal. Byuntae!!!!

Dengan muka merah padam karena marah, kesal, dan malu aku maju lagi walaupun sedikit. Sekarang aku bahkan bisa merasakan nafasnya berhembus di wajahku. Ugh!

 Kawi! Bawi! Bo!

Tanganku membentuk sebuah kepalan sedangkan telapak tangannya terbuka lebar. Dia menang.

Dari jarak sedekat ini ia menatapku. Cukup lama sampai aku tidak tahu ia belum menuliskan pertanyaannya.

 Kalau aku suka padamu, kau mau jadi pacarku?

Pipiku merona makin merah membaca tulisan tangannya dari spidol merah yang dipakainya dari tadi. Aku menatapnya lagi seakan bertanya apakah dia serius atau tidak.

Sekarang aku harus bagaimana?

 

To Be Continued…

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 4]

Harin’s POV

“Harin-ahh!!” samar-samar kudengar namaku dipanggil-panggil. “Ya! Ireona! Kau tidak sekolah??”

 Ugh… Ini suara Onew oppa..?

“Nee!!” seruku mengusap-usap mataku sambil berusaha duduk. “Yah! Ke-”

Aku mengerjap menyadari sesuatu. Sebelahku kosong. Semalam Key memaksa untuk tidur di kasurku, sekali saja. Tapi ke mana dia sekarang??

  Key…..benar-benar pergi?

“Yah! Harin! Kau ini!” Onew oppa mendobrak masuk. “Menjawab ‘Nee!!’ tapi tidak segera turun!”

“Oh?” aku melihat ke arah jam. Tiga puluh menit sebelum masuk sekolah dan aku belum mandi?!! “Kok tidak bangunkan aku lebih pagi?!!”

“Ck! Aku sudah bangunkan kau!” omel Onew oppa. “Kau malah menendang-nendang orang!”

“Ohhhhh… Mian,” balasku. “Oppa, kau lihat Kibum?” tanyaku.

“Kibum?” ia menatapku curiga. “Siapa Kibum??”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arahnya. “Key! Aku bilang Key! Anjingku!” aku melongok ke bawah ranjang. “Kok tidak ada?” tanyaku.

“Oh? Entahlah, aku tidak lihat,” balasnya. “Tapi tadi pagi-pagi sekali aku dengar ada yang membuka pintu. Entah itu siapa, tapi saat kulihat tidak ada orang,” lanjutnya.

Oh… Key benar-benar pergi..

  Tapi kenapa aku merasa ingin mencarinya?

“Hey, nanti kucarikan. Kau mandi dan ke sekolah dulu sana,” perintahnya. Aku mengangguk. Lagipula aku satu sekolah dengan Key. Apa susahnya bertemu dengannya? Yang penting ia tidak di rumahku.

***

Aku tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Setibaku di kelas aku mendengus kesal karena belum sempat mencari Key. Aku memang tidak ada urusan dengannya. Tapi….ah, siapa peduli!

 

“Pagi, anak-anak!”

“Pagi, sonsaengnim!” seruku, dan anak-anak lainnya malas-malasan. Huft… Membosankan.

“Kalian sekarang maju ke depan ambil undian. Hari ini kalian akan melakukan research singkat tentang range vocal dan musik dalam kelompok empat orang,” jelas Baek sonsaengnim mengeluarkan kotak berisi kertas-kertas undian. Aku mendesah lagi. Aku, Minyeon dan Sungra sudah jelas cuma bertiga dan kurang satu orang lagi.

“Psst!” desis Minyeon yang duduk di belakangku menepuk-nepuk pundakku. “Harin-ah! Beritahu aku kau dapat apa! Aku tidak mau sekelompok dengan orang lain, ya? Ya??” bisiknya. Aku mengangguk. Aku juga tidak mau.

“..Kalian akan sekelompok dengan yang mendapat kertas berwarna sama-Minyeon-ssi bisa duduk dengan benar??” Baek sonsaengnim menatap kami tajam.

“Ne, sonsaengnim,” gumam Minyeon pelan.

Kami satu per satu maju dan mengambil kertas undian termasuk aku. Aku mendapat warna merah. Dan untung saja belum ada yang mengambil warna merah.

Author’s POV

Minho yang duduk di tengah-tengah kelas itu terus-terusan memicingkan matanya ke arah Harin. Mau tidak mau, hari ini dia harus bicara dengan cewek itu.

  Ish! Murid-murid ini mengganggu!

Minho memanjangkan lehernya berusaha melihat kertas warna apa yang di dapatkan Harin saat banyak siswa-siswi yang menghalangi pandangannya.

“Key sialan,” desisnya menggerutu masih berusaha mengetahui warna kertas Harin.

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 3]

Harin’s POV

Aku kembali menyesap teh citrus yang diseduhkan Key untukku dan Minyeon. Aku tidak tahu sejak kapan aku pandai berbohong, tapi setidaknya sekarang Minyeon benar-benar tidak mencurigaiku. Tumben bukan? Biasanya saja dia paling curigaan.

“Jadi,” Minyeon membuka mulutnya memulai pembicaraan. “Jam berapa Jongwoon akan mengembalikan anjingmu?” tanyanya polos.

Jadi, tadi begitu bangun dan menyadari Key babo itu belum berubah menjadi anjing aku buru-buru menyeretnya meminta penjelasan. Setelah selesai penjelasan kilat tiga puluh detiknya itu, cerita bohong yang lebih masuk akal dari kisah binatang peliharaan yang bisa berubah menjadi manusia meluncur dari mulutku begitu saja. Aku bilang padanya kalau Key dibawa Jongwoon oppa jalan-jalan. Sedangkan Key yang di sini adalah tetangga – seperti yang diketahui eomma dan appa.

“Memangnya Kibum-ssi sejak kapan kenal denganmu? Bukannya kau tinggal di Jepang dengan sepupumu?” tanyanya lagi. Hahh… Ternyata ia masih saja curiga.

“Ingat, aku pindah ke sana waktu kelas tiga. Jadi, Kibum ini teman kecilku juga, sama seperti kamu dan Sungra,” jelasku. Aku melirik ke arah dapur. Key sudah berubah wujud belum ya?

“Kau suka pada Kibum sunbaenim?” tanya Minyeon tiba-tiba. Aku membulatkan mataku.

“Eh? Sunbaenim?” tanyaku.

“Ne. Bukannya dia anak kelas tari? Ini sudah tahun keduanya bukan? Dia jadi kingka di situ sejak tahun lalu sampai Minho dan Taemin juga masuk sekolah kita tahun ini,” balas Minyeon. “Masa kau tidak tahu? Kau kan teman kecilnya?”

  Ugh.. Ternyata Minyeon masih menginterogasiku…

“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang lebih tua denganku, makanya aku lupa,” balasku tersenyum canggung.

“Ohh,” gumamnya. “Jadi kau benar-benar menyukainya,” sambungnya. Mwo?!

“Hah? Kok bisa??” pekikku tertahan.

“Pertama, kau tidak menganggap Kibum sunbaenim sebagai orang yang perlu dihormati, jadi dengan kata lain kau merasa akrab dengannya. Kedua, ia kau seret-seret tadi pagi di kelas. Ketiga, yang menculikmu dari aku dan Sungra saat makan siang tadi Kibum sunbaenim. Keempat, ia menggendongmu sepulang sekolah tadi. Lucu sekali! Kelima, kau menamai anjingmu dengan nama yang sama dengan Kibum sunbaenim. Terakhir, ia berada di rumahmu dan kau berkali-kali melirik ke arah dapur dari tadi,” jelasnya panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.

  Minyeon-ah, kau benar-benar aneh.

Tidak kusangka ia akan penasaran dan curiga terhadap topik yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.

“Aku tidak menyukainya,” jawabku jujur, singkat, padat, dan jelas.

“Ey.. Seolma,” gumamnya lagi. “Padahal kalian lucu sekali!”

“Lucu apa-”

Ting.. Tong..

Siapa sore-sore begini datang? Kukira cuma Minyeon yang akan datang.

“Aku buka pintu dulu ya,” gumamku pada Minyeon sebelum aku bangkit dari tempatku duduk dan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, sepupuku yang selama ini menemaniku di Jepang sudah berdiri sambil tersenyum di depan pintu.

“Oppa!!!” seruku memeluknya. “Eh, tunggu, kau kok di sini?” tanyaku.

“Aku liburan di sini!” balas Onew.

“Jinjja? Waa!!” seruku bahagia melupakan masalah apa yang barusan menimpaku.

“Eh, dapur di mana? Aku haus!” rengek oppa menerobos masuk. Dapur? Oh tidak…

  Key!! Key!! Key!! Berubah!! Cepat!!

“O-oppa! Aku saja yang ambilkan air!” seruku menyusulnya sebelum ia sempat ke dapur.

“Oh? Aku sudah di dekat dapur aku saja yang ambil,” balasnya berteriak. “Kau bawa teman ke sini?” lanjutnya. Eh?! Kibum ketahuan?!

Aku segera berlari menuju ke tempat di mana oppa berada – di depan dapur, di ruang makan. “Ne?”

“Kenapa temanmu kau tinggal sendirian? Dasar,” ceramah Onew menunjuk Minyeon yang duduk bengong menatap oppa-ku. Eh? Untung Onew belum masuk!

“Eh… Hehehe. Mian…,” gumamku.

Continue reading

BITTER SWEET TROUBLEMAKER {Intro}

Annyeong para reader yang ku sayangi.. ^^

kali ini author kembali dengan ff baru yang ga kalah GJ dari ff lama..

Judulnya Bitter Sweet Troublemaker

FF ini menceritakan tentang kisah 6 bocah SMA kaya yang sekolah di sebuah sekolah super elit…

Continue reading

Letter Of Angel XX (BLUE)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIV

Background Song :

Listen it and find the chemistry

Tiffany’s View

Aku terbangun dan menemukan diriku di kamar yang tak aku kenal. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tiffany di sinilah dirimu sekarang. Apa yang kau harapkan melihat Siwon di sampingmu?
Tok…tok..tok…
Seseorang mengetuk pintu dan kemudian aku melihat Jessica membawakanku sarapan.

“Maaf merepotkanmu” kataku sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kita teman kan?” ujarnya sambil tersenyum riang, aku pun membalasnya dengan senyuman.

“Mashita” pujiku.

“Hehehe… Bukan aku yang memasaknya. Emmonim yang memasaknya” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Eommonim? Aku jadi ingat namja cantik kemarin. Aku jadi ingin menggoda Jessica.

“Oh… Eomma dari namja yang kemarin yah? Wah… wah berarti sudah mendapat lampu hijau. Kalau begitu jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian yah”

“Ani.. Aniya. Taemin harus menjadi dokter dulu dan mungkin baru 5 tahun lagi, kalaupun hubungan kami bertahan, tapi aku harap iya” Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“I wish you two could make it real. Do your best to keep your relationship. Promise me” Aku menyodorkan jari manis tangan kananku, dia menyambutnya dan kami melakukan pinky promise.

“Sica….” Taemin melongokkan kepalanya dan memanggil Jessica. Jessica meninggalkanku sejenak untuk berbicara dengan Taemin, tak lama dia kembali duduk di pinggir ranjang.

“Taemin pamit. Dia ada kuliah pagi. Dia titip salam untukmu” Tanpa aku minta Jessica menjelaskan. Aku hanya mengangguk.

Jessica juga pamit dan meninggalkanku di apartemennya. Dia semula mengajakku ke rumah sakit daripada aku sendiri, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau bertemu orang-orang dalam keadaan seperti ini.
Sku melihat bayanganku di cermin. Mata sembab dan merah, wajah sayu dan pucat serta rambut acak-acakan. Tiffany….

(I’m singing my blues)
The love that I have sent away with the floating clouds, oh oh
Under the same sky, at different places
Because you and I are dangerous
I am leaving you
One letter difference from ‘nim’(T/N)
It’s cowardly but I’m hiding because I’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love


Jiyeon’s View

“Oppa, hari ini setelah kuliah aku ingin ke tempat Sica-eonni. Boleh kan?” tanyaku pada Donghae oppa yang sedang menyetir.

“Baiklah. Nanti aku antar, setelah mengajar jam pertama aku kosong sampai siang” ucap Donghae oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ne” aku mengangguk senang.

“Kau sudah menelpon Jessica kalau kau ingin berkunjung?” tanyanya memastikan.

“Sudah, oppa. Tadi pagi aku sudah menelponnya, dia mengatakan aku bisa langsung masuk apartemennya. Nanti Taemin juga akan kesana kok, dia diminta Sica-eonni untuk mengambilkan beberapa barang Sica eonni yang tertinggal”

Donghae mengangguk sesaat.

Kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Donghae membuka pembicaraan lagi.

“Kau suka peony yang diberikan ahjumma kemarin?” tanyanya. Mukaku langsung bersemu merah.

“Kalau boleh tahu arti peony itu apa?” Kali ini dia menatapku, kami sedang berada di lampu merah. Aku mengalihkan pandanganku antara akan atau tidak menjawab pertanyaannya.

Tin…Tin….Tin…

Donghae’s View
Tin…Tinn…. Tinnn….
Aku menunggu jawaban Jiyeon sampai tak sadar lampu sudah menjadi hijau. Aku segera menjalankan mobil dan menundukkan kepala kepada pengemudi lain.

“See, you gave us trouble” kataku sebal.

Tunggu… Sejak kapan Lee Donghae menjadi seperti ini. Jiyeon sedikit kaget dengan perkataanku. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku.

“Syukurlah, aku pikir Oppa sakit” katanya lega.

Kami berdua saling berpandangan sesaat dan tertawa. Aku menepikan mobil takut bila terjadi apa-apa ketika mengemudi dalam keadaan ini.

“Baiklah, sepertinya hari ini bagaimana kalau kita sedikit telat” ajakku. Jiyeon membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.

“Bagaimana ?” tawarku lagi.

Dia menarik nafas panjang.

“Oppa, harus mengajarkan? Kalau kita terlambat nanti bisa susah” katanya.

“Hei, siapa yang akan terlambat masuk kelas” Bukan itu yang terlintas dalam pikiranku.

“Lalu?” tanyanya bingung.

Aku membisikkan sesuatu di telinganya. Dia mengangguk mengerti.

“Oh, begitu yah. Aku setuju” katanya riang.

“Aku pikir kau mengerti isi otakku, ternyata tidak” godaku.

“Memangnya aku pembaca pikiran apa? Bagaimana aku tahu bial oppa tidak mengatakan isi pikiran oppa padaku” dia menggembungkan pipinya.

“Ehmm… Ada yang ingin aku katakan” aku menarik nafas panjang. Jiyeon memperhatikanku dengan seksama.

Aku kembali menarik nafasku dalam. Aku mengambil tas kerjaku dan mengeluarkan 1 tangkai bunga.

“I don’t know from where should I explain this all. It’s gloxinia, it means love at first sight. It was my feeling to Yoona” Jiyeon menarik nafas panjang dan mengepalkan tangannya, dia kemudian menatapku memintaku untuk meneruskan kata-kataku.

“That was my feeling, I couldn’t ignore it” Aku gantian menarik nafas. Mata Jiyeon sudah berair.
“I…..” Jiyeon memotong kata-kataku.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintainya dan tak bisa melupakannya?” ujarnya tersenyum sambil menahan airmata.
Aku terdiam.

“Aku bisa menunggu, aku orang yang sabar kok” sambungnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

Donghae… now or never… Aku menarik Jiyeon dalam pelukanku. Dia menangis di dadaku, aku menggenggam tangan kanannya dimana cincin pernikahan kami tersemat di jari manisnya.

Aku merogoh hiasan clay dari saku jasku dan meletakkannya di tangannya. Dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku sambil mencoba melihatku.

“Edelweiss, itu edelweiss. Bunga abadi, bunga yang hanya akan tumbuh di pegunungan tinggi. Edelweiss bunga para pendaki. Edelweiss bunga kecil yang terus hidup dan bertahan di daerah dingin dan ekstrim. Bunga yang selalu memberi warna dan kedamaian bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih puncak tertinggi. Eddelweiss bunga sederhana yang menemani Sang Gunung untuk mengarungi waktu dan musim. Dia hanya akan hidup di sana, dia tak akan meninggalkan Sang Gunung, dia hanya hidup dan bernafas bila berada di sana. Edelweiss memang tak sekokoh Gunung itu sendiri, edelweiss terkesan lembut, sederhana, rapuh dan mudah terluka. Namun, dengan segala kelemahannya, edelweiss memberikan nafas kesederhanaan, pertahanan, ketulusan dan kekuatan serta senyuman. Dia tak perlu sekuat dan sekokoh Gunung, dia cukup menjadi dirinya sendiri. Kau bukan gloxinia-ku, tapi kau lah edelweiss-ku. Step by step I wish I could….” Kata-kataku terpotong ketika aku merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirku.

“I’ll be your edelweiss. That’s always love, love and love you always no matter what. I’m waiting for you till one day you open your heart” Aku menutup mataku sesaat lega.

“Oppa” Aku menatap Jiyeon.

“Kita ke tempat Siwon-oppa yuk. Aku punya rencana, maksudku kita akan membuat rencanamu lebih sempurna” katanya. Dia menjelaskan semua rencananya.

“Tapi kuliah dan…”

“Aku punya 25% hak untuk tidak mengikuti perkuliahan kan? Sekali bolos saja tidak masalah. Lagian hari ini ”

“Tunggu, aku punya cara lain” Aku segera menghubungi Jessica, Hara dan adik Kyuhyun, Jieun.

“Jelaskan semua pada mereka. Kau bisa mengandalkan mereka” Akhirnya kami melakukan teleconference.

“Ne, aku mengerti Donghae uisha” kata Jieun.

“Baiklah, Donghae-oppa. Beres, serahkan saja padaku” ucap Hara bangga.

“Asal Tiffany eonni tersenyum semua akan aku lakukan” ujar Jessica.

“Lalu, Siwon oppa bagaimana? Siapa yang akan menemuinya?” tanya Jiyeon. Kami diam sejenak.

“Biar aku dan Hara yang menemuinya. Ada yang harus aku bicarakan juga dengan Hara” kataku. Jiyeon mengangguk.

Siwon’s View

“Sajangnim. Tuan Lee Donghae dan nona Goo Hara ingin menemui anda” Aku mengerutkan dahiku, ada urusan apa mereka berdua kemari.

“Suruh mereka masuk” ujarku pada sekretaris.

Donghae dan Hara masuk, aku mempersilahkan mereka duduk. Belum lama mereka masuk, tiba-tiba Seunghyun dan Pamanku, ayah Seunghyun.

Hara terkejut, tetapi Donghae hanya tersenyum.

“Seunghyun, Paman ada urusan apa datang kemari?” tanyaku. Namun, kejutan tak sampai di situ. Sekretarisku mengantarkan Kyuhyun dan Changmin ke ruanganku. Tunggu ada apa ini?

Donghae sepertinya mengerti kebingunganku. Dia berdiri dari kursi dan menggenggam tangan Hara, menuntunnya ke dekat Kyuhyun dan meletakkan tangannya di tangan Kyuhyun.

“Kyuhyun, ini Tuan Besar Choi dan Choi Seunghyun. Ayah dan kakak dari Goo Hara” Kyuhyun sedikit terkejut, tetapi kemudian membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri.

“Hara, time to makes up” kata Donghae. Kyuhyun mengangguk. Paman, Sunghyun, Kyuhyun dan Hara keluar ruangan. Menyisakan aku, Changmin dan Donghae.

“Itu tadi apa?” tanyaku. Donghae tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mempertemukan keluarga yang terpisah dan ingin melihat senyuman di wajah adikku” kata Donghae.

“Adik?” tanyaku.

“Hara. Sudahlah sekarang yang terpenting adalah Tiffany. Aku dan Jiyeon punya rencana untuk membuat kalian berbaikan. Berterima kasihlah juga pada Changmin, tanpa dia aku ragu kita bisa membuat semua menjadi beres” Donghae mengedipkan matanya ke arah Changmin, yang hanya memberinya death glare.

“Lalu mengenai Hara dan…..” Donghae memotong perkataanku.

“Choi Siwon, sekarang saatnya mengurus urusanmu dulu. Aku akan jelaskan lain waktu padamu tepatnya pada kalian semua. Iya kan Changmin?” Changmin seperti ingin mencekik Donghae. Entahlah aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua rencana Donghae dengan saksama.

“APA???????” teriakku di akhir.Changmin hanya menatapku iba.

“A-KU SE-RI-US” kata Donghae penuh tekanan di tiap kata.

“Jika tidak berhasil bagaimana?” tanyaku takut.

“Serahkan pada Shim Changmin” kata Donghae dan Changmin hanya mlengos.

Tiffany’s View

“Sica, bagaimana bisa kau cemburu. Aku dan Jiyeon sudah lama berteman dank au tetap tak mengerti”

Aku segera keluar kamar, Taemin dan Jessica berteriak hebat.

“Berteman? Hanya berteman? Kau tak pernah melupakan Jiyeon, selalu saja dia di otakmu. Kau pikir aku tak sakit hati apa saat melihat kalian bersama” balas Jessica.

“Sica…. Dia sudah punya Donghae uisha dan aku memilikimu. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan bahwa kami tak memiliki perasaan selain teman?” teriak Taemin lagi.

Jessica menangis dan jatuh terduduk. Taemin berusaha menenangkan Jessica dan berusaha memeluknya, tetapi Jessica menolak dan justru tambah keras menangis. Aku mendatanginya dan segera memeluknya. Aku menatap Taemin, matanya kosong. Dan dia sudah siap meneteskan air mata, tetapi dia menahannya.

“Eonni” seseorang masuk ke apartemen Jessica dan kaget saat melihat Jessica. Sepertinya aku pernah melihat gadis muda ini, tapi entah dimana aku tak yakin. Jessica berganti memeluknya dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Taemin tetap berdiri di depan kami, menunggu Jessica untuk menenangkan diri.

“Aku rasa eonni salah paham” kata gadis itu.

“Tidak, Jieunie. Taemin masih mencintai Jiyeon sampai sekarang” Jessica tetap kukuh.

“Mencintai Jiyeon sampai sekarang? Darimana teori bodoh itu , Sica. Iya dulu aku mencintainya, tapi sekarang kau yang aku cintai” teriak Taemin.

“Katakan padaku kau sama sekali tak mencintainya” teriak Jessica. Taemin diam membisu.

The winter had passed
And the spring has come
We have withered
And our hearts are bruised from longing

“Bawa aku darisini aku tak ingin melihatnya” kata Jessica. Dia memaksaku dan Jieun untuk membantunya berdiri. Taemin tak mampu berkata-kata.
———————————————————————————-
Tanpa Tiffany ketahui Taemin menelpon Donghae. “Done, uisha. Plan A sukses”
“Sekarang plan B”
———————————————————————————-
“Pak, tolong antarkan kami ke alamat ini yah” kata Jieun pada sopirnya. Sopirnya hanya mengangguk. Jessica sekarang tertidur setelah habis menangis.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Jieun. Jieun hanya tersenyum.

Jessica akhirnya terbangun. Dia masih sedikit terisak, tetapi sudah lebih baik.

“Aku juga pernah seperti itu eonni” kata Jieun. Kami berdua menatapnya. Lagu yang tepat di saat yang sangat menyakitkan. Big Bang Blue mengalun memenuhi space di mobil ini.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go

“Layaknya lagu ini saat itu aku bahkan merasa tak bisa merasakan hatiku. Aku tak bisa menangis karena air mataku sudah habis. Terlalu sakit bagiku mengakui kalau aku bukan siapa-siapa bagi Changmin. Apa yang bisa aku katakan? Beda usia kami cukup jauh. Aku masih kelas 2 SMA dan dia sudah menjadi seorang pengacara. Dia dikelilingi banyak wanita cantik, modis dan tentu saja pintar. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam, tapi dia membuatku percaya kalau aku lebih baik dari mereka semua. Sampai suatu hari aku menemukan foto dia mencium seorang wanita di bar. Saat itu hatiku benar-benar sakit, aku mengatakan padanya aku tak mau menemuinya bahkan aku melempar vas bunga ke arahnya. Changmin datang padaku dan aku melihat pelipisnya berdarah, aku yang semula meronta akhirnya luluh. Dia menjelaskan semuanya dan minta maaf karena masih menyimpan foto itu, dia minta maaf tidak bisa melupakan gadis itu, tapi itu bukan karena dia tidak mencintaiku. Bagaimanapun gadis itu pernah ada di kehidupannya, tetapi sekarang dan seterusnya dia bilang aku lah yang ada di hatinya dan memintaku untuk berjanji seberat apapun kami akan melaluinya bersama. Kami tak berjanji sehidup semati, tetapi aku berharap Tuhan yang melindungi cinta kami” kata Jieun sambil tersenyum.

“Masihkah Changmin-shi menyimpan fotonya?” tanyaku.

“Tidak, dia mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Namun, sekarang aku dan eonni itu berteman. Dia mengajarkan dan memberitahuku banyak hal tentang Oppa” jawab Jieun antusias.

“Kau bahagia?” tanyaku.

“As long as he tries his best to loves me. I guess that’s more than enough. Sometime he’ll hide all of trouble and solve them alone, he just makes sure not to make me worry and the best reason that I’d got why he kept those picture was to remain me, Jieun If you want to be the one in his life you must receive all his past or you will be spoiled girl who just dreaming about beautiful life ever after”

Pernyataan Jieun membuat diriku tercengang. Dia jauh lebih muda dariku, tetapi pemikirannya lebih dewasa mungkin dalam hal ini. Aku menangis dan mereka berdua memelukku. Aku menumpahkan segala isi hatiku pada mereka berdua. Bagaimana aku selalu memendam perasaan pada Siwon sejak kami masih kecil, saat aku bertemu dengannya pertama kali di acara jamuan di AS, bagaimana senyumnya dan caranya memperlakukanku, bagaimana aku sangat senang ketika ayahku menjodohkan kami, bagaimana hancurnya hatiku saat Siwon menceritakan dirinya dan Yoona setelah kami menikah, aku hanya berusaha menerima segalanya dan menjadi istri yang baik. Namun, aku menyerah ketika melihatnya di makam Yoona.

“Ada yang ingin aku ceritakan” Seseorang berkata pada kami dan membukakan pintu. Ternyata itu Donghae.

Jalan ini? Ini kan jalan menuju makam Yoona. Rasanya aku mau kabur saja, tetapi sebuah tangan menahanku dan sopir tadi melepas topinya. Siwon…….

“Listen my confession” kata Siwon. Donghae, Jieun, Jessica mengangguk. Di sana ternyata tidak hanya ada kami, tetapi ada Changmin, Taemin dan Jiyeon.

Jieun langsung berlari memeluk Changmin yang hanya tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya. Taemin mendekati Jessica dan mereka ???? Is it prank????

Donghae mengangsurkan tangannya pada Jiyeon dan disambut dengan senyuman hangat dan genggaman erat.

Donghae meminta kami semua berdoa di depan makam Yoona.

“Yoona, apa kabar? Kemarin aku dan Jiyeon belum sempat berbicara dan bercerita padamu. Kau tahu sekarang Mavin sudah 8 bulan, dia sangat pandai dan lucu. Yoona, aku ingin mengatakan padamu. Sarangahaeyo” Kerongkonganku tercekat. Dia mengatakannya di depan Jiyeon.

“Yoona, aku ingin berterima kasih karena kau melahirkan Mavin. Terima kasih karena Mavin, aku bertemu Jiyeon. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya dan aku berjanji kami akan menjaganya. You will always be my gloxinia, but my edelweiss is someone beside me now” ujar Donghae lancar.

Jiyeon tersenyum pada Donghae. Giliran Jessica dan Taemin.

“Aku tak pernah mengenalmu noona, tapi aku berterima kasih padamu. Meskipun, aku kehilangan Jiyeon yang lembut, baik, sopan, ceria….” Raut wajah Taemin sedikit berubah sedih dan Jessica memukul kepalanya. Taemin mengusap kepalanya.

“Tapi aku mendapat seorang gadis brutal, sadis, seenak sendiri, cengeng, manja dan yang jelas aku mencintainya” Dia memberikan wink pada Jessica.

“Seperti kata Donghae-shi aku senang kau melahirkan Mavin sehingga mengantarkan Donghae dan Jiyeon pada saat sekarang. Meskipun, aku sedikit sebal kenapa aku kehilangan Donghae uisha yang perfect dan mendapat pria aneh semacam dia, tapi aku bahagia” ujar Jessica dan menjulurkan lidah pada Taemin.

Jieun dan Changmin tidak berkata apa-apa. Mereka hanya berdoa dan mempersilahkan aku dan Siwon.

“Yoong” panggil Siwon lembut. Hatiku rasanya terkoyak.

“Perkenalkan ini Tiffany Hwang tepatnya Tiffany Choi. Dia istriku dan nyawa hidupku” kata Siwon. Aku menatap Siwon tak percaya.

“Daffodil kemarin?” ucapku tiba-tiba.

“That was the first and the last daffodil bouquet for Yoong. I told her that, even If you were not believe in me, I would not blame you. I just want to say…..”

Siwon mengalihkan pandangannya ke belakangan dan aku melihat mereka semua membawa buket bunga di tangan masing-masing. Dan sebuah selebaran…..

MIND TO BE MY SOUL…….

“I’ll try my best to love and protect you. I can erase Yoong from my memory, but I promise you that I’ll give you all happiness that you deserve. Yoong was my daffodil, but you are my irish. Irish is faith, wisdom, cherished friendship, hope, valor, my compliments, promise in love.” Siwon memberikanku kalung berliontinkan bunga Irish.

“Just for you” dia mengatakannya padaku. Siwon mencium bibirku cukup lama.

Romantis….

Indah sekali…..

I love this moment…

.
“Get room, please” Kami langsung melihat Changmin yang dipukul oleh Jieun.

“Kau ini mengganggu momen indah saja” kata Jieun sebal.

“LOVEY DOVEY PERVY maksudmu? Aku tidak akan membiarkan kekasihku yang innocent dirusak oleh makhluk Tuhan yang lain. Sudah cukup lovey dovey pervy dari 2 pasangan sebelahku” Aku melihat Jessica dan Taemin yang berpandangan dan Donghae dan Jiyeon yang saling berbisik.

“Ya!!!! Shim Changmin maksudmu apa?” teriak Donghae kemudian.

Taemin dan Donghae berlari mengejar Changmin. Aku dan Siwon tertawa. Changmin berhenti sejenak dan memandang aku dan Siwon.

“Hei, segera lahirkan bayi yang imut sebelum kau kedahuluan oleh makhluk-makhluk di belakangku” sambil tertawa. Pipiku memerah dan Siwon langsung mengikiti yang lain mengejar Changmin.
Jieun tersenyum pada kami bertiga.

“Maaf, dulu dia malaikat, tetapi sekarang dia iblis” katanya memamerkan evil smirk.

“Ohya, siapa yang membuat rencana ini?” tanyaku. Aku melirik Jiyeon, Jessica dan Jieun.

“Ehm , sebenarnya rencana semula tidak seperti ini. Namun, sepertinya Donghae oppa membuatnya seperti ini dan ….”

“Masalah prank?” ujarku.

“Tanyakan saja itu pada…..” Jiyeon dan Jessica menunjuk Jieun.

“Bukan.. bukan… bukan aku. Itu ide Changmin oppa. Dia bilang tak cukup jika membawa eonni dan Siwon oppa menjelaskan semuanya. Siwon oppa juga harus tahu bagaimana perasaan eonni” jawabnya sambil tersenyum.

“Yang menyusun scenario Changmin juga?”

“Kalau itu aku. Hehehe…… Padahal semula aku berpikir Sica eonni akan melempar barang-barang di apartemennya biar terlihat nyata, tetapi acting-nya sudah bagus hanya kurang seru” jawabnya dengan enteng.

‘Ya!!!!!! Pasangan iblis” teriak Jessica. Jieun langsung ambil langkah seribu dan berlari karena dikejar Jessica. Jiyeon menyanyikan lirik akhir Big Bang Blue.

(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang
(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang OH OH

Aku tersenyum dan meraih tangannya.

“Kisah cinta kita tidak seperti BLUE kan?” Dia mengangguk seraya tersenyum.

“Tidak selalu berjalan mulus, tetapi kita pasti bisa melaluinya”

You were my daffodil and she is my Irish

You were my gloxinia and she is my Edelweiss

I’ll make the blues to be shinning blues not the sorrow one.

Letter of Angel XIV (Daffodil)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII

Listen this song while you reading “For eternity_SS501”

Siwon’s View

Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi makam Yoona. Aku ingin sekali mengatakan banyak hal padanya.

“Oppa, kau sudah siap?” tanya Tiffany yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku berbalik dan tersenyum padanya.

“Di bawah sudah aku siapkan machiato dan pancake. Kau mau yang lain?” tanya Fany. Aku menggeleng, meski tidak terlalu pandai memasak dia selalu berusaha membuat makanan terbaik untukku. Aku bersyukur dia-lah yang menjadi istriku, “Yoong, Fany wanita yang baik kan? Apakah aku salah bila sekarang aku bersamanya dan tidak bersamamu?” batinku.

“Oppa, kau melamun?” Fany membuatku kembali ke dunia nyata. Aku mencubit pipinya dan dia mengutukku karena itu, aku hanya tertawa.

Aku meminta sekretarisku untuk mengosongkan semua jadwalku. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk diriku sendiri.

“Sajangnim, mobil anda sudah siap. Anda membutuhkan pengawal untuk kesana?” tanya sekretaris pribadiku.

“Tidak usah. Pastikan saja selama aku pergi semua baik-baik saja. Urus nyonya dan jangan sampai nyonya tahu kalau hari ini aku tidak pergi ke kantor. Bisa kau usahakan?”

“Baik, sajangnim”

Sebelum kesana aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko bunga.

“Untuk kekasih anda?” tanya ibu penjual bunga. Aku mengangguk, tak bisa aku pungkiri kalau Yoona memang kekasihku. Meski, itu hanya masa lalu.

Fany’s View

Malas sekali di rumah, lebih baik aku keluar. Kemana yah enaknya? Ohya, mengunjungi Jiyeon dan Mavin saja. Mereka di rumah tidak ya? Aku sepertinya memiliki nomor rumah sakit SNU, mungkin saja mereka bisa menyambungkanku teleponku dengan Donghae. Lucky me, tidak begitu lama teleponku sudah mencapai tujuannya. hahaha….

“Tiffany-shi ada urusan apa anda menelpon saya?” tanya Donghae.

“Boleh aku minta nomor Jiyeon. Aku ingin mengunjungi Mavin, tapi aku tak tahu apakah sekarang dia di rumah. Aku pikir dia mungkin kuliah” jawabku jujur.

“Begitu ya. Mavin sekarang berada di rumah mertua saya. Tadi pagi kami menitipkannya pada eomonim karena aku harus bekerja dan Jiyeon sendiri kuliah” jawabnya. Aku menarik nafas kecewa.

“Mungkin jika anda ingin bertemu Mavin, nanti siang anda bisa ke rumah sakit SNU. Hari ini kami berencana membawanya ke dokter anak”

“Memangnya dia sakit apa?” tanyaku panik. Donghae tertawa dan mengatakan kalau ini hanya check up bulanan untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan pertumbuhan Mavin. Aku mengangguk mengerti dan berusaha mencerna setiap omongan Donghae yang tertata sangat rapi dan ilmiah, tetapi aku yakin dia pasti sudah berusaha menjelaskan semudah mungkin pada orang awam seperti diriku.

Setelah mendapat nomor handphone Jiyeon, aku segera menghubunginya, tetapi ponselnya tidak aktif. Aku menyerah dan merebahkan diri di ranjang. Siwon oppa sedang apa yah? Aku menghubungi ponselnya dan mungkin memang sial, ponselnya juga tidak aktif sama seperti Jiyeon.

Aku lempar ponselku dan pergi ke balkon. Menelusuri pemandangan taman depan rumah yang luput dari perhatianku.

keudaen anayo jeo eum bwadeon sungan boteo
keudaeran geol aljyu nun ape gireul hamkke georoyeo
areum daeun nal uri ape byeoljeo ijyu

Ponselku berbunyi, segera aku meraih ponselku dan membaca 1 pesan di inbox.

Mianhamnida, maaf tidak sopan. Anda siapa dan ada urusan apa menelpon saya? Kamsahamnida

Segera aku menelpon gadis kecil istri Donghae ini. Dia sedikit terkejut mengetahui kalau aku yang menelponnya, tapi kemudian aku bisa merasakan kalau disana dia tersenyum lebar saat kami terlibat dalam pembicaraan.

Aku bersiap untuk menemui Donghae, Jiyeon dan tentu saja putra kecilku Mavin.

Sekarang dia memasuki usia 8 bulan, selain kata appa yang tidak terlalu jelas, Jiyeon bilang Mavin sudah bisa mengucapkan beberapa suku kata tersambung seperti ta-ta-ta. Dia bilang Mavin sudah bisa duduk stabil dan bisa berdiri, aku baru tahu perkembangan bayi sangat cepat. Dia memuji Mavin dan dapat aku katakan dari suaranya kalau dia sangat senang akan hal itu. Aku menghentikan pembicaraan kami dan menuju rumah sakit.

Di taman rumah sakit, aku melihat seorang pria muda menggendong Mavin dan mendudukannya di pangkuannya. Mereka bercanda dan tertawa, aku tak tahu siapa dirinya. Namun, sepertinya aku pernah melihatnya entah dimana. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dan ternyata itu Donghae.

“Itu Jungmin, kakak Jiyeon. Kau pernah melihatnya di rumah Kyuhyun kemarin kan. Dia mengantar Mavin kesini sendiri karena ibu mertuaku harus menghadiri acara perjamuan yang tiba-tiba” jelas Donghae. Aku mengangguk, mataku mencari-cari Jiyeon. Kenapa dia tidak bersama Donghae?

“Oppa……..” Pandanganku beralih pada gadis yang berteriak dan berlari ke arah kami.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Donghae. Jiyeon menggembungkan pipinya.

“Tadi dosen mata kuliah genito-urinary system tidak bisa menghadiri perkuliahan. Nah, awalnya kami senang kami tidak perlu ikut perkuliahan, tetapi ternyata diisi Eunhyuk-oppa. Kami sangat senang karena dia membahas safe motherhood & neonates, sangat senang dengan teori-nya mengenai wanita dan ibu membuat para namja sangat sangat senang” Aku bisa merasakan kalau sebenarnya intonasi dan penekanan kata yang digunakan Jiyeon jauh dari kata membahagiakan lebih tepatnya terganggu.

“LEE HYUKJAE!!!!! Awas kalau kita bertemu, apa-apaan dia. Virus yadong macam apa yang kau bawa ke perkuliahan”

Aku tertawa mendengar kata yadong, aku tahu sekarang kalau Lee Hyukjae itu dokter dan dosen yadong. Pantas saja Jiyeon merasa terganggu dengan kuliahnya.

Mendengar teriakan Donghae, orang-orang yang sedang berada di sekitar kami langsung menjadikan kami pusat perhatian. Donghae dan Jiyeon membungkuk minta maaf.

“Hahahaha….. Adik ipar pabo” Jungmin datang ke arah kami dan menggendong Mavin dalam posisi duduk.

“Lihat… Appa pabomu ini. pabo…pabo” Mavin tergelak dan tertawa bersama Jungmin.

Donghae langsung merebut Mavin dari gendongan Jungmin.

“Kalau kau bukan kakak iparku.. Awas saja kau, aku masih lebih tua darimu juga” kata Donghae.

Jungmin makin keras tertawa dan memegangi perutnya. Setelah beberapa saat dia berhenti tertawa dan menghapus air mata di sudut pipinya.

“Pabo… Aku tahu kau lebih tua dariku karena itu aku mengataimu pabo berteriak di lingkungan rumah sakit. They need rest and relaxation place to recover as fast as possible, they didn’t need someone who shouted and yelled for unreason problem”

Muka Donghae memerah, Jiyeon memberikan death glare pada Jungmin yang justru dibalas hal yang sama, tapi lebih menakutkan.

Kami bertiga berpisah dengan Jungmin yang harus kembali ke kantornya. Aku tahu kenapa sekarang Jiyeon sangat ceria, manja dan mungkin dewasa. Dia berusaha menjadi dirinya sendiri, gadis seusianya, dan di saat yang sama berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Dia penuh kasih sayang karena di sekitarnya begitu banyak orang yang menyayanginya.

Kami bertiga mengkonsultasikan dan memeriksakan kesehatan Mavin pada dokter anak di SNU. Donghae, sebagai seorang dokter sangat profesional. Dia menanggalkan statusnya sebagai dokter saat kami berada di ruangan dokter anak tersebut. Mereka berbicara layaknya sebagai dokter dengan ayah dari anak, baru setelah kami keluar dari pembahasan mengenai Mavin, mereka berbicara selayaknya rekan kerja.

“Fany-shi, sudah makan? Mau makan bersama kami? Cafe di depan rumah sakit memiliki banyak menu yang cukup menggugah selera” tawar Donghae dengan wajah tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman, Jiyeon menarik tanganku dan memintaku mengikuti mereka.

Donghae memesan vanilla late dan muffin, Jiyeon semula ingin meminum yang sama, tapi Donghae melarangnya dan akhirnya dia memesan susu strawberry dan bunet ditambah beberapa cake lain, anak ini pasti kelaparan. Aku sendiri memesan long black. Jiyeon memberikan Mavin bubur bayi dan susu, aku ingin menyuapinya jadi Jiyeon membiarkan Mavin dalam pangkuanku.

“Oppa, aku mau coba muffin-nya”

“Eoh?” kataku tanpa sadar. Aku melirik ke Mavin dan Donghae.

Donghae sepertinya mengerti maksudku dan mengangkat muffin cake di piringnya. Aku menundukkan pandanganku karena malu.

Siwon’s View

Aku sekarang berada di makam Yoona. Aku berdoa untuknya.

“Yoong, maaf baru sekarang aku berziarah ke makammu. Yoong, apa kau bahagia disana? Aku merindukanmu Yoong. Putra kita dia tumbuh dengan sehat, Donghae dan Jiyeon, istrinya menjaganya dengan baik. Yoong, If I can’t turn back the time, I’ll do it. I have no regret to marry Tiffany, but what I had been doing to you it’s not case that I’m proud of this”

Aku meletakkan bunga yang aku bawa di pusara makam Yoona.

“It’s the first time and the last time, I give you this bouquet. I was loving you, Yoong. I’ll try my best to make Tiffany happy and comfort beside me. I let you go, I was over you. I really did love you”

Tiffany’s view

“Fany-eonni, sebenarnya hari ini aku dan Donghae oppa ingin pergi ke makam Yoona-eonni” Jiyeon mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Eomma Mavin?” tanyaku. Donghae dan Jiyeon mengangguk. Aku tersenyum dan memutuskan ikut bersama mereka, aku meminta supirku untuk pulang terlebih dahulu karena Jiyeon dan Donghae menawarkan untuk mengantarku pulang, mereka sepertinya tidak tega melihat supirku menunggu kami. Iya, aku akui dia telah menungguku sejak tadi dan sebaiknya juga dia kembali ke rumah daripada tidak melakukan apa-apa dengan menunggu hingga semua urusanku selesai.

Kami pergi ke toko bunga untuk membeli bunga. Aku membeli sebuket bunga chrysanthemum dan Donghae serta Jiyeon membeli dua buket white lily. Jiyeon dengan malu-malu memberikan suatu bunga pada Donghae.

“Kamsahamnida dan kenapa kau memberikan ini padaku?” tanya Donghae sambil tersenyum.

“Ehm… it’s daffodil ehm….”

“Mau ahjumma menjelaskan arti daffodil” goda ahjumma penjual bunga. Jiyeon menggeleng keras dan mukanya bersemu merah. Mavin yang berada di gendongan Donghae, menyentuh buket daffodil itu dan tersenyum.

” Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You” Dia mengatur nafasnya dan mengucapkannya dengan lancar, segera setelah itu dia pergi berbalik dan masuk ke dalam mobil. Donghae tersenyum.

“Dia istrimu?” tanya ahjumma penjual bunga. Donghae mengangguk.

“Ini aku berikan gratis untukmu. Berikan pada istrimu, aku rasa dia mengerti apa arti peony sebaik dia mengerti arti daffodil”

“Kamsahamnida, tapi saya bisa membayarnya”

“Tidak usah membayangkan ekspresi istrimu sudah menjadi bayaran yang lebih dari cukup untukku” ucap ahjumma itu senang.

Kami meneruskan perjalanan, Donghae menggendong Mavin. Aku dan Jiyeon membawa buket yang ingin kami berikan pada Yoona.

“Bukankah itu Siwon?” tanya Donghae. Aku menajamkan mataku dan melihat sosok Siwon di depan pusara Yoona. Kami mendekatinya, aku terkejut kenapa dia kemari dan tidak memberitahuku. Jiyeon mendekatkan dirinya pada Donghae, pandangan matanya mengarah pada pusara Yoona sangat intens. Aku mengikuti arah pandangannya. Daffodil.

Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You

Tak terasa air mataku menetes, sepertinya Siwon merasakan kedatangan kami dan berbalik. Dia terkejut saat melihat Donghae dan Jiyeon, dia lebih terkejut saat melihatku.

Aku menjatuhkan buket chrysanthemum yang aku bawa dan melangkah ke belakang.

“Daffodil…. Yoona… Oppa, kau….” Kerongkonganku tercekat kata-kata Jiyeon terngiang di telinga dan benakku. Aku berlari dan berusaha menghapus air mataku.

“Fany-ya…” teriak Siwon.

“Eonni….”

“Tiffany-shi” Mereka semua berusaha mengejarku. Aku terus berlari dan berlari, aku tak tahu harus kemana hingga akhirnya aku terjatuh.

Siwon dengan nafas terengah menghampiriku, Donghae dan Jiyeon menyusul di belakangnya.

“Fany… a…aku bisa jelaskan” kata Siwon di tengah nafasnya yang terengah. Aku menghempaskan tangannya yang berusaha menyentuhku.

“Pergi… pergi… aku tak ingin melihatmu. Kau tak pernah mencintaiku, itu yang ingin kau jelaskan. Selama ini semua yang kau katakan palsu…” Aku mengatakannya dan terisak. Kata-kata ini melukai hatiku, aku tak ingin mengatakannya, tetapi inilah yang terjadi. Ini kenyataanya. You’re so pathetic, Tiffany.

“Siwon-shi, biar aku yang bicara dengan Fany-eonni” ujar Jiyeon. Donghae menarik Siwon menjauh, dia menolak tetapi akhirnya menurut.

Aku memeluk Jiyeon dan meluapkan semua air mataku. Aku hanya mampu terisak dan menangis sekencang-kencangnya. Cukup lama aku memeluknya, dia berusaha menenangkanku dengan menyentuh pundakku. Dia membantuku berdiri, langkahku gontai dan terseok.

“Fany-ya” Siwon menghampiriku. Aku mengabaikan pandangannya.

“Donghae-shi, bisakah anda mengantarku?” tanyaku. Donghae menarik nafas dalam dan mengangguk.

Jiyeon membantuku untuk duduk di kursi belakang, dia duduk bersamaku. Mavin tertidur dan Donghae menaruhnya di box bayi sehingga dia bisa tidur dengan nyaman.

Jiyeon mengelus bahuku dan berusaha menguatkanku.

“Eonni, kenapa kau tidak mendengar penjelasan Siwon-shi terlebih dahulu?” tanyanya lirih.

“Bisakah kita tidak membicarakannya. Mendengar namanya membuatku sakit” pintaku sambil menutup mata. Aku meminta Donghae untuk mengantarku ke hotel, tetapi dia menolak. Donghae bilang tidak baik bila aku sendirian di hotel. Aku menolak ketika mereka memintaku tinggal di rumah mereka, aku tak mau merepotkan mereka. Akhirnya, Donghae menitipkanku pada suster kenalannya.

“Donghae uisha, anda sudah sampai. Silahkan masuk” kata seorang gadis muda yang cantik. Kami masuk ke dalam apartemennya, di sana seorang namja muda nan cantik sedang menonton televisi dan mengerjakan tugas.

“Aish… Taemin, kenapa kau di sini?” tanya Jiyeon.

“Wae? Ini apartemen kekasihku. Aku hanya berkunjung, memangnya tidak boleh” jawab namja itu santai.

Donghae, Jiyeon, dan namja bernama Taemin itu meninggalkan aku bersama gadis itu.

“Mianhamnida, aku mengganggumu”

“Tidak apa. Teman Donghae uisha dan Jiyeon adalah temanku juga. Kenalkan aku Jung Sojung, kau bisa memanggilku Jessica” ujarnya ramah.

“Tiffany… Tiffany Choi, eh….” Aku ingin menangis dan menampar diriku sendiri kenapa aku menyebut marga Siwon.

“Kau sudah makan? Aku dan Taemin tadi membeli banyak snack dan juga makanan siap saji ketika Donghae uisha mengatakan kau akan menginap” Dia mencairkan suasana.

Aku tersenyum meski sedikit terpaksa.

“Kau cantik” pujinya.

“Kau juga, kekasihmu juga” kataku.

“Hehehe… Tapi kau harus mengakui aku lebih cantik dari dia” ujar Jessica. Malam itu aku dan Jessica menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang banyak hal. Dia tidak menanyakan apapun tentang apa yang terjadi padaku, dia sepertinya mengerti kalau aku memang tidak ingin membicarakannya.

Donghae, Jiyeon… Kalian beruntung memiliki banyak orang yang menyayangi dan mendukung kalian. Patheic… Aku bahkan tak punya siapa-siapa selain diriku sendiri.

Siwon….

i wanna be with you my love
haneul arae yaksokhaeyo
keudaereul jikyeo julkkeyo
yongwontorok

i wanna love you forever
poinayo ireon naemaem
naegyeote sumeul swi eoyo
yongwontorok keudae
saranghaeyo
saranghaeyo

I wish you loved me as huge as I love you, but I guess it’s just dream that too good to be true.

Note :

I need your email to send the password for next chapter. Don’t worry next chapter maybe two days from now. Thanks a lot for comment and support.

Peony means happy marriage.

Chrysanthemum means You’re a Wonderful Friend, Cheerfulness and Rest.

White lily means Virginity, Purity, Majesty, It’s Heavenly to be with You

Letter of Angel XVII (Desperation)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI

Bakground Song : Iridescent_Linkin Park, If I let You Go_Westlife, Raining_FT Island

It’s so cold here. My heart is desperate, who’ll fill the empty space? I thought love would never end. I’d been searching my other help and found you. Now, I lose you… Is it ending of my story? Love is going to be tragedy…… I’ll never let you go, but how can I force God to bring you back stand by me…. Will you be happier after leave me alone? Don’t look behind, I’m still live. Bears my self and tell all that I’m fine. I wish I could die with you.

Setting : SNU Hospital, Santa Maria Hospital

“Eumma, kita ke rumah sakit bareng appa yah?”

“Nde. Kita jemput appa di universitas dulu. Kau bisa jajan dulu di kantin sebelum ke rumah sakit. Ottoke?”
“Asyik. Ehm eumma masih lama yah? Kenapa macet sekali?”

“Sebentar lagi juga lampunya pasti hijau kok”

Jam makan siang di Seoul memang sangat padat. Bukan hal yang aneh jika kami selalu terjebak macet.

“Eumma mobil di depan sudah jalan” Aku menjalankan mobilku, tapi tiba-tiba mobil di depanku ditabrak mobil dari kiri jalan yang membanting setir ke kanan menabrak pembatas masih kaget aku berusaha menghindarinya
sayangnya…..

Donghae POV

“Panggilan untuk dokter Hwan Hyosoo. Dimohon segera ke resepsionis” terdengar panggilan dari pengeras suara.

Hwan Hyosoo…. Tidak ada Hwan Hyosoo di rumah sakit ini. Jangan-jangan….

“Jiyeon, aku harus pergi” kataku meninggalkan Jiyeon dan Mavin. Segera aku menyambar jas dan berlari ke pintu belakang masuk rumah sakit. Panggilan seperti ini menandakan adanya kecelakaan atau musibah besar, peristiwa semacam ini bisa membuat panic para penghuni rumah sakit karena itu panggilan atas nama dokter yang tidak ada digunakan.

“Dokter Donghae kami telah menyiapkan ruang operasi apa anda siap? Kekurangan dokter maaf membuat anda terpaksa terlibat padahal sedang libur” tanya seorang rekan dari ER.

Aku mengangguk. Suster memanduku menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Semua staf bekerja keras, sekarang jam makan siang dokter banyak yang keluar. Saat berlari menuju ruang operasi dokter-dokter lain yang baru datang berlari ke bagian belakang rumah sakit. Aku lihat Jaejoong dan Hyukjae-hyung juga.

Segera aku mempersiapkan diri membersihkan tangan kaki untuk keperluan operasi. Suster membantuku menggunakan perlengkapan operasi. Masuk ruang operasi aku diberitahu siapa saja personel yang akan membantuku.

Suster Jessica bertugas menyerahkan alat operasi, asisten operasi, dokter anastesi dan semua yang berada disini campuran bagian ER, internist, bedah jantung. Komposisi dadakan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Aku sendiri bertugas sebagai dokter operasi.

“Bagaimana keadaan pasien?”

“Tingkat kesadaran………”

Aku tak mendengarkan penjelasan suster setelah melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Dokter Donghae anda tidak apa-apa?” tanya asisten operasi. Dia sudah tahu bahwa sekarang yang akan kami operasi bukan hanya pasien melainkan Yuri-noona.

Changmin POV

“Changmin-shi bisa kau lihat kenapa Donghae keluar terburu-buru?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih bermain dengan Jiyeon.

Saat aku ingin bertanya pada seorang suster yang sedang terburu-buru, siaran tv menyita perhatianku.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lebih dari 10 mobil dan truk. Kecelakaan ini ikut mengulang kecelakaan besar yang terjadi 6 bulan lalu di jalan yang sama. 3 orang meninggal di tempat dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit”

Jalan itu…….. berarti kemungkinan rumah sakit yang dituju Santa Maria Hospital, Seoul National University Hospital, Seoul Hospital…..

Segera aku mengganti chanel di tv rumah sakit mencari berita ini.

Pemirsa kecelakaan di jalan rawat macet di Seoul disebabkan sebuah truk yang kehilangan keseimbangan dan ambruk ke badan jalan. Pengemudi mobil yang lain berusaha menghindari truk, namun karena arus lalu lintas yang padat dan kecepatan tinggi, mobil di belakangnya tidak mampu menghindar dan terjadi kecelakaan beruntun.

“Saat itu truk menggunakan sisi kanan jalan dan tiba-tiba saja oleng ke kiri badan jalan. Mobil di belakangnya membanting setir ke kanan untuk menghindari truk. Sayangnya mobil lain yang berada di kanan jalan tak mampu menghindar dan justru menabrak mobil itu sehingga terjadi kecelakaan beruntun”
Menurut keterangan terakhir kepolisian 3 orang meninggal di tempat dan sisanya dilarikan ke rumah sakit. Kecelakaan ini menyebabkan terjadinya penutupan jalan lebih dari 5 jam dan mengalihkan jalur pengendara ke jalan lain. Sekian breaking news

Tragis sekali…. Kenapa perasaanku tidak enak? Tunggu wanita dan anak yang bersimbah darah itu?

“Suster dimana dokter-dokter?” tanyaku pada suster yang kelihatan sibuk sekali.

“Makan siang” jawab suster itu kaget dan berusaha setenang mungkin.

“Suster saya seorang pengacara, saya tahu benar bagaimana orang yang berbohong. Katakan sekarang” aku mengurangi volume suara agar tak ada yang mendengar.

“Maaf, saya sibuk” kata suster berusaha menghindar.

“Kecelakaan di jalan padat yang mengarah ke SNU university, para korban dilarikan kesini dan membuat para dokter dan suster langsung sibuk kan?”

Suster tertegun dan berbalik.

“Mianhae, itu….”

“Sekarang saya akan ikut anda. Saya memaksa”

Kami tergesa menuju bagian belakang rumah sakit. Disana aku melihat korban kecelakaan, Jaejoong-uisha berada di sisi lain sedang menutup mukanya dan bersandar ke dinding. Bahunya berguncag hebat, Eunhyuk berusaha menenangkannya. Dokter lain sambil menangani pasien melihat Jaejoong dengan tatapan sendu.

Jangan-jangan benar Yuri dan Haejoong terlibat dalam kecelakaan ini?

“Hyung” panggilku, Eunhyuk langsung menatapku.

“Hyukjae uisha, kami membutuhkan tenaga tambahan. Seorang wanita mengalami patah tulang pinggul dan tulang belakangnya dikhawatirkan cedera, operasi harus dilakukan secepatnya” Eunhyuk jelas merasa keberatan meninggalkan Jaejoong.

“Pergilah. Ada pasien yang harus diselamatkan” Jaejoong menatap Eunhyuk sambil menyunggingkan senyum terpaksa.

“Changmin-shi, jaga Jaejoong-hyung” kata Eunhyuk berbisik padaku.

Eunhyuk meninggalkan kami beruda, pandanganku beralih pada Jaejoong.

“Lebih baik kita……” Perkataanku terpotong.

Jaejoong entah menuju kemana. Aku mengikutinya dan ternyata ke parkiran, dia hendak masuk mobil.

“Biar aku yang menyetir, katakan saja uisha mau kemana” Jaejoong mengangguk dan duduk di kursi penumpang.

“Changmin-shi antarkan aku ke Santa Maria Hospital” pintanya.

Jaejoong POV

“Seberapa parah keadaan anak itu?”

“Aku tak tahu yang jelas di dalam kamar 5.01 ruang operasi bedah anak sekarang berkumpul dokter terbaik rumah sakit kita dan seorang dokter Seoul Hospital”

“Siapa?”

“Godhand Bae Yong Joon. Aku dengar karena tulang rusuk anak itu patah dan mengenai jantungnya, beliau yang kebetulan juga lewat situ tidak bisa menggunakan CPR sehingga memilih memberi bantuan pernafasan dengan melewatkan tenggorokan. Mengerti maksudku kan?”

“Menggunakan scalpel dan memotong bagian tenggorokan?”

Lawan bicaranya mengangguk, aku bergetar mendengarnya.

Ya, Tuhan… Kenapa seperti ini?

Mereka berdua kaget saat melihat aku dan Changmin serta buru-buru pergi.

“Tunggu dimana ruang bedah 5.01, aku dokter SNU Hospital yang dipanggil kesini untuk membantu operasi” ujarku berbohong dan berusaha sekuat tenaga menahan airmata yang hampir jatuh.

Donghwan POV

“Dokter Donghwan mari ikut saya” ajak suster.

“Seorang anak berusia 5 tahun. E+M+V 5, E dan V 2, sedangkan M 1. Tingkat GCS berada pada tingkat stupor. Patah 2 tulang rusuk dan mengenai bagian jantungnya. Sempat kehilangan kesadaran dan denyut jantung menghilang. Pertolongan pertama setelah kecelakaan adalah pembukaan jalur pernafasan melewati leher karena CPR tidak memungkinkan dilakukan oleh dokter yang kebetulan berada di lokasi kejadian” jelas suster sepanjang perjalanan.

Aku mengangguk dan mempercepat langkahku. Anak itu sudah dilarikan ke ruang bedah anak.

“Donghwan!” Saat aku akan memasuki ruang operasi Jungsoo-hyung memanggilku dengan berteriak.

“Kau siap? Yang kau operasi adalah Haejoong” kata Jungsoo setenang mungkin.

Deg…..

Ingin rasanya aku merosot ke lantai saat itu juga.

“Biarkan aku yang mengoperasinya” tawar seorang pria yang aku ketahui dokter Bae Yong Joon dari Seoul Hospital.

Kami bertiga sepakat saat itu juga, dokter Yong Joon yang akan menjadi dokter kepala operasi, Jungsoo dokter penanggung jawab operasi dan aku sebagai asisten dokter operasi. Jungsoo hyung tak memungkinkan untuk menjadi dokter operasi karena drop pasca bekerja tanpa henti menggantikan pekerjaan Donghae di Santa Maria Hospital, lini bedah jantung tempat Donghae bernaung sangat sibuk setelah Donghae cuti seminggu lalu. Aku sendiri keadaan psikologisku tak memungkinkan menjadi dokter operasi terhadap Haejoong. Dokter Yong Joon akhirnya berinisiatif mengambil tugas dokter operasi setelah mendengar penggambaran sekilas Jungsoo-hyung mengenai kami dan Haejoong.

“Sekarang saatnya operasi. Kalian siap bukan? Aku harap kalian menanggalkan kehidupan pribadi dan perasaan kalian, disini gunakanlah perasaan dan kemampuan kalian sebagai dokter bukan individu” Langkahku berat memasuki ruang operasi dengan jelas yang berada di depan kami Haejoong. Di meja operasi ini, di tangan kami.

Haejoong sudah dibius. Denyut jantungnya lemah dan kami sekarang mematikan kerja jantung untuk sementara.
“Pisau bedah” suster mengangsurkan pisau bedah ke dokter Yong Joon.

Dokter Yong Joon melakukan pembelahan dada dan aku menunjang operasi dengan mengimbangi kecepatannya. Aku bisa mendengar suster penyedia peralatan operasi berdecak, ya patahan tulang rusuk Haejoong menancap di jantungnya.

“Kita harus hati-hati supaya luka di jantungnya tidak semakin melebar” Aku mengangguk dan berfokus pada pisau bedah.

Kami berhasil mengambil patahan tulang yang menusuk jantung Haejoong.

“Benang jahit, jarum. Lakukan penjahitan dari dalam” Penjahitan luka dalam? Aku sejenak berhenti dan memandang dokter Yong Joon.

Kau bisa Donghwan… Lakukan… Profesional demi keselamatan pasien…

“Jika kau tak mampu akan aku lakukan sendiri” Aku tersadar dan melakukan penjahitan dengan menyesuaikan diri dengan kecepatan tangan dokter Yong Joon. Alat henti kerja jantung dimatikan.

Detak jantungnya semula tak ada, tapi kemudian ajaibnya pada EKG terdapat garis peningkatan kerja jantung meski lemah.

“Jahit rongga dadanya sekarang”

Operasinya berhasil 6 jam. Operasinya berhasil… Kami berhasil.

Jaejoong POV

Setelah lama menunggu akhirnya lampu ruang operasi dimatikan. Aku langsung mendatangi dokter yang ternyata Donghwan dan Jungsoo serta aku tak kenal siapa.

“Hyung… Haejoong” Donghwan menangis dan memelukku.

“Dia selamat” kata dokter Jungsoo.

“Berdoalah supaya dia melalui masa kritis. Kau ayahnya? Akan aku jelaskan semua mengenai operasi dan kemungkinan-kemungkinan selanjutnya”

Aku mengangguk dan mengikutinya.

Changmin POV

“Donghwan. Yuri gagal diselamatkan” Setelah Jaejoong-hyung pergi bersama seorang dokter. Dokter lain yang bersama Donghwan-hyung memberikan kabar yang membuat kami tak bisa berkata-kata

Donghae POV

Tiiiitttttttttttttttttttt…………..

“Kejut jantung”

“Dokter sudahlah… Dokter… Dokter” Jessica berbicara sambil menangis.

Ya, Tuhan… Noona… Ya, Tuhan….

Eunhyuk POV

Setelah operasi aku mendengar bahwa operasi Donghae meski berhasil Yuri-noona tak bisa diselamatkan. Aku menghubungi Jungsoo-hyung dan memintanya memberitahu Donghwan. Aku juga mendengar operasi Haejoong berhasil, Jaejoong jika kau mendengar Yuri telah meninggal….

“Yoboseyo” jawabku lemah.

“Hyukjae-uisha ini aku Changmin. Keadaan Donghae bagaimana?” tanyanya.

Aku terdiam dan tidak menyahut.

“Hyukjae-uisha, yang telah pergi tak akan bisa kembali tapi Donghae-uisha aku yakin dia tergoncang sekarang. Akan aku hubungi semua orang termasuk Hara. Hyukjae-uisha, serahkan Jaejoong-uisha pada kami yang sekarang di Santa Maria Hospital. Tolong, kau tetap kuat ”

Kyuhyun POV

“Operasi Yuri-noona gagal” kata Hara padaku.

Ya… Tuhan…

“Hara kau bercanda kan?” Hara menggeleng.

Nishishima Group akan memberi bantuan dana pada Cho Corp. Eh bukan maksudnya investasi. Lau Corp. pasti juga membantumu, tenang saja ya ^^

Noona, tapi saya belum bisa memberi kepastian keuntungan

Jangan khawatir aku percaya padamu saeng… Boleh aku memanggilmu demikian? Kau tahu sendiri tak mungkin aku memanggil saeng pada Donghae, Eunhyuk, tapi kau jelas lebih muda dariku.

Kyuhyun-ah… Perusahaanmu sudah membaik? Kalau butuh bantuan lain hubungi aku.

Masih kelihatan aneh ya logatnya. Aku memang orang Jepang, baru beberapa tahun tinggal di Seoul karena menikah dengan orang Korea.

Salam untuk adikmu yah… Dia sangat manis, baiklah aku sampaikan salammu pada Jaejoong.

Hahaha…. Kyuhyun-ah, kau berniat melamar Hara? Gadis itu sepertinya baik. Hwaiting! Izin pada Donghae kalau tak mau dia mencincangmu hidup-hidup.

Saat itu aku sudah akan ambruk. Noona yang baru aku miliki, noona… Noona…

“Hara-ya” Aku langsung memeluk Hara yang menatapku.

“Dia noonaku. Dia noonaku”

Donghwan POV

Suster menelpon kami, grafik EKG menunjukkan penurunan. Saat kami tiba…

“Dokter Jungsoo… Nafasnya berhenti” teriak seorang suster.

“Donghwan”

“Lakukan semua yang kita bisa” kataku.

Kau harus bertahan…. Nak, kau harus bertahan.

“Alat kejut jantung…. Haejoong bertahanlah, kau harus bertahan”

Jaejoong berlari dari pintu ICU. Dia langsung histeris.

“Haejoong, kau harus hidup. Jangan tinggalkan appa. Haejoong!!!!”

Tiiiiittttt…………….

Do you feel cold and lost at the desperation
You build up all the failiures all you’ve known
Remember all, the sadness and frustration
And let it go, let it go

Jiyeon POV

Suster datang ke kamarku dengan wajah tertunduk. Dia hanya mengganti infuse yang aku gunakan, tidak hanya itu rumah sakit seolah berduka ketika aku melongok ke luar. Dokter-dokter dan suster berjalan dengan langkah gontai dan lesu.

Aku putuskan melepas jarum infuse dan berjalan di koridor sambil menggendong Mavin, di ujung koridor aku melihat Taemin memeluk Jessica. Entah kenapa dari tadi perasaanku tidak enak dan sekarang aku melihat Jessica berada di dalam pelukan Taemin. Aku mendekat ke arah mereka.

“Taemin… Kita kehilangan Yuri-eonni… Kami tak bisa mendapatkannya kembali…”

Kehilangan Yuri-eonni? Apa maksudnya? Aku terdiam di posisiku dan sepertinya Taemin melihat keberadaanku. Dia melepas pelukannya pada Jessica.

“Jiyeonie” gumam Taemin lemah.

Airmata mengalir di pelupuk mataku. Aku pingsan saat itu juga.

Eunhyuk POV

“Donghae…. Setiap dokter akan mengalami guncangan ketika kehilangan pasien, tapi kita tak bisa memungkiri bahwa itu semua di luar kuasa kita. Tuhan, pasti punya rencana tersendiri untuk kita semua. We are standing in the way of the unknown, We are standing under the blue sky which will change to be dark sky or even becomes brighter than light. Keep our spirit to trought out all problem we get. We can erase sadness and don’t have power to turn back the time. Let it go, Donghae. It’s not the end of your life, just slice of life which be part of whole story. Like a puzzle is a piece… Piece by piece… I’ll leave you alone till you feel better. Thinking of my words”

Aku berjalan meninggalkan Donghae, tepat ketika aku membuka pintu ruang kerjanya.

“Changmin tidak mungkin. Haejoong juga”

Aku menjatuhkan ponselku dan langsung merosot ke lantai.
Bagaimana mungkin….

Donghae POV

Aku mengambil ponsel Eunhyuk dan mendengar suara histeris di seberang sana.

“Haejoong… Jangan tinggalkan appa, Haejoong!!!!!”

“Apa kami juga kehilangan Haejoong?” tanyaku dengan suara bergetar.

“I’m sorry uisha. We’ve lost him…” jawaban Changmin meruntuhkan tembok pertahananku. Aku langsung terhuyung dan bersandar pada dinding.

Junsu POV

“Yoboseyo, Chaerin-ah? Apa!!”

Aku terburu meninggalkan ruanganku dan tak sengaja menubruk hakim Seunghun yang kebetulan lewat.

“Mianhae…” aku kembali berlari.

“Tunggu. Ada apa?” Seunghun menahan langkahku. Aku menjelaskan dengan tergesa.

“Aku ikut. Kau tak bisa mengemudi dengan pikiran kalut seperti sekarang”

But If I let you go I’ll never know
What my life would be
Holding you close to me
Will I ever see You’re smiling back at me
How will I know
If I let you go

Dari semua orang disini hanya aku yang tersisa. Kau tak boleh ikut ambruk juga Changmin… IU yang semula aku pikir bisa ikut menguatkanku ternyata langsung down mendengar kabar ini. Aku memandang langit Seoul yang sedang tak bersahabat dengan kami.

“Aku ingin menyewa rumah duka. Uangnya akan saya transfer. Atas nama Shim Changmin, untuk 2 jenazah”

Di rumah duka maupun pemakaman, Jaejoong-uisha terlihat berusaha setegar mungkin. Justru kami yang merasa lemah. IU, Kyuhyun, Hara dan aku kami bisa disebut orang luar bisa merasakan kedukaan yang amat sangat. Tak perlu waktu lama kau merasa dekat dengan seseorang, waktu itu akan terasa lama saat kau sadar dia sudah tidak ada. Aku harap mereka semua yang ada disini dapat melanjutkan hidup…. Jaejoong, bagaimana perasaanmu? Donghae, Donghwan kalian sudah berusaha semaksimal mungkin. Jiyeon, Jungmin, Mavin, Junsu, Chaerin, Jessica, Taemin…. Pertemuan pasti memiliki akhir. Yuri dan Haejoong tahukah kalian, aku menyesal tak sempat mengenal kalian dengan baik, tapi aku yakin kehidupan kalian tidak sia-sia. Di pemakaman kau justru bisa merasakan banyak cinta meski itu juga berarti kedukaan yang mendalam.

I’m waiting to be called for the next death
I lose everything
How can I live without them beside me?
No one feel the pain… No one know what I feel?

Like not getting wet in the unending rain
Shoulder pressed to the way home
From that place you disappeared
Even now, the rain keeps falling on me

———————————————————————————————————–
“Hah…hah..hah….”

“Hei, ahjushi are you okay?”

Aku memeluk gadis di depanku, aku kembali mengingat kepergian Yuri dan Haejoong.

“What’s wrong with you? Hei, ahjushi. You’re not impolite!!! Don’t hug me!!!…”

Aku justru menangis di bahunya. Dia yang semula berontak kemudian mengelus punggungku.

“Just this time. Cry out, I’ll be your shoulder to cry on. I’m here, everything is gonna be okay. I promise you”

Entah kenapa aku bisa merasa tenang bersama dengan gadis yang sama sekali tak aku kenal ini.

Keterangan :
Glasgow Coma Scale = GCS, yang pertama kali diperkenalkan oleh Teasdale & Jennet pada tahun 1974 dan banyak digunakan dalam klinik digunakan untuk mengetahui derajat kesadaran. Dengan 3 aspek :
1. kemampuan membuka mata : EYE opening = E
2. aktifitas motorik : MOTOR response = M
3. kemampuan bicara : VERBAL response = V

Disini kami memakai E =2, M = 1, V = 2 (Keadaan Haejoong)
E  dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2
M  tidak ada gerakan : 1
V  tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2

EKG : elektrokardiogram (alat untuk mengetahui kerja jantung) dengan menunjukkan grafik naik turun tergantung lemah kuat detak jantung.

CPR : Cardiopulmonary resuscitation secara umum dikenal dengan pernafasan buatan.

Keterangan mengenai bidang kedokteran diusahakan sebenar-benarnya, basicnya author sendiri teknologi hasil perikanan jadi jangan tanya kenapa gini gitu. Semua dipercayakan pada keterangan teman yang kuliah di kedokteran umum. Gomawo, atas semua informasinya chingu.

Yang mau tahu operasi pembelahan dada, alat henti kerja jantung, suasana operasi bisa lihat di MV Zang Li Yin featuring Kim Junsu JYJ judulnya Timeless bintang video clipnya Siwon ma Hangeng. he33

Note :
Semula tak ada rencana adanya chapter mengenai penjelasan kecelakaan, tapi karena pada bingung maka chapter ini dibuat. Sebelumnya di chapter XV hanya ada singkat cerita kepanikan SNU University Hospital dimana Donghae dan Jessica terlibat dalam operasi Yuri, sedangkan Haejoong ditangani Donghwan dan Jungsoo di Santa Maria Hospital.

Sekarang, author sibuk menyiapkan berkas seleksi program. Mohon doanya supaya lolos yah ^^

Tinggalkan jejak yah… Bete banget viewer di dashboard cukup lumayan, tapi commentnya dikit banget. Buat next chapter bakal di password so pastikan comment dan ehm tinggalkan email kalian biar aku kirim pw-x.

Am I cruel to Jae? The answer is in real life, he is getting many problems, faces injustice. Sometime he feels desperate, but he proves can standing like hero. So, I want to tell you in this world and our life sadness, frustration can’t stop you to trought way out and in the end you’ll find happiness. We wouldn’t been able to learning how beautiful and meaningful life is If We hadn’t gotten sadness.

%d bloggers like this: