Tag Archives: park yoochun

I’m Married! (Part 3)

Nah,ini dia Part 3 nya ^^ Pasti banyak yg nunggu deh ^^ *author kepedean*
mohon dinikmati aja deh ceritanya,,mian kalo gaje,,
Oh ya, maap juga klo saia kelamaan apdetnya.. soalnya banyak tugas+ulangan+persiapan TO & UN.. saia udh kelas 9 sih, jadi sibuk bukan main.. wuahahaha #sok sibuk
FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar
Okelah,cekidot!!
..::o::..
Title : I’m Married
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Length : 3/?
Rating : PG 15
Main Cast : Nam Joomin,Park Yoochun,Hwang Miyoung (Tiffany SNSD), Jung Yunho
Other Cast : (Saya males nyantumin nama2nya,, ==” *plakk)
Warn : BANYAK TYPO ato MISSING TYPO #entah mengapa dari dulu saia selalu bermasalah sama typo..==#! EYD berantakan! Alur gaje & aneh! Sulit di mengerti, amburadul, cerita awut2an kayak rambutnya nenek lampir..==#pletak!

..::o::..
*Cuplikan Part 2*
Aku dan Yoochun sedang makan malam bersama di ruang makan. Dari tadi,kami tidak berbicara sedikit pun saat kami makan. Suasana ruang makan sangat hening dan hanya ada suara sumpit dan sendok yang merupakan alat makan kami. Sambil mengunyah makananku,aku melirik ke arah Yoochun diam-diam yang juga sedang melahap makanannya. Oh,untunglah dia mau memakan masakanku. Semoga di lidahnya, rasa masakanku tidak buruk.
Karena tidak tahan dengan suasana yang begitu sunyi mencekam. Aku mencoba untuk angkat bicara, “Ajusshi,bagaimana rasa masakannya?”tanyaku pada Yoochun.
Yoochun tidak mengalihkan pandangannya dari makanannya dan ia sama sekali tidak menatapku, “Tidak buruk,”jawabnya sangat-sangat-sangat singkat. Oh Tuhan,aku sampai menyatakan kata ‘Sangat’ hingga tiga kali.
Mendengar jawabannya yang begitu singkat,aku mengangguk kecil tanda memberi respon. Berarti,memang tidak ada masalah dengan rasa masakanku. Ilmu memasak dari Min Ajumma memang sangat berguna. Hahahaha..
“Ngomong-ngomong,siapa nama pria yang berbincang denganmu saat di pantai? Ketika hari pernikahan kita,”tanya Yoochun tiba-tiba tanpa menatap ku sama sekali. Ia masih terlihat asyik menyantap makanannya.
Aku langsung memandangnya ketika ia bertanya seperti itu, “Eum? Oh..itu Jung Yunho…”jawabku.
“Siapa dia?”
“Dia.. orang yang baru saja aku kenal..”
“Orang asing?”
“Eumm.. Bisa dibilang seperti itu.”
Kulihat Yoochun hanya mengangguk. Yeah,Jung Yunho.. Sepertinya dia seumuran dengan Park Yoochun. Tetapi,Yunho tampaknya lebih keren. Ia sama sekali bukan seorang ‘Ajusshi’ dimataku. Yunho lebih pantas jika di panggil ‘Oppa’.
Hmm,Jung Yunho.. Apa aku bisa bertemu dengannya kembali?
*Part 3*
Kini aku sedang berada di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Yoochun. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju sekolahku dan kantor Yoochun. Yoochun memutuskan untuk mengantarku ke sekolah lebih dulu agar aku tidak terlambat. Dari tadi kami hanya diam saja di dalam mobil. Tidak ada satu pun yang berbicara di dalam mobil. Suasana sungguh kaku. Dan ketika kami berhenti disebuah lampu merah,tanpa sengaja aku melirik ke arah Yoochun. Aku menyadari kalau dasi yang dipakai oleh Yoochun sedikit berantakan. Karena melihat dirinya yang tidak menyadari hal tersebut,tanpa ragu aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arah Yoochun bermaksud untuk merapikan dasinya.
“Dasimu berantakan,Ajusshi..”kataku dan mulai merapikan dasi yang dipakai oleh Yoochun.
Yoochun yang menyadari kalau aku mencondongkan tubuhku kearahnya sedikit tersentak kaget. Aku yang mengetahui kalau Yoochun kaget seperti itu langsung menatapnya. Dan ketika mata kami berdua saling bertemu,kami menyadari kalau jarak wajah kami begitu dekat. Aku pun membelalakkan mataku dan Yoochun menatapku kaget. Cepat-cepat,akupun langsung menjauh dari Yoochun dan kembali ke posisiku semula. Oh Tuhan,apa yang sudah aku lakukan?
Aku pun menggigit bibirku karena menyadari sikapku tadi yang spontan saja mendekatinya. Aduh,mengapa aku sebodoh ini?
Yoochun yang menyadari kecanggunganku berusaha untuk menyikapinya dengan santai dan berdeham pendek. Aku yang menyadari tingkahnya menatap Yoochun frustasi. Aish,Ajusshi ini…
“Kita sudah sampai,”ujar Yoochun tiba-tiba.
Aku mengangguk. Setelah beberapa lama di perjalanan,akhirnya kami sampai di SMA Dongshin.
“Aku turun disini saja. Tidak perlu masuk,”kataku.
Yoochun sepertinya tidak menghiraukanku. Dengan santainya,ia malah memasuki halaman SMA Dongshin. Aku yang melihat tingkahnya menatap Yoochun kesal, “Yaa,sudah aku bilang turun di luar saja! Bagaimana kalau ada yang lihat kalau aku berduaan di dalam mobil bersama seorang Ajusshi sepertimu?!”amukku.
Yoochun masih saja tidak mempedulikanku. Dari balik saku jasnya,ia mengambil sesuatu dan memberikannya padaku, “Ambillah,”kata Yoochun sambil menyodorkanku sesuatu yang diambilnya dari saku jasnya.
Aku menatap pemberiannya sebentar. Setangkai permen loli. “Itu..bukan racun’kan?”tanyaku ragu.
Yoochun menghela nafas, “Kau kira aku ini penjahat? Cepat ambil dan keluar dari mobilku. Aku mendapatkannya dari pegawai wanita yang baru saja menyatakan cintanya padaku kemarin.”
Aku cemberut mendengar ucapannya. Dia ini ketus sekali. Bahkan dia mengusirku. Dengan cepat,aku menyambar permen itu dari tangannya dan keluar dari mobil. Aku pun menyimpan permen itu ke dalam saku rokku. Lagipula, kenapa ia memberiku permen dari seorang wanita yang menembaknya? Dia memang benar-benar bukan pria yang baik karena tidak mau menerima pemberian seorang wanita yang mencintainya..
Ketika sudah diluar mobil,aku menutup pintu mobil dengan kasar karena aku sudah terlanjur kesal padanya. Huh,biar saja kalau si bodoh Park Yoochun itu tidak terima. Dan ketika sudah beberapa langkah menjauh dari mobilnya,tiba-tiba saja Yoochun memanggilku dari belakang.
“Yaa,Nam Joomin!”

Continue reading

I’m Married! (Part 1)

Annyeonghaseyo,readerdeul,,,^^
Aku Author baru disini,dan ini adalah karya perdanaku yg dipublish disini,,,, 😀

FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO ADA YG NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar

Okelah,ini ceritanya……….

..::o::..

Suasana kota Seoul malam itu cukup ramai. Dimana ibukota dari negara Korea Selatan itu terus bekerja dan memicu keringat orang banyak untuk bekerja keras sampai malam. Mesin-mesin berjalan dan memiliki roda empat masih banyak yang beradu untuk berjalan diatas aspal. Lampu-lampu kota dan tiang lampu jalan bergemerlapan untuk memancarkan sinarnya menerangi gelapnya malam. Gedung-gedung pencakar langit yang tampak bak tiang hitam bertitik-titikan sinar menjadi saksi bisu kesibukan malam menjelang musim panas itu.

Ditengah keramaian kota Seoul,terdapat sebuah kedai minum yang cukup ramai karena terus didatangi oleh banyak pengunjung. Dan disalah satu meja,terdapat seorang gadis sedang berbicara dengan seorang temannya yang sudah mabuk berat dan sudah menghabiskan berbotol-botol shoju.

“Ya,Nam Joomin! Kau ini mau bunuh diri,huh? Jangan minum terlalu banyak.. Kau masih SMA,tapi sudah berani minum banyak!”tegur seorang gadis pada temannya yang sudah mabuk karena minum terlalu banyak. Gadis itu memandang temannya dengan raut wajah kesal. Bibirnya dimajukan beberapa senti untuk menunjukkan kekesalannya.

“Nona Go Seorin yang cantik,aku sangat haus dan ingin minum banyak! Hahaha.. Ayo,kita minum dan setelah itu kita pergi ke Paris! Lalala…”balas Joomin yang sudah sangat mabuk,sehingga kepalanya jatuh diatas meja.

Seorin mencibir, “Kau memang sudah benar-benar mabuk! Ayo,pulang! besok kita harus sekolah,dan aku tidak mau ke Paris bersama orang mabuk!” Seorin bangkit dari tempat duduknya dan berusaha mengajak Joomin pergi dari situ,namun Joomin menolak ajakan Seorin dan tetap minum shoju sebanyak-banyaknya.

“Kalau tadi nilai tesku bagus,aku tidak akan minum! ”balas Joomin yang sudah semakin mabuk sambil meneguk botol kedua nya dengan cepat. Baru dua botol tapi sudah mabuk. Nam Joomin ini memang payah.

Perlahan,Seorin kembali duduk di tempat duduknya,di hadapan Joomin yang mabuk berat. Yeah,Joomin jadi begini karena nilai tes Fisika nya yang kurang…ani,tidak memuaskan. Joomin mendapatkan nilai yang buruk. Sangat-sangat buruk. Yaitu,NOL. Karena nilai ini,Joomin dimarahi habis-habisan oleh Shim Seonsaengnim.

“Joomin-ah.. Ayo,kita pulang! kau tidak mengerjakan tugas fisika?”tanya Seorin pada Joomin. Tugas fisika? Hmm,sepertinya fisika sedang tidak ada tugas yang harus dikerjakan dirumah.. Ini hanya trik yang dilakukan oleh Seorin untuk mengajak Joomin pulang. Berbohong sedikit tidak apa-apa’kan?

“Huh? Mwo..? fisika? Apakah itu nama manager boyband 2PM?”balas Joomin yang sudah kehilangan akal sehatnya karena mabuk.

Seorin menghela nafas mendengar kalimat Joomin yang sangat tidak masuk akal.. “Fisika? Mana ada manager 2PM bernama Fisika? Dasar mabuk..”dengus Seorin frustasi.

“Hahaha,Seorin-ah.. Kau itu mirip sekali dengan simpanse milik Michael Jackson! Kalian berdua sangat tampan!! Hahaha… Put your hands up! Put your hands up! Put put put put!! Yuhuuu…!! Taecyeon oppa saranghaeyooo!!”kata Joomin lagi sambil menyanyikan lagu milik boyband papan atas 2PM. Dasar mabuk,pertama membahas simpanse Michael Jackson,tapi malah menyanyikan lagu milik 2PM.

Seorin mengerutkan alisnya, “Mwo? Simpanse? Tampan? Yaa,aku ini yeoja! Huuh,lagipula buat apa kau bawa-bawa Taecyeon Oppa?”

“Hahaha..kalau begitu kau sama cantiknya dengan Taecyeon Oppa! Listen to my heartbeat!” lagi-lagi Joomin menyanyikan lagu 2PM. Astaga,sepertinya Nam Joomin ini adalah seorang Hottest dan menyukai Ok Taecyeon..

Seorin berdecak kesal, “Untung aku tidak mabuk dan masih memelihara kewarasanku..”

“Hahaha.. dan sekarang aku akan memecahkan botol ini dengan kepalaku! Akan kupastikan kalau botol ini pecah,Taecyeon Oppa akan melamarku esok hari!” Joomin mengambil sebuah tempat tissue dari atas meja dan hendak melayangkannya pada kepalanya sendiri.

Continue reading

Marry YOU??!! OH GOD !! (Part 1)

“Shim changmin….sekarang kau harus menjaga Danni sepenuhnya…..jangan lukai atau sakiti dia…walaupun ini hanya sandiwara belaka…”bisik jaejoong pelan ditelinga changmin.

“Uwaaa….aku capek…” Teriak Changmin sambil mengipasi dirinya yang bercucuran keringat.

“Good Job….Shim Changmin….” Kata seseorang pria lanjut usia yang adalah bos SM.

“Lee Soo Man Sshi…” sapa changmin.

“Lalu yang ini Danni kan?? Adik nya Kim Jaejoong??” Tanya LSM sambil menghampiri Danni.

“Ye…Soo Man Sshi… Annyeong Haseyo…” sapa Danni.

Continue reading

Marrying an Antis ??? 8 (Saranghajimayo)

Part I, Part II, Part III, Part IV, Part V, Part VI, Part VII

Note : Background song semuanya FT Island Don’t Love, Raining, dan Painful Love.
———————————————————————————————————–

Junsu dan Yoochun menunggu di depan ruang ICU. Yoochun berjalan bolak-balik depan pintu. Terlihat jelas dia sangat khawatir.

Tak lama Jaejoong sudah datang. Keadaannya benar-benar kacau, dia sendiri basah kuyup. Mereka bertiga tidak sempat mengganti pakaian atau apa.

“Untuk apa kau kemari?” tanya Yoochun tajam.

Jaejoong tidak menggubris Yoochun dan berjalan ke arah pintu ICU.

“Apa dia baik-baik saja?” suara Jaejoong parau.

“Masih peduli padanya? Bukankah kau ingin membunuhnya?” kata Yoochun tajam.

Junsu yang merasa emosi Yoochun mulai tak terkendali langsung menengahi.

“Hyung, kita harusnya berdoa bukannya bertengkar” kata Junsu.

“Katakan itu padanya. Dia yang mulai semuanya” kata Yoochun dan memilih duduk di kursi tunggu.

Jaejoong diam terpaku. Dia merasa sangat bersalah. Jika tidak karena dirinya tidak mungkin jadi seperti ini.
Tak lama lampu ruang ICU dimatikan. Mereka bertiga menghampiri dokter.

“Apa disini ada keluarga pasien?” tanya dokter.

“Keluarganya sedang tidak ada di Korea. Anda bisa berbicara dengan saya” kata Yoochun.
Junsu memandang Jaejoong yang terdiam. Dia tahu pasti perasaan hyungnya ini.

“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Yoochun.

“Dia terserang hipotermia karena kehujanan. Keadaannya sangat lemah. Untung kalian segera membawanya kemari. Kelihatannya dari awal kondisi tubuhnya memang sudah tidak fit. Dia butuh istirahat total” sambung dokter.
Yoochun menghela nafas panjang. Dia kembali menuju Jaejoong dan Junsu yang sedang was-was.

“Bagaimana hyung?” tanya Junsu.

Yoochun tak menanggapi Junsu dan memukul Jaejoong sekali lagi.

“Itu pantas untukmu” kata Yoochun.

Jaejoong POV

Yoochun sangat marah padaku. Meski dia memukulku, tak sedikitpun aku ingin membalasnya. Semua salahku……….

Junsu membantuku berdiri dan mengajakku ke cafeteria rumah sakit.

“Hyung, kau baik saja kan?” tanya Junsu.

Aku tetap menunduk menatap kopi panas di depanku.

“Hyung, maafkan Yoochun ya. Dia hanya sedang emosi” sambung Junsu.

Yoochun POV

Haengjin masih sangat lemah. Wajahnya pucat pasi dan matanya sayu. Padahal saat pemotretan tadi dia sangat ceria.

Jaejoong kenapa bisa cemburu pada kami. Kecemburuannya membuat Haengjin harus berada disini.
Aku mengusap rambut Haengjin lembut. Andai saja tadi aku mengantarnya pulang pasti tidak jadi seperti ini.

Tak peduli aku mau Jaejoong cemburu atau apa yang jelas aku tak bisa terima perbuatannya.

Background Song : Sarangun Haji Mayo- FT Island

Jaejoong POV

Saat aku dan Junsu hendak masuk ke kamar inap Haengjin, Yoochun sedang duduk di pinggir ranjang Haengjin. Yoochun terlihat membenamkan wajahnya dan mencium tangan Haengjin.

Sejak awalkah dia menyukai Haengjin? Apakah Yoochun menyukai Haengjin?

Junsu menepuk bahuku.

“Jangan berpikir macam-macam dulu. Ayo, kita masuk” ajak Junsu.

Aku menggeleng pelan.

“Aku lelah, sebaiknya aku pulang dan istirahat. Jaga Haengjin yah. Bilang padanya aku minta maaf” kataku.

sarangeun haji mayo
ibyori kkok ondaeyo
sum shwil sudo obshi apayo
sarangmankeum apeumyon twi-neun chulman
in-neun chulman arat-don gojyo
anijyo su-chonbae-neun do apayo

gomnayo nuntteugo sa-neun-ge
chajado boji mothal-teni
charari keudael keuriwohadaga
jichyo chamdeun chaero sa-neun-ge nat-jyo

Don’t ever love
Heartbreak will surely come
It hurts to even breathe
I thought that this would only hurt
as much as I loved
But I was wrong. It hurts a thousand times more

I’m afraid of living with my eyes open
Because I know I won’t see you even if I look for you
It seems better to fall asleep exhausted
After longing for you

Junsu POV

Aku masuk ke ruang rawat Haengjin. Yoochun yang melihatku masuk hanya memandangku dengan tatapan sulit diartikan dan kembali menatap Haengjin. Aku mengambil kursi dan duduk di sebelahnya.
“Kita perlu bicara” kataku.

Yoochun memandangku tak mengerti.

“Kau menyukai Haengjin?” tanyaku to the point.

Yoochun sedikit terlonjak dengan pertanyaanku. Dia terlihat sedang berpikir mau menjawab apa.
Dia tak menjawab pertanyaanku. Namun, pandangannya saat menatap Haengjin sudah menyiratkan bukan perasaan biasa yang dirasakan Yoochun.

Aku gantian menatap Haengjin yang tertidur.

Kau harus segera siuman…. Saat kau siuman semoga semua terselesaikan

Aku meninggalkan Yoochun di kamar rawat Haengjin.

Jaejoong POV

Bagaimana keadaanmu? Maafkan aku…. Yoochun pasti akan menjagamu dengan baik.

“Yoboseyo”

“Yoboseyo, kau dimana? Kau harus pemotretan prewedding” teriak manager hyung.

“Hyung, aku akan ganti semua biaya untuk pembatalan WGM Jaejoong Haengjin” kata Jaejoong.

“Tunggu…”

Tut…tut..tut..

Jaejoong mematikan sambungan telponnya.

Junsu POV

Manager hyung segera menyusul kami ke rumah sakit setelah aku membertahunya Haengjin dirawat. Dia sangat kaget melihat keadaan Haengjin yang terbaring lemah.

“Jelaskan ada apa ini?” tanyanya.

Aku mengajaknya ke luar kamar.

“Haengjin sakit. Hanya itu saja” jawabku.

Yoochun keluar kamar menyusul kami.

“Tanyakan saja semuanya pada Jaejoong” kata Yoochun dingin.

Manager hyung memandang kami tanda tak mengerti. Dia menarik nafas panjang.

“Jaejoong meminta pembatalan WGM Jaejoong Haengjin dan dia bersedia membayar semua kerugian. Sekarang jelaskan padaku ada apa ini?” tanyanya.

Yoochun terlihat kaget mendengar kata-kata manager hyung. Dia mengajak manager hyung ke luar rumah sakit.
Aku menuju kamar Haengjin dan disana aku melihatnya sudah siuman.

“Kau sudah baikan?” tanyaku.

Dia mengangguk lemah, aku membantunya duduk.

“Aku pesankan makanan untukmu” sejenak aku meninggalkannya.

Aku kembali bersama suster yang membawa makanan dan dokter yang akan memeriksa keadaannya.
“Kondisimu sudah membaik. Tinggal istirahat beberapa hari dan makan yang banyak” kata dokter.

Haengjin mengangguk. Aku mengantar dokter keluar dan tak lupa berterimakasih.

“Gamsahamnida” kataku sambil membungkukkan badan.

Yoochun POV

Aku dan manager hyung berbicara serius di café langganan kami.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” tanyanya.

Aku menarik nafas panjang. Bingung harus menceritakan apa.

“Jaejoong cemburu” kataku.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Pemotretan”

“Pemotretan apa?”

“Haengjin dan aku” jawabku pendek.

“Yoochun, aku tak mengerti maksudmu jika hanya sepotong-potong” bentaknya. Pandangan orang langsung tertuju pada kami.

“Kau mau menggagalkan penyamaranku?” tanyaku. Dia menunduk minta maaf pada pengunjung lain.
“Baiklah, ceritakan semua padaku” sambungnya.

Akhirnya, aku menceritakan semua kejadian kemarin.

Haengjin POV

Junsu-oppa, membantuku makan. Rasanya sangat tidak enak, aku bahkan tak berniat memakan bubur aneh itu sedikitpun. Namun, karena aku tak ingin membuat Junsu-oppa tambah cemas terpaksa aku menelannya. Hanya beberapa suap yang bisa aku paksakan masuk ke perutku.

“Sudah kenyang oppa” tolakku.

Dia menggeleng dan mencoba memasukkan sesendok bubur ke mulutku.

“Yang terakhir dan kau minum obatmu” katanya. Aku mengangguk dan terpaksa menelan bubur aneh itu lagi.
Dia memberikan obat padaku. Aku meminum obat yang diberikannya.

Weeekkk… Pahit…

Dia tersenyum melihat reaksiku. Matanya terlihat sayu dan bajunya aku yakin itu belum diganti dari kemarin.
“Oppa, dari kemarin disini?” tanyaku.

Dia mengangguk dan meletakkan gelas minum di meja samping ranjangku. Dia hendak keluar kamar, tapi aku menahan tangannya.

“Oppa, kemarin apa Jaejoong-oppa kesini?” tanyaku.

Dia terlihat sedang berpikir. Mungkin dia bingung mengatakan tidak.

“Tidak usah dipikirkan oppa. Tak mungkin dia kemari” kataku sambil menarik nafas panjang.

Entah kenapa meski dia membuatku sampai harus berbaring disini. Aku tak bisa membencinya, rasanya ada yang kurang.

Yoochun POV

Manager hyung tidak ikut kembali ke rumah sakit karena dia harus mengurus semuanya setelah insiden ini. Kemungkinan WGM Jaejoong Haengjin dibatalkan.

Saat aku hendak membuka pintu kamar, aku mendengar percakapan Junsu dan Haengjin.

“Oppa, kemarin apa Jaejoong-oppa kesini?” tanya Haengjin

Junsu diam dan tak menjawab.

“Tidak usah dipikirkan oppa. Tak mungkin dia kemari” kata Haengjin lagi. Terdengar jelas dia kecewa.
Aku membuka pintu kamarnya. Mereka sedikit kaget dengan kedatanganku.

“Kau sudah siuman?” tanyaku.

Dia mengangguk semangat. Aku mengacak rambutnya, dia menggembungkan pipinya. Tingkahnya membuatku terkekeh. Junsu mencubit pipinya dan jelas saja Haengjin tak terima.

“Junsu-oppa, kau menggodaku juga. Aiiishhh… kalian bertiga selalu yah” katanya.

Kami mengerutkan dahi.

“Ah… tidak maksudku yah banyak sekali yang menggodaku” katanya dan membuang tatapannya ke luar jendela.

Maksudmu Jaejoong kan….

Background Song : Raining-FT Island

Junsu POV

Kami kembali ke aktivitas normal kami. Sayangnya, sampai sekarang manager hyung tak memberitahu Jaejoong dimana. Ini sudah seminggu dia menghilang. Pemberitaan di media masa juga membuat kami gerah. Setelah sembuh Haengjin sudah mengikuti sesi pemotretan lanjutan dan sekarang ternyata giliranku. Ya, aku baru tahu kalau sesi pemotretannya adalah dengan aku dan Yoochun. Setelah, itu dengan Jajoong tentunya. Namun, karena insiden kemarin akhirnya diputuskan hanya aka nada pemotretan dengan aku dan Yoochun. Konsep pemotretan semua terpaksa diubah yang semula kami berempat sekarang menjadi kami bertiga.

Haengjin bersikap seperti biasa seolah semua baik saja. Namun, tiap kali sendiri dia selalu melamun. Entah melamunkan apa?

“Kau kenapa?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Katakan saja” tambahku.

Dia berpikir sejenak dan sepertinya percuma dia tak ingin menjawab.
Manager hyung masuk ke studio bersama Yoochun sekarang giliran kami bertiga.

“Haengjin” panggil menager hyung.

Haengjin menengok ke belakang.

“Ini tasmu kemarin saat kau sakit pihak rumah sakit menyimpannya”

Haengjin langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan semua isinya. Dia mengaduk-aduk mencari sesuatu bahkan dia juga menjatuhkan handphonenya dan seolah tak perduli handphonenya jatuh. Entah apa yang dia cari.

“Ipodnya mana?” tanya Haengjin.

“Ayo, saatnya pemotretan” teriak sang fotografer.

“Selesaikan pemotretanmu dulu. Nanti, aku carikan ipodnya” kata manager hyung.

Haengjin melakukan beberapa kesalahan saat pemotretan, tapi hampir semuanya berjalan lancar.

Yoochun POV

Haengjin sama sekali tidak berkonsentrasi dengan pemotretan, dia melakukan beberapa kesalahan yang harusnya bisa dihindari. Tak seperti pemotretan kemarin yang berjalan sempurna, kali ini sedikit kacau. Setelah pemotretan tanpa mengganti bajunya dia langsung menghambur keluar. Aku dan Junsu mengejarnya, dia menuju ruang manager hyung.

“Manager dimana ipodnya? Sudah ketemu kah?” tanya Haengjin.

Ipod? Apakah itu ipod yang diambil Jaejoong saat pertama kali bertemu?

“Apakah ipod itu ipod yang diambil Jaejoong waktu itu?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Manager, aku harus menemukannya” kata Haengjin dan menatap lekat manager hyung.

Baru kali ini aku melihat dia benar-benar serius. Dia beranjak keluar ruangan.

“Kau mau kemana?” tanyaku sambil menahan tangannya.

“Ke rumah sakit mencari i-pod” katanya.

“Biar kami antar” kata Junsu yang sudah mengejar kami berdua.

Junsu POV

Haengjin langsung turun setelah mobil kami berhenti di depan rumah sakit. Dia berlari ke dalam membuatku dan Yoochun terpaksa mengejarnya. Saat kami tiba di lobby , dia terlihat marah pada perawat disana.

“Bagaimana bisa? Saya yakin di dalam tas itu ada i-podnya. Saya mohon cek lagi”

“Nona, tenanglah. Kami tidak tahu menahu isinya, kami tidak membukanya” kata perawat menenangkan Haengjin.
Telponku berdering

“Yoboseyo, Junsu. i-podnya ketemu di dalam tasnya sepertinya dia terburu mencarinya sehingga tidak ketemu”
Aku langsung menuju Haengjin dan menariknya, dia menolak. Namun, menurut ketika aku bilang i-podnya ketemu. Aku dan Yoochun membungkuk minat maaf begitu juga Haengjin.

Haengjin POV

Kenapa aku bisa semarah ini gara-gara i-pod.

Aku kendalikan emosiku dan meminta maaf pada manager hyung. Dia menyerahkan i-pod padaku.

“Ini, tadi crew membantuku menggeledah tasmu dan menemukannya terselip di bagian dalam” katanya.
Aku membungkuk berterimakasih sekaligus minta maaf.

“Ohya, dan satu lagi. WGM Jaejoong Haengjin dibatalkan. Besok akan diadakan konferensi pers. Dan…”

“Tunggu, maksudnya apa?” tanyaku.

“Jaejoong meminta semua dihentikan. Dia minta maaf dan akan mengganti semua kerugian. Kau bebas sekarang Park Haengjin”

Prraaakkk…..

Aku menjatuhkan i-pod yang aku pegang.

“Dimana si brengsek itu?” tanyaku dingin.

Manager hyung hanya diam.

“Aku cari sendiri” kataku menghambur keluar.

“Jangan dia tak mau diganggu” teriak manager hyung.

Aku menghentikan langkahku dan kembali ke dalam ruangan.

“Berakhir yah…. Setidaknya lebih baik…”

Aku sadar air mata mengalir dari pelupuk mataku.

Junsu-oppa memelukku dan menenangkanku.

“Jahat… Kenapa seperti ini… Jahat” kataku.

nagareiku jikan wa michi de yuku
kimi e no omoi to
hajimete shitta koi no kaori ga shita

moshimo kokoro no oku fukaku made
aruite iketara
kata wo furuwasete hitorikiri no
sugao ni deaeta no kana

yamanai ame ga moshi boku no
ayamachi wo arai nagasu nara
kimi ni todoku kotoba sagasu yo
ima mo furitsuzukeru ame

As time flows by
My feelings are on the road towards you
With the scent of first love

If I could walk towards
The deepest part of your heart
With shaking shoulders, I wonder,
If we could just meet honestly

If the unending rain could
Roughly wash away my mistakes
I’d search for the words to reach you
But even now, the rain keeps falling

Pengecut… Aku tak membencimu. Tolong, sekali saja biarkan aku melihat wajahmu. Sekali lagi

Jaejoong POV

Konferensi pers akan digelar penghentian acara WGM Jaejoong Haengjin bahkan ini baru episode pertama. Hyunjoong mengatakan padaku agar memikirkannya lagi.

“Ini bukan keputusan bijak” kata Hyunjoong.

“Ini yang terbaik” jawabku.

Aku menelpon manager hyung menanyakan dimana lokasi konferensi persnya, tapi Yoochun yang mengangkatnya.

“Konferensinya di Sungai Han” kata Yoochun.

Sungai Han????

“Tak salah?” tanyaku.

“WGM selalu punya cara yang aneh” kata Yoochun.

Mengapa memilih tempat seindah Sungai Han untuk momen seperti ini. Aku rasa setelah ini Sungai Han bukanlah tujuanku jika ingin menenangkan diri. Sungai Han akan menjadi tempat paling menyakitkan.


Haengjin POV

Pagi-pagi Yunhwa membangunkanku. Dia langsung mengajakku pergi padahal hari ini ada pembatalan WGM.
Dia seenaknya saja sih….

Saat aku di luar aku melihat Soojin. Lho kenapa dia disini?

“Ayo, nanti terlambat” kata Soojin.

Aku bingung, tapi tetap mengikuti mereka berdua menuju mobil.

Mereka berdua membawaku ke butik.

“Yunhwa, Soojin. Aku tak enak badan bisakah kalian saja yang datang ke pembatalan WGM” kataku lemah.

Mereka menggeleng.

Cukup disini yah? Semua berakhir

Jaejoong POV

Ada apa ini? Kenapa banyak crew yah? Kenapa banyak penonton disini? Konferensinya kenapa semeriah ini?

“Ayo, jangan diam saja” kata Hyunjoong dan mengajakku turun.

Junsu dan Yoochun menghampiriku.

“Baguslah, kau sudah datang” kata mereka berdua.

Manager hyung sedang berbicara dengan seseorang tak jauh dari kami.

Ini akan menjadi konferensi pers paling aku benci dalam hidupku.

“Jaejoong” panggil dua orang di belakangku.

Aku sedikit bingung siapa mereka. Mereka membuka sedikit topi mereka. Eh loh….

Yunho & Changmin? Mereka disini, setidaknya ada teman yang akan membuatku tetap tenang selama konferensi pers.

“Kami terpaksa menyamar. Tahu lah maksud kami” kata Changmin.

Aku mengangguk dan tersenyum.

Haengjin POV

“Turun” tarik Soojin.

“Hei… jangan….berlari susah tahu” Aku berlari mengikuti Soojin yang menarik tanganku.

Aku melihat seseorang yang sangat kaget melihat kedatanganku.

“Kau” katanya setelah aku di hadapannya.

You’re so beautiful…….

Bolehkah aku memelukmu, oppa? Jangan bilang ini akan berakhir

geu ri u deh nun ga meu myeon
deo jal bo i neun geu reon sa rang
i jeu ryeo ha go ji u ryeo ha myeon
deo man hi saeng gang na neun sa ram

The kind of person whom you can see better
when you miss them and close your eyes
The kind of person whom you think about more
whenever you try to forget and erase them

Marrying an Antis ??? 7 (Forgive Me)

Part I, Part II, Part III, Part IV, Part V, Part VI

“Biar aku yang bawakan” kata Jaejoong pada Haengjin yang sedang menarik kopernya.

Haengjin menurut saja ketika Jaejoong mengambil alih kopernya.

“Gomawo, Jaejoong-shi”

Aiiishhhh…. Akting lagi malas. Kapan sih kamera akan pergi?

“Ne. Bawaanmu banyak juga yah” komentar Jaejoong.

Haengjin hanya tersenyum.

“Ngomong-ngomong panggil aku oppa saja yah?”

Haengjin membulatkan matanya dan Jaejoong tersenyum penuh kemenangan.

“Ehm…. Kurang sopan kesannya Jaejoong-shi” kata Haengjin.

“Aku suamimu jangan seperti itu santai saja anae”

Anae????? Nampyeon??? Sialan kau Kim Jaejoong.

Haengjin mengangguk lemah. Mau tak mau dia harus menurut.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di sebuah rumah.

“Apa ini rumah yang akan kita tinggali?” tanya Haengjin.

“Ehm…. Sepertinya iya. Ayo kita masuk” kata Jaejoong.

Dia menarik tangan Haengjin masuk dan meletakkan koper Haengjin di belakang pintu.

“Kosong? Belum ada apa-apanya yah?” tanggap Jaejoong ketika memasuki rumah.

“Eh…. Ada memo disini” kata Haengjin yang berdiri di depan kulkas.

“Barang perabotan ada di dalam kamar utama. Silahkan kalian tata sesuai keinginan. Mala mini kalian harus masak di meja makan kami sudah meninggalkan uang untuk belanja” baca Haengjin.

Siiaaallllaaannn…. Apa-apaan ini? Masak? Siapa yang akan masak?

Jaejoong POV

“Barang perabotan ada di dalam kamar utama. Silahkan kalian tata sesuai keinginan. Mala mini kalian harus masak di meja makan kami sudah meninggalkan uang untuk belanja” baca Haengjin.

Asyik masak pasti akan menyenangkan. Belanja bersamanya kita lihat seberapa kemampuannya.

Aku melirik Haengjin yang berekspresi datar sepertinya tidak masalah baginya.

Kami menuju supermarket terdekat.

“Omooo…. Hero Jaejoong dari JYJ” teriak seorang yeoja.

“Iya, itu pasangan WGM-nya yah? Cantik ya?” tanggap yang lain.

“Andai saja aku yang jadi pasangannya” seseorang histeris.

Hadeuh…. Ya, sudahlah. Kapan ini bakal jadi acara belanja romantis? TOT

Aku melirik ke sampingku. Haengjin sudah tidak ada, aku melihat sekitar dan aku lihat dia membantu seorang anak kecil mengambil snack di atas. Dia memang tinggi, tapi tangan kirinya kan memegang keranjang belanjaan.

Aku menhampirinya dan mengambil kotak snack yang ingin dia ambil. Dia berbalik ketika aku melakukannya.

“Ini yang kau inginkan nak?” kataku dan menyerahkannya pada anak itu.

“Gamsahamnida, ahjushi dan ahjumma” kata anak itu.

Aku mengacak rambutnya.

“Panggil aku Jaejoong-hyung saja yah” kataku.

Anak itu tersenyum kemudian ibunya datang.

“Hwangmin… Kau tadi….” Kata-kata ibunya terputus.

“Anda Kim Jaejoong JYJ? Beruntung sekali bertemu anda. Gamsahamnida telah membantu putra saya” ujarnya tulus.

Aku mengangguk.

“Jaejoong-shi bolehkah aku minta tanda tangan anda? Saya penggemar berat anda” kata ibu itu.

Aku melirik Haengjin yang berada di sebelahku. Dia mengangguk.

“Tentu saja. Siapa nama anda dan putra anda?” tanyaku.

“Yong Aeri, putraku Yong Hwangmin” jawabnya.

Aku menuliskan nama mereka dan menandatanganinya. Tak lupa kata-kata untuk mereka.

Terima kasih telah menjadi penggemarku dan mohon dukungannya. Doakan WGM Kim Jaejoong dan Park Haengjin yah ^^

Saat aku menyerahkannya ibu itu menepuk Haengjin dan mengatakan

“Semoga sukses Haengjin-shi” katanya dan berlalu meninggalkan kami berdua.

Haengjin bingung dengan perkataan ibu itu.

“Kau tadi menulis apa?” tanyanya tajam.

“Ada saja. Ayo, kita segera tuntaskan belanjanya. Satu lagi ingat kamera nona” jawabku santai.

Haengjin POV

Susah juga belanja dengan orang terkenal. Terkenal? Wei…. tak salah dia terkenal. Banyak yang melihat dan memandangi kami. Apa sih menariknya ahjushi menyebalkan ini?

“Kau melamun?” tanya Jaejoong membuyarka lamunanku.

“Nde….” jawabku cepat.

Aku terburu-buru meninggalkannya ke kasir.

“Sudah ini saja. Semuanya 57.000 won” kata kasir.

“Ne” jawabku.

“Tambah ini yah” kata Jaejoong.

Dia menyorongkan sekotak coklat pada kasir dan membayarnya.

Kami terdiam dalam perjalanan ke rumah.

“Untukmu” katanya dan menyerahkan coklat itu padaku.

“Gomawo” jawabku.

“Eh…. Bagaimana kalau kita jajan saja. Kau mau makan bulgogi tidak? Aku tadi lihat kedai tidak jauh dari rumah. Tak perlu masak karena yakin kau sudah lelah. Aku yang traktir” kata Jaejoong lagi.

Aku mengangguk.

Sepertinya dia tak terlalu jahat

Kami bercerita banyak hal selama menikmati bulgogi. Dia aigoo dan kacau juga. Meski tak terlalu pintar bercanda dia cukup enak diajak ngobrol, ekspresinya juga lucu. Sumpah dia sangat aneh saat menunjukkan ekspresi menggunakan bibir yang dimajukan. Hahaha……

Dia berbisik kepadaku.

“Semua untuk keperluan WGM. Ingat itu baik-baik”

Tidak jadi aku menganggap kau orang baik. Menyesal aku berpikir demikian.

Jaejoong POV
Kegiatan kami yang disiarkan hanya sampai kami selesai makan bulgogi dan tiba di rumah. Selanjutnya sudah terpisah dari acara.

“Selamat malam” kataku pada Haengjin yang menuju kamarnya.

“Selamat malam” balasnya.

Aku memasuki kamar dan ternyata OMG…. Belum ditata hanya ada ranjang dan bantal baru. Barang perabot juga masih ditutp kain. Terpaksa aku bersih-bersih dan baru tidur.

Aku menyukai tiap momen yang kami lalui. Bagaimana dengan Haengjin yah?

Haengjin POV
Ampun…. Kamar ini masih belum diapa-apakan. Aku harus memasang bed cover dan semua sendiri?

Pekerjaan rumah tangga adalah semua hal dimana aku mendapatkan nilai E. TOT

Eumma, appa, Ryo, Yunhwa, Soojin….. Bantu aku hix..hix..hix

Yah, bodoh dah yang jelas tidur dulu.

Besok shooting WGM hari kedua libur. Hari pertama kenapa seperti memburu jadwal baru bertemu dan berputar-putar pasangan, kami langsung masuk rumah baru.

C-Jes gila…. Harusnya aku bisa pulang kan malam ini? Kenapa aku dan Jaejoong menerima pesan ancaman macam itu.
Park Haengjin, Kim Jaejoong hari ini kalian dapat rumah dan harus tidur disana meski shooting hari kedua belum ditentukan. Disana nanti juga akan ada orang C-Jes yang mengawasi kalian. Kim Jaejoong besok kau ada jadwal latihan JYJ, Park Haengjin sekarang kau berada dalam manajemen C-Jes dan menjadi artis kami. Satu lagi tidak bersedia, kami siap menerima uang ganti rugi.

CEO C-Jes

Pagi-pagi manager datang ke tempat kami. Saat itu aku dan Haengjin masih sarapan ala kadarnya roti oles selai di pagi buta.
Yunhwa datang dan membawakan seragam sekolah Haengjin.

“Ini seragammu. Cepat ganti sana. Aku antar ke sekolah. Ohya, bukumu apa kau bawa kesini saja?” tanya Yunhwa.

“Bingung, oppa. Shooting WGM juga tidak tiap hari kan?” kata Haengjin dan berlari ke kamarnya.

“Jaejoong kalian akan mengadakan sesi wedding secepatnya. Preweddingnya akan dilaksanakan di Jeju dan wedding sendiri akan diadakan di Thailand” kata manager.

Aku menyemburkan kopi yang aku minum.

“Mwoo??? “ Aku kaget bukan kepalang.

Haengjin keluar kamar dan wowh…….

Pandanganku beralih padanya. Tubuh tinggi dibalut seragam SMA membuatnya sangat manis dan terlihat seperti boneka.

“Ayo, oppa kita berangkat. Tak mau aku terlambat. Jaejoong-shi, manager kami pamit dulu yah” kata Haengjin dan mencomot rotinya.

Yunhwa membungkuk pamit dan mengejar Haengjin.

Kembali ke manager. Aku belum mengerti kenapa semuanya terkesan cepat.

“Cepat sekali. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya” sergahku.

“Sudah. Sekarang ini pemberitahuan kan?” jawab manager santai.

Aiiissshhh….. Pemaksaan

Haengjin POV

Suasana sekolah menjadi menakutkan. Banyak yeoja yang menatapku sinis.

“Cih… Model yah? Baru juga kembali ke Korea sudah mau ambil semua”

“Bagaimana bisa pasangannya Kim Jaejoong JYJ? Tidak cocok”

Aku mempercepat langkahku. Bagaimanapun aku juga punya perasaan.

Siapa juga yang mau sama ahjushi itu jika tidak ada ancaman sialan itu.

Jaejoong POV

“Kemana Yoochun? Kok setelah latihan pagi, dia menghilang?” tanya Jaejoong pada Junsu.

“Pemotretan” jawab Junsu singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari drama panggung yang ditontonnya.

Pemotretan??? Sendiri??? Tumben. Biasanya brand selalu meminta kami bertiga bukan satu atau dua.

“Pemotretan apa?” tanyaku.

“Lihat saja di studio sebelah” kata Junsu.

“Kau tak mau ikut?” tanyaku.

“Malas ah… Lihat saja sendiri” kata Junsu.

Jaejoong mengendikkan bahu dan menuju tempat pemotretan Yoochun yang kata Junsu di sebelah, tapi ternyata di sebelah mana tidak jelas.

Lama dia memutari ruang di lantai itu sampai matanya menangkap bayangan seseorang.

Kenapa dia ada disini?

“Mau yang rasa coklat atau strawberry” tawar Yoochun.

“This one” jawab Haengjin dan mengambil es krim strawberry dari tangan Yoochun.

“What do you feel? You like our photograph session?” tanya Yoochun.

“Yeah, I like it” jawab Haengjin sambil menjilati es krimnya.

Yoochun mengacak rambut Haengjin.

“Oppa, don’t do that. Look my hairstyle” Haengjin menggembungkan pipinya.

Yoochun terkekeh.

“Hei, at first I guess you hate me” kata Yoochun seolah menerawang.

“Why?” katanya lagi.

“Owh… No, I don’t feel like that. Yeah actually at first ehm you’re really … ehm”

“Really what?” Yoochun penasaran.

“Nothing” Haengjin memasang tampang innocent dan membuat Yoochun gemas. Yoochun mencubit pipi Haengjin.

“Hei… kalian berdua saatnya sesi pemotretan berikutnya” kata seorang crew menghampiri mereka.

“Ne” jawab Haengjin dan Yoochun bersamaan, membuat mereka tertawa sedetik kemudian.

Mereka tidak sadar sedari tadi sepasang mata memperhatikan mereka. Jaejoong merasa ada yang aneh yang menyergap hatinya. Dia ingin sekali berteriak melihat mereka berdua tadi.

Junsu POV

Jaejoong kembali dengan muka yang sangat sulit diartikan. Terlihat marah dan entahlah apa itu. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengacak rambutnya.

Super aneh…. Ini orang kenapa lagi?

“Sudah ketemu Yoochun?” tanyaku mendekatinya.

Dia tak berbalik dan justru membenamkan mukanya di bantal.

“Kenapa tak bilang pasangan Yoochun itu Haengjin?” tanya Jaejoong.

“Pasangan pemotretan maksudmu?” tanyaku.

Jaejoong duduk dan mengangguk.

“Oh… aku pikir kau sudah tahu. Kalian kan pasangan di WGM jadi yah soal kegiatan kalian sudah saling berbagi” jawabku.
Jaejoong mendengus dan keluar ruangan.

“Mau kemana?” tanyaku.

“Mendinginkan otakku” teriaknya.

Aneh…. Dia cemburu gara-gara sesi pemotretan? Aneh…

Haengjin POV

Yunhwa ada urusan dengan pacarnya. Jadi, aku terpaksa harus pulang sendiri. Lama aku menunggu di halte, tapi tak ada bus yang lewat.

Sebuah mobil berhenti di depanku. Tak terlalu jelas aku melihat pemudinya karena lampu sorot mobilnya yang terang.

Tiinnn…Tiiinn..Tiiinnn….

Dia membunyikan klakson. Aku bingung maksudnya dan aku putuskan memarahinya.

“Hei… Kau buka kacanya. Enak saja main klak……….”

Di dalamnya aku lihat Jaejoong yang dengan santai membuka pintu mobilnya.

“Masuklah. Aku antar kau pulang” kata Jaejoong.

Sebenarnya aku enggan masuk dan memilih menunggu bus.

“Jangan buat aku jadi nampyeon yang terlihat jahat. Anggap saja sekarang WGM” kata Jaejoong lagi.

Hufth…. Aku menarik nafas panjang.

Jika sampai dia mengadu pada C-Jes, tamatlah riwayatku. Sabar Haengjin, sabar.

Selama di perjalanan kami terdiam. Tak ada bahasan menarik, Jaejoong konsentrasi menyetir dan mendengarkan lagu dari i-podnya.

Iri….. I-podku. Huwaaa… Ryo…..

“Hei, aku punya lagu bagus. Mau ikut mendengarkan?” tanya Jaejoong. Aku sedikit bingung, dia memberikan i-podnya padaku.

“Maksudnya?”

“Aku punya i-pod lain. Itu untukmu, kau akan mendengarkan lagu yang sama dengan yang aku dengarkan” kata Jaejoong.

Aku terdiam dan berusaha mencerna kalimatnya.

“Ngomong-ngomong bagaimana pemotretanmu hari ini?” tanya Jaejoong.

Terlonjak kaget darimana dia tahu aku ada pemotretan hari ini.

“Ehm… Baik saja” jawabku.

“Bukankah kau menikmati setiap momen baik di dalam maupun di luar pemotretan. Menyenangkan bukan bersama Yoochun?” tanya Jaejoong.

Bola mata Haengjin membulat.

Jaejoong POV

“Bukankah kau menikmati setiap momen baik di dalam maupun di luar pemotretan. Menyenangkan bukan bersama Yoochun?”

Apa yang aku ucapkan? Kenapa nada bicaraku seolah menginterogasinya.

“Apa maksudmu hah?” tanya Haengjin.

“Tak usah berpura-pura nona. Kau tahu maksudku” kataku tajam.

“Bukan urusanmu” teriak Haengjin.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan dan menyeretnya keluar.

“KAU ITU ANAEKU. MESKI BOHONGAN AKU HARAP KAU TAHU” teriakku.

“Anae apa hah? Anae di WGM. Hei…. Wedding bohongan saja belum. Kau sudah berani mengaturku” teriak Haengjin.

Aiiishhhh…… Aku kehilangan kesabaran.

Aku langsung memasuki mobil dan meninggalkannya di jalan.

Daripada melampiaskan kemarahan tak jelas lebih baik aku pergi.

Haengjin POV

Sialan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Nampyeon macam apa kau? Apanya agar tak dianggap nampyeon jahat? Kau memang jahat Kim Jaejoong. Awas kau!!!!

Untung masih ada handphone. Baru aku mau menghubungi Yunhwa pakai acara baterai habis lagi.

Sialan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Jaejoong POV

“Yoboseyo”

“Yoboseyo, Jaejoong. Aku tadi lihat kau mengantar Haengjin. Bagaimana kalian sedang apa berdua?” tanya Junsu terkekeh.

Yoochun… Kenapa kau kembali?

Aku lupa kunci mobilku. Hehehe….

Sebal mendengar suara Yoochun kali ini.

“Semoga sukses yah” kata Junsu.

“Sukses? Sukses menurunkannya di jalan. Itu benar” kataku.

“Apa?” teriak Junsu.

“Aku menurunkannya di jalan. Puas” kataku.

“Kau menurunkan Haengjin di jalan?” teriak Junsu.

Apa kau bilang Junsu? Berikan handphonemu.

“Kau turunkan Haengjin di jalan. Kembali kesana jemput Haengjin” teriak Yoochun.

“Tak mau. Tidak ada gunanya menjemput wanitamu” kataku kasar.

“Kau….” telpon kututup. Malas aku mendengar Yoochun bicara.

Junsu POV

“Hyung, tadi Jaejoong bilang apa?” tanyaku khawatir.

Yoochun tak menjawab pertanyaanku dan langsung menyambar kunci mobilnya.

“Kau mau kemana?” tanyaku.

“Men jemput Haengjin setelah itu menghajar Jaejoong” kata Yoochun.

Junsu terlihat menelan ludah.

“Hyung, tunggu aku rasa sebaiknya….”

“Sebaiknya apa? Dia sudah kurang ajar seperti itu. Kau tadi dengar sendiri kan? Dia bilang Haengjin wanitaku biar aku jadikan dia wanitaku sekalian” Yoochun terlihat sangat marah.

Glleeekkkk…. Kenapa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Haengjin POV
Jalan benar-benar gelap, aku tak tahu ini dimana. Aku benar-benar takut sekarang.
Aku hanya bisa memeluk lututku. Malam dingin menusuk sedangkan aku bahkan tak membawa jaket. Aku harap ada orang yang menolongku.
Lama aku berdiam, tubuhku sudah lelah karena pemotretan seharian.
Jaejoong… Kau jahat….. Kau benar-benar jahat
Jaejoong POV
Aku sudah masuk rumah dan meminum susu coklat hangat. Menyalakan televise dan menikmati berita malam. Tiba-tiba hujan mengguyur, aku melihat lewat jendela. Hujannya sangat deras. Aku teringat Haengjin yang aku tinggalkan di jalan.

Aku menyambar kunci mobil dan berlari keluar.

Ku kemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.

Yoochun POV

Aku dan Junsu menyusuri jalan yang dibasahi hujan. Kami berdua sekarang benar-benar khawatir karena belum menemukan Haengjin.

“Hyung, berhenti sepertinya itu Haengjin” tunjuk Junsu pada seseorang yang meringkuk memeluk lututnya di tengah guyuran hujan.
Aku menghentikan mobilku tepat disisinya. Kami berdua turun di tengah guyuran hujan.

Saat kami berdiri di depannya dia menengadahkan wajah. Wajahnya benar-benar pucat. Kami membantunya berdiri, tapi…

Brruuugghhhh…..

Jaejoong POV

Saat aku tiba disana aku melihat Junsu dan Yoochun membopong seseorang.

Haengjin….. Dia pingsan?

Aku turun dan menuju mereka berdua.

Yoochun yang melihatku memukul wajahku.

“Hei… kau ingin membunuhnya ya?” teriak Yoochun.

Aku tersungkur karena pukulannya yang keras.

“Hentikan. Sekarang kita harus membawanya ke rumah sakit. Dia menggigil hebat” kata Junsu.

Yoochun segera memasuki mobil dan meninggalkanku yang masih diam terpaku di jalan.

Maaf… Maaf… Ini salahku. Andai saja aku tak meninggalkanmu di jalan. Maafkan aku

Can you forgive me again?
I don’t know what I said
But I didn’t mean to hurt you

I heard the words come out
I felt that I would die
It hurt so much to hurt you

Then you look at me
You’re not shouting anymore
You’re silently broken

I’d give anything now
to kill those words for you

Each time I say something I regret I cry “I don’t want to lose you.”
But somehow I know that you will never leave me, yeah.

‘Cause you were made for me
Somehow I’ll make you see
How happy you make me

I can’t live this life
Without you by my side
I need you to survive

So stay with me
You look in my eyes and I’m screaming inside that I’m sorry.

And you forgive me again
You’re my one true friend
And I never meant to hurt you

Marrying an Antis ??? (5/?)

Part I, Part II, Part III, Part IV

Dengan langkah gontai Haengjin melangkahkan kakinya ke kantor C-jes. Di depan kantor C-jes sedang ada audisi entah apa saat dia membaca pamfletnya ternyata C-jes membutuhkan penyanyi dan penari latar untuk MV terbaru JYJ.

Mereka melakukan audisi di ruang terbuka untuk melihat antusiasme masyarakat terhadap audisi dan album terbaru JYJ yang rencananya akan rilis 6 bulan lagi.

Ada urusan apa dia menyuruhku kemari? Tawaran yang dia maksud ini? Menjadi penyanyi atau penari latar di album mereka tak sudi aku.

Jaejoong berada disana mengenakan topi, kacamata dan syal serta pakaian casual dan tas punggung bersandar di salah satu tiang bangunan kantor C-jes dan ikut menikmati audisi. Dia ingin terlihat seperti namja biasa dan sepertinya tidak ada yang mempedulikannya.

Kau datang juga Park Ruby Haengjin…..

Jaejoong tersenyum kecil dan tetap berada di tempatnya. Saat itu Haengjin mengenakan rok pendek selutut, blus panjang sebahu, jaket baseball, sneakers, rambut bawah sengaja ditata bergelombang, terkesan informal, tapi cheerful sesuai usianya.

“Kau juga ingin ikut audisi?” tanya seseorang.

“Tidak. Hanya ingin melihat-lihat saja” Haengjin ikut menikmati audisi itu.

Ditengah-tengah penonton Jaejoong melihat ada pria yang ingin berbuat kurang ajar pada Haengjin. Jaejoong bergegas menuju tempat Haengjin. Tepat saat pria itu hendak menyentuh Haengjiin, Jaejoong mencegah tangan pria itu tepat pada waktunya. Membuat pria itu meninggalkan mereka.

Jaejoong merangkul bahu Haengjin, Haengjin kaget.

“Kau tahu tadi ada pria hidung belang ingin menyentuhmu” kata Jaejoong berbisik.

Kau itu yang hidung belang

“Maksudmu kau?” tanya Haengjin.

Mereka saling menatap tajam…..

“C-jes sedang melakukan audisi. Gadis sombong sepertimu paling juga tak akan lolos. Tawaranku adalah kau bernyanyi di panggung, aku tawarkan 100.000 ribu won jika kau berani ke panggung dan jika kau bisa bernyanyi 900ribu won. Sehingga, kau mendapat 1juta won. Kau berani??? Penonton yang akan menilainya” kata Jaejoong.

Sekarang kau harus bertindak, Jaejoong. Dia bisa dibunuh penonton. Paboya Jaejoong kenapa kau bikin rencana bodoh sih!!!!

TVXQ
Holding Back The Tears
Composser & Lyric by Micky Yoochun

Hayake heuryeojin geurimgwa
jiweojindeuthan nae hyanggiga
nunbushin gureum soge garyeojyeoyo
Dia…. Menyanyikan Holding Back The Tears

Amu mal eomneun nae gaseumi
cheoncheonhi mameul omgyeobogo
geu sa-iro seuchyeogan shiganman
sone nohyeojyeo isseoyo

I’m holding back the tears
mugeopjji anke na-ui ma-eumeul maego georeoyo
gakkapjjin anko meolji anheun gose
dareun naega seo-itjjyo
nan ulji anhayo

Tto dashi du soneul mo-eujyo
eodinga deullil geu gose
chu-eogi anin jigeumeul nan saragayo

Babo gatjjiman neul hamkke isseoyo
bi-ugo shipeun geu apeumi
onmomeuro heureuneun nae nunmureul mareuge hajyo

I’m living with my tears
mugeopjji anke na-ui ma-eumeul maego georeoyo
gakkapjjin anko meolji anheun gose
dareun naega seo-itjjyo
ulji anhayo nan

Jaejoong tertegun dan mematung di posisinya.

Haengjin mendesah panjang saat mengakhiri lagu itu. Penonton bertepuk tangan atas penampilannya.

Aku menang pria sombong

Haengjin membungkuk berterima kasih atas sambutan penonton, dia masih sedikit shock menyadari kegilaannya. Antara senang dan bingung dia turun dari panggung. Jaejoong mendekati Haengjin dan mengacak rambutnya.

“Terima kasih” kata Jaejoong dalam.

“Untuk apa?” tanya Haengjin bingung.

“Sebuah kenangan” jawab Jaejoong pendek.

“Ehm… maksudmu?” tanya Haengjin masih bingung.

“Sudahlah tak usah dipikir” balas Jaejoong.

Haengjin tidak mengerti maksud Jaejoong. Dia ikut tertunduk ketika melihat ekspresi Jaejoong yang berubah sedih.

Sesaat kemudian seorang dari tim juri mendekati mereka berdua dan mengajak mereka masuk ke dalam suatu ruang di gedung C-jes.

“Kau berniat untuk menjadi penyanyi latar pada MV JYJ. Kau punya suara yang cukup bagus” tawar juri tersebut pada Haengjin saat berbicara pada mereka.

Haengjin diam saja. Dia sama sekali tak tertarik dengan tawaran tersebut.

“Ini kesempatan bagus. Tak semua orang mendapat kesempatan istimewa semacam ini. Kau bisa berinteraksi dengan JYJ dan tentunya itu kesempatan jarang bukan?” kata juri.

“Maaf, saya kurang tertarik dengan tawaran ini. Maaf tidak sopan, tapi……” kata-kata Haengjin terputus ketika Jaejoong bicara.

“Aku rasa anda bisa mencari penyanyi latar yag lain” kata Jaejoong.

“Tawaran tidak akan datang dua kali” kata juri itu mantap.

“Hahaha…. Pak Go. Aku tak rela jika dia jadi penyanyi latar, aku suka dia jadi modelnya saja” Jaejoong melepas topi dan membenarkan rambutnya.

“Jaejoong-shi anda?” juri tersebut kaget melihat orang yang dia ajak berbicara ternyata Jaejoong.

“Tak perlu kaget seperti itu. Dia tidak akan menjadi penyanyi latar tanpa seizinku dan lagi aku tak akan memberinya izin.” kata Jaejoong.

“Oh, Ne. Mianhae, saya tak tahu dia teman anda.” Kata Pak Go.

“Dia kekasihku. Iya kan?” seringai Jaejoong sambil melirik Haengjin.

“Eh… bu…. Auuwwwhhh” Haengjin mengaduh karena kakinya diinjak Jaejoong.

Jaejoong menatap Haengjin tajam.

“E…ee… iya” kata Haengjin pasrah dan terpaksa.

Kalau saja aku tak ingat pada Soojin. Kau sudah aku tendang pria sombong.

Jaejoong tersenyum puas.

“Ya, sudah Pak Go. Aku mau ke atas dulu.” Kata Jaejoong.

Jaejoong menarik tangan Haengjin meninggalkan ruangan.

Mereka berdua menuju ruang JYJ.

Disana Junsu dan Yoochun sedang memperhatikan majalah dan browsing di internet.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Jaejoong mendekati Junsu dan Yoochun yang kelihatan sangat sibuk.

Junsu menyerahkan tabloid yang dia dapat dari kiriman paket Jaejoong dan Yoochun menyorongkan laptop pada Jaejoong.
Haengjin terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Park Ruby Haengjin atau lebih dikenal dengan Ciel Ruby. Kau meniti karir di Perancis, tapi tiba-tiba menghilang. Kau pernah digossipkan dengan Tom Felton saat kalian sama-sama bermain drama pada sebuah acara amal di Louvre. Pemotretan terakhirmu adalah adidas bersama Gaspard Uliel. Lalu kau sekarang di Korea? “ kata Junsu.

“Kalian menyelidikiku?” tanya Haengjin dengan nada sedikit meninggi. Junsu tidak mempedulikan pertanyaan Haengjin.

“Pantas saja aku seperti pernah melihatmu. Tak aku sangka kau memang gadis itu. Aku sering bermain drama di atas panggung dan wowh…. Kau juga” kata Junsu senang.

Hufth… mau tak mau senyum deh. Oppa yang satu ini sangat baik padaku kemarin.

“Dulu iya, sekarang tidak lagi” jawab Haengjin.

“Kenapa tak meniti karir di bidang modeling saja?” tanya Yoochun.

“Malas dan satu lagi itu bukan urusan kalian” kata Haengjin asal.

“Benarkah bukan urusan kami?” tanya Yoochun.

“Gadis Jaejoong adalah urusan kami” kata Junsu sambil menepuk pundak Jaejoong.

“Tunggu siapa yang memberi izin kalian berdua untuk menyentuh paketku dan melihat isi laptopku?” tanya Jaejoong.
Haengjin menatap Jaejoong tajam.

“Jadi kau sudah merencanakan semuanya dan kau menyelidikiku untuk menjebakku. Hanya karena disiram kau bisa menjadi stalker? Harusnya aku tak hanya menyirammu, tapi menamparmu” kata Haengjin tajam pada Jaejoong.
Jaejoong terperanjat dengan perkataan Haengjin.

“Satu hal nona. Aku tak bermaksud menjebakmu. “ kata Jaejoong.

“Sekarang urusan kami karena kalian berada disini untuk sebuah acara penting” tiba-tiba manajer JYJ masuk. Jaejoong tidak mengerti.

“Ciel Ruby sekarang kau dibawah kendali kami” kata manager JYJ. Yooshu mengangguk.

“Tunggu, dia hanya boleh dibawah kendaliku” kata Jaejoong.

“Memang kenapa?” tanya Yoochun.

Jaejoong menarik tangan Haengjin. Jaejoong turun lewat pintu belakang gedung dan mengendarai mobilnya menuju rumah Jaejoong. Di mobil Jaejoong membuka pembicaraan.

“Maafkan aku tak kusangka manajer juga menyelidikimu di luar sepengetahuanku.” kata Jaejoong.

“Baguslah kau menyesal dan sebagai bukti penyesalanmu, aku minta 1juta won cash” kata Haengjin.

“Kau!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Jaejoong.

Haengjin sudah mau mengajak Jaejoong bertengkar, tapi tidak jadi ketika mendengar namanya disebut di infotainment di televisi mobil Jaejoong.

Kami akan mengadakan sesi prewedding mulai minggu depan. Salah satu pasangan WGM adalah Kim Jaejoong dan pasangannya akan bertemu di episode pertama.

“Hahaha…. Siapa yang akan jadi pasanganmu pasti sial” kata Haengjin sambil tertawa.

“Yoboseyo” Haengjin mengangkat telpon yang masuk ke ponselnya.

“Park Haengjin bersiaplah untuk episode pertama WGM” kata suara di seberang.

“Hallo…. hallo…..” Orang tersebut mematikan telponnya.

“What the hell. Shit!!!!”

Jaejoong memandang Haengjin yang mengumpat.

“Kenapa lihat-lihat. Tunggu apa kau juga merencanakan agar kita menjadi pasangan di WGM?” tanya Haengjin tajam.

“Mwwwoooo????? Aku bukan pria yang mau bersama satu rumah dengan wanita gila sepertimu.” balas Jaejoong.

“Yoboseyo, ada apa Yoochun” jawab Jaejoong.

“Sudah lihat berita WGM di televisi. Selamat besok episode pertamamu dengan Haengjin, hyung kekeke” kata Yoochun.

Jaejoong menatap Haengjin.

“Kita kembali ke C-jes” kata Jaejoong langsung.

Jaejoong memutar mobilnya kembali ke C-jes. Mereka berdua berlari menemui manager JYJ.

Disana sudah ada Junsu, Yoochun, dan manager yang sepertinya sudah menunggu kedatangan mereka berdua.

“Jelaskan rencana kalian” paksa Jaejoong.

“Ini rencana Junsu, dia bilang jika Yoochun tak mau ikut WGM maka Jaejoong bisa ikut. Dia juga sudah mengatur semuanya. Jangan khawatir saat di televisi nanti semua hal tentangmu Ruby sudah kami blow up. Junsu sudah memperbanyak semua sesi foto dan video drama serta semua hal yang berhubungan dengan karirmu di Prancis. Soal, kau bekerja di sebuah stasiun tv kami sudah mengaturnya. Kami bilang kau sedang malas untuk kembali ke dunia hiburan dan memilih kembali ke Korea untuk mencari suasana baru. Temanmu juga akan ikut ambil bagian Soojin, Yunhwa mereka telah sepakat membantu. Yang paling menguntungkan adalah kau idola sekolah yang sangat misterius.” jelas manager JYJ.

“Kenapa juga penampilanku di audisi diupload. Kalian sialan” kata Haengjin lagi saat melihat dirinya menyanyikan Holding Back The Tears diupload Junsu ke youtube.

“Hah… WGM dengannya???? Ini gila” sela Jaejoong tak kalah kagetnya dengan kenekatan entertainmentnya, tapi berlawanan dengan hatinya.

Manajer, Yoochun, Junsu kalian boleh juga. Sepertinya akan asyik

“Lebih baik aku mati daripada harus bersama dengan psikopat macam kau” kata Haengjin.

Mereka berdua saling menatap tajam. Haengjin dan Jaejoong adu mulut.

“Hah… kau pikir aku mau denganmu” kata Jaejoong.

Aku tarik ucapanku. Ini adalah bencana. WGM dengan pasangan macam herder tak akan asyik

“Namja hentai…. otak porno, pervert, mesum” Haengjin mengeluarkan semua kata-katanya.

Yooshu memisah mereka berdua.

“Sudah… wei jangan bikin keributan” teriak Junsu.

Manager JYJ geleng-geleng.

“Sudah terlanjur jalani saja. Kau Jaejoong berlakulah dengan benar dan kau Park Haengjin lebih baik kau terima tawaran kami” kata manager JYJ.

Yooshu diminta meninggalkan ruang. Jaejoong, Haengjin dan manager JYJ tinggal di dalam.

“Baca kontrak ini” manager menyorongkan berkas ke arah Jaejoong dan Haengjin.

“Mwooooo?????? Gila aku tak sudi” kata Haengjin saat membaca poin-poin dalam kontrak tersebut.

“Manager ini melanggar hak asasi” kata Jaejoong.

“Pikirkanlah…. aku tinggalkan kalian berdua”

I’ve no choice. It’s crazy…..

“Terima saja” kata Jaejoong sambil mengambil nafas panjang.

Lebih menyenangkan dari yang aku pikir. Yooshu akan aku traktir kalian berdua.

Marrying an Antis???? (4/?)

Part I, Part II, Part III

Haengjin menemui Soojin. Dia berharap Soojin bisa kembali bersekolah, tapi Soojin bilang dia tidak mampu membayar uang sekolah dan tidak bisa menerima uang hasil kerja Haengjin.

“Terima kasih kau peduli padaku, tapi ku mohon jangan kasihani aku seperti itu. Jangan khawatir aku pasti bisa melewati semuanya. Ohya, sekarang aku bersekolah di SMA dekat sini. Memang tidak sebagus sekolah kita dulu, tapi bagiku sekarang sudah sangat bersyukur ^^” Haengjin memeluk Soojin, malah Haengjin yang menangis melihat ketegaran Soojin. Walaupun, Soojin menolak bantuannya Haengjin ingin tetap membantu Soojin.

“Kalau begitu terima ini. Kau tidak boleh menolaknya, kau tidak akan merasa sendiri. Ingat aku selalu bersamamu ^^” kata Haengjin sambil menyerahkan iPod yang baru dibelinya. Soojin tak bisa menolak karena Haengjin benar-benar memaksanya untuk menerimanya.
——————————————————————————————————————–

Jaejoong POV

“Eh… kalian berdua ingin bermain ke everland tidak mumpung jadwal kosong?” tanya Jaejoong.

“Tidak” jawab Yooshu bersamaan.

“Yah, terserahlah aku mau kesana sekedar melepas capek. Walaupun, itu termasuk kerja ganda main petak umpet dengan wartawan” Yooshu tertawa cekakakan. Jaejoong sudah siap dengan penyamarannya.

Saat di everland tidak ada yang curiga dengan pakaiannya maklum sekarang musim dingin jadi jika ada orang yang sengja menutupi wajahnya dengan syal dan topi bukanlah hal yang aneh. Matanya tertuju pada pasangan kekasih disana, dia membuntuti mereka dari belakang dan ikut masuk ke café. Dia duduk tepat di meja belakang mereka. Mendengarkan semua yang mereka bicarakan.

“Yah, oppa. Kenapa ke everland aku kan harus bayar tiket untuk masuk, padahal aku butuh uang untuk membantu Soojin” keluh gadis tersebut.

“Tenanglah, ini semua hadiah dariku untukmu. Kau butuh main juga kan ^^” kata Yunhwa

“Asyik. Kalau begitu aku mau main sepuasnya hehehe…. Mumpung gratis”

Jaejoong semakin yakin mereka pasangan kekasih. Dia hendak meninggalkan mereka berdua namun……….

“Oppa, Ryo-ni chan masih marah tidak ya soal kejadian iPod. Kau tahu kan maksudku?” Jaejoong kembali duduk di tempatnya mendengarkan dengan lebih seksama.

“Ryo sudah menerima kok. Dia juga berencana membelikanmu iPod baru, aku sudah bilang kalau kau memberikan iPod dari orang tuamu untuk Soojin. Ryo bilang iPod tidak pernah pisah darimu sejak pertama kali rilis jadi dia pikir kau akan kesepian jika tak memilikinya ^^” Mata Haengjin membulat. Dia menjulurkan lidah pada Yunhwa.

“Hahaha…. Kau makin mirip sepupumu saja suka menjulurkan lidah. Ohya, besok malam kau pulang sendiri tidak apa-apa? Aku ada ehm….”

“Bilang saja kencan dengan Shiorin-noona. Beres aku bisa pulang sendiri. Jangan khawatir aku bisa jaga diri kok oppa”

Mereka berdua tertawa dan menikmati susu panas yang mereka pesan.

Jaejoong tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Dia memang benar-benar gadis yang baik.

Jaejoong mengikuti mereka tepatnya Haengjin. Sampai bersedia menaiki semua permainan di everland.

Haengjin POV

“Oppa, aku ke toilet sebentar ya?” Haengjin meninggalkan Yunhwa di bangku taman. Jaejoong beranjak mengikutinya, tapi sial ada wartawan yang mengenalinya. Dia menabrak Haengjin yang berjalan keluar toilet.
Auuwwwwhhhhh….

Jaejoong mendorong Haengjin kembali ke kamar mandi. Haengjin ingin berteriak.

“Hei, kau” Jaejoong membekap Haengjin dan melepas syalnya. Haengjin bisa dengan jelas melihat wajahnya.

“mmmmmm…bbbbb”

“Hei, brengsek apa yang ingin kau lakukan hah!!!!!!” teriak Haengjin.

Entah setan apa yang merasuki Jaejoong tiba-tiba dia merengkuh Haengjin dan membuatnya terdiam. Haengjin meronta mendorong Jaejoong. Haengjin ketakutan ketika Jaejoong ingin menciumnya, dia menutup matanya.

#bleeetttaaakkkk…. Jaejoong menjitak kepala Haengjin.

“Hahaha…. Kau pikir aku berminat dengan gadis sepertimu” kata Jaejoong.

“Idiot…. Bastard” maki Haengjin. Dia bersiap keluar toilet, tapi Jaejoong menarik tangannya.

“Aku memang brengsek. Bukankah kau sudah tahu itu dari awal. Antis” kata Jaejoong. Haengjin berusaha melepaskan pegangan Jaejoong.

“Jika kau keluar kita akan kena masalah. Di luar sedang ada wartawan “

“Aku tak peduli””

“Kau akan rugi, aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk membuatmu bertekuk lutut padaku. Itu balasan karena kau menyiram mukaku waktu itu. Skandal akan menyebar sangat cepat di Korea. Kim Jaejoong personel JYJ mengencani gadis muda di toilet everland. Bukankah itu headline yang bagus, apa yang akan dipikirkan orang padamu. Sekedar ciumankah atau yang lain. Sebenarnya aku menginginkan yang lain” seringai Jaejoong.

Haengjin menggigit bibirnya, dia bisa mati jika Jaejoong benar-benar melakukannya.

“Apa maumu sebenarnya? Kau mau membalas perbuatanku? Silahkan saja siram mukaku?” kata Haengjin.

“Aku???? Menurutmu apa yang bisa aku dapatkan darigadis remaja sepertimu? Kau sama sekali tidak menarik bagiku.” Kata Jaejoong.

“YA!!!!!!!!!!BRENGSEK!!!!!!!!” Jaejoong buru-buru membekap mulut Haengjin. Dia sadar ini toilet umum tepatnya toilet wanita.

“Diam. Ikuti aku dan kita akan aman dari wartawan” Jaejoong mengindahkan umpatan Haengjin. Dia kembali memakai syalnya.

“Pura-puralah kau baru terpeleset dan aku namjachingumu datang membantumu” perintah Jaejoong.

Haengjin ingin berteriak, tapi ada perempuan muda datang dan memperhatikan mereka dengan tatapan curiga. Jaejoong memulai skenarionya, ia meletakkan tangan Haengjin di pundaknya dan merangkul pinggang Haengjin.

“Chagi, kau baik-baik saja kan? Bagaimana bisa kau terpeleset huh??? Kau bisa jalan????” Mata Haengjin membulat, kepalang basah dia masuk dalam scenario Jaejoong.

“Ne, oppa. Aku masih bisa jalan” kata Haengjin kemudian.

Wanita muda itu tersenyum, mungkin di pikirannya namja itu datang untuk membantu yeojachingunya yang terpeleset di toilet.

Wartawan yang melihat mereka berdua sepertinya curiga. Namun, Jaejoong tak kehabisan akal dia justru mendekati wartawan itu dengan mengubah sedikit gaya bicara dan suaranya dia bertanya

“Ahjushi, mianhae tahu kah dimana ruang kesehatan bagi pengunjung everland. Namjachinguku baru jatuh di toilet” Wartawan tersebut masih memandanginya masih yakin dia Jaejoong.

“Auuuuwwwhhhh… Oppa sakit sekali” Haengjin pura-pura mengerang sambil memegang lututnya.

Pria itu lalu pergi meninggalkan mereka dan berusaha mencari Jaejoong. Dia merasa telah kehilangan jejak member JYJ. Setelah, wartawan pergi Haengjin melepaskan tangan Jaejoong.

“Aku sudah membantumu. Sekarang impas” kata Haengjin. Dia pergi meninggalkan Jaejoong, namun baru beberapa langkah dia berbalik ketika mendengar teriakan Jaejoong.

“Nona…. Kau yakin tidak mau ini?” kata Jaejoong sambil mengangkat iPod milik Haengjin. Gadis itu membelalakkan matanya, iPod kesayangannya. Dia berbalik.

“Ternyata kau kembali” seringai Jaejoong.

“Kembalikan iPodku, brengsek” gertak Haengjin.

“Boleh, tapi temani aku jalan-jalan” kata Jaejoong.

Apa brengsek???? Memang dia pikir aku ini apa hah??? Babysister??? Bodyguard??? Menemaninya jalan-jalan???? Sudah berani menciumku masih bisa berkata seangkuh itu???

“Brengsek!!!!!!!!!!! Kau pikir kau siapa????? Kurang ajar!!!!!” teriak Haengjin. Beberapa orang melihat ke arah mereka. Jaejoong membekap mulut Haengjin.

Jaejoong menunduk minta maaf pada pengunjung everland yang lewat. Dan menyuruh Haengjin diam.
Haengjin menatap Jaejoong tajam setelah Jaejoong melepaskan bekapannya. Dan langsung membuang muka.

“Matamu mau keluar nona” kata Jaejoong santai.

Haengjin mengindahkan Jaejoong. Dia sudah sebal setengah mati. Dia bahkan pulang terlebih dahulu dan melupakan Yunhwa yang menunggunya di restoran. Malamnya Haengjin diomeli Yunhwa habis-habisan.

“Kau tahu aku seperti namja hilang. Banyak pengunjung restoran memandangiku dengan tatapan aneh bodoh. Haengjin babo!”

“Yah… kenapa oppa tidak pulang saja!” jawab Haengjin santai.

Saat mereka akan memulai pertengkaran besar tiba-tiba ponsel Haengjin berdering.

“Yoboseyo” tanya Haengjin.

“Yoboseyo” jawab suara di seberang.

Mendengar suara yang familiar tersebut Haengjin berniat menutup telponnya.

“Tunggu nona. Aku punya penawaran menarik untukmu, aku rasa kau ingin membantu sahabatmu”

Haengjin mengurungkan niat menutup telponnya.

“Katakan apa yang kau mau dan apa tawaranmu?” tanya Haengjin.

“Ku tunggu kau di kantor C-Jes pukul 09.00 hari Minggu. Kau terlambat lupakan tawaranku”

Brengsek… Pria sialan… Apa maunya????…….

Kau tak akan bisa berkutik Park Ruby Haengjin…. Tidak akan bisa hahahaha

%d bloggers like this: