Tag Archives: Sungmin

Love Letter Postman [Part 2]

Henry’s POV

  Akhirnya jam pulang sekolah berbunyi! Hari ini aku libur dari pekerjaanku – entah mengaapa hyung tak ada yang menitipkan surat padaku. Lalu jadwal resital kami juga dimundur sehari karena kepala sekolah sedang sakit – jadi kami punya waktu sehari lagi untuk latihan. Aku ingin berjalan-jalan sebentar, selagi menunggu Minn yang mengikuti klub musik pulang.

  Aku berjalan menyusuri jalan yang sepi menuju ke taman. Sepi sekali. Menyenangkan.

  “Hey,” panggil seseorang. Aku berbalik dan melihat seorang gadis, dengan rambut bergelombang kecoklatan dan make up tipis juga pakaian kasual.

  “Apa?” tanyaku agak dingin.

  “Tidak apa-apa. Hanya menyapa,” gerutunya. Menyapa? Aneh sekali gadis ini.

  “Kau aneh. Buat apa menyapa orang yang tak kau kenal?” tanyaku lagi.

  “Huh! Aku tinggal di dekat sini, karena itu aku mau bersikap ramah pada orang-orang sini,” balasnya.

  “Aku bukan orang sini kok. Tak usah menyapaku. Lagipula rumahku juga jauh,” ujarku terus terang.

  “Kau ini dingin sekali sih! Ya sudah kalau begitu aku pergi,” ia berjalan pergi. Aduh.. Suasana di sini jadi tak enak. Aku memutuskan untuk pergi ke cafe saja.

  Aku baru saja tiba di cafe saat ada yang menepuk bahuku.

  “Mochi,” aku berbalik melihat Seomin sudah berdiri di sana. Rambutnya diikat ke belakang dan ia sudah berganti pakaian – sedangkan aku masih pakai seragam.

  “Seomin-ah! Sedang apa kau di sini?” seruku. Ia menunduk sedikit.

  “Cuma berjalan-jalan,” jawabnya. Sepi. Tak ada topik untuk dibahas.

  “Mochi…,” panggilnya pelan.

  “Ne?”

  “Kau.. Hobimu apa?” tanyanya. Aku mengernyit. Hobi?

  “Aku suka musik,” jawabku ringan. Ia mengangguk paham.

  “Ooohh…,” gumamnya.

  “Seomin-ah, mau masuk ke dalam? Aku lapar. Kau mau kan menemaniku?” ajakku. Ia menatapku sesaat, lalu akhirnya mengangguk juga. Kami masuk beriringan dan mengambil tempat duduk dekat jendela.

  “Pesan cappucino-nya satu. Lalu…,” aku melirik ke arah Seomin.

  “Orang juice,” ia tersenyum menunjukkan eye smile-nya. Aku terpaku menatapnya. Aegyo…

  “Kau suka orange juice?” tanyaku. Ia tersenyum lagi. Lalu mengangguk ceria.

  “Ne. Tentu,” jawabnya. Oh, catatan untukku : Ia suka jus jeruk. Pesanan kami pun datang. Kami mengobrol tentang banyak hal.

  Sudah sekitar satu jam kami mengobrol. Kami berjalan keluar cafe.

  “Mochi,” panggilnya. Aku berbalik menatapnya.

  “Ne?”

  “Umm.. Kau.. Suka cewek seperti apa?” tanyanya menunduk. Hah?

Seomin’s POV

  Ia mengajakku mengobrol di cafe. Senang sekali rasanya. Kami berbagi banyak hal. Seusai kami mengobrol, aku berpikir.

  ‘Apa sebaiknya kutanyakan seperti apa tipe ceweknya ya?’

  “Mochi,” panggilku tanpa sadar.

  “Ne?” ia menatapku. Aduh! Eotteohke? Aku jawab?

  “Umm.. Kau.. Suka cewek seperti apa?” tanyaku menunduk menyembunyikan wajahku yang merona.

  “Hmm.. Aku suka cewek yang ceria dan punya senyum yang manis. Juga bermata indah,” jawabnya. Ugh! Sempurna sekali! Bagaimana bisa aku memenuhi syarat seperti itu?

  “Kurasa cewek sepertimu sempurna bagiku,” sambungnya. Aku membeku menatapnya membelalak. I-iyakah?

  “Hah?”

  “Ermm.. Maksudku, cewek yang se-tipe denganmu juga akan cocok denganku,” jawabnya. Aku menghela nafas. Sepertinya ini akan sulit.

  “Hmm.. Aku pulang ya,” aku membungkuk. Ia ikut membungkuk lalu melambaikan tangannya.

  “See ya!” serunya. Aigoo.. Bisakah ini kusebut kencan?

 

Henry’s POV

  Aku pulang begitu selesai ‘berkencan’ dengannya. Kulihat Minn sudah pulang dan sedang menonton TV.

  “Minn-ah!” seruku. Ia berbalik melihatku.

  “Ne?”

  “Tak apa. Hanya memanggil,” aku duduk di sebelahnya.

  “Kau senang sekali hari ini?” tanyanya melihatku. Aku tersenyum.

  “Tentu saja.”

  “Kenapa?”

  “Hm.. Berkencan.”

  “Ne? Jinjja?”

  “Jinjja. Dengan…”

  “Seomin?” tanyanya mengejutkanku. Ia tahu? Aku mengangguk pelan.

  “Langkahmu bagus sekali, Mochi,” ia menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum merona. Senang sekali.

***

  “Mochi-ah IREONA!” seseorang mengguncang tubuhku hebat. Aku membuka mataku. Minn?

  “Ya! Kita bisa terlambat! Ireona! Palli!” ia mencubitiku. Aku segera berdiri dan pergi mandi.

  “Ck! Kau ini! Kalau tak cepat nanti terlambat! Ayo! Sarapan di sekolah saja,” ia menarikku keluar begitu aku sudah siap dengan seragamku. Ia ini buru-buru sekali.

  Kamipun tiba di sekolah, untung masih ada sepuluh menit sebelum bel. Aku mengatur nafasku yang terengah-engah karena berlari-larian dengan Minn – yang juga sedang kecapekan.

  “Haaaaigooo!! Chaaapeeekk!!!” desahnya menyandarkan kepalanya di meja. Tahu capek kenapa ia masih ngotot untuk lari? ==a

  “Ckck.. Kalian ini kok bisa telat?” tanya Kyu. Semua hyung juga mampir ke kelasku. Termasuk teman ‘surat-menyurat mereka’.

  “Nyahris,” aku menambahkan.

  “Ya.. Ya.. Nyaris telat,” gerutunya.

  “Gara-gara Mochi keasyikan tidur,” jawab Minn melirikku tajam. Aku hanya meringis.

  “Dasar pemalas!” seru Sungra membaur.

  “Henry-ah! Kau dicari Seomin!” seru Ryeowook dari luar. Huh? Seomin?

  “Ne,” aku bangkit berdiri dan berjalan keluar. Seomin sudah ada di sana, bersandar pada dinding luar kelas.

  “Seomin-ah,” panggilku. Ia berbalik ke arahku terlonjak.

  “Ohh.. Mochi,” ia menunduk.

  “Kau mencariku?” tanyaku. Ia mengangkat kepalanya menatapku.

  “Ne. Emm.. Kau dan Minn bisa ke rumahku malam nanti? Kalau kau mau bisa ajak teman-temanmu juga. Aku mengadakan acara ulangtahun,” kulihat pipinya merona. Aigoo! Neomu kyeopta!

  “Tentu saja. Nanti akan kusampaikan,” aku tersenyum. Akhir-akhir ini memang aku lebih sering tersenyum padanya.

  “Gomawo,” ia berjalan kembali ke kelasnya. Aku sendiri juga kembali memasuki ruangan kelasku. Suasana agak hening. Para hyung juga tidak melihat ke arahku.

  “Ehm.. Heerin-ah, kau ada acara nanti malam? Cafe dekat pantai jam tujuh. Aku yang jemput,” Donghae hyung merangkul pundak Heerin. Baiklah. Mereka tak perlu diundang.

  “Sungraaaa!! Kau mau mencicipi makanan di restoran Perancis? Kutraktir nanti malam!” seru Siwon hyung memeluk Sungra. Oh, mereka juga tak perlu datang.

  “Kangin! Nanti kita double date ke mall yuk!” Leeteuk hyung mengerling.

  “Shindong! Kita juga double date!” seru Heechul. Aku mengernyit heran – apa mereka masih waras? Mereka dicoret dari daftar undangan.

  “Hyoin! Ibuku ingin melihatmu,” Ryeowook menggenggam kedua tangan Hyoin. Belum lulus SMA sudah lamaran? ==a tak perlu datang.

  “MinGi, mau ke bioskop?” tawar Hankyung pada Mingi noona. Berkurang lagi.

  “Minyoung-ah, mau lihat pentas dramaku nanti malam?” ajak Kibum pada gadis bermata sipit di sebelahnya. Huh? Ia tak mengundangku melihatnya, aku juga takkan mengundangnya.

  “Harin! Hari ini kita main bareng ddangkkoma yuk,” ajak Yesung pada Lee Harin, anak kelas1C. Memangnya ddangkkoma anak mereka? ==a

  “Rinbin-ah, nanti malam kubantu masak ya,” Sungmin hyung ikur-ikutan. Hah? Masak bersama? Aku juga tak perlu ajak dia.

  “Hyejoon! Ke toko buku malam ini ya!” Eunhyuk menambahkan. Sejak kapan ia suka je toko buku? Dasar monyet! Tak perlu ajak orang berisik sepertinya.

  “Seulyeon! Nanti malam kudatangi rumahmu,” Zhoumi ikut juga. Ia juga tak bisa ikut.

  Aku melirik ke arah mereka satu per satu, lalu berhenti pada dua orang yang tersisa. Kalau begitu hanya mereka yang perlu diajak – karena mereka juga nggak mungkin pergi kencan.

  “Kyuhyun-ah, Minn…”

  “Minn-ah! Malam ini jam tujuh, taman dekat rumahku. Kujemput. Jangan menolak!” belum selesai aku bicara Kyuhyun sudah berbicara dengan Minn, membuatku menganga lebar. Ige mwoya?! Ngapain Kyuhyun mengajak Minn pergi? Kok… Aneh?

 

Kyuhyun’s POV

  Semua hyung ditambah Henry menatapku membelalak – termasuk Minn dan teman kencan hyung. Kenapa? Kan rencana awal kita juga membuat Henry pergi sendiri ke rumah Seomin?

  Yah.. Tadi saat Henry keluar, kami semua menguping pembicaraan mereka dan berniat membuat Henry berduaan dengan Seomin. Tapi ternyata sekarang malah aku yang terjebak. Kami lupa kalau tersisa aku dan Minn yang belum ‘berpacaran’ – setidaknya hanya istilah itu yang tersisa. Walaupun sebenarnya aku memang ingin pergi dengannya.

  “Tumben?” tanya Henry masih mengernyit. Aigoo! Kujawab apa? Mana Henry itu sepupunya pula! Aku bisa dicekik!

  “Ng… Kenapa? Tak boleh? Kau kan.. Cuma sepupunya, bukan pacarnya,” ucapku asal-asalan. Ia melotot ke arahku.

  “Kau ini! Ya sudah. Asal kau tidak melukainya, aku takkan membuatmu tak bisa masuk sekolah lagi,” desisnya. Aku hanya mengangguk pasrah. Seram sekali dia. ==a

 

Henry’s POV

  Aku melirik jam tanganku. Pukul enam malam. Aku mematut diriku lagi di cermin. Three-piece suit dan celana panjang yang baru saja dibelikan appa kemarin sudah membalut tubuhku.

  Aku segera menyambar sebuah kotak kecil dan kunci mobil, segera berlari menuruni tangga dan mengunci pintu – karena Minn sudah dibawa sama Kyuhyun.

  Klontang..

  Aku menendang sesuatu begitu aku berjalan. Aku menunduk, menemukan sebuah botol. Aku membungkuk dan memungutnya. Selembar kertas bergulung ada di dalamnya. Aku melepaskan penutup botol dan mengeluarkan kertas itu, lalu membacanya.

  ‘Pesta batal di rumah. Datanglah ke cafe yang kemarin.’

  Hah? Dari siapa? Seomin?

To Be Continued…

Allo~! Author’s here~ hohoho…
Part duanya agak pendek *mianhae*
Trus cewe yg muncul ditaman itu ntaran muncul lagi hohoho… tebak tuh siapa~! *mana bisa? author bego*

Gomawo~ 😀

Finally You Said That!!! :D

Kyuhyun’s Car
Kyuhyun’s POV

  Hais.. Lagi-lagi Minn membicarakan tentang Onew! Aku bosan sekali!

  “Minn-ah. Kau ini! Kalau kau memang ingin bertemu dengan Jinki temui saja si studio,” ucapku. Ia melotot ke arahku.

  “Shireo! Aku nanti mengganggu merka!” bantahnya. Aku mendesah kesal.

  “Memang apa lebihnya dia dariku?” tanyaku. Sepertinya aku salah sudah bertanya seperti itu.

  “Dia itu….. Dia itu baik, sopan, lucu, pintar, imut,” jawabnya. Benar-benar salah!

 

Minn’s POV

  Kelebihan Onew dari Kyu itu apa ya? Aku sama sekali nggak bisa menjawab. Akhirnya aku memutar otak dan menjawab asal. Ia mendesah kesal.

  “Sana turun! Sekolah yang benar! Jangan pikirkan Jinki terus!” serunya. Aku segera turun dari mobil. Ia juga ikur turun dan menahan tanganku.

  “Sabtu sore. Taman belakang sekolah. Jam lima sore. Jangan telat!” ucapnya dingin. Aku berdecak kesal.

  “Ck! Iya-iya. Lagipula mau apa sih tiba-tiba menyuruhku ke taman seenaknya,” aku berusaha melepas tangannya. Ia menarikku mendekat lalu mengecup pipiku.

  “Aku akan buktikan padamu kalau aku benar-benar lebih baik dari pada si Dubu!” ia tersenyum lalu mendorongku menjauh. Untung tidak ada yang melihat! Aku bisa mati terbunuh ELF nanti! Tapi perasaanku kok jadi senang ya? Aku tersenyum perlahan lalu menyentuh pipiku tadi. Aigoo!! Kurasa sepanjang pelajaran nanti kalau tidak senyum-senyum sendiri ya tertawa sendiri. Aigoo! Eomma!!!!

***

Park, Saturday, 17.00 KST

  Aku berjalan ke arahnya yang dari tadi menungguku di bangku taman.

  “Ya! Kau ini lama sekali!” serunya seraya menyuruhku duduk di sampingnya.

  “Cih! Ini pas jam lima. Aku tidak telat. Memangnya kita mau ke mana sih?” tanyaku. Ia menggeleng.

  “Masih ada seorang lagi yang belum datang. Kita beli ice cream saja selagi menunggu,” ia menarikku ke kedai ice cream terdekat. Setelah membeli ice cream ia menggandengku.

  “Aigoo. Tanganmu dingin! Kenapa tak pakai sarung tangan sih? Ini kan sudah awal musim dingin,” ia menarik tangan kiriku masuk ke dalam saku kanannya. Ia menggenggam tanganku erat. Sedangkan tangan sebelah kami masing-masing memegang ice cream.

  “Tahu ini musim dingin kenapa mengajakku makan ice cream?” tanyaku. Ia terkikik.

  “Ice cream mengandung lemak yang menghangatkan tubuh saat musim dingin,” jawabnya. Benarkah? Aku malah merasa bibirku dingin sekali memakannya. Tiba-tiba ia tertawa menatapku.

  “Apa?” tanyaku ketus.

  “Belepotan,” ujarnya. Aku hendak menarik tanganku yang di dalam saku untuk mengusapnya. Tapi ia malah menahannya.

  “Aku saja yang bersihkan,” tawarnya. Aku menatapnya aneh. Tangannya dalam saku bagaimana caranya dia mau membersihkannya? Dasar bod…?!!!!!!

 

Kyuhyun’s POV

  Dengan cepat kutautkan bibirku padanya dan menggulumnya lembut. Rasa ice cream coklat – seperti yang dia makan. Hahaha! Dia pasti kewalahan sekarang! Kurasakan tubuhnya begitu kaku mematung. Setelah beberapa saat kulepaskan ciumanku dan terkikik geli.

  “Sudah bersih kan?” tanyaku polos memamerkan evil smirkku. Ia menunduk.

  “Kau tidak mau ice creamnya? Nanti leleh lho! Makan sana! Habiskan! Nanti ‘kubersihkan’ lagi,” aku menggodanya. Ia malah bergumam tak jelas.

  “Hyung!” panggil Onew. Yah. Dia yang kuundang dalam kencanku ini. Tepatnya kami akan melakukan One-half date – karena double date itu dua couple, tapi disini ada satu couple plus satu cowok lagi kusebut seperti itu. *seenaknya bikin istilah sendiri..==a*

 

Minn’s POV

  Apa yang dia lakukan barusan?! Aku hanya menunduk malu saat merasakan wajahku begitu panas seperti terbakar matahari.

  “Hyung!” seseorang yang sangat kukenal berlari ke arah kami. Jinki?? Mau apa dia? OMO! Apa dari tadi dia ada di situ? B-berarti dia lihat………

  “Annyeong, Minn-ah,” sapa Onew senyum-senyum. Aduh! Sudah pasti lihat!

  “Nah, sekarang kita ke mana?” tanyanya pada Kyuhyun.

  “Hmmm… Karaoke!” sarannya. Onew mengangguk, terpaksa aku juga mengangguk lemas. Aku bisa mati terus bersama dengan dua namja ini!

***

  “Paman! Pesan kimbab dan bawakan juga dua botol Soju dan sebotol air mineral,” pesan Kyuhyun pada pelayan. What?! Mereka yakin mau minum Soju? Nanti yang menyetir pulang siapa?

  “Sudah! Ayo sekarang kau nilai siapa yang suaranya bagus!” seru Kyu padaku. Cih! Orang ini!

  “Jelas Onew dong~ dia kan main vocal,” jawabku asal-asalan, lupa kalau Kyuhyun juga main vocal. *pikun..*

  “Ya! Aku juga main vocal! Malah aku bergabung dengan SM The Ballad,” balasnya. Aku hanya berdecak kesal, sedangkan Onew hanya terkikik melihat kami.

  “Baiklah. Aku yang menyanyi ya!” seru Onew lalu mulai bernyanyi. Aku hanya melamun tak jelas. Mereka berdua malah sibuk sendiri.

  Setelah beberapa menit datanglah pesanan kami. Aku menyambar sumpitku dan menjepit sepotong kimbab. Saat kuangkat tiba-tiba kimbabku jatuh ke atas saus wasabi. Aduh! Kalau seluruh permukaannya terkena wasabi seperti itu bagamana caranya aku makan?! Iya kalau sedikit! Aku berdecak kesal lalu terpaksa mengambilnya dan memasukkannya ke mulutku. *bayangkan rasanya! kayak bomb meledak dalam mulut! -author kejam-*

  “Aaaa!!!” jeritku kepedasan. Sontak kedua namja itu menoleh ke arahku. Aku terburu-buru mengambil air mineralku akan meneguknya.

  “Minn-ah! Jangan diminum!” seru Kyuhyun diikuti Onew namun aku sudah terlanjur meneguknya. Eh?! Ini bukan air mineral! Aku menatap botolnya. So…ju?! Tiba-tiba pandanganku memburam. Entahlah apa yang terjadi setelah ini.

 

Kyuhyun’s POV

  Aish! Dia bodoh apa gila sih? Sudah jelas-jelas itu botolku dan botolnya ada di baliknya malah meneguknya hingga setengah! Ia ambruk di sofa begitu meminumnya. Sudah kuduga. Tubuhnya kan lemah, nggak mungkin kuat sama alkohol. Aku menghapirinya dan mendudukkannya.

  “Hnngggg….,” erangnya. Ia mabuk. Aku menghela nafasku.

  “Kau ini,” aku menepuk-nepuk pipinya yang memerah.

  “Kyuuuu…,” gumamnya.

  “Ne?”

  “Nan saaaaaangeeeeeee…,” gumamnya lagi. Dia ngomong apaan sih? Ga jelas banget.

  “Hmph!” pipinya menggembung. Aku mengernyit heran.

  “Hyung! Sepertinya dia mau muntah, bawa ke toilet!” seru Onew. Aku berdecak kesal lalu mengangkatnya di punggungku dan menggendongnya ke toilet.

  “Ttatteutan,” gumamnya lagi saat aku menggendongnya. Ia mempererat pelukannya pada leherku. Aku menatapnya. Dia ini aneh.

  “Yah, ini sudah di toilet. Muntahkan Sojunya,” perintahku. Ia hanya berjongkok diam.

  “Hnnnnnnnnn….” ia masih diam.

  “Ya!”

  “Hmph!” ia menggembungkan pipinya lagi. Lalu ia melongok ke arah kloset dan memuntahkan semua isi perutnya. Setelah itu ia malah terjatuh lemas. Aku menahan tubuhnya. Dingin. Aku pun menggendongnya lagi kembali.

  “Hyung, bagaimana? Dia nggak kenapa-napa?” tanya Onew melihatku datang. Aku menggeleng lalu membaringkan Minn di sofa. Onew terkikik.

  “Kalian lucu, ya. Serasi sekali,” ucapnya. Aku tersenyum tipis. Iyakah?

 

Kyuhyun’s Car

  Onew sudah pulang. Aku membawa Minn ke mobil, hendak mengantarnya pulang.

  “Kyuuuuu…,” panggil Minn.

  “Ne?”

  “Nggg… Kau lebih hebat dari Onyuuuuu…,” ucapnya lemah.

  “Jinjja? Apa lebihku?” tanyaku usil.

  “Hnn… Kau jauh lebih lucu, suaramu juga bagus, kau pintar, kau juga tampan – walaupun aku lebih suka yang imut. Tapi bukan itu intinya, aku hanya merasa nyaman di sisimu. Tapi kau mengesalkan, bawel, dan fans mu banyak,” jawabnya masih mabuk. Aku mengernyit. Apa hubungannya dengan fans?

  “Kenapa kalau fansku banyak?” tanyaku penasaran.

  “Aku cemburu. Tapi aku juga senang. Karena itu berarti kau sukses. Lalu kalau fansmu memergokiku dan kamu berpacaran aku bisa hancur lebur dimutilasi mereka,” jawabnya lagi. Aku sedikit tersenyum. Cemburu? Hahaha! Dia bisa cemburu juga ternyata! Coba lihat. Kalau kau sadar kau mau tidak mengakui kalau kau sendiri cemburu? *smirk*

  Aku membantunya berjalan sampai ke kamar melihat keadaannya yang mabuk dan tidak mampu berjalan dengan benar.

  “Kyuuu…,” panggilnya lagi masih terpejam.

  “Ne?”

  “Saranghae,” ucapnya pelan lalu mengecup pelan bibirku. Aku sedikit membelalak lalu tersenyum. Kali ini dia yang melakukannya! Aku benar-benar berharap waktu berhenti berputar.Ia kubaringkan di kasur dan aku berjalan kembali ke mobil. Ini sudah larut. Tapi sepertinya aku takkan tidur hari ini. Aku bahagia!!! 😀

 

Super Junior Dorm, Seoul, South Korea, 08.00 KST

  “Saranghanda, Miina!! Miina Minn-ah!!!” seruku tersenyum sendiri diikuti oleh tawa bahagiaku. Lalu melanjutkan ‘kegiatanku semalaman’.

  “Ya! Cho Kyuhyun! Berhentilah bernyanyi! Sudah berjam-jam kamu menyanyikan Love is Sweet dan No Other bergantian begitu!” seru Sungmin hyung menutupi telinganya dengan bantal. Ya, hatiku berbunga-bunga semalaman. Tak kusangka ia benar-benar melakukannya! Yah, walaupun hanya sekedar mengecupku, bukannya menciumku, aku yakin lain kali ia akan benar-benar mengakui kalau dia kalah telak denganku!

  “Hehehhe…,” aku mulai ingin tertawa lagi mengingat peristiwa kemarin. Kemarin Dewi Fortuna benar-benar berpihak padaku!

  “Kau gila! Sana! Keluar! Ada tamu – yaitu muridmu yang membuatmu gila seperti itu. KE-LU-AR!!!” Sungmin hyung melempariku dengan bantal. Aku berjalan keluar masih tertawa lebar.

Hyung’s Side…

Author’s POV

  “Minnie hyung! Ireona! SJM akan ada acara! Ayo berkemas!” panggil Eunhyuk menggedor-gedor pintu bersama Ryeowook. Setelah beberapa saat mereka memaksa, Sungmin keluar kamar masih dengan piyamanya.

  “Aigoo! Kau kenapa hyung? Sakit?” tanya Ryeowook melihat wajah lelah Sungmin. Sungmin berdecak kesal.

  “Aku hanya tak bisa tidur semalaman,” jawabnya. Kedua dongsaengnya menatapnya aneh. Tidak biasanya hyungnya ini kurang tidur.

  “Kok bisa?”

  “Karena si Kyuhyun tengil itu!”

  “Kenapa?”

  “Kalian tidak mendengarnya? Ia terus bernyanyi semalaman! Ia tidak perlu melakukannya hanya karena ia mendapat ‘ppoppo‘ dari seorang gadis sebelum ia pulang!” desahnya kesal.

  “Ppoppo?!” pekik kedua orang itu. Ia mengangguk.

  “P-ppoppo sama…,” Ryeowook melirik ke arah ruang tamu, pada Minn tepatnya. Sungmin mengangguk.

  “Benar? Kok bisa dua anak kecil itu main ppoppo-ppoppo’an tengah malam begitu? Tapi nggak lebih dari ppoppo kan?” Eunhyuk sudah berpikir macam-macam. *maklum ==a*

  “Nggak mungkin lebih lah! Kau ini! Pikiranmu hancur sekali!” Sungmin memukul kepala Eunhyuk keras. Ia hanya meringis. *kalau jadi Sungmin udah aku gebukin ampe ajur tuh monyet sarden ==a*

  “Yahh.. Memang nggak mungkin sih,” ia mengelus kepalanya.

  “Pantas saja ia seperti sedang kerasukan ‘sesuatu’ sampai-sampai jadi begitu,” tambahnya.

  “Sudah! Ayo bersiap-siap!” Ryeowook menyela pembicaraan aneh mereka.

 

Kyuhyun’s POV

  “Sonsaengnim! Cepat ajari aku! Jangan tertawa saja kau ini!” Minn berdiri berkacak pinggang. Aku masih tersenyum melihatnya.

  “Ayo!” aku merangkul lehernya dan memulai pelajaran. Selama pelajaran aku terus melirik ke arahnya. Aku terkikik.

  “Kenapa?” tanya Minn. Ia mengernyit melihatku.

  “Kau tidak tidur semalam?” tanyanya menyentuh kedua pipiku. Aku menggeleng sambil tersenyum.

  “Ck! Kau ini bisa sakit kalau nggak tidur! Jadwalmu itu padat!” ceramahnya. Dia mengkhawatirkanku? Aku tambah senang.

  “Hehehehe…,” aku tertawa lagi.

  “Kau tidak demam. Kenapa bisa seperti orang gila begitu? Kau waras?” tanyanya.

  “Kau kemarin…,” belum selsai aku bicara, hyung sudah mendatangiku.

  “Kyunnie. Ada jadwal SJM. Ayo pergi,” panggil hyung. Uh? Harus sekarang? Aigoo.. Mereka menggangguku!

  “Ne…,” jawabku. Aku segera berkemas dan pergi.

  “Besok saja,ya!” aku memeluk Minn erat lalu melambaikan tangan kearahnya. Ia hanya menatapku aneh – hyung juga menatapku aneh.

  Setiba di studio aku membuka tasku untuk mengambil ponsel menghubungi manajer. Tapi aku menemukan sebuah ponsel lagi dan sebuah buku catatan. Punya Minn!!! Aku lupa! Biasanya selama pelajaran ponselnya kusita, dan buku ini sepertinya ikut terselip. Haduh! Semoga Minn nggak menunggui aku sampai malam!

 

Super Junior Dorm, Seoul, South Korea, 22.00 KST
Minn’s POV

 

  Aigoo.. Aku bosan setengah mati menunggu Kyuhyun pulang. Dia ada jadwal yang berakhir kurang lebih dua jam lagi. Tapi karena ia sedang membawa ponsel dan buku catatan matematikaku, aku terpaksa menunggunya di dorm.

  “Haish.. Seharusnya aku tidak bosan kalau si bodoh itu tidak merampas ponselku!” desahku kesal. Aku berdiri dan berjalan masuk ke kamar Kyuhyun dan Sungmin sunbae. Penasaran sekali. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

  “Hmm.. Apa yang bisa kutemukan di sini?” aku masih memutar otakku. Tapi aku tidak menemukan sesuatu yang menarik di sini.

  “Aigoo.. Aku bosan!” aku menghempaskan tubuhku ke kasur memandang langit-langit ruangan itu.

  “Hmm.. Sebentar lagi kau akan pergi ke Indonesia? Aish! Jauh sekali sih? Kau ini kemarin ke Vietnam, lalu Malaysia, lalu ke China – yah kalau China kan masih dekat, lalu beberapa hari lagi mau ke Indonesia? Yah.. Tapi mungkin itu diwajibkan. Kudengar kau belum pernah ke sana ya? Sering-seringlah ke sana supaya fans mu senang. Eh? Tapi setelah itu kau akan ke Paris kan?! Aigoo.. Jauh sekali itu?! Aku tidak punya kerabat untuk menginap di sana! Huh! Menyebalkan!” aku berbicara sendiri seperti tidak ada kerjaan – dan memang tidak ada kerjaan. Aku menghela nafas.

  “Nanti siapa yang mengajariku matematika? Lalu siapa yang akan menyuruhmu makan sayur dan buah? Lalu kalau kau sakit siapa yang merawatmu? Tapi awas saja sampai kau sakit! Setibamu di sini akan kurecoki setiap jamnya!” aku menggerutu. Dia ini memang menyebalkan! Hobinya cuma bikin orang khawatir saja! Memar di tangannya saja belum sepenuhnya sembuh.

  Aku melirik ke arah jam. Sudah menjelang tengah malam tapi dia belum juga pulang.

  “Cho Kyuhyun menyebalkan!!! Aku tidak bisa pulang tanpa buku dan ponselku!!! Besok aku harus sekolah! Cepatlah pulang!!” seruku kesal. Aku menelungkupkan wajahku di bawah bantal. Mungkin aku butuh istirahat.

 

Kyuhyun’s POV – 00.53 KST

  Ini sudah lewat tengah malam dan akhirnya aku bisa pulang.

  “Yesung hyung, kami pulan

g!” panggil semua member begitu masuk ke dorm – mengingat semua anggota dorm masuk ke SJM kecuali Yesung hyung.

  “Minn-ah kau di mana?” seruku begitu masuk. Yesung hyung memelototiku dengan mata sipitnya itu.

  “Apa?” tanyaku santai tak mengerti maksudnya. Ia berdiri dan berjalan ke arahku.

  “Yaaa! Kau ini dongsaeng kurang ajar! Kenapa tak menyapa hyungmu ini?” aku mendesah tak peduli.

  “Minn di mana?” tanyaku lagi tak menggubris ocehannya.

  “Cih! Memang susah bicara denganmu! Pacarmu itu bikin rumah ini layaknya rumah sakit jiwa! Dari tadi mengomel tak jelas padamu yang jelas-jelas tidak ada di rumah!” Yesung hyung berkacak pinggang.

  “Kau sendiri juga seperti orang gila. Sudah, cepat katakan mana Minn?” aku melongok ke segala arah mencari Minn.

  “Haish! Tuh di sana!” ia menunjuk ke arah kamarku. Apa yang dia lakukan di sana? Aku segera masuk ke kamar dan menemukan sosok Minn yang pendek itu berbaring di atas kasur. Aku menghela nafas lalu berjalan menghampirinya.

  “Kau besok sekolah! Cepat bangun!” aku menggoncang-nggoncangkan tubuhnya. Ia bergumam tak jelas lalu kembali tidur.

  “Sepertinya dia terlalu lama menunggumu pulang,” ujar Sungmin hyung.

  “Baiklah kalau gitu. Kita juga butuh istirahat. Eh? Tunggu dulu! Kita mau tidur di mana kalau kasurnya dipakai Minn? Kamar kita kan cuma ada satu kasur?” aku panik tiba-tiba. Sungmin hyung menatapku lalu tertawa.

  “Kau saja yang tidur di kasur! Aku menginap dengan Eunhyuk saja,” katanya. Aku membelalak menatapnya.

  “Enak saja! Masa aku harus tidur dengan dia sementara kamu dengan santainya menginap dengan Hyukjae?” seruku. Ia terkikik geli. Menyebalkan!

  “Kau kan pacarnya! Sudah sana tidur! Aku pergi dulu,” ia berdiri hendak keluar dari kamar. Aku segera lari mendahuluinya dan menghalangi pintu.

  “Shireo! Bagaimana kalau suit saja?” ajakku berusaha menahannya.

  “Ya, kau ini bodoh sekali sih? Dia itu kan pacarmu! Masa kau suruh aku tidur seranjang dengannya?” Sungmin hyung memukul kepalaku. Semburat merah langsung muncul di wajahku. Aigoo! Benar juga ya?! Tapi bagaimana denganku? Masa aku yang tidur di sana?

  “Ya sudah! Sana minggir! Aku mau ke kamar Eunhyuk!” Sungmin mendorongku menjauh. Aku hanya menggerutu tak jelas.

  Aku melirik ke arah Minn yang masih tertidur. Begitu lama aku memandangnya sampai aku tersadar akan sesuatu – bajunya agak tertarik sehingga pinggangnya sedikit terlihat. Wajahku memanas lalu kupalingkan wajahku.

  “Cih! Dasar kau bocah!” aku berjalan ke arahnya dan menyelimutinya. Aku hanya duduk di sampingnya.

  “Kau menyebalkan! Besok kuantar ke sekolah. Kau tidak boleh menolak!” gerutuku tak jelas. Aku mendesah keras lalu memutuska untuk tidur saja. Hari ini aku capek sekali!

***

Minn’s POV

  Engggg….? Sempit sekali di sini? Aku menengadah dan melihat wajah Kyuhyun tepat di depan mukaku. Wajahku memerah. Tapi aku tetap menatapnya.

  “Enn..? Aah? Kau sudah bangun?” Kyuhyun melepaskan rangkulannya. Aku bergumam tak jelas.

  “Kenapa kau nggak pulang kemarin? Soal ponsel dan buku kan bisa ku antar ke rumahmu,” ia merenggangkan tubuhnya. Aku hanya duduk menunduk. Ia mengacak rambutku.

  “Nah, cepat mandi. Nanti kuantar,” ia menyibakkan poniku lalu mengecup keningku lembut. Dia kerasukan apa sih?

  Ia membantuku berdiri dan membawaku keluar ke kamar mandi ‘umum’ dorm itu. Para sunbae berbaris rapi di sana.

  “Sunbae, aku dulu ya yang mandi!” aku segera melesat masuk. Saat hendak menutupnya Yesung hyung menahan pintunya.

  “Ya! Kau ini tamu antri saja!” teriaknya.

  “Aku mau sekolah! Oh ya! Lagipula aku memegang kartu ‘Ladies First’ dan juga predikat termuda. Yang tua ngalah dong,” aku menutup dan menguncinya. Hahaha!

 

Kyuhyun’s POV

  Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu itu. Tiba-tiba aku menemukan ide bagus untuk mengerjai hyung. Begitu Minn keluar, aku langsung mendahului hyung masuk ke kamar mandi.

  “Ya! Kau itu barisan terakhir!” serunya kesal. Aku mengerling sambil menunjukkan evil smirkku.

  “Aku mau mengantar Minn sekolah! Oh ya! Lagipula aku memegang kartu ‘Magnae First’ dan juga predikat magnae. Yang tua ngalah dong,” aku menirukan nada Minn tadi. Kena kau hyung!

  Seusai mandi saat membuka pintu aku sudah tak melihat Yesung hyung di barisan pertama – sudah berubah menjadi Ryeowook, Eunhyuk, lalu Sungmin baru Yesung hyung, dari muda ke paling tua. Aku hanya terkikik geli.

  “Aku pergi dulu ya!” aku merangkul pundak Minn yang sudah berdiri di pintu dorm.

 

Kyuhyun’s Car

  “Minn-ah,” panggilku.

  “Hmm?”

  “Kau ingat dua hari lalu?” tanyaku usil.

  “Haih! Entahlah. Aku kan mabuk,” balasnya.

  “Kau bilang aku lebih hebat dari Jinki.”

  “MWO?!!!” pekiknya terkejut. Aku tertawa lebar.

  “Ne. Kau bilang kau cemburu karena fansku banyak. Jangan-jangan kau tidak ingat kejadian yang di rumahmu itu?” aku mulai senang menjahilinya.

  “A-aapa?” tanyanya gugup. Aku mendekatkan wajahku melihatnya.

  “Kau mengecupku dan bilang kau mencintaiku,” bisikku. Ia membulatkan matanya.

  “M-MWO????!!?” pekiknya lagi. Hahahaa!! Sudah kuduga! Dia nggak akan menyadarinya! Aku menyeretnya keluar mobil begitu kami berada di tempat biasa aku menurunkannya.

  “Benar kok. Kau bilang begitu,” aku menggodanya lagi.

  “Jinjja?”

  “Saranghae,” ucapku lalu mengecup bibirnya. Ia membelalak.

  “Seperti itu yang kau lakukan padaku. Sudah sana pergi,”aku mendorongnya menjauh. Ia seperti orang bodoh! Hahahaha!!!

  “Saranghanda, Minn-a!” seruku melambaikan tangan begitu ia berjalan menjauh.

 

Minn’s POV

  OMO! OMO! Aku serasa ingin menangis saat itu juga!  Memalukan sekali!!

  Nggak mungkin aku bilang begitu! Aduh! Benar-benar! Ini gara-gara soju!! Eh, bukan. Gara-gara saus wasabi!! Aduh! Masa benar aku mengecupnya? Haduh.. Aku bakal diledek habis-habisan olehnya!

  Awas kau KYUHYUN!! Akan kuledakkan kepalamu!

  Trrrtt… Trrttt….

  Aku meraih ponselku dan membuka pesan dari Onew – yang nomornya susah payah kudapatkan dari pacarnya Donghae.

  ‘Hehehe.. Jangan berciuman di depan umum! Nanti kalau dilihat wartawan bisa bahaya!’ tulisnya besertakan beberapa jepret foto kemarin lusa saat Kyuhyun ‘membersihkan’ bibirku yang belepotan.

  “Ige Mwoya?! Aish! Sudah kuduga kau melihatnya!! Aih! Dia memotretnya pula! Bahaya!” seruku. Ternyata Onew dan Kyuhyun sama-sama suka menjahili orang! Seharusnya aku tidak ikut acara mereka! Merugikan! ==a

 

Kyuhyun’s POV

  “Kyunnie! Pinjam ponselmu! Pulsaku habis,” pinta Donghae hyung. Aku masih sibuk dengan laptopku dan melemparkan ponselku padanya. Sepi sejenak sebelum akhirnya ia memanggil member lainnya dan berteriak-teriak sendiri. Mereka pasti sedang melihat…

  “Kyunnie! Wallpapermu kapan kau ganti?!” pekik Eunhyukie terkikik. Aku tersenyum simpul.

  “Tadi pagi. Aku dikirimi oleh Jinki,” jawabku santai.

  “Jinki? Ia yang memotret? Ini kapan? Jelas sekali kau dan Minn berciuman di sini?” tanya Sungmin hyung tergopoh-gopoh.

  “Hnn.. Dua hari yang lalu di taman. Entahlah. Jinki mengambilnya dari sisi yang sangat bagus,” balasku menahan tawa.

  “Close up! Aku bahkan belum pernah melakukannya dengan pacarku!” seru Henry. Mereka tertawa beberapa saat, tapi tiba-tiba suasana jadi sepi.

  “Kyunnie, telepon,” Donghae hyung mengembalikannya. Aku mengangkatnya tanpa memperhatikan siapa yang menelepon.

  “Yeobose….”

  “YA!!! SURUH ONEW MENGHAPUS FOTONYA!” seru orang di ujung telepon. Minn..==a

  “Tidak mau! Akan kusuruh Heechul hyung menguploadnya kalau kau membantahku,” godaku lalu menutup teleponnya. Hahaha!! Mana mungkin dihapus? Never! *smirk*

THE END

Annyeong~!!! hohoho… Gimana? Gimana? XD
Mumpung nunggu rapotan jadi habisin waktu buat bikin fanfic~ 😀
Aneh nggak???? Minta Komen yaaa~~ 🙂

Gomawo~ ^^

In My Dream…

Author menyarankan untuk mengetahui arti lirik In My Dream.. Gomawo..- Juga denger lagunya kalau mau 😀

‘When I started looking for her to say something about the truth, she’s gone.Her last teardrop said that I was late, late to say that I love her… Saranghae..’

Kyuhyun’s POV

  “Chamkaman!” teriakku langsung terjaga. Mimpi itu lagi. Aku memijat pelipisku pelan. Apakah yeoja itu nyata? Kenapa ia selalu datang di mimpiku seakan ada dunia lain dibaliknya.

  Aku Cho Kyuhyun, Kyuhyun Super Junior – sebuah Boyband besar di pasarAsia. Sudah sekitarlimatahun aku bersama dengan member lainnya sebagai seorang magnae.

  “Kyuhyun-ah? Kau kenapa?” tanya Sungmin hyung terbangun begitu mendengar jeritanku.

  “Aniya. Mimpi,” jawabku. Yah, sejak beberapa kemarin aku bermimpi aneh. Aku bertemu dengan seorang yeoja yang begitu baik padaku. Tapi anehnya ia tidak mau menyebutkan namanya. Wajahnya begitu pucat pasi, seperti orang sakit. Ia selalu memakai gaun putih dan rambut gelombangnya selalu terurai. Ia juga mengenaliku. Lalu, semua itu seperti nyata. saat aku menyentuh tangannya tadi seperti masih terasa di permukaan tanganku.

  “Kyu? Kau mimpi buruk?” tanya Sungmin hyung membuyarkan lamunanku.

  “Tidak,” kataku cepat. Memang bukan sebuah mimpi buruk. Mimpi indah mungkin.

  Aku bangun berdiri dan berjalan keluar kamar. Aku berhenti di depan cermin. Pelan-pelan kusentuhkan tanganku pada pipiku.

  “Benar katanya. Aku semakin kurus sejak kecelakaan saat itu. Eh? Bagaimana ia tahu tentang kecelakaan itu?” gumamku pada diriku sendiri. Tadi, saat bermimpi yeoja itu menyentuh pipiku, ia bilang aku kurus sekali sejak waktu itu. Aku kurang sehat.

  “Aigoo! Apa yang terjadi padaku!” aku mengacak rambutku frustasi. Aku menghembuskan nafas keras lalu berjalan menuju balkon. Ini tengah malam. Tapi aku merasa gerah tidur di dalam. Aku duduk di kursi rotan yang diletakkan dekat balkon dan mencoba untuk tidur. Angin malam akhir musim dingin berhembus pelan di wajahku, seperti menyambutku di alam mimpi. Tujuanku hanya satu. Menemui yeoja itu.

Your POV

  Aku membuka sepasang mataku. Aku masih di kamar. Tadi itu mimpi? Aku bertemu dengan seorang Cho Kyuhyun itu cuma mimpi? Yah, aku bahkan selalu menganggapnya sebagai imajinasi. Bisa dibilang aku salah seorang dari selautan fansnya. Tapi aku tidak begitu berharap untuk menemuinya karena aku tahu, percuma aku menemuinya karena ia juga tak akan mengenaliku. Aku menatap kosong jari-jari kakiku dan meringkuk di ujung tempat tidurku. Perlahan butiran air mata mengalir lembut membasahi kedua pipiku. Aku terlalu bodoh karena terjerumus terlalu dalam terhadap seorang Cho Kyuhyun.

  Tiba-tiba semua kejadian siang ini terulang di benakku. Sebuah kenyataan yang memang terlalu mematikan untukku.

  ‘Maaf, agassi. Memang ini sel kanker. Stadium akhir. Perlu pengobatan serius.’
  Kanker. Ya, kanker paru-paru sedang menggerogoti tubuhku. Hanya ada dua jalan di dunia kanker, sembuh atau meninggal. Aku memilih untuk tetap menjalani perawatan standar, mengingat kalau aku dirawat di rumah sakit tidak ada yang menjaga rumah. Lagipula eomma dan appa ada di luar negeri. Eonni juga sedang belajar diSingapore. Aku sendiri harus sekolah. Jadi semua aku rahasiakan seorang diri.

  Aku menghela nafasku. Terserah. Aku sendiri pasrah. Toh, tidak ada yang peduli padaku sepenuhnya. Aku segera merangkak ke tengah dan merebahkan tubuhku di kasur. Biarkan waktu menjawab segalanya. Bagaimanapun juga aku tak punya hak memilih antara hidup dan mati.

***

  Aku berdiri di sebuah bukit hijau, dengan pemandangan yang indah yang belum pernah kulihat. Di puncak bukit itu tumbuh sebatang pohon tua besar yang rimbun. Sesosok pria tampan berwajah polos duduk termenung disana. Aku berjalan perlahan ke arahnya.

  “Annyeong,” sapaku. Ia menoleh cepat ke arahku. Senyum tipisnya mengembang.

  “Annyeong,” ia berdiri. Aku menengadah menatap wajahnya. Wajahnya lebih sehat dari sebelumnya. Aku menyentuh pipinya lembut. Dingin.

  “Kau baik-baik saja? Kau dingin. Kau harus pakai pakaian tebal supaya hangat. Nanti kau sakit,” ucapku. Ia menatapku aneh.

  “Gomawo,” ia setengah berbisik. Ia berjalan mendekat. Ia menatapmu dalam-dalam.

  “Sebenarnya siapa kamu? Bagaimana aku memanggilmu?” tanyanya. Aku balas menatapnya. Haruskah kukatakan? Ini seperti hal bodoh, aku harus mengatakannya dalam mimpi?

  “Enn? Namaku? Aku… Entahlah. Panggil saja aku sesukamu,” aku mengasal. Aku tidak mau dia tahu namaku. Ia mengerutkan keningnya.

  “Eun-ah? Bagaimana?” tanyanya. Aku tersenyum. Lucu sekali.

  “Eun? Kenapa kau memanggilku Eun?” itulah pertanyaan yang terbesit dipikiranku.

  “Kau suka sekali bergumam. Karena bergumam ditulis ‘Eun’ maka ku panggil kau Eun,” jelasnya. Ia terlihat begitu polos. Alasannya sangat lucu.

  “Kyuhyun-ssi, kau..,” belum selesai aku bicara ia berdesis menutup mulutku dengan jarinya.

  “Sssst! Kenapa kau memanggilku begitu? Panggil saja Kyuhyun atau Kyuhyun-ah atau juga Kyuhyunie,” pintanya. Wajahnya polos sekali. Aku terkikik pelan.

  “Ne, Kyuhyun-ah,” panggilku. Senyumnya mengembang. Ia lalu memelukku erat.

  “Aku suka kau memanggil namaku,” bisiknya pelan di telingaku. Perlahan aku tersenyum tipis dalam peluknya.

***

  Berhari-hari telah berlalu. Kini hidupku sedikit lebih berwarna. Setiap harinya aku bertemu dengan Kyuhyun. Walau hanya dalam mimpi.

  “Yah. Kau baik-baik saja? Wajahmu memucat,” panggil teman baikku. Aku mengangguk.

  “Menurutmu, apa itu mimpi?” tanyaku padanya. Kami sedang dalam perjalanan menuju sekolah.

  “Hm.. Mimpi adalah sebuah dunia di mana kita bisa melihat terang di balik gelap,” jawabnya puitis. Ia memang sangat menekuni bidang sastra. Aku banyak belajar darinya. Aku hanya tersenyum. Yah, walau hanya mimpi, aku bisa menyenangkan diriku sebelum aku pergi.

  “Uhuk!” aku terbatuk menutup mulutku dengan sapu tangan. Ia melirik ke arahku lalu membelalak.

  “Yah! G-gwaenchanha? Hidung dan mulutmu mengeluarkan darah!” ia memegangi pundakku. Benar sekali. Saputanganku berlumuran darah.

  “Gwaenchanha,” ujarku lirih lemah. Aku melepaskan pegangannya lalu berlari kencang.

  “Yaah! Mau ke mana?!”

  “Bilang pada sonsaengnim aku absen!” teriakku semampuku selagi berlari menangis entah ke mana. Setelah agak jauh nafasku lalu menjadi sesak. Kakiku lemas. Aku terhuyung ke depan, namun ada seseorang yang menopangku.

  “Eun-ah?!” panggil orang tersebut. Eun-ah? Kyuhyun?!

Kyuhyun’s POV

  Aku disuruh ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Aku berjalan melewati sebuah taman kosong dekatsanasaat tiba-tiba seseorang hampir menabrakku, namun ia terhuyung begitu tiba di hadapanku.

  Aku menahan tubuhnya lalu melihat ke arahnya. Wajahnya penuh darah. Ia terengah-engah sepertinya sesak nafas. Setelah memperhatikan wajahnya yang pucat lemah itu. Aku membelalak begitu mengenali wajahnya.

  “Eun-ah?” pekikku. Sepertinya ia sakit keras. Setiap hari aku juga melihatnya begitu pucat.

  “Kyuhyun-ah?” ia balas memanggilku. Ia mengenaliku? Tapi bukannya itu hanya mimpi?

  “Kau mengenaliku? Gwaenchanha? Ayo ke rumah sakit,” ajakku. Ia menggeleng lalu menepis lembut tanganku.

  “Gwaenchanha. Aku saja yang pergi,” ucapnya lemah. Ia berdiri lemah. Aku hendak meraihnya tapi ia sudah berjalan mundur tertatih-tatih.

  “Tungg..”

  “Kyuhyun!” panggil seseorang dari arah berlawanan. Aku menoleh.

  “Hyung?”

  “Kau ini lama sekali. Siapa tadi? Kenapa dia?” tanya Sungmin hyung menghampiriku. Aku menatap tanah nanar.

  “Dia.. Bukan hanya mimpi,” ucapku pelan. Yah, ia selama ini selalu mendengarkan ceritaku tentang Eun.

  “J-jinjja? D-dia kenapa?” tanyanya tergagap-gagap.

  “Ne.. Ia mengenaliku,” terangku lagi. Suaraku parau. Ia menepuk pundakku pelan.

  “Aku yakin kalian akan bertemu lagi. Tenanglah,” ia merangkulku dan mengajakku pulang.

Hospital,Seoul,South Korea, 09.00 KST

  Aku tiba di rumah sakit dengan penampilan seperti mayat hidup – mata cekung, hidung mimisan, batuk darah dan seragam berlumuran darah. Sepanjang perjalanan banyak sekali ajumma yang menawarkan bantuan. Tapi aku selalu mengabaikan mereka dan malah berjalan terhuyung-huyung.

  “Aku segera menuju ke ruangan dokter yang selama ini merawatku.

  “Agassi? Suster! Cepat bawa pasien ke UGD!!” teriaknya menahanku.

Super Junior’s Dorm,Seoul,South Korea, 23.00 KST

  Aku lelah. Hari ini aku tidak menjalani syuting dengan baik. Wajah Eun tadi terus terbesit dalam pikranku. Apakah dia baik-baik saja? Dia sakit apa? Perlahan aku memejamkan mataku.

***

  Aku membuka kedua mataku. Hamparan pasir putih dan lautan berwarna biru gelap mangkilat. Pantai. Malam ini langit bertabur bintang. Aku merasakan pundakku berat. Aku pun melihat ke samping. Eun.

  “Eun-ah?” panggilku. Ia masih memejamkan kedua matanya.

  “Hnn…,” gumamnya. Aku menyapu helai rambutnya yang tertiup angin. Wajahnya masih sama pucatnya, namun tak berlumuran darah.

  “Kyuhyun-ah..,” panggilnya lemah. Suaranya agak bergetar.

  “Ne?”

  “Apakah mimpi itu nyata?” tanyanya tanpa membuka kedua matanya.

  “Ne,” jawabku singkat setengah berbisik.

  “Apakah mimpi itu indah?”

  “Ne.”

  “Apakah mimpi itu harta?”

  “Ne.”

  “Mianhae.. Saranghae..,” ia mengangkat kepalanya menatapku. Perlahan kudekatkan wajahku dengan wajahnya. Dengan lembut aku menggulum pelan bibirnya. Ia diam tak bersuara, hanya mengikuti gerak bibirku. Aku pun menarik kepalaku menjauh. Aku menatapnya terkejut.

  “D-darah?” aku membelalak. Bibirnya berlumuran darah. Ia menyentuh pelan bibirnya dan melihat darah menempal di ujung jarinya. Lalu balik menatapku.

  “Mianhae..,” air matanya mengalir lembut menuruni kedua pipinya. Aku mengerutkan alisku. Maaf atas apa?

  “Adaapa?” tanyaku khawatir. Ia terisak pelan.

  “Kanker. Stadium akhir. Kupikir aku harus pergi,” ucapnya. Aku menggeleng kuat.

  “Andwae!”

***

  “Andwae!” jeritku lalu terjaga. Mimpi itu? Sungmin hyung ikut terbangun. ia membelalak menatapku.

  “Kyu-ah! Darah!” pekiknya. Aku menggeleng.

  “Aku harus mencarinya!” aku segera berdiri menyambar jaketku. Aku benar-benar harus menghampirinya.

  Aku sedikit cepat saat menyetir. Ini tengah malam dan aku tahu rumah sakit dekat taman tadi.

  Trrtt.. Trrrt..

  Sms? Aku meraih ponselku dan membukanya.

  ‘Ke rumah sakit! Cepat! Buka link ini’

  Pesan dari Sungmin hyung? Link? Aku segera membukanya dipenuhi dengan rasa penasaran. Begitu membukanya aku melihat foto Eun terpampang di website itu.

  ‘Seorang ELF sedang koma di rumah sakit. Diduga ia terserang kanker paru-paru stadium akhir. Sisa hidupnya taklamalagi. Kami mendapat kabar begitu sahabatnya menemui dokter yang menanganinya…‘ aku tidak membaca lanjutannya. Tanganku bergetar hebat hingga ponselku terjatuh.

  Tiba-tiba ada sebuah cahaya dari depan. Sebuah truk menghantam mobilku. Aku sedikit terpelanting. Aku segera keluar dari mobilku.

  “Maaf. Apa kau baik-baik saja?” tanya supir itu. Aku tak menggubris pertanyaanya. Aku berlari ke rumah sakit segera. Walaupun lutut dan tanganku cedera sedikit.

***

  “Dokter Kim di mana?” tanyaku begitu tiba di rumah sakit. Suster itu menunjuk ke kamar seberang dengan takut. Aku segera melongok ke dalam. Seorang yeoja terbaring lemah dengan selang bergantung di mana-mana. Aku menatapnya nanar. Eun-ah..

  Seorang dokter membuka pintu ruang rawatnya dan menatapku.

  “Kau kenal dia?” tanyanya. Aku mengangguk.

  “Masuklah. Sepertinya kau orang yang ditunggunya sejak tadi,” kata dokter itu. Aku segera masuk. Melihatnya dengan wajah pucat pasi persis seperti mimpi tadi. Aku berjalan mendekat dan menggenggam tangannya. Kurasakan air mataku mengalir pelan membanjiri wajahku.

  “Keunyeoga doraoneyo
Mianhadago haneyo
Iksukhaettdeon keuriun
Keu sonkillo eorumanjyeoyo
Nal boneun ansseureon nunkil
Deudgo sipdeon keu moksori
Dajeonghage ijen ulji mallaneyo

Neol nae pume aneumyeon
Sarangjyeo beorigo
Nunmuri heulleo
Begaereul jeoksimyeon
Nan keujeya jameseo kkaeeoyo
Achimeun neul ireohke
MY LOVE

Yeongweonhi idaero
Jamdeulgil baraedo
Yeojeonhi keunyeoro
Kkaeeonado
Dasineun kkumkkuji
Anhkireul baraedo
Oneuldo keunyeoro
Naneun jami deul suga isseo

Keunyeoga utgo ittneyo
Neomuna oraenmani jyo
Keureon moseub
Keureohke bogo sipdeon
Naui keunyeo jyo
Keunyeoga geodgo isseoyo
Eoddeon saramgwa dajeonghi
Nae kaseumeun
Mukeobge naeri nullyeoyo

Ddo nan kkumeul kkun geojyeo
Sigeun ddam heureugo
Apaseo kieok jochado sirheun kkum
Nan onjongil mueotdo mothago
Siganeul bonaegettjyo
MY LOVE

Yeongweonhi idaero
Jamdeulgil baraedo
Yeojeonhi keunyeoro
Kkaeeonado
Dasineun kkumkkuji
Anhkireul baraedo
Oneuldo keunyeoro
Naneun jami deul tende

Ije heuryeojil mando hande
Keunyeoneun jeomjeom jiteogayo
Eoje kkumeseocheoreom
Oneul naege wayo
Ijeneun honja jamdeulji anhge

Yeongweonhi idaero
Jamdeulgil baraedo
Yeojeonhi keunyeoro
Kkaeeonado
Dasineun kkumkkuji
Anhkireul baraedo
Oneuldo keunyeoro
Naneun jami deul tende

Oneul keudael dasi
Bol suman ittdamyeon
Keureol su ittdamyeon doraomyeon
Hanbeonman ne gyeote
Jamdeul su ittdamyeon
Keureol su ittdamyeon
Keudaero kkaeji anhgo sipeo
Jami deul su ittdamyeon” – Super Junior, In My Dream (2010)

kunyanyikan untuknya setengah berbisik. Suaraku terdengar begitu parau. Isakku juga membuat segalanya terdengar menyedihkan. Kuberanikan diri untuk mengucapkannya, walau kutahu ia bisa saja pergi meninggalkanku. Namun bagiku ini yang terbaik, daripada ia terus menderita.

  “Saranghae, Eun-ah…,” bisikku lirih. Kulihat sebulir ait mata mengalir lembut sebelum akhirnya kudengar bunyi datar yang panjang dari mesin rumah sakit. Terima kasih karena kau pernah hadir di hidupku. Dan juga mimpiku.

THE END

Annyeong! :D
Cocok nggak nih sama lagunya? Haduh… Author sampe ngeri sendiri pas baca ulang.. hahaha..
Put your comments here please… ;)

Gomawo

Dumped Into The Future World [Last Part]

KyuMinn’s Future House, Seoul, South Korea, 08.00 KST

  Aku membuka kedua mataku. Hari ini perasaanku senang sekali entah kenapa. Aku melirik ke arah Minhyun dan Kyuhyun di sisiku.

  “Minhyun-ah, ireona,” aku membangunkan Minhyun. Dengan mudahnya Minhyun langsung duduk.

  “Eomma..,” panggilnya. Aku mengelus kepalanya. Aku melirik lagi ke arah Kyuhyun.

  “Kyu-ah, ireona!!” seruku mengguncangkan tubuhnya. Ia tak bergerak.

  “Ya, ireonaaa..!” aku memukul pundaknya pelan.

  “Aku ngantuk,” jawabnya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Aku berdecak kesal.

  “Appa! Ireonaaa!! Ireonaaaa!!!” panggil Minhyun ikut mengguncang Kyuhyun. Kyuhyun langsung segera duduk membelalak.

  “Aigoo!!! Kau pintar! Semoga kau dapat banyak rejeki, Minhyun sayang!!!” Kyuhyun mencubit kedua pipi Minhyun. Aku terkikik geli.

  “Kau juga dapat banyak rejeki nanti, Jagi,” Kyuhyun mengecup pipiku lalu langsung menggendong Minhyun ke kamar mandi. Aku menghela nafas lega. Hari ini terasa begitu menyenangkan. Aku beranjak dari tempatku menuju ke Minjin.

  “Minjin-ah, pagi,” aku melihatnya terbangun. Ia tersenyum. Aku bermain-main dengannya intuk beberapa menit.

  “Kau lucu sekali sih? Hn? Kau dan oppamu sama-sama lucu,” ucapku. Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Kyuhyun? Sepertinya dia udah selesai mandi. Rambutnya masih basah, airnya menetes membasahi leher dan piyamaku.

  “Kalau aku nggak lucu, ya?” ucapnya tepat di telingaku. Aku bergidik geli.

  “Ah? Nggak ah? Masa sih?” candaku berusaha melepaskan diri darinya. Ia melepasku lalu cemberut di hadapanku.

  “Huh! Kalau aku nggak lucu darimana asal aegyo-nya Minhyun dan Minjin?” ia menggerutu. Aku terkikik geli.

  “Kau lucu kok,” kataku setengah tertawa. Ia mendekat dan mengelitikiku. Aku berjongkok menahan geli masih terus tertawa. Sampai-sampai rasanya perutku sakit sekali.

  “Hahah.. Haduh.. Hehe.. Hudah!!!! Berhenti!!!” aku masih tertawa. Ia berhenti lalu berdiri. Aku hanya mencari nafas sebanyak mungkin karena terlalu banyak tertawa.

  “Makanya, kalau kau bohong lagi kau akan kukelitiki lagi,” Kyuhyun tertawa kemenangan. Aku masih sibuk mengatur nafas. Ia membantuku berdiri.

  “Sana mandi. Kita harus segera pergi ke dorm,” ia mendorongku ke kamar mandi. Aku segera masuk lalu mandi dan berganti pakaian. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sepertinya aku lupa sesuatu. Apa ya?

  “Jagiya? Sudah? Lama amat,” teriak Kyu dari luar. Aku segera membereskan barang-barangku dan keluar menghampiri Kyu, Minhyun dan Minjin.

Super Junior’s Dorm, Seoul, South Korea, 12.00 KST

  Kami tiba di dorm tepat saat semuanya berkumpul. Ah, mereka ternyata masih dengan ‘pacar’ mereka masing-masing. Eh? Atau istri, ya? Hmm.. Terserahlah. Di sini banyak sekali anak kecil ternyata – tentu saja.

  “Annyeong, Kyuhyunnie!!” Leeteuk sunbae merangkul Kyuhyun. Aku hanya mengangguk dan tersenyum saat sunbae yang lain menyapa.

  “Minn-ah! Sini!” Haneul eonni menarikku menjauh dari kerumunan.

  “Ne, eonni?” tanyaku.

  “Bagaimana?” tanyanya balik. Aku mengernyit heran.

  “Apanya yang bagaimana?” ia menatapku aneh lalu memukul lenganku.

  “Ya! Kau ini amnesia atau pikun sih? Bukannya aku sudah memberi tahu kalau hari ini itu anniversary kalian?” aku membelalak kaget. Aku benar-benar lupa! Padahal baru beberapa hari yang lalu Haneul eonni memberi tahuku!

  “Aish! Lupa eonni! Lupa!” aku memukul keningku.

  “Jadi kau akan memberinya apa?” tanyanya. Aku mengangkat pundakku. Aku tidak sempat memikirkannya.

  “Kalau begitu kembalilah ke saran awalku,” ia tersenyum nakal.

  “Apa?” aku masih bingung. Kata-kata eonni sangat memusingkan!

  “Yang kubilang lebih baik hadiahi dia an…,” aku membekap mulutnya begitu mendengar awal kalimat itu.

  “Shireo!!!!” seruku.

  “Kalian ngomongin apa?” Donghae dan Yesung sunbae datang menghampiri kami. Aku menggeleng sambil melepaskan Haneul eonni.

  “Tidak apa-apa,” aku menggeleng sekuat mungkin lalu meninggalkan mereka ke ruang tamu. Kyuhyun duduk di sana dan memangku Minjin. Aku berjalan ke arah mereka dan memangku Minhyun yang tadi duduk di sebelah Kyu.

  “Aigoo, magnae-magnae kita sudah dewasa sekarang,” ucap Sungmin sunbae mengacak-acak rambut Kyu. Aku menunduk malu.

  “Iya. Tuh ada dua magnae baru sekarang,” sunbae yang lain bercanda sambil menunjuk-nunjuk Minhyn dan Minjin. Aduh, mereka ini seperti orang yang sudah tua saja.==a

  “Kajja! Kita makan,” panggil Ryeowook dari arah dapur. Kami semua berbondong-bondong ke ruang makan.

  “Ayo kita makan!” sorak semua member begitu kompaknya. Ternyata mereka semua tidak berubah sejak dulu. Selalu saja ceria dan berbahagia saat berkumpul bersama.

***

  “Ah! Hyung, ini untukmu,” Kyuhyun menyerahkan sebuah kotak berwarna biru pada Sungmin.

  “Ya! Cho Kyuhyun, mengapa kau selalu memberi hadiah pada Sungmin hyung? Mana bagianku?” canda Donghae. Kami semua tertawa geli. Kyuhyun menarik kembali kado tadi dan menyodorkannya pada Donghae.

  “Buka saja kalau kau memang suka,” kata Kyuhyun menahan tawa. Donghae langsung membukanya dan melihat isinya. Begitu melihatnya ia terlihat tidak begitu tertarik.

  “Haish! Ternyata ini. Ini untuk hyung saja deh,” Donghae menyerahkan hadiah syal berwarna pink – yang dia tak suka, pada Sungmin. Yang lain malah tertawa lebar.

  “Ckckck… Kau ini,” Haneul eonni tertawa. Kami saling tukar-menukar hadiah. Kyuhyun menerima hadiah dari Donghae sunbae. Kyuhyun membukanya dan menemukan sepasang kalung dengan batu safir biru kecil di ujungnya.

  “Kok dua?” tanya Kyu heran. Aku juga bingung kenapa ada dua.

  “Itu kan hadiah nggak cuma buat kamu tapi juga buat dia,” Donghae sunbae berdecak dan menunjukku.

  “Buat apa?” tanyaku. Donghae malah tertawa lebar.

  “Itu buat hadiah anniversary kalian!” Aku dan Kyu membelalak.

  “Lupa!” seru kami bersamaan. Aku bisa lupa padahal baru beberapa menit yang lalu diingatkan.

  “Aish! Kalian ini bodoh sekali!” Heechul sunbae tertawa. Aku hanya tersenyum masam. Memalukan!

***

  Ini sudah larut malam. Tapi acara kami belum berakhir. Minjin dan Minhyun sudah tertidur kelelahan. Aku juga mulai mengantuk. Aku memejamkan mataku.

  “Kalau kau capek, sana tidur dulu di kamarku. Nanti kubangunkan. Aku masih ada urusan,” kata Kyu. Huh? Sepertinya ia juga mengatakannya sebelum aku berpindah dimensi ke sini. Entah kenapa aku tidak bisa bangkit berdiri. Rasanya begitu berat. Aku hanya diam tak bergeming.

  Ia menghela nafas kesal. Ia berjalan ke arahku dan menggendongku seperti dulu dan dibawanya ke kamar. Ia membaringkanku dikasur.

  “Gomawo,” ucapku masih terpejam. Setelah itu aku benar-benar tertidur. De Javu.

***

  Aku mengangkat kepalaku. Aish! Sakit sekali!

  “Kau sudah bangun?” tanya Kyu melihat ke arahku. Ia beranjak dari depan komputer dan berjalan ke arahku.

  “Sana lanjutkan soal matematikamu kalau kau benar-benar sudah sembuh,” ia mengetuk-ngetuk keningku seperti biasanya. Matematika? Sepertinya aku sudah kembali.

  “Sekarang tanggal berapa? Aku sembuh apa?” tanyaku dengan tampang bego banget.

  “Cish! Kau ini kalau tidur langsung melupakan semuanya ya? Sekarang tanggal 9 Mei 2011. Kau tadi agak demam. Sana kerjakan matematikamu! Jangan-jangan kau juga lupa bagaimana caranya berhitung?” omelnya. Aku mendesah berat lalu berjalan ke meja tempat biasa aku belajar.

  “Gomawo,” ucapku pelan sambil mengerjakan matematikaku. Ia malah melempari kepalaku dengan kacang.

  “Jangan bilang ‘gomawo’ terus. Aku bosan,” serunya dengan wajah memerah. Hahaha! Aku benar-benar ingin tertawa melihat wajahnya.

  “Hehehe.. Kau lucu!” aku mencubit pipinya. Ia balas mencubitku.

  “Sakit tahu! Kalau kau terus mencubitku kapan kau akan mengerjakan matematikamu?”

  “Kalau kau terus mencubitku kapan aku bisa mengerjakannya? Lepaskan dulu!”

  “Kau juga lepaskan!”

  Kami ribut sepanjang hari dan akhirnya tidak jadi mengerjakan soal matematikanya. ==a Tapi sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengan Minhyun dan Minjin. Tapi setidaknya aku akan bertemu dengan mereka lagi nantinya.

THE END

Annyeong! hehhe… Last Part nya agak geje emang.. 😛
author ga bakat bikin yg continued sih.. hohohoh..
Mampir-mampir n kasih komen ya~ 😉

Gomawo

Don’t Give Up, I’m Here For You

Super Junior Dorm, Seoul, South Korea, 10.00 KST
Sungmin’s POV

  “…Ya, hati-hati di jalan. Kau juga jangan lupa jaga kesehatan,” ucapku sebelum menutup telepon dari Hyunmi. Ia sedang mengikuti tour di Tokyo. Ia menerima beasiswa di sekolah kesenian karena bakatnya dalam menari, terutama ballet. Sekarang ia sedang pergi tour dengan teman-temannya.

  Aku menarik nafasku dalam-dalam sambil menerawang keluar jendela. Semoga saja Hyunmi baik-baik saja.

Tokyo, Japan
Hyunmi’s POV

  Sungmin oppa menelpon. Ia terus menanyakan keadaanku. Padahal seperti yang ia tahu aku baik-baik saja. Tapi, sama sepertinya, aku juga merasa ada yang aneh. Seakan-akan ada bahaya mengancam.

  Aku sedang mengikuti tour musim semi Jepang sejak minggu lalu. Kami pergi ke festival memakai kimono, berdoa di kuil, berjalan-jalan di pasar malam, bahkan kami juga mengadakan acara hanami. Besok aku akan pulang ke Seoul. Tapi kami masih ada jadwal untuk mengunjungi kota-kota di Jepang sampai sore.

  Kami sedang dalam perjalanan menuju Osaka dengan shinkansen. Pemandangannya begitu indah. Hari sudah mulai gelap. Kami terus menyusuri jalan-jalan kecil di Osaka.

  “Hyun! Ayo kita pulang. Semua sudah berkumpul di sana,” panggil seorang temanku saat aku sedang duduk sendiri di bawah sebuah pohon besar. Aku mengangguk dan berkumpul bersama mereka untuk pulang ke Tokyo.

  Setibanya kami di stasiun Tokyo kami berjalan kaki menuju ke penginapan. Tiba-tiba aku melihat seorang anak kecil sedang bermain di tengah jalan yang sepi itu. Memang di sini tidak begitu ramai karena ini jalan kecil di pinggiran Tokyo. Aku melihat sebuah mobil hendak melintasi jalan tersebut.

  “Awas!!” Karena khawatir aku menghampiri anak tersebut dan berusaha melindunginya, sebelum aku sendiri tidak sadarkan diri setelah sebuah benturan keras menghantam kedua kakiku.

Hospital, Tokyo, Japan

  Bau antiseptik begitu menusuk hidungku. Aku membuka mataku pelan, lalu menyipitkannya begitu melihat cahaya lampu menyilaukan di langit-langit ruangan. Kepalaku terasa pusing. Aku di rumah sakit?

  “Hyun-ah!” panggil temanku, MinJi yang duduk di sebelahku. Ia terlihat begitu panik.

  “Hyun-ah? Kau baik-baik saja? Aku sudah menghubungi HyunJin, ia sedang ada di kantin bersama dengan temannya,” jelasnya. HyunJin adalah kembaranku. Kami kembar identik, walaupun sifat kami agak berbeda. Dia satu-satunya keluargaku setelah kecelakaan yang menimpa appa dan eomma merenggut nyawa mereka. Kami dibiayai oleh tante kami yang tinggal di London. Karena itu kami cuma tinggal berdua di Seoul.

  Pintu kamarku dibuka. Seorang gadis berambut panjang diikat dan berkacamata masuk diikuti oleh seorang pria berjaket hitam. Tidak salah lagi, itu HyunJin dan Sungmin oppa. Wajah mereka terlihat kusut. Sungmin oppa melihat ke arahku dan membelalakkan matanya.

  “Hyunmi-ah! Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Kau butuh sesuatu? Ada yang sakit?” ia menyerbuku dengan berbagai pertanyaan sambil berjalan menghampiriku. Ia memelukku sejenak. Hangat.

Sungmin’s POV 

  Aku berjalan beriringan dengan HyunJin. Kami barusaja selesai makan di kantin. Tiba-tiba dokter yang merawat HyunMi memanggilku.

  “Ne? Ada apa dokter?” tanyaku begitu tiba di ruangannya. Dokter itu sedikit menunduk. Wajahnya yang berkerut itu terlihat begitu stres.

  “Hem.. Sebenarnya ini mengenai kondisi HyunMi. Saya pikir ia harus banyak-banyak istirahat dulu,” jelas dokter itu. Aku semakin bingung. Hyunmi sakit parah?

  “Kenapa dok?” tanya HyunJin. Dokter itu menegakkan posisi duduknya dan menatap kami. Helaan nafasnya terdengar jelas di ruangan sepi ini.

  “Dengan sangat menyesal, saya beritakan bahwa kaki Hyunmi mengalami kelumpuhan,” ucapnya. Aku mematung mendengarnya. Hyunmi lumpuh? Tidak dapat menari lagi? Semua mimpinya hancur?

  “L-lumpuh? Tidak bisa disembuhkan?” tanyaku terbata-bata. Dokter itu diam sejenak.

  “Tidak. Menurut saya kemungkinan Hyunmi untuk berjalan masih ada, dia harus rajin-rajin menjalani terapi di rumah sakit,” jelasnya. Aku menghembuskan nafas sedikit lega. Walaupun sebenarnya aku masih khawatir. Aku dan HyunJin pun segera menuju kamar Hyunmi begitu dokter selesai berbicara.

  Seperti mimpi saja! Aku melihat Hyunmi tersenyum lagi. Aku sempat merasa senang sebelum akhirnya aku teringat apa yang dikatakan dokter tadi.

  “Hyunmi-ah..,” panggilku ragu. Aku hendak memberitahukan segala tentang kondisinya. Tapi HyunJin menepuk bahuku dan menggeleng pelan. Terpaksa kuturuti dahulu permintaannya mengingat kondisi Hyun yang masih lemah.

  Kami bertiga – Aku, Hyunjin dan Minji, akan keluar meninggalkan Hyunmi untuk beristirahat.

  “Eh?” seru Hyunmi sebelum kami sempat membuka pintu. Wajahnya terlihat begitu cemas.

  “K-kenapa?” tanya Minji ragu. Kami kembali menghampirinya.

  “Kakiku kok tidak bisa digerakkan?” tanyanya. Wajahnya terlihat ketakutan. Lebih daripada yang tadi. Kami hanya diam ditempat. Iba melihatnya.

  “T-tidak bisa gerak!” ia mulai khawatir. Nada suaranya sedikit bergetar. Matanya berkaca-kaca.

  “Hyun-mi-ah, mianhae..,” ucapku setengah berbisik.

  “Apa maksudmu?” tanyanya sedikit ragu. Matanya memerah.

  “Kau… Mashi belum bisa berjalan,” jelas Hyunjin. Hyunmi sedikit terkejut. Air matanya mulai tergenang.

  “Tapi tenang saja! Kau masih bisa sembuh kok!” hiburku. Ia terisak pelan.

  “Hyunmi-ah, uljima,” aku mengusap air matanya. Ia tersenyum.

  “Ne. Aku tahu kok. Menangis nggak akan menyesaikan masalah,” ucapnya. Hatiku terasa teriris-iris melihat kekasihku sendiri menahan kesedihannya. Aku seperti sampah yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Seoul, South Korea, 11.00 KST

  Hari ini Hyunmi pulang. Aku sekarang membawanya ke gedung SM dengan kursi roda. Dia ingin mengunjungi ‘sunbae’-nya.

  “Key Sunbae!” serunya melambaikan tangan pada Key SHINee. Key menoleh dan membelalak melihat Hyun. Ia pun menghampiri kami.

  “Hyun-ah? Kau kenapa?” tanyanya khawatir. Hyun tertawa.

  “Gwaenchanha. Cuma keselakaan kecil,” jawabnya masih tersenyum. Ia benar-benar orang yang sangat ceria.

  “Kalau kau sakit kenapa kau tidak istirahat? Kau mau ngapain di sini?” tanya Key. Hyun tersenyum lagi.

  “Aku sudah lama tidak ke sini. Aku ingin menemui sunbaedeul,” balasnya lagi. Setelah beberapa lama kami berbincang-bincang aku pun mendorong kursi roda Hyun menuju ke ruang latihan kami – Super Junior.

  “Annyeong, Sunbaedeul!” sapanya setiba kami di ruang latihan. Semua member melihat kami lalu mendatangi kami.

  “Kau baik-baik saja?”

  “Kau sudah sembuh?”

  “Kapan kau pulih?”

  “Makan lah yang banyak”

  “Jangan lupa istirahat!”

  Setiap member menyerbu kami dengan rentetan kalimat kekhawatiran. Hyun terus tertawa lebar bahagia.

  “Kalian latihan saja. Aku ingin lihat,” ucapnya. Aku mengecup pelan keningnya dan mengikuti yang lain untuk berlatih.

Super Junior Dorm, Seoul, South Korea, 19.00 KST
Hyunmi’s POV 

  Kami baru saja tiba di dorm. Ryeowook segera pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk kami. Beberapa sunbae sendiri pergi membereskan ruangan. Aku sendiri yang merasa tak berdaya cuma duduk sendiri di sini.

  Aku mengambil ponselku dan memutuskan untuk online twitter karena begitu bosan. Aku membaca beberapa mention pada sunbaedeul. Pandanganku berhenti pada beberapa mention dari ELF. Mataku terasa agak panas melihatnya. Menyedihkan sekali diriku ini.

  ‘@donghae861015 oppa! Sungmin oppa orang yang begitu sempurna, pasti dia punya kekasih yang sempurna juga! ^^’

  Berkali-kalipun dibaca akan tetap sama. Aku bukanlah orang yang sempurna. Aku tidak pantas ya untuk Sungmin oppa?

  Aku menengok ke dalam kamar KyuMin. Mereka sibuk membereskan barang. Diam-diam aku memutar roda kursiku dengan tangan dan pergi keluar. Aku ingin ke suatu tempat. Tempat yang bisa membuat perasaanku tersampaikan. Yaitu…

Sungmin’s POV

  Huft.. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah bersama Kyu. Aku berjalan keluar untuk menemui Hyunmi. Tapi nihil. Dia tidak ada di tempatnya semula.

  “Hyung! Apa Hyunmi tadi ke kamar mandi? Atau ada di dapur?” tanyaku berlagak tenang. Tapi sebenarnya aku sendiri merasa khawatir.

  “Hn? Ia tidak di sana? Kami sama sekali tidak melihatnya sejak tadi,” balas setiap member kurang lebih sama. Kekhawatiranku benar-benar telah memuncak. Aku menyambar jaketku dan berlalu pergi mencari Hyunmi.

Han River, Seoul, South Korea, 21.00 KST
Hyunmi’s POV

  Sudah sejak aku tiba sejam yang lalu aku terus menatap nanar permukaan sungai Han yang memantulkan cahaya lampu dari riak-riaknya. Perasaanku berkecamuk tak jelas. Aku sudah tidak mampu lagi menangis. Semuanya akan sia-sia.

  Aku melongok ke dalam sungai Han. Wajahku terpantul jelas di permukaannya. Hanya dengan melihatnya saja aku sudah bisa merasakan hawa dinginnya air di musim semi. Aku merinding, betapa dinginnya air ini jika aku tenggelam di dalamnya, terutama saat baru saja lewat musim dingin seperti ini. Musim semi memang baru lewat beberapa hari, tapi dinginnya angin masih tetap seperti musim dingin. Berhembus di wajahku membuat ujung hidungku membeku.

  Kursi rodaku kuputar perlahan ke depan, melihat lebih jauh lagi permukaan sungai Han. Entah apa yang membuatku begitu ingin menceburkan diri ke dasarnya. Tiba-tiba aku merasakan ujung rodaku sudah mulai terperosok pelan ke bawah. Aku memejamkan mata ingin sekali mengakhiri segalanya, sebelum akhirnya seseorang menarikku kuat ke belakang, lalu mendekapku erat.

  “Ya! Shin Hyunmi! Kau bodoh ya?! Apa yang mau kau lakukan hah?” teriaknya. Suaranya agak bergetar. Sungmin oppa. Mianhae.

Sungmin’s POV

  Aku mulai tak tenang. Aku menengok ke segala arah, memperhatikan sisi-sisi jalan, mencari sosok Hyunmi, tapi tak kunjung menemukannya. Perasaanku campur aduk. Kondisi tubuhnya saat ini sedang labil, membuat segala kemungkinan buruk bermunculan di pikiranku.

  Aku berhenti agak jauh dari sungai Han. Aku melihat bayangan seorang gadis yang tidak asing sedang duduk menatap permukaan sungai Han nanar, perlahan memutar kursi rodanya maju. Hyunmi? Apa yang dia pikirkan?

  Aku segera turun dari mobil tergesa-gesa dan belari ke arahnya sebelum ia nekat melakukan sesuau yang bisa membuatku jantungan. Tepat saat kursi rodanya terperosok masuk, aku menariknya dan mendekapnya erat.

  “Ya! Shin Hyunmi! Kau bodoh ya?! Apa yang mau kau lakukan hah?” bentakku ketakutan. Aku merasakan gemetar hebat tubuhnya. Perlahan ia terisak, tubuhnya melemah.

  “M-mianhae. Aku tidak sempurna untukmu,” ia menangis. Aku mengusap pelan air matanya.

  “Kau tidak salah. Ini cuma ujian buat kita. Kita harus sabar. Aku tidak mau gadis kecilku menangis,” hiburku melihatnya. Ia menghentikan tangisannya walaupun aku masih melihat kesedihan terpancar jelas di matanya. Aku menyentuh tangannya. Dingin.

  “Kau kedinginan? Ayo kuantar pulang. Banyaklah istirahat. Nanti kau akan bis menari lagi,” ajakku. Ia mengangguk. Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam mobil.

  Kami saling terdiam sepanjang perjalanan. Tidak sepatah kata pun terlontar dari mulut kami. Aku mulai menyatu dengan suasana mobil. Tenang. Aku mengikuti setiap kata yang dinyanyikan oleh Yesung hyung dari kasetku. Begitu menyentuh.

  ‘Niga animyeon andwae..

   Neo eobsi nan andwae..

   Na ireohke haru handareul tto illyeoneul..

   Na apado joha..

   Nae mam dachyeodo joha nan..

   Geurae nan neo hanaman saranghanikka..’

Hyunmi’s POV

  Aku menatap Sungmin oppa begitu ia mengikuti setiap kata dari lagu Yesung sunbae. Setiap katanya mengandung kata yang begitu berarti. Menenangkan. Aku hanya diam menikmati tiap detiknya bersama Sungmin oppa.

Hyun’s Family’s House, Gwangju, South Korea, 23.30 KST

  Memakan waktu yang cukup lama ternyata untuk tiba di rumah keluargaku yang letaknya di kota tetangga Seoul. Udara dingin begitu menusuk. Sungmin oppa mengangkatku ke dalam lalu memanggil Hyunjin untuk membantuku berganti pakaian.

  Aku digendong Hyunjin menuju ruang makan sehabis aku berganti pakaian. Sungmin oppa sudah memasakkan semangkuk sup hangat dan meninggalkan sepucuk surat sebelum dia pulang. Aku perlahan memasukkan tiap sendok sup ke dalam mulutku. Sup itu membuat tubuhku hangat. Setelah itu Hyunjin membawaku lagi ke kamar lalu meninggalkanku. Aku membuka surat dari Sungmin oppa yang sedari tadi kugenggam.

  ‘Kesempurnaan bagiku adalah sesuatu yang bisa membuatku bahagia, sepertimu.

  Saranghae :)’

  Hatiku hangat. Pipiku merona. Ia benar-benar menyemangatiku supaya aku bisa sembuh. Aku melipat kertas itu lagi dan menyelipkannya dibalik bantalku. Semoga aku benar-benar bisa mengenang kata-kata manisnya itu. The Aegyo King tidak akan pernah berhenti bersikap manis 🙂

THE  END
By : Minn -Wenny-

Annyeong! Author bikin FF kali ini emang rada aneh, soalnya nggak begitu tahu soal keadaannya.. *bletak*
Nah! Buat para readers selamat menikmati, minta komen ya ^^

Gomawo~ 😀

%d bloggers like this: