Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 3]

Harin’s POV

Aku kembali menyesap teh citrus yang diseduhkan Key untukku dan Minyeon. Aku tidak tahu sejak kapan aku pandai berbohong, tapi setidaknya sekarang Minyeon benar-benar tidak mencurigaiku. Tumben bukan? Biasanya saja dia paling curigaan.

“Jadi,” Minyeon membuka mulutnya memulai pembicaraan. “Jam berapa Jongwoon akan mengembalikan anjingmu?” tanyanya polos.

Jadi, tadi begitu bangun dan menyadari Key babo itu belum berubah menjadi anjing aku buru-buru menyeretnya meminta penjelasan. Setelah selesai penjelasan kilat tiga puluh detiknya itu, cerita bohong yang lebih masuk akal dari kisah binatang peliharaan yang bisa berubah menjadi manusia meluncur dari mulutku begitu saja. Aku bilang padanya kalau Key dibawa Jongwoon oppa jalan-jalan. Sedangkan Key yang di sini adalah tetangga – seperti yang diketahui eomma dan appa.

“Memangnya Kibum-ssi sejak kapan kenal denganmu? Bukannya kau tinggal di Jepang dengan sepupumu?” tanyanya lagi. Hahh… Ternyata ia masih saja curiga.

“Ingat, aku pindah ke sana waktu kelas tiga. Jadi, Kibum ini teman kecilku juga, sama seperti kamu dan Sungra,” jelasku. Aku melirik ke arah dapur. Key sudah berubah wujud belum ya?

“Kau suka pada Kibum sunbaenim?” tanya Minyeon tiba-tiba. Aku membulatkan mataku.

“Eh? Sunbaenim?” tanyaku.

“Ne. Bukannya dia anak kelas tari? Ini sudah tahun keduanya bukan? Dia jadi kingka di situ sejak tahun lalu sampai Minho dan Taemin juga masuk sekolah kita tahun ini,” balas Minyeon. “Masa kau tidak tahu? Kau kan teman kecilnya?”

  Ugh.. Ternyata Minyeon masih menginterogasiku…

“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang lebih tua denganku, makanya aku lupa,” balasku tersenyum canggung.

“Ohh,” gumamnya. “Jadi kau benar-benar menyukainya,” sambungnya. Mwo?!

“Hah? Kok bisa??” pekikku tertahan.

“Pertama, kau tidak menganggap Kibum sunbaenim sebagai orang yang perlu dihormati, jadi dengan kata lain kau merasa akrab dengannya. Kedua, ia kau seret-seret tadi pagi di kelas. Ketiga, yang menculikmu dari aku dan Sungra saat makan siang tadi Kibum sunbaenim. Keempat, ia menggendongmu sepulang sekolah tadi. Lucu sekali! Kelima, kau menamai anjingmu dengan nama yang sama dengan Kibum sunbaenim. Terakhir, ia berada di rumahmu dan kau berkali-kali melirik ke arah dapur dari tadi,” jelasnya panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.

  Minyeon-ah, kau benar-benar aneh.

Tidak kusangka ia akan penasaran dan curiga terhadap topik yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.

“Aku tidak menyukainya,” jawabku jujur, singkat, padat, dan jelas.

“Ey.. Seolma,” gumamnya lagi. “Padahal kalian lucu sekali!”

“Lucu apa-”

Ting.. Tong..

Siapa sore-sore begini datang? Kukira cuma Minyeon yang akan datang.

“Aku buka pintu dulu ya,” gumamku pada Minyeon sebelum aku bangkit dari tempatku duduk dan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, sepupuku yang selama ini menemaniku di Jepang sudah berdiri sambil tersenyum di depan pintu.

“Oppa!!!” seruku memeluknya. “Eh, tunggu, kau kok di sini?” tanyaku.

“Aku liburan di sini!” balas Onew.

“Jinjja? Waa!!” seruku bahagia melupakan masalah apa yang barusan menimpaku.

“Eh, dapur di mana? Aku haus!” rengek oppa menerobos masuk. Dapur? Oh tidak…

  Key!! Key!! Key!! Berubah!! Cepat!!

“O-oppa! Aku saja yang ambilkan air!” seruku menyusulnya sebelum ia sempat ke dapur.

“Oh? Aku sudah di dekat dapur aku saja yang ambil,” balasnya berteriak. “Kau bawa teman ke sini?” lanjutnya. Eh?! Kibum ketahuan?!

Aku segera berlari menuju ke tempat di mana oppa berada – di depan dapur, di ruang makan. “Ne?”

“Kenapa temanmu kau tinggal sendirian? Dasar,” ceramah Onew menunjuk Minyeon yang duduk bengong menatap oppa-ku. Eh? Untung Onew belum masuk!

“Eh… Hehehe. Mian…,” gumamku.

“Ya sudah,” balas Onew oppa masuk ke dalam dapur.

Baru saja aku akan kembali ke Minyeon sampai aku teringat sesuatu.

 DAPUR!!!!

“Eh?! Opp-”

“YAH!! LEE HARIN!!” pekik oppa. Oh tidak!! Ketahuan?!! Sepupuku yang satu ini paling suka mengomel kalau aku dekat-dekat dengan teman cowok.

“N-ne?” aku menggeser langkahku perlahan ke dapur sambil ketakutan.

“Kenapa kau biarkan jendelanya terbuka kalau ada tikus atau kucing liar masuk bagaimana??” omelnya menutup jendela dapur. Eh? Mana Key?

“Ah… Jalmothaesseoyo! Joeseonghamnida,” ujarku.

Aku berjalan keluar sambil terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tak berujung.

  Mana Key?

  Melompat keluar jendela?

  Memangnya Key bisa menghilang?

  Tunggu, dia bukan jin kan?

  Apa dia sudah berubah wujud?

  Sedang di halaman?

“Harin-ah wae?” tanya Minyeon.

“Uh? A-aniya. Aku mau ke halaman dulu sebentar, hehe,” ijinku. Hari ini sepertinya merepotkan sekali.

“Key!” panggilku pelan supaya tak terdengar Onew dan Minyeon. “Yah! Key!”

“Woof!” Key keluar dari semak-semak dan berlari menghampiriku. Aku menghela nafas.

“Syukurlah kau tidak ketahuan oleh Onew,” gumamku. “Ayo kembali,” aku menggendongnya masuk ke dalam.

“Yah! Lee Harin kenapa temanmu kau tinggal lag- geuge mwoya??!” seru Onew menjauh saat melihat Key. Oops.. Aku lupa oppaku ini agak takut kalau melihat binatang peliharaan ataupun anak kecil.

“Tentu saja ini anjing, masa ayam,” jawabku. Aku melewatinya dan masuk menghampiri Minyeon.

“Minye-”

“Harin-ah!! Tadi itu siapa??” tanyanya mengerjap.

“Hah? Itu oppa-ku, sepupuku dari Jepang,” jawabku.

“Kau tidak pernah bilang kalau sepupumu lucu seperti itu!” omelnya. Aku mendesah.

“Yah, kau di sini untuk melihat anjingku bukan sepupuku,” gerutuku. “Ini Key,” aku meletakkan Key di meja. Key cuma diam saja menatap Minyeon datar. Minyeon mengernyit dan memicingkan matanya pada Key.

“Ini anjingmu?” tanyanya. Ia lalu menarik salah satu kaki Key dan mengangkatnya terbalik.

“H-hey!” seruku. Ia tersenyum licik.

“Akan kuturunkan kalau kau mengaku kau suka dengan Kibum sunbaenim,” ujarnya. Key sudah meraung-raung minta diturunkan dan menatapku tajam minta tolong.

“Minyeon-ah, bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak menyukai Key,” gerutuku. “Mana mungkin aku bilang aku suka pada Key!” omelku. Dia tidak sadar sih kalau Key sekarang sedang di hadapan kami! Bisa ditertawai aku!

“Ayolah! Tidak usah jujur juga tidak kenapa-kenapa! Cuma bilang saja, habis ini aku tidak akan menganggumu dengan Kibum lagi!” ia tertawa lebar.

“Haish! Geurae,” aku menarik nadas dalam-dalam. “A-aku…,” aku melirik ke arah Key yang sedang tergantung. Ia seakan mendelik menyuruhku cepat.

“A-aku….suka pada Key,” gumamku.

“Yay! Baiklah, ini anjingmu!” ia menyodorkan Key yang sepertinya sudah lemas karena digantung terbalik terus.

Key’s POV

Ugh!! Dasar!! Siapa sih orang itu seenaknya saja menggantungku begitu! Lihat saja kau besok di sekolah! Ukh! Kalau kau bukan teman Harin sudah habis kau!

Aku langsung berlari kecil ke pelukan Harin. Harin juga sih! Lambat sekali!

Tapi….kata-kata Harin tadi serius atau tidak ya? Kalau serius…..

T-tunggu! Apa-apaan sih aku ini?! Kok malah berharap begitu! Cih! gadis cerewet itu mau suka padaku, mau tidak suka padaku, aku tidak peduli!

 Ya! Usir temanmu itu! Menyebalkan sekali!

Aku melirik Harin tajam-tajam. Ia mengernyit dan balas menatapku. Ugh! Tidak mengerti?!

“Eh…, Minyeon-ah,” gumam Harin melirik ke arahku lalu kembali ke temannya. “Sudah sore, kau tidak pulang?”

“Ah, iya! Hehehe, aku lupa mau mengerjakan tugas. Ya sudahlah, aku pulang ya!”

“Neee~~~”

Akhirnya diusir juga.

Harin’s POV

“..Temanmu menyebalkan! Kau tahu??” gerutu Key kesekian kalinya. “Hih!! Kalau saja aku tidak berwujud anjing aku sudah meledakkan kepalanya!”

“Kau sudah mengatakan itu..,” aku melirik ke arah jam dinding. “..sejak dua jam yang lalu,” balasku. Aku membereskan buku-bukuku dan bersiap menulis PR.

“Kenapa kau berteman dengan orang-”

“Aneh,” aku memukul kepalanya cukup keras dengan kamus tebal. “Kau mengucapkannya sepanjang hari, Key.”

Ia mengusap-usap kepalanya sambil berdesis kesakitan. “Aku kan cuma mau bilang kalau temanmu-”

“Key!” potongku cepat. Ia cemberut menutup mulutnya. Kalau saja dia tadi tidak melompat ke arahku, lagi, mungkin sekarang dia hanya bisa mengeluarkan gonggongan tak jelasnya dan tidak mengomel panjang lebar. Kurasa lain kali aku harus mendorongnya kalau melompat ke arahku. “Kalau kau tidak diam aku tidak akan mau mengubahmu menjadi manusia lagi,” ancamku.

“Jahat sekali kau,” gerutunya. “Tertular temanmu ya?” tanyanya. Aku tak menggubrisnya, hanya diam berkutat dengan PR-ku.

“Mwohae?” tanyanya mendekat melihat pekerjaanku.

“Kerja PR,” jawabku singkat. “Kau kan sudah kelas dua masa tidak ada PR?”

“Aku malas mengerjakannya. Bantu aku,” rengeknya. Aku mengernyit.

“Kan yang kelas dua kau, aku kelas satu! Kok aku yang membantumu?? Bukannya kebalik?” tanyaku.

“Aku banyak bolos di semester terakhir kelas satu, hehe,” ujarnya sambil tertawa seperti orang bodoh.

“Kok bisa naik kelas?!” pekikku.

“Itu karena kedudukanku di sekolah,” ia mulai mengganti posisi duduknya dengan gaya angkuh. “Dengan jentikan jari saja aku bisa menutup sekolah itu.”

“Memangnya kenapa?”

Ia melirik ke arahku dengan wajah seakan mengatakan ‘sudah-jelas-kan-kenapa’.

“Semua orang juga tahu. Tebak saja,” ia tersenyum berlagak.

“Karena kau orang jahat?” tanyaku polos. Di pikiranku cuma itu. “Kau teroris, yang mengancam kepala sekolah kalau tidak dinaikkan, benar bukan?”

Wajahnya langsung berubah masam. Ia menatapku dengan datar. Sebelum akhirnya menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.

“Ya! Lihat jelas-jelas! Wajah tampan begini masa kau bilang wajah teroris?!” serunya. “Aish jinjja! Kau yeoja aneh!”

“Memang mirip teroris kok! Aku saja takut melihatmu,” aku memasang wajah meremehkan. Ia mendelik ke arahku.

“Ya!!! Kau tidak pernah orang tampan ya?! Di Jepang yang kau lihat apa?? Kartun?? Doraemon??”

“Matamu mirip sekali dengan Suneo!” jawabku spontan.

“Ck!! Neo!! Mataku jauh lebih elit dari gambar kartun! Lihat dengan jelas!! Grahh!! Kau yeoja aneh!!” pekiknya.

Aku menutup kedua telingaku saat dia berteriak histeris hanya karena kubilang teroris. Dan mirip Suneo. Yang aneh itu kau! Namja atau bukan sih!

“Mwoya! Diamlah sedikit! Sampai eomma-ku dengar kau tidak boleh makan hari ini! Titik!” desisku membekapnya.

“Ya! Aku ini Kim Kibum! Anak dari Kim Junmin, salah satu pemilik perusahaan ternama di Seoul! Kenapa di samakan dengan tokoh kartun pendek sipit dan bermulut aneh begitu sih?! Aish!” serunya. Woahh… Anjing ini konglomerat ya?

  Eh?! Tunggu dulu! Sepertinya aku pernah mendengar nama tadi!

“Kim Junmin?” tanyaku. Key terdiam membulatkan mata sipitnya.

“E-eh?” ia mengusap-usap tengkuknya. “A-aniya! Siapa itu Kim Junmin! Aku tidak ken-”

“Yang rumahnya di ujung blok ini kan?” tanyaku menatapnya curiga. “Kau tinggal di sana? Kenapa tidak bilang jujur!” pekikku. Ia terdiam.

“Kau bohong padaku! Kau…kau…,” aku menatapnya tajam.

“Kau suka sekali sih mengganggu hidupku! Tiap hari minta ini minta itu! Tidak bisa apa-apa!” omelku.

“Kalau kau punya rumah, kenapa tidak pulang?? Haish! Menyusahkan saja kau ini!” gerutuku.

“Aku tidak bisa pulang,” gumamnya suram. Aku berhenti mengomel dan menatapnya. Ia menunduk sehingga wajahnya tak begitu terlihat. Aku baru menyadari kalau dari tadi ia hanya diam. Apa aku keterlaluan?

“K-key?” panggilku. Ugh! Aku jadi merasa bersalah! Dan bingung. Kenapa yang bohong Key tapi yang merasa bersalah malah aku?!

Ia mengangkat kepalanya. Tapi kali ini ekspresinya benar-benar membuatku membisu. Matanya berkaca-kaca sedih tapi ia tersenyum padaku.

“Kalau kau memang keberatan aku tinggal di sini, aku cari tuan lain saja,” gumamnya. Aku terdiam. Tuan lain?

  Bukankah ini bagus? Ini yang kuharapkan, iya ‘kan? Aku selalu ingin Key menyingkir dari hidupku dan aku kembali menjalani hidup normal, iya bukan?

Aku mengerutkan alisku begitu sadar apa yang baru saja melintas di kepalaku. Kenapa aku mempertanyakannya? Kok aku malah ragu-ragu? Bukannya aku membenci Key?

  Tapi kenapa sebagian besar dari diriku mengatakan semua itu salah?

“Yang penting kau izinkan aku menginap di sini, semalam lagi saja, besok aku akan pergi, yaksok,” ia tersenyum. Aku tak melihat kebohongan di matanya. Tapi entah kenapa itu malah membuatku khawatir.

  Kuharap kau bohong Key…

“K-kau..,” ujarku. Aku menelan ludah karena sepertinya ada yang mengganjal di tenggorokanku. “Kau pergi saja! Kemana pun kau mau! Aku tidak peduli asalkan kau menghilang!” seruku.

  Tokk.. Tok..

“Harin-ah!” seru Onew oppa dari balik pintu. “Boleh aku masuk??” tanyanya. Aish!

“Key, sembunyilah dulu di lemari!” aku mendorong Key masuk ke dalam lemari.

“Hariiin~~” Onew oppa menerobos masuk ke kamar. “Sedang apa? Mau ganti baju?” ia menunjuk ke lemari.

“A-ani!” balasku. Aku berlari ke arahnya lalu menyeretnya duduk di kasur. “Ada apa kemari?”

“Makan malam,” ia tersenyum lebar. “Ahjumma membuatkan ayam goreng!” matanya berkilat-kilat penuh semangat.

“Ahh, ne. Kaja,” aku menarik tangannya sambil sesekali melirik ke arah lemari. Seakan kalau kutinggal sebentar saja Key akan menghilang.

“Harin? Kau lihat apa?” tanya Onew menatapku aneh. “Benar-benar mau ganti baju? Kau menyembunyikan sesuatu??”

“Ani!” balasku mengerjap. Ia menatapku curiga sejenak sebelum akhirnya menyerah dan mengajakku turun untuk makan malam.

To Be Continued…

Anneyong!!!
Mian kalo updatenya kependekan, soalnya dipotong buat chapter berikutnya ^^
Author nggak tau masih bisa update apa nggak, tapi diusahain! 🙂
Comment pls~

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: