Tag Archives: Siwon

Fake Twins In Love?! [Part 8 – END]

Sungra’s POV

  Aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak dengan semak-semak di sisi kanan dan kiri jalan. Aku masih hafal benar jalan menuju kolam ikan kakek Yakamatsu yang sudah bertahun-tahun tak kudatangi mengingat sang kakek meninggal saat aku berusia sembilan tahun. Di sana aku dan Siwon sering bermain dulu. Kami memberi ikan-ikan itu makanan sampai sore, lalu kami melihat matahari tenggelam.

  Setelah menyibakkan beberapa ranting dedaunan yang nenutupi jalan akhirnya aku tiba di sebuah pondok tua yang tak terurus. Masih terlihat kolam ikan berpagar bebatuah dan rerumpun bambu yang sudah menguning. Terdengar pula suara air gemercik dari sungai kecil dekat kolam, yang juga sumber air di kolam itu.

  Kakek Yakamatsu dulu sering menyuruh kami melihat-lihat sambil duduk di halaman rumah. Ia selalu menyuguhkan kami teh dan roti-roti buatannya. Kakek tinggal sendiri. Ia datang dari Jepang sejak ditinggal istrinya, saat aku dan Siwon masih belum lahir. Ia orang yang rajin dan dekat dengan alam.

  Aku berjalan mendekati kolam tersebut. Batu-batunya agak kehijauan tertutup lumut. Airnya masih jernih walaupun ikannya sudah tinggal sedikit karena banyak yang mati tak terawat. Namun bisa kulihat ikan-ikan kecil berenang dengan lincah. Sepertinya ikan baru?

  Tiba-tiba pandanganku teralih ke sepucuk surat berwarna kuning yang terselip diantara rerumpun bambu. Ck.. Siwon… Untung saja aku menemukannya. Warna bambu dan kertasnya tidak berbeda jauh.

  ‘Boo~!

   Tidak kusangka kau lama sekali. Ckck..

   Untung saja kertas ini belum basah!

   Bagaimana ikannya? Aku baru saja membelinya.

   Hey, kau tahu di mana tempat kau menemukan warna kuning abadi?

   Kalau kau lupa aku tidak akan memaafkanmu!

    -Siwon :)’

  Ternyata benar ikannya baru. Ahh.. Kurasa aku harus sering-sering ke sini dan membantu melanjutkan pekerjaan kakek Yakamatsu untuk merawat ikan-ikan ini. Hmm.. Mungkin juga bisa membuat taman kecil di halaman?

  Lalu pikiranku tiba-tiba kembali ke kertas kuning berbentuk hati tadi.

  Warna kuning abadi… Aish! Kenapa Siwon memakai semua istilah masa kecil! Aku punya masalah dalam mengingatnya!

***

  Aku berjalan menyusuri trotoar di salah satu jalan besar di Seoul sambil memikirkan tempat yang dimaksud Siwon. Sepertinya tempat itu kudatangi sebelum aku berusia genap lima tahun malah.

  “Oh? Sungra!” aku menengadah melihat Harin berlari kecil dari pintu perpustakaan kota ke arahku. Aku melambaikan tanganku.

  “Harin-ah, annyeong!” sapaku. Ia berhenti tepat di hadapanku.

  “Kau mau ke mana?” tanyanya. “Temani aku ke Gimpo airport,” sambungnya. Aku terbelalak.

  “Hah? Loh! Loh tunggu! Aku tidak bisa!” aku menggeleng kuat-kuat. Ia mengernyit.

  “Oh? Kami akan liburan ke Jeju, kau tidak tahu? Kami sudah menyiapkan barang-barangmu. Kau mencari Siwon bukan? Kalau kau ikut, kau akan menemukannya,” jelasnya. Ia menarik tanganku.

  Setelah memanggil taksi, dalam lima menit kami sudah tiba di Gimpo airport. Harin langsung membayar taksi dan menarikku masuk. Ini bukan bercanda?! Tunggu! Ini bukan musim liburan kok tiba-tiba begini?! Hey! Siapa yg membayar tiket pesawatku?

***

  Tiga puluh menit dalam pesawat tidak begitu terasa lama. Sekarang kami sudah menapakkan kaki ke ‘Surga Korea’ ini. Angin di Jeju Island memang berbeda dengan di Seoul. Harin, Minyeon, Heerin dan Heechan menarik koper masing-masing di susul Donghae, Kyuhyun dan Key. Aku masih belum melihat Siwon sejak tadi.

  “Ayo ke resort dulu!” ajak Heerin bersemangat

  Setelah membereskan barang-barang di kamar, aku kembali membaca kertas kuning tadi. Berarti tempat berwarna kuning yang dimaksud ada di Jeju bukan? Saat ke Jeju dulu umurku baru sekitar empat tahun tiga bulan. Aku tidak ingat persis pergi ke mana saja.

  “Sedang apa?” tanya Minyeon tiba-tiba muncul. Aku terlonjak kaget. Dia ini suka muncul di mana pun ya? ==

  “Memecahkan surat yang lain,” jawabku kembali mengerutkan alis membaca suratnya lagi.

  “Waaaahh! Lihat!! Sini! sini!” Harin berlari ke arah kami dan menarik tanganku dan Minyeon ke arah jendela besar dari kamar resort kami.

  “Dari sini pemandangannya bagus sekali!” seru Harin menunjuk-nunjuk keluar. Pandanganku mengikuti arah jari telunjuknya. Terlihat hamparan bunga berwarna kuning menyelimuti rerumputan di sana. Aku mengerjap.

  “Ah! Aku harus pergi!” aku segera berlari keluar. Aku baru paham apa maksudnya!

***

  Aku menyipitkan mataku mengurangi cahaya matahari yang menyilaukan. Menyusuri jalan setapak berbatu aku akhirnya tiba di depan sebuah pohon tinggi besar. Aku ingat persis dulu ada ayunan sederhana di sini, tapi sekarang kok sudah tidak ada ya? Dulu aku dan Siwon pasti berebut untuk naik ayunan itu.

  Aku berjalan mengitari pohon itu. Pasti ada surat lagi di sini. Tapi kenapa aku sama sekali belum melihatnya ya?

  TUK!

  Kurasakan aku menendang sesuatu. Sebuah mulut botol menyembul dari dalam tanah. Aku mengernyit. Siwon gila! Dia mau aku menggali tanah?!

  “Aish! Ige mwoya ige?!” gerutuku. Aku menarik-narik gabus penutup botol itu kuat-kuat. Seserat apa sih Siwon memasangnya? Ini sama sekali tidak bisa terbuka!!

  “Aiya! Siwon babo! Babo! Babo!” omelku masih menarik-narik penutup botolnya. “Sebenarnya dia sedang main petak upet atau apa sih?!”

  Setelah seperti tanganku sudah melekat di tutup botol itu selama berjam-jam akhirnya tutupnya terbuka. Dengan konsentrasi penuh aku berusaha mengeluarkan gulungan kertas hijau di dalamnya. Untung saja kertas itu tidak terlalu kecil dan dalam untuk kuraih dengan jari-jariku.

  ‘1080..1081…1082…

   Ah! Kau di sini rupanya!

   Lama sekali kau tahu, aku menghitung sampai capek =3=

   Kau tidak menyangka kan sekarang ada di Jeju-do?

   Sama aku juga ._.

   Hey, Sungra!

   Aku sedang tersesat di satu tempat >.<

   Tolong akuuuu T.T

   Disini terang, agak basah, dan berwarna hijau!

   Cepat!

  -Siwon’

  Aku mengernyit sebelum menghela nafas panjang-panjang. Siwon benar-benar gila! -_-

***

  Menyusuri jalanan yang tenang dan asri aku terus-terusan memikirkan tempat hijau yang dimaksud Siwon. Sepanjang jalan kepalaku terus-terusan memutar masa kecil kami di Jeju. Aku memang tidak begitu hafal persis, tapi setidaknya masih ingat samar-samar sekali pun.

 

  Tempat berlapis kaca itu menarik perhatianku. Kaki-kaki kecilku tanpa sadar berjalan menjauhi rombongan. Dari luar aku bisa melihat dedaunan hijau rimbun menghiasi rumah kecil itu.

  Titik-titik air membasahi daun-daun hijau segar. Ada tanaman yang di gantung ada juga yang diletakkan di lantai. Tapi udara di sini cukup segar daripada di Seoul.

  Setelah melewati beberapa rak tanaman aku merasa kelelahan. Kupikir istirahat sebentar di bawah meja juga tidak apa-apa.

  Tiba-tiba langit menggelap dan aku bisa mendengar suara-suara gemuruh. Aku hanya menatap langit gelap dari balik atap kaca. Sepertinya akan ada hujan badai.

  “U-uuh….,” aku meringsut di bawah meja. Aku sedang berada di tempat asing, sendirian, dan aku tidak tahu kapan badai ini berhenti.

  “Eotteohkaji??” gumamku aku kedinginan kalau terus-terusan berada di sini.

 

  Aku membuka pintu rumah kaca itu. Dulu saat aku ke sini tinggiku masih sepinggangku sekarang. Tapi udara sini tidak  berubah, masih terlihat segar.

  “Hmm? Apa ini yang dimaksud Siwon?” gumamku melihat ke sekelilingku. Tidak lama, aku pun menemukan meja tempatku bersembunyi dulu.

 

  “Pstt..!!” seseorang menepuk-nepuk pundakku. Aku membuka mataku dan melihat Siwon di depanku. “Sungra-ya, kau ini pergi ke mana saja sih? Ayo pulang sebelum hujan,” ia mengulurkan tangannya padaku.

  “Huweeeeee,” aku langsung merengek dan memeluknya. “Aku takut! Ayo pulang! Ayo pulang!”

 

  Aku terkikik geli. Kalau dilihat-lihat lagi ini sama sekali tidak menyeramkan, tapi kok aku bisa takut ya?

  Aku berjongkok di depan meja kayu yang ada di sana dan melongok ke dalam. Tepat seperti dugaanku, sebuah kertas berbentuk hati berwarna biru terlekatkan di bawah meja.

 

  ‘Hey! Kau lama sekali! =3=

   Kakiku bisa keram kalau harus bersembunyi di bawah meja sekecil ini! –“

   Pergilah ke tempat di mana kau bisa berada dekat dengan langit.

   Lalu kau harus bersilkap baik pada yang akan kau temui!

   Go! Go! Ppali!

   -Siwon’

 

  Aku melirik ke jam tanganku. Ini sudah hampir malam. Setidaknya aku harus menemukan Siwon sebelum kembali. Dia berkeliaran di luar sana. –”
  Menghela nafas super panjang aku bergegas keluar dari rumah kaca itu dan melihat sekelilingku. Kemana aku harus pergi ke tempat yang dekat dengan langit?! Aku harus mengukur semua tinggi gedung di sini?!

  Trrrtt…. Trrrrtt…

‘Sungra kau di mana? Sebentar lagi makan malam, kau makan dulu sini baru pergi lagi. Di pantai! Ppyong~<3!!
-Minyeon’

  Hahh… Baiklah.. Lagipula aku sudah lapar. Mungkin juga aku bisa dapat petunjuk di pantai.

***

  “SUNGRA~~~!!!!!” pekik Harin berlari ke arahku diikuti Minyeon dan Heerin meninggalkan para namja memasak makanan kami.

  “Dari mana saja kau? Hampir saja makanan kami ludes kau tahu,” gerutu Heerin. Aku menaikkan pundakku.

  “Aku ada urusan makanya aku datang di sini,” balasku. “Kalian masak apa?” aku menggandeng mereka menghampiri para namja yang kelihatannya kesusahan kecuali Key.

  “Jagung bakar ada, barbeque, ikan bakar, dan…roti!” Key mengangkat kipas tinggi-tinggi dan mulai memukuli kepala Donghae dan Onew. “YA!!! Itu sudah matang! Cepat angkat!!” pekiknya.

  “Mana Kyuhyun?” tanyaku pada Minyeon yang biasanya menjadi ‘GPS’ mencari Kyuhyun.

  Ia malah menaikkan pundaknya. “Key mengusirnya,” jawabnya. “Nanti kalau lapar juga datang sendiri. Eh, Sungra-ya, kau sudah mencoba ke sana?” ia menunjuk sebuah gedung mercusuar yang cukup tinggi. “Tadi kami ke sana, seru loh!”

  Aku memperhatikan mercusuar itu. Tidak ada salahnya mencoba?

  “Tapi ayo makan dulu!!” seret Harin menyuguhkan makanan yang sudah matang.

***

  Seperti yang sudah kurencanakan, akhirnya aku melangkahkan langkah terakhirku di atas mercusuar. Tangganya untung tidak terlalu banyak. Dan mercusuarnya cukup terang!

  Aku berdiri menghadap laut. Langit sudah mulai gelap dan aku bisa melihat bintang samar-samar berkedip. Bau air laut bisa tercium jelas. Anginnya sepoi-sepoi seiring dengan deru ombak.

  Sekarang aku harus mencari di mana surat berikutnya!

  Aku berbalik dan menemukan seekor merpati dalam sangkar putih di pojokan. Aku mengernyit. Mungkin aku harus melepaskannya?

  Aku hampir saja melepaskannya sampai akhirnya menyadari ada sepucuk surat berwarna ungu terikat di kaki kanan merpati itu. Ah, di sini rupanya. Akhirnya sebelum melepas merrpati itu aku mengambil suratnya terlebih dahulu dan membiarkan merpati itu terbang.

  ‘HOYYY~~~!!!!
  Ketemu juga! ><“

  Hmm… Kalau kutebak, sekarang sudah mulai malam bukan?

  Kau lihat saja langitnya, nanti kau akan tahu aku di mana, dan segera datang ara?

  -Siwon Choi

  Hahh… Baguslah, kupikir ini sudah titik puncaknya. Aku sudah capek! =.=

  Aku mendongak menatap langit-langit. Hahh… Bintang-bintangnya terang sekali. Di Seoul aku belum pernah melihat bintang seperti itu.

  “BOO!”

  “KYAAA!!!” aku terlonjak begitu merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku spontan langsung berbalik dan melihat Siwon berdiri di belakangku sambil tersenyum bangga seakan-akan ia tidak melakukan kesalahan apa pun. “YA!! CHOI SIWON!!”

  “Hehehe, puas jalan-jalannya?” tanyanya santai.

  “Jalan-jalan apanya?! Aku capek tahu!!” gerutuku kesal.

  “Nanti kupijitin deh~” rayunya.

  “Ck! Dasar babo!”

  “Enak saja babo! Aku kerja keras tahu!”

  Aku mengernyit lagi. “Sebenarnya ini buat apa sih?”

 Hening. Ia terlihat kebingunga.

  “Ngg….,” ia menggosok-gosok tengkuknya. “Sebenarnya ada yang mau kukatakan,” gumamnya.

  “Ya?”

  “Hmmm… Tapi aku mau tanya dulu….”

  “Tanya saja,” balasku singkat.

  “Menurutmu kita saudara?” tanyanya menatapku. Aku terdiam.

  “Kita….Sudah bukan saudara lagi kan??” aku memastikan. Ia mengangguk.

  “Bukan saudara berarti bukan keluarga lagi?” tanyanya lagi. Aku mengangguk perlahan-lahan.

  “Hngg…,” ia mendesah pelan. “Aku…mau kita jadi keluarga lagi,” gumamnya.

  “Eh? Mwo?” aku memiringkan kepalaku. Keluarga lagi? Kenapa memangnya dengan keluarganya di Jepang?

  “Em.. Aku mau kita jadi keluarga lagi.  Bukan sekarang, mungkin. Erkhh.. Entahlah. Aku mau kita jadi keluarga lagi. Tapi kali ini berbeda,” ujarnya tanpa henti. “Aku mau kau yang berubah marga sama denganku.”

  Aku mematung di tempat. Aku berubah marga….sama dengannya? Maksudnya…..

  “Saranghae,” gumamnya lagi. “M-mian kalau buru-buru! T-tapi aku sungguh-sungguh kok!” kulihat pipinya memerah, dan sepertinya sama denganku.

  Suasana berubah hening lagi. Kali ini aku yang kebingungan. Aku masih ragu-ragu sebenarnya aku juga berpikiran sama dengan Siwon atau tidak.

  “Aku bingung,” gumamku menunduk. Ia hanya terdiam begitu juga aku.

  “Mau kubantu berpikir?”

  “Hah? maksudm-” kalimatku terpotong begitu ia menarikku ke dalam pelukannya dan bibirnya melekat manis di bibirku.

Author’s POV

2 Years Later…

  “NOOONAAAAAA” pekik anak berusia kurang lebih tiga tahun itu berlari ke pelukan Sungra yang sedang duduk menonton TV.

  “Wae, Sungwon-ah? Sejak kau memanggilku noona kau jadi lebih berisik,” gerutu Sungra memeluk Sungwon.

  “Noona!” panggilnya lagi mengabaikan omelan Sungra. “Ada tamu!”

  “Tamu?”

  “NOOOOONAAAAA!!!!!!” seru seseorang lagi menggedor-gedor pintu. “NOONAAA!! KAU DI DALAM KAN?!! SIAPA ITU TADI?!!”

  Sungra dan Sungwon duduk bertatap-tatapan.

  “Seolma…,” gumam Sungra.

  “Sungra, siapa itu kok kamu nggak buka pintunya?” Siwon muncul dari tangga menunjuk ke arah pintu.

  “Itu-”

  “NOONA AKU KEMBALI!!!!!!” Sungjae menyeret kopernya masuk ke dalam rumah. Ia segera berhenti begitu melihat Siwon dan Sungwon.

  “Noona, Nugu?” tanya Sungjae polos. “HOH?!!!! NOONA KAU KAPAN MENIKAH DAN PUNYA ANAK!?!” pekiknya.

  “Aniya!!” Sungra langsung menggoyang-goyangkan tangannya. “Ini Siwon dan ini Sungwon, uh, mereka…?”

  “Sungra aegi~!! Appa pulang~!! Kudengar Siwon juga datang di sini??” ayah Sungra langsung tiba-tiba muncul dari pintu. “OMO! Siwon-ah kau sudah besar sekarang! Eh, Tolong bantu keluarkan barang bawaan dari mobil,” perintah appanya.

***

Sungra’s POV

  Kedatangan Appa, Sungjae dan eomma sangat mengejutkan. Setidaknya aku harus menjelaskan ulang apa yang pernah kujelaskan pada teman-temanku.

  “Lalu berarti noona sudah tinggal dengan hyung……bertahun-tahun?!” Sungjae membulatkan matanya “Seolma! Kenapa cuma aku yang tidak tahu!”

  “Erh.. Sungra-ya, Siwon-ah…,” ujar appa. “Sebenarnya appa ke sini mau bilang sesuatu,” tambahnya.

  “Ne?”

  “Kupikir karena sekarang kalian pacaran jadi lebih mudah mengatakannya,” ujarnya lagi. “Sebenarnya appa ke sini mau bilang kalau kalian dijodohkan dan-”

  “MWO?!”  pekikku dan Siwon.

  “Jadi abeonim merestui kami?!” tanya Siwon. Aku meliriknya tajam.

  “Tentu saja! Siwon kan anak yang baik!” girang appa. Hah jinjja! “Lagipula kami sudah merencanakannya sejak mengirim Siwon ke sini 2 tahun yang lalu~!”

  Appa sudah merencanakannya ternyata -_-

  “Untung saja kami saling suka, kalau tidak aku tidak akan memperbolehkan appa masuk ke rumah ini,” gerutuku. Toh, sama saja yang penting aku berakhir bahagia dengan Siwon!

THE END

AANYEEEONG!!!! *teriak*
Lama banget ya ga update –” mian hehe
mian juga endingnya geje ._.
buat yang mulai sekolah, rajin-rajin belajar!! >.<
Fighting!!!!

COMMENT PWEAASEEE~~~

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 7]

Sungra’s POV

  Aku duduk mengusap-usap kelopak mataku begitu terjaga dari tidurku. Menguap pelan aku memutar kepalaku ke kanan dan kiri. Cahaya matahari menyusup dari celah-celah tirai jendela ruang tamu yang hampir tertutup seluruhnya.

  Dengan cahaya redup yang kudapat, aku dapat melihat bahwa teman-temanku masih tertidur pulas di sleeping bag masing-masing. Mungkin aku yang bangun paling awal?

  Aku menarik nafas panjang-panjang sebelum akhirnya berdiri melipat sleeping bag-ku dan meletakkannya ke atas sofa supaya tidak ada yang tersandung. Aku melakukan stretching sejenak untuk merenggangkan ototku yang kaku sebelum berjalan perlahan ke arah dapur.

  Kriett…

  Mataku yang awalnya tertutup setengahnya sekarang sudah terbuka penuh. Aku memutar kepalaku ke arah sumber suara dan menangkap sesosok bayangan yang mengendap-endap. Siwon lagi?

  Aku memicingkan mataku ke arah bayangan itu. Badannya tidak seperti Siwon. Sama sekali. Badannya lebih pendek, gaya rambutnya sudah jelas berbeda.

  “Hey,” desisku melemparkan selopku tepat mengenai kepalanya.

  “Aish!!” desahnya. Aku merasakan ia melihat ke arahku sejenak lalu langsung berdiri dan terburu-buru berlari ke ruang tamu. Aneh sekali =A= apa dia Donghae? Kyuhyun? Onew? Sedang apa pagi-pagi begini sudah berkeliaran?

  Aku menaikkan pundakku tak peduli lalu kembali ke dapur mengambil segelas air mineral lau meneguknya. Setelah selesai dengan minumanku, aku berjalan ke counter, mengambil botol susu Sungwon dan membuatkan susu untuknya.

  Begitu sudah pas temperatur air susunya, aku mengocoknya sambil berjalan keluar menuju lantai atas. Setibaku di kamar aku langsung menuju ke arah di mana Sungwon berbaring dan menggendongnya perlahan. Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan mata hitam bulatnya yang menatapku lalu tertawa.

  “Eommaaa~” panggilnya senang. Aku terkikik geli dengan nada suaranya lalu mencubit pipinya gemas sebelum memberikan susu tadi padanya.

 

Author’s POV

  Donghae, Minyeon, Heerin dan Harin berkerumun di meja Kyuhyun. Dengan tersenyum lebar Kyuhyun melayang-layangkan ponsel milik Siwon yang diambilnya semalam.

  “Nah sekarang kita hanya perlu memikirkan bagaimana supaya mereka cepat jadian,” gumamnya melirik ke arah pintu, memastikan Siwon maupun Sungra belum memasuki kelas karena masing-masing sibuk dengan klub masing-masing.

  “Tapi Kyuhyun-ah, kalau gagal bagaimana?” tanya Donghae membenahi letak kacamatanya untuk kesekian kalinya. “Aigoo.. Ada yang aneh dengan kacamataku,” gumamnya. Kyuhyun terlihat menggigit bibir bawahnya setelah mendengar perkataan Donghae.

  “Jinjayo?” balas Minyeon melepas kacamata Donghae. “Ah! Sachon-ah! Kacamatamu tertukar dengan punyaku!!” serunya melepas kacamatanya sendiri yang serupa dengan milik sepupunya itu.

  “Ne? =A= bagaimana-”

  “Puahahahahahaaaa!!!” tawa Kyuhyun yang tertahan langsung membahana mengguncang kelas itu. “Aku menukarnya semalam. Kalian benar-benar saudara yang sama-sama pabo!” ejek Kyuhyun langsung menerima pukulan keras di kepala dari Minyeon dan Donghae, tidak terlupakan juga Heerin.

  “Lanjut ke masalah Siwon dan Sungra,” desis Minyeon.

  “Aish! Kalau kalian pukul kepalaku, otakku yang jenius ini bisa terbalik,” omel Kyuhyun memijit belakang kepalanya. “Kita bagi dua grup oke?” semua mengangguk lalu mereka mulai berbisik-bisik menyusun rencana.

 

Sungra’s POV

  Aku mengetuk-ketuk buku catatanku dengan ujung pensil. Aku mengembungkan kedua pipiku dan membaringkan kepalaku di meja ruang klub sastra. Pagi-pagi begini aku sudah harus mengurus beberapa berkas karena ketua klub tidak masuk. Tapi sebenarnya ada alasan lain aku menyendiri di sini. Masih terpikirkan dengan perkataan Siwon kemarin. Penasaran dengan ‘seseorang’ yang dimaksud.

  Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dia saudaraku, tapi entah kenapa mendengar ia punya ‘orang spesial’ terasa aneh. Seperti ada yang ganjil. Bukan hanya ada – tapi semua terasa mengganjal. Berat sekali rasanya…

  Tuk!

  Sesuatu yang keras menyentuh kepalaku. Mengerutkan alisku penasaran aku membalik arah kepalaku namun tetap terbaring di atas meja. Tepat di depan mataku terpampang jelas sebotol susu coklat.

  Tapi belum sempat kuraih botol itu, botolnya bergeser menjauh, digantikan dengan wajah seseorang yang juga berbaring di meja menghadapku. Ia tersenyum sambil menatapku. Aku hanya mendengus kesal. Dia satu-satunya orang yang ingin kuhindari saat ini.

  “Kenapa mukamu?” gumamnya menepuk pelan pipiku. “Badmood?”

  Aku hanya menghela nafas lalu menutup mataku sebelum membalik kepalaku lagi ke lain arah.

  “Aku mau istirahat,” balasku. Kurasakan ia mendengus kesal lalu beranjak dari tempatnya duduk.

  “Sungra-ya~” ia berpindah tempat ke depanku. “Kau marah kenapa?” lanjutnya sambil meletakan botol susu tadi ke pipiku. Aku hanya diam saja masih terpejam.

  “Kau tidak lapar? Tadi pagi kau tidak sarapan. Nanti-”

  “Aku tidak lapar, Siwon-ah..”

  “Kotjimal.”

  “Sungguh, aku tidak-”

  Kruuukk…

  Aku membuka mataku lalu menggigit bibir bawahku. Bohong sekali kalau aku tidak lapar.

  Kudengar Siwon terkikik lalu  memasang sedotan pada botol susu tadi. “Minumlah,” ujarnya menyodorkan susu itu padaku. Perlahan kuulurkan tanganku untuk meraihnya.

  Dengan menunduk aku meminum susu itu. Memalukan sekali tadi!

  Aku merasakan tangannya menepuk pelan kepalaku. Kuangkat kepalaku menatapnya yang tersenyum saja.

  “Minum yang banyak~” gumamnya. Aku hanya mengangguk pelan. Sekarang lupakan dulu semua masalah tak penting.

 

Siwon’s POV

  Aku membuka lokerku sambil memasukkan buku-buku ku. Aku menghela nafasku sejenak. Ponselku masih belum kutemukan. Padahal ponsel itu bisa membunuh rasa bosanku.

  Aku menyambar buku-buku catatanku untuk ujian minggu depan dan berjalan gontai ke kelas. Mungkin berbincang-bincang dengan yang lainnya bisa menghilangkan kebosananku.

  Aku melongok ke dalam melihat Kyuhyun, Donghae, Minyeon, Heerin, Heechan dan Harin berkumpul sambil mengobrol. Sungra tidak terlihat. Tentu saja, klubnya sedang sibuk.

  “Hey,” sapaku ikut membaur dengan mereka. Mereka terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku. Terurama Kyuhyun yang membelalakan matanya seakan melihat Lee sonsaengnim yang seringkali menghukumnya. Lalu aku mengernyit melihat benda di tangannya. “Kyuhyun, dari mana kau dapat itu?” tanyaku menatapnya tajam. Dia menyembunyikannya di belakang tubuhnya,

  “T-tentu saja abeoji-ku yang belikan!” serunya. Aku mengernyit.

  “Seingatku ponselmu yang ini,” aku meraih ponsel yang tergeletak di meja. “Berikan ponsel tadi padaku,” ia menggelengkan kepalanya.

  “Andwae,” jawabnya. Raut wajahnya berubah tenang. “Ada syaratnya,” kulihat ia tersenyum licik. Aku mengernyit.

  “Apa?” tanyaku.

  “Nyatakan perasaanmu pada Sungra,” jawabnya santai. Aku mematung di tempat.

  “Apa maksudmu?” tanyaku begitu aku sudah mencerna perkataannya.

  “Siwon-ah, kau bisa mengerti bahasa Korea bukan? Haruskah aku menjelaskannya dengan bahasa Jepang?” sindir Kyuhyun dengan santai memainkan ponselku. “Tentu saja maksudnya kau mengatakan kalau kau mencintai Sungra,” lanjutnya. Aku terdiam lagi bergulat dalam pikiranku.

  “Terserah. Ambil saja ponsel itu,” balasku pada akhirnya lalu berbalik hendak pergi.

  “Hm? Kalau begitu biar Donghae saja yang bilang pada Sungra kalau kau menyukainya,” seru Kyuhyun. “Aku ingin tahu reaksinya. Apalagi mendengarnya dari orang lain bukan mulutmu sendiri,” sambungnya. Aku kembali berbalik menghadap mereka.

  “Maumu apa sih, Cho Kyuhyun?” desisku.

  “Terserah kau. Kalau kau tidak mau kusuruh Minho saja yang-”

  “Diamlah!” seruku meraih kerah bajunya. Suasana langsung berubah sepi. “Aku bisa melakukannya tidak usah kau suruh! Kembalikan ponselku!” aku merampas kembali ponselku dari tangannya.

  “Tak perlu sekasar itu aku cuma mau membantu memberi saran,” celetuk Kyuhyun. Aku melemparkan death glare-ku ke arahnya yang ditarik Donghae menjauh.

***

  Sejak hari itu. Entah berapa kali setiap hari Kyuhyun selalu mengingatkanku untuk segera menyatakan perasaanku kepada Sungra. Kalau saja dia bukan salah satu teman Sungra aku sudah memenggalnya dan membakar kepalanya sampai menjadi abu!

  “Siwon~” panggil suara yang baru sekitar sejam yang lalu memanggilku dengan nada yang sama. “Bagaimana? Kau sudah mengatakannya??”

  Aku melirik ke arah Kyuhyun yang sedang mengunyah hamburger dari kantin. “Sudah kubilang tunggu saja waktu yang tepat,” gumamku.

  “Apanya yang menunggu waktu yang tepat? Bukankan sebentar lagi hari ulang tahunnya? Valentine sudah lewat, masa kau mau menunggu tahun depan?” omelnya. Aku terdiam. Benar, sebentar lagi ulang tahunnya Sungra!

  “Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku. Ia tersenyum lebar memamerkan barisan giginya.

  “Tentu saja kau harus membuat sebuah plan untuk menyatakan perasaanmu!” ia menepuk-nepuk punggungku. “Lakukan sesuatu yang unik!” nasihatnya. Aku meliriknya.

  “Lalu kau sendiri?” tanyaku. Ia mengernyit.

  “Apanya?”

  Aku menyeringai. “Kau menyukai Minyeon kan? Aku mengambil ponselmu kemarin,” balasku santai. Ia mematung menatapku. “Benar bukan?”

  Aku berdiri lalu berjalan keluar kelas. Belum sepuluh langkah dari kelas aku mendengar teriakan maniak game itu.

  “CHOI SIWON!!!! JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA!! Aish!! Bagaimana kau bisa mengambil ponselku?!!” teriaknya. Aku hanya tersenyum licik. Lihat saja kau Cho Kyuhyun. Setelah aku selesai berurusan dengan Sungra, kau akan kubalas!

 

Sungra’s POV

  Aku berjalan memeluk tumpukan buku jurnal klub yang dititipkan ketua padaku menuju ke lokerku. Ini sudah lewat jam pulang sekolah tapi aku harus menyelesaikan proyek klub kami berhubung ketua klub masuk rumah sakit. Lorong-lorong sudah sepi. Bahkan kelas-kelas sudah kosong. Mungkin hanya terlihat beberapa siswa bermain basket di lapangan.

  Setibaku di loker, aku langsung membukanya dan mendorong masuk buku-bukuku tanpa basa-basi. Tiba-tiba sepucuk kertas merah muda yang tertumpuk buku-buku tadi menangkap perhatianku. Mengernyitkan alis aku mengulurkan tanganku meraihnya. Sebuah kertas note kecil berbentuk hati.

  “Pulang, ke tempat war barrier.

   Buka kotak berwarna ungu.

    -Siwon”

  Aku mengernyit. War barrier? Di mana?
***
  “War Barrier?” tanya Minyeon sambil menyeruput orange juice-nya. Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil mengaduk-aduk ice mocca-ku.

  “Ne. Aku tidak mengerti maksudnya,” gumamku pasrah. Minyeon menyendok blueberry cheesecake ke mulutnya.

  “Hm.. Kalian sering bermain waktu kecil bukan?”  ia mengarahkan sendoknya padaku. Aku bergeming sejenak sebelum ikut mengangguk. “Di mana kalian biasa bermain?”

  “Mhm… Di.. Ruangan penyimpanan di atap,” jawabku mengernyit. Masa maksudnya di sana?

  “Coba dulu kau ke sana?” ujarnya menyendok cake-nya lagi.

  “Kau yakin? Maksudku, aku sudah lama sekali tidak ke sana,” aku meneguk minumanku. Ia hanya mengangguk.

  “Tidak ada salahnya kan kau coba dulu?”

***

  Setibaku di rumah, aku melemparkan tasku ke atas sofa. Aku melirik ke arah tangga. Benarkah aku harus ke sana?

  Perlahan aku menaikki tangga menuju ke ruang penyimpanan. Tempat ini tak begitu luas. Hanya ada tumpukan kotak-kotak dan kain bekas. Aku mengedarkan pandanganku. Di mana kotak berwarna ungu?

  “Sungra! Sungra!” seru Siwon berlari ke arahku. “Cepat sembunyi! Eomma sedang mencari kita!”

  “Waeyo?” tanyaku polos menggandeng tangannya.

  “Aku memecahkan kaca jendela,” ia cemberut lalu menarik tanganku. “Ayo! Palli!” aku hanya mengangguk dan mengikutiya ke balik lemari di dekat jendela.

  Aku memiringkan kepalaku dan berjalan ragu ke arah jendela, ke balik lemari tempat kami bersembunyi dan bermain. Menyibakkan tirai putih tipis aku menemukan sebuah kotak berwarna ungu seperti yang dituliskan di notes hati tadi. Aku membuka kotak itu dan deretan cokelat berbagai bentuk tersusun rapi. Perlahan seulas senyum terbentuk di wajahku. Setelah itu aku menemukan sepucuk kertas berwarna orange berbentuk hati.

  “Wahh~ Kau menemukannya! Bagaimana cokelatnya? Enak?

   Warna ini mengingatkanku pada koi dan sunset! ^-^ temukan aku!

    -Siwon”

  Aku mengernyit. Koi? Sebenarnya Siwon mau membawaku ke mana sih?

 

To Be Continued…

Annyeong!!!
Lama ya? ._. Mianhae author kira liburan bakal bisa lancar tapi ternyata  banyak urusan ^^v hehehe
Besok nilai UN keluar~~~ doain author lulus dengan nilai memuaskan! Author ga minta nilai sempurna karena author orangnya gak sempurna *apaan sih* cuma author udah berjuang yang terbaik jadi author kepengen setidaknya membuahkan hasil~!! AMIN!!! XD
Next, Happy Birthday to my Piggie Fake Twin, MinGi eonni!!! *nah lo author bawa2 judul*
Okay all! Lanjutannya author gak bisa pastiin kapan tapi segera~~ 😀
Di tunggu ya! Selamat menikmati!!
Buat yang besok liat hasil UN juga, author doain yang terbaik 😉

Gomawo~!!

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 6]

Siwon’s POV

  Perlahan-lahan kubaringkan Sungwon yang sudah terlelap ke kasur. Lalu segera aku keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga. Sudah jam lima sore tapi Sungra belum kembali. Aku berjalan menuju dapur dan mengambil cangkir dari rak. Aku melirik ke arah jendela dapur. Tetesan-tetesan air sebesar biji jagung terbentuk jelas memenuhi kaca jendela. Hujan. Aku menghela nafas lalu pergi menyeduh teh. Membuka kulkas aku langsung menyambar setoples madu dan potongan jeruk lemon. Belum sempat aku menuangkan teh hangat itu ke cangkirku kudengar pintu depan terbuka lalu tertutup diikuti. Tanpa sadar senyum kecil terbentuk di wajahku.

  “Aku pulang~” seru Sungra.

  “Aku di dapur, Sungra-ya,” balasku. Aku berbalik mengambil cangkir satu lagi. “Tunggu saja di ruang tamu! Kubuatkan teh!”

  Begitu kutuangkan seduhan teh ke cangkir-cangkir tadi asap-asap putih mengepul kecil. Kumasukkan sesendok madu ke tiap-tiap cangkirnya sebelum kucampur dengan air lemonnya.

  Aku berjalan ke ruang tamu dengan kedua tangan memegangi cangkir panas. Kulihat Sungra duduk memeluk lutut sambil menggosokkan kedua tangannya. Sebuah handuk kecil membungkus sebagian rambutnya sedangkan selembar selimut tebal sudah menyelubungi tubuh mungilnya yang menggigil kecil di sofa. Aku menempatkan diriku di sampingnya lalu menyodorkan satu cangkir teh padanya.

  “Gomawo,” gumamnya meniup-niup tehnya.

  “Chuwo?” tanyaku yang hanya direspon dengan gelengan. Aku mendesah pelan lalu mengulurkan tanganku ke arah handuknya. Pelan-pelan kuusap-usap rambutnya supaya kering.

  “Hati-hati flu. Setelah ini makanlah buah dan sayur yang banyak,” tegurku. Ia hanya mengangguk kecil.

  “Hatchii!!!” aku tersenyum kecil melihat ekspresinya yang lucu.

  “Aigoo.. Kau ini,” aku meraih tisu di meja sampingku. Menunduk ke arahnya, kuusapkan tisu pada hidungnya. “Kyeopta.. Hahaha!”

  Ia cemberut sambil menggerutu tak jelas. Aku hanya tertawa melihat reaksinya.

  “Oh iya,” gumamku begitu tawaku terhenti. “Kau tadi pergi dengan siapa?”

  “Ohh… Aku? Eh?? Memangnya kau melihatku? Kau juga pergi ke Myeongdong? Lalu Sungwon kau ajak?? Ah… Kenapa kau tidak memanggilku? Setidaknya aku tidak sendiri dengan dua ‘babo’ itu,” omelnya. Aku memiringkan kepalaku bingung. Dua?

  “Dua?” tanyaku. Kurasa aku hanya melihat satu.

  “Tentu saja dua. Atau kau melihat kami pergi berlima? Tadi kami berpisah dijalan, lalu-”

  “Chamkkaman! Maksudmu kau tidak hanya pergi dengan satu orang?” tanyaku lagi. Kini giliran dia yang mengernyit.

  “Tergantung sih….”

  “Tergantung apa?” tanyaku tak sabaran. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada dagu.

  “Tadi kami pergi berlima. Aku, Jeongmin sunbae, Onew sunbae, Babo Eli dan Babo Myungsoo,” gumamnya terhenti. Aku mengernyit. Kenapa dia pergi dengan begitu banyak namja?

  “Lalu?”

  “Lalu kami membagi dua kelompok untuk belanja keperluan. Aku pergi dengan Myungsoo dan Eli sedangkan Jeongmin dan Onew sunbae pergi ke tempat lain,” jelasnya. “Lalu aku dan Myungsoo pergi ke Milkshake stand selagi Eli menunggui barang belanjaan kami. Lalu kami berkumpul berlima untuk makan siang. Terus tiba-tiba Howon sajangnim menyuruh yang lainnya pulang meninggalkan aku dan Eli beserta barang belanjaannya.”

  Chamkkaman! Chamkkaman! Aku jadi tidak mengerti apa-apa. Belanja keperluan? Howon sajangnim?

  “Belanja untuk keperluan apa? Sapa itu Howon sajangnim?” tanyaku langsung.

  “Oh? Kau tidak tahu aku bekerja sambilan? Aku, Harin, Heerin, Minyeon dan Heechan masing-masing punya pekerjaan sambilan. Harin di stan milkshake, Heechan di restoran ayahnya, Heerin di stan Bubur, Minyeon bekerja dengan restoran milik sachonnya, aku sendiri bekerja di cafe,” jawabnya. Sungra bekerja di cafe?!!

  “Kerja sambilan??? Buat apa?? Maksudku… Aku tahu Harin bekerja di stan milkshake karena kami bertemu tadi siang, tapi kau?”

  “Aku kan harus membiayai hidupku sendiri, apalagi sekarang ada Sungwon,” jawabnya lagi.

  “Bukannya kau selalu dikirimi uang bulanan oleh abeonim dan eomeonim?” aku masih belum berhenti melontarkan pertanyaan.

  “Aku menyukai pekerjaanku dan tidak merasa keberatan dengan itu. Tidak salah kan?” ia cemberut kesal. Baru saja aku akan membalas ucapannya saat bel berbunyi. Aigoo… Siapa sih datang jam segini?!!

  Aku dan Sungra berjalan ke arah pintu. Begitu kubuka aku langsung tergelak tak percaya.

  “ANNYEONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!” sapaan yang lebih cocok disebut sebagai sorakan itu terdengar kencang sekali diikuti senyuman aneh delapan orang di hadapanku.

  “Neoheui mwolhago isseo?!!!” aku mengernyit.

  “Ey… Jangan begitu Siwon-ah. Kami ke sini untuk berkunjung,” jawab Harin.

  “Ne. Kami sering kok berkunjung bahkan menginap di sini,” sambung Minyeon mengiyakan. Satu per satu mereka masuk membawa bawaan masing-masing.

  Begitu aku menutup pintu dan menghampiri ruang tamu, terlihat lantainya sudah tertutupi sleeping bag yang berjumlah tidak sedikit.

  “Kalian serius mau menginap?” tanyaku masih tak percaya.

  “Tentu saja. Memangnya kami mau menggali harta karun di sini?” balas Minyeon tak mempedulikanku. “Oh, Sungra-ya, mana Sungwon?”

  “Tidur, di atas,” jawab Sungra ikut merapikan ruang tamu.

  “Hmm… Bau citrus,” Key mengendus-endus pelan. “Kau membuat teh citrus? Atau lemon tea?? Tapi baunya agak manis….”

  “Madu,” jawabku menunjuk gelas di meja. Mulutnya membentuk bulatan sambil mengangguk-angguk.

  “Kalian mau minum juga? Akan kubuatkan. Oh iya! Sekalian makan malam juga ya? Kalian mau makan apa?” tawarku membantu membereskan meja.

  “Bagaimana kalau makanan yang hangat-hangat saja? Ini kan sedang hujan,” saran Sungra meraih buku resep di rak.

  “Kurasa hujannya tidak akan berhenti sampai besok siang,” Kyuhyun menambahkan. “Aku lapaaar~~” ia menepuk-nepuk kepala Minyeon.

  “Mau ayam???” tawar seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mengernyit. Dia siapa?

  “Onew sunbae, kau tahu resep ayam yang enak?” tanya Sungra. Pria chubby yang dipanggil Onew tadi mengangguk semangat. Dalam sekejap rumah ini berubah jadi restoran. ==

  Kami pun beramai-ramai memasuki dapur kecuali satu orang – Kyuhyun. Aku, Sungra, Key, Heechan, Onew dan Minyeon membagi-bagi tugas menyiapkan bumbu dan memasak. Heerin dan Donghae mencuci piring – kurasa mereka tidak akan hanya mencuci piring. Dan Harin yang menyiapkan minumannya.

  “Ya! Ya! Kenapa aku tidak boleh masuk??” protes Kyuhyun bersandar di ambang pintu.

  “Tidak boleh. Kau ingat kan terakhir kali kau menyentuh kompor di restoran oppa-ku lalu kami harus membeli kompor baru?” balas Minyeon yang sedang memotong-motong sayur.

  “Aku kan tidak tahu,” gerutu Kyuhyun cemberut lalu duduk di meja makan.

Kyuhyun’s POV

  Aigoo menyebalkan sekali Minyeon ini! Setidaknya izinkan aku ikut membantu memotong sayur saja cukup. Hiks..

  Aku menghela nafas lalu membaringkan kepalaku di atas meja menghadap counter dekat pintu. Sebuah benda kecil menangkap perhatianku. Aku pun tersenyum licik. Tanpa basa-basi aku menyelinap ke counter itu lalu meraih benda kecil itu. Ponsel Siwon~ *evil smirk*

  Dengan mudahnya, begitu kutekan salah satu tombol layar ponsel pun menyala. Senyumku melebar. Siwon hyung babo! Ia tidak mengunci ponselnya! Aku berjalan pelan keluar dapur lalu mulai menginvasi ponsel Siwon hyung.

  Aku membuka galeri miliknya, dan salah satu folder mengundang rasa penasaranku.

  ‘Nae sarangi’

  Aku sudah berusaha menahan tawaku melihatnya. Siwon hyung punya yeojachingu?? *evil grin*

  Deretan foto tak asing terpampang berjejer-jejer di layar begitu kutekan tombol buka. Tak perlu waktu lama untuk mengenalinya karena foto-foto itu tak lain tak bukan adalah foto ‘kembarannya’ sendiri…

  Lim Sungra.

  Mulutku menganga lebar. Woa.. Woa.. Woaaa….!!! Siwon hyung menyukai-eh, maksudku mencintai Sungra? Aku harus tanya langsung dengannya nanti!!

  “Huakakakakka!!!!” tanpa sengaja tawaku lepas sendiri.

  “Kyuhyun-ah, kau masih waras?” pekik Heerin dan Harin dari arah dapur. Aku langsung menutup mulutku dan menyembunyikan ponsel Siwon hyung di sakuku, waspada jika ketahuan. Aku melirik ke arah dapur. Mereka masih sibuk ternyata.

  Begitu bernafas lega kukeluarkan lagi ponsel hyung. Aku menatap ponsel itu lekat-lekat begitu sebuah ide ‘evil’. Ah! Tak salah kalau aku mendapat julukan evil! Bentar lagi akan kuganti jabatan evil menjadi cupid~!

Author’s POV

  “Kyuhyun!! Makanan sudah siap!! Kalau kau tidak mau kami menghabiskannya tanpa menyisakan untukmu cepatlah kemari!!” seru Sungra meletakkan pot berisi sup hangat di meja makan. Kyuhyun pun langsung muncul dari balik pintu.

  Semua mengambil tempat duduk masing-masing meskipun harus ‘berdempet-dempet’an.

  “Jalmeogetseumnida!” seru mereka bersamaan. Hidangan-hidangan hangat itu mengepulkan asap-asap putih yang membawa berbagai aroma sedap.

  “Ahh~ massiseoyo!” gumam hari dengan mulut penuh makanan.

  “Tentu saja, Harin-ah. Kau selalu berkata begitu setiap kali kau menginap di sini,” Key mencubit pipinya pelan.

  “Hey, Key jangan lakukan itu sekarang, kalau mau pacaran nanti saja,” celetuk Donghae. Melahap tumis seafood di hadapannya.

  Mereka semua saling bercerita bersenda gurau sepanjang makan malam. Suasananya memang begitu hangat. Rumah yang biasanya sepi, hanya ditinggali Sungra sendirian, sekarang menjadi ramai meriah.

***

  “Ah~ sekarang kita ngapain ya?” Heerin merenggangkan otot-ototnya setelah membereskan piring. Yang lain pun ikut membaur ke ruang tamu dan duduk di atas sleeping bag masing-masing sambil memeluk bantal.

  “Cerita seram!!” seru Sungra dan Minyeon girang.

  “Andwae!!!” tolak Harin terang-terangan lalu memasang headset. “Aku tidak mau dengar..”

  “Yahh~ tidak asyik dong~”

  “Sudahlah~ ayo kita mulai!” ajak Siwon. “Kita sambung menyambungkan cerita seram saja!”

  “Geurae. Kau mulai duluan!” celetuk Kyuhyun berbaring santai. Mereka duduk membentuk lingkaran.

  “Baiklah,” gumam Siwon. Ia berdeham sejenak lalu menatap tiap-tiap temannya dengan serius. “Saat aku masih di Tokyo – seperti yang kalian ketahui, banyak sekali legenda-legenda seram dan juga tempat-tempat mengerikan.”

  “Suatu malam, temanku pergi ke resort pamannya di Hokkaido,” lanjutnya. “Resort itu terkenal dengan keangkerannya, selain itu juga merupakan bangunan berumur dan katanya pernah terjadi pembunuhan.”

  “CUT!!” seru Kyuhyun mengangkat tangannya. Ia tersenyum aneh lalu memutar botol yang sedari tadi dibawanya. “Ayo ganti giliran menyambung ceritamu!”

  Diputarnya botol itu sampai mulut botolnya menunjuk pasti ke arah Donghae.

  “Na??” Donghae menunjuk dirinya sendiri. Ia menghela nafas sejenak. “Ia memberanikan diri untuk menginap di sana.”

  “Tapi dari awal ia melangkahkan kaki ke dalam hotel itu, tercium bau-bauan aneh dan terdengar bisikan-bisikan walaupun lobby hotel tidak begitu penuh,” ia mulai mengecilkan suaranya. “Hari pertama ia menginap, malamnya ia tidak bisa tidur. Suara detikan jam tidak terdengar normal. Terkadang berhenti dan berjalan sangat lambat, namun setelah itu detikannya menjadi sangat cepat melebihi detakan jantungnya yang tak karu-karuan, dan tiap suara jam itu sudah mencapai batas kecepatan yang tak wajar itu jendela kamarnya akan terbuka perlahan dengan suara decitan keras..”

  “Cut!” seru Kyuhyun mendapat pukulan di kepala oleh Minyeon. “Aish!! Wae geuraeyo?!!”

  “Yah! Kau itu membuat suasananya tidak seram babo!!” desisnya. Kyuhyun hanya memanyunkan mulutnya.

  Botol tadi berputar di lantai dan melambat menunjuk tepat ke arah Key.

  “Hmm…,” ia bergumam pelan sebelum memulai ceritanya. “Tiba-tiba saat jarum jam menunjuk ke angka dua belas…”

  Ia menggeser duduknya mendekati Harin yang memejamkan kedua matanya. Ia tersenyum menyuruh kami diam sebentar.

  “Lalu jam itu berhenti berdetik. Sepi sunyi, namun mencekam,” ia mulai mendekat ke Harin yang sepertinya tidak sadar dengan tingkah laku Key. Perlahan-lahan Key menyentuh tali headset Harin. “Tiba-tiba….”

  SRET..

  “Tiba-tiba jendela terbuka dengan satu hentakan keras dan terdengar jeritan melengking dan begitu ia membuka matanya ia melihat sesosok bermata merah darah dengan rambut tergerai lurus sepunggung menatapnya tajam dan belasan bayangan asing lainnya melayang-melayang tak beraturan dengan cepat mengelilingi ruangan gelap itu!!” ucap Key penuh penekanan di telinga Harin dengan kecepatan maksimum. Harin begitu merasa headsetnya terlepas dan mendengar hal-hal yang ‘menakutkan’ baginya membuatnya mematung pucat di tempat. Begitu ia berhasil mencerna omongan Key barusan ia langsung menjerit dan memukuli lengan Key.

  “Kyaaaaa!!!! Yahh!!! Neon mwoya?!! Key-aaaah~~!!! Huweeee!!” pekik Harin memeluk lengan Key erat-erat sambil memukulinya. Key yang dipeluk hanya tersenyum puas.

  “Aahh~ arayo! Harin-ah! Jagan tertipu dengan Key! Dia itu cuma ingin kau peluk!!” celetuk Minyeon melirik Key dengan pandangan menuduh.

  “Ahh… Geuraeyo?? Key, kau suka ambil kesempatan pada Harin ya??” goda Sungra. Suasana ruangan itu makin ramai walaupun sudah bercerita seram.

Sungra’s POV

  “Jebaaaaaaaal~ kembalikan PSP-ku Minyeon-ah~! Jangan diberikan pada Donghae! Nanti rusak!!” rengek Kyu ribut sendiri dengan Minyeon, Donghae dan Heerin.

  “Andwae! Kalau kau main game nanti yang lain termasuk aku hanya kau suruh duduk menonton kau berteriak seperti orang gila,” balas Minyeon berdiri menjauh dan menyelipkan PSP hitam milik Kyuhyun ke dalam sleeping bag-nya. “Sungra-ya, kau punya permainan? Aku bosan,” Minyeon beralih ke arahku. Aku hanya menaikkan pundakku.

  “Eobseo,” jawabku singkat.

  “Ah! Aku punya ide!!” seru Donghae setelah berjeda beberapa detik. “Aku punya permainan! Mau coba ‘forehead wrestling’?? Aku diajari temanku, Byunghee,” jelasnya. Kami mengernyit. Forehead wrestling?

  “Ige mwo?” tanya Siwon. Donghae hanya menyengir kuda. Ia menyeret Heerin yang terbingung-bingung lalu ia sendiri duduk di hadapan Heerin.

  “Jagiya~ menunduklah~” rayu Donghae. Aku dan yang lainnya hanya menggeleng pasrah. Ckckck…

  Heerin dengan kepala masih penuh tanda tanya pun menurut. Ia menunduk sedikit. Donghae pun ikut menunduk dengan terkekeh pelan. Pelan-pelan Donghae mendorong keningnya ke kening Heerin.

  “Nah, nanti yang jatuh atau mundur sampai dinding dia kalah dan harus menerima ttak-bam!” sambung Donghae. Huh? Mainan apa ini?

  “Yah! Yah! Lee Donghae, kau pikir kita kerbau? Sapi? Badak? Rusa? Permainan apa itu?” ejek Heechan. Aku mengangguk setuju.

  “Jangan tanya padaku! Tanyakan pada Byunghee! Dia yang mengajariku~” balas Donghae masih dorong-dorongan dengan Heerin. Mau sampai kapan ini baru berakhir? ==

Heerin’s POV

  Aku terus melihat ke arah lantai supaya tidak bertemu pandang dengan mulgogi babo-ku itu. Sungguh! Aku heran kenapa dia berteman dengan orang aneh macam…siapa yadi namanya? Byunghun? Byung..hee?

  “Heerin-ah~” panggil Donghae dengan suara direndahkan membuatku tersadar dari lamunan. Spontan aku mengangkat pandanganku menatap kedua mata hitamnya. Ia tersenyum manis seperti anak kecil. Pipiku langsung memerah mengingat posisi kami yang dekat dengan kening saling menempel.

  “Saranghae~yoo~~” gumamnya pelan dengan suara yang lucu. Aku hanya diam menatapnya.

  BRUK!

  Aku menutup kedua mataku begitu merasa punggungku terbentur lantai keras yang dingin.

  “Aku menang~~!!!!” sorak Donghae. Aku membuka mataku dan melihat Donghae tepat berada di atasku.

  “Eyy~ Donghae-ya, jangan kira kami tidak lihat tadi! Kau curang tahu! Kau merayu Heerin sampai merah begitu,” celetuk Onew menarik kerah kemeja Donghae dari belakang sambil tertawa lepas.

  Lee Donghae! Lihat saja kau nanti! Aku akan melapor pada Abeonim dan Eomeonim kalau tingkah laku anak bungsu mereka ini perlu diperbaiki!

Sungra’s POV

  Suara tawa memenuhi riang tamu melihat Heerin kalah telak oleh Donghae. Lucu sekali!

  “Bagaimana kalau Siwon hyung mencobanya dengan Sungra,” aku langsung terdiam mendengarnya. Aku melirik ke ‘makhluk’ di samping Minyeon yang sedang tersenyum lebar seakan idenya adalah ide terbaik di seluruh dunia. Aku menyipitkan mataku ke arahnya berusaha mengatakan ‘aku akan membunuhmu!’

  “Kyuhyun-ah, kau bodoh atau idiot?” tanya Minyeon memukul belakang kepala Kyuhyun lagi. Sepertinya sekali lagi ia memukulnya, kepala Kyuhyun itu akan pecah ._.

  “Siwon dengan Sungra badannya jauh besar Siwon begitu pasti menang Siwon lah,” lanjutnya. Aku mengangguk setuju untuk menghindar dari permainan ini.

  “Aku tidak mau keningku hancur karena permainan ini ditambah lagi ttak-bam karena kalah,” tambahku. Aku melirik ke arah Onew sunbae, “Lagipula aku yakin tak bisa selamat dari ttak-bam Onew.”

  “Aigoo~ ayolah~ kalau kau memainkannya dengan Siwon hyung, kalian bisa sangat deka-” belum selesai Kyuhyun bicara dia sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sangat apa?

  “M-maksudku….ngg… Setelah forehead wrestling nanti kepalamu akan kebal dari ttak-bam Onew!” serunya. Aku mengernyit. Alasan yang aneh.

  “Itu tidak mungkin Kyuhyun-ah. Kau lupa kau sampai demam dan pusing setelah mendapat ttak-bam dari Onew?” balas Heechan. Kyuhyun hanya tertawa hambar.

  “I-itu..pokoknya aku mau lihat Siwon vs Sungra~!!” rengeknya mengalihkan topik.

  “Tapi Siwon pasti menang,” elakku.

  “Bagaimana kalau Siwon yang menang, aku dan Kyuhyun mendapat ttak-bam, lalu kalau Sungra yang menang, Minyeon dan Heerin yang mendapat ttak-bam?” tawar Donghae.

  “Yah?! Mwoya!! Shireo!!” Minyeon dan Heerin menutupi kening mereka.

  “Jebaaaal~”

  “Andwae! Bagaimana kalau kai-bai-bo saja?”

  “Tapi nanti aku dan Donghae kena juga kan kami rugi!”

Three minutes later…

  Setelah menunggu mereka berdebat akhirnya sudah ditentukan : Aku kalah, Kyuhyun dan Donghae tumbalnya; Siwon kalah, Key dan Onew tumbalnya.

  “Aku merasa ini tidak adil,” desah Key yang kalah suit.

  “Terima saja. Hidupmu sudah digariskan begitu,” balas Heechan santai.

  “Ayo mulai saja sekarang!” seru Minyeon dan Harin.

  “Aigoo….haruskah?” desahku duduk menghadap Siwon.

  “Tentu saja! Kami sudah susah-susah menentukan mangsa!” paksa Harin.

  Aku menghela nafas sejenak lalu menatap Siwon di hadapanku yang juga balik melihatku. Ia menaikkan pundaknya pelan lalu mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku.

  Dugeun..

  Dugeun..

  Aku tak bisa merasakan keberadaan jantungku begitu keningnya menempel dengan keningku. Here we go….stupid forehead wrestling -_-

  “Hey Sungra!! Kau tidak boleh kalah!! Kami tidak mau kening kami pecah!!” sorak Donghae dan Kyuhyun.

  “Onew-ah, kita hanya perlu menunggu hasil. Siwon pasti menang~” ujar Key santai.

  Aku berusaha sekuat tenaga menahan kepala Siwon. Aigoo…. Siwon berat T^T

  “Hey!” desisku pada Siwon. Ia melirik ke arahku. “Kau makan apa sampai kepalamu keras sekali?!! Aku bisa gegar otak tahu!” omelku pelan. Ia hanya tersenyum licik.

  “Kau akan kalah telak~” balasnya santai. Aku menggembungkan pipiku sebal. Tidak lama setelah itu aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel di pipiku.

  S-siwon?!!

  BRUKK..

  Aku merasakan wajahku memanas. Benar saja, dalam beberapa detik aku langsung jatuh di lantai. Siwon tersenyum bangga sedangkan aku masih dalam ‘shock state’.

  “Oh sudah? Sungra ya yang kalah??” tanya Onew. Untung mereka tidak melihat.

  “Nahh!!! Donghae! Kyuhyun! Kalian tidak bisa menghindar lagi!” seru Onew dan Key bersemangat.

***

  Lampu ruang tamu sudah dimatikan. Aku dan Siwon ikut tidur di ruang tamu setelah memastikan Sungwon baik-baik saja. Aku menghela nafas lalu melirik ke kananku dan mendapati Harin tertidur pulas. Aku melirik ke kiriku dan sama, Minyeon sudah ke alam mimpi bersama Kyuhyun.

  Sudah dua jam berlalu sejak kami memutuskan untuk berhenti bermain dan tidur. Tapi aku sama sekali tidak merasa mengantuk. Aku bangkit berdiri lalu berjalan ke arah dapur untuk minum.

  Trekk…

  Suara decitan dalam gelap itu membuatku tersentak kaget lalu berdiri kaku di tempat. Jelas saja aku merasa kaget. Malam-malam begini kemungkinannya kecil sekali kalau masih ada yang berkeliaran.

  Krieeet….

  Aku menggeser arah berdiriku perlahan tanpa suara. Apa itu? Tikus? O.o

  Aku mencengkeram pinggiran counter kuat-kuat, mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar dapur. Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu berbalik ke arah pintu.

  Baru saja aku melangkahkan satu kaki, aku sudah bertabrakan dengan sesuatu yang tinggi besar sampai aku jatuh terduduk di lantai. Aku menggigit bibir bawahku menahan untuk tidak menjerit. Ini bukan tikus!!

  Sekarang aku bisa melihat jelas bayangan hitam tinggi menutupi pandanganku. Aku menunduk. Eotteohke?!! Bagaimana kalau dia pencuri?!!

  “G-gwaenchanha?” bisik bayangan itu lalu berjongkok. Aku mengernyit. Pencuri apa yang bertanya seperti itu pada seseorang yang mengganggu kegiatannya?

  Aku dia tak berani menjawab. Suara itu terdengar familiar. Tiba-tiba kurasakan tanganku digenggam dan aku lebih merasa familiar lagi.

  “Kau Sungra ya? Kenapa tidak tidur? Gwaenchanhayo? Kau tidak terluka?” tanyanya dengan nada cemas.

  “S-siwon ya?” tanyaku pelan, takut salah orang.

  “Tentu saja. Kau kira siapa? Minho?” balasnya. Nada bicaranya seakan tidak senang dan kecewa.

  “Aniyo,” aku menggeleng walaupun tahu ia tidak bisa melihatku dengan jelas. “Kukira…kukira…..,” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

  “Kau sedang apa di sini?” tanya Siwon membantuku berdiri lalu ia menyalakan lampu dapur. Kulihat ia melongok keluar melihat manusia-manusia tadi berserakan di luar.

  “Aku mau minum,” jawabku singkat.

  “Susu atau air putih?” tanyanya mengambilkan gelas.

  “Susu,” jawabku singkat. Ia mengambil sekotak susu dari kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelasku.

  “Kau tidak bisa tidur?” tanya Siwon menyerahkan gelas itu padaku. Aku hanya mengangguk pelan sambil meneguknya.

  “Kau sendiri sedang apa di sini?” balasku.

  “Aku mencari ponselku,” gumamnya mengusap-usap tengkuknya sambil melirik ke arah counter. “Aku tidak melihatnya sejak kita memasak tadi. Padahal aku yakin sekali kalau ponselku ada di counter,” sambungnya.

  “Mungkin saja kau lupa, lalu kau tinggal di kamar,” balasku setelah membantunya mencari. Ia menaikkan pundaknya.

  “Mollayo. Tapi feelingku mengatakan kalau ponselku ada di sekitar sini,” ia membuka satu persatu laci dapur memunggungiku.

  “Cari besok saja. Kau tidak sedang menunggu telepon kan?” tanyaku. Kemudian tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit di pikiranku. “Menunggu telepon dari seorang yeoja misalnya?” tanyaku ragu. Ada sesuatu yang mengganjal terasa di hatiku. Seperti….takut?

  “Aniyo,” jawabnya. Aku menghembuskan nafas lega yang sejak tadi tertahan. “Tapi ada sesuatu yang penting di dalamnya. Tentang seseorang yang penting bagiku.”

  Seseorang…….yang penting?

  “Sungra-ya,” panggilnya berbalik menghadapku. “Eh? Kau menangis? Kenapa?”

  Aku tersentak dan merasakan wajahku memang basah karena air mata. Kenapa aku menangis?

  “A-aniya. Aku mengantuk. Kau tidak melihatku menguap tadi? Aigoo… Aku lelah sekali Siwon-ah, aku kembali dulu,” elakku menghapus air mataku. Kuakui suaraku terdengar sedikit kacau bahkan di telingaku sendiri. Aku berbalik dan kembali ke sleeping bag-ku.

  Menahan isakkan, aku menangis dalam sunyi. Kutenggelamkan kepalaku ke dalam selimutku.

  Kenapa?? Kenapa aku? Kenapa juga harus Siwon?

  Aku mengeratkan cengkramanku di ujung kain yang kugunakan bersembunyi dari kenyataan itu.

  Kenapa aku harus jatuh cinta padanya?

To Be Continued…

Author is back~!!
Hahaha.. *gak ada yang nunggu juga*
Sorry kalo update nya lama~
Pengen update akhir kemaren2 tapi keasikan main ama adik .___.v *ceburin sumur*
Update nya kepanjangen + gak penting kayanya >.< mianhae kalo gak bagus~!!
belakangan nggak ada komen juga ;~; *nangis di pojokan* pada ga suka incest kah?
kalo ada yang kurang minta saran ya ^-^
jangan jadi silent readers >,<

Gomawo~~
Yang komen ntar ketemu bias~!!! *ngaco ah nih author*

Even I Felt Your Pain [Part 4 : ‘It’s Real… I Could Feel It’

‘It’s Real… I Could Feel It’

Kyuhyun’s POV

  Aku berjalan di sekitar taman sekolah sambil terus memikirkan sikap Minyeon yang aneh belakangan ini. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Ia seperti sedang menjauhiku.

  Aku mendesah pelan. Tiba-tiba aku melihat sebuah pantulan cahaya dekat semak-semak. Dipacu rasa penasaranku, aku berjalan kesanadan menemukan sebuah kalung. Dadaku langsung terasa sesak. Ya, ini kalung yang kuberikan kepada Minyeon. Kenapa ada di sini? Apakah ia membuangnya? Tapi kenapa?

  Baru saja aku berniat mencarinya, bel sekolah berbunyi. Aku mendesah pelan lalu berjalan gontai ke kelas.

***

  Aku bertopang dagu dengan wajah datar. Pelajarannya semakin lama semakin membosankan. Perlahan kuputar badanku ke belakang melihat Minyeon yang duduk di belakangku sedang tertidur lelap.

  Senyum tipisku mengembang begitu melihat wajah manisnya yang terlihat polos begitu. Tanganku menyingkirkan poninya yang menutupi wajahnya itu. Aaaahh~ ingin sekali aku mencubit pipinya.

  “Sa-rang-hae,” bisikku menepuk pelan pipinya lalu kembali berbalik ke depan. Tiba-tiba aku teringat soal kalungnya. Aku mendesah pelan. Lebih baik jangan tanyakan sekarang.

After school…
Minyeon’s POV

  “Aish! Di mana sih? Kok tiba-tiba hilang?” gerutuku menelusuri setiap bagian dari taman sekolah. Aku sudahlimabelas menit berjongkok-berdiri mencari kalungku sampai kakiku pegal semua.

  Tes.. Tes..

  Aku mendongak menatap langit yang mulai gelap dan menitikkan air. Gerimis? Aish!

  “Aaa!! Pokoknya harus kutemukan!” desahku kembali berjongkok mengintip ke balik semak-semak walaupun sudah mulai terguyur air.

  Hujan memang tak pernah bersahabat. Semakin lama semakin ganas. Kuku-kuku ku sudah membiru kedinginan. Tubuhku setengah menggigil. Aku masih serius membongkar hampir setengah dari taman ini.

  “Minyeon-ah!” seru seseorang tak kupedulikan. Tiba-tiba aku tak terguyur air hujan lagi. Aku langsung melihat sekelilingku. Tapi masih hujan kok.

  “Minyeon-ah?!” panggil orang di belakangku. Aku langsung mendongak melihat Kyuhyun sudah berdiri membelalak menatapku sambil menaungiku dengan payung. Aku langsung merasa pusing.

  “M-Minyeon-ah! Kau mimisan!” serunya tepat sebelum aku kehilangan kesadaranku.

***

  Aku membuka mataku perlahan. Cahaya remang-remang terlihat dari sisi ruangan. Ugh.. Ini di mana?

  “Sudah bangun?” aku langsung memutar kepalaku ke arah sumber suara. Kyuhyun duduk di tepi kasur yang sedang kutempati sekarang ini. Ia menyentuh keningku. “Johta. Panasmu menurun,” ia tersenyum mengelus-elus kepalaku.

  “Aku di mana?” tanyaku menatapnya ragu. Aish! Ini pertama kalinya aku merasa tidak akrab dengannya.

  “Kamarku,” jawabnya. Aku mengernyit berusaha mengingat kejadian di sekolah tadi. Aku langsung melirik ke arah jam dinding.

  “Hah?! I-ini sudah malalm?!” seruku terkejut. Jam 11 malam??! Pingsanku lama sekali!

  “Istirahatlah. Aku sudah bilang pada Donghae,” ujarnya membuyarkan lamunanku. Aku terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.

  Baru saja aku akan kembali tidur, kurasakan Kyuhyun menahanku. “Minyeon-ah,” panggilnya. Aku hanya mengernyit heran.

  “Hng?” gumanku. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain.

  “Kau…..membuang kalung dariku?” tanyanya tanpa melirik ke arahku sedikit pun. Aduh! Eotteohke?!

  “K-Kyuhyun-ah….aku..aku tidak sengaja,” jawabku pelan. Suananya menjadi hening. Aku tak berani bergerah se-inchi pun.

  “Minyeon-ah,” gumamnya memecah keheningan. Aku hanya diam tak berani menjawab. Ia kembali melihat ke arahku.

  “Kalau kau memang tak senang ada aku di sisimu, katakan saja. Aku akan pergi, aku bisa menghilang dari kehidupanmu, aku janji. Tapi aku ingin kau tahu. Ingatlah, aku akan selalu mencintaimu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik tanganku dan meletakkan kalungku yang hilang. Sedetik kemudian ia langsung berdiri dan berjalan keluar.

  Deg!

  Tiba-tiba kurasakan sakitku menjadi-jadi. Seperti ada duri yang tertancap terlalu dalam. Aku langsung berdiri dan berlari mencarinya.

  “Kyuhyun-ah?!” seruku. Dia sudah pergi. Aku langsung melesat keluar rumahnya.

  “Aish! Hujannya belum berhenti!” desahku kesal. Aku memutuskan untuk tetap mencari Kyuhyun.

  “Cho Kyuhyun!!!!!! Eodie??” seruku terus. Diantara guyuran air hujan yang dingin kurasakan air mataku yang hangat membasahi pipiku.

  Aku sudah berlari ke beberapa tempat yang berbeda sampai akhirnya aku berhenti di dekat taman sekolah. Aku berjongkok disanamenunduk menyembunyikan wajahku.

  “Kyuhyun-ah…eodie…?” bisikku terisak. Aku sudah kehabisan tenagaku untuk berteriak memanggilnya.

  Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku mengangkat wajahku melihatnya. Tapi karena mataku masih tergenang air mata, pandanganku tidak begitu jelas.

  “Gwaenchanha?” tanyanya. Aku langsung mengusap air mataku supaya dapat melihatnya dengan jelas.

  “Nugu imnikka?” tanyaku.

  “Jeoneun Nickhun imnida,” jawabnya. Aku mengernyit.

  “Nama apa itu?” tanyaku terus terang. Ia terkikik geli.

  “Thailand,” balasnya tersenyum. Aku hanya mengangguk. “Kamu mencari siapa?” tanyanya kemudian. Aku mendesah pelan.

  Belum sempat aku menjawab ia sudah merogoh sakunya dan menempelkan ponselnya ke telinga.

  “Yoboseyo, Song Qian-ah?” ujarnya membuatku membelalak menatapnya. Song Qian yang…itu?Victoria?

  “Aah, ne. Suruh saja Kyuhyun ke apartemenku,” sambungnya lagi. Aku langsung membelalak lagi. Tidak salah lagi!

  “K-kyuhyun?” tanyaku tanpa sadar. Ia pun kembali melihat ke arahku.

  “Hm? Ne?” tanyanya mengernyit selagi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

  “Kau bilang…..Kyuhyun di apartemenmu?” tanyaku. Ia masih mengernyit.

  “Kau kenal? Ah! Jangan-jangan kau yeojachingunya itu ya?!” serunya menunjukku dengan ekspresi yang tidak dapat di artikan.

  “Bawa aku kesana!! Cepat!” seruku menarik tangannya.

  “Eh?!!”

***

  “Agasshi.. Kau mau masuk tidak?” tanyanya untuk kesekian kalinya. Aku masih terdiam ragu.

  “T-tunggu.. Sebentar saja,” gumamku berusaha menenangkan diri.

  “Agasshi.. Kita sudahlimabelas menit berdiri di sini,” desahnya kesal. Aku pun mengangguk pasrah.

  “Baiklah! Baiklah! Ayo masuk!” ujarku pada akhirnya. Ia pun  membukakan pintunya.

  “Kyuhyun di mana?” tanyaku buru-buru ia menunjuk sebuah pintu di ujung ruangan. Aku langsung melesat kesana.

  “Chamkaman! Agassi! Jangan mas…”

  Klek!

  “……………Hyaaaaaaaa!!!!” aku menjerit sekeras-kerasnya lalu menutup pintu dan berbalik menutupi wajahku. “Nickhun-ssi!! Kenapa kau tidak bilang…….”

  “Aku baru saja mau bilang dia baru akan mandi,” balasnya menaikkan pundaknya. “Setidaknya dia masih pakai celanakan?” ia terkikik geli. Aku hanya mendengus kesal.

  “Ini tidak lucu!” omelku.

  “Masuklah,” suara dari balik pintu mengejutkanku. Aku melirik ke arah Nickhun yang mengisyaratkan padaku untuk masuk. Kubuka pintunya perlahan dan mengintip ke dalam melihat Kyuhyun berdiri disanadan sudah memakai kaos tipisnya.

  “Kau mau apa?” tanyanya datar. Aku menggigit bibir bawahku. Kamar ini terasa dingin sekali mengingat aku masih memakai seragam yang basah sejak tadi.

  “A-aku tidak sengaja…”

  “Kau sudah bilang begitu,” potongnya hendak berbalik pergi. Aku langsung menahan tangannya.

  “Dengarkan aku!” pintaku akan menangis lagi. Ia mendesah pelan lalu menatapku tajam.

  “Apa lagi?”

  “Aku minta maaf. Kumohon. Aku benar-benar tidak sengaja,” pintaku.

  “Kotjimal,” gumamnya. Kurasakan lututku melemas sehingga aku jatuh berlutut di depannya.

  “Mianhae…jeongmal mianhae… Jinsimiya,” tangisku memecah. “Aku…aku hanya…”

  “Kau menjauhiku akhir-akhir ini,” potongnya lagi. Aku kehabisan kata-kataku. “Katakan sebenarnya apa maumu?”

  “Aku…aku minta maaf.. Aku hanya…merasa kau…mengabaikanku akhir-akhir ini. Aku minta maaf..aku benar-benar sal…”

  “Apa maksudmu aku mengabaikanmu?” tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak.

  “Kau terus menyebut-nyebut soalVictoria. Jujur aku….cem..buru,” gumamku pelan. Suasana menjadi sepi. Aku takut. Takut apa reaksinya nanti.

  Tiba-tiba ia menarikku berdiri lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. Nafasku masih tercekat.

  “Bodoh. Untuk apa kau cemburu? Mulai sekarang jangan jauhi aku lagi,” bisiknya di telingaku. Aku terdiam membalas pelukannya. Hangat. Aku memejamkan mataku. Aku lelah.

***

  Aduh..gerah sekali di sini. Aku mempererat pelukanku pada guling……eh?! Kok gulingnya sepertinya berbeda ya?

  “Hnngg…,” gumamku membuka mataku perlahan. Aku bisa mencium bau parfum seseorang. Aku langsung mendongak melihat siluet wajah seseorang. Aku menyipitkan mataku memperjelasnya.

  “Uwaaa!!” seruku terlonjak kaget. Ia langsung menggeliat pelan dan ikut terbangun.

  “Berisik sekali kau ini,” omelnya kesal. T-tunggu! Jadi semalam aku tidak pulang?!

  “Kita di mana??!” tanyaku.

  “Apartemen Nickhun,” gumamnya santai sambil merenggangkan tubuhnya. Ia lalu merangkul pinggangku. “Kau membangungkanku terlalu pagi. Ini masih jam empat,” gumamnya. Aku mendesah pelan dan mendorong kepalanya yang berbaring di pundakku ke belakang.

  “Pemalas! Mandisana!” omelku. Ia cemberut kesal lalu menampakkan puppy eyes-nya.

  “Temani~” gumamnya memohon membuatku spontan mendaratkan kepalan tanganku di kepalanya. “Auwh!”

  “Kau keracunan apa hah?” desisku sebal.

  “Aku hanya bercanda,” ujarnya memegangi kepalanya sambil berjalan ke kamar mandi. Dasar! ==a

  Aku berdiri dan berkeliling kamar melihat-lihat. Pandanganku berhenti pada foto yang terpajang di pigura kecil disana. Aku mulai terkikik.

  “Ternyata waktu Nickhun-ssi waktu masih kecil lucu,” gumamku. Kemudian aku mulai penasaran. Bagaimana tampang Kyuhyun waktu kecil ya? Hahaha..!

  Aku melirik ke sisi meja. Ada ponsel Kyuhyun tergeletak begitu saja. Aku melirik ke arah kamar mandi lalu diam-diam mengambil ponselnya.

  Baru saja aku akan membuka ponselnya suara pintu kamar mandi terbuka terdengar jelas. Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat Kyuhyun yang hanya memakai celana pendeknya.

  “Hyaaaa!!!” seruku berbalik memutar. Tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangku, memelukku erat dari belakang.

  “Kau mau lihat apa?” gumam Kyuhyun tepat di telingaku. Ia masih basah sehingga membuat pundak sampai punggungku ikut basah. Aku melepaskan pelukannya.

  “Eh? Oh.. Erh.. Aku hanya mau lihat-lihat saja,” balasku menunduk. Wajahku pasti memerah panas sekarang. “N-neo..pakailah kausmu!” desisku kesal. Ia malah terkikik dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Spontan aku menutup kedua mataku. Mataku harus dijaga benar-benar kesuciannya! (?)

  Tiba-tiba kurasakan bibirnya yang dingin itu menempel di permukaan bibirku, menggulumnya perlahan. Salah satu tangannya membelai rambutku lembut sedangkan yang satu lagi mengencangkan pelukannya.

  “Saranghae,” gumamnya melepaskan ciumannya. Aku masih menutup mataku. “Hey, hey! Kenapa kau tutup terus matamu?” tanyanya menepuk-nepuk pipiku.

  “P-pakailah kausmu!” omelku kesal. Ia malah terkikik.

  “Hey! Ada lebah di lenganmu,” ujarnya santai perlahan. Aku langsung membuka mataku memeluknya erat.

  “Kyaaaaa!!!” jeritku was-was. Ia malah tertawa lebar.

  “Eobseo,” gumamnya pelan. Aku membelalak akan memukulnya tapi baru tersadar kalau ia masih saja belum memakai kausnya.

  “K-kau genit!! Kau…”

  Ia menarikku langsung kembali ke pelukannya. Aku berusaha mendorongnya tapi dia itu badannya berat sekali. ==a

  “K-kyuhyun-ah..! Lepaskan!” pintaku. Wajahku memerah rona. Jantungku berdegup sekencang-kencangnya. Aku memukul-mukulnya.

  “Aish!” rintihnya merenggangkan pelukannya dan memegangi sebelah dadanya. Aku langsung melihat ke arahnya lalu terdiam mematung melihat bekas jahitan disana. “Kau ini.. Kalau mau pukul pelan-pelan!” desahnya kesal. Aku masih terdiam.

  “Hey?” ia mengacak-acak rambutku. Tanpa sadar kusentuh bekas jahitannya. Ini yang waktu ia menolongku? Pasti…….sakit…

  “I-ini…..gara-gara aku?” tanyaku. Sepi sejenak sampai aku mendengar helaan nafasnya.

  “Itu bukan salahmu. Ingat? Itu kecelakaan. Itu sama sekali bu-kan-sa-lah-mu,” gumamnya. Aku mengangguk lemah.

  “Ne. Mianhae. Goma…”

  “Pssstt… Tidak perlu berterima kasih ^^” bisiknya meletakkan ujung telunjuknya di bibirku. Aku hanya diam menunduk.

  Trrt.. Trrt..

  Ponsel Kyuhyun yang masih kugenggam bergetar. SMS? Dari…siapa?

  “Hey! Kembalikan ponselku!” serunya hendak menyambar ponselnya. Aku langsung menjauhkan ponselnya dan berjalan menjauh.

  “Shireo,” gumamku. Tiba-tiba saja kakiku sudah tidak menapak di lantai lagi.

  “K-Kyuhyun!! Turunkan aku!!” seruku.

  “Shireo,” bisiknya. Aku memukul-mukul tangannya supaya menurunkanku. Untuk kesekian kalinya kupukul akhirnya pegangannya lepas. Aku langsung menahan tubuh supaya tidak jatuh. Untung saja! ==a

  “Nappeuni,” gerutunya. Kemudian aku melihat evil smirk khasnya muncul. Ia langsung merogoh sakuku dan mengambil ponselku.

  “Dapat!” serunya senang.

  “Hyaaaaa!!! Jangan dibuka!” seruku. Ia malah berlari ke atas kasur.

  “Kau boleh membongkar isi ponselku, tapi aku juga mau lihat isi ponselmu,” gumamnya duduk bersila disana.

  “Chamkkaman! Andwae!” aku berusaha menarik-narik ponselku.

  “Aish! Ya! Sedikit lagi aku….”

  Brak!

  Kami memutar kepala kami melihat ke arah pintu kamar yang terbuka. Nickhun sudah berdiri menatap kami aneh disana.

  “K-alian….sedang apa?” tanyanya. Aku kembali melirik ke arah Kyuhyun dan baru menyadari kalau jarak kami tidak lebih dari sepanjang jari kelingking – mengingat sekarang aku sendiri tanpa sadar duduk di pangkuannya. Spontan aku langsung mundur menjauh dan menunduk malu.

  “Tidak apa-apa,” gumamku.

  “Kalian yakin? Kalian mencurigakan,” balasnya. Hey! Apa maksudnya mencurigakan? Ke mana sih arah pembicaraan kami?

Nickhun’s POV
Flashback…

  Ini baru pukul empat tapi aku sudah lapar. Haih.. Menyebalkan. Perutku ini tidak bisa di ajak kompromi.

  Aku pun berjalan setengah sadar keluar kamar. Tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari kamar Kyuhyun.

  “Hyaaaa!!!” seru seseorang dari balik kamar. Itu pasti yeojachingu Kyuhyun. Sedang apa pagi-pagi begini teriak-teriak? Karena penasaran aku menempelkan telingaku pada pintu.

  “N-neo..pakailah kausmu!” serunya lagi. OMO?! Maksudnya Kyuhyun tidak memakai bajunya?!

  “P-pakailah kausmu!” serunya lagi. Mereka tidak sedang……..

  “Kyaaaaa!!!” jeritnya lagi. Membuatku mundur mengernyit. Kutempelkan telingaku lagi mendengar mereka bergumam-gumam pelan tak jelas.

  “K-kau genit!! Kau…”

  “K-kyuhyun-ah..! Lepaskan!”

  “Aish! Kau ini.. Kalau mau pukul pelan-pelan!” sepi sejenak. Aku mundur lagi. Kok sepi ya? Aku mendengar suara berisik lagi jadi kutempelkan lagi telingaku di pintu.

  “K-Kyuhyun!! Turunkan aku!!”

  “Nappeuni..! Dapat!”

  “Hyaaaaa!!! Jangan dibuka!” aku membelalak lagi. Di….buka?! O_o Tuhan ampuni aku!

  “Chamkkaman! Andwae!”

  “Aish! Ya! Sedikit lagi aku….”

  Tanpa basa-basi kubuka pintunya. Mereka berdua duduk pangku-memangku di atas kasur sambil menatap aneh ke arahku. Erh? Mereka…..kok..??!

  “K-alian….sedang apa?” tanyaku. Ia langsung mundur menjauh.

  “Tidak apa-apa,” gumamnya.

  “Kalian yakin? Kalian mencurigakan,” balasku mengernyit.

  “Khunnie! Kau macam-macam kulaporkan pada yeojachingu-mu!” seru Kyuhyun menatapku tajam. Aku begidik ngeri lalu mengeleng kuat.

  “Aniya! Aku tidak berpikir macam-macam kok!” elakku. “Jangan lapor padaVictoria!” seruku.

  “Victoria siapamu?” tanya yeojachingu Kyuhyun itu.

  “Dia yeojachingu-nya Nickhun. Kenapa? Kau masih cemburu ya? Hah? Hah?” goda Kyuhyun menyenggol bahu pacarnya itu yang sedang menunduk malu.

  “Siapa cemburu?” tanyaku penasaran.

  “Dia cemburu karena Song Qian dekat denganku~” ujar Kyuhyun tertawa. Pacarnya itu langsung memukul lengannya – sepertinya keras sekali karena suara pukulannya terdengar jelas.

  “Ckck.. Kau ini. Aku juga bisa cemburu kau terus mendekatiVictoria,” omelku. Ia masih terkikik lalu merangkul erat-erat pacarnya.

  “Kalau begitu aku akan menempel terus padanyaaaaa~” ujarnya manja. Aku hanya tersenyum tipis sambil terkikik. Lucunya. ^^

Kyuhyun’s POV

  “Jagiya~ Aaaa…,” rengekku membuka mulutku. Ia mendengus kesal lalu menyuapiku dengan kimbab. “Aah! Minyeoni jjang!” pujiku memeluknya lagi. Ia mendesah pelan lalu mendorongku menjauh.

  “Kyuhyun! Ini tempat umum!” bisiknya. Aku hanya terkikik. Senang sekali menggodanya seperti itu. Wajahnya yang merona terlihat sangat lucu! ^///^

  “Aaaa~” aku membuka mulutku lagi. Ia mendengus kesal lalu malah memasukkan sawi ke mulutku. Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat sebelum sawi itu menyentuh lidahku.

  “Makan sayur yang banyak,” ujarnya masih menyodorkan sawi itu. Aku menggeleng kuat-kuat.

  “Shireo!” pekikku tertahan.

  “Wae? Ini sehat,” gumamnya bertopang dagu masih menungguku membuka mulut. “Makan ini tidak akan mati,” lanjutnya.

  “Tidak makan itu juga tidak akan mati,” balasku. Ia mendengus kesal.

  “Egi cheorom,” gerutunya kesal.

  “Kyuhyun! Minyeon!” panggil seorang yang familiar. Kami langsung melihat ke arahnya dan menemukan Sungra dan Siwon sedang bergandengan kea rah kami. “Sedang apa?” tanya Sungra.

  “Makan dong. Masa mau main Starcraft di sini,” celetukku sukses mendapat jitakan keras dari Siwon. “Aish!Sakit tahu!” gerutuku.

  “Sudahlah. Kyuhyun-ah, makan sendiri sekarang! Aku tidak mau menyuapimu lagi!” omel Minyeon. Aku langsung cemberut memelas.

  “Wae?” tanyaku memajang puppy-eyes. Ia berdeham sejenak.

  “Tidak enak dilihat Sungra dan Siwon!” bisiknya pelan. Aku hanya terkikik.

  Deg!

  “Err…,” erangku dan Minyeon bersamaan. Kami saling melirik satu sama lain begitu juga Sungra dan Siwon sedang mengernyit melihat kami.

  “P-permisi.. aku ke toilet dulu,” Minyeon langsung berdiri melesat ke kamar mandi. Aku menyentuh dadaku. Detakkannya berubah aneh. Berdetak sangat kencang tapi menyakitkan. Sebenarnya ini apa?

  Aku menggosokkan kedua tanganku berusaha tenang. Sudahlimabelas menit berlalu Minyeon tak kunjung kembali. Apakah ia baik-baik saja?

  Trrrt.. Trrt..

  Ponsel Minyeon yang tertinggal di meja tiba-tiba bergetar. Aku mengernyit lalu meraihnya. Donghae?

  “Yoboseyo?! Aigoo, Minyeoniya!!! Akhirnya kau angkat juga! Kenapa sekarang kau jarang check-up? Donghwa hyung khawatir kalau nanti penyakitmu bertambah parah. Hari ini datang ya! Lalu soal hasil rongsen yang kemarin keluarnya besok, siang kutemani. Dan….”

  “C-chamkkaman!” seruku. Sepi, baik dari pihak Donghae maupun Sungra dan Siwon yang menatapku seolah bertanya ‘Apa yang terjadi’.

  “K-Kyuhyun?” balas Donghae di ujung sana.

  “Donghae-ya, apa maksudmu hasil rongsen? Minyeon kenapa? Dia tidak pernah check-up?” tanyaku langsung berurut-urut. Tak ada jawaban.

  “LEE DONGHAE!” seruku lagi.

  “M-mianhae, Kyuhyun-ah….lebih baik kau tanyakan saja pada Minyeon,” pesannya sebelum memutuskan sambungannya. Aku panik. Entahlah. Sepertinya otak, jantung, nafasku semuanya bekerja lebih keras.

  “Gwaenchanha?” tanya Siwon. Aku menggeleng. Tidak! Tidak ada yang baik-baik saja!

  “M-Minyeon! Sungra! Tolong cari Minyeon di kamar mandi!” seruku langsung. Ia mengernyit heran tapi tetap menangguk lalu melesat pergi. Sesange! Apa yang terjadi padanya?!

To Be Continued…

Aahh~~ Finally 😀
Put your comments yah~! 🙂

Love Letter Postman [Part 9]

Kyuhyun’s POV

  Selagi Kwan ajussi menghubungi pengacara aku menghubungi Siwon hyung.

  “Yoboseyo?” terdengar suaranya jelas di teleponku.

  “Yoboseyo, hyung,” balasku.

  “Kenapa?”

  “Aku mau minta tolong.”

  “Ya?”

  “Aku mau datang ke rumahmu. Boleh kan?”

  “Tentu. Kenapa tidak.”

  “Ne. Gomawo,” aku menutup teleponku. Aku berjalan ke arah Kwan ajussi.

  “Kwan-ssi. Aku mau mencari sampel untuk diperiksa DNA-nya. Tunggu di kafe biasa dengan pengacaranya,” ucapku. Ia mengangguk. Aku pun berlalu pergi ke rumah Siwon. Semoga saja Mihwa itu tidak ada di rumahnya.

  Aku berdiri di depan gerbang rumah Siwon. Kelihatannya ini lebih menyeramkan dari yang kubayangkan.

  “Kyuhyun-ah, silakan masuk,” panggil Siwon dari dalam. Aku mengangguk dan berjalan masuk saat seorang pelayan membukakan pintu.

  “Ada apa?” tanya Siwon begitu kami duduk di ruang tamu.

  “Buku album sewaktu kita masih TK masih kau simpan? Aku membutuhkannya,” pintaku bohong. Sebenarnya punyaku malah masih tertata rapi di rumah. Itu album saat aku dan para member Super Junior – juga Minn, masih TK.

  “Oh,ne. Kurasa ada di perpustakaan. Ku ambilkan dulu,” ia berlalu pergi. Bagus, rencana awalku berhasil. Setelah memastikan ia sudah pergi aku pun berlari kecil menaikki tangga mencari kamar sepupunya.

  Tidak begitu sulit, seperti kamar tidur pada umumnya kamarnya terletak dekat kamar utama – karena nuansa feminim juga foto-fotonya aku yakin itu kamarnya. Aku mengedarkan pandanganku ke seisi ruangan. Hmm.. Kalau aku mengambil sikat giginya nanti pasti curiga. Aku pun berjalan menuju meja rias dan menemukan beberapa peralatan rias. Aku mengambil sarung tangan karet di sakuku dan memakainya. Perlahan ku ambil sisir yang tergeletak di sana dan mengambil helaian rambut yang tertinggal. Aku mengeluarkan kantung plastik kecil dan memasukkan helaian rambut tadi ke dalam kantung tersebut. Setelah itu aku segera melepas sarung tangan itu dan memasukkannya ke dalam saku bersama dengan kantung plastik tadi. Ini lebih mudah dari yang kubayangkan. Rencanaku berhasil.

  Aku segera berjalan keluar kamar tersebut dan duduk manis di sofa. Tepat sekali, Siwon datang membawa buku album yang kuminta.

  “Kyuhyun-ah, maaf lama menunggu. Ini albumnya,” ia menyodorkan album yang masih bersih rapi seperti baru. Aku menerimanya dan mengangguk.

  “Hyung, kamar yang di sana kamar siapa?” tanyaku menunjuk kamar yang tadi kumasuki.

  “Kamar sachonku. Kenapa?” jawabnya. Nah, bagus sekali. Kukira aku salah.

  “Tak apa-apa. Hanya bertanya,” jawbaku lalu beranjak dari tempatku. Nah, sekarang untuk DNA Seomin, aku harus minta noona.

***

  Setibaku di rumah sakit aku langsung menghampiri ruangan noona. Tapi ruangannya kosong. Noona tak ada di tempat. Ponselnya juga ditinggal di meja. Sepertinya sedang ada tugas.

  “Permisi, Dokter Cho Ahra ke mana?” tanyaku pada perawat yang lewat.

  “Oh, ia sedang menangani pasien di…sana,” ia menunjuk sebuah ruangan yang tak asing lagi. Tak salah lagi, Seomin.

  Aku segera berlari ke depan ruangan itu menunggu noona keluar. Andwae. Seomin harus bertahan sampai aku benar-benar bisa mencocokkan hasil DNA-nya dengan Mihwa!

  Beberapa menit aku menunggu akhirnya noona keluar juga. Aku segera berdiri di hadapannya.

  “Noona! Seomin kenapa?” tanyaku. Ia mendesah pelan. Ia menggeleng pelan.

  “Semakin parah,” ucapnya. Aku menunduk. Bagaimana ini? ‘Adik’ kesayanganku dan juga Henry, mereka takkan suka ini.

  “Noona, aku menemukan orang yang kemungkinan bisa membantu. Dia kemungkinan besar adalah kakak kandung Seomin,” ceritaku. Ia sempat kaget namun bisa mengontrolnya.

  “Lalu bagaimana?” tanyanya. Aku mendesah.

  “Aku tadi ke rumahnya dan mengambil smple untuk diperiksa DNA-nya. Tinggal punya Seomin,” jawabku. Ia menepuk pelan pundakku.

  “Kalau begitu serahkan padaku,” gumamnya. Aku menyerahkan plastik tadi kepadanya.

  “Aku sudah memanggil pengacara untuk mengurus masalah satunya. Supaya orang itu tahu kalau ia punya adik,” jelasku. Ia mengangguk paham. Baguslah. Setidaknya masalah ini sedikit menjelas.

  “Dokter Cho, keadaan pasien menurun,” panggil seorang perawat. Aku membulatkan mataku. Aku langsung menyambar ponselku.

  “Kwan ajussi, segera bawa Choi Mihwa ke sini! Keadaan sedang darurat!” seruku. Aku siap menerima hal terburuk yang akan terjadi. Tapi bagaimana dengan Henry?

 

Henry’s POV

  Sudah sekitar lima bulan Seomin tidak kembali. Mungkin dia sudah punya tempat baru untuk tinggal. Kyuhyun, juga Mihwa – yang ternyata adalah kakak kandung Seomin, sudah memenangkan perkara yang mereka ajukan dipengadilan. Mereka bilang padaku kalau Seomin sedang pergi jauh. Mungkin luar negeri?

  Aku melirik ke dalam kamar Minn. Tak ada orang? Bagus. Aku langsung masuk dan membongkar semua laci. Aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu dariku.

  Beberapa menit sudah aku membongkar, tapi nihil. Sepertinya tak ada barang yang disembunyikan. Baru saja aku mau menyerah, tapi aku melirik ke atas lemari.

  “Kurasa di situ,” gumamku mengambil kursi dan kuletakkan di depan lemari. Aku naik ke atasnya dan meraba-raba atas lemari. Tanganku menyentuh sesuatu. Kutarik benda itu. Aku mengernyit heran. Ini kotak CD? Tapi kok tulisannya ‘To : Mochi’? Kurasa perlu dilihat.

  Aku membawanya turun dan kusetel di laptop kamarku juga memasang headphone untuk mendengarkannya. Begitu kunyalakan aku melihat Seomin, ia berada di sebuah taman yang luas.

  ‘Mochi.. Kuharap kau tahu, aku akan pergi jauh. Jauh….sekali. Kuharap kau juga takkan mencariku. Kau tak perlu mencariku, aku baik-baik saja. Setiap aku membayangkan dirimu, aku akan merasa lebih baik lagi. Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja? Jujur saja sebenarnya aku sangat amat merindukanmu.

  Bagaimana sekolahmu? Pelajaranmu masih baik kan? Kalau Minn? Dia masih bersama dengan Kyuhyun? Katakan pada Siwon dan Sungra, mereka harus bersama terus. Juga Donghae dan Heerin. Oh, iya! Bagaimana dengan pekerjaanmu mengantar surat itu? Kuharap kau dan para hyungmu bisa akrab terus.

  Lalu, kau juga jangan lupa untuk makan teratur, istirahat juga. Aku tidak mau melihat pipi mantou mu itu hilang. Oh, iya. Aku juga belum mendengarkan secara langsung permainan biolamu. Sayang sekali.

  Mochi-ah, aku mau mengaku, selama ini yang menuliskan surat-surat itu adalah Mihwa, Choi Mihwa. Kau mengenalnya bukan? Dia…kakakku. Sebenarnya aku sudah tahu itu sejak dulu, maka dari itu aku memutuskan untuk bersahabat dengannya. Tapi aku yang mengantar surat-suratnya. Sepertimu kan?

  Pada awalnya kukira aku salah. Tapi ternyata ini benar. Maaf karena telah membuatmu menunggu. Tapi aku ingin sekali mengatakannya sebelum aku pergi. kuharap aku belum terlambat. Mochi-ah, wo ye ai zhe ni dao yongyuan. Saranghae’

  Aku terdiam. Sekarang dia ada di mana? Aku ingin sekali menemuinya. Setidaknya sebelum ia pergi.

  Kemudian pandanganku beralih pada sebuah rekorder yang ada di sana. Aku memasang headsetku dan mendengarkannya.

  ‘Mochi.. Kau sudah lihat CD-nya kan? Kuharap kau memang tak mencariku. Tapi kalau kau benar-benar ingin bertemu denganku, dengarkan petunjuk dari rekorder ini. Ini akan membantumu tiba di tempatku. Tapi kau harus berjanji, kau tidak boleh memarahi siapapun yang merahasiakan tempatku berada. Kau harus mempersiapkan hatimu untuk bertemu denganku. Janji ya?’

  Aku mengangguk pelan. Berikutnya terdengar suaranya menjelaskan petunjuk jalannya. Aku menyambar biolaku, memejamkan mataku lalu mulai berjalan keluar. Kulangkahkan tiap kakiku dengan mantap walaupun mataku tertutup. Aku percaya pada setiap kata-kata yang diucapkannya.

  ‘Berhentilah. Aku di hadapanmu. Mianhae.’

  Aku membuka pelan mataku. Aku menatap nanar gundukan tanah di hadapanku dengan batu nisan yang terukirkan nama Seomin, Chang Seomin. Aku hanya terus menatapnya mematung, tak menggerakkan satupun jari tanganku. Aku sudah janji akan bersiap untuk melihat apa yang terjadi.

  “Seomin-ah, annyeong,” ucapku pelan pada akhirnya. Walaupun dipelupuk mataku tergenang air mata, aku masih tersenyum.

  “Bagaimana kabarmu? Baik? Aku baik-baik saja. Makanku teratur, istirahat juga teratur. Semua hyung juga baik-baik saja,” aku terisak masih tersenyum. Rasanya sakit.

  “Aku juga merindukanmu, Seomin-ah. Maaf, karena aku tidak bisa menjagamu, aku juga tak bisa menemanimu. Sebenarnya aku ingin melihatmu. Aku ingin memelukmu. Sekali saja. Terima kasih karena telah menjadi bagian dari hidupku,” isakkanku semakin keras.

  “Terima kasih karena kau mengatakannya. Nado saranghae,” bisikku. Kurasakan hembusan angin menyentuh wajahku lembut. Air mataku menetes pelan.

  Aku mengambil biolaku dan memainkannya di sana. Tanganku sedikit bergetar. Air mataku menurun deras membasahi pipiku. Untuk saat ini hanya satu yang kurasakan. Rindu.

  “Seomin-ah, gomawo,” bisikku lagi. Aku mengusap air mataku dan berjalan pergi.

  Aku merindukannya. Saat ia menyentuh pipiku, saat ia bicara padaku, saat dia tinggal di rumahku. Semuanya. Semuanya mengalir di otakku.

  Aku duduk di bawah pohon tempat aku bersama Mihwa dulu. Aku menengadah ke atas melihat banyak sekali origami bangau tergantung di ranting-ranting pohon itu. Warna-warni. Aku tahu siapa yang memasangnya. Mereka yang tadi menyuruhku ke sini.

  Yah, hyungnimdeul, Minn, Sungra, Heerin, dan Mihwa. Mereka bilang itu dibuat Seomin selama dia di rumah sakit, isinya itu semua permohonannya. Jumlahnya hanya ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Ya, kurang satu. Padahal seharusnya menjadi seribu. Aku tersenyum tipis.

  Aku mengambil selembar kertas origami dan bolpen.

  ‘Saranghae, Seomin-ah. Gomawo’

  Kulipat kertas itu menyerupai bangau origami lainnya yang digantung di atas. Perlahan aku memanjat pohon itu dan memasangnya di salah satu ranting.

  “Aku akan melengkapimu,” bisikku pelan. Aku menunduk.

  “Gaseumi apha,” bisikku terisak. Ya, hatiku sakit. Sakit sekali.

  Aku memandangi pemandangan sore di sini. Bagus sekali.

  “Mochi-ah, aku akan selalu di sisimu. Tenanglah,” aku mendengar sebuah bisikkan lembut tepat di telingaku. “Bogosgipeo,” lanjutnya. Ya, rasa rinduku juga takkan hilang. Tak bisa hilang. Karena aku juga tak ingin bayangan dirinya hilang dari benakku.

 

THE END

Annyeong!!!!
Akhirnya selesai juga.. Hahaha… Selsai dalam sehari, itupun diingetin ama hoobae~ *gomawo! -gubrak!-*

Love Letter Postman [Part 2]

Henry’s POV

  Akhirnya jam pulang sekolah berbunyi! Hari ini aku libur dari pekerjaanku – entah mengaapa hyung tak ada yang menitipkan surat padaku. Lalu jadwal resital kami juga dimundur sehari karena kepala sekolah sedang sakit – jadi kami punya waktu sehari lagi untuk latihan. Aku ingin berjalan-jalan sebentar, selagi menunggu Minn yang mengikuti klub musik pulang.

  Aku berjalan menyusuri jalan yang sepi menuju ke taman. Sepi sekali. Menyenangkan.

  “Hey,” panggil seseorang. Aku berbalik dan melihat seorang gadis, dengan rambut bergelombang kecoklatan dan make up tipis juga pakaian kasual.

  “Apa?” tanyaku agak dingin.

  “Tidak apa-apa. Hanya menyapa,” gerutunya. Menyapa? Aneh sekali gadis ini.

  “Kau aneh. Buat apa menyapa orang yang tak kau kenal?” tanyaku lagi.

  “Huh! Aku tinggal di dekat sini, karena itu aku mau bersikap ramah pada orang-orang sini,” balasnya.

  “Aku bukan orang sini kok. Tak usah menyapaku. Lagipula rumahku juga jauh,” ujarku terus terang.

  “Kau ini dingin sekali sih! Ya sudah kalau begitu aku pergi,” ia berjalan pergi. Aduh.. Suasana di sini jadi tak enak. Aku memutuskan untuk pergi ke cafe saja.

  Aku baru saja tiba di cafe saat ada yang menepuk bahuku.

  “Mochi,” aku berbalik melihat Seomin sudah berdiri di sana. Rambutnya diikat ke belakang dan ia sudah berganti pakaian – sedangkan aku masih pakai seragam.

  “Seomin-ah! Sedang apa kau di sini?” seruku. Ia menunduk sedikit.

  “Cuma berjalan-jalan,” jawabnya. Sepi. Tak ada topik untuk dibahas.

  “Mochi…,” panggilnya pelan.

  “Ne?”

  “Kau.. Hobimu apa?” tanyanya. Aku mengernyit. Hobi?

  “Aku suka musik,” jawabku ringan. Ia mengangguk paham.

  “Ooohh…,” gumamnya.

  “Seomin-ah, mau masuk ke dalam? Aku lapar. Kau mau kan menemaniku?” ajakku. Ia menatapku sesaat, lalu akhirnya mengangguk juga. Kami masuk beriringan dan mengambil tempat duduk dekat jendela.

  “Pesan cappucino-nya satu. Lalu…,” aku melirik ke arah Seomin.

  “Orang juice,” ia tersenyum menunjukkan eye smile-nya. Aku terpaku menatapnya. Aegyo…

  “Kau suka orange juice?” tanyaku. Ia tersenyum lagi. Lalu mengangguk ceria.

  “Ne. Tentu,” jawabnya. Oh, catatan untukku : Ia suka jus jeruk. Pesanan kami pun datang. Kami mengobrol tentang banyak hal.

  Sudah sekitar satu jam kami mengobrol. Kami berjalan keluar cafe.

  “Mochi,” panggilnya. Aku berbalik menatapnya.

  “Ne?”

  “Umm.. Kau.. Suka cewek seperti apa?” tanyanya menunduk. Hah?

Seomin’s POV

  Ia mengajakku mengobrol di cafe. Senang sekali rasanya. Kami berbagi banyak hal. Seusai kami mengobrol, aku berpikir.

  ‘Apa sebaiknya kutanyakan seperti apa tipe ceweknya ya?’

  “Mochi,” panggilku tanpa sadar.

  “Ne?” ia menatapku. Aduh! Eotteohke? Aku jawab?

  “Umm.. Kau.. Suka cewek seperti apa?” tanyaku menunduk menyembunyikan wajahku yang merona.

  “Hmm.. Aku suka cewek yang ceria dan punya senyum yang manis. Juga bermata indah,” jawabnya. Ugh! Sempurna sekali! Bagaimana bisa aku memenuhi syarat seperti itu?

  “Kurasa cewek sepertimu sempurna bagiku,” sambungnya. Aku membeku menatapnya membelalak. I-iyakah?

  “Hah?”

  “Ermm.. Maksudku, cewek yang se-tipe denganmu juga akan cocok denganku,” jawabnya. Aku menghela nafas. Sepertinya ini akan sulit.

  “Hmm.. Aku pulang ya,” aku membungkuk. Ia ikut membungkuk lalu melambaikan tangannya.

  “See ya!” serunya. Aigoo.. Bisakah ini kusebut kencan?

 

Henry’s POV

  Aku pulang begitu selesai ‘berkencan’ dengannya. Kulihat Minn sudah pulang dan sedang menonton TV.

  “Minn-ah!” seruku. Ia berbalik melihatku.

  “Ne?”

  “Tak apa. Hanya memanggil,” aku duduk di sebelahnya.

  “Kau senang sekali hari ini?” tanyanya melihatku. Aku tersenyum.

  “Tentu saja.”

  “Kenapa?”

  “Hm.. Berkencan.”

  “Ne? Jinjja?”

  “Jinjja. Dengan…”

  “Seomin?” tanyanya mengejutkanku. Ia tahu? Aku mengangguk pelan.

  “Langkahmu bagus sekali, Mochi,” ia menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum merona. Senang sekali.

***

  “Mochi-ah IREONA!” seseorang mengguncang tubuhku hebat. Aku membuka mataku. Minn?

  “Ya! Kita bisa terlambat! Ireona! Palli!” ia mencubitiku. Aku segera berdiri dan pergi mandi.

  “Ck! Kau ini! Kalau tak cepat nanti terlambat! Ayo! Sarapan di sekolah saja,” ia menarikku keluar begitu aku sudah siap dengan seragamku. Ia ini buru-buru sekali.

  Kamipun tiba di sekolah, untung masih ada sepuluh menit sebelum bel. Aku mengatur nafasku yang terengah-engah karena berlari-larian dengan Minn – yang juga sedang kecapekan.

  “Haaaaigooo!! Chaaapeeekk!!!” desahnya menyandarkan kepalanya di meja. Tahu capek kenapa ia masih ngotot untuk lari? ==a

  “Ckck.. Kalian ini kok bisa telat?” tanya Kyu. Semua hyung juga mampir ke kelasku. Termasuk teman ‘surat-menyurat mereka’.

  “Nyahris,” aku menambahkan.

  “Ya.. Ya.. Nyaris telat,” gerutunya.

  “Gara-gara Mochi keasyikan tidur,” jawab Minn melirikku tajam. Aku hanya meringis.

  “Dasar pemalas!” seru Sungra membaur.

  “Henry-ah! Kau dicari Seomin!” seru Ryeowook dari luar. Huh? Seomin?

  “Ne,” aku bangkit berdiri dan berjalan keluar. Seomin sudah ada di sana, bersandar pada dinding luar kelas.

  “Seomin-ah,” panggilku. Ia berbalik ke arahku terlonjak.

  “Ohh.. Mochi,” ia menunduk.

  “Kau mencariku?” tanyaku. Ia mengangkat kepalanya menatapku.

  “Ne. Emm.. Kau dan Minn bisa ke rumahku malam nanti? Kalau kau mau bisa ajak teman-temanmu juga. Aku mengadakan acara ulangtahun,” kulihat pipinya merona. Aigoo! Neomu kyeopta!

  “Tentu saja. Nanti akan kusampaikan,” aku tersenyum. Akhir-akhir ini memang aku lebih sering tersenyum padanya.

  “Gomawo,” ia berjalan kembali ke kelasnya. Aku sendiri juga kembali memasuki ruangan kelasku. Suasana agak hening. Para hyung juga tidak melihat ke arahku.

  “Ehm.. Heerin-ah, kau ada acara nanti malam? Cafe dekat pantai jam tujuh. Aku yang jemput,” Donghae hyung merangkul pundak Heerin. Baiklah. Mereka tak perlu diundang.

  “Sungraaaa!! Kau mau mencicipi makanan di restoran Perancis? Kutraktir nanti malam!” seru Siwon hyung memeluk Sungra. Oh, mereka juga tak perlu datang.

  “Kangin! Nanti kita double date ke mall yuk!” Leeteuk hyung mengerling.

  “Shindong! Kita juga double date!” seru Heechul. Aku mengernyit heran – apa mereka masih waras? Mereka dicoret dari daftar undangan.

  “Hyoin! Ibuku ingin melihatmu,” Ryeowook menggenggam kedua tangan Hyoin. Belum lulus SMA sudah lamaran? ==a tak perlu datang.

  “MinGi, mau ke bioskop?” tawar Hankyung pada Mingi noona. Berkurang lagi.

  “Minyoung-ah, mau lihat pentas dramaku nanti malam?” ajak Kibum pada gadis bermata sipit di sebelahnya. Huh? Ia tak mengundangku melihatnya, aku juga takkan mengundangnya.

  “Harin! Hari ini kita main bareng ddangkkoma yuk,” ajak Yesung pada Lee Harin, anak kelas1C. Memangnya ddangkkoma anak mereka? ==a

  “Rinbin-ah, nanti malam kubantu masak ya,” Sungmin hyung ikur-ikutan. Hah? Masak bersama? Aku juga tak perlu ajak dia.

  “Hyejoon! Ke toko buku malam ini ya!” Eunhyuk menambahkan. Sejak kapan ia suka je toko buku? Dasar monyet! Tak perlu ajak orang berisik sepertinya.

  “Seulyeon! Nanti malam kudatangi rumahmu,” Zhoumi ikut juga. Ia juga tak bisa ikut.

  Aku melirik ke arah mereka satu per satu, lalu berhenti pada dua orang yang tersisa. Kalau begitu hanya mereka yang perlu diajak – karena mereka juga nggak mungkin pergi kencan.

  “Kyuhyun-ah, Minn…”

  “Minn-ah! Malam ini jam tujuh, taman dekat rumahku. Kujemput. Jangan menolak!” belum selesai aku bicara Kyuhyun sudah berbicara dengan Minn, membuatku menganga lebar. Ige mwoya?! Ngapain Kyuhyun mengajak Minn pergi? Kok… Aneh?

 

Kyuhyun’s POV

  Semua hyung ditambah Henry menatapku membelalak – termasuk Minn dan teman kencan hyung. Kenapa? Kan rencana awal kita juga membuat Henry pergi sendiri ke rumah Seomin?

  Yah.. Tadi saat Henry keluar, kami semua menguping pembicaraan mereka dan berniat membuat Henry berduaan dengan Seomin. Tapi ternyata sekarang malah aku yang terjebak. Kami lupa kalau tersisa aku dan Minn yang belum ‘berpacaran’ – setidaknya hanya istilah itu yang tersisa. Walaupun sebenarnya aku memang ingin pergi dengannya.

  “Tumben?” tanya Henry masih mengernyit. Aigoo! Kujawab apa? Mana Henry itu sepupunya pula! Aku bisa dicekik!

  “Ng… Kenapa? Tak boleh? Kau kan.. Cuma sepupunya, bukan pacarnya,” ucapku asal-asalan. Ia melotot ke arahku.

  “Kau ini! Ya sudah. Asal kau tidak melukainya, aku takkan membuatmu tak bisa masuk sekolah lagi,” desisnya. Aku hanya mengangguk pasrah. Seram sekali dia. ==a

 

Henry’s POV

  Aku melirik jam tanganku. Pukul enam malam. Aku mematut diriku lagi di cermin. Three-piece suit dan celana panjang yang baru saja dibelikan appa kemarin sudah membalut tubuhku.

  Aku segera menyambar sebuah kotak kecil dan kunci mobil, segera berlari menuruni tangga dan mengunci pintu – karena Minn sudah dibawa sama Kyuhyun.

  Klontang..

  Aku menendang sesuatu begitu aku berjalan. Aku menunduk, menemukan sebuah botol. Aku membungkuk dan memungutnya. Selembar kertas bergulung ada di dalamnya. Aku melepaskan penutup botol dan mengeluarkan kertas itu, lalu membacanya.

  ‘Pesta batal di rumah. Datanglah ke cafe yang kemarin.’

  Hah? Dari siapa? Seomin?

To Be Continued…

Allo~! Author’s here~ hohoho…
Part duanya agak pendek *mianhae*
Trus cewe yg muncul ditaman itu ntaran muncul lagi hohoho… tebak tuh siapa~! *mana bisa? author bego*

Gomawo~ 😀

%d bloggers like this: