Category Archives: Adventure

Letter of Angel XXIV “INSANE”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI, Part XXII, Part XXIII

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

Korea…. I back…..

Langit Seoul hari ini sangat cerah. Sinar matahari yang hangat, menghangatkan dinginnya pagi.

“Tuan Kim, selamat datang kembali di Korea” ujar sekretarisku. Sekretaris aku tak pernah berpikir untuk memiliki tangan kanan yang akan menyelesaikan semua urusan yang tak sempat aku urus sendiri. Dokter Kim Jaejoong hidupmu sudah berubah. Bukan lagi dokter Kim yang selalu mengurusi rumah sakit dan keluarganya saja, Yuri Haejoong sebenarnya kemana takdir akan membawaku?

“Tuan Kim” Sekretarisku menyadarkanku dari lamunan.

“Nyonya Kim menelpon. Dia ingin memastikan anda sudah sampai dengan selamat” Segera kurogoh ponsel dan memakai headset. Suzzy pasti khawatir. Aku sudah janji untuk menghubunginya segera setelah sampai di Seoul.

“Yeoboseyo” ujarku.

“Yeoboseyo, oppa” Aku bisa merasa kelegaan dari suaranya.

“Mianhae, baru bisa menghubungi sekarang”

“Gwaenchana. Asal kau baik-baik saja. Oppa, semua baik saja kan?” tanyanya.

“Maaf Tuan mengganggu. Doojoon menunggu anda di mansion. Ini laporan penyidikan yang anda minta. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan jas anda untuk pemakaman Tuan Shim. Kita akan sampai di mansion kurang dari 15menit lagi. Buket bela sungkawa sudah dikirim. Kikwang dan Junhyung sudah mengirim orang-orang terbaik untuk pengamanan dan pengawasan keluarga dan sahabat anda.”
Jaejoong mengambil nafas panjang.

“Kematian Changmin apa sudah ada titik terang? Bagaimana laporan hasil penyelidikan dan olah TKP?” Sebagai seorang dokter yang juga pernah mengalami rotasi dokter muda di berbagai bagian termasuk bagian forensik sebelum memutuskan menjadi dokter bedah jantung, Jaejoong cukup mengetahui hal-hal semacam ini.

“Sementara ini polisi masih menganggap ini kasus pencurian biasa terkait hilangnya beberapa barang berharga serta mobil di kediaman Kyuhyun, tetapi kemungkinan besar ini adalah alibi”
Jaejoong terdiam sejenak dan berpikir.

“Saat kejadian siapa saja yang berada di sana?”

“Adik Cho Kyuhyun, Lee Jieun. Tidak lama kemudian Goo Hara tiba di TKP dan langsung memanggil ambulance dan polisi”

“Jieun? Jangan katakan kalau…..” Tenggorokan Jaejoong tercekat. The worst thing is standing beside someone that you love in lifeless stage, but the worse than that is realized your soul die in your arms.

“Oppa” Suara Suzzy membawa Jaejoong kembali ke dunia nyata.

“Are you okay?”

“Yes” jawab Jaejoong pendek.

Suzzy menarik nafas panjang.

“I’m your wife even we didn’t know each other so long. I know you’re not okay. Never say you’re happy when you’re sad, never say you’re fine when you’re not okay, never say you feel good when you feel bad. There are times you are afraid, times you are confused and times you feel uneasy. You start to cry, you feel alone, you stop to love. Oppa, you still have me. Even you didn’t want make me worry, you make me worry already. Be strong and courage as you’re, but don’t be afraid to be weak in front of me. It’s not time to act strong. We are here oppa and always be here to support you. Kris has missed you already.” Suzy memberi penekanan pada kata-kata yang menurutnya mampu membuat Jaejoong terbuka padanya.

“I miss you two” Jaejoong tersenyum kecil setelah mendengar kata-kata Suzy.

“Oppa, ….”

“I’m okay. I must stay strong, I ever through this before. Sky is falling down, froze, dark cloud commit to kill myself. I knew it better. If I didn’t have them, I wouldn’t be able met you and had chance once more to have family. Have Kris to protect and feel his slow breath in my tight embrace. I’ll be back soon. Please, take care of Kris and you too for sure. Send Kris my kiss, tell him his father really wants to see his peaceful sleeping face and his cute laugh”

“Tuan, ada telpon dari Kikwang. Nona Lee Jeun berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil yang lewat. Dia diselamatkan nona Jung Jessica yang berlari dan menariknya sebelum sempat tertabrak”

“Suzy, I’ll call you later” Jaejoong siap mengakhiri sambungan telponnya.

“Oppa, wait” Jaejoong bisa mendengar suara kecil tawa Kris.

We love you. Take care appa” teriak Suzy dan menutup telpon. Jaejoong tersenyum.
Jaejoong sampai di mansion dan terlibat pembicaraan sebentar dengan Doojoon dan segera mengganti pakaiannya dengan jas hitam.

Doojoon dan beberapa bodyguard mengikuti Jaejoong yang menggunakan mobil sendiri dan berusaha menjaga jarak agar tidak ada yang curiga.

Di pemakaman Jaejoong bertemu Donghae, Donghwa, Eunhyuk, Siwon dan masih banyak lagi. Suasana yang kembali mengingatkannya dengan suasana waktu itu. Jaejoong segera menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak membuat dirinya lemah di saat seperti ini.

“Hyung” panggil Donghae. Jaejoong mengangguk. Pemakaman Changmin diwarnai tangisan dari ayah, ibu dan saudara serta keluarga besarnya.

Setelah pemakaman mereka berkumpul di rumah Donghae dan sebagian memutuskan untuk menjenguk Jieun yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Kyuhyun tidak bisa membiarkan Jieun semakin terluka karena tinggal di rumah mereka akan mengingatkan Jieun dengan kematian Changmin.

“Bagaimana kronologinya?” ujar Jaejoong memulai pembicaraan. Tidak ada yang bicara.

“Jieun belum bisa dimintai keterangan” Junsu membuka mulut.

“Maksudmu?”

“Jieun adalah saksi kunci” Lanjut Junsu sambil menarik nafas panjang.

“Aku akan mengantar Jiyeon ke rumah sakit” kata Donghae, tetapi Donghwa menahan Donghae.

“Biar aku yang antar Jiyeon. Aku juga ingin menjenguk Jieun”

Donghwa berdiri, Donghae memberi kecupan singkat dan pelukan pada Jiyeon serta menghapus airmata Jiyeon.

Suasana kembali sunyi. Mereka semua terdiam, tidak tahu bagaimana untuk memulai pembicaraan. Terlalu banyak masalah yang terjadi dan semua terasa semakin berat sekarang.

“Donghae, lebih baik kau istirahat. Besok sidang akan dilaksanakan” nasihat Jungsoo.

“Kau pikir aku masih memikirkan sidang setelah apa yang terjadi pada Changmin. Kematian Changmin dan semua hal yang terjadi semua adalah karena aku. Andai saja bukan karena aku pasti tidak akan seperti ini. Aku yakin mereka melakukannya untuk mendapatkan Mavin. Seandainya aku melepas Mavin dari awal maka…”

Jaejoong memukul wajah Donghae dengan keras. Junsu dan Jungsoo berusaha menahan Jaejoong.

“Hyung, Junsu lepaskan aku. Anak ini perlu diberi pelajaran. Aku tahu yang aku lakukan” Junsu dan Jungsoo akhirnya mundur setelah mendengar teriakan Jaejoong yang juga memberi keyakinan pada mereka kalau Jaejoong tahu dengan benar apa yang dilakukannya.

“Kau pikir menyerahkan Mavin akan menyelesaikan masalah. Kau pikir jika sejak awal memberikan Mavin hal ini dapat dicegah? Hah??? Lee Donghae dimana otakmu? Bagaimana kau bisa menyalahkan Mavin atas segalanya” Jaejoong masih memegang kerah baju Donghae.

“Aku tak menyalahkan Mavin” teriak Donghae.

“Kau menyalahkannya. Jika tidak kau tak akan berkata demikian. Mana ada ayah yang berkata demikian? Hah???? Kau ingin berkata menyalahkan dirimu sendiri, tetapi ini sama saja kau menyesali keberadaan Mavin. Kau tahu kami semua berada disini untuk mendukungmu, kami aku, Junsu, Jungsoo hyung, Eunhyuk, Donghwa, Hara, Kyuhyun, dan Yuri, Haejoong, Changmin kami mendukungmu. Mavin adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kau jaga dan kami sudah menganggapnya sebagai bagian hidup kami. Kau pikir aku akan diam saja ketika pikiran bodohmu menguasai otakmu atau perasaanmu membutakan dirimu”

“Look who says that. Kau bahkan ingin mengakhiri hidupmu ketika Yuri noona dan Haejoong meninggalkanmu. Pernah kau memikirkan kami yang berada di sampingmu? Hah?” Jaejoong siap memukul Donghae, tetapi pukulannya jatuh di lantai beberapa inchi dari wajah Donghae.

Jaejoong berdiri dan menarik Donghae untuk berdiri dan memberinya pelukan saudara. Donghae seolah membeku, tetapi sesaat kemudian memeluk Jaejoong. Mereka diam dalam posisi itu dan Jaejoong melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku Hyung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tak tahu ini mimpi, drama atau benar hidup. Kenapa hidupkku seperti scenario drama? Drama sedih yang diatur untuk mendapatkan banyak rating dan nominasi serta penghargaan karena mampu menghadirkan alur sedih tanpa akhir? Pathetic… So pathetic”

“It’s fate not scenario. If it is scenario, God must will be the director” Jaejoong menepuk bahu Donghae.

Junsu meninggalkan mereka berdua dan segera menuju kantor kejaksaan. Laporan terkait penyidikan kasus Changmin yang dia minta langsung dari kepala penyidikan kasus telah keluar. Junsu memohon bantuannya, meski itu jelas terlarang untuk membocorkan dokumen, tetapi akhirnya dia menyerah dan memberikan Junsu informasi paling penting meski tidak semuanya dia berikan.

“Jaksa Kim ada 2 orang tamu di ruang anda. Mereka menunggu anda sejak tadi”

Junsu berpikir kalau Kepala Penyidik datang bersama staff atau polisi lain, Junsu terkejut ketika melihat Yunho di kantornya bersama kepala penyidik.

“Jaksa Junsu ada yang ingin saya bicarakan sebentar” Kepala penyidik keluar untuk memberikan mereka privacy.

“Saya mengajukan ke pengadilan untuk mengundur persidangan sampai pengacara pengganti Shim Changmin diperoleh” kata Yunho. Junsu mengangguk.

“Ada yang lain yang kau ingin sampaikan?” tanya Junsu.

“Temukan pembunuhnya. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku ingin kita bekerjasama, aku akan selidiki keluarga Choi. Harusnya aku menggunakan praduga tak bersalah, tetapi kuakui aku curiga pada Tuan Besar Choi”

“Bukankah dia klienmu?” tanya Junsu.

“Klien? Klien adalah orang yang mempercayai pengacaranya entah bagaimanapun itu. Bagiku klien adalah orang yang mengatakan dirinya bersalah jika bersalah dan tidak jika dia tidak bersalah. Aku bisa meringankan hukumannya dengan memperjuangkannya, tetapi ketika dia sudah menutupi sesuatu yang harusnya aku ketahui, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Berapa banyak kebohongan yang dia rakit, aku tak ingin menjadi boneka dari klien. Dan lagi….”
Yunho menarik nafas panjang.

“Melihat rival pengacaramu dimakamkan bukanlah hal yang mudah. Aku tak punya kata yang baik untuk menyampaikannya. Namun, satu yang pasti aku akan kehilangan seorang rival yang aku prediksi mampu menjatuhkanku untuk pertama kalinya. Seseorang yang mampu membuatku merasakan ketegangan dan harus berpikir sangat keras di persidangan. Aku akan merindukan sensasinya dan aku akan merindukan tatapan dinginnya saat menghadapiku. Shim Changmin…. Prince of Court Yard”

———————————————————————————————–

I will leave for you so I will get to hate you
Now I won’t cling onto you anymore
I’m gonna be better – it’s better if I’m not here
Especially today, you have so many secrets

“Maaf bisa keluar sebentar. Kami perlu memeriksa keadaan pasien”

“Dokter aku ingin berada disini. Aku perlu tahu keadaan adikku” Kyuhyun bersikeras.

“Eunhyuk…. Maaf Dokter Lee. Bolehkah saya juga tinggal disini. Saya harus memastikan kalau dia baik-baik saja agar semua merasa lebih tenang. Kyuhyun, Hara, Jiyeon aku janji akan memberikan informasi kepada kalian. Kami tak akan bohong dan pegang janjiku Kyuhyun. Aku tak akan mengatakan hal yang hanya membuatmu tenang saja” ujar Donghwa meyakinkan.

Kyuhyun akhirnya dengan berat hati mengikuti Hara yang memegang tangannya mengajak keluar dan Jiyeon memberikan tatapan sedih sejenak sebelum keluar menyusul Kyuhyun dan Hara.

Donghwa melihat Eunhyuk yang memeriksa Jieun.

“Hyung, kau meyukainya?” Donghwa terkejut mendengar pernyataan Eunhyuk.

“Aku bisa melihatnya dari matamu”

Donghwa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa.

“Hahaha…. Kau membuatku terkejut. Benar aku memang menyukainya. Dia gadis yang ceria dan manis, dia juga menyenangkan. Siapa yang tidak akan menyukainya?” tanya Donghwa balik.

“Hyung, aku serius” Donghwa menarik nafas panjang dan menatap Eunhyuk yang penasaran menunggu jawaban Donghwa.

“Changmin baru dimakamkan. Apa kau pikir itu pertanyaan wajar sekarang? Dan Jieun masih shock serta depresi. Aku rasa jikapun aku mencurahkan seluruh waktuku dan memandangnya, itu tak lebih karena empati. Kehilangan bukanlah hal yang mudah sebagai dokter kita tahu itu dengan baik. Meski kita terbiasa hidup dengan melihat begitu banyak adegan kesedihan, kemalangan, kehilangan, tetapi kita masih saja merasa bahwa dunia kita runtuh. Mungkin bagi kita dokter yang menangani pasien. Kehilangan pasien mungkin kurang dari 2%-3% dibanding banyaknya jumlah pasien lain yang pernah kita selamatkan selama karir kita, tetapi bagi keluarga dan orang-orang yang mencintainya itu berarti 100% kehilangan. Aku manusia dan aku bisa merasakan perasaan orang lain terutama kehilangan. Big hole inside your heart I ever experienced it. My father, my uncle, my dear patient, my first patient who was die in front of me. I ever knew how misserable it. I don’t know how much pain must endure when your lover left you, but I know really know how much pain that love could cause”

Eunhyuk mengangguk. You love her hyung… You love her

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

——————————————————————————————–

It was a moment where time got slower
The beauty that I learned of, felt and believed in till now
You have changed it all

The front of my eyes became as dark as dawn
Like a single ray of light, she finally found me
My girl, my destiny

As I stomped on the ground, control my exploding breath
I ran (Tonight I’m so lonely, don’t wanna be alone without you)
To you

“Eunhyuk” panggil Jaejoong dan Donghae bersamaan. Eunhyuk langsung berlari dan memberikan big-tight-hug-crush-bone pada Jaejoong.

“Eun…Eun..hyuk… Kau membuatku …ti..dak…bi…bi..sa …ber…nafas” Donghae langsung memisahkan Jaejoong dari Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum tak bersalah dan Jaejoong berusaha mengatur nafasnya yang terpotong akibat pelukan maut Eunhyuk. Donghae memukul kepala Eunhyuk.

“Hei, what was that for?” kata Eunhyuk dan justru menerima pukulan lain dari Donghae. Jaejoong tertawa dan menghentikan aksi Donghae.

“Kau tak bisa membalasku jadi kau melampiaskannya pada Eunhyuk?” seringai Jaejoong. Donghae mengangkat dua jempolnya.

Eunhyuk bingung, tetapi tidak mempermasalahkannya.

“Tuan Kim” beberapa pria berjas mendekati Jaejoong. Jaejoong tersenyum pada mereka. Donghae dan Eunhyuk hanya bertukar pandang. Pria-pria berjas itu membawa banyak plastik berisi makanan dan berbagai macam snack yang kemudian Jaejoong bagikan ke dokter-dokter, suster dan para staff rumah sakit. Jaejoong juga memberikan coklat dan balon pada anak-anak yang dirawat di bangsal anak.

Eunhyuk melongo sedangkan Donghae sedang menerima apa yang terjadi di depannya.

“Hyung, berapa banyak yang kau habiskan untuk itu semua dan siapa pria-pria berjas tadi”

“Tidak banyak dan mereka mungkin orang-orang yang dipekerjakan oleh restoran dan pusat oleh-oleh yang aku pesan” jawab Jaejoong.

Donghae dan Eunhyuk mengangguk.

“Donghae, kau masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan dengan Eunhyuk” kata Jaejoong.

“Bagaimana keadaan Lee Jieun”

“Depresi” Eunhyuk menjawab singkat. Jaejoong mengangguk dan ingin masuk ke dalam ruangan.

“Hyung, ada yang ingin aku sampaikan soal Donghwa hyung” Jaejoong memutar tubuhnya dan kembali menghadap Eunhyuk.

“Ada apa?”

“Ini rahasia bisa kita bicara di tempat lain?” ajak Eunhyuk.

Jaejoong mendekati Eunhyuk dan berbisik.

“Jika ini menyangkut Lee Jieun. Aku sudah tahu dari dulu” Jaejoong tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi Eunhyuk.

“Maybe it’s not good time, but when Jieun find someone else it will ease her pain. I have experienced it”

“Tunggu. Kau menemukan wanita lain?” Jaejoong hanya memberi wink dan masuk ke ruang rawat Jieun.

“Jiyeon” panggil Donghae. Jiyeon, Donghwa dan Hara duduk di kursi tunggu di ruang Jieun. Sedangkan, Kyuhyun duduk di samping ranjang Jieun memegang tangan adiknya dan ekspresinya yang benar-benar lelah dan sedih.

Donghae membawakan makanan untuk mereka.

“Bagaimana keadaan Jieun?” tanya Jaejoong. Donghwa menarik nafas dalam.

“Dia sudah diberi obat penenang dan obat tidur. Dia dalam keadaan shock berat”
Jaejoong mengangguk mengerti. Donghae memberi tatapan aneh pada Jaejoong, tetapi Jaejoong menatap Donghae dengan sedikit tatapan intimidasi dan membuat Donghae mengalihkan pandangannya pada Jiyeon.

“Jiyeon, Donghae kalian pulanglah setelah makan. Hara bawa Kyuhyun pulang. Biar aku yang menunggu Jieun bersama Donghwa”

“Tapi….” Sebelum meneruskan perkataannya Jaejoong memotong Hara.

“Kyuhyun membutuhkan istirahat. Kau boleh khawatir pada Jieun, tapi aku rasa Kyuhyun…”

Mereka mengikuti arah pandangan Jaejoong. Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan mereka dan seolah tidak mempedulikan segala pembicaraan, terlarut dalam dunianya sendiri.
Hara mengangguk. Hara segera menyelesaikan makannya dan mendekati Kyuhyun.

“Oppa” panggil Hara sambil menepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan memberikan senyum kecil yang lebih terlihat sebagai senyum getir pada Hara.

“Kita pulang” tanya Hara. Kyuhyun menggeleng. Jaejoong mendekati mereka berdua.

“Kyuhyun pulanglah bersama Hara. Kalian berdua sama-sama lelah. Biar aku yang menjaga adikmu. Pulanglah sekarang” Kyuhyun masih ingin tinggal disitu, tetapi melihat Jiyeon, Donghae, Hara, Donghwa, dan Jaejoong yang seolah memohon padanya dia akhirnya mengangguk.

“I’ll be back soon, my sister” Kyuhyun mencium kening Jieun dan meninggalkan ruang rawat Jieun.
Setelah mereka semua pergi. Jaejoong duduk di sebelah Donghwa.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghwa.

“Aku yang harusnya bertanya demikian. Bagaimana kabarmu Lee Donghwa?”

“I’m fine” Donghwa tersenyum kecil.

“Bagaimana hatimu?” tanya Jaejoong. Donghwa menoleh pada Jaejoong bingung.

“Lee Donghwa kau lupa aku adalah sahabatmu. Aku mengenalmu dengan cukup baik meski hanya sebagai teman kuliah. Aku mengenal adik dan keluargamu. Aku….”

“Tskk… Kim Jaejoong, kau tetap saja menyebalkan” kata Donghwa.

“Kau juga sangat menyebalkan kau orang kesekian yang memotong perkataanku hari ini” tawa Jaejoong.

“You know me better than anyone else” Donghwa melemparkan pandangannya pada Jieun.

“You love her”

“It’s useless to lie to you. First, I laid my eyes on her I felt something different I want to touch her, want to kiss her. I want her so desperately. I know it is sin to have this feeling. She belongs to someone else. I tried my best to keep this feeling , I could say I’m not good friend at all. I love her Jaejoong and it’s hard for me to see her in this stage. Why… Why it’s not me who killed so she can smile and has beautiful life with Changmin”

Donghwa menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Jaejoong menepuk-nepuk bahu Donghwa dan berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Believe or not. I felt my sky was falling down when I lost Yuri and Haejoong, but from now on from that day I met Suzy my world becomes the bright one. God gives me angels not to replace Yuri and Haejoong. God gives me son and wife to protect better than before. God makes me strong and I know I became stronger to convince everyone in my life that life goes on and is getting better even you got bit sadness, you will get slice of happiness. God has his scenario if I could compare life and film, life would be the best perfect film. You could change the scenario because the director gives you power to do it. We’re not doll actors and actresses, we’re actors and actresses who given choice by God. To live and willing that led survive to reach our aim of happiness or to give up and feel sorrow inside your heart”

Donghwa memandang Jaejoong.

“I have new family. I’ll tell you later, but I tell you I will do everything to pursue my perfect dream of life. Not just imagination or fiction, make it real in real life as fate. Suzy is my wife and Kris is my son. They’re my dream of perfectness that could be I imagine. Lost something precious gave me power to hold the worst scenario on my shoulder, no doubt I could do this because when I do something it will never happen. Just pursue your perfect life”

Donghwa berdiri dari duduknya dan menuju ke sisi ranjang Jieun. Jaejoong tersenyum dan berdiri meninggalkan ruang rawat Jieun.

“Kau sudah disini sejak tadi dan menguping kan?” kata Jaejoong pada Donghae.

“Kau sejak lama sudah menyadari perasaan Donghwa hyung pada Jiyeon? Sejak kapan?” tanya Donghae.
“It’s not such a big deal, Donghae. Did you confess to your wife that you love her a lot?” Mata Donghae membesar.

“I….I….” Jaejoong melihat Jiyeon datang menghampiri mereka dari belakang dan membawa 2 cangkir kopi.

“Kau belum pulang?” tanya Jaejoong.

“Donghae oppa bilang ingin sejenak disini untuk menunggu Jaejoong oppa. Dia memintaku membeli kopi untuk kalian” Jiyeon menyorongkan cangkir berisi kopi pada Jaejoong dan pada Donghae.
“Ohya, ada yang ingin dikatakan Donghae. Dengarkan baik-baik yah. Terima kasih kopinya” kata Jaejoong sambil meneguk kopinya dan berjalan meninggalkan mereka.

Donghae bingung harus bilang apa. Dia menarik nafas dalam dan menatap mata Jiyeon.

“Jiyeonie, Saranghaeyo” Donghae menarik Jiyeon dalam pelukannya. Jiyeon memeluk Donghae erat dan membiarkan air matanya tumpah.

“Nado Saranghaeyo… Nado.. Nado.. saranghaeyo Lee Donghae” ujar Jiyeon.

Dari kejauhan Jaejoong tersenyum melihat mereka berdua.

“Yeoboseyo”

“Suzy-ya. Listen carefully. I love you” It’s my confession.

Lee Jieun, I’ll be your guardian. I’ll never let you sink in sorrow. I’ll make you mine and give the heaven to you. My heaven won’t be heaven if it’s not you here.

I stole those lips, I had to
I want you, without an explanation or excuse, I stole your lips
It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying
I had to make a memory that the both of us can never forget

———————————————————————————————–

DIBUTUHKAN AUTHOR BARU UNTUK SFF. PERSYARATAN BERSEDIA UPDATE STORY DAN MINIMAL SETIAP MINGGU BERSEDIA MENULIS CERITA BARU. SILAHKAN TINGGALKAN EMAIL DI BAWAH. BAGI YANG BERMINAT MENJADI AUTHOR SILAHKAN TULISKAN JUGA KEINGINAN KAMU MENJADI AUTHOR, BAGI READERS YANG TIDAK BERMINAT MENJADI AUTHOR MAKA AKAN DIKIRIM PESAN BERUPA PASSWORD UNTUK LOA PART XXV.

KAMSAHAMNIDA

Lily191

Queen of Gems (Part 22: End)

Queen of Gems (Part-22: End)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Gender Bender, Slice of Life, Adventure, Humor, Drama, Continue, Romance.

Cast: Kibum, Kangin, Donghae.

Still, Shim Min Joon’s POV-

Kurentangkan kedua tanganku lebar-lebar, menikmati angin sepoi-sepoi yang membelai lembut wajahku. Desiran angin musim gugur menerpa diriku, seakan mengajakku untuk terbang bebas di atas langit biru. Kupejamkan sepasang mataku. Sejenak aku terlarut dalam perasaanku sendiri. Sudah lama aku tidak pernah merasa begitu bebas.

“Kau suka?”

Perlahan kubuka kedua mataku. Terlihat Kibum yang berdiri di hadapanku dengan senyuman manis. Senyuman yang menyilaukan. Terlalu menyilaukan bagiku. Hal itu membuatku takut. Sangat takut. Takut jika suatu hari nanti aku akan kehilangan senyumannya. Senyuman itu bahkan tidak bisa kutebus, tidak bisa kuganti dengan apapun juga.

“Tidak buruk…” sahutku sambil tersenyum hambar.

Kibum menyodorkan sebuah pena dan secarik kertas karton yang berbentuk hati padaku. “Tulislah sesuatu.”

“Ne?”

“Buatlah sebuah permohonan.”

Aku mengangguk pelan dan menerima pena itu beserta dengan kertasnya. “Hmm… Menurutmu, apa yang harus kutulis?”

Kibum mengangkat bahu. “Molla. Memangnya kau tidak punya permohonan sama sekali?”

Aku tertawa getir. “Permohonanku banyak, Kibum’ah! Kertas kecil ini tidak akan cukup.”

“Kalau begitu tulis saja permohonan yang paling kau inginkan.”

Aku berpikir sejenak sambil memutar-mutar pena itu di sela-sela jariku. Beberapa detik kemudian, kujentikkan ibu jariku dengan jari tengahku. Dengan segera, tangan kananku sudah sibuk menuliskan kata demi kata di atas kertas pink itu.

Kibummie, annyeong. Entah apa aku bisa mengatakan ‘annyeong’ padamu suatu hari nanti… Seratus, seribu, seratus ribu tahun lagi… kuharap aku masih dapat bertemu denganmu, melihat senyumanmu. Hal yang paling kuinginkan adalah menghentikan waktu. Tapi itu mustahil, kan? Ada yang pernah bilang padaku, perpisahan adalah awal dari pertemuan yang baru. Semoga kau selalu bahagia, Kibum’ah… Saranghae.

-Shim Min Joon-

Kuserahkan pena dan kertas itu pada Kibum. Ia membacanya dengan teliti. Dapat kulihat sudut-sudut matanya yang berair.

Aku menghela napas dan menepuk pundaknya dengan pelan. “Kau tidak perlu membacanya kalau tidak sanggup.”

Ia terdiam. Merenungkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, pena itu mulai bergerak dengan lancarnya di dalam genggaman tangannya. Sepertinya ia menambah beberapa kalimat di bawah tulisanku.

Kibummie, annyeong. Entah apa aku bisa mengatakan ‘annyeong’ padamu suatu hari nanti… Seratus, seribu, seratus ribu tahun lagi… kuharap aku masih dapat bertemu denganmu, melihat senyumanmu. Hal yang paling kuinginkan adalah menghentikan waktu. Tapi itu mustahil, kan? Ada yang pernah bilang padaku, perpisahan adalah awal dari pertemuan yang baru. Semoga kau selalu bahagia, Kibum’ah… Saranghae.

-Shim Min Joon-

Pertama kali aku bertemu denganmu, kukira kau adalah namja yang egois dan tidak suka kekalahan. Tapi aku salah. Kau selalu berjuang keras sendirian, melebihi batas kemampuanmu. Melihatmu seperti itu, rasanya hatiku sakit. Jangan memaksakan diri lagi, ara? Setelah kau pergi, kuharap kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Meski kau tidak ada di sisiku, kuharap perasaan ini akan tetap abadi… Berjanjilah padaku kalau kau akan kembali. Hwaiting, Minjoon’ah!! I’m waiting for you!

-Kim Ki Bum-

“Ya! Lama sekali…!!” protesku kesal sembari merebut kertasnya. “Kau ini menulis cerita fanfiction atau membuat permohonan??”

Wajah kibum memerah. Kubaca tulisannya dengan perlahan. Air mataku nyaris tumpah kalau dia tidak segera merenggut kertas itu dari genggamanku.

“Geumanhae, jangan membacanya lagi,” sergah Kibum yang langsung membuat lubang kecil di kertas berbentuk hati itu. Ia menguncinya dengan gembok yang telah dilingkarkannya di tiang besi yang terdapat di atas menara ini, bersama dengan ribuan kertas dan gembok lainnya yang berjejer di sebelah kertas permohonan kami.

Kibum mengayunkan tangan kanannya, melemparkan kunci gembok itu dari atas menara dengan segenap kekuatannya. Lemparan yang cukup jauh sampai-sampai kunci kecil itu lenyap begitu saja dari pandanganku.

Ia melirik ke arahku dan tersenyum simpul. “Dengan begini, kita berdua mungkin dapat membuktikan mitos itu.”

Aku menerawang jauh. Memandang gedung-gedung tinggi dari atas Namsan Tower. Gembok cinta. Bila sepasang kekasih menulis permohonan di atas sebuah kertas, lalu menggemboknya di tiang yang terletak di lantai menara paling atas dan membuang kunci itu, konon katanya cinta mereka berdua akan abadi dan terkunci selamanya. Gembok itu melambangkan bahwa hati mereka berdua akan tetap terikat, tidak dapat dipisahkan oleh siapapun juga.

<…Queen.of.Gems…>

Continue reading

Queen of Gems (Part 21)

Queen of Gems (Part-21)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Gender Bender, Slice of Life, Adventure, Humor, Drama, Continue, Romance.

Cast: Kibum, Kangin, Donghae.

-Author’s POV-

Kibum jatuh terduduk di hadapan Minjoon, memejamkan kedua matanya. Seulas senyuman pahit terlukis di wajahnya dengan samar. “Mianhae…? Jadi hanya itu yang bisa kau katakan?”

“Kibum’ah…”

Kibum bangkit berdiri, lalu memutar tubuhnya dan berjalan lemas ke arah pintu. Wajahnya tetap tertunduk. Dengan perlahan, ia memutar gagang pintu tersebut dan kembali ke kamarnya.

Minjoon hanya memandang kepergian Kibum dengan raut wajah sedih yang bercampur dengan rasa gelisahnya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa malam ini Donghae bahkan mendatanginya, begitu juga dengan Kibum.

<…Queen.of.Gems…>

Esok harinya, Kibum memutuskan untuk menemui kakeknya. Pagi ini, kepalanya terasa sangat berat karena pengaruh alkohol semalam. Ia bersusah payah untuk mengingat peristiwa semalam yang terjadi di kamar Minjoon. Dan satu hal yang harus dilakukannya hari ini, ia harus terus berusaha untuk mengeluarkan Minjoon dari kamar itu. Tidak peduli meski ia harus memberontak pada kakeknya saat ini juga.

“Harabeoji…” panggil Kibum dengan suara bass-nya yang khas.

Pria tua melirik sejenak ke arah Kibum, lalu kembali membaca laporan saham yang tertera di dalam dokumennya. “Wae?”

“Kedatanganku sudah jelas, kan?” Kibum menatap tajam ke arah pria itu tanpa bergeming sedikit pun.

“Neo…!” geram kakeknya sembari membanting dokumen ke atas meja kerjanya. “Bukankah aku sudah bilang? Jika kau terus melawanku, aku tidak akan segan-segan untuk semakin menjauhkan Minjoon darimu! Kau kira aku tidak berani melakukan hal itu??”

“Kim Seojangnim,” panggilan Kibum membuat kakeknya tersentak kaget, baru pertama kali ini salah seorang cucunya dapat memanggilnya seperti itu.

Pria tua itu berdeham, lalu berusaha untuk menanggapinya dengan datar. “Seojangnim? Kibum’ah, hentikan gurauanmu.”

“Apa aku terlihat seperti sedang bergurau?” Kibum melayangkan tatapan tajamnya kembali, membuat suasana bertambah tegang. Lalu ia menekuk lututnya dan duduk bersimpuh di depan kakeknya. “Aku tidak memohon kepadamu sebagai seorang cucu ataupun keluarga. Aku memohon padamu sebagai seorang Kim Kibum.”

Suara tawa sang kakek meledak selama beberapa saat, lalu ia memandang Kibum dengan sinis. “Ada pepatah yang mengatakan… bagaimanapun juga anjing akan tetap kembali pada majikannya. Benar begitu, Kim Kibum?”

Kibum mengangkat kepalanya, lalu tersenyum simpul. “Ada pepatah yang juga mengatakan… seekor anjing bisa saja menggigitmu, meskipun dia adalah hewan peliharaanmu yang paling setia. Kuharap Anda tidak akan mengalami hal seperti itu, Kim Seo-Jang-Nim!”

“Ha, ha… Tidak salah lagi, kau memang cucuku yang dapat diharapkan!” seru sang kakek yang tertawa dengan puas. “Geurae… Kalau itu maumu, aku tidak keberatan untuk melakukan negosiasi.”

“Negosiasi?”

“Kau kira aku akan melepaskan Minjoon begitu saja?” pria itu melemparkan tatapan sengit ke arah Kibum. “Aku akan melepaskan Minjoon asal dia melanjutkan sekolahnya di Paris.”

Kibum mengerutkan alisnya, ia tercengang. Bahkan sepertinya ia memang sangat berharap bahwa telinganya kali ini telah salah menangkap perkataan kakeknya.

“M…mwo??” tanya Kibum dengan suara tercekat, memastikan kalau-kalau ia tidak salah mendengar. Darahnya berdesir, seolah ia akan mendengar keputusan hakim yang akan memvonisnya di pengadilan.

“Ah, tidak perlu terkejut seperti itu. Minjoon telah kuberitahu soal ini,” jelas kakeknya dengan tenang. “Soal biaya, aku yang akan menanggungnya.”

“Paris? Geundae… Korea juga mempunyai sekolah yang memiliki kualitas tinggi!” sergah Kibum, wajahnya benar-benar pucat pasi sekarang.

“Kibum…” ujar kakeknya lirih. “Kau mau membebaskannya kan? Kau mau… agar aku melepaskannya. Benar?”

“Ne… Tapi…”

“Kalau begitu, biarkan dia pergi ke Paris.”

“Bagaimana kalau aku mencegahnya??” potong Kibum cepat, berharap bahwa kakeknya masih mau mengubah keputusan gilanya itu.

“Aku akan membuat ayahnya menjadi lebih menderita dari sekarang.”

“Kau mengancam Minjoon??” Kibum meninggikan suaranya, tidak percaya pada kelakuan kakeknya yang telah di luar batas.

“Apa itu salah?” sahut kakeknya datar. “Aku sudah menyampaikan ini semua pada Minjoon. Selama lima bulan terakhir ini, dia terus berusaha untuk mempelajari Bahasa Perancis di dalam kamar itu. Tidak lama lagi, aku akan mengirimnya ke Paris. Bila dia tidak sanggup melakukan apa yang kuperintahkan…” sang kakek menggantung kalimatnya, lalu menatap Kibum dengan garang. “…aku akan membuat ayahnya hancur.”

Kibum bergidik ngeri melihat tatapan kakeknya yang seperti itu. “Kau… akan balas dendam pada Ajussi?”

“Tidak, asalkan Minjoon menuruti perintahku.”

“Harabeoji, ini tidak adil bagi Minjoon!”

“Apanya yang tidak adil??” bentak kakeknya kesal. “Setelah istriku di rebut orang lain… apa kau tahu betapa hancurnya perasaanku?? Minjoon dan ayahnya… Di dalam darah mereka, mengalir darah kotor namja itu! Kalau Minjoon tidak bisa melakukan apa yang kusuruh, aku juga akan membuat keluarganya hancur.”

“Harabeoji…”

“Keluar.”

“Geundae…”

“NAGA!!” teriak kakeknya yang membuat Kibum langsung membanting pintu kamar kakeknya dengan kencang.

“Ckck… Chinca, anak itu…” sang kakek kemudian mengangkat gagang telepon di kamarnya dan menekan beberapa angka. “Ne, katakan pada Kang Biseo untuk segera ke kamarku. Ppalli!” (T/N: biseo = sekretaris)

Tidak sampai satu menit, Sekretaris Kang menghampiri pria tua itu dengan langkah tergopoh-gopoh. “Seojangnim memanggilku?”

“Sampaikan pada Minjoon untuk bersiap-siap,” ujar sang kakek dengan ekspresi wajah yang tegas. “Sekarang dia sudah bisa keluar dari kamar itu. Tepat seminggu lagi aku akan mengirimnya ke Paris.”

“Y…ye??”

Pria tua itu mendelik tajam, pandangannya penuh dengan intimidasi yang akan menyudutkan siapapun dalam hitungan detik. “Kau menyuruhku untuk mengulangnya sekali lagi?”

“A…annieyo!! Geureom~” Sekretaris Kang membungkukkan tubuhnya lalu meninggalkan kamar itu dengan tergesa-gesa, sepertinya ia juga menyadari bahwa suasana hati majikannya benar-benar buruk pagi ini.

Ia berlari-lari kecil di sepanjang koridor yang akan membawanya menuju kamar paling ujung. Ia menatap pintu itu sejenak, ragu untuk menyampaikan pesan dari majikannya. Tetapi kemudian ia menggeleng perlahan, lalu menguatkan hatinya untuk memanggil Minjoon.

“Agassi~ Keluarlah! Aku ingin menyampaikan hal penting…”

“Waeyo??” teriak Minjoon dari dalam. “Kalau untuk sarapan, bawa pergi saja! Aku tidak mau makan!!”

“Anni~ Ini tentang Harabeoji…”

Pintu langsung terbuka lebar, menampakkan wajah dan tubuh seorang wanita yang semakin kurus setiap harinya. “Ada apa dengan Harabeoji?”

“Geuge… Itu… Aku…”

“Mwoyaa??” seru sang gadis yang telah kehilangan kesabarannya.

“Aku… Aku tidak tahu apa ini berita baik untuk Agassi atau tidak…” Sekretaris Kang menghentikan kalimatnya, lalu menarik napas panjang sebelum ia benar-benar menyampaikan hal itu. “Geundae, Agassi sudah bisa keluar dari kamar ini sekarang.”

“Jeongmal??” raut wajah gadis itu terlihat gembira, namun sedetik kemudian senyumannya lenyap seketika itu juga. “Kalau begitu, mungkin aku harus mengucapkan salam perpisahan padamu juga.”

“Agassi…”

“Ah! Nan gwaenchana. Cepat atau lambat… aku memang harus pergi dari sini, kan?” gadis itu tersenyum pahit, lalu ia kembali masuk ke dalam kamarnya. “Aku harus segera berkemas. Gomawo telah memberitahuku soal ini.”

Sekretaris Kang menatapnya prihatin, lalu ia menundukkan kepalanya dan pergi dari hadapan Minjoon.

<…Queen.of.Gems…>

Continue reading

Queen of Gems (Part 20)

Queen of Gems (Part-20)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Gender Bender, Slice of Life, Adventure, Humor, Drama, Continue, Romance.

Cast: Kibum, Kangin, Donghae.

-Author’s POV-

Five months later…

Rintik-rintik hujan membasahi pepohonan dan bunga-bunga yang tertanam indah di halaman rumah mewah tersebut. Gumpalan awan hitam menutupi birunya angkasa. Langit seperti ikut bersedih dengan situasi yang sedang terjadi sekarang.

Kibum berdiri di depan halaman luas itu. Sepasang matanya menatap lurus ke arah jendela kamar yang terletak paling ujung, kamar di mana tempat Minjoon berada. Ia terus berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun. Kemeja santai yang dikenakannya telah terguyur oleh air hujan yang turun sekitar satu jam yang lalu. Tanpa disadarinya ia juga telah berdiri di sana, kehujanan, selama satu jam penuh.

“Berapa lama…” suara seseorang terdengar dengan sangat pelan. Kibum bergegas menoleh. Ia mendapati Donghae berdiri di belakangnya dengan payung yang melindunginya dari terpaan air hujan. “Berapa lama lagi… Minjoon akan keluar dari kamar itu? Ah…! Anni, aku salah bertanya. Maksudku, berapa lama lagi… kita akan bertemu dengan Minjoon? Lima bulan sudah berlalu.”

“Menurutmu, sampai kapan dia akan terus terkurung di dalam sana?” Kibum balik bertanya, matanya menerawang jauh ke arah jendela itu.

Donghae mengangkat bahunya, lalu tersenyum ke arah Kibum dengan tatapan sinis. “Aku akan membebaskannya sesuai dengan caraku. Kau juga sebaiknya melakukan sesuatu, Kim Kibum. Jangan menjadi seorang pengecut dan hanya berdiri seperti itu. Kalau kau tidak melakukan apa-apa, tidak akan ada sesuatu yang terjadi. Kalau kau terus diam seperti ini, aku pasti akan mencuri start darimu.”

Kibum mendelik tajam ke arah Donghae. Kesabarannya mulai habis. Sehebat apapun dia menyembunyikan emosinya dan terus bersikap dingin, dia tetaplah seorang manusia yang emosinya akan meledak bila terus di uji.

Dan benar saja. Tidak sampai lima detik, ia langsung berlari ke dalam rumah dengan napasnya yang sudah memburu. Begitu ia sampai di depan kamar Minjoon, ia terus mengetuk pintu kamar tersebut dengan keras dan berteriak-teriak seperti orang gila. Para pelayan di sana hanya tercengang. Tidak biasanya Tuan Muda mereka yang satu ini hilang kendali di hadapan orang lain.

“NAWA!” teriak Kibum sambil terus memukul-mukul pintu kayu yang ada di depannya. “Apa kau sudah gila, Minjoon’ah??! Untuk apa kau menuruti perintah Harabeoji?? Lima bulan… Apa itu tidak cukup? Keluar sekarang juga!!”

“Doryeonnim…!!” pelayan yang ada di sebelahnya menjerit tertahan, ia mencoba menghentikan Kibum yang mungkin akan melukai tangannya sendiri bila ia terus memukul-mukul pintu seperti itu. (T/N: doryeonnim = tuan muda)

“Jangan hentikan aku!!” seru Kibum seraya menampik tangan pelayannya tersebut. “Apa kalian tidak lihat? Aku sedang mencoba untuk menyelamatkannya dari hukuman gila ini!”

“Doryeonnim, sudahlah…” ujar pelayan itu dengan suara yang lirih. “Yang dapat menyelamatkannya hanya Seojangnim…”

Kibum melirik tangannya yang sudah lecet dan mengeluarkan darah. Dilayangkannya sebuah tendangan ke arah pintu tersebut dengan penuh emosi. Seluruh pelayan yang ada di sana langsung terkesiap begitu melihat Kibum menendang pintu kamar yang ada di depannya. Bukan hanya itu, pelayan-pelayan di sana lebih terkejut ketika melihat mata Kibum yang sudah memerah. Sepertinya Kibum benar-benar kesal. Kesal pada dirinya sendiri yang tidak dapat melakukan apa-apa. Seperti kata Donghae, ia hanyalah seorang pengecut.

“Sial!” umpatnya, lalu berbalik dan pergi dari sana.

Kibum terus berlari keluar dari rumah mewah milik kakeknya tersebut, tidak menghiraukan panggilan orang-orang yang menanyakan ke mana ia akan pergi. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan sekarang. Ia hanya berlari, berlari, dan berlari. Kalau bisa, ia akan berlari sampai ke ujung dunia.

Langkahnya terhenti. Kibum mengatur napasnya yang sudah tersengal-sengal. Hujan masih menyirami Kota Seoul, bahkan bertambah deras. Air hujan yang terus turun telah menyatu dengan air matanya. Dia menangis. Untuk pertama kalinya, ia menangis untuk seseorang. Bahkan saat kematian orangtuanya, ia sama sekali tidak menangis. Langit yang mendung seolah-olah ingin menyembunyikan kesedihannya. Di tengah-tengah suara gemuruh hujan, Kibum berteriak sejadi-jadinya sampai-sampai suaranya serak. Ia benar-benar tidak sanggup lagi… Perasaannya sangat tertekan setiap kali ia memandang ke arah jendela kamar itu. Sejak lima bulan yang lalu, ia selalu berdiri dari halaman rumah dan menatap jendela itu. Hanya menatapnya, setiap hari. Di tambah lagi, ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ia benar-benar merasa tidak berguna. Menyelamatkan wanita yang dicintainya saja, ia tidak bisa…

<…Queen.of.Gems…>

Di dalam kamar antik khas tradisional Korea yang masih kental, seorang wanita yang berambut merah terlihat sedang sibuk menulis sesuatu dalam Bahasa Perancis. Rambutnya telah bertambah panjang, mencapai bahu sang gadis. Tak lama kemudian setetes air mata jatuh di atas bukunya, membasahi kata demi kata yang baru saja di tulisnya.

Pandangan matanya kosong. Ia terus menulis tanpa perasaan. Keadaannya seperti mayat hidup, tanpa ada jiwa. Namun anehnya, air matanya terus mengalir. Ia menangis dalam diam. Tidak ada jeritan, tidak ada ucapan. Yang ada hanyalah kata-kata yang tertuang ke dalam tulisannya. Dan sebagian dari kata-kata itu telah luntur oleh air matanya sendiri. Sudah lima bulan ia terus seperti ini. Semakin hari, ia semakin jauh dari dunia nyata. Jiwanya seperti telah terenggut dari tubuhnya.

<…Queen.of.Gems…>

Shim Minjoon. Nama itu menjadi topik hangat yang paling sering dibicarakan para murid ketika mereka sedang berkumpul. Entah di perpustakaan, di cafetaria, di kelas, ataupun di dalam kamar mandi, nama itu pasti di sebut-sebut oleh murid wanita ataupun pria. Dari pertanyaan-pertanyaan biasa tentang Minjoon, sampai beredar berita yang tidak jelas dan tidak dapat dipastikan kebenarannya.

“Sebenarnya dia ke mana, sih??” tanya seorang siswa di sudut kelas.

“Minjoon, maksudmu? Molla! Bukannya dia kecelakaan?”

“Kecelakaan? Kudengar, dia sudah meninggal karena di bunuh.”

“Mwoo? Minjoon di bunuh?? Andwaee!! Kenapa sekolah kita harus kehilangan namja setampan dia?? Aishh, dunia memang kejam!!”

“Kalian ini bagaimana, sih?? Kata Seonsaengnim, dia kan sedang sekolah di luar negeri!”

“Bagaimana kalau Seonsaengnim hanya membohongi kita??”

“Itu tidak mungkin!”

“Tapi…”

Eunmi memasang telinganya baik-baik. Ia terus mendengarkan beberapa orang yang sedang bergosip ria tentang Minjoon.

Pelukan hangat yang didapatkannya dari Minjoon masih bisa dirasakannya sampai sekarang. Ia benar-benar merindukan sosok seseorang yang selalu menemaninya makan siang di taman sekolah. Sosok seseorang yang selalu mendengarkan celotehannya tanpa memotong perkataannya sedikit pun. Sosok yang selalu berpura-pura kuat dan selalu memarahinya bila ia memberikan bantuan. Ia tidak peduli lagi apakah Minjoon itu pria ataupun wanita. Yang jelas, ia benar-benar merindukannya!

<…Queen.of.Gems…>

Sementara itu, di taman sekolah yang sepi, terlihat Kibum yang sedang dikelilingi oleh tiga orang siswi. Bahkan salah satu di antara mereka tidak segan-segan untuk menggandeng lengan Kibum dengan santainya. Kangin yang berdiri di belakang Kibum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jadi… bisakah kalian melakukan hal itu?” tanya Kibum yang mengeluarkan killersmile andalannya pada tiga orang siswi tersebut.

“Ne, tentu saja Kibum’ah~~~!!” seru mereka bertiga serentak.

“Bagus,” ujar Kibum sembari melepaskan lengannya dari salah seorang siswi tersebut. “Kalian harus menghentikan segala gosip tentangnya. Aku tidak mau mendengar mereka menyebut nama Minjoon lagi, apalagi menyebarkan berita palsu. Mengerti?”

Ketiga siswi tersebut mengangguk, lalu tersenyum riang sembari berlari-lari kecil meninggalkan Kibum di taman itu.

“Ckckck… Kau keterlaluan,” desis Kangin. “Ini sama saja seperti kau memanfaatkan mereka…”

“Anni,” bantah Kibum cepat. “Aku telah memberikan mereka hadiah. Apa itu tidak cukup?”

“Aishh, terserahlah!” Kangin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu kembali memasang tampang serius. “Tapi, Kibum’ah… Kau harus bertindak cepat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan Harabeoji lakukan padanya. Kalau sampai dia berakhir seperti Halmeoni…”

Kibum mengepalkan tangan kanannya. Ia menatap Kangin, tanpa ekspresi. Di dalam mimpi pun, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa Minjoon akan mencoba untuk bunuh diri seperti neneknya. Ia belum sempat menyampaikan apapun pada Minjoon. Bahkan menyatakan perasaannya pun, ia tidak sanggup. Apa yang akan dikatakan Harabeoji kalau ia ternyata mencintai sepupunya sendiri…?

Kangin menepuk pundak Kibum, lalu berbisik pelan. “Kalau kau tidak melakukan apa-apa, tidak akan terjadi sesuatu. Geureom, kutunggu kau di rumah.”

Kangin beranjak pergi, melewati Kibum yang masih berdiri termenung dalam dunianya sendiri. Dia terus berpikir, merancang sebuah rencana yang mungkin dapat mempertemukannya dengan Minjoon. Tidak, hari ini juga ia harus bertemu dengan Minjoon. Bagaimanapun caranya!

<…Queen.of.Gems…>

Continue reading

Queen of Gems (Part 19)

Queen of Gems (Part-19)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Gender Bender, Slice of Life, Adventure, Humor, Drama, Continue, Romance.

Cast: Kibum, Kangin, Donghae.

-Author’s POV-

Mobil hitam itu melaju dengan cepatnya, menembus hutan luas, dan akhirnya keluar dari kawasan pemakaman tersebut. Suara hujan yang turun dengan derasnya masih dapat terdengar dari dalam mobil. Minjoon memandang keluar jendela, pikirannya kosong.

Pria separuh baya itu melemparkan sebuah handuk kecil, lalu kembali menyetir dengan seulas senyum di wajahnya. “Kau basah sekali, keringkan rambutmu.”

Minjoon mengangguk, lalu menerima handuk itu dengan ekspresi datar. “Tidak kusangka kau akan datang…”

“Tidak kusangka kau akan membutuhkan bantuanku,” balas pria itu sambil tetap tersenyum. “Bagaimana dengan harta karunnya? Kau berhasil, kan?”

“Tentu saja,” jawab Minjoon enteng. “Mereka semua telah dibodohi oleh Harabeoji. Harta karun yang sebenarnya bukanlah di sungai itu.”

“Di mana kau menemukannya?”

“Apa kau ingat di mana letak kuburan Halmeoni?”

“Kuburan Halmeoni…” pria itu mengernyitkan keningnya. “Bukankah tadi kita melewatinya? Di dalam hutan itu kan?”

“Tepat. Setelah aku melarikan diri dari jendela, aku melewati kuburannya dan menemukan sesuatu,” jelas Minjoon. “Tidak lama kemudian, aku melihat mobilmu.”

Pria itu mengangguk-angguk mengerti.

“Mianhae,” Minjoon menunduk, tubuhnya kembali menggigil kedinginan. “Aku telah merepotkanmu, Appa…”

Pria itu terkekeh pelan. “Kau tidak perlu khawatir tentang Donghae. Namja itu adalah lawan yang mudah…”

“Tapi sekarang identitasku terancam!” tegas Minjoon resah.

Pria itu mendelik ke arah Minjoon. “Apakah itu adalah hal yang penting sekarang?”

“Maksud Appa?” tanya Minjoon tak mengerti. “Memangnya ada yang lebih penting dari hal ini?”

Pria itu mendesah pelan. “Sekarang aku akan mengantarmu ke rumah Harabeoji. Kita akan meninggalkan Pulau Jeju, aku sudah meminta izin dari gurumu.”

“Mwoo??” Minjoon terbelalak. “Rumah Harabeoji??”

“Ne. Sepertinya ada sedikit masalah.”

“Masalah??”

“Aku tidak tahu ada masalah apa,” pria itu memandang Minjoon tajam. “Salah satu bawahan Harabeoji datang padaku dan menyuruhku untuk membawamu pulang sekarang juga. Karena itu aku datang ke sini dan menjemputmu.”

“Kalau begitu kau datang di saat yang tepat,” sahut Minjoon. “Aku ada dalam bahaya tadi.”

“Neo… Apapun yang akan dikatakan Harabeoji nanti, kau harus bertahan. Ara? Aku percaya padamu.”

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya, Appa…”

<…Queen.of.Gems…>

Seorang pria tua duduk bersimpuh di depan meja kayu tradisional yang sangat rendah dan bergaya oriental. Ia menghirup teh hijaunya dengan penuh wibawa. Di atas meja kayu tersebut telah terdapat cincin pernikahannya yang bertatahkan batu intan permata. Di samping cincin itu, beberapa lembar foto Minjoon yang sedang menyamar di dalam nightclub tersebar tidak beraturan di atas meja.

“Jadi… Kau yang berhasil menemukan harta karun ini?” tanya pria tua itu sambil melirik ke arah cincin pernikahannya.

Minjoon mengangguk. “Cincin ini adalah benda peninggalan Halmeoni yang sangat berarti bagimu. Bukankah begitu? Kau meletakkannya begitu saja di depan batu nisan itu, tepat di atas makam Halmeoni.”

“Tapi… sayang sekali,” pria tua itu memandang Minjoon lekat-lekat. “Kau… adalah yeoja. Benar, kan?”

Minjoon menutup sepasang matanya, lalu ia menundukkan kepalanya dalam diam. Sama sekali tidak bisa membantah perkataan kakeknya.

“NEO…!! Beraninya kau membohongiku!!” geram kakeknya penuh emosi. “Masuk ke rumah ini, menyamar menjadi namja, dan menipu semua orang demi harta warisan! APA KAU SUDAH GILA???”

“Annieyo!!” tukas Minjoon cepat. “Aku tidak melakukan ini semua demi harta warisan! Kalau kau bilang aku sudah menipumu, itu benar. Tetapi… aku sama sekali tidak melakukan hal ini demi uang! Ini tidak seperti yang kau bayangkan…!”

“Aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya!” pria tua itu bangkit berdiri, lalu menunjuk Minjoon dengan jari telunjuknya. “Orang sepertimu…! Cih!! Kalau bukan demi harta warisan, demi apa lagi?? Appa-mu, dan juga kau…! Aku benar-benar membenci keluargamu!”

“Sebelum aku datang ke sini, bukankah kau memang sudah membenci Appa-ku?” Minjoon menatap kakeknya tanpa rasa takut sedikit pun. “Kenapa? Karena Halmeoni berselingkuh dan melahirkan Appa-ku. Iya, kan?”

Pria tua itu hanya bisa melotot ke arah Minjoon, hatinya sudah dipenuhi oleh rasa kebencian yang amat mendalam.

Minjoon menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. “Dengarkan aku, Harabeoji… Meskipun kau sangat membenciku, hal itu tidak akan mengubah masa lalu. Aku tidak bisa memilih siapa orangtuaku, begitu juga Appa-ku. Appa-ku tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya.”

“Tapi wajah Appa-mu itu mengingatkanku pada namja brengsek itu!!” maki kakeknya murka. “Namja yang mengambil mendiang istriku!! Aku sama sekali tidak bisa memaafkannya…!”

“Halmeoni meninggal karena takdir! Semuanya sudah terjadi, Harabeoji…! Membenciku hanya akan membuatmu merasa lelah!!” teriak Minjoon yang emosinya sudah memuncak.

“Geurae… Semuanya sudah takdir. Kau menyamar menjadi namja pun adalah takdir,” timpalnya. “Hukuman yang akan kuberikan untukmu juga sebuah takdir, Shim Minjoon…”

<…Queen.of.Gems…>

Kibum, Kangin, dan Donghae baru saja tiba di rumah kakek mereka. Kibum masih tidak bisa berekspresi seperti biasanya. Sejak kejadian di hutan pada malam itu, sikapnya menjadi lebih dingin pada siapapun. Sedangkan Kangin dan Donghae bergegas mencari kakek mereka dengan penuh amarah. Mereka berdua benar-benar kesal karena tidak berhasil menemukan apapun yang dapat di anggap sebagai harta karun, kecuali, peti kosong yang hanya berisi secarik kertas.

“SIAL! Kenapa rumah ini besar sekali, sih??” teriak Donghae sambil berlari-lari menelusuri ruang utama.

“Di mana Harabeoji licik itu??” tanya Kangin yang juga membantu Donghae untuk menemukan kakek mereka.

“Beraninya dia memasang perangkap seperti itu!!” seru Donghae yang kemudian melirik ke arah Kibum. “Ya! Sampai kapan kau mau terus diam begini?? Lebih baik kau juga mencari Minjoon! Aku yakin dia sudah pulang sekarang.”

Kibum balas memandang Donghae, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Pandangannya masih kosong. Pikirannya terus mengulang adegan di mana Donghae menculik Minjoon, dan Minjoon yang tiba-tiba menghilang dengan mobil misterius di tengah hutan.

“Sudahlah, biarkan saja dia…” ujar Kangin yang kemudian menyeret Donghae pergi. “Lebih baik kita terus mencari Harabeoji. Mungkin Minjoon juga sedang menemui Harabeoji saat ini…”

Setelah kepergian Donghae dan Kangin, Kibum melangkah menuju tempat yang paling terpencil di rumah tersebut. Tempat yang selalu dapat menenangkannya sewaktu perasaannya sedang risau seperti ini. Rumah kaca… Tempat di mana serangkaian mawar merah menyembunyikan tempat itu dari penglihatan orang-orang. Sama seperti kondisinya sekarang. Ia juga ingin menyembunyikan dirinya sendiri dan menghilang dari pandangan orang lain.

<…Queen.of.Gems…>

“Meskipun kau berhasil menemukan harta karun itu, kau telah kudiskualifikasi dari ujian ini!” tegas kakeknya naik pitam. “Dan satu lagi, aku akan memberikanmu hukuman yang setimpal karena sudah membohongi semua orang.”

“Mwoo?? Harabeoji, ini tidak adil!! Aku melakukan ini hanya untuk menuntut hakku sebagai yeoja! Meski aku ini seorang wanita, tapi aku tetap cucumu!” cerca Minjoon. “Kenapa kau memberikan posisi pewaris hanya untuk namja?? Ini namanya diskriminasi!”

“Anni,” potong kakeknya cepat. “Aku bisa saja menjadikanmu sebagai pewarisku. Tapi sayangnya, kau adalah cucu tiriku. Itu kenyataannya. Aku sama sekali tidak menyukaimu dan Appa-mu.”

Minjoon menggigit bibir bawahnya. “Itu bukan salahku…!!”

“Aku tidak menyalahkanmu,” ucapnya datar. “Tapi kau telah menipu semua orang. Ini tidak bisa dibiarkan. Kau harus kuberi hukuman.”

“Harabeoji, tapi…”

“Jangan membantahku lagi!!” bentak kakeknya. “Mulai sekarang, kau tidak boleh bertemu dengan siapapun di rumah ini, kecuali para pelayan. Mereka yang akan mempersiapkan keperluan pribadimu. Geurigo… kau juga akan mendapat kamar terpisah dari yang lainnya. Kau tidak boleh meninggalkan kamar itu selangkah pun!”

“T…tapi, aku harus ke sekolah…”

“Tidak perlu! Kau tidak boleh ke sekolah, aku akan mengurus semuanya nanti,” pria tua itu kemudian berteriak memanggil sekretarisnya. “Kang Biseo, antar dia ke kamar kosong di bagian paling belakang rumah ini. Dan kau Minjoon, renungkan semua perbuatanmu dan jangan keluar dari kamar itu bila tidak mendapat perintah dariku.” (T/N: biseo = sekretaris)

Minjoon terperangah. Sepasang matanya mulai memanas. Ia tahu bahwa kakeknya memang orang yang tegas, tetapi ia tidak tahu kalau kakeknya dapat bersikap sekejam ini pada cucunya sendiri.

Sekretaris Kang membawanya menuju salah satu kamar yang sama sekali tidak pernah tersentuh oleh siapapun di rumah itu. Kamar di mana dulu menjadi tempat nenek mereka beristirahat. Kamar tersebut cukup luas dengan beberapa rak buku yang berjajar di pojok ruangan. Sepertinya dulu nenek mereka memang gemar membaca. Kemudian, terdapat meja kecil lengkap dengan sofa empuk yang berwarna hijau pastel. Tepat di sisi jendela, tempat tidur mewah dengan ukuran yang besar melengkapi dekorasi kamar tersebut.

“Aku tidak mengerti mengapa Seojangnim menyuruhmu untuk pindah ke kamar ini, padahal masih banyak kamar kosong lainnya…” gumam Sekretaris Kang, lalu ia menyodorkan hanbok yang kelihatannya sudah agak kuno. “Ini baju gantimu, Tuan… Ah, maksudku, Agassi.”

“Itu baju Halmeoni?” Minjoon menunjuk gaun tradisional itu seraya menaikkan sebelah alisnya.

“Ne,” sahut Sekretaris Kang. “Pasti Agassi tidak nyaman memakai pakaian pria. Karena itu, Seojangnim menyuruhku untuk memberikanmu hanbok ini.”

“Kang Biseo… Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Ye?”

“Halmeoni… Apa penyebab kematiannya?”

Sekretaris Kang menunduk, sepasang matanya sudah berkaca-kaca. “Yeojuinnim… Beliau meninggal… di kamar ini.” (T/N: yeojuinnim = nyonya)

“Mwoo??!!”

“Karena Yeojuinnim berselingkuh dengan seorang namja yang ditemuinya di luar sana dan melahirkan Appa-mu, Seojangnim mengurungnya di kamar ini selama bertahun-tahun. Tapi… Yeojuinnim tidak sanggup lagi… kemudian…”

“Kemudian??”

“Yeojuinnim bunuh diri… memotong urat nadinya…” Sekretaris Kang mulai terisak. “Tubuhnya ditemukan tidak bernyawa di tempat tidur itu… Lalu, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke kamar ini, kecuali untuk membersihkan ruangan. Itu pun sangat jarang… Kasihan sekali Yeojuinnim…”

Minjoon bergidik ngeri, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut di kamar itu. “Jadi… aku harus tidur di sini…?”

Sekretaris Kang mengangguk, kemudian ia menatap Minjoon dengan pandangan prihatin. “Agassi… Kuharap, kau bisa melewati semua ini. Jangan bernasib sama seperti Yeojuinnim…”

Setelah mengatakan hal itu, Sekretaris Kang kemudian keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Minjoon yang masih tetap terpaku pada tempatnya. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa kakeknya memperlakukan dia sama seperti neneknya. Mengurungnya di kamar dan tidak memperbolehkannya untuk menemui siapapun. Dia bisa gila kalau seperti ini terus! Bahkan ponselnya saja tidak bisa di pakai di kamar itu. Ia seperti terisolasi dari dunia luar.

Ia membuka kancing kemejanya, lalu melirik hanbok yang tadi di terimanya dari Sekretaris Kang. Bulu romanya kembali berdiri begitu melihat pakaian kuno itu. Entah kenapa pakaian itu terlihat sangat mengerikan di matanya, ia seperti dapat membayangkan kematian neneknya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan kaus dalam dan celana pendeknya saja.

Tak lama kemudian, dibaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu dengan perasaan yang sedikit takut. Sepasang matanya menerawang jauh ke atas langit-langit kamar. Ia tidak bisa tidur. Air mata mulai mulai bercucuran, membasahi wajahnya yang terlihat amat sangat lelah. Ia teringat akan usaha kerasnya selama ini. Berlatih menjadi seorang pria di bawah didikan ayahnya. Berusaha keras melebihi orang lain, bahkan melebihi seorang pria sekali pun. Terus memaksakan diri untuk menjadi sempurna. Tetapi, semuanya musnah dalam sekejap. Diskriminasi selamanya akan menjadi diskriminasi.

<…Queen.of.Gems…>

Continue reading

Queen of Gems (Part 18)

Queen of Gems (Part-18)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Gender Bender, Slice of Life, Adventure, Humor, Drama, Continue, Romance.

Cast: Kibum, Kangin, Donghae, Henry, Zhoumi.

-Author’s POV-

Di sisi sungai, tepat di belakang hotel tempat mereka menginap, terlihat Donghae dan Kangin yang sedang sibuk melacak sesuatu. Karena kecurigaan Donghae, akhirnya Kangin pun ikut membantunya untuk mencari harta karun itu bersama-sama.

“Kau yakin harta karun itu di sekitar sini?” tanya Kangin ragu.

“Percaya padaku,” sahut Donghae yang masih sibuk menelusuri sisi-sisi sungai. “Aku sudah menyelidiki semuanya. Isi dari harta karun itu juga…”

“Mwoo??” Kangin terbelalak. “Jangan bilang kalau kau sudah tahu apa isi dari harta karun itu…!”

“Tepat.”

“Apa isinya??”

“Menurutmu?”

“Aish, Lee Donghae!! Kalau aku tahu, aku tidak mungkin bertanya padamu!”

Donghae menghela napas panjang. “Kalau kau jadi Harabeoji… apa yang akan menjadi hartamu yang paling berharga? Harta yang sangat bernilai sampai-sampai kau menganggapnya sebagai harta karun.”

“Hmm…” Kangin memutar kedua bola matanya, memikirkan sesuatu. “Kalau aku jadi Harabeoji… aku akan menyembunyikan… Ahh!! Maksudmu, benda-benda peninggalan Halmeoni??”

“Geurae… Menurutku juga begitu.”

“Lalu… apa rencanamu setelah ini?” Kangin kembali bertanya dengan penuh selidik.

“Kurasa sebentar lagi Kibum dan Minjoon juga akan mengetahui hal ini, jadi kita harus bergerak cepat,” ujar Donghae seraya menatap Kangin dengan sinis. “Kita harus menyingkirkan mereka. Bukankah begitu?”

<…Queen.of.Gems…>

“Jadi harta karunnya di sekitar sungai ini??” tanya Kibum antusias.

Minjoon mengangguk tenang, lalu memimpin jalan di depan Kibum. “Bila kita sesuaikan dengan petunjuk harta karun itu, seharusnya analisaku benar.”

“Ah… Apa tidak apa-apa kau mengajakku bekerja sama?” tanya Kibum canggung. “Biar bagaimanapun, bukankah kita adalah saingan?”

“Bagiku hal ini sudah tidak penting lagi…” jawab Minjoon santai. “Kau harus membiarkanku menjadi pewaris selanjutnya, lalu aku akan memberikan rumah peninggalan orangtuamu. Adil, kan? Aku mendapat apa yang kuinginkan. Dan kau juga mendapat rumah itu.”

“Annieyo,” seringai Kibum. “Ada hal yang sangat kuinginkan dibandingkan dengan rumah.”

“Mwo? Apa maksudmu??”

“Akan kuberitahu kalau kita berhasil menemukan harta itu…” sambung Kibum yang kemudian berjalan mendahului Minjoon.

“Ya! Kim Kibum!! Tunggu aku!” seru Minjoon yang sudah tertinggal agak jauh di belakang Kibum. “Cih, anak itu…!”

Kibum mencari tepian sungai yang paling dangkal, lalu turun ke dalamnya. Air sungai itu tidak terlalu dalam. Dengan postur tubuh Kibum, air itu hanya berhasil menutupi sebagian tubuhnya. Ia terus berjalan ke arah yang berlawanan dengan arus. Minjoon yang mengerti tindakan Kibum hanya tetap mengikutinya dalam diam.

Langkah Kibum terhenti, kemudian ia menoleh ke belakang dan tersenyum simpul. “Kalau di sekitar sungai tidak ada, kita harus coba mencarinya di dalam sungai.”

“Tapi Kibum’ah… Kita tidak tahu seberapa panjang sungai ini… Dan kita juga tidak tahu ke mana sungai ini akan mengalir…” tukas Minjoon. “Terlalu berbahaya.”

“Aku tahu, tapi lebih baik mencoba daripada tidak berusaha sama sekali,” Kibum menghentikan perkataannya, kemudian ia menatap Minjoon dengan pandangan khawatir. “Kalau kau lelah, kau tidak perlu ikut. Tunggu saja di sini.”

Tanpa izin dari Minjoon, Kibum langsung melesat pergi menuju hulu sungai. Wajah pucat Minjoon telah membuat Kibum menyadari sesuatu. Sehebat apapun Minjoon, ia hanyalah seorang wanita yang memiliki stamina terbatas. Kapasitas stamina yang berbeda jauh dari seorang laki-laki.

<…Queen.of.Gems…>

Di atas jembatan sungai, nampaklah Donghae dan Kangin yang sedang memantau pergerakan Kibum dan Minjoon dengan teliti. Donghae mengeluarkan ponselnya, lalu ia menekan beberapa tombol dengan cepat.

“Mereka sudah ada di dalam perangkap. Bersiaplah,” desis Donghae yang kemudian bergegas mematikan ponselnya.

“Kau yakin cara ini akan berhasil?” Kangin memandang Donghae dengan bimbang, seolah-olah mereka baru saja melakukan kesalahan besar.

Donghae balas menatap Kangin, lalu ia menyunggingkan senyum lebar. “Tenang saja. Kemenangan sudah ada di tangan kita.”

<…Queen.of.Gems…>

Di tengah arus sungai yang semakin deras, Kibum semakin merasa tidak tenang. Akhirnya dengan perlahan ia memalingkan wajahnya ke belakang. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Minjoon, dengan wajah yang sudah membiru, terus mengikutinya dari tadi tanpa berkata apapun.

“Ya! Michyeosseo??” teriak Kibum yang bergegas menghampiri Minjoon.

“Anni, aku belum gila,” sahut Minjoon enteng.

“Tadi seharusnya kau tidak usah ikut! BABO!!” seru Kibum dengan penuh amarah.

Minjoon yang tidak terima diteriaki seperti itu, langsung membalas Kibum. “Mwo?? Siapa yang babo?? Aku hanya berniat membantumu!!”

Angin tiba-tiba bertiup kencang disertai kilat yang menyambar-nyambar. Langit terselimuti oleh lapisan awan hitam yang menutupi permukaan bumi. Tidak lama kemudian, tetesan-tetesan air hujan turun dengan derasnya.

“Omo… Hujan… Bagaimana ini??” tanya Minjoon panik.

“Tapi kita tetap harus mencarinya. Hari ini adalah hari terakhir acara darmawisata sekolah,” tutur Kibum yang juga ikut merasa gelisah. “Kita tidak punya banyak waktu, Minjoon’ah!”

Kibum kembali mengaduk-aduk air yang berada di sekitarnya, berharap bahwa ia dapat menemukan sebuah peti harta karun yang mungkin saja tergeletak di dasar sungai. Sedangkan Minjoon hanya menengadahkan kepalanya ke atas. Pandangan matanya menerawang jauh ke langit luas yang telah berubah warna menjadi hitam kelam. Pakaian mereka berdua telah basah kuyup karena lebatnya hujan yang turun tiada henti.

Dengan langkah mengendap-endap, kedua orang yang memakai masker penutup wajah bergerak perlahan ke arah Minjoon. Salah satu dari mereka telah mengeluarkan sehelai sapu tangan yang telah di beri crysal meth dan tercampur dengan inhalants.

Minjoon langsung terkesiap begitu merasakan ada seseorang yang membekap mulutnya dengan sapu tangan yang berwarna putih. Ia mencoba untuk melayangkan tendangan taekwondo andalannya, namun terlambat. Ia telah menghirup zat inhalants yang terdapat di sapu tangan tersebut. Seketika itu juga, pikirannya serasa melayang. Kepalanya sangat pusing. Beberapa detik kemudian, ia tidak bisa lagi mengontrol keseimbangannya. Sebelum ia ambruk, kedua pria di belakangnya bergegas mengangkat tubuh Minjoon dan membawanya keluar dari sungai itu.

Suara petir yang menggelegar membuat Kibum menghentikan penggeledahannya dan memalingkan wajahnya ke arah Minjoon.

“Minjoon…” Kibum menoleh, kemudian wajahnya memucat ketika ia tidak berhasil menemukan Minjoon di belakangnya. “MINJOON! EODISSEO??”

“Kim Kibum!!”

Kibum mencari-cari sumber suara yang memanggilnya. Sosok Han Eunmi dan Park Hana tidak tampak terlalu jelas karena derasnya hujan yang mengganggu penglihatannya. Eunmi nekat turun ke sungai, merelakan sundress mahalnya menjadi basah. Hana menyusul Eunmi dari belakang.

“Kibum’ah… Ini gawat…!!” ujar Eunmi dengan napas yang terengah-engah. “Aku dan Hana tadi berniat mencari Minjoon. Tapi begitu kami menemukan di mana kalian berada… semuanya sudah terlambat…!”

“Mwo?” Kibum kembali terlihat bingung, tingkat kecemasannya semakin menjadi-jadi.

“Minjoon… Dia… Sepertinya dia di bawa oleh dua orang namja tadi,” jelas Hana. “Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi sepertinya mereka akan membahayakan Minjoon…”

“Omo! Apa itu??” tunjuk Eunmi ke arah salah satu peti kayu berwarna coklat yang mengambang di atas sungai.

Kibum mendekati peti tersebut dan mengambilnya.

“Jangan-jangan itu harta karunnya??” tanya Hana yang tiba-tiba bersemangat.

“Kalau itu hartanya, berarti kau sudah menang Kibum’ah…” timpal Eunmi.

“Anni,” bantah Kibum. “Sekarang siapa yang menang tidaklah penting.”

“Kau benar,” Hana mengangguk setuju. “Lebih baik kau secepatnya mencari keberadaan Minjoon, sebelum semuanya terlambat.”

Eunmi kembali memandang Kibum lekat-lekat. Ia sedikit bergidik ngeri melihat raut wajah Kibum. Baru pertama kali di lihatnya ekspresi marah Kibum yang sangat menakutkan. Raut wajah dingin yang tidak peduli terhadap apapun, seakan-akan ia siap melenyapkan siapapun yang menghalanginya.

“Aku akan membuat kesepakatan dengan Donghae,” ucap Kibum singkat sembari membawa peti tersebut dan beranjak pergi.

Eunmi terperangah. “Kibum’ah, apa maksudmu??”

Hana menepuk bahu Eunmi dan tersenyum kecil. “Jangan khawatir. Kalau dia, aku yakin dia akan berhasil menyelamatkan Minjoon.”

Kibum terus saja menerobos hujan, menyusup ke dalam pemakaman yang berada di ujung jalan. Langit yang gelap sama sekali tidak membuat keputusannya menjadi goyah. Ia memasuki pemakaman tua yang dikelilingi pepohonan besar. Kawasan pemakaman itu memang terisolasi oleh hutan belantara. Suasana mencekam yang selalu dirasakan orang-orang normal sama sekali tidak membuat Kibum merasa takut sedikit pun. Ketakutannya telah berubah menjadi rasa cemas yang membuatnya hampir gila.

Continue reading

Queen of Gems (Part 17)

Queen of Gems (Part-17)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Gender Bender, Slice of Life, Adventure, Humor, Drama, Continue, Romance.

Cast: Kibum, Kangin, Donghae.

Still, Author’s POV-

Seluruh murid Daewon Foreign High School telah berkumpul di restaurant yang berada di hotel tersebut pada pagi ini untuk menikmati sarapan. Setelah kejadian Minjoon kemarin, mereka semua sepertinya tidak bisa tidur dan akhirnya terlambat bangun. Ada kabar yang beredar bahwa pelaku sesungguhnya yang ingin membunuh Minjoon bukanlah Henry dan Zhoumi. Para guru juga sudah memaksa mereka berdua untuk membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengaku. Di tambah lagi dengan teka-teki harta karun yang sama sekali belum terpecahkan. Hal itu membuat semua siswa enggan untuk bersantai-santai sedikit pun.

“Ya! Eotteoge? Ada yang sudah memikirkan jawaban dari petunjuk harta karun itu?” celetuk seorang siswa yang sedang mengunyah rotinya di meja makan.

“Ketika tiba di ujung jalan, waktu akan berjalan dengan lambat…” siswa yang lain mengingat-ingat kembali petunjuk yang pernah di bacanya. “Berhati-hatilah pada sesuatu mengerikan yang akan menimpamu…”

“Intinya, di mana tempat yang di maksud itu??” tanya seorang siswi lain tidak sabar.

“Aishh…! Padahal hadiahnya menggiurkan… Sayang sekali, aku sama sekali tidak mengerti apa arti petunjuk itu…”

“Ah, sudahlah! Lebih baik malam ini kita mengadakan dance party saja!! Lupakan harta karun itu.”

Dance party??”

“Ne! Aku setuju!!” seru yang lainnya. “Malam ini lebih baik kita lupakan semuanya. Soal belajar, harta karun, beasiswa… semuanya! Jangan pedulikan apa-apa lagi.”

“Ide bagus!” pekik Eunmi riang, kemudian ia menoleh ke belakang. “Minjoon’ah… Apa kau juga mau…” perkataan Eunmi terhenti setelah ia tidak berhasil menemukan Minjoon di belakangnya. “Eh? Di mana Minjoon?”

Kibum yang berdiri di sampingnya mendengus kesal. “Cih! Kau ini! Memangnya di matamu hanya ada Minjoon?? Aku tidak tahu dia ada di mana, jangan tanya aku.”

“Mwooo??” sepasang mata Eunmi membulat. “Kim Kibum, kau benar-benar babo!! Apa maksudmu kau tidak tahu dia ada di mana?? Kau harusnya mencarinya sekarang juga! Sejak kejadian kemarin, dia sama sekali tidak boleh dibiarkan sendiri…!”

“Jadi kau menyalahkanku??” balas Kibum berteriak. “Memangnya aku harus bersamanya terus sampai ke kamar mandi?? Paling-paling dia hanya pergi ke kamar kecil sekarang… Jangan membesar-besarkan masalah seperti ini bisa kan??”

“Huh! Terserah!!” Eunmi beranjak pergi. “Kalau kau tidak mau mencarinya, aku akan mencarinya sendiri!”

<…Queen.of.Gems…>

Di belakang hotel, Minjoon berjalan menyusuri jembatan sungai yang hampir pernah membuatnya terjatuh dari sana. Ia terus berjalan dan berjalan tiada henti. Pepohonan hijau yang terletak di sisi-sisi sungai tersebut benar-benar menambah nilai keindahan tersendiri di lingkungan hotel itu. Angin sepoi-sepoi yang berhembus di pagi hari membuat perasaan siapapun menjadi sangat nyaman.

Minjoon melangkah dengan sangat lambat sembari menikmati hembusan angin yang memainkan rambutnya. Ia merasa dapat melupakan semuanya pada saat itu juga. Aliran sungai jernih yang berjalan dengan sangat lambat seolah-olah menghanyutkan pikiran Minjoon tentang masa lalu dan identitasnya.

Langkah Minjoon terhenti. Ia menengadahkan kepalanya, melihat tempat pemakaman yang terbentang luas di hadapannya. Di tengah-tengah pemakaman tersebut telah dibatasi pagar agar tidak ada seorang pun yang berani melewati kuburan itu.

Ia membelalakkan matanya, menyadari sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang hampir saja dilupakannya. Sesuatu yang membuatnya rela mengikuti darmawisata ini sejak awal!

Direnungkannya kembali analisis yang ia buat beberapa detik yang lalu. Kemudian ia menarik napas panjang, dan mengulang petunjuk tersebut dalam hati.

Ketika tiba di ujung jalan, waktu akan berjalan dengan lambat

Arus sungai yang mengalir dengan lambat menandakan gerakan waktu yang terasa sangat menghanyutkan seakan-akan waktu terlewati secara perlahan-lahan. Pemakaman yang dibatasi dengan pagar adalah ujung jalan yang tidak mungkin bisa dilewatinya. Bila analisisnya semua ini benar, tidak salah lagi harta karunnya memang tersembunyi di sekitar hotel ini.

Minjoon menepuk keningnya sendiri, lalu ia menyeringai kecil. “Babo… Seharusnya aku menyadarinya sejak awal…”

“Ya! Shim Minjoon!”

Minjoon terkesiap. Ia memalingkan wajahnya, lalu menatap Kibum yang telah berdiri di belakangnya.

“Kau sedang apa?” tanya Kibum memicingkan sepasang matanya.

“A…anni! Aku hanya sedang berjalan-jalan saja…” kilah Minjoon.

“Aish, chinca!! Kau seharusnya jangan pergi sendirian!” Kibum mengacak-acak rambutnya dengan kesal, lalu menundukkan sedikit kepalanya ke arah Minjoon dan berbisik. “Bagaimanapun… kau adalah yeoja. Ingat itu.”

Minjoon terkekeh pelan. “Ha, ha…! Kau tidak ingat kemampuan taekwondo milikku?”

“Apa gunanya kemampuan taekwondo milikmu kalau kau bahkan nyaris meninggal kemarin?” Kibum balik bertanya, lalu meraih tangan kanan Minjoon. “Kkaja! Eunmi akan memarahiku habis-habisan kalau kau tidak kembali secepat mungkin.”

Di tepisnya tangan Kibum dengan kasar. Entah kenapa perasaannya saat ini benar-benar tidak menentu. Ia mengerti bahwa perasaannya saat ini terlalu egois. Meski Eunmi mengkhawatirkan dirinya, tetapi Kibum mencarinya hanya karena perintah Eunmi. Kenyataan ini telah membuat sepasang matanya merasa panas.

“Aku bisa jalan sendiri,” ucap Minjoon singkat, lalu meninggalkan Kibum yang berjalan sendirian dengan penuh keheranan.

<…Queen.of.Gems…>

Eunmi berjalan lurus di lobby hotel bagai fashion model yang sedang berdiri di tengah-tengah catwalk. Gaun sutra tipis abu-abu yang dikenakannya seakan-akan melambai-lambai ke semua orang yang berpapasan dengannya setiap kali ia melangkah ke depan. Rambutnya di gelung ke belakang dan dihiasi ornamen perak bergaya oriental.

Ready for the dance party?” tanya Eunmi sembari mengerling ke arah Minjoon yang berdiri tidak jauh dari sana.

Seluruh pria yang berada di dalam lobby tersebut hanya bisa menahan napas begitu melihat kecantikan Eunmi malam ini. Kalau biasanya Eunmi sudah terlihat cantik, berarti hari ini dia telah memoles wajahnya habis-habisan hanya untuk menarik perhatian salah satu orang yang selama ini sangat sulit ia dapatkan.

Minjoon yang tidak tahu harus bersikap bagaimana hanya memilih untuk bersikap biasa saja dan tersenyum simpul ke arah Eunmi.

Donghae yang sedari tadi hanya memperhatikan sikap Minjoon hanya tertawa sinis. Ia mendekat ke arah Minjoon secara perlahan.

“Shim Minjoon… Kau terlihat bosan. Bagaimana kalau kita sedikit membuat sensasi?” tawar Donghae.

“Langsung saja. Apa maumu, Lee Donghae?” sahut Minjoon tak kalah sinisnya.

“Donghae, apa yang kau rencanakan kali ini?” tanya Kibum waspada.

“Yeoreobun!!” seru Donghae pada seluruh murid yang sedang berada di lobby. “Aku mau mengusulkan ide bagus. Untuk menambah kemeriahan, bagaimana kalau Minjoon dan aku berdandan sebagai wanita untuk dance party malam ini??”

“Andwae!!” sergah Kibum cepat.

“Wae, Kibum’ah?” Donghae menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Ini permainan yang adil. Bukan hanya Minjoon, aku juga akan berdandan sebagai yeoja. Kau tidak perlu khawatir.”

“Donghae’ah! Terkadang kau memang pintar!” puji Eunmi gembira. “Aku juga ingin melihat Minjoon dengan pakaian wanita~~”

“Ne, ne! Aku juga!!” sambung siswi yang lain.

“Aku ingin melihat Donghae menjadi yeoja~~”

“Minjoon~~~”

“Ya! Taruhan, siapa yang akan menjadi paling cantik di antara Minjoon dan Donghae??”

“Jelas Donghae!”

“Anni, wajah feminin Minjoon juga patut diperhitungkan!”

“Chamkkan, aku tidak bisa… Aku bahkan tidak punya baju wanita…” Minjoon berkelit.

“Geogjeong hajima!” tukas Eunmi yang kemudian menarik lengan Minjoon. “Ayo ke kamarku, akan kupinjamkan salah satu bajuku!”

Continue reading

%d bloggers like this: