Category Archives: EXO

Look At Me, Please -part1-

1_¸±±¾

Annyeong ^^

Author kembali setelah lama hiatus wkwkwkk ..

sebelumnya gak pernah nge post ff ..

kali ini seriusan deh ff nya ..

enjoy ya ..

need comment n saran soalnya author habis kena komentar pedes banget .. *curcol*

mian kalo banyak typo n pic nya jelek *autho ga bsa edit foto T.T *

LOOK AT ME PLEASE -PART1- 

“Selamat Pagi Minho seonbaenim” sapa anak perempuan yang berdiri di depan meja Minho dengan muka yang ceria. “Pagi” Minho membalas sapaan anak itu lalu kembali membaca buku tebalnya. Inilah kebiasaan baru Krystal, menyapa kakak kelasnya lalu kembali kekelasnya. “Ah, indahnya pagi ini.” gumam Krystal setelah sampai dikursinya.

 

Mata indahnya yang terbingkai oleh kacamata itu menerawang jauh kea rah luar jendela yang ada disebelah kirinya. Ia sedang membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa lompat kelas dan sekelas dengan anak yang sedang ia sukai itu, tepatnya yang sudah ia sukai sejak lama. Ia pasti bisa memandangi wajah Minho setiap kali bosan pelajaran, atau curi-curi pandang ketika Minho menampakkan wajah seriusnya. Ah, betapa indahnya. Hari-hariku pasti tidak membosankan gumamnya.

 

“Ya! Soojung-ah!” teriakan itu memecahkan balon-balon udara yang mengambang diudara diatas kepalanya. “Ada berita buruk!” ucap suara itu lagi. Krystal membuka matanya lalu menatap sahabatnya dari sekolah dasar itu. “Ada apa lagi ?” Tanya Krystal malas sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.

“Minho..Minho..” ucap anak itu terputus-putus. “Ada apa dengan Minho, Sulli-ssi?!” nada Krystal berubah menjadi penuh rasa keingin tahuan. “Minho berpacaran dengan Angela, Angela anak pengusaha terkenal itu” akhirnya Sulli sahabatnya itu bisa mengeluarkan kata-kata yang dimaksudnya.

 

“Ah, itu. Aku sudah tahu.” Krystal kembali menyandar pada kursinya. “Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Sulli penasaran. “Berita itu sudah tersebar dimana-mana” Krystal mengeluarkan smartphone terbarunya. “Benarkah tapi berita itu baru heboh di sekolah hari ini” Sulli keheranan lalu memutar duduknya menghadap ke depan.

 

“Selamat pagi, anak-anak” seorang guru memasuki kelas 1-2 yang terkenal nakal itu. “Pagi!” jawab mereka serempak. “Pagi ini kita akan belajar kimia. Segera siapkan buku kalian” setelah berbicara seperti itu guru dengan baju berwarna hijau cerah serta dasi kupu-kupu itu melangkah menuju ke meja belakang dan menghampiri Krystal yang sudah menyiapkan buku-bukunya sebelum pelajaran dimulai.

 

“Kau tetap seperti biasanya Jung Soo Jung” bisik guru itu pelan. “Jangan panggil aku seperti itu guru norak!” desis Krystal. “Ara ara. Jangan seperti itu atau akan aku laporkan pada Ibu mu.” Ancam guru itu. “coba saja kalau berani jungsoo samchon” Krystal segera membuka bukunya lalu membiarkan guru itu tertegun dan kembali ketempat semula.

 

“Hari ini ada pengumuman, akan diadakan seleksi untuk ikut kelas akselerasi. Bagi yang ingin mendaftar segera hubungi saya karena ini sangat terbatas dan sangat jarang diadakan.” Ucapan Jungsoo ‘samchon’ itu membat Krystal mengalihkan pandangannya dari buku dihadapannya menjadi tatapan tidak percaya yang dilayangkannya kepada guru yang juga samchonnya itu. Dengan begini aku punya kesempatan untuk satu kelas dengan Minho.

 

“Samchon!” panggil Krystal begitu melihat seseorang dengan baju berwarna hijau cerah melintas di hadapannya. “Jangan panggil aku samchon aku tidak sudi punya keponakan sepertimu” Jungsoo melirik Krystal. “Jangan begitulah samchon” rengek Krystal sambil mengeluarkan aegyo-nya. “Ada apa?” Jungsoo akhirnya mengikuti langkah Krystal. “Samchon.. ehm, saem, benarkah kali ini akan diadakan tes utnuk aklselerasi?” Tanya Krystal antusias. “Apa kau tidak mendengarku tadi?” Jungsoo menolehkan kepalanya melihat Krystal. “Ani, hanya saja aku tidak percaya” gumam Krystal. “Kalau tidak percaya ya sudah” Jungsoo mempercepat langkahnya menuju ruang guru. Tapi ketika membuka pintu ruang guru Krystal mencegahnya “Aku akan ikut tes itu!”. “Baiklah aku rasa nilai-nilaimu mencukupi syarat untuk mengikuti tes itu.” Jawab Jungsoo pelan. “Jeongmal??” Krystal membelakkan matanya. Jungsoo hanya menanggapinya dengan menganggukan kepala. “Tapi, samchon. Bisakah aku mendapat bocoran soalnya??” Krystal membuat Jungsoo membelalakkan mata lalu menyentil dahi Krystal. “Tidak akan” sahut Jungsoo singkat lalu masuk ke dalam ruang guru.

 

“Soojung-ah!” lagi-lagi Sulli memanggilnya dengan nama itu. “Jangan memanggilku seperti itu. Namaku Krystal” Krystal menatap mata Sulli tajam. “Iya, iya mian” Krystal mulai melangkah menuju kelasnya diikuti Sulli disampingnya. “Kau akan ikut tes itu ?” Tanya Sulli. Krystal hanya menganggukkan kepalanya singkat. “Kalau begitu aku juga akan mengikuti tes itu” ujar Sulli tiba-tiba membuat Krystal berhenti melangkah dan menoleh menatap Sulli tidak percaya. “Benarkah?” Tanya Krystal heran. Selama ini Sulli memang tidak pernah belajar dan tidak berminat untuk ikut akselerasi. “Tentu, karena kau ikut aku juga harus ikut. Aku tidak ingin kita terpisah Soojung-ah.” Sulli memeluk Krystal tapi segera dilepaskan paksa oleh Krystal. “Kau tidak sakitkan?” Krystal menyentuh dahi Sulli. “tentu tidak chingu-ya” Sulli menarik tangan Krystal dari dahinya. “Kalau begitu mulai sekarang kita harus sering belajar bersama” ucap Krystal lalu menggandeng tangan Sulli dan berjalan menuju kelas.

 

“Minho-ya!” seorang wanita berambut pendek menghampiri Minho. “Sudah kubilang. Kau harus memanggilku oppa. Minho oppa” Minho meraih pinggang wanita itu. “Aku akan mengikuti ujian akselerasi itu bersama sahabatku.” Wanita itu tersenyum cerah kepada Minho. “Benarkah?? Kuharap nanti kita akan sekelas” Minho meraih tangan wanita itu dan menciumnya.

 

Ddrrrt..drrtt..

“Siapa itu?” Tanya Minho. “Dari Soojung” wanita itu menjawab sambil menunjukkan layar handphone-nya.

 

“Kemana Sulli ini? Aku kan sudah bilang padanya hari ini jadwalnya untuk belajar bersama” gumam Krystal yang sedang kedinginan di depan coffee shop biasanya. “Soojung-ah!” teriak seorang wanita dari kejauhan. “Sulli-ya! Kenapa lama sekali?? Aku sudah kedinginan dari tadi.” Krystal kemudian menarik tangan Sulli memasuki coffee shop langganan mereka itu.

 

“Darimana saja kau?” Tanya Krystal dengan wajah penuh tanya. “ah, itu.. itu..” Sulli menjawabnya putus-putus membuat Krystal semakin jengkel. “Apa? Kenapa?” Krystal mendesak Sulli untuk segera menjawab pertanyaannya. “Tadi aku baru saja selesai mengantar makanan untuk Ayahku dikantornya hari ini ayahku akan lembur dikantor” jelas Sulli dengan asap yang keluar dari mulutnya.

 

“Jadi bagaimana ini kita akan mulai berlajar dari mana?” Sulli mengeluarkan buku dari dalam tasnya. “Mood belajarku sudah hilang.” Ujar Krystal cemberut. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja??” raut wajah Krystak mendadak bersemangat. “Baiklah” Sulli kemudian memasukkan kembali buku-bukunya kedalam tas lalu berdiri sambil memegang kopinya.

 

Mereka memutuskan untuk pergi ke Myeongdeong melihat barang-barang terbaru yang belum mereka miliki. “Soojung-ah, ini bagaimana?” Tanya Sulli menunjukkan baju yang dicobanya. “Kau terlihat sangat lucu Sulli-ya.” Ucap Krystal lalu tertawa sambil memandangi Sulli yang mengenakan coat warna merah kebesaran yang panjangnya melebihi lututnya. “Benarkah?” Tanya Sulli lagi. Krystal hanya tertawa lalu mengangguk. “Kalau yang ini?” Tanya Sulli tak lama setelah berganti baju yang lain. Krystal menggeleng. “Yang ini?” Sulli mencoba baju yang lainnya. Lagi-lagi Krystal menggeleng.

 

Tak lama kemudian Krystal dan Sulli keluar dari ruang ganti mengenakan baju yang sama. Kemudian mereka saling memandang dan mengangguk serta tertawa. Mereka memutuskan membeli hoodie berwarna biru muda dengan gambar Jerapah ditengahnya. “Lihat ini begitu cute bukan” ujar Krystal sambil menunjuk pada salah satu case yang di jual diseberang toko hoodie. “Iya.” Sulli mengangguk lalu mengambil buah. “Banyak sekali?” Tanya Krystal. “Satu untukmu dan satu untukku” Sulli kemudian membayar dikasir. “Aku saja yang bayar. Sebagai tanda persahabatan kita” Sulli tersenyum ketika Krystal hendak mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. “gomawo” Krystal membalas senyum Sulli.

 

“Sulli-ya, aku gugup sekali” Krystal memegang tangan Sulli erat. “Tenanglah, ini juga pertama untukku” Sulli juga memegang tangan Krystal erat. “Kau masih ingat apa yang kita pelajari kemarin?” Tanya Krystal penasaran. “Tentu aku masih ingat. Jangan-jangan kau sudah lupa ya?” Sulli melihat Krystal yang memejamkan mata mencoba mengingat-ingat pelajaran yang sudah dipelajarinya. “Aku rasa hanya sedikit” Krystal tersenyum pahit.

 

Perhatian-perhatian bagi seluruh peserta ujian akselerasi diharapkan masuk ke ruangannya masing-masing karena ujian akan segera dilaksanakan

 

“Inilah saatnya” batin Krystal. “Hwaiting!” seru Krystal dan Sulli sebelum mereka memasuki kelas masing-masing. Ujian tersebut memakan waktu kurang lebih 3 jam. Menguras otak Krystal dan Sulli lebih dari sebelumnya.

 

“Bagaimana hasil ujianmu?” Tanya Minho merangkul pundak wanita berambut pendek yang ada disebelahnya. “Aku dan sahabatku berhasil lolos” ucapnya sedih. “Lalu apa yang membuatmu sedih?” tanya Minho. “Aku tidak satu kelas denganmu.” Wanita itu menunduk. “Yang sekelas denganmu justru sahabatku”tambahnya. Minho menarik kepala wanita itu dan menaruhnya di pundaknya. “Tenanglah kita masih bisa bertemu kan” Minho berusaha memperbaiki hati wanita yang ada disebelahnya itu.

 

“Soojung-ah! Selamat kau satu kelas dengan Minho oppa” Sulli member selamat kepada Krystal yang sedari tadi tersenyum menatap lantai. “Gomawo Sulli-ah. Tapi aku sedih.” Ucap Krystal pelan. “Kenapa? Bukannya itu keinginanmu ya?” Sulli menatap tak percaya. “Aku tak sekelas denganmu.” Krystal menatap Sulli sedih. “Tenanglah, aku akan sering kekelasmu” ujar Sulli tersenyum. Krystal mengangguk. “Atau kita bertukar kelas saja ?” Tanya Sulli. “Sirheo” jawaban Krystal membuat Sulli terkekeh.

 

Trringg..triinngg..

 

“Sudah bel rupanya masuklah ke kelasmu dan bertemu pangeranmu itu. Hahaha.. ” Sulli mendorong Krystal kedepan pintu kelasnya lalu berlari menuju kelasnya sendiri.

 

“Selamat pagi anak-anak!” sapa Jungsoo ramah begitu memasuki kelas 2-2. “Pagi ini kita kedatangan teman baru. Sebenarnya bukan baru sih, hanya saja dia adalah adik kelas kalian yang lulus ujian akselerasi” Jungsoo melanjutkan. “Masuklah.” Krystal melangkah masuk ke kelas barunya dengan perasaan ragu. Bagaimanapun juga ia adalah junior. “Annyeonghaseyo Krystal-Jung imnida” Krystal membungkuk 90 derajat lalu disambut tepuk tangan serta siulan ringan dari seluruh penjuru kelas. “Sudah-sudah jangan ramai. Krystal duduklah disebelah Baekhyun.” Ujar Jungsoo sabar lalu membiarkan Krystal duduk disebelah BaekHyun. “Annyeong!” sapa Baekhyun ramah. “Annyeonghaseyo seonbaenim” sahut Krystal penuh kesopanan. “Tidak usah terlalu sopan. Bukankah kita sering bertemu. Kau kan yang sering kemari untuk member ucapan selamat pagi kepada Minho kan?” Tanya Baekhyun langsung. Krystal hanya mengangguk “ne”. Lalu Krystal menoleh kearah depan sebelah kanan, terlihat Minho yang sedang memperhatikan pelajaran dengan wajah yang serius. Ini adalah apa yang diinginkan Krystal sejak lama satu kelas dengan Minho, cowok idealnya itu. “Jangan melihatinya terus nanti dia terasa. Dia itu orangnya sangat peka.” Ujar Baekhyun pelan yang membuat Krystal langsung mengalihkan pandangannya kepada Jungsoo yang sedang mengajar didepan. Jungsoo yang melihat tingkah laku Krystal hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Soojung-ah!” kali ini Sulli berteriak dari pintu belakang kelas barunya itu. Krystal langsung menoleh dan menyuruh Sulli masuk. “Mwohae?” Tanya Krystal. “Aku ingin tahu kelas barumu Soojung-ssi.” Sulli berkata lalu melihat seisi kelas itu. “Mana Minho oppa?” Tanya Sulli penasaran. Krystal hanya menggelengkan kepalanya kearah Minho yang berdiri di depan pintu kelas. Sulli berdiri dibelakang Krystal lalu berbisik “lihatlah betapa kerennya Minho oppa. OMO! Dia sangat keren kau tahu”. Krystal kembali memandangi Minho dan teman-temannya yang sedang bergurau sambil tersenyum. Tak lama kemudian mungkin karena merasa dipandangi Minho memutar tubuhnya menghadap Krystal yang sedang tersenyum sendiri. Minho ikut tersenyum. Sangat tampan! Ia pasti sedang tersenyum kepadaku. Batin Krystal. Tapi tanpa Krystal sadari. Sulli juga ikut tersenyum kepada Minho.

TBC~

Jangan lupa di tunggu comment + sarannya ..

Gomawo ^^

 

Letter of Angel XXIV “INSANE”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI, Part XXII, Part XXIII

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

Korea…. I back…..

Langit Seoul hari ini sangat cerah. Sinar matahari yang hangat, menghangatkan dinginnya pagi.

“Tuan Kim, selamat datang kembali di Korea” ujar sekretarisku. Sekretaris aku tak pernah berpikir untuk memiliki tangan kanan yang akan menyelesaikan semua urusan yang tak sempat aku urus sendiri. Dokter Kim Jaejoong hidupmu sudah berubah. Bukan lagi dokter Kim yang selalu mengurusi rumah sakit dan keluarganya saja, Yuri Haejoong sebenarnya kemana takdir akan membawaku?

“Tuan Kim” Sekretarisku menyadarkanku dari lamunan.

“Nyonya Kim menelpon. Dia ingin memastikan anda sudah sampai dengan selamat” Segera kurogoh ponsel dan memakai headset. Suzzy pasti khawatir. Aku sudah janji untuk menghubunginya segera setelah sampai di Seoul.

“Yeoboseyo” ujarku.

“Yeoboseyo, oppa” Aku bisa merasa kelegaan dari suaranya.

“Mianhae, baru bisa menghubungi sekarang”

“Gwaenchana. Asal kau baik-baik saja. Oppa, semua baik saja kan?” tanyanya.

“Maaf Tuan mengganggu. Doojoon menunggu anda di mansion. Ini laporan penyidikan yang anda minta. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan jas anda untuk pemakaman Tuan Shim. Kita akan sampai di mansion kurang dari 15menit lagi. Buket bela sungkawa sudah dikirim. Kikwang dan Junhyung sudah mengirim orang-orang terbaik untuk pengamanan dan pengawasan keluarga dan sahabat anda.”
Jaejoong mengambil nafas panjang.

“Kematian Changmin apa sudah ada titik terang? Bagaimana laporan hasil penyelidikan dan olah TKP?” Sebagai seorang dokter yang juga pernah mengalami rotasi dokter muda di berbagai bagian termasuk bagian forensik sebelum memutuskan menjadi dokter bedah jantung, Jaejoong cukup mengetahui hal-hal semacam ini.

“Sementara ini polisi masih menganggap ini kasus pencurian biasa terkait hilangnya beberapa barang berharga serta mobil di kediaman Kyuhyun, tetapi kemungkinan besar ini adalah alibi”
Jaejoong terdiam sejenak dan berpikir.

“Saat kejadian siapa saja yang berada di sana?”

“Adik Cho Kyuhyun, Lee Jieun. Tidak lama kemudian Goo Hara tiba di TKP dan langsung memanggil ambulance dan polisi”

“Jieun? Jangan katakan kalau…..” Tenggorokan Jaejoong tercekat. The worst thing is standing beside someone that you love in lifeless stage, but the worse than that is realized your soul die in your arms.

“Oppa” Suara Suzzy membawa Jaejoong kembali ke dunia nyata.

“Are you okay?”

“Yes” jawab Jaejoong pendek.

Suzzy menarik nafas panjang.

“I’m your wife even we didn’t know each other so long. I know you’re not okay. Never say you’re happy when you’re sad, never say you’re fine when you’re not okay, never say you feel good when you feel bad. There are times you are afraid, times you are confused and times you feel uneasy. You start to cry, you feel alone, you stop to love. Oppa, you still have me. Even you didn’t want make me worry, you make me worry already. Be strong and courage as you’re, but don’t be afraid to be weak in front of me. It’s not time to act strong. We are here oppa and always be here to support you. Kris has missed you already.” Suzy memberi penekanan pada kata-kata yang menurutnya mampu membuat Jaejoong terbuka padanya.

“I miss you two” Jaejoong tersenyum kecil setelah mendengar kata-kata Suzy.

“Oppa, ….”

“I’m okay. I must stay strong, I ever through this before. Sky is falling down, froze, dark cloud commit to kill myself. I knew it better. If I didn’t have them, I wouldn’t be able met you and had chance once more to have family. Have Kris to protect and feel his slow breath in my tight embrace. I’ll be back soon. Please, take care of Kris and you too for sure. Send Kris my kiss, tell him his father really wants to see his peaceful sleeping face and his cute laugh”

“Tuan, ada telpon dari Kikwang. Nona Lee Jeun berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil yang lewat. Dia diselamatkan nona Jung Jessica yang berlari dan menariknya sebelum sempat tertabrak”

“Suzy, I’ll call you later” Jaejoong siap mengakhiri sambungan telponnya.

“Oppa, wait” Jaejoong bisa mendengar suara kecil tawa Kris.

We love you. Take care appa” teriak Suzy dan menutup telpon. Jaejoong tersenyum.
Jaejoong sampai di mansion dan terlibat pembicaraan sebentar dengan Doojoon dan segera mengganti pakaiannya dengan jas hitam.

Doojoon dan beberapa bodyguard mengikuti Jaejoong yang menggunakan mobil sendiri dan berusaha menjaga jarak agar tidak ada yang curiga.

Di pemakaman Jaejoong bertemu Donghae, Donghwa, Eunhyuk, Siwon dan masih banyak lagi. Suasana yang kembali mengingatkannya dengan suasana waktu itu. Jaejoong segera menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak membuat dirinya lemah di saat seperti ini.

“Hyung” panggil Donghae. Jaejoong mengangguk. Pemakaman Changmin diwarnai tangisan dari ayah, ibu dan saudara serta keluarga besarnya.

Setelah pemakaman mereka berkumpul di rumah Donghae dan sebagian memutuskan untuk menjenguk Jieun yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Kyuhyun tidak bisa membiarkan Jieun semakin terluka karena tinggal di rumah mereka akan mengingatkan Jieun dengan kematian Changmin.

“Bagaimana kronologinya?” ujar Jaejoong memulai pembicaraan. Tidak ada yang bicara.

“Jieun belum bisa dimintai keterangan” Junsu membuka mulut.

“Maksudmu?”

“Jieun adalah saksi kunci” Lanjut Junsu sambil menarik nafas panjang.

“Aku akan mengantar Jiyeon ke rumah sakit” kata Donghae, tetapi Donghwa menahan Donghae.

“Biar aku yang antar Jiyeon. Aku juga ingin menjenguk Jieun”

Donghwa berdiri, Donghae memberi kecupan singkat dan pelukan pada Jiyeon serta menghapus airmata Jiyeon.

Suasana kembali sunyi. Mereka semua terdiam, tidak tahu bagaimana untuk memulai pembicaraan. Terlalu banyak masalah yang terjadi dan semua terasa semakin berat sekarang.

“Donghae, lebih baik kau istirahat. Besok sidang akan dilaksanakan” nasihat Jungsoo.

“Kau pikir aku masih memikirkan sidang setelah apa yang terjadi pada Changmin. Kematian Changmin dan semua hal yang terjadi semua adalah karena aku. Andai saja bukan karena aku pasti tidak akan seperti ini. Aku yakin mereka melakukannya untuk mendapatkan Mavin. Seandainya aku melepas Mavin dari awal maka…”

Jaejoong memukul wajah Donghae dengan keras. Junsu dan Jungsoo berusaha menahan Jaejoong.

“Hyung, Junsu lepaskan aku. Anak ini perlu diberi pelajaran. Aku tahu yang aku lakukan” Junsu dan Jungsoo akhirnya mundur setelah mendengar teriakan Jaejoong yang juga memberi keyakinan pada mereka kalau Jaejoong tahu dengan benar apa yang dilakukannya.

“Kau pikir menyerahkan Mavin akan menyelesaikan masalah. Kau pikir jika sejak awal memberikan Mavin hal ini dapat dicegah? Hah??? Lee Donghae dimana otakmu? Bagaimana kau bisa menyalahkan Mavin atas segalanya” Jaejoong masih memegang kerah baju Donghae.

“Aku tak menyalahkan Mavin” teriak Donghae.

“Kau menyalahkannya. Jika tidak kau tak akan berkata demikian. Mana ada ayah yang berkata demikian? Hah???? Kau ingin berkata menyalahkan dirimu sendiri, tetapi ini sama saja kau menyesali keberadaan Mavin. Kau tahu kami semua berada disini untuk mendukungmu, kami aku, Junsu, Jungsoo hyung, Eunhyuk, Donghwa, Hara, Kyuhyun, dan Yuri, Haejoong, Changmin kami mendukungmu. Mavin adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kau jaga dan kami sudah menganggapnya sebagai bagian hidup kami. Kau pikir aku akan diam saja ketika pikiran bodohmu menguasai otakmu atau perasaanmu membutakan dirimu”

“Look who says that. Kau bahkan ingin mengakhiri hidupmu ketika Yuri noona dan Haejoong meninggalkanmu. Pernah kau memikirkan kami yang berada di sampingmu? Hah?” Jaejoong siap memukul Donghae, tetapi pukulannya jatuh di lantai beberapa inchi dari wajah Donghae.

Jaejoong berdiri dan menarik Donghae untuk berdiri dan memberinya pelukan saudara. Donghae seolah membeku, tetapi sesaat kemudian memeluk Jaejoong. Mereka diam dalam posisi itu dan Jaejoong melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku Hyung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tak tahu ini mimpi, drama atau benar hidup. Kenapa hidupkku seperti scenario drama? Drama sedih yang diatur untuk mendapatkan banyak rating dan nominasi serta penghargaan karena mampu menghadirkan alur sedih tanpa akhir? Pathetic… So pathetic”

“It’s fate not scenario. If it is scenario, God must will be the director” Jaejoong menepuk bahu Donghae.

Junsu meninggalkan mereka berdua dan segera menuju kantor kejaksaan. Laporan terkait penyidikan kasus Changmin yang dia minta langsung dari kepala penyidikan kasus telah keluar. Junsu memohon bantuannya, meski itu jelas terlarang untuk membocorkan dokumen, tetapi akhirnya dia menyerah dan memberikan Junsu informasi paling penting meski tidak semuanya dia berikan.

“Jaksa Kim ada 2 orang tamu di ruang anda. Mereka menunggu anda sejak tadi”

Junsu berpikir kalau Kepala Penyidik datang bersama staff atau polisi lain, Junsu terkejut ketika melihat Yunho di kantornya bersama kepala penyidik.

“Jaksa Junsu ada yang ingin saya bicarakan sebentar” Kepala penyidik keluar untuk memberikan mereka privacy.

“Saya mengajukan ke pengadilan untuk mengundur persidangan sampai pengacara pengganti Shim Changmin diperoleh” kata Yunho. Junsu mengangguk.

“Ada yang lain yang kau ingin sampaikan?” tanya Junsu.

“Temukan pembunuhnya. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku ingin kita bekerjasama, aku akan selidiki keluarga Choi. Harusnya aku menggunakan praduga tak bersalah, tetapi kuakui aku curiga pada Tuan Besar Choi”

“Bukankah dia klienmu?” tanya Junsu.

“Klien? Klien adalah orang yang mempercayai pengacaranya entah bagaimanapun itu. Bagiku klien adalah orang yang mengatakan dirinya bersalah jika bersalah dan tidak jika dia tidak bersalah. Aku bisa meringankan hukumannya dengan memperjuangkannya, tetapi ketika dia sudah menutupi sesuatu yang harusnya aku ketahui, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Berapa banyak kebohongan yang dia rakit, aku tak ingin menjadi boneka dari klien. Dan lagi….”
Yunho menarik nafas panjang.

“Melihat rival pengacaramu dimakamkan bukanlah hal yang mudah. Aku tak punya kata yang baik untuk menyampaikannya. Namun, satu yang pasti aku akan kehilangan seorang rival yang aku prediksi mampu menjatuhkanku untuk pertama kalinya. Seseorang yang mampu membuatku merasakan ketegangan dan harus berpikir sangat keras di persidangan. Aku akan merindukan sensasinya dan aku akan merindukan tatapan dinginnya saat menghadapiku. Shim Changmin…. Prince of Court Yard”

———————————————————————————————–

I will leave for you so I will get to hate you
Now I won’t cling onto you anymore
I’m gonna be better – it’s better if I’m not here
Especially today, you have so many secrets

“Maaf bisa keluar sebentar. Kami perlu memeriksa keadaan pasien”

“Dokter aku ingin berada disini. Aku perlu tahu keadaan adikku” Kyuhyun bersikeras.

“Eunhyuk…. Maaf Dokter Lee. Bolehkah saya juga tinggal disini. Saya harus memastikan kalau dia baik-baik saja agar semua merasa lebih tenang. Kyuhyun, Hara, Jiyeon aku janji akan memberikan informasi kepada kalian. Kami tak akan bohong dan pegang janjiku Kyuhyun. Aku tak akan mengatakan hal yang hanya membuatmu tenang saja” ujar Donghwa meyakinkan.

Kyuhyun akhirnya dengan berat hati mengikuti Hara yang memegang tangannya mengajak keluar dan Jiyeon memberikan tatapan sedih sejenak sebelum keluar menyusul Kyuhyun dan Hara.

Donghwa melihat Eunhyuk yang memeriksa Jieun.

“Hyung, kau meyukainya?” Donghwa terkejut mendengar pernyataan Eunhyuk.

“Aku bisa melihatnya dari matamu”

Donghwa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa.

“Hahaha…. Kau membuatku terkejut. Benar aku memang menyukainya. Dia gadis yang ceria dan manis, dia juga menyenangkan. Siapa yang tidak akan menyukainya?” tanya Donghwa balik.

“Hyung, aku serius” Donghwa menarik nafas panjang dan menatap Eunhyuk yang penasaran menunggu jawaban Donghwa.

“Changmin baru dimakamkan. Apa kau pikir itu pertanyaan wajar sekarang? Dan Jieun masih shock serta depresi. Aku rasa jikapun aku mencurahkan seluruh waktuku dan memandangnya, itu tak lebih karena empati. Kehilangan bukanlah hal yang mudah sebagai dokter kita tahu itu dengan baik. Meski kita terbiasa hidup dengan melihat begitu banyak adegan kesedihan, kemalangan, kehilangan, tetapi kita masih saja merasa bahwa dunia kita runtuh. Mungkin bagi kita dokter yang menangani pasien. Kehilangan pasien mungkin kurang dari 2%-3% dibanding banyaknya jumlah pasien lain yang pernah kita selamatkan selama karir kita, tetapi bagi keluarga dan orang-orang yang mencintainya itu berarti 100% kehilangan. Aku manusia dan aku bisa merasakan perasaan orang lain terutama kehilangan. Big hole inside your heart I ever experienced it. My father, my uncle, my dear patient, my first patient who was die in front of me. I ever knew how misserable it. I don’t know how much pain must endure when your lover left you, but I know really know how much pain that love could cause”

Eunhyuk mengangguk. You love her hyung… You love her

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

——————————————————————————————–

It was a moment where time got slower
The beauty that I learned of, felt and believed in till now
You have changed it all

The front of my eyes became as dark as dawn
Like a single ray of light, she finally found me
My girl, my destiny

As I stomped on the ground, control my exploding breath
I ran (Tonight I’m so lonely, don’t wanna be alone without you)
To you

“Eunhyuk” panggil Jaejoong dan Donghae bersamaan. Eunhyuk langsung berlari dan memberikan big-tight-hug-crush-bone pada Jaejoong.

“Eun…Eun..hyuk… Kau membuatku …ti..dak…bi…bi..sa …ber…nafas” Donghae langsung memisahkan Jaejoong dari Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum tak bersalah dan Jaejoong berusaha mengatur nafasnya yang terpotong akibat pelukan maut Eunhyuk. Donghae memukul kepala Eunhyuk.

“Hei, what was that for?” kata Eunhyuk dan justru menerima pukulan lain dari Donghae. Jaejoong tertawa dan menghentikan aksi Donghae.

“Kau tak bisa membalasku jadi kau melampiaskannya pada Eunhyuk?” seringai Jaejoong. Donghae mengangkat dua jempolnya.

Eunhyuk bingung, tetapi tidak mempermasalahkannya.

“Tuan Kim” beberapa pria berjas mendekati Jaejoong. Jaejoong tersenyum pada mereka. Donghae dan Eunhyuk hanya bertukar pandang. Pria-pria berjas itu membawa banyak plastik berisi makanan dan berbagai macam snack yang kemudian Jaejoong bagikan ke dokter-dokter, suster dan para staff rumah sakit. Jaejoong juga memberikan coklat dan balon pada anak-anak yang dirawat di bangsal anak.

Eunhyuk melongo sedangkan Donghae sedang menerima apa yang terjadi di depannya.

“Hyung, berapa banyak yang kau habiskan untuk itu semua dan siapa pria-pria berjas tadi”

“Tidak banyak dan mereka mungkin orang-orang yang dipekerjakan oleh restoran dan pusat oleh-oleh yang aku pesan” jawab Jaejoong.

Donghae dan Eunhyuk mengangguk.

“Donghae, kau masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan dengan Eunhyuk” kata Jaejoong.

“Bagaimana keadaan Lee Jieun”

“Depresi” Eunhyuk menjawab singkat. Jaejoong mengangguk dan ingin masuk ke dalam ruangan.

“Hyung, ada yang ingin aku sampaikan soal Donghwa hyung” Jaejoong memutar tubuhnya dan kembali menghadap Eunhyuk.

“Ada apa?”

“Ini rahasia bisa kita bicara di tempat lain?” ajak Eunhyuk.

Jaejoong mendekati Eunhyuk dan berbisik.

“Jika ini menyangkut Lee Jieun. Aku sudah tahu dari dulu” Jaejoong tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi Eunhyuk.

“Maybe it’s not good time, but when Jieun find someone else it will ease her pain. I have experienced it”

“Tunggu. Kau menemukan wanita lain?” Jaejoong hanya memberi wink dan masuk ke ruang rawat Jieun.

“Jiyeon” panggil Donghae. Jiyeon, Donghwa dan Hara duduk di kursi tunggu di ruang Jieun. Sedangkan, Kyuhyun duduk di samping ranjang Jieun memegang tangan adiknya dan ekspresinya yang benar-benar lelah dan sedih.

Donghae membawakan makanan untuk mereka.

“Bagaimana keadaan Jieun?” tanya Jaejoong. Donghwa menarik nafas dalam.

“Dia sudah diberi obat penenang dan obat tidur. Dia dalam keadaan shock berat”
Jaejoong mengangguk mengerti. Donghae memberi tatapan aneh pada Jaejoong, tetapi Jaejoong menatap Donghae dengan sedikit tatapan intimidasi dan membuat Donghae mengalihkan pandangannya pada Jiyeon.

“Jiyeon, Donghae kalian pulanglah setelah makan. Hara bawa Kyuhyun pulang. Biar aku yang menunggu Jieun bersama Donghwa”

“Tapi….” Sebelum meneruskan perkataannya Jaejoong memotong Hara.

“Kyuhyun membutuhkan istirahat. Kau boleh khawatir pada Jieun, tapi aku rasa Kyuhyun…”

Mereka mengikuti arah pandangan Jaejoong. Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan mereka dan seolah tidak mempedulikan segala pembicaraan, terlarut dalam dunianya sendiri.
Hara mengangguk. Hara segera menyelesaikan makannya dan mendekati Kyuhyun.

“Oppa” panggil Hara sambil menepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan memberikan senyum kecil yang lebih terlihat sebagai senyum getir pada Hara.

“Kita pulang” tanya Hara. Kyuhyun menggeleng. Jaejoong mendekati mereka berdua.

“Kyuhyun pulanglah bersama Hara. Kalian berdua sama-sama lelah. Biar aku yang menjaga adikmu. Pulanglah sekarang” Kyuhyun masih ingin tinggal disitu, tetapi melihat Jiyeon, Donghae, Hara, Donghwa, dan Jaejoong yang seolah memohon padanya dia akhirnya mengangguk.

“I’ll be back soon, my sister” Kyuhyun mencium kening Jieun dan meninggalkan ruang rawat Jieun.
Setelah mereka semua pergi. Jaejoong duduk di sebelah Donghwa.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghwa.

“Aku yang harusnya bertanya demikian. Bagaimana kabarmu Lee Donghwa?”

“I’m fine” Donghwa tersenyum kecil.

“Bagaimana hatimu?” tanya Jaejoong. Donghwa menoleh pada Jaejoong bingung.

“Lee Donghwa kau lupa aku adalah sahabatmu. Aku mengenalmu dengan cukup baik meski hanya sebagai teman kuliah. Aku mengenal adik dan keluargamu. Aku….”

“Tskk… Kim Jaejoong, kau tetap saja menyebalkan” kata Donghwa.

“Kau juga sangat menyebalkan kau orang kesekian yang memotong perkataanku hari ini” tawa Jaejoong.

“You know me better than anyone else” Donghwa melemparkan pandangannya pada Jieun.

“You love her”

“It’s useless to lie to you. First, I laid my eyes on her I felt something different I want to touch her, want to kiss her. I want her so desperately. I know it is sin to have this feeling. She belongs to someone else. I tried my best to keep this feeling , I could say I’m not good friend at all. I love her Jaejoong and it’s hard for me to see her in this stage. Why… Why it’s not me who killed so she can smile and has beautiful life with Changmin”

Donghwa menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Jaejoong menepuk-nepuk bahu Donghwa dan berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Believe or not. I felt my sky was falling down when I lost Yuri and Haejoong, but from now on from that day I met Suzy my world becomes the bright one. God gives me angels not to replace Yuri and Haejoong. God gives me son and wife to protect better than before. God makes me strong and I know I became stronger to convince everyone in my life that life goes on and is getting better even you got bit sadness, you will get slice of happiness. God has his scenario if I could compare life and film, life would be the best perfect film. You could change the scenario because the director gives you power to do it. We’re not doll actors and actresses, we’re actors and actresses who given choice by God. To live and willing that led survive to reach our aim of happiness or to give up and feel sorrow inside your heart”

Donghwa memandang Jaejoong.

“I have new family. I’ll tell you later, but I tell you I will do everything to pursue my perfect dream of life. Not just imagination or fiction, make it real in real life as fate. Suzy is my wife and Kris is my son. They’re my dream of perfectness that could be I imagine. Lost something precious gave me power to hold the worst scenario on my shoulder, no doubt I could do this because when I do something it will never happen. Just pursue your perfect life”

Donghwa berdiri dari duduknya dan menuju ke sisi ranjang Jieun. Jaejoong tersenyum dan berdiri meninggalkan ruang rawat Jieun.

“Kau sudah disini sejak tadi dan menguping kan?” kata Jaejoong pada Donghae.

“Kau sejak lama sudah menyadari perasaan Donghwa hyung pada Jiyeon? Sejak kapan?” tanya Donghae.
“It’s not such a big deal, Donghae. Did you confess to your wife that you love her a lot?” Mata Donghae membesar.

“I….I….” Jaejoong melihat Jiyeon datang menghampiri mereka dari belakang dan membawa 2 cangkir kopi.

“Kau belum pulang?” tanya Jaejoong.

“Donghae oppa bilang ingin sejenak disini untuk menunggu Jaejoong oppa. Dia memintaku membeli kopi untuk kalian” Jiyeon menyorongkan cangkir berisi kopi pada Jaejoong dan pada Donghae.
“Ohya, ada yang ingin dikatakan Donghae. Dengarkan baik-baik yah. Terima kasih kopinya” kata Jaejoong sambil meneguk kopinya dan berjalan meninggalkan mereka.

Donghae bingung harus bilang apa. Dia menarik nafas dalam dan menatap mata Jiyeon.

“Jiyeonie, Saranghaeyo” Donghae menarik Jiyeon dalam pelukannya. Jiyeon memeluk Donghae erat dan membiarkan air matanya tumpah.

“Nado Saranghaeyo… Nado.. Nado.. saranghaeyo Lee Donghae” ujar Jiyeon.

Dari kejauhan Jaejoong tersenyum melihat mereka berdua.

“Yeoboseyo”

“Suzy-ya. Listen carefully. I love you” It’s my confession.

Lee Jieun, I’ll be your guardian. I’ll never let you sink in sorrow. I’ll make you mine and give the heaven to you. My heaven won’t be heaven if it’s not you here.

I stole those lips, I had to
I want you, without an explanation or excuse, I stole your lips
It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying
I had to make a memory that the both of us can never forget

———————————————————————————————–

DIBUTUHKAN AUTHOR BARU UNTUK SFF. PERSYARATAN BERSEDIA UPDATE STORY DAN MINIMAL SETIAP MINGGU BERSEDIA MENULIS CERITA BARU. SILAHKAN TINGGALKAN EMAIL DI BAWAH. BAGI YANG BERMINAT MENJADI AUTHOR SILAHKAN TULISKAN JUGA KEINGINAN KAMU MENJADI AUTHOR, BAGI READERS YANG TIDAK BERMINAT MENJADI AUTHOR MAKA AKAN DIKIRIM PESAN BERUPA PASSWORD UNTUK LOA PART XXV.

KAMSAHAMNIDA

Lily191

Protected: Letter of Angel XXIII “Dawn”

This content is password protected. To view it please enter your password below:

%d bloggers like this: