Tag Archives: Lee Jieun

Letter of Angel XXII “New Stage”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI

“Well, bagaimana? Apa semua berkas sudah disiapkan?” tanya Yunho pada rekan sefirmanya.

“Semua sudah disiapkan. Jangan khawatir semua sudah beres” jawab Jiyong.

“Kalau begitu tinggal menunggu D-Day”

Count to the D-Day…..

Donghae’s POV

Aku mendapat telpon dari Changmin kalau sidang akan dilaksanakan 2 hari lagi. Apa semua akan baik-baik saja?

“Oppa, sarapan sudah siap” teriak Jiyeon dari dapur.

“Saatnya makan baby” kataku pada Mavin yang dudk di pangkuanku. Dia tertawa seolah mengerti maksudku.

Semuanya akan baik saja karena kita akan tetap bersama. Siriusku… Kita akan tetap bersama.

Changmin’s POV

“Hara, kau sudah pelajari semua berkas yang aku kirimkan padamu?”

“Aku sudah pelajari semuanya. Aku rasa tidak ada masalah sama sekali selama semua sesuai perhitungan, tapi aku dengar pengacara Siwon sekarang adalah Jung Yunho. Kau harus hati-hati, pamornya di AS sebagai pengacara nomor wahid tidak diragukan begitu pula di Jepang. Aku sudah mempelajari track record-nya, jika boleh memberikan penilaian Jung Yunho itu A+ out of A”

“Aku tak tertarik dengan rekornya yang kita butuhkan hanya membuat Donghae mendapatkan hak perwalian Mavin. Lee Mavin, bukan Choi”

Donghae’S POV

Siwon memintaku bertemu dengannya di cafeteria rumah sakit. Aku menyetujuinya, meskipun kami berada dalam situasi yang aku bilang tidak menyenangkan, tapi sepanjang ini hubungan kami baik-baik saja.

“Donghae, mengenai Mavin aku rasa ini saat yang tepat untuk kita berdua meluruskannya. Kita berdua ayahnya, aku adalah ayah biologisnya dan kau juga ayahnya. Kita sekarang sudah tidak bisa mundur dari persidangan. Sejak awal aku menginginkan putraku, tetapi aku tak berpikir kita bisa menjadi sedekat ini. Mudah bagiku bila persidangan ini berlangsung beberapa waktu yang lalu, aku tak akan memiliki keraguan untuk merebut Mavin darimu bahkan aku tak akan memberikan belas kasihan bilapun harus mengambilnya dengan paksa. Namun, keadaannya sekarang aku dank au, entah ini hanya menurutku atau kau juga merasakannya. Aku merasa kita telah bersahabat dengan cara yang aku sendiri tidak mengerti. Sebagai seorang sahabat, aku ingin kita berdua bisa saling mendukung dan memberi semangat, membantu dan tertawa bersama, meski di usia kita yang sekarang hal itu mungkin menjadi hal aneh seolah kita masih terperangkap idealism persahabatan remaja. Bila saja aku tak bertindak bodoh, maka kita tak akan berada di kondisi sekarang” Siwon menarik nafas panjang.

Aku terdiam dan mencari kalimat yang tepat untuk menanggapinya. Memang benar sekarang entah sadar atau tidak kami telah bersahabat. Dengan cara yang aneh dan bahkan tidak aku mengerti, bagaimana merasionalkan persahabatan dengan orang yang hendak kau sakiti, adakah penjelasan rasional terhadap suatu keadaan yang menjebak kami sekarang? Adakah kalimat yang tepat untuk mewakili apa yang kami rasakan. Di depanku adalah musuh, saingan, sahabat, ayah biologis dari Mavin. Dia yang duduk di depanku yang menungguku memberikan jawaban akan semua ketidakrasionalan dan patahnya keegoisan dikarenakan intervensi perasaan. Bisakah kami menjelaskan dengan nalar mengenai perasaan dan keinginan?

“Dokter Lee, ini pesanan macchiato anda” seorang pelayan cafeteria memberikan macchiato pesananku.

“Tuan ini Coffee Americano anda” Siwon tersenyum pada pelayan cafeteria.

“Siwon”

Siwon mengerutkan alisnya mendengar aku memanggil namanya setelah keheningan dan kebisuan kami selama beberapa saat.

“Kau tahu espresso. Kau bisa membuat Coffe Americano, kau bisa membuat cappucinno, kau bisa membuat morachino, macchiato sesuai yang kau inginkan dari espresso”

Siwon memberikan tatapan what-are-you-talking-about.

“Affogato, black eye, long black, frappuchino, flate white, red eye, ristretto, marron, lungo, triplo, corretto and so on. Basic of this all is espresso. We don’t need to explain one by one how is it taste? How good the aroma is? We just know you will find different taste and aroma, but after all the ingredients it’s not a big deal when you have no espresso to add”

Siwon bertambah bingung dan menatapku intens meminta penjelasan.

“I’m not barista and I don’t have good explanation about this all, but I’m doctor I know one the important thing is worth life. Maybe, you won’t have same think as me. Maybe you’ll get it that patient is the most important thing. No, it’s not the most important thing is worth life. You don’t know how many patient want to die and suffer when they found they couldn’t live life as usual. Inside your body, you hold the killer and you don’t know when he will take your soul, this makes they’re suffered at first even before against. Worth life isn’t how long you live, it’s what you will do in the rest of time that God gives to you. Worth life is when you find you have something to get, something to love, something to do, something to fight. Patient survive and hold their worth life and doctor there to help them keep their worth life, worth life that becomes hope, dream, passion of doctor to through all the miserable thing that could happen and being happened. You know how many worth life that I face, I hold, I let to go? Patient and doctor has their different though, but over all they have same conclusion that worth life is everything that give them same feeling and make them get along, support each other.
Macchiato, long black if you get it deeper it’s not just coffee, but its passion. You chose Coffee Americano, I chose macchiato instead. What is the difference them both? Absolutely the ingredients adding beside the major composition that is espresso. I’m too clueless to explain what is going on between us, I have no idea to tell you about our situation, but after all I know we have same feeling that led us same and stand in this way. Feeling to love, hold, keep, takes care of our son. Feeling that given by God to us, simple feeling as father to her son. Simple to explain, but we have no correct answer to give proper explanation what is the feeling? Feeling to our son led us to be here, in this state, in this situation. Did you know I really hate what you had done to Yoona, but I also grateful cause that stupid mistake I can hug Mavin in my arms, felt the warmth of tight embrace, I found my love, I found girl to spend rest of my life with, I found something important to care, to hold, to fight. I got friends, more love, although I couldn’t just shove away how many problems I got”

————————————————————————————————-

“Sial, Hyunday Corp. berusaha mempengaruhi para dewan direksi untuk menjual saham mereka di kala ekonomi sulit. Kita tak akan bisa bertahan jika terus-terusan seperti ini. Aku tak akan membiarkan mereka seenaknya. Ini pasti ada hubungannya dengan sidang hak perebutan wali asuh Mavin” tegas Donghwa.

“Tenanglah. Kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang usahakan agar Donghae tidak mengetahui hal ini. Aku akan cari cara lain untuk menemukan calon pembeli saham yang berani membayar lebih dari Hyundai Corp.”

“Apa itu mungkin?”

“Semua cara perlu dicoba. Aku tak suka cara Hyunday Corp. untuk mendapatkan keinginnannya. Mereka pikir siapa mereka. Kita disini adalah dokter yang melindungi dan merawat pasien dengan seluruh kredibilitas dan kerja keras. Mereka menganggap rumah sakit ini sebagai sarana untuk menekan Donghae. Jangan harap! Tempat ini dibangun dengan dharma dan kesucian hati menolong sesama, bukan sebagai alat untuk menyusahkan orang lain baik itu personal ataupun lainnya”

Donghwa mengerti maksud tersirat dari perkataan Jungsoo. Iya, rumah sakit ini bukanlah tempat untuk pertaruhan hal semacam itu. Disini bukanlah tempat untuk mempertaruhkan nyawa pasien dan kehidupan banyak orang yang bergantung di dalamnya hanya karena tekanan kekuatan besar dengan topeng ekonomi atau harus disebut dengan uang.

Donghwa memutuskan untuk mampir sebentar ke swalayan dan membeli beberapa kebutuhannya sebelum kembali ke apartemennya. Dia terus memikirkan semua masalah rumah sakit hingga dia menabrak seseorang hingga membuat gadis tersebut terjatuh.

“Mianhae, kau tidak apa-apa?” Donghwa mengulurkan tangannya. Gadis itu mendongak dan menerima uluran tangannya.

“Dokter Donghwa lebih baik kau hati-hati jika berjalan dan buang segala masalahmu ke tong sampah terdekat” Donghwa sedikit bingung kenapa gadis ini tiba-tiba bicara seperti itu dan kenapa dia tahu namanya.

“Tch… Dokter Donghwa. Aku adik Cho Kyuhyun” Donghwa langusng menepuk jidatnya. Jieun memutar matanya melihat reaksi lucu Donghwa.

“Sepertinya aku punya tugas sekarang. Kau butuh apa saja?” Donghwa mengerutkan alisnya bingung.

“Aku bantu kau untuk berbelanja” Donghwa pun mengangguk. Jieun dan Donghwa memutari swalayan untuk mencari kebutuhan Donghwa. Donghwa sendiri tak keberatan ketika Jieun yang memilih merk dan barang apa yang harus dia beli bahkan bisa dibilang setengah barang yang Donghwa beli bukanlah barang yang ada dalam daftar belanjanya, tapi dia hanya mengiyakan semua dan membayar di kasir tanpa protes.

“Semua sudah?” tanya Jieun. Donghwa mengangguk.

“Dokter Donghwa, ini perasaanku saja atau kau memang pendiam? Kau mirip Changmin oppa, ya? Jarang bicara, tetapi sekali membuka mulut kata-katamu pedas” racau Jieun.

“Young lady, my name is Lee Donghwa. I’m a doctor not a lawyer. I just need say what I should say and keep silent If I don’t need” Wajah Jieun langsung pucat, terkejut melihat perubahan Donghwa.

“Mi….mian…haeyo” Jieun tergagap.

“Hahaha……….. You don’t need too. I’m the one who should apologize. Nice to see your shocked face” Jieun segera memukul bahu Donghwa jengkel.

“Kau harus mentraktirku sebagai imbalan atas keusilanmu” Donghwa mengangguk dan mereka berdua menuju mobil Donghwa.

Mereka terlibat pembicaraan seru dan tanpa sadar Donghwa menceritakan maslah rumah sakit pada Jieun. Jieun mendengarkannnya dengan seksama.

“Why they could do this to us? Why they just concern of their own life? Why he want to see us flop down?”

“Love”

“What?”

“It’s all cause of what we called with love”

“Pardon me” Donghwa bertanya bingung.

“Find by yourself. You have ability to get it by yourself”

“Benang merah tali jodoh” Mereka langsung mengarahkan pandangan mereka pada seorang ibu seusia ibu Donghwa yang tiba-tiba berada di depan mereka.

“Kalian berdua terhubung oleh takdir”

“Maafkan ibu saya. Beliau memang seperti itu senang meramal dan membuat orang takut karenanya” Seorang wanita muda meminta maaf dan berlalu sambil menggandeng ibu tadi. Sebelum mereka keluar dari cafe itu, si ibu berbalik.

“Kalian ditakdirkan satu sama lain. Tidak ada yang dapat menghindari keinginan Tuhan”

Mereka terdiam sesaat dengan pikiran masing-masing.

“Aku sudah punya Changmin-oppa” kata Jieun memecah suasana.

“Jangan khawatir aku tidak tertarik dengan anak-anak sepertimu” jawab Donghwa tenang dan mendapat tanggapan berupa Jieun yang dengan lucunya menggembungkan pipinya. Donghwa tersenyum dan kembali menikmati cappuccino miliknya.

——————————————————————————————–
“Oppa” Donghae menoleh dan Jiyeon berdiri di sampingnya sambil tersenyum dan membawakan coklat hangat untuk Donghae. Donghae menerimanya dengan senang hati dan meminumnya. Donghae hampir tersedak ketika Jiyeon memeluknya dari belakang kursi duduknya.

“Biarkan dulu sesaat seperti ini” bisik Jiyeon di telinga Donghae. Donghae tidak bergerak, Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu Donghae.

Donghae ragu-ragu memegang tangan Jiyeon yang memeluknya dan mengusapnya dengan lembut.

“Kau lelah?” tanya Donghae.

“Sedikit”

“Kau ingin istirahat”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena aku akan tidur di ranjang dan kau di sofa. Aku lebih suka berada disini dan memeluknya”

“Silly”

“I’m not”

“Yes, you are”

“Oppa, can you hug me this night. It’s cold and don’t wanna be alone. I’m your wife right?”

“What do you want to say? Don’t make it like puzzle” Donghae sudah tahu arah pembicaraan ini. Donghae sadar sekarang usia Jiyeon sudah 19 tahun dan semua orang sudah tahu status pernikahan mereka. Bagaimana dunia tahu? Mereka entah harus berterima kasih atau marah pada ayah Siwon yang berusaha menjatuhkan reputasi Donghae dengan menyebarkan isu bohong terkait hubungan gelapnya dengan muridnya. Donghae membimbing Jiyeon ke ranjang dan membaringkannya. Donghae mengambil tempat di sebelahnya dan memeluk Jiyeon.

———————————————————————————————-
Kau mengerti perintahku kan? Lakukan dengan baik dan bersih. Lee Mavin adalah milik Choi Siwon. Tak peduli siapapun mereka, sekali penghalang harus disingkirkan. Mulai dari Cho Kyuhyun. Satu per satu singkirkan mereka.

NOTE : Part XXII aku ubah jadi unprotect, tapi bagi yang sudah mendapat PW-nya pas masih ke protect maka itu adalah password untuk part XXIII akan publish insyaAllah besok. Terima kasih LOA akan segera tamat mungkin tinggal 5-6 part. Mungkin akan ada sequel-nya, tapi tergantung bagaimana nantinya. Silahkan tinggalkan email atau message ke fb : Setyaning Pawestri atau twitter : @tya191 untuk mendapat passwordnya

Letter Of Angel XX (BLUE)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIV

Background Song :

Listen it and find the chemistry

Tiffany’s View

Aku terbangun dan menemukan diriku di kamar yang tak aku kenal. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tiffany di sinilah dirimu sekarang. Apa yang kau harapkan melihat Siwon di sampingmu?
Tok…tok..tok…
Seseorang mengetuk pintu dan kemudian aku melihat Jessica membawakanku sarapan.

“Maaf merepotkanmu” kataku sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kita teman kan?” ujarnya sambil tersenyum riang, aku pun membalasnya dengan senyuman.

“Mashita” pujiku.

“Hehehe… Bukan aku yang memasaknya. Emmonim yang memasaknya” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Eommonim? Aku jadi ingat namja cantik kemarin. Aku jadi ingin menggoda Jessica.

“Oh… Eomma dari namja yang kemarin yah? Wah… wah berarti sudah mendapat lampu hijau. Kalau begitu jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian yah”

“Ani.. Aniya. Taemin harus menjadi dokter dulu dan mungkin baru 5 tahun lagi, kalaupun hubungan kami bertahan, tapi aku harap iya” Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“I wish you two could make it real. Do your best to keep your relationship. Promise me” Aku menyodorkan jari manis tangan kananku, dia menyambutnya dan kami melakukan pinky promise.

“Sica….” Taemin melongokkan kepalanya dan memanggil Jessica. Jessica meninggalkanku sejenak untuk berbicara dengan Taemin, tak lama dia kembali duduk di pinggir ranjang.

“Taemin pamit. Dia ada kuliah pagi. Dia titip salam untukmu” Tanpa aku minta Jessica menjelaskan. Aku hanya mengangguk.

Jessica juga pamit dan meninggalkanku di apartemennya. Dia semula mengajakku ke rumah sakit daripada aku sendiri, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau bertemu orang-orang dalam keadaan seperti ini.
Sku melihat bayanganku di cermin. Mata sembab dan merah, wajah sayu dan pucat serta rambut acak-acakan. Tiffany….

(I’m singing my blues)
The love that I have sent away with the floating clouds, oh oh
Under the same sky, at different places
Because you and I are dangerous
I am leaving you
One letter difference from ‘nim’(T/N)
It’s cowardly but I’m hiding because I’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love


Jiyeon’s View

“Oppa, hari ini setelah kuliah aku ingin ke tempat Sica-eonni. Boleh kan?” tanyaku pada Donghae oppa yang sedang menyetir.

“Baiklah. Nanti aku antar, setelah mengajar jam pertama aku kosong sampai siang” ucap Donghae oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ne” aku mengangguk senang.

“Kau sudah menelpon Jessica kalau kau ingin berkunjung?” tanyanya memastikan.

“Sudah, oppa. Tadi pagi aku sudah menelponnya, dia mengatakan aku bisa langsung masuk apartemennya. Nanti Taemin juga akan kesana kok, dia diminta Sica-eonni untuk mengambilkan beberapa barang Sica eonni yang tertinggal”

Donghae mengangguk sesaat.

Kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Donghae membuka pembicaraan lagi.

“Kau suka peony yang diberikan ahjumma kemarin?” tanyanya. Mukaku langsung bersemu merah.

“Kalau boleh tahu arti peony itu apa?” Kali ini dia menatapku, kami sedang berada di lampu merah. Aku mengalihkan pandanganku antara akan atau tidak menjawab pertanyaannya.

Tin…Tin….Tin…

Donghae’s View
Tin…Tinn…. Tinnn….
Aku menunggu jawaban Jiyeon sampai tak sadar lampu sudah menjadi hijau. Aku segera menjalankan mobil dan menundukkan kepala kepada pengemudi lain.

“See, you gave us trouble” kataku sebal.

Tunggu… Sejak kapan Lee Donghae menjadi seperti ini. Jiyeon sedikit kaget dengan perkataanku. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku.

“Syukurlah, aku pikir Oppa sakit” katanya lega.

Kami berdua saling berpandangan sesaat dan tertawa. Aku menepikan mobil takut bila terjadi apa-apa ketika mengemudi dalam keadaan ini.

“Baiklah, sepertinya hari ini bagaimana kalau kita sedikit telat” ajakku. Jiyeon membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.

“Bagaimana ?” tawarku lagi.

Dia menarik nafas panjang.

“Oppa, harus mengajarkan? Kalau kita terlambat nanti bisa susah” katanya.

“Hei, siapa yang akan terlambat masuk kelas” Bukan itu yang terlintas dalam pikiranku.

“Lalu?” tanyanya bingung.

Aku membisikkan sesuatu di telinganya. Dia mengangguk mengerti.

“Oh, begitu yah. Aku setuju” katanya riang.

“Aku pikir kau mengerti isi otakku, ternyata tidak” godaku.

“Memangnya aku pembaca pikiran apa? Bagaimana aku tahu bial oppa tidak mengatakan isi pikiran oppa padaku” dia menggembungkan pipinya.

“Ehmm… Ada yang ingin aku katakan” aku menarik nafas panjang. Jiyeon memperhatikanku dengan seksama.

Aku kembali menarik nafasku dalam. Aku mengambil tas kerjaku dan mengeluarkan 1 tangkai bunga.

“I don’t know from where should I explain this all. It’s gloxinia, it means love at first sight. It was my feeling to Yoona” Jiyeon menarik nafas panjang dan mengepalkan tangannya, dia kemudian menatapku memintaku untuk meneruskan kata-kataku.

“That was my feeling, I couldn’t ignore it” Aku gantian menarik nafas. Mata Jiyeon sudah berair.
“I…..” Jiyeon memotong kata-kataku.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintainya dan tak bisa melupakannya?” ujarnya tersenyum sambil menahan airmata.
Aku terdiam.

“Aku bisa menunggu, aku orang yang sabar kok” sambungnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

Donghae… now or never… Aku menarik Jiyeon dalam pelukanku. Dia menangis di dadaku, aku menggenggam tangan kanannya dimana cincin pernikahan kami tersemat di jari manisnya.

Aku merogoh hiasan clay dari saku jasku dan meletakkannya di tangannya. Dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku sambil mencoba melihatku.

“Edelweiss, itu edelweiss. Bunga abadi, bunga yang hanya akan tumbuh di pegunungan tinggi. Edelweiss bunga para pendaki. Edelweiss bunga kecil yang terus hidup dan bertahan di daerah dingin dan ekstrim. Bunga yang selalu memberi warna dan kedamaian bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih puncak tertinggi. Eddelweiss bunga sederhana yang menemani Sang Gunung untuk mengarungi waktu dan musim. Dia hanya akan hidup di sana, dia tak akan meninggalkan Sang Gunung, dia hanya hidup dan bernafas bila berada di sana. Edelweiss memang tak sekokoh Gunung itu sendiri, edelweiss terkesan lembut, sederhana, rapuh dan mudah terluka. Namun, dengan segala kelemahannya, edelweiss memberikan nafas kesederhanaan, pertahanan, ketulusan dan kekuatan serta senyuman. Dia tak perlu sekuat dan sekokoh Gunung, dia cukup menjadi dirinya sendiri. Kau bukan gloxinia-ku, tapi kau lah edelweiss-ku. Step by step I wish I could….” Kata-kataku terpotong ketika aku merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirku.

“I’ll be your edelweiss. That’s always love, love and love you always no matter what. I’m waiting for you till one day you open your heart” Aku menutup mataku sesaat lega.

“Oppa” Aku menatap Jiyeon.

“Kita ke tempat Siwon-oppa yuk. Aku punya rencana, maksudku kita akan membuat rencanamu lebih sempurna” katanya. Dia menjelaskan semua rencananya.

“Tapi kuliah dan…”

“Aku punya 25% hak untuk tidak mengikuti perkuliahan kan? Sekali bolos saja tidak masalah. Lagian hari ini ”

“Tunggu, aku punya cara lain” Aku segera menghubungi Jessica, Hara dan adik Kyuhyun, Jieun.

“Jelaskan semua pada mereka. Kau bisa mengandalkan mereka” Akhirnya kami melakukan teleconference.

“Ne, aku mengerti Donghae uisha” kata Jieun.

“Baiklah, Donghae-oppa. Beres, serahkan saja padaku” ucap Hara bangga.

“Asal Tiffany eonni tersenyum semua akan aku lakukan” ujar Jessica.

“Lalu, Siwon oppa bagaimana? Siapa yang akan menemuinya?” tanya Jiyeon. Kami diam sejenak.

“Biar aku dan Hara yang menemuinya. Ada yang harus aku bicarakan juga dengan Hara” kataku. Jiyeon mengangguk.

Siwon’s View

“Sajangnim. Tuan Lee Donghae dan nona Goo Hara ingin menemui anda” Aku mengerutkan dahiku, ada urusan apa mereka berdua kemari.

“Suruh mereka masuk” ujarku pada sekretaris.

Donghae dan Hara masuk, aku mempersilahkan mereka duduk. Belum lama mereka masuk, tiba-tiba Seunghyun dan Pamanku, ayah Seunghyun.

Hara terkejut, tetapi Donghae hanya tersenyum.

“Seunghyun, Paman ada urusan apa datang kemari?” tanyaku. Namun, kejutan tak sampai di situ. Sekretarisku mengantarkan Kyuhyun dan Changmin ke ruanganku. Tunggu ada apa ini?

Donghae sepertinya mengerti kebingunganku. Dia berdiri dari kursi dan menggenggam tangan Hara, menuntunnya ke dekat Kyuhyun dan meletakkan tangannya di tangan Kyuhyun.

“Kyuhyun, ini Tuan Besar Choi dan Choi Seunghyun. Ayah dan kakak dari Goo Hara” Kyuhyun sedikit terkejut, tetapi kemudian membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri.

“Hara, time to makes up” kata Donghae. Kyuhyun mengangguk. Paman, Sunghyun, Kyuhyun dan Hara keluar ruangan. Menyisakan aku, Changmin dan Donghae.

“Itu tadi apa?” tanyaku. Donghae tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mempertemukan keluarga yang terpisah dan ingin melihat senyuman di wajah adikku” kata Donghae.

“Adik?” tanyaku.

“Hara. Sudahlah sekarang yang terpenting adalah Tiffany. Aku dan Jiyeon punya rencana untuk membuat kalian berbaikan. Berterima kasihlah juga pada Changmin, tanpa dia aku ragu kita bisa membuat semua menjadi beres” Donghae mengedipkan matanya ke arah Changmin, yang hanya memberinya death glare.

“Lalu mengenai Hara dan…..” Donghae memotong perkataanku.

“Choi Siwon, sekarang saatnya mengurus urusanmu dulu. Aku akan jelaskan lain waktu padamu tepatnya pada kalian semua. Iya kan Changmin?” Changmin seperti ingin mencekik Donghae. Entahlah aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua rencana Donghae dengan saksama.

“APA???????” teriakku di akhir.Changmin hanya menatapku iba.

“A-KU SE-RI-US” kata Donghae penuh tekanan di tiap kata.

“Jika tidak berhasil bagaimana?” tanyaku takut.

“Serahkan pada Shim Changmin” kata Donghae dan Changmin hanya mlengos.

Tiffany’s View

“Sica, bagaimana bisa kau cemburu. Aku dan Jiyeon sudah lama berteman dank au tetap tak mengerti”

Aku segera keluar kamar, Taemin dan Jessica berteriak hebat.

“Berteman? Hanya berteman? Kau tak pernah melupakan Jiyeon, selalu saja dia di otakmu. Kau pikir aku tak sakit hati apa saat melihat kalian bersama” balas Jessica.

“Sica…. Dia sudah punya Donghae uisha dan aku memilikimu. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan bahwa kami tak memiliki perasaan selain teman?” teriak Taemin lagi.

Jessica menangis dan jatuh terduduk. Taemin berusaha menenangkan Jessica dan berusaha memeluknya, tetapi Jessica menolak dan justru tambah keras menangis. Aku mendatanginya dan segera memeluknya. Aku menatap Taemin, matanya kosong. Dan dia sudah siap meneteskan air mata, tetapi dia menahannya.

“Eonni” seseorang masuk ke apartemen Jessica dan kaget saat melihat Jessica. Sepertinya aku pernah melihat gadis muda ini, tapi entah dimana aku tak yakin. Jessica berganti memeluknya dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Taemin tetap berdiri di depan kami, menunggu Jessica untuk menenangkan diri.

“Aku rasa eonni salah paham” kata gadis itu.

“Tidak, Jieunie. Taemin masih mencintai Jiyeon sampai sekarang” Jessica tetap kukuh.

“Mencintai Jiyeon sampai sekarang? Darimana teori bodoh itu , Sica. Iya dulu aku mencintainya, tapi sekarang kau yang aku cintai” teriak Taemin.

“Katakan padaku kau sama sekali tak mencintainya” teriak Jessica. Taemin diam membisu.

The winter had passed
And the spring has come
We have withered
And our hearts are bruised from longing

“Bawa aku darisini aku tak ingin melihatnya” kata Jessica. Dia memaksaku dan Jieun untuk membantunya berdiri. Taemin tak mampu berkata-kata.
———————————————————————————-
Tanpa Tiffany ketahui Taemin menelpon Donghae. “Done, uisha. Plan A sukses”
“Sekarang plan B”
———————————————————————————-
“Pak, tolong antarkan kami ke alamat ini yah” kata Jieun pada sopirnya. Sopirnya hanya mengangguk. Jessica sekarang tertidur setelah habis menangis.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Jieun. Jieun hanya tersenyum.

Jessica akhirnya terbangun. Dia masih sedikit terisak, tetapi sudah lebih baik.

“Aku juga pernah seperti itu eonni” kata Jieun. Kami berdua menatapnya. Lagu yang tepat di saat yang sangat menyakitkan. Big Bang Blue mengalun memenuhi space di mobil ini.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go

“Layaknya lagu ini saat itu aku bahkan merasa tak bisa merasakan hatiku. Aku tak bisa menangis karena air mataku sudah habis. Terlalu sakit bagiku mengakui kalau aku bukan siapa-siapa bagi Changmin. Apa yang bisa aku katakan? Beda usia kami cukup jauh. Aku masih kelas 2 SMA dan dia sudah menjadi seorang pengacara. Dia dikelilingi banyak wanita cantik, modis dan tentu saja pintar. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam, tapi dia membuatku percaya kalau aku lebih baik dari mereka semua. Sampai suatu hari aku menemukan foto dia mencium seorang wanita di bar. Saat itu hatiku benar-benar sakit, aku mengatakan padanya aku tak mau menemuinya bahkan aku melempar vas bunga ke arahnya. Changmin datang padaku dan aku melihat pelipisnya berdarah, aku yang semula meronta akhirnya luluh. Dia menjelaskan semuanya dan minta maaf karena masih menyimpan foto itu, dia minta maaf tidak bisa melupakan gadis itu, tapi itu bukan karena dia tidak mencintaiku. Bagaimanapun gadis itu pernah ada di kehidupannya, tetapi sekarang dan seterusnya dia bilang aku lah yang ada di hatinya dan memintaku untuk berjanji seberat apapun kami akan melaluinya bersama. Kami tak berjanji sehidup semati, tetapi aku berharap Tuhan yang melindungi cinta kami” kata Jieun sambil tersenyum.

“Masihkah Changmin-shi menyimpan fotonya?” tanyaku.

“Tidak, dia mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Namun, sekarang aku dan eonni itu berteman. Dia mengajarkan dan memberitahuku banyak hal tentang Oppa” jawab Jieun antusias.

“Kau bahagia?” tanyaku.

“As long as he tries his best to loves me. I guess that’s more than enough. Sometime he’ll hide all of trouble and solve them alone, he just makes sure not to make me worry and the best reason that I’d got why he kept those picture was to remain me, Jieun If you want to be the one in his life you must receive all his past or you will be spoiled girl who just dreaming about beautiful life ever after”

Pernyataan Jieun membuat diriku tercengang. Dia jauh lebih muda dariku, tetapi pemikirannya lebih dewasa mungkin dalam hal ini. Aku menangis dan mereka berdua memelukku. Aku menumpahkan segala isi hatiku pada mereka berdua. Bagaimana aku selalu memendam perasaan pada Siwon sejak kami masih kecil, saat aku bertemu dengannya pertama kali di acara jamuan di AS, bagaimana senyumnya dan caranya memperlakukanku, bagaimana aku sangat senang ketika ayahku menjodohkan kami, bagaimana hancurnya hatiku saat Siwon menceritakan dirinya dan Yoona setelah kami menikah, aku hanya berusaha menerima segalanya dan menjadi istri yang baik. Namun, aku menyerah ketika melihatnya di makam Yoona.

“Ada yang ingin aku ceritakan” Seseorang berkata pada kami dan membukakan pintu. Ternyata itu Donghae.

Jalan ini? Ini kan jalan menuju makam Yoona. Rasanya aku mau kabur saja, tetapi sebuah tangan menahanku dan sopir tadi melepas topinya. Siwon…….

“Listen my confession” kata Siwon. Donghae, Jieun, Jessica mengangguk. Di sana ternyata tidak hanya ada kami, tetapi ada Changmin, Taemin dan Jiyeon.

Jieun langsung berlari memeluk Changmin yang hanya tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya. Taemin mendekati Jessica dan mereka ???? Is it prank????

Donghae mengangsurkan tangannya pada Jiyeon dan disambut dengan senyuman hangat dan genggaman erat.

Donghae meminta kami semua berdoa di depan makam Yoona.

“Yoona, apa kabar? Kemarin aku dan Jiyeon belum sempat berbicara dan bercerita padamu. Kau tahu sekarang Mavin sudah 8 bulan, dia sangat pandai dan lucu. Yoona, aku ingin mengatakan padamu. Sarangahaeyo” Kerongkonganku tercekat. Dia mengatakannya di depan Jiyeon.

“Yoona, aku ingin berterima kasih karena kau melahirkan Mavin. Terima kasih karena Mavin, aku bertemu Jiyeon. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya dan aku berjanji kami akan menjaganya. You will always be my gloxinia, but my edelweiss is someone beside me now” ujar Donghae lancar.

Jiyeon tersenyum pada Donghae. Giliran Jessica dan Taemin.

“Aku tak pernah mengenalmu noona, tapi aku berterima kasih padamu. Meskipun, aku kehilangan Jiyeon yang lembut, baik, sopan, ceria….” Raut wajah Taemin sedikit berubah sedih dan Jessica memukul kepalanya. Taemin mengusap kepalanya.

“Tapi aku mendapat seorang gadis brutal, sadis, seenak sendiri, cengeng, manja dan yang jelas aku mencintainya” Dia memberikan wink pada Jessica.

“Seperti kata Donghae-shi aku senang kau melahirkan Mavin sehingga mengantarkan Donghae dan Jiyeon pada saat sekarang. Meskipun, aku sedikit sebal kenapa aku kehilangan Donghae uisha yang perfect dan mendapat pria aneh semacam dia, tapi aku bahagia” ujar Jessica dan menjulurkan lidah pada Taemin.

Jieun dan Changmin tidak berkata apa-apa. Mereka hanya berdoa dan mempersilahkan aku dan Siwon.

“Yoong” panggil Siwon lembut. Hatiku rasanya terkoyak.

“Perkenalkan ini Tiffany Hwang tepatnya Tiffany Choi. Dia istriku dan nyawa hidupku” kata Siwon. Aku menatap Siwon tak percaya.

“Daffodil kemarin?” ucapku tiba-tiba.

“That was the first and the last daffodil bouquet for Yoong. I told her that, even If you were not believe in me, I would not blame you. I just want to say…..”

Siwon mengalihkan pandangannya ke belakangan dan aku melihat mereka semua membawa buket bunga di tangan masing-masing. Dan sebuah selebaran…..

MIND TO BE MY SOUL…….

“I’ll try my best to love and protect you. I can erase Yoong from my memory, but I promise you that I’ll give you all happiness that you deserve. Yoong was my daffodil, but you are my irish. Irish is faith, wisdom, cherished friendship, hope, valor, my compliments, promise in love.” Siwon memberikanku kalung berliontinkan bunga Irish.

“Just for you” dia mengatakannya padaku. Siwon mencium bibirku cukup lama.

Romantis….

Indah sekali…..

I love this moment…

.
“Get room, please” Kami langsung melihat Changmin yang dipukul oleh Jieun.

“Kau ini mengganggu momen indah saja” kata Jieun sebal.

“LOVEY DOVEY PERVY maksudmu? Aku tidak akan membiarkan kekasihku yang innocent dirusak oleh makhluk Tuhan yang lain. Sudah cukup lovey dovey pervy dari 2 pasangan sebelahku” Aku melihat Jessica dan Taemin yang berpandangan dan Donghae dan Jiyeon yang saling berbisik.

“Ya!!!! Shim Changmin maksudmu apa?” teriak Donghae kemudian.

Taemin dan Donghae berlari mengejar Changmin. Aku dan Siwon tertawa. Changmin berhenti sejenak dan memandang aku dan Siwon.

“Hei, segera lahirkan bayi yang imut sebelum kau kedahuluan oleh makhluk-makhluk di belakangku” sambil tertawa. Pipiku memerah dan Siwon langsung mengikiti yang lain mengejar Changmin.
Jieun tersenyum pada kami bertiga.

“Maaf, dulu dia malaikat, tetapi sekarang dia iblis” katanya memamerkan evil smirk.

“Ohya, siapa yang membuat rencana ini?” tanyaku. Aku melirik Jiyeon, Jessica dan Jieun.

“Ehm , sebenarnya rencana semula tidak seperti ini. Namun, sepertinya Donghae oppa membuatnya seperti ini dan ….”

“Masalah prank?” ujarku.

“Tanyakan saja itu pada…..” Jiyeon dan Jessica menunjuk Jieun.

“Bukan.. bukan… bukan aku. Itu ide Changmin oppa. Dia bilang tak cukup jika membawa eonni dan Siwon oppa menjelaskan semuanya. Siwon oppa juga harus tahu bagaimana perasaan eonni” jawabnya sambil tersenyum.

“Yang menyusun scenario Changmin juga?”

“Kalau itu aku. Hehehe…… Padahal semula aku berpikir Sica eonni akan melempar barang-barang di apartemennya biar terlihat nyata, tetapi acting-nya sudah bagus hanya kurang seru” jawabnya dengan enteng.

‘Ya!!!!!! Pasangan iblis” teriak Jessica. Jieun langsung ambil langkah seribu dan berlari karena dikejar Jessica. Jiyeon menyanyikan lirik akhir Big Bang Blue.

(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang
(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang OH OH

Aku tersenyum dan meraih tangannya.

“Kisah cinta kita tidak seperti BLUE kan?” Dia mengangguk seraya tersenyum.

“Tidak selalu berjalan mulus, tetapi kita pasti bisa melaluinya”

You were my daffodil and she is my Irish

You were my gloxinia and she is my Edelweiss

I’ll make the blues to be shinning blues not the sorrow one.

Letter Of Angel XIII (Is it Love?)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII

Background Song : Sarang Hae Yo (OST. Sassy Girl Chunyang)

“ Oppa, kenapa murung?” tanya IU pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak mendengar apa yang IU katakan.

“Oppa, oppa” panggil IU.

“Ne?” Kyuhyun baru tersadar setel. lah IU menggoyang bahunya.

IU menatap ke dalam mata Kyuhyun. Dia tahu oppanya sedang menghadapi masalah dan bukan masalah kecil. Jelas sekali Kyuhyun terlihat lebih pucat dan matanya lebih sayu dibanding biasanya.

“Oppa kenapa?” tanya IU.

“Nothing” jawab Kyuhyun. IU sudah hafal jika oppanya bersikap demikian berarti dia sedang tak ingin diganggu. IU diam saja menunggu Kyuhyun sendiri yang mengajaknya bicara.

“Oppa, pergi dulu yah. Jangan nakal selama di rumah sakit. Nanti, oppa kembali” kata Kyuhyun. IU hanya memandang oppanya dengan tatapan bingung tak mengerti.

Oppa ada apa?

Donghae POV

“Bisakah anda menerima kasus ini?” tanyaku setelah menjelaskan semuanya ke Changmin.

Changmin terlihat berpikir sejenak, masih menimbang-nimbang apakah akan membantu atau tidak.

“Tuan Lee sebelumnya boleh saya bertanya?” tanya Changmin hati-hati.

“Ne” jawab Donghae.

“Apa hubungan anda, Choi Siwon, dan tentu saja Im Yoona”

Apa yang dia inginkan?

“Tuan Lee, bukankah anda meminta saya menjadi kuasa hukum anda? Bisakah anda percaya pada saya?” tanya Changmin sambil meletakkan tangannya diatas meja.

Apa aku harus cerita yang sebenarnya?

“Saya tak akan memaksa anda cerita, tapi jika memang tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan silahkan keluar dari kantor saya. Masih ada kasus yang harus saya tangani” kata Changmin ringan.

“Tunggu Tuan Shim akan saya ceritakan” kataku akhirnya.

“Saya adalah adik kelas Im Yoona dan Choi Siwon dulu saat masih kuliah di Universitas Seoul” kataku.
Lama aku diam tak tahu harus mulai darimana dan harus apa.

“Miss Aeri, tolong bawakan snack kemari yah” Changmin menelpon sekretarisnya.

Aku sedikit aneh ketika sekretarisnya masuk dan membawa banyak sekali kue kering beraneka jenis dan keripik-keripik untuknya.

“Gamsahamnida” kata Changmin dan tersenyum sumringah.

Sekretarisnya mengangguk dan pamit keluar.

“Kau mau dokter Lee?” tanyanya dan menyorongkan keripik kentang padaku.

Aku menggeleng, tak habis pikir suasana serius seperti ini dai masih sempat ngemil.

“Sunbae, kita bicara informal saja. Ceritakan semua tak masalah, anggap saja sekarang di luar kasusmu. Aku sudah bosan dengan suasana formal tadi tepatnya suasana yang tidak mampu membuat bicara” katanya.

Aku terkesiap, sunbae?

“Aku juga lulusan Universitas Seoul. Jadi, wajar kan aku panggil sunbae. Berarti Choi Siwon dan Im Yoona semua yang terlibat disini adalah sunbaeku” aku mengangguk mengiyakan.

“Kau yakin tak mau?” dia menawarkan keripik kentang yang tinggal sedikit. Aku menggeleng.

“Sunbae, kau bisa cerita atau kita akan tetap bertahan seperti ini sampai semua snackku habis dan waktumu selesai. Satu lagi aku peringatkan kita tak akan bertahan lama dalam posisi ini” Aku memperhatikan snack di atas meja tersebut. Sepertinya kecepatan makannya melebihi orang normal. Baiklah, mulai saja semuanya.

“Aku pernah menyukai Im Yoona dan ……” dia menyelaku.

“Cukup. Aku sudah bisa menebak jalan ceritanya. Kau menyukainya, tapi dia mencintai Choi Siwon dan Choi Siwon menikah dengan wanita lain meninggalkan Yoona yang sedang mengandung. Kemudian, Yoona meninggal dalam kecelakaan kemudian kau mengasuh anaknya”

Gila. Tepat sekali.. Bagaimana dia bisa menebaknya? Aku menatapnya tak percaya.

“Choi Siwon pernah memintaku menjadi kuasa hukumnya. Saat itu aku belum berpikir sejauh itu, tapi karena dokter Jaejoong mengatakan kau butuh bantuanku. Aku mulia mencari informasi mengenai Choi Siwon. Dari berkas yang aku dapat dari kantor pengadilan, aku mendapatkan keterangan mengenai Mavin. Lalu aku mencari keterangan dari rumah sakit Santa Maria dan juga rumah sakit universitas Seoul mengenai ibu Mavin. Layaknya, puzzle aku melengkapi semuanya. Dan potngan terkahir puzzle sudah genap, yakni keteranganmu” aku kaget apa memang seperti ini pekerjaan pengacara? Mencari tahu semua yang berhubungan dengan kasus bahkan hal kecil semacam ini.

“Apa hal pribadi juga termasuk hal yang perlu diketahui?”

“Jangan salah sangka. Aku hanya ingin mengetahui latar belakang kasus saja. Pada dasarnya kasus kalian memang berhubungan dengan urusan pribadi bukan?” tanyanya dengan mimik serius lagi.

“Lalu apa anda bersedia menjadi kuasa hukum saya?” tanyaku to the point.

“Kita coba saja. Sepertinya anda klien yang bisa saya percaya” katanya sambil mengangsurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya dan tersenyum lebar. Aku melangkah meninggalkan kantornya.

“Ohya, dokter Lee. Istri anda saya harap anda juga melibatkannya dalam kasus ini. Anda sudah punya istri kan?” katanya.

Aku berbalik dan mengangguk.

Kyuhyun POV

“Apa maksud semua ini?” teriakku di ruangan rapat.

“Kami tidak tahu, sajangnim Hyundai Corp. serta Hwang Corp. menarik semua pinjaman pada kita. Apa yang harus kita lakukan sajangnim?”

“Beri aku waktu. Besok kita adakan rapat lagi” kataku dan beranjak meninggalkan ruang rapat.
Sekarang yang ingin aku lakukan hanya meminta kejelasan mengenai semua ini. Saat tiba di Hyundai Corp. aku melihat Choi Siwon berbincang dengan istrinya di depan gedung. Mereka sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

“Dengan begini Shim Changmin tak punya pilihan selain membantu kita” kata Tiffany, istri Choi Siwon.

“Tapi apa tidak keterlaluan menarik dana dari Kyu Corp. Mereka rekanan appa dan abeoji sejak lama. Kita tak bisa lakukan ini” Siwon meyakinkan Tiffany. Tiffany menggeleng.

“Aku butuh putra kita dan aku tak peduli harus melakukan cara kotor sekalipun” tegas Tiffany.
Siwon terdiam, dia bingung mau bilang apa.

“Chagiya, kita bicarakan ini di rumah yah. Saranghae” Tiffany mengecup pipi Siwon dan masuk ke dalam mobil.
Putra? Changmin? Apa maksudnya semua ini?

Aku urungkan niatku dan mencoba menenangkan pikiranku.
————————————————–
Jaejoong POV

“Aiishhh… Yuri. Jadwalku padat sekali. Ayolah, jangan bertingkah seperti anak-anak Mrs. Kim” kataku pada Yuri yang tengah duduk di depanku.

“Oppa, yah. Please” mohon Yuri dengan puppy eyes dan menangkupkan dua tangannya.

Kalau sudah begini susah. Haruskah ditolak…. Menimbang sejenak akankah aku menemani Yuri datang ke pesta pembukaan kantor cabang baru di Gwangju.

“Baiklah, tapi setelah semua pasien selesai aku periksa. Ottokae?”

“Ye” jawab Yuri senang dan satu lagi lama-lama dia mirip Haejoong eh apa Haejoong mirip dia yah. Selalu membuntuti di belakangku.

Aku memeriksa pasien satu persatu dan sekarang tiba giliran di kamar Lee Jieun. Aku melihat kekasihnya, Pengacara Shim Changmin sedang mengobrol dengan kakak Jieun.

“Sore” sapaku.

Kedua namja itu berdiri dan membungkuk padaku.

“Uisa, mau memeriksa IU?” tanya kakak IU yang aku sendiri lupa siapa namanya.

“Ne” aku mengangguk.

“Silahkan” katanya.

“Oppa, kenapa meninggalkanku” Yuri menepuk bahuku.

“Kau lama sekali sih” kataku. Shim Changmin dan namja itu tersenyum melihat Yuri.

“Yuri, aku akan memeriksa keadaan Lee Jieun dulu yah” kataku. Yuri mengangguk, aku masuk ke ruang inap Jieun dan diikuti Changmin dan kakak Jieun.

Jiyeon POV

“Oppa, Mavin dimana?” tanyaku pada Donghae.

“Mavin bersama Jaejoong hyung dan Yuri noona. Mereka bilang sekarang mereka di Gwangju untuk pembukaan kantor cabang perusahaan Yuri noona yang baru” jawabku.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Kami masih sangat canggung, semuanya jadi aneh. Tak tahu harus bilang apa.

“Jiyeon soal perkataanku kemarin. Aku serius” kata Donghae sambil berjalan meninggalkanku.
Aku masih tertegun dan tak terasa air mata mengalir membasahi wajahku.

Aku tak akan meninggalkanmu…….

Aku hapus cepat air mataku dan berlari menaiki tangga memeluk Donghae dari belakang.

“Oppa, saranghae” kataku membenamkan wajahku di puanggungnya. Bahuku bergetar hebat dan kembali menangis. Kami berada di posisi ini tanpa melakukan apapun.

Donghae POV

Jiyeon memelukku dari belakang membuatku sedikit kaget.

“Oppa, saranghae” katanya. Aku tak mampu mengatakan apapun, aku tak bisa menjawabnya. Aku masih belum 100 % yakin dengan perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintainya atau apa. Kami hanya terdiam dan berada dalam hening. Yang terdengar hanya isakan Jiyeon disela tangisannya.

saranghaeyo dashi shija-khaeyo
himdul-geman-haet-don kudae-ji-man
I love my friend no animyon an-dwae
uri sarangun chong-hae-jyo-bori-nun-myo-ngin-gol

chigum-chorom-man sarang-hae-yo dashi shija-khae-yo
himdul-geman haet-don kudae-jiman
I love my friend no-animyon an-dwae
modun gol it-go haeng-bo-kha-geman hae-julkke

I love you, I’ll start again
You may be hard on me, but
I love my friend
It has to be you
Our love had already been decided by fate

It was so hard for you that you cried
Now I’ll repay you with all of myself
That smile of yours gives me joy
Now I look that way too

Siwon POV

“Yoboseyo, Cho Kyuhyun ini aku Choi Siwon. Aku ingin bertemu denganmu. Restaurant Lumiere 1 jam lagi” kataku dan menutup telponku. Aku hanya ingin bertemu empat mata dengan Kyuhyun.

Bagaimanapun tindakan Tiffany benar-benar kelewatan. Aku tak bisa membiarkannya menghancurkan Cho Corp.

Tak lama sejak aku tiba, Kyuhyun pun datang dan mengambil kursi di depanku.

“Ada urusan apa anda memintaku menemui anda?” tanya Kyuhyun. Dari nada suaranya aku yakin dia tidak senang.

“Langsung saja. Aku minta maaf Choi Corp. dan Hwang Corp. menarik bantuan dana dari Cho Corp. Aku sangat menyesal melibatkanmu dalam masalah ini” kataku.

“Tidak masalah buatku yang aku perlukan hanya alasan kenapa kalian melakukannya. Kami sudah mematuhi semua kontrak dan bekerja secara professional. Adakah alasan yang bisa anda berikan terkait keputusan sepihak ini?” tanya Kyuhyun.

“Shim Changmin. Aku membutuhkannya sebagai kuasa hukumku untuk…….”

“Menangani kasus? Begitukah? Anda licik sekali. Anda menghancurkan Cho Corp. dan berniat menekan Shim Changmin begitukah?” kata Kyuhyun sambil menggebrak meja.

“Tenang. Aku bisa jelaskan” kataku berusaha meredam kemarahan Kyuhyun.

“Istriku berpikir kalau Changmin akan menyerah ketika mengetahui Cho Corp. berada dalam kesulitan dan…..” dia kembali menyelaku.

“Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Tuan Choi. Anda boleh menarik semua bantuan anda. Dan saya peringatkan anda jangan pernah memanfaatkan perasaan orang lain untuk mendapatkan apa yang anda inginkan” kata Kyuhyun.

Sedikit kurang mengerti apa yang Kyuhyun katakan. Dia kembali berbalik

“Shim Changmin adalah calon adik iparku. Tak akan aku biarkan anda mengintimidasinya dengan memanfaatkan perasaannya” kata Kyuhyun tegas dan meninggalkanku.
————————————————————————————————————

“Katakan pada Choi Siwon tidak ada hubungan antara kasus ini dengan Cho Corp.” teriak Changmin dari dalam kantornya.

“Kalian memang…” Changmin tidak melanjutkan perkataannya dan memilih menutup telponnya. Changmin mengenakan jas yang berada di kursinya dan berjalan ke luar ruangan.

“Batalkan janjiku dengan klien pindahkan jadi lusa dan tolong urus semua file untuk persidangan minggu depan. Aku ingin ke rumah sakit” kata Changmin pada sekretarisnya.

Sekretarisnya mengangguk. Changmin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sekarang pikirannya benar-benar kacau.

Jika anda tidak membantu kami maka kami pastikan Cho Corp. akan collapse

Changmin bergegas turun dari mobil dan menuju kamar IU.

“Oppa, tumben datang jam segini. Tidak sibuk kah?” tanya IU. Changmin tak menghiraukan pertanyaan IU dan memilih duduk di samping ranjang IU dan menatapnya lekat.

IU menyadari ada yang tidak beres dengan kekasihnya. IU menyentuh pipi Changmin lembut.

“Gwencanayo?” tanya IU, Changmin hanya menggeleng dan menaruh tangannya di atas tangan IU yang memegang pipinya.

“Mianhae” kata Changmin sambil menunduk.

“Oppa, tell me what did happen? Why did you say sorry? You never made false” kata IU tegas.

Changmin menatap mata IU lekat dan sekejap kemudian dia memeluk IU.

“I’ll always protect you. I won’t let tears falling down on your face. Everything I do, even If I must ignore principe as

“Saranghae, Lee Jieun” Meski bingung IU pun menjawab.

“Nado saranghae Shim Changmin”

Mereka berpelukan cukup lama. Hingga ponsel Changmin pun berdering dan memaksa Changmin melepaskan pelukannya.

Changmin melihat seklias nama yang tertera di layar ponsel. Dia berdiri dari tepi ranjang dan berjalan keluar.

“Anda janji Choi Corp. dan Hwang Corp. tidak akan menarik dana dari Cho Corp jika saya bersedia menjadi kuasa hukum Tuan Choi. Baiklah, kalau begitu saya …..” Belum selesai kalimat itu dia ucapkan. Seseorang merebut ponselnya.

“Meski perusahaanku collapse, aku tak peduli. Katakan pada Tuan Choi Siwon kalau Cho Kyuhyun bisa menjalankan perusahaannya tanpa bantuan dana dari kalian” ujar Kyuhyun berapi-api.

“Hyung…..” Changmin tak percaya dengan perkataan Kyuhyun.

“Pabo, untung saja aku tidak terlambat, kau ini. Kenapa tak bilang mereka mengancammu hah? “ kata Kyuhyun sambil menoyor kepala Changmin.

Changmin hanya mendengus kesal dan memegangi kepalanya.

“Hyung, mianhae. Hanya saja aku tak ingin membuatmu mendapat masalah karena kasus yang akan aku tangani. Hyung, mianhae” kata Changmin menyesal.

“Sejak kapan kau memanggilku hyung?” Kyuhyun terkekeh dan berusaha mencairkan suasana.

Changmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang lebih tua beberapa bulan dibanding Kyuhyun, tapi karena dia menyukai adik tiri Kyuhyun. Maka, entah kenapa dia bersedia memanggil Kyuhyun yang notebene salah satu kliennya dengan sebutan hyung.

“Jadi hyung sudah tahu?” tanya Changmin.

“Aku hanya tahu kau entahlah aku rasa kau diancam Choi Siwon dengan memanfaatkan Cho Corp. Sisanya aku tak tahu dan aku harap kau ceritakan kasus itu” ucap Kyuhyun dengan penekanan pada kalimat terakhir.

Changmin menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya. Kyuhyun menghela nafas sambil mendengarkan cerita Changmin. Tak habis pikir kenapa Choi Siwon yang terkenal terhormat itu menggunakan cara licik seperti ini.

“Lalu apa tindakan hyung selanjutnya?” tanya Changmin.

“Maksudmu mengenai perusahaan? Entahlah aku belum berpikir sejauh itu” jawab Kyuhyun sekenanya.

“Mianhae” tunduk Changmin.

“Hei kau ini kenapa? Shim Changmin sang Pangeran Meja Hijau kenapa jadi selemah ini. Ayolah, jangan khawatir. Aku pasti menemukan cara lain. Percayalah, tenang saja” jawab Kyuhyun bersemangat.

Pandangan Kyuhyun dan Changmin beralih pada suster yang ribut karena berita di televisi. Mereka memang sedang berada di ruang tunggu rumah sakit.

“Wowh… Tak aku sangka istri dokter Jaejoong semakin sukses saja. Lau Group itu punya anak kedokteran yang kesini itu bukan sih” kata seorang suster.

“Iya… itu dia Henry Lau” kata suster lain menanggapi.

Nishishima Group dan Lau Group dua perusahaan berskala internasional kembali memperluas jaringannya dengan membuka perusahaan cabang baru di Gwangju sebagai salah satu kantor bersama. Pembukaan ini dihadiri oleh banyak orang penting di Korea Selatan, Jepang, dan beberapa pengusaha internasional termasuk Menteri Perdagangan dan Menteri Perhubungan Republik Korea Selatan.

“Lihat dokter Jaejoong dan istrinya. Wah… wah…” kata suster lain.

Kyuhyun dan Changmin langsung melihat ke arah tv yang dipasang di atas ruang tunggu.

“Sepertinya aku sudah mendapat ide Changmin” kata Kyuhyun tersenyum senang.

“Mwo?? Apa?” tanya Changmin. Kyuhyun menunjuk pada layar televisi.

Changmin sedikit bingung dan bertanya.

“Apa?” tanya Changmin.

“Lihat saja nanti” seringai Kyuhyun dan berdiri meninggalkan Changmin. Kyuhyun berbalik sejenak.

“Titip IU yah adik ipar” ujar Kyuhyun dan melambaikan tangannya pada Changmin.

Changmin tersenyum penuh makna mendengar kata-kata Kyuhyun.

Donghwan POV

“Eumma, bagaimana masih berniat memisahkan mereka berdua?” tanyaku pada eumma yang melihat pemandangan Jiyeon yang memeluk Donghae dari belakang.

“Aku rasa ini sudah cukup” kata eumma dan memintaku mendorong kursi rodanya keluar dari rumah Donghae.

Junsu POV

“Sajangnim, kasus Lee Donghae dan Choi Siwon akan semakin menarik” kata seorang karyawan.

“Maksudmu?” aku tidak mengerti.

“Shim Changmin, sang Pangeran Meja Hijau menelpon dan mengatakan dia adalah kuasa hukum Lee Donghae”

Sepertinya akan sangat menarik….. Tak aku sangka mereka mampu membuat Shim Changmin membantu mereka.

“Saya dengar yang akan menjadi hakim dalam kasus kali ini adalah Choi Seunghun”
Aku sedikit terlonjak.

“Kau yakin?” tanyaku berusaha memastikan.

“Iya, sajangnim” jawabnya.

Jaejoong, sekarang tidak ada lagi istilah keberuntungan. Prince of Court, Cool Blood Judge…. Semua sekarang adalah soal hukum dan aturan. Aku harap temanmu berada dalam lindungan hukum.

%d bloggers like this: