Tag Archives: Kyuhyun

[ONESHOT] My Shortie’s One Day Tall

 

Author’s POV

  Gadis itu duduk mengetuk-ngetuk bingkisan kain di pangkuannya. Ia duduk di sofa panjang abu-abu di ruangan yang penuh dengan baju-baju berserakan itu. Ia menghela nafas lalu kembali melirik jam biru besar di dinding.

  Tak lama setelah itu pintu terbuka dan masuk segerombolan orang berdesak-desakkan dan tergesa-gesa karena kesibukan masing-masing.

  “Lemparkan handuk untukku, noona~”

  “Ahh~ Aku haus…”

  “Manajer hyung, mana ponselku?”

  “Aish! Panas sekali!”

  Berbagai teriakan, bisikan, gerutuan terdengar di ruangan itu. Gadis itu hanya mematung di tempat duduknya sambil memasang ekspresi kosong tak peduli.

  “Minyeon-ah?” panggil seseorang membuyarkan lamunan gadis itu. Ia mengangkat wajahnya memandang pria jangkung berkaus hitam di hadapannya. “Kau sedang apa di sini?”

  “Kau mengusirku?” balasnya datar lalu berdiri. Ia mendongak supaya bisa melihat wajah pria tadi dengan jelas. “Kau lelah?” sambungnya mendesah pelan. Dalam suaranya terdengar jelas kekhawatiran, bukan nada dingin sebelumnya.

  Senyum kecil mengembang di wajah pria itu. “Kau khawatir padaku?” godanya hanya menerima tatapan datar dari Minyeon.

  “Tidak usah basa-basi, Kyuhyun,” ujar Minyeon. “Kau tambah sibuk, kau tahu?”

  “Aigooya~ Arasseoyo. Kau tidak perlu mengingatkanku. Aku masih sering-sering menelponmu bukan?” balas Kyuhyun tersenyum canggung. Sepertinya yeojachingu-nya itu sedang tidak mood. Ia mengacak-acak pelan rambut Minyeon.

  “Hei pendek~ kau-”

  Belum selesai Kyuhyun bicara, pintu kembali terbuka dan masuk beberapa orang lainnya.

  “Kyuhyun-ah,” panggil seorang gadis tinggi berjalan menghampirinya. “Lagu duet yang lalu masih dipakai di lagu untuk show depan?” tanyanya.

  “Hm? Ne, tentu saja. Lagipula aku malas menghafal lirik baru apalagi itu berbahasa Inggris,” jawab Kyuhyun santai. Gadis tadi mengangguk paham lalu pandangannya jatuh pada Minyeon yang berdiri di depan Kyuhyun daritadi.

  “Nugunikka?” tanyanya pada Kyuhyun sambil menunjuk Minyeon. Kyuhyun dan Minyeon hanya saling memandang sejenak. “Apa gadis kecil ini adik sepupumu, Kyuhyun-ah?” tanyanya. Tanpa terasa ruangan menjadi sepi sejenak dan terlihat beberapa member Super Junior dan SHINee memutar kepalanya memusatkan perhatian pada tiga orang tersebut.

  Sepertinya bukan ide yang baik ia berkata seperti itu…

 

Minyeon’s POV

  Gadis kecil? Apa maksudnya dengan gadis kecil?? Tahun depan aku sudah genap tujuh belas tahun dan masih disebut ‘gadis kecil’? Kau pikir bagaimana bisa ‘anak kecil’ masuk ke ruangan ini sembarangan?

  Aku hanya memandang yeoja yang tingginya beberapa centi di atasku itu dengan tatapan datar. Aku yakin sekali dia juga artis di SM karena terlihat dari kostumnya yang mencolok dan hal-hal tentang duet ditambah lagi stiletto heels yang dipakainya.

  “Kau adik Kyuhyun? Aku Seo Joohyun, pasangan duet oppa-mu itu,” ia tersenyum lebar. Aku masih memasang ekspresi datar. Oppa dari mana?

  “Ehm… Seohyun-ssi, ponsel-mu ada di manajer noona, katanya ada tiga missed call dari ibumu,” potong Taemin mengetahui suasana ruangan itu menjadi agak canggung.

  “Jinjjaro? Ke mana manajer eonni?” tanya Seohyun mengalihkan pandangannya.

  Aku berbalik menghadap Kyuhyun lalu menarik-narik lengan bajunya. “Hey, ini makan siang. Aku disuruh Ahra eonni memberikannya padamu,” ujarku datar menyodorkan bingkisan tadi. “Aku beli minum dulu,” sambungku berjalan keluar.

  Setibaku di mesin penjual minuman aku langsung memasukkan dua uang koin dan memesan dua kaleng minuman. Begitu sudah menggenggamnya aku menghela nafas menatap refleksi tipis yang terpantul dari kaca mesin. Tinggiku hanya dua pertiga tinggi mesin itu. Topik soal tinggi badan sangat sensitif bagiku.

  “Aish! Aku merasa seperti makhluk kerdil kalau begini terus!” gerutuku berjinjit-jinjit sebentar. “Kakiku pendek sekali,” aku menatapkan kepalaku pelan pada kaca mesin penjual itu.

  “Hey,” panggil seseorang. Ah! Aku pasti menghalangi orang itu membeli minumannya. Aku langsung berbalik lalu menggeser tempat berdiriku sebelum akhirnya jalanku diblokir seseorang. Aku mendongak melihatnya. Aish! Leherku sakit kalau aku mendongak terus!

  “Hey, anak kecil. Kau kenapa? Diabaikan pacarmu?” tanyanya. Aku tahu siapa itu.

  “Bukan urusanmu,” desisku kesal ingin berjalan pergi.

  “Kau benar-benar adik Kyuhyun hyung?” tanyanya tersenyum jahil memblokir jalanku lagi. Haish! Dia lihat ternyata!

  “Yang benar saja aku adik si jenius pabo itu!” seruku.

  “Jenius..pabo?” ia memiringkan kepalanya penuh tanya. Aku hanya mengangguk. Ia terkikik geli lalu mengetuk-ngetuk dahiku. “Kepalamu tidak sakit kau bentur-benturkan tadi?” tanyanya. Aku menepis tangannya.

  “Diamlah, Chanyeol,” omelku. “Kau tahu jelas, makhluk aneh itu bukan oppa-ku, dia pacarku. Dan kau, jangan mentang-mentang tubuhmu menjulang kau seenaknya menyebutku anak kecil,” lanjutku sambil berjalan pergi. Aku heran sekali kenapa Baekhyun bisa betah berteman dengan si Happy Virus tak waras tadi. Happy virus-nya sama sekali tidak memperbagus mood-ku.

***

  Kyuhyun memasukkan sesendok bibimbab ke dalam mulutnya lagi sampai penuh. Sungguh pria ini suka sekali makan!

  “Hey, aku benar-benar boleh menginap kan di rumahmu?” gumamnya dengan mulut mengunyah makanan. Aku mengangguk sambil melahap sushi di hadapanku. “Setelah ini langsung pulang?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

  “Aku ada PR liburan musim panas,” ujarku. Aku meliriknya yang mulutnya sepertinya selalu penuh dan tidak bisa berhenti mengunyah. Aku menggeleng pelan sambil berdecak. “Pelan-pelan, Kyuhyun-ah,” tegurku.

  Ia hanya mengangguk-angguk tapi masih tetap memasukkan berbagai macam makanan ke dalam mulutnya. “Ara, ara. Aku lapar,” gumamnya dengan mulut penuh.

  “Apa manajer sunbae-nim tidak memberimu makanan?” tanyaku menaikkan sebelah alisku.

  Ia berhenti mengunyah lalu menatapku sejenak. Lalu ia tersenyum masam dan menggosok-gosok tengkuknya. “Aniyo. Sebenarnya aku menghabiskan makanan banyak sekali sampai dimarahi,” jawabnya pelan. Aku hanya menggeleng pasrah.

  Begitu ia sudah menghabiskan semua makanan di piring ia langsung menuju kasir dan membayar bill. Kemudian ia langsung menggandengku keluar restoran.

  “Aku bawa bajuku di mobil,” ia membuka percakapan. Aku hanya mengangguk. “Besok aku free, bagaimana kalau aku mengajakmu jalan-jalan?” lagi-lagi aku hanya mengangguk.

  Begitu tiba di depan mobil kami langsung masuk dan menuju ke rumahku.

***

  Kyuhyun sudah mengganti pakaiannya dengan piyama begitu juga aku. Ia malah sedang asyik-asyiknya duduk di atas kasur meminjam laptopku untuk bermain game. Aku sudah menyelesaikan sebagian PR-ku. Aku berjalan ke dekat kasur hanya menghela nafas lalu mengambil tempat di sebelahnya.

  “Kyuhyun-ah ayo tidur,” aku menepuk pelan pundaknya. Ia masih serius menatap layar laptopku.

  “Hm, sebentar lagi, jagiya,” gumamnya. Aku mendesah lagi lalu membaringkan kepalaku ke bantal lalu memejamkan mataku sejenak.

  “Gwaenchanhayo?” tanyanya.

  “Hm,” jawabku hanya mengangguk. Suara ketikan keyboard sudah tidak terdengar. Tidak lama kemudian suara laptopku tertutup terdengar lalu Kyuhyun sendiri sudah ikut berbaring di sebelahku. Aku memutar tubuhku membelakanginya.

  “Jagiya~” panggilnya.

  “Hm?” aku berbalik dan mengerjap begitu hanya melihat bajunya di depanku. Aku mendongak lalu menatapnya. “Kau tidur apa tidak terlalu atas?” tanyaku mengernyit heran. Kepalanya itu bisa terbentur bedboard.

  Ia mengacak-acak rambutku. “Kasurmu kurang panjang kalau aku tidurnya lebih bawah,” jawabnya. Aku mendesah lagi.

  “Maksudmu aku pendek?” gumamku. Ia hanya diam saja. “Kenapa pertumbuhanku melambat? Menyebalkan,” gerutuku.

  “Wae?” tanyanya. Aku diam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas untuk kesekian kalinya.

  “Soalnya kau tinggi,” gumamku. “Kalau aku berbalik menghadapmu yang bisa kulihat cuma bajumu saja,” lanjutku. Kudengar ia terkikik.

  “Maksudmu kau bosan melihat hanya bajuku saja?” tanyanya. Aku mengangguk. “Mau aku melepaskan bajuku?” godanya. Aku langsung membelalakan mataku lalu memukul lengannya.

  “Ish! Aku serius ini!” desisku kesal. Aku berbalik supaya Kyuhyun tidak melihat rona pipiku yang tiba-tiba menyeruak keluar.

  Tidak lama kemudian aku merasa Kyuhyun bergerak terus-terusan sebelum akhirnya berhenti.

  “Hey,” panggil Kyuhyun. Aku hanya mengabaikannya. “Hey! Minyeon-ah,” ia mengguncang-guncangkan pundakku.

  “Ck! Museun Iri-”

  Belum selesai aku bicara aku langsung terdiam begitu sekarang yang kulihat wajah Kyuhyun langsung. Ia hanya tersenyum.

  “Eotteohke? Senang sekarang?” ujarnya. Aku mengigit bibir bawahku.

  “W-waeyo? Bukankah kau bilang kasurku tidak cukup panjang?” tanyaku. Ia terkikik lalu memelukku.

  “Sudah tidak marah kan?” gumamnya menatapku.

  “Aku tidak marah,” balasku datar.

  “Kau keras kepala sekali. Kalau kepalamu sekeras itu pantas saja kau tidak tambah tinggi karena tertahan kepala batumu itu,” ia mencibir. “Hey, kau mau merasakan jadi tinggi bukan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Hm.. Karena mood-ku sedang bagus, kau akan kuberi satu hari merasakan jadi tinggi, eotteohke?” tawarnya. Aku mengernyit.

  “Maksudmu?”

  “Lihat saja besok,” balasnya mengecup pipiku.

***

  “Minyeon-ah~ Ireona~” Kyuhyun mengguncang-guncangkan tubuhku nonstop sejak beberapa menit yang lalu.

  “Aissh, Kyuhyun-ah arraseo! Berhentilah mendorongku!” gerutuku. Aku langsung duduk sambil mengusap-usap mataku.

  “Kau kan akan kuajak bersenang-senang hari ini,” ia cemberut manja lalu memelukku. “Sekarang kau mau apa?” tanyanya.

  “Mau sikat gigi,” balasku hendak berdiri. Belum aku menapakkan kakiku di lantai Kyuhyun mendahuluiku dengan duduk tepat di depanku. “Mwohae?” tanyaku heran.

  Tiba-tiba ia menggendongku lalu berjalan ke kamar mandi.

  “Y-ya! Mwohani?!” seruku memukul pundaknya.

  “Kau lupa? Hari ini kau akan tahu rasanya jadi tinggi~ Aku alan membawamu dengan piggyback ke mana pun~” ujarnya riang.

  Begitu tiba di kamar mandi ia langsung mendudukkanku di sebelah wastafel. Ia mengambil gelas dan sikat gigi yang biasa dipakainya kalau menginap di sini. Aku melipat kakiku lalu menghadap ke cermin. Tinggiku jadi sama dengannya kalau aku duduk di sini.

  “Tidak sikat gigi? Kau bilang mau sikat gigi?” panggilnya dengan sikat gigi masih di mulut membuyarkan lamunanku. Wajahnya lucu sekali seperti itu!

  “N-ne,” gumamku. Aku menyambar sikat gigi dan pasta gigiku. Sepanjang menyikat gigi aku terus-terusan menatap bayangan kami di cermin. Aku melihat pipiku sendiri memerah dan ujung-ujung bibirku membentuk seulas senyuman tipis. Aku puas.

  “Selesai?” tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil mengusap wajahku dengan handuk kecil. “Lalu? Kau mau apa?” tanyanya lagi. Aku terdiam.

  “Kau mau aku menemanimu mandi juga?” tanyanya tersenyum menggoda. Aku langsung menendangnya.

  “Byuntae!!!!!” seruku mendorongnya keluar. Keracunan apa sih dia itu! =3=

***

  Selesai mandi aku segera memakai kaos putih ku dengan celana pendek biasa kupakai di rumah. Aku membuka pintu kamar mandi dan langsung membelalakkan mataku begitu mendapati Kyuhyun sedang berjongkok membelakangiku.

  “Mwohae?” tanyaku. Ia memutar kepalanya sedikit.

  “Sudah selesai kan? Ayo naik,” ia menyuruhku naik ke punggungnya.

  “Kau yakin tidak capek?” tanyaku memeluk lehernya. Ia langsung berdiri lalu membawaku ke ruang makan.

  “Makan apa?” tanyaku melihat wajahnya dari samping.

  “Aku pesan makanan tadi pagi,” jawabnya. Aku hanya mengangguk paham. Lagipula aku tidak mungkin selamat kalau makan masakan Tuan Cho ini.

  Ia menggendongku ke dapur dan menyuruhku mengambilkan beberapa piring sebelum kembali ke ruang makan. Aku bisa melihat sebuah kantung plastik berisi beberapa box makanan.

  Kyuhyun menurunkanku lalu duduk di kursinya. Belum sempat aku duduk di kursiku sendiri Kyuhyun sudah menarikku duduk di pangkuannya.

  “K-kyuhyun-ah-”

  “Hm?” ia membuka kantung plastik tadi dengan santai lalu mengambil dua potong ayam dan dua bungkus nasi ke piring kami. “Meogeo,” ia menyendokkan makanannya ke mulutku. Aku cuma menurutinya.

  “Kau tidak sakit?” tanyaku. Ia menggeleng.

  “Kau tidak seberat itu kok,” gumamnya mengunyah makanannya. Aku hanya menghela nafas.

  “Kalau kakimu kram jangan salahkan aku,” balasku memasukkan makananku ke mulut lagi. Ia hanya mengangguk-angguk santai. Tumben sekali Kyuhyun seperti ini.

  “Sudah?” tanyanya setelah aku mengunyah sendok terakhirku. Aku mengangguk-angguk. “Ayo siap-siap. Kita akan pergi berkencan~” ia menggendongku lagi ke kamar.

***

  Setelah berganti pakaian lagi-lagi kudapati Kyuhyun berjongkok di depan pintu kamar mandi siap dengan pakaian gantinya. Aku mendesah pelan. Kalau seperti ini aku lebih merasa seperti orang lumpuh.

  “Kyuhyun-ah berdirilah,” aku menarik lengannya. “Ini hari liburmu, jangan menyusahkan dirimu sendiri,” lanjutku. Ia masih diam di tempatnya sambil menggeleng.

  “Andwae. Kau harus naik,” ia langsung menarik kakiku dan menggendongku lagi. “Lagipula aku dimarahi manajer karena banyak makan. Hitung-hitung ini olahraga,” ia membawaku menuruni tangga.

***

  “Kyuhyun-ah turunkan aku!” aku memukul-mukul pundaknya. Memalukan sekali digendong di depan umum!

  “Andwaeyo,” balasnya santai terus berjalan menyusuri keramaian di Apgujeong-dong. Aku meneggelamkan wajahku dalam-dalam di balik pundaknya begitu melihat beberapa pasang mata menatap kami aneh. OMO! Aku lupa! Bagaimana kalau ada yang mengenali kami?!!

  Aku menarik syal-ku lalu kulingkarkan di leher Kyuhyun dan leherku menutupi sebagian wajah kami. Aku menarik topinya merendah agak menutupi matanya.

  “Kau lupa kalau kita ini sedang bersembunyi dari fans-mu?” bisikku. Ia hanya mengangguk. “Jadi ke mana dulu kita sekarang?”

  “Hmm..,” ia menyipitkan matanya. “Sudah lama kita tidak pergi menonton film. Bagaimana?” ia melirik ke arahku. Aku mengangguk setuju.

  Setiba kami di gedung bioskop Kyuhyun masih saja menggendongku mengecek film-film yang sedang diputar. Aku hanya mengintip dari balik syal kami karena merasa risih dengan tatapan pengunjung lainnya. Aigoo-ya..

  “Kau mau nonton yang mana?” tanya Kyuhyun. “Horor? Drama? Komedi? Kartun?”

  “Ka-”

  “Kartun,” ia memotong ucapanku. Aku mengangguk senang. Ia berdecak lalu menggeleng-geleng. “Kau terlalu sering bergaul dengan ChangJi kau tahu,” omelnya. Aku memukul pundaknya.

  “Ck! Kau tidak suka aku bergaul dengan dongsaeng-ku sendiri?” cibirku kesal.

  “Aniya~”  elaknya. “Hari ini kita nonton film drama saja,” ia berjalan ke counter tiket. Hahh… Aku cuma mau nonton kartun!

  “Permisi,” sapa Kyuhyun. “Pesan tiket untuk satu kursi,” ia mengangkat telunjuknya. Aku mengernyit. Satu kursi?

  “Maaf, tapi bukankah kalian berdua?” tanya wanita penjual tiket itu.

  Kyuhyun menurunkan syal yang menutupi wajahnya lalu tersenyum padanya. Oh..? Dia fans?

  “Kumohon. Gadis di belakangku ini tidak mau duduk sendiri. Bagaimana kalau aku bayar satu setengah kali lipat untuk tiket satu kursi? Jadi biayanya satu setengah orang,” rayu Kyuhyun. Kalau saja bukan karena ingin menonton bioskop aku pasti sudah meledakkan kepalanya dan membuangnya jauh-jauh ke dasar samudera Pasifik!

  “B-baiklah,” gumam gadis tadi. Aku hanya menatap datar dari balik pundak Kyuhyun.

  “Ahh~ Gomawo!” seru Kyuhyun setelah menerima tiketnya. “Jangan beritahu siapa-siapa soal ini, ara?” ia memperingatkan gadis itu.

  Setelah berjalan agak jauh aku menjewer telinganya. “Jangan bersikap seperti itu di depan gadis lain, ara?” ancamku.

  “Ya! Hey! Ish! Sakit tahu!” gerutunya. “Yang penting kan dapat tiketnya,” sambungnya menggendongku masuk ke dalam.

  Sesuai dugaanku dia lagi-lagi mendudukkanku di pangkuannya. Aku sedikit menunduk merasakan tatapan aneh orang-orang di sekelilingku. Aigooya..

  “Geokjeonghajima,” bisik Kyuhyun membuyarkan lamunanku. Ia mengeratkan pelukannya melingkari pinggangku. Aku hanya manyun sambil mencubiti tangannya.

  “Hajima! No PDA!!” desisku.

  “Wae?” tanyanya malah mengeratkan pelukannya.

  “Ingat statusmu sebagai idol, Kyuhyun-ah,” bisikku.

  “Memangnya kalau aku idol, aku tidak boleh melakukan public display affection?” cibirnya.

  “Kyuhyun!”

  “Ara. Ara,” gumamnya pasrah.

***

  Sepanjang menonton film Kyuhyun tidak mau melepaskan tangannya dari pinggangku dengan alasan apapun. Aku bahkan beralasan untuk ke toilet dia malah mengusulkan untuk ikut. Dasar!

  Aku membuka pintu toilet dengan kasar dan seperti dugaanku Kyuhyun sudah berjongkok di depan sana.

  “Eo? Sudah? Ayo naik!” ia menyuruhku naik ke punggungnya lagi. Aku hanya mendesah. Kyuhyun babo. Bagaimana kalau yang keluar dari toilet bukan aku?

  “Sekarang mau ke mana?” tanyaku. Ia hanya bergumam tak jelas.

  “Mau main di Lotte World?” tawarnya. Aku mengangguk.

  Setelah kembali ke mobil, ia langsung tancap gas menuju Lotte World. Setiba kami di sana tidak lupa ia menggendongku lagi. Kurasa aku mulai terbiasa dengan kelakuannya ini. Aku kembali memasangkan syal untuk kami berdua supaya tak ada yang mengenali. Ia langsung membawaku ke arena roller coaster.

  “Eh? Kyuhyun-ah! K-kita naik ini?!” pekikku kencang di telinganya. Ia mengangguk-angguk bersemangat.

  “Hari ini tema kita adalah ketinggian~~” ujarnya senang. Oh My God .__.

  “T-tapi aku tak-”

  “Karcis untuk dua orang, terima kasih!” tanpa mendengarkanku ia sudah mendudukkanku ke kursi penumpang dan ia sendiri duduk di sampingku. Ia mengecek kalau-kalau aku sudah memakai semua perlengkapan keamanan dengan baik baru memasang miliknya.

  Teeeeett!!

  Suara bel keras melengking itu pertanda roller coaster akan meluncur. Aku menelan ludah berkali-kali. Jari-jariku memutih mencengkeram kuat-kuat pegangan dan memejamkan mataku rapat-rapat. Here we go…

  “KYAAAAAAAAAAAAA!!!!” teriakan-teriakan itu terdengar di barisan belakang dan depanku. Entah jeritan ketakutan atau kebahagiaan. Aku hanya diam saja. Kalau sudah begini suaraku sama sekali tidak bisa keluar!

  “Hnngg..,” aku mengerang pelan merasakan hembusan angin mengenai wajahku sampai-sampai mataku tidak bisa kubuka. Isi perutku seakan diputar-putar dan kepalaku rasanya mau lepas. Tanganku sudah merekat pada pegangan, seakan hidupku sangan bergantung padanya.

  “Gwaenchanha?” kudengar bisikan Kyuhyun samar-samar. Aku hanya mengangguk walaupun masih mematung dengan posisi meringsut.

  “Museowoji?” aku menggeleng.

  “Gotjimal,” desisnya. “Pegang tanganku kalau kau takut.”

  Jinjja. Aku yakin sekali Kyuhyun itu jenius yang benar-benar pabo. Aku sudah kaku begini mana bisa melepaskan peganganku dan memegang tangannya?! Eomma…. Berapa lama lagi ini berakhir??

  “Minyeon-ah?” panggilnya. T-tunggu sebentar Kyuhyun-ah! Sampai ini berakhir! Aku benar-benar tidak bisa bicara maupun bergerak! Otakku tidak bisa berpikir jernih!

  Setelah – entah sudah berapa lama roller coaster ini berjalan di atas rel, akhirnya penumpang sudah boleh turun. Aku sudah membuka mataku dan mengumpulkan kesadaran-kesadaranku dengan mengerjap.

  “Gwaenchanha? Kajja,” ajak Kyuhyun menarik lenganku. Kakiku terasa seperti hilang.

  Tepat setelah ia membawaku keluar arena, ia langsung menggendongku lagi. Aku menghela nafas lega. Setidaknya tidak perlu berjalan. Aku merasa tidak kuat berjalan sejak naik benda tadi.

***

  “Aigooya~ Kyuhyun-ah kau membuatku sekarat!” rengekku setelah memuntahkan isi perutku di kamar mandi. Kyuhyun yang berjongkok di depan kamar mandi lagi hanya memutar kepalanya ke arahku.

  “Eh? Gwaenchanha?” ia langsung berdiri lalu mengusap-usap pipiku. “Kau dingin sekali,” ia mengusap-usap kedua tangannya di pipiku lagi.

  “Ck. Ini karena aku memuntahkan semua makananku,” gerutuku menepis tangannya. “Kau lupa aku takut ketinggian?”

  Ia terlihat menepuk keningnya. “OMO! Ah~ mianhae jagiya, aku lupa. Mianhae!” ia merapatkan kedua tangannya. “Ah, padahal aku berniat membuatmu melihat dari sisi ketinggian,” ia menunduk merasa bersalah. Aku menghela nafas sejenak sebelum menarik tangannya.

  “Aku mau naik ferris wheel,” ujarku. Ia berlari-lari kecil mengikuti langkah cepatku.

  “Eh? Kukira kau tidak suka ketinggian?” tanyanya. Aku mendesah. Setidaknya ketinggian di ferris wheel geraknya lambat. Itu membuatku….tenang..? Kau mengerti kan maksudku?” jelasku. Ia mengangguk paham.

  Baru saja aku berjalan satu dua langkah, kakiku sudah tidak lagi menapak di tanah. Aku mengerjap dan tersadar sekarang aku sudah digendong dalam pelukannya.

  “Kau lupa, hari ini kau akan melihat ketinggian,” ia tersenyum. Aku mencubit lengannya.

  “Tapi kau bilang piggybag! Bukan bridal style!” aku ganti memukul lengannya. “Aishh… Ini lebih memalukan dibanding piggyback!” pekikku tertahan.

  “Terserah,” ia melanjutkan langkahnya.

  Begitu mendapat tempat di Ferris Wheel ia langsung duduk memangkuku lagi.

  Perlahan-lahan ferris wheel mulai berputar. Aku melirik ke arah jendela sambil memainkan jari-jari Kyuhyun.

  “Hey,” panggilnya. “Mm.. Kau pernah dengar tentang pasangan yang berciuman saat naik ferris wheel?”

  Aku terdiam. Pipiku memanas mendengar kalimatnya barusan.

  “Memangnya kenapa?” gumamku. Ia terkikik lalu mengeratkan pelukannya.

  “Ani. Daripada aku menciummu seperti pasangan lainnya bagaimana kalau aku menyanyikan lagu saja?” bisiknya. Aku mengangguk.

  Ia mulai menggumamkan lagu di telingaku. Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya sambil menatap langit sore di luar jendela.

***

  “Kyuhyun-ah, kau yakin tidak capek?” tanyaku begitu naik di punggungnya. “Aku banyak makan belakangan, kalau keberatan bagaimana?”

  “Tidak kok. Aku kan sudah bilang berkali-kali,” jawabnya terus berjalan. “Daripada kau yang menggendong aku?”

  “Andwae!” aku memukul punggungnya. Ia hanya terkikik geli.

  “Bercanda,” ujarnya. “Kau mau ke mana seka-”

  “Nah! Kalian!” panggil ahjussi yang membawa mic berjalan ke arah kami. Ia menarik tangan Kyuhyun.

  “Ayo! Kalian harus ke stan kami!” ia menuntun kami mengikutinya ke stan yang ramain pengunjung.

  Begitu tiba di dalam stan, ahjussi tadi segera menyeret kami berdiri di samping dua pasangan yang berdiri berjejer-jejer. Aku mengernyit.

  “Kyuhyun-ah, tutupi wajahmu,” bisikku pelan membantunya memakai syal lagi dan menutupi matanya dengan topi. Ia mengangguk lalu menunduk.

  “Nah! Para pengunjung! Kami sudah menemukan tiga pasangan di sini!” seru ahjussi tadi. “Tiga pasangan ini akan diberi tantangan, dan seperti yang saya katakan sebelumnya, yang memenangkan tantangan ini akan mendapatkan hadiah spesial dari produk kami!”

  Aku mengernyit. Jadi maksudnya dia menyeret kami untuk itu?

  “Mereka akan ditantang untuk menggendong pasangannya selagi yang menggendong akan diberi pertanyaan untuk di jawab. Yang menjawab pertanyaan paling banyak dan menggendong paling lama akan menjadi pemenangnya!” seru ahjussi itu senang. “Sekarang silahkan naik ke punggung pasangannya,” lanjutnya. Kudengar Kyuhyun terkikik pelan.

  “Aku yakin kita bisa menang~” gumamnya. Aku hanya berdecak.

  “Silahkan~ Silahkan~” ahjussi itu mengecek semua peserta. “Bersedia, mulai!” ia memencdt tombol start di stop watch-nya.

  “Pertanyaan untuk peserta pertama di ujung sana,” ahjussi itu tersenyum pada kami. “Sebutkan ulang tahun pasangan masing-masing dan tanggal jadian kalian!”

  Aku mengernyit. Kapan ya? ._.

  “5 November, 3 Februari, 5 Oktober,” jawab Kyuhyun santai. Aku mengernyit lagi.

  “Masa 5 Oktober? Aku tidak yakin,” bisikku pelan. Ia menaikkan pundaknya.

  “Ahjussi itu tidak akan tahu. Aku cuma ingat bulan Oktober awal saja,” balasnya. Dasar! -.-

  “Oke! Kembali ke peserta pertama!” seru ahjussi itu kembali melihat ke arah kami.

  “Warna favorit kalian?”

  “Biru,” jawab kami spontan bersamaan. Ahjussi itu beralih lagi ke peserta lainnya.

  “Aigoo.. Kapan ini berakhir?” gumam Kyuhyun. “Aku mau mengajakmu ke suatu tempat sebelum malam harusnya,” cibirnya kesal.

  “Yak! Kembali lagi!” seru ahjussi tadi lagi. “Tinggi dan berat badan kalian!”

  “I-itu memalukan!” seru kami bersamaan. Ahjussi itu terllihat kaget dengan jawaban kami. Kami baru sadar apa yang baru saja terlontar dari mulut kami.

  “O-oh.. Maksudnya…180 cm68 kg,159 cm44 kg,” gumam Kyuhyun pada akhirnya. Sungguh ini memalukan!

  “Ooohh…. Pantas saja. Kalau begitu mereka pemenangnya!” seru ahjussi itu. Aku mengernyit lalu melirik ke pasangan lain di sampingku yang sudah menuruni punggung pasangannya. Aku melihat jelas mereka pasangan yang tubuhnya terlihat tidak beda satu sama lain. Dengan kata lain, mereka seperti menggendong berat badan sendiri. Haha –”

  “Baiklah! Untuk itu, ini hadiah kalian!” ahjussi itu menyerahkan sebuah kota berpita putih.

  “Gamsahamnida, ahjussi,” gumam kami.

  “Aigoona, lucu sekali. Jadi ingat saat dulu ahjussi menggendong istri ahjussi ke mana-mana,” ia menepuk-nepuk lengan Kyuhyun. Kami hanya meresponnya dengan tawa.

***

  “I~can’t~live~with~out~you~ My all is in you~~” nyanyi Kyuhyun senang. Aku mengeratkan pelukanku di lehernya. Ia sekarang membawaku pergi piknik. Aku tidak mengerti apa maksudnya piknik malam-malam. Tapi ia bilang harusnya kami sudah harus ke sana sore tadi, tapi katanya malam-malam juga tidak apa-apa.

  “Kyuhyun-ah, kita mau ke mana sih?” tanyaku kesekian kalinya. Ia tidak mempedulikan pertanyaanku dan masih terus bernyanyi.

  “Ah~ Sampai!” serunya berhenti di depan sebuah pohon besar. Aku mengernyit lagi.

  “Kau bilang mau piknik?” tanyaku. Ia mengangguk.

  “Naik,” suruhnya menunjuk tangga kayu yang merekat di pohon.

  “Eh?” gumamku. “Naik?” aku menengadah. Di atas ada sebuah rumah kayu. Lampunya menyala remang-remang. Karena penuh rasa ingin tahu akhirnya aku menurut untuk naik.

  Begitu aku masuk ke rumah pohon itu, kulihat kain kotak-kotak berwarna merah tergelar di lantai kayu rumah itu dengan beberapa makanan di atasnya.

  “Ayoo~ makan!” Kyuhyun mengacak-acak rambutku membuyarkan lamunanku. Aku mengikutinya duduk di kain tadi.

  Ia membukakan beberapa kotak makanan dan menyodorkanku potongan-potongan sandwich dan ayam goreng. Lalu ia juga membuka sekotak kentang goreng.

  “Jalmeogetseumnida!” seru kami melahap makan malam itu.

  “Kau senang?” tanyanya sambil mengunyah sandwich keduanya. Aku mengangguk bersemangat.

  “Gomawo!” gumamku. Ia tersenyum lalu mengacak-acak rambutku lagi.

  Setelah menghabiskan makan malam ia mengajakku duduk di beranda, memandang bintang katanya. Dilihat dari rumah ini bintang masih banyak walaupun kota Seol ramai. Tapi bukit ini cukup sepi.

  “Eotteohke?” gumamnya tiba-tiba.

  “Mwo?” tanyaku masih menatap langit.

  “Hari ini kau sudah jadi tinggi, bagaimana?” tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak. Menjadi tinggi memang terasa berbeda. Ya, dari segi pengelihatan. Jauh dari tanah. Dekat dengan langit. Jujur aku suka sekali berada dekat dengan langit.

  “Joha,” jawabku singkat tersenyum masih belum mengalihkan pandanganku.

  “Eolmana?” tanyanya.

  “I~Mankeum!” aku merentangkan tanganku di udara. Ia terkikik lalu mengusap-upsap lenganku.

  “Baguslah,” gumamnya. “Tapi, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan perbedaan ukuran tubuh kita kok! Asyik kan kalau kau lebih kecil seperti itu? Fans tidak ada yang mengira kau pacarku,” ia mencubit pipiku. Aku mengangguk. Iya sih..

  “Kau kan masih bisa tinggi,” lanjutnya. “Lagipula kau punya aku. Aku akan membantumu seperti hari ini kapanpun kau mau lagi, bagaimana?” tawarnya.

  “Tidak usah,” balasku langsung. Aku memeluk lengannya. “Cukup sekali saja aku sudah senang kok!”

  Ia tertawa kecil. “Baiklah,” ia berdiri lalu menarik tanganku. “Sebelum hari ini berakhir aku mau kau lakukan sesuatu,” ia membawaku masuk lagi ke dalam. “Naik~” ia menyuruhku naik ke atas tumpukan kotak.

  Begitu naik di atasnya dan mengahadap ke arah Kyuhyun ia tersenyum padaku.

  “Hwang Minyeon, neol manhi manhi joh- ani, manhi manhi saranghae,” gumamnya sebelum mengecupku. Kali ini aku tidak perlu mendongak saat dicium olehnya. Ini benar-benar satu hari yang unik!

 

One day after…

  Aku memasukkan beberapa koin ke dalam mesin minuman kaleng di lantai dua gedung SM. Hari ini aku lagi-lagi mengirimkan makan siang untuk Kyuhyun.

  “Yo~ pendek! Mana pacarmu? Dengar-dengar kemarin kalian kencan?” panggil seseorang. Aku mendesah.

  “Memang kencan. Kenapa? Iri? Salah sendiri tidak punya pacar. Lagipula mana ada yang mau pacaran dengan jerapah sepertimu? Bweek,” aku menjulurkan lidahku padanya. Tidak kuduga ia malah menendangku ==”

  “Hih! Enak saja! Lihat saja nanti aku cari pacar yang tidak kerdil sepertimu!” ia balas menjulurkan lidahnya.

  “Ahh?!! Aduhh!!” belum sempat kubalas kulihat ia meringis kesakitan karena telinganya dijewer seseorang.

  “Park Chanyeol,” ujar orang itu. “Kau bilang yeoja chinguku apa tadi?” lanjut Kyuhyun. Chanyeol terlihat membulatkan matanya.

  “Oh!! Kyuhyun hyung?!! A-aniya! Hanya bercanda! He-he!” jawabnya meringis.

  “Benarkah?” Kyuhyun bertanya padaku. Menyeringai tipis aku menaikkan pundakku.

  “Bukankah kau lihat sendiri tadi dia bilang apa?” balasku. “Terserah kau mau kau apakan makhluk itu~” lanjutku berbalik akan pergi.

  “Yah!! Yah!! Hwang Minyeon!! Aish!! Mianhae Kyuhyun hyung!” jerit Chanyeol. Terserah. Kyuhyun sendiri yang berurusan dengannya haha.

 

THE END

Update~!!! X3
Geje ya? mian ._.
pelampiasan gara2 tinggi badan gak naik2 (?)
semoga tahun ini tambah tinggi *doa di kuil ala tahun baruan* *telat*
Author pake chanyeol soalnya satu-satunya artis SM paling tinggi yang kepikiran ._. *selain Kris sama Changmin -.- soalnya sifatnya plg cocok*

Enjoy~!!! Comment required!!! :3

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 7]

Sungra’s POV

  Aku duduk mengusap-usap kelopak mataku begitu terjaga dari tidurku. Menguap pelan aku memutar kepalaku ke kanan dan kiri. Cahaya matahari menyusup dari celah-celah tirai jendela ruang tamu yang hampir tertutup seluruhnya.

  Dengan cahaya redup yang kudapat, aku dapat melihat bahwa teman-temanku masih tertidur pulas di sleeping bag masing-masing. Mungkin aku yang bangun paling awal?

  Aku menarik nafas panjang-panjang sebelum akhirnya berdiri melipat sleeping bag-ku dan meletakkannya ke atas sofa supaya tidak ada yang tersandung. Aku melakukan stretching sejenak untuk merenggangkan ototku yang kaku sebelum berjalan perlahan ke arah dapur.

  Kriett…

  Mataku yang awalnya tertutup setengahnya sekarang sudah terbuka penuh. Aku memutar kepalaku ke arah sumber suara dan menangkap sesosok bayangan yang mengendap-endap. Siwon lagi?

  Aku memicingkan mataku ke arah bayangan itu. Badannya tidak seperti Siwon. Sama sekali. Badannya lebih pendek, gaya rambutnya sudah jelas berbeda.

  “Hey,” desisku melemparkan selopku tepat mengenai kepalanya.

  “Aish!!” desahnya. Aku merasakan ia melihat ke arahku sejenak lalu langsung berdiri dan terburu-buru berlari ke ruang tamu. Aneh sekali =A= apa dia Donghae? Kyuhyun? Onew? Sedang apa pagi-pagi begini sudah berkeliaran?

  Aku menaikkan pundakku tak peduli lalu kembali ke dapur mengambil segelas air mineral lau meneguknya. Setelah selesai dengan minumanku, aku berjalan ke counter, mengambil botol susu Sungwon dan membuatkan susu untuknya.

  Begitu sudah pas temperatur air susunya, aku mengocoknya sambil berjalan keluar menuju lantai atas. Setibaku di kamar aku langsung menuju ke arah di mana Sungwon berbaring dan menggendongnya perlahan. Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan mata hitam bulatnya yang menatapku lalu tertawa.

  “Eommaaa~” panggilnya senang. Aku terkikik geli dengan nada suaranya lalu mencubit pipinya gemas sebelum memberikan susu tadi padanya.

 

Author’s POV

  Donghae, Minyeon, Heerin dan Harin berkerumun di meja Kyuhyun. Dengan tersenyum lebar Kyuhyun melayang-layangkan ponsel milik Siwon yang diambilnya semalam.

  “Nah sekarang kita hanya perlu memikirkan bagaimana supaya mereka cepat jadian,” gumamnya melirik ke arah pintu, memastikan Siwon maupun Sungra belum memasuki kelas karena masing-masing sibuk dengan klub masing-masing.

  “Tapi Kyuhyun-ah, kalau gagal bagaimana?” tanya Donghae membenahi letak kacamatanya untuk kesekian kalinya. “Aigoo.. Ada yang aneh dengan kacamataku,” gumamnya. Kyuhyun terlihat menggigit bibir bawahnya setelah mendengar perkataan Donghae.

  “Jinjayo?” balas Minyeon melepas kacamata Donghae. “Ah! Sachon-ah! Kacamatamu tertukar dengan punyaku!!” serunya melepas kacamatanya sendiri yang serupa dengan milik sepupunya itu.

  “Ne? =A= bagaimana-”

  “Puahahahahahaaaa!!!” tawa Kyuhyun yang tertahan langsung membahana mengguncang kelas itu. “Aku menukarnya semalam. Kalian benar-benar saudara yang sama-sama pabo!” ejek Kyuhyun langsung menerima pukulan keras di kepala dari Minyeon dan Donghae, tidak terlupakan juga Heerin.

  “Lanjut ke masalah Siwon dan Sungra,” desis Minyeon.

  “Aish! Kalau kalian pukul kepalaku, otakku yang jenius ini bisa terbalik,” omel Kyuhyun memijit belakang kepalanya. “Kita bagi dua grup oke?” semua mengangguk lalu mereka mulai berbisik-bisik menyusun rencana.

 

Sungra’s POV

  Aku mengetuk-ketuk buku catatanku dengan ujung pensil. Aku mengembungkan kedua pipiku dan membaringkan kepalaku di meja ruang klub sastra. Pagi-pagi begini aku sudah harus mengurus beberapa berkas karena ketua klub tidak masuk. Tapi sebenarnya ada alasan lain aku menyendiri di sini. Masih terpikirkan dengan perkataan Siwon kemarin. Penasaran dengan ‘seseorang’ yang dimaksud.

  Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dia saudaraku, tapi entah kenapa mendengar ia punya ‘orang spesial’ terasa aneh. Seperti ada yang ganjil. Bukan hanya ada – tapi semua terasa mengganjal. Berat sekali rasanya…

  Tuk!

  Sesuatu yang keras menyentuh kepalaku. Mengerutkan alisku penasaran aku membalik arah kepalaku namun tetap terbaring di atas meja. Tepat di depan mataku terpampang jelas sebotol susu coklat.

  Tapi belum sempat kuraih botol itu, botolnya bergeser menjauh, digantikan dengan wajah seseorang yang juga berbaring di meja menghadapku. Ia tersenyum sambil menatapku. Aku hanya mendengus kesal. Dia satu-satunya orang yang ingin kuhindari saat ini.

  “Kenapa mukamu?” gumamnya menepuk pelan pipiku. “Badmood?”

  Aku hanya menghela nafas lalu menutup mataku sebelum membalik kepalaku lagi ke lain arah.

  “Aku mau istirahat,” balasku. Kurasakan ia mendengus kesal lalu beranjak dari tempatnya duduk.

  “Sungra-ya~” ia berpindah tempat ke depanku. “Kau marah kenapa?” lanjutnya sambil meletakan botol susu tadi ke pipiku. Aku hanya diam saja masih terpejam.

  “Kau tidak lapar? Tadi pagi kau tidak sarapan. Nanti-”

  “Aku tidak lapar, Siwon-ah..”

  “Kotjimal.”

  “Sungguh, aku tidak-”

  Kruuukk…

  Aku membuka mataku lalu menggigit bibir bawahku. Bohong sekali kalau aku tidak lapar.

  Kudengar Siwon terkikik lalu  memasang sedotan pada botol susu tadi. “Minumlah,” ujarnya menyodorkan susu itu padaku. Perlahan kuulurkan tanganku untuk meraihnya.

  Dengan menunduk aku meminum susu itu. Memalukan sekali tadi!

  Aku merasakan tangannya menepuk pelan kepalaku. Kuangkat kepalaku menatapnya yang tersenyum saja.

  “Minum yang banyak~” gumamnya. Aku hanya mengangguk pelan. Sekarang lupakan dulu semua masalah tak penting.

 

Siwon’s POV

  Aku membuka lokerku sambil memasukkan buku-buku ku. Aku menghela nafasku sejenak. Ponselku masih belum kutemukan. Padahal ponsel itu bisa membunuh rasa bosanku.

  Aku menyambar buku-buku catatanku untuk ujian minggu depan dan berjalan gontai ke kelas. Mungkin berbincang-bincang dengan yang lainnya bisa menghilangkan kebosananku.

  Aku melongok ke dalam melihat Kyuhyun, Donghae, Minyeon, Heerin, Heechan dan Harin berkumpul sambil mengobrol. Sungra tidak terlihat. Tentu saja, klubnya sedang sibuk.

  “Hey,” sapaku ikut membaur dengan mereka. Mereka terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku. Terurama Kyuhyun yang membelalakan matanya seakan melihat Lee sonsaengnim yang seringkali menghukumnya. Lalu aku mengernyit melihat benda di tangannya. “Kyuhyun, dari mana kau dapat itu?” tanyaku menatapnya tajam. Dia menyembunyikannya di belakang tubuhnya,

  “T-tentu saja abeoji-ku yang belikan!” serunya. Aku mengernyit.

  “Seingatku ponselmu yang ini,” aku meraih ponsel yang tergeletak di meja. “Berikan ponsel tadi padaku,” ia menggelengkan kepalanya.

  “Andwae,” jawabnya. Raut wajahnya berubah tenang. “Ada syaratnya,” kulihat ia tersenyum licik. Aku mengernyit.

  “Apa?” tanyaku.

  “Nyatakan perasaanmu pada Sungra,” jawabnya santai. Aku mematung di tempat.

  “Apa maksudmu?” tanyaku begitu aku sudah mencerna perkataannya.

  “Siwon-ah, kau bisa mengerti bahasa Korea bukan? Haruskah aku menjelaskannya dengan bahasa Jepang?” sindir Kyuhyun dengan santai memainkan ponselku. “Tentu saja maksudnya kau mengatakan kalau kau mencintai Sungra,” lanjutnya. Aku terdiam lagi bergulat dalam pikiranku.

  “Terserah. Ambil saja ponsel itu,” balasku pada akhirnya lalu berbalik hendak pergi.

  “Hm? Kalau begitu biar Donghae saja yang bilang pada Sungra kalau kau menyukainya,” seru Kyuhyun. “Aku ingin tahu reaksinya. Apalagi mendengarnya dari orang lain bukan mulutmu sendiri,” sambungnya. Aku kembali berbalik menghadap mereka.

  “Maumu apa sih, Cho Kyuhyun?” desisku.

  “Terserah kau. Kalau kau tidak mau kusuruh Minho saja yang-”

  “Diamlah!” seruku meraih kerah bajunya. Suasana langsung berubah sepi. “Aku bisa melakukannya tidak usah kau suruh! Kembalikan ponselku!” aku merampas kembali ponselku dari tangannya.

  “Tak perlu sekasar itu aku cuma mau membantu memberi saran,” celetuk Kyuhyun. Aku melemparkan death glare-ku ke arahnya yang ditarik Donghae menjauh.

***

  Sejak hari itu. Entah berapa kali setiap hari Kyuhyun selalu mengingatkanku untuk segera menyatakan perasaanku kepada Sungra. Kalau saja dia bukan salah satu teman Sungra aku sudah memenggalnya dan membakar kepalanya sampai menjadi abu!

  “Siwon~” panggil suara yang baru sekitar sejam yang lalu memanggilku dengan nada yang sama. “Bagaimana? Kau sudah mengatakannya??”

  Aku melirik ke arah Kyuhyun yang sedang mengunyah hamburger dari kantin. “Sudah kubilang tunggu saja waktu yang tepat,” gumamku.

  “Apanya yang menunggu waktu yang tepat? Bukankan sebentar lagi hari ulang tahunnya? Valentine sudah lewat, masa kau mau menunggu tahun depan?” omelnya. Aku terdiam. Benar, sebentar lagi ulang tahunnya Sungra!

  “Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku. Ia tersenyum lebar memamerkan barisan giginya.

  “Tentu saja kau harus membuat sebuah plan untuk menyatakan perasaanmu!” ia menepuk-nepuk punggungku. “Lakukan sesuatu yang unik!” nasihatnya. Aku meliriknya.

  “Lalu kau sendiri?” tanyaku. Ia mengernyit.

  “Apanya?”

  Aku menyeringai. “Kau menyukai Minyeon kan? Aku mengambil ponselmu kemarin,” balasku santai. Ia mematung menatapku. “Benar bukan?”

  Aku berdiri lalu berjalan keluar kelas. Belum sepuluh langkah dari kelas aku mendengar teriakan maniak game itu.

  “CHOI SIWON!!!! JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA!! Aish!! Bagaimana kau bisa mengambil ponselku?!!” teriaknya. Aku hanya tersenyum licik. Lihat saja kau Cho Kyuhyun. Setelah aku selesai berurusan dengan Sungra, kau akan kubalas!

 

Sungra’s POV

  Aku berjalan memeluk tumpukan buku jurnal klub yang dititipkan ketua padaku menuju ke lokerku. Ini sudah lewat jam pulang sekolah tapi aku harus menyelesaikan proyek klub kami berhubung ketua klub masuk rumah sakit. Lorong-lorong sudah sepi. Bahkan kelas-kelas sudah kosong. Mungkin hanya terlihat beberapa siswa bermain basket di lapangan.

  Setibaku di loker, aku langsung membukanya dan mendorong masuk buku-bukuku tanpa basa-basi. Tiba-tiba sepucuk kertas merah muda yang tertumpuk buku-buku tadi menangkap perhatianku. Mengernyitkan alis aku mengulurkan tanganku meraihnya. Sebuah kertas note kecil berbentuk hati.

  “Pulang, ke tempat war barrier.

   Buka kotak berwarna ungu.

    -Siwon”

  Aku mengernyit. War barrier? Di mana?
***
  “War Barrier?” tanya Minyeon sambil menyeruput orange juice-nya. Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil mengaduk-aduk ice mocca-ku.

  “Ne. Aku tidak mengerti maksudnya,” gumamku pasrah. Minyeon menyendok blueberry cheesecake ke mulutnya.

  “Hm.. Kalian sering bermain waktu kecil bukan?”  ia mengarahkan sendoknya padaku. Aku bergeming sejenak sebelum ikut mengangguk. “Di mana kalian biasa bermain?”

  “Mhm… Di.. Ruangan penyimpanan di atap,” jawabku mengernyit. Masa maksudnya di sana?

  “Coba dulu kau ke sana?” ujarnya menyendok cake-nya lagi.

  “Kau yakin? Maksudku, aku sudah lama sekali tidak ke sana,” aku meneguk minumanku. Ia hanya mengangguk.

  “Tidak ada salahnya kan kau coba dulu?”

***

  Setibaku di rumah, aku melemparkan tasku ke atas sofa. Aku melirik ke arah tangga. Benarkah aku harus ke sana?

  Perlahan aku menaikki tangga menuju ke ruang penyimpanan. Tempat ini tak begitu luas. Hanya ada tumpukan kotak-kotak dan kain bekas. Aku mengedarkan pandanganku. Di mana kotak berwarna ungu?

  “Sungra! Sungra!” seru Siwon berlari ke arahku. “Cepat sembunyi! Eomma sedang mencari kita!”

  “Waeyo?” tanyaku polos menggandeng tangannya.

  “Aku memecahkan kaca jendela,” ia cemberut lalu menarik tanganku. “Ayo! Palli!” aku hanya mengangguk dan mengikutiya ke balik lemari di dekat jendela.

  Aku memiringkan kepalaku dan berjalan ragu ke arah jendela, ke balik lemari tempat kami bersembunyi dan bermain. Menyibakkan tirai putih tipis aku menemukan sebuah kotak berwarna ungu seperti yang dituliskan di notes hati tadi. Aku membuka kotak itu dan deretan cokelat berbagai bentuk tersusun rapi. Perlahan seulas senyum terbentuk di wajahku. Setelah itu aku menemukan sepucuk kertas berwarna orange berbentuk hati.

  “Wahh~ Kau menemukannya! Bagaimana cokelatnya? Enak?

   Warna ini mengingatkanku pada koi dan sunset! ^-^ temukan aku!

    -Siwon”

  Aku mengernyit. Koi? Sebenarnya Siwon mau membawaku ke mana sih?

 

To Be Continued…

Annyeong!!!
Lama ya? ._. Mianhae author kira liburan bakal bisa lancar tapi ternyata  banyak urusan ^^v hehehe
Besok nilai UN keluar~~~ doain author lulus dengan nilai memuaskan! Author ga minta nilai sempurna karena author orangnya gak sempurna *apaan sih* cuma author udah berjuang yang terbaik jadi author kepengen setidaknya membuahkan hasil~!! AMIN!!! XD
Next, Happy Birthday to my Piggie Fake Twin, MinGi eonni!!! *nah lo author bawa2 judul*
Okay all! Lanjutannya author gak bisa pastiin kapan tapi segera~~ 😀
Di tunggu ya! Selamat menikmati!!
Buat yang besok liat hasil UN juga, author doain yang terbaik 😉

Gomawo~!!

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 6]

Siwon’s POV

  Perlahan-lahan kubaringkan Sungwon yang sudah terlelap ke kasur. Lalu segera aku keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga. Sudah jam lima sore tapi Sungra belum kembali. Aku berjalan menuju dapur dan mengambil cangkir dari rak. Aku melirik ke arah jendela dapur. Tetesan-tetesan air sebesar biji jagung terbentuk jelas memenuhi kaca jendela. Hujan. Aku menghela nafas lalu pergi menyeduh teh. Membuka kulkas aku langsung menyambar setoples madu dan potongan jeruk lemon. Belum sempat aku menuangkan teh hangat itu ke cangkirku kudengar pintu depan terbuka lalu tertutup diikuti. Tanpa sadar senyum kecil terbentuk di wajahku.

  “Aku pulang~” seru Sungra.

  “Aku di dapur, Sungra-ya,” balasku. Aku berbalik mengambil cangkir satu lagi. “Tunggu saja di ruang tamu! Kubuatkan teh!”

  Begitu kutuangkan seduhan teh ke cangkir-cangkir tadi asap-asap putih mengepul kecil. Kumasukkan sesendok madu ke tiap-tiap cangkirnya sebelum kucampur dengan air lemonnya.

  Aku berjalan ke ruang tamu dengan kedua tangan memegangi cangkir panas. Kulihat Sungra duduk memeluk lutut sambil menggosokkan kedua tangannya. Sebuah handuk kecil membungkus sebagian rambutnya sedangkan selembar selimut tebal sudah menyelubungi tubuh mungilnya yang menggigil kecil di sofa. Aku menempatkan diriku di sampingnya lalu menyodorkan satu cangkir teh padanya.

  “Gomawo,” gumamnya meniup-niup tehnya.

  “Chuwo?” tanyaku yang hanya direspon dengan gelengan. Aku mendesah pelan lalu mengulurkan tanganku ke arah handuknya. Pelan-pelan kuusap-usap rambutnya supaya kering.

  “Hati-hati flu. Setelah ini makanlah buah dan sayur yang banyak,” tegurku. Ia hanya mengangguk kecil.

  “Hatchii!!!” aku tersenyum kecil melihat ekspresinya yang lucu.

  “Aigoo.. Kau ini,” aku meraih tisu di meja sampingku. Menunduk ke arahnya, kuusapkan tisu pada hidungnya. “Kyeopta.. Hahaha!”

  Ia cemberut sambil menggerutu tak jelas. Aku hanya tertawa melihat reaksinya.

  “Oh iya,” gumamku begitu tawaku terhenti. “Kau tadi pergi dengan siapa?”

  “Ohh… Aku? Eh?? Memangnya kau melihatku? Kau juga pergi ke Myeongdong? Lalu Sungwon kau ajak?? Ah… Kenapa kau tidak memanggilku? Setidaknya aku tidak sendiri dengan dua ‘babo’ itu,” omelnya. Aku memiringkan kepalaku bingung. Dua?

  “Dua?” tanyaku. Kurasa aku hanya melihat satu.

  “Tentu saja dua. Atau kau melihat kami pergi berlima? Tadi kami berpisah dijalan, lalu-”

  “Chamkkaman! Maksudmu kau tidak hanya pergi dengan satu orang?” tanyaku lagi. Kini giliran dia yang mengernyit.

  “Tergantung sih….”

  “Tergantung apa?” tanyaku tak sabaran. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada dagu.

  “Tadi kami pergi berlima. Aku, Jeongmin sunbae, Onew sunbae, Babo Eli dan Babo Myungsoo,” gumamnya terhenti. Aku mengernyit. Kenapa dia pergi dengan begitu banyak namja?

  “Lalu?”

  “Lalu kami membagi dua kelompok untuk belanja keperluan. Aku pergi dengan Myungsoo dan Eli sedangkan Jeongmin dan Onew sunbae pergi ke tempat lain,” jelasnya. “Lalu aku dan Myungsoo pergi ke Milkshake stand selagi Eli menunggui barang belanjaan kami. Lalu kami berkumpul berlima untuk makan siang. Terus tiba-tiba Howon sajangnim menyuruh yang lainnya pulang meninggalkan aku dan Eli beserta barang belanjaannya.”

  Chamkkaman! Chamkkaman! Aku jadi tidak mengerti apa-apa. Belanja keperluan? Howon sajangnim?

  “Belanja untuk keperluan apa? Sapa itu Howon sajangnim?” tanyaku langsung.

  “Oh? Kau tidak tahu aku bekerja sambilan? Aku, Harin, Heerin, Minyeon dan Heechan masing-masing punya pekerjaan sambilan. Harin di stan milkshake, Heechan di restoran ayahnya, Heerin di stan Bubur, Minyeon bekerja dengan restoran milik sachonnya, aku sendiri bekerja di cafe,” jawabnya. Sungra bekerja di cafe?!!

  “Kerja sambilan??? Buat apa?? Maksudku… Aku tahu Harin bekerja di stan milkshake karena kami bertemu tadi siang, tapi kau?”

  “Aku kan harus membiayai hidupku sendiri, apalagi sekarang ada Sungwon,” jawabnya lagi.

  “Bukannya kau selalu dikirimi uang bulanan oleh abeonim dan eomeonim?” aku masih belum berhenti melontarkan pertanyaan.

  “Aku menyukai pekerjaanku dan tidak merasa keberatan dengan itu. Tidak salah kan?” ia cemberut kesal. Baru saja aku akan membalas ucapannya saat bel berbunyi. Aigoo… Siapa sih datang jam segini?!!

  Aku dan Sungra berjalan ke arah pintu. Begitu kubuka aku langsung tergelak tak percaya.

  “ANNYEONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!” sapaan yang lebih cocok disebut sebagai sorakan itu terdengar kencang sekali diikuti senyuman aneh delapan orang di hadapanku.

  “Neoheui mwolhago isseo?!!!” aku mengernyit.

  “Ey… Jangan begitu Siwon-ah. Kami ke sini untuk berkunjung,” jawab Harin.

  “Ne. Kami sering kok berkunjung bahkan menginap di sini,” sambung Minyeon mengiyakan. Satu per satu mereka masuk membawa bawaan masing-masing.

  Begitu aku menutup pintu dan menghampiri ruang tamu, terlihat lantainya sudah tertutupi sleeping bag yang berjumlah tidak sedikit.

  “Kalian serius mau menginap?” tanyaku masih tak percaya.

  “Tentu saja. Memangnya kami mau menggali harta karun di sini?” balas Minyeon tak mempedulikanku. “Oh, Sungra-ya, mana Sungwon?”

  “Tidur, di atas,” jawab Sungra ikut merapikan ruang tamu.

  “Hmm… Bau citrus,” Key mengendus-endus pelan. “Kau membuat teh citrus? Atau lemon tea?? Tapi baunya agak manis….”

  “Madu,” jawabku menunjuk gelas di meja. Mulutnya membentuk bulatan sambil mengangguk-angguk.

  “Kalian mau minum juga? Akan kubuatkan. Oh iya! Sekalian makan malam juga ya? Kalian mau makan apa?” tawarku membantu membereskan meja.

  “Bagaimana kalau makanan yang hangat-hangat saja? Ini kan sedang hujan,” saran Sungra meraih buku resep di rak.

  “Kurasa hujannya tidak akan berhenti sampai besok siang,” Kyuhyun menambahkan. “Aku lapaaar~~” ia menepuk-nepuk kepala Minyeon.

  “Mau ayam???” tawar seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mengernyit. Dia siapa?

  “Onew sunbae, kau tahu resep ayam yang enak?” tanya Sungra. Pria chubby yang dipanggil Onew tadi mengangguk semangat. Dalam sekejap rumah ini berubah jadi restoran. ==

  Kami pun beramai-ramai memasuki dapur kecuali satu orang – Kyuhyun. Aku, Sungra, Key, Heechan, Onew dan Minyeon membagi-bagi tugas menyiapkan bumbu dan memasak. Heerin dan Donghae mencuci piring – kurasa mereka tidak akan hanya mencuci piring. Dan Harin yang menyiapkan minumannya.

  “Ya! Ya! Kenapa aku tidak boleh masuk??” protes Kyuhyun bersandar di ambang pintu.

  “Tidak boleh. Kau ingat kan terakhir kali kau menyentuh kompor di restoran oppa-ku lalu kami harus membeli kompor baru?” balas Minyeon yang sedang memotong-motong sayur.

  “Aku kan tidak tahu,” gerutu Kyuhyun cemberut lalu duduk di meja makan.

Kyuhyun’s POV

  Aigoo menyebalkan sekali Minyeon ini! Setidaknya izinkan aku ikut membantu memotong sayur saja cukup. Hiks..

  Aku menghela nafas lalu membaringkan kepalaku di atas meja menghadap counter dekat pintu. Sebuah benda kecil menangkap perhatianku. Aku pun tersenyum licik. Tanpa basa-basi aku menyelinap ke counter itu lalu meraih benda kecil itu. Ponsel Siwon~ *evil smirk*

  Dengan mudahnya, begitu kutekan salah satu tombol layar ponsel pun menyala. Senyumku melebar. Siwon hyung babo! Ia tidak mengunci ponselnya! Aku berjalan pelan keluar dapur lalu mulai menginvasi ponsel Siwon hyung.

  Aku membuka galeri miliknya, dan salah satu folder mengundang rasa penasaranku.

  ‘Nae sarangi’

  Aku sudah berusaha menahan tawaku melihatnya. Siwon hyung punya yeojachingu?? *evil grin*

  Deretan foto tak asing terpampang berjejer-jejer di layar begitu kutekan tombol buka. Tak perlu waktu lama untuk mengenalinya karena foto-foto itu tak lain tak bukan adalah foto ‘kembarannya’ sendiri…

  Lim Sungra.

  Mulutku menganga lebar. Woa.. Woa.. Woaaa….!!! Siwon hyung menyukai-eh, maksudku mencintai Sungra? Aku harus tanya langsung dengannya nanti!!

  “Huakakakakka!!!!” tanpa sengaja tawaku lepas sendiri.

  “Kyuhyun-ah, kau masih waras?” pekik Heerin dan Harin dari arah dapur. Aku langsung menutup mulutku dan menyembunyikan ponsel Siwon hyung di sakuku, waspada jika ketahuan. Aku melirik ke arah dapur. Mereka masih sibuk ternyata.

  Begitu bernafas lega kukeluarkan lagi ponsel hyung. Aku menatap ponsel itu lekat-lekat begitu sebuah ide ‘evil’. Ah! Tak salah kalau aku mendapat julukan evil! Bentar lagi akan kuganti jabatan evil menjadi cupid~!

Author’s POV

  “Kyuhyun!! Makanan sudah siap!! Kalau kau tidak mau kami menghabiskannya tanpa menyisakan untukmu cepatlah kemari!!” seru Sungra meletakkan pot berisi sup hangat di meja makan. Kyuhyun pun langsung muncul dari balik pintu.

  Semua mengambil tempat duduk masing-masing meskipun harus ‘berdempet-dempet’an.

  “Jalmeogetseumnida!” seru mereka bersamaan. Hidangan-hidangan hangat itu mengepulkan asap-asap putih yang membawa berbagai aroma sedap.

  “Ahh~ massiseoyo!” gumam hari dengan mulut penuh makanan.

  “Tentu saja, Harin-ah. Kau selalu berkata begitu setiap kali kau menginap di sini,” Key mencubit pipinya pelan.

  “Hey, Key jangan lakukan itu sekarang, kalau mau pacaran nanti saja,” celetuk Donghae. Melahap tumis seafood di hadapannya.

  Mereka semua saling bercerita bersenda gurau sepanjang makan malam. Suasananya memang begitu hangat. Rumah yang biasanya sepi, hanya ditinggali Sungra sendirian, sekarang menjadi ramai meriah.

***

  “Ah~ sekarang kita ngapain ya?” Heerin merenggangkan otot-ototnya setelah membereskan piring. Yang lain pun ikut membaur ke ruang tamu dan duduk di atas sleeping bag masing-masing sambil memeluk bantal.

  “Cerita seram!!” seru Sungra dan Minyeon girang.

  “Andwae!!!” tolak Harin terang-terangan lalu memasang headset. “Aku tidak mau dengar..”

  “Yahh~ tidak asyik dong~”

  “Sudahlah~ ayo kita mulai!” ajak Siwon. “Kita sambung menyambungkan cerita seram saja!”

  “Geurae. Kau mulai duluan!” celetuk Kyuhyun berbaring santai. Mereka duduk membentuk lingkaran.

  “Baiklah,” gumam Siwon. Ia berdeham sejenak lalu menatap tiap-tiap temannya dengan serius. “Saat aku masih di Tokyo – seperti yang kalian ketahui, banyak sekali legenda-legenda seram dan juga tempat-tempat mengerikan.”

  “Suatu malam, temanku pergi ke resort pamannya di Hokkaido,” lanjutnya. “Resort itu terkenal dengan keangkerannya, selain itu juga merupakan bangunan berumur dan katanya pernah terjadi pembunuhan.”

  “CUT!!” seru Kyuhyun mengangkat tangannya. Ia tersenyum aneh lalu memutar botol yang sedari tadi dibawanya. “Ayo ganti giliran menyambung ceritamu!”

  Diputarnya botol itu sampai mulut botolnya menunjuk pasti ke arah Donghae.

  “Na??” Donghae menunjuk dirinya sendiri. Ia menghela nafas sejenak. “Ia memberanikan diri untuk menginap di sana.”

  “Tapi dari awal ia melangkahkan kaki ke dalam hotel itu, tercium bau-bauan aneh dan terdengar bisikan-bisikan walaupun lobby hotel tidak begitu penuh,” ia mulai mengecilkan suaranya. “Hari pertama ia menginap, malamnya ia tidak bisa tidur. Suara detikan jam tidak terdengar normal. Terkadang berhenti dan berjalan sangat lambat, namun setelah itu detikannya menjadi sangat cepat melebihi detakan jantungnya yang tak karu-karuan, dan tiap suara jam itu sudah mencapai batas kecepatan yang tak wajar itu jendela kamarnya akan terbuka perlahan dengan suara decitan keras..”

  “Cut!” seru Kyuhyun mendapat pukulan di kepala oleh Minyeon. “Aish!! Wae geuraeyo?!!”

  “Yah! Kau itu membuat suasananya tidak seram babo!!” desisnya. Kyuhyun hanya memanyunkan mulutnya.

  Botol tadi berputar di lantai dan melambat menunjuk tepat ke arah Key.

  “Hmm…,” ia bergumam pelan sebelum memulai ceritanya. “Tiba-tiba saat jarum jam menunjuk ke angka dua belas…”

  Ia menggeser duduknya mendekati Harin yang memejamkan kedua matanya. Ia tersenyum menyuruh kami diam sebentar.

  “Lalu jam itu berhenti berdetik. Sepi sunyi, namun mencekam,” ia mulai mendekat ke Harin yang sepertinya tidak sadar dengan tingkah laku Key. Perlahan-lahan Key menyentuh tali headset Harin. “Tiba-tiba….”

  SRET..

  “Tiba-tiba jendela terbuka dengan satu hentakan keras dan terdengar jeritan melengking dan begitu ia membuka matanya ia melihat sesosok bermata merah darah dengan rambut tergerai lurus sepunggung menatapnya tajam dan belasan bayangan asing lainnya melayang-melayang tak beraturan dengan cepat mengelilingi ruangan gelap itu!!” ucap Key penuh penekanan di telinga Harin dengan kecepatan maksimum. Harin begitu merasa headsetnya terlepas dan mendengar hal-hal yang ‘menakutkan’ baginya membuatnya mematung pucat di tempat. Begitu ia berhasil mencerna omongan Key barusan ia langsung menjerit dan memukuli lengan Key.

  “Kyaaaaa!!!! Yahh!!! Neon mwoya?!! Key-aaaah~~!!! Huweeee!!” pekik Harin memeluk lengan Key erat-erat sambil memukulinya. Key yang dipeluk hanya tersenyum puas.

  “Aahh~ arayo! Harin-ah! Jagan tertipu dengan Key! Dia itu cuma ingin kau peluk!!” celetuk Minyeon melirik Key dengan pandangan menuduh.

  “Ahh… Geuraeyo?? Key, kau suka ambil kesempatan pada Harin ya??” goda Sungra. Suasana ruangan itu makin ramai walaupun sudah bercerita seram.

Sungra’s POV

  “Jebaaaaaaaal~ kembalikan PSP-ku Minyeon-ah~! Jangan diberikan pada Donghae! Nanti rusak!!” rengek Kyu ribut sendiri dengan Minyeon, Donghae dan Heerin.

  “Andwae! Kalau kau main game nanti yang lain termasuk aku hanya kau suruh duduk menonton kau berteriak seperti orang gila,” balas Minyeon berdiri menjauh dan menyelipkan PSP hitam milik Kyuhyun ke dalam sleeping bag-nya. “Sungra-ya, kau punya permainan? Aku bosan,” Minyeon beralih ke arahku. Aku hanya menaikkan pundakku.

  “Eobseo,” jawabku singkat.

  “Ah! Aku punya ide!!” seru Donghae setelah berjeda beberapa detik. “Aku punya permainan! Mau coba ‘forehead wrestling’?? Aku diajari temanku, Byunghee,” jelasnya. Kami mengernyit. Forehead wrestling?

  “Ige mwo?” tanya Siwon. Donghae hanya menyengir kuda. Ia menyeret Heerin yang terbingung-bingung lalu ia sendiri duduk di hadapan Heerin.

  “Jagiya~ menunduklah~” rayu Donghae. Aku dan yang lainnya hanya menggeleng pasrah. Ckckck…

  Heerin dengan kepala masih penuh tanda tanya pun menurut. Ia menunduk sedikit. Donghae pun ikut menunduk dengan terkekeh pelan. Pelan-pelan Donghae mendorong keningnya ke kening Heerin.

  “Nah, nanti yang jatuh atau mundur sampai dinding dia kalah dan harus menerima ttak-bam!” sambung Donghae. Huh? Mainan apa ini?

  “Yah! Yah! Lee Donghae, kau pikir kita kerbau? Sapi? Badak? Rusa? Permainan apa itu?” ejek Heechan. Aku mengangguk setuju.

  “Jangan tanya padaku! Tanyakan pada Byunghee! Dia yang mengajariku~” balas Donghae masih dorong-dorongan dengan Heerin. Mau sampai kapan ini baru berakhir? ==

Heerin’s POV

  Aku terus melihat ke arah lantai supaya tidak bertemu pandang dengan mulgogi babo-ku itu. Sungguh! Aku heran kenapa dia berteman dengan orang aneh macam…siapa yadi namanya? Byunghun? Byung..hee?

  “Heerin-ah~” panggil Donghae dengan suara direndahkan membuatku tersadar dari lamunan. Spontan aku mengangkat pandanganku menatap kedua mata hitamnya. Ia tersenyum manis seperti anak kecil. Pipiku langsung memerah mengingat posisi kami yang dekat dengan kening saling menempel.

  “Saranghae~yoo~~” gumamnya pelan dengan suara yang lucu. Aku hanya diam menatapnya.

  BRUK!

  Aku menutup kedua mataku begitu merasa punggungku terbentur lantai keras yang dingin.

  “Aku menang~~!!!!” sorak Donghae. Aku membuka mataku dan melihat Donghae tepat berada di atasku.

  “Eyy~ Donghae-ya, jangan kira kami tidak lihat tadi! Kau curang tahu! Kau merayu Heerin sampai merah begitu,” celetuk Onew menarik kerah kemeja Donghae dari belakang sambil tertawa lepas.

  Lee Donghae! Lihat saja kau nanti! Aku akan melapor pada Abeonim dan Eomeonim kalau tingkah laku anak bungsu mereka ini perlu diperbaiki!

Sungra’s POV

  Suara tawa memenuhi riang tamu melihat Heerin kalah telak oleh Donghae. Lucu sekali!

  “Bagaimana kalau Siwon hyung mencobanya dengan Sungra,” aku langsung terdiam mendengarnya. Aku melirik ke ‘makhluk’ di samping Minyeon yang sedang tersenyum lebar seakan idenya adalah ide terbaik di seluruh dunia. Aku menyipitkan mataku ke arahnya berusaha mengatakan ‘aku akan membunuhmu!’

  “Kyuhyun-ah, kau bodoh atau idiot?” tanya Minyeon memukul belakang kepala Kyuhyun lagi. Sepertinya sekali lagi ia memukulnya, kepala Kyuhyun itu akan pecah ._.

  “Siwon dengan Sungra badannya jauh besar Siwon begitu pasti menang Siwon lah,” lanjutnya. Aku mengangguk setuju untuk menghindar dari permainan ini.

  “Aku tidak mau keningku hancur karena permainan ini ditambah lagi ttak-bam karena kalah,” tambahku. Aku melirik ke arah Onew sunbae, “Lagipula aku yakin tak bisa selamat dari ttak-bam Onew.”

  “Aigoo~ ayolah~ kalau kau memainkannya dengan Siwon hyung, kalian bisa sangat deka-” belum selesai Kyuhyun bicara dia sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sangat apa?

  “M-maksudku….ngg… Setelah forehead wrestling nanti kepalamu akan kebal dari ttak-bam Onew!” serunya. Aku mengernyit. Alasan yang aneh.

  “Itu tidak mungkin Kyuhyun-ah. Kau lupa kau sampai demam dan pusing setelah mendapat ttak-bam dari Onew?” balas Heechan. Kyuhyun hanya tertawa hambar.

  “I-itu..pokoknya aku mau lihat Siwon vs Sungra~!!” rengeknya mengalihkan topik.

  “Tapi Siwon pasti menang,” elakku.

  “Bagaimana kalau Siwon yang menang, aku dan Kyuhyun mendapat ttak-bam, lalu kalau Sungra yang menang, Minyeon dan Heerin yang mendapat ttak-bam?” tawar Donghae.

  “Yah?! Mwoya!! Shireo!!” Minyeon dan Heerin menutupi kening mereka.

  “Jebaaaal~”

  “Andwae! Bagaimana kalau kai-bai-bo saja?”

  “Tapi nanti aku dan Donghae kena juga kan kami rugi!”

Three minutes later…

  Setelah menunggu mereka berdebat akhirnya sudah ditentukan : Aku kalah, Kyuhyun dan Donghae tumbalnya; Siwon kalah, Key dan Onew tumbalnya.

  “Aku merasa ini tidak adil,” desah Key yang kalah suit.

  “Terima saja. Hidupmu sudah digariskan begitu,” balas Heechan santai.

  “Ayo mulai saja sekarang!” seru Minyeon dan Harin.

  “Aigoo….haruskah?” desahku duduk menghadap Siwon.

  “Tentu saja! Kami sudah susah-susah menentukan mangsa!” paksa Harin.

  Aku menghela nafas sejenak lalu menatap Siwon di hadapanku yang juga balik melihatku. Ia menaikkan pundaknya pelan lalu mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku.

  Dugeun..

  Dugeun..

  Aku tak bisa merasakan keberadaan jantungku begitu keningnya menempel dengan keningku. Here we go….stupid forehead wrestling -_-

  “Hey Sungra!! Kau tidak boleh kalah!! Kami tidak mau kening kami pecah!!” sorak Donghae dan Kyuhyun.

  “Onew-ah, kita hanya perlu menunggu hasil. Siwon pasti menang~” ujar Key santai.

  Aku berusaha sekuat tenaga menahan kepala Siwon. Aigoo…. Siwon berat T^T

  “Hey!” desisku pada Siwon. Ia melirik ke arahku. “Kau makan apa sampai kepalamu keras sekali?!! Aku bisa gegar otak tahu!” omelku pelan. Ia hanya tersenyum licik.

  “Kau akan kalah telak~” balasnya santai. Aku menggembungkan pipiku sebal. Tidak lama setelah itu aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel di pipiku.

  S-siwon?!!

  BRUKK..

  Aku merasakan wajahku memanas. Benar saja, dalam beberapa detik aku langsung jatuh di lantai. Siwon tersenyum bangga sedangkan aku masih dalam ‘shock state’.

  “Oh sudah? Sungra ya yang kalah??” tanya Onew. Untung mereka tidak melihat.

  “Nahh!!! Donghae! Kyuhyun! Kalian tidak bisa menghindar lagi!” seru Onew dan Key bersemangat.

***

  Lampu ruang tamu sudah dimatikan. Aku dan Siwon ikut tidur di ruang tamu setelah memastikan Sungwon baik-baik saja. Aku menghela nafas lalu melirik ke kananku dan mendapati Harin tertidur pulas. Aku melirik ke kiriku dan sama, Minyeon sudah ke alam mimpi bersama Kyuhyun.

  Sudah dua jam berlalu sejak kami memutuskan untuk berhenti bermain dan tidur. Tapi aku sama sekali tidak merasa mengantuk. Aku bangkit berdiri lalu berjalan ke arah dapur untuk minum.

  Trekk…

  Suara decitan dalam gelap itu membuatku tersentak kaget lalu berdiri kaku di tempat. Jelas saja aku merasa kaget. Malam-malam begini kemungkinannya kecil sekali kalau masih ada yang berkeliaran.

  Krieeet….

  Aku menggeser arah berdiriku perlahan tanpa suara. Apa itu? Tikus? O.o

  Aku mencengkeram pinggiran counter kuat-kuat, mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar dapur. Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu berbalik ke arah pintu.

  Baru saja aku melangkahkan satu kaki, aku sudah bertabrakan dengan sesuatu yang tinggi besar sampai aku jatuh terduduk di lantai. Aku menggigit bibir bawahku menahan untuk tidak menjerit. Ini bukan tikus!!

  Sekarang aku bisa melihat jelas bayangan hitam tinggi menutupi pandanganku. Aku menunduk. Eotteohke?!! Bagaimana kalau dia pencuri?!!

  “G-gwaenchanha?” bisik bayangan itu lalu berjongkok. Aku mengernyit. Pencuri apa yang bertanya seperti itu pada seseorang yang mengganggu kegiatannya?

  Aku dia tak berani menjawab. Suara itu terdengar familiar. Tiba-tiba kurasakan tanganku digenggam dan aku lebih merasa familiar lagi.

  “Kau Sungra ya? Kenapa tidak tidur? Gwaenchanhayo? Kau tidak terluka?” tanyanya dengan nada cemas.

  “S-siwon ya?” tanyaku pelan, takut salah orang.

  “Tentu saja. Kau kira siapa? Minho?” balasnya. Nada bicaranya seakan tidak senang dan kecewa.

  “Aniyo,” aku menggeleng walaupun tahu ia tidak bisa melihatku dengan jelas. “Kukira…kukira…..,” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

  “Kau sedang apa di sini?” tanya Siwon membantuku berdiri lalu ia menyalakan lampu dapur. Kulihat ia melongok keluar melihat manusia-manusia tadi berserakan di luar.

  “Aku mau minum,” jawabku singkat.

  “Susu atau air putih?” tanyanya mengambilkan gelas.

  “Susu,” jawabku singkat. Ia mengambil sekotak susu dari kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelasku.

  “Kau tidak bisa tidur?” tanya Siwon menyerahkan gelas itu padaku. Aku hanya mengangguk pelan sambil meneguknya.

  “Kau sendiri sedang apa di sini?” balasku.

  “Aku mencari ponselku,” gumamnya mengusap-usap tengkuknya sambil melirik ke arah counter. “Aku tidak melihatnya sejak kita memasak tadi. Padahal aku yakin sekali kalau ponselku ada di counter,” sambungnya.

  “Mungkin saja kau lupa, lalu kau tinggal di kamar,” balasku setelah membantunya mencari. Ia menaikkan pundaknya.

  “Mollayo. Tapi feelingku mengatakan kalau ponselku ada di sekitar sini,” ia membuka satu persatu laci dapur memunggungiku.

  “Cari besok saja. Kau tidak sedang menunggu telepon kan?” tanyaku. Kemudian tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit di pikiranku. “Menunggu telepon dari seorang yeoja misalnya?” tanyaku ragu. Ada sesuatu yang mengganjal terasa di hatiku. Seperti….takut?

  “Aniyo,” jawabnya. Aku menghembuskan nafas lega yang sejak tadi tertahan. “Tapi ada sesuatu yang penting di dalamnya. Tentang seseorang yang penting bagiku.”

  Seseorang…….yang penting?

  “Sungra-ya,” panggilnya berbalik menghadapku. “Eh? Kau menangis? Kenapa?”

  Aku tersentak dan merasakan wajahku memang basah karena air mata. Kenapa aku menangis?

  “A-aniya. Aku mengantuk. Kau tidak melihatku menguap tadi? Aigoo… Aku lelah sekali Siwon-ah, aku kembali dulu,” elakku menghapus air mataku. Kuakui suaraku terdengar sedikit kacau bahkan di telingaku sendiri. Aku berbalik dan kembali ke sleeping bag-ku.

  Menahan isakkan, aku menangis dalam sunyi. Kutenggelamkan kepalaku ke dalam selimutku.

  Kenapa?? Kenapa aku? Kenapa juga harus Siwon?

  Aku mengeratkan cengkramanku di ujung kain yang kugunakan bersembunyi dari kenyataan itu.

  Kenapa aku harus jatuh cinta padanya?

To Be Continued…

Author is back~!!
Hahaha.. *gak ada yang nunggu juga*
Sorry kalo update nya lama~
Pengen update akhir kemaren2 tapi keasikan main ama adik .___.v *ceburin sumur*
Update nya kepanjangen + gak penting kayanya >.< mianhae kalo gak bagus~!!
belakangan nggak ada komen juga ;~; *nangis di pojokan* pada ga suka incest kah?
kalo ada yang kurang minta saran ya ^-^
jangan jadi silent readers >,<

Gomawo~~
Yang komen ntar ketemu bias~!!! *ngaco ah nih author*

Even I Felt Your Pain [Part 4 : ‘It’s Real… I Could Feel It’

‘It’s Real… I Could Feel It’

Kyuhyun’s POV

  Aku berjalan di sekitar taman sekolah sambil terus memikirkan sikap Minyeon yang aneh belakangan ini. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Ia seperti sedang menjauhiku.

  Aku mendesah pelan. Tiba-tiba aku melihat sebuah pantulan cahaya dekat semak-semak. Dipacu rasa penasaranku, aku berjalan kesanadan menemukan sebuah kalung. Dadaku langsung terasa sesak. Ya, ini kalung yang kuberikan kepada Minyeon. Kenapa ada di sini? Apakah ia membuangnya? Tapi kenapa?

  Baru saja aku berniat mencarinya, bel sekolah berbunyi. Aku mendesah pelan lalu berjalan gontai ke kelas.

***

  Aku bertopang dagu dengan wajah datar. Pelajarannya semakin lama semakin membosankan. Perlahan kuputar badanku ke belakang melihat Minyeon yang duduk di belakangku sedang tertidur lelap.

  Senyum tipisku mengembang begitu melihat wajah manisnya yang terlihat polos begitu. Tanganku menyingkirkan poninya yang menutupi wajahnya itu. Aaaahh~ ingin sekali aku mencubit pipinya.

  “Sa-rang-hae,” bisikku menepuk pelan pipinya lalu kembali berbalik ke depan. Tiba-tiba aku teringat soal kalungnya. Aku mendesah pelan. Lebih baik jangan tanyakan sekarang.

After school…
Minyeon’s POV

  “Aish! Di mana sih? Kok tiba-tiba hilang?” gerutuku menelusuri setiap bagian dari taman sekolah. Aku sudahlimabelas menit berjongkok-berdiri mencari kalungku sampai kakiku pegal semua.

  Tes.. Tes..

  Aku mendongak menatap langit yang mulai gelap dan menitikkan air. Gerimis? Aish!

  “Aaa!! Pokoknya harus kutemukan!” desahku kembali berjongkok mengintip ke balik semak-semak walaupun sudah mulai terguyur air.

  Hujan memang tak pernah bersahabat. Semakin lama semakin ganas. Kuku-kuku ku sudah membiru kedinginan. Tubuhku setengah menggigil. Aku masih serius membongkar hampir setengah dari taman ini.

  “Minyeon-ah!” seru seseorang tak kupedulikan. Tiba-tiba aku tak terguyur air hujan lagi. Aku langsung melihat sekelilingku. Tapi masih hujan kok.

  “Minyeon-ah?!” panggil orang di belakangku. Aku langsung mendongak melihat Kyuhyun sudah berdiri membelalak menatapku sambil menaungiku dengan payung. Aku langsung merasa pusing.

  “M-Minyeon-ah! Kau mimisan!” serunya tepat sebelum aku kehilangan kesadaranku.

***

  Aku membuka mataku perlahan. Cahaya remang-remang terlihat dari sisi ruangan. Ugh.. Ini di mana?

  “Sudah bangun?” aku langsung memutar kepalaku ke arah sumber suara. Kyuhyun duduk di tepi kasur yang sedang kutempati sekarang ini. Ia menyentuh keningku. “Johta. Panasmu menurun,” ia tersenyum mengelus-elus kepalaku.

  “Aku di mana?” tanyaku menatapnya ragu. Aish! Ini pertama kalinya aku merasa tidak akrab dengannya.

  “Kamarku,” jawabnya. Aku mengernyit berusaha mengingat kejadian di sekolah tadi. Aku langsung melirik ke arah jam dinding.

  “Hah?! I-ini sudah malalm?!” seruku terkejut. Jam 11 malam??! Pingsanku lama sekali!

  “Istirahatlah. Aku sudah bilang pada Donghae,” ujarnya membuyarkan lamunanku. Aku terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.

  Baru saja aku akan kembali tidur, kurasakan Kyuhyun menahanku. “Minyeon-ah,” panggilnya. Aku hanya mengernyit heran.

  “Hng?” gumanku. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain.

  “Kau…..membuang kalung dariku?” tanyanya tanpa melirik ke arahku sedikit pun. Aduh! Eotteohke?!

  “K-Kyuhyun-ah….aku..aku tidak sengaja,” jawabku pelan. Suananya menjadi hening. Aku tak berani bergerah se-inchi pun.

  “Minyeon-ah,” gumamnya memecah keheningan. Aku hanya diam tak berani menjawab. Ia kembali melihat ke arahku.

  “Kalau kau memang tak senang ada aku di sisimu, katakan saja. Aku akan pergi, aku bisa menghilang dari kehidupanmu, aku janji. Tapi aku ingin kau tahu. Ingatlah, aku akan selalu mencintaimu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik tanganku dan meletakkan kalungku yang hilang. Sedetik kemudian ia langsung berdiri dan berjalan keluar.

  Deg!

  Tiba-tiba kurasakan sakitku menjadi-jadi. Seperti ada duri yang tertancap terlalu dalam. Aku langsung berdiri dan berlari mencarinya.

  “Kyuhyun-ah?!” seruku. Dia sudah pergi. Aku langsung melesat keluar rumahnya.

  “Aish! Hujannya belum berhenti!” desahku kesal. Aku memutuskan untuk tetap mencari Kyuhyun.

  “Cho Kyuhyun!!!!!! Eodie??” seruku terus. Diantara guyuran air hujan yang dingin kurasakan air mataku yang hangat membasahi pipiku.

  Aku sudah berlari ke beberapa tempat yang berbeda sampai akhirnya aku berhenti di dekat taman sekolah. Aku berjongkok disanamenunduk menyembunyikan wajahku.

  “Kyuhyun-ah…eodie…?” bisikku terisak. Aku sudah kehabisan tenagaku untuk berteriak memanggilnya.

  Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku mengangkat wajahku melihatnya. Tapi karena mataku masih tergenang air mata, pandanganku tidak begitu jelas.

  “Gwaenchanha?” tanyanya. Aku langsung mengusap air mataku supaya dapat melihatnya dengan jelas.

  “Nugu imnikka?” tanyaku.

  “Jeoneun Nickhun imnida,” jawabnya. Aku mengernyit.

  “Nama apa itu?” tanyaku terus terang. Ia terkikik geli.

  “Thailand,” balasnya tersenyum. Aku hanya mengangguk. “Kamu mencari siapa?” tanyanya kemudian. Aku mendesah pelan.

  Belum sempat aku menjawab ia sudah merogoh sakunya dan menempelkan ponselnya ke telinga.

  “Yoboseyo, Song Qian-ah?” ujarnya membuatku membelalak menatapnya. Song Qian yang…itu?Victoria?

  “Aah, ne. Suruh saja Kyuhyun ke apartemenku,” sambungnya lagi. Aku langsung membelalak lagi. Tidak salah lagi!

  “K-kyuhyun?” tanyaku tanpa sadar. Ia pun kembali melihat ke arahku.

  “Hm? Ne?” tanyanya mengernyit selagi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

  “Kau bilang…..Kyuhyun di apartemenmu?” tanyaku. Ia masih mengernyit.

  “Kau kenal? Ah! Jangan-jangan kau yeojachingunya itu ya?!” serunya menunjukku dengan ekspresi yang tidak dapat di artikan.

  “Bawa aku kesana!! Cepat!” seruku menarik tangannya.

  “Eh?!!”

***

  “Agasshi.. Kau mau masuk tidak?” tanyanya untuk kesekian kalinya. Aku masih terdiam ragu.

  “T-tunggu.. Sebentar saja,” gumamku berusaha menenangkan diri.

  “Agasshi.. Kita sudahlimabelas menit berdiri di sini,” desahnya kesal. Aku pun mengangguk pasrah.

  “Baiklah! Baiklah! Ayo masuk!” ujarku pada akhirnya. Ia pun  membukakan pintunya.

  “Kyuhyun di mana?” tanyaku buru-buru ia menunjuk sebuah pintu di ujung ruangan. Aku langsung melesat kesana.

  “Chamkaman! Agassi! Jangan mas…”

  Klek!

  “……………Hyaaaaaaaa!!!!” aku menjerit sekeras-kerasnya lalu menutup pintu dan berbalik menutupi wajahku. “Nickhun-ssi!! Kenapa kau tidak bilang…….”

  “Aku baru saja mau bilang dia baru akan mandi,” balasnya menaikkan pundaknya. “Setidaknya dia masih pakai celanakan?” ia terkikik geli. Aku hanya mendengus kesal.

  “Ini tidak lucu!” omelku.

  “Masuklah,” suara dari balik pintu mengejutkanku. Aku melirik ke arah Nickhun yang mengisyaratkan padaku untuk masuk. Kubuka pintunya perlahan dan mengintip ke dalam melihat Kyuhyun berdiri disanadan sudah memakai kaos tipisnya.

  “Kau mau apa?” tanyanya datar. Aku menggigit bibir bawahku. Kamar ini terasa dingin sekali mengingat aku masih memakai seragam yang basah sejak tadi.

  “A-aku tidak sengaja…”

  “Kau sudah bilang begitu,” potongnya hendak berbalik pergi. Aku langsung menahan tangannya.

  “Dengarkan aku!” pintaku akan menangis lagi. Ia mendesah pelan lalu menatapku tajam.

  “Apa lagi?”

  “Aku minta maaf. Kumohon. Aku benar-benar tidak sengaja,” pintaku.

  “Kotjimal,” gumamnya. Kurasakan lututku melemas sehingga aku jatuh berlutut di depannya.

  “Mianhae…jeongmal mianhae… Jinsimiya,” tangisku memecah. “Aku…aku hanya…”

  “Kau menjauhiku akhir-akhir ini,” potongnya lagi. Aku kehabisan kata-kataku. “Katakan sebenarnya apa maumu?”

  “Aku…aku minta maaf.. Aku hanya…merasa kau…mengabaikanku akhir-akhir ini. Aku minta maaf..aku benar-benar sal…”

  “Apa maksudmu aku mengabaikanmu?” tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak.

  “Kau terus menyebut-nyebut soalVictoria. Jujur aku….cem..buru,” gumamku pelan. Suasana menjadi sepi. Aku takut. Takut apa reaksinya nanti.

  Tiba-tiba ia menarikku berdiri lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. Nafasku masih tercekat.

  “Bodoh. Untuk apa kau cemburu? Mulai sekarang jangan jauhi aku lagi,” bisiknya di telingaku. Aku terdiam membalas pelukannya. Hangat. Aku memejamkan mataku. Aku lelah.

***

  Aduh..gerah sekali di sini. Aku mempererat pelukanku pada guling……eh?! Kok gulingnya sepertinya berbeda ya?

  “Hnngg…,” gumamku membuka mataku perlahan. Aku bisa mencium bau parfum seseorang. Aku langsung mendongak melihat siluet wajah seseorang. Aku menyipitkan mataku memperjelasnya.

  “Uwaaa!!” seruku terlonjak kaget. Ia langsung menggeliat pelan dan ikut terbangun.

  “Berisik sekali kau ini,” omelnya kesal. T-tunggu! Jadi semalam aku tidak pulang?!

  “Kita di mana??!” tanyaku.

  “Apartemen Nickhun,” gumamnya santai sambil merenggangkan tubuhnya. Ia lalu merangkul pinggangku. “Kau membangungkanku terlalu pagi. Ini masih jam empat,” gumamnya. Aku mendesah pelan dan mendorong kepalanya yang berbaring di pundakku ke belakang.

  “Pemalas! Mandisana!” omelku. Ia cemberut kesal lalu menampakkan puppy eyes-nya.

  “Temani~” gumamnya memohon membuatku spontan mendaratkan kepalan tanganku di kepalanya. “Auwh!”

  “Kau keracunan apa hah?” desisku sebal.

  “Aku hanya bercanda,” ujarnya memegangi kepalanya sambil berjalan ke kamar mandi. Dasar! ==a

  Aku berdiri dan berkeliling kamar melihat-lihat. Pandanganku berhenti pada foto yang terpajang di pigura kecil disana. Aku mulai terkikik.

  “Ternyata waktu Nickhun-ssi waktu masih kecil lucu,” gumamku. Kemudian aku mulai penasaran. Bagaimana tampang Kyuhyun waktu kecil ya? Hahaha..!

  Aku melirik ke sisi meja. Ada ponsel Kyuhyun tergeletak begitu saja. Aku melirik ke arah kamar mandi lalu diam-diam mengambil ponselnya.

  Baru saja aku akan membuka ponselnya suara pintu kamar mandi terbuka terdengar jelas. Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat Kyuhyun yang hanya memakai celana pendeknya.

  “Hyaaaa!!!” seruku berbalik memutar. Tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangku, memelukku erat dari belakang.

  “Kau mau lihat apa?” gumam Kyuhyun tepat di telingaku. Ia masih basah sehingga membuat pundak sampai punggungku ikut basah. Aku melepaskan pelukannya.

  “Eh? Oh.. Erh.. Aku hanya mau lihat-lihat saja,” balasku menunduk. Wajahku pasti memerah panas sekarang. “N-neo..pakailah kausmu!” desisku kesal. Ia malah terkikik dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Spontan aku menutup kedua mataku. Mataku harus dijaga benar-benar kesuciannya! (?)

  Tiba-tiba kurasakan bibirnya yang dingin itu menempel di permukaan bibirku, menggulumnya perlahan. Salah satu tangannya membelai rambutku lembut sedangkan yang satu lagi mengencangkan pelukannya.

  “Saranghae,” gumamnya melepaskan ciumannya. Aku masih menutup mataku. “Hey, hey! Kenapa kau tutup terus matamu?” tanyanya menepuk-nepuk pipiku.

  “P-pakailah kausmu!” omelku kesal. Ia malah terkikik.

  “Hey! Ada lebah di lenganmu,” ujarnya santai perlahan. Aku langsung membuka mataku memeluknya erat.

  “Kyaaaaa!!!” jeritku was-was. Ia malah tertawa lebar.

  “Eobseo,” gumamnya pelan. Aku membelalak akan memukulnya tapi baru tersadar kalau ia masih saja belum memakai kausnya.

  “K-kau genit!! Kau…”

  Ia menarikku langsung kembali ke pelukannya. Aku berusaha mendorongnya tapi dia itu badannya berat sekali. ==a

  “K-kyuhyun-ah..! Lepaskan!” pintaku. Wajahku memerah rona. Jantungku berdegup sekencang-kencangnya. Aku memukul-mukulnya.

  “Aish!” rintihnya merenggangkan pelukannya dan memegangi sebelah dadanya. Aku langsung melihat ke arahnya lalu terdiam mematung melihat bekas jahitan disana. “Kau ini.. Kalau mau pukul pelan-pelan!” desahnya kesal. Aku masih terdiam.

  “Hey?” ia mengacak-acak rambutku. Tanpa sadar kusentuh bekas jahitannya. Ini yang waktu ia menolongku? Pasti…….sakit…

  “I-ini…..gara-gara aku?” tanyaku. Sepi sejenak sampai aku mendengar helaan nafasnya.

  “Itu bukan salahmu. Ingat? Itu kecelakaan. Itu sama sekali bu-kan-sa-lah-mu,” gumamnya. Aku mengangguk lemah.

  “Ne. Mianhae. Goma…”

  “Pssstt… Tidak perlu berterima kasih ^^” bisiknya meletakkan ujung telunjuknya di bibirku. Aku hanya diam menunduk.

  Trrt.. Trrt..

  Ponsel Kyuhyun yang masih kugenggam bergetar. SMS? Dari…siapa?

  “Hey! Kembalikan ponselku!” serunya hendak menyambar ponselnya. Aku langsung menjauhkan ponselnya dan berjalan menjauh.

  “Shireo,” gumamku. Tiba-tiba saja kakiku sudah tidak menapak di lantai lagi.

  “K-Kyuhyun!! Turunkan aku!!” seruku.

  “Shireo,” bisiknya. Aku memukul-mukul tangannya supaya menurunkanku. Untuk kesekian kalinya kupukul akhirnya pegangannya lepas. Aku langsung menahan tubuh supaya tidak jatuh. Untung saja! ==a

  “Nappeuni,” gerutunya. Kemudian aku melihat evil smirk khasnya muncul. Ia langsung merogoh sakuku dan mengambil ponselku.

  “Dapat!” serunya senang.

  “Hyaaaaa!!! Jangan dibuka!” seruku. Ia malah berlari ke atas kasur.

  “Kau boleh membongkar isi ponselku, tapi aku juga mau lihat isi ponselmu,” gumamnya duduk bersila disana.

  “Chamkkaman! Andwae!” aku berusaha menarik-narik ponselku.

  “Aish! Ya! Sedikit lagi aku….”

  Brak!

  Kami memutar kepala kami melihat ke arah pintu kamar yang terbuka. Nickhun sudah berdiri menatap kami aneh disana.

  “K-alian….sedang apa?” tanyanya. Aku kembali melirik ke arah Kyuhyun dan baru menyadari kalau jarak kami tidak lebih dari sepanjang jari kelingking – mengingat sekarang aku sendiri tanpa sadar duduk di pangkuannya. Spontan aku langsung mundur menjauh dan menunduk malu.

  “Tidak apa-apa,” gumamku.

  “Kalian yakin? Kalian mencurigakan,” balasnya. Hey! Apa maksudnya mencurigakan? Ke mana sih arah pembicaraan kami?

Nickhun’s POV
Flashback…

  Ini baru pukul empat tapi aku sudah lapar. Haih.. Menyebalkan. Perutku ini tidak bisa di ajak kompromi.

  Aku pun berjalan setengah sadar keluar kamar. Tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari kamar Kyuhyun.

  “Hyaaaa!!!” seru seseorang dari balik kamar. Itu pasti yeojachingu Kyuhyun. Sedang apa pagi-pagi begini teriak-teriak? Karena penasaran aku menempelkan telingaku pada pintu.

  “N-neo..pakailah kausmu!” serunya lagi. OMO?! Maksudnya Kyuhyun tidak memakai bajunya?!

  “P-pakailah kausmu!” serunya lagi. Mereka tidak sedang……..

  “Kyaaaaa!!!” jeritnya lagi. Membuatku mundur mengernyit. Kutempelkan telingaku lagi mendengar mereka bergumam-gumam pelan tak jelas.

  “K-kau genit!! Kau…”

  “K-kyuhyun-ah..! Lepaskan!”

  “Aish! Kau ini.. Kalau mau pukul pelan-pelan!” sepi sejenak. Aku mundur lagi. Kok sepi ya? Aku mendengar suara berisik lagi jadi kutempelkan lagi telingaku di pintu.

  “K-Kyuhyun!! Turunkan aku!!”

  “Nappeuni..! Dapat!”

  “Hyaaaaa!!! Jangan dibuka!” aku membelalak lagi. Di….buka?! O_o Tuhan ampuni aku!

  “Chamkkaman! Andwae!”

  “Aish! Ya! Sedikit lagi aku….”

  Tanpa basa-basi kubuka pintunya. Mereka berdua duduk pangku-memangku di atas kasur sambil menatap aneh ke arahku. Erh? Mereka…..kok..??!

  “K-alian….sedang apa?” tanyaku. Ia langsung mundur menjauh.

  “Tidak apa-apa,” gumamnya.

  “Kalian yakin? Kalian mencurigakan,” balasku mengernyit.

  “Khunnie! Kau macam-macam kulaporkan pada yeojachingu-mu!” seru Kyuhyun menatapku tajam. Aku begidik ngeri lalu mengeleng kuat.

  “Aniya! Aku tidak berpikir macam-macam kok!” elakku. “Jangan lapor padaVictoria!” seruku.

  “Victoria siapamu?” tanya yeojachingu Kyuhyun itu.

  “Dia yeojachingu-nya Nickhun. Kenapa? Kau masih cemburu ya? Hah? Hah?” goda Kyuhyun menyenggol bahu pacarnya itu yang sedang menunduk malu.

  “Siapa cemburu?” tanyaku penasaran.

  “Dia cemburu karena Song Qian dekat denganku~” ujar Kyuhyun tertawa. Pacarnya itu langsung memukul lengannya – sepertinya keras sekali karena suara pukulannya terdengar jelas.

  “Ckck.. Kau ini. Aku juga bisa cemburu kau terus mendekatiVictoria,” omelku. Ia masih terkikik lalu merangkul erat-erat pacarnya.

  “Kalau begitu aku akan menempel terus padanyaaaaa~” ujarnya manja. Aku hanya tersenyum tipis sambil terkikik. Lucunya. ^^

Kyuhyun’s POV

  “Jagiya~ Aaaa…,” rengekku membuka mulutku. Ia mendengus kesal lalu menyuapiku dengan kimbab. “Aah! Minyeoni jjang!” pujiku memeluknya lagi. Ia mendesah pelan lalu mendorongku menjauh.

  “Kyuhyun! Ini tempat umum!” bisiknya. Aku hanya terkikik. Senang sekali menggodanya seperti itu. Wajahnya yang merona terlihat sangat lucu! ^///^

  “Aaaa~” aku membuka mulutku lagi. Ia mendengus kesal lalu malah memasukkan sawi ke mulutku. Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat sebelum sawi itu menyentuh lidahku.

  “Makan sayur yang banyak,” ujarnya masih menyodorkan sawi itu. Aku menggeleng kuat-kuat.

  “Shireo!” pekikku tertahan.

  “Wae? Ini sehat,” gumamnya bertopang dagu masih menungguku membuka mulut. “Makan ini tidak akan mati,” lanjutnya.

  “Tidak makan itu juga tidak akan mati,” balasku. Ia mendengus kesal.

  “Egi cheorom,” gerutunya kesal.

  “Kyuhyun! Minyeon!” panggil seorang yang familiar. Kami langsung melihat ke arahnya dan menemukan Sungra dan Siwon sedang bergandengan kea rah kami. “Sedang apa?” tanya Sungra.

  “Makan dong. Masa mau main Starcraft di sini,” celetukku sukses mendapat jitakan keras dari Siwon. “Aish!Sakit tahu!” gerutuku.

  “Sudahlah. Kyuhyun-ah, makan sendiri sekarang! Aku tidak mau menyuapimu lagi!” omel Minyeon. Aku langsung cemberut memelas.

  “Wae?” tanyaku memajang puppy-eyes. Ia berdeham sejenak.

  “Tidak enak dilihat Sungra dan Siwon!” bisiknya pelan. Aku hanya terkikik.

  Deg!

  “Err…,” erangku dan Minyeon bersamaan. Kami saling melirik satu sama lain begitu juga Sungra dan Siwon sedang mengernyit melihat kami.

  “P-permisi.. aku ke toilet dulu,” Minyeon langsung berdiri melesat ke kamar mandi. Aku menyentuh dadaku. Detakkannya berubah aneh. Berdetak sangat kencang tapi menyakitkan. Sebenarnya ini apa?

  Aku menggosokkan kedua tanganku berusaha tenang. Sudahlimabelas menit berlalu Minyeon tak kunjung kembali. Apakah ia baik-baik saja?

  Trrrt.. Trrt..

  Ponsel Minyeon yang tertinggal di meja tiba-tiba bergetar. Aku mengernyit lalu meraihnya. Donghae?

  “Yoboseyo?! Aigoo, Minyeoniya!!! Akhirnya kau angkat juga! Kenapa sekarang kau jarang check-up? Donghwa hyung khawatir kalau nanti penyakitmu bertambah parah. Hari ini datang ya! Lalu soal hasil rongsen yang kemarin keluarnya besok, siang kutemani. Dan….”

  “C-chamkkaman!” seruku. Sepi, baik dari pihak Donghae maupun Sungra dan Siwon yang menatapku seolah bertanya ‘Apa yang terjadi’.

  “K-Kyuhyun?” balas Donghae di ujung sana.

  “Donghae-ya, apa maksudmu hasil rongsen? Minyeon kenapa? Dia tidak pernah check-up?” tanyaku langsung berurut-urut. Tak ada jawaban.

  “LEE DONGHAE!” seruku lagi.

  “M-mianhae, Kyuhyun-ah….lebih baik kau tanyakan saja pada Minyeon,” pesannya sebelum memutuskan sambungannya. Aku panik. Entahlah. Sepertinya otak, jantung, nafasku semuanya bekerja lebih keras.

  “Gwaenchanha?” tanya Siwon. Aku menggeleng. Tidak! Tidak ada yang baik-baik saja!

  “M-Minyeon! Sungra! Tolong cari Minyeon di kamar mandi!” seruku langsung. Ia mengernyit heran tapi tetap menangguk lalu melesat pergi. Sesange! Apa yang terjadi padanya?!

To Be Continued…

Aahh~~ Finally 😀
Put your comments yah~! 🙂

Call Me With ‘Oppa’ Please…

Minn’s POV

  Aku duduk menunduk di ruang tamu. Eomma baru saja menelepon. Ia bilang appa sedang sakit, dan eonni sibuk menyelesaikan tugasnya di Singapore. Mereka tidak bisa pulang hari ini. Mungkin besok atau lusa.

  “Menyebalkan,” gumamku lalu menyambar ponselku dan menghubungi teman-temanku.

  “Sungra-ya? Kau sedang sibuk?”

  “Oh, ne. Aku sedang mengerjakan pe-er matematikaku. Ah! Iya! Saengil chukhahae.”

  “Oh.. Geurae. Gomawo.”

  Aku mencari-cari nama lagi. Siapa ya?

  “Yoboseyo, Heerin-ah. Kau sibuk?”

  “Sebentar lagi jam makan malam. Aku harus membantu eomma mengurus restoran.”

  “Uh.. Ne. Gomawo.”

  Aigoo.. Memang benar sibuk sekali sekarang semua orang? Sepertinya tanggal ulang tahunku ini jelek sekali. Dan aku yakin sekarang semua member Super Junior sedang sibuk karena hari ini adalah anniversary Super Junior KRY juga besok anniversary Super Junior – kok berdempetan sekali sih?! Menyebalkan!

  Aku mendesah keras lalu bangkit berdiri kembali ke kamar. Kurasa aku lebih baik tidur saja – padahal ini belum terlalu malam. 5 November… tak adakah yang menyenangkan?

Kyuhyun’s POV

  Aku melirik ke arah jam selagi merapikan jasku. Aigoo.. Sudah jam segini aku belum meneleponnya? Yah, walaupun tadi tengah malam aku sudah bilang selamat ulang tahun tapi sama saja, itu hanya lewat SMS.

  “Kyuhyun-ah! Nanti setelah konser kita pergi makan yuk!” seru Yesung hyung menepuk pundakku. Hah? Dia lupa ya ternyata.

  “Andwae. Aku sibuk,” jawabku lalu duduk di sofa.

  “Hm? Kau mau ke rumah Minn? Kau yakin tidak ada orangtuanya di rumah? Kau bisa mengganggu acara makan malam mereka,” celotehnya tak kugubris. Aku malah menyambar ponselku dan menelepon Minn selagi kami belum tampil. Nada sambungnya terdengar cukup lama.

  “Yoboseyooo??”

  “Hey! Kenapa baru diangkat?! Lama sekali sih!” seruku begitu ia mengucapkan salam.

  “Hn? Ini siapa?” tanyanya membuatku mengernyit. Hah? Aku kan tidak mengganti nomor ponselku? Sepertinya ia tak melihat siapa yang menelepon. Mungkin baru bangun tidur?

  “Aku Kyuhyun, dasar bodoh,” jawabku singkat. Sepi sejenak.

  “Haloooo??? Kau masih di sana?” tanyaku.

  “Ehm.. Iya. Memang kenapa?”

  “Kau sedang makan malam?”

  “Tidak. Aku sedang tak ingin makan.”

  “Ya! Kau ini mau sakit hah? Makan sana! Eomma dan appa mu sibuk, mana bisa merawatmu?”

  Ia terdiam. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

  “He…” belum selesai aku bicara dia sudah memutuskan sambungannga.

  “Haish! Apaan sih?” gerutuku melemparkan ponselku di sofa.

Minn’s POV

  Enak saja dia bilang kalau orangtuaku terlalu sibuk untuk menjagaku? Aku bisa jaga kesehatan kok. Umm.. Tidak juga sih. Pada dasarnya aku sering drop.

  “Jeez! Menyebalkan sekali!” desisku duduk di tepi kasurku. Kepalaku terasa agak berat. Aku mengangkat tanganku menyentuh keningku. Agak panas. Kurasa aku demam.

  “Sangat tidak tepat,” gerutuku berdiri mengambil kantung es untuk mengompres.

  Aku bersandar pada bantal dan meletakkan kantung es tadi di dahiku. Ini seperti hari terburuk dalam hidupku! Aku dikelilingi orang-orang sibuk tapi aku sendiri tak ada sesuatu untuk dikerjakan. Aku memejamkan mataku. Sebaiknya aku istirahat saja.

Kyuhyun’s POV

  Aku baru duduk di mobil dengan Yesung dan Ryeowook dan member lainnya sudah menunggu dari tadi. Konser tadi melelahkan sekali. Tiba-tiba aku teringat lagi dengan Minn. Aku segera merogoh sakuku mengambil ponselku dan menghubunginya. Hm? Tidak diangkat? Ke mana dia?

  “Yoboseyo? Sungra? Oh.. Iya. Iya. Gomawo,” Siwon hyung mengangkat teleponnya lalu melirik ke arahku.

  “Minn lagi sendirian di rumah. Sepertinya lagi badmood. Mungkin orangtuanya tak bisa datang hari ini,” ucapnya lalu kembali pada teleponnya. Aku mengernyit. Ah! Aku tahu kenapa dia tadi menutup teleponku! Pasti dia marah sekali waktu aku bilang macam-macam soal orangtuanya. Erkh? Eotteohke?

  “Hyung, kalian pulang dulu. Nanti aku menyusul,” aku segera keluar dari van dan berlari mencari taksi. Semoga tak ada stalker.

***

  Aku berdiri di gerbang rumahnya. Aku melirik ke dalam. Gelap sekali. Sayangnya gerbang ini sepertinya tak bisa dipanjat. Bagaimana caranya aku masuk?

  Aku mencoba mendorong gerbang tersebut. Nihil. Gerbang ini lebih kuat dariku. Menyusahkan sekali.

  “Minn-ah!!!!” seruku mendongak ke atas ke arah kamarnya di dekat balkon.

  “Ya!!! Hwang Minyeon! Kau di dalam??” seruku setelah melihat tak ada respon. Tiba-tiba tirai jendela kamarnya tersibak dan ia menatap sinis ke arahku.

  “Tidak usah berisik di rumah orang! Aku butuh istirahat!” balasnya menutup tirai lagi. H-hey!

  “Ya! Buka pintunya! Hey! Aku minta maaf soal yang tadi..”

  “Sudahlah diam! Kalau kau terus menggangguku aku akan melemparimu dengan batu!” balasnya memotong ucapanku dan menutup jendelanya lagi.

  “YA! KALAU KAU TIDAK MEMBUKAKAN PINTU AKU AKAN MEMPUBLIKASIKANMU SEBAGAI TUNANGANKU PADA MEDIA!” seruku lagi. Tak ada respon, sepi sejenak sebelum akhirnya ia kembali melongok keluar.

  “Kau tidak punya buktinya kan?” tanyanya. Cih! Dia lupa. Mungkin harus dikerjai.

  “Foto dari Jinki dan cincin yang waktu itu bisa jadi bukti. Hyungnim juga bisa jadi saksinya. Jinki, Jonghyun, Key, Minho, Taemin dan Changmin, semua bisa jadi saksinya,” balasku mengeluarkan ponsel.

  “H-hey! Kau tidak serius kan? Mau apa kamu?” tanyanya lagi.

  “Mmm.. Mungkin lewat twitter bisa diupload,” jawabku memamerkan evil smirk-ku. Ia langsung menghilang dari kamarnya dan tak berapa lama gerbang rumahnya terbuka.

  “T-tunggu!” ia menarik tanganku tapi aku sudah menjauhkan ponselku dengan tangan lainnya.

  “Berhenti! Ya! Berikan ponsel itu padaku,” ia berusaha meraih ponselku tapi gagal terus.

  “Mau apa?” tanyaku.

  “Jangan diupload!” serunya.

  “Ada syaratnya,” balasku. Ia diam.

  “Syarat apa?” tanyanya mengernyit. Aku terdiam sejenak lalu tersenyum jahil.

  “Rayu aku supaya tidak menguploadnya,” ucapku.

  “SHIREO! Harusnya kan kau yang minta maaf padaku!” serunya langsung.

  “Kalau aku memencet tombolnya dalam hitungan detik semua ELF akan mengetahui kalau kau benar-benar kekasihku,” ancamku lagi.

  “Andwae!! Ne! Ne! Kuturuti! Tapi letakakkan ponselmu,” pintanya. Aku menggeleng. Enak saja! Kalau kuletakkan nanti kau ambil!

  “Ppali. Kalau kau tak segera mengatakannya padaku aku akan menekannya,” paksaku. Ia mendengus kesal lalu menunduk. Jadi sepi sejenak.

  “Cepatlah sedikit,” desakku. Ia masih menunduk.

  “..K-Kyunnie…oppa…jangan diupload.. Jebal..,” gumamnya menunduk membuat senyum kemenanganku mengembang. Aku menggandeng tangannya dan mengecup pipinya.

  “Kajja masuk,” ajakku menariknya masuk.

Minn’s POV

  Aku masih menunduk selagi dia menarikku masuk. Jelas sekali, aku tidak biasa ‘merayu’ orang selain merayu eonni supaya mau mentraktirku – aku punya sejuta trik untuk merayunya *hehe*. Tapi begitu aku disuruh untuk merayu seorang Cho Kyuhyun seakan aku kehabisan kata-kata.

  Kami berdua duduk di ruang tamu. Aku baru sadar kalau dia belum bilang kenapa datang ke sini.

  “Kau kenapa datang kemari?” tanyaku langsung. Ia menatapku sejenak.

  “Hm? Kenapa? Aku mau merayakan ulang tahun tunanganku,” ia menarikku mendekat. Aku masih mengernyit.

  “Kau kan sibuk? Iya kan?” balasku. Ia melirik ke arah ruang makan.

  “Tidak masak?” tanyanya. Aku mendesah pelah.

  “Aku tidak lapar. Malah baru saja mau tidur,” jawabku jujur. Ia berdiri dan menarikku ke dapur.

  “Kau harus makan, jagiya,” ucapnya saat kami tiba di dapur. Aku mengernyit.

  “Aku sedang tidak sehat. Malas masak,” balasku. Ia terkikik.

  “Mau coba kalau aku yang masak?” tawarnya membuatku melotot ke arahnya.

  “Jangan hancurkan rumahku tapi,” seruku. Ia merangkul pundakku.

  “Aku sudah diajari oleh Wookie hyung – walaupun pernah hampir menghancurkan dorm. Tapi sekarang sudah lumayan,” bisiknya. Aku mengangguk paham.

  “Kalau mau masak, sana masak. Tapi nanti kau sendiri yang bereskan,” aku mendorong pelan punggungnya ia mengangguk. Aku keluar menunggu di ruang makan. Aku mendesah pelan lalu memejamkan mataku. Aku benci menunggu.

  Setelah beberapa menit kumenunggu, aku merasa ada sesuatu menyentuh kedua pipiku. Rasanya dingin sekali. Aku membuka mataku dan melihat Kyuhyun sudah duduk di kanankuku. Ia menyentuh pipiku dengan kedua tangannya. Kurasakan wajahku memanas dan memerah.

  “Lho? Kok malah tambah panas?” ia mengernyit. Aku menepis tangannya pelan dan menunduk menyembunyikan wajahku.

  “Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

  “Hm? Kau demam kan? Sudahlah lupakan. Ini kubuatkan sup krim,” ia menyodorkan semangkuk sup – yang menurutku lebih terlihat seperti bubur, kental sekali.

  “Kau yakin itu sup layak makan?” tanyaku mengernyit. Ia men-ttak bam dahiku. Aku mengusap kepalaku.

  “Makan saja,” ia memegangi mangkuk itu dan menyuapkan sesendok padaku. Aku membuka mulutku dan memakannya. Hmm.. Lumayan juga.

  “Enak juga sih,” gumamku.

  “Jinjja?” ia membulatkan matanya dan menyuap sesendok ke mulutnya lalu tersenyum.

  “Iya juga ya? Tadi kumasukkan apa saja ya?”

  “Ckckck.. Kau ini,” balasku. Ia kembali menyuapkan sup itu padaku.

  Setelah kami menghabiskan sup itu – karena dia juga lapar, ia membawaku kembali ke kamar untuk istirahat.

  “Minn-ah,” panggilnya begitu aku sudah membaringkan tubuhku di kasur. Aku menatapnya yang duduk di sisiku.

  “Ne?”

  “Ng… maukah kau memanggilku ‘Kyunnie oppa’ lagi?” pintanya. Aku terdiam. Aku jadi ingat perkataan Taemin tentang memanggil Kyuhyun dengan panggilan oppa. Kyunnie oppa? Terdengar asing sih, tapi…

  “Ne, Kyunnie oppa,” jawabku tersenyum menarik selimutku menutupi separuh wajahku yang memerah.

  “Saranghae, jagiya,” ia mengusap kepalaku dan mengecup pipiku. “Istirahatlah,” lanjutnya. Aku mengangguk kecil lalu memejamkan mataku. Semoga mimpiku indah.

Kyuhyun’s POV

  Aku senang sekali ia memanggilku ‘Kyunnie oppa’ walaupun kedengarannya agak aneh. Ia sudah tertidur sejak tadi, tapi aku masih tak bis berhenti tersenyum sejak tadi. Aku menatap keluar jendela, lalu terpikir untuk membuat sesuatu.

  “Yoboseyo hyung?” sapaku begitu teleponku tersambung pada Siwon.

  “Yoboseyo? Wae?” tanyanya.

  “Bisa minta tolong? Bawakan…”

  “Oh, tentu. Mungkin tengah malam nanti selesai. Mau kau buatkan untuknya?”

  “Ne. Aku pulang siang besok. Gomawo,” aku menutup ponselku dan duduk tersenyum lagi menatap langit malam cerah penuh bintang dari jendela kamarnya. Ternyata dari sini bisa melihat lautan bintang. Seandainya aku bisa membelikan sebuah bintang lagi atas namanya di samping bintang yang dibelikan ELF untukku.

Minn’s POV

  Aku membuka kedua mataku. Ini sudah pagi sepertinya. Aku diduk bersandar di kasurku dan melirik ke sisi kasur begitu merasa tanganku begitu hangat. Kyuhyun sedang terdidur. Ia menggenggam erat tanganku. Kurasakan wajahku memanas menatap wajahnya.

  Tiba-tiba ia bergerak pelan lalu membuka kedua matanya. Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku sayu.

  “Oh! Pagi, jagiya,” gumamnya pelan mengusap pipiku. “Hm? Panasmu sudah turun,” sambungnya lagi. Aku tersenyum dan mengangguk.

  “Hey, aku punya hadiah ulang tahun untukmu – walaupun terlambat, aku minta maaf,” ia berdiri lalu membuka tirai jendelaku. Sinar samar-samar masuk, tapi masih agak gelap tak seperti biasanya. Karena penasaran aku ikut bangkit berdiri dan menghampirinya. Aku membelalak begitu melihatnya. Perlahan senyumku mengembang.

  “Ini… Kau yang buat?” tanyaku menatap – window mozaik bentuk hati seperti yang ada di MV No Other, bedanya ini di jendela, bukan di dinding, dan juga…

  “Ne. Semalaman aku membuatnya untukmu. Lihat ini,” ia menunjuk beberapa foto yang disusun membentuk pola hati. Ya, itu foto-foto kami selama kami saling mengenal. Senyumku kembali mengembang. Kurasakan pelukan hangatnya menyelimuti tubuhku dari belakang.

  “Kau senang kan?” bisiknya tepat di telingaku membuatku agak merasa geli.

  “Ne, Kyunnie oppa,” jawabku menunduk malu-malu. “Gomawo,” gumamku lagi. Ia mengecup pelan ujung daun telingaku. Aku membalikkan badanku menatapnya. Ia balas menatapku dan tersenyum manis.

  “Saranghae,” gumamnya seraya melumat bibirku lembut. Aku menutup kedua mataku dan mengikuti gerak bibirnya.

  “Sillyehamnida~” seseorang mengejutkan kami dari arah pintu. Kami sontak menoleh ke arahnya. Aku membelalak melihatnya.

  “S-sungra? H-heerin?” seruku.

  “Hyung???!!!” seru Kyuhyun langsung melepaskan pelukannya. Ckckck.. Mereka sering muncul tiba-tiba bersamaan begitu di mana pun.==a

  “Ehm.. Kalian ini! Kami susah payah masuk ke sini! Kalian tidak sadar? Hwang ajussi dan ajumma juga Mingi eonni sudah ada di bawah!” jelas Heerin membuatku membelalak lebar. Mereka datang?!

  “Kami sudah berusaha mencegah mereka supaya nggak masuk ke sini. Untung saja mereka mau menunggu di ruang tamu,” sambung Siwon membuatku agak lega.

  “Ya, beruntung sekali. Bayangkan saja kalau Hwang ajussi dan ajumma melihat putrinya berduaan dengan seorang pria di kamar semalaman dan berciuman mesra, siapa yang tahu apa yang mereka lakukan semala… Argh!” aku melemparkan sandalku tepat mengenai wajah Eunhyuk. Kurang ajar sekali dia! ==a

  “OMO! Kalau aku jadi Hwang ajussi akan kusuruh menikah siang ini juga. Kurasa Cho ajussi juga takkan keberatan. Mereka kan sudah ‘bertunangan‘,” celetuk Donghae ikut-ikutan. Aku juga tak berharap punya appa seperti Donghae.

  “Kami tak melakukan apa-apa kok,” gerutuku dan Kyuhyun bersamaan. Memang menyebalkan.

  “Jinjja? Sayang sekali. Kukira Hwang ajussi akan segera punya cucu dari Kyuhy.. Ouch!” kali ini sandalku membentur keras kepala Donghae. Dia ini benar-benar teracuni Eunhyuk!

  “Heerin-ah, kurasa kau harus berhati-hati pada pacarmu itu. Dia sudah tertular oleh pikiran Eunhyuk,” desisku kesal. Mereka malah terkikik.

  “Sudahlah. Sepertinya ada yang tak sabar menemui calon mertuanya dan calon kakak iparnya,” ucap Leeteuk sunbae berlagak bijak. Aku mendengus kesal lalu menarik Kyuhyun keluar kamar diikuti oleh yang lainnya.

  “Eomma! Appa! Eonni!” seruku dari atas melongok ke arah ruang tamu di bawah. Mereka mendongak melihat kami berdiri beramai-ramai di sini.

  “Minn-ah! Ayo, turun,” ajak Mingi eonni tersenyum. Aku mengangguk lalu berjalan turun berkumpul bersama mereka.

  “Hm? Sepertinya tadi kami tidak melihatnya,” eomma menunjuk ke arah Kyuhyun. Aku membelalak. Aduh! Selama ini aku memang tak memberitahu eomma dan appa tentang Kyuhyun, tapi eonni tahu – dan juga tahu saatnya untuk bungkam.

  “Emm.. Mereka kan jumlahnya banyak, mungkin saja kalian tak mengingatnya,” jawabku gugup.

  “Hm? Iya juga sih,” eomma mengangguk. Aku menghembuskan nafas lega lalu mengambil secangkir teh untuk kuminum.

  “Dia pacarmu ya?” tanya appa menunjuk ke arah Kyuhyun lagi sontak membuatku terbatuk hebat karena tersedak. Appa tahu dari mana?! Sejauh apa mereka tahu?! Atau jangan-jangan mereka berpikir sampai… ANDWAEEEE!!!!!

  “Appa..k-kok gitu?” tanyaku ragu. Mereka tak benar-benar tahu kan?

  “Entahlah. Eomma juga berpikir begitu. Kalau kalian duduk berdampingan begitu sepertinya hubungan kalian lebih dekat dari yang eomma bayangkan,” sambung eomma. Aku melirik ke arah sunbaenim yang berdiri tak jauh di sisi sofa. Apalagi Eunhyuk dan Donghae yang sedang membisikkan sesuatu.

  “..hubungan kalian lebih ‘dekaaaaaatt’ dari yang dibayangkan~ auwh… Kalian benar-benar pernah…” bisik Eunhyuk. Aku menyipitkan mataku. Maksudnya?! ==a

  “Lebih dekaaaatt~ mereka bisa tahu sejauh mana putrinya ini sudah bersama dengan seorang Cho Kyuhyun ya? Putrinya kan sudah dekat sekali dengan Kyuhyun. Kemana-mana berdua,” bisik Donghae membuatku ganti meliriknya dengan tatapan membunuh. Siapa bilang ke mana-mana berdua? Bikin risih saja kalau mereka ada di sini. Kalau saja tak ada appa dan eomma pasti sudah kulayangkan bantal di sofa ke wajah mereka masing-masing.

  “Dia juga terlihat pintar,” ucap eomma membuatku kembali melihat ke arahnya.

  “Dia yang mengajariku matematika,” jawabku jujur. “Eomma, sebaiknya ini kita bicarakan saat aku kuliah saja,” pintaku pada eomma membuat eonni terkikik. Aku mendesah pelan. Untung saja cincin dari Kyuhyun sudah kujadikan kalung, jadi mereka takkab melihatnya.

  “Kuliahmu masih lama, agassi,” komentar eonni. Ya, ya.. Terserah.

  “Ne, memang. Pokoknya tunggu saja sampai aku kuliah,” jawabku.

  “Nanti ada yang tidak sabar menunggu,” balasnya melirik ke arah Kyuhyun membuatku melotot ke arahnya.

  “Kalau si Cho Kyuh…,” kalimatku terpotong. OMO! Hampir saja kukatakan. Ia malah terkikik.

  “Kalian bicara apa sih?” potong appa. Aish! Eonni hampir saja membuatku membongkar segalanya.

  “Oh, ya. Kami ke sini mau memberimu hadiah. Kami tak bisa lama-lama di sini. Ini untukmu,” eomma dan appa menyodorkan dua kotak kado dan eonni juga.

  “Kami harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan,” kata eomma berdiri. Aku mengangguk.

  “Oh, kau..,” eomma menunjuk Kyuhyun. Hah?

  “Kyuhyun imnida,” jawabnya mengangguk kecil.

  “Oh, ne, Kyuhyun-ssi, tolong jaga anakku,” ucap eomma membuatku menunduk dalam-dalam. Eomma!! ><

  Mereka sudah pergi. Para sunbaenim yang lain langsung berjalan ke arah kami.

  “Hey, yang baru melamar tunangannya.. Disuruh jagain tuh,” Sungmin sunbae mendorong pelan pundak Kyuhyun. Kenapa sekarang mereka menganggap kami sudah benar-benar bertunangan? Memangnya terlihat begitu? Waktu itu kan…yah, memang secara tak langsung kami sudah bertunangan.

  “Dia tidak akan hilang. Tak perlu sampai dijaga-jaga,” jawab Kyuhyun merangkul pelan pundakku.

  “Hmm.. Oh ya! Aku lupa memberikan hadiah ulang tahunmu!” seru Heerin. Ia menyodorkan sebuah amplop yang cukup besar. Aku mengernyit lalu menariknya keluar. Cukup dengan melihatnya saja sukses membuat wajahku terasa panas. I-ini…

  “Kapan kau mengambilnya?! Kok cepat? Aku kok juga tak tahu?” tanyaku curiga.

  “Tadi lah. Aku langsung menyuruh suruhan Siwon mencuci filmnya dan membawanya kembali ke sini secepatnya. Itu hasil karyaku lho. Dengan kamera baruku. Soal kamu tahu atau nggak tahu itu karena kalian itu terlalu asyik melakukannya,” jelasnya seakan bangga. Aku kembali melihat ke arah selembar foto yang kupegang. Ini foto siluet saat aku dan Kyuhyun berciuman di depan window mozaik tadi pagi. Cepat sekali? Mereka sudah merencanakannya ya? ==a

  “Hey! Tidak usah dipandangi terus!” Eunhyuk memukul pelan kepalaku. Aku meliriknya tajam.

  “Kyunnie oppa~ hyungmu menyebalkan sekali,” aku memeluk lengan Kyuhyun di sebelahku. Aku mendengar beberapa sentakan nafas terkejut di belakangku.

  “T-tunggu! Sejak kapan kau memanggilnya jadi ‘Kyunnie oppa’?” tanya Sungra. Aku tersenyum kecil.

  “Terserahlah. Kalian ini selalu aneh,” ia mengibas-kibaskan tangannya pasrah membuatku terkikik.

  “Baiklah. Sekarang kau harus mentraktir kami untuk merayakan ulang tahunmu,” ucap Heechul sunbae menunjuk diriku.

  “Hah? Shireo! Harusnya kalian yang mentraktirku, hari ini anniversary kalian. Ulang tahunku kan kemarin,” balasku tak mau kalah.

  “Lho?! Kok gitu? Aku sedang tak punya uang,” omel Yesung.

  “Kalau begitu kau tak usah makan. Kajja pergi,” ajakku menarik Kyuhyun keluar. Mereka juga mengikuti kami keluar untuk makan. Ulang tahun ini rasanya menyenangkan sekali.

THE END

Hehehe~~ ulangtahunnya author masih lama ya ternyata 😦 *nggak sabar*
hehehe… gapapa lah.. selamat membaca~!

Summer Happy Vacation

Siwon’s POV

  Aku melirik ke jam tanganku. Sudah pukul sepuluh lewat. Kami sudah berjam-jam dalam mobilku menuju ke tempat berlibur. Di mobilku ada Sungra, Kyuhyun, Minyeon, Donghae dan Heerin.

  “Sebentar lagi kita tiba,” aku melirik ke arah Sungra di sampingku yang dari tadi sama sekali tidak tertidur seperti empat lainnya di kursi belakang.

  “Ne. Kalau begitu kubangunkan saja mereka ya,” ia melirik ke belakang. Mereka lucu sekali saat tidur begitu – Minyeon tidur di pundak Kyuhyun dan Kyuhyun tidur di kepalanya, sedangkan Donghae tidur merangkul pinggang Heerin dan Heerin menggenggam tangannya.

  Aku melihat Sungra mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya ke belakang. Aku mengernyit. Sedang apa dia?

  Klik!

  Ia terkikik pelan melihat layar ponselnya. Aku mengangguk paham. Sepertinya empat orang itu tidurnya pulas sekali sampai tidak sadar kalau sudah dipotret.

  “Minyeon-ah, ireona,” Sungra mengguncangkan kaki Minyeon semampunya. Minyeon masih tak berkutik. Sungra mendesah pelan. Lalu dia melemparkan bantal ‘Angry Birds’ ku ke belakang tepat mengenai wajah Kyuhyun.

  “Aish! Apa sih? Mengganggu tidurku,” omelnya melemparkan bantalnya kembali.

  “Bangunkan semuanya. Kita hampir sampai,” jawab Sungra terkikik. Aku ikut tersenyum menahan tawa.

  “Ne.. Ne.. Hey..! Hyung! Bangun! Heerin! Kau juga bangun! Minyeon!!! Bangun!! Ada Onew lewat!” serunya menggemparkan mobilku. Donghae dan Heerin sontak terbangun, tapi Minyeon masih tidur. Jelas saja, dia pakai headphone. Kyuhyun menarik headphone-nya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Minyeon. Ehm, aku harus menyiapkan penutup telinga.

  “Heeeyyy!!!! Banguunnn!!!!” serunya tak kalah keras dari yang tadi membuat Minyeon langsung terbangun mengelus pelan telinganya. Sekarang tawaku dan Sungra langsung meledak. Sepertinya tidak rugi kami mengambil cuti untuk liburan kali ini.

Mountain… *17.00 KST*

Sungra’s POV

  Aku menengadah ke atas melihatnya. Itu.. T-tinggi sekali! Aku menelan ludah gugup.

  “O-oppa.. Kau serius akan naik ini?” tanyaku pada Siwon. Ia melihatku lalu mengangguk. Serius? Cable Car setinggi itu?

  “Serius?” tanyaku sekali lagi. Ia tersenyum menatapku.

  “Kau mau kita naik tiga kali untuk meyakinkanmu?” tanyanya. Aku menggeleng cepat.

  “Geurae. Ayo kita naik. Kyuhyun dan Minyeon sudah di depan. Donghae dan Heerin nanti naik yang di belakang kita,” ia menggenggam tanganku lalu membawaku masuk.

  Begitu cable car bergerak perlahan aku melihat ke bawah dan melihat pepohonan tinggi – kami di gunung dan bawah kami ini hutan kecil. Aku langsung merasa takut dan mengalihkan pandanganku ke depan. Aku menarik nafas menenangkan diri. Huft.. Tenang. Tenang.

  Grekk..

  “Hwaaa!!!!” jeritku saat cable carnya sedikit berguncang. Aku memeluk erat lengan Siwon. Aigoo… Cable car ini kan panjangnya mengitari hutan! Ini akan lama sekali!

  “Gwaenchanha?” tanya Siwon menepuk pundakku. Aku mengangguk kecil.

  “Takut?” tanyanya lagi. Aku begumam tak jelas.

  Ia terkikik lalu menghentakkan kakinya di dasar cable car kami.

  BRAK!

  “Yaaa!!! Jangan main-main! Kita bisa jatuh ke hutan!” seruku mengeratkan pelukanku. Ia malah terkikik.

  “Iya iya.. Mianhae,” bisiknya. Aku mulai tenang. Bagaimana pun juga cable car ini sangat mengerikan. Ini tidak tertutup seperti pada umumnya, di sini tak ada jendela kaca di kanan dan kiri sehingga kalau aku terlalu memiringkan tubuhku aku pasti akan jatuh.

  “Hey, kau tegang sekali sih,” Siwon membuyarkan lamunanku.

  “Ini mengerikan. Masih lama?” tanyaku. Ia melihat ke kanan dan kiri.

  “Baru saja jalan kurang dari setengah jalan,” jawabnya. Sesange! Ini menyebalkan!

  “Sungra-ya. Lihatlah ke sini,” panggilnya membuatku menoleh ke arahnya masih merangkul tangannya – seakan kalau kulepaskan aku akan terjatuh.

  “Aku punya obat supaya kau tidak takut pada ketinggian,” ia tersenyum. Aku mengernyit penasaran.

  “Apa?” tanyaku. Ia masih tersenyum. Kemudian ia meraih leherku dan menggulum manis bibirku. Ia mencairkan segala ketakutanku. Kupejamkan mataku seakan ingin waktu berhenti berputar.

Siwon’s POV

  Dia tegang sekali. Duduknya sangat tegak dan kaku. Sepertinya dia takut naik ini. Sebenarnya aku tak bisa bilang kalau aku juga agak takut untuk naik cable car di atas hutan seperti ini, tapi karena dulu aku pernah dibawa Kyuhyun ke tempat ini jadi perasaan takutku lebih kecil dari sebelumnya.

  Setelah hampir setengah jalan aku mendapatkan ide – yah, walaupun agak aneh, tapi kurasa bisa membuat kami tenang dulu *evil smile*.

  “Sungra-ya. Lihatlah ke sini,” panggilku. Ia melihatku dengan wajah yang tegang dan ketakutan.

  “Aku punya obat supaya kau tidak takut pada ketinggian,” aku tersenyum. Ia mengernyit. Sepertinya ia tak menyadari ideku.

  “Apa?” tanyanya. Aku masih tersenyum. Kemudian aku meraih lehernya dan menautkan bibirku tepat di bibirnya. Ini membuatku lebih tenang.

  Aku melepaskan ciumanku begitu kami hampir tiba di tempat tujuan. Aku melihat rona pipinya saat menunduk malu.

  “Gomawo,” gumamnya. Aku tersenyum tipis. Takutnya benar-benar hilang.

  “Jangan dilihat. Konsumsi di atas usiamu,” kudengar celotehan Kyuhyun yang menutupi wajah Minyeon. Mereka sudah tiba di seberang rupanya.

  Aku turun dari cable carnya dengan Sungra. Kyuhyun dan Minyeon langsung cengar-cengir menatap kami.

  “Senang sekali ya naik cable car-nya?” goda Kyuhyun menunjukkan evil smile-nya. Aku hanya tersenyum kecil dengan wajah yang merona.

  “Sudah, tak usah dibahas. Ada anak kecil di sebelahmu,” aku menyindir Minyeon yang langsung menyitpitkan matanya.

  “Aku kan seumuran dengan Sungra,” gerutunya. Aku terkikik.

  “Kau itu lebih pendek darinya. Sudah kubilang. Konsumsi ini bukan untukmu,” tambah Kyuhyun membuat sebuah jitakan cukup keras mendarat sukses di ubun-ubunnya.

  “Aku bukan anak kecil! Kami cuma beda sedikit. Kau lebih pendek dari Siwon juga. Lagipula aku tak berniat melihatnya,” balas Minyeon. Aku terkikik. Lucu sekali. Tak begitu lama kemudian Donghae dan Heerin juga tiba.

  “Hey! Kalian lupa kami bisa melihatnya dari jendela? Kami dapat fotonya lho!” seru Donghae. Aku melotot ke arahnya. Kenapa difoto?!

  “Ya! Lee Donghae! Hapus!!” seruku mengejarnya sudah lari duluan. Akhirnya kami menuruni gunung bersama dan naik ke mobil lagi untuk pergi ke hotel terdekat.

Hotel.. *Midnight*

Minyeon’s POV

  Aku bosan terus ada di kamar. Heerin sedang pergi dengan Donghae. Sungra sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku memutuskan untuk pergi keliling tempat ini.

  Langkahku berhenti begitu aku tiba di kolam renang indoor hotel itu dan melihat seorang namja tinggi sedang duduk di tepinya. Aku mengernyit. Sedang apa Kyuhyun malam-malam berenang? Ia juga… topless?!

  “Kyuhyun-ah? Kau sedang apa?” aku menghampirinya dan berjongkok di sampingnya.

  “Sedang bosan. Donghae pergi ke pasar malam dengan Heerin kan? Siwon sedang menelepon dan membicarakan tentang bisnis keluarganya,” jawabnya. Aku menatapnya. Bisa dibilang di terukur tampan di mataku.

  “Kau sendiri?” tanyanya balas menatapku.

  “Sungra sedang mengerjakan sesuatu,” jawabku singkat memalingkan wajahku.

  “Hey, kau bisa renang?” tanyanya. Aku langsung melihat kembali ke arahnya lalu menggeleng kuat.

  “Aku tak bisa berenang. Tak ada niat untuk itu. Aku pernah nyaris tenggelam. Jangan lakukan sesuatu yang membuatku harus masuk ke dalam kolam sedalam itu!” ancamku begitu melihat evil smirk-nya – membaca rencana busuknya itu semudah itu.

  “Ayolah. Tidak akan tenggelam,” ia mengganti ekspresinya dengan puppy eyes. Aku mendesah pelan.

  “Aku benci aegyo mu. Lupakan saja. Kolam ini dalamnya melebihi tinggi badanku. Lagipula… Aku hanya memakai kaos tipis dan celana pendek,” aku memalingkan wajahku. Sebenarnya aku gemas sekali melihat puppy eyes tadi.

  Ia merangkul pundakku dan menggenggam tanganku. Ia berusaha menarikku. Aku langsung berdiri mundur sebelum benar-benar masuk ke dalamnya. Ia berdecak kesal dan ikut berdiri. Ia berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku.

  “Kau tidak suka dengan air?” tanyanya menunduk menatapku. Aku menggeleng.

  “Bukannya tak suka dengan air. Aku takut masuk kolam,” jawabku pelan. Ia mendesah pelan.

  “Hmm.. Baiklah kalau begitu tutup matamu,” perintahnya. Aku mengernyit.

  “Apa? Kau mau menceburkanku? Tidak mau,” jawabku. Ia berdecak kesal.

  “Tutup saja matamu. Kujamin kau tidak akan tenggelam,” pintanya lagi. Aku menatapnya penasaran.

  “Tutup!” paksanya. Aku mendesah kesal lalu menutup kedua mataku. Tiba-tiba ia menarikku dan..

  BYURR!

  Aku menahan nafasku. Tanpa membuka mata pun aku tahu, aku ada di dalam air! H-hey! Aku tak bisa naik ke permukaan!

  Kemudian bisa kurasakan pelukan seseorang membalut tubuhku dan seseorang menggulum pelan bibirku. Terkejut, aku membuka kedua mataku tapi langsung menutupnya lagi karena sadar aku sedang berada dalam air. Itu tadi Kyuhyun kan?

Kyuhyun’s POV

  Aku menggulum lembut bibirnya dan memeluknya erat. Aku membantunya naik ke permukaan – dengan mengangkat pinggangnya, saat nafasku mulai akan habis. Aku masih tak melepaskan ciumanku. Walaupun kami ditengah kolam sekalipun aku merasa hangat.

  “Uhuk!” ia terbatuk dan menjauhkan wajahnya. Bisa kulihat rona merah di pipinya yang basah itu. Ia menatapku sejenak lalu menunduk.

  “Bagaimana?” tanyaku. Ia masih menunduk diam. Tubuhnya agak mengigil kedinginan, membuatku mempererat pelukanku.

  “…K-kau..bisa membuatku tenggelam tadi,” gumamnya.

  “Ne, mianhae. Tapi lihat. Sekarang kau tidak tenggelam kan?” tanyaku lagi.

  “Ya, terserah kau. Bawa aku ke tepi!” ia memaksaku. Aku menggeleng.

  “Shireo. Jigeum cheoromiya,” jawabku. Ia menyipitkan matanya.

  “Kalau kau tidak menurut aku akan melepaskanmu,” aku merenggangkan pelukanku dan ia sedikit merosot ke bawah.

  “Huwaaa!!” ia merangkul leherku dan berpegangan pada pundakku. Wajahnya bertambah dekat sekali dan tersirat rasa ketakutan. Aku kembali mempererat pelukanku.

  “Nah, menurutlah padaku,” bisikku. Ia masih menunduk menyembunyikan wajahnya dalam diam. Suasana berubah sunyi. Aku melirik ke arahnya. Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Kami saling diam. Perlahan aku mendekatkan wajahku mendekatinya.

  “Hatchi!” ia menutup hidung dan mulutnya saat baru saja bibirku menyentuh permukaan lembut bibirnya sedikit. Padahal baru saja aku akan mulai menciumnya lagi *hiks* *author : ==a*. Ia menggigil lagi. Sepertinya dia kedinginan. Kami juga dari tadi hanya diam di tengah kolam begini.

  “Geurae. Ayo keluar. Nanti kau masuk angin,” aku masih menggendongnya sambil berjalan pelan ke tepian. Aku mendorongnya naik keluar kolam baru aku ikut keluar. Aku pergi mengambilkan handuk dan segelas teh hangat.

  Kami masih duduk-duduk berdua di tepi kolam. Suara gemercik air terdengar jelas saat kami mencelupkan sebagian kaki kami ke dalam kolam. Ku balut tubuhnya yang memucat kedinginan itu dengan handuk yang kubawa. Ia melirik ke arahku.

  “Kau tidak kedinginan?” tanyanya menatapku. Aku hanya tersenyum. Dingin juga sih. Tiba-tiba ia  menarikku untuk duduk mendekat dan membuatku bisa ikut terbalut handuk bersamanya. Aku merangkul pinggangnya menariknya mendekat.

  “Jangan jauh-jauh dariku,” gumamku pelan.

  “Kalau kau kedinginan nanti sakit. Kalau sakit kau tidak bisa kerja. Kasihan sunbaedeul harus merawatmu,” nasihatnya. Senyumku mengembang.

  “Ini teh. Minum,” aku menyodorkan teh hangat tadi padanya. Ia menatap gelas itu sejenak.

  “Kau minum apa?” tanyanya kembali menatapku. Aku terdiam. Ia mendesah lalu meneguk teh itu. Setelah itu diberikannya padaku lagi.

  “Kau juga minum. Aku tahu kau cuma bawa segelas. Jadi setengahnya untukmu saja,” ia tersenyum. Aku ikut tersenyum dan meneguknya sampai habis. Aku kembali menatapnya.

  “Geudaerasseo saranghae, jagiya,” aku mengecup pelan pipinya.

Meanwhile…

Night Market… *23.00 KST*

Heerin’s POV

  Tadi Donghae bilang mau mengajakku ke suatu tempat. Ia membawaku ke sebuah pasar malam. Pasar ini pasar malam terindah yang pernah kulihat. Tempatnya bersih, ramai tapi tidak sesak, cahayanya remang-remang memberi kesan romantis, stan penjual berjejer rapi di sisi-sisi jalan. Aku dan Donghae saling menautkan jari-jari kami berjalan menyusuri jalan kecil di pasar malam itu.

  “Heerin-ah,” panggilnya. Aku segera melihat ke arahnya.

  “Ne?” aku memiringkan kepalaku supaya bisa melihat jelas wajahnya dibalik topinya.

  “Kau mau ke taman di sana?” ia menunjuk sebuah taman yang tidak begitu gelap di sebelah kiri tikungan tempat kami berdiri. Taman itu agak tertutup dan sepertinya sangat sepi bahkan tidak ada orang. Hm?

  “Terserah,” jawabku. Ia mengeratkan gandengannya dan menarikku perlahan ke sebuah stan dekat taman tadi. Ia membeli sesuatu lalu membungkuk berterima kasih. Kami pun melanjutkan langkah kami ke taman itu.

  Taman itu ternyata sebuah lapangan rumput yang luas dengan danau yang cukup besar terbentang di depannya. Kami duduk berdua di tepi danau itu. Angin sepoi-sepoi berhembus ke arah kami. Aku menggosokkan kedua tanganku kedinginan. Tiba-tiba Donghae memelukku dari belakang.

  “Kedinginan? Bagaimana sekarang?” bisiknya tepat di telingaku.

  “Ttatteutan,” balasku. Aku menatap ke arah langit. Dari taman ini jelas sekali terlihat bulan purnama bersinar terangnya. Sinar dari hamparan bintang-bintang kecil juga tak kalah terangnya. Aku tersenyum kecil.

  “Neoneun nae byeoli, Donghae-ya,” gumamku. Ya, benar. Dia bintangku.

  “Hm? Wae?” tanyanya mempererat pelukannya.

  “Karena kau bisa kulihat saat dunia terang – saat aku senang, dan juga saat dunia gelap – saat aku sedih. Kau tahu kalau kau bukanlah orang yang sempurna, tapi kau membuat dirimu selalu bersinar terang menghiasi hidupku – seperti bintang yang sinarnya tak kalah dari bulan,” jawabku jujur. Aku memang tak begitu puitis. Tapi ini juga bukan puisi.

  “Geurae, neoneun nae wol, Heerin-ah,” balasnya, aku menunduk malu menyembunyikan senyumku yang mengembang.

  “Gomawo,” gumamku masih belum menghilangkan senyumanku. Ia melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhku.

  “Cheonmaneyo, jagi. Nah, sekarang ayo kita buat ini,” ia menunjukkan sebuah kantong plastik berisi benda yang tadi dia beli. Aku mengernyit.

  “Ige mwo?” tanyaku pelan. Ia membukanya. Aku melihat beberapa bilah bambu dan selembar kain putih tipis juga ada benang wol. Dia mau membuat apa?

  “Ini balon permintaan. Sebenarnya ini biasanya dipakai di China. Aku sudah tanya Minyeon, Hankyung, Henry dan Zhoumi cara membuatnya,” ia mulai memasang-masang bahan-bahan tadi.

  Tanpa kusangka tak begitu lama berdirilah sebuah balon udara sederhana ukuran mini – sekitar setengah dari tinggi badanku. Donghae menyerahkan selembar kertas kosong padaku.

  “Tuliskan permohonanmu,” suruhnya. Aku mengangguk lalu menuliskan permintaanku.

  ‘Aku ingin, berapa kalipun aku ber-inkarnasi, aku akan selalu bersama dengan orang sebaik Donghae. Bukan. Maksudku dengan Donghae. Terus bersamanya…- Lee Heerin’

  Aku melipatnya lalu menyerahkannya pada Donghae. Ia tersenyum lalu menggantungkannya di samping kertas permohonannya di bagian bawah balon. Kemudian ia mengambil kuas dan tinta bak yang tersedia lalu menuliskan sesuatu pada balonnya.

  ‘Lee Donghaeneun Lee Heerineul saranghaeyo yeongwonhi!’

  Aku tersenyum lagi dan berjalan ke arahnya.

  “Lalu mau kau apakan?” tanya ku. Ia menyalakan korek lalu membakar sumbu lilin dalam balon tersebut. Perlahan balon tadi naik ke atas. Balon itu bercahaya remang-remang dari lilinnya. Tulisan Donghae tadi jadi terlihat jelas. Aku terus menatap benda itu sampai hilang jauh ke atas sana. Semoga saja sampai pada Tuhan dan Ia mengabulkannya.

  “Hey,” pangginya mengejutkanku.

  “Ne?” aku mengernyit. Ia berjalan ke arahku dan berbaring di sisiku.

  “Menurutmu sudah sejauh mana balon itu pergi?” tanyanya. Aku ikut merebahkan diriku.

  “Hm.. Sudah di surga,” jawabku.

  “Menurutku itu sudah dikabulkan sejak dulu. Karena aku mencintaimu sejak dulu juga,” balasnya membuat rona pipiku muncul perlahan.

  Ia kemudian berdiri dan membantuku ikut berdiri. Ia tersenyum lalu berlutut di hadapanku. Ia mengeluarkan sebuah cincin dengan sebuah permata berwarna biru muda di ujungnya.

  “Berjanjilah kau akan menikah denganku,” ucapnya membuat jantungku berdegup kencang.

  “Yaksokhaeyo,” jawabku ikut tersenyum. Ia menyematkan cincin itu di jari manisku lalu berdiri memelukku erat. Aku balas memeluknya.

  “Gomawo,” gumamku bersamaan dengannya. Kami terkikik. Liburan ini menyenangkan.

Donghae’s POV

  Dia menerima lamaranku! Memang kami belum akan menikah karena dia sendiri masih sekolah. Tapi setidaknya ia berjanji untuk itu.

  Aku menggandengnya pulang. Ini sudah lewat tengah malam, kupikir Siwon dan Kyuhyun pasti sudah tidur. Tapi begitu aku masuk ke kamar Kyuhyun basah kuyup hendak mandi. Aku mengernyit.

  “Kau habis dari mana?” tanyaku. Aneh sekali. Ia hanya tersenyum-senyum sendiri.

  “Habis menikmati hari libur yang menyenangkan,” jawabnya malah tertawa lebar. Bahkan saat di kamar mandi pun aku masih bisa mendengarkan ledakan tawanya. Aneh sekali dia. Sudahlah. Aku tak peduli. Kurasa memang kami harus sering-sering mendapat cuti seperti ini.

Girls’ Side…

Sungra’s POV

  Aku menunggu Minyeon dan Heerin pulang. Tadi tiba-tiba saja Minyeon menghilang. Kupikir mungkin dia pergi dengan Kyuhyun. Hmm.. Mereka ke mana ya?

  Tok.. Tok..

  Aku melirik ke arah pintu. Nah.. Siapa diantara mereka yang pulang duluan? Mungkin Heerin. Aku membukakan pintu dan benar sekali, Heerin sedang berdiri manis disana.

  “Aku pulang. Minyeon mana?” tanyanya melirik ke seisi ruangan. Aku hanya menaikkan pundakku.

  “Hilang dengan Kyuhyun,” jawabku. Begitu aku mau menutup pintu seseorang menahannya dari luar. Aku membukanya dan melihat Minyeon basah kuyup menggigil berdiri di depansana. Aku mengernyit heran. Habis dari mana dia?

  “Dari mana?” tanyaku.

  “Hanya jalan-jalan,” jawabnya santai malah tersenyum sendiri.

  “Ya kami tahu kalau kau habis jalan-jalan. Tapi ke mana? Kok sampai basah-basah?” tanya Heerin. Minyeon malah tersenyum.

  “Dari kolam renang hotel,” jawabnya lalu masuk. Aku dan Heerin hanya menganga. Ha? Ke kolam? Tidak kedinginan apa?

  “Sudahlah. Cepat ganti baju dan keringkan tubuhmu. Nanti masuk angin,” Heerin mendorongnya masuk ke kamar mandi.

  Aku melirik ke tangan Heerin.Adasebuah cincin tersemat di jari manisnya? Mm? Sudah dilamar?

  “Cincin itu dari Donghae?” tanyaku menyenggol tangannya. Ia tersenyum menunduk.

  “Irinya. Aku ditinggal kalian bertunangan.. Kapan resepsinya?” godaku membuatnya memukul pundakku. Aku mengelus pelan pundakku.

  “Sudahlah. Setelah Minyeon keluar dari kamar mandi kita langsung istirahat,” nasihatku. Ia ikut mengangguk. Hmm.. Kurasa semua dari kami menemukan hal yang menyenangkan di liburan kali ini. Kami harus berterima kasih pada Hwang Sungwook,Kim Sukhyun,Song Kibum,Lee Jongjun,Kang Byungjun,Hong Jongwook,Lee Seunghwan,Tak Youngjoon,Kim Jinsoo,Minsung ahjussideul. Mereka terlalu baik memberikan Donghae, Siwon dan Kyuhyun hari untuk berlibur!

THE END

Fiancé

Minn’s POV

  Aku membuka mataku begitu mendengar suara bel berbunyi. Aku mengusap-usap mataku. Siapa pagi-pagi begini ke sini?

  Aku melirik ke arah kalender meja di samping kasur. Tanggal…2 Juli! Eonni pulang! Pasti itu eonni!

  Aku segera berlari menuruni tangga dan membuka pintu. Di depanku sudah berdiri seorang yang tidak asing lagi. Tingginya sekitar lima senti lebih pendek dariku, rambutnya lurus panjang. Pipinya masih sama chubbynya dengan dulu.

  “Eonni!!” seruku. Ia masuk lalu terkikik.

  “Hehehe… Kau baru bangun ya? Bukankah kau bilang ada acara pesta di sekolahmu nanti malam?” tanyanya. Aku mendengus kesal.

  “Ne, aku tahu. Menyebalkan,” gerutuku. Ia mengernyit lalu menepuk pundakku.

  “Wae?” tanyanya. Aku mendesah.

  “Itu membuat kencanku terpaksa dibatalkan,” aku menutup kedua wajahku frustasi. Yah, memang tak biasanya aku mempermasalahkan soal kencan. Tapi Kyuhyun sudah janji mau membawaku ke suatu tempat – dan aku sangat amat penasaran tingkat tinggi.

  “Umh? Kencan? Dengan Kyuhyun?” tanyanya.

  “Tentu saja! Kau pikir aku mau kencan dengan siapa lagi?” gerutuku.

  “Oh! Kalau begitu kalian kencannya sore saja sampai jam makan malam berakhir. Bukannya pesta dimulai pukul sembilan malam?” sarannya. Aku bergumam sejenak.

  “Bagus juga! Eonni, Kau jenius! Aku telepon Kyuhyun dulu!” aku segera berlari ke kamarku dan menyambar ponselku di kasur. Aku segera menekan nomor yang sudah kuhafal diluar kepala.

  “Cepat angkat! Cepat ang.. Kyuhyun-ah!” seruku begitu sambungan terhubung.

  “Ne? Kau buru-buru sekali?” tanyanya. Aku menghela nafasku.

  “Bagaimana kalau kencannya sore saja? Lalu kau antarkan aku ke sekolah saat jam sembilan. Bagaimana? Bagaimana?” tanyaku langsung tanpa jeda.

  “Oh? Jinjja? Tentu saja bisa,” jawabnya membuat senyumku mengembang.

  “Yey!!” seruku senang. Ia terkikik.

  “Kau begitu senangnya karena akan berkencan denganku?” tanyanya. Aku mendengus kesal.

  “Kau bilang kau akan membawaku ke suatu tempat kan? Aku penasaran sekali. Tapi kurasa…aku memang senang karena kau yang mengajakku,” jawabku mengaku pada akhirnya.

  “Aku juga senang. Kujemput nanti…um.. Lima jam lagi. Jam tiga,” ucapnya. Aku bergumam mengiyakan lalu menutup teleponnya. Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Hari ini akan menyenangkan!

  “Jadi?” eonni mengagetkanku. Aku segera duduk. Ia juga duduk di sampingku.

  “Jam tiga,” jawabku masih tersenyum. Ia membulatkan matanya.

  “Sebentar lagi dong?” tanyanya membuatku mengernyit.

  “Masih lima jam lagi,” jawabku. Ia berdecak dan memegangi pundakku.

  “Kurasa aku harus mendandanimu,” ia tersenyum nakal.

  “Shireo! Aku tidak suka memakai make up,” bantahku. Ia menarikku.

  “Ayolah. Kau tidak tahu ke mana Kyuhyun akan membawamu, kau harus berdandan,” ia mendeluarkan sekotak besar peralatan make up yang dibawanya dari Singapore. Ckck.. Untuk apa ia membawanya kemari?

  “Eonni…,” aku berusaha membuatnya batal membuatku menjadi bonekanya.

  “Psstt..! Diam saja!” desisnya selagi mengutak-atik wajahku. Aku merasa agak risih.

***

  “Selesai!” serunya setelah sekitar dua jam meriasi wajahku. Aku mendengus kesal.

  “Baiklah. Ini cerminnya,” ia mengangkat sebuah cermin kecil. Aku menatapnya terpaku. Itu aku? Ia di Singapore sekolah apa kerja di salon?

  “Kau apakan wajahku?” tanyaku mengernyit. Ia terkikik.

  “Sudahlah. Sekarang pilih pakaian. Aku sudah bawa banyak dari Singapore,” ia membuka koper besarnya. Aku melihat banyak sekali gaun-gaun terlipat rapi di sana. Ckck.. Dia pecinta shopping.

  “Cobalah satu-satu. Walaupun dulu pakaian kita tak seukuran sekarang kurasa sama. Mungkin kalau kau yang pakai hanya roknya lebih pendek, karena kau lebih tinggi dariku,” ia mengambil setumpuk gaun dan mendorongku ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.

About Thirty Minutes After…

  “Uhm? Kau tidak cocok pakai itu,” komentarnya saat aku keluar dengan gaun kesekian. Aku mendengus kesal.

  “Eonni! Nanti make up-nya terlanjur luntur!” omelku.

  “Tak apa, nanti bisa dibenarkan. Memangnya kau suka warna apa? Mungkin bisa membantu,” ia bertopang dagu.

  “Biru. Kyuhyun juga suka biru. Ya, biru. Ada?” tanyaku. Ia melirik ke dalam kopernya dan mengangkat sebuah gaun berwarna biru langit. Dari kainnya… Sepertinya itu mahal sekali! Dapat dari mana dia? Gaun itu bagus sekali!

  “Cobalah,” ia menyodorkan baju itu. Aku mengangguk dan kembali masuk ke kamar mandi. Setelah berganti aku keluar perlahan.

  “Eonni? Kau yakin?” tanyaku saat ia mengangguk. Ia menarikku mendekat.

  “Kutata rambutmu. Nanti kupinjami high heels,” ia menyisiri rambutku. Hmh.. Kurasa ia cocok untuk membuka salon.

***

  Tin.. Ton..

  Bel rumah sudah berbunyi setidaknya lima belas kali. Aku masih gugup untuk membuka pintu rumah. Aku menarik nafas lagi. Tenang! Ini bukan pertama kalinya aku pergi kencan dengan Kyuhyun! Tapi..urgh! Sudahlah! Aku tak peduli.

  Aku langsung membuka pintunya dan melihat sesosok pria tinggi berjas rapi berdiri di hadapanku. Aku menengadah menatapnya kagum.

  “K-kyuhyun?” panggilku gugup. Aku menunduk, takut ia melihat rona merah pipiku. Ia menyentuh daguku dan mengangkat wajahku. Matanya menatapku lekat-lekat.

  “Neomu yeppo. Kajja, kita pergi,” ia menggandengku ke mobilnya.

  “Mau ke mana?” tanyaku.

  “Sudah kubilang ini rahasia,” jawabku. Aku hanya mendengus kesal. Ke mana sih? Perasaanku berubah….entahlah, sepertinya akan ada sesuatu yang amat mengejutkan.

***

  Beberapa lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah yang agak besar. Aku mengernyit. Ini di mana?

  “Sampai?” tanyaku. Ia mengangguk lalu menyuruhku turun. Ia menggandeng tanganku masuk.

  Seorang wanita yang separuh baya keluar. Menatap kami. Ia mengernyit lalu tersenyum.

  “Eomma,” sapa Kyuhyun. Aku langsung jantungan. Untuk apa ia membawaku ke eommanya?!

  “Silahkan masuk,” Cho ahjuma – begitu saja panggilnya, mengijinkan kami masuk.

  Aku duduk dengan tegangnya di ruang tamu. Kyuhyun duduk di sampingku, sedangkan di hadapanku sudah ada Cho ahjumma dan ahjussi. Ahra eonni duduk di sebelah mereka.

  “Ehm.. Jadi… Sudah berapa lama kalian pacaran?” tanya Cho ahjumma membuat keringat dingin membasahi tanganku. Tiba-tiba Kyuhyun menggenggam tanganku, tapi masih menatap orang tuanya.

  “Sudah sekitar dua tahun,” jawabnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

  “Oh? Memangnya… Anda umur berapa, Minyeon-ssi?” tanyanya menghadapku. Aku gemetaran. Aigoo… Ini menyulitkan.

  “Lima belas,” jawabku. Aku mendengar ayahnya berdeham.

  “Beda delapan tahun ya?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Kalau dihitung-hitung beda jauh ya? Uhm.. Tapi tidak juga ah. Appaku juga lebih tua delapan tahun dari eommaku.

  “Bedanya tak terlalu jauh,” komentar mereka membuatku mengernyit. ‘Tidak’ terlalu jauh?

  “Agassi, dudukmu itu terlalu tegang. Santailah sedikit. Anggap kami seperti keluargamu sendiri,” saran Ahra eonni. Aku mengangguk lalu merenggangkan ototku sedikit. Punggungku sakit sekali. Kyuhyun menepuk pelan punggungku.

  “Tenang saja,” bisiknya. Dasar! Ini semua karena dia! Kenapa ia tak bilang kalau mau membawaku ke orang tuanya??! Aku kan masih SMP! Memalukan sekali!

  “Minyeon-ssi, ini sudah jam makan malam, kalian mau makan malam bersama kami atau pergi makan berdua?” tanya Ahjumma. Waduh…

  “Makan di sini,” jawab Kyuhyun. Aku hanya tersenyum.

  “Silahkan tunggu,” ia menyuruhku menunggu. “Tunggu saja di kamar Kyuhyun,” eommanya menunjukkan sebuah kamar.

  Aku menunggu di kamar Kyuhyun – dengan si empunya kamar. Kami duduk di tepi kasur berdua.

  “Kau tumben berdandan,” katanya memecah keheningan. Aku menoleh cepat ke arahnya.

  “Oh, ini kerjaan eonni. Hari ini dia pulang, langsung menyerbuku sebagai kelinci percobaannya,” gerutuku. Ia mengelus pelan pipiku.

  “Cocok kok,” gumamnya. Kurasakan wajahku memerah, dan kurasa wajahku lebih merah dari tomat karena efek blush yang di poles di pipiku.

  “Kau sendiri tidak bilang kau membawaku ke sini,” omelku. Ia terkikik lalu merangkul pundakku.

  “Kalau aku bilang kau pasti tidak mau. Iya kan?” balasnya. Aku berpikir sejenak.

  “Setidaknya kalau kau bilang aku bisa mempersiapkan diri,” gumamku kesal. Aku menoleh menatapnya. Tatapan kami bertemu. Ia mendekatkan wajahnya. Aku memejamkan mataku perlahan.

  Tok.. Tok..

  Seseorang mengetuk pintu tepat saat Kyuhyun mulai menggulum bibirku. Aku langsung menarik wajahku menjauh.

  “Aish! Mengganggu saja,” desah Kyuhyun seraya berjalan membukakan pintu.

  “Ayo makan,” kepala Ahra eonni menyembul masuk. Aku masih menunduk menyembunyikan wajahku. Aish! Untung saja tak dilihat! Ini ekstrim sekali! Aku harus bisa menjaga jarak dengannya di sini!

***

  Selama makan malam mereka menanyakan berbagai hal kepadaku, seperti sedang interogasi. Ini seperti acara lamaran saja. Memalukan! ><

  Seusai makan malam Kyuhyun membawaku keluar. Kami turun di tengah jalan lalu bergandengan tangan ke taman.

  Aku duduk di ayunan di sana – kakiku sakit sekali. Dia sendiri duduk di sebelahku.

  “Bagaimana?” tanyanya. Aku menatapnya mengernyit.

  “Apanya yang bagaimana?” tanyaku. Ia tersenyum.

  “Bagaimana tadi? Kau senang?” tanyanya. Aku tersenyum tipis.

  “Aku sempat gugup, tapi mereka baik semua,” jawabku jujur. Ia terkekeh.

  “Lalu kapan aku bisa makan bersama keluargamu?” tanyanya. Aku bergumam tak jelas.

  Ia berdiri dan berjalan ke arahku. Ia menekuk kakinya berlutu di hadapanku.

  “Jagiya,” panggilnya. Aku menatap kedua bola matanya.

  “Ne?” balasku. Ia memasukkan tangannya ke balik jasnya lalu mengambil sebuah kotak kecil. Aku sedikit membelalak. Apa itu…

  “Berjanjilah untuk menikah denganku,” pintanya membuka kotak kecil. Aku melihat sepasng cincin di dalamnya membuatku membulatkan mataku besar. Hey, jangan bercanda!

  “Kyuhyun-ah, tapi…”

  “Kumohon. Berjanjilah. Hanya berjanji,” pintanya. Aku menatapnya. Jantungku berdebar keras. Aegyo yang dipajangnya membuatku bertambah gugup. Ia menggenggam erat kedua tanganku.

  “Aku akan membahagiakanmu,” gumamnya. Bukan, bukan itu masalahnya. Tapi aku…aku…terkejut? Terkesan? Ya.. Keduanya.

  Aku masih menatapnya. Perlahan kuanggukkan kepalaku. Senyumnya mengembang. Ia menyematkan satu cincinnya di jariku.

  “Giliranmu,” ia menyerahkan kotak itu padaku. Aku mengambil cincin satunya dan menyematkannya di jarinya.

  Ia berdiri menarikku ikut berdiri dan memelukku erat.

  “Gomawo. Jeongmal gomawo,” gumamnya. Aku mengangguk.

  “Seharusnya aku yang bilang gomawo padamu,” balasku. Ia merenggangkan pelukannya dan menatapku. Ia menyentuh pipiku dan mendekatkan wajahnya.

  Bibir kami saling bertautan. Aku hanya memejamkan mataku dan mengikuti gerak bibirnya. Malam ini menyenangkan sekali.

***

  Aku masih duduk di dalam mobil Kyuhyun yang sudah lima menit diparkirkan di depan gerbang sekolah. Seperti janjinya, ia mengantarku ke sekolah.

  “Kyuhyun-ah,” panggilku. Ia segera melihat ke arahku dan tersenyum.

  “Ne?” gumamnya.

  “Gomawo,” ucapku. Ia mengelus pipiku lagi.

  “Sudah berapa kali aku bilang, tak usah bilang ‘gomawo’ padaku. Aku kan namja chingumu sendiri. Eh, bukan. Mulai hari ini aku bukan hanya namja chingumu, aku TU-NANG-AN-MU,” ia menekankan tiap suku kata pada kata terakhir. Itu membuat semburat merah wajahku muncul lagi.

  “Ne, terserah kau, TU-NANG-AN-KU,” balasku menirukan pelafalannya. Ia meraih leherku dan mengecup pelan pipiku.

  “Sudahlah, sana turun. Kau masih ada acara, kan?” Ia menepuk pundakku. Aku mengangguk lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam.

  Aku mengedarkan pandanganku ke seisi ruangan untuk mencari di mana Sungra dan Heerin berada.

  “Heerin-ah! Sungra-ya!” panggilku. Mereka tersenyum melihatku.

  “Minn-ah!” balasnya. Mereka menepuk pundakku.

  “Kau dari mana? Lama sekali,” omel Sungra. Aku hanya tersenyum.

  “Kencan?” tanya Heerin. Aku berpikir sejenak.

  “Itu salah satunya,” jawabku terkikik. Mereka semakin menatapku penasaran.

  “Ceritakan dong,” pinta mereka. Aku menggeleng.

  “Tidak mau,” tolakku. Aku mengambil segelas minuman dan meneguknya.

  “Hey, tunggu dulu!” seru Sungra. Aku hanya mengernyit karena masih minum.

  “Kau sudah menikah?” tanyanya menunjuk ke cincin yang diberikan Kyuhyun tadi, membuatku langsung tersedak hebat. Aduh, Sungra ini jalan pikirannya jauh banget.

  “Jinjja? Seingatku Hwang ahjussi dan ahjumma belum kalian beritahu soal hubungan kalian,” celetuk Heerin. Aku masih sibuk menghentikan sedakkanku.

  “Kami bukannya menikah,” bantahku. Mereka masih menatapku. Seakan jawabanku masih kurang memuaskan. Aku mendesah pelan. “Geurae, geurae, kuberitahu. Kami… Yah.. Erh.. Nggg… ber…tunangan,” jawabku ragu. Mereka membulatkan matanya menatapku. Aku hanya tersenyum masam.

  “JINJJA???!!!!” seru mereka keras sekali membuat semua orang di sekitar kami memandang aneh kami. Aku langsung memelototi mereka. Mereka mau membongkar semuanya?!

  “Oh, mianhae,” sepertinya mereka sadar apa yang baru saja mereka lakukan. Aku menghela nafasku.

  “Kalian ini! Kalau masalah ini bocor, kalian juga akan kena akibatnya,” ancamku. Mereka malah terkikik.

  “Kau sendiri, tunangan tidak mengundang kami. Memang kalian bertunangan di mana?” tanya mereka.

  “Taman dekat rumah Kyuhyun. Memangnya kenapa?” tanyaku.

  “Kok dekat rumah Kyuhyun? Memangnya kau habis dari sana?” tanya mereka. Sepertinya mereka akan terus bertanya sampai pesta berakhir.

  “Ne. Aku makan malam di sana. Memangnya tidak boleh? Kalian ini mau bertanya terus sampai kapan hah?” omelku. Mereka merangkul pundakku.

  “Irinya. Chukhahae!” seru mereka lagi. Aku hanya berdeham mengingatkan mereka supaya tidak kencang-kencang bilangnya. Lalu aku tersenyum tipis.

  “Kupikir aku harus memakai cincinnya sebagai kalung saja. Aku numpang uangnya Mingi eonni saja untuk membeli rantai kalungnya. Dia menyebabkanku merasa risih berdandan begini di depan Kyuhyun,” gerutuku.

  “Kurasa Kyuhyun menyukai kau berdandan seperti itu,” balas mereka.

  “Ya, ya. Terserah kalian,” jawabku pasrah. Membalas perkataan mereka sama saja dengan berdebat sampai pagi.

  “Ngomong-ngomong kenapa Kyuhyun bisa tahu ukuran jarimu?” tanya Sungra. Aku mengernyit. Iya juga ya?

  “Entahlah. Ini pas sekali kok,” aku menatap ke arah cincin tadi. Aku baru menyadari sesuatu. Kurasa…

  “Menurutku ini sebaiknya dipakai kalau sudah menikah saja,” gumamku dengan semburat merah di pipi. Sungra dan Heerin ikut melirik ke arah cincin yang sudah kulepas untuk kulihat tulisan di dalamnya. Hangeul ‘Kyuhyun’ dan ‘Minyeon’. Apa-apaan ini?! Kukira cincin biasa, ternyata dia serius!

  “Ini bukan cincin tunangan! Ini cincin nikah!” seru mereka membuatku melotot lagi.

  “Tapi dia bilang aku ‘tunangan’nya bukan ‘istri’nya,” desisku supaya orang yang memperhatikan kami. Cho Kyuhyun itu sepertinya polos sekali. Kalau saja ketahuan wartawan, aku tidak akan mau membantunya! Sungra dan Heerin saja bisa tahu, bagaimana dengan wartawan yang selalu membidik dari ujung rambut sampai ujung kaki? Dasar!

THE END

Annyeong!!!!! XD kebetulan dapet ide habis liat MV artis Taiwan *asal liat gtw namanya*
Minta Komen~! Gomawo…

%d bloggers like this: