Tag Archives: Onew

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 7]

Pet Kiss! Kiss! Kiss! 7

 

Harin’s POV

  Kalau aku suka padamu, kau mau jadi pacarku?

  Kalimat bertinta merah itu terus kubaca berulang-ulang tanpa berkedip. Ingin sekali aku buka mulut, menanyakan apa ia serius atau tidak. Tapi sayangnya serangkaian pertanyaan itu seperti berhenti di tenggorokan, menggumpal, dan tidak bisa keluar.

  Sekarang pilihanku cuma ada dua : tidak menjawab, makan mi lagi dan bertemu bibir dengan Key – permainan berakhir; atau menjawab dengan jujur pertanyaannya.

  Nafas Key menderu-deru di depan wajahku, membuatku semakin kacau. Aku bisa merasakan tatapan matanya tak beralih dari wajahku yang terus menunduk menghindari tatapannya, entah mencari-cari jawaban apa.

  Dengan setengah ragu aku menggerak-gerakkan spidol pink-ku di atas kertas yang kupeluk sedari tadi – seakan jawaban nyata yang ada di hatiku bisa tercetak langsung dengan jelas di atasnya dengan aku memeluknya.

  Moreugesseo. Maybe…? Tergantung kau.

  Ia mengerutkan alisnya dalam. Tidak puas dengan jawabanku sepertinya. Jelas saja, jawabanku sangat menggantung tak jelas apa artinya. Aku tahu ia ingin protes.

  Kawi Bawi Bo!

  Johta. Aku menang. Sekarang aku bisa menanyakan pertanyaan yang menempel di kepalaku.

  Jangan ketawa! Ara? Neon…naega johta?

  Matanya bermain-main menelusuri tulisan tanganku satu per satu. Aku melihat jelas wajahnya memerah, apalagi dari jarak sedekat ini. Nafasnya juga jadi tak beraturan, dan hawanya lebih panas. Apa aku menanyakan pertanyaan yang salah? .___.

  Tiba-tiba, tanpa peringatan matanya beralih menatap mataku. Di matanya tersirat binar-binar terang yang belum pernah kulihat sebelumnya – entah kenapa jadi begitu. Mungkin karena dari jarak sedekat ini aku memang bisa melihat jelas sinar matanya?

  Aku tidak yakin saat melihat Key tiba-tiba tersenyum, namun tanpa jeda tiga detik, senyuman itu berubah menjadi sebuah ciuman, yang tidak bisa kulihat namun bisa kurasakan.

  Aku sempat bingung, dan mengerutkan alisku dalam mengabaikan Key yang masih menggulum bibirku lembut. Apa Key main-main? Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaanku. Namun kebingungan itu hilang saat tangannya perlahan menggenggam tanganku erat. Ujung bibirku terangkat menjadi seulas senyuman dan membalas ciumannya.

  “Niga neomu joha…,” kudengar gumamannya di sela-sela ciuman hangatnya.

***

  Key menggenggam tanganku kuat-kuat walaupun aku masih berusaha melepaskannya. Tiap kali kutanya kenapa ia terus menggandengku alasannya sama : Apa salahnya orang pacaran bergandengan tangan?

  Aku tahu yang kalian pikirkan! Kenapa aku bisa pacaran dengannya saat beberapa hari lalu aku masih meragukan perasaanku? Well, jawabannya cuma satu.

  Aku terlalu bodoh untuk menipu diriku sendiri selama ini.

  Jangan salahkan aku kalau aku memang terlahir sebagai orang yang penakut. Pengecut, itu mungkin yang kalian pikirkan. Tapi sejauh apa aku mau menghilangkan rasa takutku – entah takut sakit hati atau takut berakhir menyedihkan, perasaan takut itu masih berbiji-akar di hatiku. Introvert. Itu satu kata yang menggambarkan diriku. Aku bukan seperti Key yang bertipe happy-go-lucky. Aku tahu menjadi orang seperti itu terkadang sangat amat bodoh di suatu moment. Seperti contohnya sekarang.

  “Key!!” desisku kesekian kalinya.

  “Tenang~” ia menepuk kepalaku seperti aku binatang peliharaannya – terbalik!!

  “Haih! Geumanhae,” gerutuku. Ia mengernyit.

  “Wae?” tanyanya. “Tidak boleh PDA? Geokjeonghajima, aku tidak akan macam-macam padamu tak peduli walaupun terkadang aku juga melihatmu sebagai seorang lady,” tangannya membentuk tanda kutip. Aku menatapnya datar.

  “Byuntae-mu tidak bisa hilang ya,” balasku datar. Ia hanya terkikik geli.

  “Eh,” panggilnya. “Igeobwa! Igeobwa!” ia menunjuk ke arah lain yang sontak membuatku memutar kepalaku.

  Jjuk~!

  Sebuah kecupat kilat ala Key yang sering dilakukan dimanapun mendarat di pipi kananku tanpa peringatan. Sengatan kecil yang kurasakan membuatku tersadar kalau dia baru saja menipuku.

  “Mwo-YAHHHH!!!!!” pekikku saat Key tiba-tiba menggendongku bridal style dan membawaku berlari ke suatu tempat. “Eodi ga?!!” seruku.

  “Heaven,” gumamnya pelan namun cukup keras untuk masuk ke telingaku. Heaven?! O.o Mau membunuhku?!

***

  Aku mendongak menikmati siraman sinar matahari di Yeouido. Matahari memang bersinar terang dan hangat. Namun karena ini sudah masuk musim gugur, angin sudah mulai sepoi-sepoi berhembus. Terasa nyaman.

  Gyut~

  Sepasang lengan yang sedari tadi memelukku mengerat, membuatku kembali ke alam sadar dan mengerutkan alisku, menepuk tangannya keras.

  “Auw!” ia melepaskan pelukannya. “Ish! Neomu apha!” gerutunya.

  “Jangan memelukku terlalu erat! Aku tidak bisa bernafas!” omelku. Ia kembali membenahi duduknya dan mengendurkan pelukannya.

  “Ireohke? Eottae?” tanyanya. Aku mengangguk-angguk dan kembali menikmati pemandanganku.

  Key mengajakku ke Yeouido park! Katanya karena tidak mungkin berlari dari Seoul ke Jeju -_-

  Ia duduk memangkuku di salah satu tempat istirahat yang nyaman. Katanya supaya rok yang kupakai tidak kotor, ia rela memangkuku.Kami sudah duduk berbincang-bincang di sini sepanjang sepuluh menit.

  “Eh,” panggilnya. “Ireona. Ireona,” ia menyuruhku berdiri. Aku mengernyit.

  “Wae?”

  “Kaja!” ia menyeretku ke tengah taman – tempat pancuran air dan kolam pendek.

  “Hah?? Wae yeogi ga?” tanyaku spontan. Ini musim gugur! Sudah sore lagi! Jangan bilang dia mau-

  Byur!!!

  “KEY!!!!!!!!!” pekikku begitu aku tercebur ke salah satu kolam pendek di sana. “Neon juggetda!!”

  Ia tertawa lebar. Dan tanpa sadar aku juga ikut tertawa saat menyipratinya dengan air. Mungkin date seperti ini bagus juga hehe.

  “Watda!!”

  “Kyaaa!!”

  Kami tertawa lebar saat Key menangkapku dalam pelukannya. Walaupun sudah basah-basahan dan tertiup angin September begini tetap saja pelukan Key terasa hangat. Hangatnya luar dalam, mengerti?

  “Kibum-ah?” panggil seseorang membuyarkan tawa kami. Masih memelukku Key berbalik, mendapati seorang wanita berambut ikal sebahu menatap kami bergantian. Aku melirik Key. Ekspresi wajahnya berubah. Rahangnya mengeras, seakan menahan marah, sedih, atau apapun itu. Yang jelas ia menjaga ekspresi yang meluap-luap supaya tidak keluar. Aku bisa merasakan auranya.

  “Wae yeogi isseo?” tanya Key dingin. Siapa yeoja ini?

  “Geunyeoga nuguya?” ia mengedik ke arahku. Heol. Itu yang seharusnya kutanyakan padanya -_-

  “Harin-ah, jibegaja,” Key berbalik menarikku bersamanya. Uh? Apa yang terjadi? ._.

  “Key!” seru wanita itu. Dalam hitungan detik ia sudah mengahmpiri kami.

  Dan aku berusaha tidak mempercayai apa yang kulihat.

  Cewek itu mencium Key. Key-ku.

***

  Aku masih mengerutkan alisku dan melangkahkan kakiku lebar-lebar. Tidak peuli Key yang tertinggal di belakang terus memanggil namaku. Aku kesal.

  “Yah!!!! Tunggu aku!”

  Aku tak mengeluarkan suara. Aku mau marah, tapi aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk marah pada Key. Itu bukan salahnya. Aku tahu. Maka dari itu aku tidak bisa marah. Tapi aku tetap kesal. Aneh kan? Kekanak-kanakan? Iya.

  “Lee Harin!!” serunya kemudian menahan tanganku. Ia memutar tubuhku menghadapnya dan menatapku tegas. Tapi itu tetap tidak menghilangkan kekesalanku. “Museun iriya?”

  Babo. Itu pertanyaan yang benar-benar bodoh.

 

Key’s POV

  Aku merasa seakan ingin menebas kepalaku sendiri saat pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Aku bisa melihat persis rasa kecewa di mata Harin saat ia mendengarnya.

  Key babo. Kau tahu persis kenapa ia marah dan masih menanyakan apa yang terjadi.

  “M-mianhae,” gumamku mengusap pundaknya. Ia menunduk terisak. “Jinjja mianhae, aku menyesal. Jalmothaeseoyo,” bisikku.

  “Kau jahat,” isaknya pelan. Aku mengangkat jempolku dan mengusap air matanya. “Sudah tahu masih saja menanyakannya.”

  “Uljima. Jebal. Aku janji sampai di rumah aku akan menceritakan semuanya, ara?”

  Ia hanya terdiam. Aku tak punya pilihan lain selain menggenggam tangannya membawanya pulang.

 

Harin’s POV

  Aku duduk diam di depan Key. Ia membuatkan aku segelas teh citrus yang sekarang mendingin dan belum kusentuh sedikit pun. Aku sekarang memang masih kesal. Tapi jujur aku lebih merasa bersalah ._.

  Aigooya! Harin-ah! Kenapa kau merasa bersalah?! Jelas-jelas ini bukan salahmu!

  Aku menepuk keningku dalam hati. Aku terlalu lemah untuk hal seperti ini! Aku butuh advisor!

  …

  BENAR!!!!

  Setelah Key menjelaskan semuanya aku akan menelepon Sungra dan Minyeon! Kalau perlu aku tanya Heerin sekalian!

  “Ehem,” Key berdeham membuyarkan lamunanku. Ugh, tapi untuk mendengarkan penjelasannya itu butuh waktu lama.

  “Kau…masih marah?” tanyanya setelah tidak mendapat jawaban dariku.

  Aku cuma menggeleng. Aku tidak marah, aku kesal – walaupun aku tahu bedanya tipis.

  “Tadi….sungguh! Aku tidak bermaksud apa-apa!” ujarnya. Aku menggeleng.

  “Eh? Wae? Kau tidak percaya? Aku-“

  “Aniya. Mideoyo,” jawabku cepat. Ia terdiam sejenak.

  “Dia yang menciumku! Aku seratus persen tidak bermaksud-“

  “Arayo,” potongku menggeleng lagi. Kali ini ia mengernyit.

  “Lalu?”

  “Siapa yeoja tadi?” tanyaku pelan. Ia terlihat terkejut sejenak seakan suaranya hilang tak berbekas.

  “G-geunyeoneun….,” gumamnya akan terbata-bata. “Jung Yoojin,” lanjutnya. Aku menghela nafas panjang. Sudah kuduga. Tepat sasaran.

  “K-kau marah lagi?” ia memiringkan kepalanya mencari view yang tepat membaca ekspresiku. Aku menghela nafas pelan.

  “Aku tidak marah,” jawabku berusaha setenang mungkin. Sekarang ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjongkok di depanku.

  “Kau bilang begitu dari tadi,” ia menatap mataku lurus-lurus. “Tapi aku tidak percaya,” balasnya serius. Sekarang aku yang menjadi takut!

  “A-aku memang tidak marah kok!” bantahku tersipu karena tatapannya yang intens dari jarak dekat. Ia masih memasang wajah serius. “Aku nggak marah! Aku cuma kesal! Uh…. Kaget juga sih…,” balasku dengan nada tak karuan. Sekarang aku merasa benar-benar canggung dan malu!

  “Apa bedanya marah dan kesal?” tanyanya memasang wajah kesal.

  “Memangnya tidak beda?” gumamku pada diriku sendiri. “Ah, bodo amat! Pokoknya beda!”

  Ia masih menatapku datar tanpa bicara. Ugh! Kenapa jadi terbalik?!!

  “Sudahlah! Aku mau telepon Sungra dulu! Kau keluar dulu sana!” gerutuku meraih ponselku. Baru aku akan memijit nomer Sungra, Key sudah menyambarnya dari tanganku.

  “Yaah! Kenapa diambil??” rengekku. Ia menatapku datar dan tajam.

  “Kenapa harus telepon? Aku tidak akan mengembalikannya kalau kau tidak mau memaafkanku,” rengeknya. Dasar keras kepala!

  “Wae andweyo? Sungra kan temanku,” rengekku.

  “Tapi-“

  Ting.. Tong…

  Aku dan Key menoleh bersamaan ke arah jendela. Nugu?

  Ia bangkit berdiri dan kuikuti ia berjalan ke pintu utama. Nuga wasseo? Eomma dan appa tidak mungking pulang jam segini. Onew oppa?

  Key membuka pintu dengan satu sentakan. Dua orang berjas, dan yeoja tadi berdiri di depan rumahku. Wae? Apa yang terjadi?!

  “Kibum-ah, annyeong,” senyum yeoja tadi membuatku ingin merobek wajahnya. Senyumnya palsu!

  “Joeseonghaeyo, anda salah alamat,” Key langsung membanting pintu membuatku terlonjak. Kudengar pintuku ketuk- aniya, dipukul dari luar.

  “YAH!!!! Jangan mengelak! Keluar kau Kibum!” pekik yeoja tadi memekakan telinga. Bagaimana yaoja itu berteriak sampai menembus pintu dan tembok rumahku? Michyeonde?!

  “Naega Kim Kibum aniya!” seru Kibum membuyarkan umpatanku pada gadis tadi. “Kalian salah orang! Aku tidak pernah menjadi bagian keluarga Kim!”

  Aku mengerjap menatap Kibum. Wajahnya, ekspresinya, tidak terbaca. Alisnya berkerut dalam. Matanya memancarkan kemarahan, tapi juga memancarkan kesenduan.

  “Yah, nan baboga aniya,” dengus cewek tadi. “Nawaya ppali!”

  Key melirikku. Ia berjalan mendekat ke arahku.

  “Harin-ah, geu yeojaga sireunji?” tanyanya. Aku mengernyit.

  “Jom…..,” gumamku pelan.

  “Benci juga boleh. Bagus malah. Kaja ikut aku!”

  Hah?

***

  Aku mengernyit menatap ember berisi air bekas cuci baju yang diberikan Key kepadaku.

  “Naega wae????” desisku meliriknya tajam. Ia barusan saja menyuruhku membuang air itu keluar jendela lantai atas. Dengan kata lain menyiram yeoja yang masih ribut di pintu depan rumahku dengan air deterjen.

  “Bukankah ini mudah? Geunyeo moksori jinjja jajjeungna, aku tidak betah mendengarnya,” rengeknya. Aku mengehal nafas lalu meletakkan embernya di tepi balkon, mengambil ancang-ancang – karena ember ini berat sekali!

  Tapi seakan adavyang mendengar keluhanku ember dan beserta isinya itu jatuh. Oops…..

  “KYAAAAAAA!!!!” pekik gadis tadi setelah ia menjadi basah kuyup dan tertimpa ember. Ini yang dinamakan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

  “Daebak!!!!!” pekik Key girang. Aku melirik ke yeoja tadi yang menghentakan kakinya ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari rumahku. Aku yakin yeoja tadi akan datang lagi.

***

  Key sedang berbaring di ranjangku membalut dirinya dengan selimut. Aku yang sedari tadi duduk manis di meja belajar mengerjakan pe er langsung membalik kursiku menatapnya.

  “Key,” panggilku. “Geugeo…..Tadi kenapa bilang kau bukan keluarga Kim?”

  Ia menywmbulkan kepalanya dari dalam selimut. “Aku mwmang tidak mau bermarga Kim,” gumamnya. Ia kemudian melirikku. “Ah! Aku maunya semarga denganmu!” serunya.

  “Bagaimana bisa?” tanyaku mengernyit. “Margaku kan Lee,” balasku. Ia kemudian memeluk gulingku.

  “Siapa bilang harus bermarga Lee? Kalau kau menikah denganku kan kita jadi semarga. Kim Harin, eotteohke?” tanyanya mengedipkan sebelah matanya. Aku menatapnya datar.

  “Kau bilang tidak mau marga Kim?” tanyaku. Entah sejak kapan ia jadi ada di sampingku, melemparkan lengannya ke bahuku.

  “Asal semarga denganmu aku mau,” ia tersenyum lebar. Aku hanya mengernyit dan melanjutkan pe erku.

  “Oh iya, lusa seolnal,” gumamku memutar kepalaku menghadapnya. Ia mengerutkan alisnya. “Waeyo?”

  “A-ani…. geurom, besok malam aku harus pergi. Jangan cari aku sampai awal musim semi selesai ara?”

  “Mwoya?” seruku. “Awal musim semi kan lama sekali?” Sebenarnya kenapa sih??

  “Pokoknya jangan cari. Musim semu itu berbahaya tahu,” gumamnya. “Aku tidak bisa menjelaskan sekarang,” entah hanya aku atau memang kenyataan wajahnya sesikit merah. Dis marah?

  “Kalau tidak ketemu kau jadi anjing terus? Lalu kau mau tinggal di mana?” tanyaku. Padahal aku ingin merayakan seolnal bersama Key…

  Ia tersenyum dan mengelus kepalaku. “Gwaenchanha. Aku tidak akan hilang selamanya kok!”

  Ahhh…. Musim semi tanpa Key….

 

To Be Continued…

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 4]

Harin’s POV

“Harin-ahh!!” samar-samar kudengar namaku dipanggil-panggil. “Ya! Ireona! Kau tidak sekolah??”

 Ugh… Ini suara Onew oppa..?

“Nee!!” seruku mengusap-usap mataku sambil berusaha duduk. “Yah! Ke-”

Aku mengerjap menyadari sesuatu. Sebelahku kosong. Semalam Key memaksa untuk tidur di kasurku, sekali saja. Tapi ke mana dia sekarang??

  Key…..benar-benar pergi?

“Yah! Harin! Kau ini!” Onew oppa mendobrak masuk. “Menjawab ‘Nee!!’ tapi tidak segera turun!”

“Oh?” aku melihat ke arah jam. Tiga puluh menit sebelum masuk sekolah dan aku belum mandi?!! “Kok tidak bangunkan aku lebih pagi?!!”

“Ck! Aku sudah bangunkan kau!” omel Onew oppa. “Kau malah menendang-nendang orang!”

“Ohhhhh… Mian,” balasku. “Oppa, kau lihat Kibum?” tanyaku.

“Kibum?” ia menatapku curiga. “Siapa Kibum??”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arahnya. “Key! Aku bilang Key! Anjingku!” aku melongok ke bawah ranjang. “Kok tidak ada?” tanyaku.

“Oh? Entahlah, aku tidak lihat,” balasnya. “Tapi tadi pagi-pagi sekali aku dengar ada yang membuka pintu. Entah itu siapa, tapi saat kulihat tidak ada orang,” lanjutnya.

Oh… Key benar-benar pergi..

  Tapi kenapa aku merasa ingin mencarinya?

“Hey, nanti kucarikan. Kau mandi dan ke sekolah dulu sana,” perintahnya. Aku mengangguk. Lagipula aku satu sekolah dengan Key. Apa susahnya bertemu dengannya? Yang penting ia tidak di rumahku.

***

Aku tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Setibaku di kelas aku mendengus kesal karena belum sempat mencari Key. Aku memang tidak ada urusan dengannya. Tapi….ah, siapa peduli!

 

“Pagi, anak-anak!”

“Pagi, sonsaengnim!” seruku, dan anak-anak lainnya malas-malasan. Huft… Membosankan.

“Kalian sekarang maju ke depan ambil undian. Hari ini kalian akan melakukan research singkat tentang range vocal dan musik dalam kelompok empat orang,” jelas Baek sonsaengnim mengeluarkan kotak berisi kertas-kertas undian. Aku mendesah lagi. Aku, Minyeon dan Sungra sudah jelas cuma bertiga dan kurang satu orang lagi.

“Psst!” desis Minyeon yang duduk di belakangku menepuk-nepuk pundakku. “Harin-ah! Beritahu aku kau dapat apa! Aku tidak mau sekelompok dengan orang lain, ya? Ya??” bisiknya. Aku mengangguk. Aku juga tidak mau.

“..Kalian akan sekelompok dengan yang mendapat kertas berwarna sama-Minyeon-ssi bisa duduk dengan benar??” Baek sonsaengnim menatap kami tajam.

“Ne, sonsaengnim,” gumam Minyeon pelan.

Kami satu per satu maju dan mengambil kertas undian termasuk aku. Aku mendapat warna merah. Dan untung saja belum ada yang mengambil warna merah.

Author’s POV

Minho yang duduk di tengah-tengah kelas itu terus-terusan memicingkan matanya ke arah Harin. Mau tidak mau, hari ini dia harus bicara dengan cewek itu.

  Ish! Murid-murid ini mengganggu!

Minho memanjangkan lehernya berusaha melihat kertas warna apa yang di dapatkan Harin saat banyak siswa-siswi yang menghalangi pandangannya.

“Key sialan,” desisnya menggerutu masih berusaha mengetahui warna kertas Harin.

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 3]

Harin’s POV

Aku kembali menyesap teh citrus yang diseduhkan Key untukku dan Minyeon. Aku tidak tahu sejak kapan aku pandai berbohong, tapi setidaknya sekarang Minyeon benar-benar tidak mencurigaiku. Tumben bukan? Biasanya saja dia paling curigaan.

“Jadi,” Minyeon membuka mulutnya memulai pembicaraan. “Jam berapa Jongwoon akan mengembalikan anjingmu?” tanyanya polos.

Jadi, tadi begitu bangun dan menyadari Key babo itu belum berubah menjadi anjing aku buru-buru menyeretnya meminta penjelasan. Setelah selesai penjelasan kilat tiga puluh detiknya itu, cerita bohong yang lebih masuk akal dari kisah binatang peliharaan yang bisa berubah menjadi manusia meluncur dari mulutku begitu saja. Aku bilang padanya kalau Key dibawa Jongwoon oppa jalan-jalan. Sedangkan Key yang di sini adalah tetangga – seperti yang diketahui eomma dan appa.

“Memangnya Kibum-ssi sejak kapan kenal denganmu? Bukannya kau tinggal di Jepang dengan sepupumu?” tanyanya lagi. Hahh… Ternyata ia masih saja curiga.

“Ingat, aku pindah ke sana waktu kelas tiga. Jadi, Kibum ini teman kecilku juga, sama seperti kamu dan Sungra,” jelasku. Aku melirik ke arah dapur. Key sudah berubah wujud belum ya?

“Kau suka pada Kibum sunbaenim?” tanya Minyeon tiba-tiba. Aku membulatkan mataku.

“Eh? Sunbaenim?” tanyaku.

“Ne. Bukannya dia anak kelas tari? Ini sudah tahun keduanya bukan? Dia jadi kingka di situ sejak tahun lalu sampai Minho dan Taemin juga masuk sekolah kita tahun ini,” balas Minyeon. “Masa kau tidak tahu? Kau kan teman kecilnya?”

  Ugh.. Ternyata Minyeon masih menginterogasiku…

“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang lebih tua denganku, makanya aku lupa,” balasku tersenyum canggung.

“Ohh,” gumamnya. “Jadi kau benar-benar menyukainya,” sambungnya. Mwo?!

“Hah? Kok bisa??” pekikku tertahan.

“Pertama, kau tidak menganggap Kibum sunbaenim sebagai orang yang perlu dihormati, jadi dengan kata lain kau merasa akrab dengannya. Kedua, ia kau seret-seret tadi pagi di kelas. Ketiga, yang menculikmu dari aku dan Sungra saat makan siang tadi Kibum sunbaenim. Keempat, ia menggendongmu sepulang sekolah tadi. Lucu sekali! Kelima, kau menamai anjingmu dengan nama yang sama dengan Kibum sunbaenim. Terakhir, ia berada di rumahmu dan kau berkali-kali melirik ke arah dapur dari tadi,” jelasnya panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.

  Minyeon-ah, kau benar-benar aneh.

Tidak kusangka ia akan penasaran dan curiga terhadap topik yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.

“Aku tidak menyukainya,” jawabku jujur, singkat, padat, dan jelas.

“Ey.. Seolma,” gumamnya lagi. “Padahal kalian lucu sekali!”

“Lucu apa-”

Ting.. Tong..

Siapa sore-sore begini datang? Kukira cuma Minyeon yang akan datang.

“Aku buka pintu dulu ya,” gumamku pada Minyeon sebelum aku bangkit dari tempatku duduk dan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, sepupuku yang selama ini menemaniku di Jepang sudah berdiri sambil tersenyum di depan pintu.

“Oppa!!!” seruku memeluknya. “Eh, tunggu, kau kok di sini?” tanyaku.

“Aku liburan di sini!” balas Onew.

“Jinjja? Waa!!” seruku bahagia melupakan masalah apa yang barusan menimpaku.

“Eh, dapur di mana? Aku haus!” rengek oppa menerobos masuk. Dapur? Oh tidak…

  Key!! Key!! Key!! Berubah!! Cepat!!

“O-oppa! Aku saja yang ambilkan air!” seruku menyusulnya sebelum ia sempat ke dapur.

“Oh? Aku sudah di dekat dapur aku saja yang ambil,” balasnya berteriak. “Kau bawa teman ke sini?” lanjutnya. Eh?! Kibum ketahuan?!

Aku segera berlari menuju ke tempat di mana oppa berada – di depan dapur, di ruang makan. “Ne?”

“Kenapa temanmu kau tinggal sendirian? Dasar,” ceramah Onew menunjuk Minyeon yang duduk bengong menatap oppa-ku. Eh? Untung Onew belum masuk!

“Eh… Hehehe. Mian…,” gumamku.

Continue reading

[BONUS] La Mémoire Manquant : A Start of A New Life

Key’s POV

  Aku menggenggam tangan kecil Harin menuruni bus yang kamu tumpangi untuk menuju ke daerah Apgujeong-dong. Harin mengajakku untuk mengikuti festival musim semi tahun ini.

  Jalan raya yang lebar itu penuh dengan orang-orang berlalu lalang. Tua, muda, anak-anak, wanita, pria, orang lokal maupun turis semuanya berbaur menikmati pemandangan kota Seoul yang remang-remang dengan cahaya lampion yang tergantung di kanan kiri jalan. Banyak jajan-jajan ditawarkan di stan-stan festival itu. Suara gendang dan nyanyian-nyanyian tradisional mengalun menghangatkan suasana.

  Harin tersenyum lebar sambil memeluk lenganku erat. Aku ikut tersenyum lalu mengacak-acak rambutnya. Ia mendongak lalu cemberut.

  “Oppa, ramai sekali di sini. Aku hilang nanti bagaimana?” tanyanya. Aku mencubit pipinya pelan.

  “Andwae. Pegang saja tanganku kuat-kuat,” balasku. Ia mengeratkan pelukannya.

***

  Aku sedang duduk menulis permohonan pada papan doa yang kami beli barusan. Harin yang duduk di sampingku sesekali melirik ke arahku.

  “Oppa belum selesai? Ini sudah lima menit. Aku lapar,” gumamnya menyentuh pundakku.

  “Hmm. Sebentar,” balasku masih serius dengan apa yang kutuliskan. Kudengar helaan nafasnya.

  “Bosan,” gerutunya. Aku meliriknya sejenak.

  “Jangan begitu, Harin-ah. Apa kau bosan menungguiku?” omelku. Ia lalu menggeleng.

  “Oppa, kau mau aku menggantung papanku dulu atau menunggumu selesai?” tanyanya lagi setelah jeda beberapa detik. Aku diam saja.

  “Oppa-”

  “Terserah kau, Harin-ah,” jawabku. Hening sesaat sampai kurasakan kakinya sudah berjalan ke arah kuil dan menghilang dari hadapanku.

  Beberapa menit kemudian aku berdiri lalu melirik ke sampingku. Harin belum kembali? Aku menaikkan pundakku lalu berjalan ke arah kuil. Sesampainya di kuil aku langsung menggantung papanku dan berdoa di depannya.

  Setelah selesai aku memutuskan untuk kembali ke tempat tadi. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang anak kecil yang menangis.

  “Ahjussi, eomma dan appa meninggalkanku,” tangisnya di hadapanku. Aku berjongkok menyamakan tinggiku dengannya.

  “Apa kau tidak ingat di mana terakhir kali kau bertemu dengan mereka?” tanyaku. Aku melirik ke arah jam tanganku. Harin pasti sudah lama menunggu. “Panggil aku hyung saja.”

  Anak itu menggeleng,”Aku lupa, hyung. Apa kau mau meninggalkanku sendirian di sini? Aku takut,” rengeknya.

  “Bagaimana kau ikut aku ke pos penjagaan saja?” tawarku. Ia menunduk lalu mengangguk. “Kaja.”

***

  Aku membungkuk pada petugas penjagaan setelah mengantar anak tadi ke pos. Aku melirik jam-ku. Semoga Harin baik-baik saja.

  Aku pergi ke tempat di mana aku meninggalkannya dan menangkap sosok kecilnya bersandar di bawah pohon tertidur pulas. Aku menghampirinya lalu menepuk pundaknya.

  “Harin-ah,” panggilku. “Ireona..”

  Ia mengerang pelan lalu melihat ke arahku. Matanya berbinar-binar lalu memelukku kencang.

  “Oppa! Kukira kau kenapa-kenapa! Kenapa teleponku tidak kau angkat? Kau ke mana tadi?” tanyanya menatapku khawatir.

  “Aniyo, aku hanya ada halangan tadi. Eh, kau bilang lapar kan? Ayo kita makan. Aku mau coba restoran seafood di sana,” aku menarik lengannya kembali ke keramaian.

***

  Aku meletakkan sumpitku di samping piringku. Lalu kuangkat kepalaku menatap Harin yang hanya melamun tidak memakan makanannya sampai bersih.

  “Harin-ah, kau tidak mau makan?” tanyaku. Ia mengankat wajahnya lalu tersenyum tipis.

  “Aku kenyang,” gumamnya.

  “Kau bilang kau lapar?” aku memicingkan mataku. Ia menggeleng lalu mendorong piringnya ke tengah.

  “Aku sudah tidak lapar. Itu cukup. Ayo, pergi lagi,” ajaknya. Aku mengernyit. Senyuman Harin seperti tidak tulus.

 

Days Later…

  “Taemin-ah!! Letakan piring-piring itu di dishwasher!” teriakku dari arah dapur. Taemin yang sedang meneguk banana milk nya segera menghampiriku. Aku menunjuk ke arah piring-piring itu selagi aku mengeluarkan ponselku yang sejak tadi bergetar di sakuku.

  “Yoboseyo?” sapaku begitu aku melepaskan apron merah mudaku dan menggantungnya.

  “Yoboseyo, Oppa,” sapa si penelepon balik. Aku tersenyum kecil. Setidaknya setelah bekerja keras dengan SHINee seharian aku masih bisa mendengarkan suaranya.

  “Waeyo, Harin-ah?” aku berjalan ke kamarku – satu-satunya tempat yang bisa memberiku privasi saat ini.

  “Aniyeyo,” gumamnya. “Aku hanya mau bertanya, kapan kau punya waktu luang?”

  Aku mengerutkan keningku. Waktu luang?

  “Kuras tidak untuk sekarang ini, Harin-ah. Kami masih punya banyak jadwal,” jawabku. Aku bersandar pada bantalku. “Tapi kalau memang perlu, kurasa aku bisa keluar sabtu ini, bagaimana?”

  “Ne?” aku merasa ia tersenyum mendengarnya. “Uh, tapi apa aku benar-benar tidak mengganggu?” tanyanya.

  “Ani, Harin-ah. Kau tidak pernah mengganggu. Lagipula aku butuh refreshing,” jawabku cepat.

  “Geuraeyo. Kutunggu di taman, ya?” balasnya.

  “Enn,” aku mengangguk.

 

Author’s POV

  Sabtu itu matahari cerah menyinari langit biru musim semi Seoul. Udara musim semi yang hangat, gumpalan awan putih bersih, kicauan burung-burung kecil, semua itu tidak membuat wajah gadis yang terduduk di bangku taman itu tersenyum. Ia terus-terusan menggigit bibir bawahnya sambil memutar kepalanya ke segala arah, memastikan bahwa dia akan datang.

  Sesekali ia melirik ke arah ponselnya, entah untuk sekedar melihat jam ataupun mengetikkan pesan-pesan singkat.

  ‘Oppa, kau di mana?’

  ‘Oppa, kau jadi datang kan?’

  ‘Oppa, kau masih sibuk? Apa perlu aku pulang?’

  ‘Oppa, gwaenchanhayo? Kau tidak membalas pesan-pesanku’

  ‘Oppa, kau tidak lupa kan?’

  ‘Oppa, kau marah padaku? Kenapa tidak menghiraukanku?’

  ‘Oppa, mianhae kalau aku mengganggu. Aku bukan pacar yang baik’

  Begitu ia mengetikkan pesan terakhirnya itu matanya sudah berkaca-kaca. Segala kemungkinan berkecamuk di pikirannya. Pria yang ditunggu-tunggunya tidak datang sejak dua jam yang lalu. Sudah berkali-kali ia mencoba menelepon namun nihil. Suara operator yang selalu menjawab, bukan suara orang pentingnya itu.

  ‘Oppa, waktu tidak akan habis kan kalau aku masih menunggumu di sini?’

 

Key’s POV

  Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Hari ini jam latihan ditambah karena koreografi yang kulakukan agak kacau. Kepalaku berasa akan pecah akibat semua stress yang ditimbulkan. Aku memejamkan mataku sejenak untuk menenangkan pikiran.

  “Kibum-ah! Kau meninggalkan ponselmu di manajer hyung,” panggil Onew hyung berlari dari belakangku. Aku membuka mataku lalu menoleh ke arahnya.

  “Oh?” aku mengerjapkan mataku. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam ponselku. “Gomawo, hyung,” ia mengangguk mendengarku lalu membaur ke dalam kamar.

  Aku mendesah lalu meletakkan ponselku yang sedang di-nonaktifkan ke dalam saku lalu kembali bersandar ke sofa lalu memejamkan mataku untuk beristirahat.

  Tapi aku merasa ada yang hilang…

***

  Aku terbangun saat warna langit berubah jingga keemasan. Aku mengusap kedua mataku lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih. Selagi air putih itu mengalir melewati tenggorokanku yang kering, aku mengeluarkan ponselku untuk melihat jam. Tapi aku baru sadar bahwa ponselku masih belum kunyalakan dari pagi tadi. Mendesah pelan, aku menekan tombol untuk mengaktifkan selagi menunggu layar ponselku menyala.

  Kerutan samar terbentuk di keningku begitu kurasakan ponselku bergetar hebat dan banyak pesan masuk. Sepertinya aku benat-benar melupakan sesuatu. Mataku membulat lebar begitu kubuka pesan masukku dan semua pesan itu tertera nama yang sama.

  Harin.

  Aku membaca satu persatu pesan yang masuk. Semakin kubaca semakin buruk perasaanku. Bagaimana aku bisa lupa?!!

  “Hyung~ kau-”

  “Taemin-ah pegang ini,” aku menyodorkan paksa gelas yang kupegang dan segera berlari keluar dengan rambut acak-acakan.

  Berlari ke arah taman, aku menekan nomer ponsel Harin yang kuhafal di luar kepala.

  “Y-yoboseyo?” sapa Harin. Suaranya sedikit parau. Aku jadi panik karena perasaan bersalah.

  “H-harin-ah kau di mana? Aku minta ma-”

  “Oppa awas!!!” kudengar teriakan itu bukan hanya dari telepon tapi juga dari hadapanku. Kulihat Harin berlari ke arahku. Tangannya meraih tanganku. Belum sempat kuputar pandanganku ke arah suara klakson kencang…

  BRAKK!!!

  Pandanganku berputar hebat sampai akhirnya menggelap.

***

  Aku membuka mataku dan mencium bau-bauan obat yang menyengat. Mengerjapkan kedua mataku karena cahaya lampu yang menyilaukan, aku duduk memegangi kepalaku. Tanpa perlu bertanya lagi aku tahu aku ada di mana.

  Rumah sakit.

  Nafasku terasa ringan. Aku merasa seperti tidak utuh. Aku pun berdiri menginjak lantai yang dingin lalu berjalan ke arah pintu.

  Belum aku menyentuh kenop pintu sudah terbuka. Aku memejamkan mataku menunggu benturan pintu mengenai keningku. Nihil.

  Aku membuka mataku pelan-pelan. Tunggu! Aku sudah di depan pintu sekarang?!! Aku berbalik ke belakang dan membulatkan mataku melihat apa yang terjadi.

  Aku?!!

  Kulihat tubuhku terbaring di kasur rumah sakit dengan perban di kepala dan kaki dan perawat yang baru saja masuk sedang mendata keadaanku. Selang-selang juga bergelantungan di mana-mana. Aku menunduk melihat tangan-tanganku.

  Kalau itu aku, aku siapa?!!

  Aku memutar kepalaku ke kanan dan kiri. Jangan bercanda! Ini bukan drama! Bagaimana bisa aku keluar dari tubuhku?!!

  Baru aku akan masuk kembali ke kamar, aku menangkap sosok yang ingin kulihat mengenakan piyama rumah sakit dengan rambut dikuncir kuda dan perban dikepala. Ia menunduk lalu mengangkat kepalanya. Mata bulatnya menatapku sejenak seperti biasanya. Tapi ada yang aneh. Matanya tak secerah biasanya.

  “Ha-”

  “Harin-ah, kau mau ke mana?” tanya Yesung hyung yang kehadirannya tak kusadari dari tadi. Ia berdiri di belakang kursi roda Harin lalu tersenyum cerah ke arahnya.

  “Hng…,” Harin melirikku lagi. “Aku mau ke taman,” jawabnya mengalihkan pandangannya dariku. Yesung hyung mendorong kursi roda harin melewatiku menuju ke lift. Pandangaku tak bisa lepas dari mereka. Kenapa Yesung hyung berada di sini?!! Dengan Harin!! Щ(ºДºЩ)

  Aku mengerutkan keningku lalu berlari mengikuti mereka. Aku pun memasuki lift yang sama dengan mereka. Harin mendongak menatapku. Matanya seakan mencari-cari sesuatu. Kenapa dia tidak memanggilku?

  “Harin-ah, apa yang kau lihat?” tanya Yesung. Aku dan Harin langsung menoleh ke arahnya. Hey! Apa maksudmu dengan ‘apa yang kau lihat?’?!!

  “Oppa, dia siapa?” tanya Harin menunjukku. Yesung melirik ke arahku lalu menyipitkan matanya.

  “Jangan bercanda, Harin-ah. Tidak ada apapun di sana. Kau mau menakut-nakutiku?” balas Yesung kembali menatap Harin. Aku tersentak. Tidak ada apapun?!!

  “Hey! Jongwoon hyung! Apa maksud-”

  DING!

  Pintu lift terbuka dan Yesung hyung mendorong kursi roda itu keluar lift seakan tak mendengarkan celotehanku. Aku hanya bengong menatap mereka sampai akhirnya sadar pintu lift akan menutup. Aku mengulurkan tanganku untuk menahan pintunya, tapi aku malah tersandung keluar menembus pintu besi itu. Aku yang tersungkur di lantai berusaha berdiri. Aku menoleh ke belakangku. Aku menembus pintu? Jadi aku benar-benar hanya berupa nyawa?!!

  “Eh? Tapi kenapa Harin bisa melihatku?” gumamku melihat ke arah taman. Aku berhenti sejenak menyadari sesuatu…

  Harin tidak mengenaliku?!!!!

***

  Aku bersandar di balik salah satu pohon besar di taman, menghadap Harin yang sedang duduk di bawah pohon satunya. Ia memasang ekspresi kosong sambil menatap langit. Kadang aku penarasan apa yang sedang ia pikirkan. Yesung hyung baru saja pergi.

  Tanpa kusadari perlahan kulangkahkan kakiku mendekatinya. Begitu tiba di hadapannya kudapati ia memejamkan matanya. Aku duduk di sampingnya tanpa melepaskan pandanganku darinya. Kuulurkan tanganku menyentuh pipinya lalu mengelusnya pelan. Kurasakan tanganku yang sedari tadi beku bagaikan es mulai menghangat.

  Aku yakin sekali Harin bisa merasakan sentuhanku. Ia langsung membuka matanya dan menatapku terkejut. Aku cuma bisa memaksakan seulas senyum.

  “A-annyeong,” sapaku berusaha bersikap ramah. Ia hanya menatapku mengernyit.

  “Annyeong,” gumamnya. “Kau namja yang dari tadi melihatku di rumah sakit,” lanjutnya. Ia tidak mengenaliku?

  “Harin-ah, na-ya, Key…,” gumamku. Mataku berkaca-kaca menahan air mata yang terasa panas di pelupuk mataku. Aku menggenggam tangannya dan lagi-lagi merasakan kehangatan.

  “Kata oppa aku kehilangan memoriku,” balasnya sontak membuatku kehilangan reaksi. “Aku tidak ingat kau siapa,” lanjutnya.

  Entah aku sudah gila atau memang aku masih waras, dalam wujud tak nyata seperti ini saja aku bisa merasakan sakit.

  “M-ianhae…,” ujarnya saat melihat air mataku mulai membasahi kedua pipiku. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mataku, tapi aku sudah mendahuluinya menghapus air mataku. Aku menggeser dudukku menjauh. Apa aku punya kesempatan untuk kembali? Kembali ke kehidupan Harin?

  “Mianhae, Harin-ah… Mianhae,” gumamku menutupi wajahku. Aku merasa bersalah. Belakangan ini aku terus mengabaikannya. Aku melakukan banyak kesalahan. Aku bukan namjachingu yang baik.

  “Waeyo? Kau tidak melakukan kesalahan,” gumamnya menepuk pundakku. Aku masih meneggelamkan wajahku jauh ke dalam telapak tanganku. Seandainya kau tahu Harin. Seandainya kau masih ingat semua kesalahan yang kulakukan.

  “Aniyo, Harin-ah,” isakku. “Kau tidak tahu. Kau tidak ingat apa yang kulakukan padamu sebelum kau kecelakaan.”

  Hening sejenak. Hanya ada isakanku di tengah-tengah kicauan burung.

  “Bukankah itu bagus?” ujarnya memecah kesunyian. Aku mengangkat wajahku yang sudah penuh air mata yang kering maupun yang masih basah. Aku menatapnya tak percaya. Apanya bagus? Menurutmu melupakanku itu bagus?

  “Kau membuatku melupakan semua kesalahanmu, bukankah itu bagus?” sambungnya lagi tersenyum mengusap air mataku. “Kesalahanmu sudah hilang, tidak perlu diingat lagi,” ia tersenyum tulus.

  “Bagaimana kalau kita mulai dari awal saja? Kau bisa mulai melakukan semua kebaikan dan membuatku melupakan semua kesalahan-kesalahanmu,” ia mengulurkan tangannya padaku. “Annyeong, aku Harin. Lee Harin. Aku senang bertemu denganmu, aku mau kau jadi bagian dari hidupku,” ia tersenyum lebar. Perlahan-lahan dengan ragu kusambut tangan kecilnya itu.

  “A-aku Key. Kim Kibum,” bisikku. Kehangatan itu meliputiku lagi. Apa ini pertanda baik?

  “Key-ah, kau suka warna apa?” tanyanya. Ujung bibirku mulai naik membentuk senyuman.

  “Coba kau tebak,” balasku. Ia mengetuk-ketuk dagunya.

  “Hmm…,” ia melihatiku. “Pink?”

  Senyumku semaking melebar. “Ternyata kau tidak lupa,” aku mencubit pipinya.

  “Image mu sudah melekat dengan warna itu,” jawabnya. “Perasaanku mengatakan itu padaku.”

  “Aku suka hitam,” gumamnya. “Aku suka fettucini, tapi tidak suka kerang dan sayur. Aku juga tidak begitu suka ikan selain salmon,” lanjutnya. Aku terdiam. Jujur aku tak pernah mengetahui kesukaannya sejauh ini. Pantas saja saat kuajak makan seafood waktu itu ia tidak menghabiskan makanannya. Waktu itu hidangannya berselimut sayur-sayuran, kerang dan tuna.

  “Mianhae,” gumamku lagi mengalihkan pandanganku.

  “Wae? Bukankah aku sudah bilang-”

  “Mianhaeyo, aku salah selama ini tidak memperhatikanmu. Hajiman gomawoyo, kau sudah mengijinkan aku mengenalmu lagi,”potongku tersenyum. Gomawo Harin-ah…

***

  “Key-ah,” panggil Harin yang berjalan di sampingku menuju ke kamar rawat. Ia tidak memanggilku oppa.

  “Ne?”

  “Kamarmu di mana?” tanyanya membuatku mendadak menghentikan langkahku. Aku menoleh ke arahnya. Bagaimana kalau ia tahu aku hanya ‘jiwa’ yang lepas dari tubuhku?

  “A-aku…,” aku menggigit bibir bawahku. Apa aku harus jujur? Aku tidak mau ia mengetahui yang sebenarnya. Kurasa otaknya belum bisa menerima itu, lagipula ia sedang lupa ingatan.

  Baru saja sebaris kata dusta akan meluncur dari mulutku aku baru menyadari, aku tidak seharusnya membohongi Harin. Aku sudah sering sekali melukainya.

  “Kamarku di koridor sana belok kiri,” gumamku jujur. Ia mengangguk lalu menunjuk koridor sebelah kanan.

  “Kalau aku di sana. Wah, dekat sekali ya! Aku ingin sekali berkunjung ke kamarmu,” serunya senang. Aku membulatkan mataku lalu menggeleng keras.

  “Andwae!” seruku membuatnya tersentak. “Ah- maksudku…aku saja yang ke kamarmu,” tawarku. Ia terlihat seperti berpikir sejenak lalu akhirnya mengangguk setuju. Aku menghembuskan nafas lega. Setidaknya aku tidak berbohong padanya.

  Aku melambaikan tanganku pada Harin sebelum kami berpisah di koridor itu. Sampai ia masuk ke kamar baru aku berbalik ke kamarku.

  Aku menghela nafasku begitu tiba di dalam kamar. Aku lagi-lagi memandangi diriku yang terbaring tak bergerak di sana. Aku menyandarkan punggungku pada pintu. Sekarang apa yang kulakukan? Bisakah aku masuk ke dalam tubuhku?

  Tiba-tiba pintu kamarku terbuka membuatku jatuh ke belakang menembus pintu.

  “KEY EOMMA!!”

  “Psst!! Taemin ini rumah sakit! Pelankan suaramu!”

  “Aku panik.”

  “Kami juga panik, Taemin-ah.”

  SHINee beserta manajer kami membaur ke dalam kamar. Mereka mengkhawatirkanku tapi meninggalkanku tersungkur begini.  -_-

  “Onew hyung, Key hyung kenapa tak bangun-bangun?” tanya Taemin yang berdiri di sisi kanan kasur.

  “Kata dokter dia koma,” jawab Onew menatapku. Ruangan itu sepi sejenak.

  “Bagaimana dengan Harin?” tanya Taemin pada akhirnya memecah kesunyian. Aku memutar pandanganku ke arahnya.

  “Kudengar dari sunbaenim Harin kehilangan sebagian memorinya,” jawab Minho duduk di sofa. Hening lagi sejenak.

  “Apakah Harin…..masih mengingat Key?” tanya Taemin pelan. Kurasa ia sangat penasaran. Aku cuma bisa tersenyum nanar. Tidak, Taemin-ah. Dia bahkan tidak mengenaliku tadi.

  Tidak ada jawaban keluar dari mereka. Semuanya hanya bungkam. Aku yakin mereka tahu kalau Harin tidak akan ingat padaku.

  “Ehem,” manajer hyung berdeham menatap jam tangannya. “Kalian ada jadwal setelah ini.”

  “Tapi Key hyu-”

  “Bilang saja Key sakit. Jangan biarkan berita ini menyebar. Cukup di kalangan agency saja,” potong manajer hyung. Mereka semua mengangguk.

  “Kita jenguk Harin besok,” ujar Taemin sebelum meninggalkan ruangan.

 

Morning…
Author’s POV

  Cahaya terang matahari menembus tirai-tirai hijau rumah sakit membanjiri ruangan kamar Harin. Harin yang berbaring di ranjang hanya bergumam lalu memutar kepalanya ke arah lain. Ia masih belum mau bangun. Semalam Key menepati janjinya. Ia datang ke kamar Harin dan berbincang-bincang panjang lebar dengannya sampai malam.

  Suara pintu terbuka dan langkah kaki yang berderap membuat Harin sedikit tersadar walaupun ia belum mau membuka matanya.

  “Harin-ah annyeong!!” seru seseorang.

  “Psst! Taemin-ah! Tidak lihat ya dia sedang tidur??” desis seorang yang lain. Beberapa bisikan-bisikan keras terdengar di sana sini malah membuat Harin sepenuhnya sadar dan membuka matanya mengantuk.

  “Hnngg…,” erangnya. Ia mungusap-usap matanya lalu berusaha duduk. “Kalian siapa?” tanyanya menatap empat namja yang berdiri berjejer-jejer di depannya.

  “Uh-”

  “Lihat Taemin-ah dia bangun karena kau ribut!”

  “Kau juga ribut Minho hyung!”

  “Dia bangun karena kalian ribut.”

  “Bukan. Kurasa dia bangun karena kita ribut.”

  Mereka mulai membuat keributan lagi di ruangan itu hanya mendapat pandangan aneh dari Harin.

  “Hey, aku bertanya kalian siapa, kenapa tidak dijawab?” tanya Harin lagi menghentikan pertengkaran kecil mereka. “Apa aku mengenal kalian sebelumnya?”

  Mereka hanya diam menatap Harin sejenak sampai Taemin berlari ke arahnya.

  “Harin-ah! Aku Taemin!! Lee Taemin,” seru Taemin tersenyum lebar. Ia menunjuk ke arah pria yang paling tinggi.

  “Itu Minho hyung,” katanya. Minho menatap Harin lalu mengangguk kecil sambil tersenyum.

  “Choi Minho,” gumamnya. Tepat setelah itu dua pria lainnya berjalan ke arah Harin juga.

  “Aku Onew!”

  “Aku Jonghyun!”

  Mereka semua tersenyum lebar.

  “Kami SHINee,” seru mereka. “Kau akan ingat kami suatu saat nanti,” sambung Onew. Harin terkekeh pelan melihat mereka.

  “Oh iya, Harin-ah,” panggil Taemin. “Kau masih ingat pada Key hyung kan?” tanyanya membuat suasana hening. Para hyung-nya menatap Taemin intens.

  “Key? Kalian juga kenal pada Key?” tanya Harin balik membuat para member SHINee terbelalak. Taemin mengangguk.

  “Dia juga salah satu anggota SHINee. Kau masih ingat rupanya!” serunya. Harin hanya menatap Taemin lalu menggeleng pelan.

  “Aku tidak ingat,” gumamnya membuat lagi-lagi suasana berubah hening.

  “Apa maksudmu tidak ingat? Bukankah kau barusan mengatakan namanya?” tanya Minho. Harin menunduk menatap kedua tangannya.

  “Aku bertemu dengan Key kemarin,” balasnya. Yang lainnya saling bertatap-tatapan heran. “Ia terlihat sedih aku tidak mengingatnya,” lanjutnya lagi.

  “T-tunggu! Apa maksudmu kau bertemu dengan Key hyung? Itu tidak mungkin karena-”

  “Taemin-ah kurasa aku mau ke toilet, tolong temani sebentar,” potong Minho menyeret Taemin menjauh sebelum ia membocorkan segalanya. Harin tidak akan siap dengan kenyataan sebenarnya.

  Di ruangan itu tersisa Onew, Jonghyun dan Harin. Sepi. Hanya suara mesin-mesin rumah sakit yang memenuhi keheningan sampai akhirnya Minho dan Taemin kembali.

  “Jeogiyo,” gumam Harin. “Taemin-ah, apa yang tadi kau maksudkan soal Key?” tanya Harin menatap Taemin.

  “A-aniyeyo,” balas Taemin cepat. “Aku tidak bermaksud mengatakan sesuatu. Geuge… Kau bertemu dengan Key di mana?” tanyanya mengalihkan topik.

  “Oh? Aku melihat Key menatapku terus kemarin, bahkan mengikutiku ke taman. Lalu ia datang dan berbincang-bincang denganku. Kemarin malam ia datang lagi ke kamarku!” cerita Harin. Para namja hanya bisa menatapnya nanar. Berpikir itu hanya imajinasi Harin yang sebagian memorinya mengingat Key dan sebagian lagi tidak.

  “Harin-ah…,” gumam Taemin kasihan tanpa sadar menangis.

  “W-wae uneun geoya?” tanya Harin panik. Taemin menghapus air matanya.

  “Kau sangat sayang sekali pada Key hyung,” gumam Taemin lagi tersenyum. Minho hanya mengusap-ngusap rambut Taemin menenangkannya. “Aku senang sekali. Key hyung pasti bahagia saat tahu nanti,” gumamnya setengah berbisik.

  “Geuge….,” gumam Harin lagi. “Kalau aku boleh tahu, apa hubunganku dengan Key?”

 

Key’s POV

  Aku sedang berada di taman rumah sakit. Kemarin malam Harin bilang akan menemuiku lagi di sini. Aku bosan berada di kamar terus. Bernyanyi-nyanyi kecil aku melangkahkan kakiku mengelilingi taman, melihat bunga-bunga yang tumbuh di sana. Sudah lama sekali aku tidak menikmati jam-jam kosong karena kami menyiapkan comeback SHINee minggu-minggu lalu.

  Senyumku mengembang begitu merasakan seseorang menutup kedua kelopak mataku. Aku yakin sekali siapa orang itu, karena hanya ada satu orang saja yang selalu melakukannya dengan senang hati.

  “Lee Harin,” gumamku. Aku mendengar tawa kecilnya sebelum ia melepaskan tangannya. Aku berbalik menghadap gadis kecil yang kutunggu-tunggu.

  “Lama?” tanyanya. Aku cemberut berpura-pura kesal.

  “Lamaaaaaaaa sekali, Harin-ah. Aku seperti menunggu putri tidur untuk bangun setelah seratus tahun lamanya,” godaku. Ia menggembungkan pipinya lalu memukul lenganku.

  “Kau berlebihan, Key,” ujarnya. Aku hanya tertawa lalu menggandeng tangannya. Setidaknya aku mau waktu yang tersisa ini menjadi saat-saat bahagia. Tak peduli lambat maupun cepatnya waktu akan berlalu. Selama yang terukir adalah kebahagiaan, aku rela.

  Kami berbaring di rerumputan bermandi cahaya cerah matahari musim semi. Udara di sini sega – setidaknya untukku yang selama ini selalu terperangkap di ruang latihan.

  “Key-ah,” panggil Harin. “Kau bisa menyanyi?” tanyanya.

  “Aku rapper,” jawabku setelah ragu-ragu sesaat. “Vocalku tidak sebagus Jonghyun dan Onew hyung,” aku menunduk.

  “Gwaenchanha,” ia menepuk pundakku. “Aku mau dengar,” lanjutnya tersenyum. Aku menggigit bibir bawahku lalu mengangguk.

  “Achim haessali geudaewa gatayo
Jogeum yuchihagaetjyo
Geuraedo nan ireon gae joheun geol
Nareul kkaeweojun geudae yeopae ramyeon
Deo baralgae eopgetjyo
Ireokhae geudael bogo shipeun geol 

Sarangi eori dago mothal geora saenggakhaji malayo
Nareul deo neutgi jeone
Na deo keugi jeone jabajul su itjyo?

Saranghaeyo geudaemaneul jeo haneulmankeum
Jeongmal geudaeneun naega saneun iyuin geolyo
Geudaereul aju mani geudael michidorok anajugo shipeo
Ajik mani ppareungeojyo geureongeojyo 

Geunyeoae nuni majuchil ddaemada
Nae eolgulae bunjineun misoga
Hokshina geudae maeumui hankyeonae daeulkka
Aseurahan neoae maeum geu sokae areumdaun
Gwitgaye soksakyeo neol saranghaneun naye maeum 

I’ll be taking you
Girl, I know without you
Without you, I miss you
Eonjekkajina geudaereul wonhajyo
Wonhago baraneun mam
Ddo gipeojineun sarang
Deo isang soomgil su eopseo
Geudaeneun nain girl 

Nae maeumi geudael japgo nochil anjyo
Geudaedo neukkyeojinayo
Nareul, oh, deo neutgi jeone
Na deo keugi jeonae jabajul su itjyo 

Ajik geudae maeumi nae gyeotae
Olsu eopneun geol arayo geunde
Geudae hanaman naye hanarago bulleodo dwaenayo 

Uri gatchi one, two, three, oh ja shijakhaeyo
Geudae naye hanajyo naye jeonbuingeolyo
Geudaereul aju mani geudael michidorok saranghago shipeo
Ijeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo
Geudaereul aju mani geudael michidorok saranghago shipeo
Ijeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo

 Ijeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo” (SHINee – Hana, 2010)

 

  Aku melirik ke arahnya. Ia menyandarkan kepalanya ke pundakku.

  “Johayo,” gumamnya. Lagi-lagi aku merasa hangat. Aku hanya diam. Tak satupun dari kami mengeluarkan suara. Namun keheningan ini justru terasa damai.

  “Oppa,” gumamnya. Aku langsung menoleh menatapnya tertegun. Ia memanggilku oppa!

  “H-arin-ah..”

  “Aku bertemu dengan SHINee tadi pagi,” potongnya. Aku mengerutkan alisku. Jadi bukan karena ia ingat?

  “Aku hanya tidak mau berbohong,” gumamnya menunduk. Aku menatapnya. Ia tidak mau berbohong padaku.

  “Mianhae,” gumamnya lagi. “Aku lupa pada namjachingu-ku sendiri. Aku bu-”

 

Author’s POV

  Key mendaratkan kecupannya ke bibir Harin. Harin yang awalnya terkejut pun akhirnya ikut memejamkan matanya mengikuti gerak lembut bibir Key.

  Key menarik kepalanya melepaskan ciumannya lalu menatap Harin lurus.

  “Neomu joheuni, Harin-ah,” gumamnya mengusap pelan pipi Harin. “Kau terlalu baik untukku. Kau mau memaafkanku, kau menenangkanku, kau bahkan tidak mau membohongiku. Kau terlalu baik Harin-ah,” bisikknya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia menjauhkan kepalanya lalu mengusap air matanya.

  “Harin-ah,” panggilnya. Harin hanya menatap Key dengan mata bulatnya. “S-sebenarnya…,” ia menggigit bibir bawahnya.

  “Sebenarnya aku bukan Key yang nyata,” gumamnya mengaku. Harin mengerutkan alisnya kebingungan.

  “Datanglah ke kamarku. Sekarang. Kutunggu kau di sana,” sambungnya terisak. Bayangan Key menjadi kabur. Beberapa detik kemudian ia hilang di hadapan Harin begitu saja.

  Harin yang terduduk di sana masih dalam keadaan terkejut. Ia membulatkan matanya lalu mulai menangis.

  “Key!!!” panggilnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok pria yang dicintainya itu.

***

  Gadis itu berlari menyusuri koridor yang ramai itu. Ia sudah menaikki tangga menuju ke lantai tiga karena tidak mau menunggu lift. Matanya terus mencari sosok Key.

  Dengan nafasnya yang terengah-engah ia memutar kenop pintu kamar di ujung koridor sebelah kiri dan membaur masuk ke dalamnya. Ia segera merosot jatuh ke lantai melihat ruangan itu kosong. Apakah ia terlambat?

  Tangisnya pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

  “Key!!” jeritnya. “Key kau bohong padaku!!” tangisnya semakin keras. “Kau bilang kau menungguku di sini, sekarang kau di mana???” isaknya sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri di lantai.

***

  Kelopak mata Harin pelan-pelan terbuka. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali saat menangkap cahaya lampu yang menyilaukan. Tenggorokannya kering. Seakan-akan banyak sekali goresan terukir di dalamnya.

  “K-Key…,” gumamnya pelan.

  “Harin! Kau sadar! Kau sudah pingsan seharian kemarin!” teriak Taemin melonjak ke samping Harin. Harin menatap Taemin sejenak.

  “Key,” gumamnya lagi. “Mana Key?” tanyanya langsung menarik-narik tangan Taemin.

  “Ne?” tanyanya. Harin menarik lengan Taemin supaya ia bisa berdiri.

  “Harin-ah, kau masih butuh istirahat,” Taemin berusaha menyuruhnya tidur lagi. “Nanti hyungnim marah padak-”

  “Harin-ah annyeong,” panggil seseorang setelah terdengar suara pintu dibuka. Pria yang duduk di kursi roda dengan perban di kaki dan kepalanya itu tersenyum manis padanya.

  “Oppa…,” gumam Harin tak percaya. Senyumnya perlahan-lahan terukir di wajahnya.

  “Ne, ini aku Harin-ah,” jawabnya. Onew dan Jonghyun mendorong kursi rodanya mendekati Harin. “Apa kabar?”

  “G-gwaenchanha…,” balas Harin masih menatap Key tak percaya. “Kau di mana? Kucari di kamarmu tapi kau tidak ada,” gerutu Harin. Key terkikik pelan.

  “Aku kembali Harin-ah, dokter memindahkan ruang rawatku karena aku sudah sadar,” jawabnya. Ia mengulurkan tangannya mengusap pelan pipi Harin.

  “Ehem,” Minho berdeham. “Kurasa sebaiknya kami keluar dulu,” ijinnya menarik tangan lainnya.

  “Eh? Waeyo hyung?? Kau tidak tahu dongsaengku baru saja bangun?? Aku-”

  “Taemin-ah, diamlah! Dia bukan dongsaengmu!” seret Minho mendelik ke arah Taemin. Mereka pun keluar dari kamar meninggalkan Key dan Harin sendirian.

  “Harin-ah,” panggil Key. “Karena kau belum ingat, bagaimana kalau kita mulai dari awal seperti katamu kemarin lusa?” tawarnya. “Biarkan waktu menghapus kenangan yang retak dulu. Kita buat lagi kenangan yang lebih bagus. Ya?”

  Harin mengangguk lalu tersenyum lebar.

  “Lee Harin, Nae yeojachinguga daeeojullae?” tanya Key menggenggam tangan Harin.

  “Ne, oppa,” jawab Harin mengangguk. Key mengecup tangannya.

  “Saranghaeyo..”

  “Nado saranghaeyo oppa. Jinsimiya saranghae…”

 

THE END

Annyeong!
author is back (again)!! XD
Ini bonus oneshot~ selagi author inget jalan cerita nya ntar kalo nunggu ff sebelumnya taman keburu lupa *plakk*
Kerjainnya ngebut 3 hari ._.

Comment! Ppyong~

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 6]

Siwon’s POV

  Perlahan-lahan kubaringkan Sungwon yang sudah terlelap ke kasur. Lalu segera aku keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga. Sudah jam lima sore tapi Sungra belum kembali. Aku berjalan menuju dapur dan mengambil cangkir dari rak. Aku melirik ke arah jendela dapur. Tetesan-tetesan air sebesar biji jagung terbentuk jelas memenuhi kaca jendela. Hujan. Aku menghela nafas lalu pergi menyeduh teh. Membuka kulkas aku langsung menyambar setoples madu dan potongan jeruk lemon. Belum sempat aku menuangkan teh hangat itu ke cangkirku kudengar pintu depan terbuka lalu tertutup diikuti. Tanpa sadar senyum kecil terbentuk di wajahku.

  “Aku pulang~” seru Sungra.

  “Aku di dapur, Sungra-ya,” balasku. Aku berbalik mengambil cangkir satu lagi. “Tunggu saja di ruang tamu! Kubuatkan teh!”

  Begitu kutuangkan seduhan teh ke cangkir-cangkir tadi asap-asap putih mengepul kecil. Kumasukkan sesendok madu ke tiap-tiap cangkirnya sebelum kucampur dengan air lemonnya.

  Aku berjalan ke ruang tamu dengan kedua tangan memegangi cangkir panas. Kulihat Sungra duduk memeluk lutut sambil menggosokkan kedua tangannya. Sebuah handuk kecil membungkus sebagian rambutnya sedangkan selembar selimut tebal sudah menyelubungi tubuh mungilnya yang menggigil kecil di sofa. Aku menempatkan diriku di sampingnya lalu menyodorkan satu cangkir teh padanya.

  “Gomawo,” gumamnya meniup-niup tehnya.

  “Chuwo?” tanyaku yang hanya direspon dengan gelengan. Aku mendesah pelan lalu mengulurkan tanganku ke arah handuknya. Pelan-pelan kuusap-usap rambutnya supaya kering.

  “Hati-hati flu. Setelah ini makanlah buah dan sayur yang banyak,” tegurku. Ia hanya mengangguk kecil.

  “Hatchii!!!” aku tersenyum kecil melihat ekspresinya yang lucu.

  “Aigoo.. Kau ini,” aku meraih tisu di meja sampingku. Menunduk ke arahnya, kuusapkan tisu pada hidungnya. “Kyeopta.. Hahaha!”

  Ia cemberut sambil menggerutu tak jelas. Aku hanya tertawa melihat reaksinya.

  “Oh iya,” gumamku begitu tawaku terhenti. “Kau tadi pergi dengan siapa?”

  “Ohh… Aku? Eh?? Memangnya kau melihatku? Kau juga pergi ke Myeongdong? Lalu Sungwon kau ajak?? Ah… Kenapa kau tidak memanggilku? Setidaknya aku tidak sendiri dengan dua ‘babo’ itu,” omelnya. Aku memiringkan kepalaku bingung. Dua?

  “Dua?” tanyaku. Kurasa aku hanya melihat satu.

  “Tentu saja dua. Atau kau melihat kami pergi berlima? Tadi kami berpisah dijalan, lalu-”

  “Chamkkaman! Maksudmu kau tidak hanya pergi dengan satu orang?” tanyaku lagi. Kini giliran dia yang mengernyit.

  “Tergantung sih….”

  “Tergantung apa?” tanyaku tak sabaran. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada dagu.

  “Tadi kami pergi berlima. Aku, Jeongmin sunbae, Onew sunbae, Babo Eli dan Babo Myungsoo,” gumamnya terhenti. Aku mengernyit. Kenapa dia pergi dengan begitu banyak namja?

  “Lalu?”

  “Lalu kami membagi dua kelompok untuk belanja keperluan. Aku pergi dengan Myungsoo dan Eli sedangkan Jeongmin dan Onew sunbae pergi ke tempat lain,” jelasnya. “Lalu aku dan Myungsoo pergi ke Milkshake stand selagi Eli menunggui barang belanjaan kami. Lalu kami berkumpul berlima untuk makan siang. Terus tiba-tiba Howon sajangnim menyuruh yang lainnya pulang meninggalkan aku dan Eli beserta barang belanjaannya.”

  Chamkkaman! Chamkkaman! Aku jadi tidak mengerti apa-apa. Belanja keperluan? Howon sajangnim?

  “Belanja untuk keperluan apa? Sapa itu Howon sajangnim?” tanyaku langsung.

  “Oh? Kau tidak tahu aku bekerja sambilan? Aku, Harin, Heerin, Minyeon dan Heechan masing-masing punya pekerjaan sambilan. Harin di stan milkshake, Heechan di restoran ayahnya, Heerin di stan Bubur, Minyeon bekerja dengan restoran milik sachonnya, aku sendiri bekerja di cafe,” jawabnya. Sungra bekerja di cafe?!!

  “Kerja sambilan??? Buat apa?? Maksudku… Aku tahu Harin bekerja di stan milkshake karena kami bertemu tadi siang, tapi kau?”

  “Aku kan harus membiayai hidupku sendiri, apalagi sekarang ada Sungwon,” jawabnya lagi.

  “Bukannya kau selalu dikirimi uang bulanan oleh abeonim dan eomeonim?” aku masih belum berhenti melontarkan pertanyaan.

  “Aku menyukai pekerjaanku dan tidak merasa keberatan dengan itu. Tidak salah kan?” ia cemberut kesal. Baru saja aku akan membalas ucapannya saat bel berbunyi. Aigoo… Siapa sih datang jam segini?!!

  Aku dan Sungra berjalan ke arah pintu. Begitu kubuka aku langsung tergelak tak percaya.

  “ANNYEONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!” sapaan yang lebih cocok disebut sebagai sorakan itu terdengar kencang sekali diikuti senyuman aneh delapan orang di hadapanku.

  “Neoheui mwolhago isseo?!!!” aku mengernyit.

  “Ey… Jangan begitu Siwon-ah. Kami ke sini untuk berkunjung,” jawab Harin.

  “Ne. Kami sering kok berkunjung bahkan menginap di sini,” sambung Minyeon mengiyakan. Satu per satu mereka masuk membawa bawaan masing-masing.

  Begitu aku menutup pintu dan menghampiri ruang tamu, terlihat lantainya sudah tertutupi sleeping bag yang berjumlah tidak sedikit.

  “Kalian serius mau menginap?” tanyaku masih tak percaya.

  “Tentu saja. Memangnya kami mau menggali harta karun di sini?” balas Minyeon tak mempedulikanku. “Oh, Sungra-ya, mana Sungwon?”

  “Tidur, di atas,” jawab Sungra ikut merapikan ruang tamu.

  “Hmm… Bau citrus,” Key mengendus-endus pelan. “Kau membuat teh citrus? Atau lemon tea?? Tapi baunya agak manis….”

  “Madu,” jawabku menunjuk gelas di meja. Mulutnya membentuk bulatan sambil mengangguk-angguk.

  “Kalian mau minum juga? Akan kubuatkan. Oh iya! Sekalian makan malam juga ya? Kalian mau makan apa?” tawarku membantu membereskan meja.

  “Bagaimana kalau makanan yang hangat-hangat saja? Ini kan sedang hujan,” saran Sungra meraih buku resep di rak.

  “Kurasa hujannya tidak akan berhenti sampai besok siang,” Kyuhyun menambahkan. “Aku lapaaar~~” ia menepuk-nepuk kepala Minyeon.

  “Mau ayam???” tawar seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mengernyit. Dia siapa?

  “Onew sunbae, kau tahu resep ayam yang enak?” tanya Sungra. Pria chubby yang dipanggil Onew tadi mengangguk semangat. Dalam sekejap rumah ini berubah jadi restoran. ==

  Kami pun beramai-ramai memasuki dapur kecuali satu orang – Kyuhyun. Aku, Sungra, Key, Heechan, Onew dan Minyeon membagi-bagi tugas menyiapkan bumbu dan memasak. Heerin dan Donghae mencuci piring – kurasa mereka tidak akan hanya mencuci piring. Dan Harin yang menyiapkan minumannya.

  “Ya! Ya! Kenapa aku tidak boleh masuk??” protes Kyuhyun bersandar di ambang pintu.

  “Tidak boleh. Kau ingat kan terakhir kali kau menyentuh kompor di restoran oppa-ku lalu kami harus membeli kompor baru?” balas Minyeon yang sedang memotong-motong sayur.

  “Aku kan tidak tahu,” gerutu Kyuhyun cemberut lalu duduk di meja makan.

Kyuhyun’s POV

  Aigoo menyebalkan sekali Minyeon ini! Setidaknya izinkan aku ikut membantu memotong sayur saja cukup. Hiks..

  Aku menghela nafas lalu membaringkan kepalaku di atas meja menghadap counter dekat pintu. Sebuah benda kecil menangkap perhatianku. Aku pun tersenyum licik. Tanpa basa-basi aku menyelinap ke counter itu lalu meraih benda kecil itu. Ponsel Siwon~ *evil smirk*

  Dengan mudahnya, begitu kutekan salah satu tombol layar ponsel pun menyala. Senyumku melebar. Siwon hyung babo! Ia tidak mengunci ponselnya! Aku berjalan pelan keluar dapur lalu mulai menginvasi ponsel Siwon hyung.

  Aku membuka galeri miliknya, dan salah satu folder mengundang rasa penasaranku.

  ‘Nae sarangi’

  Aku sudah berusaha menahan tawaku melihatnya. Siwon hyung punya yeojachingu?? *evil grin*

  Deretan foto tak asing terpampang berjejer-jejer di layar begitu kutekan tombol buka. Tak perlu waktu lama untuk mengenalinya karena foto-foto itu tak lain tak bukan adalah foto ‘kembarannya’ sendiri…

  Lim Sungra.

  Mulutku menganga lebar. Woa.. Woa.. Woaaa….!!! Siwon hyung menyukai-eh, maksudku mencintai Sungra? Aku harus tanya langsung dengannya nanti!!

  “Huakakakakka!!!!” tanpa sengaja tawaku lepas sendiri.

  “Kyuhyun-ah, kau masih waras?” pekik Heerin dan Harin dari arah dapur. Aku langsung menutup mulutku dan menyembunyikan ponsel Siwon hyung di sakuku, waspada jika ketahuan. Aku melirik ke arah dapur. Mereka masih sibuk ternyata.

  Begitu bernafas lega kukeluarkan lagi ponsel hyung. Aku menatap ponsel itu lekat-lekat begitu sebuah ide ‘evil’. Ah! Tak salah kalau aku mendapat julukan evil! Bentar lagi akan kuganti jabatan evil menjadi cupid~!

Author’s POV

  “Kyuhyun!! Makanan sudah siap!! Kalau kau tidak mau kami menghabiskannya tanpa menyisakan untukmu cepatlah kemari!!” seru Sungra meletakkan pot berisi sup hangat di meja makan. Kyuhyun pun langsung muncul dari balik pintu.

  Semua mengambil tempat duduk masing-masing meskipun harus ‘berdempet-dempet’an.

  “Jalmeogetseumnida!” seru mereka bersamaan. Hidangan-hidangan hangat itu mengepulkan asap-asap putih yang membawa berbagai aroma sedap.

  “Ahh~ massiseoyo!” gumam hari dengan mulut penuh makanan.

  “Tentu saja, Harin-ah. Kau selalu berkata begitu setiap kali kau menginap di sini,” Key mencubit pipinya pelan.

  “Hey, Key jangan lakukan itu sekarang, kalau mau pacaran nanti saja,” celetuk Donghae. Melahap tumis seafood di hadapannya.

  Mereka semua saling bercerita bersenda gurau sepanjang makan malam. Suasananya memang begitu hangat. Rumah yang biasanya sepi, hanya ditinggali Sungra sendirian, sekarang menjadi ramai meriah.

***

  “Ah~ sekarang kita ngapain ya?” Heerin merenggangkan otot-ototnya setelah membereskan piring. Yang lain pun ikut membaur ke ruang tamu dan duduk di atas sleeping bag masing-masing sambil memeluk bantal.

  “Cerita seram!!” seru Sungra dan Minyeon girang.

  “Andwae!!!” tolak Harin terang-terangan lalu memasang headset. “Aku tidak mau dengar..”

  “Yahh~ tidak asyik dong~”

  “Sudahlah~ ayo kita mulai!” ajak Siwon. “Kita sambung menyambungkan cerita seram saja!”

  “Geurae. Kau mulai duluan!” celetuk Kyuhyun berbaring santai. Mereka duduk membentuk lingkaran.

  “Baiklah,” gumam Siwon. Ia berdeham sejenak lalu menatap tiap-tiap temannya dengan serius. “Saat aku masih di Tokyo – seperti yang kalian ketahui, banyak sekali legenda-legenda seram dan juga tempat-tempat mengerikan.”

  “Suatu malam, temanku pergi ke resort pamannya di Hokkaido,” lanjutnya. “Resort itu terkenal dengan keangkerannya, selain itu juga merupakan bangunan berumur dan katanya pernah terjadi pembunuhan.”

  “CUT!!” seru Kyuhyun mengangkat tangannya. Ia tersenyum aneh lalu memutar botol yang sedari tadi dibawanya. “Ayo ganti giliran menyambung ceritamu!”

  Diputarnya botol itu sampai mulut botolnya menunjuk pasti ke arah Donghae.

  “Na??” Donghae menunjuk dirinya sendiri. Ia menghela nafas sejenak. “Ia memberanikan diri untuk menginap di sana.”

  “Tapi dari awal ia melangkahkan kaki ke dalam hotel itu, tercium bau-bauan aneh dan terdengar bisikan-bisikan walaupun lobby hotel tidak begitu penuh,” ia mulai mengecilkan suaranya. “Hari pertama ia menginap, malamnya ia tidak bisa tidur. Suara detikan jam tidak terdengar normal. Terkadang berhenti dan berjalan sangat lambat, namun setelah itu detikannya menjadi sangat cepat melebihi detakan jantungnya yang tak karu-karuan, dan tiap suara jam itu sudah mencapai batas kecepatan yang tak wajar itu jendela kamarnya akan terbuka perlahan dengan suara decitan keras..”

  “Cut!” seru Kyuhyun mendapat pukulan di kepala oleh Minyeon. “Aish!! Wae geuraeyo?!!”

  “Yah! Kau itu membuat suasananya tidak seram babo!!” desisnya. Kyuhyun hanya memanyunkan mulutnya.

  Botol tadi berputar di lantai dan melambat menunjuk tepat ke arah Key.

  “Hmm…,” ia bergumam pelan sebelum memulai ceritanya. “Tiba-tiba saat jarum jam menunjuk ke angka dua belas…”

  Ia menggeser duduknya mendekati Harin yang memejamkan kedua matanya. Ia tersenyum menyuruh kami diam sebentar.

  “Lalu jam itu berhenti berdetik. Sepi sunyi, namun mencekam,” ia mulai mendekat ke Harin yang sepertinya tidak sadar dengan tingkah laku Key. Perlahan-lahan Key menyentuh tali headset Harin. “Tiba-tiba….”

  SRET..

  “Tiba-tiba jendela terbuka dengan satu hentakan keras dan terdengar jeritan melengking dan begitu ia membuka matanya ia melihat sesosok bermata merah darah dengan rambut tergerai lurus sepunggung menatapnya tajam dan belasan bayangan asing lainnya melayang-melayang tak beraturan dengan cepat mengelilingi ruangan gelap itu!!” ucap Key penuh penekanan di telinga Harin dengan kecepatan maksimum. Harin begitu merasa headsetnya terlepas dan mendengar hal-hal yang ‘menakutkan’ baginya membuatnya mematung pucat di tempat. Begitu ia berhasil mencerna omongan Key barusan ia langsung menjerit dan memukuli lengan Key.

  “Kyaaaaa!!!! Yahh!!! Neon mwoya?!! Key-aaaah~~!!! Huweeee!!” pekik Harin memeluk lengan Key erat-erat sambil memukulinya. Key yang dipeluk hanya tersenyum puas.

  “Aahh~ arayo! Harin-ah! Jagan tertipu dengan Key! Dia itu cuma ingin kau peluk!!” celetuk Minyeon melirik Key dengan pandangan menuduh.

  “Ahh… Geuraeyo?? Key, kau suka ambil kesempatan pada Harin ya??” goda Sungra. Suasana ruangan itu makin ramai walaupun sudah bercerita seram.

Sungra’s POV

  “Jebaaaaaaaal~ kembalikan PSP-ku Minyeon-ah~! Jangan diberikan pada Donghae! Nanti rusak!!” rengek Kyu ribut sendiri dengan Minyeon, Donghae dan Heerin.

  “Andwae! Kalau kau main game nanti yang lain termasuk aku hanya kau suruh duduk menonton kau berteriak seperti orang gila,” balas Minyeon berdiri menjauh dan menyelipkan PSP hitam milik Kyuhyun ke dalam sleeping bag-nya. “Sungra-ya, kau punya permainan? Aku bosan,” Minyeon beralih ke arahku. Aku hanya menaikkan pundakku.

  “Eobseo,” jawabku singkat.

  “Ah! Aku punya ide!!” seru Donghae setelah berjeda beberapa detik. “Aku punya permainan! Mau coba ‘forehead wrestling’?? Aku diajari temanku, Byunghee,” jelasnya. Kami mengernyit. Forehead wrestling?

  “Ige mwo?” tanya Siwon. Donghae hanya menyengir kuda. Ia menyeret Heerin yang terbingung-bingung lalu ia sendiri duduk di hadapan Heerin.

  “Jagiya~ menunduklah~” rayu Donghae. Aku dan yang lainnya hanya menggeleng pasrah. Ckckck…

  Heerin dengan kepala masih penuh tanda tanya pun menurut. Ia menunduk sedikit. Donghae pun ikut menunduk dengan terkekeh pelan. Pelan-pelan Donghae mendorong keningnya ke kening Heerin.

  “Nah, nanti yang jatuh atau mundur sampai dinding dia kalah dan harus menerima ttak-bam!” sambung Donghae. Huh? Mainan apa ini?

  “Yah! Yah! Lee Donghae, kau pikir kita kerbau? Sapi? Badak? Rusa? Permainan apa itu?” ejek Heechan. Aku mengangguk setuju.

  “Jangan tanya padaku! Tanyakan pada Byunghee! Dia yang mengajariku~” balas Donghae masih dorong-dorongan dengan Heerin. Mau sampai kapan ini baru berakhir? ==

Heerin’s POV

  Aku terus melihat ke arah lantai supaya tidak bertemu pandang dengan mulgogi babo-ku itu. Sungguh! Aku heran kenapa dia berteman dengan orang aneh macam…siapa yadi namanya? Byunghun? Byung..hee?

  “Heerin-ah~” panggil Donghae dengan suara direndahkan membuatku tersadar dari lamunan. Spontan aku mengangkat pandanganku menatap kedua mata hitamnya. Ia tersenyum manis seperti anak kecil. Pipiku langsung memerah mengingat posisi kami yang dekat dengan kening saling menempel.

  “Saranghae~yoo~~” gumamnya pelan dengan suara yang lucu. Aku hanya diam menatapnya.

  BRUK!

  Aku menutup kedua mataku begitu merasa punggungku terbentur lantai keras yang dingin.

  “Aku menang~~!!!!” sorak Donghae. Aku membuka mataku dan melihat Donghae tepat berada di atasku.

  “Eyy~ Donghae-ya, jangan kira kami tidak lihat tadi! Kau curang tahu! Kau merayu Heerin sampai merah begitu,” celetuk Onew menarik kerah kemeja Donghae dari belakang sambil tertawa lepas.

  Lee Donghae! Lihat saja kau nanti! Aku akan melapor pada Abeonim dan Eomeonim kalau tingkah laku anak bungsu mereka ini perlu diperbaiki!

Sungra’s POV

  Suara tawa memenuhi riang tamu melihat Heerin kalah telak oleh Donghae. Lucu sekali!

  “Bagaimana kalau Siwon hyung mencobanya dengan Sungra,” aku langsung terdiam mendengarnya. Aku melirik ke ‘makhluk’ di samping Minyeon yang sedang tersenyum lebar seakan idenya adalah ide terbaik di seluruh dunia. Aku menyipitkan mataku ke arahnya berusaha mengatakan ‘aku akan membunuhmu!’

  “Kyuhyun-ah, kau bodoh atau idiot?” tanya Minyeon memukul belakang kepala Kyuhyun lagi. Sepertinya sekali lagi ia memukulnya, kepala Kyuhyun itu akan pecah ._.

  “Siwon dengan Sungra badannya jauh besar Siwon begitu pasti menang Siwon lah,” lanjutnya. Aku mengangguk setuju untuk menghindar dari permainan ini.

  “Aku tidak mau keningku hancur karena permainan ini ditambah lagi ttak-bam karena kalah,” tambahku. Aku melirik ke arah Onew sunbae, “Lagipula aku yakin tak bisa selamat dari ttak-bam Onew.”

  “Aigoo~ ayolah~ kalau kau memainkannya dengan Siwon hyung, kalian bisa sangat deka-” belum selesai Kyuhyun bicara dia sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sangat apa?

  “M-maksudku….ngg… Setelah forehead wrestling nanti kepalamu akan kebal dari ttak-bam Onew!” serunya. Aku mengernyit. Alasan yang aneh.

  “Itu tidak mungkin Kyuhyun-ah. Kau lupa kau sampai demam dan pusing setelah mendapat ttak-bam dari Onew?” balas Heechan. Kyuhyun hanya tertawa hambar.

  “I-itu..pokoknya aku mau lihat Siwon vs Sungra~!!” rengeknya mengalihkan topik.

  “Tapi Siwon pasti menang,” elakku.

  “Bagaimana kalau Siwon yang menang, aku dan Kyuhyun mendapat ttak-bam, lalu kalau Sungra yang menang, Minyeon dan Heerin yang mendapat ttak-bam?” tawar Donghae.

  “Yah?! Mwoya!! Shireo!!” Minyeon dan Heerin menutupi kening mereka.

  “Jebaaaal~”

  “Andwae! Bagaimana kalau kai-bai-bo saja?”

  “Tapi nanti aku dan Donghae kena juga kan kami rugi!”

Three minutes later…

  Setelah menunggu mereka berdebat akhirnya sudah ditentukan : Aku kalah, Kyuhyun dan Donghae tumbalnya; Siwon kalah, Key dan Onew tumbalnya.

  “Aku merasa ini tidak adil,” desah Key yang kalah suit.

  “Terima saja. Hidupmu sudah digariskan begitu,” balas Heechan santai.

  “Ayo mulai saja sekarang!” seru Minyeon dan Harin.

  “Aigoo….haruskah?” desahku duduk menghadap Siwon.

  “Tentu saja! Kami sudah susah-susah menentukan mangsa!” paksa Harin.

  Aku menghela nafas sejenak lalu menatap Siwon di hadapanku yang juga balik melihatku. Ia menaikkan pundaknya pelan lalu mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku.

  Dugeun..

  Dugeun..

  Aku tak bisa merasakan keberadaan jantungku begitu keningnya menempel dengan keningku. Here we go….stupid forehead wrestling -_-

  “Hey Sungra!! Kau tidak boleh kalah!! Kami tidak mau kening kami pecah!!” sorak Donghae dan Kyuhyun.

  “Onew-ah, kita hanya perlu menunggu hasil. Siwon pasti menang~” ujar Key santai.

  Aku berusaha sekuat tenaga menahan kepala Siwon. Aigoo…. Siwon berat T^T

  “Hey!” desisku pada Siwon. Ia melirik ke arahku. “Kau makan apa sampai kepalamu keras sekali?!! Aku bisa gegar otak tahu!” omelku pelan. Ia hanya tersenyum licik.

  “Kau akan kalah telak~” balasnya santai. Aku menggembungkan pipiku sebal. Tidak lama setelah itu aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel di pipiku.

  S-siwon?!!

  BRUKK..

  Aku merasakan wajahku memanas. Benar saja, dalam beberapa detik aku langsung jatuh di lantai. Siwon tersenyum bangga sedangkan aku masih dalam ‘shock state’.

  “Oh sudah? Sungra ya yang kalah??” tanya Onew. Untung mereka tidak melihat.

  “Nahh!!! Donghae! Kyuhyun! Kalian tidak bisa menghindar lagi!” seru Onew dan Key bersemangat.

***

  Lampu ruang tamu sudah dimatikan. Aku dan Siwon ikut tidur di ruang tamu setelah memastikan Sungwon baik-baik saja. Aku menghela nafas lalu melirik ke kananku dan mendapati Harin tertidur pulas. Aku melirik ke kiriku dan sama, Minyeon sudah ke alam mimpi bersama Kyuhyun.

  Sudah dua jam berlalu sejak kami memutuskan untuk berhenti bermain dan tidur. Tapi aku sama sekali tidak merasa mengantuk. Aku bangkit berdiri lalu berjalan ke arah dapur untuk minum.

  Trekk…

  Suara decitan dalam gelap itu membuatku tersentak kaget lalu berdiri kaku di tempat. Jelas saja aku merasa kaget. Malam-malam begini kemungkinannya kecil sekali kalau masih ada yang berkeliaran.

  Krieeet….

  Aku menggeser arah berdiriku perlahan tanpa suara. Apa itu? Tikus? O.o

  Aku mencengkeram pinggiran counter kuat-kuat, mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar dapur. Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu berbalik ke arah pintu.

  Baru saja aku melangkahkan satu kaki, aku sudah bertabrakan dengan sesuatu yang tinggi besar sampai aku jatuh terduduk di lantai. Aku menggigit bibir bawahku menahan untuk tidak menjerit. Ini bukan tikus!!

  Sekarang aku bisa melihat jelas bayangan hitam tinggi menutupi pandanganku. Aku menunduk. Eotteohke?!! Bagaimana kalau dia pencuri?!!

  “G-gwaenchanha?” bisik bayangan itu lalu berjongkok. Aku mengernyit. Pencuri apa yang bertanya seperti itu pada seseorang yang mengganggu kegiatannya?

  Aku dia tak berani menjawab. Suara itu terdengar familiar. Tiba-tiba kurasakan tanganku digenggam dan aku lebih merasa familiar lagi.

  “Kau Sungra ya? Kenapa tidak tidur? Gwaenchanhayo? Kau tidak terluka?” tanyanya dengan nada cemas.

  “S-siwon ya?” tanyaku pelan, takut salah orang.

  “Tentu saja. Kau kira siapa? Minho?” balasnya. Nada bicaranya seakan tidak senang dan kecewa.

  “Aniyo,” aku menggeleng walaupun tahu ia tidak bisa melihatku dengan jelas. “Kukira…kukira…..,” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

  “Kau sedang apa di sini?” tanya Siwon membantuku berdiri lalu ia menyalakan lampu dapur. Kulihat ia melongok keluar melihat manusia-manusia tadi berserakan di luar.

  “Aku mau minum,” jawabku singkat.

  “Susu atau air putih?” tanyanya mengambilkan gelas.

  “Susu,” jawabku singkat. Ia mengambil sekotak susu dari kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelasku.

  “Kau tidak bisa tidur?” tanya Siwon menyerahkan gelas itu padaku. Aku hanya mengangguk pelan sambil meneguknya.

  “Kau sendiri sedang apa di sini?” balasku.

  “Aku mencari ponselku,” gumamnya mengusap-usap tengkuknya sambil melirik ke arah counter. “Aku tidak melihatnya sejak kita memasak tadi. Padahal aku yakin sekali kalau ponselku ada di counter,” sambungnya.

  “Mungkin saja kau lupa, lalu kau tinggal di kamar,” balasku setelah membantunya mencari. Ia menaikkan pundaknya.

  “Mollayo. Tapi feelingku mengatakan kalau ponselku ada di sekitar sini,” ia membuka satu persatu laci dapur memunggungiku.

  “Cari besok saja. Kau tidak sedang menunggu telepon kan?” tanyaku. Kemudian tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit di pikiranku. “Menunggu telepon dari seorang yeoja misalnya?” tanyaku ragu. Ada sesuatu yang mengganjal terasa di hatiku. Seperti….takut?

  “Aniyo,” jawabnya. Aku menghembuskan nafas lega yang sejak tadi tertahan. “Tapi ada sesuatu yang penting di dalamnya. Tentang seseorang yang penting bagiku.”

  Seseorang…….yang penting?

  “Sungra-ya,” panggilnya berbalik menghadapku. “Eh? Kau menangis? Kenapa?”

  Aku tersentak dan merasakan wajahku memang basah karena air mata. Kenapa aku menangis?

  “A-aniya. Aku mengantuk. Kau tidak melihatku menguap tadi? Aigoo… Aku lelah sekali Siwon-ah, aku kembali dulu,” elakku menghapus air mataku. Kuakui suaraku terdengar sedikit kacau bahkan di telingaku sendiri. Aku berbalik dan kembali ke sleeping bag-ku.

  Menahan isakkan, aku menangis dalam sunyi. Kutenggelamkan kepalaku ke dalam selimutku.

  Kenapa?? Kenapa aku? Kenapa juga harus Siwon?

  Aku mengeratkan cengkramanku di ujung kain yang kugunakan bersembunyi dari kenyataan itu.

  Kenapa aku harus jatuh cinta padanya?

To Be Continued…

Author is back~!!
Hahaha.. *gak ada yang nunggu juga*
Sorry kalo update nya lama~
Pengen update akhir kemaren2 tapi keasikan main ama adik .___.v *ceburin sumur*
Update nya kepanjangen + gak penting kayanya >.< mianhae kalo gak bagus~!!
belakangan nggak ada komen juga ;~; *nangis di pojokan* pada ga suka incest kah?
kalo ada yang kurang minta saran ya ^-^
jangan jadi silent readers >,<

Gomawo~~
Yang komen ntar ketemu bias~!!! *ngaco ah nih author*

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 4]

Sungra’s POV

  Aku duduk mengayun-ayunkan kakiku sambil menonton Minho berlatih. Memang biasanya ia berlatih sepak bola, tapi karena klub olahraga akan mengadakan pertandingan basket Minho berlatih basket.

  Setelah beberapa kali memasukkan bola ke ring ia berbalik menatapku lalu tersenyum. Ia sedang bermandi keringat di sekujur tubuhnya. Sambil mengatur nafasnya ia berjalan ke arahku lalu duduk di sampingku.

  “Bosan?” tanyanya meneguk air mineralnya. Aku menggeleng lalu menyerahkan handuk kecil padanya. Ia meraihnya lalu membersihkan keringatnya.

  “Kau tidak lapar?” tanyanya lagi. Aku menyambar tasku dan mengeluarkan dua kotak bekal. Salah satunya kuserahkan pada Minho.

  “Makanlah yang banyak. Pertandingannya masih lama, kau harus cukup nutrisi dan makan makanan sehat, banyak istirahat, jangan sakit,” kataku. Ini sudah jadi kebiasaanku mendukung Minho dalam pertandingan.

  Minho mengangguk lalu melahap makanannya. Aku juga memakan bekalku.

  “Minho!” panggil seseorang dari belakang kami. Kami berdua berbalik ke arah sumber suara itu dan mendapati Siwon berdiri di sana memasukkan tangannya ke dalam saku.

  “Ne?” tanya Minho dengan mulut penuh makanan.

  “Kau akan ikut pertandingan basket kan?” tanya Siwon ikut duduk di antara aku dan Minho. Aish! Anak ini menghalangi pandanganku! =.=

  “Ne. Waeyo? Siwon hyung, kau mau ikut?” kudengar jawaban Minho.

  “Ne. Bagaimana kalau latihan sekarang? Kau lawan aku,” tawar Siwon aku mengernyit lalu memukul pundaknya.

  “Hey! Minho kan baru makan! Kau juga! Kau sudah makan? Makanlah dulu, jangan buang-buang energi! Kalau kau sakit siapa yang merawatmu?” omelku memasukkan beberapa makanan dari bekalku ke mulutnya.

  “Sebentar saja kok,” ia mengunyah tamago buatanku lalu menarik Minho berdiri. Aku menggeleng pasrah lalu kembali memakan bekalku, kusisakan setengahnya untuk Siwon.

  Aku kembali menatap kedua pria tinggi di lapangan olahraga yang asyik mendribble dan memasukkan bola ke ring masing-masing. Aku hanya tersenyum menatap kedua orang itu. Tiba-tiba Siwon berhenti sejenak lalu menepuk pundak Minho. Ia membisikkan sesuatu yang aku sama sekali tak tahu. Aku mengernyit lalu menaikkan pundakku. Mungkin tak ada hubungannya denganku.

 

Siwon’s POV

  Aku menepuk pudak Minho untuk mengajaknya berbicara. Tujuanku di sini memang bukan hanya bermain basket.

  “Ne?” ia mengernyit.

  “Apa kau…benar-benar menyukai Sungra?” tanyaku pelan. Ia lalu tersenyum tipis.

  “Ne,” jawabnya singkat. Aku berdeham sejenak.

  “Kau tahu, tidak mudah untuk mendapatkan Sungra. Kau harus bertanding denganku dulu,” gumamku. Ia lalu mengernyit.

  “Kenapa?” tanyanya. Aku menghela nafas. “O-oh! Jangan-jangan….kau suka pada Sungra juga?!” lanjutnya membulatkan matanya. Aku diam sejenak lalu mengangguk pelan. Ia lalu tersenyum.

  “Hyung mau tanding apa?” tanyanya. Aku hanya menunjuk bola basket di tanganku. Ia menangguk. “Aku tak menyerah semudah itu, hyung,” bisiknya.

***

  Kriingg!!!

  Bel istirahat selesai sudah berdering. Aku dan Minho langsung terduduk di lapangan kelelahan. Sungra menghampiri kami lalu berkacak pinggang.

  “Kalian ini! Aku kan sudah bilang, makan dulu! Aigoo.. Sekarang sudah bel baju kalian basah semua, Lee sonsaengnim tak akan senang,” omelnya. Aku mengehela nafas.

  “Masih seri,” gumamku terengah-engah menatap Minho. Ia mengangguk.

  “Seri atau tidak aku tidak peduli. Sekarang kita skip saja dulu, kalian harus makan!” omelnya menarik kami berdua duduk di bangku.

  Ia menyerahkanku kotak bekal yang tadi dipakainya. Aigoo.. Untung saja Sungra tidak menghabiskannya. Aku bisa mati kelaparan.

  “Makan yang banyak,” ujar Sungra. Tiba-tiba aku merasakan sebuah handuk terusap dari pelipis ke pipiku. “Keringatmu banyak sekali. Nanti pulang cepat mandi,” Sungra terus mengelap keringatku. Aku hanya tersenyum disela-sela makanku.

  “Gomawo~” gumamku senang sambil menguyah makananku.

  “Minho-ya, pelan-pelan kalau makan,” ujar Sungra menyerahkan sapu tangan pada Minho. Aku mengerutkan alisku lalu menyambar sapu tangannya sebelum Minho meraihnya.

  “Kau kenapa? Itu kan buat Minho,” tanya Sungra menatapku aneh karena sikapku barusan. Aku menggosok tengkukku sambil menunduk.

  “Umm.. Mianhae, aku tidak dengar,” gumamku sebelum menyerahkan sapu tangan itu pada Minho.

  “Oh.. Hey, kalian tunggu di sini sebentar aku mau ke toilet,” Sungra berdiri lalu berlalu pergi. Aku menyenggol pundak Minho yang sedang makan.

  “Ne, hyung?” tanyanya. “Kau mau membahas soal memperebutkan-‘nya’ kan?” tanyanya menatapku santai. Aku mengangguk mantap.

  “Bagaimana kalau kita bersaing seperti ini saja. Setiap hari biar Sungra tentukan ia akan pergi dengan siapa. Oke?” tawarnya. Aku mengangguk setuju.

  “Tapi jangan biarkan Sungra tahu soal ini, deal?” aku mengulurkan tanganku. Ia memiringkan kepalanya lalu menyambut tanganku.

  “Ne,” ia mengangguk.

***

  KRIIING..!!

  Bel pulang berbunyi memenuhi seluruh ruangan sekolah. Aku segera mengemas barang-barangku lalu menuju loker Sungra untuk menemuinya.

  Begitu aku tiba di koridor letak loker itu, aku melihat Minho berdiri bersandar di samping Sungra yang sedang membereskan barang-barangnya. Ugh! Catatan untukku : jangan pernah didahului Choi Minho lagi!

  Di antara semua orang di dunia ini kenapa harus Minho? Okelah, kuakui Minho bukanlah rival yang mudah ditakhlukan.

  Begitu Minho melambaikan tangannya lalu pergi, aku segera menghampiri Sungra.

  “Sungra-ya,” panggilku. Ia menoleh lalu mengernyit menatapku.

  “Ne?” ia memiringkan kepalanya. Aku menghela nafas lalu mengacak-acak rambutnya.

  “Kajja, pulang. Kau sedang tidak ada acara kan? Ayo jemput Sungwon,” ajakku. Ia lalu memanggul tasnya.

  “Mianhae, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulanglah dulu. Jaga Sungwon, aku titip salam. Annyeong!” jawabnya lalu pergi tanpa membiarkanku memberi respon. Apa ia pergi dengan Minho? T^T omona, nae sungwonnie…

 

Sungra’s POV

  “Sungra-ya. Kau ada acara nanti? Aku mau mengajakmu pergi sebentar, melepas stres,” ajak Minho. Aku melirik ke jadwal agenda di ponselku.

  “Mianhae Minho-ya. Aku sibuk hari ini. Lain kali saja ya jalan-jalannya,” tolakku. Ia menghela nafasnya lalu mencubit pipiku.

  “Ne. Kapanpun kau butuh kau bisa menghubungiku,” ia tersenyum lalu pergi. Baiklah. Aku harus segera pulang karna ada pekerjaan menunggu…

“Sungra-ya,” aku berbalik dan mendapati Siwon berdiri di belakangku.

  “Ne?” tanyaku. Ia mengacak rambutku pelan.

  “Kajja, pulang. Kau sedang tidak ada acara kan? Ayo jemput Sungwon,” ajaknya. Aku mendesah pelan.

  “Mianhae, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulanglah dulu. Jaga Sungwon, aku titip salam. Annyeong!” aku melambaikan tanganku padanya lalu menatap ponselku. Oh tidak! Aku bisa terlambat!

 

At Café…

  Aku mengelap permukaan toples kaca berisi cookies coklat dari deretan toples-toples berisi camilan manis warna-warni. Begitu permukaannya terlihat bersinar mengkilat aku meletakkannya kembali ke barisan toples itu. Tiba-tiba sebuah toples berisi permen warna-warni disambar sebuah tangan yang berasal dari belakangku. Aku langsung berbalik lalu mendapati rekan kerjaku berdiri di sana membuka toples tadi dan memakan permennya.

  “L! Itu topping untuk pelanggan!” omelku berusaha menyambar toples itu. Ia menjulurkan lidahnya dan menjauhkan toples itu dariku.

  “Yah! Kim Myungsoo! Kembalikan!” aku memukul-mukul lengannya. Ia tertawa kecil lalu memasukkan sebutir permen ke mulutku.

  “Sudahlah. Hanya makan sedikit kan tidak apa-apa,” ia menutup kembali toples itu dan mengembalikannya ke rak.

  “Myung-myungie~ Sungraaa nae aegiii~” Jeongmin muncul dari balik pintu dapur dan mengalungkan kedua lengannya pada leherku dan Myungsoo.

  “Jeongmin sunbae, berhentilah memanggilku seperti itu!” aku mendorongnya menjauh. Ia terkikik bersama Myungsoo. “Mana yang lainnya?” tanyaku merapikan cangkir-cangkir.

  “Eli membersihkan dapur. Onew…entahlah. Dia menghilang sejak kusuruh membuang sampah,” jawab Jeongmin menyeduh biji-biji kopi. “Kurasa Onew hyung pergi menemui pasangan kencan buta yang kau pasangkan dengannya waktu itu,” lanjutnya. Aku tersenyum menahan tawa dengan Myungsoo.

  “Maksudmu Heechan?” tanyaku. Ia mengangguk lalu mulai membuat cappucino.

  “Si pemilik restoran kenalanmu itu,” Myungsoo membuka toples marshmallow dan melahapnya. Aku menggeleng pasrah.

  “Myungsoo-ah, kau bisa gemuk kalau makan terus,” omelku mencubit pipinya.

  “Andwaeee~~ Aku kan tampan, nanti bisa jadi model! Aku tidak akan gemuk Sungra aegi~” ia menjulurkan lidahnya lalu mencubit hidungku.

  “Kau terlalu besar kepala Myungsoo-ah. Belajar dari siapa?” sindirku.

  “Mirror Prince,” ia menunjuk Jeongmin yang sedang menyeruput cappucinonya sampai mulutnya belepotan foam. Aku dan Myungsoo langsung tertawa meledak.

  “Wae???” tanya Jeongmin polos. Ia lalu berbalik ke cermin di dinding. “Oh.. Aku aegyo sekali kan kalau begini? Wow.. Di mana ya direktur membeli cermin sebagus ini? Aku juga ingin punya satu,” pujinya bercermin di sana. Myungsoo menaikkan pundaknya.

  “Ini sudah ke-tujuhbelas kalinya dalam hari ini ia bercermin,”gumamnya. Aku hanya mengangguk.

  “Oh, ya. Sungra-ya, kudengar kau punya ‘oppa’? Kenapa aku baru tahu kau tiga bersaudara? Bukannya hanya ada kamu dan Sungjae?” Jeongmin berbalik ke arahku.

  “Darimana kau tahu?” aku mengernyit.

  “Apa kau lupa aku ini Jeongmin? Jeongmin selalu tahu,” jawabnya.

  “Kalau Jeongmin selalu tahu, kau pasti tidak perlu menanyakan soal saudaraku,” jawabku mengabaikannya. Ia cemberut lalu mendorong-dorongku.

  “Jebal~ Jebal~ Jebal~ Nae aegi~ beritahu oppa-mu ini~ Aku bisa mati penasaran!” rengeknya.

  “Aigoo.. Ne! Ne! Geurae! Tapi berhentilah mendorongku, Jeongmin sunbae!” ia pun berhenti. “Berhenti juga memanggilku aegi!” gerutuku. Ia menggeleng.

  “Andwae, kau magnae di sini, panggilanmu ‘aegi’. Titik,” ujarnya polos. “Ayo cepat cerita~ Jeongmin sedang menunggu,” lanjutnya sebelum sempat kuprotes.

  “Aish! Geurae. Namanya Choi Siwon, setahun lebih tua dariku, tapi dia pernah menjabat-”

  “Chamkkaman!” potongnya. “Kenapa marganya Choi?” tanyanya. Aku mendesah kasar.

  “Makanya dengarkan dulu sampai habis!” aku memukul lengannya. Ia meringis lalu mengangguk.

  “Ia pernah menjabat sebagai saudara kembarku. Aku baru tahu dia bukan saudaraku saat kami tujuh tahun. Dan sekarang dia kembali ke Korea,” jelasku singkat. Ia memiringkan kepalanya seakan meminta penjelasan lebih.

  “Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kelakuan Siwon aneh, tak seperti saat dia masih kecil dulu,” aku memandang lurus menerawang ke depan sambil bertopang dagu. Tidak hanya Siwon, sepertinya Minho juga aneh. Ada apa dengan mereka?

 

Meanwhile..
Siwon’s POV

  “Aaaarghh!!” geramku duduk di samping Sungwon di ranjang.

  “Sungwon-ah~ eomma mu sepertinya pergi dengan Minho lagi,” gerutuku.

 “Ennn..,” gumam Sungwon bermain dengan bolanya.

  “Yah, kenapa jawabanmu begitu? =_=” omelku. Ia hanya diam bermain dengan bolanya.

  “Hm.. Kemana ya kira-kira mereka berdua?” gumamku mendapat lemparan bola dari Sungwon.

  “Aish! Aku tidak bicara denganmu Sungwon-ah..! Hmphh! Kalau begitu aku dating dengan mu saja bagaimana?” tanyaku lagi. Sungwon menjulurkan lidahnya ke arahku. =_=

 

Sungra’s POV

  “Eli sunbae!! Jeongmin sunbae!! Ppali!” seruku bersandar di dinding cafe. Myungsoo dengan tenangnya memakan coklat yang baru dibeli di supermarket seberang. Onew sedang berdiri mengedarkan pandangannya sambil memeluk plastic bag isi ayam pesanannya tadi siang.

  “Ne! Ne! Ah! Chamkkaman!” seru Jeongmin karena diseret Eli saat ia sibuk bercermin.

  “Kau terlalu lama Jeongmin-ah!” omel Eli.

  “Ara! Ara! Ah iya! Aku bawa hadiah dari Busan!” seru Jeongmin mengeluarkan karung santaclaus. “Hmm.. Mari kita lihat. Ah, ini buat Myung-myungie!” ia menyodorkan kemeja lengan panjang dan topi. Aku memasang wajah ‘kau-yakin-memberinya-itu?!’.

  “Jeongmin-ah, Myungsoo sudah punya banyak kemeja dan topi!” kata Onew kuiyakan.

  “Karena Myung-myungie menyukainya makanya aku membelinya,” jawabnya santai sambil mengubek-ubek isi karungnya. “Ini untuk Onew dan Eli~!” ia mengeluarkan sebuah piyama ayam dan buku pelajaran…bahasa Korea?!

  “Ya! Apa ini?” seru Eli. Jeongmin hanya mengibaskan tangannya.

  “Latih bahasa Koreamu hyung, jangan permalukan kami,” jawabnya santai. “Nah, ini untuk Sungra~!” ia menyodorkan satu set syal dengan topi dan sarung tangan ungu.

  “Wuaaah~ Gomawo Jeongmin sunbae!” aku segera mengenakannya. “Kyeopta!”

  “Jeongmin-ah, kenapa hadiah Sungra paling bagus?” tanya Eli.

  “Hyung mau kubelikan mini dress?” sindir Jeongmin. Aku tersenyum menahan tawa melihat ekspresi Eli.

  “Geurae, geurae! Kajja!” ajakku.

 

Minho’s POV

  Aku menghela nafas lalu meletakkan pensilku di samping buku PR ku. Kusandarkan tubuhku ke kursi lalu menatap langit-langit.

  “Sungra menolak pergi denganku untuk pergi dengan Siwon?” gumamku. Aku beranjak dari tempatku lalu duduk di balkon menatap langitt gelap dihiasi cahaya lanpu dari berbagai penjuru Seoul.

  “Aku tidak akan kalah dengan Siwon hyung semudah itu,” gumamku.

 

Sungra’s POV

  Aku membuka pintu rumah dan mendapati semua lampu sudah dimatikan. Aku melepas sepatuku lalu meyalakan lampu ruang tengah. Sepertinya Siwon dan Sungwon sudah tidur. Aku menghela nafas lalu berjalan naik ke kamar.

  Aku melepaskan mantel dari Jeongmin dan menggantungnya di belakang pintu, beserta topi dan sarung tangannya. Aku segera mengganti bajuku dengan piyama dan naik ke atas kasur, di samping Sungwon yang sudah tidur dalam pelukan Siwon. Aku tersenyum lalu berbaring dan segera masuk ke alam mimpi.

***

  Aku membuka mataku karena cahaya matahari sudah masuk ke sela-sela tirai jendela. Aku merenggangkan otot-ototku lalu duduk mengusap mataku. Aku melirik ke arah Siwon dan Sungwon yang masih terlelap.

  “Siwon-ah, ireona…,” panggilku malas menggoyang-goyangkan pundaknya. Ia mengerang pelan lalu ikut duduk. Aku berdiri hendak pergi ke kamar mandi.

  “Sungra-ya…,” panggilnya. Aku berbalik ke arahnya yang sedang memandangi balik pintu.

  “Ne?” tanyaku.

  “Itu…kau dapat kemarin?” tanyanya balik. Aku mengikuti arah pandangnya ke syal, topi dan sarung tanganku kemarin. Aku mengangguk. Kenapa memangnya?

  “Waeyo?”

  “A-aniya..” ia menunduk.

 

To Be Continued…

Rinhyuk Story : How It’s All Started!

Rinhyuk Story : How It’s All Started!

 

Author : devilhae

Genre : Series, Romance, Humor

Cast :  Kim Chaerin, Lee Hyukjae, Super Junior

…..

Seoul, South Korea

Chaerin menggayuh sepeda miliknya dengan riang. Senyuman bahagia tak pernah lepas dari wajahnya. Terkadang ia bersenandung menyanyikan lagu-lagu SHINee, mengikuti alunan lagu yang ia dengar lewat earphone miliknya. Apalagi senyuman bertambah ceria ketika part Onew muncul. Tanpa ia sadari, sepeda yang sedang ia kendarai menabrak seorang pria yang tengah berlari pagi.

‘BUKK!’ Pria tersebut maupun sepeda Chaerin jatuh bersamaan.

Chaerin bangkit sambil merintih kesakitan lalu menatap pria yang kini berada dihadapan nya. Pria tersebut menggunakan kacamata hitam dan topi abu-abu berwarna senada dengan pakaian olaharaga yang sedang ia pakai. Lari pagi mengenakan kacamata hitam ? Pria aneh -________-

“YA! Lain kali jika kau sedang berlari pagi jangan gunakan kacamata hitam! Makanya kau sampai bisa tertabrak olehku!” Bentak Chaerin tiba-tiba, tidak peduli dengan orang-orang yang berada disekelilingnya menatap aneh padanya.

Pria tersebut menaikan sebelah alisnya. “Mwoya ? Seharusnya aku yang membentakmu! Lain kali jika kau mengendarai sepeda jangan mengkhayal dengan wajah yang sangat menjijikkan!” Bentak pria tersebut tak kalah kencangnya sehingga membuat orang-orang yang mendengar nya terkekeh pelan.

Chaerin terkejut dengan perkataan pria tersebut. “Mworago ? Kau bilang wajahku menjijikkan ?! Kau benar-benar pria tak sopan!” Balas Chaerin yang sudah mulai emosi. Kenapa ia harus bertemu pria ini ? Merusak mood nya di pagi hari saja -_____-

Pria tersebut bangkit dari tempatnya sambil mengacak-acak rambutnya sehingga membuat topi dan kacamata nya jatuh. Chaerin membelalakan matanya. Ia tahu siapa pria yang berada dihadapan nya bahkan sangat kenal dengan wajah pria tersebut. Ia adalah sunbae Onew yaitu Super Junior Eunhyuk!

Neo !” Teriak Chaerin tak percaya namun langsung terpotong karena Eunhyuk segera membekap mulut nya dan mengambil topi dan kacamata miliknya. Takut orang-orang mengetahui identitasnya ia segera menarik Chaerin ke tempat parkir apartemen dorm nya yang cukup sepi.

Continue reading

%d bloggers like this: