Category Archives: KARA

Letter Of Angel XX (BLUE)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIV

Background Song :

Listen it and find the chemistry

Tiffany’s View

Aku terbangun dan menemukan diriku di kamar yang tak aku kenal. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tiffany di sinilah dirimu sekarang. Apa yang kau harapkan melihat Siwon di sampingmu?
Tok…tok..tok…
Seseorang mengetuk pintu dan kemudian aku melihat Jessica membawakanku sarapan.

“Maaf merepotkanmu” kataku sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kita teman kan?” ujarnya sambil tersenyum riang, aku pun membalasnya dengan senyuman.

“Mashita” pujiku.

“Hehehe… Bukan aku yang memasaknya. Emmonim yang memasaknya” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Eommonim? Aku jadi ingat namja cantik kemarin. Aku jadi ingin menggoda Jessica.

“Oh… Eomma dari namja yang kemarin yah? Wah… wah berarti sudah mendapat lampu hijau. Kalau begitu jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian yah”

“Ani.. Aniya. Taemin harus menjadi dokter dulu dan mungkin baru 5 tahun lagi, kalaupun hubungan kami bertahan, tapi aku harap iya” Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“I wish you two could make it real. Do your best to keep your relationship. Promise me” Aku menyodorkan jari manis tangan kananku, dia menyambutnya dan kami melakukan pinky promise.

“Sica….” Taemin melongokkan kepalanya dan memanggil Jessica. Jessica meninggalkanku sejenak untuk berbicara dengan Taemin, tak lama dia kembali duduk di pinggir ranjang.

“Taemin pamit. Dia ada kuliah pagi. Dia titip salam untukmu” Tanpa aku minta Jessica menjelaskan. Aku hanya mengangguk.

Jessica juga pamit dan meninggalkanku di apartemennya. Dia semula mengajakku ke rumah sakit daripada aku sendiri, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau bertemu orang-orang dalam keadaan seperti ini.
Sku melihat bayanganku di cermin. Mata sembab dan merah, wajah sayu dan pucat serta rambut acak-acakan. Tiffany….

(I’m singing my blues)
The love that I have sent away with the floating clouds, oh oh
Under the same sky, at different places
Because you and I are dangerous
I am leaving you
One letter difference from ‘nim’(T/N)
It’s cowardly but I’m hiding because I’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love


Jiyeon’s View

“Oppa, hari ini setelah kuliah aku ingin ke tempat Sica-eonni. Boleh kan?” tanyaku pada Donghae oppa yang sedang menyetir.

“Baiklah. Nanti aku antar, setelah mengajar jam pertama aku kosong sampai siang” ucap Donghae oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ne” aku mengangguk senang.

“Kau sudah menelpon Jessica kalau kau ingin berkunjung?” tanyanya memastikan.

“Sudah, oppa. Tadi pagi aku sudah menelponnya, dia mengatakan aku bisa langsung masuk apartemennya. Nanti Taemin juga akan kesana kok, dia diminta Sica-eonni untuk mengambilkan beberapa barang Sica eonni yang tertinggal”

Donghae mengangguk sesaat.

Kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Donghae membuka pembicaraan lagi.

“Kau suka peony yang diberikan ahjumma kemarin?” tanyanya. Mukaku langsung bersemu merah.

“Kalau boleh tahu arti peony itu apa?” Kali ini dia menatapku, kami sedang berada di lampu merah. Aku mengalihkan pandanganku antara akan atau tidak menjawab pertanyaannya.

Tin…Tin….Tin…

Donghae’s View
Tin…Tinn…. Tinnn….
Aku menunggu jawaban Jiyeon sampai tak sadar lampu sudah menjadi hijau. Aku segera menjalankan mobil dan menundukkan kepala kepada pengemudi lain.

“See, you gave us trouble” kataku sebal.

Tunggu… Sejak kapan Lee Donghae menjadi seperti ini. Jiyeon sedikit kaget dengan perkataanku. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku.

“Syukurlah, aku pikir Oppa sakit” katanya lega.

Kami berdua saling berpandangan sesaat dan tertawa. Aku menepikan mobil takut bila terjadi apa-apa ketika mengemudi dalam keadaan ini.

“Baiklah, sepertinya hari ini bagaimana kalau kita sedikit telat” ajakku. Jiyeon membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.

“Bagaimana ?” tawarku lagi.

Dia menarik nafas panjang.

“Oppa, harus mengajarkan? Kalau kita terlambat nanti bisa susah” katanya.

“Hei, siapa yang akan terlambat masuk kelas” Bukan itu yang terlintas dalam pikiranku.

“Lalu?” tanyanya bingung.

Aku membisikkan sesuatu di telinganya. Dia mengangguk mengerti.

“Oh, begitu yah. Aku setuju” katanya riang.

“Aku pikir kau mengerti isi otakku, ternyata tidak” godaku.

“Memangnya aku pembaca pikiran apa? Bagaimana aku tahu bial oppa tidak mengatakan isi pikiran oppa padaku” dia menggembungkan pipinya.

“Ehmm… Ada yang ingin aku katakan” aku menarik nafas panjang. Jiyeon memperhatikanku dengan seksama.

Aku kembali menarik nafasku dalam. Aku mengambil tas kerjaku dan mengeluarkan 1 tangkai bunga.

“I don’t know from where should I explain this all. It’s gloxinia, it means love at first sight. It was my feeling to Yoona” Jiyeon menarik nafas panjang dan mengepalkan tangannya, dia kemudian menatapku memintaku untuk meneruskan kata-kataku.

“That was my feeling, I couldn’t ignore it” Aku gantian menarik nafas. Mata Jiyeon sudah berair.
“I…..” Jiyeon memotong kata-kataku.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintainya dan tak bisa melupakannya?” ujarnya tersenyum sambil menahan airmata.
Aku terdiam.

“Aku bisa menunggu, aku orang yang sabar kok” sambungnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

Donghae… now or never… Aku menarik Jiyeon dalam pelukanku. Dia menangis di dadaku, aku menggenggam tangan kanannya dimana cincin pernikahan kami tersemat di jari manisnya.

Aku merogoh hiasan clay dari saku jasku dan meletakkannya di tangannya. Dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku sambil mencoba melihatku.

“Edelweiss, itu edelweiss. Bunga abadi, bunga yang hanya akan tumbuh di pegunungan tinggi. Edelweiss bunga para pendaki. Edelweiss bunga kecil yang terus hidup dan bertahan di daerah dingin dan ekstrim. Bunga yang selalu memberi warna dan kedamaian bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih puncak tertinggi. Eddelweiss bunga sederhana yang menemani Sang Gunung untuk mengarungi waktu dan musim. Dia hanya akan hidup di sana, dia tak akan meninggalkan Sang Gunung, dia hanya hidup dan bernafas bila berada di sana. Edelweiss memang tak sekokoh Gunung itu sendiri, edelweiss terkesan lembut, sederhana, rapuh dan mudah terluka. Namun, dengan segala kelemahannya, edelweiss memberikan nafas kesederhanaan, pertahanan, ketulusan dan kekuatan serta senyuman. Dia tak perlu sekuat dan sekokoh Gunung, dia cukup menjadi dirinya sendiri. Kau bukan gloxinia-ku, tapi kau lah edelweiss-ku. Step by step I wish I could….” Kata-kataku terpotong ketika aku merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirku.

“I’ll be your edelweiss. That’s always love, love and love you always no matter what. I’m waiting for you till one day you open your heart” Aku menutup mataku sesaat lega.

“Oppa” Aku menatap Jiyeon.

“Kita ke tempat Siwon-oppa yuk. Aku punya rencana, maksudku kita akan membuat rencanamu lebih sempurna” katanya. Dia menjelaskan semua rencananya.

“Tapi kuliah dan…”

“Aku punya 25% hak untuk tidak mengikuti perkuliahan kan? Sekali bolos saja tidak masalah. Lagian hari ini ”

“Tunggu, aku punya cara lain” Aku segera menghubungi Jessica, Hara dan adik Kyuhyun, Jieun.

“Jelaskan semua pada mereka. Kau bisa mengandalkan mereka” Akhirnya kami melakukan teleconference.

“Ne, aku mengerti Donghae uisha” kata Jieun.

“Baiklah, Donghae-oppa. Beres, serahkan saja padaku” ucap Hara bangga.

“Asal Tiffany eonni tersenyum semua akan aku lakukan” ujar Jessica.

“Lalu, Siwon oppa bagaimana? Siapa yang akan menemuinya?” tanya Jiyeon. Kami diam sejenak.

“Biar aku dan Hara yang menemuinya. Ada yang harus aku bicarakan juga dengan Hara” kataku. Jiyeon mengangguk.

Siwon’s View

“Sajangnim. Tuan Lee Donghae dan nona Goo Hara ingin menemui anda” Aku mengerutkan dahiku, ada urusan apa mereka berdua kemari.

“Suruh mereka masuk” ujarku pada sekretaris.

Donghae dan Hara masuk, aku mempersilahkan mereka duduk. Belum lama mereka masuk, tiba-tiba Seunghyun dan Pamanku, ayah Seunghyun.

Hara terkejut, tetapi Donghae hanya tersenyum.

“Seunghyun, Paman ada urusan apa datang kemari?” tanyaku. Namun, kejutan tak sampai di situ. Sekretarisku mengantarkan Kyuhyun dan Changmin ke ruanganku. Tunggu ada apa ini?

Donghae sepertinya mengerti kebingunganku. Dia berdiri dari kursi dan menggenggam tangan Hara, menuntunnya ke dekat Kyuhyun dan meletakkan tangannya di tangan Kyuhyun.

“Kyuhyun, ini Tuan Besar Choi dan Choi Seunghyun. Ayah dan kakak dari Goo Hara” Kyuhyun sedikit terkejut, tetapi kemudian membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri.

“Hara, time to makes up” kata Donghae. Kyuhyun mengangguk. Paman, Sunghyun, Kyuhyun dan Hara keluar ruangan. Menyisakan aku, Changmin dan Donghae.

“Itu tadi apa?” tanyaku. Donghae tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mempertemukan keluarga yang terpisah dan ingin melihat senyuman di wajah adikku” kata Donghae.

“Adik?” tanyaku.

“Hara. Sudahlah sekarang yang terpenting adalah Tiffany. Aku dan Jiyeon punya rencana untuk membuat kalian berbaikan. Berterima kasihlah juga pada Changmin, tanpa dia aku ragu kita bisa membuat semua menjadi beres” Donghae mengedipkan matanya ke arah Changmin, yang hanya memberinya death glare.

“Lalu mengenai Hara dan…..” Donghae memotong perkataanku.

“Choi Siwon, sekarang saatnya mengurus urusanmu dulu. Aku akan jelaskan lain waktu padamu tepatnya pada kalian semua. Iya kan Changmin?” Changmin seperti ingin mencekik Donghae. Entahlah aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua rencana Donghae dengan saksama.

“APA???????” teriakku di akhir.Changmin hanya menatapku iba.

“A-KU SE-RI-US” kata Donghae penuh tekanan di tiap kata.

“Jika tidak berhasil bagaimana?” tanyaku takut.

“Serahkan pada Shim Changmin” kata Donghae dan Changmin hanya mlengos.

Tiffany’s View

“Sica, bagaimana bisa kau cemburu. Aku dan Jiyeon sudah lama berteman dank au tetap tak mengerti”

Aku segera keluar kamar, Taemin dan Jessica berteriak hebat.

“Berteman? Hanya berteman? Kau tak pernah melupakan Jiyeon, selalu saja dia di otakmu. Kau pikir aku tak sakit hati apa saat melihat kalian bersama” balas Jessica.

“Sica…. Dia sudah punya Donghae uisha dan aku memilikimu. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan bahwa kami tak memiliki perasaan selain teman?” teriak Taemin lagi.

Jessica menangis dan jatuh terduduk. Taemin berusaha menenangkan Jessica dan berusaha memeluknya, tetapi Jessica menolak dan justru tambah keras menangis. Aku mendatanginya dan segera memeluknya. Aku menatap Taemin, matanya kosong. Dan dia sudah siap meneteskan air mata, tetapi dia menahannya.

“Eonni” seseorang masuk ke apartemen Jessica dan kaget saat melihat Jessica. Sepertinya aku pernah melihat gadis muda ini, tapi entah dimana aku tak yakin. Jessica berganti memeluknya dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Taemin tetap berdiri di depan kami, menunggu Jessica untuk menenangkan diri.

“Aku rasa eonni salah paham” kata gadis itu.

“Tidak, Jieunie. Taemin masih mencintai Jiyeon sampai sekarang” Jessica tetap kukuh.

“Mencintai Jiyeon sampai sekarang? Darimana teori bodoh itu , Sica. Iya dulu aku mencintainya, tapi sekarang kau yang aku cintai” teriak Taemin.

“Katakan padaku kau sama sekali tak mencintainya” teriak Jessica. Taemin diam membisu.

The winter had passed
And the spring has come
We have withered
And our hearts are bruised from longing

“Bawa aku darisini aku tak ingin melihatnya” kata Jessica. Dia memaksaku dan Jieun untuk membantunya berdiri. Taemin tak mampu berkata-kata.
———————————————————————————-
Tanpa Tiffany ketahui Taemin menelpon Donghae. “Done, uisha. Plan A sukses”
“Sekarang plan B”
———————————————————————————-
“Pak, tolong antarkan kami ke alamat ini yah” kata Jieun pada sopirnya. Sopirnya hanya mengangguk. Jessica sekarang tertidur setelah habis menangis.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Jieun. Jieun hanya tersenyum.

Jessica akhirnya terbangun. Dia masih sedikit terisak, tetapi sudah lebih baik.

“Aku juga pernah seperti itu eonni” kata Jieun. Kami berdua menatapnya. Lagu yang tepat di saat yang sangat menyakitkan. Big Bang Blue mengalun memenuhi space di mobil ini.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go

“Layaknya lagu ini saat itu aku bahkan merasa tak bisa merasakan hatiku. Aku tak bisa menangis karena air mataku sudah habis. Terlalu sakit bagiku mengakui kalau aku bukan siapa-siapa bagi Changmin. Apa yang bisa aku katakan? Beda usia kami cukup jauh. Aku masih kelas 2 SMA dan dia sudah menjadi seorang pengacara. Dia dikelilingi banyak wanita cantik, modis dan tentu saja pintar. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam, tapi dia membuatku percaya kalau aku lebih baik dari mereka semua. Sampai suatu hari aku menemukan foto dia mencium seorang wanita di bar. Saat itu hatiku benar-benar sakit, aku mengatakan padanya aku tak mau menemuinya bahkan aku melempar vas bunga ke arahnya. Changmin datang padaku dan aku melihat pelipisnya berdarah, aku yang semula meronta akhirnya luluh. Dia menjelaskan semuanya dan minta maaf karena masih menyimpan foto itu, dia minta maaf tidak bisa melupakan gadis itu, tapi itu bukan karena dia tidak mencintaiku. Bagaimanapun gadis itu pernah ada di kehidupannya, tetapi sekarang dan seterusnya dia bilang aku lah yang ada di hatinya dan memintaku untuk berjanji seberat apapun kami akan melaluinya bersama. Kami tak berjanji sehidup semati, tetapi aku berharap Tuhan yang melindungi cinta kami” kata Jieun sambil tersenyum.

“Masihkah Changmin-shi menyimpan fotonya?” tanyaku.

“Tidak, dia mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Namun, sekarang aku dan eonni itu berteman. Dia mengajarkan dan memberitahuku banyak hal tentang Oppa” jawab Jieun antusias.

“Kau bahagia?” tanyaku.

“As long as he tries his best to loves me. I guess that’s more than enough. Sometime he’ll hide all of trouble and solve them alone, he just makes sure not to make me worry and the best reason that I’d got why he kept those picture was to remain me, Jieun If you want to be the one in his life you must receive all his past or you will be spoiled girl who just dreaming about beautiful life ever after”

Pernyataan Jieun membuat diriku tercengang. Dia jauh lebih muda dariku, tetapi pemikirannya lebih dewasa mungkin dalam hal ini. Aku menangis dan mereka berdua memelukku. Aku menumpahkan segala isi hatiku pada mereka berdua. Bagaimana aku selalu memendam perasaan pada Siwon sejak kami masih kecil, saat aku bertemu dengannya pertama kali di acara jamuan di AS, bagaimana senyumnya dan caranya memperlakukanku, bagaimana aku sangat senang ketika ayahku menjodohkan kami, bagaimana hancurnya hatiku saat Siwon menceritakan dirinya dan Yoona setelah kami menikah, aku hanya berusaha menerima segalanya dan menjadi istri yang baik. Namun, aku menyerah ketika melihatnya di makam Yoona.

“Ada yang ingin aku ceritakan” Seseorang berkata pada kami dan membukakan pintu. Ternyata itu Donghae.

Jalan ini? Ini kan jalan menuju makam Yoona. Rasanya aku mau kabur saja, tetapi sebuah tangan menahanku dan sopir tadi melepas topinya. Siwon…….

“Listen my confession” kata Siwon. Donghae, Jieun, Jessica mengangguk. Di sana ternyata tidak hanya ada kami, tetapi ada Changmin, Taemin dan Jiyeon.

Jieun langsung berlari memeluk Changmin yang hanya tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya. Taemin mendekati Jessica dan mereka ???? Is it prank????

Donghae mengangsurkan tangannya pada Jiyeon dan disambut dengan senyuman hangat dan genggaman erat.

Donghae meminta kami semua berdoa di depan makam Yoona.

“Yoona, apa kabar? Kemarin aku dan Jiyeon belum sempat berbicara dan bercerita padamu. Kau tahu sekarang Mavin sudah 8 bulan, dia sangat pandai dan lucu. Yoona, aku ingin mengatakan padamu. Sarangahaeyo” Kerongkonganku tercekat. Dia mengatakannya di depan Jiyeon.

“Yoona, aku ingin berterima kasih karena kau melahirkan Mavin. Terima kasih karena Mavin, aku bertemu Jiyeon. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya dan aku berjanji kami akan menjaganya. You will always be my gloxinia, but my edelweiss is someone beside me now” ujar Donghae lancar.

Jiyeon tersenyum pada Donghae. Giliran Jessica dan Taemin.

“Aku tak pernah mengenalmu noona, tapi aku berterima kasih padamu. Meskipun, aku kehilangan Jiyeon yang lembut, baik, sopan, ceria….” Raut wajah Taemin sedikit berubah sedih dan Jessica memukul kepalanya. Taemin mengusap kepalanya.

“Tapi aku mendapat seorang gadis brutal, sadis, seenak sendiri, cengeng, manja dan yang jelas aku mencintainya” Dia memberikan wink pada Jessica.

“Seperti kata Donghae-shi aku senang kau melahirkan Mavin sehingga mengantarkan Donghae dan Jiyeon pada saat sekarang. Meskipun, aku sedikit sebal kenapa aku kehilangan Donghae uisha yang perfect dan mendapat pria aneh semacam dia, tapi aku bahagia” ujar Jessica dan menjulurkan lidah pada Taemin.

Jieun dan Changmin tidak berkata apa-apa. Mereka hanya berdoa dan mempersilahkan aku dan Siwon.

“Yoong” panggil Siwon lembut. Hatiku rasanya terkoyak.

“Perkenalkan ini Tiffany Hwang tepatnya Tiffany Choi. Dia istriku dan nyawa hidupku” kata Siwon. Aku menatap Siwon tak percaya.

“Daffodil kemarin?” ucapku tiba-tiba.

“That was the first and the last daffodil bouquet for Yoong. I told her that, even If you were not believe in me, I would not blame you. I just want to say…..”

Siwon mengalihkan pandangannya ke belakangan dan aku melihat mereka semua membawa buket bunga di tangan masing-masing. Dan sebuah selebaran…..

MIND TO BE MY SOUL…….

“I’ll try my best to love and protect you. I can erase Yoong from my memory, but I promise you that I’ll give you all happiness that you deserve. Yoong was my daffodil, but you are my irish. Irish is faith, wisdom, cherished friendship, hope, valor, my compliments, promise in love.” Siwon memberikanku kalung berliontinkan bunga Irish.

“Just for you” dia mengatakannya padaku. Siwon mencium bibirku cukup lama.

Romantis….

Indah sekali…..

I love this moment…

.
“Get room, please” Kami langsung melihat Changmin yang dipukul oleh Jieun.

“Kau ini mengganggu momen indah saja” kata Jieun sebal.

“LOVEY DOVEY PERVY maksudmu? Aku tidak akan membiarkan kekasihku yang innocent dirusak oleh makhluk Tuhan yang lain. Sudah cukup lovey dovey pervy dari 2 pasangan sebelahku” Aku melihat Jessica dan Taemin yang berpandangan dan Donghae dan Jiyeon yang saling berbisik.

“Ya!!!! Shim Changmin maksudmu apa?” teriak Donghae kemudian.

Taemin dan Donghae berlari mengejar Changmin. Aku dan Siwon tertawa. Changmin berhenti sejenak dan memandang aku dan Siwon.

“Hei, segera lahirkan bayi yang imut sebelum kau kedahuluan oleh makhluk-makhluk di belakangku” sambil tertawa. Pipiku memerah dan Siwon langsung mengikiti yang lain mengejar Changmin.
Jieun tersenyum pada kami bertiga.

“Maaf, dulu dia malaikat, tetapi sekarang dia iblis” katanya memamerkan evil smirk.

“Ohya, siapa yang membuat rencana ini?” tanyaku. Aku melirik Jiyeon, Jessica dan Jieun.

“Ehm , sebenarnya rencana semula tidak seperti ini. Namun, sepertinya Donghae oppa membuatnya seperti ini dan ….”

“Masalah prank?” ujarku.

“Tanyakan saja itu pada…..” Jiyeon dan Jessica menunjuk Jieun.

“Bukan.. bukan… bukan aku. Itu ide Changmin oppa. Dia bilang tak cukup jika membawa eonni dan Siwon oppa menjelaskan semuanya. Siwon oppa juga harus tahu bagaimana perasaan eonni” jawabnya sambil tersenyum.

“Yang menyusun scenario Changmin juga?”

“Kalau itu aku. Hehehe…… Padahal semula aku berpikir Sica eonni akan melempar barang-barang di apartemennya biar terlihat nyata, tetapi acting-nya sudah bagus hanya kurang seru” jawabnya dengan enteng.

‘Ya!!!!!! Pasangan iblis” teriak Jessica. Jieun langsung ambil langkah seribu dan berlari karena dikejar Jessica. Jiyeon menyanyikan lirik akhir Big Bang Blue.

(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang
(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang OH OH

Aku tersenyum dan meraih tangannya.

“Kisah cinta kita tidak seperti BLUE kan?” Dia mengangguk seraya tersenyum.

“Tidak selalu berjalan mulus, tetapi kita pasti bisa melaluinya”

You were my daffodil and she is my Irish

You were my gloxinia and she is my Edelweiss

I’ll make the blues to be shinning blues not the sorrow one.

Letter of Angel XIV (Daffodil)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII

Listen this song while you reading “For eternity_SS501”

Siwon’s View

Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi makam Yoona. Aku ingin sekali mengatakan banyak hal padanya.

“Oppa, kau sudah siap?” tanya Tiffany yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku berbalik dan tersenyum padanya.

“Di bawah sudah aku siapkan machiato dan pancake. Kau mau yang lain?” tanya Fany. Aku menggeleng, meski tidak terlalu pandai memasak dia selalu berusaha membuat makanan terbaik untukku. Aku bersyukur dia-lah yang menjadi istriku, “Yoong, Fany wanita yang baik kan? Apakah aku salah bila sekarang aku bersamanya dan tidak bersamamu?” batinku.

“Oppa, kau melamun?” Fany membuatku kembali ke dunia nyata. Aku mencubit pipinya dan dia mengutukku karena itu, aku hanya tertawa.

Aku meminta sekretarisku untuk mengosongkan semua jadwalku. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk diriku sendiri.

“Sajangnim, mobil anda sudah siap. Anda membutuhkan pengawal untuk kesana?” tanya sekretaris pribadiku.

“Tidak usah. Pastikan saja selama aku pergi semua baik-baik saja. Urus nyonya dan jangan sampai nyonya tahu kalau hari ini aku tidak pergi ke kantor. Bisa kau usahakan?”

“Baik, sajangnim”

Sebelum kesana aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko bunga.

“Untuk kekasih anda?” tanya ibu penjual bunga. Aku mengangguk, tak bisa aku pungkiri kalau Yoona memang kekasihku. Meski, itu hanya masa lalu.

Fany’s View

Malas sekali di rumah, lebih baik aku keluar. Kemana yah enaknya? Ohya, mengunjungi Jiyeon dan Mavin saja. Mereka di rumah tidak ya? Aku sepertinya memiliki nomor rumah sakit SNU, mungkin saja mereka bisa menyambungkanku teleponku dengan Donghae. Lucky me, tidak begitu lama teleponku sudah mencapai tujuannya. hahaha….

“Tiffany-shi ada urusan apa anda menelpon saya?” tanya Donghae.

“Boleh aku minta nomor Jiyeon. Aku ingin mengunjungi Mavin, tapi aku tak tahu apakah sekarang dia di rumah. Aku pikir dia mungkin kuliah” jawabku jujur.

“Begitu ya. Mavin sekarang berada di rumah mertua saya. Tadi pagi kami menitipkannya pada eomonim karena aku harus bekerja dan Jiyeon sendiri kuliah” jawabnya. Aku menarik nafas kecewa.

“Mungkin jika anda ingin bertemu Mavin, nanti siang anda bisa ke rumah sakit SNU. Hari ini kami berencana membawanya ke dokter anak”

“Memangnya dia sakit apa?” tanyaku panik. Donghae tertawa dan mengatakan kalau ini hanya check up bulanan untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan pertumbuhan Mavin. Aku mengangguk mengerti dan berusaha mencerna setiap omongan Donghae yang tertata sangat rapi dan ilmiah, tetapi aku yakin dia pasti sudah berusaha menjelaskan semudah mungkin pada orang awam seperti diriku.

Setelah mendapat nomor handphone Jiyeon, aku segera menghubunginya, tetapi ponselnya tidak aktif. Aku menyerah dan merebahkan diri di ranjang. Siwon oppa sedang apa yah? Aku menghubungi ponselnya dan mungkin memang sial, ponselnya juga tidak aktif sama seperti Jiyeon.

Aku lempar ponselku dan pergi ke balkon. Menelusuri pemandangan taman depan rumah yang luput dari perhatianku.

keudaen anayo jeo eum bwadeon sungan boteo
keudaeran geol aljyu nun ape gireul hamkke georoyeo
areum daeun nal uri ape byeoljeo ijyu

Ponselku berbunyi, segera aku meraih ponselku dan membaca 1 pesan di inbox.

Mianhamnida, maaf tidak sopan. Anda siapa dan ada urusan apa menelpon saya? Kamsahamnida

Segera aku menelpon gadis kecil istri Donghae ini. Dia sedikit terkejut mengetahui kalau aku yang menelponnya, tapi kemudian aku bisa merasakan kalau disana dia tersenyum lebar saat kami terlibat dalam pembicaraan.

Aku bersiap untuk menemui Donghae, Jiyeon dan tentu saja putra kecilku Mavin.

Sekarang dia memasuki usia 8 bulan, selain kata appa yang tidak terlalu jelas, Jiyeon bilang Mavin sudah bisa mengucapkan beberapa suku kata tersambung seperti ta-ta-ta. Dia bilang Mavin sudah bisa duduk stabil dan bisa berdiri, aku baru tahu perkembangan bayi sangat cepat. Dia memuji Mavin dan dapat aku katakan dari suaranya kalau dia sangat senang akan hal itu. Aku menghentikan pembicaraan kami dan menuju rumah sakit.

Di taman rumah sakit, aku melihat seorang pria muda menggendong Mavin dan mendudukannya di pangkuannya. Mereka bercanda dan tertawa, aku tak tahu siapa dirinya. Namun, sepertinya aku pernah melihatnya entah dimana. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dan ternyata itu Donghae.

“Itu Jungmin, kakak Jiyeon. Kau pernah melihatnya di rumah Kyuhyun kemarin kan. Dia mengantar Mavin kesini sendiri karena ibu mertuaku harus menghadiri acara perjamuan yang tiba-tiba” jelas Donghae. Aku mengangguk, mataku mencari-cari Jiyeon. Kenapa dia tidak bersama Donghae?

“Oppa……..” Pandanganku beralih pada gadis yang berteriak dan berlari ke arah kami.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Donghae. Jiyeon menggembungkan pipinya.

“Tadi dosen mata kuliah genito-urinary system tidak bisa menghadiri perkuliahan. Nah, awalnya kami senang kami tidak perlu ikut perkuliahan, tetapi ternyata diisi Eunhyuk-oppa. Kami sangat senang karena dia membahas safe motherhood & neonates, sangat senang dengan teori-nya mengenai wanita dan ibu membuat para namja sangat sangat senang” Aku bisa merasakan kalau sebenarnya intonasi dan penekanan kata yang digunakan Jiyeon jauh dari kata membahagiakan lebih tepatnya terganggu.

“LEE HYUKJAE!!!!! Awas kalau kita bertemu, apa-apaan dia. Virus yadong macam apa yang kau bawa ke perkuliahan”

Aku tertawa mendengar kata yadong, aku tahu sekarang kalau Lee Hyukjae itu dokter dan dosen yadong. Pantas saja Jiyeon merasa terganggu dengan kuliahnya.

Mendengar teriakan Donghae, orang-orang yang sedang berada di sekitar kami langsung menjadikan kami pusat perhatian. Donghae dan Jiyeon membungkuk minta maaf.

“Hahahaha….. Adik ipar pabo” Jungmin datang ke arah kami dan menggendong Mavin dalam posisi duduk.

“Lihat… Appa pabomu ini. pabo…pabo” Mavin tergelak dan tertawa bersama Jungmin.

Donghae langsung merebut Mavin dari gendongan Jungmin.

“Kalau kau bukan kakak iparku.. Awas saja kau, aku masih lebih tua darimu juga” kata Donghae.

Jungmin makin keras tertawa dan memegangi perutnya. Setelah beberapa saat dia berhenti tertawa dan menghapus air mata di sudut pipinya.

“Pabo… Aku tahu kau lebih tua dariku karena itu aku mengataimu pabo berteriak di lingkungan rumah sakit. They need rest and relaxation place to recover as fast as possible, they didn’t need someone who shouted and yelled for unreason problem”

Muka Donghae memerah, Jiyeon memberikan death glare pada Jungmin yang justru dibalas hal yang sama, tapi lebih menakutkan.

Kami bertiga berpisah dengan Jungmin yang harus kembali ke kantornya. Aku tahu kenapa sekarang Jiyeon sangat ceria, manja dan mungkin dewasa. Dia berusaha menjadi dirinya sendiri, gadis seusianya, dan di saat yang sama berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Dia penuh kasih sayang karena di sekitarnya begitu banyak orang yang menyayanginya.

Kami bertiga mengkonsultasikan dan memeriksakan kesehatan Mavin pada dokter anak di SNU. Donghae, sebagai seorang dokter sangat profesional. Dia menanggalkan statusnya sebagai dokter saat kami berada di ruangan dokter anak tersebut. Mereka berbicara layaknya sebagai dokter dengan ayah dari anak, baru setelah kami keluar dari pembahasan mengenai Mavin, mereka berbicara selayaknya rekan kerja.

“Fany-shi, sudah makan? Mau makan bersama kami? Cafe di depan rumah sakit memiliki banyak menu yang cukup menggugah selera” tawar Donghae dengan wajah tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman, Jiyeon menarik tanganku dan memintaku mengikuti mereka.

Donghae memesan vanilla late dan muffin, Jiyeon semula ingin meminum yang sama, tapi Donghae melarangnya dan akhirnya dia memesan susu strawberry dan bunet ditambah beberapa cake lain, anak ini pasti kelaparan. Aku sendiri memesan long black. Jiyeon memberikan Mavin bubur bayi dan susu, aku ingin menyuapinya jadi Jiyeon membiarkan Mavin dalam pangkuanku.

“Oppa, aku mau coba muffin-nya”

“Eoh?” kataku tanpa sadar. Aku melirik ke Mavin dan Donghae.

Donghae sepertinya mengerti maksudku dan mengangkat muffin cake di piringnya. Aku menundukkan pandanganku karena malu.

Siwon’s View

Aku sekarang berada di makam Yoona. Aku berdoa untuknya.

“Yoong, maaf baru sekarang aku berziarah ke makammu. Yoong, apa kau bahagia disana? Aku merindukanmu Yoong. Putra kita dia tumbuh dengan sehat, Donghae dan Jiyeon, istrinya menjaganya dengan baik. Yoong, If I can’t turn back the time, I’ll do it. I have no regret to marry Tiffany, but what I had been doing to you it’s not case that I’m proud of this”

Aku meletakkan bunga yang aku bawa di pusara makam Yoona.

“It’s the first time and the last time, I give you this bouquet. I was loving you, Yoong. I’ll try my best to make Tiffany happy and comfort beside me. I let you go, I was over you. I really did love you”

Tiffany’s view

“Fany-eonni, sebenarnya hari ini aku dan Donghae oppa ingin pergi ke makam Yoona-eonni” Jiyeon mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Eomma Mavin?” tanyaku. Donghae dan Jiyeon mengangguk. Aku tersenyum dan memutuskan ikut bersama mereka, aku meminta supirku untuk pulang terlebih dahulu karena Jiyeon dan Donghae menawarkan untuk mengantarku pulang, mereka sepertinya tidak tega melihat supirku menunggu kami. Iya, aku akui dia telah menungguku sejak tadi dan sebaiknya juga dia kembali ke rumah daripada tidak melakukan apa-apa dengan menunggu hingga semua urusanku selesai.

Kami pergi ke toko bunga untuk membeli bunga. Aku membeli sebuket bunga chrysanthemum dan Donghae serta Jiyeon membeli dua buket white lily. Jiyeon dengan malu-malu memberikan suatu bunga pada Donghae.

“Kamsahamnida dan kenapa kau memberikan ini padaku?” tanya Donghae sambil tersenyum.

“Ehm… it’s daffodil ehm….”

“Mau ahjumma menjelaskan arti daffodil” goda ahjumma penjual bunga. Jiyeon menggeleng keras dan mukanya bersemu merah. Mavin yang berada di gendongan Donghae, menyentuh buket daffodil itu dan tersenyum.

” Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You” Dia mengatur nafasnya dan mengucapkannya dengan lancar, segera setelah itu dia pergi berbalik dan masuk ke dalam mobil. Donghae tersenyum.

“Dia istrimu?” tanya ahjumma penjual bunga. Donghae mengangguk.

“Ini aku berikan gratis untukmu. Berikan pada istrimu, aku rasa dia mengerti apa arti peony sebaik dia mengerti arti daffodil”

“Kamsahamnida, tapi saya bisa membayarnya”

“Tidak usah membayangkan ekspresi istrimu sudah menjadi bayaran yang lebih dari cukup untukku” ucap ahjumma itu senang.

Kami meneruskan perjalanan, Donghae menggendong Mavin. Aku dan Jiyeon membawa buket yang ingin kami berikan pada Yoona.

“Bukankah itu Siwon?” tanya Donghae. Aku menajamkan mataku dan melihat sosok Siwon di depan pusara Yoona. Kami mendekatinya, aku terkejut kenapa dia kemari dan tidak memberitahuku. Jiyeon mendekatkan dirinya pada Donghae, pandangan matanya mengarah pada pusara Yoona sangat intens. Aku mengikuti arah pandangannya. Daffodil.

Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You

Tak terasa air mataku menetes, sepertinya Siwon merasakan kedatangan kami dan berbalik. Dia terkejut saat melihat Donghae dan Jiyeon, dia lebih terkejut saat melihatku.

Aku menjatuhkan buket chrysanthemum yang aku bawa dan melangkah ke belakang.

“Daffodil…. Yoona… Oppa, kau….” Kerongkonganku tercekat kata-kata Jiyeon terngiang di telinga dan benakku. Aku berlari dan berusaha menghapus air mataku.

“Fany-ya…” teriak Siwon.

“Eonni….”

“Tiffany-shi” Mereka semua berusaha mengejarku. Aku terus berlari dan berlari, aku tak tahu harus kemana hingga akhirnya aku terjatuh.

Siwon dengan nafas terengah menghampiriku, Donghae dan Jiyeon menyusul di belakangnya.

“Fany… a…aku bisa jelaskan” kata Siwon di tengah nafasnya yang terengah. Aku menghempaskan tangannya yang berusaha menyentuhku.

“Pergi… pergi… aku tak ingin melihatmu. Kau tak pernah mencintaiku, itu yang ingin kau jelaskan. Selama ini semua yang kau katakan palsu…” Aku mengatakannya dan terisak. Kata-kata ini melukai hatiku, aku tak ingin mengatakannya, tetapi inilah yang terjadi. Ini kenyataanya. You’re so pathetic, Tiffany.

“Siwon-shi, biar aku yang bicara dengan Fany-eonni” ujar Jiyeon. Donghae menarik Siwon menjauh, dia menolak tetapi akhirnya menurut.

Aku memeluk Jiyeon dan meluapkan semua air mataku. Aku hanya mampu terisak dan menangis sekencang-kencangnya. Cukup lama aku memeluknya, dia berusaha menenangkanku dengan menyentuh pundakku. Dia membantuku berdiri, langkahku gontai dan terseok.

“Fany-ya” Siwon menghampiriku. Aku mengabaikan pandangannya.

“Donghae-shi, bisakah anda mengantarku?” tanyaku. Donghae menarik nafas dalam dan mengangguk.

Jiyeon membantuku untuk duduk di kursi belakang, dia duduk bersamaku. Mavin tertidur dan Donghae menaruhnya di box bayi sehingga dia bisa tidur dengan nyaman.

Jiyeon mengelus bahuku dan berusaha menguatkanku.

“Eonni, kenapa kau tidak mendengar penjelasan Siwon-shi terlebih dahulu?” tanyanya lirih.

“Bisakah kita tidak membicarakannya. Mendengar namanya membuatku sakit” pintaku sambil menutup mata. Aku meminta Donghae untuk mengantarku ke hotel, tetapi dia menolak. Donghae bilang tidak baik bila aku sendirian di hotel. Aku menolak ketika mereka memintaku tinggal di rumah mereka, aku tak mau merepotkan mereka. Akhirnya, Donghae menitipkanku pada suster kenalannya.

“Donghae uisha, anda sudah sampai. Silahkan masuk” kata seorang gadis muda yang cantik. Kami masuk ke dalam apartemennya, di sana seorang namja muda nan cantik sedang menonton televisi dan mengerjakan tugas.

“Aish… Taemin, kenapa kau di sini?” tanya Jiyeon.

“Wae? Ini apartemen kekasihku. Aku hanya berkunjung, memangnya tidak boleh” jawab namja itu santai.

Donghae, Jiyeon, dan namja bernama Taemin itu meninggalkan aku bersama gadis itu.

“Mianhamnida, aku mengganggumu”

“Tidak apa. Teman Donghae uisha dan Jiyeon adalah temanku juga. Kenalkan aku Jung Sojung, kau bisa memanggilku Jessica” ujarnya ramah.

“Tiffany… Tiffany Choi, eh….” Aku ingin menangis dan menampar diriku sendiri kenapa aku menyebut marga Siwon.

“Kau sudah makan? Aku dan Taemin tadi membeli banyak snack dan juga makanan siap saji ketika Donghae uisha mengatakan kau akan menginap” Dia mencairkan suasana.

Aku tersenyum meski sedikit terpaksa.

“Kau cantik” pujinya.

“Kau juga, kekasihmu juga” kataku.

“Hehehe… Tapi kau harus mengakui aku lebih cantik dari dia” ujar Jessica. Malam itu aku dan Jessica menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang banyak hal. Dia tidak menanyakan apapun tentang apa yang terjadi padaku, dia sepertinya mengerti kalau aku memang tidak ingin membicarakannya.

Donghae, Jiyeon… Kalian beruntung memiliki banyak orang yang menyayangi dan mendukung kalian. Patheic… Aku bahkan tak punya siapa-siapa selain diriku sendiri.

Siwon….

i wanna be with you my love
haneul arae yaksokhaeyo
keudaereul jikyeo julkkeyo
yongwontorok

i wanna love you forever
poinayo ireon naemaem
naegyeote sumeul swi eoyo
yongwontorok keudae
saranghaeyo
saranghaeyo

I wish you loved me as huge as I love you, but I guess it’s just dream that too good to be true.

Note :

I need your email to send the password for next chapter. Don’t worry next chapter maybe two days from now. Thanks a lot for comment and support.

Peony means happy marriage.

Chrysanthemum means You’re a Wonderful Friend, Cheerfulness and Rest.

White lily means Virginity, Purity, Majesty, It’s Heavenly to be with You

Letter of Angel : About Us

This story is about us….

Pengenalan Tokoh…. Dalam LOA banyak tokoh yang muncul dan membuat bingung semuanya jadi author yang sudah berdiskusi sama tokoh utamanya, yakni Jiyeon dan Donghae sepakat mau minta maaf. Sayang tokoh utama lain Siwon dan Tiffany g mau katanya g salah ngapain juga minta maaf. Awas saja dua cecunguk ini… hehehe….

“Author, yang salah kamu kok kita ikutan minta maaf?” tanya Jiyeon.

“Sudahlah. Kita ikuti saja kemauan author. Lagian dia g bakal macam-macam sama kita. Author kan terdaftar sebagai fishy” Donghae dengan senyum malaikatnya menenangkan Jiyeon. #drool.

“Apanya? Dia yang mengaku bigeast Cassiopeia ever and Jaeangel with all her heart bisa membuat jaejoong oppa sengsara apalagi kita” bantah Jiyeon.

“Wei, diam jika masih ngoceh aku bikin kalian lebih sengsara” hahaha… Sifat asli.

“Oke. Donghae sekarang jelaskan hubungan tiap tokoh yang berasal dari blokmu?”

“Thor… Blok barat apa blok timur” Aish… memang ni perang dunia kedua.

“Jaejoong, IU, Hara, Changmin, Kyuhyun, TOP (Seunghun), Siwon, Tiffany, Donghwan, Eunhyuk, IU, Taemin, Jessica, Jungmin, Jungsoo (Letteuk)”

“Thor iku mah kabeh… Piye sampeyan iki” #plakkk… Abaikan Donghae berbahasa jawa.

“Jelaskan saja sebisamu” author memasang wajah innocent.

“Ih… Sok polos” Author siap-siap ngasah golok buat Jiyeon, tapi keburu Jiyeon sembunyi belakang Donghae.
“Okay. Let’s get it started”

“Hara nanti jika salah dikoreksi yah” Hara yang duduk di kursi penonton persidangan mengangguk. Sedangkan, Donghae duduk sebagai saksi. Ngarang abis….

“Aku ingatkan keteranganmu akan menjadi bahan pertimbangan di mata hukum” sok ngancem…

Author ketuk palu sidang dengar kesaksian dimulai. Membuat jaksa, saksi, penonton terdiam.

“Saya Lee Donghae bersumpah atas nama Tuhan kalau semua yang saya katakan adalah benar” Donghae bersumpah di atas kitab suci agamanya (Injil).

“Saudara Lee Donghae apa hubungan anda dengan saudara Jiyeon?”

“Jiyeon adalah istri saya”

“Jelaskan hubungan anda dengan orang-orang yang saya sebutkan tadi” Aduh jaksa Junsu bertele-tele ni.
“Mohon jaksa jangan mengulur-ulur waktu” pinta author yang sekarang bertindak sebagai hakim. Kekeke… ngasal…

“Hubungan saya dan Choi Siwon hanya sebatas penuntut dan yang dituntut atas hak asuh Mavin, putra Im Yoona yang dititipkan pada saya. Tiffany Hwang sendiri adalah istri Choi Siwon. Dikarenakan tuntutan dari Choi Siwon maka saya meminta Shim Changmin pacar dari pasien yang saya operasi Lee Jieun (IU) menjadi pengacara dan di kemudian hari saya mengenal Cho Kyuhyun yang merupakan kakak tiri IU”

“Lalu apa hubunganmu dengan saudara Goo Hara” Hara yang di kursi penonton seksama mendengar jawaban Donghae.

“Saya bertemu Goo Hara ketika liburan di Kanada. Ada beberapa pria yang mengganggunya dan kebetulan saya yang menyelamatkannya lalu Hara telah aku anggap sebagai saudara”

“Apa anda tahu kalau nona Goo Hara punya saudara?”

“Iya, saya tahu karena hakim Choi Seunghun menjelaskan bahwa dirinya adalah kakak Hara dan orangtua mereka bercerai saat kecil” Hara terdiam karena tanpa diketahui sebelumnya Donghae sudah diberitahu Seunghun (di cerita LOA yang original Hara belum tahu kalau Donghae sudah mengetahui hubungannya dengan Seunghun)

“Lalu apa anda tahu kalau Choi Siwon adalah sepupu Goo Hara”

“Keberatan jaksa Junsu menanyai terlalu jauh dan menyangkut privacy” bantah Changmin sebagai kuasa hukum Donghae.

“Keberatan ditolak” hehe… author ikut ngomong.. Hakim.

“Saya tidak tahu” jawab Donghae.

“Saksi bisa keluar persidangan. Saksi kedua dipersilahkan masuk”

“Tunggu… Donghae belum menjelaskan semuanya” Eunhyuk yang namanya belum disebut Donghae tidak terima. Donghae menatap Eunhyuk dengan “KAU MAU CARI MATI” Eunhyuk langsung duduk kembali di kursinya dan membentuk tanda peace.

“Saksi kedua saudara Choi Siwon”

Siwon masuk ke ruang persidangan.

“Saya Choi Siwon bersumpah atas nama Tuhan kalau semua yang saya katakan adalah benar” Siwon juga disumpah sama seperti Donghae.

“Saudara Choi Siwon anda diduga mengenal semua orang tersebut. Benarkah demikian?” tanya Changmin.

“Saya tidak mengenal mereka, lebih tepatnya hanya mengetahui” jawab Siwon

“Apa benar anda memata-matai dan mencari seluruh identitas orang-orang tersebut”

“Keberatan pertanyaan itu harusnya tidak dilemparkan pada saksi”

“Saya rasa semua orang berhak tahu kalau Siwon memata-matai mereka. Begitu juga memata-matai pengacara dari Lee Donghae” Changmin menatap Siwon tajam.

Siwon memberi isyarat agar pengacaranya duduk.

“Iya, saya memang memiliki data mereka”

“Jadi anda tentu tahu semuanya?”

“Ya, hakim. Saya mengetahui semuanya, tapi saya tekankan bahwa semua yang saya lakukan tidak akan masuk dalam dakwaan yang kemudian memberatkan saya di kemudian hari”

“Keputusan mengenai hal itu bergantung kesaksianmu. Cukup jelaskan saja” Siwon menghela nafas dan mulai bercerita.

“Lee Donghae, adik kelas Im Yoona bekerja sebagai Dosen di Seoul National University dan dokter di rumah sakit SNU University dan anak pemilik Santa Maria Hospital. Memiliki kakak bernama Lee Donghwan yang juga merupakan dokter bedah di Santa Maria Hospital. Kepala lini bedah jantung di Santa Maria Hospital adalah Park Jungsoo. Sedangkan di SNU dan SNU Hospital Donghae berhubungan dengan dua dosen yang sekaligus berada di kesatuan departemen bedah Kim Jaejoong dan Lee Hyukjae (Eunhyuk). Saya menginginkan putra saya Mavin anak saya dari Yoona, sehingga saya dan Tiffany berkonfrontasi dengan Donghae dan Jiyeon. Jiyeon memiliki saudara laki-laki bernama Jungmin dan merupakan sahabat dari Lee Donghwan kakak Lee Donghae, ia juga memiliki sahabat yakni Lee Taemin dan Henry Lau. Kesulitan mendapatkan Mavin membuat kami harus mendapat Pangeran Meja Hijau Shim Changmin, sayang dia menolak tawaran kami dan akhirnya justru memilih membela Lee Donghae. Shim Changmin memiliki kekasih bernama Lee Jieun (IU) yang merupakan adik tiri Cho Kyuhyun. Hyundai Corp. terpaksa menarik bantuan dari Cho. Corp. dengan suatu alasan tertentu” Siwon mengambil nafas sejenak.

“Alasan apa itu?” tanya Changmin.

“Keberatan. Itu merupakan alasan yang berada di luar konteks kasus yang dihadapi sekarang”

“Keberatan diterima. Silahkan lanjutkan kesaksian anda” hakimnya hahaha…

“Cho Kyuhyun sebagai pemilik Cho Corp. kemudian meminta bantuan pada alm.Yuri Nishishima istri Kim Jaejoong untuk membantu Cho Corp. Tak disangka Yuri membantunya dan Lau Group yang dimiliki keluarga Henry Lau juga ikut menginvestasikan dana di Cho Corp. Jiyeon mendapat dukungan penuh dari Lee Taemin dan Jessica Jung, pacar Taemin untuk menghadapi kasus ini. Di tengah peliknya masalah datang Goo Hara sebagai pengacara baru di tempat Changmin. Goo Hara sendiri merupakan adik Choi Seunghun yang terpisah karena perceraian orang tuanya. Mereka adalah sepupuku. Mianhae Tiffany aku tak mengatakan kalau Hara adalah sepupuku” LOL… Di LOA Original Tiffany lum tahu juga lok Siwon main kucing-kucingan di belakangnya.

“Sidang dengar kesaksian akan segera ditutup jika ada keberatan mohon segera berbicara” Hakim nunggu komentar jaksa dan pengacara masing-masing saksi.

“Pengacara Jung/Lee/Park/Song/Choi/Kim/Yong ada yang ingin anda sampaikan sebagai kepala pengacara saudara Choi Siwon?”

“Tidak. Hakim ini semua sudah cukup”

“Sidang ditutup kita akan bertemu pada sidang pertama kasus gugatan terhadap hak asuh Lee Mavin. Sekian..” Tok..tok…tok…

Note : Hohoho…. Gimana semua dah jelas belum hubungan masing-masing tokoh. Lok belum tahu tanya saja Siwon… Huh, ternyata Donghae sebagai tokoh yang aku “cukup” sayangi g sehandal Siwon soal hal-hal kaya gini. He333…..

Side Story buat yang merasa bingung dengan banyaknya tokoh… Ohya, Kepala Pengacara Siwon aku hadiahkan buat kalian… Silahkan deh pilih maunya dia siapa…

Boleh Jung Yonghwa, Jung Yunho, Yong Doojon, Song Seunghun, Won Bin, Yun Bin….

Tidak boleh Lee Hongki, Choi Joonghun, Choi Minho pokoknya jangan yang masih imut entar g bakal jalan sidangnya karena author sibuk ngapelin tokoh. Oke…?

Next Chapter yang original… Minta izin dulu yah… Tugas sedang numpuk, g mau kan dapat cerita yang g bagus makanya sementara pamit yah…

Letter of Angel XVII (Desperation)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI

Bakground Song : Iridescent_Linkin Park, If I let You Go_Westlife, Raining_FT Island

It’s so cold here. My heart is desperate, who’ll fill the empty space? I thought love would never end. I’d been searching my other help and found you. Now, I lose you… Is it ending of my story? Love is going to be tragedy…… I’ll never let you go, but how can I force God to bring you back stand by me…. Will you be happier after leave me alone? Don’t look behind, I’m still live. Bears my self and tell all that I’m fine. I wish I could die with you.

Setting : SNU Hospital, Santa Maria Hospital

“Eumma, kita ke rumah sakit bareng appa yah?”

“Nde. Kita jemput appa di universitas dulu. Kau bisa jajan dulu di kantin sebelum ke rumah sakit. Ottoke?”
“Asyik. Ehm eumma masih lama yah? Kenapa macet sekali?”

“Sebentar lagi juga lampunya pasti hijau kok”

Jam makan siang di Seoul memang sangat padat. Bukan hal yang aneh jika kami selalu terjebak macet.

“Eumma mobil di depan sudah jalan” Aku menjalankan mobilku, tapi tiba-tiba mobil di depanku ditabrak mobil dari kiri jalan yang membanting setir ke kanan menabrak pembatas masih kaget aku berusaha menghindarinya
sayangnya…..

Donghae POV

“Panggilan untuk dokter Hwan Hyosoo. Dimohon segera ke resepsionis” terdengar panggilan dari pengeras suara.

Hwan Hyosoo…. Tidak ada Hwan Hyosoo di rumah sakit ini. Jangan-jangan….

“Jiyeon, aku harus pergi” kataku meninggalkan Jiyeon dan Mavin. Segera aku menyambar jas dan berlari ke pintu belakang masuk rumah sakit. Panggilan seperti ini menandakan adanya kecelakaan atau musibah besar, peristiwa semacam ini bisa membuat panic para penghuni rumah sakit karena itu panggilan atas nama dokter yang tidak ada digunakan.

“Dokter Donghae kami telah menyiapkan ruang operasi apa anda siap? Kekurangan dokter maaf membuat anda terpaksa terlibat padahal sedang libur” tanya seorang rekan dari ER.

Aku mengangguk. Suster memanduku menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Semua staf bekerja keras, sekarang jam makan siang dokter banyak yang keluar. Saat berlari menuju ruang operasi dokter-dokter lain yang baru datang berlari ke bagian belakang rumah sakit. Aku lihat Jaejoong dan Hyukjae-hyung juga.

Segera aku mempersiapkan diri membersihkan tangan kaki untuk keperluan operasi. Suster membantuku menggunakan perlengkapan operasi. Masuk ruang operasi aku diberitahu siapa saja personel yang akan membantuku.

Suster Jessica bertugas menyerahkan alat operasi, asisten operasi, dokter anastesi dan semua yang berada disini campuran bagian ER, internist, bedah jantung. Komposisi dadakan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Aku sendiri bertugas sebagai dokter operasi.

“Bagaimana keadaan pasien?”

“Tingkat kesadaran………”

Aku tak mendengarkan penjelasan suster setelah melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Dokter Donghae anda tidak apa-apa?” tanya asisten operasi. Dia sudah tahu bahwa sekarang yang akan kami operasi bukan hanya pasien melainkan Yuri-noona.

Changmin POV

“Changmin-shi bisa kau lihat kenapa Donghae keluar terburu-buru?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih bermain dengan Jiyeon.

Saat aku ingin bertanya pada seorang suster yang sedang terburu-buru, siaran tv menyita perhatianku.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lebih dari 10 mobil dan truk. Kecelakaan ini ikut mengulang kecelakaan besar yang terjadi 6 bulan lalu di jalan yang sama. 3 orang meninggal di tempat dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit”

Jalan itu…….. berarti kemungkinan rumah sakit yang dituju Santa Maria Hospital, Seoul National University Hospital, Seoul Hospital…..

Segera aku mengganti chanel di tv rumah sakit mencari berita ini.

Pemirsa kecelakaan di jalan rawat macet di Seoul disebabkan sebuah truk yang kehilangan keseimbangan dan ambruk ke badan jalan. Pengemudi mobil yang lain berusaha menghindari truk, namun karena arus lalu lintas yang padat dan kecepatan tinggi, mobil di belakangnya tidak mampu menghindar dan terjadi kecelakaan beruntun.

“Saat itu truk menggunakan sisi kanan jalan dan tiba-tiba saja oleng ke kiri badan jalan. Mobil di belakangnya membanting setir ke kanan untuk menghindari truk. Sayangnya mobil lain yang berada di kanan jalan tak mampu menghindar dan justru menabrak mobil itu sehingga terjadi kecelakaan beruntun”
Menurut keterangan terakhir kepolisian 3 orang meninggal di tempat dan sisanya dilarikan ke rumah sakit. Kecelakaan ini menyebabkan terjadinya penutupan jalan lebih dari 5 jam dan mengalihkan jalur pengendara ke jalan lain. Sekian breaking news

Tragis sekali…. Kenapa perasaanku tidak enak? Tunggu wanita dan anak yang bersimbah darah itu?

“Suster dimana dokter-dokter?” tanyaku pada suster yang kelihatan sibuk sekali.

“Makan siang” jawab suster itu kaget dan berusaha setenang mungkin.

“Suster saya seorang pengacara, saya tahu benar bagaimana orang yang berbohong. Katakan sekarang” aku mengurangi volume suara agar tak ada yang mendengar.

“Maaf, saya sibuk” kata suster berusaha menghindar.

“Kecelakaan di jalan padat yang mengarah ke SNU university, para korban dilarikan kesini dan membuat para dokter dan suster langsung sibuk kan?”

Suster tertegun dan berbalik.

“Mianhae, itu….”

“Sekarang saya akan ikut anda. Saya memaksa”

Kami tergesa menuju bagian belakang rumah sakit. Disana aku melihat korban kecelakaan, Jaejoong-uisha berada di sisi lain sedang menutup mukanya dan bersandar ke dinding. Bahunya berguncag hebat, Eunhyuk berusaha menenangkannya. Dokter lain sambil menangani pasien melihat Jaejoong dengan tatapan sendu.

Jangan-jangan benar Yuri dan Haejoong terlibat dalam kecelakaan ini?

“Hyung” panggilku, Eunhyuk langsung menatapku.

“Hyukjae uisha, kami membutuhkan tenaga tambahan. Seorang wanita mengalami patah tulang pinggul dan tulang belakangnya dikhawatirkan cedera, operasi harus dilakukan secepatnya” Eunhyuk jelas merasa keberatan meninggalkan Jaejoong.

“Pergilah. Ada pasien yang harus diselamatkan” Jaejoong menatap Eunhyuk sambil menyunggingkan senyum terpaksa.

“Changmin-shi, jaga Jaejoong-hyung” kata Eunhyuk berbisik padaku.

Eunhyuk meninggalkan kami beruda, pandanganku beralih pada Jaejoong.

“Lebih baik kita……” Perkataanku terpotong.

Jaejoong entah menuju kemana. Aku mengikutinya dan ternyata ke parkiran, dia hendak masuk mobil.

“Biar aku yang menyetir, katakan saja uisha mau kemana” Jaejoong mengangguk dan duduk di kursi penumpang.

“Changmin-shi antarkan aku ke Santa Maria Hospital” pintanya.

Jaejoong POV

“Seberapa parah keadaan anak itu?”

“Aku tak tahu yang jelas di dalam kamar 5.01 ruang operasi bedah anak sekarang berkumpul dokter terbaik rumah sakit kita dan seorang dokter Seoul Hospital”

“Siapa?”

“Godhand Bae Yong Joon. Aku dengar karena tulang rusuk anak itu patah dan mengenai jantungnya, beliau yang kebetulan juga lewat situ tidak bisa menggunakan CPR sehingga memilih memberi bantuan pernafasan dengan melewatkan tenggorokan. Mengerti maksudku kan?”

“Menggunakan scalpel dan memotong bagian tenggorokan?”

Lawan bicaranya mengangguk, aku bergetar mendengarnya.

Ya, Tuhan… Kenapa seperti ini?

Mereka berdua kaget saat melihat aku dan Changmin serta buru-buru pergi.

“Tunggu dimana ruang bedah 5.01, aku dokter SNU Hospital yang dipanggil kesini untuk membantu operasi” ujarku berbohong dan berusaha sekuat tenaga menahan airmata yang hampir jatuh.

Donghwan POV

“Dokter Donghwan mari ikut saya” ajak suster.

“Seorang anak berusia 5 tahun. E+M+V 5, E dan V 2, sedangkan M 1. Tingkat GCS berada pada tingkat stupor. Patah 2 tulang rusuk dan mengenai bagian jantungnya. Sempat kehilangan kesadaran dan denyut jantung menghilang. Pertolongan pertama setelah kecelakaan adalah pembukaan jalur pernafasan melewati leher karena CPR tidak memungkinkan dilakukan oleh dokter yang kebetulan berada di lokasi kejadian” jelas suster sepanjang perjalanan.

Aku mengangguk dan mempercepat langkahku. Anak itu sudah dilarikan ke ruang bedah anak.

“Donghwan!” Saat aku akan memasuki ruang operasi Jungsoo-hyung memanggilku dengan berteriak.

“Kau siap? Yang kau operasi adalah Haejoong” kata Jungsoo setenang mungkin.

Deg…..

Ingin rasanya aku merosot ke lantai saat itu juga.

“Biarkan aku yang mengoperasinya” tawar seorang pria yang aku ketahui dokter Bae Yong Joon dari Seoul Hospital.

Kami bertiga sepakat saat itu juga, dokter Yong Joon yang akan menjadi dokter kepala operasi, Jungsoo dokter penanggung jawab operasi dan aku sebagai asisten dokter operasi. Jungsoo hyung tak memungkinkan untuk menjadi dokter operasi karena drop pasca bekerja tanpa henti menggantikan pekerjaan Donghae di Santa Maria Hospital, lini bedah jantung tempat Donghae bernaung sangat sibuk setelah Donghae cuti seminggu lalu. Aku sendiri keadaan psikologisku tak memungkinkan menjadi dokter operasi terhadap Haejoong. Dokter Yong Joon akhirnya berinisiatif mengambil tugas dokter operasi setelah mendengar penggambaran sekilas Jungsoo-hyung mengenai kami dan Haejoong.

“Sekarang saatnya operasi. Kalian siap bukan? Aku harap kalian menanggalkan kehidupan pribadi dan perasaan kalian, disini gunakanlah perasaan dan kemampuan kalian sebagai dokter bukan individu” Langkahku berat memasuki ruang operasi dengan jelas yang berada di depan kami Haejoong. Di meja operasi ini, di tangan kami.

Haejoong sudah dibius. Denyut jantungnya lemah dan kami sekarang mematikan kerja jantung untuk sementara.
“Pisau bedah” suster mengangsurkan pisau bedah ke dokter Yong Joon.

Dokter Yong Joon melakukan pembelahan dada dan aku menunjang operasi dengan mengimbangi kecepatannya. Aku bisa mendengar suster penyedia peralatan operasi berdecak, ya patahan tulang rusuk Haejoong menancap di jantungnya.

“Kita harus hati-hati supaya luka di jantungnya tidak semakin melebar” Aku mengangguk dan berfokus pada pisau bedah.

Kami berhasil mengambil patahan tulang yang menusuk jantung Haejoong.

“Benang jahit, jarum. Lakukan penjahitan dari dalam” Penjahitan luka dalam? Aku sejenak berhenti dan memandang dokter Yong Joon.

Kau bisa Donghwan… Lakukan… Profesional demi keselamatan pasien…

“Jika kau tak mampu akan aku lakukan sendiri” Aku tersadar dan melakukan penjahitan dengan menyesuaikan diri dengan kecepatan tangan dokter Yong Joon. Alat henti kerja jantung dimatikan.

Detak jantungnya semula tak ada, tapi kemudian ajaibnya pada EKG terdapat garis peningkatan kerja jantung meski lemah.

“Jahit rongga dadanya sekarang”

Operasinya berhasil 6 jam. Operasinya berhasil… Kami berhasil.

Jaejoong POV

Setelah lama menunggu akhirnya lampu ruang operasi dimatikan. Aku langsung mendatangi dokter yang ternyata Donghwan dan Jungsoo serta aku tak kenal siapa.

“Hyung… Haejoong” Donghwan menangis dan memelukku.

“Dia selamat” kata dokter Jungsoo.

“Berdoalah supaya dia melalui masa kritis. Kau ayahnya? Akan aku jelaskan semua mengenai operasi dan kemungkinan-kemungkinan selanjutnya”

Aku mengangguk dan mengikutinya.

Changmin POV

“Donghwan. Yuri gagal diselamatkan” Setelah Jaejoong-hyung pergi bersama seorang dokter. Dokter lain yang bersama Donghwan-hyung memberikan kabar yang membuat kami tak bisa berkata-kata

Donghae POV

Tiiiitttttttttttttttttttt…………..

“Kejut jantung”

“Dokter sudahlah… Dokter… Dokter” Jessica berbicara sambil menangis.

Ya, Tuhan… Noona… Ya, Tuhan….

Eunhyuk POV

Setelah operasi aku mendengar bahwa operasi Donghae meski berhasil Yuri-noona tak bisa diselamatkan. Aku menghubungi Jungsoo-hyung dan memintanya memberitahu Donghwan. Aku juga mendengar operasi Haejoong berhasil, Jaejoong jika kau mendengar Yuri telah meninggal….

“Yoboseyo” jawabku lemah.

“Hyukjae-uisha ini aku Changmin. Keadaan Donghae bagaimana?” tanyanya.

Aku terdiam dan tidak menyahut.

“Hyukjae-uisha, yang telah pergi tak akan bisa kembali tapi Donghae-uisha aku yakin dia tergoncang sekarang. Akan aku hubungi semua orang termasuk Hara. Hyukjae-uisha, serahkan Jaejoong-uisha pada kami yang sekarang di Santa Maria Hospital. Tolong, kau tetap kuat ”

Kyuhyun POV

“Operasi Yuri-noona gagal” kata Hara padaku.

Ya… Tuhan…

“Hara kau bercanda kan?” Hara menggeleng.

Nishishima Group akan memberi bantuan dana pada Cho Corp. Eh bukan maksudnya investasi. Lau Corp. pasti juga membantumu, tenang saja ya ^^

Noona, tapi saya belum bisa memberi kepastian keuntungan

Jangan khawatir aku percaya padamu saeng… Boleh aku memanggilmu demikian? Kau tahu sendiri tak mungkin aku memanggil saeng pada Donghae, Eunhyuk, tapi kau jelas lebih muda dariku.

Kyuhyun-ah… Perusahaanmu sudah membaik? Kalau butuh bantuan lain hubungi aku.

Masih kelihatan aneh ya logatnya. Aku memang orang Jepang, baru beberapa tahun tinggal di Seoul karena menikah dengan orang Korea.

Salam untuk adikmu yah… Dia sangat manis, baiklah aku sampaikan salammu pada Jaejoong.

Hahaha…. Kyuhyun-ah, kau berniat melamar Hara? Gadis itu sepertinya baik. Hwaiting! Izin pada Donghae kalau tak mau dia mencincangmu hidup-hidup.

Saat itu aku sudah akan ambruk. Noona yang baru aku miliki, noona… Noona…

“Hara-ya” Aku langsung memeluk Hara yang menatapku.

“Dia noonaku. Dia noonaku”

Donghwan POV

Suster menelpon kami, grafik EKG menunjukkan penurunan. Saat kami tiba…

“Dokter Jungsoo… Nafasnya berhenti” teriak seorang suster.

“Donghwan”

“Lakukan semua yang kita bisa” kataku.

Kau harus bertahan…. Nak, kau harus bertahan.

“Alat kejut jantung…. Haejoong bertahanlah, kau harus bertahan”

Jaejoong berlari dari pintu ICU. Dia langsung histeris.

“Haejoong, kau harus hidup. Jangan tinggalkan appa. Haejoong!!!!”

Tiiiiittttt…………….

Do you feel cold and lost at the desperation
You build up all the failiures all you’ve known
Remember all, the sadness and frustration
And let it go, let it go

Jiyeon POV

Suster datang ke kamarku dengan wajah tertunduk. Dia hanya mengganti infuse yang aku gunakan, tidak hanya itu rumah sakit seolah berduka ketika aku melongok ke luar. Dokter-dokter dan suster berjalan dengan langkah gontai dan lesu.

Aku putuskan melepas jarum infuse dan berjalan di koridor sambil menggendong Mavin, di ujung koridor aku melihat Taemin memeluk Jessica. Entah kenapa dari tadi perasaanku tidak enak dan sekarang aku melihat Jessica berada di dalam pelukan Taemin. Aku mendekat ke arah mereka.

“Taemin… Kita kehilangan Yuri-eonni… Kami tak bisa mendapatkannya kembali…”

Kehilangan Yuri-eonni? Apa maksudnya? Aku terdiam di posisiku dan sepertinya Taemin melihat keberadaanku. Dia melepas pelukannya pada Jessica.

“Jiyeonie” gumam Taemin lemah.

Airmata mengalir di pelupuk mataku. Aku pingsan saat itu juga.

Eunhyuk POV

“Donghae…. Setiap dokter akan mengalami guncangan ketika kehilangan pasien, tapi kita tak bisa memungkiri bahwa itu semua di luar kuasa kita. Tuhan, pasti punya rencana tersendiri untuk kita semua. We are standing in the way of the unknown, We are standing under the blue sky which will change to be dark sky or even becomes brighter than light. Keep our spirit to trought out all problem we get. We can erase sadness and don’t have power to turn back the time. Let it go, Donghae. It’s not the end of your life, just slice of life which be part of whole story. Like a puzzle is a piece… Piece by piece… I’ll leave you alone till you feel better. Thinking of my words”

Aku berjalan meninggalkan Donghae, tepat ketika aku membuka pintu ruang kerjanya.

“Changmin tidak mungkin. Haejoong juga”

Aku menjatuhkan ponselku dan langsung merosot ke lantai.
Bagaimana mungkin….

Donghae POV

Aku mengambil ponsel Eunhyuk dan mendengar suara histeris di seberang sana.

“Haejoong… Jangan tinggalkan appa, Haejoong!!!!!”

“Apa kami juga kehilangan Haejoong?” tanyaku dengan suara bergetar.

“I’m sorry uisha. We’ve lost him…” jawaban Changmin meruntuhkan tembok pertahananku. Aku langsung terhuyung dan bersandar pada dinding.

Junsu POV

“Yoboseyo, Chaerin-ah? Apa!!”

Aku terburu meninggalkan ruanganku dan tak sengaja menubruk hakim Seunghun yang kebetulan lewat.

“Mianhae…” aku kembali berlari.

“Tunggu. Ada apa?” Seunghun menahan langkahku. Aku menjelaskan dengan tergesa.

“Aku ikut. Kau tak bisa mengemudi dengan pikiran kalut seperti sekarang”

But If I let you go I’ll never know
What my life would be
Holding you close to me
Will I ever see You’re smiling back at me
How will I know
If I let you go

Dari semua orang disini hanya aku yang tersisa. Kau tak boleh ikut ambruk juga Changmin… IU yang semula aku pikir bisa ikut menguatkanku ternyata langsung down mendengar kabar ini. Aku memandang langit Seoul yang sedang tak bersahabat dengan kami.

“Aku ingin menyewa rumah duka. Uangnya akan saya transfer. Atas nama Shim Changmin, untuk 2 jenazah”

Di rumah duka maupun pemakaman, Jaejoong-uisha terlihat berusaha setegar mungkin. Justru kami yang merasa lemah. IU, Kyuhyun, Hara dan aku kami bisa disebut orang luar bisa merasakan kedukaan yang amat sangat. Tak perlu waktu lama kau merasa dekat dengan seseorang, waktu itu akan terasa lama saat kau sadar dia sudah tidak ada. Aku harap mereka semua yang ada disini dapat melanjutkan hidup…. Jaejoong, bagaimana perasaanmu? Donghae, Donghwan kalian sudah berusaha semaksimal mungkin. Jiyeon, Jungmin, Mavin, Junsu, Chaerin, Jessica, Taemin…. Pertemuan pasti memiliki akhir. Yuri dan Haejoong tahukah kalian, aku menyesal tak sempat mengenal kalian dengan baik, tapi aku yakin kehidupan kalian tidak sia-sia. Di pemakaman kau justru bisa merasakan banyak cinta meski itu juga berarti kedukaan yang mendalam.

I’m waiting to be called for the next death
I lose everything
How can I live without them beside me?
No one feel the pain… No one know what I feel?

Like not getting wet in the unending rain
Shoulder pressed to the way home
From that place you disappeared
Even now, the rain keeps falling on me

———————————————————————————————————–
“Hah…hah..hah….”

“Hei, ahjushi are you okay?”

Aku memeluk gadis di depanku, aku kembali mengingat kepergian Yuri dan Haejoong.

“What’s wrong with you? Hei, ahjushi. You’re not impolite!!! Don’t hug me!!!…”

Aku justru menangis di bahunya. Dia yang semula berontak kemudian mengelus punggungku.

“Just this time. Cry out, I’ll be your shoulder to cry on. I’m here, everything is gonna be okay. I promise you”

Entah kenapa aku bisa merasa tenang bersama dengan gadis yang sama sekali tak aku kenal ini.

Keterangan :
Glasgow Coma Scale = GCS, yang pertama kali diperkenalkan oleh Teasdale & Jennet pada tahun 1974 dan banyak digunakan dalam klinik digunakan untuk mengetahui derajat kesadaran. Dengan 3 aspek :
1. kemampuan membuka mata : EYE opening = E
2. aktifitas motorik : MOTOR response = M
3. kemampuan bicara : VERBAL response = V

Disini kami memakai E =2, M = 1, V = 2 (Keadaan Haejoong)
E  dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2
M  tidak ada gerakan : 1
V  tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2

EKG : elektrokardiogram (alat untuk mengetahui kerja jantung) dengan menunjukkan grafik naik turun tergantung lemah kuat detak jantung.

CPR : Cardiopulmonary resuscitation secara umum dikenal dengan pernafasan buatan.

Keterangan mengenai bidang kedokteran diusahakan sebenar-benarnya, basicnya author sendiri teknologi hasil perikanan jadi jangan tanya kenapa gini gitu. Semua dipercayakan pada keterangan teman yang kuliah di kedokteran umum. Gomawo, atas semua informasinya chingu.

Yang mau tahu operasi pembelahan dada, alat henti kerja jantung, suasana operasi bisa lihat di MV Zang Li Yin featuring Kim Junsu JYJ judulnya Timeless bintang video clipnya Siwon ma Hangeng. he33

Note :
Semula tak ada rencana adanya chapter mengenai penjelasan kecelakaan, tapi karena pada bingung maka chapter ini dibuat. Sebelumnya di chapter XV hanya ada singkat cerita kepanikan SNU University Hospital dimana Donghae dan Jessica terlibat dalam operasi Yuri, sedangkan Haejoong ditangani Donghwan dan Jungsoo di Santa Maria Hospital.

Sekarang, author sibuk menyiapkan berkas seleksi program. Mohon doanya supaya lolos yah ^^

Tinggalkan jejak yah… Bete banget viewer di dashboard cukup lumayan, tapi commentnya dikit banget. Buat next chapter bakal di password so pastikan comment dan ehm tinggalkan email kalian biar aku kirim pw-x.

Am I cruel to Jae? The answer is in real life, he is getting many problems, faces injustice. Sometime he feels desperate, but he proves can standing like hero. So, I want to tell you in this world and our life sadness, frustration can’t stop you to trought way out and in the end you’ll find happiness. We wouldn’t been able to learning how beautiful and meaningful life is If We hadn’t gotten sadness.

Letter of Angel XVI (Holding Back the Tears)

Background Song : My Heart Will Go On_Celline Dion, How Do I live Without You

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV

Duniaku sudah berakhir…. Aku sudah tak punya apa-apa lagi. Kalian adalah hal terpenting dalam hidupku. Saatnya aku melepas semua dan pergi, aku tak mapu lagi menjalani semua tanpa kalian.

Seunghun POV

“Kenapa kau mengizinkan mereka membawa Mavin?” teriak Tiffany. Siwon yang berusaha menenangkan Tiffany tak mampu menahan kemarahan istrinya yang berteriak-teriak di ruanganku.

Tok…tok…tok…

Aku tak mengindahkan tatapan marah Tiffany dan membuka pintu ruang kantorku.

“Sajangnim, karangan bunga sudah dikirim” kata sekretarisku.

“Gamsahamnida” jawabku. Aku memandang Siwon dan Tiffany bergantian.

“Jika kau punya hati biarkan untuk sementara Mavin bersama Jiyeon dan Donghae. Aku akan menghadiri pemakaman” kataku.

Tiffany dan Siwon terlonjak. Pandangan Tiffany melembut.

“Seunghun siapa yang meninggal?” tanyanya dengan suara lirih.

“Sahabat sekaligus keluarga mereka berdua”

Diluar dugaanku Tiffany meminta Siwon untuk ikut bersamaku.

“Biarkan kami berdua ikut” pinta Tiffany. Aku mengangguk.

Donghwan POV

Kami semua datang di pemakaman paling menyedihkan. Saat kehilangan appa seolah dunia kami runtuh, sekarang aku harus melihat seorang lelaki yang berusaha setegar mungkin menghadapi takdir Tuhan.

“Kami turut berduka cita” kata para pengiring.

Jiyeon memeluk Mavin sambil menangis, Donghae tak kalah shocknya saat memeluk mereka berdua. Dia merasa bersalah tak mampu menyelamatkannya.

Aku dan dokter Jungsoo, kami seolah gagal. Hari terberat bagi kami adalah saat kami tak mampu menyelamatkan pasien, sekarang kami mengalaminya tak hanya tak mampu menyelamatkan pasien. Kami mengenal pasien, kami dekat dengan pasien dan kami berdiri menghadiri pemakamannya.

Jungmin POV

Noona, kita baru berinteraksi beberapa bulan. Melewati hal-hal yang menyedihkan dan menyenangkan. Haejoong, kau tahu tingkahmu yang lucu akan sangat ahjushi rindukan. Noona, Haejoong terima kasih dalam perkenalan yang begitu pendek denganku dan Jiyeon, kalian membawa adikku pada cinta sejatinya. Gamsahamnida…..

Changmin POV

Aku memeluk IU yang menaruh buket di atas dua makam di depan kami. Kyuhyun dan Hara berdoa di depan makam.

“Kau tahu dia adalah wanita yang baik, walau baru mengenalnya aku tahu dia wanita yang sangat baik” kata Kyuhyun pada Hara. Hara merangkul Kyuhyun.

“Oppa” IU berbisik dalam pelukanku.

Aku meliriknya sejenak.

“Ketika aku kehilangan eumma dan appa Cho rasanya semua duniaku berakhir. Aku nyaris berpikir bunuh diri andai saja aku tak punya Kyuhyun oppa. Meski, kakak tiriku dia tak pernah mempermasalahkan itu dan menjaga hati serta hidupku. Lalu….” IU tak bisa meneruskan kalimatnya dan membenamkan wajahnya di dadaku. Dia pasti merasakan sulitnya kehilangan.

Jiyeon POV

Eonni… Aku baru mengenal eonni, kenapa eonni begitu cepat pergi. Eonni lah yang meyakinkanku untuk berjuang demi cintaku. Eonn, siapa yang akan menguatkanku sekarang? Haejoong…. Ahjumma ingin memelukmu lagi. Ahjumma ingin mendengar tawa dan teriakanmu.

Donghae POV

Kenapa kau mengambil mereka berdua Tuhan? Kenapa Tuhan? Noona, Haejoong…. Andai saja aku mampu menyelamatkan noona. Andai saja dengan tanganku ini aku mampu menyelamatkan noona.

Jessica POV

Eonni, Haejoong, aku harap kalian tenang di alam sana. Kami akan menjaga Jaejoong-uisha. Meski aku mengenal kalian sebatas suster dengan keluarga dokter, tapi aku menyayangi kalian.

“Sicca….” Taemin meraih tanganku dan mengajakku menghadap Jaejoong-uisha.

Chaerin POV

“Nak… Kau tahu sekarang kita di depan makam ahjumma dan juga kakakmu. Eumma tidak menyangka kalau mereka pergi secepat ini. Nak….”

“Chaerin-ah” kata Junsu. Aku berdiri dan memeluk Junsu, tak pernah aku bayangkan bayiku tak sempat melihat dan bertemu ahjumma serta kakaknya.

Tiffany POV

Pemakaman sangat ramai. Karangan bunga sepanjang jalan masuk, pemakaman ini penuh dengan orang.
Saat kami menerobos kerumunan orang, aku terkesiap melihat orang-orang yang berada disitu. Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Donghae. Mavin dan Jiyeon. Jiyeon memeluk Mavin sambil menangis dalam pelukan Donghae. Semua orang kelihatan sangat sedih dan berduka. Aku melihat seorang lelaki tampan yang dikelilingi beberapa pria yang menyentuh bahunya.

Hara POV

Aku melihat Siwon, Seunghun dan seorang wanita yang aku yakini istri Siwon. Apa mereka mau mengambil Mavin di saat seperti ini. Siiiaalllll…..
Aku melepaskan rangkulan Kyuhyun dan berjalan menuju mereka. Changmin yang menyadari hal ini melepaskan pelukannya pada IU dan meminta Kyuhyun menopang IU. Aku melirik Changmin sekilas dan dia mengangguk tanda mengerti. Jaksa wilayah Kim Junsu juga bergabung bersama kami. Sekarang kami bertiga menemui Seunghun dan Siwon.

“Ada urusan apa kalian kemari?” tanyaku berusaha tenang.

“Kami hanya ingin mengucapkan belasungkawa dan memberi penghormatan terakhir” kata Seunghun.

Aku menatap Siwon dan wanita itu intens. Mereka sepertinya cukup mengerti.

“Kedatangan kami bukan untuk mengambil putra kami. Changmin-shi soal semua yang terjadi, saya minta maaf” ujar wanita itu.

“Aku dan Tiffany benar-benar minta maaf” Siwon ikut membungkuk bersama wanita yang ternyata bernama Tiffany itu.

Kami tersenyum dan bersama kembali ke tempat pemakaman.

Jiyeon POV

Aku terkesiap melihat Tiffany dan Siwon yang baru datang ke pemakaman bersama hakim Seunghun dan disambut Hara, Junsu dan Changmin.

Tiffany mendekat ke arahku dan Donghae. Aku memeluk Mavin lebih erat.

“Kau boleh membawa Mavin sampai keputusan dijatuhkan. Kau sekarang lebih membutuhkannya, tapi bolehkah aku memeluknya disini” kata Tiffany. Aku mengangguk, Donghae melepaskan pelukannya padaku. Tiffany malah merengkuhku.

“Kau harus kuat” ucapnya dan melepas pelukannya. Dia mengelus dan mencium kening Mavin. Siwon tak ku sangka dia merangkul Donghae.

Jaejoong POV

Semua orang berangsur meninggalkan makam. Jungmin, Donghwan, Eunhyuk, Junsu, Chaerin, Jiyeon, Donghae bersikeras menemaniku, tapi aku tak bersedia. Kyuhyun, Hara, IU, Changmin, Jessica, Taemin juga tetap tak beranjak. Akhirnya dengan amat sangat aku memohon agar meninggalkanku sendiri. Dengan berat hati mereka meninggalkanku.

“Yuri, Haejoong kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa Haejoong meninggalkan appa? Yuri bukankah kau berjanji akan menamaniku seumur hidup. Kau bilang tak akan pernah meninggalkanku. Kenapa sekarang kalian meninggalkanku sendiri?”

Aku menangis sendirian disini. Menumpahkan semua kesedihan yang aku rasa.

“Aarrrrggghhhhhhh”

Sepertinya Tuhan mendengar tangisanku. Alam menangis bersamaku, hujan menemaniku. Dinginnya hujan sama dinginnya dengan hatiku.

“Tuhan…. Lebih baik kau mengambil nyawaku. Kenapa kau begitu kejam padaku? Tuhan !!!!!!!!!!…..”

Aku berteriak sekuat tenagaku. Tuhan… Buat apa aku masih hidup? Lebih baik mati bersama Yuri dan Haejoong.
Aku merogoh pisau lipat yang aku siapkan saat akan menuju pemakaman. Meski ini dosa besar dan mendahului kehendak Tuhan, aku tak peduli. Aku hanya ingin mengakhiri kesedihan ini.

Aku membuka lipatan pisau dan mengarahkannya pada pembuluh di leherku.Menutup mataku dan….

“Jangan bertindak bodoh” Tanganku tertahan, kubuka mataku, melebarkan pupil dan melihat seseorang yang berdiri di hadapanku.

Aku merasakan ada yang memayungiku saat aku menengadah dia tersenyum.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua” katanya sambil menyerahkan payung pada pria di depanku. Dia berlari menembus hujan dan meninggalkan kami berdua.

Siwon POV

“Jangan bertindak bodoh” aku menghentikan tindakan pria di depanku. Tiffany dan aku sedari tadi belum meninggalkan pemakaman. Entah mengapa ada perasaan yang mengatakan aku harus tetap disini.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua” kata Tiffany dan memberikan payungnya padaku. Fany pulang bersama pengawal yang aku suruh untuk menjemputnya.

“Mereka pasti akan sangat kecewa jika kau mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini”

Aku beralih menghadap dua makam di depan kami.

“Kim Yuri, Kim Haejoong sekarang aku bersama dengan orang yang berarti dalam hidup kalian. Yuri kau pasti sangat bahagia hidup bersama pria yang mencintaimu sepenuh jiwa raganya, Haejoong kau pasti sangat senang memiliki ayah yang selalu menjaga dan menyayangimu. Kalian tahu baginya kalian adalah segala-galanya. Aku bangga bisa mengenal pria sepertinya, kalian masih akan selalu hidup dalam hatinya”

Aku beralih pada Jaejoong yang menangis sambil menunduk.

“Kita nikmati hujannya sampai selesai. Setelah itu ada yang ingin aku tunjukkan padamu” aku melepaskan payung yang kami gunakan dan membiarkan hujan menerpa kami berdua.

Tiffany POV

“Nyonya, anda basah sebaiknya kita pulang dulu” kata pengawal.

“Tidak antarkan saja aku ke tempat yang aku minta” kataku pada pengawal.

Ting…Tong… Ting… Tong….

Seorang pembantu membukakan pintu untukku.

“Tuan Cho Kyuhyun ada?” tanyaku.

“Ada beliau dengan para tamu sedang di dalam” kata pembantu itu. Aku memintanya memanggilkan Kyuhyun.
“Tolong langsung sampaikan padanya Choi Tiffany mencarinya” pintaku.

Tak lama Kyuhyun keluar dan terlihat kaget melihat aku basah kuyup.

“Kyuhyun-shi, saya…”

“Masuklah dulu keringkan tubuhmu baru bicara” katanya padaku. Aku menurut.

Di dalam ternyata semua berkumpul. Aku semula hendak memberitahu Changmin atas kejadian tadi, tapi pembantu di rumahnya mengatakan kalau dia sedang melayat jadi yang terpikir di otakku hanya Kyuhyun. Dan di rumah Kyuhyun aku melihat semua orang berkumpul.

Adik Kyuhyun dan seorang perempuan membantuku mengeringkan badan.

“Pakai ini eonni” kata adik Kyuhyun padaku. Aku mengangguk dan mengganti pakaianku di kamar mandi di kamar adik Kyuhyun. Setelah selesai aku duduk di ranjang.

“Ini teh untuk menghangatkan badanmu. Go Hara imnida”

“Choi Tiffany imnida” balasku.

“Lee Jieun imnida” adik Kyuhyun memperkenalkan dirinya padaku.

Aku meminum sedikit teh yang Hara berikan.

“Mian bisakah panggilkan Kyuhyun atau Changmin ada hal penting yang harus aku katakan” Jieun mengangguk dan pergi meninggalkan kami berdua.

IU POV

Tanpa pikir panjang aku menarik Changmin dan Kyuhyun oppa meninggalkan semuanya di ruang tamu. Aku mengajak mereka ke kamarku, Hara eonni mengajakku keluar setelah Changmin dan Kyuhyun masuk.

“Ada apa eonni?” Hara tidak menjawab.

Changmin POV

“Ada yang ingin kau bicarakan? Tadi pembantuku menelpon kalau kau mencariku?” kataku dingin.
Tiffany menghela nafas panjang.

“Aku tahu kita tak memiliki hubungan yang baik” Dia menggoyang-goyangkan cangkir tehnya.
Aku sudah tak sabar mendengar apa yang ingin dia katakan.

“Tiffany-shi sepertinya ada masalah penting. Apa yang ingin anda sampaikan?” Kyuhyun buka mulut dengan kediaman Tiffany.

“Siapakah yang dekat dengan pria di pemakaman tadi?” tanya Tiffany. Kyuhyun sepertinya mulai mengerti dan berlari ke bawah.

Sekarang di kamar IU berkumpul aku, Kyuhyun, Donghae, Donghwan, Eunhyuk, dan Junsu.

“Tiffany-shi kami semua berhak mengetahui apa yang akan kau sampaikan. Kamilah orang terdekatnya” kata Kyuhyun.

“Dia berniat bunuh diri setelah kalian pergi, Siwon menghentikannya dan sekarang bersamanya”

Helaan nafas panjang dan juga ketidakpercayaan jelas terpancar dari wajah semuanya.

“Dimana mereka sekarang?” Junsu segera saja menanyakan hal tersebut. Dia sangat khawatir terhadap keadaan Jaejoong.

“Handphone Siwon mati, tadi aku meninggalkannya di makam bersama dengan pria itu. Aku yakin sebentar lagi Siwon akan menelpon” jawab Tiffany.

“Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku pamit” kata Tiffany dan meninggalkan kami.

“Tiffany-shi, gamsahamnida” ucap Donghae, Tiffany berbalik dan mengangguk.

Donghae POV

“Justru Siwon yang menyelamatkan hidupnya” ucapku lemah dihadapan yang lain. Kami masih berada di kamar IU. Kami harus bersikap seolah Tiffany tak membawa kabar apa-apa.

Junsu masih terlihat shock. Eunhyuk menepuk pundaknya. Donghwan memandang hujan di luar jendela. Kyuhyun dan Changmin bersandar pada dinding dan hanya diam.

Kami kalut dalam pikiran masing-masing. Bukan kami sahabat Jaejoong-hyung yang bersamanya sekarang, melainkan Choi Siwon orang luarlah yang menyelamatkan hidup dan menemaninya di saat berat seperti ini.

Jaejoong POV

Siwon mengajakku ke sebuah kapel dan masuk ke dalamnya.

“Silahkan mengadu sepuasmu kepada-Nya” kata Siwon. Kami berdua duduk di baris paling depan.
Aku menumpahkan segala kesedihanku. Hatiku menumpahkan segala macam hal yang membelenggu dan menyiksaku.
Siwon terdiam di sampingku dan entah berdoa apa.

“Gamsahamnida” ucapku.

Dia menatapku dan tersenyum. Dia melepas salib yang dia kenakan dan menyerahkannya padaku. Aku menatap Siwon lekat.

“Aku pernah melakukan suatu kesalahan besar. Aku meniduri seorang gadis dan justru menikahi gadis lain. Aku tak berani menentang orangtuaku dan menikahi gadis pilihan mereka, Tiffany Hwang istriku sekarang ini. Meski, menikah dengan Tiffany aku tak bisa melupakan Yoona, wanita yang aku cintai. Butuh waktu untuk mencintai Tiffany bahkan hingga sekarang Tiffany sadar aku masih mencintai Yoona. Aku shock saat mendengar Yoona meninggal setelah melahirkan putra kami, dia Mavin seperti yang kau tahu. Aku merasa berdosa dan kehilangan Yoona, tapi Tiffany membantuku melewati itu dan bertekad menemukan putraku dan Yoona. Aku tahu kisahku tak bisa dibandingkan denganmu, tapi satu hal yang perlu kau tahu. Sampai akhir hayat mereka dan dalam dirimu, semua terbingkai dalam memori yang indah. Mungkin sampai akhir hayat Yoona aku dikenang sebagai pria bejat yang tak bertanggungjawab dan bagiku penyesalan karena meninggalkan Yoona”

Siwon berpaling padaku dan tersenyum.

“Tuhan tak akan menguji manusia di luar kemampuan hamba-nya. Tuhan pasti punya tujuan dari tiap putusan yang telah Dia atur. Hidupmu belum berakhir, kau masih punya kekuatan yang terhebat…… TUHAN”

“Memandang ke depan dan terus melangkah itulah yang bisa kita lakukan. Kau tak mau kan Yuri dan Haejoong sedih? Kau pasti bisa, kau mampu menjalaninya. Jika kau merasa tak kuat, kau memiliki sahabat dan kau juga punya aku. Terlebih lagi Tuhan bersamamu”

Siwon mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya.

“Choi Siwon”

“Kim Jaejoong”

Siwon POV

Aku baru sadar handphoneku mati, aku ingat di mobilku ada handphone lain. Aku menelpon Tiffany, dia kelihatan sangat khawatir dan menanyakan keadaan Jaejoong.

“Kami baik saja. Iya, aku tahu. Iya, baiklah” Tiffany menyuruhku menemani Jaejoong sampai tenang, dia takut jika Jaejoong berniat bunuh diri lagi. Namun, aku yakin Jaejoong tak akan melakukannya bahkan mencoba memikirkannya pun tidak.

Donghae POV

“Tiffany menelponku dia bilang Siwon sudah menghubunginya. Jaejoong baik-baik saja” kata Changmin.

“Dia dimana?” Junsu bertanya pada Changmin.

“Tiffany tidak bilang”

“Sebaiknya kita kembali. Semua sudah menunggu di bawah, kasihan mereka pasti capek” kata Kyuhyun. Aku mengangguk dan bersama yang lain pergi ke bawah.

Junsu membawa Chaerin pulang. Donghwan, Jungmin dan Eunhyuk memutuskan mencari Jaejoong dan Siwon. Kyuhyun, Hara, Changmin dan IU mengantar semua keluar. Jiyeon sudah tertidur, aku terpaksa membangunkannya.

“Kita pulang” kataku. Aku mengambil Mavin yang tidur dalam gendongannya. Jiyeon mengikuti langkahku ke mobil.

“Kau lelah?” tanyaku pada Jiyeon. Dia hanya terdiam dan memandang Mavin, aku mengalihkan pandanganku ke jalan.

Di rumah, Jiyeon hanya terdiam. Dia terus memandangi Mavin yang tertidur di box bayi.

“Jiyeonie, tidur ya?” Jiyeon menatap tepat di bola mataku.

“Berjanjilah oppa tak akan meninggalkanku. Berjanjilah oppa akan disampingku, berjanjilah oppa… Berjanjilah” Jiyeon kembali menangis.

“Aku berjanji padamu” aku mencium bibirnya lembut.

Jungmin POV

Aku, Eunhyuk dan Donghwan memutari Seoul. Kami sepakat berpencar mencari Jaejoong dan Siwon. Ponselku berdering dan ternyata Donghwan-hyung mengirim pesan. Sepertinya ini pesan berantai.

Siwon dan Jaejoong berada di kapel Incheon. Jaraknya tidak jauh dari Inha University.

Incheon yah? Baiklah saatnya ke Incheon. Sekitar 30 menit dengan kecepatan penuh akhirnya sampai di Incheon. Melewati Inha University dan bertanya pada orang-orang dimana kapel terdekat dari situ. Setibanya di kapel Eunhyuk dan Donghwan sudah sampai dan menungguku. Bertiga kami masuk kapel. Kami sudah sangat khawatir dan siap melihat keadaan Jaejoong yang terpuruk.

“Liburan saja” kata Siwon.

“Liburan? Sepertinya akan menyenangkan” ucap Jaejoong.

“Sebelum itu seperti yang kita bahas kau harus urus semuanya. Aku ingatkan daripada dosa bunuh diri lebih baik kau telpon aku, pasti ada pembunuh bayaran yang bisa aku usahakan. Hahaha… Tapi pesannya jauh-jauh hari, harus cari dulu. Hahaha…”

“Sialan kau…”

“Besok siang eh siang nanti mau makan siang bersama? Just you and I. Kencan pria patah hati hahaha….”

“Hei… aku bukan guy ya” teriak Jaejoong.

“Aku juga bukan…hyung hahaha…”

Kami bertiga tersenyum melihat keceriaan Jaejoong.

Siwon sepertinya menyadari kehadiran kami dan menoleh.

Donghwan POV

Siwon dan Jaejoong langsung berdiri dan berjalan ke arah kami. Siwon tersenyum dan menepuk pundakku lalu berlalu.

“Hyung, kau…”

“Aku baik saja. Bisa antar aku ke rumah sakit? Ada yang harus aku selesaikan” pinta Jaejoong.
Jaejoong bersama Eunhyuk dan aku serta Jungmin mengikuti mobil Eunhyuk menuju rumah sakit Seoul National of University.

Di sana para dokter dan suster kaget melihat kedatangan Jaejoong. Mereka berusaha bersikap professional dan sebiasa mungkin. Kami membiarkan Jaejoong mengurus urusannya. Tak lama dia keluar dari ruangannya lalu menitipkan surat pada Eunhyuk.

“Bisakah aku menitipkan surat-surat ini padamu. Surat pertama untuk pemimpin rumah sakit, surat kedua untuk dekan fakultas kedokteran SNU dan yang ketiga untuk Shim Changmin” Jaejoong menyerahkan 3 surat yang di depannya sudah tertuliskan tujuan suratnya.

“Ini apa?” tanya Eunhyuk sambil mengacungkan surat-surat itu.

“Dokter Lee Hyukjae, aku titipkan pasien-pasienku padamu. Gamsahamnida” Jaejoong menundukkan badannya.
“Hyung, kau mundur?”

“Tolong sampaikan saja surat-surat itu. Anyeong”

Maafkan diriku yang lari dari kenyataan. Biarkan aku melepas semua sejenak. Hidupku sudah berakhir ketika Tuhan mengambil Haejoong dan Yuri, tapi seseorang menyadarkanku bahwa hidup ini berharga.

Letter of Angel XIV (Tommorow will definitely comes)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XIII,Part XII

Background Song : Asu Wa Kuru Kara – TVXQ

Donghae POV

“Eumma, kami memutuskan tidak bercerai. Meskipun, eumma akan menganggapku anak durhaka. Ini sudah keputusanku” kataku.

Apapun yang akan eumma katakan aku sudah siap. Aku menggenggam erat tangan Jiyeon yang sudah mengeluarkan keringat dingin sejak tadi. Eumma sejenak menghela nafas panjang dan menatap kami berdua.

Baiklah… Ini tatapan penghakiman atau apa aku sudah siap. Aku memang salah.

“Semoga kalian berdua bahagia” kata eumma. Aku dan Jiyeon terkejut tak menyangka eumma mengatakan hal tersebut. Jiyeon langsung memeluk eumma yang duduk di kursi roda.

“Gamsahamnida, emmonim. Gamsahamnida” katanya.

Eumma melepaskan pelukannya dan menarik tanganku dan menyatukannya dengan tangan Jiyeon.
“Jadilah keluarga yang rukun dan saling mencintai. Pertahankan Mavin apapun yang terjadi” pesan eumma.
Kami berdua mengangguk.

Siwon POV

Hari ini Tiffany muntah-muntah sepanjang hari. Entah kenapa aku tak tahu.
“Fanny kita ke rumah sakit yah?” kataku mebujuknya.

“Tidak usah oppa. Kita harus mempersiapkan semua untuk persidangan. Tidak ada waktu lagi, aku tak mau karena sakit biasa malah mengganggu. Kau harus berkonsentrasi oppa” kata Tiffany sambil mendorongku keluar kamar.

Aku menghela nafas panjang dan melangkahkan kakiku keluar.

“Iya, ada apa sekretaris” kataku menjawab telpon.

“Oh… Begitu yah” ujarku.

Cho Corp. mendapat kucuran dana cukup besar dari Nishishima Corp. dan Lau Corp. Tak ku sangka Cho Kyuhyun mampu mendapatkan kontrak kerjasama dari dua perusahaan itu mengingat pertimbangan penarikan dana sepihak biasanya akan meragukan perusahaan lain untuk membantu.

Henry POV

“Gamsahamnida” ucap Kyuhyun padaku dan Anthonia.

Anthonia sedikit-sedikit mengerti bahasa Korea meski dengan kosakata yang amat sangat minim sekali.
Dia tersenyum lebar pada Kyuhyun. Aish… Bikin cemburu tingkat A saja ini orang.

“Kalau begitu kami pergi dulu” kataku sambil menarik tangan Anthonia.

Jangan harap aku mau membagi senyum tunanganku dengan direktur Cho Corp. ini.

Jaejoong POV

“Jadi pihak Hyundai Corp. dan Hwang Corp. menarik dana dari Cho Corp.?” tanyaku pada Yuri.

“Nde, oppa. Saat mendengar Hyundai Corp. aku langsung teringat Choi Siwon jadi aku putuskan saja membantu Cho Kyuhyun pemilik Cho Corp.”

Bruuuussshhh…..

Aku menyemburkan kopiku begitu saja.

“Aiiishhh…oppa ini kenapa?” kata Yuri sambil membersihkan mulutku. Aku menatapnya dengan lekat.

“Oppa, kenapa me…me..natapku… se…se..perti itu”

Entah kenapa wajah Yuri memerah.

“Kau tahu tidak kalau Cho Kyuhyun adalah kakak pasien Lee Jieun kekasih Pengacara Shim Changmin?” tanyaku.

Yuri POV

Jaejoong memandangku dengan entah pandangan apa ini. Membuatku merasa pipiku memanas, tapi sekejap kemudian

“Kau tahu tidak kalau Cho Kyuhyun adalah kakak pasien Lee Jieun kekasih Pengacara Shim Changmin?” tanya Jaejoong.

Aku sejurus kemudian yakin sudah mengeluarkan tampang bloon.

“Hah… Yang benar…. Sepertinya ini taktik Choi Siwon” kataku dan menyesap kopiku.

“Kau berpikiran sama denganku?” Jaejoong mulai menebak-nebak.

“Cara kotor” jawabku dan Jaejoong mengangguk.

Changmin POV

“Lalu apa maksudmu mengajak aku bertemu hakim Choi Seunghun?” kataku pada hakim di depanku.
Dia hanya tersenyum dan memandang ke luar jendela.

“Kau pernah dengar tentang mitologi Yunani…. Dewa Perang Ares dan tentu saja Dewi Perang Athena”

Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataannya yang sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

“Ares dan Athena tak akan pernah kalah” lanjutnya.

Sumpah aku benar-benar pusing…..

“Langsung to the point saja” kataku.

“Ternyata kau memang tak suka basa-basi ya” jawabnya. Aku mengendikkan bahu.

“Kasus kali ini tak akan mudah… Ares dan Athena pasangan yang sempurna” jawabnya.

“Apa maksudmu sebenarnya?” tanyaku tak sabaran.

Dia hanya tersenyum dan pergi meninggalkanku.

Sesampai di kantor aku langsung menyelidiki track record pengacara dari Choi Siwon. Sepertinya tak terlalu masalah. Masih bisa aku hadapi, tapi aku kembali teringat dengan perkataan Choi Seunghun. Kau berhadapan dengan Ares dan Athena. Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya.

Siwon POV

“Jangan lagi Tiffany. Kali ini tidak akan aku biarkan” teriakku.

“Kau mau menyerahkan putra kita begitu saja? Kenapa kau tidak memanfaatkan Seunghun hah? Bukankah kalian ini saudara?” teriak Tiffany balik.

“Karena dia saudaraku tak akan aku lakukan itu” balasku.

“Dia pasti bersedia melakukannya” rengek Tiffany.

“Kali ini jangan terlibat dan tak akan aku biarkan kau menekan sepupuku. Sudah cukup ikut campurmu” aku begitu marah pada Tiffany dan memutuskan untuk keluar sejenak.

Seunghun POV

“Kau yakin kau tidak mundur saja dari hakim di kasus ini?” tanya Jiyoung.

“Aku yakin akan menanganinya” jawabku yakin.

“Terserah kau, tapi sekarang keadaan takkan menguntungkan siapapun” kata Jiyoung.

“Aku pergi dulu” kataku pada Jiyoung.

“Adikmu sudah tiba di bandara” kata Jiyoung.

Aku tak peduli dengan hal itu.

Hara POV

Bruuuggghhh….
“Mianhaeyo, Mian anda tak apa nona?” saat aku melihat wajahnya hanya satu yang aku bisa bilang sempurna.

“Nona.. Nona” katanya sambil mengibaskan tangannya di depanku

“Nde” jawabku singkat.
“Baguslah kalau begitu” Dia meninggalkanku dan aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Kenapa dadaku berdetak cepat sekali.

Changmin POV

“Dia sudah sampai. Baiklah aku akan menemuinya” kataku pada sekretaris.

Seorang wanita muda masuk ke ruanganku. Aku mengamatinya benar kata appa dia memang cantik, tapi seperti yang appa bilang meski cantik jangan remehkan kemampuannya sebagai pengacara. Reputasinya di Amerika sangat mencengangkan. Namun, yang lebih mencengangkan adalah dia sekarang bersedia melepas karirnya di Amerika dan kembali ke Korea. Entah dengan alasan apa.

“Senang anda bergabung dengan kantor pengacara Shim. Shim Changmin imnida” kataku.
Dia tersenyum dan menyambut uluran tanganku.

“Go Hara imnida”

“Changmin… Aku dapatkan kontrak itu” Kyuhyun dengan seenaknya masuk kantorku.

Aku benar-benar naik darah sekarang. Seenaknya dia masuk kantorku.

“Mianhaeyo” kataku dan langsung menarik Kyuhyun keluar.

“Ya!!! Jangan seenaknya masuk kantorku kenapa?” teriakku.

Kyuhyun hanya nyengir dan sama sekali tak ada ekspresi bersalah yang aku tangkap.

Aishh… Jieun kenapa kau punya kakak macam dia.

Hara POV

Tiba-tiba ada seorang pria masuk ke dalam ruangan Pengacara Shim Changmin. Aku tak sempat melihat wajahnya karena Changmin langsung menariknya keluar. Hanya saja benar-benar tidak sopan.

Tak lama Changmin kembali dan minta maaf atas insiden tadi.

“Mianhaeyo, terjadi hal yang tidak mengenakkan” katanya padaku. Akupun hanya tersenyum padanya.

Seunghun POV

“Adikmu sudah sampai di Seoul tadi pagi” kata appa.

“Baguslah” jawabku dingin.

“Perceraian appa dan eumma harusnya tak membuat kalian berdua seperti ini. Kalian sama-sama hebat dan appa mohon kau tidak memusuhi eumma dan adikmu. Kau menyayanginya kan?” tanya appa.

“Bagiku itu semua tak ada artinya” jawabku.

“Seunghun. Kau mengerti hukum lebih dari appa dan tentunya kau mengerti kenapa semua harus seperti ini” tegas appa.

“Aku hanya tak mengerti kenapa eumma meninggalkan kita dan membawa adikku” teriakku.

Hara POV

“Kau sudah menikah dan tidak mengundangku!!!!! Sialan kau Lee Donghae” teriakku pada Donghae. Donghwan hanya tertawa.

“Go Hara. Kau masih suka teriak-teriak ya” jawab Donghae.

“Lalu mana istrimu?” tanyaku tanpa peduli protes Donghae.

“Sedang kuliah” jawab Donghae.

Mataku terbelalak. Kuliah katanya….
“Mwo??? Aku tak salah dengar. Kau??? Phedophil???” tanyaku.

“Ya!!!! Kau ini… Percuma berdebat denganmu” balas Donghae.

“Eh… Aku harus kembali ke Santa Maria Hospital. Donghae jadwal di Santa Maria akan digantikan bersiap-siaplah untuk persidangan lusa” kata Donghwan.

Aku bingung dan meminta penjelasan dari Donghae.

Tiffany POV

“Bantu kami” kataku pada Seunghun.

“Kau tak perlu melakukannya Tiffany-ya. Aku tak peduli dengan kasus ini. Kau akan menang jika memang hukum menghendakinya” jawab Seunghun.

“Lalu apa hukum akan memenangkanku?” kata Tiffany.

“Kau mencoba bermain kotor Tiffany. Kau tahu aku bisa saja menuntutmu karena ini” kata Seunghun

Aku tertegun dengan perkataannya. Dia menatapku intens.

“Jangan membuatku menyesal telah mengakui kau sebagai istri Siwon. Sejujurnya aku lebih menyukai Yoona” kata Seunghun.

Siaalllll…….

“Aku memang tak sebaik Yoona, tapi tak akan aku biarkan putra kami diambil orang lain” teriakku.

“Aku ingatkan anak itu adalah anak Yoona dan Siwon. Kau mau bilang apa?” tanya Seunghun.

Siwon POV

“Gamsahamnida” kataku pada Seunghun.

“Kau tahu telah menyakiti istrimu dengan permintaanmu?” tanya Seunghun.

“Aku tahu, tapi Tiffany terlalu egois. Meski aku tahu dia menyayangi anakku dan aku sangat berterima kasih. Namun, aku tak mau dia juga terseret lebih dalam” kataku sambil menghela nafas panjang.

“Siwon, akan aku lakukan semaksimal mungkin. Kau tahu aku tak akan memakai perasaan dalam mengambil keputusan. Aku janjikan aku akan bersikap adil” kata Seunghun mantab.

“Aku dengar Hara sudah sampai di Korea. Kau akan bertemu dengan adikmu kan?” tanya Siwon.

Aku mengendikkan bahu dan memandangi langit kota Seoul lewat jendela café.

Changmin POV

Semua berkumpul sekarang tambah kacau. Kepolisian memutuskan kalau Mavin sementara waktu harus berada dalam pengawasan pemerintah. Baik Choi Siwon maupun Lee Donghae, mereka sekarang tak bisa menyentuh Mavin.

Aku menghela nafas panjang. Donghae menenangkan Jiyeon yang menangis. Jaejoong, Hyukjae, Donghwan juga tak sabar menunggu apa yang akan aku katakan.

“Kenapa bisa Mavin malah berada di tangan kepolisian?” tanya Jaejoong.

“Prosedur” kata seseorang yang tepatnya Jaksa Wilayah Kim Junsu.

Aku mengangguk membenarkan.

“Bukankah harusnya Mavin bisa berada di bawah asuhan Donghae dan Jiyeon sampai keputusan pengadilan di jatuhkan. Harusnya tak perlu sampai ada keputusan semacam itu” kata Hyukjae dengan nada tinggi.

“Aku juga tak mengerti padahal tadi dari pihak Siwon juga mengatakan tak masalah kalau Mavin berada di bawah asuhan Donghae” kata Jaejoong.

“Choi Seunghun hanya mematuhi prosedur” kata Junsu.

Aku merasa bersalah pada Jiyeon dan Donghae sehingga lebih memilih diam saja.

“Apa polisi bisa merawatnya dengan baik?” tanya Jiyeon.

“Pasti akan aku jamin itu” akhirnya aku buka mulut.

Hara yang aku suruh datang ke kantor kejaksaan tiba-tiba memandangku lekat.

“Changmin-shi, apa hakim Choi Seunghun sebelum persidangan bicara denganmu?” tanya Hara.

Aku tak menjawab, tapi sudah cukup untuk mengisyarakatkan ‘iya’.

“Sial” ucap Hara.

“Apa yang dia katakan?” tanya Hara.

Aku menghela nafas panjang. Bukan tipeku menceritakan sesuatu pada orang lain.

“Changmin-shi, jika anda tak bicara maka aku tak bisa membantu anda. Anda tidak mengenal siapa yang berhadapan dengan anda” lanjut Hara.

Semua pandangan tertuju pada Hara. Donghae yang tadi diam saja pun angkat bicara.

“Hara apa maksudmu?” tanya Donghae bingung.

“Mianhae…. Donghae-ah. Choi Siwon, Choi Seunghun, Hwang Tiffany sebenarnya…. Sebenarnya….” Hara seperti tercekat mengatakan sesuatu.

“Jawab Hara ada apa!” Donghae mulai tak sabar dan berteriak.

“Choi Siwon dan Choi Seunghun adalah sepupu” jawab Hara lemah.

“Apa!” Kami semua membelalakkan mata. Tak aku sangka dunia begitu sempit. Sedikit-sedikit aku mulai mengerti maksud Ares dan Athena. Apa dial ah Ares-nya lalu siapa Athena-nya? Atau Siwon dan Tiffany lah pengendali perang dan dia menjadi senjatanya.

“Lalu… Bagaimana ini?” Jiyeon kembali terisak. Donghae memeluk dan mengusap punggungnya lembut.

Baru kali ini aku merasa kalah tlak. Bagaimana tidak aku serasa berada dalam kasus yang sama sekali buram.
Gelap dan bahkan seperti menteri yang tinggal menunggu rajanya di skakmatch. Kami sekarang pion yang menunggu scenario langkah macam apa yang akan terjadi.

“Tenang. Aku kenal Choi Seunghun, dia bukan orang macam itu. Dia tak akan peduli kawan, lawan. Siapapun itu baginya hukum yang paling penting” tegas Junsu.

Kuharap demikian. Terima kasih Junsu-hyung….

Kyuhyun POV

“Apa kabar dongsaeng?” kataku pada IU yang sedang membaca majalah.

“Oppa” Dia langsung memelukku erat.

“Hehehe… Kau merindukanku ya?”

Dia mengangguk semangat dalam pelukanku.

“Mana Changmin?” kataku sambil melepas pelukannya.

“Molla. Dia menelpon kalau ada urusan di kejaksaan. Tadi dia bersama Donghae uisha, Jaejoong uisha juga Hyukjae uisha.”

“Oh…. Ya, sudah kau bersama oppa saja” ujarku sambil mengelus rambutnya lembut.

“Ani”

“Mwo? Kau tidak mau?” tanyaku tak percaya akan mendapat jawaban seperti ini.

“Oppa, ke kejaksaan yah. Tolong lihat Changmin-oppa, tadi dia kelihatan sedikit pucat. Aku takut terjadi apa-apa” sambung IU.

“Ya!!!! Kau harusnya khawatirkan dirimu sendiri”

“Huwaaa….. Oppa jahat… Huwaaa…..” Kalau begini tak ada cara lain selain mengangguk setuju dan PASRAH.

“Ne…Ne..Ne…Aku kesana, tapi janji setelah tahu kabarnya main sama oppa. Oke?” Dia mengacungkan kedua
jempolnya.

Hara POV

Langkahku gontai keluar gedung kejaksaan. Aku takut jika Seunghun-oppa mengkhianati prinsipnya sendiri. Apa kau tega memisahkan anak dengan orangtuanya oppa? Bukankah kau bilang kau ingin keluarga bahagia. Oppa….

Bruugghhh…

“Mianhae…. Nona, anda…” Dia membantuku berdiri. Namja ini lagi.

“Nona” Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Tepat seperti pertemuan pertama kami.

“Nona, kau suka melamun yah?” tanyanya menyebalkan.

“Ani” jawabku cepat. Aku hendak meninggalkannya sebelum jantungku meloncat dari tempatnya, tapi tangannya masih memegang lenganku.

“Hara!” teriak Donghae dari dalam.

“Donghae-shi” gumam namja itu dan melepaskan tanganku.

Donghae POV

“Bisa aku pinjam dia sebentar?” kataku pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk dan mempersilahkan aku mengajak Hara bicara.

“Kau kenapa? Bukan salahmu kalau Choi Siwon dan Choi Seunghun adalah sepupu. Terima kasih justru memberitahu kami. Tenanglah tak aka nada yang berubah pengacara Go Hara. Kami pasti bisa menyelesaikannya” kataku dan mengacak rambutnya. Kyuhyun terlihat memperhatikan kami. Aku jadi penasaran apa hubungan Hara dan Kyuhyun sehingga mencoba menggodanya.

“Pacarmu sejak tadi terus mengamati kita. Aku tak mau dihajar olehnya. Pergi sana”
Muka Hara bersemu merah, tapi sedetik kemudian dia berteriak.

“Mwo? LEE DONGHAE KAU CARI MATI YA”

Aku terkekeh dan melambaikan tanganku menuju ke dalam gedung kejaksaan menemui yang lain.

Kyuhyun POV

Gadis yang ternyata bernama Hara itu berjalan ke arahku. Aku memasukkan tanganku ke dalam kantong celanaku dan berdiri se-cool mungkin dan memasang wajah dingin.

“Nona, kau masih ada urusan denganku” tanyaku sedingin mungkin.

Dia terlihat terkejut dengan ucapanku. Matanya melotot, tapi kemudian dia memalingkan muka dan berjalan meninggalkanku. Aku terkekeh… Menarik pikirku….

Aku memperhatikan langkahnya. Shit…..

“Awas” teriakku dan berlari ke arahnya.

Hara POV

“Namja brengsek, sialan…” Pabo Hara kenapa tadi kau terkesima pada namja seperti dia.

“Awas” aku langsung memalingkan wajahku dan melihat mobil yang melaju ke arahku. Aku menutup mataku dan tiba-tiba.

Aku seperti menghantam sesuatu yang keras. Aku tak berani membuka mataku. Ya, Tuhan apa aku sudah mati.
“Kau tak apa-apa” kata seseorang dengan suara yang terdengar khawatir.

Aku membuka mataku perlahan dan melihat namja itu berada di atasku serta orang-orang yang mengelilingi kami dengan wajah khawatir.

Refleks aku memeluknya, membenamkan wajahku di dadanya. Nafasku masih memburu, badanku sakit membentur aspal.

“Sudah tenanglah aku disini” Aku hanya diam dan memeluknya lebih erat. Dia mengangkat tubuhku dan menggendongku.

“Tidak apa, istri saya hanya shock” kata namja itu dan sukses membuatku mendongakkan wajahku.
Aku meronta berniat turun, tapi dia berbisik.

“Anggap saja kau beruntung nona. Kalau kau meronta lagi, aku jatuhkan kau sekarang. Bersikaplah yang manis” Dia tersenyum sangat menakutkan. Aku pun terdiam dalam gendongannya.

Kyuhyun POV

Dari tadi dia sepertinya sangat kesal padaku. Hanya saja semakin dia mengerucutkan bibirnya, dia te
rlihat semakin lucu.

“Kau mau apa?” tanyaku padanya. Sekarang kami sedang berada di café. Sebagai balasan aku telah menolongnya maka aku minta dia mentraktirku. Dia masih saja tak menjawab.

“Latte satu dan banana chocolate ice cream satu” Kami masih berdiam tidak ada yang memulai pembicaraan. Tidak ada ide yang muncul di kepalaku.

“Ngomong-ngomong terima kasih telah menolongku. Go Hara imnida” dia mengulurkan tangannya. Dengan senang hati, aku menerima uluran tangannya. Namun, hanya menunjukkan ekspresi datar dan cool.

“Cho Kyuhyun imnida”

Pelayan café membawakan pesananku.

“Ini untukmu” kataku dan memberinya banana chocolate ice cream.

“Gomawo” Dia merasakannya sedikit, tapi kemudian bertambah lahap. Aku tersenyum sambil menyesap latte milikku.

Kami berbincang lama hingga sore. Dia wanita yang terbuka dan menyenangkan. Aku baru tahu ternyata dia adalah pengacara yang akan bekerja di kantor pengacara keluarga Changmin. Dia juga sempat menghinaku sebagai pria yang tak sopan karena masuk ruangan tanpa permisi. Wanita yang mampu mencairkan suasana.

Hara POV

“Gamsahamnida. Malah kau yang jadinya mentraktirku. Akan aku hafalkan nama café ini, ice creamnya enak”
Dia tersenyum kecil mendengar celotehku.

“Seunghun, Siwon” Kyuhyun berbalik melihat ke arah mereka berdua.

Kyuhyun menoleh padaku dan matanya menyiratkan ‘Kau mengenal mereka?’ Mengindahkan tatapannya, aku menarik Kyuhyun.

“Kita harus bersembunyi jangan sampai mereka berdua melihat kita”

Siwon dan Seuhyun berjalan ke arah kami. Jika sampai mereka berdua melihatku tamatlah riwayatku.

Tiba-tiba Kyuhyun menarikku dan mendorongku ke tembok, tangan kanannya memegang pinggangku dan tangan kirinya memegang belakang kepalaku. Aku merasakan nafasnya hangat membuat bulu kudukku meremang, dia seolah akan menciumku. Jarak kami sangat dekat. Cukup lama kami berada di posisi ini.

“Mereka sudah pergi” katanya.

Aku memegang dadaku yang berdentum keras, pipiku panas. Bukan Siwon atau Seunghun yang ada di pikiranku, tapi Kyuhyun. Apa yang dia lakukan tadi membuat jantungku berpacu melewati batas normal.

“Gwenchana? Kau baik-baik saja” Mukanya terlihat khawatir. Aku mengangguk kecil, menunduk berusaha menyembunyikan mukaku.

“Kau berhutang penjelasan padaku nona. Siapa pria yang bersama Siwon dan kenapa kau begitu ketakutan kalau mereka melihatmu” paparnya.

Aku mendongakkan mukaku.

“Kau mengenal Siwon?” tanyaku.

Dia menatap mataku intens dan membuat jantungku kembali berpacu melebihi normal.

“Pemilik Hyundai Corp., suami dari Tiffany Hwang dan…..” kalimatnya terputus.

“Sudahlah” dia berkata tiba-tiba.

Kyuhyun POV

Dia terus menatapku saat aku sedang menyetir.

“Mengagumi wajahku yang tampan?” tanyaku tanpa melihat padanya.

Dia terdengar melengos, pasti ngambeg. Gadis ini baru saja aku mengenalnya, tapi sudah mampu membuatku tergila-gila.

“Jadi kau mengenal Siwon?” tanyanya lagi.

“Iya…. Sangat mengenalnya setidaknya dulu sebagai rekan bisnis” jawabku enteng.
“Dulu?” tanyanya lagi.

“Tak perlu kan aku ceritakan semuanya?” balasku.

Dia terdiam sesaat, sepertinya bergumul dengan pikirannya.

“Kalau Seunghun kau kenal?” tanyanya.

Aku menepikan mobilku sepertinya banyak yang harus aku ketahui.

“Katakan padaku mengenai Siwon dan pria itu”

Hara masih diam.

“Aku tahu aku orang asing bagimu, tapi ku harap kau percaya padaku. Kau sudah mengenal Changmin dan Donghae. Mereka bisa dipercaya kan? Kalau begitu bisakah kau percaya pada teman mereka?” Masih ada keragu-raguan di mata Hara.

“Hara-ya, Believe in me”

“Aku harap aku tak akan menyesal. Dengarkan baik-baik karena aku tak ingin mengulang cerita yang sama”
Aku mengangguk.

“Aku mengenal Donghae saat liburan di Kanada. Saat itu dia menolongku ketika ada segerombolan remaja berusaha menggangguku. Itu sekitar 10 tahun yang lalu, sejak saat itu kami berteman dan selalu saling membantu meski berjauhan”

Hara menatapku, aku masih terus mendengarkannya.

“Meski kami sahabat dekat dan selalu membagi segala hal, Donghae tak pernah mengetahui siapa keluargaku. Donghae hanya tahu aku hidup dengan ibuku dan aku bilang padanya ibuku satu-satunya keluarga yang aku miliki”

Aku tak menyela apapun perkataannya. Dia menarik nafas panjang.

“Donghae tak pernah tahu bahwa aku masih memiliki keluarga di Korea. Oppa, appa, serta keluarga besar. Aku tak pernah menjelaskannya pada Donghae. Bagiku Donghae sudah seperti oppaku sendiri”

Aku makin bingung dengan penjelasannya yang berbelit-belit.

“Hara-ya jika kau tak bisa cerita tidak usah memaksakan cerita padaku” Kugenggam tangannya yang berkeringat dingin.

Dia menggeleng, sambil terus menggenggam tangannya aku mendengarkan kata yang keluar dari bibirnya.

“Ya, Tuhan. Kau, Choi Siwon, Choi Seunghun adalah satu keluarga. Choi Seunghun, hakim kasus Donghae”

Aku tak percaya apa yang aku dengar dari Hara. Dia ketakutan jika Seunghun akan melukai Donghae, tapi di sisi lain Siwon juga sepupunya. Dia berada dalam posisi sulit akankah dia jujur pada Donghae dan menerima segala resikonya atau terus ketakutan memikirkan oppa kandungnya akan membuat Donghae tersakiti. Pilihannya sama sekali bukan pilihan. Seunghun, Donghae, Siwon semua berharga baginya.

“Kau tak akan cerita pada Donghae kan?” dia sudah pasrah dengan kalimat ini.

Aku menatapnya untuk meyakinkan dirinya.

“Aku berjanji padamu”

Aku mengacak rambutnya lembut berusaha menenangkannya.

“Sudah malam aku antar kau pulang” kataku padanya.

Seunghun POV

Tanpa sepengetahuan mereka, aku membuntuti mobil mereka. Hara bersama dengan Cho Kyuhyun, relasi bisnis Siwon yang diperlakukan tidak adil oleh Tiffany. Meski, mereka tadi berusaha sembunyi dengan cara bodoh macam itu. Bagaimanapun aku sudah melihat wajah mereka.

Mobil mereka menepi, menjaga jarak dengan mobil mereka aku berhenti di tepi jalan yang agak jauh agar mereka tak curiga.

Mereka pasti membicarakan sesuatu yang seriua. Cukup lama mobil Kyuhyun menepi dan akhirnya meneruskan perjalanan dan berhenti di depan sebuah apartemen.

Kyuhyun membantu Hara turun dari mobil dan

wowh… adikku ini mereka berpelukan. Sungguh adegan yang menarik, Siwon membawaku pada banyak hal menarik.

Hara POV

Kyuhyun membukakan pintu mobil untukku. Saat aku melangkahkan kaki keluar mobil, tiba-tiba aku oleng dan jatuh ke dada Kyuhyun. Bukannya segera melepaskan tangan Kyuhyun yang menopang lenganku, aku justru menikmatinya.

“Ehm… Sebaiknya kau masuk” Kyuhyun melepaskan pegangannya. Aku mengangguk dan berjalan cepat menuju apartemen tanpa berani melihat wajah Kyuhyun.

“Hara…. Have nice dream. See you” teriak Kyuhyun. Aku menoleh dan tersenyum padanya.

Have nice dream Kyuhyun. See you

Donghae POV

Jiyeon masih saja diam termenung dan berdiri di balkon padahal cuaca sangat dingin.

“Jieyonie, di luar dingin. Lebih baik kau masuk” kataku padanya. Jiyeon tidak merespon dan memandang jauh.

“Oppa, apa Mavin akan baik saja? Apa dia akan makan cukup? Apa dia minum susu dengan baik? Apa saat menangis aka nada yang menggendongnya? Apa…..” Airmata meluncur dari pipinya. Tak tahan aku melihatnya dan memeluknya. Aku usap bahunya dan mengecup puncak kepalanya.

“Dia akan baik saja. Pasti!” Meski, aku tak yakin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menenangkan Jiyeon.
Dia menangis makin keras dalam pelukanku. Aku mengeratkan pelukanku padanya.

Tuhan, tolong kami. Yoona-ya, aku harap kau berpihak pada kami. Aku tak mau airmata terus meluncur membasahi pipi Jiyeon. Kenapa justru dia yang harus tersakiti?


“Jiyeonie, aku janji Mavin akan segera kembali bersama kita. Aku janji”

Exam Lovers or Exam Haters (Introduction)

Profile : Exam Lovers or Exam Haters
Language : Indonesian
Tujuan : sarana teriak author dan menghibur pembaca yang gi pada depresi gara2 UN , UTS dll pokoknya ujian deh
Terdiri dari beberapa seri. Semuanya berkisar mengenai ujian : suka duka, cinta, persahabatan, keluarga dll. Dikemas dengan bahasa yang segar dan dibuat sekocak mungkin (tergantung storyline juga c) #blettaakkk
Cast-nya bakal banyak banget namanya juga beberapa seri dengan judul yang berbeda hehehe…. Saatnya mengeluarkan teriakan-teriakan gje versi ujian.
Ditujukan buat yang butuh penyegaran di saat-saat kritis kaya sekarang. Semua idola bisa nongol kapan aja tanpa diundang, tapi dipaksa jadi character hahaha…..
Diadaptasi dari kehidupan para siswa dan mahasiswa yang tergencet ulangan, tertindas PR, kepepet milih sekolah lanjutan, ato kuliah. Pokoknya tiap seri bakal penuh warna.
Tunggu rilisnya serial-serial “Exam Lovers or Exam Haters”

%d bloggers like this: