Tag Archives: Taemin

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 7]

Pet Kiss! Kiss! Kiss! 7

 

Harin’s POV

  Kalau aku suka padamu, kau mau jadi pacarku?

  Kalimat bertinta merah itu terus kubaca berulang-ulang tanpa berkedip. Ingin sekali aku buka mulut, menanyakan apa ia serius atau tidak. Tapi sayangnya serangkaian pertanyaan itu seperti berhenti di tenggorokan, menggumpal, dan tidak bisa keluar.

  Sekarang pilihanku cuma ada dua : tidak menjawab, makan mi lagi dan bertemu bibir dengan Key – permainan berakhir; atau menjawab dengan jujur pertanyaannya.

  Nafas Key menderu-deru di depan wajahku, membuatku semakin kacau. Aku bisa merasakan tatapan matanya tak beralih dari wajahku yang terus menunduk menghindari tatapannya, entah mencari-cari jawaban apa.

  Dengan setengah ragu aku menggerak-gerakkan spidol pink-ku di atas kertas yang kupeluk sedari tadi – seakan jawaban nyata yang ada di hatiku bisa tercetak langsung dengan jelas di atasnya dengan aku memeluknya.

  Moreugesseo. Maybe…? Tergantung kau.

  Ia mengerutkan alisnya dalam. Tidak puas dengan jawabanku sepertinya. Jelas saja, jawabanku sangat menggantung tak jelas apa artinya. Aku tahu ia ingin protes.

  Kawi Bawi Bo!

  Johta. Aku menang. Sekarang aku bisa menanyakan pertanyaan yang menempel di kepalaku.

  Jangan ketawa! Ara? Neon…naega johta?

  Matanya bermain-main menelusuri tulisan tanganku satu per satu. Aku melihat jelas wajahnya memerah, apalagi dari jarak sedekat ini. Nafasnya juga jadi tak beraturan, dan hawanya lebih panas. Apa aku menanyakan pertanyaan yang salah? .___.

  Tiba-tiba, tanpa peringatan matanya beralih menatap mataku. Di matanya tersirat binar-binar terang yang belum pernah kulihat sebelumnya – entah kenapa jadi begitu. Mungkin karena dari jarak sedekat ini aku memang bisa melihat jelas sinar matanya?

  Aku tidak yakin saat melihat Key tiba-tiba tersenyum, namun tanpa jeda tiga detik, senyuman itu berubah menjadi sebuah ciuman, yang tidak bisa kulihat namun bisa kurasakan.

  Aku sempat bingung, dan mengerutkan alisku dalam mengabaikan Key yang masih menggulum bibirku lembut. Apa Key main-main? Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaanku. Namun kebingungan itu hilang saat tangannya perlahan menggenggam tanganku erat. Ujung bibirku terangkat menjadi seulas senyuman dan membalas ciumannya.

  “Niga neomu joha…,” kudengar gumamannya di sela-sela ciuman hangatnya.

***

  Key menggenggam tanganku kuat-kuat walaupun aku masih berusaha melepaskannya. Tiap kali kutanya kenapa ia terus menggandengku alasannya sama : Apa salahnya orang pacaran bergandengan tangan?

  Aku tahu yang kalian pikirkan! Kenapa aku bisa pacaran dengannya saat beberapa hari lalu aku masih meragukan perasaanku? Well, jawabannya cuma satu.

  Aku terlalu bodoh untuk menipu diriku sendiri selama ini.

  Jangan salahkan aku kalau aku memang terlahir sebagai orang yang penakut. Pengecut, itu mungkin yang kalian pikirkan. Tapi sejauh apa aku mau menghilangkan rasa takutku – entah takut sakit hati atau takut berakhir menyedihkan, perasaan takut itu masih berbiji-akar di hatiku. Introvert. Itu satu kata yang menggambarkan diriku. Aku bukan seperti Key yang bertipe happy-go-lucky. Aku tahu menjadi orang seperti itu terkadang sangat amat bodoh di suatu moment. Seperti contohnya sekarang.

  “Key!!” desisku kesekian kalinya.

  “Tenang~” ia menepuk kepalaku seperti aku binatang peliharaannya – terbalik!!

  “Haih! Geumanhae,” gerutuku. Ia mengernyit.

  “Wae?” tanyanya. “Tidak boleh PDA? Geokjeonghajima, aku tidak akan macam-macam padamu tak peduli walaupun terkadang aku juga melihatmu sebagai seorang lady,” tangannya membentuk tanda kutip. Aku menatapnya datar.

  “Byuntae-mu tidak bisa hilang ya,” balasku datar. Ia hanya terkikik geli.

  “Eh,” panggilnya. “Igeobwa! Igeobwa!” ia menunjuk ke arah lain yang sontak membuatku memutar kepalaku.

  Jjuk~!

  Sebuah kecupat kilat ala Key yang sering dilakukan dimanapun mendarat di pipi kananku tanpa peringatan. Sengatan kecil yang kurasakan membuatku tersadar kalau dia baru saja menipuku.

  “Mwo-YAHHHH!!!!!” pekikku saat Key tiba-tiba menggendongku bridal style dan membawaku berlari ke suatu tempat. “Eodi ga?!!” seruku.

  “Heaven,” gumamnya pelan namun cukup keras untuk masuk ke telingaku. Heaven?! O.o Mau membunuhku?!

***

  Aku mendongak menikmati siraman sinar matahari di Yeouido. Matahari memang bersinar terang dan hangat. Namun karena ini sudah masuk musim gugur, angin sudah mulai sepoi-sepoi berhembus. Terasa nyaman.

  Gyut~

  Sepasang lengan yang sedari tadi memelukku mengerat, membuatku kembali ke alam sadar dan mengerutkan alisku, menepuk tangannya keras.

  “Auw!” ia melepaskan pelukannya. “Ish! Neomu apha!” gerutunya.

  “Jangan memelukku terlalu erat! Aku tidak bisa bernafas!” omelku. Ia kembali membenahi duduknya dan mengendurkan pelukannya.

  “Ireohke? Eottae?” tanyanya. Aku mengangguk-angguk dan kembali menikmati pemandanganku.

  Key mengajakku ke Yeouido park! Katanya karena tidak mungkin berlari dari Seoul ke Jeju -_-

  Ia duduk memangkuku di salah satu tempat istirahat yang nyaman. Katanya supaya rok yang kupakai tidak kotor, ia rela memangkuku.Kami sudah duduk berbincang-bincang di sini sepanjang sepuluh menit.

  “Eh,” panggilnya. “Ireona. Ireona,” ia menyuruhku berdiri. Aku mengernyit.

  “Wae?”

  “Kaja!” ia menyeretku ke tengah taman – tempat pancuran air dan kolam pendek.

  “Hah?? Wae yeogi ga?” tanyaku spontan. Ini musim gugur! Sudah sore lagi! Jangan bilang dia mau-

  Byur!!!

  “KEY!!!!!!!!!” pekikku begitu aku tercebur ke salah satu kolam pendek di sana. “Neon juggetda!!”

  Ia tertawa lebar. Dan tanpa sadar aku juga ikut tertawa saat menyipratinya dengan air. Mungkin date seperti ini bagus juga hehe.

  “Watda!!”

  “Kyaaa!!”

  Kami tertawa lebar saat Key menangkapku dalam pelukannya. Walaupun sudah basah-basahan dan tertiup angin September begini tetap saja pelukan Key terasa hangat. Hangatnya luar dalam, mengerti?

  “Kibum-ah?” panggil seseorang membuyarkan tawa kami. Masih memelukku Key berbalik, mendapati seorang wanita berambut ikal sebahu menatap kami bergantian. Aku melirik Key. Ekspresi wajahnya berubah. Rahangnya mengeras, seakan menahan marah, sedih, atau apapun itu. Yang jelas ia menjaga ekspresi yang meluap-luap supaya tidak keluar. Aku bisa merasakan auranya.

  “Wae yeogi isseo?” tanya Key dingin. Siapa yeoja ini?

  “Geunyeoga nuguya?” ia mengedik ke arahku. Heol. Itu yang seharusnya kutanyakan padanya -_-

  “Harin-ah, jibegaja,” Key berbalik menarikku bersamanya. Uh? Apa yang terjadi? ._.

  “Key!” seru wanita itu. Dalam hitungan detik ia sudah mengahmpiri kami.

  Dan aku berusaha tidak mempercayai apa yang kulihat.

  Cewek itu mencium Key. Key-ku.

***

  Aku masih mengerutkan alisku dan melangkahkan kakiku lebar-lebar. Tidak peuli Key yang tertinggal di belakang terus memanggil namaku. Aku kesal.

  “Yah!!!! Tunggu aku!”

  Aku tak mengeluarkan suara. Aku mau marah, tapi aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk marah pada Key. Itu bukan salahnya. Aku tahu. Maka dari itu aku tidak bisa marah. Tapi aku tetap kesal. Aneh kan? Kekanak-kanakan? Iya.

  “Lee Harin!!” serunya kemudian menahan tanganku. Ia memutar tubuhku menghadapnya dan menatapku tegas. Tapi itu tetap tidak menghilangkan kekesalanku. “Museun iriya?”

  Babo. Itu pertanyaan yang benar-benar bodoh.

 

Key’s POV

  Aku merasa seakan ingin menebas kepalaku sendiri saat pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Aku bisa melihat persis rasa kecewa di mata Harin saat ia mendengarnya.

  Key babo. Kau tahu persis kenapa ia marah dan masih menanyakan apa yang terjadi.

  “M-mianhae,” gumamku mengusap pundaknya. Ia menunduk terisak. “Jinjja mianhae, aku menyesal. Jalmothaeseoyo,” bisikku.

  “Kau jahat,” isaknya pelan. Aku mengangkat jempolku dan mengusap air matanya. “Sudah tahu masih saja menanyakannya.”

  “Uljima. Jebal. Aku janji sampai di rumah aku akan menceritakan semuanya, ara?”

  Ia hanya terdiam. Aku tak punya pilihan lain selain menggenggam tangannya membawanya pulang.

 

Harin’s POV

  Aku duduk diam di depan Key. Ia membuatkan aku segelas teh citrus yang sekarang mendingin dan belum kusentuh sedikit pun. Aku sekarang memang masih kesal. Tapi jujur aku lebih merasa bersalah ._.

  Aigooya! Harin-ah! Kenapa kau merasa bersalah?! Jelas-jelas ini bukan salahmu!

  Aku menepuk keningku dalam hati. Aku terlalu lemah untuk hal seperti ini! Aku butuh advisor!

  …

  BENAR!!!!

  Setelah Key menjelaskan semuanya aku akan menelepon Sungra dan Minyeon! Kalau perlu aku tanya Heerin sekalian!

  “Ehem,” Key berdeham membuyarkan lamunanku. Ugh, tapi untuk mendengarkan penjelasannya itu butuh waktu lama.

  “Kau…masih marah?” tanyanya setelah tidak mendapat jawaban dariku.

  Aku cuma menggeleng. Aku tidak marah, aku kesal – walaupun aku tahu bedanya tipis.

  “Tadi….sungguh! Aku tidak bermaksud apa-apa!” ujarnya. Aku menggeleng.

  “Eh? Wae? Kau tidak percaya? Aku-“

  “Aniya. Mideoyo,” jawabku cepat. Ia terdiam sejenak.

  “Dia yang menciumku! Aku seratus persen tidak bermaksud-“

  “Arayo,” potongku menggeleng lagi. Kali ini ia mengernyit.

  “Lalu?”

  “Siapa yeoja tadi?” tanyaku pelan. Ia terlihat terkejut sejenak seakan suaranya hilang tak berbekas.

  “G-geunyeoneun….,” gumamnya akan terbata-bata. “Jung Yoojin,” lanjutnya. Aku menghela nafas panjang. Sudah kuduga. Tepat sasaran.

  “K-kau marah lagi?” ia memiringkan kepalanya mencari view yang tepat membaca ekspresiku. Aku menghela nafas pelan.

  “Aku tidak marah,” jawabku berusaha setenang mungkin. Sekarang ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjongkok di depanku.

  “Kau bilang begitu dari tadi,” ia menatap mataku lurus-lurus. “Tapi aku tidak percaya,” balasnya serius. Sekarang aku yang menjadi takut!

  “A-aku memang tidak marah kok!” bantahku tersipu karena tatapannya yang intens dari jarak dekat. Ia masih memasang wajah serius. “Aku nggak marah! Aku cuma kesal! Uh…. Kaget juga sih…,” balasku dengan nada tak karuan. Sekarang aku merasa benar-benar canggung dan malu!

  “Apa bedanya marah dan kesal?” tanyanya memasang wajah kesal.

  “Memangnya tidak beda?” gumamku pada diriku sendiri. “Ah, bodo amat! Pokoknya beda!”

  Ia masih menatapku datar tanpa bicara. Ugh! Kenapa jadi terbalik?!!

  “Sudahlah! Aku mau telepon Sungra dulu! Kau keluar dulu sana!” gerutuku meraih ponselku. Baru aku akan memijit nomer Sungra, Key sudah menyambarnya dari tanganku.

  “Yaah! Kenapa diambil??” rengekku. Ia menatapku datar dan tajam.

  “Kenapa harus telepon? Aku tidak akan mengembalikannya kalau kau tidak mau memaafkanku,” rengeknya. Dasar keras kepala!

  “Wae andweyo? Sungra kan temanku,” rengekku.

  “Tapi-“

  Ting.. Tong…

  Aku dan Key menoleh bersamaan ke arah jendela. Nugu?

  Ia bangkit berdiri dan kuikuti ia berjalan ke pintu utama. Nuga wasseo? Eomma dan appa tidak mungking pulang jam segini. Onew oppa?

  Key membuka pintu dengan satu sentakan. Dua orang berjas, dan yeoja tadi berdiri di depan rumahku. Wae? Apa yang terjadi?!

  “Kibum-ah, annyeong,” senyum yeoja tadi membuatku ingin merobek wajahnya. Senyumnya palsu!

  “Joeseonghaeyo, anda salah alamat,” Key langsung membanting pintu membuatku terlonjak. Kudengar pintuku ketuk- aniya, dipukul dari luar.

  “YAH!!!! Jangan mengelak! Keluar kau Kibum!” pekik yeoja tadi memekakan telinga. Bagaimana yaoja itu berteriak sampai menembus pintu dan tembok rumahku? Michyeonde?!

  “Naega Kim Kibum aniya!” seru Kibum membuyarkan umpatanku pada gadis tadi. “Kalian salah orang! Aku tidak pernah menjadi bagian keluarga Kim!”

  Aku mengerjap menatap Kibum. Wajahnya, ekspresinya, tidak terbaca. Alisnya berkerut dalam. Matanya memancarkan kemarahan, tapi juga memancarkan kesenduan.

  “Yah, nan baboga aniya,” dengus cewek tadi. “Nawaya ppali!”

  Key melirikku. Ia berjalan mendekat ke arahku.

  “Harin-ah, geu yeojaga sireunji?” tanyanya. Aku mengernyit.

  “Jom…..,” gumamku pelan.

  “Benci juga boleh. Bagus malah. Kaja ikut aku!”

  Hah?

***

  Aku mengernyit menatap ember berisi air bekas cuci baju yang diberikan Key kepadaku.

  “Naega wae????” desisku meliriknya tajam. Ia barusan saja menyuruhku membuang air itu keluar jendela lantai atas. Dengan kata lain menyiram yeoja yang masih ribut di pintu depan rumahku dengan air deterjen.

  “Bukankah ini mudah? Geunyeo moksori jinjja jajjeungna, aku tidak betah mendengarnya,” rengeknya. Aku mengehal nafas lalu meletakkan embernya di tepi balkon, mengambil ancang-ancang – karena ember ini berat sekali!

  Tapi seakan adavyang mendengar keluhanku ember dan beserta isinya itu jatuh. Oops…..

  “KYAAAAAAA!!!!” pekik gadis tadi setelah ia menjadi basah kuyup dan tertimpa ember. Ini yang dinamakan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

  “Daebak!!!!!” pekik Key girang. Aku melirik ke yeoja tadi yang menghentakan kakinya ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari rumahku. Aku yakin yeoja tadi akan datang lagi.

***

  Key sedang berbaring di ranjangku membalut dirinya dengan selimut. Aku yang sedari tadi duduk manis di meja belajar mengerjakan pe er langsung membalik kursiku menatapnya.

  “Key,” panggilku. “Geugeo…..Tadi kenapa bilang kau bukan keluarga Kim?”

  Ia menywmbulkan kepalanya dari dalam selimut. “Aku mwmang tidak mau bermarga Kim,” gumamnya. Ia kemudian melirikku. “Ah! Aku maunya semarga denganmu!” serunya.

  “Bagaimana bisa?” tanyaku mengernyit. “Margaku kan Lee,” balasku. Ia kemudian memeluk gulingku.

  “Siapa bilang harus bermarga Lee? Kalau kau menikah denganku kan kita jadi semarga. Kim Harin, eotteohke?” tanyanya mengedipkan sebelah matanya. Aku menatapnya datar.

  “Kau bilang tidak mau marga Kim?” tanyaku. Entah sejak kapan ia jadi ada di sampingku, melemparkan lengannya ke bahuku.

  “Asal semarga denganmu aku mau,” ia tersenyum lebar. Aku hanya mengernyit dan melanjutkan pe erku.

  “Oh iya, lusa seolnal,” gumamku memutar kepalaku menghadapnya. Ia mengerutkan alisnya. “Waeyo?”

  “A-ani…. geurom, besok malam aku harus pergi. Jangan cari aku sampai awal musim semi selesai ara?”

  “Mwoya?” seruku. “Awal musim semi kan lama sekali?” Sebenarnya kenapa sih??

  “Pokoknya jangan cari. Musim semu itu berbahaya tahu,” gumamnya. “Aku tidak bisa menjelaskan sekarang,” entah hanya aku atau memang kenyataan wajahnya sesikit merah. Dis marah?

  “Kalau tidak ketemu kau jadi anjing terus? Lalu kau mau tinggal di mana?” tanyaku. Padahal aku ingin merayakan seolnal bersama Key…

  Ia tersenyum dan mengelus kepalaku. “Gwaenchanha. Aku tidak akan hilang selamanya kok!”

  Ahhh…. Musim semi tanpa Key….

 

To Be Continued…

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 2]

Key’s POV

  Ugh… Panas sekali kamarku?! Sempit pula!

Aku langsung membuka mataku dan melihat Harin yang masih tertidur pulas sambil memelukku. Ah, ani. Memeluk aku dalam wujud anjing. Ternyata aku sudah berubah dalam semalam.

Aku berusaha melepaskan pelukan Harin dari badanku yang menyusut. Sebenarnya kemarin aku dipaksa tidur di lantai saja beralaskan selimut. Tapi karena kedinginan aku menyelinap ke kasurnya. Jangan katakan ini pada Harin! Aku harus segera kembali ke lantai sebelum dia bangun!

  KRIIIIING!!!

Suara alarm di meja mengejutkanku. Aku melirik ke arah Harin yang masih saja tidak mendengar suara jam-nya. Babo.

Aku dengan susah payah melompat ke atas meja untuk mematikan alarm itu. Dasar Harin babo. Untuk apa memasang alarm kalau tidak mendengarnya? Eh tunggu, hari ini dia sekolah bukan? Hemm… Di mana ya kalungku?

Mengobrak-abrik meja Harin, aku akhirnya menemukan kotak berisi kalung anjingku. Key. Ha. Bukankah itu nama yang keren? Tentu saja karena aku ini orang yang keren~

Aku menggigit ujung kalung itu berusaha melingkarkannya di leherku. Aish! Ini lebih sulit dari yang kukira. Sepertinya ini tidak akan berhasil kalau aku tidak meminta bantuan tuanku.

“Woof! Woof!” aku menyeret kalung itu kembali ke kasur Harin. Dengan bersusah payah aku berusaha membangunkannya.

YAH!! LEE HARIN IREONA PPALI!!

“Woof!!!” aku menarik-narik piyamanya. Jinjja! Yeoja atau bukan sih?!!

Harin’s POV

“Hnngg…,” erangku merasakan sesuatu berbulu masuk ke dalam bajuku. Aish! Mengganggu tidurku saja.

“Woof!! Woof!!”

Eh? Suara anjing? Sejak kapan di rumah ada-

KEY!!!!

“YAH!!” pekikku langsung duduk dan menarik ekor Key keluar dari bajuku. “Kau!! Byuntae!!!”

“Woof!” anjing itu menatapku dengan tatapan aneh seperti sedang mengejek.

“Mwo?” tanyaku dengan nada datar. Ia kemudian membawakanku kalung anjing kemarin. “Eh?”

“Woof! Woof!”

Hah… Sepetinya ia ingin aku memakaikannya kalung.

“Ne. Ne. Arasseo,” gumamku meraih kalung itu. Pelan-pelan kulingkarkan di lehernya.

Baru saja selesai kupakaikan ia tiba-tiba melompat ke arahku.

 Oh no. Jangan lagi…

PUFF!

Lagi-lagi aku tertindih Kibum yang sudah kembali mmenjadi manusia. Bibirnya masih tepat berada di bibirku. Aku mengerjapkan mataku dan berusaha mendorongnya.

 Ugh! Sial! Tangannya menahan tanganku!!

Continue reading

[BONUS] Deuxième Vie – The Second Life

 

BRAKK!! Aku berlari ke arahnya. Menangis. Kulihat tubuh mungilnya tergeletak tak berdaya di jalan. Darah mengalir keluar dari kepalanya. Aku menangis sambil terus memanggil-manggil namanya. Ia membuka matanya. Ia berbisik dan tersenyum padaku,”Tenanglah, Yeonhyo-ah. Aku akan kembali lagi. Pasti. Aku akan kembali sebagai diriku..” Aku tidak dapat mendengar hembusan nafasnya lagi. Aku menangis. Pikiranku kosong. Aku mematung melihat tubuhnya dibawa oleh mobil ambulans.

***

Yeon Hyo’s POV

     “Taemin!!!,” aku berteriak. Aku terjaga dari tidurku dengan bayang-bayang  orang itu.

     “Yeonhyo-ah?” tanya eomma dari luar kamar. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk tenang.

     “Ne, gwaenchana,” jawabku. Aku beranjak dari tempat tidurku. Aku menyeret kaki-kakiku ke kamar mandi dan melakukan aktivitas seperti biasanya.

     “Yeonhyo-ah, jangan lupa pukul 10 nanti kamu-”

     “bertemu CALON tunanganku,” kataku menyambung kata-kata appa. Huh! Appa menyebalkan! Setelah lulus SMA nanti aku akan bertunangan dengan anak rekan kerja appa. Katanya ia akan mengingatkan aku pada masa kecilku. Aku malas. Masa kecilku mengenaskan. Cinta pertamaku meninggal tepat di depan mataku. Taemin. Lee Taemin. Sahabatku dari kecil yang tidak pernah suka melihat aku menangis. Dia meninggal tepat di hadapanku saat kami masih 7 tahun. Ia tertabrak truk yang lewat saat menyeberang jalan. Saat itu ia ingin menghampiriku. Menghampiriku yang sendirian.

     “Yeonhyo-ah, cepat sarapannya! Kau juga harus berdandan! Sebentar lagi pukul 9.30! Ppali!” perintah appa membuyarkan lamunanku. Aku mendengus dan pergi ke kamar untuk berdandan. Aku memakai gaun yang dibelikan eomma kemarin, sedangkan rambutku kubiarkan tergerai menuruni pundak dan punggungku. Kuturuni tangga lalu berjalan gontai ke arah pintu.

     “Ya! Yeonhyo-ah! Ppali!!” teriak appa. Aku pun berlari kecil menuju mobil. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat keluar jendela. Bosan.

***

     Di hadapanku sudah ada keluarga calon tunanganku itu. Ia belum memperkenalkan dirinya pada kami karena baru tiba di sini.

     “Annyeong. Jeoneun Lee Taemin imnida.”

     Aku tersentak. Dia? Lee Taemin?? Dia kembali? Benar-benar kembali?!

      “Mwo?” tanyaku dengan sedikit keraguan.

       “Lee Taemin imnida. Wae?” tanyanya keheranan. Tidak mungkin seorang Lee Taemin kembali lagi! Apalagi dia lebih tua setahun dariku. Lee Taemin yang dulu seumuranku! Tapi apa mungkin Taemin benar-benar kembali? Aku sendiri yang mengharapkan ia kembali…Apa ia benar-benar Taemin?

       “Yeonhyo-ah?” tanya appa membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum pada mereka.

       “Aigoo… Manisnya! Tidak salah kami menjodohkan Yeonhyo dengan Taemin,” kata Lee ahjumma. Aku hanya diam lalu menghela nafas. Aku tidak memperhatikan pembicaraan mereka selanjutnya.

       “Yeonhyo-ah,” panggil Taemin padaku. Aku menoleh ke arahnya lalu mengernyit heran. Ia tersenyum dan menarik tanganku perlahan,”Kajja, ikut aku.”

       “Andwae,”  gumamku menepis tangannya. Ia tetap menangkap lenganku dan menarikku keluar dari restoran. Ia mengajakku ke taman di samping restoran. Ia mendudukkanku di bangku taman. Lalu ia sendiri duduk di sampingku.

      “Membosankan bukan?” tanyanya. Aku hanya diam sambil mengikuti langkahnya. “Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu.”

      “Mwo?”

       “Kau tahu masa laluku?” tanyanya tanpa melihat ke arahku. Aku mengernyit lalu menggeleng, ”Ani.”

     “Jinjja? Aku merasa pernah mengenalmu,” balasnya lalu berpaling melihatku. Aku mengerutkan dahiku. Apa maksudnya?

      “Jinjjayo. Aku tidak mengenalmu. Tapi aku punya teman yang namanya sama denganmu,” jawabku jujur. Orang ini aneh. “Wae?” lanjutku.

       “Ani. Aku dulu pernah kecelakaan di Paris. Tertabrak truk saat aku hendak menghampiri temanku di seberang jalan. Aku koma selama setahun, bahkan mungkin tidak bisa diselamatkan lagi. Tapi setahun setelah kecelakaan itu aku akhirnya sadar, tapi aku harus kehilangan memoriku. Itu saja yang  aku tahu dari orangtuaku,” jawabnya. Aku menghentikan langkhku lalu terdiam. Kejadiannya mirip dengan apa yang dialami Taemin yang dulu! Hanya saja dia masih tertolong. Dan…

       “Paris?”

       “Ne. Aku dulu tinggal disana.”

       “Aku tidak tahu tentangmu. Aku tidak pernah tinggal di Paris.”

       “Oh.. Kalau begitu bagaimana dengan temanmu itu? Di mana dia sekarang? Kelihatannya orang yang baik. Aku ingin sekali bertemu dengan orang yang mirip denganku.”

       “Ne. Memang dia baik,” gumamku lirih, ”Kajja. Kita akan mengunjunginya,” lanjutku. Aku menarik tangannya dan menghentikan sebuah taksi. Kami akan menemuinya. Benar-benar menemuinya.

***

Taemin’s POV

          Choi Yeon Hyo. Dia mirip sekali dengan teman masa kecilku dulu. Catherylle. Appa menunjukkan fotonya padaku. Tapi dia tidak mengenalku. Aku juga tidak ingat apapun tentang Cahterylle. Tapi aku merasa mengenal Yeon Hyo. Tapi ia bilang punya teman yang namanya sama denganku. Ia sedang mengajakku ke tempat temannya itu.

          Menghela nafas, aku memutar kepalaku menatap luar jendela. Hari iniSeoulagak mendung. Musim gugur seperti ini memang rentan sekali hujan, apalagi ini sudah menjelang akhir  musim gugur. Mataku terus menatap jalanan yang sepi sebelum akhirnya aku tahu arah tujuan kami. Ini….

Author’s POV

       Seorang gadis ber-sweater biru langit menarik seorang pria menuju ke kuburan di pinggiran kotaSeoul. Mereka berhenti di sebuah gundukan tanah dengan nisan dengan ukiran nama Lee Taemin. Pria yang ditariknya tadi mentap nisan itu sambil mengerutkan keningnya.

       “Itu bukan akukan?” tanyanya pada gadis itu menunjuk ke dirinya sendiri. Gadis itu hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.

       “Choi Yeon Hyo? Gwaenchana? Ne chinguya?” tanyanya lagi. Gadis itu masih terdiam sampai akhirnya ia mengangguk pelan. Ia mulai terisak. Taemin merasa bersalah pada Yeon Hyo. Ia menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Yeon Hyo tetap menangis. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.

        Tidak ingin melihat Yeonhyo menangis, Taemin pun menuntunnya menuju ke taman di dekatsana.Tamanitu sangat sepi. Ia mendudukkan Yeon Hyo pada ayunan, sedangkan dia sendiri berjongkok di hadapan Yeon Hyo. Ia menatap lekat-lekat gadis berambut cokelat terang panjang itu. Perlahan-lahanYeon Hyo sudah mulai tenang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat kepalanya dan memandang Taemin.

       “Kau..,” bisiknya. Taemin hanya terdiam.

       “Kau mirip sekali sepertinya,” ujar Yeon Hyo lirih. Taemin  hanya diam memandangnya.

        “Kau menyukainya bukan?” tanya Taemin setelah jeda beberapa detik. Yeonhyo menatap Taemin sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

       “Kalau begitu anggaplah aku adalah dirinya yang kembali untukmu,” balas Taemin. Ia mengelus kepala Yeon Hyo lalu berdiri, “Tapi aku juga ingin dicintai seperti apa adanya diriku.”

        Yeonhyo terdiam. Ia tidak tahu apakah ia bisa senang karena Taemin kembali atau sedih karena yang sekarang di hadapannya bukanlah Taemin yang dulu.

       “Kajja, kita pulang sekarang,” ajakn Taemin sambil mengulurkan tangannya. Yeon Hyo ragu sejenak sebelum meraih tangannya lalu mereka berjalan beriringan melewati jalan setapak keluar taman.

***

Taemin’s POV

       Kurasa aku mulai menyukainya. Aku benci melihatnya menangis. Seakan aku ingin selalu memeluknya. Padahal awalnya aku tidak mau dijodohkan dengannya. Aku merasa sangat dekat dengannya. Tapi satu hal yng kutakutkan. Ia terlihat tidak tertarik dengan perjodohan ini. Ia juga menyukai temannya itu. Kurasa aku harus menunggunya melupakan temannya itu. Aku akan membuatnya berpaling padaku. Aku tak tega melihatnya bersedih terus.

        Sepanjang perjalanan pulang kami saling berdiam diri. Sampai akhirnya aku bertanya padanya,”Yeon Hyo-ah, boleh aku tahu kapan ia meninggal dan apa sebabnya?” ia terdiam sejenak.

       “Dia meninggal saat berumur tujuh tahun. Dia tertabrak truk saat menyebrangi jalan untuk menghampiriku di seberang jalan. Mirip denganmu bukan?” jawabnya tersenyum kecut. Aku terkejut mendengarnya. Aku juga mengalami kecelakaan pada umur tujuh tahun dan bahkan koma sampai setahun!

       “J-Jinjja??” tanyaku lagi. Dia menatapku,”Ne, tentu saja. Aku juga berusia tujuh tahun saat itu. Wae?” ia balas bertanya.

       “Ani,” jawabku lalu kembali meneruskan langkahku. Ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan hal yang ku sendiri tidak yakin kebenarannya.

        Setelah beberapa lama kami berjalan, akhirnya kami tiba di rumah keluarga Choi. Rumah mereka tidak jauh dengan rumahku. Setelah Yeon Hyo masuk ke rumahnya, aku memutuskan untuk langsung pulang.

         Aku berjalan sambil memandangi kakiku melangkah perlahan-lahan menyusuri jalanan diSeoul. Baru saja aku akan menyebrang jalan, aku melihat seorang anak kecil di pinggir jalan. Ia terlihat kesepian. Merasa kasihan aku pun menghampirinya,”Annyeong. Sudah sore begini kenapa kamu tidak pulang?” ia menatapku heran. Mungkin dia pikir aku ini ahjussi yang aneh.

       “Aku sedang menunggu temanku, ahjussi,” jawabnya menatapku. Aku memiringkan kepalaku. Sepertinya kau pernah melihatnya.

       “Siapa namamu? Di mana temanmu sekarang?” tanyaku tak tega meninggalkannya.

       “Namaku-”

       “Choi Yeon Hyo!!” teriak seorang anak laki-laki di seberang jalan berlari ke arah kami. Aku membulatkan mataku. Choi Yeon Hyo? Lamunanku terhenti ketika aku mendengar suara benturan yang sangat keras dari seberang jalan.

       “Taemin!!” teriak gadis tadi. Tunggu! Apa tadi? Taemin? Aku?

       Aku melihat anak laki-laki tadi tergeletak di jalan berlumuran darah. Aku dan gadis tadi berlari menghampirinya. Namun tiba-tiba pandanganku mengabur dan seakan berputar-putar. Aku memejamkan mataku sambil memijat pelipisku sampai akhirnya suara klakson mobil yang sangat keras terdengar. Aku membuka mataku dan mengerjapkannya sejenak. Aku tidak mendapati anak-anak tadi disana. Ke mana mereka?

       “Hey! Kenapa masih berdiri disana? Kau mau mati?” bentak seorang pengemudi truk di belakangku. Aku baru sadar kalau aku sedang berdiri di tengah jalan.

       “Joeseonghamnida,” jawabku langsung menepi. Ini aneh! Di jalan tadi tidak ada bekas darah sedikit pun. Padahal gambaran kecelakaan tadi terus terbayang di pikiranku. Aku merasa ingat akan sesuatu. Anak tadi mirip denganku! Dan aku sendiri merasa familiar dengan kejadian tadi.

       “Catherylle..? Catherylle..? Choi Yeon Hyo?” aku terus menggumamkan kedua nama itu. Entah mengapa mereka begitu mirip di mataku. Lagipula aku sudah sebelas tahun tidak mendengar kabar tentang Catherylle. Entah ke mana ia sekarang.

       “Taemin-ah?” panggil seseorang mengejutkanku. Ternyata aku sudah tiba di rumah. Appa memanggilku dari kejauhan lalu berlari menghampiriku.

       “Kau kenapa tidak masuk? Kajja. Sebentar lagi makan malam.”

       “Ne, appa.”

***

Yeon Hyo’s POV

       Aku membuka mataku dan melihat ke arah jendela. Cahaya matahari sedikit demi sedikit menembus celah jedelaku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku sambil berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku. Tapi aku langsung merapatkan selimutku saat merasakan dinginnya angin pagi ini. Sekarangkanmusim gugur. Tiba-tiba aku langsung membuka mataku dan membulatkannya

       “Omo! Jam berapa ini?!” teriakku baru tersadar kalau liburan sudah berakhir. Aku segera melihat jam weker di meja dan ternyata dua puluh menit lagi aku sudah harus tiba di sekolah! Aku segera pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Aku berlari menuruni tangga dan mendapati orangtuaku sudah tidak ada disana. Duh! Kenapa tidak membangunkanku dulu! Aku membuka pintu rumah dan berniat berlari sekencang-kencangnya ke sekolah, karena aku tidak suka naik mobil dan tidak bisa naik motor. Tapi seorang ternyata sedang menungguku. Dia tidak lain adalah Taemin. Ia sedang duduk di motornya yang diparkir di depan gerbang rumahku. Aku mengernyitkan alisku keheranan. Lalu kulihat dia mulai menyadari kehadiranku disana. Ia menunduk dan mengisyaratkanku untuk naik ke motornya. Akhirnya aku pun terpaksa naik, karena itulah fasilitas terakhir yang aku punya.

       “Annyeong,” gumamnya. Aku hanya bergumam tak jelas sebagai balasan. “Aku bolehkan mengantarkanmu tiap pagi?” tanyanya. Aku terdiam sejenak. Mengantarkanku?

       “Kalau kau repot tidak usah,” jawabku pelan.

       “Ani. Aku tidak repot,” balasnya sekaligus akhir dari perbincangan singkat kami.

       “Gomapseumnida,” ujarku menunduk ke arahnya saat kami tiba di sekolah. Ia tersenyum dan mengacak-acak rambutku,”Ne, cheonmaneyo.”

        Aku langsung menunduk saat kurasakan wajahku memanas. Aigoo! Dia manis sekali kalau tersenyum seperti itu! Dia baik pula! Aish! Kenapa dia ini sangat mirip dengan Taemin yang dulu, ya? Aku senang kalau dia kembali. Tapi itu mengingatkanku kembali pada perkataannya beberapa hari yang lalu. Ia ingin dicintai sebagai Taemin yang sekarang. Aku berbalik dan berjalan masuk sebelum terlambat.

       Pelajaran sekolah berjalan seperti biasanya. Seperti biasa aku terus surat-menyurat dengan sahabatku, Soo Yeon. Mungkin karena nama kami sama-sama mengandung Yeon, seleraku dan Soo Yeon banyak yang sama.

       “Yeon Hyo-ah,” panggilnya setengah berteriak saat istirahat. Dia memang selalu berteriak seperti itu.

       “Hm?” gumamku sambil tetap terfokus pada buku setebal kamus di hadapanku.

       “Hentikan dulu , dong hobi membacamu itu! Lihat matamu itu! Matamu itu sudah bagus, jangan merusak mata dengan membaca tulisan sebesar semut begitu sepanjang hari!” omelnya. Dia suka sekali mengomel ketika melihatku bergulat dengan bacaan-bacaan yang tebal.

       “Nanti saja. Aku sedang sibuk. Kalau kau mau ke kantin, ke toilet dan lain-lain, silahkan pergi duluan. Nanti aku menyusul,” jawabku masih belum beralih dari bacaanku. Ku lihat dia berjalan gontai keluar. Aku hanya terkekeh melihat sift kekanak-kanakannya itu.

       Tidak lama setelah itu aku mulai merasa bosan. Kututup bukuku dan berjalan keluar berniat mencari Soo Yeon. Aku berjalan ke taman – karena biasanya dia suka bermain disana. Tapi setibaku disanaaku sama sekali tidak melihat sosok Soo Yeon.

       Pandanganku terhenti pada seseorang di bawah pohon maple di taman. Aku melihat juga ada seorang lagi yang berlari ke arahnya.Aku memicingkan mataku dan menatapnya lekat-lekat. Aku terlonjak kaget begitu menyadarinya. Lalu kugosok-gosokkan punggung tanganku pada mataku berulang-ulang. Mungkin Soo Yeon benar kalau mataku mulai terganggu. Aku agak ragu dengan pengelihatanku saat itu. Tapi ternyata benar! Mereka, dua anak kecil itu adalah aku dan Taemin! Kami sering bermain disanasaat kami masih kecil! Persis seperti apa yang sekarang terjadi!Adaapa ini?

        Aku mengerejap-kerjapkan kedua mataku. Yang benar saja! Aku masih ada di tahun 2012kansekarang?! Mana mungkin aku kembali ke masa lalu? Lalu aku mengangkat wajahku kembali menatap ke arah pohon maple itu. Mereka hilang. Sudah kuduga. Ini hanya imajinasiku saja. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Di bawah pohon itu, aku dan Taemin pernah mengubur sepucuksurat tepat sehari sebelum ia kecelakaan. Aku langsung berlari kecil ke arah pohon itu dan berjongkok di depannya. Aku ingat betulsuratkami itu kami kubur di sini. Tapi karena  aku masih waras dan masih berpikir dengan akal sehatku, aku tidak menggalinya. Iya lah! Nanti kalau seragamku berlumuran tanah aku bisa dihukum sonsaengnim menyapu halaman sekolah sepanjang musim gugur. Bayangkan saja, sekolah sebesar Singapura begini dengan pohon-pohon maple hampir di setiap sudut taman yang sedang menggugurkan daunnya harus kusapu sampai bersih mengkilat. Aigooya..! Mungkin lain kali saja aku gali. Lagi pula aku dan Taemin sudah berjanji akan menggalinya menjelang kelulusan kami. Aku menghela nafas lalu berbalik dan mendapati Soo Yeon berdiri di hadapanku. Ia mengerutkan keningnya. Tentu saja, dia tidak tahu tentang Taemin. Sama sekali tak tahu.

       “Sedang apa kau? Kau pikir aku sedang sembunyi di bawah tanah itu?” tanyanya dengan nada menyindir.

       “Hehehe,” tawaku sambil mengangguk. Aku lupa kalau ingin mencarinya.

       “Aish! Ppaboya!!” gerutunya sambil berusaha memukul kepalaku.

       “Soo Yeon, jangan memukul kepala orang lain. Nanti kau dipukuli terus sama namja chingu-mu,” jawabku terkikik sambil menghindari pukulannya. Dia diam sambil menggerutu.

       “Bagaimana dengan tunanganmu?” tanyanya tiba-tiba memandangiku dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

       “Calon,” tambahku datar. Kulihat ia mendengus kesal. Aku memang suka sekali mengerjainya. Menyenangkan!

       “Apanya yang bagaimana? Biasa saja,” lanjutku. Kini aku yang memandang langit dengan pandangan menerawang.

       “Apa kau suka padanya?” tanyanya lagi. Dia memang cerewet dan banyak bertanya. Tapi karena pertanyaanya aku jadi lebih terbuka pada diriku sendiri. Yah.. Tidak baik ‘kan kalau harus selalu membohongi diri sendiri.

       “Molla,” jawabku pendek. Aku tahu Soo Yeon tidak akan puas mendengarnya. Tapi itulah adanya. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi padaku sekarang. Seperti sedang berjalan di atas lautan. Tidak akan tahu kapan ombak akan datang.

       “Haish! Kau ini!” serunya kesal.

       “Tapi mungkin tak butuh waktu lama bagiku untuk menyukainya,” kataku sambil memaparkan smirk-ku. Ia memutar kepalanya ke arahku.

       “Mwo?” tanyanya keheranan. Aku hanya tersenyum kecil.

       “Aku juga belum tahu pasti,” jawabku masih santai. Kurasa ia makin bingung saja. Tapi memang firasatku bilang begitu. Aku tidak tahu sebenarnya aku menyukai Taemin yng mana.

       Sekolah sudah berakhir. Ternyata Taemin juga datang menjemputku. Ia tersenyum padaku saat melihatku muncul di gerbang sekolah.

       “Annyeong,” sapanya. Aku tersenyum. Dia baik. Sapaan dan gayanya persis seperti Taemin yang kukenal dulu. Tapi da yang membuatnya berbeda.

***

Taemin’s POV

       Setiap hari aku mengantar Yeonhyo ke sekolah lalu menjemputnya juga. Sudah setahun lebih dan itu sudah menjadi kebiasaanku. Dia baik. Sangat baik padaku. Hanya ada stu hal yang mengganjal di pikiranku. Apakah ia masih mencintai temannya itu?

       Tidak terasa sebentar lagi adalah hari kelulusannya. Hanya dua bulan menjelang kelulusan. Itu berarti hanya dua bulan menjelang pertunanganku dengannya. Tapi aku sama sekali belum tahu bagaimana perasaannya padaku. Ia seakan-akan menggantungkan perasaanku begitu saja. Jujur aku sangat ingin dicintai seperti aku sekarang, bukan karena kesamaanku dengan temannya itu.

       Hari ini sepulang sekolah, aku mengajaknya ke taman dekat sekolahnya. Aku ingin berbincang-bincang dengannya. Mungkin aku akan merasa terlahir kembali. Entahlah, sebelum aku bertemu dengannya aku tidak merasa hidup.

       Aku menggandeng tangan kecilnya. Sebentar lagi salju pertama akan muncul. Hari ini dingin sekali. Dan dia lupa membawa sarung tangannya. Aku berjalan beriringan dengannya melewati jalan. Dia ternyata lumayan tinggi. Tingginya se-daguku. Saat aku tengah sibuk memperhatikan tinggi badannya, tiba-tiba ia berhenti sambil melihat ke arah sebatang pohon maple tua. Aku merasa pernah kesana. Entah kapan dan di mana. Ia pun menyeretku sambil berjalan perlahan ke arah pohon itu. Aku terus mengikutinya. Ia berhenti dan berjongkok di depan pohon. Ia mengikis-kikis lapisan tanah dengan sebantang ranting.

       “Waeyo?” tanyaku.

       “Mencari harta karun masa kecil. Mau ikut?” tawarnya tanpa melihat ke arahku. Aku melihat sekelilingku dan menemukan sebatang ranting yang agak tebal.

       “Ne,” jawabku singkat sambil berjongkok ikut membantu.

       “Gomawoyo, Taemin-ya,” bisiknya dengan nada yang girang. Aku terus melanjutkan galianku. Tak berapa lama kemudian, aku merasa ada benda keras di permukaan tanah yang kugali.

       “Ini?” tanyaku padanya. Ia melihat ke arah yang kutunjuk lalu tersenyum senang.

       “Jeongmal gomawoyo,” ucapnya lalu mencoba mengambil barang itu dari tanah. Sebuah botol. Botol bening dengan penutup botol dari busa karet. Di dalamnya ada dua lembar gulungan kertas yang masing-masing diikat pita dengan warna yang berbeda. Dia membuka botol itu lalu mengambil gulungan berpita biru.

       “Ini permintaan sahabatku waktu kami masih kecil. Kami sudah berjanji akan membukanya masing-masing menjelang kelulusan kami,” katanya. Aku agak merasa sakit saat mendengar itu milik sahabatnya. Mungkin butuh waktu lama untuk menaklukkannya.

        Ia membukasuratitu lalu membacanya. Tapi tiba-tiba dia mematung lalu menatapku. Aku agak takut melihatnya begitu. Tapi tiba-tiba dia memelukku dan menangis.

       Ia masih menangis dalam pelukanku. Tapi aku tidak mendengar isakan sedihnya dulu saat di makam temannya.

       “Waeyo?” tanyaku padanya.

       “Aku-”

       “Taemin?” panggil seseorang memotong perkataan Yeon Hyo. Aku dan Yeon Hyo menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang yeoja berambut cokelat gelap dan mata abu-abu menatapku sambil tersenyum. Ia memanggilku? Aku menunjuk diriku untuk meyakinkan diriku sendiri. Ia mengangguk. Aku berdiri perlahan sambil menggandeng Yeon Hyo. Kami berjalan ke arahnya dengan sedikit ragu. Aku merasa tak sedikit pun mengenalnya.

       “Nuguseyo?” tanyaku pada wanita itu. Ia tersenyum melihat tingkahku.

       “Ini aku ppabo! Kau masih belum ingat,ya? Ini aku, Catherylle,” jawabnya. Aku tersentak. Mwo?! Catherylle? Sama sekali tidak mirip dengan Yeon Hyo! Berbeda dengan foto masa lalunya!

       “M-mwo?? Jinjja?” tanyaku.

       “Jinjjayo. Aku teman SD-mu dulu di Paris. Tidak ingat?” tanyanya lagi.

       “TemanSD?” tanyaku bingung.

       “Ne, hanya teman SD, makanya kau tidak ingat aku. Iyakan?” Aku jelas terkejut. Hanya teman SD? Bukannya kami sahabat yang selalu sekelas dulu?

       “Aku maklum kok kalau kau tidak ingat. Kita hanya pernah sekali sekelas. Setelah itu kau kecelakaan dan aku pindah ke Jepang.” Mwo??! Masa sih? Kata eomma dan appa aku selalu sekelas dengan Catherylle dari TK dulu. Kurasa eomma sudah salah memberiku informasi -_-

       “Nugu?” tanyanya padaku seraya menunjuk Yeon Hyo.

       “Jeoneun Choi Yeon Hyo imnida,” jawab Yeon Hyo sambil menunduk. Aku baru sadar bahwa Yeon Hyo agak menggigil. Jelas saja, angin berhembus kencang sekarang. Aku langsung merangkul pundaknya.

       “Dia calon tunanganku,” sambungku tersenyum. Kulirik wajah Yeonhyo yang merona terang itu.

       “Wah! Chukhahaeyo Yeon Hyo-ssi,Taemin-ah!”, balas Catherylle.

       “Gomawo,” ucapku dan Yeon Hyo bersamaan. Wajahnya makin memerah.

       Kami bertiga berjalan beriringan. Sekarang terserah. Mau Catherylle itu hanya teman ataupun sahabat, yang penting sekarang kami semua lengkap. Dan yang kuncintai hanyalah Yeonhyo. Kami berjalan kelilingkotamenikmati hari pertama musim dingin. Semua terasa begitu indah.

***

Yeon Hyo’s POV

       Catherylle De Vinsche. Seperti nama tempat huh? Bukan. Dia teman Taemin. Kata Lee ahjussi, dia adalah sahabat Taemin. Tapi aku kaget mendengar bahwa mereka hanya teman SD. Taemin sendiri sepertinya begitu. Tapi suasana segera mencair. Kami cepat akrab. Berbeda dengan dinginnya salju yang tidak bersahabat. Aku merasa tidak ingin hari-hari indah ini hancur.

       Hari-hari berlalu begitu cepat. Aku sering sekali merasa canggung berada di dekat Taemin. Namun rasa canggung itu sendiri juga disertai rasa nyaman dan hangat. Tapi bayang-bayang Taemin yang dulu juga tak kunjung hilang dari benakku. Aku jadi merasa bersalah pada Taemin. Aku tidak mungkin hanya mencintainya karena ia mirip dengan Taemin-ku dulu. Ini benar-benar rumit.

       Sebuah tepukkan mendarat di pundakku menyadarkanku dari lamunanku. Aku mendongak dan mendapati Taemin sedang tersenyum sambil menyodorkan es krim vanilla padaku. Aku ikut tersenyum sebelum meraih es krim itu dan mulai melahapnya. Ia duduk di ayunan di sebelahku sambil mengayunkannya ringan.

        “Yeonhyo-ah,” panggilnya menunduk menjilati es krimnya.

        “Ne?”

        “Boleh aku bertanya?” ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap kedua kakinya.

        “Kau sedang bertanya,” balasku santai. Ia memutar kepalanya mentapku.

        “Di hatimu, seberapa besar ruang untuk Taemin kecilmu?” tanyanya lirih. Aku terdiam. Sebesar apa?

        “Mollayo,” jawabku setelah jeda beberapa lama. “Yang pasti posisinya sangatlah penting,” lanjutku. Kulirik Taemin menjatuhkan pandangannya kembali ke tanah.

         “Jadi kau tidak punya ruang lagi untukku?” tanyanya mengalihkan wajahnya. Aku terdiam mentapnya.

         Jawabn apa yang harus kuberikan? Aku sendiri tidak bisa berbohong padanya. Tapi aku juga tidak mau menggantungkan perasaannya.

          “Ani,” gumamku. Ia memutar kepalanya lagi menatapku dengan kening berkerut samar. “Aku yakin kau punya posisi penting bagiku. Tapi aku tidak tahu.”

           “Tidak tahu apa?” tanyanya.

           “Aku tidak tahu mana yang kucintai, kau atau Taemin,” balasku. Jawaban yang aneh. Aku sadar betul soal itu. “Mianhae,” gumamku pada akhirnya.

            “Aku tahu semuanya akan begini,” ia tersenyum masam dan menatap kosong ke tanah. Ia beranjak dari temptnya duduk dan berjalan menjauh.

            “Beri aku waktu lagi. Kau mungkin bukan yang pertama, tapi kau yang terakhir,” seruku. Ia menghentikan langkahnya. Aku berlari kecil menghampirinya. Begitu tiba di sampingnya aku merogoh sakuku dan mengulurkan selembar kertas padanya. Ia menatapku ragu sejenak sebelum meraihnya dan membacanya.

             “Tuhan mengirimkanmu padaku, karena yang sebenarnya diciptakan-Nya untukku adalah kamu,” gumamku. “Jadi berikan aku waktu.”

Taemin’s POV

               “Di kehidupan berikutnya, jika kita bertemu lagi, aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan selamanya berada bersamamu. Jika ada siapapun yang baik padamu dan mau melindungimu, dialah yang dikirim untuk menjagamu, bukan aku.. Jangan menungguku.”

              “Itu Taemin dulu yang menulisnya,” Yeonhyo menunduk. “A-aku…”

              “Aku mau kau membolehkanku mencintaimu perlahan-lahan,” gumamnya tersipu. Perlahan ujung bibirku terangkat. Aku meraihnya ke dalam pelukanku.

              “Geuraeyo,” bisikku. “Tidak salah aku menunggumu selama ini. Saranghaeyo”

THE END

End geje -_-v mianhae~!!
ini cerita udah ada dari tahun 2010 tapi akhirnya sempet ngerevisi ulang ._.

[BONUS] La Mémoire Manquant : A Start of A New Life

Key’s POV

  Aku menggenggam tangan kecil Harin menuruni bus yang kamu tumpangi untuk menuju ke daerah Apgujeong-dong. Harin mengajakku untuk mengikuti festival musim semi tahun ini.

  Jalan raya yang lebar itu penuh dengan orang-orang berlalu lalang. Tua, muda, anak-anak, wanita, pria, orang lokal maupun turis semuanya berbaur menikmati pemandangan kota Seoul yang remang-remang dengan cahaya lampion yang tergantung di kanan kiri jalan. Banyak jajan-jajan ditawarkan di stan-stan festival itu. Suara gendang dan nyanyian-nyanyian tradisional mengalun menghangatkan suasana.

  Harin tersenyum lebar sambil memeluk lenganku erat. Aku ikut tersenyum lalu mengacak-acak rambutnya. Ia mendongak lalu cemberut.

  “Oppa, ramai sekali di sini. Aku hilang nanti bagaimana?” tanyanya. Aku mencubit pipinya pelan.

  “Andwae. Pegang saja tanganku kuat-kuat,” balasku. Ia mengeratkan pelukannya.

***

  Aku sedang duduk menulis permohonan pada papan doa yang kami beli barusan. Harin yang duduk di sampingku sesekali melirik ke arahku.

  “Oppa belum selesai? Ini sudah lima menit. Aku lapar,” gumamnya menyentuh pundakku.

  “Hmm. Sebentar,” balasku masih serius dengan apa yang kutuliskan. Kudengar helaan nafasnya.

  “Bosan,” gerutunya. Aku meliriknya sejenak.

  “Jangan begitu, Harin-ah. Apa kau bosan menungguiku?” omelku. Ia lalu menggeleng.

  “Oppa, kau mau aku menggantung papanku dulu atau menunggumu selesai?” tanyanya lagi setelah jeda beberapa detik. Aku diam saja.

  “Oppa-”

  “Terserah kau, Harin-ah,” jawabku. Hening sesaat sampai kurasakan kakinya sudah berjalan ke arah kuil dan menghilang dari hadapanku.

  Beberapa menit kemudian aku berdiri lalu melirik ke sampingku. Harin belum kembali? Aku menaikkan pundakku lalu berjalan ke arah kuil. Sesampainya di kuil aku langsung menggantung papanku dan berdoa di depannya.

  Setelah selesai aku memutuskan untuk kembali ke tempat tadi. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang anak kecil yang menangis.

  “Ahjussi, eomma dan appa meninggalkanku,” tangisnya di hadapanku. Aku berjongkok menyamakan tinggiku dengannya.

  “Apa kau tidak ingat di mana terakhir kali kau bertemu dengan mereka?” tanyaku. Aku melirik ke arah jam tanganku. Harin pasti sudah lama menunggu. “Panggil aku hyung saja.”

  Anak itu menggeleng,”Aku lupa, hyung. Apa kau mau meninggalkanku sendirian di sini? Aku takut,” rengeknya.

  “Bagaimana kau ikut aku ke pos penjagaan saja?” tawarku. Ia menunduk lalu mengangguk. “Kaja.”

***

  Aku membungkuk pada petugas penjagaan setelah mengantar anak tadi ke pos. Aku melirik jam-ku. Semoga Harin baik-baik saja.

  Aku pergi ke tempat di mana aku meninggalkannya dan menangkap sosok kecilnya bersandar di bawah pohon tertidur pulas. Aku menghampirinya lalu menepuk pundaknya.

  “Harin-ah,” panggilku. “Ireona..”

  Ia mengerang pelan lalu melihat ke arahku. Matanya berbinar-binar lalu memelukku kencang.

  “Oppa! Kukira kau kenapa-kenapa! Kenapa teleponku tidak kau angkat? Kau ke mana tadi?” tanyanya menatapku khawatir.

  “Aniyo, aku hanya ada halangan tadi. Eh, kau bilang lapar kan? Ayo kita makan. Aku mau coba restoran seafood di sana,” aku menarik lengannya kembali ke keramaian.

***

  Aku meletakkan sumpitku di samping piringku. Lalu kuangkat kepalaku menatap Harin yang hanya melamun tidak memakan makanannya sampai bersih.

  “Harin-ah, kau tidak mau makan?” tanyaku. Ia mengankat wajahnya lalu tersenyum tipis.

  “Aku kenyang,” gumamnya.

  “Kau bilang kau lapar?” aku memicingkan mataku. Ia menggeleng lalu mendorong piringnya ke tengah.

  “Aku sudah tidak lapar. Itu cukup. Ayo, pergi lagi,” ajaknya. Aku mengernyit. Senyuman Harin seperti tidak tulus.

 

Days Later…

  “Taemin-ah!! Letakan piring-piring itu di dishwasher!” teriakku dari arah dapur. Taemin yang sedang meneguk banana milk nya segera menghampiriku. Aku menunjuk ke arah piring-piring itu selagi aku mengeluarkan ponselku yang sejak tadi bergetar di sakuku.

  “Yoboseyo?” sapaku begitu aku melepaskan apron merah mudaku dan menggantungnya.

  “Yoboseyo, Oppa,” sapa si penelepon balik. Aku tersenyum kecil. Setidaknya setelah bekerja keras dengan SHINee seharian aku masih bisa mendengarkan suaranya.

  “Waeyo, Harin-ah?” aku berjalan ke kamarku – satu-satunya tempat yang bisa memberiku privasi saat ini.

  “Aniyeyo,” gumamnya. “Aku hanya mau bertanya, kapan kau punya waktu luang?”

  Aku mengerutkan keningku. Waktu luang?

  “Kuras tidak untuk sekarang ini, Harin-ah. Kami masih punya banyak jadwal,” jawabku. Aku bersandar pada bantalku. “Tapi kalau memang perlu, kurasa aku bisa keluar sabtu ini, bagaimana?”

  “Ne?” aku merasa ia tersenyum mendengarnya. “Uh, tapi apa aku benar-benar tidak mengganggu?” tanyanya.

  “Ani, Harin-ah. Kau tidak pernah mengganggu. Lagipula aku butuh refreshing,” jawabku cepat.

  “Geuraeyo. Kutunggu di taman, ya?” balasnya.

  “Enn,” aku mengangguk.

 

Author’s POV

  Sabtu itu matahari cerah menyinari langit biru musim semi Seoul. Udara musim semi yang hangat, gumpalan awan putih bersih, kicauan burung-burung kecil, semua itu tidak membuat wajah gadis yang terduduk di bangku taman itu tersenyum. Ia terus-terusan menggigit bibir bawahnya sambil memutar kepalanya ke segala arah, memastikan bahwa dia akan datang.

  Sesekali ia melirik ke arah ponselnya, entah untuk sekedar melihat jam ataupun mengetikkan pesan-pesan singkat.

  ‘Oppa, kau di mana?’

  ‘Oppa, kau jadi datang kan?’

  ‘Oppa, kau masih sibuk? Apa perlu aku pulang?’

  ‘Oppa, gwaenchanhayo? Kau tidak membalas pesan-pesanku’

  ‘Oppa, kau tidak lupa kan?’

  ‘Oppa, kau marah padaku? Kenapa tidak menghiraukanku?’

  ‘Oppa, mianhae kalau aku mengganggu. Aku bukan pacar yang baik’

  Begitu ia mengetikkan pesan terakhirnya itu matanya sudah berkaca-kaca. Segala kemungkinan berkecamuk di pikirannya. Pria yang ditunggu-tunggunya tidak datang sejak dua jam yang lalu. Sudah berkali-kali ia mencoba menelepon namun nihil. Suara operator yang selalu menjawab, bukan suara orang pentingnya itu.

  ‘Oppa, waktu tidak akan habis kan kalau aku masih menunggumu di sini?’

 

Key’s POV

  Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Hari ini jam latihan ditambah karena koreografi yang kulakukan agak kacau. Kepalaku berasa akan pecah akibat semua stress yang ditimbulkan. Aku memejamkan mataku sejenak untuk menenangkan pikiran.

  “Kibum-ah! Kau meninggalkan ponselmu di manajer hyung,” panggil Onew hyung berlari dari belakangku. Aku membuka mataku lalu menoleh ke arahnya.

  “Oh?” aku mengerjapkan mataku. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam ponselku. “Gomawo, hyung,” ia mengangguk mendengarku lalu membaur ke dalam kamar.

  Aku mendesah lalu meletakkan ponselku yang sedang di-nonaktifkan ke dalam saku lalu kembali bersandar ke sofa lalu memejamkan mataku untuk beristirahat.

  Tapi aku merasa ada yang hilang…

***

  Aku terbangun saat warna langit berubah jingga keemasan. Aku mengusap kedua mataku lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih. Selagi air putih itu mengalir melewati tenggorokanku yang kering, aku mengeluarkan ponselku untuk melihat jam. Tapi aku baru sadar bahwa ponselku masih belum kunyalakan dari pagi tadi. Mendesah pelan, aku menekan tombol untuk mengaktifkan selagi menunggu layar ponselku menyala.

  Kerutan samar terbentuk di keningku begitu kurasakan ponselku bergetar hebat dan banyak pesan masuk. Sepertinya aku benat-benar melupakan sesuatu. Mataku membulat lebar begitu kubuka pesan masukku dan semua pesan itu tertera nama yang sama.

  Harin.

  Aku membaca satu persatu pesan yang masuk. Semakin kubaca semakin buruk perasaanku. Bagaimana aku bisa lupa?!!

  “Hyung~ kau-”

  “Taemin-ah pegang ini,” aku menyodorkan paksa gelas yang kupegang dan segera berlari keluar dengan rambut acak-acakan.

  Berlari ke arah taman, aku menekan nomer ponsel Harin yang kuhafal di luar kepala.

  “Y-yoboseyo?” sapa Harin. Suaranya sedikit parau. Aku jadi panik karena perasaan bersalah.

  “H-harin-ah kau di mana? Aku minta ma-”

  “Oppa awas!!!” kudengar teriakan itu bukan hanya dari telepon tapi juga dari hadapanku. Kulihat Harin berlari ke arahku. Tangannya meraih tanganku. Belum sempat kuputar pandanganku ke arah suara klakson kencang…

  BRAKK!!!

  Pandanganku berputar hebat sampai akhirnya menggelap.

***

  Aku membuka mataku dan mencium bau-bauan obat yang menyengat. Mengerjapkan kedua mataku karena cahaya lampu yang menyilaukan, aku duduk memegangi kepalaku. Tanpa perlu bertanya lagi aku tahu aku ada di mana.

  Rumah sakit.

  Nafasku terasa ringan. Aku merasa seperti tidak utuh. Aku pun berdiri menginjak lantai yang dingin lalu berjalan ke arah pintu.

  Belum aku menyentuh kenop pintu sudah terbuka. Aku memejamkan mataku menunggu benturan pintu mengenai keningku. Nihil.

  Aku membuka mataku pelan-pelan. Tunggu! Aku sudah di depan pintu sekarang?!! Aku berbalik ke belakang dan membulatkan mataku melihat apa yang terjadi.

  Aku?!!

  Kulihat tubuhku terbaring di kasur rumah sakit dengan perban di kepala dan kaki dan perawat yang baru saja masuk sedang mendata keadaanku. Selang-selang juga bergelantungan di mana-mana. Aku menunduk melihat tangan-tanganku.

  Kalau itu aku, aku siapa?!!

  Aku memutar kepalaku ke kanan dan kiri. Jangan bercanda! Ini bukan drama! Bagaimana bisa aku keluar dari tubuhku?!!

  Baru aku akan masuk kembali ke kamar, aku menangkap sosok yang ingin kulihat mengenakan piyama rumah sakit dengan rambut dikuncir kuda dan perban dikepala. Ia menunduk lalu mengangkat kepalanya. Mata bulatnya menatapku sejenak seperti biasanya. Tapi ada yang aneh. Matanya tak secerah biasanya.

  “Ha-”

  “Harin-ah, kau mau ke mana?” tanya Yesung hyung yang kehadirannya tak kusadari dari tadi. Ia berdiri di belakang kursi roda Harin lalu tersenyum cerah ke arahnya.

  “Hng…,” Harin melirikku lagi. “Aku mau ke taman,” jawabnya mengalihkan pandangannya dariku. Yesung hyung mendorong kursi roda harin melewatiku menuju ke lift. Pandangaku tak bisa lepas dari mereka. Kenapa Yesung hyung berada di sini?!! Dengan Harin!! Щ(ºДºЩ)

  Aku mengerutkan keningku lalu berlari mengikuti mereka. Aku pun memasuki lift yang sama dengan mereka. Harin mendongak menatapku. Matanya seakan mencari-cari sesuatu. Kenapa dia tidak memanggilku?

  “Harin-ah, apa yang kau lihat?” tanya Yesung. Aku dan Harin langsung menoleh ke arahnya. Hey! Apa maksudmu dengan ‘apa yang kau lihat?’?!!

  “Oppa, dia siapa?” tanya Harin menunjukku. Yesung melirik ke arahku lalu menyipitkan matanya.

  “Jangan bercanda, Harin-ah. Tidak ada apapun di sana. Kau mau menakut-nakutiku?” balas Yesung kembali menatap Harin. Aku tersentak. Tidak ada apapun?!!

  “Hey! Jongwoon hyung! Apa maksud-”

  DING!

  Pintu lift terbuka dan Yesung hyung mendorong kursi roda itu keluar lift seakan tak mendengarkan celotehanku. Aku hanya bengong menatap mereka sampai akhirnya sadar pintu lift akan menutup. Aku mengulurkan tanganku untuk menahan pintunya, tapi aku malah tersandung keluar menembus pintu besi itu. Aku yang tersungkur di lantai berusaha berdiri. Aku menoleh ke belakangku. Aku menembus pintu? Jadi aku benar-benar hanya berupa nyawa?!!

  “Eh? Tapi kenapa Harin bisa melihatku?” gumamku melihat ke arah taman. Aku berhenti sejenak menyadari sesuatu…

  Harin tidak mengenaliku?!!!!

***

  Aku bersandar di balik salah satu pohon besar di taman, menghadap Harin yang sedang duduk di bawah pohon satunya. Ia memasang ekspresi kosong sambil menatap langit. Kadang aku penarasan apa yang sedang ia pikirkan. Yesung hyung baru saja pergi.

  Tanpa kusadari perlahan kulangkahkan kakiku mendekatinya. Begitu tiba di hadapannya kudapati ia memejamkan matanya. Aku duduk di sampingnya tanpa melepaskan pandanganku darinya. Kuulurkan tanganku menyentuh pipinya lalu mengelusnya pelan. Kurasakan tanganku yang sedari tadi beku bagaikan es mulai menghangat.

  Aku yakin sekali Harin bisa merasakan sentuhanku. Ia langsung membuka matanya dan menatapku terkejut. Aku cuma bisa memaksakan seulas senyum.

  “A-annyeong,” sapaku berusaha bersikap ramah. Ia hanya menatapku mengernyit.

  “Annyeong,” gumamnya. “Kau namja yang dari tadi melihatku di rumah sakit,” lanjutnya. Ia tidak mengenaliku?

  “Harin-ah, na-ya, Key…,” gumamku. Mataku berkaca-kaca menahan air mata yang terasa panas di pelupuk mataku. Aku menggenggam tangannya dan lagi-lagi merasakan kehangatan.

  “Kata oppa aku kehilangan memoriku,” balasnya sontak membuatku kehilangan reaksi. “Aku tidak ingat kau siapa,” lanjutnya.

  Entah aku sudah gila atau memang aku masih waras, dalam wujud tak nyata seperti ini saja aku bisa merasakan sakit.

  “M-ianhae…,” ujarnya saat melihat air mataku mulai membasahi kedua pipiku. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mataku, tapi aku sudah mendahuluinya menghapus air mataku. Aku menggeser dudukku menjauh. Apa aku punya kesempatan untuk kembali? Kembali ke kehidupan Harin?

  “Mianhae, Harin-ah… Mianhae,” gumamku menutupi wajahku. Aku merasa bersalah. Belakangan ini aku terus mengabaikannya. Aku melakukan banyak kesalahan. Aku bukan namjachingu yang baik.

  “Waeyo? Kau tidak melakukan kesalahan,” gumamnya menepuk pundakku. Aku masih meneggelamkan wajahku jauh ke dalam telapak tanganku. Seandainya kau tahu Harin. Seandainya kau masih ingat semua kesalahan yang kulakukan.

  “Aniyo, Harin-ah,” isakku. “Kau tidak tahu. Kau tidak ingat apa yang kulakukan padamu sebelum kau kecelakaan.”

  Hening sejenak. Hanya ada isakanku di tengah-tengah kicauan burung.

  “Bukankah itu bagus?” ujarnya memecah kesunyian. Aku mengangkat wajahku yang sudah penuh air mata yang kering maupun yang masih basah. Aku menatapnya tak percaya. Apanya bagus? Menurutmu melupakanku itu bagus?

  “Kau membuatku melupakan semua kesalahanmu, bukankah itu bagus?” sambungnya lagi tersenyum mengusap air mataku. “Kesalahanmu sudah hilang, tidak perlu diingat lagi,” ia tersenyum tulus.

  “Bagaimana kalau kita mulai dari awal saja? Kau bisa mulai melakukan semua kebaikan dan membuatku melupakan semua kesalahan-kesalahanmu,” ia mengulurkan tangannya padaku. “Annyeong, aku Harin. Lee Harin. Aku senang bertemu denganmu, aku mau kau jadi bagian dari hidupku,” ia tersenyum lebar. Perlahan-lahan dengan ragu kusambut tangan kecilnya itu.

  “A-aku Key. Kim Kibum,” bisikku. Kehangatan itu meliputiku lagi. Apa ini pertanda baik?

  “Key-ah, kau suka warna apa?” tanyanya. Ujung bibirku mulai naik membentuk senyuman.

  “Coba kau tebak,” balasku. Ia mengetuk-ketuk dagunya.

  “Hmm…,” ia melihatiku. “Pink?”

  Senyumku semaking melebar. “Ternyata kau tidak lupa,” aku mencubit pipinya.

  “Image mu sudah melekat dengan warna itu,” jawabnya. “Perasaanku mengatakan itu padaku.”

  “Aku suka hitam,” gumamnya. “Aku suka fettucini, tapi tidak suka kerang dan sayur. Aku juga tidak begitu suka ikan selain salmon,” lanjutnya. Aku terdiam. Jujur aku tak pernah mengetahui kesukaannya sejauh ini. Pantas saja saat kuajak makan seafood waktu itu ia tidak menghabiskan makanannya. Waktu itu hidangannya berselimut sayur-sayuran, kerang dan tuna.

  “Mianhae,” gumamku lagi mengalihkan pandanganku.

  “Wae? Bukankah aku sudah bilang-”

  “Mianhaeyo, aku salah selama ini tidak memperhatikanmu. Hajiman gomawoyo, kau sudah mengijinkan aku mengenalmu lagi,”potongku tersenyum. Gomawo Harin-ah…

***

  “Key-ah,” panggil Harin yang berjalan di sampingku menuju ke kamar rawat. Ia tidak memanggilku oppa.

  “Ne?”

  “Kamarmu di mana?” tanyanya membuatku mendadak menghentikan langkahku. Aku menoleh ke arahnya. Bagaimana kalau ia tahu aku hanya ‘jiwa’ yang lepas dari tubuhku?

  “A-aku…,” aku menggigit bibir bawahku. Apa aku harus jujur? Aku tidak mau ia mengetahui yang sebenarnya. Kurasa otaknya belum bisa menerima itu, lagipula ia sedang lupa ingatan.

  Baru saja sebaris kata dusta akan meluncur dari mulutku aku baru menyadari, aku tidak seharusnya membohongi Harin. Aku sudah sering sekali melukainya.

  “Kamarku di koridor sana belok kiri,” gumamku jujur. Ia mengangguk lalu menunjuk koridor sebelah kanan.

  “Kalau aku di sana. Wah, dekat sekali ya! Aku ingin sekali berkunjung ke kamarmu,” serunya senang. Aku membulatkan mataku lalu menggeleng keras.

  “Andwae!” seruku membuatnya tersentak. “Ah- maksudku…aku saja yang ke kamarmu,” tawarku. Ia terlihat seperti berpikir sejenak lalu akhirnya mengangguk setuju. Aku menghembuskan nafas lega. Setidaknya aku tidak berbohong padanya.

  Aku melambaikan tanganku pada Harin sebelum kami berpisah di koridor itu. Sampai ia masuk ke kamar baru aku berbalik ke kamarku.

  Aku menghela nafasku begitu tiba di dalam kamar. Aku lagi-lagi memandangi diriku yang terbaring tak bergerak di sana. Aku menyandarkan punggungku pada pintu. Sekarang apa yang kulakukan? Bisakah aku masuk ke dalam tubuhku?

  Tiba-tiba pintu kamarku terbuka membuatku jatuh ke belakang menembus pintu.

  “KEY EOMMA!!”

  “Psst!! Taemin ini rumah sakit! Pelankan suaramu!”

  “Aku panik.”

  “Kami juga panik, Taemin-ah.”

  SHINee beserta manajer kami membaur ke dalam kamar. Mereka mengkhawatirkanku tapi meninggalkanku tersungkur begini.  -_-

  “Onew hyung, Key hyung kenapa tak bangun-bangun?” tanya Taemin yang berdiri di sisi kanan kasur.

  “Kata dokter dia koma,” jawab Onew menatapku. Ruangan itu sepi sejenak.

  “Bagaimana dengan Harin?” tanya Taemin pada akhirnya memecah kesunyian. Aku memutar pandanganku ke arahnya.

  “Kudengar dari sunbaenim Harin kehilangan sebagian memorinya,” jawab Minho duduk di sofa. Hening lagi sejenak.

  “Apakah Harin…..masih mengingat Key?” tanya Taemin pelan. Kurasa ia sangat penasaran. Aku cuma bisa tersenyum nanar. Tidak, Taemin-ah. Dia bahkan tidak mengenaliku tadi.

  Tidak ada jawaban keluar dari mereka. Semuanya hanya bungkam. Aku yakin mereka tahu kalau Harin tidak akan ingat padaku.

  “Ehem,” manajer hyung berdeham menatap jam tangannya. “Kalian ada jadwal setelah ini.”

  “Tapi Key hyu-”

  “Bilang saja Key sakit. Jangan biarkan berita ini menyebar. Cukup di kalangan agency saja,” potong manajer hyung. Mereka semua mengangguk.

  “Kita jenguk Harin besok,” ujar Taemin sebelum meninggalkan ruangan.

 

Morning…
Author’s POV

  Cahaya terang matahari menembus tirai-tirai hijau rumah sakit membanjiri ruangan kamar Harin. Harin yang berbaring di ranjang hanya bergumam lalu memutar kepalanya ke arah lain. Ia masih belum mau bangun. Semalam Key menepati janjinya. Ia datang ke kamar Harin dan berbincang-bincang panjang lebar dengannya sampai malam.

  Suara pintu terbuka dan langkah kaki yang berderap membuat Harin sedikit tersadar walaupun ia belum mau membuka matanya.

  “Harin-ah annyeong!!” seru seseorang.

  “Psst! Taemin-ah! Tidak lihat ya dia sedang tidur??” desis seorang yang lain. Beberapa bisikan-bisikan keras terdengar di sana sini malah membuat Harin sepenuhnya sadar dan membuka matanya mengantuk.

  “Hnngg…,” erangnya. Ia mungusap-usap matanya lalu berusaha duduk. “Kalian siapa?” tanyanya menatap empat namja yang berdiri berjejer-jejer di depannya.

  “Uh-”

  “Lihat Taemin-ah dia bangun karena kau ribut!”

  “Kau juga ribut Minho hyung!”

  “Dia bangun karena kalian ribut.”

  “Bukan. Kurasa dia bangun karena kita ribut.”

  Mereka mulai membuat keributan lagi di ruangan itu hanya mendapat pandangan aneh dari Harin.

  “Hey, aku bertanya kalian siapa, kenapa tidak dijawab?” tanya Harin lagi menghentikan pertengkaran kecil mereka. “Apa aku mengenal kalian sebelumnya?”

  Mereka hanya diam menatap Harin sejenak sampai Taemin berlari ke arahnya.

  “Harin-ah! Aku Taemin!! Lee Taemin,” seru Taemin tersenyum lebar. Ia menunjuk ke arah pria yang paling tinggi.

  “Itu Minho hyung,” katanya. Minho menatap Harin lalu mengangguk kecil sambil tersenyum.

  “Choi Minho,” gumamnya. Tepat setelah itu dua pria lainnya berjalan ke arah Harin juga.

  “Aku Onew!”

  “Aku Jonghyun!”

  Mereka semua tersenyum lebar.

  “Kami SHINee,” seru mereka. “Kau akan ingat kami suatu saat nanti,” sambung Onew. Harin terkekeh pelan melihat mereka.

  “Oh iya, Harin-ah,” panggil Taemin. “Kau masih ingat pada Key hyung kan?” tanyanya membuat suasana hening. Para hyung-nya menatap Taemin intens.

  “Key? Kalian juga kenal pada Key?” tanya Harin balik membuat para member SHINee terbelalak. Taemin mengangguk.

  “Dia juga salah satu anggota SHINee. Kau masih ingat rupanya!” serunya. Harin hanya menatap Taemin lalu menggeleng pelan.

  “Aku tidak ingat,” gumamnya membuat lagi-lagi suasana berubah hening.

  “Apa maksudmu tidak ingat? Bukankah kau barusan mengatakan namanya?” tanya Minho. Harin menunduk menatap kedua tangannya.

  “Aku bertemu dengan Key kemarin,” balasnya. Yang lainnya saling bertatap-tatapan heran. “Ia terlihat sedih aku tidak mengingatnya,” lanjutnya lagi.

  “T-tunggu! Apa maksudmu kau bertemu dengan Key hyung? Itu tidak mungkin karena-”

  “Taemin-ah kurasa aku mau ke toilet, tolong temani sebentar,” potong Minho menyeret Taemin menjauh sebelum ia membocorkan segalanya. Harin tidak akan siap dengan kenyataan sebenarnya.

  Di ruangan itu tersisa Onew, Jonghyun dan Harin. Sepi. Hanya suara mesin-mesin rumah sakit yang memenuhi keheningan sampai akhirnya Minho dan Taemin kembali.

  “Jeogiyo,” gumam Harin. “Taemin-ah, apa yang tadi kau maksudkan soal Key?” tanya Harin menatap Taemin.

  “A-aniyeyo,” balas Taemin cepat. “Aku tidak bermaksud mengatakan sesuatu. Geuge… Kau bertemu dengan Key di mana?” tanyanya mengalihkan topik.

  “Oh? Aku melihat Key menatapku terus kemarin, bahkan mengikutiku ke taman. Lalu ia datang dan berbincang-bincang denganku. Kemarin malam ia datang lagi ke kamarku!” cerita Harin. Para namja hanya bisa menatapnya nanar. Berpikir itu hanya imajinasi Harin yang sebagian memorinya mengingat Key dan sebagian lagi tidak.

  “Harin-ah…,” gumam Taemin kasihan tanpa sadar menangis.

  “W-wae uneun geoya?” tanya Harin panik. Taemin menghapus air matanya.

  “Kau sangat sayang sekali pada Key hyung,” gumam Taemin lagi tersenyum. Minho hanya mengusap-ngusap rambut Taemin menenangkannya. “Aku senang sekali. Key hyung pasti bahagia saat tahu nanti,” gumamnya setengah berbisik.

  “Geuge….,” gumam Harin lagi. “Kalau aku boleh tahu, apa hubunganku dengan Key?”

 

Key’s POV

  Aku sedang berada di taman rumah sakit. Kemarin malam Harin bilang akan menemuiku lagi di sini. Aku bosan berada di kamar terus. Bernyanyi-nyanyi kecil aku melangkahkan kakiku mengelilingi taman, melihat bunga-bunga yang tumbuh di sana. Sudah lama sekali aku tidak menikmati jam-jam kosong karena kami menyiapkan comeback SHINee minggu-minggu lalu.

  Senyumku mengembang begitu merasakan seseorang menutup kedua kelopak mataku. Aku yakin sekali siapa orang itu, karena hanya ada satu orang saja yang selalu melakukannya dengan senang hati.

  “Lee Harin,” gumamku. Aku mendengar tawa kecilnya sebelum ia melepaskan tangannya. Aku berbalik menghadap gadis kecil yang kutunggu-tunggu.

  “Lama?” tanyanya. Aku cemberut berpura-pura kesal.

  “Lamaaaaaaaa sekali, Harin-ah. Aku seperti menunggu putri tidur untuk bangun setelah seratus tahun lamanya,” godaku. Ia menggembungkan pipinya lalu memukul lenganku.

  “Kau berlebihan, Key,” ujarnya. Aku hanya tertawa lalu menggandeng tangannya. Setidaknya aku mau waktu yang tersisa ini menjadi saat-saat bahagia. Tak peduli lambat maupun cepatnya waktu akan berlalu. Selama yang terukir adalah kebahagiaan, aku rela.

  Kami berbaring di rerumputan bermandi cahaya cerah matahari musim semi. Udara di sini sega – setidaknya untukku yang selama ini selalu terperangkap di ruang latihan.

  “Key-ah,” panggil Harin. “Kau bisa menyanyi?” tanyanya.

  “Aku rapper,” jawabku setelah ragu-ragu sesaat. “Vocalku tidak sebagus Jonghyun dan Onew hyung,” aku menunduk.

  “Gwaenchanha,” ia menepuk pundakku. “Aku mau dengar,” lanjutnya tersenyum. Aku menggigit bibir bawahku lalu mengangguk.

  “Achim haessali geudaewa gatayo
Jogeum yuchihagaetjyo
Geuraedo nan ireon gae joheun geol
Nareul kkaeweojun geudae yeopae ramyeon
Deo baralgae eopgetjyo
Ireokhae geudael bogo shipeun geol 

Sarangi eori dago mothal geora saenggakhaji malayo
Nareul deo neutgi jeone
Na deo keugi jeone jabajul su itjyo?

Saranghaeyo geudaemaneul jeo haneulmankeum
Jeongmal geudaeneun naega saneun iyuin geolyo
Geudaereul aju mani geudael michidorok anajugo shipeo
Ajik mani ppareungeojyo geureongeojyo 

Geunyeoae nuni majuchil ddaemada
Nae eolgulae bunjineun misoga
Hokshina geudae maeumui hankyeonae daeulkka
Aseurahan neoae maeum geu sokae areumdaun
Gwitgaye soksakyeo neol saranghaneun naye maeum 

I’ll be taking you
Girl, I know without you
Without you, I miss you
Eonjekkajina geudaereul wonhajyo
Wonhago baraneun mam
Ddo gipeojineun sarang
Deo isang soomgil su eopseo
Geudaeneun nain girl 

Nae maeumi geudael japgo nochil anjyo
Geudaedo neukkyeojinayo
Nareul, oh, deo neutgi jeone
Na deo keugi jeonae jabajul su itjyo 

Ajik geudae maeumi nae gyeotae
Olsu eopneun geol arayo geunde
Geudae hanaman naye hanarago bulleodo dwaenayo 

Uri gatchi one, two, three, oh ja shijakhaeyo
Geudae naye hanajyo naye jeonbuingeolyo
Geudaereul aju mani geudael michidorok saranghago shipeo
Ijeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo
Geudaereul aju mani geudael michidorok saranghago shipeo
Ijeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo

 Ijeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo” (SHINee – Hana, 2010)

 

  Aku melirik ke arahnya. Ia menyandarkan kepalanya ke pundakku.

  “Johayo,” gumamnya. Lagi-lagi aku merasa hangat. Aku hanya diam. Tak satupun dari kami mengeluarkan suara. Namun keheningan ini justru terasa damai.

  “Oppa,” gumamnya. Aku langsung menoleh menatapnya tertegun. Ia memanggilku oppa!

  “H-arin-ah..”

  “Aku bertemu dengan SHINee tadi pagi,” potongnya. Aku mengerutkan alisku. Jadi bukan karena ia ingat?

  “Aku hanya tidak mau berbohong,” gumamnya menunduk. Aku menatapnya. Ia tidak mau berbohong padaku.

  “Mianhae,” gumamnya lagi. “Aku lupa pada namjachingu-ku sendiri. Aku bu-”

 

Author’s POV

  Key mendaratkan kecupannya ke bibir Harin. Harin yang awalnya terkejut pun akhirnya ikut memejamkan matanya mengikuti gerak lembut bibir Key.

  Key menarik kepalanya melepaskan ciumannya lalu menatap Harin lurus.

  “Neomu joheuni, Harin-ah,” gumamnya mengusap pelan pipi Harin. “Kau terlalu baik untukku. Kau mau memaafkanku, kau menenangkanku, kau bahkan tidak mau membohongiku. Kau terlalu baik Harin-ah,” bisikknya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia menjauhkan kepalanya lalu mengusap air matanya.

  “Harin-ah,” panggilnya. Harin hanya menatap Key dengan mata bulatnya. “S-sebenarnya…,” ia menggigit bibir bawahnya.

  “Sebenarnya aku bukan Key yang nyata,” gumamnya mengaku. Harin mengerutkan alisnya kebingungan.

  “Datanglah ke kamarku. Sekarang. Kutunggu kau di sana,” sambungnya terisak. Bayangan Key menjadi kabur. Beberapa detik kemudian ia hilang di hadapan Harin begitu saja.

  Harin yang terduduk di sana masih dalam keadaan terkejut. Ia membulatkan matanya lalu mulai menangis.

  “Key!!!” panggilnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok pria yang dicintainya itu.

***

  Gadis itu berlari menyusuri koridor yang ramai itu. Ia sudah menaikki tangga menuju ke lantai tiga karena tidak mau menunggu lift. Matanya terus mencari sosok Key.

  Dengan nafasnya yang terengah-engah ia memutar kenop pintu kamar di ujung koridor sebelah kiri dan membaur masuk ke dalamnya. Ia segera merosot jatuh ke lantai melihat ruangan itu kosong. Apakah ia terlambat?

  Tangisnya pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

  “Key!!” jeritnya. “Key kau bohong padaku!!” tangisnya semakin keras. “Kau bilang kau menungguku di sini, sekarang kau di mana???” isaknya sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri di lantai.

***

  Kelopak mata Harin pelan-pelan terbuka. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali saat menangkap cahaya lampu yang menyilaukan. Tenggorokannya kering. Seakan-akan banyak sekali goresan terukir di dalamnya.

  “K-Key…,” gumamnya pelan.

  “Harin! Kau sadar! Kau sudah pingsan seharian kemarin!” teriak Taemin melonjak ke samping Harin. Harin menatap Taemin sejenak.

  “Key,” gumamnya lagi. “Mana Key?” tanyanya langsung menarik-narik tangan Taemin.

  “Ne?” tanyanya. Harin menarik lengan Taemin supaya ia bisa berdiri.

  “Harin-ah, kau masih butuh istirahat,” Taemin berusaha menyuruhnya tidur lagi. “Nanti hyungnim marah padak-”

  “Harin-ah annyeong,” panggil seseorang setelah terdengar suara pintu dibuka. Pria yang duduk di kursi roda dengan perban di kaki dan kepalanya itu tersenyum manis padanya.

  “Oppa…,” gumam Harin tak percaya. Senyumnya perlahan-lahan terukir di wajahnya.

  “Ne, ini aku Harin-ah,” jawabnya. Onew dan Jonghyun mendorong kursi rodanya mendekati Harin. “Apa kabar?”

  “G-gwaenchanha…,” balas Harin masih menatap Key tak percaya. “Kau di mana? Kucari di kamarmu tapi kau tidak ada,” gerutu Harin. Key terkikik pelan.

  “Aku kembali Harin-ah, dokter memindahkan ruang rawatku karena aku sudah sadar,” jawabnya. Ia mengulurkan tangannya mengusap pelan pipi Harin.

  “Ehem,” Minho berdeham. “Kurasa sebaiknya kami keluar dulu,” ijinnya menarik tangan lainnya.

  “Eh? Waeyo hyung?? Kau tidak tahu dongsaengku baru saja bangun?? Aku-”

  “Taemin-ah, diamlah! Dia bukan dongsaengmu!” seret Minho mendelik ke arah Taemin. Mereka pun keluar dari kamar meninggalkan Key dan Harin sendirian.

  “Harin-ah,” panggil Key. “Karena kau belum ingat, bagaimana kalau kita mulai dari awal seperti katamu kemarin lusa?” tawarnya. “Biarkan waktu menghapus kenangan yang retak dulu. Kita buat lagi kenangan yang lebih bagus. Ya?”

  Harin mengangguk lalu tersenyum lebar.

  “Lee Harin, Nae yeojachinguga daeeojullae?” tanya Key menggenggam tangan Harin.

  “Ne, oppa,” jawab Harin mengangguk. Key mengecup tangannya.

  “Saranghaeyo..”

  “Nado saranghaeyo oppa. Jinsimiya saranghae…”

 

THE END

Annyeong!
author is back (again)!! XD
Ini bonus oneshot~ selagi author inget jalan cerita nya ntar kalo nunggu ff sebelumnya taman keburu lupa *plakk*
Kerjainnya ngebut 3 hari ._.

Comment! Ppyong~

They Suddenly Come To My Life .Chapter 1.

Author : devilhae (prichell)

Genre : Continue, Romance, Friendship

Cast :  Cha Heerin, Cho Haneul, Kim Choonhe, Lee Iseul, Park Heera & SHINee

 

“Heera-ya, coba lihat ini. SM mengeluarkan boyband baru bernama SHINee ! Dan kau tahu, maknae nya sangaaaaat imut !” Ucap Iseul dengan nada fangirl nya.

Gadis yang bernama Heera tersebut mengalihkan pandangan nya dari buku matematika yang sedari tadi ia baca. “Jadi ini yang nama nya SHINee ?” Tanya Heera memastikan dan langsung dibalas dengan anggukan Iseul.

Pandangan matanya terhenti pada salah satu member, raut wajahnya berubah menjadi tidak senang. “Aku tidak suka dengan pria ini !” Ucapnya sambil menunjuk pria yang ia maksud.

Iseul menatap sahabatnya heran. “Ah.. Waeyo ? Dia tampan kok walaupun tidak seimut Taemin.” Ujar Iseul sambil terkekeh kecil.

Heera mendengus pelan. “Aku tidak suka wajahnya, penampilan nya dan aura nya pokoknya seluruhnya.”

Tiba-tiba seseorang datang ditengah-tengah mereka. “Hey, Hey ! Apa ada yang aku lewatkan ?” Tanya gadis itu dengan nada ceria.

Continue reading

Kyuhyun Rest Me In SHINee’s Dorm?!

Minn’s POV

  Aku berjalan pulang dari dorm Suju. Aku habis belajar matematika hari ini – seperti biasa. Aku berjalan menyusuri jalan menuju rumah. Setibaku di depan gerbang, aku merogoh-rogoh sakuku, mencari kunci pagar. Chamkkaman! Mana kunciku?! Aku merogoh saku jaket, saku seragam, tasku, tapi nihil. Kunciku hilang! Aku berpikir sejenak. Kutinggal di mana ya kunci itu?

  Setelah kurang lebih lima menit aku berpikir, aku teringat di mana kunci itu! Segera kutekan tombol-tombol diponselku – yang nomornya kuhafal diluar kepala.

  “YOBOSEYO?!” sapaku begitu terhubung.

  “Ya! Kau ini berteriak begitu lantang walaupun jarak kita sangat amat jauh! Wae keurae?” omelnya.

  “Kau di mana sekarang?” tanyaku terburu-buru. Jangan sampai dia…

  “Tsk! Kita baru saja bertemu sejam yang lalu, kau rindu padaku?” tanyanya. Aku mendesah pelan. Besar kepala nih orang!

  “Hish! Kau di mana sekarang?? Jawab saja!!!” seruku.

  “Di bandara. Sebentar lagi akan masuk ke dalam pesawat,” jawabnya. Oh no!

  “Aish! Jinjja?! Eotteohke…?” tanyaku lebih pada diriku sendiri.

  “Waeya?” tanyanya heran. Aku berdecak kesal.

  “Ck! Kunci rumahku tertinggal di dorm mu! Bukan. Tepatnya kamarmu! Bagaimana ini? Aku tidak bisa masuk ke dalam. Aku mau tinggal di mana?” tanyaku.

  “MWO????!!! Ya! Neomu ppaboya! Kau bisa mati beku terus berada di luar rumah dingin-dingin begini! Aish.. Ah! Tunggu sebentar,” ia mematikan teleponnya. Eomma!! Eotteohke?! Mungkin nggak kalian pulang sekarang dari China? Atau eonni pulang dari Singapore?

  Trrrtt.. Trrtt..

  “Yoboseyo?” sapaku.

  “Minn-ah, sudah ada jalan keluarnya,” kata Kyuhyun.

  “Ne?”

  “Kau akan kutitipkan. Maksudku, sementara tinggallah di…”

  “MWO????!!” pekikku begitu mendengar tempatnya.

  “Mianhae. Changmin sedang tidak dapat dihubungi – lagipula tak mungkin aku menitipkanmu pada Changmin dan Yunho, karena Yunho sudah tertular Eunhyuk sepertinya. Lalu aku baru akan menelpon Victoria, tapi mereka sedang sibuk. Karena itu, mumpung menurutku kau aman-aman saja dengan mereka, kau kutitipkan pada Jinki. Tapi kau jangan fanatik di sana! Jaga diri! See ya!” ocehnya panjang lebar. Aku hanya menganga tak karuan. Aish! Jinjja?! Aku dititipkan pada SHINee? Aduh.. Aku merasa seperti Yoogeun ke-2. ==a

 

Kyuhyun’s POV

  Aish! Minn ini bagaimana sih? Masa iya kuncinya ditinggal di kamarku yang kuncinya sekarang sedang kubawa. Untung aku hanya sehari berada di Indonesia!

  Aku segera menghubungi Changmin. Tapi tidak terhubung. Lalu aku berpikir lagi. Mana mungkin kutitipkan Minn padanya?! Kan ada Yunho – mengingat ia pernah melihat ‘yadong’.

  Lalu aku beralih ke Vic.

  “Yoboseyo?” sapaku langsung.

  “Ne?”

  “Hah! Thanks God! Victoria! Aku bisa tidak minta tolong?”

  “Ya?”

  “Aku ingin…,” aku bilang bagaimana ya? Seingatku member f(x) belum ada yang tahu kalau Minn ini pacarku. Aku hanya pernah bilang pada Changmin dan Jinki.

  “Kyuhyun-ssi? Kau masih di sana? Kami sedang sibuk. Bisa cepat? Mau apa?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

  “A-ah.. kau sibuk? Uh.. Tidak jadi, terima kasih,” aku menutup ponselku. Sibuk ya? Nanti Minn merepotkan.

  Trrrtt.. Trrrt…

  “Yoboseyo?” jawabku asal-asalan.

  “Hyung? Kau kenapa?” tanya orang di ujung sana. Jinki?

  “Jinki? Ah! Kebetulan sekali!” seruku.

  “Kebetulan apa?”

  “Bisa minta tolong?”

  “Ne?”

  “Bisa titip Minn di dorm kalian? Hanya untuk semalam,” pintaku langsung.

  “N-ne? Menginap di dorm? K-kenapa?” tanyanya.

  “Kuncinya tertinggal di kamarku dan… Yah, aku sedang di bandara sekarang. Jemput dia di depan rumahnya. Gomawo Jinki-ah,” aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Jinki. Aku segera menghubungi Minn dan memberitahunya tentang itu.

***

Minn’s POV

  Aigoo.. Dingin sekali di sini! Walaupun ini musim panas, hujan juga sering turun. Tadi sempat gerimis untuk lima belas menit. Jadi aku agak basah.

  “Minn-ah!” panggil seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Onew sudah ada di sana.

  “Onew?”

  “Kau pikir aku Kyu?” ia tersenyum. Aku menggeleng.

  “Bukan.”

  “Kajja! Kau ditunggu di dorm kami,” ia menarik tanganku. Aku mengikutinya.

  Akhirnya aku pun Tiba di dorm mereka. Mereka sedang duduk-duduk di ruang tengah. Huh? Kupikir mereka sibuk.

  “Annyeong, Minn-ah!” sapa Key, Minho dan Jonghyun. Taemin melirik ke arahku lalu membulatkan matanya. Ia berlari ke arahku.

  “Noona!” serunya. Hey! Aku mana bisa dipanggil noona? Aku jauh lebih muda darinya! ==a

  “Aku bukan ‘noona’, aku lebih muda kurang lebih tiga tahun denganmu,” gumamku.

  “Uh? Kukira pacar Kyuhyun hyung seharusnya kupanggil noona,” ia cemberut. What?! Dia tahu? Seingatku yang tahu hanya Changmin dan Onew. Aku melirik tajam ke arah Onew yang masih berdiri di sisiku. Ia tersenyum bersalah.

  “Hehehe,” ia meringis.

  “Noona neomu yepposeo!” Taemin malah menyanyikan ‘Replay’. ==a

  “Aku merasa tua,” gumamku kesal. Ia terkikik.

  “Kalau gitu kau panggil aku oppa,” ia menyentuh kepalaku. Hah? Oppa? Aku tidak suka memanggil orang dengan sebutan oppa.

  “Kupanggil ‘sunbae’ saja, ya?” pintaku.

  “Uh? Formal sekali? Memang kau memanggil Kyuhyun sunbae? Harusnya kau memanggilnya oppa,” ia menasihatiku. Memanggil Kyuhyun dengan sebutan oppa terasa aneh di telingaku.

  “Aku memanggil namanya langsung kok,” ucapku jujur. Mereka tersentak kaget.

  “Ckckck.. Kau ini beneran pacarnya atau bukan sih?” aku hanya meringis.

  “Ahh! Sudahlah. Ayo makan malam,” ajak Onew. Kami mengangguk dan kami pun pergi ke ruang makan. Di meja makan sudah tersedia beberapa jenis makanan. Akhirnya kami menyantap makanan itu.

  “Minn-ah, kau sejak kapan pacaran sama Kyuhyun hyung?” tanya Jonghyun. Er? Kapan ya? Waduh.. Aku lupa.

  “Eeehh?? Hnnn.. Kapan ya?” gumamku. Tiba-tiba Taemin dan Minho makan tersedak.

  “Uhuk! Uhuk! Mwo? Kau lupa?” Minho membelalak selagi meminum airnya. Aku hanya menaikkan pundakku. Memang aku lupa kok.

  “Kalau pertama kali kalian bertemu?” tanya Key. Aku berpikir lagi. Ennn.. Kapan ya?

  “Pokoknya saat itu aku sedang bersama dengan sahabatku,” jawabku menggantung.

  “Oohh…,” kata mereka bersamaan.

  “Kalian aneh,” ucap Key.

  “Menurutku malah lucu,” tambah Onew.

  “Kalian tidak terlihat seperti orang pacaran,” tambah Taemin. Khekhekhe..

  “Kalau terlihat seperti itu wartawan sudah akan memberitakannya tidak hanya di Korea, tapi bisa sampai ke seluruh Asia!” seruku terkikik. Mereka pun ikut mengiyakan.

  Tiba-tiba ponsel Onew berdering. Ia mengangkat teleponnya.

  “Yoboseyo, hyung? Oh.. Ne..,” ia menyerahkan ponselnya padaku. “Kyuhyun hyung.”

  “Yoboseyo?” sapaku.

  “Minn-ah? Gwaenchanha?”

  “Gwaenchanha. Wae?”

  “Aniyo. Cuma ingin mendengar suaramu. Kau sudah makan?”

  “Sudah. Kalau ka…tchi!” tiba-tiba aku bersin-bersin.

  “Kau sakit?”

  “Gwaenchanha. Tadi cuma kehujanan.”

  “Jaga kesehatan. Banyak makan. Banyak istirahat. Besok kau baru bisa pulang,” ceramahnya. Kok malah dia yang menceramahiku?

  “Aku baik-baik saja. Besok juga akan sembuh. Kau sendiri jangan lupa makan dan istirahat! Makan sayur! Buah! Jangan terlalu lama main game!” omelku.

  “Ne.. Kau ini bawel sekali,” ia terkikik.

  “Enak saja bawel?! Memang kau mau sakit apa? Kalau tidak, turuti saja kata-kataku,” seruku kesal.

  “Iyaaaa~ Saranghae! Bubbay!!” serunya di ujung sana. Aneh. ==a

  “Nih. Gomawo, Onew sunbae,” aku menyerahkan kembali ponselnya pada Onew.

  “Hehehe.. Cheonmaneyo,” balasnya tersenyum. Aigoo, kapan Kyu akan berpipi chubby sepertinya ya? ==a

  “Noona.. Eh, maksudku Minn-ah,” panggil Taemin. Aku melihat ke arahnya. Tapi tidak hanya dia yang sedang menatapku aneh. Jonghyun, Minho dan Key juga menatapku aneh.

  “Apa?” aku bergidik ngeri melihat mereka.

  “Ternyata kalau kau sedang berbicara dengannya lebih terlihat seperti pacarnya,” Taemin tersenyum nakal. Yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Haish!

  “Apa-apaan sih! Lupakan,” aku mengibas-kibakan tanganku.

  “Oh iya! Foto ciuman itu bagus sekali, lho! Aku sampai iri pada Kyuhyun hyung,” Taemin tersenyum nakal. WHAT?! Mereka juga tahu foto itu?!

  “F-foto?” aku melirik tajam pada Onew. Ia hanya terkikik.

  “Iya. Sepulang kalian bertiga pergi, Onew hyung menunjukkan fotonya pada kami. Lucu sekali,” Jonghyun tertawa lebar.

  “Mwo?! S-siapa lagi yang tahu?” tanyaku. Bahaya nih!

  “Tidak ada. Hanya kami,” kata Key diikuti anggukan Minho. Aku mendesah lega. Untung saja!

  “Memangnya kau ingin siapa lagi yang tahu?” tanya Onew.

  “Andwae! Tak boleh ada lagi yang tahu!” seruku. Mereka hanya terkikik.

  “Aigoooooooo… Ayo kita istirahat. Aku sudah capek,” ajak Key. Aku pun diantarlan ke kamar kosong untuk istirahat. Aku capek sekali. Untung saja besok hari minggu. Aku tak perlu repot pergi ke sekolah.

 

SHINee’s dorm, Seoul, South Korea, 09.00 KST

  “YA! HWANG MINYEON! IREONA!!” panggil seseorang mengguncang tubuhku hebat. Aigoo! Siapa sih?! Berisik sekali!

  “Berisik!” aku memukul wajah seseorang.

  “Aish! Jinjja! Ya!! Minn-ah! Ireona!” teriaknya lagi. Aku masih memejamkan mataku. Aish! Siapa sih? Aku tak biasa dibangunkan. Aku melah menendang tubuh orang itu.

  “IREONA!!!!!” teriaknya menjadi-jadi. Aku terus menendangnya. Ia hampir terjatuh, tapi malah menarik lenganku.

  Brukk!

  “Aaaarrrgh!!!” erangku selagi membuka mata. Kyuhyun sudah berada di bawahku sekarang. Mwohae?! Kyuhyun??!!

  “Ya! Kau ini disuruh bangun susah sekali!” ia mengomel.

  Brakk..

  “Siapa yang jat…? Lho?” member-member SHINee dan beberapa member Super Junior sudah ada di depan pintu kamar menatap kami di lantai – Kyuhyun di bawah, aku di atas.

  “Ohh.. Kami sepertinya mengganggu, permisi,” Donghae sunbae hendak menutup pintunya. Aku  segera berdiri.

  “T-tunggu! K-kami nggak lagi ngapa-ngapain kok,” ucapku tergagap-gagap. Aigoo! Mereka ini sunbae-sunbae usil! =3=

  “Cih! Kau ini! Ayo kita pulang ambil kuncimu!” seru Kyuhyun mengetuk-ngetuk keningku. Aku hanya cemberut. Menyebalkan!

  Kami pun pulang ke dorm Suju dan mengambil kunciku. Aku ingin segera sampai ke rumah.

  “Minn-ah,” panggil Kyu yang mengantarkanku pulang.

  “Ne?”

  “Ini hadiah. Aku beli di Indonesia. Lain kali kau harus ikut aku,” ia menyerahkan sebah kotak berisi sebuah ornamen dari kayu berbentuk grand piano. Lucu.

  “Gomawo,” gumamku. Ia mengelus-elus rambutku.

  “Sudah kubilang, padaku kau tak perlu bilang gomawo terus,” ucapnya. Aigoo! Ia terlihat lucu, lebih lucu dari Onew kemarin! Aku mencubit pelan pipinya dan masuk ke rumah. Hehehe.. Hari yang melelahkan.

 

THE END

Allo~! hoho… maaf updatenya lama… isinya rada geje pula.. soalnya cuma pelampiasan soalnya ga bisa nonton KIMCHI plus ga ada kerjaan selain tiduran karena sakit 😦 *poor me
Hope U Like It..^^

Gomawo

%d bloggers like this: