Tag Archives: Choi Siwon

Letter of Angel XXI “Total Eclipse Of The Heart”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX

Background Song : Total Eclipse Of The Heart_Bonny Tiller (Original Song). Feel the emotion, it has many versions, but the origin I guess is the best one.


“Apa benar kalau Yoona melahirkan anak Siwon?”

“Ne, sajangnim” jawab bawahannya.

“Cari informasinya dan pastikan kau mendapatkannya hari ini”

“Ne. sajangnim” jawab bawahannya sambil membungkuk.

“Anak itu anak Siwon”

FLASHBACK

“Gugurkan anak itu” jawabnya santai.

“Tidak. Apapun yang terjadi saya tidak akan menggugurakan anak ini. Dengan atau tanpa Siwon, akan saya besarkan anak ini dengan tangan saya sendiri. Anda tak perlu khawatir, saya tidak akan mengganggu kehidupan Siwon lagi. Saya permisi”
———————————————————————————————
“Eomma, ayo cepat aku ingin bertemu appa”

“Sayang hati-hati jangan berlari. Nanti bisa jatuh”

“Ya!!!! Chanhee-ya….”

“Huwaaa…. Eomma”

“Chanhee…. Upz… Tidak apa-apa jagoan. Jangan menangis yah. Tidak apa-apa, Jagoan appa” Donghae menggendong Canhee dan aku membersihkan debu di bajunya.

“Myungsoo, tidak apa kalau kau berikan permenmu pada Chanhee?” tanya Jaejoong oppa pada Myungsoo yang berada di gendongannya.

“Chanhee Jangan menangis lagi. Ini untukmu” Myungsoo mengulurkan permen pada Chanhee. Chanhee tersenyum senang.

“Gomawo, Myungsoo hyung” Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“Sekarang kalian main berdua sambil menunggu Sungjong serta Kwangmin dan Youngmin yah”

“Iya, eomma” jawab Myungsoo yang langsung mengajak Chanhee ke taman rumah sakit.

Myungsoo dan Chanhee bermain dengan riang, tak lama Hara eonni dan Kyuhyun oppa bersama bayi kembar kecil mereka datang. Myungsoo dan Chanhee yang melihatnya segera berlari untuk melihat si kembar kecil.

Myungsoo menyentuh pipi gembul Youngmin dan kemudian berganti ke Kwangmin. Youngmin dan Kwangmin tidur nyenyak di keranjang bayi mereka.

“Donghae, Jaejoong, Kyuhyun” Kami menengok dan melihat Donghwan oppa datang bersama Jieun.

Sungjong berada di gendongan Jieun.
Sungjong minta turun dari gendongan ibunya dan ikut bergabung dengan Chanhee dan Myungsoo. Sungjong berhigh-five dengan Chanhee. Aku menyapa Donghwan oppa dan Jieun.

“Aku senang Chanhee dan Sungjong sangat dekat” kata Donghae.

“Aku harap mereka saling menjaga” tambah Donghwan.

“Sepertinya ada yang terkena virus cheesy” komentar Jaejoong.
Kami semua tertawa.
————————————————————————————
Tunggu mimpi apa ini? Apakah aku akan kehilangan Mavin? Apa kami akan kehilangan Mavin? Tidak… Mimpi ini terasa nyata, sangat nyata. Chanhee… Anak itu… Dia anakku dan Donghae-oppa, tapi dimana Mavin?. Tidak mungkin, dia pasti akan tetap bersama kami.

Aku segera menuju box bayi dan melihat Mavin yang tertidur. Tak terasa air mata membanjiri pipiku dan aku jatuh terduduk. Tuhan… Jangan ambil dia dari kami. Aku bisa merasakan Chanhee, apakah dia putraku di masa depan? Tuhan, bila Chanhee adalah masa depanku, aku mohon Mavin juga bagian dari masa depan itu.

“Jiyeon, kenapa kau menangis?” Donghae menyentuh pundakku dan aku langsung memeluknya.

“Oppa, katakan padaku kalau kita tak akan pernah kehilangan Mavin. Apapun yang terjadi dia akan bersama kita kan? Oppa… Katakan padaku” Tangisku semakin tak terbendung, Donghae oppa menuntunku ke ruangan lain.

Turnaround, every now and then I get a
little bit lonely and you’re never coming around
Turnaround, Every now and then I get a
little bit tired of listening to the sound of my tears
Turnaround, Every now and then I get a
little bit nervous that the best of all the years have gone by

Donghae’s View
Aku masih berada di ruangan kerjaku hingga aku mendengar seseorang terisak. Aku menuju ke kamar kami dan melihat Jiyeon menangis. Aku menghampiri dan menyentuh pundaknya, dia langsung memelukku. Aku terkejut saat dia secara jelas menyatakan ketakutannya untuk kehilangan Mavin. Aku menutunnya ke ruangan lain agar kami tak membangunkan Mavin yang sedang tertidur.

“Jiyeonie, apa yang membuatmu berpikir kalau kita akan kehilangan Mavin?” tanyaku setelah dia kembali tenang. Jiyeon menceritakan mimpinya, aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Jika benar itu masa depan kami, tidak mungkin itu masa depan kami kenapa Donghwa hyung bersama Jieun.

Itu tidak mungkin lalu dimana Changmin? Aku rasa mimpi Jieun hanya sebuah bunga tidur. Aku meyakinkan Jieun kalau itu semua hanya mimpi dan taka da yang perlu dikhawatirkan. Meski, sebenarnya dalam hatiku mungkin aku mengharapkan masa depan itu dengan begitu anak Donghwa hyung dan Jieun akan terlahir, tapi aku segera menghapus keinginan itu karena itu artinya Mavin juga tidak ada di masa depan kami.

Turnaround, Every now and then I get a
little bit terrified and then I see the look in your eyes
Turnaround bright eyes, Every now and
then I fall apart
Turnaround bright eyes, Every now and
then I fall apart

Siwon’s View

Sekretaris pribadiku Kwan ahjushi datang bersama sekretaris appaku, sekretaris Lim ahjushi.
“Tuan Muda, Tuan Besar ingin anda menghadap beliau sekarang juga” Melihat ekspresi Kwan ahjushi, ini semua pasti bukan hal baik.
Aku segera menuju ruang dengan papan bertuliskan President Choi di depannya.

“Sajangnim, ada urusan apa anda memanggil saya?”

“Siwon, meski aku presiden direktur, tapi aku tetap ayahmu. Kau diperbolehkan memanggilku ayah. Namun, bukan hal ini yang ingin aku bicarakan. Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang” Aku mengikuti arah pandangan ayah dan saat itu masuklah seorang pria muda seusiaku. Dari raut wajahnya aku berani bertaruh dia adalah orang yang keras dan berpendirian teguh.

“Siwon, kenalkan ini Pengacara Jung Yunho. Dia yang akan menjadi pengacara barumu mulai dari sekarang” Mataku membesar, aku tidak percaya apa yang aku dengar dan menatap ayah penuh tanda tanya.

“Choneun Jung Yunho imnida. Mulai dari sekarang saya akan menjadi pengacara untuk memenangkan kasus hak asuh putra anda”

Aku segera keluar dari ruang ayah tanpa memperdulikan teriakannya padaku.

Darimana appa mengetahui tentang kasus ini. Kenapa dia menunjuk pengacara Jung untuk menjadi pengacara baruku?

“Seunghyun. Kita harus bertemu ada yang harus aku bicarakan. Ini sangat penting” kataku.

“Aku juga ingin membicarakan sesuatu yang penting kita bertemu di café biasa” jawabnya mengakhiri telpon kami.

Ternyata Seunghyun tidak datang sendiri, dia datang bersama jaksa Kim Junsu.

“Ada apa ini? Kenapa jaksa Kim Junsu juga kemari?” Aku sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikanku, appa adalah orang yang bisa melakukan apa saja untuk mendapat apa yang dia inginkan. Firasatku mengatakan ayah telah melakukan sesuatu di luar perkiraanku.
“Kasus perebutan hak asuh sudah sampai di pengadilan tinggi. Berkasnya telah diajukan hari ini”
“Tunggu bukannya berkasnya memang sudah diajukan?” tanyaku.
“Memang tapi kami semula memperlambat prosesnya dengan mendahulukan kasus-kasus perdata dan pidana sebelumnya. Aku memilih menyelesaikan tumpukan kasus lain untuk segera diselesaikan dibanding kasusmu, tapi aku menerima perintah agar kasusmu segera disidangkan”

“Tunggu aku tak mengerti apa maksudmu?” tanyaku pada Seunghyun.

“Secara mudah kau dan Donghae akan segera bertemu di persidangan. Hari persidangan sudah ditentukan 2 minggu dari sekarang. Kau tahu sekarang, lalu apa yang tadi ingin kau biacarakan?”tanya Seunghyun.

“Ayah… Pasti ayah yang melakukannya” kataku geram. Seunghyun dan Junsu mendengarkan semua ceritaku. Junsu dan Seunghyun sudah tidak terkejut dengan apa yang dilakukan ayah karena mereka berpendapat kalau aku juga seperti itu.

“Siapa nama pengacara barumu?” tanya Junsu.

“Jung Yunho” jawabku.

Seunghyun hampir menyemburkan minumannya dan Junsu terlihat sangat khawatir.

“Apa aku akan kalah?” tanyaku.

“Kau tak tahu siapa Jung Yunho?” tanya mereka berdua hampir bersamaan.

“Jika Shim Changmin Pangeran Meja Hijau, maka kau bisa mengatakan kalau Jung Yunho adalah Kaisar Muda Hukum”

“Kaisar Muda Hukum? Maksudmu Kaisar Muda Meja Hijau?” tanyaku.

“Bila Shim Changmin memiliki keturunan pengacara dimulai dari kakeknya, maka Jung Yunho memperoleh keturunan pengacara dari leluhurnya. Nenek Jung Yunho dari pihak ayah adalah guru besar hokum pidana universitas Seoul, kakek Jung Yunho dulunya adalah kepala kejaksaan agung. Ibu Jung Yunho setengah keturunan korea dan jepang. Kakeknya adalah orang Jepang dan merupakan kepala badan investigasi khusus jepang, neneknya orang Korea dan dia adalah ketua mahkamah konstitusi dengan kata lain Jung Yunho terlahir sebagai titisan para penegak hukum. Kau bisa percaya atau tidak tapi leluhurnya adalah para jaksa, hakim, penegak hokum dari dinasti entah Joseon atau apa, begitu juga kakek dari pihak ibunya entah dari zaman Edo atau apa.”

“Sebenarnya apa yang ingin anda sampaikan Jaksa Kim Junsu?” Aku tak mengerti kenapa harus berputar-putar sebegitu jauh.

“Aku tak mengira saat mengatakan pada Changmin dulu bahwa dia harus menghadapi Athena dan Mars akhirnya menjadi kenyataan”

“Apa lagi maksudnya?” tanyaku frustasi.

“Jung Yunho disebut sebagai titisan Athena dan Mars, dia tak pernah sekalipun kalah di persidangan. Dia bisa menjadi Athena atau menjadi Mars, kau tak akan tahu apa yang ada di otaknya”

“Tapi aku tak pernah mendengar kiprahnya di Korea”

“Dia sama seperti Hara dia berkiprah di AS tepatnya di New York. Dia juga pernah berkiprah di Jepang, sekarang dia ingin menjadikan Korea sebagai taklukannya. Sepertinya seperti itu hahaha….” Junsu mencoba melucu, tetapi itu tak merubah keadaan. Aku menginginkan Mavin, tapi tidak dengan jalan yang tak aku mengerti. Sekarang bukan Choi Siwon yang berhadapan dengan Donghae, tapi ayahlah yang berada di sini sekarang.

Seunghyun’s View

“Menurutmu apa yang kita katakan pada Siwon cukup?” tanya Junsu.

“Iya, cukup untuk membuatnya bingung” jawabku.

“Aku rasa kita cocok bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita?” tanya Junsu.
“Jika anakmu perempuan aku setuju”

“Hahaha… Kau yakin sekali, kau saja belum menikah bagaimana kau berani menyanggupi tantanganku?”

“Tak akan sulit bagiku segera menikah dan mempunyai anak, tapi aku lebih menyukai jika anak kita bersaudara. Maka aku tak perlu menghajar putraku sendiri bila kau mengatakan padaku kalau putraku menyakiti putrimu. Lagipula bukankah kau punya Kim Jaejoong sahabat karibmu?”

“Hahaha…. Kau benar putriku akan lebih mudah menerima kenyataan kalau dia akan selalu bermarga Kim. Hei… tunggu putri? Kau berpikir anakku seorang perempuan?”
“Tepat sekali dan itu harapanku”

Donghae’s View

Hari ini aku menerima telpon dari Changmin mengenai sidang yang akan kami hadapi. Akhirnya, saat ini datang juga. Mimpi Jiyeon tak akan menjadi nyata, Mavin tetap akan berada di sisi kami apapun yang terjadi. Ayah… Kau dengar aku? Ayah, aku janji aku tak akan menyerahkan putraku. Akan aku besarkan dia dengan kasih saying dan cinta serta semua hal yang bisa aku berikan.

Mavin adalah kebahagiaanku dan Jiyeon… Mavin adalah hal paling bernilai yang dititipkan padaku…. Anak itu lahir dalam dekapanku… Tangis pertamanya, suara degup jantung kecilnya, mata yang belum terbuka, tubuh kecil itu… Aku tak akan bisa melupakannya. Meskipun, aku bukan ayah biologisnya , tapi dia putraku. Mungkin darah yang mengalir di dalam tubuhnya bukan darahku, mungkin semua yang ada dalam dirinya bukan berasal dariku, tapi dengan seluruh hatiku aku mencintainya. Anak yang membuatku mengerti bagaimana perasaan seorang ayah. Bagaimana rasa senang saat melihatnya tertawa, tersenyum, rasa nyaman saat melihatnya tidur dengan nyenyak dan rasa ketakutan serta kekhawatiran saat terjadi sesuatu padanya.

Aku memutuskan untuk tidur sejenak di sofa di ruangku.
————————————————————————————————-
“Appa…. Aku main sama Myungsoo-hyung yah”

“Kenapa mereka berdua aktif sekali” komentar Jaejoong hyung. Aku dan Jaejoong hyung sedang mengunjungi Brazil terkait proyek kemanusiaan. Kami pun mengajak istri dan anak kami yang memang kebetulan anak-anak sedang libur pasca ujian semester.

“Itu lebih baik dibanding hanya menghabiskan waktu di depan layar kaca”Jaejoong hyung hanya mencibir sebagai balasannya.

“Appa… Eomma… Kemari…”

Kami berempat langsung berlari menghampiri Chanhee dan Myungsoo. Chanhee menunjuk sebuah bintang yang bersinar terang.

“Indah appa….” Komentar Chanhee.

“Itu polaris” kataku. Aku mengarahkan tangan Chanhee untuk menghubungkan bintang dalam konstelasi ursa minor.
“Nah, yang itu di bagian sudut titik keempat ujung ekor tarik garis lurus akan ada konstelasi lain dengan ukuran lebih besar. Itu namanya ursa mayor, sayang. Nah, titik yang ayah maksud tadi itu polaris, dia adalah bintang paling terang di konstelasi ursa minor” Chanhee menggerakkan kepalanya ke samping sambil terus memandangku. Lucu sekali… Dan bisa terlihat ekspresinya yang bingung.

“Tunggu ayah sebentar yah” Aku meninggalkan mereka berlima dan berlari ke kamar hotel kami untuk mengambil teropong dan juga alat tulis. Myungsoo dan Chanhee menatapku dengan tidak sabar. Aku menyerahkan teropong itu pada mereka berdua, mereka bergantian menggunakannya. Sedangkan, aku menggambar beberapa konstelasi bintang.

Aku menunjukkan gambar konstelasi ursa mayor dan ursa minor pada mereka. Chanhee mengangguk, tapi masih saja kelihatan bingung.

“Polaris yang paling terang itu yang ini dan kalau di langit yang mana?” Chanhee langsung menunjuk polaris di langit. Aku memerintahkannya untuk menarik garis sesuai dengan gambar dan dia memelukku setelah bisa menemukan keduanya di langit. Aku merasa seseorang menarik bajuku dan aku lihat Myungsoo menatapku.

“Myungie, ada apa?” tanyaku. Dia menunjuk bintang lain, tapi aku kurang mengerti arah tangannya. Aku pun menggendong Myungsoo dan memintanya menunjukkan padaku. Setelah aku tahu bintang yang dia maksud. Aku memegang tangannya dan menarik garis untuk menghubungkan bintang-bintang. Dia menatapku intens minta penjelasan.

“Rasi bintang Draco yang berarti naga. Bintang paling terang itu namanya Gamma Draconis atau dikenal juga dengan sebutan Eltanis, sayang.” Dia tersenyum riang.

“Mau menggambarnya?” Dia mengangguk, aku menurunkannya dan dia menggambar Draco.

“Hebat… Bagus sekali Myungie” Dia tersenyum dan langsung memelukku. Aku sedikit terhenyak, Myungsoo bukan anak yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya.

“Appa” Chanhee ikut memelukku.

Jaejoong hyung kelihatan sebal saat Myungsoo memelukku.

“Dia saja jika tak aku yang memeluknya. Dia tak mau aku peluk” Jaejoong hyung menggembungkan pipinya dan Myungsoo hanya menarik nafas.

“Aku suka El…”

“Eltain, sayang” tambahku.

“Iya, eltain. Tapi ahjushi aku tak pernah melihatnya di Korea” dia sedih. Chanhee juga menatapku dan menunjuk polaris.

“Korea Selatan berada di southern hemisphere sehingga konstelasi yang tampak adalah southern circumpolar sky, sehingga kalian tidak bisa melihatnya karena mereka berada di northern circumpolar sky”

“Jadi, kita tak bisa melihat polaris dan eltain lagi?” Myungsoo berubah sedih.

Aku menggendong Chanhee di tangan kiri dan Myungsoo di tangan kananku. Mereka masih play group jadi aku masih kuat melakukannya.

“Lihat ke langit. Myungie, ingatlah Eltain dan Chanhee, ingatlah Polaris” Mereka terdiam dan melihat dengan intens.

“Sekarang apa yang kalian lihat?” Mereka menatapku.

“Aku melihat Eltain dan Polaris sedang berada di pelukanku. Mereka tersenyum senang dan langsung memelukku.

“Ohya, ahjushi bintang yang paling terang itu apa?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

“Sirius” Chanhee menjawab dengan cepat, aku kaget dia mengetahui Sirius.

“Darimana putra appa tahu?” tanyaku.

“Kemarin appa bilang padaku. Saat aku bertanya appa sedang melihat apa, tapi apa langsung menyembunyikannya di balik meja dan appa bilang sedang menikmati indahnya bintang paling terang, yakni Sirius. Appa bilang Sirius tidak mudah ditemukan, dia sangat terang. Mungkin awalnya kita tidak sadar dia di sana, tapi dia di sana. Dan aku tahu dimana Sirius”

Kami mengamati langit dan dia menunjuk bintang paling terang di Ursa Mayor. Sirius…. Mavin… Aku melihat foto hyung-mu, Chanhee. Sirius appa…

Aku tak sadar air mataku menetes. Tangan lembut mengusap air mataku, tangan kecil Myungsoo dan Chanhee.

“Sirius memang paling terang” kata Myungsoo.

“Kalian semua bersinar terang dan sangat indah. Aku harap suatu hari Eltain, Polaris dan Sirius membawa kalian padaku”

“Aku akan membawa Sirius. Aku janji Sirius pasti akan datang karena ahjushi sekarang sudah punya Eltain dan Polaris.

Jiyeon terlihat menggigit bibirnya, Jaejoong hyung tahu dengan jelas semua ini.

Iya, Sirius… Aku harap Sirius kembali……

“Aku janji ahjushi, Sirius akan datang padamu” ulang Myungsoo.
————————————————————————————————

“Donghae, ada apa?” tanya Donghwa hyung. Aku menggelengkan kepalaku, tapi tetap saja tak bisa membohongi hyung-ku dan akhirnya aku menceritakan semuanya tepatnya hanya masalah persidangan, aku tak ingin menceritakan mimpi Jiyeon atau mimpiku yang menurutku hanya bunga tidur. Dia menarik nafas panjang dan meninggalkan ruanganku. Namun, sebelum keluar dia berbalik.

“Mulai hari ini hingga saat persidangan kau tidak akan menerima tugas sebagai dokter penanggungjawab dan kau hanya perlu menyelesaikan jadwal operasi yang memang sudah ditentukan. Untuk rumah sakit SNU, aku rasa ada baiknya kau memberitahu kepala rumah sakit mengenai masalah ini. Jika tidak aku yang akan memberitahunya. Satu hal penting bagi semuanya dengan Jiyeon. Dia berhak tahu Donghae, bagaimanapun dia adalah ibu Mavin. Kau dan Jiyeon lah tokoh utama dalam drama ini. Bagaimanapun ending skenario dari Tuhan, masih bisa diubah jika kalian mau berusaha. Sekarang tak akan nada yang berubah, tapi masa depan adalah cerminan sekarang” Aku bingung maksud Donghwa hyung, tapi yang terpenting yang ingin dia sampaikan adalah Mavin bukan hanya anakku, tetapi anakku dan Jiyeon.

Dad, I wish you were here….. I really need you to through this out….

Turnaround, Every now and then I get a
little bit restless and I dream of something wild
Turnaround, Every now and then I get a
little bit helpless and I’m lying like a child in your arms

Jiyeon’s View

From : My Sunshine
Jiyeonie, hari ini aku akan pulang lebih awal dari rumah sakit. Jadi, aku bisa menjemput Mavin dan tidak perlu melibatkan Jungmin. Kau pulang kuliah jam berapa?

To : My Sunshine
Aku selesai kuliah jam 1, tapi ada praktikum sampai malam. Aku sudah meminta eomma untuk menjaga Mavin hingga besok karena aku pikir oppa sedang sibuk dengan urusan rumah sakit. Mian  harusnya aku memastikan dulu sebelum melakukannya.

From : My Sunshine
It’s okay. I’ll pick you up, just waiting for me and your lovely son. Hwaiting !!! Get good score and don’t make any trouble.
“Jiyeon, ayo ke kantin” ajak Taemin. Aku mengangguk dan mengikuti langkah Taemin.

Donghae’s View

“Donghae” kepala rumah sakit SNU yang sekaligus guru besar kedokteran bedah jantung SNU memanggilku saat aku sudah tinggal beberapa langkah untuk keluar dari ruangannya.

“Ne, uisha. Ada apa?”

“Kau bisa berlibur untuk besok. Maksudku besok sudah Jum’at dan ada baiknya kau memanfaatkan akhir minggu ini dengan keluargamu”

“Tapi uisha…”

“Jangan khawatir kau tidak merepotkan siapapun. Semua pasienmu untuk besok akan berada dalam pengawasanku. Meski aku sudah tahu, aku masih bisa menjalankan tugas sebagai dokter” ujarnya sambil tertawa.

“Ohya, salam untuk ibumu dan jika kau mengunjungi ayahmu katakan padanya kalau aku merindukannya” Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat sangat hangat…..

Dad… I really miss you….

Jiyeon’s View

Aku terlonjak saat mendengar ponselku bordering di tengah-tengah praktikum, segera aku meminta izin untuk menerima telpon.
Eommonim??
Jiyeonie…. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu…. Bagaimana keadaan cucuku? Dia sudah besar dan tambah tampan kan?

Pembicaraan kami terpaksa aku putus karena sedang praktikum. Aku merasa bersalah, tapi eommonim sangat mengerti keadaanku.

Baiklah. Aku akan ke rumahmu untuk menemui cucuku sekalian menunggu Donghae yang katamu akan menjemputnya. Aku rasa akan ada arisan ibu-ibu di rumahmu… ahahaha….
Aku tertawa dan menutup telpon.

Donghae’s View

Tiba di rumah Jiyeon, aku disambut oleh pelukan amat sangat kuat “bear hug crash bone” eomma dan eommonim hanya bisa tersenyum. Mavin bermain-main dengan baby sister yang dipekerjakan eommonim. Dia kelihatan sangat ceria apalagi dengan ditemani nenek-neneknya yang entah kapan sadar usia mereka. Sigh….

Aku mengirim Jiyeon pesan dan menanyakan kapan dia pulang agar aku bisa menjemputnya.

From : Jiyeonie
Aku akan pulang sebentar lagi oppa. Masih di tempat eomma kan? Aku naik mobil Taemin saja, rumah kami kan searah. Mavin sudah tidur? Cium untuknya <3333

Dasar… Emoticon anak-anak muda memang aneh.

Ya, Mavin sedang tidur dengan nyenyak. Eomma sudah pulang setelah makan malam, sedangkan aku disini bersama Jungmin, eommonim dan abeoji.

Keluarga Jiyeon memang menyenangkan dan hangat. Kami mendengar mobil berhenti di depan rumah dan aku keluar untuk melihatnya. Jiyeon turun dari mobil Taemin dan membungkuk terima kasih. Taemin sepertinya melihatku yang berdiri di depan pintu masuk rumah Jiyeon karena dia tiba-tiba melongokkan kepalanya dan menunjuk ke arahku. Meski tidak terlalu jelas, aku bisa melihat ada seulas senyum di bibir Taemin saat Jieyon menghampiriku.

“Oppa….” Jiyeon entah sadar atau tidak memelukku dan memberikan ciuman kilat di pipiku. Aku membutuhkan beberapa detik untuk mencerna semua yang terjadi dan mengedipkan mataku berkali-kali sebelum akhirnya melihat Jiyeon yang tersenyum lebar. Dia melewatiku dan bergabung dengan keluarganya di ruang tengah. Kami melanjutkan pembicaraan kami hingga larut malam hingga Jungmin mengatakan tepatnya menyuruh kami semua untuk tidur. Ternyata dia memang tipe pengatur tidak hanya pada adiknya, padaku, tetapi juga pada orang tuanya.

Belum sempat aku berdiri Jungmin sudah menarikku paksa. Jiyeon ingin protes, tapi menerima death glare Jungmin dan langsung terdiam.

“Well because tonight you’ll spend your time in my SISTER BED so DO IT SAFETY” Bola mataku serasa mau keluar ketika Jungmin menyerahkan amplop yang ternyata berisi kondom. Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresiku. Saat Jiyeon menghampiriku segera aku masukkan amplop tersebut ke saku celanaku.

PARK JUNGMIN…. KU BUNUH KAU…. teriakku dalam hati.

Gara-gara Jungmin aku justru tidak bisa tidur.

“Oppa, di bawah dingin yah? Kau bisa naik kok” katanya padaku. Sial…. Meski, Jiyeon hanya ingin berniat baik, tapi … sister… safety…. SIAALLLLL……

Aku mengacak-acak rambutku tanpa aku sadari. Dan tiba-tiba aku merasakan tangan seseorang menghentikan kegiatanku dan melihat Jiyeon tersenyum padaku.

“Aku tak tahu yang terjadi pada oppa, tapi aku tahu bagaimana menghibur diri” kata Jiyeon. Aku menatapnya intens meminta penjelasan. Dia tiba-tiba berdiri dan mengajakku menuju balkon di depan kamarnya.

“Look” Aku mengikuti arah tangannya.

“Bintangnya banyak dan terang” kata Jiyeon.

“Konstelasi modern terdiri dari 88 rasi bintang. Zodiak termasuk dalam 88 rasi bintang ini dan umumnya orang-orang hanya mengetahui zodiak jikapun mengetahui konstelasi umumnya hanya sebatas pengetahuan dari sekolah kecuali mereka yang memang sangat menyukai bintang dan tentunya astronom” Jiyeon mengangguk-angguk.

“Oppa, banyak mengerti yah. Beda denganku” katanya sambil menggembungkan pipi. Aku mengacak rambutnya.

“Lihat ke langit akan aku ajari kau untuk menemukan kostelasi-konstelasi”

Sangat menyenangkan menemukan konstelasi dan bagiku seperti mengingat masa kecil.
“Oppa, katanya bintang paling terang itu polaris benarkah?”

“Jika di konstelasi ursa minor itu polaris…”

POLARIS…

SIRIUS…

DRACO…

“Memang ada yang lain yang lebih terang?”

“Draco, Polaris… Sirius”

Jiyeon menatapku bingung. Aku tersenyum padanya.

“Draco, Polaris, Sirius…. Mereka lah yang paling terang”

God, even If my dream will become true. Please, don’t take Sirius. I’ll protect and love my Polaris and my Eltain. They’ll become my wealthy…. Chanhee, Myungsoo… I’m waiting for you guys to be born and Sirius will protect you two.

SIRIUS, POLARIS, DRACO….. JUST BESIDE ME…. IF YOU TAKE THEM FROM ME… IT’LL BE TOTAL ECLIPSE OF MY HEART

Once upon a time there was light in my life
But now there’s only love in the dark
Nothing I can say
A total eclipse of the heart

Letter Of Angel XX (BLUE)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIV

Background Song :

Listen it and find the chemistry

Tiffany’s View

Aku terbangun dan menemukan diriku di kamar yang tak aku kenal. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tiffany di sinilah dirimu sekarang. Apa yang kau harapkan melihat Siwon di sampingmu?
Tok…tok..tok…
Seseorang mengetuk pintu dan kemudian aku melihat Jessica membawakanku sarapan.

“Maaf merepotkanmu” kataku sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kita teman kan?” ujarnya sambil tersenyum riang, aku pun membalasnya dengan senyuman.

“Mashita” pujiku.

“Hehehe… Bukan aku yang memasaknya. Emmonim yang memasaknya” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Eommonim? Aku jadi ingat namja cantik kemarin. Aku jadi ingin menggoda Jessica.

“Oh… Eomma dari namja yang kemarin yah? Wah… wah berarti sudah mendapat lampu hijau. Kalau begitu jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian yah”

“Ani.. Aniya. Taemin harus menjadi dokter dulu dan mungkin baru 5 tahun lagi, kalaupun hubungan kami bertahan, tapi aku harap iya” Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“I wish you two could make it real. Do your best to keep your relationship. Promise me” Aku menyodorkan jari manis tangan kananku, dia menyambutnya dan kami melakukan pinky promise.

“Sica….” Taemin melongokkan kepalanya dan memanggil Jessica. Jessica meninggalkanku sejenak untuk berbicara dengan Taemin, tak lama dia kembali duduk di pinggir ranjang.

“Taemin pamit. Dia ada kuliah pagi. Dia titip salam untukmu” Tanpa aku minta Jessica menjelaskan. Aku hanya mengangguk.

Jessica juga pamit dan meninggalkanku di apartemennya. Dia semula mengajakku ke rumah sakit daripada aku sendiri, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau bertemu orang-orang dalam keadaan seperti ini.
Sku melihat bayanganku di cermin. Mata sembab dan merah, wajah sayu dan pucat serta rambut acak-acakan. Tiffany….

(I’m singing my blues)
The love that I have sent away with the floating clouds, oh oh
Under the same sky, at different places
Because you and I are dangerous
I am leaving you
One letter difference from ‘nim’(T/N)
It’s cowardly but I’m hiding because I’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love


Jiyeon’s View

“Oppa, hari ini setelah kuliah aku ingin ke tempat Sica-eonni. Boleh kan?” tanyaku pada Donghae oppa yang sedang menyetir.

“Baiklah. Nanti aku antar, setelah mengajar jam pertama aku kosong sampai siang” ucap Donghae oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ne” aku mengangguk senang.

“Kau sudah menelpon Jessica kalau kau ingin berkunjung?” tanyanya memastikan.

“Sudah, oppa. Tadi pagi aku sudah menelponnya, dia mengatakan aku bisa langsung masuk apartemennya. Nanti Taemin juga akan kesana kok, dia diminta Sica-eonni untuk mengambilkan beberapa barang Sica eonni yang tertinggal”

Donghae mengangguk sesaat.

Kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Donghae membuka pembicaraan lagi.

“Kau suka peony yang diberikan ahjumma kemarin?” tanyanya. Mukaku langsung bersemu merah.

“Kalau boleh tahu arti peony itu apa?” Kali ini dia menatapku, kami sedang berada di lampu merah. Aku mengalihkan pandanganku antara akan atau tidak menjawab pertanyaannya.

Tin…Tin….Tin…

Donghae’s View
Tin…Tinn…. Tinnn….
Aku menunggu jawaban Jiyeon sampai tak sadar lampu sudah menjadi hijau. Aku segera menjalankan mobil dan menundukkan kepala kepada pengemudi lain.

“See, you gave us trouble” kataku sebal.

Tunggu… Sejak kapan Lee Donghae menjadi seperti ini. Jiyeon sedikit kaget dengan perkataanku. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku.

“Syukurlah, aku pikir Oppa sakit” katanya lega.

Kami berdua saling berpandangan sesaat dan tertawa. Aku menepikan mobil takut bila terjadi apa-apa ketika mengemudi dalam keadaan ini.

“Baiklah, sepertinya hari ini bagaimana kalau kita sedikit telat” ajakku. Jiyeon membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.

“Bagaimana ?” tawarku lagi.

Dia menarik nafas panjang.

“Oppa, harus mengajarkan? Kalau kita terlambat nanti bisa susah” katanya.

“Hei, siapa yang akan terlambat masuk kelas” Bukan itu yang terlintas dalam pikiranku.

“Lalu?” tanyanya bingung.

Aku membisikkan sesuatu di telinganya. Dia mengangguk mengerti.

“Oh, begitu yah. Aku setuju” katanya riang.

“Aku pikir kau mengerti isi otakku, ternyata tidak” godaku.

“Memangnya aku pembaca pikiran apa? Bagaimana aku tahu bial oppa tidak mengatakan isi pikiran oppa padaku” dia menggembungkan pipinya.

“Ehmm… Ada yang ingin aku katakan” aku menarik nafas panjang. Jiyeon memperhatikanku dengan seksama.

Aku kembali menarik nafasku dalam. Aku mengambil tas kerjaku dan mengeluarkan 1 tangkai bunga.

“I don’t know from where should I explain this all. It’s gloxinia, it means love at first sight. It was my feeling to Yoona” Jiyeon menarik nafas panjang dan mengepalkan tangannya, dia kemudian menatapku memintaku untuk meneruskan kata-kataku.

“That was my feeling, I couldn’t ignore it” Aku gantian menarik nafas. Mata Jiyeon sudah berair.
“I…..” Jiyeon memotong kata-kataku.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintainya dan tak bisa melupakannya?” ujarnya tersenyum sambil menahan airmata.
Aku terdiam.

“Aku bisa menunggu, aku orang yang sabar kok” sambungnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

Donghae… now or never… Aku menarik Jiyeon dalam pelukanku. Dia menangis di dadaku, aku menggenggam tangan kanannya dimana cincin pernikahan kami tersemat di jari manisnya.

Aku merogoh hiasan clay dari saku jasku dan meletakkannya di tangannya. Dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku sambil mencoba melihatku.

“Edelweiss, itu edelweiss. Bunga abadi, bunga yang hanya akan tumbuh di pegunungan tinggi. Edelweiss bunga para pendaki. Edelweiss bunga kecil yang terus hidup dan bertahan di daerah dingin dan ekstrim. Bunga yang selalu memberi warna dan kedamaian bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih puncak tertinggi. Eddelweiss bunga sederhana yang menemani Sang Gunung untuk mengarungi waktu dan musim. Dia hanya akan hidup di sana, dia tak akan meninggalkan Sang Gunung, dia hanya hidup dan bernafas bila berada di sana. Edelweiss memang tak sekokoh Gunung itu sendiri, edelweiss terkesan lembut, sederhana, rapuh dan mudah terluka. Namun, dengan segala kelemahannya, edelweiss memberikan nafas kesederhanaan, pertahanan, ketulusan dan kekuatan serta senyuman. Dia tak perlu sekuat dan sekokoh Gunung, dia cukup menjadi dirinya sendiri. Kau bukan gloxinia-ku, tapi kau lah edelweiss-ku. Step by step I wish I could….” Kata-kataku terpotong ketika aku merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirku.

“I’ll be your edelweiss. That’s always love, love and love you always no matter what. I’m waiting for you till one day you open your heart” Aku menutup mataku sesaat lega.

“Oppa” Aku menatap Jiyeon.

“Kita ke tempat Siwon-oppa yuk. Aku punya rencana, maksudku kita akan membuat rencanamu lebih sempurna” katanya. Dia menjelaskan semua rencananya.

“Tapi kuliah dan…”

“Aku punya 25% hak untuk tidak mengikuti perkuliahan kan? Sekali bolos saja tidak masalah. Lagian hari ini ”

“Tunggu, aku punya cara lain” Aku segera menghubungi Jessica, Hara dan adik Kyuhyun, Jieun.

“Jelaskan semua pada mereka. Kau bisa mengandalkan mereka” Akhirnya kami melakukan teleconference.

“Ne, aku mengerti Donghae uisha” kata Jieun.

“Baiklah, Donghae-oppa. Beres, serahkan saja padaku” ucap Hara bangga.

“Asal Tiffany eonni tersenyum semua akan aku lakukan” ujar Jessica.

“Lalu, Siwon oppa bagaimana? Siapa yang akan menemuinya?” tanya Jiyeon. Kami diam sejenak.

“Biar aku dan Hara yang menemuinya. Ada yang harus aku bicarakan juga dengan Hara” kataku. Jiyeon mengangguk.

Siwon’s View

“Sajangnim. Tuan Lee Donghae dan nona Goo Hara ingin menemui anda” Aku mengerutkan dahiku, ada urusan apa mereka berdua kemari.

“Suruh mereka masuk” ujarku pada sekretaris.

Donghae dan Hara masuk, aku mempersilahkan mereka duduk. Belum lama mereka masuk, tiba-tiba Seunghyun dan Pamanku, ayah Seunghyun.

Hara terkejut, tetapi Donghae hanya tersenyum.

“Seunghyun, Paman ada urusan apa datang kemari?” tanyaku. Namun, kejutan tak sampai di situ. Sekretarisku mengantarkan Kyuhyun dan Changmin ke ruanganku. Tunggu ada apa ini?

Donghae sepertinya mengerti kebingunganku. Dia berdiri dari kursi dan menggenggam tangan Hara, menuntunnya ke dekat Kyuhyun dan meletakkan tangannya di tangan Kyuhyun.

“Kyuhyun, ini Tuan Besar Choi dan Choi Seunghyun. Ayah dan kakak dari Goo Hara” Kyuhyun sedikit terkejut, tetapi kemudian membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri.

“Hara, time to makes up” kata Donghae. Kyuhyun mengangguk. Paman, Sunghyun, Kyuhyun dan Hara keluar ruangan. Menyisakan aku, Changmin dan Donghae.

“Itu tadi apa?” tanyaku. Donghae tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mempertemukan keluarga yang terpisah dan ingin melihat senyuman di wajah adikku” kata Donghae.

“Adik?” tanyaku.

“Hara. Sudahlah sekarang yang terpenting adalah Tiffany. Aku dan Jiyeon punya rencana untuk membuat kalian berbaikan. Berterima kasihlah juga pada Changmin, tanpa dia aku ragu kita bisa membuat semua menjadi beres” Donghae mengedipkan matanya ke arah Changmin, yang hanya memberinya death glare.

“Lalu mengenai Hara dan…..” Donghae memotong perkataanku.

“Choi Siwon, sekarang saatnya mengurus urusanmu dulu. Aku akan jelaskan lain waktu padamu tepatnya pada kalian semua. Iya kan Changmin?” Changmin seperti ingin mencekik Donghae. Entahlah aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua rencana Donghae dengan saksama.

“APA???????” teriakku di akhir.Changmin hanya menatapku iba.

“A-KU SE-RI-US” kata Donghae penuh tekanan di tiap kata.

“Jika tidak berhasil bagaimana?” tanyaku takut.

“Serahkan pada Shim Changmin” kata Donghae dan Changmin hanya mlengos.

Tiffany’s View

“Sica, bagaimana bisa kau cemburu. Aku dan Jiyeon sudah lama berteman dank au tetap tak mengerti”

Aku segera keluar kamar, Taemin dan Jessica berteriak hebat.

“Berteman? Hanya berteman? Kau tak pernah melupakan Jiyeon, selalu saja dia di otakmu. Kau pikir aku tak sakit hati apa saat melihat kalian bersama” balas Jessica.

“Sica…. Dia sudah punya Donghae uisha dan aku memilikimu. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan bahwa kami tak memiliki perasaan selain teman?” teriak Taemin lagi.

Jessica menangis dan jatuh terduduk. Taemin berusaha menenangkan Jessica dan berusaha memeluknya, tetapi Jessica menolak dan justru tambah keras menangis. Aku mendatanginya dan segera memeluknya. Aku menatap Taemin, matanya kosong. Dan dia sudah siap meneteskan air mata, tetapi dia menahannya.

“Eonni” seseorang masuk ke apartemen Jessica dan kaget saat melihat Jessica. Sepertinya aku pernah melihat gadis muda ini, tapi entah dimana aku tak yakin. Jessica berganti memeluknya dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Taemin tetap berdiri di depan kami, menunggu Jessica untuk menenangkan diri.

“Aku rasa eonni salah paham” kata gadis itu.

“Tidak, Jieunie. Taemin masih mencintai Jiyeon sampai sekarang” Jessica tetap kukuh.

“Mencintai Jiyeon sampai sekarang? Darimana teori bodoh itu , Sica. Iya dulu aku mencintainya, tapi sekarang kau yang aku cintai” teriak Taemin.

“Katakan padaku kau sama sekali tak mencintainya” teriak Jessica. Taemin diam membisu.

The winter had passed
And the spring has come
We have withered
And our hearts are bruised from longing

“Bawa aku darisini aku tak ingin melihatnya” kata Jessica. Dia memaksaku dan Jieun untuk membantunya berdiri. Taemin tak mampu berkata-kata.
———————————————————————————-
Tanpa Tiffany ketahui Taemin menelpon Donghae. “Done, uisha. Plan A sukses”
“Sekarang plan B”
———————————————————————————-
“Pak, tolong antarkan kami ke alamat ini yah” kata Jieun pada sopirnya. Sopirnya hanya mengangguk. Jessica sekarang tertidur setelah habis menangis.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Jieun. Jieun hanya tersenyum.

Jessica akhirnya terbangun. Dia masih sedikit terisak, tetapi sudah lebih baik.

“Aku juga pernah seperti itu eonni” kata Jieun. Kami berdua menatapnya. Lagu yang tepat di saat yang sangat menyakitkan. Big Bang Blue mengalun memenuhi space di mobil ini.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go

“Layaknya lagu ini saat itu aku bahkan merasa tak bisa merasakan hatiku. Aku tak bisa menangis karena air mataku sudah habis. Terlalu sakit bagiku mengakui kalau aku bukan siapa-siapa bagi Changmin. Apa yang bisa aku katakan? Beda usia kami cukup jauh. Aku masih kelas 2 SMA dan dia sudah menjadi seorang pengacara. Dia dikelilingi banyak wanita cantik, modis dan tentu saja pintar. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam, tapi dia membuatku percaya kalau aku lebih baik dari mereka semua. Sampai suatu hari aku menemukan foto dia mencium seorang wanita di bar. Saat itu hatiku benar-benar sakit, aku mengatakan padanya aku tak mau menemuinya bahkan aku melempar vas bunga ke arahnya. Changmin datang padaku dan aku melihat pelipisnya berdarah, aku yang semula meronta akhirnya luluh. Dia menjelaskan semuanya dan minta maaf karena masih menyimpan foto itu, dia minta maaf tidak bisa melupakan gadis itu, tapi itu bukan karena dia tidak mencintaiku. Bagaimanapun gadis itu pernah ada di kehidupannya, tetapi sekarang dan seterusnya dia bilang aku lah yang ada di hatinya dan memintaku untuk berjanji seberat apapun kami akan melaluinya bersama. Kami tak berjanji sehidup semati, tetapi aku berharap Tuhan yang melindungi cinta kami” kata Jieun sambil tersenyum.

“Masihkah Changmin-shi menyimpan fotonya?” tanyaku.

“Tidak, dia mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Namun, sekarang aku dan eonni itu berteman. Dia mengajarkan dan memberitahuku banyak hal tentang Oppa” jawab Jieun antusias.

“Kau bahagia?” tanyaku.

“As long as he tries his best to loves me. I guess that’s more than enough. Sometime he’ll hide all of trouble and solve them alone, he just makes sure not to make me worry and the best reason that I’d got why he kept those picture was to remain me, Jieun If you want to be the one in his life you must receive all his past or you will be spoiled girl who just dreaming about beautiful life ever after”

Pernyataan Jieun membuat diriku tercengang. Dia jauh lebih muda dariku, tetapi pemikirannya lebih dewasa mungkin dalam hal ini. Aku menangis dan mereka berdua memelukku. Aku menumpahkan segala isi hatiku pada mereka berdua. Bagaimana aku selalu memendam perasaan pada Siwon sejak kami masih kecil, saat aku bertemu dengannya pertama kali di acara jamuan di AS, bagaimana senyumnya dan caranya memperlakukanku, bagaimana aku sangat senang ketika ayahku menjodohkan kami, bagaimana hancurnya hatiku saat Siwon menceritakan dirinya dan Yoona setelah kami menikah, aku hanya berusaha menerima segalanya dan menjadi istri yang baik. Namun, aku menyerah ketika melihatnya di makam Yoona.

“Ada yang ingin aku ceritakan” Seseorang berkata pada kami dan membukakan pintu. Ternyata itu Donghae.

Jalan ini? Ini kan jalan menuju makam Yoona. Rasanya aku mau kabur saja, tetapi sebuah tangan menahanku dan sopir tadi melepas topinya. Siwon…….

“Listen my confession” kata Siwon. Donghae, Jieun, Jessica mengangguk. Di sana ternyata tidak hanya ada kami, tetapi ada Changmin, Taemin dan Jiyeon.

Jieun langsung berlari memeluk Changmin yang hanya tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya. Taemin mendekati Jessica dan mereka ???? Is it prank????

Donghae mengangsurkan tangannya pada Jiyeon dan disambut dengan senyuman hangat dan genggaman erat.

Donghae meminta kami semua berdoa di depan makam Yoona.

“Yoona, apa kabar? Kemarin aku dan Jiyeon belum sempat berbicara dan bercerita padamu. Kau tahu sekarang Mavin sudah 8 bulan, dia sangat pandai dan lucu. Yoona, aku ingin mengatakan padamu. Sarangahaeyo” Kerongkonganku tercekat. Dia mengatakannya di depan Jiyeon.

“Yoona, aku ingin berterima kasih karena kau melahirkan Mavin. Terima kasih karena Mavin, aku bertemu Jiyeon. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya dan aku berjanji kami akan menjaganya. You will always be my gloxinia, but my edelweiss is someone beside me now” ujar Donghae lancar.

Jiyeon tersenyum pada Donghae. Giliran Jessica dan Taemin.

“Aku tak pernah mengenalmu noona, tapi aku berterima kasih padamu. Meskipun, aku kehilangan Jiyeon yang lembut, baik, sopan, ceria….” Raut wajah Taemin sedikit berubah sedih dan Jessica memukul kepalanya. Taemin mengusap kepalanya.

“Tapi aku mendapat seorang gadis brutal, sadis, seenak sendiri, cengeng, manja dan yang jelas aku mencintainya” Dia memberikan wink pada Jessica.

“Seperti kata Donghae-shi aku senang kau melahirkan Mavin sehingga mengantarkan Donghae dan Jiyeon pada saat sekarang. Meskipun, aku sedikit sebal kenapa aku kehilangan Donghae uisha yang perfect dan mendapat pria aneh semacam dia, tapi aku bahagia” ujar Jessica dan menjulurkan lidah pada Taemin.

Jieun dan Changmin tidak berkata apa-apa. Mereka hanya berdoa dan mempersilahkan aku dan Siwon.

“Yoong” panggil Siwon lembut. Hatiku rasanya terkoyak.

“Perkenalkan ini Tiffany Hwang tepatnya Tiffany Choi. Dia istriku dan nyawa hidupku” kata Siwon. Aku menatap Siwon tak percaya.

“Daffodil kemarin?” ucapku tiba-tiba.

“That was the first and the last daffodil bouquet for Yoong. I told her that, even If you were not believe in me, I would not blame you. I just want to say…..”

Siwon mengalihkan pandangannya ke belakangan dan aku melihat mereka semua membawa buket bunga di tangan masing-masing. Dan sebuah selebaran…..

MIND TO BE MY SOUL…….

“I’ll try my best to love and protect you. I can erase Yoong from my memory, but I promise you that I’ll give you all happiness that you deserve. Yoong was my daffodil, but you are my irish. Irish is faith, wisdom, cherished friendship, hope, valor, my compliments, promise in love.” Siwon memberikanku kalung berliontinkan bunga Irish.

“Just for you” dia mengatakannya padaku. Siwon mencium bibirku cukup lama.

Romantis….

Indah sekali…..

I love this moment…

.
“Get room, please” Kami langsung melihat Changmin yang dipukul oleh Jieun.

“Kau ini mengganggu momen indah saja” kata Jieun sebal.

“LOVEY DOVEY PERVY maksudmu? Aku tidak akan membiarkan kekasihku yang innocent dirusak oleh makhluk Tuhan yang lain. Sudah cukup lovey dovey pervy dari 2 pasangan sebelahku” Aku melihat Jessica dan Taemin yang berpandangan dan Donghae dan Jiyeon yang saling berbisik.

“Ya!!!! Shim Changmin maksudmu apa?” teriak Donghae kemudian.

Taemin dan Donghae berlari mengejar Changmin. Aku dan Siwon tertawa. Changmin berhenti sejenak dan memandang aku dan Siwon.

“Hei, segera lahirkan bayi yang imut sebelum kau kedahuluan oleh makhluk-makhluk di belakangku” sambil tertawa. Pipiku memerah dan Siwon langsung mengikiti yang lain mengejar Changmin.
Jieun tersenyum pada kami bertiga.

“Maaf, dulu dia malaikat, tetapi sekarang dia iblis” katanya memamerkan evil smirk.

“Ohya, siapa yang membuat rencana ini?” tanyaku. Aku melirik Jiyeon, Jessica dan Jieun.

“Ehm , sebenarnya rencana semula tidak seperti ini. Namun, sepertinya Donghae oppa membuatnya seperti ini dan ….”

“Masalah prank?” ujarku.

“Tanyakan saja itu pada…..” Jiyeon dan Jessica menunjuk Jieun.

“Bukan.. bukan… bukan aku. Itu ide Changmin oppa. Dia bilang tak cukup jika membawa eonni dan Siwon oppa menjelaskan semuanya. Siwon oppa juga harus tahu bagaimana perasaan eonni” jawabnya sambil tersenyum.

“Yang menyusun scenario Changmin juga?”

“Kalau itu aku. Hehehe…… Padahal semula aku berpikir Sica eonni akan melempar barang-barang di apartemennya biar terlihat nyata, tetapi acting-nya sudah bagus hanya kurang seru” jawabnya dengan enteng.

‘Ya!!!!!! Pasangan iblis” teriak Jessica. Jieun langsung ambil langkah seribu dan berlari karena dikejar Jessica. Jiyeon menyanyikan lirik akhir Big Bang Blue.

(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang
(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang OH OH

Aku tersenyum dan meraih tangannya.

“Kisah cinta kita tidak seperti BLUE kan?” Dia mengangguk seraya tersenyum.

“Tidak selalu berjalan mulus, tetapi kita pasti bisa melaluinya”

You were my daffodil and she is my Irish

You were my gloxinia and she is my Edelweiss

I’ll make the blues to be shinning blues not the sorrow one.

Letter of Angel XIV (Daffodil)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII

Listen this song while you reading “For eternity_SS501”

Siwon’s View

Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi makam Yoona. Aku ingin sekali mengatakan banyak hal padanya.

“Oppa, kau sudah siap?” tanya Tiffany yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku berbalik dan tersenyum padanya.

“Di bawah sudah aku siapkan machiato dan pancake. Kau mau yang lain?” tanya Fany. Aku menggeleng, meski tidak terlalu pandai memasak dia selalu berusaha membuat makanan terbaik untukku. Aku bersyukur dia-lah yang menjadi istriku, “Yoong, Fany wanita yang baik kan? Apakah aku salah bila sekarang aku bersamanya dan tidak bersamamu?” batinku.

“Oppa, kau melamun?” Fany membuatku kembali ke dunia nyata. Aku mencubit pipinya dan dia mengutukku karena itu, aku hanya tertawa.

Aku meminta sekretarisku untuk mengosongkan semua jadwalku. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk diriku sendiri.

“Sajangnim, mobil anda sudah siap. Anda membutuhkan pengawal untuk kesana?” tanya sekretaris pribadiku.

“Tidak usah. Pastikan saja selama aku pergi semua baik-baik saja. Urus nyonya dan jangan sampai nyonya tahu kalau hari ini aku tidak pergi ke kantor. Bisa kau usahakan?”

“Baik, sajangnim”

Sebelum kesana aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko bunga.

“Untuk kekasih anda?” tanya ibu penjual bunga. Aku mengangguk, tak bisa aku pungkiri kalau Yoona memang kekasihku. Meski, itu hanya masa lalu.

Fany’s View

Malas sekali di rumah, lebih baik aku keluar. Kemana yah enaknya? Ohya, mengunjungi Jiyeon dan Mavin saja. Mereka di rumah tidak ya? Aku sepertinya memiliki nomor rumah sakit SNU, mungkin saja mereka bisa menyambungkanku teleponku dengan Donghae. Lucky me, tidak begitu lama teleponku sudah mencapai tujuannya. hahaha….

“Tiffany-shi ada urusan apa anda menelpon saya?” tanya Donghae.

“Boleh aku minta nomor Jiyeon. Aku ingin mengunjungi Mavin, tapi aku tak tahu apakah sekarang dia di rumah. Aku pikir dia mungkin kuliah” jawabku jujur.

“Begitu ya. Mavin sekarang berada di rumah mertua saya. Tadi pagi kami menitipkannya pada eomonim karena aku harus bekerja dan Jiyeon sendiri kuliah” jawabnya. Aku menarik nafas kecewa.

“Mungkin jika anda ingin bertemu Mavin, nanti siang anda bisa ke rumah sakit SNU. Hari ini kami berencana membawanya ke dokter anak”

“Memangnya dia sakit apa?” tanyaku panik. Donghae tertawa dan mengatakan kalau ini hanya check up bulanan untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan pertumbuhan Mavin. Aku mengangguk mengerti dan berusaha mencerna setiap omongan Donghae yang tertata sangat rapi dan ilmiah, tetapi aku yakin dia pasti sudah berusaha menjelaskan semudah mungkin pada orang awam seperti diriku.

Setelah mendapat nomor handphone Jiyeon, aku segera menghubunginya, tetapi ponselnya tidak aktif. Aku menyerah dan merebahkan diri di ranjang. Siwon oppa sedang apa yah? Aku menghubungi ponselnya dan mungkin memang sial, ponselnya juga tidak aktif sama seperti Jiyeon.

Aku lempar ponselku dan pergi ke balkon. Menelusuri pemandangan taman depan rumah yang luput dari perhatianku.

keudaen anayo jeo eum bwadeon sungan boteo
keudaeran geol aljyu nun ape gireul hamkke georoyeo
areum daeun nal uri ape byeoljeo ijyu

Ponselku berbunyi, segera aku meraih ponselku dan membaca 1 pesan di inbox.

Mianhamnida, maaf tidak sopan. Anda siapa dan ada urusan apa menelpon saya? Kamsahamnida

Segera aku menelpon gadis kecil istri Donghae ini. Dia sedikit terkejut mengetahui kalau aku yang menelponnya, tapi kemudian aku bisa merasakan kalau disana dia tersenyum lebar saat kami terlibat dalam pembicaraan.

Aku bersiap untuk menemui Donghae, Jiyeon dan tentu saja putra kecilku Mavin.

Sekarang dia memasuki usia 8 bulan, selain kata appa yang tidak terlalu jelas, Jiyeon bilang Mavin sudah bisa mengucapkan beberapa suku kata tersambung seperti ta-ta-ta. Dia bilang Mavin sudah bisa duduk stabil dan bisa berdiri, aku baru tahu perkembangan bayi sangat cepat. Dia memuji Mavin dan dapat aku katakan dari suaranya kalau dia sangat senang akan hal itu. Aku menghentikan pembicaraan kami dan menuju rumah sakit.

Di taman rumah sakit, aku melihat seorang pria muda menggendong Mavin dan mendudukannya di pangkuannya. Mereka bercanda dan tertawa, aku tak tahu siapa dirinya. Namun, sepertinya aku pernah melihatnya entah dimana. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dan ternyata itu Donghae.

“Itu Jungmin, kakak Jiyeon. Kau pernah melihatnya di rumah Kyuhyun kemarin kan. Dia mengantar Mavin kesini sendiri karena ibu mertuaku harus menghadiri acara perjamuan yang tiba-tiba” jelas Donghae. Aku mengangguk, mataku mencari-cari Jiyeon. Kenapa dia tidak bersama Donghae?

“Oppa……..” Pandanganku beralih pada gadis yang berteriak dan berlari ke arah kami.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Donghae. Jiyeon menggembungkan pipinya.

“Tadi dosen mata kuliah genito-urinary system tidak bisa menghadiri perkuliahan. Nah, awalnya kami senang kami tidak perlu ikut perkuliahan, tetapi ternyata diisi Eunhyuk-oppa. Kami sangat senang karena dia membahas safe motherhood & neonates, sangat senang dengan teori-nya mengenai wanita dan ibu membuat para namja sangat sangat senang” Aku bisa merasakan kalau sebenarnya intonasi dan penekanan kata yang digunakan Jiyeon jauh dari kata membahagiakan lebih tepatnya terganggu.

“LEE HYUKJAE!!!!! Awas kalau kita bertemu, apa-apaan dia. Virus yadong macam apa yang kau bawa ke perkuliahan”

Aku tertawa mendengar kata yadong, aku tahu sekarang kalau Lee Hyukjae itu dokter dan dosen yadong. Pantas saja Jiyeon merasa terganggu dengan kuliahnya.

Mendengar teriakan Donghae, orang-orang yang sedang berada di sekitar kami langsung menjadikan kami pusat perhatian. Donghae dan Jiyeon membungkuk minta maaf.

“Hahahaha….. Adik ipar pabo” Jungmin datang ke arah kami dan menggendong Mavin dalam posisi duduk.

“Lihat… Appa pabomu ini. pabo…pabo” Mavin tergelak dan tertawa bersama Jungmin.

Donghae langsung merebut Mavin dari gendongan Jungmin.

“Kalau kau bukan kakak iparku.. Awas saja kau, aku masih lebih tua darimu juga” kata Donghae.

Jungmin makin keras tertawa dan memegangi perutnya. Setelah beberapa saat dia berhenti tertawa dan menghapus air mata di sudut pipinya.

“Pabo… Aku tahu kau lebih tua dariku karena itu aku mengataimu pabo berteriak di lingkungan rumah sakit. They need rest and relaxation place to recover as fast as possible, they didn’t need someone who shouted and yelled for unreason problem”

Muka Donghae memerah, Jiyeon memberikan death glare pada Jungmin yang justru dibalas hal yang sama, tapi lebih menakutkan.

Kami bertiga berpisah dengan Jungmin yang harus kembali ke kantornya. Aku tahu kenapa sekarang Jiyeon sangat ceria, manja dan mungkin dewasa. Dia berusaha menjadi dirinya sendiri, gadis seusianya, dan di saat yang sama berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Dia penuh kasih sayang karena di sekitarnya begitu banyak orang yang menyayanginya.

Kami bertiga mengkonsultasikan dan memeriksakan kesehatan Mavin pada dokter anak di SNU. Donghae, sebagai seorang dokter sangat profesional. Dia menanggalkan statusnya sebagai dokter saat kami berada di ruangan dokter anak tersebut. Mereka berbicara layaknya sebagai dokter dengan ayah dari anak, baru setelah kami keluar dari pembahasan mengenai Mavin, mereka berbicara selayaknya rekan kerja.

“Fany-shi, sudah makan? Mau makan bersama kami? Cafe di depan rumah sakit memiliki banyak menu yang cukup menggugah selera” tawar Donghae dengan wajah tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman, Jiyeon menarik tanganku dan memintaku mengikuti mereka.

Donghae memesan vanilla late dan muffin, Jiyeon semula ingin meminum yang sama, tapi Donghae melarangnya dan akhirnya dia memesan susu strawberry dan bunet ditambah beberapa cake lain, anak ini pasti kelaparan. Aku sendiri memesan long black. Jiyeon memberikan Mavin bubur bayi dan susu, aku ingin menyuapinya jadi Jiyeon membiarkan Mavin dalam pangkuanku.

“Oppa, aku mau coba muffin-nya”

“Eoh?” kataku tanpa sadar. Aku melirik ke Mavin dan Donghae.

Donghae sepertinya mengerti maksudku dan mengangkat muffin cake di piringnya. Aku menundukkan pandanganku karena malu.

Siwon’s View

Aku sekarang berada di makam Yoona. Aku berdoa untuknya.

“Yoong, maaf baru sekarang aku berziarah ke makammu. Yoong, apa kau bahagia disana? Aku merindukanmu Yoong. Putra kita dia tumbuh dengan sehat, Donghae dan Jiyeon, istrinya menjaganya dengan baik. Yoong, If I can’t turn back the time, I’ll do it. I have no regret to marry Tiffany, but what I had been doing to you it’s not case that I’m proud of this”

Aku meletakkan bunga yang aku bawa di pusara makam Yoona.

“It’s the first time and the last time, I give you this bouquet. I was loving you, Yoong. I’ll try my best to make Tiffany happy and comfort beside me. I let you go, I was over you. I really did love you”

Tiffany’s view

“Fany-eonni, sebenarnya hari ini aku dan Donghae oppa ingin pergi ke makam Yoona-eonni” Jiyeon mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Eomma Mavin?” tanyaku. Donghae dan Jiyeon mengangguk. Aku tersenyum dan memutuskan ikut bersama mereka, aku meminta supirku untuk pulang terlebih dahulu karena Jiyeon dan Donghae menawarkan untuk mengantarku pulang, mereka sepertinya tidak tega melihat supirku menunggu kami. Iya, aku akui dia telah menungguku sejak tadi dan sebaiknya juga dia kembali ke rumah daripada tidak melakukan apa-apa dengan menunggu hingga semua urusanku selesai.

Kami pergi ke toko bunga untuk membeli bunga. Aku membeli sebuket bunga chrysanthemum dan Donghae serta Jiyeon membeli dua buket white lily. Jiyeon dengan malu-malu memberikan suatu bunga pada Donghae.

“Kamsahamnida dan kenapa kau memberikan ini padaku?” tanya Donghae sambil tersenyum.

“Ehm… it’s daffodil ehm….”

“Mau ahjumma menjelaskan arti daffodil” goda ahjumma penjual bunga. Jiyeon menggeleng keras dan mukanya bersemu merah. Mavin yang berada di gendongan Donghae, menyentuh buket daffodil itu dan tersenyum.

” Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You” Dia mengatur nafasnya dan mengucapkannya dengan lancar, segera setelah itu dia pergi berbalik dan masuk ke dalam mobil. Donghae tersenyum.

“Dia istrimu?” tanya ahjumma penjual bunga. Donghae mengangguk.

“Ini aku berikan gratis untukmu. Berikan pada istrimu, aku rasa dia mengerti apa arti peony sebaik dia mengerti arti daffodil”

“Kamsahamnida, tapi saya bisa membayarnya”

“Tidak usah membayangkan ekspresi istrimu sudah menjadi bayaran yang lebih dari cukup untukku” ucap ahjumma itu senang.

Kami meneruskan perjalanan, Donghae menggendong Mavin. Aku dan Jiyeon membawa buket yang ingin kami berikan pada Yoona.

“Bukankah itu Siwon?” tanya Donghae. Aku menajamkan mataku dan melihat sosok Siwon di depan pusara Yoona. Kami mendekatinya, aku terkejut kenapa dia kemari dan tidak memberitahuku. Jiyeon mendekatkan dirinya pada Donghae, pandangan matanya mengarah pada pusara Yoona sangat intens. Aku mengikuti arah pandangannya. Daffodil.

Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You

Tak terasa air mataku menetes, sepertinya Siwon merasakan kedatangan kami dan berbalik. Dia terkejut saat melihat Donghae dan Jiyeon, dia lebih terkejut saat melihatku.

Aku menjatuhkan buket chrysanthemum yang aku bawa dan melangkah ke belakang.

“Daffodil…. Yoona… Oppa, kau….” Kerongkonganku tercekat kata-kata Jiyeon terngiang di telinga dan benakku. Aku berlari dan berusaha menghapus air mataku.

“Fany-ya…” teriak Siwon.

“Eonni….”

“Tiffany-shi” Mereka semua berusaha mengejarku. Aku terus berlari dan berlari, aku tak tahu harus kemana hingga akhirnya aku terjatuh.

Siwon dengan nafas terengah menghampiriku, Donghae dan Jiyeon menyusul di belakangnya.

“Fany… a…aku bisa jelaskan” kata Siwon di tengah nafasnya yang terengah. Aku menghempaskan tangannya yang berusaha menyentuhku.

“Pergi… pergi… aku tak ingin melihatmu. Kau tak pernah mencintaiku, itu yang ingin kau jelaskan. Selama ini semua yang kau katakan palsu…” Aku mengatakannya dan terisak. Kata-kata ini melukai hatiku, aku tak ingin mengatakannya, tetapi inilah yang terjadi. Ini kenyataanya. You’re so pathetic, Tiffany.

“Siwon-shi, biar aku yang bicara dengan Fany-eonni” ujar Jiyeon. Donghae menarik Siwon menjauh, dia menolak tetapi akhirnya menurut.

Aku memeluk Jiyeon dan meluapkan semua air mataku. Aku hanya mampu terisak dan menangis sekencang-kencangnya. Cukup lama aku memeluknya, dia berusaha menenangkanku dengan menyentuh pundakku. Dia membantuku berdiri, langkahku gontai dan terseok.

“Fany-ya” Siwon menghampiriku. Aku mengabaikan pandangannya.

“Donghae-shi, bisakah anda mengantarku?” tanyaku. Donghae menarik nafas dalam dan mengangguk.

Jiyeon membantuku untuk duduk di kursi belakang, dia duduk bersamaku. Mavin tertidur dan Donghae menaruhnya di box bayi sehingga dia bisa tidur dengan nyaman.

Jiyeon mengelus bahuku dan berusaha menguatkanku.

“Eonni, kenapa kau tidak mendengar penjelasan Siwon-shi terlebih dahulu?” tanyanya lirih.

“Bisakah kita tidak membicarakannya. Mendengar namanya membuatku sakit” pintaku sambil menutup mata. Aku meminta Donghae untuk mengantarku ke hotel, tetapi dia menolak. Donghae bilang tidak baik bila aku sendirian di hotel. Aku menolak ketika mereka memintaku tinggal di rumah mereka, aku tak mau merepotkan mereka. Akhirnya, Donghae menitipkanku pada suster kenalannya.

“Donghae uisha, anda sudah sampai. Silahkan masuk” kata seorang gadis muda yang cantik. Kami masuk ke dalam apartemennya, di sana seorang namja muda nan cantik sedang menonton televisi dan mengerjakan tugas.

“Aish… Taemin, kenapa kau di sini?” tanya Jiyeon.

“Wae? Ini apartemen kekasihku. Aku hanya berkunjung, memangnya tidak boleh” jawab namja itu santai.

Donghae, Jiyeon, dan namja bernama Taemin itu meninggalkan aku bersama gadis itu.

“Mianhamnida, aku mengganggumu”

“Tidak apa. Teman Donghae uisha dan Jiyeon adalah temanku juga. Kenalkan aku Jung Sojung, kau bisa memanggilku Jessica” ujarnya ramah.

“Tiffany… Tiffany Choi, eh….” Aku ingin menangis dan menampar diriku sendiri kenapa aku menyebut marga Siwon.

“Kau sudah makan? Aku dan Taemin tadi membeli banyak snack dan juga makanan siap saji ketika Donghae uisha mengatakan kau akan menginap” Dia mencairkan suasana.

Aku tersenyum meski sedikit terpaksa.

“Kau cantik” pujinya.

“Kau juga, kekasihmu juga” kataku.

“Hehehe… Tapi kau harus mengakui aku lebih cantik dari dia” ujar Jessica. Malam itu aku dan Jessica menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang banyak hal. Dia tidak menanyakan apapun tentang apa yang terjadi padaku, dia sepertinya mengerti kalau aku memang tidak ingin membicarakannya.

Donghae, Jiyeon… Kalian beruntung memiliki banyak orang yang menyayangi dan mendukung kalian. Patheic… Aku bahkan tak punya siapa-siapa selain diriku sendiri.

Siwon….

i wanna be with you my love
haneul arae yaksokhaeyo
keudaereul jikyeo julkkeyo
yongwontorok

i wanna love you forever
poinayo ireon naemaem
naegyeote sumeul swi eoyo
yongwontorok keudae
saranghaeyo
saranghaeyo

I wish you loved me as huge as I love you, but I guess it’s just dream that too good to be true.

Note :

I need your email to send the password for next chapter. Don’t worry next chapter maybe two days from now. Thanks a lot for comment and support.

Peony means happy marriage.

Chrysanthemum means You’re a Wonderful Friend, Cheerfulness and Rest.

White lily means Virginity, Purity, Majesty, It’s Heavenly to be with You

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 5]

Sungra’s POV

  Sudah kesekian kalinya aku memutar kepalaku ke arah Siwon maupun Minho yang wajahnya seperti tidak bahagia itu sebelum kembali pada Lee sonsaengnim. Hari ini aku memakai syal dari Jeongmin sunbae ke sekolah dan mereka menanyakan hal yang sama : Kapan aku mendapatkannya.

  Aku sama sekali heran dengan mereka. Hari ini kelakuan mereka masih saja tetap aneh, sedangkan Donghae dan kawan-kawan tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Mereka aneh sekali!

  “Donghae-ya, kau yakin tidak tahu apa-apa soal Siwon dan Minho?” bisikku tak percaya. Donghae mendorong kacamatanya sedikit ke atas lalu memandangku sejenak.

  “Entahlah. Mereka memang aneh, tapi aku tak tahu apa sebabnya,” jawabnya menaikkan kacamatanya. “Ngomong-ngomong kemarin kau pulang dengan siapa? Kulihat Siwon jalan sendirian,” tanyanya.

  “Ada hal yang perlu kukerjakan. Hari ini juga,” jawabku kembali fokus ke pelajaran.

 

Siwon’s POV

  Aku menunggu Sungra yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Karena sudah lima belas menit aku mengelilingi lorong, aku memutuskan untuk membereskan barang-barang di lokerku terlebih dahulu.

  Begitu aku tiba di depan lokerku, aku melihat selembar ‘sticky note’ ungu di tempelkan di pintu lokernya. Aku mencabutnya perlahan lalu kubaca.

  ‘Jangan lupa jemput Sungwon! Kalau ada keperluan telpon saja aku – Sungra’

  Ke mana lagi anak itu? Aku seperti sudah lama tak bertemu dengannya.sebenarnya dia ke mana sih? Terlihat sibuk sekali. Apakah kencan dengan Minho itu sepenting itu?

  Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Aku pulang sendiri lagi dong.

At Cafe..
Sungra’s POV

  “KIM MYUNGSOO!!! Ya!!!” teriakku.

  “Ya~ Sungra aegi, panggil aku L~” ia cemberut menggerutu berjalan ke arahku.

  “Ya! Myungsoo! Cepatlah sedikit! Kita kehabisan bahan makanan!” omelku menatap kulkas yang hampir kosong.

  “Lalu? Kau menyuruhku memakan sisa bahan yang ada di kulkas kah? Boleh! Boleh!” ia mengulurkan tangannya untuk meraih sekotak frozen yogurt. Aku langsung memukul tangannya begitu ia menyentuh tutupnya.

  “Ya! Bukan itu maksudku! Bahan makanannya habis, pergilah berbelanja!” omelku lagi. Ia cemberut kesal.

  “Suruh saja Onew hyung atau Eli hyung belanja bahan baru, yang ini kumakan saja,” tawarnya. Aku menggeleng lalu mendorongnya menjauh dari kulkas sebelum kulkas ini benar-benar kosong.

  “Kajja! Ini masih jam istirahat kita belanja saja, lalu makan siang di luar sekalian,” tarikku. Aku keluar mendapati Jeongmin sunbae sedang bercermin, Onew sunbae sedang membersihkan counter dan Eli sedang menata gelas.

  “Yeorobun! Kita harus pergi berbelanja! Ayo sebelum jam istirahat berakhir! Kita makan di luar sekalian!” seruku. Onew langsung menatapku dengan pandangan penuh kilatan.

  “Wuaaa!! Jinjjayo?? Bagaimana kalau kita makan ayam saja?” sarannya. Dasar, Onew! ==a

  “Geurae, geurae. Palliwa! Waktu kita sedikit!” jawabku.

Meanwhile…
Siwon’s POV

  “Huweeeeeeeeeeeee!!!!!!”

  “Psshh.. Psstt… Hey, Sungwon-ah, sabarlah sebentar…,” bujukku menggendongnya.

  “Huwaaaaaaa!!!” tangisnya mengencang. Aku memutar kepalaku ke segala arah. Aduh… Bubur Sungwon habis! Susu juga habis! Dan sekarang ia sedang menangis kelaparan. Aku jadi juga ingin menangis…

  “Ssshh… Sungwon-ah, kalau kau diam kita akan pergi keluar, okay? Appa akan belikan makanan! Dan mainan, okay??” bujukku. Tangisnya mereda, hanya tersisa isakan. Aigoo.. Baiklah ayo kita berangkat!

At Mall…
Sungra’s POV

  “Kai! Bai! Bo!”

  “Kai! Bai! Bo!”

  “Kai! Bai! Bo!”

  Sudah kesekian kalinya kami berusaha menentukan kelompok yang membeli bahan sampingan dan bahan utama tapi masih belum juga membuahkan hasil.

  “Aish! Jinjja! Eli hyung kau seperti orang bodoh saja! Ayo lagi!” gerutu Myungsoo.

  “KAI-BAI-BO!!!” seru kami. Jeongmin dan Onew mengeluarkan batu. Aku, Myungsoo dan Eli mengeluarkan kertas.

  “OMO!! Andwae!! Kenapa aku sekelompok dengan Eli hyung?!!” seru L. Aku tertawa hambar.

  “Ha.. Sayang sekali aku sekelompok dengam dua orang pabo,” sindirku. Onew dan Jeongmin langsung tertawa lebar.

  “Baiklah. Aku dan Onew hyung ke bagian bahan sampingan. Kalian cari bahan utama,” lanjut Jeongmin memberi notes belanja pada kami.

  “Kajja~” ajak Eli menarikku dan L ke dalam super market.

***

  “P…ple..plain yo…go..reuteu!” eja Myungsoo membaca daftar belanja. Eli menggelengkan kepalanya.

  “Plain Yogurt,” gumam Eli membenarkan sambil menyambar sekotak besar plain yogurt.

  “Apa tidak sebaiknya kita beli yang ini? Ini produk impor!” seru L senang sambil menarik sekotak yogurt yang lebih besar.

  “Andwae! Ini lebih murah Myungie-ah,” balas Eli meletakan kotak itu pada troley.

  “Wae?” Myungsoo cemberut tak mau kalah.

  “Diamlah MyungMyung-ah,” omelku. “Selanjutnya apa?” tanyaku mengalihkan topik.

  “Cho…ko..lit!” eja Myungsoo lagi.

  “Chocolate,” ralat Eli.

  “Arasseo! Arasseo! Tidak perlu pakai bahasa Inggris! Ini kan Korea!” omel Myungsoo.

  “Tapi bahasa Inggris kan penting MyungMyung-ah. Kalau kau keluar negeri mau bagaimana?” sambungku.

  “Ya tidak perlu ke luar negeri saja~” jawabnya santai.

  “Kalau ada turis datang menanyakan sesuatu?” tanyaku lagi.

  “Bilang saja, ‘Ssori, sir, i do no-teu un-deo-seu-taen-deu engrish,” jawabnya dengan pelafalan aneh. =.= (A/N : Sorry, sir, i do not understand english)

  “Dasar…,” celetuk Eli. Aku hanya menggeleng. Ckckckck…

  “Sungra-ya! Ayo beli mil-keu se-i-keu!!” seru Myungsoo menunjuk stan milkshake.

  “Aish.. MyungMyung-ah, kalau kau terus melafalkannya seperti itu kupotong lidahmu nanti,” umpat Eli.

  “Jangan salahkan aku kalau aku terlahir sebagai orang Korea yang mahir berbahasa Korea,” balas Myungsoo menjulurkan lidahnya lalu menyeretku ke stan milkshake meninggalkan Eli dengan keranjang belanja. “Jagalaah belanjaannya! Nanti kupesankan mil-keu-sei-keu untukmu!!” teriak Myungsoo melambaikan tangannya.

  “Ya!! Neo!!”

Siwon’s POV

  Aku memakaikan kaus dan mantel lembut pada Sungwon. Tidak lupa kupakaikan topi yang kami belikan. Setelah memastikan semuanya siap, aku segera menggendong Sungwon dan membawanya ke mall terdekat.

  Begitu kami tiba di mall cukup besar di kawasan Myeongdong, aku langsung mengajaknya menuju supermarket. Dalam perjalanan kami ke supermarket kudengar Sungwon menunjuk-nunjuk sebuah toko dengan menggunakan ‘bahasa bayi‘nya.

  “Goo! Goo!! Maa! Maa!” rengeknya menunjuk stan milkshake berwarna cerah. Sepertinya warna toko itu membuat anak kecil mudah sekali tertarik untuk masuk (A/N : berarti Myungsoo anak kecil dong ==”) karena kulihat banyak sekali anak kecil yang masuk untuk memesam minuman.

  “Ma! Ma!” seru Sungwong membuatku meliriknya.

  “Masidago?” tanyaku menunjuk stan yang sama. Ia tertawa senang. Aigoo.. Kau pasti lapar sekali. “Geurae.. Kajja!”

***

  “Milkshake…..cappucino satu. Lalu..hmm.. Hey, apakah anak usia dua tahun boleh mengkonsumsinya?” tanyaku pada pelayan toko itu.

  “Tentu saja. Asalkan yang non-cafein,” jawabnya sibuk membaca pesanan yang lain.

  “Hm.. Baiklah? Milkshake apa yang cocok untuk bayi?” tanyaku. Ia masih sibuk menulis dan memilah-milah sesuatu tanpa menatapku.

  “Aigoo.. Ahjussi, kau bisa pilih apapun yang disukai anakmu,” jawabnya ketus lalu mengangkat kepalanya. Mataku membulat seketika begitu juga dengannya.

  “NEO??!!!” seru kami menunjuk satu sama lain. Untung suara kami tidak begitu keras.

  “Ya! Apa maksudmu dengan ‘ahjussi’? Kau pikir aku setua itu?” tanyaku mengernyit.

  “Ahh.. Mianhae.. Mian. Ah! Annyeong Sungwonie~ mana eomma mu? Kenapa kau malah pergi dengan appa pabomu ini?” sindirnya.

  “Hey, Lee Harin, aku heran kenapa Sungra bisa berteman denganmu,” balasku.

  “Aku juga heran kenapa Sungra betah tinggal serumah dengan saudara aneh sepertimu,” balasnya mencatat sesuatu. “Sungwon-ah, noona akan buatkan milkshake special untukmu~ KEY!!! Key-ah!! Gantikan aku sebentar! Aku mau ke dapur membuatkan milkshake!!” serunya.

  “Ne? Kau yakin? Aku tidak mau kau merusak apapun di dalam sana, ara?” tegur seorang pria yang keluar dari arah dapur.

  “Ara, ara. Kalau rusak tinggal kau betulkan,” jawab Harin santai lalu masuk ke dalam.

  “Oseoosipsiyo! Kau sudah pesan?” tanya orang yang dipanggil Key itu. Aku mengangguk.

  “Geurae. Meja mu di sana,” ia menunjuk meja kecil di pojok yang agak tertutup. Aku mengangguk lalu duduk di sana dengan Sungwon menunggu pesanan kami.

Sungra’s POV

  “Oseoosipsiyo~!” sapa pemilik stan milkshake ini yang tak asing lagi bagiku.

  “Key-ah annyeong!” sapaku menyeret Myungsoo masuk.

  “Annyeong! Kau bawa temanmu hari ini? Siapa itu?” tanya Key menunjuk Myungsoo.

  “Geunamjani? Myungsoo-iyeyo. Key-ah, ada menu apa hari ini?” tanyaku. Ia menyodorkan selembar karton tebal berisi menu spesial hari ini dan menu standar biasa.

  “Hm? Milkshake Greentea dan Macha? Blueberry choco? Memangnya ada?” tanyaku melihat menu-menu baru. Key mengangguk bangga.

  “Hanya tersedia di tokoku~” gumamnya. Aku mengangguk.

  “Aku mau vanilla saja. Toppingnya seperti biasa. Lalu untuk Eli… mocha saja. Myung-ah kau mau apa?” aku menyerahkan menu itu pada L. Iya meneliti satu persatu.

  “Hemm.. bleu-berri o-re-o saja,” gumamnya. Aku mengernyit.

  “Mwoni?

  “B-blu…berri..o..re..o?” iya menunjuk salah satu gambarnya. “Aigoo, ini bacanya susah sekali, Sungra-ya,” omelnya. Aku dan Key terkikik.

  “Blueberry Oreo, Myungsoo-ssi. Bagaimana? Itu saja?” tanya Key mencatat pesanan kami.

  “Aku terkesan seperti satu-satunya orang yang tak bisa bahasa Inggris di sini,” desah Myungsoo.

  “Geurae. Itu saja, tidak makan di sini. Gomawo, Key-ah~” balasku pada Key. Ia lalu menyuruh kami menunggu.

 

Siwon’s POV

  “Cappucino Milkshake dan Special banana milkshake~” Key mengantarkan pesanan kami. Aku langsung menyambar sendok kecil di meja dan menyuapi Sungwon pelan-pelan.

 ”Nnn~! Goo~!! Nyaaanyanyaa~!” serunya senang tertawa kecil.

  “Aigoo, adeuli neomu kyeopta!” aku mencubit pipinya. Aku mendongak lalu mengedarkan pandanganku ke sekelilingku dan menangkap sosok seseorang yang sudah amat sangat kukenal sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang duduk membelakangiku. Siapa? Tidak terlihat seperti Minho. Kulihat Sungra terkadang tersenyum bahkan tertawa senang. Apa yang sedang mereka lakukan di sini? Sungra meninggalkanku menjaga Sungwon supaya bisa berpergian dengan ‘makhluk’ itu?!

  “Pa! Pa! Ma! Da! Da!” Sungwon menarik-narik tanganku. Aku mengalihkan pandanganku kembali padanya dan menyuapkannya milkshake lagi. Setelah beberapa kali aku menyuapinya aku hendak memutar kepalaku mencari sosok Sungra yang sudah tak terlihat lagi di segala penjuru. Apa aku bermimpi?

 

Sungra’s POV

  “Sungra menyebalkan~!!”  Myungsoo menorehkan cream dari milkshakenya ke pipiku dengan sedotannya.

  “Ya!! KIM MYUNGSOO!! Kau mau mati?!!!” seruku menepis tangannya lalu mencari tisu untuk membersihkan wajahku.

  “Jangan begitu~ Nanti yang bantu-bantu di cafe siapa?” jawabnya polos bermain dengan sedotannya lagi.

  “Sepertinya kau bukannya membantu malah merepotkan,” balasku lalu berdiri.

  “Ya! Ya! Chamkkaman~! Sungra-ya kau tidak sopan padaku~!!” omelnya menyusulku keluar toko untuk menghampiri Eli.

  “Eli-ya~!” panggilku begitu aku dan Myungsoo tiba di hadapan Eli. Aku menyerahkan milkshakenya dan melihat Onew dan Jeongmin sunbae berjalan ke arah kami.

  “Hey! Bagaimana? Sudah semua?” tanya Jeongmin sunbae. Kami mengangguk.

  “Aigoo.. Baegophaeyo. Mau makan?” tanya Onew. Kami semua langsung mengangguk setuju. “Chicken?” tawar Onew tersenyum lebar. Kami hanya mengangguk pasrah. Ayam lagi =_=

 

Minho’s POV

  “Minho hyung~ Belikan aku banana milk! AH, aku juga mau ayam!!” rengek Taemin – sepupuku yang sedang bertamu untuk beberapa hari ini. Kami sedang di mall untuk refreshing. Setelah mengangguk aku langsung menuntunnya ke restoran fast food terdekat.

  “Oseoosipsiyo! Mau pesan apa?” tanya si pelayan dengan ‘badge’ bertuliskan ‘LEE KISEOP’.

  “Ayam. Untuk dua orang. Minumnya banana milk dan teh,” jawabku singkat. Ia mengangguk lalu mencatatkannya.

  “Baiklah..Kevin-ah!! pesanan!!” teriaknya ke dalam. Dalam sekejap seorang dengan rambut acak-acakan dan name-tag ‘KEVIN WOO’ keluar mengambil kertas pesanan. “Silahkan tunggu sebentar,” lanjut pemuda bernama Kiseop tadi.

  Tak lama setelah itu pria yang dipanggil Keivn tadi keluar membawakan senampan pesanan kami. Aku dan Taemin segera mengambil tempat duduk di tepi jendela.

 

Sungra’s POV

  “Huft! Onew, Jeongmin dan L jahat!!!” desahku kesal mengunyah ayam pesananku. Eli mengangguk setuju sambil melanjutkan minumnya. Onew, Jeongmin dan Myungsoo baru saja meninggalkan kami karena Howon sajangnim – pemilik cafe tempat kami bekerja memanggil mereka bertiga. Dan parahnya mereka bertiga tidak hanya meninggalkan kami, mereka juga meninggalkan barang belanjaannya pada kami!!

  Aku melirik pada Eli yang asik melihat keluar lalu berkata, “Eli-ya, bisa tolong belilkan aku ice cream?” pintaku. Ia melirikku curiga lalu cemberut sebal.

  “Kau makan banyak sekai Sungra-ya?” tolaknya. Aku lalu  memasang wajah memohon sampai akhirnya ia mendesah kencang.

  “Geurae.. makannya sambil jalaln pulang,” ajaknya. Aku langsung melonjak senang. Hore!!!

 

Minho’s POV

  Aku baru saja keluar setelah mencuci tanganku lalu aku merasa seperti melihat SUngra barusan berjalan keluar dengan seorang pria? Siwon? Kurasa bukan. Sedang apa? Kenapa Siwon membolehkannya?

  “HYUNG~~~~~~” panggil Taemin membuyarkan lamunanku pada pintu restoran yang kini sudah tertutup rapat.

  “Ne?”

  “Kajja! Jibe gayo!!” ajaknya. Aku mengangguk. Mungkin hanya halusinasi.

 

To Be Continued…

Annyeong! Mian lama ga update~! lagi ujian.. hehe..
btw yang komen dikit ya ._. boring ya? kalo boring bilang yaaa~ ^-^v

gomawo~!

The Error Game

The Error Game

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Horror, Mystery, Friendship, Psychological.

Length: Oneshot.

Main Cast: Cho Kyuhyun.

Supporting Cast: Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kibum.

“Kau punya dua pilihan. Memilih sebuah pilihan atau tidak memilih sama sekali, mana yang akan kau pilih?”

-Cho Kyu Hyun’s POV-

Tidak banyak orang yang tahu. Kejadian ini telah terjadi sejak lama—jauh sebelum Hankyung Hyung memutuskan untuk keluar dari Super Junior. Saat-saat di mana kami masih terus bersama. Saat-saat di mana debut kami baru saja di mulai, di mana kami masih belum mengenal yang namanya keletihan dan kepenatan menjadi selebriti.

[The-Error-Game]

Sudah dua bulan berlalu sejak Super Junior menyelesaikan drama fiktif Mystery 6. Meski drama itu hanya isapan jempol belaka, tapi tetap saja aku iri! Kalau saja saat itu aku sudah menjadi bagian dari Super Junior, pasti aku mendapat bagian penting dari drama itu. Sungguh tidak adil. Di tambah lagi, aku masih merasa asing dengan semua member. Aku tidak suka mereka. Aku tidak suka dengan kenyataan bahwa aku harus memanggil mereka dengan sebutan HYUNG.

“Sungmin Hyung, Kyuhyun-ah…” panggil Ryeowook yang mencondongkan kepalanya ke dalam pintu kamarku. “Waktunya makan.”

“Nanti saja,” jawabku singkat sambil terus menatap layar komputerku, melanjutkan game Diablo yang baru saja kucoba kemarin malam.

“Kyu, tidak baik main game terus-terusan,” nasihat Sungmin yang melepas earphones-nya dan menyusul Ryeowook. “Kalau kau tidak cepat, semua makanan akan dihabiskan Shindong Hyung.”

“Aku tidak peduli,” mataku masih terpaku ke depan layar komputer.

Ryeowook mendesah. “Biarkan saja, Hyung… Dia memang seperti itu, tidak sopan.”

Setelah mereka berdua keluar dari kamar, aku membanting keyboard komputerku dengan penuh emosi. Napasku terengah-engah. Pupil mataku melebar.

Memangnya mereka pikir mereka siapa?! Hanya karena mereka lebih tua dariku, lantas mereka seenaknya mengatur kehidupanku? Cih! Jangan harap!! Tanpaku, masa depan Super Junior akan hancur. Sudah bagus aku mau bergabung dengan grup ini, tapi mereka justru tidak tahu terima kasih. Mereka bukan siapa-siapa bagiku, bahkan mereka bukan temanku. Dan mereka ingin agar aku bersikap sopan pada mereka? Gila! Aturan dari mana itu? Memangnya salahku kalau aku dilahirkan beberapa tahun lebih lama dari mereka? Memangnya aku bisa memilih hal itu??

Kuraih mantel panjangku yang berwarna abu-abu itu dan memakainya secepat kilat. Setelah mematikan komputerku, aku bergegas keluar dari kamar.

“Kyu-ah, kau tidak makan malam?” tanya Leeteuk cemas. “Kau belum makan seharian karena main game terus.”

Aku hanya mendengus, tidak menjawab pertanyaan leader baruku yang sok perhatian itu.

“Kyu, kau mau ke mana?” kali ini giliran Kangin yang bertanya padaku. Ia melirikku dari ujung kaki hingga ujung rambut, lalu keningnya mengernyit heran ketika melihat mantel abu-abu yang sedang kupakai sekarang.

“Kyu, kau yakin mau pergi? Di luar sangat dingin,” jelas Yesung yang sedang memeriksa cuaca di luar sana dengan ponsel canggihnya.

“Shikkeureo! Kenapa kalian cerewet sekali, sih??” amarahku akhirnya keluar juga. “Dorm ini bukan penjara, jadi terserah aku mau pergi ke mana! Kalian juga bukan orangtuaku, kan? Jangan sekali-kali mencampuri kehidupan pribadiku. Ara?!”

“NEO!!” bentak Kangin yang langsung di tahan oleh Siwon di sebelahnya.

“Dwaesseo, dwaesseo…” lerai Siwon yang mencegah Kangin untuk berbuat lebih jauh. “Tidak baik mengacaukan makan malam yang telah diberkati oleh Tuhan…”

“Ya! Siwon, kau menghinaku??” teriak Heechul yang merasa tersindir dengan kenyataan bahwa dia atheist.

“Geu…geuge aniya…” jawab Siwon gelagapan dengan gerakan tangannya yang lincah. Ia tahu hidupnya tidak akan tenang bila berurusan dengan Heechul.

Aku menghela napas panjang melihat tingkah-tingkah bodoh mereka. Sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa aku sudah bergabung di dalam boyband yang memiliki membermember bodoh.

Kulangkahkan kakiku keluar dorm tanpa berpamitan pada siapapun. Untuk apa berpamitan pada orang-orang bodoh? Lebih baik aku tidak mencoba untuk terlalu akrab dengan mereka. Ya, begini lebih baik.

[The-Error-Game]

Continue reading

Letter of Angel XVIII (Angels in My Life)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI

Background song : Picture of you …. Please, listening it while you are reading…

Donghae’s view

After the after glow sets,
i’m going towards you,
following the lights which turn on one by one

I’ll embrace you,
before the cold wind makes your shoulders flinch

I love you,
the foolish you,
you’re so precious to me

Aku terbangun setelah sinar mentari menerpa wajahku. Aku mengerjapkan mata dan melihat sisi ranjang sampingku telah kosong.

Jiyeon sudah bangun duluan.

Aku segera mencuci muka dan turun ke bawah.

“Selamat pagi oppa” ujar Jiyeon dengan senyum, dia sedang menyuapi Mavin yang berada di pangkuannya. Sebuah senyum yang aku tahu dipaksakan. Namun, aku juga berusaha membalas senyumnya. Meskipun, tidak tahu bisakah ini disebut senyum.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.30 KST.

“Oppa, sarapan sudah siap” Aku mengangguk dan menuju ruang makan. Jiyeon memasak nasi goreng kimchi dan menyediakan kopi di meja makan. Aku hanya memandanginya dan sejenak menarik nafas panjang.

Bagaimana keadaan Jaejoong hyung? Apakah dia sudah makan? Apakah dia baik-baik saja? Siapakah yang akan membuatkan sarapan untuknya?

Aku mengacak rambutku frustasi dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.

Kenapa begitu banyak cobaan yang harus aku hadapi? Kenapa kau mengambil orang-orang yang aku sayangi Tuhan? Apa salahku?

Aku merasakan tangan seseorang menyentuh kepalaku dengan lembut. Aku mendongak dan melihat Jiyeon yang tersenyum. Kali ini senyum yang benar-benar menyejukkan dan hangat.

As much as the sun that rises above you,
i’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart,
all the dreams i’ve prayed for,
they’re going towards you with my sincere scent

I hope that my wishes of smiling next to you every new morning,
will be able to come true

Kami hanya diam dan tak berkata apa-apa, hening hingga aku merasakan sebuah tangan kecil menyentuh wajahku. Dia tersenyum padaku dan terkekeh. Aku memandang mereka berdua secara bergantian dan segera merengkuh keduanya dalam pelukanku. Aku merasakan tangan kecil menyentuh dadaku dan tangan Jiyeon yang memeluk punggungku. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum pada keduanya.

“Gomawo”

“Cheonmaneyo” jawab Jiyeon.

Jiyeon dan Mavin duduk di kursi sebelahku. Aku hanya melihat mereka dan terus memandang keduanya.

“Mavin, lihat appa. Dia terkesima dengan kecantikan eomma dan ketampanan putranya. Hahaha” tawa Jiyeon.
Mataku membesar.

“Bwoohhh” ujarku.

“Mengaku saja oppa. Kau terkesima dengan kami berdua kan. Kami tentu saja sempurna. Sebagai adik Park Jungmin yang bahkan dinobatkan sebagai pebisnis muda genius, kaya dan hot. Tentu saja kami dianugerahi gen yang bagus dan Mavin ini appanya saja tampan. Pebisnis yang dinobatkan most sexy and handsome belum lagi…”

“Jadi intinya kau mau bilang kalau Choi Siwon itu lebih baik dariku?” Aku mengerucutkan bibirku. Eh… sejak kapan aku belajar mengerucutkan bibirku.

“Appamu ternyata cemburu yah…. Kekeke… Bagiku dan bagi Mavin, oppa adalah suami dan appa paling tampan kok. Iya kan Mavin?” Mavin hanya terkekeh seolah dia mengerti.

“Af..fa… af…fa” Kami berdua membulatkan mata kami. Mavin bicara? Kata pertamanya appa….

Aku memandang Jiyeon tak percaya, kami segera menuju ruang tamu. Kami merebahkan Mavin dan kami berdua terus menatapnya.

“Appa” aku mengucapkannya di depan Mavin.

“Af..fa..”

“Appa…appa”

“Af..fa..affa.. af..fa”

Aku langsung berjingkrak, kata pertamanya adalah appa. Meskipun tidak terlalu jelas, itu adalah kebahagiaan untukku.

“Aish… tidak adil kenapa kata pertamanya appa… Kenapa tidak eomma?” Jiyeon melipat kedua tangannya di depan dada dan menggembungkan pipinya. Hahaha… Lucu sekali.

Aku menggendong Mavin dan mulai menggoda Jiyeon.

“Lihat.. Eommamu cemburu karena kau bisa mengucapkan appa terlebih dahulu. Kau memang pintar?” Aku mencium pipi Mavin yang chubby.

“Baiklah…. Baiklah… Nikmati dunia kalian sendiri. Lupakan saja eommamu ini” Jiyeon sangat sewot kali ini. Masih tidak terima kata pertama yang keluar dari mulut Mavin adalah appa.

Krruukkkk….

“Hahaha……..” Jiyeon tertawa terbahak.

Sial… Kenapa perutku harus berbunyi sekarang.

“Kajja” Jiyeon menarik tanganku ke ruang makan. Dia mengambil Mavin dari gendonganku.

“Sama eomma dulu yah appa mau makan” ujar Jiyeon lembut.

Aku memakan nasi goring kimchi buatan Jiyeon. Aku baru tahu dia bisa masak.

“Enak….” pujiku. Pipinya bersemu merah. Aku meneruskan makanku, aku melirik Jiyeon yang terus menatapku.

“Buka mulutmu” kataku. Dia bingung, tapi kemudian membuka mulutnya.

Aku menyendokkan nasi goreng dan menyuapinya. Dia menutup mulutnya dengan tangan setelah aku menyuapinya.
Aku menyuapinya lagi, semula dia menolak, tetapi kemudian menurut. Kami menghabiskan sarapan dengan canda dan tawa.

“Oppa, kita ke rumah Jaejoong-oppa yah. Aku ingin mengantarkan sarapan untuknya” Aku mengangguk.

Setelah mandi dan bersiap, kami bertiga segera menuju rumah Jaejoong-hyung. Saat tiba disana, dia sedang keluar pintu dengan membawa koper.

Tunggu dia mau kemana. Segera aku memarkir mobil dan berlari menghampirinya, dengan sedikit terengah aku menghampirinya.

“Hyung” Dia terlonjak saat melihatku.

“Donghae, mau apa kemari?” tanyanya dengan tersenyum.

Aku mengabaikan pertanyaannya.

“Kau mau kemana?” tanyaku sesaat melihat paspor di tangannya. Dia terdiam.

“Kau mau kabur dari kenyataan dan pergi begitu saja” teriakku.

“Oppa” Jiyeon menepuk bahuku, menenangkanku.

“Jaejoong-hyung” seseorang memanggil Jaejoong dan aku melihat Siwon dan Tiffany.

Mereka berdua membungkuk saat melihat aku dan Jiyeon, kami membalasnya.

“Mau apa kau kemari?” tchh… Jaejoong memberi pertanyaan yang sama untuk Siwon.

“Kau akan pergi ke Malawi?” tanya Siwon.

Jaejoong mengangguk. Mataka membesar mendengar kata Malawi.

“Tapi darimana kau mengetahui aku akan ke Malawi?” tanya Jaejoong.

“Tidak penting aku tahu darima, tapi kau yakin akan pergi kesana?”
Jaejoong belum sempat menjawab, aku menyelanya.

“Jelaskan semua sekarang” kataku tegas.

“Aku akan mengikuti misi UNICEF. Daripada aku berada di sini dan terus mengingat semuanya lebih baik melakukan yang berguna demi orang lain, bukan? Di sana banyak orang tua yang merasakan hal yang sama denganku. Kematian anak-anak dikarenakan wabah malaria telah merenggut 2/3 nyawa anak tiap tahunnya. Kau sudah tahu kan”

Aku termenung dan hanya bisa diam.

“Dan kau Choi Siwon, kau memata-mataiku kan? Dimana para pengawalmu? Menurtmu aku tak tahu kalau beberapa hari ini ada pria-pria berjas yang mengikutiku. Kau harusnya punya bodyguard yang jauh lebih handal” Siwon menggaruk kepalanya yang tiadk gatal dan Tiffany hanya terkekeh melihat tingkah suaminya.

“Maaf, hyung. Aku hanya khawatir kau akan berbuat nekad jadi aku terpaksa melakukannya dan maaf juga aku menyelidiki semua yang kau lakukan” ujar Siwon.

“Kau ini memang pria yang menakutkan”

“Itu sindiran atau pujian?”ujar Siwon sedikit sarkastik.

“Dua-duanya” jawab Jaejoong diiringi tawa keduanya.

“Hyung” Jaejoong menghadapku dan aku memeluknya. Tiba-tiba saja airmata membasahi pipiku.

“Maafkan aku…. Andai saja aku bisa menyelamatkannya”

Jaejoong Hyung menepuk punggungku.

“Dokter Lee Donghae adalah calon kepala dokter bedah Seoul National University. Dia tidak boleh lemah demi semua orang yang membutuhkan tenaga dan kemampuannya. Kau harus bertahan untuk memperjuangkan lebih banyak nyawa manusia dan berusaha mengurangi kesedihan akibat kehilangan. Kematian akan mendatangi setiap orang dan bila dokter diberi kesempatan untuk menyelamatkan jiwa maka dia harus mendedikasikan hidupnya untuk memberikan hidup yang dianugerahkan Tuhan. Kematian Yuri bukan salahmu, itu adalah sebuah takdir” suara Jaejoong sedikit bergetar di akhir.

Aku merasakan tangan lain menepuk bahuku. Aku melepaskan pelukanku dan melihat Siwon tersenyum padaku.
Kami bertiga tersenyum.

“Eehm…ehm…. Sepertinya ada yang melupakan keberadaan kami” Tiffany menyindir kami bertiga yang melupakan dia, Jiyeon dan Mavin. Kami bertiga tertawa.

“Sudah siap untuk ke bandara?” tanyaku. Jaejoong terkejut mendengar kata-kataku, tetapi tak lama kemudian tersenyum dan mengangguk.

“Ohya, oppa. Aku bawakan kau makanan nanti makan di pesawat yah” kata Jiyeon.

“Oppa, kami sudah menghubungi beberapa kedutaan besar Korea Selatan di Afrika. Ini nomor-nomor emergency yang bisa kau hubungi jika butuh bantuan dan jangan sungkan menghubungi kami jika ada apa-apa” ujar Tiffany.

Aku terkejut dengan tindakan Siwon dan Tiffany. Aku tak menyangka mereka bertindak sejauh itu. Siwon sepertinya mengerti dengan pemikiranku.

“Ibuku adalah seorang diplomat jadi aku punya relasi dalam hal hubungan internasional dan lagi aku punya teman kuliah saat di US yang merupakan petinggi di UNICEF sekarang ini. Aku hanya meminta ibuku mencarikan kontak duta besar Korea Selatan di Malawi, tetapi ternyata dia melakukan semua itu. Ohya, kalau ditanya bilang saja kau saudaranya Choi Siwon. Hahaha”

“Memangnya mereka kenal Choi Siwon?” tanya Jaejoong sambil memamerkan evil smile.

Ake tertawa melihat ekspresi Siwon.

“Kyeopta” ujar Tiffany.

“Kau tak perlu memujiku Fany-ah aku sudah tahu”

“Anhi… anhi. Maksudku Donghae-shi, neomu kyeopta” ujar Tiffany malu-malu. Aku tersenyum sangat manis pada Tiffany.

“Siwon-shi tampan kok” ujar Jiyeon. Aku memberikan death glare pada Jiyeon. Siwon tersenyum lebar mendengar pujian Jiyeon. Aku segera menarik Jiyeon ke sampingku begitu juga Siwon menarik Tiffany ke sampingnya.

“Hahaha…..” Jaejoong terbahak.

“Kalian ini love birds… Lucu sekali. Sudah-sudah aku bisa telat untuk penerbangan ke Kairo. Disana nanti aku masih harus menempuh perjalanan yang jauh untuk menuju Malawi. Ayo kalian mau mengantarku ke bandara tidak?”
Kami semua mengangguk. Aku membantu Jaejoong membawa kopernya. Jaejoong ikut mobilku karena dia ingin bermain dengan Mavin.

Kami tiba di bandara tepat saat pengumuman penerbangan.

“Penumpang tujuan Kairo dimohon untuk segera menuju gate 2 dikarenakan penerbangan akan lepas landas 5 menit lagi”.

Jaejoong segera berlari menuju gate yang dimaksud dan melambaikan tangannya yang terakhir ke arah kami. Kami melambaikan tangan kami. Aku merangkul bahu Jiyeon dan memperhatikan punggung Jaejoong-hyung hingga tidak terlihat lagi.

“Oppa, tunggu tadi gate 2 kan untuk penerbangan ke Kairo?”

“Iya” jawabku.

“Bukannya Jaejoong-oppa tadi memasuki gate 3”

“Tunggu… Apa?” teriakku.

“Donghae itu tadi gate 3?” tanya Siwon.

Kami berempat segera berteriak-teriak dan berusaha memasuki gate, tetapi petugas melarang kami masuk.
Aku berusaha menelponnya, tetapi percuma. Sesaat kemudian aku dan Siwon tergelak.

“SepertinyaTuhan memiliki rencana lain untuknya. Dan sepertinya memang sudah takdirnya bahkan petugas Boarding Gate tidak sadar kalau tiket penerbangan dengan tujuan penerbangannya tidak sesuai. Hahaha….”
Aku dan Siwon ber-high five.

“Yah, sepertinya ahjushi-mu punya takdir lain Mavin. Kita doakan Jaejoong-ahjushi menikmati perjalanannya yah”

Kami menceritakan perkembangan Mavin sebelum berpisah. Siwon sedikit kecewa saat mengetahui Mavin memanggilku APPA, tapi dia tersenyum dan senang sekaligus bangga Mavin bisa berkembang dengan cepat dibanding anak seusianya.

“Untuk sekarang baik-baik dengan Donghae appa dan Jiyeon eomma yah” kata Siwon tulus.

Aku tahu sekarang semua belum berakhir, masih ada persidangan yang harus dilalui. Aku akan berjuang untuk membahagiakan mereka berdua dan tak akan membiarkan mereka pergi dari hidupku.

Angels in My Life…. Jiyeon and Mavin.

‘i love you’ ‘you’re the only one’,
i want to yell those words out into the sky
i love you, my heart which feels like bursting is calling out to you

No matter how many times they find us,
no matter if we can’t breathe,

Like those invisible flower-like smiles,
which shine just like the stars,
i’ll keep you safe beautifully

As much as the sun that rises above you,
i’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart,
i love you, i love you,
you’re the most beautiful in this world,
this dream-like heart,
more than the air i breathe…

———————————————————————————————————

Note :
Setting Letter of Angel adalah tahun 1990. Jadi, disini Mavin sendiri lahir tahun 1990.
Jiyeon, Donghae, Siwon, Tiffany, Mavin demi keperluan cerita semua masuk ke dalam lounge menemani Jaejoong.

If you have question, don’t be shy just ask me. Hope you like my story. Please, be patient to wait for the next chapter. I’ll update it soon…

t

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 4]

Sungra’s POV

  Aku duduk mengayun-ayunkan kakiku sambil menonton Minho berlatih. Memang biasanya ia berlatih sepak bola, tapi karena klub olahraga akan mengadakan pertandingan basket Minho berlatih basket.

  Setelah beberapa kali memasukkan bola ke ring ia berbalik menatapku lalu tersenyum. Ia sedang bermandi keringat di sekujur tubuhnya. Sambil mengatur nafasnya ia berjalan ke arahku lalu duduk di sampingku.

  “Bosan?” tanyanya meneguk air mineralnya. Aku menggeleng lalu menyerahkan handuk kecil padanya. Ia meraihnya lalu membersihkan keringatnya.

  “Kau tidak lapar?” tanyanya lagi. Aku menyambar tasku dan mengeluarkan dua kotak bekal. Salah satunya kuserahkan pada Minho.

  “Makanlah yang banyak. Pertandingannya masih lama, kau harus cukup nutrisi dan makan makanan sehat, banyak istirahat, jangan sakit,” kataku. Ini sudah jadi kebiasaanku mendukung Minho dalam pertandingan.

  Minho mengangguk lalu melahap makanannya. Aku juga memakan bekalku.

  “Minho!” panggil seseorang dari belakang kami. Kami berdua berbalik ke arah sumber suara itu dan mendapati Siwon berdiri di sana memasukkan tangannya ke dalam saku.

  “Ne?” tanya Minho dengan mulut penuh makanan.

  “Kau akan ikut pertandingan basket kan?” tanya Siwon ikut duduk di antara aku dan Minho. Aish! Anak ini menghalangi pandanganku! =.=

  “Ne. Waeyo? Siwon hyung, kau mau ikut?” kudengar jawaban Minho.

  “Ne. Bagaimana kalau latihan sekarang? Kau lawan aku,” tawar Siwon aku mengernyit lalu memukul pundaknya.

  “Hey! Minho kan baru makan! Kau juga! Kau sudah makan? Makanlah dulu, jangan buang-buang energi! Kalau kau sakit siapa yang merawatmu?” omelku memasukkan beberapa makanan dari bekalku ke mulutnya.

  “Sebentar saja kok,” ia mengunyah tamago buatanku lalu menarik Minho berdiri. Aku menggeleng pasrah lalu kembali memakan bekalku, kusisakan setengahnya untuk Siwon.

  Aku kembali menatap kedua pria tinggi di lapangan olahraga yang asyik mendribble dan memasukkan bola ke ring masing-masing. Aku hanya tersenyum menatap kedua orang itu. Tiba-tiba Siwon berhenti sejenak lalu menepuk pundak Minho. Ia membisikkan sesuatu yang aku sama sekali tak tahu. Aku mengernyit lalu menaikkan pundakku. Mungkin tak ada hubungannya denganku.

 

Siwon’s POV

  Aku menepuk pudak Minho untuk mengajaknya berbicara. Tujuanku di sini memang bukan hanya bermain basket.

  “Ne?” ia mengernyit.

  “Apa kau…benar-benar menyukai Sungra?” tanyaku pelan. Ia lalu tersenyum tipis.

  “Ne,” jawabnya singkat. Aku berdeham sejenak.

  “Kau tahu, tidak mudah untuk mendapatkan Sungra. Kau harus bertanding denganku dulu,” gumamku. Ia lalu mengernyit.

  “Kenapa?” tanyanya. Aku menghela nafas. “O-oh! Jangan-jangan….kau suka pada Sungra juga?!” lanjutnya membulatkan matanya. Aku diam sejenak lalu mengangguk pelan. Ia lalu tersenyum.

  “Hyung mau tanding apa?” tanyanya. Aku hanya menunjuk bola basket di tanganku. Ia menangguk. “Aku tak menyerah semudah itu, hyung,” bisiknya.

***

  Kriingg!!!

  Bel istirahat selesai sudah berdering. Aku dan Minho langsung terduduk di lapangan kelelahan. Sungra menghampiri kami lalu berkacak pinggang.

  “Kalian ini! Aku kan sudah bilang, makan dulu! Aigoo.. Sekarang sudah bel baju kalian basah semua, Lee sonsaengnim tak akan senang,” omelnya. Aku mengehela nafas.

  “Masih seri,” gumamku terengah-engah menatap Minho. Ia mengangguk.

  “Seri atau tidak aku tidak peduli. Sekarang kita skip saja dulu, kalian harus makan!” omelnya menarik kami berdua duduk di bangku.

  Ia menyerahkanku kotak bekal yang tadi dipakainya. Aigoo.. Untung saja Sungra tidak menghabiskannya. Aku bisa mati kelaparan.

  “Makan yang banyak,” ujar Sungra. Tiba-tiba aku merasakan sebuah handuk terusap dari pelipis ke pipiku. “Keringatmu banyak sekali. Nanti pulang cepat mandi,” Sungra terus mengelap keringatku. Aku hanya tersenyum disela-sela makanku.

  “Gomawo~” gumamku senang sambil menguyah makananku.

  “Minho-ya, pelan-pelan kalau makan,” ujar Sungra menyerahkan sapu tangan pada Minho. Aku mengerutkan alisku lalu menyambar sapu tangannya sebelum Minho meraihnya.

  “Kau kenapa? Itu kan buat Minho,” tanya Sungra menatapku aneh karena sikapku barusan. Aku menggosok tengkukku sambil menunduk.

  “Umm.. Mianhae, aku tidak dengar,” gumamku sebelum menyerahkan sapu tangan itu pada Minho.

  “Oh.. Hey, kalian tunggu di sini sebentar aku mau ke toilet,” Sungra berdiri lalu berlalu pergi. Aku menyenggol pundak Minho yang sedang makan.

  “Ne, hyung?” tanyanya. “Kau mau membahas soal memperebutkan-‘nya’ kan?” tanyanya menatapku santai. Aku mengangguk mantap.

  “Bagaimana kalau kita bersaing seperti ini saja. Setiap hari biar Sungra tentukan ia akan pergi dengan siapa. Oke?” tawarnya. Aku mengangguk setuju.

  “Tapi jangan biarkan Sungra tahu soal ini, deal?” aku mengulurkan tanganku. Ia memiringkan kepalanya lalu menyambut tanganku.

  “Ne,” ia mengangguk.

***

  KRIIING..!!

  Bel pulang berbunyi memenuhi seluruh ruangan sekolah. Aku segera mengemas barang-barangku lalu menuju loker Sungra untuk menemuinya.

  Begitu aku tiba di koridor letak loker itu, aku melihat Minho berdiri bersandar di samping Sungra yang sedang membereskan barang-barangnya. Ugh! Catatan untukku : jangan pernah didahului Choi Minho lagi!

  Di antara semua orang di dunia ini kenapa harus Minho? Okelah, kuakui Minho bukanlah rival yang mudah ditakhlukan.

  Begitu Minho melambaikan tangannya lalu pergi, aku segera menghampiri Sungra.

  “Sungra-ya,” panggilku. Ia menoleh lalu mengernyit menatapku.

  “Ne?” ia memiringkan kepalanya. Aku menghela nafas lalu mengacak-acak rambutnya.

  “Kajja, pulang. Kau sedang tidak ada acara kan? Ayo jemput Sungwon,” ajakku. Ia lalu memanggul tasnya.

  “Mianhae, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulanglah dulu. Jaga Sungwon, aku titip salam. Annyeong!” jawabnya lalu pergi tanpa membiarkanku memberi respon. Apa ia pergi dengan Minho? T^T omona, nae sungwonnie…

 

Sungra’s POV

  “Sungra-ya. Kau ada acara nanti? Aku mau mengajakmu pergi sebentar, melepas stres,” ajak Minho. Aku melirik ke jadwal agenda di ponselku.

  “Mianhae Minho-ya. Aku sibuk hari ini. Lain kali saja ya jalan-jalannya,” tolakku. Ia menghela nafasnya lalu mencubit pipiku.

  “Ne. Kapanpun kau butuh kau bisa menghubungiku,” ia tersenyum lalu pergi. Baiklah. Aku harus segera pulang karna ada pekerjaan menunggu…

“Sungra-ya,” aku berbalik dan mendapati Siwon berdiri di belakangku.

  “Ne?” tanyaku. Ia mengacak rambutku pelan.

  “Kajja, pulang. Kau sedang tidak ada acara kan? Ayo jemput Sungwon,” ajaknya. Aku mendesah pelan.

  “Mianhae, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulanglah dulu. Jaga Sungwon, aku titip salam. Annyeong!” aku melambaikan tanganku padanya lalu menatap ponselku. Oh tidak! Aku bisa terlambat!

 

At Café…

  Aku mengelap permukaan toples kaca berisi cookies coklat dari deretan toples-toples berisi camilan manis warna-warni. Begitu permukaannya terlihat bersinar mengkilat aku meletakkannya kembali ke barisan toples itu. Tiba-tiba sebuah toples berisi permen warna-warni disambar sebuah tangan yang berasal dari belakangku. Aku langsung berbalik lalu mendapati rekan kerjaku berdiri di sana membuka toples tadi dan memakan permennya.

  “L! Itu topping untuk pelanggan!” omelku berusaha menyambar toples itu. Ia menjulurkan lidahnya dan menjauhkan toples itu dariku.

  “Yah! Kim Myungsoo! Kembalikan!” aku memukul-mukul lengannya. Ia tertawa kecil lalu memasukkan sebutir permen ke mulutku.

  “Sudahlah. Hanya makan sedikit kan tidak apa-apa,” ia menutup kembali toples itu dan mengembalikannya ke rak.

  “Myung-myungie~ Sungraaa nae aegiii~” Jeongmin muncul dari balik pintu dapur dan mengalungkan kedua lengannya pada leherku dan Myungsoo.

  “Jeongmin sunbae, berhentilah memanggilku seperti itu!” aku mendorongnya menjauh. Ia terkikik bersama Myungsoo. “Mana yang lainnya?” tanyaku merapikan cangkir-cangkir.

  “Eli membersihkan dapur. Onew…entahlah. Dia menghilang sejak kusuruh membuang sampah,” jawab Jeongmin menyeduh biji-biji kopi. “Kurasa Onew hyung pergi menemui pasangan kencan buta yang kau pasangkan dengannya waktu itu,” lanjutnya. Aku tersenyum menahan tawa dengan Myungsoo.

  “Maksudmu Heechan?” tanyaku. Ia mengangguk lalu mulai membuat cappucino.

  “Si pemilik restoran kenalanmu itu,” Myungsoo membuka toples marshmallow dan melahapnya. Aku menggeleng pasrah.

  “Myungsoo-ah, kau bisa gemuk kalau makan terus,” omelku mencubit pipinya.

  “Andwaeee~~ Aku kan tampan, nanti bisa jadi model! Aku tidak akan gemuk Sungra aegi~” ia menjulurkan lidahnya lalu mencubit hidungku.

  “Kau terlalu besar kepala Myungsoo-ah. Belajar dari siapa?” sindirku.

  “Mirror Prince,” ia menunjuk Jeongmin yang sedang menyeruput cappucinonya sampai mulutnya belepotan foam. Aku dan Myungsoo langsung tertawa meledak.

  “Wae???” tanya Jeongmin polos. Ia lalu berbalik ke cermin di dinding. “Oh.. Aku aegyo sekali kan kalau begini? Wow.. Di mana ya direktur membeli cermin sebagus ini? Aku juga ingin punya satu,” pujinya bercermin di sana. Myungsoo menaikkan pundaknya.

  “Ini sudah ke-tujuhbelas kalinya dalam hari ini ia bercermin,”gumamnya. Aku hanya mengangguk.

  “Oh, ya. Sungra-ya, kudengar kau punya ‘oppa’? Kenapa aku baru tahu kau tiga bersaudara? Bukannya hanya ada kamu dan Sungjae?” Jeongmin berbalik ke arahku.

  “Darimana kau tahu?” aku mengernyit.

  “Apa kau lupa aku ini Jeongmin? Jeongmin selalu tahu,” jawabnya.

  “Kalau Jeongmin selalu tahu, kau pasti tidak perlu menanyakan soal saudaraku,” jawabku mengabaikannya. Ia cemberut lalu mendorong-dorongku.

  “Jebal~ Jebal~ Jebal~ Nae aegi~ beritahu oppa-mu ini~ Aku bisa mati penasaran!” rengeknya.

  “Aigoo.. Ne! Ne! Geurae! Tapi berhentilah mendorongku, Jeongmin sunbae!” ia pun berhenti. “Berhenti juga memanggilku aegi!” gerutuku. Ia menggeleng.

  “Andwae, kau magnae di sini, panggilanmu ‘aegi’. Titik,” ujarnya polos. “Ayo cepat cerita~ Jeongmin sedang menunggu,” lanjutnya sebelum sempat kuprotes.

  “Aish! Geurae. Namanya Choi Siwon, setahun lebih tua dariku, tapi dia pernah menjabat-”

  “Chamkkaman!” potongnya. “Kenapa marganya Choi?” tanyanya. Aku mendesah kasar.

  “Makanya dengarkan dulu sampai habis!” aku memukul lengannya. Ia meringis lalu mengangguk.

  “Ia pernah menjabat sebagai saudara kembarku. Aku baru tahu dia bukan saudaraku saat kami tujuh tahun. Dan sekarang dia kembali ke Korea,” jelasku singkat. Ia memiringkan kepalanya seakan meminta penjelasan lebih.

  “Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kelakuan Siwon aneh, tak seperti saat dia masih kecil dulu,” aku memandang lurus menerawang ke depan sambil bertopang dagu. Tidak hanya Siwon, sepertinya Minho juga aneh. Ada apa dengan mereka?

 

Meanwhile..
Siwon’s POV

  “Aaaarghh!!” geramku duduk di samping Sungwon di ranjang.

  “Sungwon-ah~ eomma mu sepertinya pergi dengan Minho lagi,” gerutuku.

 “Ennn..,” gumam Sungwon bermain dengan bolanya.

  “Yah, kenapa jawabanmu begitu? =_=” omelku. Ia hanya diam bermain dengan bolanya.

  “Hm.. Kemana ya kira-kira mereka berdua?” gumamku mendapat lemparan bola dari Sungwon.

  “Aish! Aku tidak bicara denganmu Sungwon-ah..! Hmphh! Kalau begitu aku dating dengan mu saja bagaimana?” tanyaku lagi. Sungwon menjulurkan lidahnya ke arahku. =_=

 

Sungra’s POV

  “Eli sunbae!! Jeongmin sunbae!! Ppali!” seruku bersandar di dinding cafe. Myungsoo dengan tenangnya memakan coklat yang baru dibeli di supermarket seberang. Onew sedang berdiri mengedarkan pandangannya sambil memeluk plastic bag isi ayam pesanannya tadi siang.

  “Ne! Ne! Ah! Chamkkaman!” seru Jeongmin karena diseret Eli saat ia sibuk bercermin.

  “Kau terlalu lama Jeongmin-ah!” omel Eli.

  “Ara! Ara! Ah iya! Aku bawa hadiah dari Busan!” seru Jeongmin mengeluarkan karung santaclaus. “Hmm.. Mari kita lihat. Ah, ini buat Myung-myungie!” ia menyodorkan kemeja lengan panjang dan topi. Aku memasang wajah ‘kau-yakin-memberinya-itu?!’.

  “Jeongmin-ah, Myungsoo sudah punya banyak kemeja dan topi!” kata Onew kuiyakan.

  “Karena Myung-myungie menyukainya makanya aku membelinya,” jawabnya santai sambil mengubek-ubek isi karungnya. “Ini untuk Onew dan Eli~!” ia mengeluarkan sebuah piyama ayam dan buku pelajaran…bahasa Korea?!

  “Ya! Apa ini?” seru Eli. Jeongmin hanya mengibaskan tangannya.

  “Latih bahasa Koreamu hyung, jangan permalukan kami,” jawabnya santai. “Nah, ini untuk Sungra~!” ia menyodorkan satu set syal dengan topi dan sarung tangan ungu.

  “Wuaaah~ Gomawo Jeongmin sunbae!” aku segera mengenakannya. “Kyeopta!”

  “Jeongmin-ah, kenapa hadiah Sungra paling bagus?” tanya Eli.

  “Hyung mau kubelikan mini dress?” sindir Jeongmin. Aku tersenyum menahan tawa melihat ekspresi Eli.

  “Geurae, geurae! Kajja!” ajakku.

 

Minho’s POV

  Aku menghela nafas lalu meletakkan pensilku di samping buku PR ku. Kusandarkan tubuhku ke kursi lalu menatap langit-langit.

  “Sungra menolak pergi denganku untuk pergi dengan Siwon?” gumamku. Aku beranjak dari tempatku lalu duduk di balkon menatap langitt gelap dihiasi cahaya lanpu dari berbagai penjuru Seoul.

  “Aku tidak akan kalah dengan Siwon hyung semudah itu,” gumamku.

 

Sungra’s POV

  Aku membuka pintu rumah dan mendapati semua lampu sudah dimatikan. Aku melepas sepatuku lalu meyalakan lampu ruang tengah. Sepertinya Siwon dan Sungwon sudah tidur. Aku menghela nafas lalu berjalan naik ke kamar.

  Aku melepaskan mantel dari Jeongmin dan menggantungnya di belakang pintu, beserta topi dan sarung tangannya. Aku segera mengganti bajuku dengan piyama dan naik ke atas kasur, di samping Sungwon yang sudah tidur dalam pelukan Siwon. Aku tersenyum lalu berbaring dan segera masuk ke alam mimpi.

***

  Aku membuka mataku karena cahaya matahari sudah masuk ke sela-sela tirai jendela. Aku merenggangkan otot-ototku lalu duduk mengusap mataku. Aku melirik ke arah Siwon dan Sungwon yang masih terlelap.

  “Siwon-ah, ireona…,” panggilku malas menggoyang-goyangkan pundaknya. Ia mengerang pelan lalu ikut duduk. Aku berdiri hendak pergi ke kamar mandi.

  “Sungra-ya…,” panggilnya. Aku berbalik ke arahnya yang sedang memandangi balik pintu.

  “Ne?” tanyaku.

  “Itu…kau dapat kemarin?” tanyanya balik. Aku mengikuti arah pandangnya ke syal, topi dan sarung tanganku kemarin. Aku mengangguk. Kenapa memangnya?

  “Waeyo?”

  “A-aniya..” ia menunduk.

 

To Be Continued…

%d bloggers like this: