Category Archives: Comedy

END AND || Part I ||

Saya buat FF baru lho  ____ (´・∀・`)ノ

pamer banget sih ( -_-)

Gkgkgkgkgkgkgk ~~

saya iseng-iseng buat FF baru  (^Д^)フ

yang jadilah begini ….

semoga yang baca suka   o(≧▽≦)o♪

selamat membaca (>w<*) (´ω`*)

Cerita ini hanya karangan FIKTIF, TIDAK MENJIPLAK, ASLI, dan HANYA SAYA YANG MEMBUATNYA.

endand copy

Dan pada saat itu aku terdiam tanpa kata. Aku bungkam dihadapannya, tapi dia malah tersenyum lebar menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku.

Semua bermula karena aku mendatanginya diperpustakaan.

Ketika aku duduk merenung didalam kelas, seorang yeoja yang merupakan temanku memanggilku, “hei! Hanni, kamu dipanggil ke perpustakaan”

“ne? siapa yang memanggilku?”

“molla, katanya datang saja” lalu yeoja yang memberi tahu padaku pergi begitu saja.

Awalnya aku bimbang untuk datang ke perpustakaan, tapi apa daya kaki ku sudah mebawaku kedepan pintu perpustakaan yang besar ini. Aduh… bagaimana ini?? Apakah aku harus masuk ke dalam???

Ah, mungkin seonseaengnim memanggilku. Eh, tapi kalau seonsaengnim yang memanggil pasti disuruh keruang guru. Aku pun jadi dilema..

Dan akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku membuka pintu yang besar ini dan aku melangkah masuk kedalam ruangan yang luas ini. Tapi apa yang kudapat? Hanya sebuah ruangan luas yang sangat sepi yang dipenuhi dengan banyak buku dan tiada satupun orang disini, hanya sebuah ruangan luas yang terkena seberkas cahaya matahari dari luar sana.

Jantungku berdegub kencang, ingin rasanya aku pergi kembali ke kelas tapi hatiku berkata bahwa ada seseorang yang menungguku walaupun aku tidak melihat siapapun disini.

“ternyata kau sudah datang” tiba-tiba terdengar suara namja yang aku tak tahu dari mana arahnya. Aku berputar ditempatku berdiri dan lagi-lagi hanya ruangan tanpa ada manusia disini. Sekarang pikiran ku tercampur aduk antara manusia atau hantu yang berbicara atau jangan-jangan benda-benda disini bisa berbicara. Huhh.. sungguh pemikiran yang tak masuk akal.

“ahh~ kau takut ya?” suara itu muncul lagi. Suaranya sangat asing ditelingaku.

“nuguseyo?” tanyaku

“aaa.. rambutmu halus dan lembut ya..” ya, dia memegang rambutku dengan lembut, tapi tentu saja aku sangat terkejut. Aku langsung membalikkan badanku menghadapnya.

“hei!! Apa mau mu? Kamu siapa?” Tanya ku bingung. Aku sama sekali tak mengenali wajahnya.

“kamu tidak tahu aku? Padahal aku sangat terkenal disekolah ini, bahkan hampir seluruh dunia mengenalku. Seharusnya kamu mengenali ku sebab aku adalah Lee Seunghyun. Panggil saja Seungri” jawabnya dengan percaya diri sambil mebuka lebar tangannya.

Pertama, aku menelaah dulu perkataannya. Kedua, mata ku terbelalak. Ketiga, jantungku berdegub lebih kecang dari sebelumnya. Terakhir, aku ingin cepat-cepat pergi dari sini ketika aku mengetahui namanya.

“o? s,seu, seungri???!”

Dia terseyum menandakan iya.

OMWO!!? AIGOOYAA~~!! Ini yang namanya Seungri?? Ternyata memang imut seperti kata mereka. Oh, tidak, tidak, aku tidak boleh tergiur akan keimutannya. Oh iya, aku baru ingat kalau tidak salah dia anak pemilik perusahaan Samsung Electronics yaitu perusahaan teknologi terbesar di dunia yang memiliki hampir 80 anak perusahaan. Tapi dia sangat terkenal dengan sebutan playboy. Hampir seisi sekolah menyukainya dan yang kutahu para seonsaengnim juga ikut menyukainya.

“apa tujuanmu memanggilku?”

Je t’aime” jawabnya sambil tersenyum. Tapi aku tak mengerti apa yang dia katakan.

“nde??”

“hahaha, johahae”

Aku terdiam tanpa kata ketika mendengar ucapannya. Tapi aku tetap menahan diri, “lalu?”

“kau harus jadi kekasihku”

Aku bungkam dihadapannya, tapi dia malah tersenyum lebar menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku,

“omwo? Aku tidak salah dengar??” aku mulai heran apa maksudnya berkata seperti itu.

“aniyo. Kau harus jadi kekasihku, menjadi milikku. Itu saja. Gampang kan?”

“untuk apa? Lagipula aku tidak mau. Mian”

“o??! apa yang kurang dariku? Aku tampan, aku kaya, aku pintar, disenangi banyak orang, aku terkenal, dan masih banyak hal yang bagus tentang diriku”

Cihh.. Percaya diri sekali dia.

“kau kira aku perempuan yang begitu saja akan menerimamu? Maaf, aku tidak seperti itu.” Jawabku. aku kesal atas sikapnya yang sangat percaya diri itu. Andaikan aku tidak datang kesini.

Aku melangkah menuju pintu perpustakaan yang tertutup itu.

“hei, hei!! Jamkkanman!”  teriaknya dari belakangku

“wae?”

“aku tidak akan menyerah” ucapnya dengan semangat

“aa~ ne, terserah kamu saja” jawabku lalu aku pergi meninggalkannya.

-Seungri PoV-

Sial, baru kali ini ada yang menolakku. Dasar tidak sopan. Lihat saja, pasti aku akan mendapatkan hatinya. Hahahahahhahahahahaha~~  sebab semua yang kuinginkan pasti akan kuraih dengan tangan ku sendiri,  GWAHahahahahaha

*****

Disisi lain.. para murid perempuan di Seoul Performing Art High School memuja-muja 5 orang murid laki-laki yang memang sangat terkenal dan bisa dibilang mereka unggul dibidang apapun. Dan 5 namja itu diberi julukan BIG BANG.

“cihh, lagi-lagi mereka membicarakan 5 cowok tengik itu” ucap seorang yeoja dengan nada kesal.

Lalu yeoja itu pergi ke taman sekolah dan dia mengomel sendiri.

“apa sih bagusnya 5 orang itu??! Hah??!!” dia menendang sebuah kaleng kosong yang ada didepan kakinya dan kaleng kosong itu melesat jauh ke angkasa.

DUAAKK

“AUWWW!!” rintih seorang namja dari kejauhan.

“hei!!! Siapa yang menendang kaleng kosong ini???!!! HEII!!” amarah yang tak terkalahkan keluar dari namja itu.

“aigooo, jangan-jangan itu Kwon Jiyong?? Aku barusan nendang kaleng, terus kena kepalanya? Aissshhh.. sial” yeoja yang menedang kaleng kosong itu hendak kabur tapi dia tertangkap basah oleh Kwon Jiyong dan teman-temannya.

“HEEIII!! Dasar tidak tahu sopan santun! Kamu tahu, kaleng kosongmu itu mendarat di kepalaku. Cepat minta maaf.” suruh Jiyong pada yeoja itu.

“salahmu sendiri! Kenapa kamu taruh kepala disitu??!” jawab yeoja itu

“nde??? Kau ..” marah Jiyong, kata-katanya terputus karena temannya berbicara.

“o, o, o, ternyata Park Janrang. Murid kelas 2B, yang kabarnya menjadi murid terpintar keempat disekolah dan sangat membenci 5 anggota BIG BANG” kata temannya yang nyatanya bernama Choi Seunghyun.

 

Cihh, Cihh. Cihh. Sial. Orang ini muncul pula. Batin si yeoja yang bernama Park Janrang itu

“OMWO??!! OMWO??!! Kamu membenci BIG BANG??! Hahh??? Sungguh tidak bisa kupercaya” kata yang satu lagi bernama Kang Daesung

“hei, hei, sudahlah. Jiyong, maafkan saja dia.” Kata salah satu dari mereka yang bernama Dong Yong Bae.

Cihh, dia mau pura-pura mengasihaniku ya? Dasar tidak sopan. Batin Janrang

“sudahlah, biarkan saja dia. Ayo kita cari Seungri lagi.” Kata Yongbae lagi.

“baiklah, berterimakasihlah bahwa kali ini aku memaafkanmu” kata Jiyong sinis.

“o,” jawab Janrang. Dia menatap tajam keempat orang yang berlalu meninggalkannya itu.

##To Be Continued

O~MWO??! -eps4#

Setelah lama fakum saya kembali melanjutkan cerita ini ^______^

Cerita ini hanya karangan FIKTIF, TIDAK MENJIPLAK, ASLI, dan HANYA SATU.

Omwo copy

 

“oh iya, Kibum-ah, appa dan Yunho-sshi mau pergi sebentar. Masih ada pekerjaan yang menunggu” ucap appa.

“nde? lalu aku bagaimana??” tanya ku

“ya.. kamu disini saja temani Hyena” jawab appa santai

“NDE?? Omwo!? Omwo!?” sontak aku terkejut ketika mendengar jawaban appa. Untuk apa aku menemani yeoja ini?????

“Kibum, tolong jaga Hye-chan ya … ^^” kata Yunho-sshi dengan senyuman

“Hei, Hei, Jamkkanman …” seruku tidak terima

mereka pergi begitu saja tanpa mempedulikan aku disini, aigooo … sial sekali aku

“kkkkkkkk~” kikik Hyena yang duduk di ranjang

aku heran, apakah dia juga kena sindrom gangguan jiwa. Tiba-tiba tertawa sendiri seperti itu, dasar aneh.

“wae gurae? tertawa tanpa sebab, apa kau sudah gila?” tanya ku memastikan. Siapa tahu dia benar-benar gila.

“ne? aniya .. lucu saja melihat dua ajusshi tadi” jawabnya sambil senyam-senyum

“ajusshi?”

dia menyebut appa nya ajusshi? ckckckck -_-

“o.. hahahaha” jawabnya seraya mengangguk-anggukan kepalanya

Yeoja ini sungguh menyeramkan, pikirannya sama sekali tidak bisa ditebak. Aku tidak boleh dekat-dekat dengannya.

 

-Hyena PoV-

Lucu saja melihat dua ajusshi tadi.. tak biasanya aku melihat dua orang ajusshi yang akan pergi bersama-sama dengan riangnya.

Babo, apa yang sedang kupikirkan sih..

“Huhhhhh..” aku menghela napas panjang, sepanjang mungkin.

aku memperhatikan sekeliling ruangan ini dan baru kusadari aku merasa risih ketika tahu Kibum melihatku seperti melihat mahluk langka yang harus dilestarikan.

“Hei! Jangan melihatku seperti itu, kau kira aku ini apa? spesies langka?”

“ummbb.. GWAHAHAHA, kau menyebut dirimu spesies langka?? baru kali ini kudengar ada orang yang menyebut dirinya spesies langka” dia menertawaiku dan mengejekku. namja sialan .

“HEI!” amarahku sudah sampai puncak gunung Kalimanjo, lahar ku sudah meluap-luap, tinggal keluar saja.

_____________________________________________________________________________________________________________________

krik, krik.. krik, krik..

tiba-tiba suasana hening, hanya terdengar bunyi jangkrik. Walaupun disini tidak ada jangkrik

ya, ruang rawat inap yang ditempati Hyena menjadi hening sejak Hyena marah tadi dan sekarang Hyena sudah tertidur pulas, mungkin dia lelah ..

Kibum pun ikut-ikutan tidur dikursi disamping ranjang Hyena, mungkin dia juga lelah ..

sebenarnya saya juga lelah ..

 

Tidak tahu dari mana datangnya, sang angin membisikan sebuah kabar kepada sang burung. Lalu, sang burung itu terbang dan meberitahu teman-temannya tentang kabar ini.

Sehingga, negara api pun menyerang.

wahh, jadi melancong ke avatar the legend of aang. saya suka tuh, bagus ceritanya. Yeah..

ayo, lanjut-lanjut ..

Sehingga, dunia pun menggempar akibat berita yang dibawakan sang burung.

Penasaran sama beritanya?? Ketik REG Kepo Kirim ke 6288. dijamin kamu pasti kaget. wkwkwkwk #Blettaakk #KetimpaDurian

Kabarnya seorang model + aktor dengan nama Kim Kibum berada di Wooridul Spine Hospital bersama seorang yeoja.

Kalian tahu berita ini dari mana dan dari siapa??? Sebenarnya, sulit untuk jujur, sulit untuk mengatakannya bahwa pelakunya adalah KAMU! Mian, maksud saya kedua appa tadi. Kedua appa tersebut berulah macam-macam untuk membahagiakan diri sendiri. Babo .. ckckckck

setelah kabar itu, beredar. Para wartawan sedang gencar-gencarnya ingin mendapatkan kepastian kabar itu dan para fans Kibum mendengus kesal karena tahu idola mereka  bersama yeoja yang masih samar-samar identitasnya.

Saat itu pula salah satu wartawan yang beruntung menemukan ruang rawat inap Hyena di rumah sakit.

“Yeah, akhirnya kutemukan juga kalian. Ghahahaha” ucap wartawan itu senang

Wartawan itu sampai didepan pintu kamar inap Hyena. Perlahan dia buka pintu itu dan apakah yang akan terjadi pada sang wartawan? Jangan kemana-mana, tetap bersama saya untuk menyimak kisah selanjutnya XD

#BLETTAAKK #dilemparPanciBolong

Wartawan itu memotret Kibum dan Hyena dengan sangat indah *mucul efek-efek yang gimana gitu*

setelah mendapatkan apa yang dicarinya, dia kembali ke asalnya dan mulai merancang sebuah berita yang akan menghebohkan seisi dunia.

berita yang berisi bahwa, Kim Kibum model + aktor terkenal menemani kekasihnya yang dirawat di Wooridul Spine Hospital. Dan bla.. bla… blaa… . Wartawan itu juga menyertakan foto yang sudah diambilnya tadi. Oh, Good Job untuk wartawan ini, dia membuat isu.

Maka, gemparlah para fans Kibum diseluruh penjuru dunia setelah mengetahui berita ini. Mereka sangat marah dan kesal pada yeoja yang saat ini bersama Kibum, yang tak lain lagi adalah Hyena.

“awas saja kau, yeoja nakal! yang berani-beraninya mendekati oppa ku” kata salah satu fans yang hebat amarahnya.

“Lihat saja dia, pulang dari rumah sakit akan terasa lebih sakit lagi dari sebelumnya” ancam yang seorang lagi.

Para fans Kibum memiliki dendam yang sangat besar terhadap Jung Hyena. Yaa, bisa dibilang hampir semua fans Kibum marah besar.

_____________________________________________________________________________________________________________________

Tak lama, Kedua appa yang menjadi pemula terjadinya berita ini datang.

“aaa~~~ manis sekali mereka” kata ayah Kibum

“ne, aigoo~ imut sekali” tambah ayah Hyena.

*sebagai kenangan, aku akan mengambil foto mereka* pikir kedua appa tersebut, yang lagi-lagi akan berulah dan tidak menguntungkan bagi anak mereka.

Lalu, mereka melakukan apa yang tadi terlintas dipikiran mereka dan men-twitpict foto yang mereka ambil. dan juga ada pesan yang dimuat dalam twitpict . Kibum appa: “menemani anakku dan tunangannya dirumah sakit yang terluka parah akibat kecelakaan, sungguh dramatis dan sekarang Kibum tertidur disampingnya. Sungguh manis”. Dan milik Hyena appa: “anakku, Hyena terbaring lemas akibat kejadian yang menimpanya. Aku sangat sedih tapi tidak jadi karena anakku sudah bertemu dengan jodohnya >///<”

Oh, para appa yang menyeramkan …

Mereka tidak tahu situasi sekarang yang sudah gawat menjadi sangat gawat ketika mereka selesai men-twitpict anak mereka.

Beberapa detik kemudian, diluar ruang rawat inap Hyena. Bertambah gemparlah seluruh fans Kibum di segala penjuru dunia ketika melihatn postingan kedua appa tadi.

Banyak media yang mulai memuat berita itu dengan judul “Kim Kibum bersama tunangannya”. Berita ini menjadi berita utama entertainment diseluruh dunia.

Berita ini sangat cepat menyebar. Dari mata ke mata, hidung ke hidung, mulut ke mulut, telinga ke telinga (ini kalau saya lanjutin nggak akan selesai nih).

Dan semua ini akan menjadi kisah baru bagi Kibum dan Hyena.

Simak kisah selanjutnya ^^

TBC ___

 

Yang baca, kasih comment ya supaya saya bisa lebih baik lagi

Terimakasih #WithLove #wkwkwkwk

– I GO CRAZY BECAUSE OF YOU – eps 8

Flashback……

Yeonhee menerima sms dari yesung yang isinya permohonan maaf

From : 0109***********

To: Yeonhee.

Subject: pulang sekolah.

Message : Yeonhee, maaf kalau aku menggangu mu. Nanti siang aku betul-betul tidak bisa menjemput

mu. Mungkin Teukie hyung yang akan menggantikan ku menjemput mu atau yang lain nya.

Yesung.

-Yeonhee’s PoV-

Yayaya whatever mauu kamu jemput ato gak aku juga bisa pulang sendiri!!! Batin ku dalam hati. Akhirnya dia bisa pergi menghilang untuk beberapa saat dari hidup ku. “ Uwaa Yeonhee udah bel ayo turun.” Kata Nari pada ku. “ Ne.” “ Memangnya habis ini pelajaran apa?.” Tanya ku saat turun dari tangga. “ Tata Boga.” Jawab nya sambil berlari kecil. “ Nari aku ga ikut ya.” kata ku pelan. “ Uwa pasti mau bolos pelajaran!!.” Kata Nari. “ Habis kamu tau kan aku benci masak!!.” Kata ku pada nya. “ Biar ah kan ada yang lain kayak  Minjoon, ahra, dan lain nya.” kata Nari sambil memegang tangan ku agar tidak kabur. Huh.. dasar betul-betul serigala berbulu domba!! Teriak ku dalam hati.

“ Ayo cepat ntar kalo telat pasti dihukum ama Seongsaenim.” Kata Nari mengingat kan ku. “ Ne..” Jawab ku. “ Yeonhee kamu duduk belakang kan?.” Tanya Minjoon. “ Yoi males duduk depan pasti ntar Seongsaenim nyuruh aku terus.” Jawab ku. “ Sama donk.” Kata Ahra ikut-ikutan. “ Hahaha.” Ejek yang lain. “ Makanya jadi cewek tu harus bisa masak apalagi kamu Yeonhee kamu udah punya tunangan tapi ga bisa masak.”kata Haejin padaku. “ Kenapa aku?! Tunhangan pake dibawa-bawa lagi!.” Tanya ku marah. “ Just kidd kok.” Kata Minjoon. “ kalian dengan kata lain juga ngejek aku yang ga bisa masak! Dalam hidup ku Cuma ada yang nama nya olahraga!.” Sambung Ahra. “ Ya kita ngerti kok kamu suka olahraga.” Kata ku sambil menepuk pundak ahra. “ Udah ah kelamaan disini. Ayo keruang praktek.” Kata Seojin mengingatkan. Kami pun berjalan menuju ruang praktek tataboga. Inilah pelajaran ke dua yang paling ku benci setelah Matematika!!.

“ Yeonhee sebelah sini!.” Panggil Ahra pada ku. Aku pun berjalan kea rah kursi belakang yang dekat dengan nya. “ Oke apa sudah lengkap semua?.” Tanya Seongsaenim pada kami. “ Arisa belum datang seongsaenim!!.” Jawab yang lain pada GaIn Seongsaenim. “ Oke kalau gitu kita tunggu dia sebentar lagi.” Kata Seongsaenim menuju ke meja prakteknya. ‘ Sambil menunggu Arisa gunakan apron kalian.” Suruh seongsaenim. Tiba-tiba Arisa datang dan masuk ke dalam ruang praktek kulihat dia langsung mengambil tempat duduk disamping Haena. Seongsaenim tidak memarahi keterlambatan nya sama sekali. Aku tau kenapa….

“ Hari ini saya akan mengajarkan kalian cara untuk memotong ikan yang baik dan mengolah nya.” kata GaIn Seongsaenim pada kami. “ Huh murid-murid laki-laki pasti sekarang enak sedang pelajaran mekanik….” Desah ku. “ Kenapa?.” Tanya Nari. “ Gapapa.” Jawab ku langsung. “

Sekarang ambil pisau kalian masing-masing.” Lanjut seongsaenim. “ Kemudian lihat contoh yang akan saya berikan, setelah bel istirahat nanti kalian akan mencoba untuk memotong ikan sendiri-sendiri.” Kata Seongsaenim. Karena tempat duduk ku ada di belakang aku melihat kedepan tidak sengaja mata ku bertatapan dengan Arisa. Dia menatap ku dengan tatapan kebencian dan dendam. Aku tau perasaan nya. untung saja bel istirahat menyelamatkan ku. Kalau tidak aku akan di terkam habis oleh Arisa. “ Oke kita lanjutkan setelah ini.” Kata Seongsaenim mempersilahkan kami istirahat. Kulihat gerombolan Arisa yang langsung berjalan keluar kelas bersamaan.

“ Yeonhee kantin yuk!!.” Ajak Seojin pada ku. “ Tapi aku mau ketemu sama Hanjoon oppa.” Jawab ku. “ Yah, kok gitu!..” kata Seojin lagi dengan tatapan memelas. “ Aku kan udah ga ketemu dia selama 4 hari.. jelas aku kangen.” Kata ku sambil tersenyum. “ Ya udah deh.. Ahra kamu temenin aku ke kantin yuk.” Ajak Seojin mencari teman. “ ga males ajak Minjoon aja aku mau nemenin Yeonhee habis kantin ga ada apa-apa nya.” jawab Ahra singkat. “ yah minjoon..” pelas Seojin kali ini. “ Ok.. Arasho.” Jawab nya kami melihat mereka berdua berjalan menuju kantin.

“ Jadi ga?.” Tanya Ahra tiba-tiba pada ku. “ Ke??.” Tanya ku heran. “ Ke kelas nya hanjoon aku lagi bete berat nih.” Kata nya. “ Heeh jadi.” Jawabku. “ Kalian mau kemana??.” Tanya Nari polos. “ Astaga Nari dari tadi kita ngomong kamu ga ngerti?!.” Tanya ku kaget. “ Kagak.” “ Ih… aku gemes sama kamu!!.” Kata Ahra padanya. “ Ikut ga?.” Tanya ku pada mereka berdua. “ JAdi!!.” Teriak meraka seperti anak kecil.

Kami pun berjalan menuju kelas XII Bahasa 3. “ Hanjoon oppa nya ada??.” Tanya ku pada seorang teman sekelas nya. “ Masuk aja didalam. Aku pun melangkahkan kaki ku menuju kedalam kelas. Tapi langkah ku terhenti didepan pintu karena suatu pemandangan yang sangat menghancurkan hati ku.. aku betul-betul sesak saat ini. Air mata ku mulai menetes. Sedangkan Nari dan Ahra hanya dapat terdiam. Ya.. kulihat Hanjoon sedang berciuman dengan seorang perempuan yang sangat familiar untuk ku. Haena.. Kim Haena!!

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 6]

Harin’s POV

“Sejarah, Matematika, Biologi…,” gumamku memasukkan buku pelajaranku satu per satu ke dalam tas. Setelah selesai dengan itu aku menyambar sebuah ikat rambut dan menguncir ekor kuda rambutku. Setelah selesai bersiap, aku melirik lagi ke arah Key yang masih berbaring di lantai. Dalam wujud anjing.

Aku perlahan berjalan ke arahnya. “Yah, ireona,” panggilku menggendongnya. Satu bulan ini berjalan dengan sangat mulus. Key tidak pernah macam-macam, eomma juga tidak tahu kalau anjingku itu Key.

“Key~” panggilku mengelitiki perutnya. Ia mendengkur pelan dan berbalik ke arah lain. Aku mengernyit. Tidak biasanya dia susah dibangunkan begini.

 Ah, jangan-jangan dia cuma main-main.

“Yah,” panggilku mengguncangnya perlahan. Ia masih tidur. Aku memutar bola mataku. Dasar bocah ini!

Aku mendekatkan bibirku dan mengecupnya pelan. Seperti biasa, asap tipis seperti di komik-komik muncul dan Key berubah jadi manusia.

 Tapi posisinya…

“Yah!!!” aku menjambak pelan rambutnya. “Minggir dari pahaku! Byuntae!!” panggilku. Dia masih saja tertidur. Di pahaku!!!

“Key! Neo-” aku terdiam saat tanganku mengenai keningnya. Eh?

“Key? Gwaenchanha?” tanyaku menepuk pelan pipinya. “Kau sakit?”

“Hngg,” cuma itu yang kudengar keluar dari mulutnya. Aku mengerutkan alisku.

“Jinjja?”

Tak ada jawaban. Tiba-tiba aku jadi panik. Duh! Key sakit dan wujudnya wujud manusia, sedangkan aku harus ke sekolah. Kalau kutinggal di rumah eomma atau appa bisa saja tahu kalau aku menyelundupkan cowok di kamar!

Dengan susah payah akhirnya kuangkat Key dan menyeretnya ke kasurku. Aku mengambil berlapis-lapis selimut tebal dari lemari dan menyelimutinya. Di sampingnya kuletakan boneka racoonku, supaya wajahnya tak terlihat kalau eomma masuk.

Dasar merepotkan!

***

Aku mengetuk pelan pipiku dengan bolpen sambil sesekali melirik keluar jendela. Hari ini tidak begitu cerah, walaupun matahari masih sangat terik. Hari ini entah kenapa aku tidak tertarik dengan pelajaran apapun. Sama sekali. Mungkin terdengar bodoh, tapi jujur aku memikirkan Key. Mungkin begini ya rasanya kalau merawat binatang kesayangan dan yang sakit?

 Atau mungkin orang kesayangan?

Aku mengerutkan alisku dan menggeleng pelan mengusir pemikiran aneh yang baru saja lewat di kepalaku. Apa itu? Aku mungkin peduli dengan Key, tapi aku bukannya suka, atau sayang sama Key.

Tapi Key tampan, walaupun mengesalkan, kadang juga baik. Sayangnya cerewet! Bawel!

Ugh! Kenapa aku malah menilai-nilai Key sih?

Aku membaringkan kepalaku di meja sambil mencoret-coret kertas buramku. Menggambar teru-teru bozu, supaya hari ini tidak hujan. Supaya aku bisa lebih cepat pulang ke rumah.

Supaya Key bisa sembuh karena keringatan..

Pluk!

Sebuah pesawat kertas mendarat di mejaku. Aku mengernyit lalu membukanya.

 ’Hey yeoja aneh, memikirkan hyung?’ – Minho

Aku mengernyit dan memutar kepalaku ke arah Minho yang duduk santai menulis catatan di papan. Ia seperti merasa diperhatikan, ia langsung melirik ke arahku dan mengangkat alisnya seakan meminta jawaban. Aku memasang wajah datar.

“Aniya, kau tuan sok tahu,” aku menggerak-gerakkan mulutku tanpa suara. Ia menatapku sejenak sebelum kembali memperhatikan papan. Dasar orang aneh!

***

Aku duduk menatap tray makananku. Sayur lagi, sayur lagi. Menyebalkan. Aku jadi ingat Key yang suka mengomel kalau aku tidak mau makan sayur. Padahal melihat sayur saja rasanya ingin kubuang saja.

 Eh? Bagaimana kalau membawa sayurnya untuk Key? Daripada kubuang kan? Nanti kalau makan sayur dia bisa sembuh juga kan? Lagipula aku tidak bisa masak untuk Key ._.

Aku mengeluarkan kotak bekal pink yang selalu kubawa-bawa kalau ada kelas memasak. Kusisihkan setengah dari nasiku, lalu kumasukkan semua sayuran yang tidak akan kumakan, dan beberapa daging juga tamagomaki.

Baru saja aku selesai dan hendak menutup kotak bekalku seseorang menepuk keras kepalaku.

“Yah, kok tidak dimakan?” aku berbalik dan mendapati seseorang berdiri di sana dengan seragam yang sangat tidak rapi. Aku bisa melihat wajahnya pucat namun memerah karena panas. “Sudah berapa kali aku bilang makan sayur yang banyak? Dasar.”

Aku tercengang menatapnya lekat-lekat. Key?!! Kok di sini??

“Kau kok datang ke sekolah?” tanyaku mengerutkan alisku dalam-dalam. Ish! Orang ini tidak tahu ya kalau sakit harus istirahat??

“Kenapa? Aku kan murid sini,” jawabnya santai.

“Tapi kau sakit!” aku mengulurkan tanganku menyentuhnya. “Tuh kan! Masih panas! Harusnya kau itu istirahat saja di kamarku. Aku bawakan makanan nanti, araseo? Sekarang kau malah di sini! Hih!”

Ia menatapku sepanjang aku mengoceh. Wajahnya semakin merah, aku tidak tahu kenapa.

“Wae? Ada yang salah?” tanyaku menyadari ia sudah menatapku selama itu.

“A-ani,” jawabnya berdeham pelan membenahi dasinya. “Jadi itu untukku, kan?” ia menunjuk kotak bekalku. Sekarang giliran wajahku yang memerah. Untuk apa aku mempedulikannya?!

“Karena kau sudah di sini, ini bukan untukmu lagi! Hmph!” aku kembali membuka bekal itu dan berniat menghabiskannya. Baru saja aku mengangkat sumpitku yang menjepit tamagomaki dan hendak memasukkannya ke mulut, Key mencondongkan tubuhnya dan melahapnya habis.

Aku mengerjapkan mataku.

“Pelit,” Key menjulurkan lidahnya di sela-sela mengunyah. “Suapi lagi~”

 Bletak!

Aku memukulkan sumpitku di kepalanya sebelum kuletakan di meja dan berdiri dari bangkuku, hendak pergi. Aku tidak peduli kalau aku terlihat tidak sopan. Aku kesal.

 Dasar Key! Tidak berterimakasih! Harusnya aku tidak perlu memikirkannya!

Baru tiga langkah aku berjalan tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan di pipiku.

“Gomawo,” gumam Key dengan suara direndahkan. Pipiku langsung merona merah dan terasa panas. Aku berbalik mengintip Key yang sekarang sedang melahap makanannya dengan senyum. Dan tanpa sadar aku juga tersenyum sambil berjalan meninggalkannya.

***

Aku mendengus kesal sambil berpangku tangan menatap jendela. Hujan lagi, hujan lagi. Walaupun sekarang Key sudah ada di sini tapi satu hal lagi yang paling buruk, aku dan Key sama-sama meninggalkan payung di rumah!

Sudah lima belas menit aku dan Key duduk berteduh di depan sekolah menunggu hujan reda. Hari ini Sungra pulang duluan karena sakit, dan Minyeon tidak datang karena urusan keluarga. Minho dan Taemin masih ada kegiatan klub, yang baru berakhir dua setengah jam lagi.

“Yah, kenapa kau ke sini tidak bawa payung?” omelku masih menatap keluar memandangi hujan. “Kan sudah tahu hari ini tidak cerah,” gumamku.

“Mana kutahu?” balasnya cepat. “Aku kan bukan peramal cuaca.”

“Aku mau pulang,” desahku. “Hujannya malah tambah deras.”

Tiba-tiba Key berdiri dan menarik tanganku. “Geurom, ayo berlari pulang.”

“Hah?”

Belum sempat aku melontarkan reaksiku ia sudah menyeretku melewati deraian hujan.

***

Aku menggigil mencengkeram erat lengan baju Key. Key sialan! Hujan angin deras dingin begini masih diterobos saja!

“Yah!” seruku dengan suara bergetar karena dingin. “Jinjja chuwo! Kenapa kau mengajakku berlari??”

Ia menatapku diam.

“Ahh! Jadi basah semua, nanti flu bagaimana?” tanyaku menggigil. Ia tiba-tiba mengecup pipiku lagi.

“Ttatteutdan aniya?” tanyanya tersenyum menunjukkan barisan giginya. Seakan ada rasa panas yang merasuk ke tubuhku, pipiku ikut merona.

“A-aniya!” balasku. “Sudahlah. Ayo masuk!”

***

“Hatchii!!”

“Achoo!!”

Aku dan Key menutup hidung bersamaan. Aku meliriknya sinis.

“Sudah kubilang nanti bisa kena flu!” aku mendorong lengannya. Kami berdua sedang duduk di ranjang dengan piyama masing-masing, dan berebut tisu dari tadi. Dan percaya atau tidak ia memakai piyama berwarna pink, sama sepertiku. Tidak seperti cowok! Dasar aneh!

“Aku sakit gara-gara kau!” omelnya. Aku memicingkan mataku lagi.

“Mworago? Ya! Yang benar itu aku sakit gara-gara kau!” balasku menunjuk-nunjuk wajahnya.

“Che. Sana tidur. Kubuatkan sup,” ia mendorongku perlahan ke kasur. Aku mengerutkan alisku.

“Chamkkamaneyo!” aku menyetopnya. “Harusnya kau yang tiduran! Aku ambilkan air dingin,” perintahku. Ia menatapku aneh.

Ia mengangkat tangannya menyentuh keningku. “Kau lebih panas dariku. Jadi kau saja yang tidur.”

Kini giliran aku yang menyentuhnya. “Kau lebih panas, dasar tuan sok tahu,” balasku.

“Seolma! Aku masih bisa melakukan elephant turn sepuluh kali tanpa jatuh!” tantangnya.

“Che. Aku bisa dua kali lipatmu,” balasku. Ia kemudian membongkar-bongkar laciku. “Yah! Kau mau apa??”

“Cari termometer,” jawabnya masih membongkar laciku. “Yang kalah harus di ttakbam! Dan tidur.”

Aku hanya memutar bola mataku. Jelas kau yang kalah, Key. Kau sudah sakit dari pagi dan hujan-hujanan begitu.

“Watda!” serunya ia memasang termometernya di mulut.

“38.5,” gumamnya mengerutkan alis. “Tinggi sekali?!” protesnya. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Pasti kau yang kalah!” ejekku memasang termometernya di mulutku.

Beberapa saat kemudian kulepaskan termometernya. Key juga mendekat untuk melihat hasilnya.

“Aku menang!!!!” serunya tepat di telingaku. Yah! Apa-apaan ini?!! Kok 39.1??? Lebih tinggi dari Key!

“Sudah sana tidur! Ara? Aku mau masak~” ia memakaikanku bertumpuk-tumpuk selimut. Ugh! Termometer sialan!

Setelah Key lenyap dari pintu, aku memastikan ia sudah ke turun dan langsung mengendap-endap ke kamar mandi, mengisi baskom kecil dengan air dingin dan mencarikan handuk kecil.

 Ah, obat…..eodiseo? ._.

Setelah beberapa lama akhirnya aku menemukan kotak obat di laci kamar mandi. Baru saja aku membuka pintu kamar mandi, Key sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu menatapku tajam.

“Hah! Gamjakiya!” desahku mengelus dadaku. Mengagetkan orang saja!

“Yah, bukannya aku menyuruhmu tidur?” tanyanya. “Kenapa malah keluyuran??” omelnya.

Aku mengangkat sebelah tanganku yang membawa obat dan handuk kecil. “Igeoyo, aku mencarinya,” balasku.

Ia berdecak kesal namun akhirnya tetap membawaku kembali ke kasur dan menyodorkan sepiring sup sayuran. Aku mengerutkan dahiku.

“Ige mwoya?” tanyaku spontan. “Hah! An meogeo! An meogo!” aku menggeleng kuat.

“Wae andweneunde?” tanyanya balik. “Ini bagus untuk kesehatan! Meogeo! Ppalli!”

“Geunyang danggeun,” gumamku memilah-milah wortel dan sayur lainnya. Cukup wortel saja! Aku tidak mau yang lain!

“Yah, kenapa cuma wortel??” tanyanya. “Justru yang tidak enak itu wortel!”

Aku menatapnya aneh. “Wortel itu satu-satunya wortel enak tahu! Dasar!”

“Ani! Itu tidak en-”

Aku memasukkan paksa sesendok sup penuh wortel ke mulutnya. Rasakan itu! Muahahaha!

“Mhnp!!?” ia terpaksa menelan wortelnya, karena tidak sopan ia membuang makanannya. “Yah! Neo!” ia balas merebut sendok dan menyuapiku sesendok penuh sayuran hijau saat aku tertawa terpingkal-pingkal.

Akhirnya lima belas menit berakhir dengan kami suap-suapan sayuran yang tidak kami suka =.=

“Yah,” panggilnya sambil mengunyah. “Gara-gara kau aku jadi makan wortel!” omelnya. Ia meraih handuk kecil dan membasahinya di baskom.

“Kau juga memaksaku makan sayur,” gerutuku. Ia kemudian memeras handuknya dan memasangkannya di dahiku. Belum sempat aku protes ia sudah menempelkan dahinya di handuk yang sama. Pipiku yang panas karena sakit spontan bertambah panas lagi. Bayangkan, jarak dahi kami hanya terpisah oleh selembar handuk dingin.

“Aku cuma mau makan wortel karena kau, ara?” gumamnya dengan suara rendah, yang membuat jantungku seakan mau meloncat keluar. Aku juga berusaha keras supaya tidak tersenyum – Key bisa menertawaiku!

Ia kemudian menutup kedua matanya, mungkin pusing karena suhu tubuhnya yang panas. Tapi kalau dilihat begini, wajahnya sudah seperti peran utama cowok di komik-komik Jepang – memiliki garis frame yang halus tapi tegas, dengan detail wajah seperti ukiran tangan seniman kelas dunia.

Ah, belakangan ini aku jadi sering menilai-nilai Key…

Kalau kalian bertanya-tanya sebenarnya perasaan apa yang kurasakan tentang Key, mungkin aku belum bisa memberi jawaban pasti. Tapi aku sudah punya satu jawaban sementara. Perasaan itu, sudah berada satu tingkat di atasrasa biasa saja, tapi masih satu tingkat di bawah rasa suka. Aku juga tidak tahu apa maksudnya. Aku cuma sedikit takut kalau ia tidak menyukaiku…

 Ani, aku benar-benar takut ia tidak merasakan hal yang sama.

Aku bingung bagaimana. Yah, jangan salahkan aku, karena aku juga cewek, dan aku normal : suka cowok. Jadi intinya, aku memang belum mengakui rasa sukaku, tapi aku tahu aku menganggap Key orang yang spesial.

Tiba-tiba ia menegakkan duduknya sehingga handuk di dahi kami terlepas. Ia kemudian menatapku.

“Kita lupa ttakbam-nya,” ujarnya menunjuk-nunjuk keningku. OH……. ._______.

“Ah!! Andwae! Andwae! And-

TTAK!!

“YAHHH!!!!!!” seruku mengusap-usap keningku.

“Well, perjanjiannya memang begitu kan?”

***

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

 …Sesuatu yang dianggap berharga sejak jaman Aztec. Bahkan dahulu hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan, hingga sekarang rakyat jelata pun bisa dengan bebas membelinya. Bersifat menenangkan karena salah satu kandungan didalamnya. Dan menjadi populer sebagai lambang kasih sayang, di hari Valentine maupun White Day…

“Yah,” panggil Key.

“Hm?”

“Baca apa?” tanyanya. Aku mengangkat kepalaku menatapnya, sebelum menunjuk-nunjuk cover depan buku putih setebal novel dengan titik-titik berwarna gelap di permukaannya.

“Chocolate Story,” balasku.

Hari ini, aku dan Key tidak masuk sekolah karena sakit. Dari kemarin kami tidak sembuh-sembuh. Mungkin karena aku lupa pakai selimut malamnya =.=

“Kenapa baca begituan?” tanyanya meneliti cover bukuku.

“Bosan,” desahku kembali serius dengan bacaanku.

 …Disebut sebagai lambang kasih sayang karena rasanya yang manis dan pahit, melambangkan susah senangnya dalam suatu cerita cinta…

“Yah,” panggilnya lagi. “Kau suka cokelat?” tanyanya. Aku cuma mengangguk.

…Cokelat bersifat memperbaiki mood. Dan membuat orang merasa senang, apalagi yang memberinya orang yang disukai…

Tiba-tiba bukuku tertutup. Tangan Key menahanku untuk membukanya. Ia menatapku lekat-lekat.

“Aku mau masak, mau ikut?” tanyanya. Aku mengernyit.

“Aku kan tidak bisa masak?” balasku.

“Ck, gwaenchanha. Aku ajari, ara?” tawarnya. Mungkin tidak ada salahnya mencoba? Aku pun mengangguk setuju.

***

“Kenapa jadinya masak jjajangmyeon??” tanyaku. Ia mengeluarkan sebuah panci.

“Karena kita sama-sama single,” balasnya sambil bercanda.

“Ini kan bukan valentine!” gerutuku. Ia terkikik geli.

“Arayo, arayo,” balasnya menyalakan kompor dan memanaskan mi. “Kita tidak punya bahan untuk bikin cokelat. Waktu valentine nanti, kuajari buat cokelat, eothae?”

Aku mengangguk-angguk pasrah.

***

Aku mengernyit saat ia cuma memasak satu mangkuk jajangmyeon. Sedikit sekali?!

“Yah, kenapa masak cuma satu,” tanyaku begitu kami tiba di kamar. Ia duduk di depanku dan mengulurkan tangannya.

“Mwo?”

“Ayo main,” ajaknya. “Truth or Eat,” lanjutnya. Hah??

“Geuge mwoya?” tanyaku lagi. Ia menunjuk mangkok jajangmyeon.

“Kita masing-masing akan memakan ujung mi yang tersambung, tapi tidak boleh digigit!” lalu ia menunjuk pen dan notes yang tadi dikeluarkan dari tas sekolahnya. “Tidak boleh bicara, cuma boleh menulis jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan lawan, dan harus jujur. Kalau tidak mau jawab kau harus maju sampai-”

“Maksudmu kita pepero game dengan jajangmyeon?” tanyaku. “Ini belum November! Pepero day masih lama! Dan aku tidak bilang aku mau pepero game denganmu!”

“Ini kan cuma game,” balasnya. “Jebal~ kau tidak takut kan?? Kita sudah sering sekali tiap hari melakukan kiss, jadi-”

“Arayo! Arayo!” potongku. Key menyebalkan!

“Yeah!” ia menyuapiku ujung sehelai mi sedangkan ia memakan ujung satunya. Bibir kami hanya terpisah sebatas mi jajangmyeon seuntas ._.

“Junbi….si…jak!” gumamnya. “Kawi! Bawi! Bo!”

 Sial.

Key tersenyum licik melihat tangannya membentuk gunting sedangkan aku kertas. Ia kemudian menuliskan sesuatu di notesnya.

 ‘Neon nugu johahae?’

Aku mengerutkan alisku. Pertanyaan apa ini?!

 ’Sekarang tidak ada.’

Gunting! Batu! Kertas!

Key gunting, aku batu. Aku memasang wajah berpikir keras. Pertanyaan.. Pertanyaan…

‘Orang paling penting di hidupmu?’

Ia terlihat seperti memutar otak. Tanpa memberi jawaban ia malah memakan mi nya lagi sehingga jarak kami lebih dekat sekarang.

Kami mengangkat tangan lagi menandakan akan menentukan sekarang giliran siapa.

Key batu. Aku gunting.

‘Menurutmu aku orang yang bagaimana?’

Aku terdiam. Apa aku harus jujur? Tapi memang game ini harus jujur kan walaupun aku bisa bohong sekalipun?

 ’Spesial.’

Well, aku tidak bisa bohong padanya entah kenapa.

“Kawi! Bawi! Bo!” gumamnya tak jelas.

Key kertas lagi. Aku batu lagi.

 ’Sejauh apa kamu tahu tentang aku?’

Aku terdiam. Aku harus jawab apa? Itu pertanyaan yang sulit.

Akhirnya dengan pasrah aku memakan sedikit mi di mulutku. Semakin kuingat betapa dekat jarak kami semakin jantungku berdebar keras.

 Kawi! Bawi! Bo!

Aku menang dengan mengeluarkan gunting.

Hmm… Tanya apa ya?

 First Impression tentang aku?

Ia menatapku sejenak sebelum maju lagi. Aku mengernyit. Apa pertanyaanku terlalu susah? Kalau begitu aku tanya gampang-gampang saja lain kali supaya dia tidak mendekat!

Kawi! Bawi Bo!

Aku gunting lagi dan menang. Kali ini aku harus menanyakan yang gampang!

Makanan kesukaanmu?

Ia mengernyit dan menatapku ingin protes tapi karena peraturannya tidak boleh berbicara jadi ia diam saja. Sampai tiba-tiba ia malah maju lagi dan membuatku mengernyit.

Hah! Aku tahu strateginya! Ia tidak mau jujur di setiap pertanyaan supaya maju terus dan membuat aku gugup! Dasar licik! Kalau begini aku harus bagaimana? Kalah di setiap suit? Tapi nanti ia tanya aneh-aneh!

Kali ini aku mencoba untuk kalah. Dan berhasil. Key menang.

 Cowok yang pernah kau sukai.

Aku membulatkan mataku. Tuh kan! Ia menjebakku!

Dengan malas-malasan aku memakan sedikit mi-ku. Ugh! Eotteohke?! Makin lama jantungku makin berdebar-debar!

Kawi..bawi..bo!

Key menang lagi. Sial! Ia menatapku sejenak lalu tersenyum licik. Dan yang paling kutakuti : ia memasang wajah mesum…

 Ukuran dada?

Sekarang kepalaku malah berdenyut keras karena kesal. Byuntae!!!!

Dengan muka merah padam karena marah, kesal, dan malu aku maju lagi walaupun sedikit. Sekarang aku bahkan bisa merasakan nafasnya berhembus di wajahku. Ugh!

 Kawi! Bawi! Bo!

Tanganku membentuk sebuah kepalan sedangkan telapak tangannya terbuka lebar. Dia menang.

Dari jarak sedekat ini ia menatapku. Cukup lama sampai aku tidak tahu ia belum menuliskan pertanyaannya.

 Kalau aku suka padamu, kau mau jadi pacarku?

Pipiku merona makin merah membaca tulisan tangannya dari spidol merah yang dipakainya dari tadi. Aku menatapnya lagi seakan bertanya apakah dia serius atau tidak.

Sekarang aku harus bagaimana?

 

To Be Continued…

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 5]

lovely_puppy_wallpaper_da237071e_wallcoo_com_e589afe69cac

Harin’s POV

“Satu, tidak boleh tidur di kasurku sembarangan. Dua, tidak boleh menggangguku belajar. Tiga, jangan bongkar-bongkar lemariku karena itu privasi cewek. Peraturan lain bisa dibuat kapanpun diperlukan,” ujarku terus terang pada Key yang cemberut mengerutkan alisnya.

“Kenapa masih tidak boleh tidur di kasur?” rengeknya. “Lantainya keras dan dingin!”

“Pokoknya itu peraturannya, titik,” desisku. “Oh, dan satu lagi,” aku menarik tangannya duduk di kasur denganku.

“Mwo?” tanyanya mengernyit. Aku mendengus kesal. Dasar pura-pura polos!

“Babo,” umpatku. “Kau pura-pura lupa ya? Kau masih berhutang cerita padaku,” aku meluncurkan telunjukku ke depan wajahnya.

Ia mengerjap sejenak. “Uh? Jigeum?” aku mengangguk kuat-kuat. Aku menatapnya datar. “Arasseo, arasseo. Tak perlu menatapku seakan kau mau menelanku,” ia mengibaskan tangannya.

“Cepat mulai!” paksaku. Ia terlihat seperti ragu-ragu untuk bercerita.

 

Key’s POV

Aku masih ingat persis. Hari paling bodoh tak masuk akal yang pernah kualami.

Aku masih mengenakan kemeja sekolah, yang kutumpuk dengan hoodie merahku. Aku berjalan dengan langkah-langkah besar sambil memainkan peluit anjing di tanganku.

“Selamat datang, tuan kecil,” sapa salah satu pelayanku. Aku hanya memasang wajah datar. “Sajangnim berpesan sesuatu-”

“Appa pulang?” potongku. Aku memasang ekspresi masam. Tak biasanya appa pulang tanpa alasan.

“Ye, doryeonim. Ia berpesan untuk menemui tuan sulung Kim,” lanjutnya. Aku masih memasang wajah datar. Hyung lagi.

“Shireo,” tolakku. Aku benci dipaksa.

“Tapi-”

“Annyeong, Kibum-ah,” sesosok pria bertubuh lebih pendek dariku muncul di hadapanku dengan tersenyum. Cih. Sok baik.

“Mwoya?” desisku. Aku melihat tangannya menenteng anjing keluarga kami.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dengan Miroo? Aku perlu membahas sesuatu,” lagi-lagi ia tersenyum. Aku jadi ingin menyobek wajahnya itu.

Aku menghela nafas panjang. Kesal. Karena tak ada pilihan lain tepatnya.

***

“Kibum-ah,” panggil Jonghyun hyung yang berjalan di sampingku. Orang-orang yang melihat pasti mengira kalau kami adalah saudara yang akrab – melihat Jonghyun berjalan di sisiku yang sedang memegangi tali anjing Miroo.

“Mwo?”

“Mianhae,” gumamnya. Tersenyum lagi. Aku hanya terdiam. Aku tahu apa maksudnya. “Soal Yoonji-”

“Aku tidak mau dengar!” pekikku. Ia menatapku penuh perasaan bersalah. Aku tidak peduli.

“Aku benar-benar tidak bermaksud merebutnya darimu,” jelasnya. Aku tidak butuh penjelasanmu!

Kim Jonghyun. Jung Yoonji. Dua orang paling menjijikan yang pernah kutemui.

Hyung-ku sendiri menghamili Yoonji yang statusnya saat itu adalah pacarku. Padahal baru dua hari kami pacaran, percaya atau tidak. Minggu lalu saja mereka baru saja menikah karena dipaksa appa setelah tiga bulan Yoonji mengandung anak hyung. Lihat, bahagia bukan? Mereka, bukan aku.

“Key-”

“Yah, neo,” sentakku. “Jangan sebut namaku,” desisku.

Ia mendengus kesal. Aku tahu, ia hanya tersenyum palsu dari tadi.

“Neo, saekki-ya, neon baboya?” balasnya. “Yoonji tidak pernah suka padamu, tidak bisakah kau terima itu?”

Aku mengerutkan keningku. “Mwo malhae?” aku melepaskan peganganku pada Miroo. Aku menerjang ke arah hyung dan memegangi kerah bajunya.

“Kau itu tidak dibutuhkan,” ejeknya. “Aku yakin kau tidak tahu kalau sebenarnya dulu kau berniat digugurkan oleh eomma dan appa, benar?” ia menyeringai arogan.

Mataku memanas. Aku tahu memang appa dan eomma tidak pernah peduli padaku. Namaku saja tidak hafal.

  Bagi mereka anak mereka cuma satu, Kim Jonghyun.

Mereka tidak pernah mempublikasikanku. Hanya pihak rumah, dan sekolah tahu siapa aku.

“Aku ingin tahu apa yang terjadi kalau kau menghilang, hyung,” gumamku mengeratkan kepalan tanganku di kerahnya. Aku melayangkan tinjuan cukup keras ke wajahnya hingga ia jatuh tersungkur ke jalanan. Tepat saat itu kudengar Miroo menggonggong keras dan berlari ke arah Jonghyun hyung. Yang dengan segera terhantam sebuah truk.

 

Harin’s POV

Aku terdiam. Mungkin karena tidak tahu harus bereaksi apa. Aku tidak tahu kalau aku jadi Kibum aku harus bagaimana.

“Lalu..?” tanyaku pelan. Ia menghela nafasnya.

“Saat itu awalnya aku berpikir kalau Miroo lebih memilih Jonghyun hyung,” gumamnya. “Ternyata salah,” lanjutnya lirih.

“Wae?”

“Malamnya Miroo masuk di mimpiku. Ajaibnya dia bisa bicara,” ia tersenyum tipis. “Tidak percaya bukan?” Aku mengangguk.

“Dia bilang, sampai sekarang tidak ada yang tahu kalau yang menyebabkan kecelakaan itu aku,” ia mengaku. “Semuanya berkata kalau Jonghyun kecelakaan saat Miroo membawanya berjalan ke tengah jalan.”

“Lalu hyung-mu?” tanyaku.

“Koma, di rumah sakit,” balasnya. “Miroo tidak selamat, justru hyung yang selamat, walaupun koma,” jelasnya. “Lalu aku berubah jadi anjing begitu saja. Lalu saat itu aku mendengar appa bilang, tak ada untungnya menyimpan Kibum saat Jonghyun sedang terpuruk. Makanya aku kabur dan berakhir di pet shop.”

“Miroo….seperti apa?” tanyaku lagi. Ia tersenyum lagi.

“Mirip kau,” ia mencubit pipiku.

“Hah? Miroo cewek?”

“Tentu saja!”

“Tapi dia kan anjing!” aku mengerutkan alisku. “Kupikir mirip denganmu!”

Ia tertawa kecil. Aku ikut tersenyum.

“Oh iya,” panggilnya tiba-tiba. “Kalau kau jadi Miroo, kau lebih memilih aku atau Jonghyun hyung?”

Aku terdiam. Pertanyaan apa itu. “Tentu saja kau, Key,” jawabku langsung. Ia terlihat mengerjap sekilas dan pipinya merona tipis.

“Ahh~~ Kau suka padaku, ya?” godaku. Ia mengerutkan alisnya.

“Aniya!”

“Aku kasihan padamu, makanya aku memilihmu,” godaku lagi tersenyum licik.

“Aku bukannya suka padamu!”

“Mengaku saja~” aku menjulurkan lidahku. Ia menatapku sebal. “Mwo?”

Tiba-tiba saja ia mendorongku berbaring di atas ranjang. “Yang benar itu kau, suka padaku, iya kan?” ia menyeringai.

  Dugeun.. Dugeun…

“A-aniya!”

Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya bertukar dengan nafasku.

“Jinjja?” tanyanya lagi mengangkat daguku. Mata tajamnya masuk menatap mataku. “Lalu siapa yang tadi membalas ciumanku begitu saja dan bilang kalau aku miliknya?” bisiknya.

“Neo-”

Belum selesai aku bicara ia sudah menggulum bibirku lagi. Mwoya ige?!!

“Kwibwum!!!!!!!!!!!” pekikku tertahan.

  Kibum sialan!

  Kibum menyebalkan!

  Kibum byuntae!!!!!!

“Waeyo, Ha….,” pintu kamarku melayang terbuka begitu saja. “…rin-ah?” Jinki oppa menatap kami tanpa ekspresi.

Aku spontan langsung mendorong Kibum menjauh dan duduk tegak di tempat.

“Oppa, kau salah pah-”

“AAAAAAAAAAAAAAHHH!!!! ADA BYUNTAE BERANDALAN MACAM-MACAM SAMA DONGSAENGKU!!!!!!” serunya.

“Yah!! Oppa!” aku berdiri dan berlari ke arahnya lalu membekap mulutnya. “Kau salah paham!”

“Mwapmwamuawuangmuawahmuaham?!!” rengeknya dengan wajah memerah kehabisan nafas karena kubekap. Aku melepaskan tanganku dari mulutnya. “Nuguya???” ia menunjuk-nunjuk Key. Aku mendesah pelan.

“Dia Kibum,” jawabku singkat.

“Pacarmu?” balasnya. Aku mengerutkan alisku.

“Ani-”

“Kalau bukan kenapa kalian berdua berciuman di ranjang?” potongnya. Aku memasang wajah aneh menatapnya.

“Oppa, kau mengatakannya seakan kami melakukan hal senonoh,” balasku.

“Memang begitu kelihatannya,” ia menaikkan pundaknya. Aku mengerang pelan dan meniup poniku.

“Kau. Salah. Paham,” ucapku ketus. “Pokoknya kami tidak ada hubungan apa-apa, titik,” lanjutku menatap Onew tajam. Ia mengerjap sejenak.

“Ara. Ara,” ia mengangguk pasrah. “Kalian pacaran juga aku tidak akan bilang pada eomma-mu,” lanjutnya.

“Oppa!!!” aku menyipitkan mataku ketus. Ia langsung berlari ketakutan keluar. “JUGGETDA!!!”

***

Aku melirik ke arah jendela yang basah karena air hujan yang mengalir tanpa henti. Suara hujan terdengar seperti derapan kaki kuda yang terus berlari. Aku menarik nafas panjang dan menarik selimutku. Mataku tertutup rapat-rapat sesekali saat petir menyambar di langit gelap dan membuat bayangan menyeramkan di kamarku.

Duh, Key sudah tidur lagi!

Bayangan petir itu sesekali membentuk cakar, terkadang menjadi bayangan kelelawar. Dan aku benci itu.

Aku berbalik membelakangi jendela dan bersembunyi di balik selimut. Aku taku gelap! Dan hari ini gelap sekali!

Krekk…

Aku melebarkan mataku. OMO! Apa itu?! Hantu???

Bulu kudukku meremang begitu aku merasakan ada yang menatapku dari belakang. Bahkan bayangan gelap terbentuk menutupi cahaya dari petir di luar.

“Hnggg,” erangku pelan. Jangan berbalik! Jangan berbalik.

“Hey,” sebuah tangan mendarat di pundakku diikuti bisikan pelan.

“KYAAAAAAAA-hmp!!!!!” tangan yang tadi memegangi pundakku sudah berpindah ke mulutku. Tidak!! Aku diculik hantu!!!! X__x

“Pssssttt!!! Diam babo!” desis hantu itu. Mataku sudah berkaca-kaca mengeluarkan butir tipis air mata.

“Heh? Yah! Uljima!” hantu itu panik dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Aneh, di hadapanku malah muncul seseorang yang tidak jelas karena terhalang air mataku.

Tiba-tiba sebuah ibu jari menempel di pelupuk mataku menghapus air mata yang menggenang. Sekarang yang kulihat malah sosok seorang pangeran tampan yang wajahnya diterangi sinar bulan.

“Gwaenchanha?” tanyanya khawatir. Aku mengerjap. Suara ini….

“K-key?” panggilku terheran-heran. Aku tidak pernah sadar kalau Key *ehem* setampan ini.

“Wae?” tanyanya lagi.

“M-museowo,” gumamku menunduk malu. Aku menangis di depan Key hanya karena takut hantu =.=

Ia menghela nafas dan mengusap-usap kepalaku sebelum akhirnya duduk di sampingku. “Tidur sana. Aku di sini kok,” ujarnya.

Pipiku merona merah diikuti degupan jantungku. Aku memang payah.

Tiba-tiba Key berbaring memelukku erat dan memejamkan matanya. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya juga memejamkan mata.

 

Key’s POV

Aku membuka sebelah mataku. Harin sudah terlelap mencengkram kuat-kuat lengan bajuku. Aku tidak tahu apa yang dia takutkan petir, hujan, atau apa. Yang pasti hati kecilku menyuruhku untuk melindunginya.

Kalau kau bertanya kenapa aku peduli pada Harin, itu karena aku dia menolongku. Kalau kalian bilang aku suka padanya aku bisa mencakar kalian karena itu tidak benar! Aku cuma ingin melindunginya, jangan salah sangka!

Tiba-tiba tangan Harin meninggalkan lengan bajuku dan berpindah memelukku seperti boneka beruang. Aku mengerjap sejenak karena merasa seperti tersengat listrik saat dia melakukannya. Maksudku aku benar-benar merasakannya, bukan melebih-lebihkannya.

“Nae kkeoya,” gumam Harin. Tanpa sadar bibirku membentuk seulas senyuman.

 

Harin’s POV

“Key,” desisku mengedarkan pandanganku ke pelosok lorong. “Lepaskan tanganku!” aku menarik-narik tanganku yang berada dalam genggaman Key.

“Shireo,” gumamnya. Aku mendengus kesal. Key terus menggandeng tanganku dari pagi. Dan itu mengundang perhatian lebih dari separuh siswa sekolah.

“Wae shireunde??” gerutuku. Ia menatapku tajam membuatku mengerjap terkejut sejenak.

“Aku benci dikerumuni cewek sekolah ini,” gumamnya. Aku mengernyit.

“Maksudmu aku bukan cewek,” tanyaku curiga. Ia balas menatapku sebelum akhirnya tersenyum menahan tawa.

“Memangnya kau cewek??” balasnya tertawa mengejek. Aku memicingkan mataku dan memukul pundaknya.

“Mwo malhae?!” seruku. “Yah!! Kim Kibum!!”

“Mana panggilan sayangku??” potongnya cepat. Aku mendengus kesal. “Kalau kau cewek apa buktinya?” ia tersenyum seperti ahjussi mesum.

Aku mengulurkan telunjukku tepat di depan wajahnya. “Neo!! Byuntae!!”

“Eh, enak aja!” ia mencubit pipiku. “Aku kan nggak bilang apa-apa!”

“Tapi-”

“Hey, kalian!” seru Joo sonsaengnim dari lantai atas. “Sudah bel kok belum masuk??”

Belum sempat aku bereaksi Key sudah menarik tanganku, tapi kami tidak menuju kelas.

***

“Ya!” seruku. “Kita mau ke mana?”

“Skipping class,” jawabnya santai masih menyeretku. Mwoya?! Kok skipping class?!

“Yah! Shireo! Aku-”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki datang. Key langsung buru-buru mendorongku ke dinding bersembunyi di samping loker. Tangannya mendekapku kuat-kuat.

“Pstt,” desisnya sembari mengintip ke balik loker. “Joo sonsaengnim datang,” bisiknya menatapku. Aku terdiam menyadari jarak kami yang terlalu dekat. Ugh! Padahal ini bukan pertama kalinya Key dekat-dekat denganku.

Tiba-tiba ia memutar kepalanya menghadapku dan pandangan kami bertemu. Hawa panas seakan merasuk menjalar ke kedua pipiku begitu aku mendengar jelas deruan nafasnya.

“Yah!” seru sonsaengnim membuyarkan sesi ‘tatap-menatap’ kami. “Kalian masih di sini?!” ia berjalan dengan wajah menyeramkan dan langkah super besar ke arah kami.

“Lari!!” pekik Key kembali menyeretku pergi. Aigooya…

***

“Keeeeeey!!!” desisku. Aku mengangkat tanganku hendak memukul pundaknya. Namun malah berakhir ia menangkap tanganku dan menarikku dalam pelukannya.

“Sikeureo,” gumamnya. “Nawa,” ia membawaku sembunyi di bawah meja. Aku memicingkan mataku melihat sekeliling ruangan. Key menyebalkan! Tempat bersembunyi apa ini? Ini ruang biologi yang penuh dengan benda-benda aneh! Awetan binatang, tiruan rangka manusia, peraga alat pencernaan…..ugh! Kami sudah sepuluh menit di sini dan aku tidak betah!

 Deg!

Aku mengerutkan alisku. Ada yang masuk ke dalam bajuku! Jangan-jangan binatang?!! O_o

“Kyaaa!!” aku melonjak ke arah Key. “Apa itu?? Binatang?”

Baru selesai aku bicara, Key sudah tertawa kecil. Aku memutar kepalaku menatapnya tajam.

“Mwo?” tanyaku. Ia mengangkat tangan kanannya yang tadinya mendekapku.

“Itu tanganku,” jawabnya santai.

 BLETAK!

“Byuntae!” desisku. Ia mengelus-elus kepalanya yang terkena kepalan tanganku. Aku meliriknya cuek.

“Aish,” gerutunya. “Kalau ada binatang pasti aku juga lari,” gumamnya. Aku mengernyit. Dia cowok, tapi takut binatang?

Tiba-tiba terbesit ide untuk balas dendam di kepalaku. Salah siapa menggangguku duluan? Dasar ahjussi byuntae.

“K-key,” aku membulatkan mataku. Perlahan aku menunjuk ke balik pundaknya. “Cicak! Ada cicak!” desisku. Ia ikut membulatkan mata suneonya.

“MWOYA?!” pekiknya tertahan. Ia melonjak ke arahku. “Eodi?? Eodiya??” tanyanya panik. Ia terus mendorongku sampai aku sendiri jatuh di lantai. Ugh! Dasar makhluk berat!

“Yah!” panggilku. “Kau berat!”

“Mana cicaknya??” tanyanya. Aku memutar kedua bola mataku.

“Aku bohong,” balasku santai. “Dasar cowok pengecut. Jijiri-ya,” ejekku.

Ia memicingkan matanya seakan menudingku. “Neodo jijiri!” ia mencubit kedua pipiku.

“Yahhhh!!!” aku berusaha duduk dan menarik tangannya dari pipiku. “Aphayo!!”

“Geunyang aphago? Jijiri~” lanjutnya. Ugh! Orang ini..

“Key!!” aku menarik tangannya kuat-kuat sampai terlepas dari pipiku. Yang sayangnya kusesali karena setelah itu Key kehilangan keseimbangannya dan malah jatuh di atasku. Jarak wajahnya saja bisa diukur dengan penggaris lima belas senti.

Bola matanya bergerak pelan mencari tatapanku. Aku cuma terdiam memperhatikan wajahnya. Wajah Key memang selalu sedekat ini denganku, tapi daya tariknya tidak pernah habis.

  Eh, tunggu! Aku bukannya suka dengan Key! Yah tapi aku kan cewek! Aku boleh dong bilang cowok ini tampan?

Aku membuka mataku yang ternyata sudah tertutup sejak beberapa waktu yang lalu, saat bibir Key sudah menggulum bibirku tanpa kusadari. Aku merasakan pipi dan dadaku memanas. Ujung bibirku juga perlahan membentuk seulas senyuman tipis dan membalas ciumannya.

Menurutmu ini apa?

 Klik!

Aku dan Key menghentikan ‘kegiatan’ kami dan memutar kepala kami spontan ke sumber suara. Minho dan Taemin berjongkok di samping meja tempat kami bersembunyi dengan tampang polos.

Minho mengangkat kamera digital di tangannya. “Hyung, kami sedang pelajaran biologi sejak lima menit yang lalu,” gumamnya santai. Mereka memang sedang mengenakan jas laboratorium.

Aku kemudian membulatkan mataku. Hah?! Pelajaran biologi? Lima menit yang lalu? Minho? Berarti kelasku sedang ada di sini dari tadi .______.

“Dan kau,” Minho menunjukku. “Berbuat hal senonoh dengan hyung kami di kelas saat pelajaran,” ia berdecak sok cool.

“Minho-ya,” aku mendengar suara Sungra dari balik meja satunya. Oh tidak! “Aku mendengar suara Harin, kau?”

Aku mendelik tajam ke arah Minho yang cuma menatapku datar dan mengalihkan pandangannya pada Sungra. “Andeullini, keutchi Taeminnie?”

Taemin mengangguk-angguk penuh semangat seperti anak beruang. “Harin kan dibawa kawin lari oleh Kibum hyung,” balasnya polos. Aku melemparan tatapan membunuhku padanya. Anak ini sama sekali tidak polos!

Aku mendengar suara Sungra dan Minyeon terkekeh. “Padahal dia bilang dia tidak suka pada Kibum,” ujar Minyeon. Benar! Benar!

“Siapa tahu mereka jodoh?” Minho bangkit berdiri, membuatku hanya bisa melihat kakinya yang super panjang itu. Kalau saja tidak ada anak kelasku di sini, aku pasti sudah menendang kakinya itu sampai ia jatuh dan merusak image sok keren-nya itu.

“Hey,” bisik Key menyenggol-nyenggol lenganku. Ia kemudian mengarahkan jempolnya ke arah Minho. “Nanti siang mari kita balas dendam,” ujarnya. Aku mengangguk setuju. Kami melirik ke arah Taemin menyuruhnya diam dan ia cuma mengangguk pasrah.

 

To Be Continued…

A/N : maaf author lama banget nggak update soalnya sekolah di luar negeri yang gak bisa buka wordpress x____x author baru pulang dan tanggal 22 pergi lagi >.<

Semoga menikmati bacaannya!

I’m Married! (Part 3)

Nah,ini dia Part 3 nya ^^ Pasti banyak yg nunggu deh ^^ *author kepedean*
mohon dinikmati aja deh ceritanya,,mian kalo gaje,,
Oh ya, maap juga klo saia kelamaan apdetnya.. soalnya banyak tugas+ulangan+persiapan TO & UN.. saia udh kelas 9 sih, jadi sibuk bukan main.. wuahahaha #sok sibuk
FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar
Okelah,cekidot!!
..::o::..
Title : I’m Married
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Length : 3/?
Rating : PG 15
Main Cast : Nam Joomin,Park Yoochun,Hwang Miyoung (Tiffany SNSD), Jung Yunho
Other Cast : (Saya males nyantumin nama2nya,, ==” *plakk)
Warn : BANYAK TYPO ato MISSING TYPO #entah mengapa dari dulu saia selalu bermasalah sama typo..==#! EYD berantakan! Alur gaje & aneh! Sulit di mengerti, amburadul, cerita awut2an kayak rambutnya nenek lampir..==#pletak!

..::o::..
*Cuplikan Part 2*
Aku dan Yoochun sedang makan malam bersama di ruang makan. Dari tadi,kami tidak berbicara sedikit pun saat kami makan. Suasana ruang makan sangat hening dan hanya ada suara sumpit dan sendok yang merupakan alat makan kami. Sambil mengunyah makananku,aku melirik ke arah Yoochun diam-diam yang juga sedang melahap makanannya. Oh,untunglah dia mau memakan masakanku. Semoga di lidahnya, rasa masakanku tidak buruk.
Karena tidak tahan dengan suasana yang begitu sunyi mencekam. Aku mencoba untuk angkat bicara, “Ajusshi,bagaimana rasa masakannya?”tanyaku pada Yoochun.
Yoochun tidak mengalihkan pandangannya dari makanannya dan ia sama sekali tidak menatapku, “Tidak buruk,”jawabnya sangat-sangat-sangat singkat. Oh Tuhan,aku sampai menyatakan kata ‘Sangat’ hingga tiga kali.
Mendengar jawabannya yang begitu singkat,aku mengangguk kecil tanda memberi respon. Berarti,memang tidak ada masalah dengan rasa masakanku. Ilmu memasak dari Min Ajumma memang sangat berguna. Hahahaha..
“Ngomong-ngomong,siapa nama pria yang berbincang denganmu saat di pantai? Ketika hari pernikahan kita,”tanya Yoochun tiba-tiba tanpa menatap ku sama sekali. Ia masih terlihat asyik menyantap makanannya.
Aku langsung memandangnya ketika ia bertanya seperti itu, “Eum? Oh..itu Jung Yunho…”jawabku.
“Siapa dia?”
“Dia.. orang yang baru saja aku kenal..”
“Orang asing?”
“Eumm.. Bisa dibilang seperti itu.”
Kulihat Yoochun hanya mengangguk. Yeah,Jung Yunho.. Sepertinya dia seumuran dengan Park Yoochun. Tetapi,Yunho tampaknya lebih keren. Ia sama sekali bukan seorang ‘Ajusshi’ dimataku. Yunho lebih pantas jika di panggil ‘Oppa’.
Hmm,Jung Yunho.. Apa aku bisa bertemu dengannya kembali?
*Part 3*
Kini aku sedang berada di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Yoochun. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju sekolahku dan kantor Yoochun. Yoochun memutuskan untuk mengantarku ke sekolah lebih dulu agar aku tidak terlambat. Dari tadi kami hanya diam saja di dalam mobil. Tidak ada satu pun yang berbicara di dalam mobil. Suasana sungguh kaku. Dan ketika kami berhenti disebuah lampu merah,tanpa sengaja aku melirik ke arah Yoochun. Aku menyadari kalau dasi yang dipakai oleh Yoochun sedikit berantakan. Karena melihat dirinya yang tidak menyadari hal tersebut,tanpa ragu aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arah Yoochun bermaksud untuk merapikan dasinya.
“Dasimu berantakan,Ajusshi..”kataku dan mulai merapikan dasi yang dipakai oleh Yoochun.
Yoochun yang menyadari kalau aku mencondongkan tubuhku kearahnya sedikit tersentak kaget. Aku yang mengetahui kalau Yoochun kaget seperti itu langsung menatapnya. Dan ketika mata kami berdua saling bertemu,kami menyadari kalau jarak wajah kami begitu dekat. Aku pun membelalakkan mataku dan Yoochun menatapku kaget. Cepat-cepat,akupun langsung menjauh dari Yoochun dan kembali ke posisiku semula. Oh Tuhan,apa yang sudah aku lakukan?
Aku pun menggigit bibirku karena menyadari sikapku tadi yang spontan saja mendekatinya. Aduh,mengapa aku sebodoh ini?
Yoochun yang menyadari kecanggunganku berusaha untuk menyikapinya dengan santai dan berdeham pendek. Aku yang menyadari tingkahnya menatap Yoochun frustasi. Aish,Ajusshi ini…
“Kita sudah sampai,”ujar Yoochun tiba-tiba.
Aku mengangguk. Setelah beberapa lama di perjalanan,akhirnya kami sampai di SMA Dongshin.
“Aku turun disini saja. Tidak perlu masuk,”kataku.
Yoochun sepertinya tidak menghiraukanku. Dengan santainya,ia malah memasuki halaman SMA Dongshin. Aku yang melihat tingkahnya menatap Yoochun kesal, “Yaa,sudah aku bilang turun di luar saja! Bagaimana kalau ada yang lihat kalau aku berduaan di dalam mobil bersama seorang Ajusshi sepertimu?!”amukku.
Yoochun masih saja tidak mempedulikanku. Dari balik saku jasnya,ia mengambil sesuatu dan memberikannya padaku, “Ambillah,”kata Yoochun sambil menyodorkanku sesuatu yang diambilnya dari saku jasnya.
Aku menatap pemberiannya sebentar. Setangkai permen loli. “Itu..bukan racun’kan?”tanyaku ragu.
Yoochun menghela nafas, “Kau kira aku ini penjahat? Cepat ambil dan keluar dari mobilku. Aku mendapatkannya dari pegawai wanita yang baru saja menyatakan cintanya padaku kemarin.”
Aku cemberut mendengar ucapannya. Dia ini ketus sekali. Bahkan dia mengusirku. Dengan cepat,aku menyambar permen itu dari tangannya dan keluar dari mobil. Aku pun menyimpan permen itu ke dalam saku rokku. Lagipula, kenapa ia memberiku permen dari seorang wanita yang menembaknya? Dia memang benar-benar bukan pria yang baik karena tidak mau menerima pemberian seorang wanita yang mencintainya..
Ketika sudah diluar mobil,aku menutup pintu mobil dengan kasar karena aku sudah terlanjur kesal padanya. Huh,biar saja kalau si bodoh Park Yoochun itu tidak terima. Dan ketika sudah beberapa langkah menjauh dari mobilnya,tiba-tiba saja Yoochun memanggilku dari belakang.
“Yaa,Nam Joomin!”

Continue reading

– I GO CRAZY BECAUSE OF YOU – eps 7

-LEETEUK POV-

“ Yeonhee ayo turun udah sampe apartement nih.” Kata ku mengajak Yeonhee untuk turun dari mobil. Aku pun keluar dari dalam mobil. “ Ayo Yeonhee.” Kata ku lagi sambil berjalan. Tapi tidak ada jawaban dari Yeonhee. “ yeonhee..” kulihat dia di dalam mobil. “ Haiss.. kenapa tidur disini??.” Tanya ku. “ Yeonhee ayo bangun.” Kata ku sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yeonhee. “ ehm..” katanya sambil tidur lagi. “ Ya, kok tidur lagi.” “ kalo kamu ga bangun aku terpaksa gendong kamu lho ya.. jangan marahin aku.” Kata ku pada nya. lalu ku bopong tubuh nya menuju dorm. Memangnya sekarang jam berapa sampai dia  sudah tertidur.. batinku sambi mencoba melihat jam tangan ku.. OMO?! Udah jam 9.. pantes aja dia ketiduran. Mian Yeonhee bikin kamu kecapekan…

Ting..tong..ting..tong… kupencet tombol bel dorm kami. “ Ne!.” kata seseorang dari dalam dorm. Pintu pun akhir nya dibuka kan. “ Hyung pulangnya kok lama??.” Tanya Wookie pada ku. “ SSSTTTt…” kata ku mengisyaratkan agar dia diam. “ Ok de hyung.” Kata Wookie sambil menutup pintu saat aku masuk.

-YESUNG POV-

“ Hyung kok pulangnya lama??.” Kudengar suara Wookie dari luar kamar. Ahh.. itu pasti Teukie hyung sudah pulang. Aku pun keluar dari kamar. “ Hyu..” belum sempat ku selesaikan kata-kataku aku melihat Teukie hyung yang sedang membopong tubuh Yeonhee yang rupanya sedang tidur. “ Yesung.” Kata Teukie hyung kaget melihat ku. “ Yesung ini gak kayak yang kamu pikirin kok.” Kata Teukie hyung lagi untuk meluruskan masalah. “ Ne Ara hyung.” Jawabku. “ Bisa kamu gantikan aku membopong Yeonhee ke kamarnya.. Sepertinya dia kelelahan karena kuajak muter-muter.. hehe.” Pinta Teukie hyung pada ku. “ Hyung..” kata ku. “ Udah cepat ga usah babibu. Kamu juga udah sering bopong dia. Ga salah kan.” Kata Teukie hyung yang langsung menyerahkan Yeonhee ke dekapan ku.

Akhirnya ku bawa Yeonhee ke kamar nya. dia pasti sangat lelah. “ Hei.. Yeonhee.” Kata ku sambil membaringkannya di tempat tidur. “ Kenapa kamu bisa lebih cantik saat tidur?! Padahal jika kamu diam dan tidak marah-marah kamu pasti terlihat lebih cantik lagi..” “ Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?? Sampai kamu nyiksa dirimu untuk marah setiap hari?!.” Lanjut ku lagi. Ku tatap wajah nya yang sedang tertidur. Dia memang betul-betul cantik. Tuhan apa sebenarnya sedang terjadi saat ini?! Kenapa Kau memberikan ku dua pilihan yang amat berat untuk ku pilih?! Apa betul aku sudah jatuh cinta dengan nya?? aku bingung dengan hati ku sendiri. Aku pun keluar dari kamar Yeonhee agar tidak menggangu tidurnya dan kembali ke kamar ku. Aku melihat kotak hp yang waktu itu ku beli.. aku pasti akan memberikan nya pada Yeonhee besok.

-AUTHOR POV-

Ke esokan paginya Yeonhee terbangun dari tidurnya yang lelap. Dan segera mandi serta mengganti bajunya dengan seragam sekolahnya. “ Annyong Yeonhee.” Sapa Teukie pada Yeonhee. “ Annyong oppa.” Balas Yeonhee. “ Hei Yeonhee kemarin kamu ga di apa-apain kan sama makhluk ganas satu itu?!.” Tanya Heechul oppa tiba-tiba pada ku. “ a..Ani oppa.” Jawab Yeonhee. “ Betulan kan?.” Tanya Sungmin oppa meminta kejelasan. “ Hei!! Maksud kalian apa?!.” Kata Teukie menjitak kepala Heechullie. “ Huwaa!! Apa-apa an kamu Teukie BABO!!.” Teriak Heechul tidak terima. “ Apa?! Berani Loe??!.” Kata Teukie menantang. “ Sini KAMU!!.” Kata Heechul lagi sambil mengejar Leeteuk.

“ HYUNG!! Bisakah kalian melewati pagi dengan NORMAl!!.” Kata Wookie kesal. “ Diam kamu Dongsaeng!.” Sahut Heechul dan Teukie bersamaan. “ Owkey… Hyung berdua pagi ini sarapan diluar.” Kata Wookie membalas. Sekarang balik Heechul dan Leeteuk yang memohon kepada wookie walaupun akhirnya Heechul minta dimasakan oleh Hankyung.” Ya, Pagi yang  damai di dorm Super Junior.” Kata Kibum yang ditanggapi dengan anggukan dari member yang lain..

“ Yeonhee kamu ga berangkat?!.” Tanya Leeteuk pada Yeonhee yang belum menghabiskan sarapan nya. “ Ne oppa.” Jawab Yeonhee agak malas-malasan. Walaupun badannya sudah tidak sesakit dulu. Yeonhee pun bergerak kearah kamar mandi.

-YEONHEE  POV-

Aku masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci tangan ku. Kulihat penampilan ku di kaca. Perban yang tadinya melilit ditubuh ku sebagian sudah lepas. Tapi yang paling menggangu ku adalah bekas luka di siku ku yang belum hilang. Huh…  desah ku… akupun segera keluar  dari kamar mandi. “ Yeonhee ppalli udah jam 7 lho!!.” Kata Sungmin oppa memanggilku. “ Ya!!.” jawabku. segera aku keluar menuju ruang tengah. Ku lihat Yesung yang sedang membaca Koran… ( emang dia ngerti cara baca Koran?!.) “ Ayo berangkat!!.” Kata nya pada ku. Haiss.. kenapa dia yang mesti nganter aku?! Makan hati banget.. T.T dengan pasrah aku berjalan mengikuti langkah nya.

-YESUNG POV-

Terdengar suara langkah kaki.. ya itu Yeonhee. Dengan agak takut ku tatap dia. “ Ayo berangkat!!.” Kata ku padanya. Aku takut kalau dia masih marah pada ku. Dia pun mengikuti langkah ku menuju mobil walaupun aku tau dia sangat tidak ingin melihat ku. Karena dari tadi ku dengar suara dengusan nafas nya. Oh.. iya aku mau ngasih barang ke dia. “ Yeonhee ini buat kamu.” Kata ku lalu memberikan kotak hp padanya.

Continue reading

%d bloggers like this: