Tag Archives: Choi Minho

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 4]

Harin’s POV

“Harin-ahh!!” samar-samar kudengar namaku dipanggil-panggil. “Ya! Ireona! Kau tidak sekolah??”

 Ugh… Ini suara Onew oppa..?

“Nee!!” seruku mengusap-usap mataku sambil berusaha duduk. “Yah! Ke-”

Aku mengerjap menyadari sesuatu. Sebelahku kosong. Semalam Key memaksa untuk tidur di kasurku, sekali saja. Tapi ke mana dia sekarang??

  Key…..benar-benar pergi?

“Yah! Harin! Kau ini!” Onew oppa mendobrak masuk. “Menjawab ‘Nee!!’ tapi tidak segera turun!”

“Oh?” aku melihat ke arah jam. Tiga puluh menit sebelum masuk sekolah dan aku belum mandi?!! “Kok tidak bangunkan aku lebih pagi?!!”

“Ck! Aku sudah bangunkan kau!” omel Onew oppa. “Kau malah menendang-nendang orang!”

“Ohhhhh… Mian,” balasku. “Oppa, kau lihat Kibum?” tanyaku.

“Kibum?” ia menatapku curiga. “Siapa Kibum??”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arahnya. “Key! Aku bilang Key! Anjingku!” aku melongok ke bawah ranjang. “Kok tidak ada?” tanyaku.

“Oh? Entahlah, aku tidak lihat,” balasnya. “Tapi tadi pagi-pagi sekali aku dengar ada yang membuka pintu. Entah itu siapa, tapi saat kulihat tidak ada orang,” lanjutnya.

Oh… Key benar-benar pergi..

  Tapi kenapa aku merasa ingin mencarinya?

“Hey, nanti kucarikan. Kau mandi dan ke sekolah dulu sana,” perintahnya. Aku mengangguk. Lagipula aku satu sekolah dengan Key. Apa susahnya bertemu dengannya? Yang penting ia tidak di rumahku.

***

Aku tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Setibaku di kelas aku mendengus kesal karena belum sempat mencari Key. Aku memang tidak ada urusan dengannya. Tapi….ah, siapa peduli!

 

“Pagi, anak-anak!”

“Pagi, sonsaengnim!” seruku, dan anak-anak lainnya malas-malasan. Huft… Membosankan.

“Kalian sekarang maju ke depan ambil undian. Hari ini kalian akan melakukan research singkat tentang range vocal dan musik dalam kelompok empat orang,” jelas Baek sonsaengnim mengeluarkan kotak berisi kertas-kertas undian. Aku mendesah lagi. Aku, Minyeon dan Sungra sudah jelas cuma bertiga dan kurang satu orang lagi.

“Psst!” desis Minyeon yang duduk di belakangku menepuk-nepuk pundakku. “Harin-ah! Beritahu aku kau dapat apa! Aku tidak mau sekelompok dengan orang lain, ya? Ya??” bisiknya. Aku mengangguk. Aku juga tidak mau.

“..Kalian akan sekelompok dengan yang mendapat kertas berwarna sama-Minyeon-ssi bisa duduk dengan benar??” Baek sonsaengnim menatap kami tajam.

“Ne, sonsaengnim,” gumam Minyeon pelan.

Kami satu per satu maju dan mengambil kertas undian termasuk aku. Aku mendapat warna merah. Dan untung saja belum ada yang mengambil warna merah.

Author’s POV

Minho yang duduk di tengah-tengah kelas itu terus-terusan memicingkan matanya ke arah Harin. Mau tidak mau, hari ini dia harus bicara dengan cewek itu.

  Ish! Murid-murid ini mengganggu!

Minho memanjangkan lehernya berusaha melihat kertas warna apa yang di dapatkan Harin saat banyak siswa-siswi yang menghalangi pandangannya.

“Key sialan,” desisnya menggerutu masih berusaha mengetahui warna kertas Harin.

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 3]

Harin’s POV

Aku kembali menyesap teh citrus yang diseduhkan Key untukku dan Minyeon. Aku tidak tahu sejak kapan aku pandai berbohong, tapi setidaknya sekarang Minyeon benar-benar tidak mencurigaiku. Tumben bukan? Biasanya saja dia paling curigaan.

“Jadi,” Minyeon membuka mulutnya memulai pembicaraan. “Jam berapa Jongwoon akan mengembalikan anjingmu?” tanyanya polos.

Jadi, tadi begitu bangun dan menyadari Key babo itu belum berubah menjadi anjing aku buru-buru menyeretnya meminta penjelasan. Setelah selesai penjelasan kilat tiga puluh detiknya itu, cerita bohong yang lebih masuk akal dari kisah binatang peliharaan yang bisa berubah menjadi manusia meluncur dari mulutku begitu saja. Aku bilang padanya kalau Key dibawa Jongwoon oppa jalan-jalan. Sedangkan Key yang di sini adalah tetangga – seperti yang diketahui eomma dan appa.

“Memangnya Kibum-ssi sejak kapan kenal denganmu? Bukannya kau tinggal di Jepang dengan sepupumu?” tanyanya lagi. Hahh… Ternyata ia masih saja curiga.

“Ingat, aku pindah ke sana waktu kelas tiga. Jadi, Kibum ini teman kecilku juga, sama seperti kamu dan Sungra,” jelasku. Aku melirik ke arah dapur. Key sudah berubah wujud belum ya?

“Kau suka pada Kibum sunbaenim?” tanya Minyeon tiba-tiba. Aku membulatkan mataku.

“Eh? Sunbaenim?” tanyaku.

“Ne. Bukannya dia anak kelas tari? Ini sudah tahun keduanya bukan? Dia jadi kingka di situ sejak tahun lalu sampai Minho dan Taemin juga masuk sekolah kita tahun ini,” balas Minyeon. “Masa kau tidak tahu? Kau kan teman kecilnya?”

  Ugh.. Ternyata Minyeon masih menginterogasiku…

“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang lebih tua denganku, makanya aku lupa,” balasku tersenyum canggung.

“Ohh,” gumamnya. “Jadi kau benar-benar menyukainya,” sambungnya. Mwo?!

“Hah? Kok bisa??” pekikku tertahan.

“Pertama, kau tidak menganggap Kibum sunbaenim sebagai orang yang perlu dihormati, jadi dengan kata lain kau merasa akrab dengannya. Kedua, ia kau seret-seret tadi pagi di kelas. Ketiga, yang menculikmu dari aku dan Sungra saat makan siang tadi Kibum sunbaenim. Keempat, ia menggendongmu sepulang sekolah tadi. Lucu sekali! Kelima, kau menamai anjingmu dengan nama yang sama dengan Kibum sunbaenim. Terakhir, ia berada di rumahmu dan kau berkali-kali melirik ke arah dapur dari tadi,” jelasnya panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.

  Minyeon-ah, kau benar-benar aneh.

Tidak kusangka ia akan penasaran dan curiga terhadap topik yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.

“Aku tidak menyukainya,” jawabku jujur, singkat, padat, dan jelas.

“Ey.. Seolma,” gumamnya lagi. “Padahal kalian lucu sekali!”

“Lucu apa-”

Ting.. Tong..

Siapa sore-sore begini datang? Kukira cuma Minyeon yang akan datang.

“Aku buka pintu dulu ya,” gumamku pada Minyeon sebelum aku bangkit dari tempatku duduk dan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, sepupuku yang selama ini menemaniku di Jepang sudah berdiri sambil tersenyum di depan pintu.

“Oppa!!!” seruku memeluknya. “Eh, tunggu, kau kok di sini?” tanyaku.

“Aku liburan di sini!” balas Onew.

“Jinjja? Waa!!” seruku bahagia melupakan masalah apa yang barusan menimpaku.

“Eh, dapur di mana? Aku haus!” rengek oppa menerobos masuk. Dapur? Oh tidak…

  Key!! Key!! Key!! Berubah!! Cepat!!

“O-oppa! Aku saja yang ambilkan air!” seruku menyusulnya sebelum ia sempat ke dapur.

“Oh? Aku sudah di dekat dapur aku saja yang ambil,” balasnya berteriak. “Kau bawa teman ke sini?” lanjutnya. Eh?! Kibum ketahuan?!

Aku segera berlari menuju ke tempat di mana oppa berada – di depan dapur, di ruang makan. “Ne?”

“Kenapa temanmu kau tinggal sendirian? Dasar,” ceramah Onew menunjuk Minyeon yang duduk bengong menatap oppa-ku. Eh? Untung Onew belum masuk!

“Eh… Hehehe. Mian…,” gumamku.

Continue reading

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 5]

Sungra’s POV

  Sudah kesekian kalinya aku memutar kepalaku ke arah Siwon maupun Minho yang wajahnya seperti tidak bahagia itu sebelum kembali pada Lee sonsaengnim. Hari ini aku memakai syal dari Jeongmin sunbae ke sekolah dan mereka menanyakan hal yang sama : Kapan aku mendapatkannya.

  Aku sama sekali heran dengan mereka. Hari ini kelakuan mereka masih saja tetap aneh, sedangkan Donghae dan kawan-kawan tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Mereka aneh sekali!

  “Donghae-ya, kau yakin tidak tahu apa-apa soal Siwon dan Minho?” bisikku tak percaya. Donghae mendorong kacamatanya sedikit ke atas lalu memandangku sejenak.

  “Entahlah. Mereka memang aneh, tapi aku tak tahu apa sebabnya,” jawabnya menaikkan kacamatanya. “Ngomong-ngomong kemarin kau pulang dengan siapa? Kulihat Siwon jalan sendirian,” tanyanya.

  “Ada hal yang perlu kukerjakan. Hari ini juga,” jawabku kembali fokus ke pelajaran.

 

Siwon’s POV

  Aku menunggu Sungra yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Karena sudah lima belas menit aku mengelilingi lorong, aku memutuskan untuk membereskan barang-barang di lokerku terlebih dahulu.

  Begitu aku tiba di depan lokerku, aku melihat selembar ‘sticky note’ ungu di tempelkan di pintu lokernya. Aku mencabutnya perlahan lalu kubaca.

  ‘Jangan lupa jemput Sungwon! Kalau ada keperluan telpon saja aku – Sungra’

  Ke mana lagi anak itu? Aku seperti sudah lama tak bertemu dengannya.sebenarnya dia ke mana sih? Terlihat sibuk sekali. Apakah kencan dengan Minho itu sepenting itu?

  Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Aku pulang sendiri lagi dong.

At Cafe..
Sungra’s POV

  “KIM MYUNGSOO!!! Ya!!!” teriakku.

  “Ya~ Sungra aegi, panggil aku L~” ia cemberut menggerutu berjalan ke arahku.

  “Ya! Myungsoo! Cepatlah sedikit! Kita kehabisan bahan makanan!” omelku menatap kulkas yang hampir kosong.

  “Lalu? Kau menyuruhku memakan sisa bahan yang ada di kulkas kah? Boleh! Boleh!” ia mengulurkan tangannya untuk meraih sekotak frozen yogurt. Aku langsung memukul tangannya begitu ia menyentuh tutupnya.

  “Ya! Bukan itu maksudku! Bahan makanannya habis, pergilah berbelanja!” omelku lagi. Ia cemberut kesal.

  “Suruh saja Onew hyung atau Eli hyung belanja bahan baru, yang ini kumakan saja,” tawarnya. Aku menggeleng lalu mendorongnya menjauh dari kulkas sebelum kulkas ini benar-benar kosong.

  “Kajja! Ini masih jam istirahat kita belanja saja, lalu makan siang di luar sekalian,” tarikku. Aku keluar mendapati Jeongmin sunbae sedang bercermin, Onew sunbae sedang membersihkan counter dan Eli sedang menata gelas.

  “Yeorobun! Kita harus pergi berbelanja! Ayo sebelum jam istirahat berakhir! Kita makan di luar sekalian!” seruku. Onew langsung menatapku dengan pandangan penuh kilatan.

  “Wuaaa!! Jinjjayo?? Bagaimana kalau kita makan ayam saja?” sarannya. Dasar, Onew! ==a

  “Geurae, geurae. Palliwa! Waktu kita sedikit!” jawabku.

Meanwhile…
Siwon’s POV

  “Huweeeeeeeeeeeee!!!!!!”

  “Psshh.. Psstt… Hey, Sungwon-ah, sabarlah sebentar…,” bujukku menggendongnya.

  “Huwaaaaaaa!!!” tangisnya mengencang. Aku memutar kepalaku ke segala arah. Aduh… Bubur Sungwon habis! Susu juga habis! Dan sekarang ia sedang menangis kelaparan. Aku jadi juga ingin menangis…

  “Ssshh… Sungwon-ah, kalau kau diam kita akan pergi keluar, okay? Appa akan belikan makanan! Dan mainan, okay??” bujukku. Tangisnya mereda, hanya tersisa isakan. Aigoo.. Baiklah ayo kita berangkat!

At Mall…
Sungra’s POV

  “Kai! Bai! Bo!”

  “Kai! Bai! Bo!”

  “Kai! Bai! Bo!”

  Sudah kesekian kalinya kami berusaha menentukan kelompok yang membeli bahan sampingan dan bahan utama tapi masih belum juga membuahkan hasil.

  “Aish! Jinjja! Eli hyung kau seperti orang bodoh saja! Ayo lagi!” gerutu Myungsoo.

  “KAI-BAI-BO!!!” seru kami. Jeongmin dan Onew mengeluarkan batu. Aku, Myungsoo dan Eli mengeluarkan kertas.

  “OMO!! Andwae!! Kenapa aku sekelompok dengan Eli hyung?!!” seru L. Aku tertawa hambar.

  “Ha.. Sayang sekali aku sekelompok dengam dua orang pabo,” sindirku. Onew dan Jeongmin langsung tertawa lebar.

  “Baiklah. Aku dan Onew hyung ke bagian bahan sampingan. Kalian cari bahan utama,” lanjut Jeongmin memberi notes belanja pada kami.

  “Kajja~” ajak Eli menarikku dan L ke dalam super market.

***

  “P…ple..plain yo…go..reuteu!” eja Myungsoo membaca daftar belanja. Eli menggelengkan kepalanya.

  “Plain Yogurt,” gumam Eli membenarkan sambil menyambar sekotak besar plain yogurt.

  “Apa tidak sebaiknya kita beli yang ini? Ini produk impor!” seru L senang sambil menarik sekotak yogurt yang lebih besar.

  “Andwae! Ini lebih murah Myungie-ah,” balas Eli meletakan kotak itu pada troley.

  “Wae?” Myungsoo cemberut tak mau kalah.

  “Diamlah MyungMyung-ah,” omelku. “Selanjutnya apa?” tanyaku mengalihkan topik.

  “Cho…ko..lit!” eja Myungsoo lagi.

  “Chocolate,” ralat Eli.

  “Arasseo! Arasseo! Tidak perlu pakai bahasa Inggris! Ini kan Korea!” omel Myungsoo.

  “Tapi bahasa Inggris kan penting MyungMyung-ah. Kalau kau keluar negeri mau bagaimana?” sambungku.

  “Ya tidak perlu ke luar negeri saja~” jawabnya santai.

  “Kalau ada turis datang menanyakan sesuatu?” tanyaku lagi.

  “Bilang saja, ‘Ssori, sir, i do no-teu un-deo-seu-taen-deu engrish,” jawabnya dengan pelafalan aneh. =.= (A/N : Sorry, sir, i do not understand english)

  “Dasar…,” celetuk Eli. Aku hanya menggeleng. Ckckckck…

  “Sungra-ya! Ayo beli mil-keu se-i-keu!!” seru Myungsoo menunjuk stan milkshake.

  “Aish.. MyungMyung-ah, kalau kau terus melafalkannya seperti itu kupotong lidahmu nanti,” umpat Eli.

  “Jangan salahkan aku kalau aku terlahir sebagai orang Korea yang mahir berbahasa Korea,” balas Myungsoo menjulurkan lidahnya lalu menyeretku ke stan milkshake meninggalkan Eli dengan keranjang belanja. “Jagalaah belanjaannya! Nanti kupesankan mil-keu-sei-keu untukmu!!” teriak Myungsoo melambaikan tangannya.

  “Ya!! Neo!!”

Siwon’s POV

  Aku memakaikan kaus dan mantel lembut pada Sungwon. Tidak lupa kupakaikan topi yang kami belikan. Setelah memastikan semuanya siap, aku segera menggendong Sungwon dan membawanya ke mall terdekat.

  Begitu kami tiba di mall cukup besar di kawasan Myeongdong, aku langsung mengajaknya menuju supermarket. Dalam perjalanan kami ke supermarket kudengar Sungwon menunjuk-nunjuk sebuah toko dengan menggunakan ‘bahasa bayi‘nya.

  “Goo! Goo!! Maa! Maa!” rengeknya menunjuk stan milkshake berwarna cerah. Sepertinya warna toko itu membuat anak kecil mudah sekali tertarik untuk masuk (A/N : berarti Myungsoo anak kecil dong ==”) karena kulihat banyak sekali anak kecil yang masuk untuk memesam minuman.

  “Ma! Ma!” seru Sungwong membuatku meliriknya.

  “Masidago?” tanyaku menunjuk stan yang sama. Ia tertawa senang. Aigoo.. Kau pasti lapar sekali. “Geurae.. Kajja!”

***

  “Milkshake…..cappucino satu. Lalu..hmm.. Hey, apakah anak usia dua tahun boleh mengkonsumsinya?” tanyaku pada pelayan toko itu.

  “Tentu saja. Asalkan yang non-cafein,” jawabnya sibuk membaca pesanan yang lain.

  “Hm.. Baiklah? Milkshake apa yang cocok untuk bayi?” tanyaku. Ia masih sibuk menulis dan memilah-milah sesuatu tanpa menatapku.

  “Aigoo.. Ahjussi, kau bisa pilih apapun yang disukai anakmu,” jawabnya ketus lalu mengangkat kepalanya. Mataku membulat seketika begitu juga dengannya.

  “NEO??!!!” seru kami menunjuk satu sama lain. Untung suara kami tidak begitu keras.

  “Ya! Apa maksudmu dengan ‘ahjussi’? Kau pikir aku setua itu?” tanyaku mengernyit.

  “Ahh.. Mianhae.. Mian. Ah! Annyeong Sungwonie~ mana eomma mu? Kenapa kau malah pergi dengan appa pabomu ini?” sindirnya.

  “Hey, Lee Harin, aku heran kenapa Sungra bisa berteman denganmu,” balasku.

  “Aku juga heran kenapa Sungra betah tinggal serumah dengan saudara aneh sepertimu,” balasnya mencatat sesuatu. “Sungwon-ah, noona akan buatkan milkshake special untukmu~ KEY!!! Key-ah!! Gantikan aku sebentar! Aku mau ke dapur membuatkan milkshake!!” serunya.

  “Ne? Kau yakin? Aku tidak mau kau merusak apapun di dalam sana, ara?” tegur seorang pria yang keluar dari arah dapur.

  “Ara, ara. Kalau rusak tinggal kau betulkan,” jawab Harin santai lalu masuk ke dalam.

  “Oseoosipsiyo! Kau sudah pesan?” tanya orang yang dipanggil Key itu. Aku mengangguk.

  “Geurae. Meja mu di sana,” ia menunjuk meja kecil di pojok yang agak tertutup. Aku mengangguk lalu duduk di sana dengan Sungwon menunggu pesanan kami.

Sungra’s POV

  “Oseoosipsiyo~!” sapa pemilik stan milkshake ini yang tak asing lagi bagiku.

  “Key-ah annyeong!” sapaku menyeret Myungsoo masuk.

  “Annyeong! Kau bawa temanmu hari ini? Siapa itu?” tanya Key menunjuk Myungsoo.

  “Geunamjani? Myungsoo-iyeyo. Key-ah, ada menu apa hari ini?” tanyaku. Ia menyodorkan selembar karton tebal berisi menu spesial hari ini dan menu standar biasa.

  “Hm? Milkshake Greentea dan Macha? Blueberry choco? Memangnya ada?” tanyaku melihat menu-menu baru. Key mengangguk bangga.

  “Hanya tersedia di tokoku~” gumamnya. Aku mengangguk.

  “Aku mau vanilla saja. Toppingnya seperti biasa. Lalu untuk Eli… mocha saja. Myung-ah kau mau apa?” aku menyerahkan menu itu pada L. Iya meneliti satu persatu.

  “Hemm.. bleu-berri o-re-o saja,” gumamnya. Aku mengernyit.

  “Mwoni?

  “B-blu…berri..o..re..o?” iya menunjuk salah satu gambarnya. “Aigoo, ini bacanya susah sekali, Sungra-ya,” omelnya. Aku dan Key terkikik.

  “Blueberry Oreo, Myungsoo-ssi. Bagaimana? Itu saja?” tanya Key mencatat pesanan kami.

  “Aku terkesan seperti satu-satunya orang yang tak bisa bahasa Inggris di sini,” desah Myungsoo.

  “Geurae. Itu saja, tidak makan di sini. Gomawo, Key-ah~” balasku pada Key. Ia lalu menyuruh kami menunggu.

 

Siwon’s POV

  “Cappucino Milkshake dan Special banana milkshake~” Key mengantarkan pesanan kami. Aku langsung menyambar sendok kecil di meja dan menyuapi Sungwon pelan-pelan.

 ”Nnn~! Goo~!! Nyaaanyanyaa~!” serunya senang tertawa kecil.

  “Aigoo, adeuli neomu kyeopta!” aku mencubit pipinya. Aku mendongak lalu mengedarkan pandanganku ke sekelilingku dan menangkap sosok seseorang yang sudah amat sangat kukenal sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang duduk membelakangiku. Siapa? Tidak terlihat seperti Minho. Kulihat Sungra terkadang tersenyum bahkan tertawa senang. Apa yang sedang mereka lakukan di sini? Sungra meninggalkanku menjaga Sungwon supaya bisa berpergian dengan ‘makhluk’ itu?!

  “Pa! Pa! Ma! Da! Da!” Sungwon menarik-narik tanganku. Aku mengalihkan pandanganku kembali padanya dan menyuapkannya milkshake lagi. Setelah beberapa kali aku menyuapinya aku hendak memutar kepalaku mencari sosok Sungra yang sudah tak terlihat lagi di segala penjuru. Apa aku bermimpi?

 

Sungra’s POV

  “Sungra menyebalkan~!!”  Myungsoo menorehkan cream dari milkshakenya ke pipiku dengan sedotannya.

  “Ya!! KIM MYUNGSOO!! Kau mau mati?!!!” seruku menepis tangannya lalu mencari tisu untuk membersihkan wajahku.

  “Jangan begitu~ Nanti yang bantu-bantu di cafe siapa?” jawabnya polos bermain dengan sedotannya lagi.

  “Sepertinya kau bukannya membantu malah merepotkan,” balasku lalu berdiri.

  “Ya! Ya! Chamkkaman~! Sungra-ya kau tidak sopan padaku~!!” omelnya menyusulku keluar toko untuk menghampiri Eli.

  “Eli-ya~!” panggilku begitu aku dan Myungsoo tiba di hadapan Eli. Aku menyerahkan milkshakenya dan melihat Onew dan Jeongmin sunbae berjalan ke arah kami.

  “Hey! Bagaimana? Sudah semua?” tanya Jeongmin sunbae. Kami mengangguk.

  “Aigoo.. Baegophaeyo. Mau makan?” tanya Onew. Kami semua langsung mengangguk setuju. “Chicken?” tawar Onew tersenyum lebar. Kami hanya mengangguk pasrah. Ayam lagi =_=

 

Minho’s POV

  “Minho hyung~ Belikan aku banana milk! AH, aku juga mau ayam!!” rengek Taemin – sepupuku yang sedang bertamu untuk beberapa hari ini. Kami sedang di mall untuk refreshing. Setelah mengangguk aku langsung menuntunnya ke restoran fast food terdekat.

  “Oseoosipsiyo! Mau pesan apa?” tanya si pelayan dengan ‘badge’ bertuliskan ‘LEE KISEOP’.

  “Ayam. Untuk dua orang. Minumnya banana milk dan teh,” jawabku singkat. Ia mengangguk lalu mencatatkannya.

  “Baiklah..Kevin-ah!! pesanan!!” teriaknya ke dalam. Dalam sekejap seorang dengan rambut acak-acakan dan name-tag ‘KEVIN WOO’ keluar mengambil kertas pesanan. “Silahkan tunggu sebentar,” lanjut pemuda bernama Kiseop tadi.

  Tak lama setelah itu pria yang dipanggil Keivn tadi keluar membawakan senampan pesanan kami. Aku dan Taemin segera mengambil tempat duduk di tepi jendela.

 

Sungra’s POV

  “Huft! Onew, Jeongmin dan L jahat!!!” desahku kesal mengunyah ayam pesananku. Eli mengangguk setuju sambil melanjutkan minumnya. Onew, Jeongmin dan Myungsoo baru saja meninggalkan kami karena Howon sajangnim – pemilik cafe tempat kami bekerja memanggil mereka bertiga. Dan parahnya mereka bertiga tidak hanya meninggalkan kami, mereka juga meninggalkan barang belanjaannya pada kami!!

  Aku melirik pada Eli yang asik melihat keluar lalu berkata, “Eli-ya, bisa tolong belilkan aku ice cream?” pintaku. Ia melirikku curiga lalu cemberut sebal.

  “Kau makan banyak sekai Sungra-ya?” tolaknya. Aku lalu  memasang wajah memohon sampai akhirnya ia mendesah kencang.

  “Geurae.. makannya sambil jalaln pulang,” ajaknya. Aku langsung melonjak senang. Hore!!!

 

Minho’s POV

  Aku baru saja keluar setelah mencuci tanganku lalu aku merasa seperti melihat SUngra barusan berjalan keluar dengan seorang pria? Siwon? Kurasa bukan. Sedang apa? Kenapa Siwon membolehkannya?

  “HYUNG~~~~~~” panggil Taemin membuyarkan lamunanku pada pintu restoran yang kini sudah tertutup rapat.

  “Ne?”

  “Kajja! Jibe gayo!!” ajaknya. Aku mengangguk. Mungkin hanya halusinasi.

 

To Be Continued…

Annyeong! Mian lama ga update~! lagi ujian.. hehe..
btw yang komen dikit ya ._. boring ya? kalo boring bilang yaaa~ ^-^v

gomawo~!

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 4]

Sungra’s POV

  Aku duduk mengayun-ayunkan kakiku sambil menonton Minho berlatih. Memang biasanya ia berlatih sepak bola, tapi karena klub olahraga akan mengadakan pertandingan basket Minho berlatih basket.

  Setelah beberapa kali memasukkan bola ke ring ia berbalik menatapku lalu tersenyum. Ia sedang bermandi keringat di sekujur tubuhnya. Sambil mengatur nafasnya ia berjalan ke arahku lalu duduk di sampingku.

  “Bosan?” tanyanya meneguk air mineralnya. Aku menggeleng lalu menyerahkan handuk kecil padanya. Ia meraihnya lalu membersihkan keringatnya.

  “Kau tidak lapar?” tanyanya lagi. Aku menyambar tasku dan mengeluarkan dua kotak bekal. Salah satunya kuserahkan pada Minho.

  “Makanlah yang banyak. Pertandingannya masih lama, kau harus cukup nutrisi dan makan makanan sehat, banyak istirahat, jangan sakit,” kataku. Ini sudah jadi kebiasaanku mendukung Minho dalam pertandingan.

  Minho mengangguk lalu melahap makanannya. Aku juga memakan bekalku.

  “Minho!” panggil seseorang dari belakang kami. Kami berdua berbalik ke arah sumber suara itu dan mendapati Siwon berdiri di sana memasukkan tangannya ke dalam saku.

  “Ne?” tanya Minho dengan mulut penuh makanan.

  “Kau akan ikut pertandingan basket kan?” tanya Siwon ikut duduk di antara aku dan Minho. Aish! Anak ini menghalangi pandanganku! =.=

  “Ne. Waeyo? Siwon hyung, kau mau ikut?” kudengar jawaban Minho.

  “Ne. Bagaimana kalau latihan sekarang? Kau lawan aku,” tawar Siwon aku mengernyit lalu memukul pundaknya.

  “Hey! Minho kan baru makan! Kau juga! Kau sudah makan? Makanlah dulu, jangan buang-buang energi! Kalau kau sakit siapa yang merawatmu?” omelku memasukkan beberapa makanan dari bekalku ke mulutnya.

  “Sebentar saja kok,” ia mengunyah tamago buatanku lalu menarik Minho berdiri. Aku menggeleng pasrah lalu kembali memakan bekalku, kusisakan setengahnya untuk Siwon.

  Aku kembali menatap kedua pria tinggi di lapangan olahraga yang asyik mendribble dan memasukkan bola ke ring masing-masing. Aku hanya tersenyum menatap kedua orang itu. Tiba-tiba Siwon berhenti sejenak lalu menepuk pundak Minho. Ia membisikkan sesuatu yang aku sama sekali tak tahu. Aku mengernyit lalu menaikkan pundakku. Mungkin tak ada hubungannya denganku.

 

Siwon’s POV

  Aku menepuk pudak Minho untuk mengajaknya berbicara. Tujuanku di sini memang bukan hanya bermain basket.

  “Ne?” ia mengernyit.

  “Apa kau…benar-benar menyukai Sungra?” tanyaku pelan. Ia lalu tersenyum tipis.

  “Ne,” jawabnya singkat. Aku berdeham sejenak.

  “Kau tahu, tidak mudah untuk mendapatkan Sungra. Kau harus bertanding denganku dulu,” gumamku. Ia lalu mengernyit.

  “Kenapa?” tanyanya. Aku menghela nafas. “O-oh! Jangan-jangan….kau suka pada Sungra juga?!” lanjutnya membulatkan matanya. Aku diam sejenak lalu mengangguk pelan. Ia lalu tersenyum.

  “Hyung mau tanding apa?” tanyanya. Aku hanya menunjuk bola basket di tanganku. Ia menangguk. “Aku tak menyerah semudah itu, hyung,” bisiknya.

***

  Kriingg!!!

  Bel istirahat selesai sudah berdering. Aku dan Minho langsung terduduk di lapangan kelelahan. Sungra menghampiri kami lalu berkacak pinggang.

  “Kalian ini! Aku kan sudah bilang, makan dulu! Aigoo.. Sekarang sudah bel baju kalian basah semua, Lee sonsaengnim tak akan senang,” omelnya. Aku mengehela nafas.

  “Masih seri,” gumamku terengah-engah menatap Minho. Ia mengangguk.

  “Seri atau tidak aku tidak peduli. Sekarang kita skip saja dulu, kalian harus makan!” omelnya menarik kami berdua duduk di bangku.

  Ia menyerahkanku kotak bekal yang tadi dipakainya. Aigoo.. Untung saja Sungra tidak menghabiskannya. Aku bisa mati kelaparan.

  “Makan yang banyak,” ujar Sungra. Tiba-tiba aku merasakan sebuah handuk terusap dari pelipis ke pipiku. “Keringatmu banyak sekali. Nanti pulang cepat mandi,” Sungra terus mengelap keringatku. Aku hanya tersenyum disela-sela makanku.

  “Gomawo~” gumamku senang sambil menguyah makananku.

  “Minho-ya, pelan-pelan kalau makan,” ujar Sungra menyerahkan sapu tangan pada Minho. Aku mengerutkan alisku lalu menyambar sapu tangannya sebelum Minho meraihnya.

  “Kau kenapa? Itu kan buat Minho,” tanya Sungra menatapku aneh karena sikapku barusan. Aku menggosok tengkukku sambil menunduk.

  “Umm.. Mianhae, aku tidak dengar,” gumamku sebelum menyerahkan sapu tangan itu pada Minho.

  “Oh.. Hey, kalian tunggu di sini sebentar aku mau ke toilet,” Sungra berdiri lalu berlalu pergi. Aku menyenggol pundak Minho yang sedang makan.

  “Ne, hyung?” tanyanya. “Kau mau membahas soal memperebutkan-‘nya’ kan?” tanyanya menatapku santai. Aku mengangguk mantap.

  “Bagaimana kalau kita bersaing seperti ini saja. Setiap hari biar Sungra tentukan ia akan pergi dengan siapa. Oke?” tawarnya. Aku mengangguk setuju.

  “Tapi jangan biarkan Sungra tahu soal ini, deal?” aku mengulurkan tanganku. Ia memiringkan kepalanya lalu menyambut tanganku.

  “Ne,” ia mengangguk.

***

  KRIIING..!!

  Bel pulang berbunyi memenuhi seluruh ruangan sekolah. Aku segera mengemas barang-barangku lalu menuju loker Sungra untuk menemuinya.

  Begitu aku tiba di koridor letak loker itu, aku melihat Minho berdiri bersandar di samping Sungra yang sedang membereskan barang-barangnya. Ugh! Catatan untukku : jangan pernah didahului Choi Minho lagi!

  Di antara semua orang di dunia ini kenapa harus Minho? Okelah, kuakui Minho bukanlah rival yang mudah ditakhlukan.

  Begitu Minho melambaikan tangannya lalu pergi, aku segera menghampiri Sungra.

  “Sungra-ya,” panggilku. Ia menoleh lalu mengernyit menatapku.

  “Ne?” ia memiringkan kepalanya. Aku menghela nafas lalu mengacak-acak rambutnya.

  “Kajja, pulang. Kau sedang tidak ada acara kan? Ayo jemput Sungwon,” ajakku. Ia lalu memanggul tasnya.

  “Mianhae, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulanglah dulu. Jaga Sungwon, aku titip salam. Annyeong!” jawabnya lalu pergi tanpa membiarkanku memberi respon. Apa ia pergi dengan Minho? T^T omona, nae sungwonnie…

 

Sungra’s POV

  “Sungra-ya. Kau ada acara nanti? Aku mau mengajakmu pergi sebentar, melepas stres,” ajak Minho. Aku melirik ke jadwal agenda di ponselku.

  “Mianhae Minho-ya. Aku sibuk hari ini. Lain kali saja ya jalan-jalannya,” tolakku. Ia menghela nafasnya lalu mencubit pipiku.

  “Ne. Kapanpun kau butuh kau bisa menghubungiku,” ia tersenyum lalu pergi. Baiklah. Aku harus segera pulang karna ada pekerjaan menunggu…

“Sungra-ya,” aku berbalik dan mendapati Siwon berdiri di belakangku.

  “Ne?” tanyaku. Ia mengacak rambutku pelan.

  “Kajja, pulang. Kau sedang tidak ada acara kan? Ayo jemput Sungwon,” ajaknya. Aku mendesah pelan.

  “Mianhae, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kau pulanglah dulu. Jaga Sungwon, aku titip salam. Annyeong!” aku melambaikan tanganku padanya lalu menatap ponselku. Oh tidak! Aku bisa terlambat!

 

At Café…

  Aku mengelap permukaan toples kaca berisi cookies coklat dari deretan toples-toples berisi camilan manis warna-warni. Begitu permukaannya terlihat bersinar mengkilat aku meletakkannya kembali ke barisan toples itu. Tiba-tiba sebuah toples berisi permen warna-warni disambar sebuah tangan yang berasal dari belakangku. Aku langsung berbalik lalu mendapati rekan kerjaku berdiri di sana membuka toples tadi dan memakan permennya.

  “L! Itu topping untuk pelanggan!” omelku berusaha menyambar toples itu. Ia menjulurkan lidahnya dan menjauhkan toples itu dariku.

  “Yah! Kim Myungsoo! Kembalikan!” aku memukul-mukul lengannya. Ia tertawa kecil lalu memasukkan sebutir permen ke mulutku.

  “Sudahlah. Hanya makan sedikit kan tidak apa-apa,” ia menutup kembali toples itu dan mengembalikannya ke rak.

  “Myung-myungie~ Sungraaa nae aegiii~” Jeongmin muncul dari balik pintu dapur dan mengalungkan kedua lengannya pada leherku dan Myungsoo.

  “Jeongmin sunbae, berhentilah memanggilku seperti itu!” aku mendorongnya menjauh. Ia terkikik bersama Myungsoo. “Mana yang lainnya?” tanyaku merapikan cangkir-cangkir.

  “Eli membersihkan dapur. Onew…entahlah. Dia menghilang sejak kusuruh membuang sampah,” jawab Jeongmin menyeduh biji-biji kopi. “Kurasa Onew hyung pergi menemui pasangan kencan buta yang kau pasangkan dengannya waktu itu,” lanjutnya. Aku tersenyum menahan tawa dengan Myungsoo.

  “Maksudmu Heechan?” tanyaku. Ia mengangguk lalu mulai membuat cappucino.

  “Si pemilik restoran kenalanmu itu,” Myungsoo membuka toples marshmallow dan melahapnya. Aku menggeleng pasrah.

  “Myungsoo-ah, kau bisa gemuk kalau makan terus,” omelku mencubit pipinya.

  “Andwaeee~~ Aku kan tampan, nanti bisa jadi model! Aku tidak akan gemuk Sungra aegi~” ia menjulurkan lidahnya lalu mencubit hidungku.

  “Kau terlalu besar kepala Myungsoo-ah. Belajar dari siapa?” sindirku.

  “Mirror Prince,” ia menunjuk Jeongmin yang sedang menyeruput cappucinonya sampai mulutnya belepotan foam. Aku dan Myungsoo langsung tertawa meledak.

  “Wae???” tanya Jeongmin polos. Ia lalu berbalik ke cermin di dinding. “Oh.. Aku aegyo sekali kan kalau begini? Wow.. Di mana ya direktur membeli cermin sebagus ini? Aku juga ingin punya satu,” pujinya bercermin di sana. Myungsoo menaikkan pundaknya.

  “Ini sudah ke-tujuhbelas kalinya dalam hari ini ia bercermin,”gumamnya. Aku hanya mengangguk.

  “Oh, ya. Sungra-ya, kudengar kau punya ‘oppa’? Kenapa aku baru tahu kau tiga bersaudara? Bukannya hanya ada kamu dan Sungjae?” Jeongmin berbalik ke arahku.

  “Darimana kau tahu?” aku mengernyit.

  “Apa kau lupa aku ini Jeongmin? Jeongmin selalu tahu,” jawabnya.

  “Kalau Jeongmin selalu tahu, kau pasti tidak perlu menanyakan soal saudaraku,” jawabku mengabaikannya. Ia cemberut lalu mendorong-dorongku.

  “Jebal~ Jebal~ Jebal~ Nae aegi~ beritahu oppa-mu ini~ Aku bisa mati penasaran!” rengeknya.

  “Aigoo.. Ne! Ne! Geurae! Tapi berhentilah mendorongku, Jeongmin sunbae!” ia pun berhenti. “Berhenti juga memanggilku aegi!” gerutuku. Ia menggeleng.

  “Andwae, kau magnae di sini, panggilanmu ‘aegi’. Titik,” ujarnya polos. “Ayo cepat cerita~ Jeongmin sedang menunggu,” lanjutnya sebelum sempat kuprotes.

  “Aish! Geurae. Namanya Choi Siwon, setahun lebih tua dariku, tapi dia pernah menjabat-”

  “Chamkkaman!” potongnya. “Kenapa marganya Choi?” tanyanya. Aku mendesah kasar.

  “Makanya dengarkan dulu sampai habis!” aku memukul lengannya. Ia meringis lalu mengangguk.

  “Ia pernah menjabat sebagai saudara kembarku. Aku baru tahu dia bukan saudaraku saat kami tujuh tahun. Dan sekarang dia kembali ke Korea,” jelasku singkat. Ia memiringkan kepalanya seakan meminta penjelasan lebih.

  “Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kelakuan Siwon aneh, tak seperti saat dia masih kecil dulu,” aku memandang lurus menerawang ke depan sambil bertopang dagu. Tidak hanya Siwon, sepertinya Minho juga aneh. Ada apa dengan mereka?

 

Meanwhile..
Siwon’s POV

  “Aaaarghh!!” geramku duduk di samping Sungwon di ranjang.

  “Sungwon-ah~ eomma mu sepertinya pergi dengan Minho lagi,” gerutuku.

 “Ennn..,” gumam Sungwon bermain dengan bolanya.

  “Yah, kenapa jawabanmu begitu? =_=” omelku. Ia hanya diam bermain dengan bolanya.

  “Hm.. Kemana ya kira-kira mereka berdua?” gumamku mendapat lemparan bola dari Sungwon.

  “Aish! Aku tidak bicara denganmu Sungwon-ah..! Hmphh! Kalau begitu aku dating dengan mu saja bagaimana?” tanyaku lagi. Sungwon menjulurkan lidahnya ke arahku. =_=

 

Sungra’s POV

  “Eli sunbae!! Jeongmin sunbae!! Ppali!” seruku bersandar di dinding cafe. Myungsoo dengan tenangnya memakan coklat yang baru dibeli di supermarket seberang. Onew sedang berdiri mengedarkan pandangannya sambil memeluk plastic bag isi ayam pesanannya tadi siang.

  “Ne! Ne! Ah! Chamkkaman!” seru Jeongmin karena diseret Eli saat ia sibuk bercermin.

  “Kau terlalu lama Jeongmin-ah!” omel Eli.

  “Ara! Ara! Ah iya! Aku bawa hadiah dari Busan!” seru Jeongmin mengeluarkan karung santaclaus. “Hmm.. Mari kita lihat. Ah, ini buat Myung-myungie!” ia menyodorkan kemeja lengan panjang dan topi. Aku memasang wajah ‘kau-yakin-memberinya-itu?!’.

  “Jeongmin-ah, Myungsoo sudah punya banyak kemeja dan topi!” kata Onew kuiyakan.

  “Karena Myung-myungie menyukainya makanya aku membelinya,” jawabnya santai sambil mengubek-ubek isi karungnya. “Ini untuk Onew dan Eli~!” ia mengeluarkan sebuah piyama ayam dan buku pelajaran…bahasa Korea?!

  “Ya! Apa ini?” seru Eli. Jeongmin hanya mengibaskan tangannya.

  “Latih bahasa Koreamu hyung, jangan permalukan kami,” jawabnya santai. “Nah, ini untuk Sungra~!” ia menyodorkan satu set syal dengan topi dan sarung tangan ungu.

  “Wuaaah~ Gomawo Jeongmin sunbae!” aku segera mengenakannya. “Kyeopta!”

  “Jeongmin-ah, kenapa hadiah Sungra paling bagus?” tanya Eli.

  “Hyung mau kubelikan mini dress?” sindir Jeongmin. Aku tersenyum menahan tawa melihat ekspresi Eli.

  “Geurae, geurae! Kajja!” ajakku.

 

Minho’s POV

  Aku menghela nafas lalu meletakkan pensilku di samping buku PR ku. Kusandarkan tubuhku ke kursi lalu menatap langit-langit.

  “Sungra menolak pergi denganku untuk pergi dengan Siwon?” gumamku. Aku beranjak dari tempatku lalu duduk di balkon menatap langitt gelap dihiasi cahaya lanpu dari berbagai penjuru Seoul.

  “Aku tidak akan kalah dengan Siwon hyung semudah itu,” gumamku.

 

Sungra’s POV

  Aku membuka pintu rumah dan mendapati semua lampu sudah dimatikan. Aku melepas sepatuku lalu meyalakan lampu ruang tengah. Sepertinya Siwon dan Sungwon sudah tidur. Aku menghela nafas lalu berjalan naik ke kamar.

  Aku melepaskan mantel dari Jeongmin dan menggantungnya di belakang pintu, beserta topi dan sarung tangannya. Aku segera mengganti bajuku dengan piyama dan naik ke atas kasur, di samping Sungwon yang sudah tidur dalam pelukan Siwon. Aku tersenyum lalu berbaring dan segera masuk ke alam mimpi.

***

  Aku membuka mataku karena cahaya matahari sudah masuk ke sela-sela tirai jendela. Aku merenggangkan otot-ototku lalu duduk mengusap mataku. Aku melirik ke arah Siwon dan Sungwon yang masih terlelap.

  “Siwon-ah, ireona…,” panggilku malas menggoyang-goyangkan pundaknya. Ia mengerang pelan lalu ikut duduk. Aku berdiri hendak pergi ke kamar mandi.

  “Sungra-ya…,” panggilnya. Aku berbalik ke arahnya yang sedang memandangi balik pintu.

  “Ne?” tanyaku.

  “Itu…kau dapat kemarin?” tanyanya balik. Aku mengikuti arah pandangnya ke syal, topi dan sarung tanganku kemarin. Aku mengangguk. Kenapa memangnya?

  “Waeyo?”

  “A-aniya..” ia menunduk.

 

To Be Continued…

‘Fake’ Twins In Love?! [Part 2]

Sungra’s POV

  Kriiing…!

  “Ugh!” gumamku membalikkan badan membelakangi sumber suara tersebut.

  Kriiing…!

  ‘Aigoo.. Kenapa tidak mati suaranya?!’

  Aku berbalik kembali ke arah sumber suara lalu mengulurkan dan mencondongkan tubuhku berusaha meraih jam alarmnya. Akhirnya sepi. Tapi…

  “Ng..?” gumamku membuka mataku begitu merasakan ‘benda asing’ menempel di mulutku.

  Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik.Lima…

  “Aaaaaaaaaaaarrrrrghhhh!!!!!!!!!”

  “Huaaaaa?!!”

  Aku langsung duduk menjauh dari Siwon. Ia ikut duduk lalu menatapku terbelalak.

  “T-tadi…..itu….,” ia menunjuk ragu ke wajahku. Ralat, bibirku.

  “A-andwae! I-itu…erkh! Nonononono!” aku menggeleng kuat mengingat ‘insiden’ barusan.

  “Itu.. I-itu first kiss ku!” omelnya. Aku mengernyit.

  “Kau pikir aku juga tidak hah?!” seruku. Sejurus kemudian aku langsung menutup mulutku. Keceplosan!

  Sepi sejenak. Aku dan Siwon hanya duduk terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.

  Trrt.. Trrt…

  Getar ponselku mengejutkanku. Aku segera menyambarnya dan menekan tombol hijau.

  “Y-yoboseyo?” sapaku.

  “Sungra-ya! Kau baru bangun?? Cepat mandi dan ke sekolah, ingat?” ujar si penelepon. Aku mengernyit lalu menjentikkan jariku.

  “Ah! Tahun ajaran baru! Ah! Ne, gomawoMinho-ya!” seruku lalu menutup telepon dan berniat untuk berdiri. Sebelum aku benar-benar menginjakkan kakiku di lantai, seseorang menarikku kuat-kuat sampai terbaring kembali ke kasur. Aku membelalak begitu menyadari kepalaku bukannya jatuh di atas bantal tapi malah di pangkuan Siwon (O///o)””

  “Siapa tadi?” tanyanya menatapku. Aku terdiam.

  Dugeun.. Dugeun.. Dugeun..

  “Min..ho,” jawabku.

  “Minho siapa?” tanyanya lagi.

  “Ngg….,” aku tersenyum sedikit. “Teman…,” jawabku. Ia terdiam menatapku sejenak. Wae?

  “Mandisana, siapkan sarapan lalu kita berangkat,” ujarnya kemudian dengan nada datar tanpa menatapku. Dia kenapa?

  Setelah mandi dan sarapan kami langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah.

  “Siwon-ah, aku cuma punya satu sepeda,” ujarku menunjuk sepeda ungu yang terparkir di halaman depan.

  “Kubonceng saja,” ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan.

  “Asal kau tidak menjatuhkanku,” gumamku tanpa sadar. Sejurus kemudian aku melotot lebar. “Jangan bilang kau tidak tahu cara naik sepeda!” seruku. Ia mengernyit lalu menyentil dahiku.

  “Jangan meremehkan aku! Dulu juga saat kita masih kecil yang mengajarimu naik sepeda aku!” omelnya menaikki sepeda. Oh ya… Aku lupa itu…

  “Pegangan~” gumamnya sebelum mengayuh.

  “Eh?”

***

  “Yah! Sampai!” serunya turun dari sepeda.

  “Choi Siwon kau gila!!” seruku memukul punggungnya. Bagaimana tidak gila? Dia mengayuh sepeda kencang sekali seperti dikejar polisi -_- mau membuatku mati jantungan hah?

  “Aku masih waras Sungra-ya..! Kalau tidak aku sudah memboncengmu masuk jurang.”

  “Di Seoul tidak ada jurang, Choi Siwon-ssi..”

  “Ah, iya juga. Kalau begitu aku sudah membawamu ke rumah sakit jiwa.”

  “Yang tidak waraskankau bukan aku!”

  “Bukannya orang gila menganggap semua orang sama sepertinya?”

  “Baguslah kau mengaku kau gila.”

  “Ya! Bukan itu maksudku! Kalau aku gila aku tidak mungkin ada di sekolah!”

  “Mungkin kau bersekolah di SLB?”

  “Ini juga sekolahmu Sungra-ya.”

  “Terserah kau. Aku jauh lebih waras darimu titik!”

  “Kalau aku waras dan kau jauh lebih waras lagi berarti kau abnormal, Sungra. Lalu..”

  “Ehm…,” seseorang berdeham memotong perdebatan kami. Aku memutar kepalaku ke arah pemilik suara dehaman yang dalam tersebut.

  “Minho!” seruku menghampirinya. “Annyeong!” aku tersenyum senang.

  “Annyeong,” ujarnya membalas senyumku. “Kajja, masuk,” ajaknya. Ia berjalan masuk dan aku mengikutinya dari belakang.Minhoadalah teman sebangkuku.

  “Siwon-ssi! Duduklah di depanku!” seru Donghae begitu melihat Siwon. Ah aku lupa ada Siwon di sini.

  “Ne,” jawab Siwon datar lalu duduk di belakangku – depannya Donghae. Dia kenapa sih? :/

***

  Kriingg…

  Bel pergantian pelajaran. Pelajaran apa sekarang?

  Aku mengeluarkan jadwal pelajaranku. Pelajaran terakhir hari Senin…

  “P.E??” pekikku tertahan terbelalak. O.M.O!

  “Sungra-ya, gwaenchanha?” tanyanya.

  “N-ne…,” jawabku. Aigoo.. Menurut anak kelas lain materinya tenis – aku sama sekali payah untuk itu.

  Aku beranjak ogah-ogahan ke ruang ganti untuk mengganti seragamku.

***

  “Ah~ P.E. Hari ini akan melelahkan kurasa. Aigoo.. Aku payah sekali dalam tenis,” keluh Heerin selagi mengikat tali sepatunya.

  “Kau masih bagus bisa diajari Donghae. Kau lihat saja nanti, kalau sampai si ‘tuan Cho’ itu menarik ikat rambutku lagi akan kurampas PSP miliknya!” gerutu Minyeon merapatkan ikatan rambutnya. Aku terkikik. Sudah berkali-kali Kyuhyun menarik ikat rambutnya bahkan pernah sampai mereka berdua terjatuh lalu mendapat hukuman sepulang sekolah.

  “Ah.. Aku dan Yesung oppa tidak bisa apa-apa ._. Bagaimana kami nanti?” Harin memasang wajah polos.

  “Sungra-ya, kau beruntung,” senggol Heerin. Aku mendongak dari ikatan sepatuku.

  “Hm?”

  “Kau tau,Minho- atau Siwon juga, mereka terlihat ahli dalam olahraga,” ia mengerling. Aku masih heran.

  “Apanya beruntung?” tanyaku. Tiba-tiba Minyeon mendorong kami dari belakang dan mengalungkan lengannya pada pundak kami.

  “Taruhan, Sungra akan dibantuMinhoatau Siwon?” serunya memamerkan smirk-nya. -___- kurasa aku tahu siapa yang mengajarinya begitu.

  Ruangan sepi sejenak. Heerin, Harin, Minyeon, juga Heechan yang baru saja masuk semua menatapku.

  “Minho!”

  “Siwon!”

  Harin dan Minyeon mengangkat tangannya untuk Siwon, Heerin dan Heechan mengangkat tangannya untukMinho. Aku terbelalak.

  “M-mwoya?” tanyaku.

  “Ini dompetku~! Harin-ah, uangmu berapa?” Minyeon menggabungkan uangnya dengan Harin. “Hmm.. Ini terlalu banyak kurasa,” lanjutnya menimbang-nimbang.

  “Kenapa tidak semuanya?? Lebih menantang,” kata Harin. Minyeon langsung membentuk tanda silang besar dengan tangannya.

  “No! Setengah saja! Kau tahukanMinhoitu juga suka pada…Auwh!” rintihnya saat Harin menginjak kakinya. Ia langsung menutup mulutnya. “Ah, maksudku…kalau Heerin dan Heechan yang menang uang kita benar-benar habis, lalu apa yang akan kutabung?” gerutu Minyeon.

  “Ah -_- Kau sulit sekali untuk keluar uang,” Harin cemberut.

  “Hemat, kau tahu? Lagipula Kyuhyun porsi makannya banyak sekali,” gerutunya membenahi kausnya.

  “Memangnya apa hubungannya uangmu dengan porsi makan Kyu?” tanyaku. Ia terdiam sejenak.

  “Hng…sudahlah lupakan. Kajja! Kita lihat siapa di antaraMinhodan Siwon yang akan mengajari Sungra!” serunya berjalan keluar. Aigoo… -_-

***

  Aish… Jinjja! Kenapa tennis?? Ini sangat amat melelahkan!

  “Sungra-ya,sana, dipanggil Siwon,” seru Minyeon. Ugh.. Bocah itu… Apa ini bagian dari rencananya? -_-

  “Kau tidak bohongkan?” tanyaku menatapnya curiga. Ia menggeleng. Aku menghela nafas panjang lalu menghampiri Siwon.

  “Mwoyeyo?” tanyaku. Ia mengernit.

  “Apanya apa?” tanyanya balik. Huh? Minyeon mati kau!!

  “Erkh.. Tidak jadi,” aku berjalan pergi.

  “Hwang Minyeon!!! Di mana kau??!” seruku. “Hwang Min-”

  “Sungra, gwaenchanha?” tanyaMinhomenghampiriku.

  “M-Minho..?Nangwaenchanha,” jawabku.

  “Kau mencari Minyeon?” tanyanya. Aku mengangguk.

  “Kau lihat-”

  “Anak-anak! Sekarang berlatih tenis! Boleh sendiri atau maksimal berdua,” sonsaengnim memotong ucapanku. Aish! Lihat saja nanti Minyeon! -_-

  Aku berjalan lesu meraih raketku. Aku hanya berdiri di tengah lapangan menatap anak lain berlatih. Aku harus mulai dari mana? T^T

  Ah! Itu Heerin! Aku main dengannya saja!

  Baru saja aku akan menghampirinya, Donghae sudah tiba tepat di sisinya sambil merangkulnya. Erkh =.= lebih baik tak menggannggu ‘para burung musim semi’.

  Aku menghela nafas lalu menunduk menatap sepatuku. Aku dengan siapa?

  BRUK!

  “YA!! CHO KYUHYUN!!”

  “Aish! Kau berat tahu!!”

  Aku mendongak begitu mendengar keributan di dekatsana. Ah! Pucuk di cinta ulam pun tiba! Minyeon sedang terduduk di atas Kyuhyun yang sepertinya barusan menarik rambutnya lagi. *dasar anak itu kurang kerjaan apa?*

  “Hwang Min-”

  “Huwaa! Sungra akan menyerang!! Lari!!” ia berdiri menarik Kyuhyun dan diseret pergi. “Mianhae, Sungra-ya!! Jangan menelanku!” ia lari ke arah Harin dan Yesung.

  “Ya!”

  “Sungra,” aku menoleh mendapati Minho berdiri disanamenggenggam pergelangan tanganku. Aku mengernyit lalu menjatuhkan tatapanku pada tangannya.

  “Ah, mianhae,” ia melepaskan genggamannya.

  “Waeyo,Minho-ya?” tanyaku. Ia mengusap-usap tengkuknya.

  “Ng… Kau…sudah ada teman main?” tanyanya. Aku menggeleng.

  “Eobseo. Aku tidak tahu caranya main,” jawabku. Ia lalu tersenyum lalu berjalan ke belakangku dan memegang kedua tanganku.

  “Kuajari,” bisiknya. Aku tersenyum. Akhirnya!Adayang mengajariku!

***

  “Sungra-ya, kau cepat menguasai hal baru ya,” pujiMinho. Aku hanya tersenyum.

  “Aku baru bisa dasar juga karena kau. Gomawo,Minho-ya,” aku membungkuk.

  “Cheonmaneyo, Sungra-ya. Aku senang kalau kau senang,” ia tersenyum. Aku balas tersenyum lalu beranjak pergi.

  BRUK!

  “Ah!” pekikku kesakitan begitu aku terjatuh. Aish! Kenapa aku tidak sadar ada batu disana?! T^T

  “Sungra-ya, gwaenchan-”

  “Sungra!!!!”

  Siwon menghampiriku sebelumMinhomenyelesaikan kalimatnya. Ia berjongkok memegangi lenganku membantuku duduk.

  “Gwaenchanha?” tanyanya lagi. Aku hanya menunduk dengan ekspresi tak terbaca karena campuran kesal dan kesakitan.

  “OMO?! Berdarah!” seru Siwon.

  What?! D-darah?! Sungra!! Jangan pingsan! Jangan pingsan! Jangan….

  “S-sungra?! Sungra!! Sadar!! Hey!!”

***

  Saat aku membuka mataku perlahan aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.

  “Enggh..! P-perih,” rintihku berusaha duduk.

  “Kau sadar..? Tahan sebentar,” ujar Siwon kembali membersihkan debu di lukaku dengan air. Aku menggigit bibir bawahku menahan perih.

  Ia kemudian melepas kausnya dan mengusap bekas airnya.

  “Ah!”

  “Uh? Mianhae. Aku akan berhati-hati,” ia mengusapnya lagi perlahan-lahan. “Kajja, kubawa ke klinik sekolah untuk diberi obat,” katanya begitu lukaku sudah agak bersih. Ia kemudian mengalungkan tanganku di bahunya dan merangkul pinggangku supaya aku bisa berdiri dan dibawa ke klinik.

  Begitu tiba di klinik ia langsung menyuruhku duduk di kursi sedangkan ia sendiri mencari antiseptik dan kapas.

  Setelah menemukan apa yang ia cari, ia berjongkok di hadapanku dan mulai mengobati lukaku.

  “Sungra-ya, kau harus hati-hati lain kali, araseo?” nasihatnya. Aku hanya mengangguk.

  Tiba-tiba ruangan itu mendadak sepi. Aku mengangkat kepalaku. Tatapanku langsung jatuh pada sepasang mata gelap yang sedang balas menatapku.

  Krekk…

  “Sungra! Gwaenchanha???” tanya Minyeon menyerbu masuk dengan Kyuhyun, Harin dan Yesung. Begitu tiba di dalam mereka langsung melongo menatap kami terkejut.

  “Ah! Jangan merusak mata Minyeon!!”

  “Harin-ah! Jangan lihat!” seru Kyuhyun dan Yesung bersamaan. Aku mengernyit.

  “Apa-apaan kali-”

  “Kyuhyun-ah, ayo keluar. Sepertinya Sungra menikmati kebersamaannya dengan Siwon,” celetuk Minyeon langsung berbalik pergi menggeret Kyuhyun. Hah?

  Pandanganku kembali turun kea rah Siwon yang masih berjongkok di hadapanku.

  “CHOI SIWON!! KEMANA KAUSMU?!!” seruku begitu menyadari Siwon tidak memakai kaus olahraganya. Ia mengusap tengkuknya.

  “Kupakai membersihkan lukamu tadikan?” jawabnya menunduk. Oh iya -_-

  “Kalau begitu ya cepat ganti seragammusana! Lagipula jam pelajaran olahraga baru saja berakhirkan,” aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kenapa kurasa tiada hari tanpa melihat Siwon topless? =.=

 

After School…

  Aku berjalan menuju lokerku untuk membereskan barang-barangku. Hari ini aku lelah sekali. Nanti juga aku akan ke panti asuhan yang baru berdiri di dekat rumahku itu untuk menyumbang barang-barangku kesana.

  “Sungra,” aku terlonjak begituMinhotiba-tiba sudah bersandar di samping lokerku.

  “Ne?” jawabku singkat.

  “Aku…mau mengatakan sesuatu,” gumamnya. Aku mengangguk meyuruhnya melanjutkan perkataannya.

  “Sebenarnya…aku…,” ia bergumam tak jelas selanjutnya. Aku mengernyit.

  “Apa? Aku tidak mendengarnya,” ucapku. Ia berdeham lalu menggenggam tanganku.

  “Johahae. Aku ingin bersama denganmu,” bisiknya menatapku. Aku terpaku sejenak.

  “M-minho…aku-”

  “Sungra!!!!!!!!!!! Kau lama sekali?? Ayo pulang!!” Siwon tiba-tiba muncul juga dari balik dinding lalu menyambar tanganku dan menyeretku pergi. Aish! Hari ini omonganku selalu terpotong! -______-

 

At home…

  “Siwon-ah, kau kenapa sih?” tanyaku. Dari tadi ia tidak mau bicara.

  “Hey,” panggilnya tiba-tiba. Ia berbalik lalu menatapku. “Jangan dekat-dekatMinholagi,” ujarnya. Aku mengernyit.

  “Kenapa? Dia bukan orang jahat,” jawabku. Aku beralih ke arah tangga meninggalkan Siwon yang masih berdiri di ruang tamu. “Lagipula aku mengenalnya lebih awal daripada kamu,” lanjutku sambil menaikki tangga.

  “Tapi aku tidak suka melihatmu dengannya,” gumamnya cukup keras untuk kudengar. Aku hanya terdiam dan menghentikan langkahku. Kulirik Siwon masih berdiri menunduk di tempatnya. “Aku tidak suka perasaanku saat melihat kau dengannya,” gumamnya lagi. Aku mendesah pelan lalu melanjutkan perjalananku ke kamar.

  Aku berbaring terlentang di ranjang lalu mengeluarkan ponselku.Minho…tadi aku belum menjawabnya. Aku langsung mengirim pesan keMinho.

  ‘Minho-ya, mianhae. Aku menyukaimu, tapi hanya sebagai teman. Tapi kita tetap temankan? – Sungra’

  Aku tersenyum lalu bangkit berdiri menatap jam dinding. Ah, aku harus ke panti asuhan sekarang!

  Aku berjalan ke arah lemari lalu mengambil sebuah kardus ukuran sedang yang berisi barang-barang yang akan kuberikan tadi. Setelah itu aku berganti pakaian dan langsung membawanya turun.

  “Siwon-ah, mau temani aku ke panti asuhan? Dekat sini kok,” ajakku. Ia mengangguk lalu mengganti bajunya. Aku tahu Siwon selalu suka pada anak-anak.

***

  “Ahjumma, annyeonghaseyo,” sapaku begitu tiba di panti asuhan. Seorang wanita paruh baya tersenyum melihat kedatangan kami.

  “Annyeong,” jawab ahjumma itu mempersilahkan kami masuk.

  Aku, Siwon dan pengurus panti asuhan ini berbincang-bincang sejenak. Ahjumma itu orang yang sangat ramah dan baik. Ia bahkan mempersilahkan kami bermain dengan anak-anak panti asuhan itu.

  “Hey, Siwon-ah, lihat!” seruku berlari ke arah seorang anak yang sepertinya masih balita. Mungkin usianya baru satu atau dua tahun. “Dia mirip denganmu waktu kecil,” sambungku menggendong anak itu. Bayi itu terkikik dan memegangi lenganku.

  “Ah, akukanmemamng lucu,” balas Siwon mencubit pipi bayi itu.

  “Siapa bilang kau lu-”

  Greb!

  Bayi itu menarik kerah baju Siwon sampai keningku berbenturan dengan Siwon.

  “Eomma! Appa!” seru bayi itu agak tak jelas. Aku langsung menunduk. Aigoo..

  “Itu Sungwon, usianya satu tahun,” ujar ahjumma itu tersenyum. “Sepertinya ia senang dengan kalian. Kalian boleh membawanya,” lanjutnya. Aku membelalak terpaku. MWO?!

  “Benarkah boleh?” tanyaku. Sungwon lucu sekali sampai aku tidak ingin melepaskannya.

  “Boleh. Aku yakin kalian bisa menjaganya. Tinggal kuurus suratnya,” jawab ahjumma itu. “Semoga keluarga kalian bahagia.”

  “Eh??”

 

To Be Continued…

Hello ! My Lucifer 7 (Noone Love Us/?)

Hello ! My Lucifer
Genre: Romance, Comedy, Tragedy, Family, Friendship
Author: Lily
Cast : Kim Hyun Jae, Kim Ki Bum, Kim Hyun Joong, Yesung, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Choi Minho, Lee Gi Kwang, Choi Soo Young ditambah…..
Shin Hyera, Park Nana, Yericha Jang, Janrang Park, Shim Minra….. cast selanjutnya menyusul…. pokonya dibikin seramai galaksi deh….Aktor dan aktris adalah nyata, tapi tempat, kejadian, dan beberapa hal disclaimer karangan author.

Part I , Part II , Part III , Part IV, Part V, Part VI

“Kamu anak kelas 3F itu kan? Ohya, mianhae siapa namamu?” tanya Donghae sambil menyetir.

“Yericha, Jang Yericha. Lee songsaenim” jawab Yericha sopan.

“Yericha nama yang manis” puji Donghae dan 100% mampu membuat Yericha tersipu.

Donghae mengantar Yericha sampai masuk. Sebagai guru dia merasa punya tanggungjawab mengingatkan orangtua Yericha.

“Yericha!!! Kau ini kemana saja? Lama sekali. Kau ini….”

“Ehm… ehm” eumma Yericha yang sudah siap memarahinya jadi terhenti ketika mendengar deheman Donghae. Eumma melirik ke pria yang berada di belakang Yericha.

“Siapa itu? Namjamu? Tumben kau pintar memilih namja” bisik eumma pada Yericha.

“Eumma, dia guruku” jawab Yericha lirih.

Donghae yang tak mau berlama-lama langsung membuka percakapan.

“Sebelumnya perkenalankan saya Lee Donghae, guru bahasa inggris di sekolah Yericha. Tadi terjadi peristiwa kurang menyenangkan yang menimpa Yericha. Dia dihadang 2 orang pria saat pulang belanja. Kebetulan saat kejadian saya juga sedang berada disana. Saya…” belum selesai Donghae bicara, eumma menyela.

“Jadi anda menyelamatkan Yericha dan menghajar 2 pria tadi. Omooo… Gamsahamnida, saya sangat berterimakasih” kata eumma Yericha seraya memeluk Donghae.

Donghae kaget dan langsung tertegun. Eumma Yericha melepaskan pelukannya.

“Donghae-shi karena anda telah menyelamatkan putrid saya sebagai tanda terima kasih. Sebentar saya ambilkan dulu…” eumma Yericha masuk ke dalam.

“Mianhae, eumma saya…” Yericha garuk kepala mau bingung mau bilang apa.

“Eummamu lucu yah. Pasti menyenangkan punya eumma yang aktif”

Aktif ???? Maksudnya apa ini ???

“Maksudku eummamu orang yang menyenangkan” tambah Donghae.

Yericha tersenyum kecut.

“Donghae-shi kue-kue ini untuk anda. Saya baru membuatnya semoga anda suka” kata eumma Yericha dan menyerahkan bungkusan kue pada Donghae.

“Gamsahamnida, Nyonya Jang. Mianhae malah jadi merepotkan begini ^^”

“Ah…tidak nak Donghae. Anda sudah menolong Yericha ini tak seberapa” kata eumma Yericha dan menyentuh bahu Donghae.

Eumma ini ambil kesempatan mulu…. Ingat umur eumma…

“Kalau begitu saya permisi” ucap Donghae.

“Hati-hati. Kapan-kapan main kesini yah” kata eumma Yericha dan mengantar Donghae keluar rumah. Tak lupa melambaikan tangan ketika mobil Donghae meninggalkan pekarangan rumahnya.

Yericha sangat sebal melihat eummanya yang bisa begitu dekat dengan Donghae.

“Eumma…. Kenapa eumma peluk Donghae songsaenim? Eumma seolah sudah mengenalnya saja. Sok akrab lagi” decak Yericha sebal.

“Memang sudah kenal tadi kan sudah kenalan” jawab eummanya datar dan pergi meninggalkan Yericha yang dongkol.

Tidak mungkin… Jangan sampai sainganku eumma. Aihhh… Jangan berpikir macam-macam, eumma kan punya appa.

Yesung POV
Aku mengikuti Donghae mengantar Yericha ke rumahnya. Aku menonton adegan dramatis yang diluar dugaan. Donghae mendapat pelukan dari eummanya Yericha. Yang bisa aku lakukan hanya ngakak, menurutku ini moment menarik untung aku membawa handycam jadi langsung saja mari zoom dan rekam adegan. Ini pasti hiburan menyenangkan bagi semuanya. Aku mengirim pesan ke semua.

To : Kyuhyun, Hyunjoong, Minho, Gi Kwang, Jonghyun, Donghae
Message : Besok semua berkumpul di apartemenku ada berita besar yang harus kalian ketahui. Jangan lupa siapkan mental kalian, jangan sampai shock berat.

Bahasaku sangat serius membuat pesan yang masuk padaku juga bernada khawatir.

From : Minho
Message : Hyung, ada apa? Apa yang terjadi?

From : Jonghyun
Message : Berkumpul sekarang saja jika ini berita besar lebih baik kami semua tahu dengan segera.

Satu pesan lagi masuk. Hah??? Yoona??? Ada urusan apa Yoona mengirim pesan padaku. Tidak ada angin tidak ada hujan. Apa jangan-jangan dia ada feeling ya padaku. Hehehe…..

From : Yoona
Message : Mianhae, hyung. Ini Gi Kwang, pulsaku habis jadi pinjam Yoona. Hyung, ini masalah apa ya? Menyangkut apa, siapa, dan seberapa urgen? Ohya, satu lagi jam berapa harus berkumpul?

Ternyata Gi Kwang, aku pikir Yoona hehehe….

Sisanya tidak membalas pesanku, tapi tak lama handponeku berdering.

“Yoboseyo, ada masalah apa?” tanya suara di seberang.

“Besok saja” jawabku.

“Sunbae, kau mau hidup tenang atau…” Kyuhyun menggantungkan perkataannya.

“Kau mengancamku? Mau aku adukan scandalmu pada Sooyoung? Ingat aku ini sunbaemu saat SMA loh”
Kyuhyun pasti tak mau aku menceritakan peristiwa bodoh saat SMA.

Ayolah, menyerah tidak

“Baiklah. Aku tunggu besok, tapi kau tidak lupa kejadian di club hokey juga kan? Kau dan Kim Taeyeon…. Hahaha”

Sial…. Setan ini masih ingat juga. Baiklah impas sama-sama memegang kelemahan. Sepertinya dia memang terlahir dengan sifat intimidasi.

Saat aku melewati gang menuju apartemenku, aku melihat seorang yeoja yang tengah duduk di pinggir jalan sambil menangis. Iba juga aku melihatnya, mobilku berhenti tepat di depannya.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

Saat dia mendongakkan wajahnya, kaget luar biasa.

Shim Minra?

Dia malah terus menangis. Baiklah apa yang harus aku lakukan sekarang. Terpaksa aku membiarkannya naik ke mobilku.

Ini akan jadi hal yang aku sesali sepertinya. Semoga saja Taeyeon tidak menggantungku jika tahu ada yeoja yang naik di mobilku.

Janrang POV

Kim Jonghyun…..
Namanya selalu terngiang di pikiranku. Manis, tampan , dan baik.

Aku mencoret-coret sesuatu di kertas dan sedikit kaget ternyata aku justru membuat sketsa wajahnya.

I think I love you kuron-gabwayo
Cause I miss you kudae-man omsumyon
Nan amugotdo mo-thago jakku
saeng-gang-nago iron-gon bomyon amu-rae-do
I’m falling for you nan mullat-jiman
Now I need you onu-saen-ga nae mam
Kipun gose aju kuke jarichamun kudaeye mosubul ijen puwayo
Urin ano-ullindago chin-gu guke ddak chuhtago hmmm…
Hanabuto yolkae todaeche mwo han-ge-rado mannunke onnunde
Ottohke sagwil su-in-nyago maldo andwaenu-nae-girago
Malhamyo dullo daet-jiman ijedonun nan kurogiga shi-rhun-goryo

Jonghyun POV

“Berarti aku harus mengajaknya jalan-jalan? Begitu?” tanya Jonghyun pada Kyuhyun.

“Ya, begitulah. Aku rasa itu tak sulit bagi playboy macam kau” kata Kyuhyun.

Hahahaha…. Aku terbahak, masih saja image itu melekat padaku.

“Ngomong-ngomong, tak salah ya memasangkan anak-anak kecil dengan pria dewasa?” tanya Jjong.

“Maksudnya?” balas Kyuhyun.

“Hyunjoong dengan yeoja bernama Nana dan Donghae dengan Yericha?” tanyaku.

“Yah, kondisional saja lah. Jika terjadi sesuatu di luar dugaan tinggal memikirkan langkah selanjutnya. Jangan khawatir semua yang masuk dalam permainan ini adalah bidak caturku. Skak match, aku menang Jjong” kata Kyuhyun ketika berhasil memakan King punyaku.

“Aiiishhh…. Sial” teriakku.

“Kami datang” teriak beberapa namja dari depan. Yesung-hyung yang sedang sibuk menonton tv mengahmpiri mereka.

“Oh… kalian sudah datang duluan yah” tanya Minho.

Aku dan Kyuhyun mengangguk.

“Ayo, kita mulai saja ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian”

Yesung kemudian menghubungkan handycamnya dengan tv.

Brruuussshhh…. Donghae menyemburkan coca cola yang diminumnya.

Hahaha……. Semua tertawa melihat adegan Donghae mendapat pelukan eumma Yericha.

“Hyung, kau suka ibu-ibu yah? Nanti aku bilang eumma deh” tawa Gikwang.

“Wowh… Pelukan gratisan… Cocok untuk anak magister ekonomi. Semakin murah, semakin bagus apalagi yang gratis” ejek Hyunjoong.

“Donghae ternyata selera semua generasi mulai dari cabe rawit hingga paprika” Kyuhyun tak ketinggalan.
Donghae benar-benar malu berat yang ingin dia lakukan sekarang hanya membunuh Yesung….

“Yesung!!!! Sini kau” Yesung berlari dari kejaran Donghae.

“Hyung mau aku bantu” teriak Minho yang membantu Donghae mengejar Yesung.

Adegan selanjutnya skip… Terlalu kejam.. ha3333

Hyunjoong POV

Pagi-pagi aku harus sudah berada di rumah sakit. Iya, jika bukan karena rencana gila Kyuhyun tak bakal aku kemari. Berpura-pura baik pada gadis yang mencelakakan adikku. Tak sudi, ingin sekali aku menghardiknya habis-habisan.

“Suster kapan aku bisa pulang?” tanya Nana saat suster membawanya jalan-jalan dengan kursi roda.

“Secepatnya setelah therapy terakhir. Luka karena kecelakaan kemarin juga belum sepenuhnya sembuhkan?” jawab suster. Nana mengangguk. Oh, dia habis kecelakaan yah.

Kasihan juga… Aiiishhh Hilangkan jauh-jauh pikiran itu. Dia salah satu yang bertanggungjawab atas sakitnya Hyun Jae kemarin.

Semua orang boleh bilang aku jahat, tapi bagiku adikku adalah yang pertama.

“Aku tinggal disini yah” kata suster. Nana tersenyum ke arah suster yang pergi meninggalkannya. Nana berusaha mendorong kursi rodanya, dia masih pucat dan tak tega juga.

Aku membantunya mendorong kursi rodanya. Dia menengok dan terlihat kaget saat melihatku.

“Jangan khawatir aku bukan orang jahat. Kebetulan tadi lewat dan melihatmu kesulitan mendorong kursi roda. Jadi, aku bantu saja ^^” ucapku basa-basi.

“Gamsahamnida” tunduknya malu.

“Kau sendiri? Kemana orangtuamu?” tanyaku.

Dia justru menunduk lebih dalam. Sepertinya dia menangis.

“Kau tak apa?” tanyaku.

Dia mengangguk dan menghapus air matanya.

“Ohya, mau aku temani jalan-jalan?” tanyaku. Kali ini aku melakukannya dengan tulus.

Yericha POV

Dari Gikwang tepatnya bantuan dari pacar Gikwang, Yoona-eonni akhirnya aku mendapatkan alamat Lee Donghae-songsaenim.

Bolehlah aku membuntuti guruku sendiri….

Saat aku kesana, aku melihat dua orang namja di pekarangan tepatnya lapangan basket kecil. Eh bukannya itu Choi Minho, ehm satunya siapa yah?

Tak lama kemudian dari dalam keluar seorang yeoja membawa minuman. Tunggu sepertinya aku kenal yeoja itu. Bukankah dia yang… dia kan guru yang kami kerjai waktu itu Kim Hyunjae.

Ada perasaan bersalah padaku, tapi aku justru tidak ingin meninggalkan tempat itu dan mengamati mereka. Namja yang tak aku kenal itu mendekati Hyunjae-eonni yang baru keluar dan mengambil minuman yang disodorkan Hyunjae-eonni.

Minho pun berhenti bermain dan mengambil minuman yang ada di nampan, selesai minum dia langsung meletakkan gelasnya kembali dan bermain. Sedangkan, namja itu dan Hyunjae duduk memperhatikan Minho bermain.
Ini apa? Kenapa mereka bisa seakrab itu? Apa hubungan Hyunjae dengan Minho? Dan kenapa mereka semua berada di rumah Lee Donghae-songsaenim.

“Hei… kau sedang apa mengendap-endap disitu?” aku terlonjak kaget dan menemukan seorang namja aisshhh… manis, cute, wowh… tengah menatapku aneh.

“Eh..eh..” Belum sempat aku menjawab. Dia mengernyitkan dahinya dan malah menyeretku menemui mereka.

“Hyung… ada yang mengendap-endap di depan pekarangan rumah?” katanya.

“Kau” kata Minho kaget. Begitu juga namja itu dan Hyunjae.

Minho POV

Mati aku… Bisa habis riwayat kami. Jika sampai ketahuan… tutup buku semuanya.

“Anyeong” sapa Hyunjae tersenyum ramah.

“An..an..anyeong” balas Yericha.

“Jangan takut. Kemarilah” kata Hyunjae dan menarik tangan Yericha.

“Ada urusan apa kemari?” tanya Hyunjae.

“Ehm..ehm..ehmmm…” Yericha bingung mau bilang apa.

“Katakan saja” bisik Hyunjae.

“Aku ingin berterimakasih pada Lee Donghae-songsaenim” jawab Yericha.

“Songsaenim????” Taemin agak kaget dengan kata-kata itu.

Aku buru-buru menutup mulutnya dan menatapnya tajam agar tidak banyak berulah.

Taemin mengangguk tanda mengerti….

“Owh… Donghae-hyung sedang tak ada di rumah. Kau mau titip salam katakan saja pada adiknya” kata Key dan menunjuk Taemin.

Yericha bingung dan menatap kami semua bergantian.

“Apa hubungan kalian semua?” tanya Yericha.

Mampus… Bagaimana ini?

Key POV
“Apa hubungan kalian semua?” tanya Yericha.

Bukan pertanyaan sulit. Aku tak akan berbohong hanya sedikit mengolah kata. Apa gunanya jadi mahasiswa hubungan internasional kalau tidak pandai mengolah kata.

“Taemin ini hobae Hyunjae saat Hyun masih SMA di Shinil Highschool. Dan aku ini namjachingu Hyunjae, Minho sendiri adalah teman Taemin. Jadi, jika kebetulan kami berkumpul disini itu wajar, rumah Taemin sudah menjadi markas bermain kami sejak dulu” jelasku sambil menatap Taemin.

Taemin mengangguk lemah.

Aku tak berbohong memang benar Taemin hobae Hyunjae. Minho jelas teman Taemin karena mengenal dua hyungnya Lee Donghae dan Lee Gikwang ditambah lagi dulu Seoul Highschool sekolahku pernah mengadakan acara bersama Shinil Highschool. Ceritanya bisa klik di ff oneshot Love Scenario . Hehehe…. 100 untukmu Key. Bangga….

“Oh….” Yericha hanya ber-oh-oh ria.

Minho POV

Key bisa sekali yah menjelaskan dengan jujur hanya dengan sedikit mengubah cara penyampaian. Meski, ada poin-poin yang sedikit terlewat. Untungnya, Yericha tidak terlalu sadar.

“Minho, kalau begitu aku masuk dulu yah?” tanya Taemin.

Aku akui Taemin mewarisi otak Donghae dan Gikwang, mudah mengerti situasi demi keamanan sendiri. Parah….

“Aku ikut Taemin masuk yah eonni, hyung”

Aiiissshhh…. Sial Key dan Hyunjae terlihat menahan tawa. Bencana memanggil mereka seperti itu.

“Ya… Masuk sana” kata Key dengan senyum kurang ajar.

Sesampai di dalam Taemin ku ajak bicara. Aku tak menjelaskan secara detail kami balas dendam hanya kami bilang cukup dia tahu dan tak membocorkan identitas kami sebenarnya atau jika sampai dia keceplosan maka yang harus dihadapinya adalah Kyuhyun. Taemin jelas menelan ludahnya, dia kenal benar watak menakutkan Kyuhyun.

“Baiklah. Aku akan jaga mulutku, tapi…..”

“Tapi apa? Sudah bicara saja dengan Kyuhyun-hyung” kataku seraya memencet no. telpon Kyuhyun.

“Eh…. Tidak usah, pokoknya tidak mengatakan apapun kan? Beres deh” kata Taemin.

Hahahaha… Memang Kyuhyun pantas dinobatkan sebagai Prince Lucifer….

“Ngomong-ngomong, Taemin mau ikut dalam game?” tanyaku.

Nana POV

Hampir tiap hari, aku menunggu namja itu datang. Dia bilang dia akan cukup sering ke rumah sakit untuk menemui dokter yang mengontrol kesehatan yeodongsaengnya. Saat itu aku melihatnya sedang berbicara… Lho kok dengan dokterku?

“Bagaimana keadaan Park Nana?” tanyanya.

“Dia sudah membaik mungkin 2-3 hari sudah bisa keluar rumah sakit. Namun, sementara harus menggunakan kursi roda sampai kakinya kuat untuk berjalan kembali” jawab dokter.

“Ohya, dokter kenapa saya tidak pernah melihat orangtuanya ya?” tanya Hyunjoong lagi.

“Sepertinya mereka sangat sibuk. Kami hanya melihat ibunya 2 atau kali menjenguknya. Ayahnya sama sekali. Justru teman-teman Nana lah yang sering kemari selama dia dirawat” jelas dokter.

“Begitu ya. Gamsahamnida” ucapnya.

Eumma… appa… kapan kalian akan menjengukku?

“Nana, kenapa melamun disini?” tanya Hyunjoong-oppa yang sudah berdiri di depan Nana.

“Tidak apa” jawab Nana.

“Eh…. Katanya kau boleh keluar rumah sakit sebentar lagi. Bagus kan?” tanyanya.

“Berarti setelah itu kita tak akan bertemu lagi?”

Hyunjoong POV

“Berarti setelah itu kita tak akan bertemu lagi?” tanya Nana polos.

“Pasti bertemu” kataku.

“Oppa janji?” tanyanya.

“Aku janji” kataku sambil mengacak rambutnya. Dia kelihatan sebal, tapi itu justru membuatku senang.

Hyera POV

Minho baik juga ternyata dia ehm… manis juga kok. Aku tersenyum-senyum sendiri saat memasuki gerbang sekolah. Namun, senyumku hilang ketika melihat seorang yeoja mencium pipi Minho. Siapa yeoja itu?
Sakit… Rasanya sakit…..

Kau sama brengseknya dengan Lee Joon. Semua pria sama saja membuat kau melayang dan menjatuhkanmu dengan keras.
Kau benar Lee joon, tak akan ada namja yang mencintaiku.

Minho POV

“Eonni, aiissshhh… Aku bukan anak-anak lagi” kataku pada Sooyoung, eonniku yang menyebalkan.
Dia malah terkekeh.

“Bye, Minho” katanya seraya melajukan mobilnya.

Tak lama aku melihat Gikwang datang diantar Yoona.

“Minho, titip Gikwang yah. Awas jika sampai dia melirik yeoja lain. Highheelsku akan melayang ke kepalanya” kata Yoona.

Gikwang terkekeh dan aku hanya mengangguk.

Yoona akan melajukan mobilnya, tapi Gikwang menyetopnya.

“Wei… Kau mau mati” teriak Yoona.

Gikwang menyeringai dan mendekati Yoona.

Cup….

Gikwang mencium bibir Yoona sejenak.

Ampun… mereka ini melakukannya di depan umum.

Gikwang langsung berlari ke arahku dan melambai ke Yoona.

“Kau itu Presma macam apa? Contoh yang buruk” kataku.

“Tidak juga sebentar lagi kami akan menikah kok. Yah, setidaknya setelah aku lulus” jawab Gikwang datar.
Untung saja ini masih pagi… Belum ada murid yang datang, tapi mata kami terbelalak ketika melihat Hyera.

“Get room please” katanya pada Gikwang.

Gikwang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Cho Minho, kau sama brengseknya” katanya.

Eh…. Maksudnya apa?

Kyuhyun POV

“Hyung, ini soal ujian untuk minggu depan. Ohya, kacaukan belajar mereka dan kita bisa membuat nilai mereka paling jeblok satu sekolah. Aku sudah meminta sekolah melakukan perbedaan cara pengumuman. Urutan nilai akan dimulai dengan nilai terendah. Aku mau mereka berlima bertengger di nama paling atas dari belakang. ha3333….” kataku pada Hyunjoong dan Donghae.

“Bailah, tak akan susah kok. Ajak dia jalan-jalan dan lupakan ujian” kata Jjong.

“Nana, sepertinya aku tak perlu bertindak lebih jauh. Selama dia dirawat banyak pelajaran yang dia tinggalkan”

“Yericha, bisa diatur” kata Donghae.

“Hyera urusan Minho dan Minra, kita belum melakukan sesuatu padanya. Aku masih berpikir perlukah kita menghukumnya juga” kata Kyuhyun.

Yesung yang berada disitu terlonjak.

“Memangnya kenapa?”

Minra POV

“Sudah aku bilang jangan pernah panggil aku oppa. Aku bukan kakakmu!” teriak Changmin.

“Changmin, jaga bicaramu” teriak appa.

“Selamanya tak akan aku akui kau adikku dan ibumu juga bukan ibuku. Ingat itu” teriak Changmin sambil berlalu.

Berapa tahun lagi, oppa. Berapa tahun agar kau menerimaku. Harusnya aku tak pernah lahir sehingga tak pernah ada dalam hidupmu.

Kyuhyun Rest Me In SHINee’s Dorm?!

Minn’s POV

  Aku berjalan pulang dari dorm Suju. Aku habis belajar matematika hari ini – seperti biasa. Aku berjalan menyusuri jalan menuju rumah. Setibaku di depan gerbang, aku merogoh-rogoh sakuku, mencari kunci pagar. Chamkkaman! Mana kunciku?! Aku merogoh saku jaket, saku seragam, tasku, tapi nihil. Kunciku hilang! Aku berpikir sejenak. Kutinggal di mana ya kunci itu?

  Setelah kurang lebih lima menit aku berpikir, aku teringat di mana kunci itu! Segera kutekan tombol-tombol diponselku – yang nomornya kuhafal diluar kepala.

  “YOBOSEYO?!” sapaku begitu terhubung.

  “Ya! Kau ini berteriak begitu lantang walaupun jarak kita sangat amat jauh! Wae keurae?” omelnya.

  “Kau di mana sekarang?” tanyaku terburu-buru. Jangan sampai dia…

  “Tsk! Kita baru saja bertemu sejam yang lalu, kau rindu padaku?” tanyanya. Aku mendesah pelan. Besar kepala nih orang!

  “Hish! Kau di mana sekarang?? Jawab saja!!!” seruku.

  “Di bandara. Sebentar lagi akan masuk ke dalam pesawat,” jawabnya. Oh no!

  “Aish! Jinjja?! Eotteohke…?” tanyaku lebih pada diriku sendiri.

  “Waeya?” tanyanya heran. Aku berdecak kesal.

  “Ck! Kunci rumahku tertinggal di dorm mu! Bukan. Tepatnya kamarmu! Bagaimana ini? Aku tidak bisa masuk ke dalam. Aku mau tinggal di mana?” tanyaku.

  “MWO????!!! Ya! Neomu ppaboya! Kau bisa mati beku terus berada di luar rumah dingin-dingin begini! Aish.. Ah! Tunggu sebentar,” ia mematikan teleponnya. Eomma!! Eotteohke?! Mungkin nggak kalian pulang sekarang dari China? Atau eonni pulang dari Singapore?

  Trrrtt.. Trrtt..

  “Yoboseyo?” sapaku.

  “Minn-ah, sudah ada jalan keluarnya,” kata Kyuhyun.

  “Ne?”

  “Kau akan kutitipkan. Maksudku, sementara tinggallah di…”

  “MWO????!!” pekikku begitu mendengar tempatnya.

  “Mianhae. Changmin sedang tidak dapat dihubungi – lagipula tak mungkin aku menitipkanmu pada Changmin dan Yunho, karena Yunho sudah tertular Eunhyuk sepertinya. Lalu aku baru akan menelpon Victoria, tapi mereka sedang sibuk. Karena itu, mumpung menurutku kau aman-aman saja dengan mereka, kau kutitipkan pada Jinki. Tapi kau jangan fanatik di sana! Jaga diri! See ya!” ocehnya panjang lebar. Aku hanya menganga tak karuan. Aish! Jinjja?! Aku dititipkan pada SHINee? Aduh.. Aku merasa seperti Yoogeun ke-2. ==a

 

Kyuhyun’s POV

  Aish! Minn ini bagaimana sih? Masa iya kuncinya ditinggal di kamarku yang kuncinya sekarang sedang kubawa. Untung aku hanya sehari berada di Indonesia!

  Aku segera menghubungi Changmin. Tapi tidak terhubung. Lalu aku berpikir lagi. Mana mungkin kutitipkan Minn padanya?! Kan ada Yunho – mengingat ia pernah melihat ‘yadong’.

  Lalu aku beralih ke Vic.

  “Yoboseyo?” sapaku langsung.

  “Ne?”

  “Hah! Thanks God! Victoria! Aku bisa tidak minta tolong?”

  “Ya?”

  “Aku ingin…,” aku bilang bagaimana ya? Seingatku member f(x) belum ada yang tahu kalau Minn ini pacarku. Aku hanya pernah bilang pada Changmin dan Jinki.

  “Kyuhyun-ssi? Kau masih di sana? Kami sedang sibuk. Bisa cepat? Mau apa?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

  “A-ah.. kau sibuk? Uh.. Tidak jadi, terima kasih,” aku menutup ponselku. Sibuk ya? Nanti Minn merepotkan.

  Trrrtt.. Trrrt…

  “Yoboseyo?” jawabku asal-asalan.

  “Hyung? Kau kenapa?” tanya orang di ujung sana. Jinki?

  “Jinki? Ah! Kebetulan sekali!” seruku.

  “Kebetulan apa?”

  “Bisa minta tolong?”

  “Ne?”

  “Bisa titip Minn di dorm kalian? Hanya untuk semalam,” pintaku langsung.

  “N-ne? Menginap di dorm? K-kenapa?” tanyanya.

  “Kuncinya tertinggal di kamarku dan… Yah, aku sedang di bandara sekarang. Jemput dia di depan rumahnya. Gomawo Jinki-ah,” aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Jinki. Aku segera menghubungi Minn dan memberitahunya tentang itu.

***

Minn’s POV

  Aigoo.. Dingin sekali di sini! Walaupun ini musim panas, hujan juga sering turun. Tadi sempat gerimis untuk lima belas menit. Jadi aku agak basah.

  “Minn-ah!” panggil seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Onew sudah ada di sana.

  “Onew?”

  “Kau pikir aku Kyu?” ia tersenyum. Aku menggeleng.

  “Bukan.”

  “Kajja! Kau ditunggu di dorm kami,” ia menarik tanganku. Aku mengikutinya.

  Akhirnya aku pun Tiba di dorm mereka. Mereka sedang duduk-duduk di ruang tengah. Huh? Kupikir mereka sibuk.

  “Annyeong, Minn-ah!” sapa Key, Minho dan Jonghyun. Taemin melirik ke arahku lalu membulatkan matanya. Ia berlari ke arahku.

  “Noona!” serunya. Hey! Aku mana bisa dipanggil noona? Aku jauh lebih muda darinya! ==a

  “Aku bukan ‘noona’, aku lebih muda kurang lebih tiga tahun denganmu,” gumamku.

  “Uh? Kukira pacar Kyuhyun hyung seharusnya kupanggil noona,” ia cemberut. What?! Dia tahu? Seingatku yang tahu hanya Changmin dan Onew. Aku melirik tajam ke arah Onew yang masih berdiri di sisiku. Ia tersenyum bersalah.

  “Hehehe,” ia meringis.

  “Noona neomu yepposeo!” Taemin malah menyanyikan ‘Replay’. ==a

  “Aku merasa tua,” gumamku kesal. Ia terkikik.

  “Kalau gitu kau panggil aku oppa,” ia menyentuh kepalaku. Hah? Oppa? Aku tidak suka memanggil orang dengan sebutan oppa.

  “Kupanggil ‘sunbae’ saja, ya?” pintaku.

  “Uh? Formal sekali? Memang kau memanggil Kyuhyun sunbae? Harusnya kau memanggilnya oppa,” ia menasihatiku. Memanggil Kyuhyun dengan sebutan oppa terasa aneh di telingaku.

  “Aku memanggil namanya langsung kok,” ucapku jujur. Mereka tersentak kaget.

  “Ckckck.. Kau ini beneran pacarnya atau bukan sih?” aku hanya meringis.

  “Ahh! Sudahlah. Ayo makan malam,” ajak Onew. Kami mengangguk dan kami pun pergi ke ruang makan. Di meja makan sudah tersedia beberapa jenis makanan. Akhirnya kami menyantap makanan itu.

  “Minn-ah, kau sejak kapan pacaran sama Kyuhyun hyung?” tanya Jonghyun. Er? Kapan ya? Waduh.. Aku lupa.

  “Eeehh?? Hnnn.. Kapan ya?” gumamku. Tiba-tiba Taemin dan Minho makan tersedak.

  “Uhuk! Uhuk! Mwo? Kau lupa?” Minho membelalak selagi meminum airnya. Aku hanya menaikkan pundakku. Memang aku lupa kok.

  “Kalau pertama kali kalian bertemu?” tanya Key. Aku berpikir lagi. Ennn.. Kapan ya?

  “Pokoknya saat itu aku sedang bersama dengan sahabatku,” jawabku menggantung.

  “Oohh…,” kata mereka bersamaan.

  “Kalian aneh,” ucap Key.

  “Menurutku malah lucu,” tambah Onew.

  “Kalian tidak terlihat seperti orang pacaran,” tambah Taemin. Khekhekhe..

  “Kalau terlihat seperti itu wartawan sudah akan memberitakannya tidak hanya di Korea, tapi bisa sampai ke seluruh Asia!” seruku terkikik. Mereka pun ikut mengiyakan.

  Tiba-tiba ponsel Onew berdering. Ia mengangkat teleponnya.

  “Yoboseyo, hyung? Oh.. Ne..,” ia menyerahkan ponselnya padaku. “Kyuhyun hyung.”

  “Yoboseyo?” sapaku.

  “Minn-ah? Gwaenchanha?”

  “Gwaenchanha. Wae?”

  “Aniyo. Cuma ingin mendengar suaramu. Kau sudah makan?”

  “Sudah. Kalau ka…tchi!” tiba-tiba aku bersin-bersin.

  “Kau sakit?”

  “Gwaenchanha. Tadi cuma kehujanan.”

  “Jaga kesehatan. Banyak makan. Banyak istirahat. Besok kau baru bisa pulang,” ceramahnya. Kok malah dia yang menceramahiku?

  “Aku baik-baik saja. Besok juga akan sembuh. Kau sendiri jangan lupa makan dan istirahat! Makan sayur! Buah! Jangan terlalu lama main game!” omelku.

  “Ne.. Kau ini bawel sekali,” ia terkikik.

  “Enak saja bawel?! Memang kau mau sakit apa? Kalau tidak, turuti saja kata-kataku,” seruku kesal.

  “Iyaaaa~ Saranghae! Bubbay!!” serunya di ujung sana. Aneh. ==a

  “Nih. Gomawo, Onew sunbae,” aku menyerahkan kembali ponselnya pada Onew.

  “Hehehe.. Cheonmaneyo,” balasnya tersenyum. Aigoo, kapan Kyu akan berpipi chubby sepertinya ya? ==a

  “Noona.. Eh, maksudku Minn-ah,” panggil Taemin. Aku melihat ke arahnya. Tapi tidak hanya dia yang sedang menatapku aneh. Jonghyun, Minho dan Key juga menatapku aneh.

  “Apa?” aku bergidik ngeri melihat mereka.

  “Ternyata kalau kau sedang berbicara dengannya lebih terlihat seperti pacarnya,” Taemin tersenyum nakal. Yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Haish!

  “Apa-apaan sih! Lupakan,” aku mengibas-kibakan tanganku.

  “Oh iya! Foto ciuman itu bagus sekali, lho! Aku sampai iri pada Kyuhyun hyung,” Taemin tersenyum nakal. WHAT?! Mereka juga tahu foto itu?!

  “F-foto?” aku melirik tajam pada Onew. Ia hanya terkikik.

  “Iya. Sepulang kalian bertiga pergi, Onew hyung menunjukkan fotonya pada kami. Lucu sekali,” Jonghyun tertawa lebar.

  “Mwo?! S-siapa lagi yang tahu?” tanyaku. Bahaya nih!

  “Tidak ada. Hanya kami,” kata Key diikuti anggukan Minho. Aku mendesah lega. Untung saja!

  “Memangnya kau ingin siapa lagi yang tahu?” tanya Onew.

  “Andwae! Tak boleh ada lagi yang tahu!” seruku. Mereka hanya terkikik.

  “Aigoooooooo… Ayo kita istirahat. Aku sudah capek,” ajak Key. Aku pun diantarlan ke kamar kosong untuk istirahat. Aku capek sekali. Untung saja besok hari minggu. Aku tak perlu repot pergi ke sekolah.

 

SHINee’s dorm, Seoul, South Korea, 09.00 KST

  “YA! HWANG MINYEON! IREONA!!” panggil seseorang mengguncang tubuhku hebat. Aigoo! Siapa sih?! Berisik sekali!

  “Berisik!” aku memukul wajah seseorang.

  “Aish! Jinjja! Ya!! Minn-ah! Ireona!” teriaknya lagi. Aku masih memejamkan mataku. Aish! Siapa sih? Aku tak biasa dibangunkan. Aku melah menendang tubuh orang itu.

  “IREONA!!!!!” teriaknya menjadi-jadi. Aku terus menendangnya. Ia hampir terjatuh, tapi malah menarik lenganku.

  Brukk!

  “Aaaarrrgh!!!” erangku selagi membuka mata. Kyuhyun sudah berada di bawahku sekarang. Mwohae?! Kyuhyun??!!

  “Ya! Kau ini disuruh bangun susah sekali!” ia mengomel.

  Brakk..

  “Siapa yang jat…? Lho?” member-member SHINee dan beberapa member Super Junior sudah ada di depan pintu kamar menatap kami di lantai – Kyuhyun di bawah, aku di atas.

  “Ohh.. Kami sepertinya mengganggu, permisi,” Donghae sunbae hendak menutup pintunya. Aku  segera berdiri.

  “T-tunggu! K-kami nggak lagi ngapa-ngapain kok,” ucapku tergagap-gagap. Aigoo! Mereka ini sunbae-sunbae usil! =3=

  “Cih! Kau ini! Ayo kita pulang ambil kuncimu!” seru Kyuhyun mengetuk-ngetuk keningku. Aku hanya cemberut. Menyebalkan!

  Kami pun pulang ke dorm Suju dan mengambil kunciku. Aku ingin segera sampai ke rumah.

  “Minn-ah,” panggil Kyu yang mengantarkanku pulang.

  “Ne?”

  “Ini hadiah. Aku beli di Indonesia. Lain kali kau harus ikut aku,” ia menyerahkan sebah kotak berisi sebuah ornamen dari kayu berbentuk grand piano. Lucu.

  “Gomawo,” gumamku. Ia mengelus-elus rambutku.

  “Sudah kubilang, padaku kau tak perlu bilang gomawo terus,” ucapnya. Aigoo! Ia terlihat lucu, lebih lucu dari Onew kemarin! Aku mencubit pelan pipinya dan masuk ke rumah. Hehehe.. Hari yang melelahkan.

 

THE END

Allo~! hoho… maaf updatenya lama… isinya rada geje pula.. soalnya cuma pelampiasan soalnya ga bisa nonton KIMCHI plus ga ada kerjaan selain tiduran karena sakit 😦 *poor me
Hope U Like It..^^

Gomawo

%d bloggers like this: