Letter Of Angel XX (BLUE)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIV

Background Song :

Listen it and find the chemistry

Tiffany’s View

Aku terbangun dan menemukan diriku di kamar yang tak aku kenal. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tiffany di sinilah dirimu sekarang. Apa yang kau harapkan melihat Siwon di sampingmu?
Tok…tok..tok…
Seseorang mengetuk pintu dan kemudian aku melihat Jessica membawakanku sarapan.

“Maaf merepotkanmu” kataku sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kita teman kan?” ujarnya sambil tersenyum riang, aku pun membalasnya dengan senyuman.

“Mashita” pujiku.

“Hehehe… Bukan aku yang memasaknya. Emmonim yang memasaknya” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Eommonim? Aku jadi ingat namja cantik kemarin. Aku jadi ingin menggoda Jessica.

“Oh… Eomma dari namja yang kemarin yah? Wah… wah berarti sudah mendapat lampu hijau. Kalau begitu jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian yah”

“Ani.. Aniya. Taemin harus menjadi dokter dulu dan mungkin baru 5 tahun lagi, kalaupun hubungan kami bertahan, tapi aku harap iya” Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“I wish you two could make it real. Do your best to keep your relationship. Promise me” Aku menyodorkan jari manis tangan kananku, dia menyambutnya dan kami melakukan pinky promise.

“Sica….” Taemin melongokkan kepalanya dan memanggil Jessica. Jessica meninggalkanku sejenak untuk berbicara dengan Taemin, tak lama dia kembali duduk di pinggir ranjang.

“Taemin pamit. Dia ada kuliah pagi. Dia titip salam untukmu” Tanpa aku minta Jessica menjelaskan. Aku hanya mengangguk.

Jessica juga pamit dan meninggalkanku di apartemennya. Dia semula mengajakku ke rumah sakit daripada aku sendiri, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau bertemu orang-orang dalam keadaan seperti ini.
Sku melihat bayanganku di cermin. Mata sembab dan merah, wajah sayu dan pucat serta rambut acak-acakan. Tiffany….

(I’m singing my blues)
The love that I have sent away with the floating clouds, oh oh
Under the same sky, at different places
Because you and I are dangerous
I am leaving you
One letter difference from ‘nim’(T/N)
It’s cowardly but I’m hiding because I’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love


Jiyeon’s View

“Oppa, hari ini setelah kuliah aku ingin ke tempat Sica-eonni. Boleh kan?” tanyaku pada Donghae oppa yang sedang menyetir.

“Baiklah. Nanti aku antar, setelah mengajar jam pertama aku kosong sampai siang” ucap Donghae oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ne” aku mengangguk senang.

“Kau sudah menelpon Jessica kalau kau ingin berkunjung?” tanyanya memastikan.

“Sudah, oppa. Tadi pagi aku sudah menelponnya, dia mengatakan aku bisa langsung masuk apartemennya. Nanti Taemin juga akan kesana kok, dia diminta Sica-eonni untuk mengambilkan beberapa barang Sica eonni yang tertinggal”

Donghae mengangguk sesaat.

Kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Donghae membuka pembicaraan lagi.

“Kau suka peony yang diberikan ahjumma kemarin?” tanyanya. Mukaku langsung bersemu merah.

“Kalau boleh tahu arti peony itu apa?” Kali ini dia menatapku, kami sedang berada di lampu merah. Aku mengalihkan pandanganku antara akan atau tidak menjawab pertanyaannya.

Tin…Tin….Tin…

Donghae’s View
Tin…Tinn…. Tinnn….
Aku menunggu jawaban Jiyeon sampai tak sadar lampu sudah menjadi hijau. Aku segera menjalankan mobil dan menundukkan kepala kepada pengemudi lain.

“See, you gave us trouble” kataku sebal.

Tunggu… Sejak kapan Lee Donghae menjadi seperti ini. Jiyeon sedikit kaget dengan perkataanku. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku.

“Syukurlah, aku pikir Oppa sakit” katanya lega.

Kami berdua saling berpandangan sesaat dan tertawa. Aku menepikan mobil takut bila terjadi apa-apa ketika mengemudi dalam keadaan ini.

“Baiklah, sepertinya hari ini bagaimana kalau kita sedikit telat” ajakku. Jiyeon membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.

“Bagaimana ?” tawarku lagi.

Dia menarik nafas panjang.

“Oppa, harus mengajarkan? Kalau kita terlambat nanti bisa susah” katanya.

“Hei, siapa yang akan terlambat masuk kelas” Bukan itu yang terlintas dalam pikiranku.

“Lalu?” tanyanya bingung.

Aku membisikkan sesuatu di telinganya. Dia mengangguk mengerti.

“Oh, begitu yah. Aku setuju” katanya riang.

“Aku pikir kau mengerti isi otakku, ternyata tidak” godaku.

“Memangnya aku pembaca pikiran apa? Bagaimana aku tahu bial oppa tidak mengatakan isi pikiran oppa padaku” dia menggembungkan pipinya.

“Ehmm… Ada yang ingin aku katakan” aku menarik nafas panjang. Jiyeon memperhatikanku dengan seksama.

Aku kembali menarik nafasku dalam. Aku mengambil tas kerjaku dan mengeluarkan 1 tangkai bunga.

“I don’t know from where should I explain this all. It’s gloxinia, it means love at first sight. It was my feeling to Yoona” Jiyeon menarik nafas panjang dan mengepalkan tangannya, dia kemudian menatapku memintaku untuk meneruskan kata-kataku.

“That was my feeling, I couldn’t ignore it” Aku gantian menarik nafas. Mata Jiyeon sudah berair.
“I…..” Jiyeon memotong kata-kataku.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintainya dan tak bisa melupakannya?” ujarnya tersenyum sambil menahan airmata.
Aku terdiam.

“Aku bisa menunggu, aku orang yang sabar kok” sambungnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

Donghae… now or never… Aku menarik Jiyeon dalam pelukanku. Dia menangis di dadaku, aku menggenggam tangan kanannya dimana cincin pernikahan kami tersemat di jari manisnya.

Aku merogoh hiasan clay dari saku jasku dan meletakkannya di tangannya. Dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku sambil mencoba melihatku.

“Edelweiss, itu edelweiss. Bunga abadi, bunga yang hanya akan tumbuh di pegunungan tinggi. Edelweiss bunga para pendaki. Edelweiss bunga kecil yang terus hidup dan bertahan di daerah dingin dan ekstrim. Bunga yang selalu memberi warna dan kedamaian bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih puncak tertinggi. Eddelweiss bunga sederhana yang menemani Sang Gunung untuk mengarungi waktu dan musim. Dia hanya akan hidup di sana, dia tak akan meninggalkan Sang Gunung, dia hanya hidup dan bernafas bila berada di sana. Edelweiss memang tak sekokoh Gunung itu sendiri, edelweiss terkesan lembut, sederhana, rapuh dan mudah terluka. Namun, dengan segala kelemahannya, edelweiss memberikan nafas kesederhanaan, pertahanan, ketulusan dan kekuatan serta senyuman. Dia tak perlu sekuat dan sekokoh Gunung, dia cukup menjadi dirinya sendiri. Kau bukan gloxinia-ku, tapi kau lah edelweiss-ku. Step by step I wish I could….” Kata-kataku terpotong ketika aku merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirku.

“I’ll be your edelweiss. That’s always love, love and love you always no matter what. I’m waiting for you till one day you open your heart” Aku menutup mataku sesaat lega.

“Oppa” Aku menatap Jiyeon.

“Kita ke tempat Siwon-oppa yuk. Aku punya rencana, maksudku kita akan membuat rencanamu lebih sempurna” katanya. Dia menjelaskan semua rencananya.

“Tapi kuliah dan…”

“Aku punya 25% hak untuk tidak mengikuti perkuliahan kan? Sekali bolos saja tidak masalah. Lagian hari ini ”

“Tunggu, aku punya cara lain” Aku segera menghubungi Jessica, Hara dan adik Kyuhyun, Jieun.

“Jelaskan semua pada mereka. Kau bisa mengandalkan mereka” Akhirnya kami melakukan teleconference.

“Ne, aku mengerti Donghae uisha” kata Jieun.

“Baiklah, Donghae-oppa. Beres, serahkan saja padaku” ucap Hara bangga.

“Asal Tiffany eonni tersenyum semua akan aku lakukan” ujar Jessica.

“Lalu, Siwon oppa bagaimana? Siapa yang akan menemuinya?” tanya Jiyeon. Kami diam sejenak.

“Biar aku dan Hara yang menemuinya. Ada yang harus aku bicarakan juga dengan Hara” kataku. Jiyeon mengangguk.

Siwon’s View

“Sajangnim. Tuan Lee Donghae dan nona Goo Hara ingin menemui anda” Aku mengerutkan dahiku, ada urusan apa mereka berdua kemari.

“Suruh mereka masuk” ujarku pada sekretaris.

Donghae dan Hara masuk, aku mempersilahkan mereka duduk. Belum lama mereka masuk, tiba-tiba Seunghyun dan Pamanku, ayah Seunghyun.

Hara terkejut, tetapi Donghae hanya tersenyum.

“Seunghyun, Paman ada urusan apa datang kemari?” tanyaku. Namun, kejutan tak sampai di situ. Sekretarisku mengantarkan Kyuhyun dan Changmin ke ruanganku. Tunggu ada apa ini?

Donghae sepertinya mengerti kebingunganku. Dia berdiri dari kursi dan menggenggam tangan Hara, menuntunnya ke dekat Kyuhyun dan meletakkan tangannya di tangan Kyuhyun.

“Kyuhyun, ini Tuan Besar Choi dan Choi Seunghyun. Ayah dan kakak dari Goo Hara” Kyuhyun sedikit terkejut, tetapi kemudian membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri.

“Hara, time to makes up” kata Donghae. Kyuhyun mengangguk. Paman, Sunghyun, Kyuhyun dan Hara keluar ruangan. Menyisakan aku, Changmin dan Donghae.

“Itu tadi apa?” tanyaku. Donghae tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mempertemukan keluarga yang terpisah dan ingin melihat senyuman di wajah adikku” kata Donghae.

“Adik?” tanyaku.

“Hara. Sudahlah sekarang yang terpenting adalah Tiffany. Aku dan Jiyeon punya rencana untuk membuat kalian berbaikan. Berterima kasihlah juga pada Changmin, tanpa dia aku ragu kita bisa membuat semua menjadi beres” Donghae mengedipkan matanya ke arah Changmin, yang hanya memberinya death glare.

“Lalu mengenai Hara dan…..” Donghae memotong perkataanku.

“Choi Siwon, sekarang saatnya mengurus urusanmu dulu. Aku akan jelaskan lain waktu padamu tepatnya pada kalian semua. Iya kan Changmin?” Changmin seperti ingin mencekik Donghae. Entahlah aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua rencana Donghae dengan saksama.

“APA???????” teriakku di akhir.Changmin hanya menatapku iba.

“A-KU SE-RI-US” kata Donghae penuh tekanan di tiap kata.

“Jika tidak berhasil bagaimana?” tanyaku takut.

“Serahkan pada Shim Changmin” kata Donghae dan Changmin hanya mlengos.

Tiffany’s View

“Sica, bagaimana bisa kau cemburu. Aku dan Jiyeon sudah lama berteman dank au tetap tak mengerti”

Aku segera keluar kamar, Taemin dan Jessica berteriak hebat.

“Berteman? Hanya berteman? Kau tak pernah melupakan Jiyeon, selalu saja dia di otakmu. Kau pikir aku tak sakit hati apa saat melihat kalian bersama” balas Jessica.

“Sica…. Dia sudah punya Donghae uisha dan aku memilikimu. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan bahwa kami tak memiliki perasaan selain teman?” teriak Taemin lagi.

Jessica menangis dan jatuh terduduk. Taemin berusaha menenangkan Jessica dan berusaha memeluknya, tetapi Jessica menolak dan justru tambah keras menangis. Aku mendatanginya dan segera memeluknya. Aku menatap Taemin, matanya kosong. Dan dia sudah siap meneteskan air mata, tetapi dia menahannya.

“Eonni” seseorang masuk ke apartemen Jessica dan kaget saat melihat Jessica. Sepertinya aku pernah melihat gadis muda ini, tapi entah dimana aku tak yakin. Jessica berganti memeluknya dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Taemin tetap berdiri di depan kami, menunggu Jessica untuk menenangkan diri.

“Aku rasa eonni salah paham” kata gadis itu.

“Tidak, Jieunie. Taemin masih mencintai Jiyeon sampai sekarang” Jessica tetap kukuh.

“Mencintai Jiyeon sampai sekarang? Darimana teori bodoh itu , Sica. Iya dulu aku mencintainya, tapi sekarang kau yang aku cintai” teriak Taemin.

“Katakan padaku kau sama sekali tak mencintainya” teriak Jessica. Taemin diam membisu.

The winter had passed
And the spring has come
We have withered
And our hearts are bruised from longing

“Bawa aku darisini aku tak ingin melihatnya” kata Jessica. Dia memaksaku dan Jieun untuk membantunya berdiri. Taemin tak mampu berkata-kata.
———————————————————————————-
Tanpa Tiffany ketahui Taemin menelpon Donghae. “Done, uisha. Plan A sukses”
“Sekarang plan B”
———————————————————————————-
“Pak, tolong antarkan kami ke alamat ini yah” kata Jieun pada sopirnya. Sopirnya hanya mengangguk. Jessica sekarang tertidur setelah habis menangis.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Jieun. Jieun hanya tersenyum.

Jessica akhirnya terbangun. Dia masih sedikit terisak, tetapi sudah lebih baik.

“Aku juga pernah seperti itu eonni” kata Jieun. Kami berdua menatapnya. Lagu yang tepat di saat yang sangat menyakitkan. Big Bang Blue mengalun memenuhi space di mobil ini.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go

“Layaknya lagu ini saat itu aku bahkan merasa tak bisa merasakan hatiku. Aku tak bisa menangis karena air mataku sudah habis. Terlalu sakit bagiku mengakui kalau aku bukan siapa-siapa bagi Changmin. Apa yang bisa aku katakan? Beda usia kami cukup jauh. Aku masih kelas 2 SMA dan dia sudah menjadi seorang pengacara. Dia dikelilingi banyak wanita cantik, modis dan tentu saja pintar. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam, tapi dia membuatku percaya kalau aku lebih baik dari mereka semua. Sampai suatu hari aku menemukan foto dia mencium seorang wanita di bar. Saat itu hatiku benar-benar sakit, aku mengatakan padanya aku tak mau menemuinya bahkan aku melempar vas bunga ke arahnya. Changmin datang padaku dan aku melihat pelipisnya berdarah, aku yang semula meronta akhirnya luluh. Dia menjelaskan semuanya dan minta maaf karena masih menyimpan foto itu, dia minta maaf tidak bisa melupakan gadis itu, tapi itu bukan karena dia tidak mencintaiku. Bagaimanapun gadis itu pernah ada di kehidupannya, tetapi sekarang dan seterusnya dia bilang aku lah yang ada di hatinya dan memintaku untuk berjanji seberat apapun kami akan melaluinya bersama. Kami tak berjanji sehidup semati, tetapi aku berharap Tuhan yang melindungi cinta kami” kata Jieun sambil tersenyum.

“Masihkah Changmin-shi menyimpan fotonya?” tanyaku.

“Tidak, dia mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Namun, sekarang aku dan eonni itu berteman. Dia mengajarkan dan memberitahuku banyak hal tentang Oppa” jawab Jieun antusias.

“Kau bahagia?” tanyaku.

“As long as he tries his best to loves me. I guess that’s more than enough. Sometime he’ll hide all of trouble and solve them alone, he just makes sure not to make me worry and the best reason that I’d got why he kept those picture was to remain me, Jieun If you want to be the one in his life you must receive all his past or you will be spoiled girl who just dreaming about beautiful life ever after”

Pernyataan Jieun membuat diriku tercengang. Dia jauh lebih muda dariku, tetapi pemikirannya lebih dewasa mungkin dalam hal ini. Aku menangis dan mereka berdua memelukku. Aku menumpahkan segala isi hatiku pada mereka berdua. Bagaimana aku selalu memendam perasaan pada Siwon sejak kami masih kecil, saat aku bertemu dengannya pertama kali di acara jamuan di AS, bagaimana senyumnya dan caranya memperlakukanku, bagaimana aku sangat senang ketika ayahku menjodohkan kami, bagaimana hancurnya hatiku saat Siwon menceritakan dirinya dan Yoona setelah kami menikah, aku hanya berusaha menerima segalanya dan menjadi istri yang baik. Namun, aku menyerah ketika melihatnya di makam Yoona.

“Ada yang ingin aku ceritakan” Seseorang berkata pada kami dan membukakan pintu. Ternyata itu Donghae.

Jalan ini? Ini kan jalan menuju makam Yoona. Rasanya aku mau kabur saja, tetapi sebuah tangan menahanku dan sopir tadi melepas topinya. Siwon…….

“Listen my confession” kata Siwon. Donghae, Jieun, Jessica mengangguk. Di sana ternyata tidak hanya ada kami, tetapi ada Changmin, Taemin dan Jiyeon.

Jieun langsung berlari memeluk Changmin yang hanya tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya. Taemin mendekati Jessica dan mereka ???? Is it prank????

Donghae mengangsurkan tangannya pada Jiyeon dan disambut dengan senyuman hangat dan genggaman erat.

Donghae meminta kami semua berdoa di depan makam Yoona.

“Yoona, apa kabar? Kemarin aku dan Jiyeon belum sempat berbicara dan bercerita padamu. Kau tahu sekarang Mavin sudah 8 bulan, dia sangat pandai dan lucu. Yoona, aku ingin mengatakan padamu. Sarangahaeyo” Kerongkonganku tercekat. Dia mengatakannya di depan Jiyeon.

“Yoona, aku ingin berterima kasih karena kau melahirkan Mavin. Terima kasih karena Mavin, aku bertemu Jiyeon. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya dan aku berjanji kami akan menjaganya. You will always be my gloxinia, but my edelweiss is someone beside me now” ujar Donghae lancar.

Jiyeon tersenyum pada Donghae. Giliran Jessica dan Taemin.

“Aku tak pernah mengenalmu noona, tapi aku berterima kasih padamu. Meskipun, aku kehilangan Jiyeon yang lembut, baik, sopan, ceria….” Raut wajah Taemin sedikit berubah sedih dan Jessica memukul kepalanya. Taemin mengusap kepalanya.

“Tapi aku mendapat seorang gadis brutal, sadis, seenak sendiri, cengeng, manja dan yang jelas aku mencintainya” Dia memberikan wink pada Jessica.

“Seperti kata Donghae-shi aku senang kau melahirkan Mavin sehingga mengantarkan Donghae dan Jiyeon pada saat sekarang. Meskipun, aku sedikit sebal kenapa aku kehilangan Donghae uisha yang perfect dan mendapat pria aneh semacam dia, tapi aku bahagia” ujar Jessica dan menjulurkan lidah pada Taemin.

Jieun dan Changmin tidak berkata apa-apa. Mereka hanya berdoa dan mempersilahkan aku dan Siwon.

“Yoong” panggil Siwon lembut. Hatiku rasanya terkoyak.

“Perkenalkan ini Tiffany Hwang tepatnya Tiffany Choi. Dia istriku dan nyawa hidupku” kata Siwon. Aku menatap Siwon tak percaya.

“Daffodil kemarin?” ucapku tiba-tiba.

“That was the first and the last daffodil bouquet for Yoong. I told her that, even If you were not believe in me, I would not blame you. I just want to say…..”

Siwon mengalihkan pandangannya ke belakangan dan aku melihat mereka semua membawa buket bunga di tangan masing-masing. Dan sebuah selebaran…..

MIND TO BE MY SOUL…….

“I’ll try my best to love and protect you. I can erase Yoong from my memory, but I promise you that I’ll give you all happiness that you deserve. Yoong was my daffodil, but you are my irish. Irish is faith, wisdom, cherished friendship, hope, valor, my compliments, promise in love.” Siwon memberikanku kalung berliontinkan bunga Irish.

“Just for you” dia mengatakannya padaku. Siwon mencium bibirku cukup lama.

Romantis….

Indah sekali…..

I love this moment…

.
“Get room, please” Kami langsung melihat Changmin yang dipukul oleh Jieun.

“Kau ini mengganggu momen indah saja” kata Jieun sebal.

“LOVEY DOVEY PERVY maksudmu? Aku tidak akan membiarkan kekasihku yang innocent dirusak oleh makhluk Tuhan yang lain. Sudah cukup lovey dovey pervy dari 2 pasangan sebelahku” Aku melihat Jessica dan Taemin yang berpandangan dan Donghae dan Jiyeon yang saling berbisik.

“Ya!!!! Shim Changmin maksudmu apa?” teriak Donghae kemudian.

Taemin dan Donghae berlari mengejar Changmin. Aku dan Siwon tertawa. Changmin berhenti sejenak dan memandang aku dan Siwon.

“Hei, segera lahirkan bayi yang imut sebelum kau kedahuluan oleh makhluk-makhluk di belakangku” sambil tertawa. Pipiku memerah dan Siwon langsung mengikiti yang lain mengejar Changmin.
Jieun tersenyum pada kami bertiga.

“Maaf, dulu dia malaikat, tetapi sekarang dia iblis” katanya memamerkan evil smirk.

“Ohya, siapa yang membuat rencana ini?” tanyaku. Aku melirik Jiyeon, Jessica dan Jieun.

“Ehm , sebenarnya rencana semula tidak seperti ini. Namun, sepertinya Donghae oppa membuatnya seperti ini dan ….”

“Masalah prank?” ujarku.

“Tanyakan saja itu pada…..” Jiyeon dan Jessica menunjuk Jieun.

“Bukan.. bukan… bukan aku. Itu ide Changmin oppa. Dia bilang tak cukup jika membawa eonni dan Siwon oppa menjelaskan semuanya. Siwon oppa juga harus tahu bagaimana perasaan eonni” jawabnya sambil tersenyum.

“Yang menyusun scenario Changmin juga?”

“Kalau itu aku. Hehehe…… Padahal semula aku berpikir Sica eonni akan melempar barang-barang di apartemennya biar terlihat nyata, tetapi acting-nya sudah bagus hanya kurang seru” jawabnya dengan enteng.

‘Ya!!!!!! Pasangan iblis” teriak Jessica. Jieun langsung ambil langkah seribu dan berlari karena dikejar Jessica. Jiyeon menyanyikan lirik akhir Big Bang Blue.

(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang
(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang OH OH

Aku tersenyum dan meraih tangannya.

“Kisah cinta kita tidak seperti BLUE kan?” Dia mengangguk seraya tersenyum.

“Tidak selalu berjalan mulus, tetapi kita pasti bisa melaluinya”

You were my daffodil and she is my Irish

You were my gloxinia and she is my Edelweiss

I’ll make the blues to be shinning blues not the sorrow one.

Tagged: , , , , , , ,

13 thoughts on “Letter Of Angel XX (BLUE)

  1. iineey March 11, 2012 at 8:39 pm Reply

    Woaaaaaaa yg ditunggu2 akhirnya di publish juga…..

    Tapi ini belum finish kan?????

    Cozzz next part nya masih sangad dinanti

    Next part update soon
    Pleaseeee #puppy eyes

    ^^

  2. Dezztidini March 11, 2012 at 9:33 pm Reply

    Kyaaaa akhirny publish jga lnjtanNy….
    Next partny q tUnggu y chingu…
    Paling ska bca mOment haeji(donghaejiyeon)couple…hehe
    jngan lama”ya publish lanjtanya…
    Hwaithing… ;>

  3. kyula88 March 11, 2012 at 11:09 pm Reply

    waaa daebak as always eon! 😀
    aku terharu bgt bacanya, smpe berkaca2 jadinya 🙂
    lanjutannya jgn lama2 ya eon…
    Hwaiting! 😀

  4. […] Protected: Letter Of Angel XX (BLUE) […]

  5. Minkijaeteuk March 29, 2012 at 2:48 pm Reply

    akhir y akur juga n cara nyelesaiin masalah y pake cara yg spesial n banyak bala bantuan….
    seru……

  6. leehana15 April 6, 2012 at 7:26 am Reply

    Joha!!!
    aku salut ama mereka semua..
    di tengah perebutan Mavin(?)
    masih bisa berteman baik gtu…
    Part depan d tunggu ya..
    Fighting!!^^

  7. danna67 April 6, 2012 at 11:19 am Reply

    wkwkwkwkwk….pasangan iblis…jieun changmin kapan mrriednya…????? bahagianya 1 masalah udah selesai

  8. bummie April 24, 2012 at 7:17 am Reply

    waw…. moment donghae ama jiyeon nya lmyan banyak..kkk
    itu… arti dri bunga-bunga itu, aku baru tau.. hhee..
    romantis bgt…

  9. parkleni May 22, 2012 at 7:11 pm Reply

    mengharukan..

    Nice ff… 🙂

  10. […] Protected: Letter Of Angel XX (BLUE) […]

  11. dea May 24, 2012 at 11:06 pm Reply

    you know gardenia?
    that’s yours

    continue read to the next part!

  12. […] Protected: Letter Of Angel XX (BLUE) […]

  13. […] XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI, Part XXII, Part XXIII When I walked you back home, it was the house of another guy I […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: