Category Archives: SS501

Protected: Letter of Angel XXIII “Dawn”

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Letter of Angel XXI “Total Eclipse Of The Heart”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX

Background Song : Total Eclipse Of The Heart_Bonny Tiller (Original Song). Feel the emotion, it has many versions, but the origin I guess is the best one.


“Apa benar kalau Yoona melahirkan anak Siwon?”

“Ne, sajangnim” jawab bawahannya.

“Cari informasinya dan pastikan kau mendapatkannya hari ini”

“Ne. sajangnim” jawab bawahannya sambil membungkuk.

“Anak itu anak Siwon”

FLASHBACK

“Gugurkan anak itu” jawabnya santai.

“Tidak. Apapun yang terjadi saya tidak akan menggugurakan anak ini. Dengan atau tanpa Siwon, akan saya besarkan anak ini dengan tangan saya sendiri. Anda tak perlu khawatir, saya tidak akan mengganggu kehidupan Siwon lagi. Saya permisi”
———————————————————————————————
“Eomma, ayo cepat aku ingin bertemu appa”

“Sayang hati-hati jangan berlari. Nanti bisa jatuh”

“Ya!!!! Chanhee-ya….”

“Huwaaa…. Eomma”

“Chanhee…. Upz… Tidak apa-apa jagoan. Jangan menangis yah. Tidak apa-apa, Jagoan appa” Donghae menggendong Canhee dan aku membersihkan debu di bajunya.

“Myungsoo, tidak apa kalau kau berikan permenmu pada Chanhee?” tanya Jaejoong oppa pada Myungsoo yang berada di gendongannya.

“Chanhee Jangan menangis lagi. Ini untukmu” Myungsoo mengulurkan permen pada Chanhee. Chanhee tersenyum senang.

“Gomawo, Myungsoo hyung” Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“Sekarang kalian main berdua sambil menunggu Sungjong serta Kwangmin dan Youngmin yah”

“Iya, eomma” jawab Myungsoo yang langsung mengajak Chanhee ke taman rumah sakit.

Myungsoo dan Chanhee bermain dengan riang, tak lama Hara eonni dan Kyuhyun oppa bersama bayi kembar kecil mereka datang. Myungsoo dan Chanhee yang melihatnya segera berlari untuk melihat si kembar kecil.

Myungsoo menyentuh pipi gembul Youngmin dan kemudian berganti ke Kwangmin. Youngmin dan Kwangmin tidur nyenyak di keranjang bayi mereka.

“Donghae, Jaejoong, Kyuhyun” Kami menengok dan melihat Donghwan oppa datang bersama Jieun.

Sungjong berada di gendongan Jieun.
Sungjong minta turun dari gendongan ibunya dan ikut bergabung dengan Chanhee dan Myungsoo. Sungjong berhigh-five dengan Chanhee. Aku menyapa Donghwan oppa dan Jieun.

“Aku senang Chanhee dan Sungjong sangat dekat” kata Donghae.

“Aku harap mereka saling menjaga” tambah Donghwan.

“Sepertinya ada yang terkena virus cheesy” komentar Jaejoong.
Kami semua tertawa.
————————————————————————————
Tunggu mimpi apa ini? Apakah aku akan kehilangan Mavin? Apa kami akan kehilangan Mavin? Tidak… Mimpi ini terasa nyata, sangat nyata. Chanhee… Anak itu… Dia anakku dan Donghae-oppa, tapi dimana Mavin?. Tidak mungkin, dia pasti akan tetap bersama kami.

Aku segera menuju box bayi dan melihat Mavin yang tertidur. Tak terasa air mata membanjiri pipiku dan aku jatuh terduduk. Tuhan… Jangan ambil dia dari kami. Aku bisa merasakan Chanhee, apakah dia putraku di masa depan? Tuhan, bila Chanhee adalah masa depanku, aku mohon Mavin juga bagian dari masa depan itu.

“Jiyeon, kenapa kau menangis?” Donghae menyentuh pundakku dan aku langsung memeluknya.

“Oppa, katakan padaku kalau kita tak akan pernah kehilangan Mavin. Apapun yang terjadi dia akan bersama kita kan? Oppa… Katakan padaku” Tangisku semakin tak terbendung, Donghae oppa menuntunku ke ruangan lain.

Turnaround, every now and then I get a
little bit lonely and you’re never coming around
Turnaround, Every now and then I get a
little bit tired of listening to the sound of my tears
Turnaround, Every now and then I get a
little bit nervous that the best of all the years have gone by

Donghae’s View
Aku masih berada di ruangan kerjaku hingga aku mendengar seseorang terisak. Aku menuju ke kamar kami dan melihat Jiyeon menangis. Aku menghampiri dan menyentuh pundaknya, dia langsung memelukku. Aku terkejut saat dia secara jelas menyatakan ketakutannya untuk kehilangan Mavin. Aku menutunnya ke ruangan lain agar kami tak membangunkan Mavin yang sedang tertidur.

“Jiyeonie, apa yang membuatmu berpikir kalau kita akan kehilangan Mavin?” tanyaku setelah dia kembali tenang. Jiyeon menceritakan mimpinya, aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Jika benar itu masa depan kami, tidak mungkin itu masa depan kami kenapa Donghwa hyung bersama Jieun.

Itu tidak mungkin lalu dimana Changmin? Aku rasa mimpi Jieun hanya sebuah bunga tidur. Aku meyakinkan Jieun kalau itu semua hanya mimpi dan taka da yang perlu dikhawatirkan. Meski, sebenarnya dalam hatiku mungkin aku mengharapkan masa depan itu dengan begitu anak Donghwa hyung dan Jieun akan terlahir, tapi aku segera menghapus keinginan itu karena itu artinya Mavin juga tidak ada di masa depan kami.

Turnaround, Every now and then I get a
little bit terrified and then I see the look in your eyes
Turnaround bright eyes, Every now and
then I fall apart
Turnaround bright eyes, Every now and
then I fall apart

Siwon’s View

Sekretaris pribadiku Kwan ahjushi datang bersama sekretaris appaku, sekretaris Lim ahjushi.
“Tuan Muda, Tuan Besar ingin anda menghadap beliau sekarang juga” Melihat ekspresi Kwan ahjushi, ini semua pasti bukan hal baik.
Aku segera menuju ruang dengan papan bertuliskan President Choi di depannya.

“Sajangnim, ada urusan apa anda memanggil saya?”

“Siwon, meski aku presiden direktur, tapi aku tetap ayahmu. Kau diperbolehkan memanggilku ayah. Namun, bukan hal ini yang ingin aku bicarakan. Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang” Aku mengikuti arah pandangan ayah dan saat itu masuklah seorang pria muda seusiaku. Dari raut wajahnya aku berani bertaruh dia adalah orang yang keras dan berpendirian teguh.

“Siwon, kenalkan ini Pengacara Jung Yunho. Dia yang akan menjadi pengacara barumu mulai dari sekarang” Mataku membesar, aku tidak percaya apa yang aku dengar dan menatap ayah penuh tanda tanya.

“Choneun Jung Yunho imnida. Mulai dari sekarang saya akan menjadi pengacara untuk memenangkan kasus hak asuh putra anda”

Aku segera keluar dari ruang ayah tanpa memperdulikan teriakannya padaku.

Darimana appa mengetahui tentang kasus ini. Kenapa dia menunjuk pengacara Jung untuk menjadi pengacara baruku?

“Seunghyun. Kita harus bertemu ada yang harus aku bicarakan. Ini sangat penting” kataku.

“Aku juga ingin membicarakan sesuatu yang penting kita bertemu di café biasa” jawabnya mengakhiri telpon kami.

Ternyata Seunghyun tidak datang sendiri, dia datang bersama jaksa Kim Junsu.

“Ada apa ini? Kenapa jaksa Kim Junsu juga kemari?” Aku sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikanku, appa adalah orang yang bisa melakukan apa saja untuk mendapat apa yang dia inginkan. Firasatku mengatakan ayah telah melakukan sesuatu di luar perkiraanku.
“Kasus perebutan hak asuh sudah sampai di pengadilan tinggi. Berkasnya telah diajukan hari ini”
“Tunggu bukannya berkasnya memang sudah diajukan?” tanyaku.
“Memang tapi kami semula memperlambat prosesnya dengan mendahulukan kasus-kasus perdata dan pidana sebelumnya. Aku memilih menyelesaikan tumpukan kasus lain untuk segera diselesaikan dibanding kasusmu, tapi aku menerima perintah agar kasusmu segera disidangkan”

“Tunggu aku tak mengerti apa maksudmu?” tanyaku pada Seunghyun.

“Secara mudah kau dan Donghae akan segera bertemu di persidangan. Hari persidangan sudah ditentukan 2 minggu dari sekarang. Kau tahu sekarang, lalu apa yang tadi ingin kau biacarakan?”tanya Seunghyun.

“Ayah… Pasti ayah yang melakukannya” kataku geram. Seunghyun dan Junsu mendengarkan semua ceritaku. Junsu dan Seunghyun sudah tidak terkejut dengan apa yang dilakukan ayah karena mereka berpendapat kalau aku juga seperti itu.

“Siapa nama pengacara barumu?” tanya Junsu.

“Jung Yunho” jawabku.

Seunghyun hampir menyemburkan minumannya dan Junsu terlihat sangat khawatir.

“Apa aku akan kalah?” tanyaku.

“Kau tak tahu siapa Jung Yunho?” tanya mereka berdua hampir bersamaan.

“Jika Shim Changmin Pangeran Meja Hijau, maka kau bisa mengatakan kalau Jung Yunho adalah Kaisar Muda Hukum”

“Kaisar Muda Hukum? Maksudmu Kaisar Muda Meja Hijau?” tanyaku.

“Bila Shim Changmin memiliki keturunan pengacara dimulai dari kakeknya, maka Jung Yunho memperoleh keturunan pengacara dari leluhurnya. Nenek Jung Yunho dari pihak ayah adalah guru besar hokum pidana universitas Seoul, kakek Jung Yunho dulunya adalah kepala kejaksaan agung. Ibu Jung Yunho setengah keturunan korea dan jepang. Kakeknya adalah orang Jepang dan merupakan kepala badan investigasi khusus jepang, neneknya orang Korea dan dia adalah ketua mahkamah konstitusi dengan kata lain Jung Yunho terlahir sebagai titisan para penegak hukum. Kau bisa percaya atau tidak tapi leluhurnya adalah para jaksa, hakim, penegak hokum dari dinasti entah Joseon atau apa, begitu juga kakek dari pihak ibunya entah dari zaman Edo atau apa.”

“Sebenarnya apa yang ingin anda sampaikan Jaksa Kim Junsu?” Aku tak mengerti kenapa harus berputar-putar sebegitu jauh.

“Aku tak mengira saat mengatakan pada Changmin dulu bahwa dia harus menghadapi Athena dan Mars akhirnya menjadi kenyataan”

“Apa lagi maksudnya?” tanyaku frustasi.

“Jung Yunho disebut sebagai titisan Athena dan Mars, dia tak pernah sekalipun kalah di persidangan. Dia bisa menjadi Athena atau menjadi Mars, kau tak akan tahu apa yang ada di otaknya”

“Tapi aku tak pernah mendengar kiprahnya di Korea”

“Dia sama seperti Hara dia berkiprah di AS tepatnya di New York. Dia juga pernah berkiprah di Jepang, sekarang dia ingin menjadikan Korea sebagai taklukannya. Sepertinya seperti itu hahaha….” Junsu mencoba melucu, tetapi itu tak merubah keadaan. Aku menginginkan Mavin, tapi tidak dengan jalan yang tak aku mengerti. Sekarang bukan Choi Siwon yang berhadapan dengan Donghae, tapi ayahlah yang berada di sini sekarang.

Seunghyun’s View

“Menurutmu apa yang kita katakan pada Siwon cukup?” tanya Junsu.

“Iya, cukup untuk membuatnya bingung” jawabku.

“Aku rasa kita cocok bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita?” tanya Junsu.
“Jika anakmu perempuan aku setuju”

“Hahaha… Kau yakin sekali, kau saja belum menikah bagaimana kau berani menyanggupi tantanganku?”

“Tak akan sulit bagiku segera menikah dan mempunyai anak, tapi aku lebih menyukai jika anak kita bersaudara. Maka aku tak perlu menghajar putraku sendiri bila kau mengatakan padaku kalau putraku menyakiti putrimu. Lagipula bukankah kau punya Kim Jaejoong sahabat karibmu?”

“Hahaha…. Kau benar putriku akan lebih mudah menerima kenyataan kalau dia akan selalu bermarga Kim. Hei… tunggu putri? Kau berpikir anakku seorang perempuan?”
“Tepat sekali dan itu harapanku”

Donghae’s View

Hari ini aku menerima telpon dari Changmin mengenai sidang yang akan kami hadapi. Akhirnya, saat ini datang juga. Mimpi Jiyeon tak akan menjadi nyata, Mavin tetap akan berada di sisi kami apapun yang terjadi. Ayah… Kau dengar aku? Ayah, aku janji aku tak akan menyerahkan putraku. Akan aku besarkan dia dengan kasih saying dan cinta serta semua hal yang bisa aku berikan.

Mavin adalah kebahagiaanku dan Jiyeon… Mavin adalah hal paling bernilai yang dititipkan padaku…. Anak itu lahir dalam dekapanku… Tangis pertamanya, suara degup jantung kecilnya, mata yang belum terbuka, tubuh kecil itu… Aku tak akan bisa melupakannya. Meskipun, aku bukan ayah biologisnya , tapi dia putraku. Mungkin darah yang mengalir di dalam tubuhnya bukan darahku, mungkin semua yang ada dalam dirinya bukan berasal dariku, tapi dengan seluruh hatiku aku mencintainya. Anak yang membuatku mengerti bagaimana perasaan seorang ayah. Bagaimana rasa senang saat melihatnya tertawa, tersenyum, rasa nyaman saat melihatnya tidur dengan nyenyak dan rasa ketakutan serta kekhawatiran saat terjadi sesuatu padanya.

Aku memutuskan untuk tidur sejenak di sofa di ruangku.
————————————————————————————————-
“Appa…. Aku main sama Myungsoo-hyung yah”

“Kenapa mereka berdua aktif sekali” komentar Jaejoong hyung. Aku dan Jaejoong hyung sedang mengunjungi Brazil terkait proyek kemanusiaan. Kami pun mengajak istri dan anak kami yang memang kebetulan anak-anak sedang libur pasca ujian semester.

“Itu lebih baik dibanding hanya menghabiskan waktu di depan layar kaca”Jaejoong hyung hanya mencibir sebagai balasannya.

“Appa… Eomma… Kemari…”

Kami berempat langsung berlari menghampiri Chanhee dan Myungsoo. Chanhee menunjuk sebuah bintang yang bersinar terang.

“Indah appa….” Komentar Chanhee.

“Itu polaris” kataku. Aku mengarahkan tangan Chanhee untuk menghubungkan bintang dalam konstelasi ursa minor.
“Nah, yang itu di bagian sudut titik keempat ujung ekor tarik garis lurus akan ada konstelasi lain dengan ukuran lebih besar. Itu namanya ursa mayor, sayang. Nah, titik yang ayah maksud tadi itu polaris, dia adalah bintang paling terang di konstelasi ursa minor” Chanhee menggerakkan kepalanya ke samping sambil terus memandangku. Lucu sekali… Dan bisa terlihat ekspresinya yang bingung.

“Tunggu ayah sebentar yah” Aku meninggalkan mereka berlima dan berlari ke kamar hotel kami untuk mengambil teropong dan juga alat tulis. Myungsoo dan Chanhee menatapku dengan tidak sabar. Aku menyerahkan teropong itu pada mereka berdua, mereka bergantian menggunakannya. Sedangkan, aku menggambar beberapa konstelasi bintang.

Aku menunjukkan gambar konstelasi ursa mayor dan ursa minor pada mereka. Chanhee mengangguk, tapi masih saja kelihatan bingung.

“Polaris yang paling terang itu yang ini dan kalau di langit yang mana?” Chanhee langsung menunjuk polaris di langit. Aku memerintahkannya untuk menarik garis sesuai dengan gambar dan dia memelukku setelah bisa menemukan keduanya di langit. Aku merasa seseorang menarik bajuku dan aku lihat Myungsoo menatapku.

“Myungie, ada apa?” tanyaku. Dia menunjuk bintang lain, tapi aku kurang mengerti arah tangannya. Aku pun menggendong Myungsoo dan memintanya menunjukkan padaku. Setelah aku tahu bintang yang dia maksud. Aku memegang tangannya dan menarik garis untuk menghubungkan bintang-bintang. Dia menatapku intens minta penjelasan.

“Rasi bintang Draco yang berarti naga. Bintang paling terang itu namanya Gamma Draconis atau dikenal juga dengan sebutan Eltanis, sayang.” Dia tersenyum riang.

“Mau menggambarnya?” Dia mengangguk, aku menurunkannya dan dia menggambar Draco.

“Hebat… Bagus sekali Myungie” Dia tersenyum dan langsung memelukku. Aku sedikit terhenyak, Myungsoo bukan anak yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya.

“Appa” Chanhee ikut memelukku.

Jaejoong hyung kelihatan sebal saat Myungsoo memelukku.

“Dia saja jika tak aku yang memeluknya. Dia tak mau aku peluk” Jaejoong hyung menggembungkan pipinya dan Myungsoo hanya menarik nafas.

“Aku suka El…”

“Eltain, sayang” tambahku.

“Iya, eltain. Tapi ahjushi aku tak pernah melihatnya di Korea” dia sedih. Chanhee juga menatapku dan menunjuk polaris.

“Korea Selatan berada di southern hemisphere sehingga konstelasi yang tampak adalah southern circumpolar sky, sehingga kalian tidak bisa melihatnya karena mereka berada di northern circumpolar sky”

“Jadi, kita tak bisa melihat polaris dan eltain lagi?” Myungsoo berubah sedih.

Aku menggendong Chanhee di tangan kiri dan Myungsoo di tangan kananku. Mereka masih play group jadi aku masih kuat melakukannya.

“Lihat ke langit. Myungie, ingatlah Eltain dan Chanhee, ingatlah Polaris” Mereka terdiam dan melihat dengan intens.

“Sekarang apa yang kalian lihat?” Mereka menatapku.

“Aku melihat Eltain dan Polaris sedang berada di pelukanku. Mereka tersenyum senang dan langsung memelukku.

“Ohya, ahjushi bintang yang paling terang itu apa?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

“Sirius” Chanhee menjawab dengan cepat, aku kaget dia mengetahui Sirius.

“Darimana putra appa tahu?” tanyaku.

“Kemarin appa bilang padaku. Saat aku bertanya appa sedang melihat apa, tapi apa langsung menyembunyikannya di balik meja dan appa bilang sedang menikmati indahnya bintang paling terang, yakni Sirius. Appa bilang Sirius tidak mudah ditemukan, dia sangat terang. Mungkin awalnya kita tidak sadar dia di sana, tapi dia di sana. Dan aku tahu dimana Sirius”

Kami mengamati langit dan dia menunjuk bintang paling terang di Ursa Mayor. Sirius…. Mavin… Aku melihat foto hyung-mu, Chanhee. Sirius appa…

Aku tak sadar air mataku menetes. Tangan lembut mengusap air mataku, tangan kecil Myungsoo dan Chanhee.

“Sirius memang paling terang” kata Myungsoo.

“Kalian semua bersinar terang dan sangat indah. Aku harap suatu hari Eltain, Polaris dan Sirius membawa kalian padaku”

“Aku akan membawa Sirius. Aku janji Sirius pasti akan datang karena ahjushi sekarang sudah punya Eltain dan Polaris.

Jiyeon terlihat menggigit bibirnya, Jaejoong hyung tahu dengan jelas semua ini.

Iya, Sirius… Aku harap Sirius kembali……

“Aku janji ahjushi, Sirius akan datang padamu” ulang Myungsoo.
————————————————————————————————

“Donghae, ada apa?” tanya Donghwa hyung. Aku menggelengkan kepalaku, tapi tetap saja tak bisa membohongi hyung-ku dan akhirnya aku menceritakan semuanya tepatnya hanya masalah persidangan, aku tak ingin menceritakan mimpi Jiyeon atau mimpiku yang menurutku hanya bunga tidur. Dia menarik nafas panjang dan meninggalkan ruanganku. Namun, sebelum keluar dia berbalik.

“Mulai hari ini hingga saat persidangan kau tidak akan menerima tugas sebagai dokter penanggungjawab dan kau hanya perlu menyelesaikan jadwal operasi yang memang sudah ditentukan. Untuk rumah sakit SNU, aku rasa ada baiknya kau memberitahu kepala rumah sakit mengenai masalah ini. Jika tidak aku yang akan memberitahunya. Satu hal penting bagi semuanya dengan Jiyeon. Dia berhak tahu Donghae, bagaimanapun dia adalah ibu Mavin. Kau dan Jiyeon lah tokoh utama dalam drama ini. Bagaimanapun ending skenario dari Tuhan, masih bisa diubah jika kalian mau berusaha. Sekarang tak akan nada yang berubah, tapi masa depan adalah cerminan sekarang” Aku bingung maksud Donghwa hyung, tapi yang terpenting yang ingin dia sampaikan adalah Mavin bukan hanya anakku, tetapi anakku dan Jiyeon.

Dad, I wish you were here….. I really need you to through this out….

Turnaround, Every now and then I get a
little bit restless and I dream of something wild
Turnaround, Every now and then I get a
little bit helpless and I’m lying like a child in your arms

Jiyeon’s View

From : My Sunshine
Jiyeonie, hari ini aku akan pulang lebih awal dari rumah sakit. Jadi, aku bisa menjemput Mavin dan tidak perlu melibatkan Jungmin. Kau pulang kuliah jam berapa?

To : My Sunshine
Aku selesai kuliah jam 1, tapi ada praktikum sampai malam. Aku sudah meminta eomma untuk menjaga Mavin hingga besok karena aku pikir oppa sedang sibuk dengan urusan rumah sakit. Mian  harusnya aku memastikan dulu sebelum melakukannya.

From : My Sunshine
It’s okay. I’ll pick you up, just waiting for me and your lovely son. Hwaiting !!! Get good score and don’t make any trouble.
“Jiyeon, ayo ke kantin” ajak Taemin. Aku mengangguk dan mengikuti langkah Taemin.

Donghae’s View

“Donghae” kepala rumah sakit SNU yang sekaligus guru besar kedokteran bedah jantung SNU memanggilku saat aku sudah tinggal beberapa langkah untuk keluar dari ruangannya.

“Ne, uisha. Ada apa?”

“Kau bisa berlibur untuk besok. Maksudku besok sudah Jum’at dan ada baiknya kau memanfaatkan akhir minggu ini dengan keluargamu”

“Tapi uisha…”

“Jangan khawatir kau tidak merepotkan siapapun. Semua pasienmu untuk besok akan berada dalam pengawasanku. Meski aku sudah tahu, aku masih bisa menjalankan tugas sebagai dokter” ujarnya sambil tertawa.

“Ohya, salam untuk ibumu dan jika kau mengunjungi ayahmu katakan padanya kalau aku merindukannya” Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat sangat hangat…..

Dad… I really miss you….

Jiyeon’s View

Aku terlonjak saat mendengar ponselku bordering di tengah-tengah praktikum, segera aku meminta izin untuk menerima telpon.
Eommonim??
Jiyeonie…. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu…. Bagaimana keadaan cucuku? Dia sudah besar dan tambah tampan kan?

Pembicaraan kami terpaksa aku putus karena sedang praktikum. Aku merasa bersalah, tapi eommonim sangat mengerti keadaanku.

Baiklah. Aku akan ke rumahmu untuk menemui cucuku sekalian menunggu Donghae yang katamu akan menjemputnya. Aku rasa akan ada arisan ibu-ibu di rumahmu… ahahaha….
Aku tertawa dan menutup telpon.

Donghae’s View

Tiba di rumah Jiyeon, aku disambut oleh pelukan amat sangat kuat “bear hug crash bone” eomma dan eommonim hanya bisa tersenyum. Mavin bermain-main dengan baby sister yang dipekerjakan eommonim. Dia kelihatan sangat ceria apalagi dengan ditemani nenek-neneknya yang entah kapan sadar usia mereka. Sigh….

Aku mengirim Jiyeon pesan dan menanyakan kapan dia pulang agar aku bisa menjemputnya.

From : Jiyeonie
Aku akan pulang sebentar lagi oppa. Masih di tempat eomma kan? Aku naik mobil Taemin saja, rumah kami kan searah. Mavin sudah tidur? Cium untuknya <3333

Dasar… Emoticon anak-anak muda memang aneh.

Ya, Mavin sedang tidur dengan nyenyak. Eomma sudah pulang setelah makan malam, sedangkan aku disini bersama Jungmin, eommonim dan abeoji.

Keluarga Jiyeon memang menyenangkan dan hangat. Kami mendengar mobil berhenti di depan rumah dan aku keluar untuk melihatnya. Jiyeon turun dari mobil Taemin dan membungkuk terima kasih. Taemin sepertinya melihatku yang berdiri di depan pintu masuk rumah Jiyeon karena dia tiba-tiba melongokkan kepalanya dan menunjuk ke arahku. Meski tidak terlalu jelas, aku bisa melihat ada seulas senyum di bibir Taemin saat Jieyon menghampiriku.

“Oppa….” Jiyeon entah sadar atau tidak memelukku dan memberikan ciuman kilat di pipiku. Aku membutuhkan beberapa detik untuk mencerna semua yang terjadi dan mengedipkan mataku berkali-kali sebelum akhirnya melihat Jiyeon yang tersenyum lebar. Dia melewatiku dan bergabung dengan keluarganya di ruang tengah. Kami melanjutkan pembicaraan kami hingga larut malam hingga Jungmin mengatakan tepatnya menyuruh kami semua untuk tidur. Ternyata dia memang tipe pengatur tidak hanya pada adiknya, padaku, tetapi juga pada orang tuanya.

Belum sempat aku berdiri Jungmin sudah menarikku paksa. Jiyeon ingin protes, tapi menerima death glare Jungmin dan langsung terdiam.

“Well because tonight you’ll spend your time in my SISTER BED so DO IT SAFETY” Bola mataku serasa mau keluar ketika Jungmin menyerahkan amplop yang ternyata berisi kondom. Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresiku. Saat Jiyeon menghampiriku segera aku masukkan amplop tersebut ke saku celanaku.

PARK JUNGMIN…. KU BUNUH KAU…. teriakku dalam hati.

Gara-gara Jungmin aku justru tidak bisa tidur.

“Oppa, di bawah dingin yah? Kau bisa naik kok” katanya padaku. Sial…. Meski, Jiyeon hanya ingin berniat baik, tapi … sister… safety…. SIAALLLLL……

Aku mengacak-acak rambutku tanpa aku sadari. Dan tiba-tiba aku merasakan tangan seseorang menghentikan kegiatanku dan melihat Jiyeon tersenyum padaku.

“Aku tak tahu yang terjadi pada oppa, tapi aku tahu bagaimana menghibur diri” kata Jiyeon. Aku menatapnya intens meminta penjelasan. Dia tiba-tiba berdiri dan mengajakku menuju balkon di depan kamarnya.

“Look” Aku mengikuti arah tangannya.

“Bintangnya banyak dan terang” kata Jiyeon.

“Konstelasi modern terdiri dari 88 rasi bintang. Zodiak termasuk dalam 88 rasi bintang ini dan umumnya orang-orang hanya mengetahui zodiak jikapun mengetahui konstelasi umumnya hanya sebatas pengetahuan dari sekolah kecuali mereka yang memang sangat menyukai bintang dan tentunya astronom” Jiyeon mengangguk-angguk.

“Oppa, banyak mengerti yah. Beda denganku” katanya sambil menggembungkan pipi. Aku mengacak rambutnya.

“Lihat ke langit akan aku ajari kau untuk menemukan kostelasi-konstelasi”

Sangat menyenangkan menemukan konstelasi dan bagiku seperti mengingat masa kecil.
“Oppa, katanya bintang paling terang itu polaris benarkah?”

“Jika di konstelasi ursa minor itu polaris…”

POLARIS…

SIRIUS…

DRACO…

“Memang ada yang lain yang lebih terang?”

“Draco, Polaris… Sirius”

Jiyeon menatapku bingung. Aku tersenyum padanya.

“Draco, Polaris, Sirius…. Mereka lah yang paling terang”

God, even If my dream will become true. Please, don’t take Sirius. I’ll protect and love my Polaris and my Eltain. They’ll become my wealthy…. Chanhee, Myungsoo… I’m waiting for you guys to be born and Sirius will protect you two.

SIRIUS, POLARIS, DRACO….. JUST BESIDE ME…. IF YOU TAKE THEM FROM ME… IT’LL BE TOTAL ECLIPSE OF MY HEART

Once upon a time there was light in my life
But now there’s only love in the dark
Nothing I can say
A total eclipse of the heart

Letter Of Angel XX (BLUE)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIV

Background Song :

Listen it and find the chemistry

Tiffany’s View

Aku terbangun dan menemukan diriku di kamar yang tak aku kenal. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tiffany di sinilah dirimu sekarang. Apa yang kau harapkan melihat Siwon di sampingmu?
Tok…tok..tok…
Seseorang mengetuk pintu dan kemudian aku melihat Jessica membawakanku sarapan.

“Maaf merepotkanmu” kataku sambil tertunduk.

“Apa yang kau bicarakan? Kita teman kan?” ujarnya sambil tersenyum riang, aku pun membalasnya dengan senyuman.

“Mashita” pujiku.

“Hehehe… Bukan aku yang memasaknya. Emmonim yang memasaknya” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Eommonim? Aku jadi ingat namja cantik kemarin. Aku jadi ingin menggoda Jessica.

“Oh… Eomma dari namja yang kemarin yah? Wah… wah berarti sudah mendapat lampu hijau. Kalau begitu jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian yah”

“Ani.. Aniya. Taemin harus menjadi dokter dulu dan mungkin baru 5 tahun lagi, kalaupun hubungan kami bertahan, tapi aku harap iya” Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“I wish you two could make it real. Do your best to keep your relationship. Promise me” Aku menyodorkan jari manis tangan kananku, dia menyambutnya dan kami melakukan pinky promise.

“Sica….” Taemin melongokkan kepalanya dan memanggil Jessica. Jessica meninggalkanku sejenak untuk berbicara dengan Taemin, tak lama dia kembali duduk di pinggir ranjang.

“Taemin pamit. Dia ada kuliah pagi. Dia titip salam untukmu” Tanpa aku minta Jessica menjelaskan. Aku hanya mengangguk.

Jessica juga pamit dan meninggalkanku di apartemennya. Dia semula mengajakku ke rumah sakit daripada aku sendiri, tetapi aku menolaknya. Aku tak mau bertemu orang-orang dalam keadaan seperti ini.
Sku melihat bayanganku di cermin. Mata sembab dan merah, wajah sayu dan pucat serta rambut acak-acakan. Tiffany….

(I’m singing my blues)
The love that I have sent away with the floating clouds, oh oh
Under the same sky, at different places
Because you and I are dangerous
I am leaving you
One letter difference from ‘nim’(T/N)
It’s cowardly but I’m hiding because I’m not good enough
Cruel breakup is like the end of the road of love


Jiyeon’s View

“Oppa, hari ini setelah kuliah aku ingin ke tempat Sica-eonni. Boleh kan?” tanyaku pada Donghae oppa yang sedang menyetir.

“Baiklah. Nanti aku antar, setelah mengajar jam pertama aku kosong sampai siang” ucap Donghae oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Ne” aku mengangguk senang.

“Kau sudah menelpon Jessica kalau kau ingin berkunjung?” tanyanya memastikan.

“Sudah, oppa. Tadi pagi aku sudah menelponnya, dia mengatakan aku bisa langsung masuk apartemennya. Nanti Taemin juga akan kesana kok, dia diminta Sica-eonni untuk mengambilkan beberapa barang Sica eonni yang tertinggal”

Donghae mengangguk sesaat.

Kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Donghae membuka pembicaraan lagi.

“Kau suka peony yang diberikan ahjumma kemarin?” tanyanya. Mukaku langsung bersemu merah.

“Kalau boleh tahu arti peony itu apa?” Kali ini dia menatapku, kami sedang berada di lampu merah. Aku mengalihkan pandanganku antara akan atau tidak menjawab pertanyaannya.

Tin…Tin….Tin…

Donghae’s View
Tin…Tinn…. Tinnn….
Aku menunggu jawaban Jiyeon sampai tak sadar lampu sudah menjadi hijau. Aku segera menjalankan mobil dan menundukkan kepala kepada pengemudi lain.

“See, you gave us trouble” kataku sebal.

Tunggu… Sejak kapan Lee Donghae menjadi seperti ini. Jiyeon sedikit kaget dengan perkataanku. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku.

“Syukurlah, aku pikir Oppa sakit” katanya lega.

Kami berdua saling berpandangan sesaat dan tertawa. Aku menepikan mobil takut bila terjadi apa-apa ketika mengemudi dalam keadaan ini.

“Baiklah, sepertinya hari ini bagaimana kalau kita sedikit telat” ajakku. Jiyeon membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.

“Bagaimana ?” tawarku lagi.

Dia menarik nafas panjang.

“Oppa, harus mengajarkan? Kalau kita terlambat nanti bisa susah” katanya.

“Hei, siapa yang akan terlambat masuk kelas” Bukan itu yang terlintas dalam pikiranku.

“Lalu?” tanyanya bingung.

Aku membisikkan sesuatu di telinganya. Dia mengangguk mengerti.

“Oh, begitu yah. Aku setuju” katanya riang.

“Aku pikir kau mengerti isi otakku, ternyata tidak” godaku.

“Memangnya aku pembaca pikiran apa? Bagaimana aku tahu bial oppa tidak mengatakan isi pikiran oppa padaku” dia menggembungkan pipinya.

“Ehmm… Ada yang ingin aku katakan” aku menarik nafas panjang. Jiyeon memperhatikanku dengan seksama.

Aku kembali menarik nafasku dalam. Aku mengambil tas kerjaku dan mengeluarkan 1 tangkai bunga.

“I don’t know from where should I explain this all. It’s gloxinia, it means love at first sight. It was my feeling to Yoona” Jiyeon menarik nafas panjang dan mengepalkan tangannya, dia kemudian menatapku memintaku untuk meneruskan kata-kataku.

“That was my feeling, I couldn’t ignore it” Aku gantian menarik nafas. Mata Jiyeon sudah berair.
“I…..” Jiyeon memotong kata-kataku.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintainya dan tak bisa melupakannya?” ujarnya tersenyum sambil menahan airmata.
Aku terdiam.

“Aku bisa menunggu, aku orang yang sabar kok” sambungnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

Donghae… now or never… Aku menarik Jiyeon dalam pelukanku. Dia menangis di dadaku, aku menggenggam tangan kanannya dimana cincin pernikahan kami tersemat di jari manisnya.

Aku merogoh hiasan clay dari saku jasku dan meletakkannya di tangannya. Dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku sambil mencoba melihatku.

“Edelweiss, itu edelweiss. Bunga abadi, bunga yang hanya akan tumbuh di pegunungan tinggi. Edelweiss bunga para pendaki. Edelweiss bunga kecil yang terus hidup dan bertahan di daerah dingin dan ekstrim. Bunga yang selalu memberi warna dan kedamaian bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih puncak tertinggi. Eddelweiss bunga sederhana yang menemani Sang Gunung untuk mengarungi waktu dan musim. Dia hanya akan hidup di sana, dia tak akan meninggalkan Sang Gunung, dia hanya hidup dan bernafas bila berada di sana. Edelweiss memang tak sekokoh Gunung itu sendiri, edelweiss terkesan lembut, sederhana, rapuh dan mudah terluka. Namun, dengan segala kelemahannya, edelweiss memberikan nafas kesederhanaan, pertahanan, ketulusan dan kekuatan serta senyuman. Dia tak perlu sekuat dan sekokoh Gunung, dia cukup menjadi dirinya sendiri. Kau bukan gloxinia-ku, tapi kau lah edelweiss-ku. Step by step I wish I could….” Kata-kataku terpotong ketika aku merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirku.

“I’ll be your edelweiss. That’s always love, love and love you always no matter what. I’m waiting for you till one day you open your heart” Aku menutup mataku sesaat lega.

“Oppa” Aku menatap Jiyeon.

“Kita ke tempat Siwon-oppa yuk. Aku punya rencana, maksudku kita akan membuat rencanamu lebih sempurna” katanya. Dia menjelaskan semua rencananya.

“Tapi kuliah dan…”

“Aku punya 25% hak untuk tidak mengikuti perkuliahan kan? Sekali bolos saja tidak masalah. Lagian hari ini ”

“Tunggu, aku punya cara lain” Aku segera menghubungi Jessica, Hara dan adik Kyuhyun, Jieun.

“Jelaskan semua pada mereka. Kau bisa mengandalkan mereka” Akhirnya kami melakukan teleconference.

“Ne, aku mengerti Donghae uisha” kata Jieun.

“Baiklah, Donghae-oppa. Beres, serahkan saja padaku” ucap Hara bangga.

“Asal Tiffany eonni tersenyum semua akan aku lakukan” ujar Jessica.

“Lalu, Siwon oppa bagaimana? Siapa yang akan menemuinya?” tanya Jiyeon. Kami diam sejenak.

“Biar aku dan Hara yang menemuinya. Ada yang harus aku bicarakan juga dengan Hara” kataku. Jiyeon mengangguk.

Siwon’s View

“Sajangnim. Tuan Lee Donghae dan nona Goo Hara ingin menemui anda” Aku mengerutkan dahiku, ada urusan apa mereka berdua kemari.

“Suruh mereka masuk” ujarku pada sekretaris.

Donghae dan Hara masuk, aku mempersilahkan mereka duduk. Belum lama mereka masuk, tiba-tiba Seunghyun dan Pamanku, ayah Seunghyun.

Hara terkejut, tetapi Donghae hanya tersenyum.

“Seunghyun, Paman ada urusan apa datang kemari?” tanyaku. Namun, kejutan tak sampai di situ. Sekretarisku mengantarkan Kyuhyun dan Changmin ke ruanganku. Tunggu ada apa ini?

Donghae sepertinya mengerti kebingunganku. Dia berdiri dari kursi dan menggenggam tangan Hara, menuntunnya ke dekat Kyuhyun dan meletakkan tangannya di tangan Kyuhyun.

“Kyuhyun, ini Tuan Besar Choi dan Choi Seunghyun. Ayah dan kakak dari Goo Hara” Kyuhyun sedikit terkejut, tetapi kemudian membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri.

“Hara, time to makes up” kata Donghae. Kyuhyun mengangguk. Paman, Sunghyun, Kyuhyun dan Hara keluar ruangan. Menyisakan aku, Changmin dan Donghae.

“Itu tadi apa?” tanyaku. Donghae tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin mempertemukan keluarga yang terpisah dan ingin melihat senyuman di wajah adikku” kata Donghae.

“Adik?” tanyaku.

“Hara. Sudahlah sekarang yang terpenting adalah Tiffany. Aku dan Jiyeon punya rencana untuk membuat kalian berbaikan. Berterima kasihlah juga pada Changmin, tanpa dia aku ragu kita bisa membuat semua menjadi beres” Donghae mengedipkan matanya ke arah Changmin, yang hanya memberinya death glare.

“Lalu mengenai Hara dan…..” Donghae memotong perkataanku.

“Choi Siwon, sekarang saatnya mengurus urusanmu dulu. Aku akan jelaskan lain waktu padamu tepatnya pada kalian semua. Iya kan Changmin?” Changmin seperti ingin mencekik Donghae. Entahlah aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua rencana Donghae dengan saksama.

“APA???????” teriakku di akhir.Changmin hanya menatapku iba.

“A-KU SE-RI-US” kata Donghae penuh tekanan di tiap kata.

“Jika tidak berhasil bagaimana?” tanyaku takut.

“Serahkan pada Shim Changmin” kata Donghae dan Changmin hanya mlengos.

Tiffany’s View

“Sica, bagaimana bisa kau cemburu. Aku dan Jiyeon sudah lama berteman dank au tetap tak mengerti”

Aku segera keluar kamar, Taemin dan Jessica berteriak hebat.

“Berteman? Hanya berteman? Kau tak pernah melupakan Jiyeon, selalu saja dia di otakmu. Kau pikir aku tak sakit hati apa saat melihat kalian bersama” balas Jessica.

“Sica…. Dia sudah punya Donghae uisha dan aku memilikimu. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan bahwa kami tak memiliki perasaan selain teman?” teriak Taemin lagi.

Jessica menangis dan jatuh terduduk. Taemin berusaha menenangkan Jessica dan berusaha memeluknya, tetapi Jessica menolak dan justru tambah keras menangis. Aku mendatanginya dan segera memeluknya. Aku menatap Taemin, matanya kosong. Dan dia sudah siap meneteskan air mata, tetapi dia menahannya.

“Eonni” seseorang masuk ke apartemen Jessica dan kaget saat melihat Jessica. Sepertinya aku pernah melihat gadis muda ini, tapi entah dimana aku tak yakin. Jessica berganti memeluknya dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Taemin tetap berdiri di depan kami, menunggu Jessica untuk menenangkan diri.

“Aku rasa eonni salah paham” kata gadis itu.

“Tidak, Jieunie. Taemin masih mencintai Jiyeon sampai sekarang” Jessica tetap kukuh.

“Mencintai Jiyeon sampai sekarang? Darimana teori bodoh itu , Sica. Iya dulu aku mencintainya, tapi sekarang kau yang aku cintai” teriak Taemin.

“Katakan padaku kau sama sekali tak mencintainya” teriak Jessica. Taemin diam membisu.

The winter had passed
And the spring has come
We have withered
And our hearts are bruised from longing

“Bawa aku darisini aku tak ingin melihatnya” kata Jessica. Dia memaksaku dan Jieun untuk membantunya berdiri. Taemin tak mampu berkata-kata.
———————————————————————————-
Tanpa Tiffany ketahui Taemin menelpon Donghae. “Done, uisha. Plan A sukses”
“Sekarang plan B”
———————————————————————————-
“Pak, tolong antarkan kami ke alamat ini yah” kata Jieun pada sopirnya. Sopirnya hanya mengangguk. Jessica sekarang tertidur setelah habis menangis.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Jieun. Jieun hanya tersenyum.

Jessica akhirnya terbangun. Dia masih sedikit terisak, tetapi sudah lebih baik.

“Aku juga pernah seperti itu eonni” kata Jieun. Kami berdua menatapnya. Lagu yang tepat di saat yang sangat menyakitkan. Big Bang Blue mengalun memenuhi space di mobil ini.

I feel like my heart has stopped beating
You and I, frozen there, after a war
Trauma, that has been carved in my head
Once these tears dry up, I will moistly remember my love
I’m neither painful nor lonely
Happiness is all self-talk
I can’t stand something more complicated
It’s no big deal, I don’t care
Inevitable wandering, people come and go

“Layaknya lagu ini saat itu aku bahkan merasa tak bisa merasakan hatiku. Aku tak bisa menangis karena air mataku sudah habis. Terlalu sakit bagiku mengakui kalau aku bukan siapa-siapa bagi Changmin. Apa yang bisa aku katakan? Beda usia kami cukup jauh. Aku masih kelas 2 SMA dan dia sudah menjadi seorang pengacara. Dia dikelilingi banyak wanita cantik, modis dan tentu saja pintar. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam, tapi dia membuatku percaya kalau aku lebih baik dari mereka semua. Sampai suatu hari aku menemukan foto dia mencium seorang wanita di bar. Saat itu hatiku benar-benar sakit, aku mengatakan padanya aku tak mau menemuinya bahkan aku melempar vas bunga ke arahnya. Changmin datang padaku dan aku melihat pelipisnya berdarah, aku yang semula meronta akhirnya luluh. Dia menjelaskan semuanya dan minta maaf karena masih menyimpan foto itu, dia minta maaf tidak bisa melupakan gadis itu, tapi itu bukan karena dia tidak mencintaiku. Bagaimanapun gadis itu pernah ada di kehidupannya, tetapi sekarang dan seterusnya dia bilang aku lah yang ada di hatinya dan memintaku untuk berjanji seberat apapun kami akan melaluinya bersama. Kami tak berjanji sehidup semati, tetapi aku berharap Tuhan yang melindungi cinta kami” kata Jieun sambil tersenyum.

“Masihkah Changmin-shi menyimpan fotonya?” tanyaku.

“Tidak, dia mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Namun, sekarang aku dan eonni itu berteman. Dia mengajarkan dan memberitahuku banyak hal tentang Oppa” jawab Jieun antusias.

“Kau bahagia?” tanyaku.

“As long as he tries his best to loves me. I guess that’s more than enough. Sometime he’ll hide all of trouble and solve them alone, he just makes sure not to make me worry and the best reason that I’d got why he kept those picture was to remain me, Jieun If you want to be the one in his life you must receive all his past or you will be spoiled girl who just dreaming about beautiful life ever after”

Pernyataan Jieun membuat diriku tercengang. Dia jauh lebih muda dariku, tetapi pemikirannya lebih dewasa mungkin dalam hal ini. Aku menangis dan mereka berdua memelukku. Aku menumpahkan segala isi hatiku pada mereka berdua. Bagaimana aku selalu memendam perasaan pada Siwon sejak kami masih kecil, saat aku bertemu dengannya pertama kali di acara jamuan di AS, bagaimana senyumnya dan caranya memperlakukanku, bagaimana aku sangat senang ketika ayahku menjodohkan kami, bagaimana hancurnya hatiku saat Siwon menceritakan dirinya dan Yoona setelah kami menikah, aku hanya berusaha menerima segalanya dan menjadi istri yang baik. Namun, aku menyerah ketika melihatnya di makam Yoona.

“Ada yang ingin aku ceritakan” Seseorang berkata pada kami dan membukakan pintu. Ternyata itu Donghae.

Jalan ini? Ini kan jalan menuju makam Yoona. Rasanya aku mau kabur saja, tetapi sebuah tangan menahanku dan sopir tadi melepas topinya. Siwon…….

“Listen my confession” kata Siwon. Donghae, Jieun, Jessica mengangguk. Di sana ternyata tidak hanya ada kami, tetapi ada Changmin, Taemin dan Jiyeon.

Jieun langsung berlari memeluk Changmin yang hanya tertawa mendapat pelukan tiba-tiba dari kekasihnya. Taemin mendekati Jessica dan mereka ???? Is it prank????

Donghae mengangsurkan tangannya pada Jiyeon dan disambut dengan senyuman hangat dan genggaman erat.

Donghae meminta kami semua berdoa di depan makam Yoona.

“Yoona, apa kabar? Kemarin aku dan Jiyeon belum sempat berbicara dan bercerita padamu. Kau tahu sekarang Mavin sudah 8 bulan, dia sangat pandai dan lucu. Yoona, aku ingin mengatakan padamu. Sarangahaeyo” Kerongkonganku tercekat. Dia mengatakannya di depan Jiyeon.

“Yoona, aku ingin berterima kasih karena kau melahirkan Mavin. Terima kasih karena Mavin, aku bertemu Jiyeon. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya dan aku berjanji kami akan menjaganya. You will always be my gloxinia, but my edelweiss is someone beside me now” ujar Donghae lancar.

Jiyeon tersenyum pada Donghae. Giliran Jessica dan Taemin.

“Aku tak pernah mengenalmu noona, tapi aku berterima kasih padamu. Meskipun, aku kehilangan Jiyeon yang lembut, baik, sopan, ceria….” Raut wajah Taemin sedikit berubah sedih dan Jessica memukul kepalanya. Taemin mengusap kepalanya.

“Tapi aku mendapat seorang gadis brutal, sadis, seenak sendiri, cengeng, manja dan yang jelas aku mencintainya” Dia memberikan wink pada Jessica.

“Seperti kata Donghae-shi aku senang kau melahirkan Mavin sehingga mengantarkan Donghae dan Jiyeon pada saat sekarang. Meskipun, aku sedikit sebal kenapa aku kehilangan Donghae uisha yang perfect dan mendapat pria aneh semacam dia, tapi aku bahagia” ujar Jessica dan menjulurkan lidah pada Taemin.

Jieun dan Changmin tidak berkata apa-apa. Mereka hanya berdoa dan mempersilahkan aku dan Siwon.

“Yoong” panggil Siwon lembut. Hatiku rasanya terkoyak.

“Perkenalkan ini Tiffany Hwang tepatnya Tiffany Choi. Dia istriku dan nyawa hidupku” kata Siwon. Aku menatap Siwon tak percaya.

“Daffodil kemarin?” ucapku tiba-tiba.

“That was the first and the last daffodil bouquet for Yoong. I told her that, even If you were not believe in me, I would not blame you. I just want to say…..”

Siwon mengalihkan pandangannya ke belakangan dan aku melihat mereka semua membawa buket bunga di tangan masing-masing. Dan sebuah selebaran…..

MIND TO BE MY SOUL…….

“I’ll try my best to love and protect you. I can erase Yoong from my memory, but I promise you that I’ll give you all happiness that you deserve. Yoong was my daffodil, but you are my irish. Irish is faith, wisdom, cherished friendship, hope, valor, my compliments, promise in love.” Siwon memberikanku kalung berliontinkan bunga Irish.

“Just for you” dia mengatakannya padaku. Siwon mencium bibirku cukup lama.

Romantis….

Indah sekali…..

I love this moment…

.
“Get room, please” Kami langsung melihat Changmin yang dipukul oleh Jieun.

“Kau ini mengganggu momen indah saja” kata Jieun sebal.

“LOVEY DOVEY PERVY maksudmu? Aku tidak akan membiarkan kekasihku yang innocent dirusak oleh makhluk Tuhan yang lain. Sudah cukup lovey dovey pervy dari 2 pasangan sebelahku” Aku melihat Jessica dan Taemin yang berpandangan dan Donghae dan Jiyeon yang saling berbisik.

“Ya!!!! Shim Changmin maksudmu apa?” teriak Donghae kemudian.

Taemin dan Donghae berlari mengejar Changmin. Aku dan Siwon tertawa. Changmin berhenti sejenak dan memandang aku dan Siwon.

“Hei, segera lahirkan bayi yang imut sebelum kau kedahuluan oleh makhluk-makhluk di belakangku” sambil tertawa. Pipiku memerah dan Siwon langsung mengikiti yang lain mengejar Changmin.
Jieun tersenyum pada kami bertiga.

“Maaf, dulu dia malaikat, tetapi sekarang dia iblis” katanya memamerkan evil smirk.

“Ohya, siapa yang membuat rencana ini?” tanyaku. Aku melirik Jiyeon, Jessica dan Jieun.

“Ehm , sebenarnya rencana semula tidak seperti ini. Namun, sepertinya Donghae oppa membuatnya seperti ini dan ….”

“Masalah prank?” ujarku.

“Tanyakan saja itu pada…..” Jiyeon dan Jessica menunjuk Jieun.

“Bukan.. bukan… bukan aku. Itu ide Changmin oppa. Dia bilang tak cukup jika membawa eonni dan Siwon oppa menjelaskan semuanya. Siwon oppa juga harus tahu bagaimana perasaan eonni” jawabnya sambil tersenyum.

“Yang menyusun scenario Changmin juga?”

“Kalau itu aku. Hehehe…… Padahal semula aku berpikir Sica eonni akan melempar barang-barang di apartemennya biar terlihat nyata, tetapi acting-nya sudah bagus hanya kurang seru” jawabnya dengan enteng.

‘Ya!!!!!! Pasangan iblis” teriak Jessica. Jieun langsung ambil langkah seribu dan berlari karena dikejar Jessica. Jiyeon menyanyikan lirik akhir Big Bang Blue.

(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang
(I’m singing my blues~)
Paran nunmure paran seulpeume gildeul eojyeo
(I’m singing my blues~)
Tteun gureume nallyeo bonaen sarang OH OH

Aku tersenyum dan meraih tangannya.

“Kisah cinta kita tidak seperti BLUE kan?” Dia mengangguk seraya tersenyum.

“Tidak selalu berjalan mulus, tetapi kita pasti bisa melaluinya”

You were my daffodil and she is my Irish

You were my gloxinia and she is my Edelweiss

I’ll make the blues to be shinning blues not the sorrow one.

Letter of Angel XIV (Daffodil)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII

Listen this song while you reading “For eternity_SS501”

Siwon’s View

Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi makam Yoona. Aku ingin sekali mengatakan banyak hal padanya.

“Oppa, kau sudah siap?” tanya Tiffany yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku berbalik dan tersenyum padanya.

“Di bawah sudah aku siapkan machiato dan pancake. Kau mau yang lain?” tanya Fany. Aku menggeleng, meski tidak terlalu pandai memasak dia selalu berusaha membuat makanan terbaik untukku. Aku bersyukur dia-lah yang menjadi istriku, “Yoong, Fany wanita yang baik kan? Apakah aku salah bila sekarang aku bersamanya dan tidak bersamamu?” batinku.

“Oppa, kau melamun?” Fany membuatku kembali ke dunia nyata. Aku mencubit pipinya dan dia mengutukku karena itu, aku hanya tertawa.

Aku meminta sekretarisku untuk mengosongkan semua jadwalku. Aku ingin menghabiskan waktuku untuk diriku sendiri.

“Sajangnim, mobil anda sudah siap. Anda membutuhkan pengawal untuk kesana?” tanya sekretaris pribadiku.

“Tidak usah. Pastikan saja selama aku pergi semua baik-baik saja. Urus nyonya dan jangan sampai nyonya tahu kalau hari ini aku tidak pergi ke kantor. Bisa kau usahakan?”

“Baik, sajangnim”

Sebelum kesana aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko bunga.

“Untuk kekasih anda?” tanya ibu penjual bunga. Aku mengangguk, tak bisa aku pungkiri kalau Yoona memang kekasihku. Meski, itu hanya masa lalu.

Fany’s View

Malas sekali di rumah, lebih baik aku keluar. Kemana yah enaknya? Ohya, mengunjungi Jiyeon dan Mavin saja. Mereka di rumah tidak ya? Aku sepertinya memiliki nomor rumah sakit SNU, mungkin saja mereka bisa menyambungkanku teleponku dengan Donghae. Lucky me, tidak begitu lama teleponku sudah mencapai tujuannya. hahaha….

“Tiffany-shi ada urusan apa anda menelpon saya?” tanya Donghae.

“Boleh aku minta nomor Jiyeon. Aku ingin mengunjungi Mavin, tapi aku tak tahu apakah sekarang dia di rumah. Aku pikir dia mungkin kuliah” jawabku jujur.

“Begitu ya. Mavin sekarang berada di rumah mertua saya. Tadi pagi kami menitipkannya pada eomonim karena aku harus bekerja dan Jiyeon sendiri kuliah” jawabnya. Aku menarik nafas kecewa.

“Mungkin jika anda ingin bertemu Mavin, nanti siang anda bisa ke rumah sakit SNU. Hari ini kami berencana membawanya ke dokter anak”

“Memangnya dia sakit apa?” tanyaku panik. Donghae tertawa dan mengatakan kalau ini hanya check up bulanan untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan pertumbuhan Mavin. Aku mengangguk mengerti dan berusaha mencerna setiap omongan Donghae yang tertata sangat rapi dan ilmiah, tetapi aku yakin dia pasti sudah berusaha menjelaskan semudah mungkin pada orang awam seperti diriku.

Setelah mendapat nomor handphone Jiyeon, aku segera menghubunginya, tetapi ponselnya tidak aktif. Aku menyerah dan merebahkan diri di ranjang. Siwon oppa sedang apa yah? Aku menghubungi ponselnya dan mungkin memang sial, ponselnya juga tidak aktif sama seperti Jiyeon.

Aku lempar ponselku dan pergi ke balkon. Menelusuri pemandangan taman depan rumah yang luput dari perhatianku.

keudaen anayo jeo eum bwadeon sungan boteo
keudaeran geol aljyu nun ape gireul hamkke georoyeo
areum daeun nal uri ape byeoljeo ijyu

Ponselku berbunyi, segera aku meraih ponselku dan membaca 1 pesan di inbox.

Mianhamnida, maaf tidak sopan. Anda siapa dan ada urusan apa menelpon saya? Kamsahamnida

Segera aku menelpon gadis kecil istri Donghae ini. Dia sedikit terkejut mengetahui kalau aku yang menelponnya, tapi kemudian aku bisa merasakan kalau disana dia tersenyum lebar saat kami terlibat dalam pembicaraan.

Aku bersiap untuk menemui Donghae, Jiyeon dan tentu saja putra kecilku Mavin.

Sekarang dia memasuki usia 8 bulan, selain kata appa yang tidak terlalu jelas, Jiyeon bilang Mavin sudah bisa mengucapkan beberapa suku kata tersambung seperti ta-ta-ta. Dia bilang Mavin sudah bisa duduk stabil dan bisa berdiri, aku baru tahu perkembangan bayi sangat cepat. Dia memuji Mavin dan dapat aku katakan dari suaranya kalau dia sangat senang akan hal itu. Aku menghentikan pembicaraan kami dan menuju rumah sakit.

Di taman rumah sakit, aku melihat seorang pria muda menggendong Mavin dan mendudukannya di pangkuannya. Mereka bercanda dan tertawa, aku tak tahu siapa dirinya. Namun, sepertinya aku pernah melihatnya entah dimana. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dan ternyata itu Donghae.

“Itu Jungmin, kakak Jiyeon. Kau pernah melihatnya di rumah Kyuhyun kemarin kan. Dia mengantar Mavin kesini sendiri karena ibu mertuaku harus menghadiri acara perjamuan yang tiba-tiba” jelas Donghae. Aku mengangguk, mataku mencari-cari Jiyeon. Kenapa dia tidak bersama Donghae?

“Oppa……..” Pandanganku beralih pada gadis yang berteriak dan berlari ke arah kami.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Donghae. Jiyeon menggembungkan pipinya.

“Tadi dosen mata kuliah genito-urinary system tidak bisa menghadiri perkuliahan. Nah, awalnya kami senang kami tidak perlu ikut perkuliahan, tetapi ternyata diisi Eunhyuk-oppa. Kami sangat senang karena dia membahas safe motherhood & neonates, sangat senang dengan teori-nya mengenai wanita dan ibu membuat para namja sangat sangat senang” Aku bisa merasakan kalau sebenarnya intonasi dan penekanan kata yang digunakan Jiyeon jauh dari kata membahagiakan lebih tepatnya terganggu.

“LEE HYUKJAE!!!!! Awas kalau kita bertemu, apa-apaan dia. Virus yadong macam apa yang kau bawa ke perkuliahan”

Aku tertawa mendengar kata yadong, aku tahu sekarang kalau Lee Hyukjae itu dokter dan dosen yadong. Pantas saja Jiyeon merasa terganggu dengan kuliahnya.

Mendengar teriakan Donghae, orang-orang yang sedang berada di sekitar kami langsung menjadikan kami pusat perhatian. Donghae dan Jiyeon membungkuk minta maaf.

“Hahahaha….. Adik ipar pabo” Jungmin datang ke arah kami dan menggendong Mavin dalam posisi duduk.

“Lihat… Appa pabomu ini. pabo…pabo” Mavin tergelak dan tertawa bersama Jungmin.

Donghae langsung merebut Mavin dari gendongan Jungmin.

“Kalau kau bukan kakak iparku.. Awas saja kau, aku masih lebih tua darimu juga” kata Donghae.

Jungmin makin keras tertawa dan memegangi perutnya. Setelah beberapa saat dia berhenti tertawa dan menghapus air mata di sudut pipinya.

“Pabo… Aku tahu kau lebih tua dariku karena itu aku mengataimu pabo berteriak di lingkungan rumah sakit. They need rest and relaxation place to recover as fast as possible, they didn’t need someone who shouted and yelled for unreason problem”

Muka Donghae memerah, Jiyeon memberikan death glare pada Jungmin yang justru dibalas hal yang sama, tapi lebih menakutkan.

Kami bertiga berpisah dengan Jungmin yang harus kembali ke kantornya. Aku tahu kenapa sekarang Jiyeon sangat ceria, manja dan mungkin dewasa. Dia berusaha menjadi dirinya sendiri, gadis seusianya, dan di saat yang sama berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Dia penuh kasih sayang karena di sekitarnya begitu banyak orang yang menyayanginya.

Kami bertiga mengkonsultasikan dan memeriksakan kesehatan Mavin pada dokter anak di SNU. Donghae, sebagai seorang dokter sangat profesional. Dia menanggalkan statusnya sebagai dokter saat kami berada di ruangan dokter anak tersebut. Mereka berbicara layaknya sebagai dokter dengan ayah dari anak, baru setelah kami keluar dari pembahasan mengenai Mavin, mereka berbicara selayaknya rekan kerja.

“Fany-shi, sudah makan? Mau makan bersama kami? Cafe di depan rumah sakit memiliki banyak menu yang cukup menggugah selera” tawar Donghae dengan wajah tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman, Jiyeon menarik tanganku dan memintaku mengikuti mereka.

Donghae memesan vanilla late dan muffin, Jiyeon semula ingin meminum yang sama, tapi Donghae melarangnya dan akhirnya dia memesan susu strawberry dan bunet ditambah beberapa cake lain, anak ini pasti kelaparan. Aku sendiri memesan long black. Jiyeon memberikan Mavin bubur bayi dan susu, aku ingin menyuapinya jadi Jiyeon membiarkan Mavin dalam pangkuanku.

“Oppa, aku mau coba muffin-nya”

“Eoh?” kataku tanpa sadar. Aku melirik ke Mavin dan Donghae.

Donghae sepertinya mengerti maksudku dan mengangkat muffin cake di piringnya. Aku menundukkan pandanganku karena malu.

Siwon’s View

Aku sekarang berada di makam Yoona. Aku berdoa untuknya.

“Yoong, maaf baru sekarang aku berziarah ke makammu. Yoong, apa kau bahagia disana? Aku merindukanmu Yoong. Putra kita dia tumbuh dengan sehat, Donghae dan Jiyeon, istrinya menjaganya dengan baik. Yoong, If I can’t turn back the time, I’ll do it. I have no regret to marry Tiffany, but what I had been doing to you it’s not case that I’m proud of this”

Aku meletakkan bunga yang aku bawa di pusara makam Yoona.

“It’s the first time and the last time, I give you this bouquet. I was loving you, Yoong. I’ll try my best to make Tiffany happy and comfort beside me. I let you go, I was over you. I really did love you”

Tiffany’s view

“Fany-eonni, sebenarnya hari ini aku dan Donghae oppa ingin pergi ke makam Yoona-eonni” Jiyeon mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Eomma Mavin?” tanyaku. Donghae dan Jiyeon mengangguk. Aku tersenyum dan memutuskan ikut bersama mereka, aku meminta supirku untuk pulang terlebih dahulu karena Jiyeon dan Donghae menawarkan untuk mengantarku pulang, mereka sepertinya tidak tega melihat supirku menunggu kami. Iya, aku akui dia telah menungguku sejak tadi dan sebaiknya juga dia kembali ke rumah daripada tidak melakukan apa-apa dengan menunggu hingga semua urusanku selesai.

Kami pergi ke toko bunga untuk membeli bunga. Aku membeli sebuket bunga chrysanthemum dan Donghae serta Jiyeon membeli dua buket white lily. Jiyeon dengan malu-malu memberikan suatu bunga pada Donghae.

“Kamsahamnida dan kenapa kau memberikan ini padaku?” tanya Donghae sambil tersenyum.

“Ehm… it’s daffodil ehm….”

“Mau ahjumma menjelaskan arti daffodil” goda ahjumma penjual bunga. Jiyeon menggeleng keras dan mukanya bersemu merah. Mavin yang berada di gendongan Donghae, menyentuh buket daffodil itu dan tersenyum.

” Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You” Dia mengatur nafasnya dan mengucapkannya dengan lancar, segera setelah itu dia pergi berbalik dan masuk ke dalam mobil. Donghae tersenyum.

“Dia istrimu?” tanya ahjumma penjual bunga. Donghae mengangguk.

“Ini aku berikan gratis untukmu. Berikan pada istrimu, aku rasa dia mengerti apa arti peony sebaik dia mengerti arti daffodil”

“Kamsahamnida, tapi saya bisa membayarnya”

“Tidak usah membayangkan ekspresi istrimu sudah menjadi bayaran yang lebih dari cukup untukku” ucap ahjumma itu senang.

Kami meneruskan perjalanan, Donghae menggendong Mavin. Aku dan Jiyeon membawa buket yang ingin kami berikan pada Yoona.

“Bukankah itu Siwon?” tanya Donghae. Aku menajamkan mataku dan melihat sosok Siwon di depan pusara Yoona. Kami mendekatinya, aku terkejut kenapa dia kemari dan tidak memberitahuku. Jiyeon mendekatkan dirinya pada Donghae, pandangan matanya mengarah pada pusara Yoona sangat intens. Aku mengikuti arah pandangannya. Daffodil.

Unrequited Love, You’re the Only One, The Sun is Always Shining when I’m with You

Tak terasa air mataku menetes, sepertinya Siwon merasakan kedatangan kami dan berbalik. Dia terkejut saat melihat Donghae dan Jiyeon, dia lebih terkejut saat melihatku.

Aku menjatuhkan buket chrysanthemum yang aku bawa dan melangkah ke belakang.

“Daffodil…. Yoona… Oppa, kau….” Kerongkonganku tercekat kata-kata Jiyeon terngiang di telinga dan benakku. Aku berlari dan berusaha menghapus air mataku.

“Fany-ya…” teriak Siwon.

“Eonni….”

“Tiffany-shi” Mereka semua berusaha mengejarku. Aku terus berlari dan berlari, aku tak tahu harus kemana hingga akhirnya aku terjatuh.

Siwon dengan nafas terengah menghampiriku, Donghae dan Jiyeon menyusul di belakangnya.

“Fany… a…aku bisa jelaskan” kata Siwon di tengah nafasnya yang terengah. Aku menghempaskan tangannya yang berusaha menyentuhku.

“Pergi… pergi… aku tak ingin melihatmu. Kau tak pernah mencintaiku, itu yang ingin kau jelaskan. Selama ini semua yang kau katakan palsu…” Aku mengatakannya dan terisak. Kata-kata ini melukai hatiku, aku tak ingin mengatakannya, tetapi inilah yang terjadi. Ini kenyataanya. You’re so pathetic, Tiffany.

“Siwon-shi, biar aku yang bicara dengan Fany-eonni” ujar Jiyeon. Donghae menarik Siwon menjauh, dia menolak tetapi akhirnya menurut.

Aku memeluk Jiyeon dan meluapkan semua air mataku. Aku hanya mampu terisak dan menangis sekencang-kencangnya. Cukup lama aku memeluknya, dia berusaha menenangkanku dengan menyentuh pundakku. Dia membantuku berdiri, langkahku gontai dan terseok.

“Fany-ya” Siwon menghampiriku. Aku mengabaikan pandangannya.

“Donghae-shi, bisakah anda mengantarku?” tanyaku. Donghae menarik nafas dalam dan mengangguk.

Jiyeon membantuku untuk duduk di kursi belakang, dia duduk bersamaku. Mavin tertidur dan Donghae menaruhnya di box bayi sehingga dia bisa tidur dengan nyaman.

Jiyeon mengelus bahuku dan berusaha menguatkanku.

“Eonni, kenapa kau tidak mendengar penjelasan Siwon-shi terlebih dahulu?” tanyanya lirih.

“Bisakah kita tidak membicarakannya. Mendengar namanya membuatku sakit” pintaku sambil menutup mata. Aku meminta Donghae untuk mengantarku ke hotel, tetapi dia menolak. Donghae bilang tidak baik bila aku sendirian di hotel. Aku menolak ketika mereka memintaku tinggal di rumah mereka, aku tak mau merepotkan mereka. Akhirnya, Donghae menitipkanku pada suster kenalannya.

“Donghae uisha, anda sudah sampai. Silahkan masuk” kata seorang gadis muda yang cantik. Kami masuk ke dalam apartemennya, di sana seorang namja muda nan cantik sedang menonton televisi dan mengerjakan tugas.

“Aish… Taemin, kenapa kau di sini?” tanya Jiyeon.

“Wae? Ini apartemen kekasihku. Aku hanya berkunjung, memangnya tidak boleh” jawab namja itu santai.

Donghae, Jiyeon, dan namja bernama Taemin itu meninggalkan aku bersama gadis itu.

“Mianhamnida, aku mengganggumu”

“Tidak apa. Teman Donghae uisha dan Jiyeon adalah temanku juga. Kenalkan aku Jung Sojung, kau bisa memanggilku Jessica” ujarnya ramah.

“Tiffany… Tiffany Choi, eh….” Aku ingin menangis dan menampar diriku sendiri kenapa aku menyebut marga Siwon.

“Kau sudah makan? Aku dan Taemin tadi membeli banyak snack dan juga makanan siap saji ketika Donghae uisha mengatakan kau akan menginap” Dia mencairkan suasana.

Aku tersenyum meski sedikit terpaksa.

“Kau cantik” pujinya.

“Kau juga, kekasihmu juga” kataku.

“Hehehe… Tapi kau harus mengakui aku lebih cantik dari dia” ujar Jessica. Malam itu aku dan Jessica menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang banyak hal. Dia tidak menanyakan apapun tentang apa yang terjadi padaku, dia sepertinya mengerti kalau aku memang tidak ingin membicarakannya.

Donghae, Jiyeon… Kalian beruntung memiliki banyak orang yang menyayangi dan mendukung kalian. Patheic… Aku bahkan tak punya siapa-siapa selain diriku sendiri.

Siwon….

i wanna be with you my love
haneul arae yaksokhaeyo
keudaereul jikyeo julkkeyo
yongwontorok

i wanna love you forever
poinayo ireon naemaem
naegyeote sumeul swi eoyo
yongwontorok keudae
saranghaeyo
saranghaeyo

I wish you loved me as huge as I love you, but I guess it’s just dream that too good to be true.

Note :

I need your email to send the password for next chapter. Don’t worry next chapter maybe two days from now. Thanks a lot for comment and support.

Peony means happy marriage.

Chrysanthemum means You’re a Wonderful Friend, Cheerfulness and Rest.

White lily means Virginity, Purity, Majesty, It’s Heavenly to be with You

Letter of Angel XVIII (Angels in My Life)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI

Background song : Picture of you …. Please, listening it while you are reading…

Donghae’s view

After the after glow sets,
i’m going towards you,
following the lights which turn on one by one

I’ll embrace you,
before the cold wind makes your shoulders flinch

I love you,
the foolish you,
you’re so precious to me

Aku terbangun setelah sinar mentari menerpa wajahku. Aku mengerjapkan mata dan melihat sisi ranjang sampingku telah kosong.

Jiyeon sudah bangun duluan.

Aku segera mencuci muka dan turun ke bawah.

“Selamat pagi oppa” ujar Jiyeon dengan senyum, dia sedang menyuapi Mavin yang berada di pangkuannya. Sebuah senyum yang aku tahu dipaksakan. Namun, aku juga berusaha membalas senyumnya. Meskipun, tidak tahu bisakah ini disebut senyum.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.30 KST.

“Oppa, sarapan sudah siap” Aku mengangguk dan menuju ruang makan. Jiyeon memasak nasi goreng kimchi dan menyediakan kopi di meja makan. Aku hanya memandanginya dan sejenak menarik nafas panjang.

Bagaimana keadaan Jaejoong hyung? Apakah dia sudah makan? Apakah dia baik-baik saja? Siapakah yang akan membuatkan sarapan untuknya?

Aku mengacak rambutku frustasi dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.

Kenapa begitu banyak cobaan yang harus aku hadapi? Kenapa kau mengambil orang-orang yang aku sayangi Tuhan? Apa salahku?

Aku merasakan tangan seseorang menyentuh kepalaku dengan lembut. Aku mendongak dan melihat Jiyeon yang tersenyum. Kali ini senyum yang benar-benar menyejukkan dan hangat.

As much as the sun that rises above you,
i’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart,
all the dreams i’ve prayed for,
they’re going towards you with my sincere scent

I hope that my wishes of smiling next to you every new morning,
will be able to come true

Kami hanya diam dan tak berkata apa-apa, hening hingga aku merasakan sebuah tangan kecil menyentuh wajahku. Dia tersenyum padaku dan terkekeh. Aku memandang mereka berdua secara bergantian dan segera merengkuh keduanya dalam pelukanku. Aku merasakan tangan kecil menyentuh dadaku dan tangan Jiyeon yang memeluk punggungku. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum pada keduanya.

“Gomawo”

“Cheonmaneyo” jawab Jiyeon.

Jiyeon dan Mavin duduk di kursi sebelahku. Aku hanya melihat mereka dan terus memandang keduanya.

“Mavin, lihat appa. Dia terkesima dengan kecantikan eomma dan ketampanan putranya. Hahaha” tawa Jiyeon.
Mataku membesar.

“Bwoohhh” ujarku.

“Mengaku saja oppa. Kau terkesima dengan kami berdua kan. Kami tentu saja sempurna. Sebagai adik Park Jungmin yang bahkan dinobatkan sebagai pebisnis muda genius, kaya dan hot. Tentu saja kami dianugerahi gen yang bagus dan Mavin ini appanya saja tampan. Pebisnis yang dinobatkan most sexy and handsome belum lagi…”

“Jadi intinya kau mau bilang kalau Choi Siwon itu lebih baik dariku?” Aku mengerucutkan bibirku. Eh… sejak kapan aku belajar mengerucutkan bibirku.

“Appamu ternyata cemburu yah…. Kekeke… Bagiku dan bagi Mavin, oppa adalah suami dan appa paling tampan kok. Iya kan Mavin?” Mavin hanya terkekeh seolah dia mengerti.

“Af..fa… af…fa” Kami berdua membulatkan mata kami. Mavin bicara? Kata pertamanya appa….

Aku memandang Jiyeon tak percaya, kami segera menuju ruang tamu. Kami merebahkan Mavin dan kami berdua terus menatapnya.

“Appa” aku mengucapkannya di depan Mavin.

“Af..fa..”

“Appa…appa”

“Af..fa..affa.. af..fa”

Aku langsung berjingkrak, kata pertamanya adalah appa. Meskipun tidak terlalu jelas, itu adalah kebahagiaan untukku.

“Aish… tidak adil kenapa kata pertamanya appa… Kenapa tidak eomma?” Jiyeon melipat kedua tangannya di depan dada dan menggembungkan pipinya. Hahaha… Lucu sekali.

Aku menggendong Mavin dan mulai menggoda Jiyeon.

“Lihat.. Eommamu cemburu karena kau bisa mengucapkan appa terlebih dahulu. Kau memang pintar?” Aku mencium pipi Mavin yang chubby.

“Baiklah…. Baiklah… Nikmati dunia kalian sendiri. Lupakan saja eommamu ini” Jiyeon sangat sewot kali ini. Masih tidak terima kata pertama yang keluar dari mulut Mavin adalah appa.

Krruukkkk….

“Hahaha……..” Jiyeon tertawa terbahak.

Sial… Kenapa perutku harus berbunyi sekarang.

“Kajja” Jiyeon menarik tanganku ke ruang makan. Dia mengambil Mavin dari gendonganku.

“Sama eomma dulu yah appa mau makan” ujar Jiyeon lembut.

Aku memakan nasi goring kimchi buatan Jiyeon. Aku baru tahu dia bisa masak.

“Enak….” pujiku. Pipinya bersemu merah. Aku meneruskan makanku, aku melirik Jiyeon yang terus menatapku.

“Buka mulutmu” kataku. Dia bingung, tapi kemudian membuka mulutnya.

Aku menyendokkan nasi goreng dan menyuapinya. Dia menutup mulutnya dengan tangan setelah aku menyuapinya.
Aku menyuapinya lagi, semula dia menolak, tetapi kemudian menurut. Kami menghabiskan sarapan dengan canda dan tawa.

“Oppa, kita ke rumah Jaejoong-oppa yah. Aku ingin mengantarkan sarapan untuknya” Aku mengangguk.

Setelah mandi dan bersiap, kami bertiga segera menuju rumah Jaejoong-hyung. Saat tiba disana, dia sedang keluar pintu dengan membawa koper.

Tunggu dia mau kemana. Segera aku memarkir mobil dan berlari menghampirinya, dengan sedikit terengah aku menghampirinya.

“Hyung” Dia terlonjak saat melihatku.

“Donghae, mau apa kemari?” tanyanya dengan tersenyum.

Aku mengabaikan pertanyaannya.

“Kau mau kemana?” tanyaku sesaat melihat paspor di tangannya. Dia terdiam.

“Kau mau kabur dari kenyataan dan pergi begitu saja” teriakku.

“Oppa” Jiyeon menepuk bahuku, menenangkanku.

“Jaejoong-hyung” seseorang memanggil Jaejoong dan aku melihat Siwon dan Tiffany.

Mereka berdua membungkuk saat melihat aku dan Jiyeon, kami membalasnya.

“Mau apa kau kemari?” tchh… Jaejoong memberi pertanyaan yang sama untuk Siwon.

“Kau akan pergi ke Malawi?” tanya Siwon.

Jaejoong mengangguk. Mataka membesar mendengar kata Malawi.

“Tapi darimana kau mengetahui aku akan ke Malawi?” tanya Jaejoong.

“Tidak penting aku tahu darima, tapi kau yakin akan pergi kesana?”
Jaejoong belum sempat menjawab, aku menyelanya.

“Jelaskan semua sekarang” kataku tegas.

“Aku akan mengikuti misi UNICEF. Daripada aku berada di sini dan terus mengingat semuanya lebih baik melakukan yang berguna demi orang lain, bukan? Di sana banyak orang tua yang merasakan hal yang sama denganku. Kematian anak-anak dikarenakan wabah malaria telah merenggut 2/3 nyawa anak tiap tahunnya. Kau sudah tahu kan”

Aku termenung dan hanya bisa diam.

“Dan kau Choi Siwon, kau memata-mataiku kan? Dimana para pengawalmu? Menurtmu aku tak tahu kalau beberapa hari ini ada pria-pria berjas yang mengikutiku. Kau harusnya punya bodyguard yang jauh lebih handal” Siwon menggaruk kepalanya yang tiadk gatal dan Tiffany hanya terkekeh melihat tingkah suaminya.

“Maaf, hyung. Aku hanya khawatir kau akan berbuat nekad jadi aku terpaksa melakukannya dan maaf juga aku menyelidiki semua yang kau lakukan” ujar Siwon.

“Kau ini memang pria yang menakutkan”

“Itu sindiran atau pujian?”ujar Siwon sedikit sarkastik.

“Dua-duanya” jawab Jaejoong diiringi tawa keduanya.

“Hyung” Jaejoong menghadapku dan aku memeluknya. Tiba-tiba saja airmata membasahi pipiku.

“Maafkan aku…. Andai saja aku bisa menyelamatkannya”

Jaejoong Hyung menepuk punggungku.

“Dokter Lee Donghae adalah calon kepala dokter bedah Seoul National University. Dia tidak boleh lemah demi semua orang yang membutuhkan tenaga dan kemampuannya. Kau harus bertahan untuk memperjuangkan lebih banyak nyawa manusia dan berusaha mengurangi kesedihan akibat kehilangan. Kematian akan mendatangi setiap orang dan bila dokter diberi kesempatan untuk menyelamatkan jiwa maka dia harus mendedikasikan hidupnya untuk memberikan hidup yang dianugerahkan Tuhan. Kematian Yuri bukan salahmu, itu adalah sebuah takdir” suara Jaejoong sedikit bergetar di akhir.

Aku merasakan tangan lain menepuk bahuku. Aku melepaskan pelukanku dan melihat Siwon tersenyum padaku.
Kami bertiga tersenyum.

“Eehm…ehm…. Sepertinya ada yang melupakan keberadaan kami” Tiffany menyindir kami bertiga yang melupakan dia, Jiyeon dan Mavin. Kami bertiga tertawa.

“Sudah siap untuk ke bandara?” tanyaku. Jaejoong terkejut mendengar kata-kataku, tetapi tak lama kemudian tersenyum dan mengangguk.

“Ohya, oppa. Aku bawakan kau makanan nanti makan di pesawat yah” kata Jiyeon.

“Oppa, kami sudah menghubungi beberapa kedutaan besar Korea Selatan di Afrika. Ini nomor-nomor emergency yang bisa kau hubungi jika butuh bantuan dan jangan sungkan menghubungi kami jika ada apa-apa” ujar Tiffany.

Aku terkejut dengan tindakan Siwon dan Tiffany. Aku tak menyangka mereka bertindak sejauh itu. Siwon sepertinya mengerti dengan pemikiranku.

“Ibuku adalah seorang diplomat jadi aku punya relasi dalam hal hubungan internasional dan lagi aku punya teman kuliah saat di US yang merupakan petinggi di UNICEF sekarang ini. Aku hanya meminta ibuku mencarikan kontak duta besar Korea Selatan di Malawi, tetapi ternyata dia melakukan semua itu. Ohya, kalau ditanya bilang saja kau saudaranya Choi Siwon. Hahaha”

“Memangnya mereka kenal Choi Siwon?” tanya Jaejoong sambil memamerkan evil smile.

Ake tertawa melihat ekspresi Siwon.

“Kyeopta” ujar Tiffany.

“Kau tak perlu memujiku Fany-ah aku sudah tahu”

“Anhi… anhi. Maksudku Donghae-shi, neomu kyeopta” ujar Tiffany malu-malu. Aku tersenyum sangat manis pada Tiffany.

“Siwon-shi tampan kok” ujar Jiyeon. Aku memberikan death glare pada Jiyeon. Siwon tersenyum lebar mendengar pujian Jiyeon. Aku segera menarik Jiyeon ke sampingku begitu juga Siwon menarik Tiffany ke sampingnya.

“Hahaha…..” Jaejoong terbahak.

“Kalian ini love birds… Lucu sekali. Sudah-sudah aku bisa telat untuk penerbangan ke Kairo. Disana nanti aku masih harus menempuh perjalanan yang jauh untuk menuju Malawi. Ayo kalian mau mengantarku ke bandara tidak?”
Kami semua mengangguk. Aku membantu Jaejoong membawa kopernya. Jaejoong ikut mobilku karena dia ingin bermain dengan Mavin.

Kami tiba di bandara tepat saat pengumuman penerbangan.

“Penumpang tujuan Kairo dimohon untuk segera menuju gate 2 dikarenakan penerbangan akan lepas landas 5 menit lagi”.

Jaejoong segera berlari menuju gate yang dimaksud dan melambaikan tangannya yang terakhir ke arah kami. Kami melambaikan tangan kami. Aku merangkul bahu Jiyeon dan memperhatikan punggung Jaejoong-hyung hingga tidak terlihat lagi.

“Oppa, tunggu tadi gate 2 kan untuk penerbangan ke Kairo?”

“Iya” jawabku.

“Bukannya Jaejoong-oppa tadi memasuki gate 3”

“Tunggu… Apa?” teriakku.

“Donghae itu tadi gate 3?” tanya Siwon.

Kami berempat segera berteriak-teriak dan berusaha memasuki gate, tetapi petugas melarang kami masuk.
Aku berusaha menelponnya, tetapi percuma. Sesaat kemudian aku dan Siwon tergelak.

“SepertinyaTuhan memiliki rencana lain untuknya. Dan sepertinya memang sudah takdirnya bahkan petugas Boarding Gate tidak sadar kalau tiket penerbangan dengan tujuan penerbangannya tidak sesuai. Hahaha….”
Aku dan Siwon ber-high five.

“Yah, sepertinya ahjushi-mu punya takdir lain Mavin. Kita doakan Jaejoong-ahjushi menikmati perjalanannya yah”

Kami menceritakan perkembangan Mavin sebelum berpisah. Siwon sedikit kecewa saat mengetahui Mavin memanggilku APPA, tapi dia tersenyum dan senang sekaligus bangga Mavin bisa berkembang dengan cepat dibanding anak seusianya.

“Untuk sekarang baik-baik dengan Donghae appa dan Jiyeon eomma yah” kata Siwon tulus.

Aku tahu sekarang semua belum berakhir, masih ada persidangan yang harus dilalui. Aku akan berjuang untuk membahagiakan mereka berdua dan tak akan membiarkan mereka pergi dari hidupku.

Angels in My Life…. Jiyeon and Mavin.

‘i love you’ ‘you’re the only one’,
i want to yell those words out into the sky
i love you, my heart which feels like bursting is calling out to you

No matter how many times they find us,
no matter if we can’t breathe,

Like those invisible flower-like smiles,
which shine just like the stars,
i’ll keep you safe beautifully

As much as the sun that rises above you,
i’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart,
i love you, i love you,
you’re the most beautiful in this world,
this dream-like heart,
more than the air i breathe…

———————————————————————————————————

Note :
Setting Letter of Angel adalah tahun 1990. Jadi, disini Mavin sendiri lahir tahun 1990.
Jiyeon, Donghae, Siwon, Tiffany, Mavin demi keperluan cerita semua masuk ke dalam lounge menemani Jaejoong.

If you have question, don’t be shy just ask me. Hope you like my story. Please, be patient to wait for the next chapter. I’ll update it soon…

t

Letter of Angel : About Us

This story is about us….

Pengenalan Tokoh…. Dalam LOA banyak tokoh yang muncul dan membuat bingung semuanya jadi author yang sudah berdiskusi sama tokoh utamanya, yakni Jiyeon dan Donghae sepakat mau minta maaf. Sayang tokoh utama lain Siwon dan Tiffany g mau katanya g salah ngapain juga minta maaf. Awas saja dua cecunguk ini… hehehe….

“Author, yang salah kamu kok kita ikutan minta maaf?” tanya Jiyeon.

“Sudahlah. Kita ikuti saja kemauan author. Lagian dia g bakal macam-macam sama kita. Author kan terdaftar sebagai fishy” Donghae dengan senyum malaikatnya menenangkan Jiyeon. #drool.

“Apanya? Dia yang mengaku bigeast Cassiopeia ever and Jaeangel with all her heart bisa membuat jaejoong oppa sengsara apalagi kita” bantah Jiyeon.

“Wei, diam jika masih ngoceh aku bikin kalian lebih sengsara” hahaha… Sifat asli.

“Oke. Donghae sekarang jelaskan hubungan tiap tokoh yang berasal dari blokmu?”

“Thor… Blok barat apa blok timur” Aish… memang ni perang dunia kedua.

“Jaejoong, IU, Hara, Changmin, Kyuhyun, TOP (Seunghun), Siwon, Tiffany, Donghwan, Eunhyuk, IU, Taemin, Jessica, Jungmin, Jungsoo (Letteuk)”

“Thor iku mah kabeh… Piye sampeyan iki” #plakkk… Abaikan Donghae berbahasa jawa.

“Jelaskan saja sebisamu” author memasang wajah innocent.

“Ih… Sok polos” Author siap-siap ngasah golok buat Jiyeon, tapi keburu Jiyeon sembunyi belakang Donghae.
“Okay. Let’s get it started”

“Hara nanti jika salah dikoreksi yah” Hara yang duduk di kursi penonton persidangan mengangguk. Sedangkan, Donghae duduk sebagai saksi. Ngarang abis….

“Aku ingatkan keteranganmu akan menjadi bahan pertimbangan di mata hukum” sok ngancem…

Author ketuk palu sidang dengar kesaksian dimulai. Membuat jaksa, saksi, penonton terdiam.

“Saya Lee Donghae bersumpah atas nama Tuhan kalau semua yang saya katakan adalah benar” Donghae bersumpah di atas kitab suci agamanya (Injil).

“Saudara Lee Donghae apa hubungan anda dengan saudara Jiyeon?”

“Jiyeon adalah istri saya”

“Jelaskan hubungan anda dengan orang-orang yang saya sebutkan tadi” Aduh jaksa Junsu bertele-tele ni.
“Mohon jaksa jangan mengulur-ulur waktu” pinta author yang sekarang bertindak sebagai hakim. Kekeke… ngasal…

“Hubungan saya dan Choi Siwon hanya sebatas penuntut dan yang dituntut atas hak asuh Mavin, putra Im Yoona yang dititipkan pada saya. Tiffany Hwang sendiri adalah istri Choi Siwon. Dikarenakan tuntutan dari Choi Siwon maka saya meminta Shim Changmin pacar dari pasien yang saya operasi Lee Jieun (IU) menjadi pengacara dan di kemudian hari saya mengenal Cho Kyuhyun yang merupakan kakak tiri IU”

“Lalu apa hubunganmu dengan saudara Goo Hara” Hara yang di kursi penonton seksama mendengar jawaban Donghae.

“Saya bertemu Goo Hara ketika liburan di Kanada. Ada beberapa pria yang mengganggunya dan kebetulan saya yang menyelamatkannya lalu Hara telah aku anggap sebagai saudara”

“Apa anda tahu kalau nona Goo Hara punya saudara?”

“Iya, saya tahu karena hakim Choi Seunghun menjelaskan bahwa dirinya adalah kakak Hara dan orangtua mereka bercerai saat kecil” Hara terdiam karena tanpa diketahui sebelumnya Donghae sudah diberitahu Seunghun (di cerita LOA yang original Hara belum tahu kalau Donghae sudah mengetahui hubungannya dengan Seunghun)

“Lalu apa anda tahu kalau Choi Siwon adalah sepupu Goo Hara”

“Keberatan jaksa Junsu menanyai terlalu jauh dan menyangkut privacy” bantah Changmin sebagai kuasa hukum Donghae.

“Keberatan ditolak” hehe… author ikut ngomong.. Hakim.

“Saya tidak tahu” jawab Donghae.

“Saksi bisa keluar persidangan. Saksi kedua dipersilahkan masuk”

“Tunggu… Donghae belum menjelaskan semuanya” Eunhyuk yang namanya belum disebut Donghae tidak terima. Donghae menatap Eunhyuk dengan “KAU MAU CARI MATI” Eunhyuk langsung duduk kembali di kursinya dan membentuk tanda peace.

“Saksi kedua saudara Choi Siwon”

Siwon masuk ke ruang persidangan.

“Saya Choi Siwon bersumpah atas nama Tuhan kalau semua yang saya katakan adalah benar” Siwon juga disumpah sama seperti Donghae.

“Saudara Choi Siwon anda diduga mengenal semua orang tersebut. Benarkah demikian?” tanya Changmin.

“Saya tidak mengenal mereka, lebih tepatnya hanya mengetahui” jawab Siwon

“Apa benar anda memata-matai dan mencari seluruh identitas orang-orang tersebut”

“Keberatan pertanyaan itu harusnya tidak dilemparkan pada saksi”

“Saya rasa semua orang berhak tahu kalau Siwon memata-matai mereka. Begitu juga memata-matai pengacara dari Lee Donghae” Changmin menatap Siwon tajam.

Siwon memberi isyarat agar pengacaranya duduk.

“Iya, saya memang memiliki data mereka”

“Jadi anda tentu tahu semuanya?”

“Ya, hakim. Saya mengetahui semuanya, tapi saya tekankan bahwa semua yang saya lakukan tidak akan masuk dalam dakwaan yang kemudian memberatkan saya di kemudian hari”

“Keputusan mengenai hal itu bergantung kesaksianmu. Cukup jelaskan saja” Siwon menghela nafas dan mulai bercerita.

“Lee Donghae, adik kelas Im Yoona bekerja sebagai Dosen di Seoul National University dan dokter di rumah sakit SNU University dan anak pemilik Santa Maria Hospital. Memiliki kakak bernama Lee Donghwan yang juga merupakan dokter bedah di Santa Maria Hospital. Kepala lini bedah jantung di Santa Maria Hospital adalah Park Jungsoo. Sedangkan di SNU dan SNU Hospital Donghae berhubungan dengan dua dosen yang sekaligus berada di kesatuan departemen bedah Kim Jaejoong dan Lee Hyukjae (Eunhyuk). Saya menginginkan putra saya Mavin anak saya dari Yoona, sehingga saya dan Tiffany berkonfrontasi dengan Donghae dan Jiyeon. Jiyeon memiliki saudara laki-laki bernama Jungmin dan merupakan sahabat dari Lee Donghwan kakak Lee Donghae, ia juga memiliki sahabat yakni Lee Taemin dan Henry Lau. Kesulitan mendapatkan Mavin membuat kami harus mendapat Pangeran Meja Hijau Shim Changmin, sayang dia menolak tawaran kami dan akhirnya justru memilih membela Lee Donghae. Shim Changmin memiliki kekasih bernama Lee Jieun (IU) yang merupakan adik tiri Cho Kyuhyun. Hyundai Corp. terpaksa menarik bantuan dari Cho. Corp. dengan suatu alasan tertentu” Siwon mengambil nafas sejenak.

“Alasan apa itu?” tanya Changmin.

“Keberatan. Itu merupakan alasan yang berada di luar konteks kasus yang dihadapi sekarang”

“Keberatan diterima. Silahkan lanjutkan kesaksian anda” hakimnya hahaha…

“Cho Kyuhyun sebagai pemilik Cho Corp. kemudian meminta bantuan pada alm.Yuri Nishishima istri Kim Jaejoong untuk membantu Cho Corp. Tak disangka Yuri membantunya dan Lau Group yang dimiliki keluarga Henry Lau juga ikut menginvestasikan dana di Cho Corp. Jiyeon mendapat dukungan penuh dari Lee Taemin dan Jessica Jung, pacar Taemin untuk menghadapi kasus ini. Di tengah peliknya masalah datang Goo Hara sebagai pengacara baru di tempat Changmin. Goo Hara sendiri merupakan adik Choi Seunghun yang terpisah karena perceraian orang tuanya. Mereka adalah sepupuku. Mianhae Tiffany aku tak mengatakan kalau Hara adalah sepupuku” LOL… Di LOA Original Tiffany lum tahu juga lok Siwon main kucing-kucingan di belakangnya.

“Sidang dengar kesaksian akan segera ditutup jika ada keberatan mohon segera berbicara” Hakim nunggu komentar jaksa dan pengacara masing-masing saksi.

“Pengacara Jung/Lee/Park/Song/Choi/Kim/Yong ada yang ingin anda sampaikan sebagai kepala pengacara saudara Choi Siwon?”

“Tidak. Hakim ini semua sudah cukup”

“Sidang ditutup kita akan bertemu pada sidang pertama kasus gugatan terhadap hak asuh Lee Mavin. Sekian..” Tok..tok…tok…

Note : Hohoho…. Gimana semua dah jelas belum hubungan masing-masing tokoh. Lok belum tahu tanya saja Siwon… Huh, ternyata Donghae sebagai tokoh yang aku “cukup” sayangi g sehandal Siwon soal hal-hal kaya gini. He333…..

Side Story buat yang merasa bingung dengan banyaknya tokoh… Ohya, Kepala Pengacara Siwon aku hadiahkan buat kalian… Silahkan deh pilih maunya dia siapa…

Boleh Jung Yonghwa, Jung Yunho, Yong Doojon, Song Seunghun, Won Bin, Yun Bin….

Tidak boleh Lee Hongki, Choi Joonghun, Choi Minho pokoknya jangan yang masih imut entar g bakal jalan sidangnya karena author sibuk ngapelin tokoh. Oke…?

Next Chapter yang original… Minta izin dulu yah… Tugas sedang numpuk, g mau kan dapat cerita yang g bagus makanya sementara pamit yah…

Letter of Angel XVII (Desperation)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI

Bakground Song : Iridescent_Linkin Park, If I let You Go_Westlife, Raining_FT Island

It’s so cold here. My heart is desperate, who’ll fill the empty space? I thought love would never end. I’d been searching my other help and found you. Now, I lose you… Is it ending of my story? Love is going to be tragedy…… I’ll never let you go, but how can I force God to bring you back stand by me…. Will you be happier after leave me alone? Don’t look behind, I’m still live. Bears my self and tell all that I’m fine. I wish I could die with you.

Setting : SNU Hospital, Santa Maria Hospital

“Eumma, kita ke rumah sakit bareng appa yah?”

“Nde. Kita jemput appa di universitas dulu. Kau bisa jajan dulu di kantin sebelum ke rumah sakit. Ottoke?”
“Asyik. Ehm eumma masih lama yah? Kenapa macet sekali?”

“Sebentar lagi juga lampunya pasti hijau kok”

Jam makan siang di Seoul memang sangat padat. Bukan hal yang aneh jika kami selalu terjebak macet.

“Eumma mobil di depan sudah jalan” Aku menjalankan mobilku, tapi tiba-tiba mobil di depanku ditabrak mobil dari kiri jalan yang membanting setir ke kanan menabrak pembatas masih kaget aku berusaha menghindarinya
sayangnya…..

Donghae POV

“Panggilan untuk dokter Hwan Hyosoo. Dimohon segera ke resepsionis” terdengar panggilan dari pengeras suara.

Hwan Hyosoo…. Tidak ada Hwan Hyosoo di rumah sakit ini. Jangan-jangan….

“Jiyeon, aku harus pergi” kataku meninggalkan Jiyeon dan Mavin. Segera aku menyambar jas dan berlari ke pintu belakang masuk rumah sakit. Panggilan seperti ini menandakan adanya kecelakaan atau musibah besar, peristiwa semacam ini bisa membuat panic para penghuni rumah sakit karena itu panggilan atas nama dokter yang tidak ada digunakan.

“Dokter Donghae kami telah menyiapkan ruang operasi apa anda siap? Kekurangan dokter maaf membuat anda terpaksa terlibat padahal sedang libur” tanya seorang rekan dari ER.

Aku mengangguk. Suster memanduku menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Semua staf bekerja keras, sekarang jam makan siang dokter banyak yang keluar. Saat berlari menuju ruang operasi dokter-dokter lain yang baru datang berlari ke bagian belakang rumah sakit. Aku lihat Jaejoong dan Hyukjae-hyung juga.

Segera aku mempersiapkan diri membersihkan tangan kaki untuk keperluan operasi. Suster membantuku menggunakan perlengkapan operasi. Masuk ruang operasi aku diberitahu siapa saja personel yang akan membantuku.

Suster Jessica bertugas menyerahkan alat operasi, asisten operasi, dokter anastesi dan semua yang berada disini campuran bagian ER, internist, bedah jantung. Komposisi dadakan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Aku sendiri bertugas sebagai dokter operasi.

“Bagaimana keadaan pasien?”

“Tingkat kesadaran………”

Aku tak mendengarkan penjelasan suster setelah melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Dokter Donghae anda tidak apa-apa?” tanya asisten operasi. Dia sudah tahu bahwa sekarang yang akan kami operasi bukan hanya pasien melainkan Yuri-noona.

Changmin POV

“Changmin-shi bisa kau lihat kenapa Donghae keluar terburu-buru?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih bermain dengan Jiyeon.

Saat aku ingin bertanya pada seorang suster yang sedang terburu-buru, siaran tv menyita perhatianku.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lebih dari 10 mobil dan truk. Kecelakaan ini ikut mengulang kecelakaan besar yang terjadi 6 bulan lalu di jalan yang sama. 3 orang meninggal di tempat dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit”

Jalan itu…….. berarti kemungkinan rumah sakit yang dituju Santa Maria Hospital, Seoul National University Hospital, Seoul Hospital…..

Segera aku mengganti chanel di tv rumah sakit mencari berita ini.

Pemirsa kecelakaan di jalan rawat macet di Seoul disebabkan sebuah truk yang kehilangan keseimbangan dan ambruk ke badan jalan. Pengemudi mobil yang lain berusaha menghindari truk, namun karena arus lalu lintas yang padat dan kecepatan tinggi, mobil di belakangnya tidak mampu menghindar dan terjadi kecelakaan beruntun.

“Saat itu truk menggunakan sisi kanan jalan dan tiba-tiba saja oleng ke kiri badan jalan. Mobil di belakangnya membanting setir ke kanan untuk menghindari truk. Sayangnya mobil lain yang berada di kanan jalan tak mampu menghindar dan justru menabrak mobil itu sehingga terjadi kecelakaan beruntun”
Menurut keterangan terakhir kepolisian 3 orang meninggal di tempat dan sisanya dilarikan ke rumah sakit. Kecelakaan ini menyebabkan terjadinya penutupan jalan lebih dari 5 jam dan mengalihkan jalur pengendara ke jalan lain. Sekian breaking news

Tragis sekali…. Kenapa perasaanku tidak enak? Tunggu wanita dan anak yang bersimbah darah itu?

“Suster dimana dokter-dokter?” tanyaku pada suster yang kelihatan sibuk sekali.

“Makan siang” jawab suster itu kaget dan berusaha setenang mungkin.

“Suster saya seorang pengacara, saya tahu benar bagaimana orang yang berbohong. Katakan sekarang” aku mengurangi volume suara agar tak ada yang mendengar.

“Maaf, saya sibuk” kata suster berusaha menghindar.

“Kecelakaan di jalan padat yang mengarah ke SNU university, para korban dilarikan kesini dan membuat para dokter dan suster langsung sibuk kan?”

Suster tertegun dan berbalik.

“Mianhae, itu….”

“Sekarang saya akan ikut anda. Saya memaksa”

Kami tergesa menuju bagian belakang rumah sakit. Disana aku melihat korban kecelakaan, Jaejoong-uisha berada di sisi lain sedang menutup mukanya dan bersandar ke dinding. Bahunya berguncag hebat, Eunhyuk berusaha menenangkannya. Dokter lain sambil menangani pasien melihat Jaejoong dengan tatapan sendu.

Jangan-jangan benar Yuri dan Haejoong terlibat dalam kecelakaan ini?

“Hyung” panggilku, Eunhyuk langsung menatapku.

“Hyukjae uisha, kami membutuhkan tenaga tambahan. Seorang wanita mengalami patah tulang pinggul dan tulang belakangnya dikhawatirkan cedera, operasi harus dilakukan secepatnya” Eunhyuk jelas merasa keberatan meninggalkan Jaejoong.

“Pergilah. Ada pasien yang harus diselamatkan” Jaejoong menatap Eunhyuk sambil menyunggingkan senyum terpaksa.

“Changmin-shi, jaga Jaejoong-hyung” kata Eunhyuk berbisik padaku.

Eunhyuk meninggalkan kami beruda, pandanganku beralih pada Jaejoong.

“Lebih baik kita……” Perkataanku terpotong.

Jaejoong entah menuju kemana. Aku mengikutinya dan ternyata ke parkiran, dia hendak masuk mobil.

“Biar aku yang menyetir, katakan saja uisha mau kemana” Jaejoong mengangguk dan duduk di kursi penumpang.

“Changmin-shi antarkan aku ke Santa Maria Hospital” pintanya.

Jaejoong POV

“Seberapa parah keadaan anak itu?”

“Aku tak tahu yang jelas di dalam kamar 5.01 ruang operasi bedah anak sekarang berkumpul dokter terbaik rumah sakit kita dan seorang dokter Seoul Hospital”

“Siapa?”

“Godhand Bae Yong Joon. Aku dengar karena tulang rusuk anak itu patah dan mengenai jantungnya, beliau yang kebetulan juga lewat situ tidak bisa menggunakan CPR sehingga memilih memberi bantuan pernafasan dengan melewatkan tenggorokan. Mengerti maksudku kan?”

“Menggunakan scalpel dan memotong bagian tenggorokan?”

Lawan bicaranya mengangguk, aku bergetar mendengarnya.

Ya, Tuhan… Kenapa seperti ini?

Mereka berdua kaget saat melihat aku dan Changmin serta buru-buru pergi.

“Tunggu dimana ruang bedah 5.01, aku dokter SNU Hospital yang dipanggil kesini untuk membantu operasi” ujarku berbohong dan berusaha sekuat tenaga menahan airmata yang hampir jatuh.

Donghwan POV

“Dokter Donghwan mari ikut saya” ajak suster.

“Seorang anak berusia 5 tahun. E+M+V 5, E dan V 2, sedangkan M 1. Tingkat GCS berada pada tingkat stupor. Patah 2 tulang rusuk dan mengenai bagian jantungnya. Sempat kehilangan kesadaran dan denyut jantung menghilang. Pertolongan pertama setelah kecelakaan adalah pembukaan jalur pernafasan melewati leher karena CPR tidak memungkinkan dilakukan oleh dokter yang kebetulan berada di lokasi kejadian” jelas suster sepanjang perjalanan.

Aku mengangguk dan mempercepat langkahku. Anak itu sudah dilarikan ke ruang bedah anak.

“Donghwan!” Saat aku akan memasuki ruang operasi Jungsoo-hyung memanggilku dengan berteriak.

“Kau siap? Yang kau operasi adalah Haejoong” kata Jungsoo setenang mungkin.

Deg…..

Ingin rasanya aku merosot ke lantai saat itu juga.

“Biarkan aku yang mengoperasinya” tawar seorang pria yang aku ketahui dokter Bae Yong Joon dari Seoul Hospital.

Kami bertiga sepakat saat itu juga, dokter Yong Joon yang akan menjadi dokter kepala operasi, Jungsoo dokter penanggung jawab operasi dan aku sebagai asisten dokter operasi. Jungsoo hyung tak memungkinkan untuk menjadi dokter operasi karena drop pasca bekerja tanpa henti menggantikan pekerjaan Donghae di Santa Maria Hospital, lini bedah jantung tempat Donghae bernaung sangat sibuk setelah Donghae cuti seminggu lalu. Aku sendiri keadaan psikologisku tak memungkinkan menjadi dokter operasi terhadap Haejoong. Dokter Yong Joon akhirnya berinisiatif mengambil tugas dokter operasi setelah mendengar penggambaran sekilas Jungsoo-hyung mengenai kami dan Haejoong.

“Sekarang saatnya operasi. Kalian siap bukan? Aku harap kalian menanggalkan kehidupan pribadi dan perasaan kalian, disini gunakanlah perasaan dan kemampuan kalian sebagai dokter bukan individu” Langkahku berat memasuki ruang operasi dengan jelas yang berada di depan kami Haejoong. Di meja operasi ini, di tangan kami.

Haejoong sudah dibius. Denyut jantungnya lemah dan kami sekarang mematikan kerja jantung untuk sementara.
“Pisau bedah” suster mengangsurkan pisau bedah ke dokter Yong Joon.

Dokter Yong Joon melakukan pembelahan dada dan aku menunjang operasi dengan mengimbangi kecepatannya. Aku bisa mendengar suster penyedia peralatan operasi berdecak, ya patahan tulang rusuk Haejoong menancap di jantungnya.

“Kita harus hati-hati supaya luka di jantungnya tidak semakin melebar” Aku mengangguk dan berfokus pada pisau bedah.

Kami berhasil mengambil patahan tulang yang menusuk jantung Haejoong.

“Benang jahit, jarum. Lakukan penjahitan dari dalam” Penjahitan luka dalam? Aku sejenak berhenti dan memandang dokter Yong Joon.

Kau bisa Donghwan… Lakukan… Profesional demi keselamatan pasien…

“Jika kau tak mampu akan aku lakukan sendiri” Aku tersadar dan melakukan penjahitan dengan menyesuaikan diri dengan kecepatan tangan dokter Yong Joon. Alat henti kerja jantung dimatikan.

Detak jantungnya semula tak ada, tapi kemudian ajaibnya pada EKG terdapat garis peningkatan kerja jantung meski lemah.

“Jahit rongga dadanya sekarang”

Operasinya berhasil 6 jam. Operasinya berhasil… Kami berhasil.

Jaejoong POV

Setelah lama menunggu akhirnya lampu ruang operasi dimatikan. Aku langsung mendatangi dokter yang ternyata Donghwan dan Jungsoo serta aku tak kenal siapa.

“Hyung… Haejoong” Donghwan menangis dan memelukku.

“Dia selamat” kata dokter Jungsoo.

“Berdoalah supaya dia melalui masa kritis. Kau ayahnya? Akan aku jelaskan semua mengenai operasi dan kemungkinan-kemungkinan selanjutnya”

Aku mengangguk dan mengikutinya.

Changmin POV

“Donghwan. Yuri gagal diselamatkan” Setelah Jaejoong-hyung pergi bersama seorang dokter. Dokter lain yang bersama Donghwan-hyung memberikan kabar yang membuat kami tak bisa berkata-kata

Donghae POV

Tiiiitttttttttttttttttttt…………..

“Kejut jantung”

“Dokter sudahlah… Dokter… Dokter” Jessica berbicara sambil menangis.

Ya, Tuhan… Noona… Ya, Tuhan….

Eunhyuk POV

Setelah operasi aku mendengar bahwa operasi Donghae meski berhasil Yuri-noona tak bisa diselamatkan. Aku menghubungi Jungsoo-hyung dan memintanya memberitahu Donghwan. Aku juga mendengar operasi Haejoong berhasil, Jaejoong jika kau mendengar Yuri telah meninggal….

“Yoboseyo” jawabku lemah.

“Hyukjae-uisha ini aku Changmin. Keadaan Donghae bagaimana?” tanyanya.

Aku terdiam dan tidak menyahut.

“Hyukjae-uisha, yang telah pergi tak akan bisa kembali tapi Donghae-uisha aku yakin dia tergoncang sekarang. Akan aku hubungi semua orang termasuk Hara. Hyukjae-uisha, serahkan Jaejoong-uisha pada kami yang sekarang di Santa Maria Hospital. Tolong, kau tetap kuat ”

Kyuhyun POV

“Operasi Yuri-noona gagal” kata Hara padaku.

Ya… Tuhan…

“Hara kau bercanda kan?” Hara menggeleng.

Nishishima Group akan memberi bantuan dana pada Cho Corp. Eh bukan maksudnya investasi. Lau Corp. pasti juga membantumu, tenang saja ya ^^

Noona, tapi saya belum bisa memberi kepastian keuntungan

Jangan khawatir aku percaya padamu saeng… Boleh aku memanggilmu demikian? Kau tahu sendiri tak mungkin aku memanggil saeng pada Donghae, Eunhyuk, tapi kau jelas lebih muda dariku.

Kyuhyun-ah… Perusahaanmu sudah membaik? Kalau butuh bantuan lain hubungi aku.

Masih kelihatan aneh ya logatnya. Aku memang orang Jepang, baru beberapa tahun tinggal di Seoul karena menikah dengan orang Korea.

Salam untuk adikmu yah… Dia sangat manis, baiklah aku sampaikan salammu pada Jaejoong.

Hahaha…. Kyuhyun-ah, kau berniat melamar Hara? Gadis itu sepertinya baik. Hwaiting! Izin pada Donghae kalau tak mau dia mencincangmu hidup-hidup.

Saat itu aku sudah akan ambruk. Noona yang baru aku miliki, noona… Noona…

“Hara-ya” Aku langsung memeluk Hara yang menatapku.

“Dia noonaku. Dia noonaku”

Donghwan POV

Suster menelpon kami, grafik EKG menunjukkan penurunan. Saat kami tiba…

“Dokter Jungsoo… Nafasnya berhenti” teriak seorang suster.

“Donghwan”

“Lakukan semua yang kita bisa” kataku.

Kau harus bertahan…. Nak, kau harus bertahan.

“Alat kejut jantung…. Haejoong bertahanlah, kau harus bertahan”

Jaejoong berlari dari pintu ICU. Dia langsung histeris.

“Haejoong, kau harus hidup. Jangan tinggalkan appa. Haejoong!!!!”

Tiiiiittttt…………….

Do you feel cold and lost at the desperation
You build up all the failiures all you’ve known
Remember all, the sadness and frustration
And let it go, let it go

Jiyeon POV

Suster datang ke kamarku dengan wajah tertunduk. Dia hanya mengganti infuse yang aku gunakan, tidak hanya itu rumah sakit seolah berduka ketika aku melongok ke luar. Dokter-dokter dan suster berjalan dengan langkah gontai dan lesu.

Aku putuskan melepas jarum infuse dan berjalan di koridor sambil menggendong Mavin, di ujung koridor aku melihat Taemin memeluk Jessica. Entah kenapa dari tadi perasaanku tidak enak dan sekarang aku melihat Jessica berada di dalam pelukan Taemin. Aku mendekat ke arah mereka.

“Taemin… Kita kehilangan Yuri-eonni… Kami tak bisa mendapatkannya kembali…”

Kehilangan Yuri-eonni? Apa maksudnya? Aku terdiam di posisiku dan sepertinya Taemin melihat keberadaanku. Dia melepas pelukannya pada Jessica.

“Jiyeonie” gumam Taemin lemah.

Airmata mengalir di pelupuk mataku. Aku pingsan saat itu juga.

Eunhyuk POV

“Donghae…. Setiap dokter akan mengalami guncangan ketika kehilangan pasien, tapi kita tak bisa memungkiri bahwa itu semua di luar kuasa kita. Tuhan, pasti punya rencana tersendiri untuk kita semua. We are standing in the way of the unknown, We are standing under the blue sky which will change to be dark sky or even becomes brighter than light. Keep our spirit to trought out all problem we get. We can erase sadness and don’t have power to turn back the time. Let it go, Donghae. It’s not the end of your life, just slice of life which be part of whole story. Like a puzzle is a piece… Piece by piece… I’ll leave you alone till you feel better. Thinking of my words”

Aku berjalan meninggalkan Donghae, tepat ketika aku membuka pintu ruang kerjanya.

“Changmin tidak mungkin. Haejoong juga”

Aku menjatuhkan ponselku dan langsung merosot ke lantai.
Bagaimana mungkin….

Donghae POV

Aku mengambil ponsel Eunhyuk dan mendengar suara histeris di seberang sana.

“Haejoong… Jangan tinggalkan appa, Haejoong!!!!!”

“Apa kami juga kehilangan Haejoong?” tanyaku dengan suara bergetar.

“I’m sorry uisha. We’ve lost him…” jawaban Changmin meruntuhkan tembok pertahananku. Aku langsung terhuyung dan bersandar pada dinding.

Junsu POV

“Yoboseyo, Chaerin-ah? Apa!!”

Aku terburu meninggalkan ruanganku dan tak sengaja menubruk hakim Seunghun yang kebetulan lewat.

“Mianhae…” aku kembali berlari.

“Tunggu. Ada apa?” Seunghun menahan langkahku. Aku menjelaskan dengan tergesa.

“Aku ikut. Kau tak bisa mengemudi dengan pikiran kalut seperti sekarang”

But If I let you go I’ll never know
What my life would be
Holding you close to me
Will I ever see You’re smiling back at me
How will I know
If I let you go

Dari semua orang disini hanya aku yang tersisa. Kau tak boleh ikut ambruk juga Changmin… IU yang semula aku pikir bisa ikut menguatkanku ternyata langsung down mendengar kabar ini. Aku memandang langit Seoul yang sedang tak bersahabat dengan kami.

“Aku ingin menyewa rumah duka. Uangnya akan saya transfer. Atas nama Shim Changmin, untuk 2 jenazah”

Di rumah duka maupun pemakaman, Jaejoong-uisha terlihat berusaha setegar mungkin. Justru kami yang merasa lemah. IU, Kyuhyun, Hara dan aku kami bisa disebut orang luar bisa merasakan kedukaan yang amat sangat. Tak perlu waktu lama kau merasa dekat dengan seseorang, waktu itu akan terasa lama saat kau sadar dia sudah tidak ada. Aku harap mereka semua yang ada disini dapat melanjutkan hidup…. Jaejoong, bagaimana perasaanmu? Donghae, Donghwan kalian sudah berusaha semaksimal mungkin. Jiyeon, Jungmin, Mavin, Junsu, Chaerin, Jessica, Taemin…. Pertemuan pasti memiliki akhir. Yuri dan Haejoong tahukah kalian, aku menyesal tak sempat mengenal kalian dengan baik, tapi aku yakin kehidupan kalian tidak sia-sia. Di pemakaman kau justru bisa merasakan banyak cinta meski itu juga berarti kedukaan yang mendalam.

I’m waiting to be called for the next death
I lose everything
How can I live without them beside me?
No one feel the pain… No one know what I feel?

Like not getting wet in the unending rain
Shoulder pressed to the way home
From that place you disappeared
Even now, the rain keeps falling on me

———————————————————————————————————–
“Hah…hah..hah….”

“Hei, ahjushi are you okay?”

Aku memeluk gadis di depanku, aku kembali mengingat kepergian Yuri dan Haejoong.

“What’s wrong with you? Hei, ahjushi. You’re not impolite!!! Don’t hug me!!!…”

Aku justru menangis di bahunya. Dia yang semula berontak kemudian mengelus punggungku.

“Just this time. Cry out, I’ll be your shoulder to cry on. I’m here, everything is gonna be okay. I promise you”

Entah kenapa aku bisa merasa tenang bersama dengan gadis yang sama sekali tak aku kenal ini.

Keterangan :
Glasgow Coma Scale = GCS, yang pertama kali diperkenalkan oleh Teasdale & Jennet pada tahun 1974 dan banyak digunakan dalam klinik digunakan untuk mengetahui derajat kesadaran. Dengan 3 aspek :
1. kemampuan membuka mata : EYE opening = E
2. aktifitas motorik : MOTOR response = M
3. kemampuan bicara : VERBAL response = V

Disini kami memakai E =2, M = 1, V = 2 (Keadaan Haejoong)
E  dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2
M  tidak ada gerakan : 1
V  tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2

EKG : elektrokardiogram (alat untuk mengetahui kerja jantung) dengan menunjukkan grafik naik turun tergantung lemah kuat detak jantung.

CPR : Cardiopulmonary resuscitation secara umum dikenal dengan pernafasan buatan.

Keterangan mengenai bidang kedokteran diusahakan sebenar-benarnya, basicnya author sendiri teknologi hasil perikanan jadi jangan tanya kenapa gini gitu. Semua dipercayakan pada keterangan teman yang kuliah di kedokteran umum. Gomawo, atas semua informasinya chingu.

Yang mau tahu operasi pembelahan dada, alat henti kerja jantung, suasana operasi bisa lihat di MV Zang Li Yin featuring Kim Junsu JYJ judulnya Timeless bintang video clipnya Siwon ma Hangeng. he33

Note :
Semula tak ada rencana adanya chapter mengenai penjelasan kecelakaan, tapi karena pada bingung maka chapter ini dibuat. Sebelumnya di chapter XV hanya ada singkat cerita kepanikan SNU University Hospital dimana Donghae dan Jessica terlibat dalam operasi Yuri, sedangkan Haejoong ditangani Donghwan dan Jungsoo di Santa Maria Hospital.

Sekarang, author sibuk menyiapkan berkas seleksi program. Mohon doanya supaya lolos yah ^^

Tinggalkan jejak yah… Bete banget viewer di dashboard cukup lumayan, tapi commentnya dikit banget. Buat next chapter bakal di password so pastikan comment dan ehm tinggalkan email kalian biar aku kirim pw-x.

Am I cruel to Jae? The answer is in real life, he is getting many problems, faces injustice. Sometime he feels desperate, but he proves can standing like hero. So, I want to tell you in this world and our life sadness, frustration can’t stop you to trought way out and in the end you’ll find happiness. We wouldn’t been able to learning how beautiful and meaningful life is If We hadn’t gotten sadness.

Letter of Angel XVI (Holding Back the Tears)

Background Song : My Heart Will Go On_Celline Dion, How Do I live Without You

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV

Duniaku sudah berakhir…. Aku sudah tak punya apa-apa lagi. Kalian adalah hal terpenting dalam hidupku. Saatnya aku melepas semua dan pergi, aku tak mapu lagi menjalani semua tanpa kalian.

Seunghun POV

“Kenapa kau mengizinkan mereka membawa Mavin?” teriak Tiffany. Siwon yang berusaha menenangkan Tiffany tak mampu menahan kemarahan istrinya yang berteriak-teriak di ruanganku.

Tok…tok…tok…

Aku tak mengindahkan tatapan marah Tiffany dan membuka pintu ruang kantorku.

“Sajangnim, karangan bunga sudah dikirim” kata sekretarisku.

“Gamsahamnida” jawabku. Aku memandang Siwon dan Tiffany bergantian.

“Jika kau punya hati biarkan untuk sementara Mavin bersama Jiyeon dan Donghae. Aku akan menghadiri pemakaman” kataku.

Tiffany dan Siwon terlonjak. Pandangan Tiffany melembut.

“Seunghun siapa yang meninggal?” tanyanya dengan suara lirih.

“Sahabat sekaligus keluarga mereka berdua”

Diluar dugaanku Tiffany meminta Siwon untuk ikut bersamaku.

“Biarkan kami berdua ikut” pinta Tiffany. Aku mengangguk.

Donghwan POV

Kami semua datang di pemakaman paling menyedihkan. Saat kehilangan appa seolah dunia kami runtuh, sekarang aku harus melihat seorang lelaki yang berusaha setegar mungkin menghadapi takdir Tuhan.

“Kami turut berduka cita” kata para pengiring.

Jiyeon memeluk Mavin sambil menangis, Donghae tak kalah shocknya saat memeluk mereka berdua. Dia merasa bersalah tak mampu menyelamatkannya.

Aku dan dokter Jungsoo, kami seolah gagal. Hari terberat bagi kami adalah saat kami tak mampu menyelamatkan pasien, sekarang kami mengalaminya tak hanya tak mampu menyelamatkan pasien. Kami mengenal pasien, kami dekat dengan pasien dan kami berdiri menghadiri pemakamannya.

Jungmin POV

Noona, kita baru berinteraksi beberapa bulan. Melewati hal-hal yang menyedihkan dan menyenangkan. Haejoong, kau tahu tingkahmu yang lucu akan sangat ahjushi rindukan. Noona, Haejoong terima kasih dalam perkenalan yang begitu pendek denganku dan Jiyeon, kalian membawa adikku pada cinta sejatinya. Gamsahamnida…..

Changmin POV

Aku memeluk IU yang menaruh buket di atas dua makam di depan kami. Kyuhyun dan Hara berdoa di depan makam.

“Kau tahu dia adalah wanita yang baik, walau baru mengenalnya aku tahu dia wanita yang sangat baik” kata Kyuhyun pada Hara. Hara merangkul Kyuhyun.

“Oppa” IU berbisik dalam pelukanku.

Aku meliriknya sejenak.

“Ketika aku kehilangan eumma dan appa Cho rasanya semua duniaku berakhir. Aku nyaris berpikir bunuh diri andai saja aku tak punya Kyuhyun oppa. Meski, kakak tiriku dia tak pernah mempermasalahkan itu dan menjaga hati serta hidupku. Lalu….” IU tak bisa meneruskan kalimatnya dan membenamkan wajahnya di dadaku. Dia pasti merasakan sulitnya kehilangan.

Jiyeon POV

Eonni… Aku baru mengenal eonni, kenapa eonni begitu cepat pergi. Eonni lah yang meyakinkanku untuk berjuang demi cintaku. Eonn, siapa yang akan menguatkanku sekarang? Haejoong…. Ahjumma ingin memelukmu lagi. Ahjumma ingin mendengar tawa dan teriakanmu.

Donghae POV

Kenapa kau mengambil mereka berdua Tuhan? Kenapa Tuhan? Noona, Haejoong…. Andai saja aku mampu menyelamatkan noona. Andai saja dengan tanganku ini aku mampu menyelamatkan noona.

Jessica POV

Eonni, Haejoong, aku harap kalian tenang di alam sana. Kami akan menjaga Jaejoong-uisha. Meski aku mengenal kalian sebatas suster dengan keluarga dokter, tapi aku menyayangi kalian.

“Sicca….” Taemin meraih tanganku dan mengajakku menghadap Jaejoong-uisha.

Chaerin POV

“Nak… Kau tahu sekarang kita di depan makam ahjumma dan juga kakakmu. Eumma tidak menyangka kalau mereka pergi secepat ini. Nak….”

“Chaerin-ah” kata Junsu. Aku berdiri dan memeluk Junsu, tak pernah aku bayangkan bayiku tak sempat melihat dan bertemu ahjumma serta kakaknya.

Tiffany POV

Pemakaman sangat ramai. Karangan bunga sepanjang jalan masuk, pemakaman ini penuh dengan orang.
Saat kami menerobos kerumunan orang, aku terkesiap melihat orang-orang yang berada disitu. Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Donghae. Mavin dan Jiyeon. Jiyeon memeluk Mavin sambil menangis dalam pelukan Donghae. Semua orang kelihatan sangat sedih dan berduka. Aku melihat seorang lelaki tampan yang dikelilingi beberapa pria yang menyentuh bahunya.

Hara POV

Aku melihat Siwon, Seunghun dan seorang wanita yang aku yakini istri Siwon. Apa mereka mau mengambil Mavin di saat seperti ini. Siiiaalllll…..
Aku melepaskan rangkulan Kyuhyun dan berjalan menuju mereka. Changmin yang menyadari hal ini melepaskan pelukannya pada IU dan meminta Kyuhyun menopang IU. Aku melirik Changmin sekilas dan dia mengangguk tanda mengerti. Jaksa wilayah Kim Junsu juga bergabung bersama kami. Sekarang kami bertiga menemui Seunghun dan Siwon.

“Ada urusan apa kalian kemari?” tanyaku berusaha tenang.

“Kami hanya ingin mengucapkan belasungkawa dan memberi penghormatan terakhir” kata Seunghun.

Aku menatap Siwon dan wanita itu intens. Mereka sepertinya cukup mengerti.

“Kedatangan kami bukan untuk mengambil putra kami. Changmin-shi soal semua yang terjadi, saya minta maaf” ujar wanita itu.

“Aku dan Tiffany benar-benar minta maaf” Siwon ikut membungkuk bersama wanita yang ternyata bernama Tiffany itu.

Kami tersenyum dan bersama kembali ke tempat pemakaman.

Jiyeon POV

Aku terkesiap melihat Tiffany dan Siwon yang baru datang ke pemakaman bersama hakim Seunghun dan disambut Hara, Junsu dan Changmin.

Tiffany mendekat ke arahku dan Donghae. Aku memeluk Mavin lebih erat.

“Kau boleh membawa Mavin sampai keputusan dijatuhkan. Kau sekarang lebih membutuhkannya, tapi bolehkah aku memeluknya disini” kata Tiffany. Aku mengangguk, Donghae melepaskan pelukannya padaku. Tiffany malah merengkuhku.

“Kau harus kuat” ucapnya dan melepas pelukannya. Dia mengelus dan mencium kening Mavin. Siwon tak ku sangka dia merangkul Donghae.

Jaejoong POV

Semua orang berangsur meninggalkan makam. Jungmin, Donghwan, Eunhyuk, Junsu, Chaerin, Jiyeon, Donghae bersikeras menemaniku, tapi aku tak bersedia. Kyuhyun, Hara, IU, Changmin, Jessica, Taemin juga tetap tak beranjak. Akhirnya dengan amat sangat aku memohon agar meninggalkanku sendiri. Dengan berat hati mereka meninggalkanku.

“Yuri, Haejoong kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa Haejoong meninggalkan appa? Yuri bukankah kau berjanji akan menamaniku seumur hidup. Kau bilang tak akan pernah meninggalkanku. Kenapa sekarang kalian meninggalkanku sendiri?”

Aku menangis sendirian disini. Menumpahkan semua kesedihan yang aku rasa.

“Aarrrrggghhhhhhh”

Sepertinya Tuhan mendengar tangisanku. Alam menangis bersamaku, hujan menemaniku. Dinginnya hujan sama dinginnya dengan hatiku.

“Tuhan…. Lebih baik kau mengambil nyawaku. Kenapa kau begitu kejam padaku? Tuhan !!!!!!!!!!…..”

Aku berteriak sekuat tenagaku. Tuhan… Buat apa aku masih hidup? Lebih baik mati bersama Yuri dan Haejoong.
Aku merogoh pisau lipat yang aku siapkan saat akan menuju pemakaman. Meski ini dosa besar dan mendahului kehendak Tuhan, aku tak peduli. Aku hanya ingin mengakhiri kesedihan ini.

Aku membuka lipatan pisau dan mengarahkannya pada pembuluh di leherku.Menutup mataku dan….

“Jangan bertindak bodoh” Tanganku tertahan, kubuka mataku, melebarkan pupil dan melihat seseorang yang berdiri di hadapanku.

Aku merasakan ada yang memayungiku saat aku menengadah dia tersenyum.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua” katanya sambil menyerahkan payung pada pria di depanku. Dia berlari menembus hujan dan meninggalkan kami berdua.

Siwon POV

“Jangan bertindak bodoh” aku menghentikan tindakan pria di depanku. Tiffany dan aku sedari tadi belum meninggalkan pemakaman. Entah mengapa ada perasaan yang mengatakan aku harus tetap disini.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua” kata Tiffany dan memberikan payungnya padaku. Fany pulang bersama pengawal yang aku suruh untuk menjemputnya.

“Mereka pasti akan sangat kecewa jika kau mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini”

Aku beralih menghadap dua makam di depan kami.

“Kim Yuri, Kim Haejoong sekarang aku bersama dengan orang yang berarti dalam hidup kalian. Yuri kau pasti sangat bahagia hidup bersama pria yang mencintaimu sepenuh jiwa raganya, Haejoong kau pasti sangat senang memiliki ayah yang selalu menjaga dan menyayangimu. Kalian tahu baginya kalian adalah segala-galanya. Aku bangga bisa mengenal pria sepertinya, kalian masih akan selalu hidup dalam hatinya”

Aku beralih pada Jaejoong yang menangis sambil menunduk.

“Kita nikmati hujannya sampai selesai. Setelah itu ada yang ingin aku tunjukkan padamu” aku melepaskan payung yang kami gunakan dan membiarkan hujan menerpa kami berdua.

Tiffany POV

“Nyonya, anda basah sebaiknya kita pulang dulu” kata pengawal.

“Tidak antarkan saja aku ke tempat yang aku minta” kataku pada pengawal.

Ting…Tong… Ting… Tong….

Seorang pembantu membukakan pintu untukku.

“Tuan Cho Kyuhyun ada?” tanyaku.

“Ada beliau dengan para tamu sedang di dalam” kata pembantu itu. Aku memintanya memanggilkan Kyuhyun.
“Tolong langsung sampaikan padanya Choi Tiffany mencarinya” pintaku.

Tak lama Kyuhyun keluar dan terlihat kaget melihat aku basah kuyup.

“Kyuhyun-shi, saya…”

“Masuklah dulu keringkan tubuhmu baru bicara” katanya padaku. Aku menurut.

Di dalam ternyata semua berkumpul. Aku semula hendak memberitahu Changmin atas kejadian tadi, tapi pembantu di rumahnya mengatakan kalau dia sedang melayat jadi yang terpikir di otakku hanya Kyuhyun. Dan di rumah Kyuhyun aku melihat semua orang berkumpul.

Adik Kyuhyun dan seorang perempuan membantuku mengeringkan badan.

“Pakai ini eonni” kata adik Kyuhyun padaku. Aku mengangguk dan mengganti pakaianku di kamar mandi di kamar adik Kyuhyun. Setelah selesai aku duduk di ranjang.

“Ini teh untuk menghangatkan badanmu. Go Hara imnida”

“Choi Tiffany imnida” balasku.

“Lee Jieun imnida” adik Kyuhyun memperkenalkan dirinya padaku.

Aku meminum sedikit teh yang Hara berikan.

“Mian bisakah panggilkan Kyuhyun atau Changmin ada hal penting yang harus aku katakan” Jieun mengangguk dan pergi meninggalkan kami berdua.

IU POV

Tanpa pikir panjang aku menarik Changmin dan Kyuhyun oppa meninggalkan semuanya di ruang tamu. Aku mengajak mereka ke kamarku, Hara eonni mengajakku keluar setelah Changmin dan Kyuhyun masuk.

“Ada apa eonni?” Hara tidak menjawab.

Changmin POV

“Ada yang ingin kau bicarakan? Tadi pembantuku menelpon kalau kau mencariku?” kataku dingin.
Tiffany menghela nafas panjang.

“Aku tahu kita tak memiliki hubungan yang baik” Dia menggoyang-goyangkan cangkir tehnya.
Aku sudah tak sabar mendengar apa yang ingin dia katakan.

“Tiffany-shi sepertinya ada masalah penting. Apa yang ingin anda sampaikan?” Kyuhyun buka mulut dengan kediaman Tiffany.

“Siapakah yang dekat dengan pria di pemakaman tadi?” tanya Tiffany. Kyuhyun sepertinya mulai mengerti dan berlari ke bawah.

Sekarang di kamar IU berkumpul aku, Kyuhyun, Donghae, Donghwan, Eunhyuk, dan Junsu.

“Tiffany-shi kami semua berhak mengetahui apa yang akan kau sampaikan. Kamilah orang terdekatnya” kata Kyuhyun.

“Dia berniat bunuh diri setelah kalian pergi, Siwon menghentikannya dan sekarang bersamanya”

Helaan nafas panjang dan juga ketidakpercayaan jelas terpancar dari wajah semuanya.

“Dimana mereka sekarang?” Junsu segera saja menanyakan hal tersebut. Dia sangat khawatir terhadap keadaan Jaejoong.

“Handphone Siwon mati, tadi aku meninggalkannya di makam bersama dengan pria itu. Aku yakin sebentar lagi Siwon akan menelpon” jawab Tiffany.

“Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku pamit” kata Tiffany dan meninggalkan kami.

“Tiffany-shi, gamsahamnida” ucap Donghae, Tiffany berbalik dan mengangguk.

Donghae POV

“Justru Siwon yang menyelamatkan hidupnya” ucapku lemah dihadapan yang lain. Kami masih berada di kamar IU. Kami harus bersikap seolah Tiffany tak membawa kabar apa-apa.

Junsu masih terlihat shock. Eunhyuk menepuk pundaknya. Donghwan memandang hujan di luar jendela. Kyuhyun dan Changmin bersandar pada dinding dan hanya diam.

Kami kalut dalam pikiran masing-masing. Bukan kami sahabat Jaejoong-hyung yang bersamanya sekarang, melainkan Choi Siwon orang luarlah yang menyelamatkan hidup dan menemaninya di saat berat seperti ini.

Jaejoong POV

Siwon mengajakku ke sebuah kapel dan masuk ke dalamnya.

“Silahkan mengadu sepuasmu kepada-Nya” kata Siwon. Kami berdua duduk di baris paling depan.
Aku menumpahkan segala kesedihanku. Hatiku menumpahkan segala macam hal yang membelenggu dan menyiksaku.
Siwon terdiam di sampingku dan entah berdoa apa.

“Gamsahamnida” ucapku.

Dia menatapku dan tersenyum. Dia melepas salib yang dia kenakan dan menyerahkannya padaku. Aku menatap Siwon lekat.

“Aku pernah melakukan suatu kesalahan besar. Aku meniduri seorang gadis dan justru menikahi gadis lain. Aku tak berani menentang orangtuaku dan menikahi gadis pilihan mereka, Tiffany Hwang istriku sekarang ini. Meski, menikah dengan Tiffany aku tak bisa melupakan Yoona, wanita yang aku cintai. Butuh waktu untuk mencintai Tiffany bahkan hingga sekarang Tiffany sadar aku masih mencintai Yoona. Aku shock saat mendengar Yoona meninggal setelah melahirkan putra kami, dia Mavin seperti yang kau tahu. Aku merasa berdosa dan kehilangan Yoona, tapi Tiffany membantuku melewati itu dan bertekad menemukan putraku dan Yoona. Aku tahu kisahku tak bisa dibandingkan denganmu, tapi satu hal yang perlu kau tahu. Sampai akhir hayat mereka dan dalam dirimu, semua terbingkai dalam memori yang indah. Mungkin sampai akhir hayat Yoona aku dikenang sebagai pria bejat yang tak bertanggungjawab dan bagiku penyesalan karena meninggalkan Yoona”

Siwon berpaling padaku dan tersenyum.

“Tuhan tak akan menguji manusia di luar kemampuan hamba-nya. Tuhan pasti punya tujuan dari tiap putusan yang telah Dia atur. Hidupmu belum berakhir, kau masih punya kekuatan yang terhebat…… TUHAN”

“Memandang ke depan dan terus melangkah itulah yang bisa kita lakukan. Kau tak mau kan Yuri dan Haejoong sedih? Kau pasti bisa, kau mampu menjalaninya. Jika kau merasa tak kuat, kau memiliki sahabat dan kau juga punya aku. Terlebih lagi Tuhan bersamamu”

Siwon mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya.

“Choi Siwon”

“Kim Jaejoong”

Siwon POV

Aku baru sadar handphoneku mati, aku ingat di mobilku ada handphone lain. Aku menelpon Tiffany, dia kelihatan sangat khawatir dan menanyakan keadaan Jaejoong.

“Kami baik saja. Iya, aku tahu. Iya, baiklah” Tiffany menyuruhku menemani Jaejoong sampai tenang, dia takut jika Jaejoong berniat bunuh diri lagi. Namun, aku yakin Jaejoong tak akan melakukannya bahkan mencoba memikirkannya pun tidak.

Donghae POV

“Tiffany menelponku dia bilang Siwon sudah menghubunginya. Jaejoong baik-baik saja” kata Changmin.

“Dia dimana?” Junsu bertanya pada Changmin.

“Tiffany tidak bilang”

“Sebaiknya kita kembali. Semua sudah menunggu di bawah, kasihan mereka pasti capek” kata Kyuhyun. Aku mengangguk dan bersama yang lain pergi ke bawah.

Junsu membawa Chaerin pulang. Donghwan, Jungmin dan Eunhyuk memutuskan mencari Jaejoong dan Siwon. Kyuhyun, Hara, Changmin dan IU mengantar semua keluar. Jiyeon sudah tertidur, aku terpaksa membangunkannya.

“Kita pulang” kataku. Aku mengambil Mavin yang tidur dalam gendongannya. Jiyeon mengikuti langkahku ke mobil.

“Kau lelah?” tanyaku pada Jiyeon. Dia hanya terdiam dan memandang Mavin, aku mengalihkan pandanganku ke jalan.

Di rumah, Jiyeon hanya terdiam. Dia terus memandangi Mavin yang tertidur di box bayi.

“Jiyeonie, tidur ya?” Jiyeon menatap tepat di bola mataku.

“Berjanjilah oppa tak akan meninggalkanku. Berjanjilah oppa akan disampingku, berjanjilah oppa… Berjanjilah” Jiyeon kembali menangis.

“Aku berjanji padamu” aku mencium bibirnya lembut.

Jungmin POV

Aku, Eunhyuk dan Donghwan memutari Seoul. Kami sepakat berpencar mencari Jaejoong dan Siwon. Ponselku berdering dan ternyata Donghwan-hyung mengirim pesan. Sepertinya ini pesan berantai.

Siwon dan Jaejoong berada di kapel Incheon. Jaraknya tidak jauh dari Inha University.

Incheon yah? Baiklah saatnya ke Incheon. Sekitar 30 menit dengan kecepatan penuh akhirnya sampai di Incheon. Melewati Inha University dan bertanya pada orang-orang dimana kapel terdekat dari situ. Setibanya di kapel Eunhyuk dan Donghwan sudah sampai dan menungguku. Bertiga kami masuk kapel. Kami sudah sangat khawatir dan siap melihat keadaan Jaejoong yang terpuruk.

“Liburan saja” kata Siwon.

“Liburan? Sepertinya akan menyenangkan” ucap Jaejoong.

“Sebelum itu seperti yang kita bahas kau harus urus semuanya. Aku ingatkan daripada dosa bunuh diri lebih baik kau telpon aku, pasti ada pembunuh bayaran yang bisa aku usahakan. Hahaha… Tapi pesannya jauh-jauh hari, harus cari dulu. Hahaha…”

“Sialan kau…”

“Besok siang eh siang nanti mau makan siang bersama? Just you and I. Kencan pria patah hati hahaha….”

“Hei… aku bukan guy ya” teriak Jaejoong.

“Aku juga bukan…hyung hahaha…”

Kami bertiga tersenyum melihat keceriaan Jaejoong.

Siwon sepertinya menyadari kehadiran kami dan menoleh.

Donghwan POV

Siwon dan Jaejoong langsung berdiri dan berjalan ke arah kami. Siwon tersenyum dan menepuk pundakku lalu berlalu.

“Hyung, kau…”

“Aku baik saja. Bisa antar aku ke rumah sakit? Ada yang harus aku selesaikan” pinta Jaejoong.
Jaejoong bersama Eunhyuk dan aku serta Jungmin mengikuti mobil Eunhyuk menuju rumah sakit Seoul National of University.

Di sana para dokter dan suster kaget melihat kedatangan Jaejoong. Mereka berusaha bersikap professional dan sebiasa mungkin. Kami membiarkan Jaejoong mengurus urusannya. Tak lama dia keluar dari ruangannya lalu menitipkan surat pada Eunhyuk.

“Bisakah aku menitipkan surat-surat ini padamu. Surat pertama untuk pemimpin rumah sakit, surat kedua untuk dekan fakultas kedokteran SNU dan yang ketiga untuk Shim Changmin” Jaejoong menyerahkan 3 surat yang di depannya sudah tertuliskan tujuan suratnya.

“Ini apa?” tanya Eunhyuk sambil mengacungkan surat-surat itu.

“Dokter Lee Hyukjae, aku titipkan pasien-pasienku padamu. Gamsahamnida” Jaejoong menundukkan badannya.
“Hyung, kau mundur?”

“Tolong sampaikan saja surat-surat itu. Anyeong”

Maafkan diriku yang lari dari kenyataan. Biarkan aku melepas semua sejenak. Hidupku sudah berakhir ketika Tuhan mengambil Haejoong dan Yuri, tapi seseorang menyadarkanku bahwa hidup ini berharga.

Letter Of Angel XV (Love Blossom)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV

Jiyeon POV

Aku memberanikan diri datang ke kantor Pengacara Shim Changmin, aku meminta Taemin mengantarku. Aku tak mau membebani Donghae dengan perasaan tertekan lebih besar karena mengkhawatirkanku juga.

“Taemin, maaf sudah merepotkanmu”

Taemin tersenyum dan mengangguk.

“Tadi ada titipan dari Sicca untukmu. Dia bilang saat terakhir melihatmu kau sangat kurus jadi sengaja saat mendengar aku akan mengantarmu ke tempat pengacara Shim dia membuatkan makanan untukmu. Sicca tak terlalu pandai memasak, tapi aku harap kau suka” kata Taemin.

“Sampaikan terima kasihku padanya dan maaf sudah sering merepotkan kalian berdua”

“Tenang saja. Aku dan Sicca senang bisa menemani kalian di saat sulit seperti sekarang” Taemin tersenyum sekilas padaku dan berkonsentrasi menyetir mobil.

Changmin POV

“Sajangnim ada yang mencari anda. Beliau bilang ada urusan penting dan saya mempersilahkannya masuk” kata sekretarisku.

Aku mengangguk dan berjalan memasuki ruangan kerjaku. Ternyata Jiyeon dan seorang namja yang tak aku kenal. Aku mengerutkan dahi, bingung dengan kedatangan mereka kemari. Jiyeon berdiri dan langsung mengatakan niatnya datang kemari.

“Pengacara Shim, maaf sudah lancang datang kemari. Saya ingin minta bantuan anda” kata Jiyeon.

“Silahkan duduk dulu. Kita bicarakan dengan tenang” kataku.

Jiyeon mengangguk dan kembali duduk.

“Anda butuh bantuan apa?” tanyaku to the point.

“Bisakah anda mengusahakan agar saya bisa bertemu Mavin. Saya sangat khawatir padanya. Meskipun yakin mereka akan mengurusnya dengan baik, tapi bagaimanapun saya ingin memastikan keadaannya. Mavin baru berusia 6 bulan dan saya….” Jiyeon berusaha mengendalikan airmatanya yang hampir jatuh. Keadaan Jiyeon justru lebih mengkhawatirkan dibanding Mavin sendiri. Wajahnya pucat, letih, matanya sembab, bibirnya kering dan dia tampak lebih kurus dibanding saat pertama kali kami bertemu.

“Saya mengerti. Akan saya usahakan, tapi berjanjilah anda harus tetap kuat demi Mavin” hatiku trenyuh melihat keadaan Jiyeon. Terlepas dari dia bukan ibu kandung Mavin, aku yakin dia sangat menyayangi Mavin.

“Gomawo… Gomawo” Airmatanya menetes deras. Dia kelihatan senang sekali. Aku tersenyum padanya.

Namja itu menepuk pundak Jiyeon, mencoba memberi Jiyeon semangat.

Mavin, kami akan memperjuangkanmu. Begitu banyak yang menyayangimu tak akan aku biarkan Choi Siwon, Tiffany Hwang, Choi Seunghun atau siapapun mengambilmu dari keluarga Lee.

Kyuhyun POV

Iseng-iseng aku mengunjungi kantor Changmin, bukan untuk melihat Changmin. Hara membuatku tak bisa tidur nyenyak….. Selalu membuatku berdebar ketika mengingat wajah, senyum, dan semua hal tentang dirinya.

“Itu kan istri dokter Lee dan siapa namja itu?”

Aku menghampiri mereka berdua..

“Nyonya Lee” sapaku. Dia sedikit bingung saat aku menyapanya.

“Mianhae, nugu?” tanyanya.

“Oh iya. Cho Kyuhyun imnida, saya kakak pasien Lee Jieun yang ditangani Lee Donghae uisha” ujarku memperkenalkan diri.

“Lee Jiyeon imnida. Senang bertemu anda” ujarnya tersenyum. Pucat sekali… Apa dia sakit?

Aku melirik namja disampingnya. Dia sepertinya mengerti maksudku.

“Lee Taemin imnida. Sahabat Jiyeon” ujarnya sambil tersenyum.

“Jiyeon-shi apa anda sakit?” tanyaku.

“Hanya sedikit lelah” ujarnya dengan senyum dipaksakan.

“Ohya, anda kesini ada urusan apa?” tanya Taemin berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ehm… Aku ada urusan dengan Pengacara Shim Changmin” ujarku.berbohong tak mungkin aku mengatakan ingin melihat seorang gadis bukan.

“Kasus?” tanya Taemin.

“Ani. Urusan keluarga” jawabku.

Heh… Urusan keluarga… Bagus tambah aneh saja alasanku. Taemin mengerutkan dahinya bingung.

“Hyung….” Changmin berlari menghampiri kami.

“Kalian semua sudah saling kenal?” Kami serempak mengangguk.

“Ada yang lapar bagaimana kalau kita semua makan di luar. Jiyeon dan….”

“Lee Taemin” ujarku pada Changmin.

“Nde, Taemin ikut makan bersama kami yah” tawar Changmin. Sedikit enggan, tapi Jiyeon mengangguk.
Kenapa malah seperti ini? Tidak jadi bertemu Hara kalau begini.

Hara POV

Saat aku memasuki gedung kantor. Aku melihat Jiyeon, Changmin, dan seorang namja yang tak aku kenal. Di belakang mereka…

Deg… Deg… Deg…

Jantungku berpacu dan berdetak sangat kencang. Kyuhyun…..
Ya Tuhan jangan sampai mereka melihatku. Harus cari jalan lain.

“Hara-shi” teriak Changmin.

Matilah aku…..

Aku pun terpaksa menemui mereka.

“Changmin-shi, Jiyeon-shi senang bertemu kalian disini” Aku tersenyum pada namja disamping Jiyeon.

“Go Hara imnida” kataku sambil membungkuk.

“Lee Taemin imnida senang bertemu anda” balasnya.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ohya, Hara-shi kenalkan ini Cho Kyuhyun” kata Changmin memperkenalkanku pada Kyuhyun.

“Senang bertemu anda Cho Kyuhyun-shi. Go Hara imnida”

“Senang juga bertemu anda, Go Hara-shi” ujarnya dingin.

Perkataannya yang dingin membuat hatiku sakit. Entah kenapa seolah membuat udara di sekitarku terasa menipis.

“Mau ikut makan?” tanya Changmin mencairkan suasana.

“Saya sudah makan. Terima kasih atas tawarannya” tolakku sopan. Mereka semua tersenyum kecuali Kyuhyun. Dia tampak acuh dan tak mempedulikanku.

Kyuhyun POV

Hara bersikap seolah tak mengenalku. Sikapnya membuatku kesal, baiklah nona jika memang demikian anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.

Aku meninggalkan Hara tanpa senyum sedikitpun. Bukan tipeku untuk bersikap basa-basi.

Jiyeon POV

Kami tiba di restoran. Saat akan memesan makanan, ponselku berdering.

“Yeoboseyo, Oppa”

“Iya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah belakangan ini. Jangan khawatir aku dan Donghae bisa menjaga diri. Salam untuk eumma dan appa yah” jawabku.

“Telpon dari Jungmin-hyung?” tanya Taemin. Aku mengangguk.

Kami berempat makan dalam diam. Tak ada yang berusaha memecah keheningan. Semuanya seperti bergumul dengan pikiran masing-masing.

“Mianhae, gara-gara kasus Mavin semua menjadi terbebani. Mianhae” kataku tulus. Mereka bertiga terkesiap.

“Ani. Itu sudah tugas saya sebagai pengacara. Anda tak perlu khawatir” ujar Changmin sambil tersenyum.

“Kau kenapa berkata demikian, kita kan teman sedih senang kita lalui bersama kan?” kata Taemin dengan sungguh-sungguh.

Aku memandang Kyuhyun yang tersenyum kecil ke arahku.

“Tuhan tak akan memberikan cobaan yang tak mampu dilewati umatnya. Tuhan sudah mengatur kita dalam suatu takdir yang tak terelakkan. Kecelakaan Jieun, Lee Donghae uisha yang mengoperasi Jieun, Changmin sebagai pengacaramu, Siwon sebagai pihak penggugat, semua sudah diatur dalam suatu scenario. Jiyeon-shi anda tak perlu merasa tidak enak karena kami yang berada disini dengan senang hati akan membantu anda. Kita bersama yang akan menciptakan scenario baru yang berakhir bahagia, scenario ini berada dalam tangan kita. Tinggal kita berjuang keras untuk menulis sesuai dengan harapan kita. Saya justru sangat berterima kasih pada Tuhan telah mengenal kalian semua dan jika perlu bantuan dengan senang hati saya akan membantu. Saya berhutang budi karena Lee Donghae-uisha sampai sekarang saya masih bisa melihat tawa dan senyum adik saya. Gamsahamnida” Kyuhyun berdiri dan membungkuk berterima kasih.

Tuhan terima kasih… Kau mendatangkan orang-orang ini dalam hidupku.

Taemin POV

Setelah mengantar Jiyeon pulang, aku meluncur ke rumah sakit menjemput Sicca. Dia sudah menunggu di depan gerbang rumah sakit.

“Mianhae, noona. Aku telat” kataku menyesal. Sicca tersenyum dan menarik tanganku.

“Kajja. Ceritakan semua” katanya setelah kami berada di mobil.

“Apa yang harus aku ceritakan?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari jalan.

“Aiissshhh… Pertemuan dengan Pengacara Shim” kata Sicca tak sabaran.

“Oh itu. Jiyeon meminta Pengacara Shim mengusahakan agar dia bisa bertemu dengan Mavin. Sepertinya bukan hal mudah. Setelah itu kami berempat makan siang hanya itu saja” jelasku.

“Owh… Eh berempat? Satu lagi siapa? Bukan Donghae-uisha kan?” tanya Sicca.

“Bukan. Dia Cho Kyuhyun. Paling kau tak kenal” jawabku datar.

“Sok tahu. Tentu saja aku tahu dia kakak pasien Lee Jieun kan? Pasien yang berada dalam tanggungjawab Jaejoong-uisha. Lagipula pengacara Shim dan Kyuhyun sering ke rumah sakit menjenguk Jieun” papar Sicca.

“Pengacara Shim? Apa hubungan Pengacara Shim, Kyuhyun, dan Jieun. Aku hanya tahu Pengacara Shim dan Kyuhyun adalah teman” aku mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Shim Changmin setahuku calon suami dari Lee Jieun, jadi Cho Kyuhyun adalah calon adik ipar Kyuhyun”

“Cho Kyuhyun, Lee Jieun kakak beradik? Maksudmu saudara tiri?”

Sicca mengangguk. Oh, jadi ini maksudnya urusan keluarga. Sepertinya semua orang yang berada di dekat Donghae dan Jiyeon dihubungkan semacam benang merah.

Jiyeon POV

Ting… tong… ting… tong

“Sebentar” teriakku dari dalam. Buru-buru aku membukakan pintu. Ternyata Yuri-eonni, Jaejoong-oppa, dan Haejoong datang berkunjung.

Yuri-eonni langsung memelukku, aku balas memeluknya dan kemudian memeluk Haejoong. Jaejoong-oppa tersenyum padaku.

“Donghae belum pulang?” tanya Yuri setelah aku mempersilahkan mereka masuk.

“Belum eonni. Masih sibuk di rumah sakit mungkin” jawabku seadanya.

“Iya, belakangan banyak yang harus ditangani” timpal Jaejoong.

“Harusnya kau membantu kalau begitu” sergah Yuri dengan nada sewot.

“Kau ini, aku ambil cuti hari ini juga kau kan yang minta” Jaejoong menjulurka lidahnya pada Yuri. Lucu sekali pasangan ini.

“Eumma, appa!!!!” Haejoong berteriak. Kami melupakan keberadaan Haejoong.

Dia menggembungkan pipinya tanda bahwa dia kesal.

“Anak eumma sini” Haejoong menghambur ke pangkuan Yuri.

Aku meninggalkan mereka dan menuju dapur untuk mengambilkan minuman. Saat sedang berusaha mengambil gelas tiba-tiba kepalaku pusing dan semua menjadi gelap.

Jaejoong POV

“Hahaha… Jadi kau merasa dikucilkan sayang?” tanyaku pada Haejoong.

Dia mengangguk, aku mengacak rambutnya.

“Appa jangan merusak hairstyle ku!” teriak Haejoong.

Hairstyle… Darimana dia belajar kata itu. Aku melirik Yuri yang seolah berpura-pura bukan aku yang mengajarkannya.

Praaannnggg…..

Kami terkejut mendengar suara benda pecah dari arah dapur. Segera saja aku menuju dapur dan disana Jiyeon sudah tak sadarkan diri.

Aku mengangkat Jiyeon dan membawanya ke sofa.

“Yuri ambilkan peralatanku di mobil”

Aku segera mengecek tekanan darah dan mendengarkan detak jantungnya.

Detak jantungnya lemah, 60/30 mmHg tekanan darahnya hanya segini. Dengan tekanan darah serendah ini dia harus mendapat perawatan.

“Kita bawa dia ke rumah sakit” kataku pada Yuri dan Haejoong.

Haejoong POV

Eumma duduk di belakang dan memeluk ahjumma. Mukanya sangat pucat.

“Appa, apa ahjumma akan baik saja?” tanyaku pada appa.

“Dia tidak apa-apa. Berdoa saja ya” kata appa sambil tersenyum. Appa sendiri terlihat khawatir.

Ahjumma, harus baik-baik saja. Kami sayang ahjumma.

Donghae POV

Aku baru saja menyelesaikan karte beberapa pasien saat suster Jessica memasuki ruanganku dengan terengah.
Aku mengerutkan dahi dan beranjak dari dudukku.

“Uisha… uisha”

“Tenang ada apa?”

“Jiyeon-shi sekarang di ruang ICU”

Deg…..
Aku berlari menuju ruang ICU. Didepan ICU ada Jaejoong-hyung yang sedang memeluk Yuri-noona dan Haejoong. Eunhyuk keluar ruangan dengan wajah tertekuk.

“Untung dia dibawa tepat pada waktunya. 60/30 mmHg . Sementara waktu dia harus dirawat di ICU sampai keadaannya memungkinkan. Kalian sudah mengerti maksudku kan?” tanya Eunhyuk.

Aku dan Jaejoong mengangguk, kami sudah sangat jelas dengan penjelasan Eunhyuk. Yuri meminta penjelasan Jaejoong. Sepertinya Eunhyuk sengaja mengatakan itu hanya kepada kami agar yang lain tak perlu khawatir.

“Donghae, jaga dia baik-baik” aku mengangguk.

Donghae POV

“Sekian kuliahnya. Terima kasih atas perhatiannya. Maaf untuk sementara waktu tidak bisa mengajar kalian, jangan khawatir Kim Jaejoong akan menggantikan tugas mengajar saya. Kalian bisa keluar sekarang” kataku pada para mahasiswa.

Aku memutuskan cuti agar bisa fokus pada kasus Mavin dan menjaga Jiyeon.
Aku membereskan buku yang aku gunakan mengajar tadi dan bersiap menjenguk Jiyeon di rumah sakit.

“Donghae-shi, ada yang ingin saya bicarakan” kata Taemin yang tiba-tiba masuk ke ruang kuliah.

“Ada apa Taemin? Apa ada sesuatu yang sangat penting?”

“Soal Jiyeon”

“Jiyeon kenapa lagi?” aku menjadi sangat khawatir.

“Saya mohon jaga dia baik-baik. Sebelum dirawat di rumah sakit anda pasti sudah merasa Jiyeon menjadi pemurung, dia seolah kehilangan semangat hidup. Jiyeon yang ceria dan bersemangat seolah telah kehilangan arah hidupnya. Sebagai sahabatnya tak ada yang bisa dilakukan selain menghibur di saat dia membutuhkan, tapi anda selaku suaminya tentu mengerti apa yang saya maksud. Mianhae” kata Taemin dan meninggalkanku sendiri.

Aku menarik nafas panjang, sebagai suami dan ayah apa aku pantas dikatakan suami dan yang baik.

Donghae POV

Aku mendekat padanya dan memandangi wajahnya. Tampak lelah dan tertekan, aku menyentuh wajah dan bibirnya. Sudah 3 hari Jiyeon dirawat di rumah sakit, keadaannya sudah membaik meski masih mengkhawatirkan. Tekanan emosionalnya membuat progress penyembuhannya berjalan lambat, tapi aku tetap bersyukur dia sudah membaik.

“Kau pasti sangat sedih ya. Mianhae, menyeretmu hingga sampai seperti ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik”

Aku membenarkan selimut yang dia pakai. Aku beranjak duduk di sofa.

“Mavin… Mavin… Eumma disini.. Mavin!” Jiyeon berteriak dan langsung menangis sejadi-jadinya. Aku langsung memeluknya dan berusaha menenangkannya.

“Mavin… Oppa… Mavin…..” Jiyeon makin histeris.

Ya Tuhan….

“Jiyeon, Jiyeon. Oppa disini, Mavin baik-baik saja. Tenanglah… Tenanglah” aku mengeratkan peukanku. Mungkin karena terlalu lelah Jiyeon akhirnya tidur di pelukanku.

Aku terjaga sepanjang malam, menjaga Jiyeon. Aku tak mau dia bermimpi buruk lagi.

Changmin POV

“IU untuk sementara waktu aku tak bisa menjengukmu. Ada kasus yang harus aku tangani dan membutuhkan perhatian ekstra” kataku pada IU yang sekarang sudah keluar dari rumah sakit.

“Ne. Memangnya kasus apa, oppa?” tanya IU.

“Kau tak perlu tahu, tapi doakan ya agar kasusnya cepat selesai dan memberikan hasil terbaik bagi semua” kataku sambil tersenyum. Dia mengangguk.

Saat aku berpamitan IU mencium pipiku.

“Oppa, hwaiting ^^. Semoga berhasil yah. Jaga diri baik-baik” kata IU.

“Gomawo, jagi” aku meninggalkan IU dengan perasaan bahagia. Rasanya aku tak sendirian, aku akan melakukan apapun untuk membantu mereka.

Seunghun POV

“Kali ini saya rendahkan harga diri saya sebagai pengacara dengan memohon pada anda. Izinkan saya membawa Mavin menemui Jiyeon” Changmin membungkuk memohon padaku.

Aku hanya tersenyum sinis.

“Kau tahu prosedurnya kan?”

“Karena saya tahu prosedur tersebut memerlukan waktu maka saya melakukan hal ini. Saya tahu anda sangat patuh hukum, tapi saya mohon sekali ini saja” kata Changmin.

Tahukah kau Changmin kau adalah orang ketiga yang memohon padaku.

Flashback

“Oppa, aku mohon izinkan Jiyeon dan Donghae menemui Mavin” kata Hara.

“Kau bisa melakukannya setelah mengurus prosedurnya” kataku tegas.

“Seunghun-shi sampai sekarang aku masih menganggapmu sebagai orang baik dan oppaku. Meski, kau tak pernah bersikap baik padaku tak pernah aku membencimu. Jangan paksa aku membencimu” kata Hara.

“Beginikah caramu memohon nona Go” kataku dengan nada tinggi.
Tiba-tiba Hara berlutut di hadapanku.

“Oppa, satu kali aku memohon padamu hanya kali ini. Aku mohon biarkan Donghae dan Jiyeon menemui Mavin. Aku mohon, aku mohon, aku mohon”

“Pengacara Go Hara yang terkenal dengan kearogansian, harga diri tinggi bisa melakukan ini hanya untuk klien dari kantor pengacara tempat dia bekerja. Lucu sekali Changmin mengirimmu kemari. Sangat lucu” kekehku.

Hara terdiam dan tak membalas perkataanku. Aku meninggalkannya yang masih berlutut di depan rumahku. Paling sebentar lagi dia pergi, aku meninggalkan Hara untuk kembali ke kantor.
Ternyata dugaanku salah. Dia tetap berlutut disana meski sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia berlutut dari siang.

“Nona Go kenapa kau belum pergi. Tidak cukup kah perkataanku tadi siang” kataku padanya. Hara memandangku dengan mata berkaca-kaca.

“Seunghun-shi, seumur hidup aku belum pernah mengemis pada seseorang, tapi jika sekarang aku harus mengemis belas kasihan padamu akan aku lakukan” Airmata mengalir dari mata indah Hara.

“Bagiku Donghae sangat berarti. Bagiku Donghae bukan hanya klien dari Shim Changmin. Bagiku Donghae adalah sahabat, kakak, ayah. Dia menjagaku, melindungiku, menguatkanku. Ketika aku merasa hanya punya ibu, Donghae datang dan menemaniku. Saat aku merasa ketakutan dan duniaku akan berakhir dia menyelamatkanku. Donghae menyelamatkan kehormatan dan nyawa adik yang tak pernah kau akui ini. Donghae sangat berharga untukku, apapun akan aku lakukan agar dia bisa bahagia termasuk membuang harga diriku” kata Hara dengan airmata berlelehan.

“Berdirilah Hara. Akan aku pikirkan lebih baik kau pulang sekarang” Hara menggeleng, tapi dari gerbang tiba-tiba seorang namja tepatnya Cho Kyuhyun langsung membantu Hara berdiri
———————————————————————————————————
“Seunghun aku tahu kau akan berkata jika membawa Mavin maka itu melanggar prosedur dan jika ingin Jiyeon diperbolehkan melihat Mavin maka kami harus mematuhi prosedur. Namun, satu yang ingin aku katakan kau akan jadi orang terjahat dalam cerita ini jika membiarkan Jiyeon menderita tanpa bergerak sedikitpun” kata Junsu dan berlalu meninggalkan kantorku.
———————————————————————————————————–
“Pengacara Shim berterima kasihlah pada orang-orang yang telah membantumu. Jika tidak belum tentu aku bersedia melakukan ini. Kau bisa membawa Lee Mavin besok pagi, tapi dengan pengawasan kepolisian. Ini surat pengantarnya” kataku seraya menyerahkan surat pada Changmin.

Dia tertegun dengan perkataanku, tapi langsung tersenyum dan membungkuk berterima kasih berulang kali.

Siwon… Kau tahu Donghae dan Jiyeon memiliki orang tepatnya sahabat-sahabat yang rela melakukan apapun demi mereka. Inilah beda kekuatan antara kalian.

Jiyeon POV

“Selamat pagi kau sudah bangun?” tanya Donghae dengan senyum merekah. Dia membawa nampan berisi bubur, susu, dan jus jeruk.

“Kau pasti lapar. Sekarang makan ya” katanya padaku. Aku menggeleng tak ada nafsu sama sekali.

“Jiyeonie, buka mulutmu” Donghae menyorongkan sesendok bubur padaku. Terpaksa aku membuka mulutku, sedikit aku paksakan menelannya. Donghae ingin aku menghabiskan bubur yang dia bawa. Dia juga meminumkan susu dan jus jeruk padaku.

“Gomawo” kataku. Dia tersenyum lebar dan hendak pergi meninggalkan kamar.

Aku menahan tangannya dan menatap memohon agar dia tetap berada di dekatku. Donghae meletakkan nampan di nakas dan duduk di tepi bangsal.

“Oppa, kapan kita bisa bertemu Mavin?”

Donghae terlihat sedih saat aku menanyakannya. Dia langsung memelukku dan mengecup puncak kepalaku.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tak bisa menjaga kalian berdua” ujar Donghae.

Kau tak boleh menangis Jiyeon. Jangan menangis lagi, Donghae sudah berusaha sebaik mungkin. Kau harus kuat jangan sampai kau malah menjadi alasan Donghae menjadi lemah.

“Aniyo. Bukan salah, oppa. Mavin pasti kembali pada kita. Aku yakin itu” kataku sambil menggigit bibir bawahku menahan tangis.

Kyuhyun POV

Kejadian kemarin masih jelas terekam dalam otakku. Hara yang dari siang memohon pada Seunghun, oppanya agar mengizinkan Jiyeon dan Donghae bertemu Mavin. Bahkan rela berlutut di depannya membuatku mengerti betapa dia menyayangi Donghae. Aku membiarkan Hara tidur di kamarku karena aku khawatir terjadi sesuatu padanya jika dia sendiri di apartemennya.

“Oppa, apa eonni sudah bangun?” Jiyeon datang ke kamarku dan membawa sarapan untuk Hara. Aku menggeleng.

“Oppa, sarapan dulu saja di bawah. Biar aku menjaga eonni ^^” kata Jiyeon. Aku mengangguk dan turun ke bawah untuk sarapan. Hari ini hari minggu sehingga aku tak perlu kerja.

IU POV

Wowh….. Eonni memang cantik pantas saja oppa tergila-gila padanya.

“Errrggghhhh….” Eonni mengucek matanya dan memandang sekeliling. Dia bingung saat melihatku.

“Eonni tak usah takut. Aku Jieun adik dari Kyuhyun-oppa, sekarang eonni ada di kamar oppa” kataku dan membantunya duduk.

“Eonni lapar? Ini sarapan dulu kataku sambil menyerahkan sarapan padanya”

“Gomawo. Kyuhyun-shi dimana?”

“Oppa, sedang sarapan nanti setelah sarapan eonni turun saja. Aku ke bawah dulu yah” kataku dan menutup pintu kamarnya.

Hara POV

Aku menikmati sarapanku sambil menelusuri tiap inchi kamar Kyuhyun. Pandanganku tepat tertumbuk pada stick PS, deretan kaset game, serta PSP di kamarnya.

Dia maniac game yah. Aku tersenyum membayangkan dia bermain game, akankah berteriak atau bagaimana. Pintu kamar berdecit, aku menoleh dan melihat Kyuhyun masuk.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kyuhyun yang sekarang bersandar ke dinding.

“Baik, gomawo Kyuhyun-shi”

“Baguslah” jawabnya dan hendak keluar lagi.

“Kyuhyun-shi” aku memanggil namanya. Dia berbalik dan menuju ke arahku. Detak jantungku semakin cepat dan aku rasa pipiku memerah.

“Ada apa lagi?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ehm… ehm…ehm….”

“Ehm…????”

“Ehm…ehmm”

“Kau ingin bilang apa?” tanyanya.

“Kenapa kau bisa berada disana kemarin?” Dia sedikit terlonjak, tapi kemudian menjawab dengan santai.

“Aku tertarik untuk mengetahui orang macam apa itu Seunghun sehingga aku memutuskan untuk membuntutinya, tapi justru aku lebih terkejut melihat kau disana” jawabnya.

“Oh…” Ada sesuatu yang membuatku kecewa. Aku pikir dia sengaja mengikutiku karena mengkhawatirkanku.

“Kyuhyun-shi maaf soal kejadian di kantor pengacara Shim” kataku menyesal.

Dia hanya tersenyum dan mengacak rambutku. Aku tertegun dengan perlakuannya.

Cuppp….

Apa dia menciumku? Aku langsung tersadar dari lamunanku dan mendorongnya.

“Mianhae…” katanya pelan. Aku berlari menuruni tangga dan tidak mengindahkan Jiyeon yang memanggilku.

Airmataku mengalir. Brengsek…. Meski aku menyukaimu kau tak boleh memperlakukanku seperti ini Tuan Cho.

“Hara tunggu” Kyuhyun menarik tanganku dan memelukku.

Aku meronta dan memukul dadanya, tapi tenagaku tak cukup kuat untuk membuatnya melepaskanku.

“Uhuk…uhukk” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan memegangi dadanya.

“Kyuhyun kau kenapa?” aku panik dan menopang Kyuhyun yang hampir ambruk dan terus memegangi dadanya.

“Jieun…. Jieun” aku berteriak dan Jieun langsung menghampiri kami.

“Oppa, kau kenapa?” Kami berdua membantu Kyuhyun naik ke kamarnya.

Kyuhyun berbaring dan Jieun menelpon dokter.

“Iya, dokter. Oppa, terus memegang dadanya. Tolong segera kemari” kata Jieun.

Aku memegang tangan Kyuhyun, mukanya sangat pucat. Kenapa kau Kyuhyun?

Jieun menepuk pundakku.

“Eonni tak perlu khawatir. Kesehatan oppa memang naik turun akibat kecelakaan yang pernah menimpa oppa”

“Seberapa parah kecelakaan itu?’ tanyaku pada Jieun tanpa mengalihkan pandanganku pada Kyuhyun.

“Oppa mengalami patah tulang pinggul dan pneumothorax” jelas Jieun.

Kyuhyun maafkan aku. Kau harus baik-baik saja.
Ku genggam tangan Kyuhyun, aku tak mau terjadi sesuatu padanya.

Kyuhyun POV

Saat aku tersadar, Hara sedang tidur di samping ranjang sambil menggenggam tanganku. Aku mengelus puncak kepalanya membuatnya terbangun.

“Kyuhyun kau sudah bangun” Hara terlihat sangat senang, tapi tak lama kemudian dia menangis.
“Hei… Kau kenapa?”

“Jangan lagi membuatku khawatir, jangan lagi membuatku berpikir aku akan kehilangan dirimu. Kenapa kau tak bilang kau sakit hah?” teriaknya.

“Memangnya kau siapaku?” tanyaku dengan ekspresi menahan tawa.

“Kyuhyun!!!!!”

“Kau tak akan pernah kehilangan diriku. I promise you” kataku sambil memeluk Hara.

Aku melepas pelukanku dan menatap mata Hara.

“Eventhough It’s too fast, but I want to say… Would you marry me?”

Hara membelalakkan matanya. Sudah ku duga pasti dia akan shock dan dugaan paling buruk dia akan meminta waktu untuk berpikir atau justru mengatakan kalau dia menolakku.

“I do”

Aku shock mendengar jawabannya.

“I promise myself. I’ll give my first kiss to my husband and I guess ehm…. “

“Don’t worry I’ll be your husband” kataku seraya mengecup keningnya.

Donghae POV

“Aku meminta izin untuk menikahi Hara?” Kyuhyun berkata serius padaku.
Aku kaget bukan kepalang.

“Kau… kau serius?” tanyaku tak percaya. Dia mengangguk.

“Kalau boleh tahu berapa lama kalian mengenal?” tanyaku.

“2 minggu” jawabnya. Tak ayal kopiku langsung tersembur dengan sempurna.

“2minggu? 2minggu?” tanyaku meyakinkan diriku sendiri.

“Meski baru mengenalnya 2minggu, aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku mohon izinkan aku” kataku.

Mengingat dulu pernikahanku dan Jiyeon juga berlangsung setelah pertemuan yang sangat singkat, aku rasa tak masalah. Dan lagi aku percaya Cho Kyuhyun adalah pria yang bertanggungjawab.

“Baiklah., tapi selain padaku kau harus minta izin pada Choi Seunghun serta ayah Hara” kataku.

Dia langsung menatapku intens seolah berkata ‘anda mengenal mereka’

“Aku tahu Hara masih punya ayah dan kakak di Seoul. Meski dia tak cerita hal itu padaku”

Sebenarnya Seunghun lah yang menelponku dan menjelaskan semuanya. Seunghun menyayangi Hara walau tak pernah menunjukkannya.

Hara POV

“Jagi, kau mau makan apa?” tanya Kyuhyun padaku. Aku tak menjawa pertanyaannya dan melihat pernikahan di gereja di depan kami.

“Kyu, mendekat yuk. Aku mau lihat” kataku. Kyuhyun sedikit sebal, tapi menurut. Saat itu pengantin perempuan bersiap melempar buket bunga. Para yeoja sudah bersiap-siap menangkapnya, mereka sudah mencari posisi yang tepat agar mendapatkan buket tersebut. Aku dan Kyuhyun hanya berdiri menyaksikan dari pinggir.

“Satu… dua… tiga” Hitungan dimulai dan buket dilempar.

Grrreeeppp…
Buket justru jatuh di tanganku. Aku bingung dan menunjukkan bunga itu pada Kyuhyun.

“Wah… Selamat sebentar lagi pasti akan menikah” kata seorang yeoja.

“Itu….” Aku berusaha menjelaskan kalau ini hanya kebetulan.

“Minggu depan kami memang akan menikah” kata Kyuhyun. Aku memandang Kyuhyun tak percaya.

“Kajja” Dia menarik tanganku meninggalkan tempat itu.

Apa dia serius?

Changmin POV

“Kau sadar atas apa yang kau katakan hyung? Menikah dengan Hara. Secepat ini?” ujarku tak petcaya dengan apa yang aku dengar. Kyuhyun mengangguk yakin.

“Besok Ibu Hara akan tiba di Seoul. Dia sudah setuju kalau kami menikah. Pernikahan ini hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat saja. Termasuk appa dan oppa-nya” papar Kyuhyun.

“Appa dan oppa?” tanyaku.

“Hara adalah adik Choi Seunghun. Itu yang perlu kau tahu” kata Kyuhyun sambil menepuk bahuku.
Aku mengusap rambutku kasar. Bagaimana mungkin?

IU POV

Setelah keluar dari rumah sakit Changmin sama sekali tak menemuiku. Changmin tanpa basa-basi langsung menyodorkan cincin padaku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Masa kau tidak mengerti?” tanyanya tak sabaran.

“Memangnya untuk apa kau memberiku cincin?” tanyaku memancing.

“Ah, sudahlah kalau begitu aku mau pulang”

Hah mau pulang? Aku rasa dia hanya menggertak, tapi ternyata tidak. Jangan bilang dia…..

“Oppa, tunggu” teriakku saat Changmin menyalakan mesin mobilnya.

“Ada apa?”

“Aku mau” jawabku malu-malu.

“Mau apa?”

“Cincinnya”

“Oh… Jadi cincinnya? Ini” katanya menyodorkan kotak berisi cincin itu padaku. Tunggu mudah sekali dia menyerahkannya.

“Oppa, tidak ada yang ingin kau katakan?” aku mulai khawatir. Shim Changmin kau ini mau mempermainkanku atau apa.

Changmin POV

Wajah IU menjadi pucat pasi saat aku berakting seolah-olah cincin yang aku berikan tidak berarti apa-apa. Aku berusaha berakting sedater mungkin padahal kebahagiaan jelas membuncah di hatiku.

“Kau berharap aku mengatakan apa?” godaku.

Dia terlihat berpikir keras.

“Nothing” jawabnya. Baiklah aku tak akan bicara. Kami terdiam cukup lama sampai dia berteriak.

“Ya!!!! Shim Changmin kau tidak pengertian sama sekali ya”

“Memangnya soal apa?” tanyaku pura-pura bingung.

IU menggembungkan pipinya dan sukses membuat tawaku meledak.
Chu…

“Diam” Benar saja ciumannya tepat di bibirku membuatku tak berkutik.

IU POV

Changmin justru terpingkal saat aku menggembungkan pipiku. Aiiissshhh… Bisa-bisanya tertawa.

Chu…

Tanpa pikir panjang kuhentikan tawanya dengan mencium tepat di bibirnya.

“Diam” kataku. Benar dia diam dan mematung. Pipiku memanas saat menyadari apa yang telah aku lakukan, My first kiss.

Chu….

Lho kok…. Aku memandang Changmin saat aku memandangnya dia justru kembali menciumku lagi.

“I like your lips try another one” kata Changmin.

Dia merengkuh pinggangku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya meraih belakang kepalaku. Posisi apa ini ?

Changmin menekan bibirnya dengan lembut ke bibirku, membasahi bibirku dan sesekali menggigitnya , sensasi ini mendorongku melakukan hal yang sama. Lidah Changmin berusaha masuk ke mulutku, aku buka sedikit mulutku membiarkan lidah Changmin masuk dan menjelajah ruang dalam mulutku. Ku remas bagian depan jas Changmin, kupejamkan mataku merasakan setiap moment dalam ciuman kami, dia juga semakin erat memeluk pinggangku. Kuberanikan diri memainkan lidahku dan mendorongnya ke mulut Changmin, lidah kamipun bertaut dan saling menjelajah rongga mulut satu sama lain, ciuman kami semakin panas dan aku menikmatinya.

“Hei….” Teriak seseorang yang langsung membuat kami melepas ciuman dan menjauhkan diri.

“Ya!!!! Shim Changmin berani-beraninya kau mencium adikku” teriak Kyuhyun dan menjitak kepala Changmin.

“Hyung, appo”

“Kau ini tanggungjawab enak saja main cium adik orang” kata Kyuhyun dengan senyum lebar.

“Tenang saja hyung. Dengan senang hati akan aku nikahi adikmu”

Perkataan Changmin sukses membuat semburat merah di wajahku. Aku bisa mati menahan malu disini, aku putuskan untuk kembali ke dalam rumah.

Saat aku baru berjalan beberapa langkah Changmin membalikkan badanku.
Chu….

“Aku pergi dulu ya”

Kyuhyun terlihat shock dengan apa yang dilakukan Changmin dan pelakunya tak merasa bersalah, justru langsung pergi mengendarai mobilnya dan melambaikan tangan.

“Ehm.. Ehm… Lee Jieun… Eh Shim Jieun yah?” sialan….

“OPPA!!!!!” teriakku.

Changmin POV

Aku langsung beranjak dari rumah IU. Bodohnya kenapa aku sangat beringas sekali. Bahkan aku menciumnya di pekarangan, kami melakukan French Kiss di depan Kyuhyun.

Pabo….

“Yeoboseyo. Nde, saya akan menjemput Lee Mavin sekarang”

Aku memutar mobilku dan menuju kejaksaan untuk menjemput Mavin.

Jaejoong POV

“Yeoboseyo, Yuri. Aku masih di universitas, kau mau kesini? Baik, aku tunggu” jawabku saat Yuri menelponku.

“Hyung… Kau mau kopi?” Eunhyuk menyorongkan kopi padaku.

“Gomawo”

“Tadi Yuri-noona yah?”

“Iya, dia mau kemari”

“Pasti bareng Haejoong, kalian jadi menjenguk Jiyeon?”

“Nde. Rencananya kami akan pergi bersama”

Jiyeon POV

“Oppa, aku bosan keluar yuk” ajakku pada Donghae yang sedang mengupaskan apel untukku. Dia meletakkan pisau dan menyuapkan potongan apelnya.

“Kau belum sehat benar. Nanti saja ya”

“Tapi oppa semakin aku disini semakin aku merasa sendiri”

“Kan ada aku. Kau masih merasa sendiri? Lalu apa gunanya aku disini” tanya Donghae seraya menaikkan alisnya.
Aku menggeleng dan memeluknya, dia tersenyum.

“Changmin-shi, Mavin…” Donghae langsung menengok ke arah pintu.

Donghae POV

Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan mengambil Mavin dari gendongan Donghae. Aku mencium bayi kecilku. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Kau sekarang sudah berusia 6 bulan yah putraku sayang.

“Oppa, aku mau menggendongnya juga” kata Jiyeon.

Aku mendekatkannya pada Jiyeon dan Jiyeon langsung memeluknya. Mavin tertawa kecil saat Jiyeon memeluknya. Jiyeon menangis bahagia.

“Oppa, dia tertawa. Putra kita tertawa” kata Jiyeon senang. Aku mendekat pada Jiyeon, memeluk mereka berdua. Memainkan tangan kecil Mavin.

Aku melirik pada Changmin dan mengucapkan terima kasih dengan lirih. Dia tersenyum dan mengangguk.

Jessica POV

Tuhan, bagaimana ini?

“Periksa kesadaran”

“Ukur tekanan darah”

“Siapkan ruang operasi”

Ya, Tuhan mereka.

Donghae POV

“Panggilan untuk dokter Hwan Hyosoo. Dimohon segera ke resepsionis” terdengar panggilan dari pengeras suara.

Hwan Hyosoo…. Tidak ada Hwan Hyosoo di rumah sakit ini. Jangan-jangan….

“Jiyeon, aku harus pergi” kataku meninggalkan Jiyeon dan Mavin. Segera aku menyambar jas dan berlari ke pintu belakang masuk rumah sakit. Panggilan seperti ini menandakan adanya kecelakaan atau musibah besar, peristiwa semacam ini bisa membuat panik para penghuni rumah sakit karena itu panggilan atas nama dokter yang tidak ada digunakan.

“Dokter Donghae kami telah menyiapkan ruang operasi apa anda siap? Kekurangan dokter maaf membuat anda terpaksa terlibat padahal sedang libur” tanya seorang rekan dari ER.

Aku mengangguk. Suster memanduku menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Semua staf bekerja keras, sekarang jam makan siang dokter banyak yang keluar. Saat berlari menuju ruang operasi dokter-dokter lain yang baru datang berlari ke bagian belakang rumah sakit. Aku lihat Jaejoong dan Hyukjae-hyung juga.
Segera aku mempersiapkan diri membersihkan tangan kaki untuk keperluan operasi. Suster membantuku menggunakan perlengkapan operasi. Masuk ruang operasi aku diberitahu siapa saja personel yang akan membantuku.

Suster Jessica bertugas menyerahkan alat operasi, asisten operasi, dokter anastesi dan semua yang berada disini campuran bagian ER, internist, bedah jantung. Komposisi dadakan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Aku sendiri bertugas sebagai dokter operasi.

“Bagaimana keadaan pasien?”

“Tingkat kesadaran………”
Aku tak mendengarkan penjelasan suster setelah melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Dokter Donghae anda tidak apa-apa?” tanya asisten operasi. Dia sudah tahu bahwa sekarang yang akan kami operasi bukan hanya pasien melainkan……

Changmin POV

“Changmin-shi bisa kau lihat kenapa Donghae keluar terburu-buru?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih bermain dengan Jiyeon.

Saat aku ingin bertanya pada seorang suster yang sedang terburu-buru, siaran tv menyita perhatianku.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lebih dari 10 mobil dan truk. Kecelakaan ini ikut mengulang kecelakaan besar yang terjadi 6 bulan lalu di jalan yang sama. 3 orang meninggal di tempat dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit”

Jalan itu…….. berarti kemungkinan rumah sakit yang dituju Santa Maria Hospital, Seoul National University Hospital, Seoul Hospital…..

Donghwan POV

“Dokter Jungsoo… Nafasnya berhenti” teriak seorang suster.

“Donghwan”

“Lakukan semua yang kita bisa” kataku.

Kau harus bertahan…. Nak, kau harus bertahan.

Letter of Angel XIV (Tommorow will definitely comes)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XIII,Part XII

Background Song : Asu Wa Kuru Kara – TVXQ

Donghae POV

“Eumma, kami memutuskan tidak bercerai. Meskipun, eumma akan menganggapku anak durhaka. Ini sudah keputusanku” kataku.

Apapun yang akan eumma katakan aku sudah siap. Aku menggenggam erat tangan Jiyeon yang sudah mengeluarkan keringat dingin sejak tadi. Eumma sejenak menghela nafas panjang dan menatap kami berdua.

Baiklah… Ini tatapan penghakiman atau apa aku sudah siap. Aku memang salah.

“Semoga kalian berdua bahagia” kata eumma. Aku dan Jiyeon terkejut tak menyangka eumma mengatakan hal tersebut. Jiyeon langsung memeluk eumma yang duduk di kursi roda.

“Gamsahamnida, emmonim. Gamsahamnida” katanya.

Eumma melepaskan pelukannya dan menarik tanganku dan menyatukannya dengan tangan Jiyeon.
“Jadilah keluarga yang rukun dan saling mencintai. Pertahankan Mavin apapun yang terjadi” pesan eumma.
Kami berdua mengangguk.

Siwon POV

Hari ini Tiffany muntah-muntah sepanjang hari. Entah kenapa aku tak tahu.
“Fanny kita ke rumah sakit yah?” kataku mebujuknya.

“Tidak usah oppa. Kita harus mempersiapkan semua untuk persidangan. Tidak ada waktu lagi, aku tak mau karena sakit biasa malah mengganggu. Kau harus berkonsentrasi oppa” kata Tiffany sambil mendorongku keluar kamar.

Aku menghela nafas panjang dan melangkahkan kakiku keluar.

“Iya, ada apa sekretaris” kataku menjawab telpon.

“Oh… Begitu yah” ujarku.

Cho Corp. mendapat kucuran dana cukup besar dari Nishishima Corp. dan Lau Corp. Tak ku sangka Cho Kyuhyun mampu mendapatkan kontrak kerjasama dari dua perusahaan itu mengingat pertimbangan penarikan dana sepihak biasanya akan meragukan perusahaan lain untuk membantu.

Henry POV

“Gamsahamnida” ucap Kyuhyun padaku dan Anthonia.

Anthonia sedikit-sedikit mengerti bahasa Korea meski dengan kosakata yang amat sangat minim sekali.
Dia tersenyum lebar pada Kyuhyun. Aish… Bikin cemburu tingkat A saja ini orang.

“Kalau begitu kami pergi dulu” kataku sambil menarik tangan Anthonia.

Jangan harap aku mau membagi senyum tunanganku dengan direktur Cho Corp. ini.

Jaejoong POV

“Jadi pihak Hyundai Corp. dan Hwang Corp. menarik dana dari Cho Corp.?” tanyaku pada Yuri.

“Nde, oppa. Saat mendengar Hyundai Corp. aku langsung teringat Choi Siwon jadi aku putuskan saja membantu Cho Kyuhyun pemilik Cho Corp.”

Bruuuussshhh…..

Aku menyemburkan kopiku begitu saja.

“Aiiishhh…oppa ini kenapa?” kata Yuri sambil membersihkan mulutku. Aku menatapnya dengan lekat.

“Oppa, kenapa me…me..natapku… se…se..perti itu”

Entah kenapa wajah Yuri memerah.

“Kau tahu tidak kalau Cho Kyuhyun adalah kakak pasien Lee Jieun kekasih Pengacara Shim Changmin?” tanyaku.

Yuri POV

Jaejoong memandangku dengan entah pandangan apa ini. Membuatku merasa pipiku memanas, tapi sekejap kemudian

“Kau tahu tidak kalau Cho Kyuhyun adalah kakak pasien Lee Jieun kekasih Pengacara Shim Changmin?” tanya Jaejoong.

Aku sejurus kemudian yakin sudah mengeluarkan tampang bloon.

“Hah… Yang benar…. Sepertinya ini taktik Choi Siwon” kataku dan menyesap kopiku.

“Kau berpikiran sama denganku?” Jaejoong mulai menebak-nebak.

“Cara kotor” jawabku dan Jaejoong mengangguk.

Changmin POV

“Lalu apa maksudmu mengajak aku bertemu hakim Choi Seunghun?” kataku pada hakim di depanku.
Dia hanya tersenyum dan memandang ke luar jendela.

“Kau pernah dengar tentang mitologi Yunani…. Dewa Perang Ares dan tentu saja Dewi Perang Athena”

Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataannya yang sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

“Ares dan Athena tak akan pernah kalah” lanjutnya.

Sumpah aku benar-benar pusing…..

“Langsung to the point saja” kataku.

“Ternyata kau memang tak suka basa-basi ya” jawabnya. Aku mengendikkan bahu.

“Kasus kali ini tak akan mudah… Ares dan Athena pasangan yang sempurna” jawabnya.

“Apa maksudmu sebenarnya?” tanyaku tak sabaran.

Dia hanya tersenyum dan pergi meninggalkanku.

Sesampai di kantor aku langsung menyelidiki track record pengacara dari Choi Siwon. Sepertinya tak terlalu masalah. Masih bisa aku hadapi, tapi aku kembali teringat dengan perkataan Choi Seunghun. Kau berhadapan dengan Ares dan Athena. Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya.

Siwon POV

“Jangan lagi Tiffany. Kali ini tidak akan aku biarkan” teriakku.

“Kau mau menyerahkan putra kita begitu saja? Kenapa kau tidak memanfaatkan Seunghun hah? Bukankah kalian ini saudara?” teriak Tiffany balik.

“Karena dia saudaraku tak akan aku lakukan itu” balasku.

“Dia pasti bersedia melakukannya” rengek Tiffany.

“Kali ini jangan terlibat dan tak akan aku biarkan kau menekan sepupuku. Sudah cukup ikut campurmu” aku begitu marah pada Tiffany dan memutuskan untuk keluar sejenak.

Seunghun POV

“Kau yakin kau tidak mundur saja dari hakim di kasus ini?” tanya Jiyoung.

“Aku yakin akan menanganinya” jawabku yakin.

“Terserah kau, tapi sekarang keadaan takkan menguntungkan siapapun” kata Jiyoung.

“Aku pergi dulu” kataku pada Jiyoung.

“Adikmu sudah tiba di bandara” kata Jiyoung.

Aku tak peduli dengan hal itu.

Hara POV

Bruuuggghhh….
“Mianhaeyo, Mian anda tak apa nona?” saat aku melihat wajahnya hanya satu yang aku bisa bilang sempurna.

“Nona.. Nona” katanya sambil mengibaskan tangannya di depanku

“Nde” jawabku singkat.
“Baguslah kalau begitu” Dia meninggalkanku dan aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Kenapa dadaku berdetak cepat sekali.

Changmin POV

“Dia sudah sampai. Baiklah aku akan menemuinya” kataku pada sekretaris.

Seorang wanita muda masuk ke ruanganku. Aku mengamatinya benar kata appa dia memang cantik, tapi seperti yang appa bilang meski cantik jangan remehkan kemampuannya sebagai pengacara. Reputasinya di Amerika sangat mencengangkan. Namun, yang lebih mencengangkan adalah dia sekarang bersedia melepas karirnya di Amerika dan kembali ke Korea. Entah dengan alasan apa.

“Senang anda bergabung dengan kantor pengacara Shim. Shim Changmin imnida” kataku.
Dia tersenyum dan menyambut uluran tanganku.

“Go Hara imnida”

“Changmin… Aku dapatkan kontrak itu” Kyuhyun dengan seenaknya masuk kantorku.

Aku benar-benar naik darah sekarang. Seenaknya dia masuk kantorku.

“Mianhaeyo” kataku dan langsung menarik Kyuhyun keluar.

“Ya!!! Jangan seenaknya masuk kantorku kenapa?” teriakku.

Kyuhyun hanya nyengir dan sama sekali tak ada ekspresi bersalah yang aku tangkap.

Aishh… Jieun kenapa kau punya kakak macam dia.

Hara POV

Tiba-tiba ada seorang pria masuk ke dalam ruangan Pengacara Shim Changmin. Aku tak sempat melihat wajahnya karena Changmin langsung menariknya keluar. Hanya saja benar-benar tidak sopan.

Tak lama Changmin kembali dan minta maaf atas insiden tadi.

“Mianhaeyo, terjadi hal yang tidak mengenakkan” katanya padaku. Akupun hanya tersenyum padanya.

Seunghun POV

“Adikmu sudah sampai di Seoul tadi pagi” kata appa.

“Baguslah” jawabku dingin.

“Perceraian appa dan eumma harusnya tak membuat kalian berdua seperti ini. Kalian sama-sama hebat dan appa mohon kau tidak memusuhi eumma dan adikmu. Kau menyayanginya kan?” tanya appa.

“Bagiku itu semua tak ada artinya” jawabku.

“Seunghun. Kau mengerti hukum lebih dari appa dan tentunya kau mengerti kenapa semua harus seperti ini” tegas appa.

“Aku hanya tak mengerti kenapa eumma meninggalkan kita dan membawa adikku” teriakku.

Hara POV

“Kau sudah menikah dan tidak mengundangku!!!!! Sialan kau Lee Donghae” teriakku pada Donghae. Donghwan hanya tertawa.

“Go Hara. Kau masih suka teriak-teriak ya” jawab Donghae.

“Lalu mana istrimu?” tanyaku tanpa peduli protes Donghae.

“Sedang kuliah” jawab Donghae.

Mataku terbelalak. Kuliah katanya….
“Mwo??? Aku tak salah dengar. Kau??? Phedophil???” tanyaku.

“Ya!!!! Kau ini… Percuma berdebat denganmu” balas Donghae.

“Eh… Aku harus kembali ke Santa Maria Hospital. Donghae jadwal di Santa Maria akan digantikan bersiap-siaplah untuk persidangan lusa” kata Donghwan.

Aku bingung dan meminta penjelasan dari Donghae.

Tiffany POV

“Bantu kami” kataku pada Seunghun.

“Kau tak perlu melakukannya Tiffany-ya. Aku tak peduli dengan kasus ini. Kau akan menang jika memang hukum menghendakinya” jawab Seunghun.

“Lalu apa hukum akan memenangkanku?” kata Tiffany.

“Kau mencoba bermain kotor Tiffany. Kau tahu aku bisa saja menuntutmu karena ini” kata Seunghun

Aku tertegun dengan perkataannya. Dia menatapku intens.

“Jangan membuatku menyesal telah mengakui kau sebagai istri Siwon. Sejujurnya aku lebih menyukai Yoona” kata Seunghun.

Siaalllll…….

“Aku memang tak sebaik Yoona, tapi tak akan aku biarkan putra kami diambil orang lain” teriakku.

“Aku ingatkan anak itu adalah anak Yoona dan Siwon. Kau mau bilang apa?” tanya Seunghun.

Siwon POV

“Gamsahamnida” kataku pada Seunghun.

“Kau tahu telah menyakiti istrimu dengan permintaanmu?” tanya Seunghun.

“Aku tahu, tapi Tiffany terlalu egois. Meski aku tahu dia menyayangi anakku dan aku sangat berterima kasih. Namun, aku tak mau dia juga terseret lebih dalam” kataku sambil menghela nafas panjang.

“Siwon, akan aku lakukan semaksimal mungkin. Kau tahu aku tak akan memakai perasaan dalam mengambil keputusan. Aku janjikan aku akan bersikap adil” kata Seunghun mantab.

“Aku dengar Hara sudah sampai di Korea. Kau akan bertemu dengan adikmu kan?” tanya Siwon.

Aku mengendikkan bahu dan memandangi langit kota Seoul lewat jendela café.

Changmin POV

Semua berkumpul sekarang tambah kacau. Kepolisian memutuskan kalau Mavin sementara waktu harus berada dalam pengawasan pemerintah. Baik Choi Siwon maupun Lee Donghae, mereka sekarang tak bisa menyentuh Mavin.

Aku menghela nafas panjang. Donghae menenangkan Jiyeon yang menangis. Jaejoong, Hyukjae, Donghwan juga tak sabar menunggu apa yang akan aku katakan.

“Kenapa bisa Mavin malah berada di tangan kepolisian?” tanya Jaejoong.

“Prosedur” kata seseorang yang tepatnya Jaksa Wilayah Kim Junsu.

Aku mengangguk membenarkan.

“Bukankah harusnya Mavin bisa berada di bawah asuhan Donghae dan Jiyeon sampai keputusan pengadilan di jatuhkan. Harusnya tak perlu sampai ada keputusan semacam itu” kata Hyukjae dengan nada tinggi.

“Aku juga tak mengerti padahal tadi dari pihak Siwon juga mengatakan tak masalah kalau Mavin berada di bawah asuhan Donghae” kata Jaejoong.

“Choi Seunghun hanya mematuhi prosedur” kata Junsu.

Aku merasa bersalah pada Jiyeon dan Donghae sehingga lebih memilih diam saja.

“Apa polisi bisa merawatnya dengan baik?” tanya Jiyeon.

“Pasti akan aku jamin itu” akhirnya aku buka mulut.

Hara yang aku suruh datang ke kantor kejaksaan tiba-tiba memandangku lekat.

“Changmin-shi, apa hakim Choi Seunghun sebelum persidangan bicara denganmu?” tanya Hara.

Aku tak menjawab, tapi sudah cukup untuk mengisyarakatkan ‘iya’.

“Sial” ucap Hara.

“Apa yang dia katakan?” tanya Hara.

Aku menghela nafas panjang. Bukan tipeku menceritakan sesuatu pada orang lain.

“Changmin-shi, jika anda tak bicara maka aku tak bisa membantu anda. Anda tidak mengenal siapa yang berhadapan dengan anda” lanjut Hara.

Semua pandangan tertuju pada Hara. Donghae yang tadi diam saja pun angkat bicara.

“Hara apa maksudmu?” tanya Donghae bingung.

“Mianhae…. Donghae-ah. Choi Siwon, Choi Seunghun, Hwang Tiffany sebenarnya…. Sebenarnya….” Hara seperti tercekat mengatakan sesuatu.

“Jawab Hara ada apa!” Donghae mulai tak sabar dan berteriak.

“Choi Siwon dan Choi Seunghun adalah sepupu” jawab Hara lemah.

“Apa!” Kami semua membelalakkan mata. Tak aku sangka dunia begitu sempit. Sedikit-sedikit aku mulai mengerti maksud Ares dan Athena. Apa dial ah Ares-nya lalu siapa Athena-nya? Atau Siwon dan Tiffany lah pengendali perang dan dia menjadi senjatanya.

“Lalu… Bagaimana ini?” Jiyeon kembali terisak. Donghae memeluk dan mengusap punggungnya lembut.

Baru kali ini aku merasa kalah tlak. Bagaimana tidak aku serasa berada dalam kasus yang sama sekali buram.
Gelap dan bahkan seperti menteri yang tinggal menunggu rajanya di skakmatch. Kami sekarang pion yang menunggu scenario langkah macam apa yang akan terjadi.

“Tenang. Aku kenal Choi Seunghun, dia bukan orang macam itu. Dia tak akan peduli kawan, lawan. Siapapun itu baginya hukum yang paling penting” tegas Junsu.

Kuharap demikian. Terima kasih Junsu-hyung….

Kyuhyun POV

“Apa kabar dongsaeng?” kataku pada IU yang sedang membaca majalah.

“Oppa” Dia langsung memelukku erat.

“Hehehe… Kau merindukanku ya?”

Dia mengangguk semangat dalam pelukanku.

“Mana Changmin?” kataku sambil melepas pelukannya.

“Molla. Dia menelpon kalau ada urusan di kejaksaan. Tadi dia bersama Donghae uisha, Jaejoong uisha juga Hyukjae uisha.”

“Oh…. Ya, sudah kau bersama oppa saja” ujarku sambil mengelus rambutnya lembut.

“Ani”

“Mwo? Kau tidak mau?” tanyaku tak percaya akan mendapat jawaban seperti ini.

“Oppa, ke kejaksaan yah. Tolong lihat Changmin-oppa, tadi dia kelihatan sedikit pucat. Aku takut terjadi apa-apa” sambung IU.

“Ya!!!! Kau harusnya khawatirkan dirimu sendiri”

“Huwaaa….. Oppa jahat… Huwaaa…..” Kalau begini tak ada cara lain selain mengangguk setuju dan PASRAH.

“Ne…Ne..Ne…Aku kesana, tapi janji setelah tahu kabarnya main sama oppa. Oke?” Dia mengacungkan kedua
jempolnya.

Hara POV

Langkahku gontai keluar gedung kejaksaan. Aku takut jika Seunghun-oppa mengkhianati prinsipnya sendiri. Apa kau tega memisahkan anak dengan orangtuanya oppa? Bukankah kau bilang kau ingin keluarga bahagia. Oppa….

Bruugghhh…

“Mianhae…. Nona, anda…” Dia membantuku berdiri. Namja ini lagi.

“Nona” Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Tepat seperti pertemuan pertama kami.

“Nona, kau suka melamun yah?” tanyanya menyebalkan.

“Ani” jawabku cepat. Aku hendak meninggalkannya sebelum jantungku meloncat dari tempatnya, tapi tangannya masih memegang lenganku.

“Hara!” teriak Donghae dari dalam.

“Donghae-shi” gumam namja itu dan melepaskan tanganku.

Donghae POV

“Bisa aku pinjam dia sebentar?” kataku pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk dan mempersilahkan aku mengajak Hara bicara.

“Kau kenapa? Bukan salahmu kalau Choi Siwon dan Choi Seunghun adalah sepupu. Terima kasih justru memberitahu kami. Tenanglah tak aka nada yang berubah pengacara Go Hara. Kami pasti bisa menyelesaikannya” kataku dan mengacak rambutnya. Kyuhyun terlihat memperhatikan kami. Aku jadi penasaran apa hubungan Hara dan Kyuhyun sehingga mencoba menggodanya.

“Pacarmu sejak tadi terus mengamati kita. Aku tak mau dihajar olehnya. Pergi sana”
Muka Hara bersemu merah, tapi sedetik kemudian dia berteriak.

“Mwo? LEE DONGHAE KAU CARI MATI YA”

Aku terkekeh dan melambaikan tanganku menuju ke dalam gedung kejaksaan menemui yang lain.

Kyuhyun POV

Gadis yang ternyata bernama Hara itu berjalan ke arahku. Aku memasukkan tanganku ke dalam kantong celanaku dan berdiri se-cool mungkin dan memasang wajah dingin.

“Nona, kau masih ada urusan denganku” tanyaku sedingin mungkin.

Dia terlihat terkejut dengan ucapanku. Matanya melotot, tapi kemudian dia memalingkan muka dan berjalan meninggalkanku. Aku terkekeh… Menarik pikirku….

Aku memperhatikan langkahnya. Shit…..

“Awas” teriakku dan berlari ke arahnya.

Hara POV

“Namja brengsek, sialan…” Pabo Hara kenapa tadi kau terkesima pada namja seperti dia.

“Awas” aku langsung memalingkan wajahku dan melihat mobil yang melaju ke arahku. Aku menutup mataku dan tiba-tiba.

Aku seperti menghantam sesuatu yang keras. Aku tak berani membuka mataku. Ya, Tuhan apa aku sudah mati.
“Kau tak apa-apa” kata seseorang dengan suara yang terdengar khawatir.

Aku membuka mataku perlahan dan melihat namja itu berada di atasku serta orang-orang yang mengelilingi kami dengan wajah khawatir.

Refleks aku memeluknya, membenamkan wajahku di dadanya. Nafasku masih memburu, badanku sakit membentur aspal.

“Sudah tenanglah aku disini” Aku hanya diam dan memeluknya lebih erat. Dia mengangkat tubuhku dan menggendongku.

“Tidak apa, istri saya hanya shock” kata namja itu dan sukses membuatku mendongakkan wajahku.
Aku meronta berniat turun, tapi dia berbisik.

“Anggap saja kau beruntung nona. Kalau kau meronta lagi, aku jatuhkan kau sekarang. Bersikaplah yang manis” Dia tersenyum sangat menakutkan. Aku pun terdiam dalam gendongannya.

Kyuhyun POV

Dari tadi dia sepertinya sangat kesal padaku. Hanya saja semakin dia mengerucutkan bibirnya, dia te
rlihat semakin lucu.

“Kau mau apa?” tanyaku padanya. Sekarang kami sedang berada di café. Sebagai balasan aku telah menolongnya maka aku minta dia mentraktirku. Dia masih saja tak menjawab.

“Latte satu dan banana chocolate ice cream satu” Kami masih berdiam tidak ada yang memulai pembicaraan. Tidak ada ide yang muncul di kepalaku.

“Ngomong-ngomong terima kasih telah menolongku. Go Hara imnida” dia mengulurkan tangannya. Dengan senang hati, aku menerima uluran tangannya. Namun, hanya menunjukkan ekspresi datar dan cool.

“Cho Kyuhyun imnida”

Pelayan café membawakan pesananku.

“Ini untukmu” kataku dan memberinya banana chocolate ice cream.

“Gomawo” Dia merasakannya sedikit, tapi kemudian bertambah lahap. Aku tersenyum sambil menyesap latte milikku.

Kami berbincang lama hingga sore. Dia wanita yang terbuka dan menyenangkan. Aku baru tahu ternyata dia adalah pengacara yang akan bekerja di kantor pengacara keluarga Changmin. Dia juga sempat menghinaku sebagai pria yang tak sopan karena masuk ruangan tanpa permisi. Wanita yang mampu mencairkan suasana.

Hara POV

“Gamsahamnida. Malah kau yang jadinya mentraktirku. Akan aku hafalkan nama café ini, ice creamnya enak”
Dia tersenyum kecil mendengar celotehku.

“Seunghun, Siwon” Kyuhyun berbalik melihat ke arah mereka berdua.

Kyuhyun menoleh padaku dan matanya menyiratkan ‘Kau mengenal mereka?’ Mengindahkan tatapannya, aku menarik Kyuhyun.

“Kita harus bersembunyi jangan sampai mereka berdua melihat kita”

Siwon dan Seuhyun berjalan ke arah kami. Jika sampai mereka berdua melihatku tamatlah riwayatku.

Tiba-tiba Kyuhyun menarikku dan mendorongku ke tembok, tangan kanannya memegang pinggangku dan tangan kirinya memegang belakang kepalaku. Aku merasakan nafasnya hangat membuat bulu kudukku meremang, dia seolah akan menciumku. Jarak kami sangat dekat. Cukup lama kami berada di posisi ini.

“Mereka sudah pergi” katanya.

Aku memegang dadaku yang berdentum keras, pipiku panas. Bukan Siwon atau Seunghun yang ada di pikiranku, tapi Kyuhyun. Apa yang dia lakukan tadi membuat jantungku berpacu melewati batas normal.

“Gwenchana? Kau baik-baik saja” Mukanya terlihat khawatir. Aku mengangguk kecil, menunduk berusaha menyembunyikan mukaku.

“Kau berhutang penjelasan padaku nona. Siapa pria yang bersama Siwon dan kenapa kau begitu ketakutan kalau mereka melihatmu” paparnya.

Aku mendongakkan mukaku.

“Kau mengenal Siwon?” tanyaku.

Dia menatap mataku intens dan membuat jantungku kembali berpacu melebihi normal.

“Pemilik Hyundai Corp., suami dari Tiffany Hwang dan…..” kalimatnya terputus.

“Sudahlah” dia berkata tiba-tiba.

Kyuhyun POV

Dia terus menatapku saat aku sedang menyetir.

“Mengagumi wajahku yang tampan?” tanyaku tanpa melihat padanya.

Dia terdengar melengos, pasti ngambeg. Gadis ini baru saja aku mengenalnya, tapi sudah mampu membuatku tergila-gila.

“Jadi kau mengenal Siwon?” tanyanya lagi.

“Iya…. Sangat mengenalnya setidaknya dulu sebagai rekan bisnis” jawabku enteng.
“Dulu?” tanyanya lagi.

“Tak perlu kan aku ceritakan semuanya?” balasku.

Dia terdiam sesaat, sepertinya bergumul dengan pikirannya.

“Kalau Seunghun kau kenal?” tanyanya.

Aku menepikan mobilku sepertinya banyak yang harus aku ketahui.

“Katakan padaku mengenai Siwon dan pria itu”

Hara masih diam.

“Aku tahu aku orang asing bagimu, tapi ku harap kau percaya padaku. Kau sudah mengenal Changmin dan Donghae. Mereka bisa dipercaya kan? Kalau begitu bisakah kau percaya pada teman mereka?” Masih ada keragu-raguan di mata Hara.

“Hara-ya, Believe in me”

“Aku harap aku tak akan menyesal. Dengarkan baik-baik karena aku tak ingin mengulang cerita yang sama”
Aku mengangguk.

“Aku mengenal Donghae saat liburan di Kanada. Saat itu dia menolongku ketika ada segerombolan remaja berusaha menggangguku. Itu sekitar 10 tahun yang lalu, sejak saat itu kami berteman dan selalu saling membantu meski berjauhan”

Hara menatapku, aku masih terus mendengarkannya.

“Meski kami sahabat dekat dan selalu membagi segala hal, Donghae tak pernah mengetahui siapa keluargaku. Donghae hanya tahu aku hidup dengan ibuku dan aku bilang padanya ibuku satu-satunya keluarga yang aku miliki”

Aku tak menyela apapun perkataannya. Dia menarik nafas panjang.

“Donghae tak pernah tahu bahwa aku masih memiliki keluarga di Korea. Oppa, appa, serta keluarga besar. Aku tak pernah menjelaskannya pada Donghae. Bagiku Donghae sudah seperti oppaku sendiri”

Aku makin bingung dengan penjelasannya yang berbelit-belit.

“Hara-ya jika kau tak bisa cerita tidak usah memaksakan cerita padaku” Kugenggam tangannya yang berkeringat dingin.

Dia menggeleng, sambil terus menggenggam tangannya aku mendengarkan kata yang keluar dari bibirnya.

“Ya, Tuhan. Kau, Choi Siwon, Choi Seunghun adalah satu keluarga. Choi Seunghun, hakim kasus Donghae”

Aku tak percaya apa yang aku dengar dari Hara. Dia ketakutan jika Seunghun akan melukai Donghae, tapi di sisi lain Siwon juga sepupunya. Dia berada dalam posisi sulit akankah dia jujur pada Donghae dan menerima segala resikonya atau terus ketakutan memikirkan oppa kandungnya akan membuat Donghae tersakiti. Pilihannya sama sekali bukan pilihan. Seunghun, Donghae, Siwon semua berharga baginya.

“Kau tak akan cerita pada Donghae kan?” dia sudah pasrah dengan kalimat ini.

Aku menatapnya untuk meyakinkan dirinya.

“Aku berjanji padamu”

Aku mengacak rambutnya lembut berusaha menenangkannya.

“Sudah malam aku antar kau pulang” kataku padanya.

Seunghun POV

Tanpa sepengetahuan mereka, aku membuntuti mobil mereka. Hara bersama dengan Cho Kyuhyun, relasi bisnis Siwon yang diperlakukan tidak adil oleh Tiffany. Meski, mereka tadi berusaha sembunyi dengan cara bodoh macam itu. Bagaimanapun aku sudah melihat wajah mereka.

Mobil mereka menepi, menjaga jarak dengan mobil mereka aku berhenti di tepi jalan yang agak jauh agar mereka tak curiga.

Mereka pasti membicarakan sesuatu yang seriua. Cukup lama mobil Kyuhyun menepi dan akhirnya meneruskan perjalanan dan berhenti di depan sebuah apartemen.

Kyuhyun membantu Hara turun dari mobil dan

wowh… adikku ini mereka berpelukan. Sungguh adegan yang menarik, Siwon membawaku pada banyak hal menarik.

Hara POV

Kyuhyun membukakan pintu mobil untukku. Saat aku melangkahkan kaki keluar mobil, tiba-tiba aku oleng dan jatuh ke dada Kyuhyun. Bukannya segera melepaskan tangan Kyuhyun yang menopang lenganku, aku justru menikmatinya.

“Ehm… Sebaiknya kau masuk” Kyuhyun melepaskan pegangannya. Aku mengangguk dan berjalan cepat menuju apartemen tanpa berani melihat wajah Kyuhyun.

“Hara…. Have nice dream. See you” teriak Kyuhyun. Aku menoleh dan tersenyum padanya.

Have nice dream Kyuhyun. See you

Donghae POV

Jiyeon masih saja diam termenung dan berdiri di balkon padahal cuaca sangat dingin.

“Jieyonie, di luar dingin. Lebih baik kau masuk” kataku padanya. Jiyeon tidak merespon dan memandang jauh.

“Oppa, apa Mavin akan baik saja? Apa dia akan makan cukup? Apa dia minum susu dengan baik? Apa saat menangis aka nada yang menggendongnya? Apa…..” Airmata meluncur dari pipinya. Tak tahan aku melihatnya dan memeluknya. Aku usap bahunya dan mengecup puncak kepalanya.

“Dia akan baik saja. Pasti!” Meski, aku tak yakin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menenangkan Jiyeon.
Dia menangis makin keras dalam pelukanku. Aku mengeratkan pelukanku padanya.

Tuhan, tolong kami. Yoona-ya, aku harap kau berpihak pada kami. Aku tak mau airmata terus meluncur membasahi pipi Jiyeon. Kenapa justru dia yang harus tersakiti?


“Jiyeonie, aku janji Mavin akan segera kembali bersama kita. Aku janji”