Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 4]

Harin’s POV

“Harin-ahh!!” samar-samar kudengar namaku dipanggil-panggil. “Ya! Ireona! Kau tidak sekolah??”

 Ugh… Ini suara Onew oppa..?

“Nee!!” seruku mengusap-usap mataku sambil berusaha duduk. “Yah! Ke-”

Aku mengerjap menyadari sesuatu. Sebelahku kosong. Semalam Key memaksa untuk tidur di kasurku, sekali saja. Tapi ke mana dia sekarang??

  Key…..benar-benar pergi?

“Yah! Harin! Kau ini!” Onew oppa mendobrak masuk. “Menjawab ‘Nee!!’ tapi tidak segera turun!”

“Oh?” aku melihat ke arah jam. Tiga puluh menit sebelum masuk sekolah dan aku belum mandi?!! “Kok tidak bangunkan aku lebih pagi?!!”

“Ck! Aku sudah bangunkan kau!” omel Onew oppa. “Kau malah menendang-nendang orang!”

“Ohhhhh… Mian,” balasku. “Oppa, kau lihat Kibum?” tanyaku.

“Kibum?” ia menatapku curiga. “Siapa Kibum??”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arahnya. “Key! Aku bilang Key! Anjingku!” aku melongok ke bawah ranjang. “Kok tidak ada?” tanyaku.

“Oh? Entahlah, aku tidak lihat,” balasnya. “Tapi tadi pagi-pagi sekali aku dengar ada yang membuka pintu. Entah itu siapa, tapi saat kulihat tidak ada orang,” lanjutnya.

Oh… Key benar-benar pergi..

  Tapi kenapa aku merasa ingin mencarinya?

“Hey, nanti kucarikan. Kau mandi dan ke sekolah dulu sana,” perintahnya. Aku mengangguk. Lagipula aku satu sekolah dengan Key. Apa susahnya bertemu dengannya? Yang penting ia tidak di rumahku.

***

Aku tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Setibaku di kelas aku mendengus kesal karena belum sempat mencari Key. Aku memang tidak ada urusan dengannya. Tapi….ah, siapa peduli!

 

“Pagi, anak-anak!”

“Pagi, sonsaengnim!” seruku, dan anak-anak lainnya malas-malasan. Huft… Membosankan.

“Kalian sekarang maju ke depan ambil undian. Hari ini kalian akan melakukan research singkat tentang range vocal dan musik dalam kelompok empat orang,” jelas Baek sonsaengnim mengeluarkan kotak berisi kertas-kertas undian. Aku mendesah lagi. Aku, Minyeon dan Sungra sudah jelas cuma bertiga dan kurang satu orang lagi.

“Psst!” desis Minyeon yang duduk di belakangku menepuk-nepuk pundakku. “Harin-ah! Beritahu aku kau dapat apa! Aku tidak mau sekelompok dengan orang lain, ya? Ya??” bisiknya. Aku mengangguk. Aku juga tidak mau.

“..Kalian akan sekelompok dengan yang mendapat kertas berwarna sama-Minyeon-ssi bisa duduk dengan benar??” Baek sonsaengnim menatap kami tajam.

“Ne, sonsaengnim,” gumam Minyeon pelan.

Kami satu per satu maju dan mengambil kertas undian termasuk aku. Aku mendapat warna merah. Dan untung saja belum ada yang mengambil warna merah.

Author’s POV

Minho yang duduk di tengah-tengah kelas itu terus-terusan memicingkan matanya ke arah Harin. Mau tidak mau, hari ini dia harus bicara dengan cewek itu.

  Ish! Murid-murid ini mengganggu!

Minho memanjangkan lehernya berusaha melihat kertas warna apa yang di dapatkan Harin saat banyak siswa-siswi yang menghalangi pandangannya.

“Key sialan,” desisnya menggerutu masih berusaha mengetahui warna kertas Harin.

Tepat pada saat itu Sungra memanggil Harin menanyakan warna kertasnya diam-diam. Dan Harin mengeluarkan kertasnya dan melambaikannya ke arah Sungra, yang kebetulan duduk dua kursi dari Minho.

Nice! Sungra. Aku harus berterima kasih padanya nanti!

Minho berdiri dan maju dengan mantapnya ke arah kotak undian. Sejauh yang ia lihat belum ada yang mendapat warna merah selain Harin. Kemungkinannya cukup besar.

  Bbalkangsaek! Bbalkangsaek! Kumohon!

Ia menarik selembar kertas dan air mukanya langsung berubah suram. Ia menatap kertas di tangannya itu tajam-tajam. Ungu!

Ia kembali mengedarkan pandangannya. Mencari kertas berwarna paling mencolok. Warna merah.

“Tenang saja! Aku tahu cara supaya dapat warna merah! Untung kau dapat warna yang cerah, Harin-ah!” Minho langsung berbalik menatap Minyeon yang berjalan ke arah kotak undian. Hoh.. Mau tidak mau ia harus menukar kertasnya dengan Minyeon kalau-kalau ia dapat warna merah. Dalam hati ia mengumpati Key.

Minho memegangi kotak pensilnya dan mengambil ancang-ancang. Saat tangan Minyeon sudah akan keluar dari kotak ia langsung melemparkan kotak pensilnya itu.

  BRAKK!

  Nice shoot..!!

“Yahh!!!!!” Minyeon menjatuhkan kertasnya di meja. Minho segera berlari dan menukar kertasnya selagi mengambil kotak pensilnya yang mendarat di lantai.

“Mian,” balas Minho santai. Yang penting sekarang kertasnya merah.

Harin’s POV

Minyeon datang mengomel-omel lalu duduk kembali di belakangku. Aku dan sungra berbalik ke arahnya.

“Warna apa?? Warna apa?”

Ia memasang wajah cemberut. “Ungu,” desahnya. Ah, sayang sekali. Barusan Sungra mengambil undian mendapat warna merah. Ugh! Padahal tinggal sedikit lagi!

“Siapa yang dapat warna merah??” seru seseorang dari balik kami. Aku langsung menoleh. Minho?! Oh, tidak! Aku harus menyingkir dari teman Key itu! Bagaimana kalau ia memarahiku karena aku mengusir Key?!!

“Uh.. Aku dan Ha-”

Aku menarik tangan Sungra ke arah lain sebelum ia mengatakan semuanya. Ia harus menukar kartunya!

 

Author’s POV

“Harin!” seru Minho menghampiri mereka. “Kalian dapat merah kan???” tanyanya seakan-akan itu sudah pasti.

“A-ani! Aku dapat ungu!” balas Harin menunjukkan kertasnya. Minho mengernyit. Dia sudah susah payah menukar kertasnya jadi merah sekarang malah harus punya ungu?!!

“O..oh?” Minho masih terus-terusan memikirkannya.

“Kau sekelompok dengan kami~” sekelompok fangirl Minho menggandengnya. Harin menahan tawanya lalu berbalik dan menghela nafas panjang.

  Untung saja menjual ‘undian’ soal ‘kingka’ itu mudah sekali…

Harin’s POV

Aku merebahkan tubuhku di bangku kantin. Hari ini aku cuma mengambil yogurt stroberi untuk makan siang. Habisnya menu hari ini sayur dan seafood semua. Mungkin lain kali aku harus minta eomma buatkan aku makan siang. Yang anti sayur dan seafood.

“Harin-ah, kau yakin cuma makan itu?” tanya Minyeon mengunyah makanannya – sup sayuran dan seafood. Percaya atau tidak, kalau melihat Minyeon makan makanan yang kau benci sekalipun, akan terlihat enak sekali. Tapi sayangnya aku tak tertarik untuk mencobanya secuilpun.

“Aku sudah sarapan kok,” jawabku tersenyum masam. Aku benar-benar tidak punya selera makan.

“Kita kan baru pulang sore karena ada kegiatan klub,” tegur Sungra. “Kudengar juga klub memanahmu ada meeting di waktu senggang sebelum jam klub,” lanjutnya. Oh tidak! Aku lupa!

“Kalian masuk klub apa ya?” tanyaku.

“Seni rupa dan literatur,” jawab Minyeon.

“Aku drama dan literatur,” balas Sungra.

Aku menghela nafasku. “Seharusnya aku juga ikut literatur,” gerutuku.

“Hey, klubku juga ada meeting kok,” balas Minyeon diikuti anggukan Sungra.

“Bukan begitu, aku-”

“Hey, di sini kosong!” aku memutar kepalaku ke arah sumber suara itu. Minho dan Taemin sudah berdiri tak jauh dari meja kami – lebih tepatnya berada di sebelah meja kami.

 DI SEBELAH KAMI???!!!

“Ehh…….a-aku sudah selesai makan!” aku langsung bangkit berdiri dan berlari keluar kantin walaupun terdengar jelas teman-temanku keheranan memanggil-manggil namaku.

Sungra’s POV

“LEE HARIN!!!!” Minyeon masih berteriak memanggil Harin yang sudah menghilang di balik pintu sejak beberapa detik yang lalu. “Geu nom mwohae?” gerutunya. Aku berbalik menatap Minho dan Taemin.

“Ya! Kalian mau apa sih sama Harin?” omelku. Sejak ada dua orang ini, plus Kim Kibum, Harin selalu bertingkah aneh.

Tanpa menjawab pertanyaan kami, Minho sudah berdiri mengangkat Taemin yang duduk di bangku depan kami.

Minyeon yang duduk di sampingku spontan berdiri menggebrak meja yang mengundang perhatian seluruh kantin.

“Neo!!” telunjuknya menunjuk tajam ke arah Minho. “Tidak punya sopan santun! Hey! Kau itu mau macam-macam ya sama teman kami?”

Taemin yang memasang ekspresi terkejut yang sama dengan Minho mengerjapkan matanya berkali-kali. Mungkin dia tidak menyangka akan dibentak cewek. Mereka tidak tahu Minyeon kalau sudah kesal.

“Harusnya kami yang tanya, Dikemanakan Kibum hyung oleh teman kecil kalian itu?” balas Minho pasang wajah berlagak.

“Museun maliya?” Minyeon mengernyit. “Kau pikir Harin itu baby-sitternya? Kata-”

Aku membekap mulut Minyeon dan menyeretnya pergi sebelum kepala sekolah datang dan menghukum kami karena sudah membuat keributan.

Harin’s POV

Duh aku capek dikejar-kejar terus sama teman-teman Key itu. Sudah seharian sejak pagi sampai sekarang mau pulang saja sudah belasan kali dikejar. Aku sampai tidak makan! Dasar! Kalau mereka menghakimiku aku harus jawab apa tentang aku mengusir Key?? Haduhh…

  Eh, ngomong-ngomong Key hari ini sekolah tidak ya?

Aku mengernyit tipis dan melangkahkan kakiku ke kelas dua. Tiap kelas kuintip tapi tidak ada Key.

Masa benar-benar menghilang sih?

“Key babo! Pemalas,” desisku. Aku menenteng tasku dan kembali berjalan keluar sebelum tertangkap oleh Minho dan Taemin.

Langkahku berhenti melihat sesosok bayangan di dalam kelas kosong di dekat tangga. OMO! Aku tidak sedang melihat hantu kan?! Aku bisa pingsan kapanpun kalau itu benar-benar hantu!

Aku memicingkan mataku untuk memperjelas bayangan yang membelakangi cahaya matahari itu. Ternyata bukan cuma satu tapi dua!

“Oppa~” kudengar rengek salah satu dari orang itu. Huft~ Manusia ternyata.

“Mengintip orang pacaran bukan hal yang bagus,” gumamku pelan pada diriku sendiri.

“Kibum oppa, kau boleh menginap di rumahku kok!” aku terdiam mendengar suara itu lagi. Kibum?

  Kibum kan ada banyak. Key juga tidak sedang sekolah..

Aku mendengar suara cowok terkikik pelan diikuti tawa gadis tadi. Suaranya mirip Key!

 Ck! Suara cempreng seperti Key sudah banyak di mana-mana!

“Aku panggil Key saja ya, oppa.”

Saat itu juga aku kembali berbalik dan melihat dengan jelas siapa dua orang di hadapanku sekarang ini.

“Key…,” gumamku, tepat saat Key menoleh ke arahku.

“Harin?” panggilnya. “Wae uneungeoya?”

Pertanyaan itu membuatku spontan mengerjapkan mataku. Hah?! Kenapa aku menangis?!!

“Aku menangis bukan karena kamu kok!” seruku. “Aku menangis karena diganggu teman-temanmu!” Well. Aku juga tidak tahu kok aku menangis.

Ia memiringkan kepalanya. “Siapa?”

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Kepala kodok dan yang mirip cewek!”

Ia menatapku sejenak lalu tertawa. Aku mengerutkan alisku.

“Wae oppa?” suara cewek itu membuatku tersadar akan kehadirannya.

“Ani.. Ani,” ujar Key di sela-sela tawanya. “Minho dan Taemin, itu maksudnya,” jelas Key. Cewek itu terlihat tersenyum menahan tawa.

“Neo,” ujarku ketus pada Key. “Tinggal di mana?”

Ia melirik cewek di sampingnya sejenak.

“Di rumah Minjoo,” ia merangkul pundak cewek itu. Aku mengerutkan alisku makin dalam. Dia menemukan tuan baru?

“Neon naekkeoya,” gumamku pelan tanpa sadar. Butuh waktu beberapa detik sampai aku mencerna apa yang barusan keluar dari mulutku. Dan spontan aku mengangkat tangan kananku menutup mulutku rapat-rapat.

“Museun…maliya?” tanya Key mengernyit. Ia berjalan mendekat dan menatapku lekat-lekat. Aku berharap ia tidak mendengar ucapanku tadi, walaupun aku tahu Key mendengarnya dengan jelas. Ia menarik tanganku yang menutupi mulut perlahan-lahan.

“N-na…,” aku mengerjap-ngerjap mencoba menemukan alasan yang tepat. Duh! Harin!!! Kau mencoreng harga dirimu sendiri! “K-kau! Kau masih anjingku! Dari Jongwoon oppa!”

Kulihat alisnya berkerut samar sambil matanya masih masuk dalam-dalam ke dalam mataku. Tiba-tiba saja tangannya sudah di pipiku dan kepalaku diguncang-guncangkan ke depan dan belakang.

“YAAAAAA!!!!!!” pekikku.

“Kau kan mengusirku semalam!” omelnya masih mengguncang-guncangkan kepalaku. “Apa aku cuma milikmu karena pemberian dari Jongwoon hyung?!”

“Kwawukwawnpwunywawumwah!!” gumamku tak jelas.

“Aku sudah bilang aku tidak mau pulang ya sudah dong!”

“Kwawugwiwa!!!” aku berusaha melepaskan tangan Key dari wajahku. Tanpa kuduga ia tiba-tiba berhenti dan menyamakan tingginya denganku. Aku mengerjap sejenak dan merasakan pipiku memanas.

“Kalau aku ceritakan padamu kenapa aku tidak mau pulang, kau ijinkan aku tinggal denganmu lagi, kan?” gumamnya dengan suara rendah. Matanya masih menatapku lekat-lekat, seperti sedang menyihirku. Aku mengangguk.

Ia lalu tersenyum hangat. Senyumannya itu belum pernah kulihat sebelumnya. “Gomawo,” bisiknya.

Ia kemudian mendekat dan menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ini bukan pertama kalinya kami ciuman – karena itu sudah seperti ‘re-charge’ energinya Key. Mungkin kalau seperti sebelumnya aku akan mengomel dan mendorongnya. Tapi sekarang entah kenapa aku mengurungkan niatku untuk itu.

  Kenapa?

Aku kan kasihan sudah mengusirnya semalam, dia belum di’charge’ juga.

Atau ada alasan lain? Aku tidak tahu.

 

To Be Continued…

Annyeong~!

Author lagi ada di China, jadi nggak bisa buka wordpress T^T

Tapi ini diusahain update dengan sedikit bantuan temen author hehe

Enjoy the story~! Comment please! ^O^

 

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: