-BRIDE in DREAM-

Vers. 01

Sudah lama aku menantikan hari dimana aku memakai wedding dress dan mempelai laki-laki yang memakai tuxedo. Aku yakin di hari itu aku pasti sangat bahagia.

Tapi….

Saat menjelang tibanya hari yang kunantikan, aku mengalami kecelakaan yang dashyat saat pulang dari butik untuk membeli baju. Aku, eomma, dan calon suamiku yang saat itu mengalami kecelakaan langsung dibawa ke rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit, aku dilarikan ke VVIP room. eomma dan calon suamiku hanya mendapat luka-luka yang ringan. Sementara aku… keadaan ku sangatlah buruk (kritis), nyawaku sudah di ombang-ambing antara hidup dan mati.
Sekarang rohku terpisah dari tubuhku. Tubuhku hanya terbaring lemas tak berdaya diatas tempat tidur.
Kulihat sekeliling, semuanya menangisi aku.

“Appa, eomma, kumohon jangan menangis. Aku masih ada, aku ada didepan kalian sekarang..” kataku pada appa dan eomma yang menangisi aku.
“Hae, jangan menangis. Aku ada disampingmu. Kumohon jangan tangisi aku.” Kataku pada Donghae, calon suamiku.
“Kumohon jangan tangisi aku. Aku masih ada disini bersama-sama dengan kalian.” Aku tak dapat menahan air mataku.

Tuhan, mengapa ini terjadi padaku???

Padahal lusa aku akan menikah. Aku tak mau hal yang sudah ku impikan hanya menjadi bayang-bayang mimpi yang tak terjadi sama sekali dalam hidupku.

“Dokter, lakukan sesuatu! Selamatkan Rin, cepat!” ucap Donghae pada dokter saat mereka ke luar ruangan.
“Maaf, kami sudah berusaha semampu kami.” Jawab dokter.
“Maksudnya??” Tanya appa.
“kami tak dapat berbuat apa-apa. Kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan” jawab dokter itu lagi.
“Eotteoke??? Bagaimana dengan uri Rin??” kata eomma yang menagis sangat kencang, ia terjatuh ke lantai.
“EOMMA!!!!” teriakku yang mungkin tidak didengar oleh mereka.
Aku yang memperhatikan mereka daritadi ikut menangis, aku terduduk di lantai. Aku tak kuat melihat ini semua.
“Benar kata dokter, kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan” kata appa seraya memeluk eomma.

***

Menjelang malam, appa dan eomma pulang kerumah. Di rumah sakit, aku ditemani oleh Donghae.
Tubuh ku masih terbaring lemas .

Maafkan aku, Hae. Maaf jika tak bisa menikah dan hidup bersama. Saranghae..
Entah mengapa, pada jam 12 malam aku masuk kedalam tubuhku. Tapi, aku tak bisa membuka mataku, rasanya berat dan susah untuk membuka mata. Lalu, aku keluar lagi dari tubuhku.
Aku duduk disamping Donghae dan tertidur untuk sesaat.

***

Keesokan harinya,,
Pada siang hari, appa dan eomma datang kerumah sakit, mereka membawa bungkusan yang terlihat seperti adanya kotak makanan.
“Hae, kamu sudah makan?” Tanya appa.
“Oh, belum, abeonim.” Jawabnya.
“Jika begitu, ini makan dulu” eomma memberikan kotak makan pada Kyuhyun.
“Ya, terimakasih, eommeoni..” ia mengambil kotak makanan yang diberikan oleh eomma.
Karena aku, mereka jadi repot…

Kalau dipikir-pikir, esok adalah hari pernikahanku.. …
Aku harus sembuh, supaya aku bisa memenuhi keinginanku itu.

Selagi Donghae makan bersama appa, eomma masuk ke kamar rawat inap ku. Eomma berdiri disampingku dan berkata, “Kenapa kamu belum sadar juga Rin? Kamu tahu? eomma sangat mengkhawatirkanmu” kata eomma.
Eomma… Cheoseonghamnida.. aku selalu merepotkanmu..

“Besok adalah hari pernikahanmu,nak. Eomma sangat sedih melihatmu tak berdaya. Eomma tahu, kamu pasti kecewa jika tak bisa mengikuti pesta pernikahanmu sendiri.”kata eomma lagi sambil mengusap air matanya dan memegang tanganku.
Lalu eomma keluar dari ruangan.

Eomma benar….. aku sangatlah kecewa dan sedih pastinya.. araseo..
Aku ingin kembali ke kehidupanku seperti yang dahulu.. apa ini memang takdir bahwa aku tak bisa bersama-sama Donghae?

Di malam hari, appa dan eomma kali ini tidak pulang kerumah. Mereka dirumah sakit bersama Donghae untuk  menemaniku.

Pada jam 12 malam tepat, aku lagi-lagi kembali kedalam tubuhku. Akan tetapi, aku belum dapat membuka mataku. Kali ini aku tak bisa keluar dari tubuhku.

Tuhan, jika Engkau mau mengambilku dari mereka, setidaknya berikanlah aku kesempatan untuk bicara pada mereka. Aku tak mau pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Saat aku masih belum sadarkan diri, aku bermimpi bahwa aku mengenakan gaun nikahku, aku melihat banyak bunga yang ditaburkan. Lalu, mimpiku tergantikan oleh kenangan masa laluku bersama kedua orang tuaku. Tiba-tiba, aku meneteskan air mata.
Melihat itu, Donghae langsung berteriak memanggil dokter. Dokter pun langsung datang dan memeriksa keadaanku.

“Nona, jika anda mendengar suara saya, harap buka mata anda.” Kata dokter padaku.
Meskipun rasanya berat untuk membuka mata, aku mencoba perlahan.
“Apa anda dapat membuka mata?”
Aku terus mencoba untuk membuka mataku.
“Ayo, Rin kamu pasti dapat membuka matamu.” Kata appa menyemangatiku, suaranya sangat terdengar di telingaku.
Aku terus mencoba dan mencoba. Akhirnya, aku dapat membuka mataku. Aku melihat mereka yang ada di ruangan meskipun belum terlalu jelas.
“Nona, jika anda dapat melihat, kedipkan mata anda 2 kali.” Kata dokter itu lagi.
Aku mengedipkan mataku perlahan.
“Syukurlah..!! Tuhan memang baik” kata eomma mendekatiku.

Saat mereka semua terlihat senang, aku menyela nya dan berkata dengan suara yang lirih, “.. mianhae”
“o? wae???” Tanya eomma heran.
“Aku harus pergi”
Mereka semua terkejut mendengar kata-kata ku.
Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi, beberapa jam lagi aku akan menikah.
“Rin kamu bercandakan???” Donghae memastikanku.
“Saranghae..”mungkin itu adalah kata-kata terakhirku.
Mereka mulai meneteskan air mata.
Perlahan pandanganku tampak samar dan menjadi gelap. Aku pun tak dapat membuka mataku lagi.
Kenangan-kenanganku bersama Donghae mulai terputar ulang dalam pikiranku.

***

“Apa kau berjanji akan bersama-sama Jeong EunRin dalam suka maupun duka?” Tanya seorang pendeta.
“Ya, saya berjanji.” jawab mempelai laki-laki, Donghae.
“apa kau berjanji akan bersama Lee Donghae dalam suka maupun duka?” pertanyaan yang sama dari pendeta itu dilontarkan pada Rin.
“ya, saya berjanji.” Jawab Rin.
Tak lama setelah itu, sepasang cincin dipasangkan ke jari mereka berdua.

TENG~~ TENG~~ TENG~~
Lonceng gereja dibunyikan beberapa kali menandakan sepasang pengantin ini mengikat janji dalam pesta pernikahan mereka.

Walau hanya menikah dalam mimpi, mereka sangatlah bahagia.

Tiitttttttt……………

Rin pergi dengan meniggalkan sebuah senyuman yang indah dan ia meneteskan air mata untuk yang terakhir kalinya.

“Rin!! Bangun nak!” teriak sang ibu sambil menangis.
“ini tidak mungkin!! Ini tidak mungkin terjadi!!” sang ibu hanya bisa menangis dan masih belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah tiada.
“Cheoseonghamnida” kata dokter yang hendak melepaskan alat-alat medis yang dipasang di tubuh Rin.
Ayah Rin hanya bisa menangis dan memeluk istrinya.

Donghae menghampiri tubuh Rin yang mulai dingin dan memeluknya.
“Rin, kenapa tubuhmu jadi dingin? Bangunlah, aku mohon. Kita sudah berjanji untuk hidup bersama. Geojitmal. Geojitmal. Kau harus bisa menepati janji kita.” Kata Donghae dan menangis.

“Jebal gaji malayo!! kajima!! kajima!!” air mata Donghae  jatuh membasahi pakaian yang dipakai Rin. Lalu, ia mencium Rin dengan lembut kemudian ia pergi keluar ruangan bersama dokter.

Appa dan eommanya menghampiri tubuh Rin yang sudah sangat dingin, mereka memeluk Rin dan menangis.

***

Saat Rin hendak di makamkan, ia dikenakan wedding dress yang telah ia pesan untuk pesta pernikahannya.
“Rin, aku tahu. Kau ingin sekali memakai gaun itu di pernikahan kita, tapi itu tidak bisa karena kau sudah tiada” kata Donghae pada Rin yang ada di peti jenazah.
“Kau pasti melihat aku yang sekarang yang tidak memakai pakaian untuk memakamkanmu tetapi aku memakai tuxedo.” Katanya lagi.

“Rin, anakku yang sangat kusayangi baik-baik disana ya.. meskipun kamu sudah tak berada bersama-sama kami disini kami akan tetap menyayangimu.” Ucap eomma Rin yang sudah tidak menangis lagi.
“Ne. Kami pasti sangat merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik, nak” tambah appa Rin. Mereka tak mau menangis lagi sebab mereka tidak mau Rin melihat mereka dengan sedih.

Disitu banyak sekali keluarga, kerabat, dan teman-teman Rin yang datang dan berdukacita. Ya.. Rin memang banyak meninggalkan kenangan bersama mereka semua.
Setelah semua orang pulang, Donghae masih ada disitu. Ia melihat makam Rin dan berkata, “Rin, tunggu aku disana ya. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan menjemputku. Aku akan hidup dengan kebahagiaan dan tidak akan membukakan hatiku untuk orang lain lagi, selamanya.” Lalu Donghae meletakkan seikat bunga diatas makam Rin, dia berdoa dan kemudian ia pulang.

Aku bermimpi…

Sebuah mimpi yang sangat indah

Kumohon jangan tinggalkan aku

Oh, mimpi

Bride in Dream
The End

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: