Tag Archives: Lee Hyukjae

It’s all because of a Group Date ! ♥ {2/?}

Author : devilhae

Genre : Continue, Romance

Cast :  Kim Choonhe, Cho Kyuhyun, Super Junior

 

Ojik nan neo-eui Boy Friend e e e neomaneui Boy Friend e e e. Naega neol jikyeojunkkae neol hangsang akkyeojulkkae ojik neol wihan naega dwaejulgae’

Yoboseyo ?” Jawabku dengan suara parau.

“YA KIM CHOONHE ! KAU ADA DIMANA SEKARANG ?” Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan teriakan Haneul diseberang sana untung saja kujauhkan handphoneku dari telingaku dengan cepat, kalau tidak mungkin pendengaranku sudah bermasalah.

“Aku ? Sedang ditempat tidurku baru bangun.” Jawabku dengan santainya.

“Baru bangun ?! Kau pikir sekarang jam berapa, Choonhe-ya ?” Kudengar suara Haneul mulai mengecil sepertinya dia sudah bisa mengontrol emosinya.

Dengan malasnya aku bangun dari kasurku dan melihat jam wekerku. “Sekarang ? Jam 10 pagi, memangnya ada apa sih ?” Tanyaku heran dan masih belum mengerti maksud Haneul.

Bisa kudengar Haneul menghela nafas berat. “Aigoo.. Kenapa bisa ada orang selambat kau ini sih ? Hari ini kita kan ada acara group date.” Jelasnya. Aku segera membelalakan mataku, kaget. “Aku lupa ~!” Ucapku sambil memukul keningku kuat dan segera berjalan ke kamar mandi tanpa memutuskan hubungan telepon dengan Haneul. (.____.)v

Namun langkahku terhenti dan kembali berjalan kearah kamarku untuk mengambil handphoneku. “Haneul-ya, kau masih ada disana ?” Tanyaku memastikan.

“Yaaa aku masih disini, dasar langsung pergi saja tanpa memperdulikan aku.” Jawabnya sedikit kesal.

Aku terkekeh pelan. “Mian. Mereka sudah datang ? Berapa orang ?” Tanyaku cepat.

“Belum. Kita kan janjiannya jam 11. Kata Donghae Oppa, berempat seperti kemarin. Waeyo ?” Jelas Haneul. Aku tersenyum kecil mengetahui Kyuhyun akan ikut. “Ani. Tidak apa-apa. Kututup ya  ? Annyeong.”

++++

            Aku tiba tepat saat para namja tiba. Sungmin menatapku lalu bertanya. “Bukankah Choonhe-sshi tidak menyukai group date ?”

Continue reading

Letter Of Angel XIII (Is it Love?)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII

Background Song : Sarang Hae Yo (OST. Sassy Girl Chunyang)

“ Oppa, kenapa murung?” tanya IU pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak mendengar apa yang IU katakan.

“Oppa, oppa” panggil IU.

“Ne?” Kyuhyun baru tersadar setel. lah IU menggoyang bahunya.

IU menatap ke dalam mata Kyuhyun. Dia tahu oppanya sedang menghadapi masalah dan bukan masalah kecil. Jelas sekali Kyuhyun terlihat lebih pucat dan matanya lebih sayu dibanding biasanya.

“Oppa kenapa?” tanya IU.

“Nothing” jawab Kyuhyun. IU sudah hafal jika oppanya bersikap demikian berarti dia sedang tak ingin diganggu. IU diam saja menunggu Kyuhyun sendiri yang mengajaknya bicara.

“Oppa, pergi dulu yah. Jangan nakal selama di rumah sakit. Nanti, oppa kembali” kata Kyuhyun. IU hanya memandang oppanya dengan tatapan bingung tak mengerti.

Oppa ada apa?

Donghae POV

“Bisakah anda menerima kasus ini?” tanyaku setelah menjelaskan semuanya ke Changmin.

Changmin terlihat berpikir sejenak, masih menimbang-nimbang apakah akan membantu atau tidak.

“Tuan Lee sebelumnya boleh saya bertanya?” tanya Changmin hati-hati.

“Ne” jawab Donghae.

“Apa hubungan anda, Choi Siwon, dan tentu saja Im Yoona”

Apa yang dia inginkan?

“Tuan Lee, bukankah anda meminta saya menjadi kuasa hukum anda? Bisakah anda percaya pada saya?” tanya Changmin sambil meletakkan tangannya diatas meja.

Apa aku harus cerita yang sebenarnya?

“Saya tak akan memaksa anda cerita, tapi jika memang tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan silahkan keluar dari kantor saya. Masih ada kasus yang harus saya tangani” kata Changmin ringan.

“Tunggu Tuan Shim akan saya ceritakan” kataku akhirnya.

“Saya adalah adik kelas Im Yoona dan Choi Siwon dulu saat masih kuliah di Universitas Seoul” kataku.
Lama aku diam tak tahu harus mulai darimana dan harus apa.

“Miss Aeri, tolong bawakan snack kemari yah” Changmin menelpon sekretarisnya.

Aku sedikit aneh ketika sekretarisnya masuk dan membawa banyak sekali kue kering beraneka jenis dan keripik-keripik untuknya.

“Gamsahamnida” kata Changmin dan tersenyum sumringah.

Sekretarisnya mengangguk dan pamit keluar.

“Kau mau dokter Lee?” tanyanya dan menyorongkan keripik kentang padaku.

Aku menggeleng, tak habis pikir suasana serius seperti ini dai masih sempat ngemil.

“Sunbae, kita bicara informal saja. Ceritakan semua tak masalah, anggap saja sekarang di luar kasusmu. Aku sudah bosan dengan suasana formal tadi tepatnya suasana yang tidak mampu membuat bicara” katanya.

Aku terkesiap, sunbae?

“Aku juga lulusan Universitas Seoul. Jadi, wajar kan aku panggil sunbae. Berarti Choi Siwon dan Im Yoona semua yang terlibat disini adalah sunbaeku” aku mengangguk mengiyakan.

“Kau yakin tak mau?” dia menawarkan keripik kentang yang tinggal sedikit. Aku menggeleng.

“Sunbae, kau bisa cerita atau kita akan tetap bertahan seperti ini sampai semua snackku habis dan waktumu selesai. Satu lagi aku peringatkan kita tak akan bertahan lama dalam posisi ini” Aku memperhatikan snack di atas meja tersebut. Sepertinya kecepatan makannya melebihi orang normal. Baiklah, mulai saja semuanya.

“Aku pernah menyukai Im Yoona dan ……” dia menyelaku.

“Cukup. Aku sudah bisa menebak jalan ceritanya. Kau menyukainya, tapi dia mencintai Choi Siwon dan Choi Siwon menikah dengan wanita lain meninggalkan Yoona yang sedang mengandung. Kemudian, Yoona meninggal dalam kecelakaan kemudian kau mengasuh anaknya”

Gila. Tepat sekali.. Bagaimana dia bisa menebaknya? Aku menatapnya tak percaya.

“Choi Siwon pernah memintaku menjadi kuasa hukumnya. Saat itu aku belum berpikir sejauh itu, tapi karena dokter Jaejoong mengatakan kau butuh bantuanku. Aku mulia mencari informasi mengenai Choi Siwon. Dari berkas yang aku dapat dari kantor pengadilan, aku mendapatkan keterangan mengenai Mavin. Lalu aku mencari keterangan dari rumah sakit Santa Maria dan juga rumah sakit universitas Seoul mengenai ibu Mavin. Layaknya, puzzle aku melengkapi semuanya. Dan potngan terkahir puzzle sudah genap, yakni keteranganmu” aku kaget apa memang seperti ini pekerjaan pengacara? Mencari tahu semua yang berhubungan dengan kasus bahkan hal kecil semacam ini.

“Apa hal pribadi juga termasuk hal yang perlu diketahui?”

“Jangan salah sangka. Aku hanya ingin mengetahui latar belakang kasus saja. Pada dasarnya kasus kalian memang berhubungan dengan urusan pribadi bukan?” tanyanya dengan mimik serius lagi.

“Lalu apa anda bersedia menjadi kuasa hukum saya?” tanyaku to the point.

“Kita coba saja. Sepertinya anda klien yang bisa saya percaya” katanya sambil mengangsurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya dan tersenyum lebar. Aku melangkah meninggalkan kantornya.

“Ohya, dokter Lee. Istri anda saya harap anda juga melibatkannya dalam kasus ini. Anda sudah punya istri kan?” katanya.

Aku berbalik dan mengangguk.

Kyuhyun POV

“Apa maksud semua ini?” teriakku di ruangan rapat.

“Kami tidak tahu, sajangnim Hyundai Corp. serta Hwang Corp. menarik semua pinjaman pada kita. Apa yang harus kita lakukan sajangnim?”

“Beri aku waktu. Besok kita adakan rapat lagi” kataku dan beranjak meninggalkan ruang rapat.
Sekarang yang ingin aku lakukan hanya meminta kejelasan mengenai semua ini. Saat tiba di Hyundai Corp. aku melihat Choi Siwon berbincang dengan istrinya di depan gedung. Mereka sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

“Dengan begini Shim Changmin tak punya pilihan selain membantu kita” kata Tiffany, istri Choi Siwon.

“Tapi apa tidak keterlaluan menarik dana dari Kyu Corp. Mereka rekanan appa dan abeoji sejak lama. Kita tak bisa lakukan ini” Siwon meyakinkan Tiffany. Tiffany menggeleng.

“Aku butuh putra kita dan aku tak peduli harus melakukan cara kotor sekalipun” tegas Tiffany.
Siwon terdiam, dia bingung mau bilang apa.

“Chagiya, kita bicarakan ini di rumah yah. Saranghae” Tiffany mengecup pipi Siwon dan masuk ke dalam mobil.
Putra? Changmin? Apa maksudnya semua ini?

Aku urungkan niatku dan mencoba menenangkan pikiranku.
————————————————–
Jaejoong POV

“Aiishhh… Yuri. Jadwalku padat sekali. Ayolah, jangan bertingkah seperti anak-anak Mrs. Kim” kataku pada Yuri yang tengah duduk di depanku.

“Oppa, yah. Please” mohon Yuri dengan puppy eyes dan menangkupkan dua tangannya.

Kalau sudah begini susah. Haruskah ditolak…. Menimbang sejenak akankah aku menemani Yuri datang ke pesta pembukaan kantor cabang baru di Gwangju.

“Baiklah, tapi setelah semua pasien selesai aku periksa. Ottokae?”

“Ye” jawab Yuri senang dan satu lagi lama-lama dia mirip Haejoong eh apa Haejoong mirip dia yah. Selalu membuntuti di belakangku.

Aku memeriksa pasien satu persatu dan sekarang tiba giliran di kamar Lee Jieun. Aku melihat kekasihnya, Pengacara Shim Changmin sedang mengobrol dengan kakak Jieun.

“Sore” sapaku.

Kedua namja itu berdiri dan membungkuk padaku.

“Uisa, mau memeriksa IU?” tanya kakak IU yang aku sendiri lupa siapa namanya.

“Ne” aku mengangguk.

“Silahkan” katanya.

“Oppa, kenapa meninggalkanku” Yuri menepuk bahuku.

“Kau lama sekali sih” kataku. Shim Changmin dan namja itu tersenyum melihat Yuri.

“Yuri, aku akan memeriksa keadaan Lee Jieun dulu yah” kataku. Yuri mengangguk, aku masuk ke ruang inap Jieun dan diikuti Changmin dan kakak Jieun.

Jiyeon POV

“Oppa, Mavin dimana?” tanyaku pada Donghae.

“Mavin bersama Jaejoong hyung dan Yuri noona. Mereka bilang sekarang mereka di Gwangju untuk pembukaan kantor cabang perusahaan Yuri noona yang baru” jawabku.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Kami masih sangat canggung, semuanya jadi aneh. Tak tahu harus bilang apa.

“Jiyeon soal perkataanku kemarin. Aku serius” kata Donghae sambil berjalan meninggalkanku.
Aku masih tertegun dan tak terasa air mata mengalir membasahi wajahku.

Aku tak akan meninggalkanmu…….

Aku hapus cepat air mataku dan berlari menaiki tangga memeluk Donghae dari belakang.

“Oppa, saranghae” kataku membenamkan wajahku di puanggungnya. Bahuku bergetar hebat dan kembali menangis. Kami berada di posisi ini tanpa melakukan apapun.

Donghae POV

Jiyeon memelukku dari belakang membuatku sedikit kaget.

“Oppa, saranghae” katanya. Aku tak mampu mengatakan apapun, aku tak bisa menjawabnya. Aku masih belum 100 % yakin dengan perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintainya atau apa. Kami hanya terdiam dan berada dalam hening. Yang terdengar hanya isakan Jiyeon disela tangisannya.

saranghaeyo dashi shija-khaeyo
himdul-geman-haet-don kudae-ji-man
I love my friend no animyon an-dwae
uri sarangun chong-hae-jyo-bori-nun-myo-ngin-gol

chigum-chorom-man sarang-hae-yo dashi shija-khae-yo
himdul-geman haet-don kudae-jiman
I love my friend no-animyon an-dwae
modun gol it-go haeng-bo-kha-geman hae-julkke

I love you, I’ll start again
You may be hard on me, but
I love my friend
It has to be you
Our love had already been decided by fate

It was so hard for you that you cried
Now I’ll repay you with all of myself
That smile of yours gives me joy
Now I look that way too

Siwon POV

“Yoboseyo, Cho Kyuhyun ini aku Choi Siwon. Aku ingin bertemu denganmu. Restaurant Lumiere 1 jam lagi” kataku dan menutup telponku. Aku hanya ingin bertemu empat mata dengan Kyuhyun.

Bagaimanapun tindakan Tiffany benar-benar kelewatan. Aku tak bisa membiarkannya menghancurkan Cho Corp.

Tak lama sejak aku tiba, Kyuhyun pun datang dan mengambil kursi di depanku.

“Ada urusan apa anda memintaku menemui anda?” tanya Kyuhyun. Dari nada suaranya aku yakin dia tidak senang.

“Langsung saja. Aku minta maaf Choi Corp. dan Hwang Corp. menarik bantuan dana dari Cho Corp. Aku sangat menyesal melibatkanmu dalam masalah ini” kataku.

“Tidak masalah buatku yang aku perlukan hanya alasan kenapa kalian melakukannya. Kami sudah mematuhi semua kontrak dan bekerja secara professional. Adakah alasan yang bisa anda berikan terkait keputusan sepihak ini?” tanya Kyuhyun.

“Shim Changmin. Aku membutuhkannya sebagai kuasa hukumku untuk…….”

“Menangani kasus? Begitukah? Anda licik sekali. Anda menghancurkan Cho Corp. dan berniat menekan Shim Changmin begitukah?” kata Kyuhyun sambil menggebrak meja.

“Tenang. Aku bisa jelaskan” kataku berusaha meredam kemarahan Kyuhyun.

“Istriku berpikir kalau Changmin akan menyerah ketika mengetahui Cho Corp. berada dalam kesulitan dan…..” dia kembali menyelaku.

“Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Tuan Choi. Anda boleh menarik semua bantuan anda. Dan saya peringatkan anda jangan pernah memanfaatkan perasaan orang lain untuk mendapatkan apa yang anda inginkan” kata Kyuhyun.

Sedikit kurang mengerti apa yang Kyuhyun katakan. Dia kembali berbalik

“Shim Changmin adalah calon adik iparku. Tak akan aku biarkan anda mengintimidasinya dengan memanfaatkan perasaannya” kata Kyuhyun tegas dan meninggalkanku.
————————————————————————————————————

“Katakan pada Choi Siwon tidak ada hubungan antara kasus ini dengan Cho Corp.” teriak Changmin dari dalam kantornya.

“Kalian memang…” Changmin tidak melanjutkan perkataannya dan memilih menutup telponnya. Changmin mengenakan jas yang berada di kursinya dan berjalan ke luar ruangan.

“Batalkan janjiku dengan klien pindahkan jadi lusa dan tolong urus semua file untuk persidangan minggu depan. Aku ingin ke rumah sakit” kata Changmin pada sekretarisnya.

Sekretarisnya mengangguk. Changmin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sekarang pikirannya benar-benar kacau.

Jika anda tidak membantu kami maka kami pastikan Cho Corp. akan collapse

Changmin bergegas turun dari mobil dan menuju kamar IU.

“Oppa, tumben datang jam segini. Tidak sibuk kah?” tanya IU. Changmin tak menghiraukan pertanyaan IU dan memilih duduk di samping ranjang IU dan menatapnya lekat.

IU menyadari ada yang tidak beres dengan kekasihnya. IU menyentuh pipi Changmin lembut.

“Gwencanayo?” tanya IU, Changmin hanya menggeleng dan menaruh tangannya di atas tangan IU yang memegang pipinya.

“Mianhae” kata Changmin sambil menunduk.

“Oppa, tell me what did happen? Why did you say sorry? You never made false” kata IU tegas.

Changmin menatap mata IU lekat dan sekejap kemudian dia memeluk IU.

“I’ll always protect you. I won’t let tears falling down on your face. Everything I do, even If I must ignore principe as

“Saranghae, Lee Jieun” Meski bingung IU pun menjawab.

“Nado saranghae Shim Changmin”

Mereka berpelukan cukup lama. Hingga ponsel Changmin pun berdering dan memaksa Changmin melepaskan pelukannya.

Changmin melihat seklias nama yang tertera di layar ponsel. Dia berdiri dari tepi ranjang dan berjalan keluar.

“Anda janji Choi Corp. dan Hwang Corp. tidak akan menarik dana dari Cho Corp jika saya bersedia menjadi kuasa hukum Tuan Choi. Baiklah, kalau begitu saya …..” Belum selesai kalimat itu dia ucapkan. Seseorang merebut ponselnya.

“Meski perusahaanku collapse, aku tak peduli. Katakan pada Tuan Choi Siwon kalau Cho Kyuhyun bisa menjalankan perusahaannya tanpa bantuan dana dari kalian” ujar Kyuhyun berapi-api.

“Hyung…..” Changmin tak percaya dengan perkataan Kyuhyun.

“Pabo, untung saja aku tidak terlambat, kau ini. Kenapa tak bilang mereka mengancammu hah? “ kata Kyuhyun sambil menoyor kepala Changmin.

Changmin hanya mendengus kesal dan memegangi kepalanya.

“Hyung, mianhae. Hanya saja aku tak ingin membuatmu mendapat masalah karena kasus yang akan aku tangani. Hyung, mianhae” kata Changmin menyesal.

“Sejak kapan kau memanggilku hyung?” Kyuhyun terkekeh dan berusaha mencairkan suasana.

Changmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang lebih tua beberapa bulan dibanding Kyuhyun, tapi karena dia menyukai adik tiri Kyuhyun. Maka, entah kenapa dia bersedia memanggil Kyuhyun yang notebene salah satu kliennya dengan sebutan hyung.

“Jadi hyung sudah tahu?” tanya Changmin.

“Aku hanya tahu kau entahlah aku rasa kau diancam Choi Siwon dengan memanfaatkan Cho Corp. Sisanya aku tak tahu dan aku harap kau ceritakan kasus itu” ucap Kyuhyun dengan penekanan pada kalimat terakhir.

Changmin menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya. Kyuhyun menghela nafas sambil mendengarkan cerita Changmin. Tak habis pikir kenapa Choi Siwon yang terkenal terhormat itu menggunakan cara licik seperti ini.

“Lalu apa tindakan hyung selanjutnya?” tanya Changmin.

“Maksudmu mengenai perusahaan? Entahlah aku belum berpikir sejauh itu” jawab Kyuhyun sekenanya.

“Mianhae” tunduk Changmin.

“Hei kau ini kenapa? Shim Changmin sang Pangeran Meja Hijau kenapa jadi selemah ini. Ayolah, jangan khawatir. Aku pasti menemukan cara lain. Percayalah, tenang saja” jawab Kyuhyun bersemangat.

Pandangan Kyuhyun dan Changmin beralih pada suster yang ribut karena berita di televisi. Mereka memang sedang berada di ruang tunggu rumah sakit.

“Wowh… Tak aku sangka istri dokter Jaejoong semakin sukses saja. Lau Group itu punya anak kedokteran yang kesini itu bukan sih” kata seorang suster.

“Iya… itu dia Henry Lau” kata suster lain menanggapi.

Nishishima Group dan Lau Group dua perusahaan berskala internasional kembali memperluas jaringannya dengan membuka perusahaan cabang baru di Gwangju sebagai salah satu kantor bersama. Pembukaan ini dihadiri oleh banyak orang penting di Korea Selatan, Jepang, dan beberapa pengusaha internasional termasuk Menteri Perdagangan dan Menteri Perhubungan Republik Korea Selatan.

“Lihat dokter Jaejoong dan istrinya. Wah… wah…” kata suster lain.

Kyuhyun dan Changmin langsung melihat ke arah tv yang dipasang di atas ruang tunggu.

“Sepertinya aku sudah mendapat ide Changmin” kata Kyuhyun tersenyum senang.

“Mwo?? Apa?” tanya Changmin. Kyuhyun menunjuk pada layar televisi.

Changmin sedikit bingung dan bertanya.

“Apa?” tanya Changmin.

“Lihat saja nanti” seringai Kyuhyun dan berdiri meninggalkan Changmin. Kyuhyun berbalik sejenak.

“Titip IU yah adik ipar” ujar Kyuhyun dan melambaikan tangannya pada Changmin.

Changmin tersenyum penuh makna mendengar kata-kata Kyuhyun.

Donghwan POV

“Eumma, bagaimana masih berniat memisahkan mereka berdua?” tanyaku pada eumma yang melihat pemandangan Jiyeon yang memeluk Donghae dari belakang.

“Aku rasa ini sudah cukup” kata eumma dan memintaku mendorong kursi rodanya keluar dari rumah Donghae.

Junsu POV

“Sajangnim, kasus Lee Donghae dan Choi Siwon akan semakin menarik” kata seorang karyawan.

“Maksudmu?” aku tidak mengerti.

“Shim Changmin, sang Pangeran Meja Hijau menelpon dan mengatakan dia adalah kuasa hukum Lee Donghae”

Sepertinya akan sangat menarik….. Tak aku sangka mereka mampu membuat Shim Changmin membantu mereka.

“Saya dengar yang akan menjadi hakim dalam kasus kali ini adalah Choi Seunghun”
Aku sedikit terlonjak.

“Kau yakin?” tanyaku berusaha memastikan.

“Iya, sajangnim” jawabnya.

Jaejoong, sekarang tidak ada lagi istilah keberuntungan. Prince of Court, Cool Blood Judge…. Semua sekarang adalah soal hukum dan aturan. Aku harap temanmu berada dalam lindungan hukum.

It’s all because of a Group Date ! ♥ {1/?}

Author : devilhae

Genre : Continue, Romance

Cast :  Kim Choonhe, Cho Kyuhyun, Super Junior

 

“Ayolah Choonhe-ya, ikutlah bersama kami.” Pinta Haneul sambil menunjukkan puppy eyes nya. Aku mendecak kesal, ini sudah ke-49 kalinya mereka mengatakan hal yang sama padaku. “Sudah kubilang, aku tidak tertarik dengan acara begituan, Haneul-ya.” Tolakku tegas.

Tiba-tiba Heerin memukul mejanya kencang sehingga membuat semua menatap kearahnya. “Tapi kami sudah janji akan datang berempat. Pokoknya kau harus ikut ! Aku, Haneul dan Iseul tidak mau mengajak yang lain.” Ujar Heerin lantang.

Aku menggelengkan kepalaku untuk kesekian kalinya. “Sekali aku bilang tidak ya tidak.” Tolakku lagi.

Tiba-tiba saja Iseul yang sedari tadi diam menarik sweater yang kukenakan pelan. “Ayolah Choonhe-ya. Ada seseorang yang kusukai dalam acara itu, kalau kau tidak ikut dengan kami aku tidak akan bisa bertemu dengan nya lagi.” Ucapnya sambil menunjukkan puppy eyes andalannya.

Aku menghela nafas berat. “…Baiklah , aku ikut.” Ucapku pasrah dan langsung membuat mereka berteriak kesenangan. Aku kalah pada permintaan yang ke-51 karena aku tidak bisa melawan puppy eyes milik Iseul. <(-w-)>

++++

            “Ya ! Kalian tidak pernah memberitahukan aku kalau acaranya sekarang ?!” Teriakku kesal pada ketiga temanku yang kini kita tengah menunggu didepan gerbang sekolah putra yang cukup terkenal tapi itu sama sekali tidak penting, bagiku ada yang lebih penting dari itu yaitu aku harus pulang ! -___-

“Maaf Choonhe-ya, kalau kami bilang padamu acaranya sehabis pulang sekolah kau pasti akan menolaknya.” Ucap Iseul sambil menundukkan kepalanya sedangkan Heerin dan Haneul malah menghindari bertatapan langsung padaku.

Aku menahan emosiku untuk tidak keluar. “Pokoknya aku harus pulang ! Anime yang kutunggu-tunggu season 2 nya akhirnya ditayangkan hari ini, aku tidak akan melewatkannya.” Ucapku dan berbalik arah berjalan kearah bus stop tapi tiba-tiba saja sweaterku ditarik dengan paksa. “Pokoknya kau harus ikut.” Ucap Haneul singkat sambil menunjukkan senyuman iblisnya yang langsung membuatku menelan ludah.

Continue reading

Welcome to 13th Steps (Trailer)

Welcome to 13th Steps (Trailer)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Horror, Mystery, School Life, Historical, Friendship.

Cast: Kibum, Siwon, Donghae, Eunhyuk, Sungmin, Kyuhyun.

Satu…

Permainan ini akan terus berlanjut, membuatmu terperangkap di dalamnya.

“Bagaimana mungkin?! Bukannya kita sudah di Seoul??”

“Ini semua salahmu!!”

“Chinca! Kita harus bagaimana sekarang??”

Dua…

Sebuah mantra terkutuk yang keluar dari mulutmu menandakan bahwa kau telah menjual dirimu… pada iblis.

“Kau yakin?”

“Tentu saja!”

“Tapi… bagaimana kalau dia muncul setelah kau menyebut namanya?”

“Babo! Kau percaya? Itu hanya dongeng!”

Tiga…

Dia akan membawamu ke sebuah tempat, tempat yang tidak pernah kau bayangkan… Kegelapan.

Warna hitam yang pekat seakan-akan menghanyutkanmu ke dalam dunianya.

“Aku mau pulang!!”

“Tidak, kita tidak boleh terpisah!”

“Aku tidak peduli! Aku ingin ke Seoul sekarang juga!!”

Empat…

Kau dengar? Dia menangis… dalam kesunyian malam.

Panggilanmu membuatnya tersadar bahwa kau ingin menemaninya.

“Pasang lilinnya! Ppalli!!”

“Matikan lampunya dan jangan lepaskan pandangan kalian dari cermin.”

“Kau serius mau melakukannya?”

“Akan kubuktikan kalau legenda itu hanya omong kosong!”

Lima…

Sekali kau bermain, kau harus terus bermain.

Tidak ada penyelesaian di permainan ini.

Tidak ada akhir, seperti lingkaran setan yang tak berujung.

“Sudah cukup!!”

“Aku… melihatnya! Aku… melihat… dia.”

“Tunggu…! Kau bercanda? Aku tidak melihat apa-apa!”
Continue reading

Letter of Angel 9 (You’re the Only One)

Part I , Part II ,
Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII

Note : Dengarkan Lagu “Only One” dari B1A4 saat membaca part ini. Akan lebih terasa feelnya ^^

“Berangkat dulu yah. Sama appa jangan nakal” kata Jiyeon dan berlari melintasi halaman. Tak lupa dia melambaikan tangan pada Donghae dan Mavin.

“That…tha eumma” teriak Donghae.

Jiyeon tersenyum.

Ommoooo…. Eumma…..

“Ayo, masuk aku antar ke kampus. Mulai besok minta suami mengantarmu” kata Jungmin ketus.

“Oke…oppa ^^” kata Jiyeon seraya mencubit pipi Jungmin.

Jungmin terbelalak dengan kelakuan adiknya.

Setan apa yang telah membuatnya seperti ini. Setan bernama Donghae kah? TOT

Donghae POV

“Sekarang Mavin dan appa ke supermarket kita belanja yah” kata Donghae dan menggendong Mavin di punggungnya.

Ibu-ibu dan yeoja yang berada di supermarket memperhatikan mereka berdua.

“Omo…. Tampannya. Istrinya beruntung sekali yah, saying anak pula” celetuk seorang ibu.

Donghae sedang bingung di bagian susu bayi. Dia tak tahu harus membeli susu yang mana.

“Ehm… Susumu yang mana yah? Biasanya Jiyeon kasih kamu yang mana?” Donghae bertanya pada Mavin seolah bayi itu mengerti.

Saat itu Jessica sedang berada di supermarket yang sama.

“Donghae-shi?”

Donghae berbalik.

“Oh… Suster Jessica. Kau sedang apa disini?” tanya Donghae.

“Belanja” jawab Jessica.

“Oh iya di supermarket tentu saja belanja” cengir Donghae.

“Ada yang bisa aku bantu?” tawar Jessica.

“Aku butuh susu untuk Mavin, tapi aku tak tahu yang mana”

“Owh… ehm karena usianya mungkin yang ini cocok” kata Jessica dan memberikan satu kotak susu bayi pada Donghae.

“Istrinya cantik yah” bisik ibu-ibu disitu. Donghae hanya tersenyum datar, muka Jessica langsung memerah. Donghae menyadarinya.

“Ehm…. Aku duluan yah. Maaf membuatmu dikira ibu Mavin” kata Donghae.

Jika iya pun tak mengapa Donghae-shi

Agak jauh Donghae sedikit berteriak

“Bye… ahjumma kapan-kapan main ke rumah yah. Nanti ketemu eumma” Donghae langsung menuju kasir setelah berkata demikian.

Jessica tersenyum getir, tapi tetap berusaha tersenyum tulus. Dia mengamati Donghae dan Mavin yang terlihat ceria.

“Ne…. Aku di supermarket. Apa bukumu ketinggalan? Lalu kau tak bawa kunci rumah? Aigoo… Kau ceroboh sekali. Biar aku yang antar ke kampus. Kau butuh apalagi? Ehm… begitu yah jadi aku bawakan snack saja nanti biar ada kerjaan ngemil” kata Donghae sambil menutup telpon.

“Mianhae, titip belanjaan sebentar yah. Saya mau membeli beberapa barang lagi” kata Donghae pada kasir.

Jessica hanya memperhatikan Donghae.

Andai saja dia mengatakan itu padaku pasti akan sangat bahagia.

“Sudah semuanya sekarang tinggal mengambilkan barang eumma yang ketinggalan. okay” kata Donghae pada Mavin yang tertawa. Kasir dan orang-orang di swalayan tersenyum melihat ayah dan anaknya ini.

Beruntung sekali yah gadis itu

Jiyeon POV

Mampus bukuku ketinggalan. Aduh bagaimana ini? Lebih baik aku kembali ke rumah.

“Pak ke alamat ini yah” kataku pada sopir taksi.

Rumah sedang kosong. Ohya, Donghae kan bilang mau belanja hari ini.

Hah… Dimana kunci rumahnya? Ya, ampun aku meninggalkannya di meja makan tadi. Pabo, Jiyeon!!!

Aduh bagaimana ini? Telpon Donghae-oppa.

“Yoboseyo, oppa. Oppa bukuku ketinggalan, sekarang aku di depan rumah seperti orang hilang. Oppa di supermarket yah? Kunciku tertinggal di meja makan TOT. Oppa titip dunk nanti aku ada kuliah sampai malam bête kalau tidak ada kerjaan hehehe“ kataku sepertinya ini panjang sekali yah.

“Ne…. Aku di supermarket. Apa bukumu ketinggalan? Lalu kau tak bawa kunci rumah? Aigoo… Kau ceroboh sekali. Biar aku yang antar ke kampus. Kau butuh apalagi? Ehm… begitu yah jadi aku bawakan snack saja nanti biar ada kerjaan ngemil” kata Donghae sambil menutup telpon.

Kerjaan ngemil??????????? Ampun ini orang langsung sekali sih.
Balik ke kampus. Let’s go.

Donghae POV

Hampir saja aku melakukan kesalahan bodoh. Aku hampir masuk ke kelas Jiyeon dan memberikan bukunya. Untung saja ada Jaejoong-hyung lewat dan mengingatkanku.

“Donghae, tunggu kau mau kemana?” tanyanya.

“Menyerahkan buku ini pada Jiyeon” jawabku.

Dia langsung menarik lenganku.

“Pabo!!! Kau ingin semua orang tahu hubungan kalian?”

Aku menepuk jidatku sendiri.

“Lalu bagaimana? Aku harus memberikan buku dan snack ini padanya” jawabku.

“Serahkan saja padaku. Aku kan dosen yang mengajarnya, tinggal bilang ada titipan dari kakaknya pada dosen yang sedang mengajar” jawab Jaejoong.

“Gomawo, hyung” kataku.

“Mavin kemana?” tanya Jaejoong.

“Owh… tadi aku titipkan di rumah Jiyeon karena aku ada jadwal jaga pasien” jawabku.

“Ya, sudah pergi sana” kata Jaejoong.

Aku mohon diri dan pamit.

Jiyeon POV

Aku sedikit kecewa bukan Donghae-oppa yang memberikan buku padaku, tapi Jaejoong-oppa. Aku ingin sekali melihatnya sekarang. Entah kenapa ingin sekali selalu melihat Donghae-oppa.

Walau tahu itu demi kebaikan kami agar pernikahan kami tak terbongkar, tapi tetap saja aku ingin dia disini sekarang.

“Jiyeon” seseorang mengibaskan tangannya di depanku.

“Ne… Henry-shi” jawabku.

“Hehehe…. Formal sekali. Kau kenapa melamun?” tanyanya.

“Tidak. Siapa bilang aku melamun?” kataku.

“Jangan bohong daritadi kau tidak konsentrasi dengan pelajaran” kata Henry.

“Oh… begitu yah. Kelihatan sekali yah?” tanyaku.

Henry mengangguk.

“Kau mau makan tidak?” tawarnya.

“Ah.. tidak aku tak lapar” jawabku.

“Ya, sudah kalau begitu. Aku duluan yah” kata Henry.

Tak lama setelah Henry pergi, aku melihat Taemin. Sekarang Taemin tak pernah lagi menyapaku. Rasanya aneh sekali padahal kami sudah berteman sejak kecil.

Hufth…. Aku menghembuskan nafas panjang.

Siwon POV

“Oppa aku sudah mendapat informasi mengenai dokter itu. Dia anak pemilik rumah sakit Santa Maria. Menurut detektif yang aku
sewa, dia mengajar di universitas Seoul jadi sebentar lagi kita akan mendapatkan putra kita” kata Tiffany senang.

“Hebat Fany. Aku saja belum mendapat informasi yang begitu detail. Ohya sudah tahu siapa namanya?” tanyaku.

“Kalau tidak salah namanya Lee Donghae”

Lee Donghae? Sepertinya aku tidak asing dengan nama ini. Sangat familiar di telingaku, tapi siapa?

“Kenapa oppa? Oppa kenal?” tanya Tiffany yang penasaran melihat perubahan di wajahku.

“Tidak. Hanya sedang berpikir saja kapan mendapatkan anak kita” jawab Siwon.

Tiffany menggenggam tanganku.

“Secepatnya oppa. Secepatnya kita akan mendapatkannya” jawab Tiffany dengan mata berbinar.

Lee Donghae….. Sebaiknya aku segera mengirim orang untuk menyelidikinya juga.

“Aku ke belakang sebentar” kataku pada Fany.

Aku menelpon sekretaris pribadiku.

“Pak Kwan kirim orang untuk menyelidiki dokter rumah sakit Santa Maria yang bernama Lee Donghae. Aku mau laporannya sudah sampai padaku nanti malam. Semua hal menyangkut Lee Donghae” kataku.

Donghae POV

Aku merasa ada yang aneh seolah daritadi ada yang mengikutiku. Namun, saat ku tengok tidak ada yang mencurigakan di koridor rumah sakit.

Mungkin hanya imajinasiku

“Donghae-shi, anda kelihatan lelah sekali. Bagaimana kalau kita minum kopi?” ajak Jessica.

“Boleh. Sepertinya segelas kopi akan membuatku lebih sadar” jawabku.

Jessica memandangku terus selama kami di cafeteria, membuatku sedikit risih dan salah tingkah.

“Ada yang salah di wajahku?” tanyaku.

“Owh… Nde” jawabnya seraya memalingkan wajahnya.

Agak lama kami saling terdiam.

“Donghae-shi, Mianhae lancang kalau boleh aku bertanya. Apa gadis yang waktu itu istrimu?” tanyanya.

“Gadis yang waktu itu? Maksudmu Jiyeon?” tanyaku. Dia mengangguk.

Sedikit ragu aku untuk menjawabnya.

“Kalau tak dijawab juga tak apa” katanya cepat.

“Iya, dia istriku. Memangnya kenapa ada masalah?” tanyaku.

“Ehm… Dia…. masih….” Jessica kelihatan ragu melanjutkan kalimatnya.

“Dia masih muda begitukah? Iya, dia memang masih muda, tapi aku rasa itu bukan masalah” kataku.

“Mianhae, lancing tapi bukankah dia mahasiswi anda?” tanya Jessica.

Tunggu darimana dia tahu Jiyeon itu mahasiswi universitas Seoul.

“Maaf, aku rasa ini bukan bahasan yang bagus. Sepertinya waktu istirahat telah usai sebaiknya aku kembali ke ruanganku” kataku tegas.

Langkahku terhenti ketika Jessica menahan tanganku.

Jessica POV

“Maaf, aku rasa ini bukan bahasan yang bagus. Sepertinya waktu istirahat telah usai sebaiknya aku kembali ke ruanganku” kata Donghae.

Ini pertama kalinya aku mendengar dia begitu tegas dan dingin.

“Mianhae, telah ikut campur urusanmu” kataku sambil menahan tangannya.

Dia hanya tersenyum dan berjalan pergi.

Jiyeon POV

“Aku pulang” teriakku saat memasuki rumah.

Lampu depan belum dinyalakan. Pasti Donghae belum pulang. Saat aku melintasi ruang tamu aku melihat Donghae tertidur di sofa bersama Mavin.

Aisshhh… lucunya.

Aku mengambil Mavin dari pelukan Donghae. Saat itu sebuah diary terjatuh.

Aku mengambilnya dan membaca isinya.

Shock… hanya itu kalimat yang bisa aku katakan.

Tak tahu diary siapa aku membacanya hingga akhir. Apakah ini diary ibu Mavin?

Air mataku menetes, pasti berat berada dalam posisinya. Mengandung anak dari pria yang tak bisa kau miliki. Orangtua pria itu tega sekali.

Aku mengepalkan tanganku, aku memandangi Mavin.

Ibumu telah menjagamu sekarang giliranku menjagamu. Aku mengeratkan pelukanku pada Mavin.

“Eumma janji kau akan mendapat kehidupan bahagia. Have nice dream baby” Aku menyanyikan sebuah lagu untuknya.

I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
i sesangeun jageun nuneuro tto geudael boryeogo hajiman
boran deusi dangdanghage malhal su isseo You‘re the only one
jogangnan kkumeul chajayo an doendaneun mareun haji marayo
geu kkumeul dasi irul su itge naega dowajulgeyo
sumi chaoreul ttaemyeon jamsi nuneul gamgoseo geudae miraereul sangsang haebwayo

Translate :

I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
Although this world tries to look at you with a small view
I can confidently say you’re the only one
Find your broken dreams again. Don’t say that you can’t
I will help you to make that dream come true
When you feel like you can’t breathe, close your eyes for a bit and think about your future
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life


Donghae POV

Aku terbangun ketika Jiyeon mengambil Mavin dari pelukanku.

Dia mengambil diary Yoona yang terjatuh. Aku berpura-pura tidur dan membiarkannya membaca diary Yoona. Dia duduk di sofa depanku.

Ku liha dia meneteskan air mata saat membaca diary Yoona. Dia juga mengeratkan pelukannya pada Mavin. Aku tersenyum saat dia mengatakan

“Eumma janji kau akan mendapat kehidupan bahagia. Have nice dream baby”

Aku hendak menghampirinya, tapi tak jadi karena aku ingin mendengarkan nyanyiannya.

Suaranya cukup merdu dan di dalamnya terkandung ketulusan.

Sepertinya aku tak salah pilih.

Jiyeon menaruh kembali diary itu di sebelahku.

“Oppa, bangun. Pindah ke kamar sana” katanya.

Donghae menggeliat dan meluruskan tangannya.

“Jiyeon, kau sudah pulang?” tanya Donghae.

Jiyeon mengangguk. Dia berdiri dan menarik tangan Donghae.

“Oppa, lain kali tidur di ranjang saja. Kasihan Mavin juga kan ^^. Ohya, hari ini biar Mavin tidur denganku” kata Jiyeon.

Donghae mengusap mukanya dan berjalan mendahului Jiyeon.

“Selamat malam” kata Donghae.

“Selamat malam” balas Jiyeon.

Kami ini menikah apa bersahabat yah? Rasanya kok aneh dan canggung yah. Ah, sudahlah. Anak eumma ayo sekarang pindah ke kamar.

Siwon POV

“Pak Kwan ada apa malam-malam kemari?” tanya Tiffany.

“Maaf, nyonya. Tuan Choi menyuruh saya kesini. Kami ada urusan penting” balasnya.

Tiffany hanya mengendikkan bahu dan memanggil Siwon.

“Oppa, ada Pak Kwan dibawah. Serius sekali sepertinya, memang ada urusan apa?” tanya Tiffany.

Siwon hanya tersenyum dan meninggalkan Tiffany yang masih penasaran.

“Pak Kwan bagaimana hasilnya?” tanya Siwon to the point.

“Kami sudah menyelidiki dokter Lee Donghae. Menurut keterangan yang saya dapat selain bekerja sebagai dosen dia juga berkerja sebagai dokter di rumah sakit universitas Seoul, dokter Lee menjabat wakil kepala dokter bedah di rumah sakit Santa Maria. Ini fotonya”

Pak Kwan menyerahkan selembar foto padaku.

Ternyata tepat seperti dugaanku. Namja adik kelas Yoona, anak fakultas kedokteran itu.

“Ada apa Tuan?” tanya Pak Lee.

“Informasi apalagi yang kau dapat?” tanya Siwon.

“Dia tinggal bersama seorang gadis remaja yang kami ketahui sebagai mahasiswi kedokteran di universitas Seoul. Info terbaru yang saya dapat mereka baru saja menikah sekitar 1 minggu, tapi pernikahan ini dirahasiakan dari umum” jelas Pak Kwan.
Siwon mengangguk tanda mengerti.

“Lalu putraku?” tanya Siwon.

“Dia baik dan sehat. Mereka menjaganya. Kami membuntuti Lee Donghae dan gadis itu seharian. Mereka sangat menyayangi putra anda, tidak aka nada yang mengira kalau itu bukan putra Donghae” tandas Pak Kwan.

“Oh… begitu yah. Lalu gadis itu, aku ingin semua keterangan mengenai dirinya. Pak Kwan tolong selidiki hubungan Lee Donghae dengan Im Yoona. Kau tahu maksudku kan?” Pak Kwan mengangguk dan pamit.

Yoona, kenapa justru Donghae yang kau percayai menjaga putra kita?

“Oppa, wae?” tanya Tiffany yang khawatir dengan perubahan wajah Siwon.

“Nde. I’m okay just tired” balas Siwon. Tiffany seperti tak percaya, tapi Siwon memang sedang tak ingin bicara jadi Tiffany hanya bisa mengangguk.

“Besok aku akan ke luar kota baik-baik ya di rumah” kata Siwon sebelum tidur pada Tiffany lagi-lagi hanya mengangguk.

Oppa, apa lagi yang terjadi? Kenapa kau selalu menutupi banyak hal dariku?

Yoona, apakah kau menilai Donghae lebih baik dariku sehingga kau menyerahkan putra kita?


Donghwan POV

“Donghae, bahaya super bahaya” kata Donghae setelah mencari-cari Donghae di rumah sakit universitas.

“Wae, hyung? Memang bahaya kenapa?” kata Donghae.

“Eumma… eumma… “Donghwan masih berusaha mengatur nafasnya.

“Eumma, ada apa dengan eumma? Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?” tanya Donghae.

“Ini akan buruk bagimu. Eumma menyiapkan tiket bulan madu khusus untukmu dan Jiyeon. Aku melihatnya saat menengok eumma kemarin.”

“Ommooo…. Eumma ini apa-apaan” teriak Donghae.

“Lebih parah lagi lihat saja rumahmu sekarang” kata Donghwan.

Donghae… malang kau. Eumma memang aiishhhh…..

Donghae dan Donghwan buru-buru menuju rumah Donghae.

“Eumma… Ada apa ini?” Donghae setengah berteriak melihat rumahnya sekarang.

“Kenapa ini baguskan? Aku hanya merubuhkan dinding kamar agar lebih luas” kata eumma Donghae.

“Kalian tidak seranjang kan? Bagaimana eumma bisa punya cucu lagi kalau kalian terpisah begitu? Lebih baik rubuhkan saja dindingnya jadi harapan eumma punya cucu lagi lebih besar” kata eumma Donghae senang.

Saat itu Jiyeon datang bersama Mavin disertai Jungmin. Mereka tak kalah shocknya.

Jungmin buru-buru menarik lengan Jiyeon.

“Sumpah, ibu mertuamu mengerikan. Apa maksud merobohkan dinding pemisah kamar?” Jiyeon hanya menggeleng tak tahu.

“Menantu eommonim yang cantik kemarilah” panggil eumma Donghae.

Jiyeon pun naik ke atas menemui eumma Donghae.

“Sini putramu dan ini tiket untuk kalian berdua. Saat pulang aku mau ada kabar cucu kedua”

Jiyeon memandang Donghae bingung. Donghwan cekikikan.

Hahahaha….. Donghae maaf tak bisa membantumu. Keponakan keduaku dunk… hahaha

Donghae yang melihat Donghwan senyum-senyum tak jelas menatapnya tajam membuat Donghwan ambil langkah seribu.

“Eumma, Donghae, Jiyeon aku pamit dulu. Aku dan Jungmin ada urusan” Donghwan buru-buru pergi dan menemui Jungmin.

“Sukses besar Jungmin…. Hahaha”

“Tak susah ya menghasut ibumu. Mereka akhirnya dikirim bulan madu juga. Berapa chance hamilnya?” tanya Jungmin.

“Belum tahu yang penting harus dibuat dulu kan?”

Hahaha…. Mereka tertawa terbahak saat keluar rumah membuat Donghae curiga.

Ini pasti ulah kalian berdua

“Donghae, ini koper kalian berdua. Kalian berangkat 3 jam lagi. Selamat bersenang-senang. Sopir kita yang akan mengantar kalian”

Jiyeon dan Donghae hanya dapat saling menatap tak percaya.

Bulan madu… Aiigggooooo…..

Aiiissshhhh…. Ide gila dari seorang ibu. Ya, Tuhan maafkan eummaku.

Wah, bulan madu ehm bagaimana ini aku belum ada persiapan sama sekali.

“Yoboseyo”

“Yoboseyo, selamat bersenang-senang. Bawakan kami keponakan yah… hahaha” teriak Donghwan dan Jungmin bersamaan.

“Ku bunuh kalian” teriak Donghae.

Jiyeon POV

Wowh….. Paris, kota paling romantic yang pernah ada.

Omooo… Menara Eiffel… Keluarga Donghae-oppa benar-benar kaya. Ini pertama kalinya aku liburan ke Eropa.

“Oppa, indah bukan?” tanyaku girang.

Donghae tak menanggapi Jiyeon dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

Andai saja…..

“Oppa, kau dengarkan aku tidak?” Jiyeon sedikit berteriak.

“Ya… Yoona” Senyum Jiyeon langsung hilang.

Yoona, siapa dia? Kenapa aku dipanggil Yoona.

“Mianhae… Maaf pikiranku sedang tak fokus” kata Donghae kemudian.

Jiyeon menarik nafasnya dalam.

“Oppa ingin kesini bersama gadis yang bernama Yoona yah?” kata Jiyeon berusaha riang.

Asal dia bisa merasa lebih senang tak masalah aku sakit

“Kau ingin kesini bersama Taemin kan?” Donghae menggoda Jiyeon.

“Nde… Siapa mau kesini bersama Taemin?” Jiyeon mencibir Donghae.

“Kalau begitu dengan Henry?” tanya Donghae lagi.

“Mwooo??? Henry???? Nde… nde… nde” Jiyeon menggeleng cepat.

“Hahaha… Kau lucu sekali yah” Donghae tertawa dan mengacak rambut Jiyeon.

Pertama kalinya dia mengacak rambutku ^-^

Kami terlibat pembicaraan seru. Sumpah dia dosen tukang nguping gossip mahasiswa yah. Sampai dia punya daftar list yeoja yang sering diam-diam menaruh coklat di ruang Kim Jaejoong-songsaenim, bahkan dia tahu kalau ada mahasiswi yang suka memotret Lee Hyuk Jae saat mengajar.

“Lalu kau? Sudah tak punya fans, tak dapat apa-apa pula” kekehku.

“Aku kan dapat kau” jawab Donghae ringan.

Degggghhhh…. Apa dia bilang?

Donghae POV

“Aku kan dapat kau” jawabku.

Eh… Apa yang aku katakan tadi?

Suasana hening sesaat. Kami tak tahu harus berkata apa.

“Jiyeon”

“Oppa”

“Ehm… Kau duluan saja’ kataku pada Jiyeon.

“Tidak, oppa duluan saja” kata Jiyeon dengan senyum riang.

Aku menarik nafas panjang.

“Ada yang harus aku ceritakan tentang ibu Mavin” kataku.

“Aku sudah tahu kok ibunya wanita yang hebat, dia pasien oppa kan? Aku sudah tahu itu” kata Jiyeon.

“Bukan-bukan itu” balasku.

Jiyeon menatapku bingung.

“Dia… dia” aku bingung harus bilang apa.

“Dia apa oppa?” tanya Jiyeon.

Tiffany POV

Bruuugghhhh…… Auuwwwhhhh

Tak sengaja aku menabrak seorang ahjumma. Aku buru-buru minta maaf dan membantunya merapikan belanjaannya.
“Mianhae ahjumma. Aku tak sengaja” kataku.

“Oh.. tidak apa-apa ahjumma yang kurang hati-hati….”

Owwekkk…. Owwekkkk

Seorang babysister membawa Mavin.

“Jangan menangis… Sini sama ahjumma” kata eumma Donghae dan mengambil Mavin dari babysisternya.

Mavin masih saja menangis dan justru lebih keras.

“Cuuppp…cuuuppp. Anak tampan jangan menangis yah ^^” Tiffany membantu meredakan tangis Mavin dan berhasil.

“Wowhh… Hebat sekali. Dia jadi suka menangis karena eumma dan appanya ada urusan di luar negeri dan tak bisa membawanya” jelas eumma Donghae.

“Boleh aku menggendongnya?” tanya Tiffany.

Eumma Donghae membiarkan Tiffany menggendong Mavin.

Kenapa aku merasa bayi ini mirip seseorang yah. Matanya, bibirnya, hidungnya seperti punya seseorang.

“Fanny… Fanny” Siwon datang dan menghampiri mereka.

“Oh… siapa ini?” tanya Siwon setelah berhadapan dengan mereka dan membungkuk pada eumma Donghae.

“Kami tak sengaja bertabrakan oppa ^^” jelas Tiffany.

“Ohya, kami pergi dulu ya nak” kata eumma Donghae dan meminta Mavin dari Tiffany.

Tiffany kelihatan sedih dan enggan memberikan Mavin pada eumma Donghae.

Setelah mereka agak jauh. Tiffany menghela nafas panjang.

“Kau ingin segera punya bayi yah?” tanya Siwon.

Tiffany mengangguk.

“Putra kita kapan kita bisa bertemu dengannya. Apa oppa sudah mengetahui alamat dokter Lee?” tanya Tiffany.

“Belum” jawab Siwon.

Tiffany tersenyum getir.

“Eh… ngomong-ngomong anak tadi mirip oppa yah. Mata, hidung, bibirnya” terawang Tiffany.

Plleetttaakkkk….

“Kau ini ngawur saja. Kalau orangtuanya dengar bisa-bisa ayahnya berpikir aku selingkuh dengan ibunya lagi” kekeh Siwon.

Tiffany tertawa mendengar candaan Siwon.

Donghae POV

“Tidak dia memang pasienku” jawabku.

Jiyeon tersenyum lebar.

“Aku sudah tahu kok. Ohya, mau es krim? Itu sepertinya enak” kata Jiyeon sambil menunjuk penjual es krim di seberang.

Aku mengangguk dan dia berdiri dari duduknya menuju kesana.

Ibu Mavin adalah cinta pertamaku

Akan aku katakan di waktu yang tepat

Siwon POV

“Bagaimana pengacara?” tanya Siwon.

“Dalam sebulan jika tidak ada masalah maka anda bisa langsung mengambil putra anda” jawab pengacara tersebut.

“Baiklah, saya serahkan semua pada anda”

Yoona, meski kau memilih Donghae untuk menjaganya, tapi aku tak ingin Tiffany sedih karena itu ku mohon kau mengizinkanku mendaptkannya kembali.

Letter of Angel 8 (New Life : Hope for Happiness)

Part I , Part II ,
Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII

“Jiyeon. Kau dengar tidak… Aisshhhh. Kau dengar tidak?” Donghae kesal karena Jiyeon tidak menjawab pertanyaanya.

“Park Jiyeon, waktunya menjawab 5 menit. Kalau kau diam aku pikir itu setuju. Hei… kau tahu untuk menyelamatkan nyawa seseorang dokter bedah hanya punya waktu hitungan detik. Aku hitung sekarang menit ke-5 10, 59, 58,57, 0 sudah selesai 5 menit kau setuju berarti” teriak Donghae.

Mwooo??? 5 menit apaan ini cepat sekali.

Jiyeon buru-buru membuka pintunya.

“Hei… katanya 5 menit, tapi kok cepat banget” protes Jiyeon.

“5 menit versi Donghae beda dengan 5 menit versi dunia internasional. Hehehe” jawab Donghae cekikikan.

“Ohya, jadi kau bersedia menikah denganku kan?” tanya Donghae lagi.

“Ehm… ehm… ehm…” Jiyeon bingung harus menjawab apa. Mukanya sudah bersemu merah dan menunduk dalam.

“Iya, dia bersedia” jawab Jungmin yang sudah naik ke lantai dua bersama Donghwan.

“Sudah beres sekarang tinggal siapkan pernikahannya” jawab Donghwan senang.

“Hei… tunggu kalian ini jangan bikin keputusan seenaknya” sergah Donghae.

“Kau mau aku pukul lagi ya Lee Donghae? Kata ibumu kau akan bertanggungjawab. Jangan protes atau pukulanku mendarat di mukamu” kata Jungmin sambil membulatkan tinjunya.

“Ya!!! Kau itu apa-apaan oppa. Awas saja kau memukulnya lagi” bentak Jiyeon.

Jungmin dan Donghwan hanya terkekeh meningalkan mereka berdua.

“Owh… jadi kau mengkhawatirkanku yah?” tanya Donghae.

Jiyeon tertunduk malu.

“Aku tahu kok kau tak mau melihat sedikitpun luka di wajahku yang tampan” kekeh Donghae.

Jiyeon membulatkan matanya. Dia tak percaya dengan kenarsisan pria di hadapannya.

Ini benar Lee Donghae atau alien. Apa dia kerasukan setan?

Jiyeon menyentuh kening Donghae.

“Hei… kenapa kau menyentuh keningku?” teriak Donghae risih.

“Oh… ternyata tak panas” balas Jiyeon asal dan berniat kembali ke kamarnya.

Donghae menarik tangan Jiyeon.

“Gamsahamnida” ucap Donghae tulus.

Jiyeon membalasnya dengan senyuman.

Gamsahamnida, telah memilihku Donghae-shi.
——————————————————————————————————————————————————————————————
Donghae POV

“Ya!!!!! Kim Jaejoong, Lee Hyukjae, Lee Donghwan, Park Jungmin kenapa kalian berempat mengikutiku segala sih” kata Donghae yang tidak nyaman dengan keempat pria yang mengikutinya mencoba jas.

“Memastikan jas yang kau pakai cocok” kata Eunhyuk

“Memastikan calon adik iparku tidak memalukan keluarga Park”

“Yuri yang menyuruhku TOT” jawab Jaejoong

“Baik-baik aku terima alasan kalian bertiga, tapi kau Donghwan. Kenapa ikut mencoba jas? Kau ingin menikah juga yah” tanya Donghae.

Ketiga makhluk lainnya menunggu jawaban Donghwan dengan tak sabar. Mereka memang merasa aneh kenapa Donghwan juga ikut mencoba jas bersama Donghae.

“Memang aku pesan jas disini untuk acara pertemuan dokter minggu depan”

Gubrag…. Kecewa berat mereka mendengar jawaban Donghwan.

“Yah! Aku pikir aku bisa dapat makanan gratis di pernikahan dua bersaudara Lee dalam waktu dekat kan lumayan hemat”

Prrraaakkkk

Donghae melempar gantungan jas ke arah kepala Eunhyuk.

“Ampun… Kau ini masih saja pelit dalam segala hal maunya gratis mulu” kata Donghae.

Jaejoong, Jungmin, dan Donghwan hanya terkekeh melihat mereka berdua.

“Mempelai perempuan siap” kata Yuri dari ruangan ganti sebelah.

“Oppa, bawa Donghae kemari” kata Yuri yang melongokkan kepalanya ke tempat Donghae mengepas jas.

Jiyeon dan Donghae dihadapkan pada cermin besar yang menampakkan bayangan mereka.

“Wowh… Kalian sangat serasi tampan dan cantik” komentar Yuri.

Donghae dan Jiyeon hanya tersipu malu.

“Tidak cocok” komentar Haejoong yang ikut bersama mereka.

Mereka semua kaget mendengar komentar Haejoong.

“Maksudmu Donghae kurang tinggi yah” komentar Eunhyuk yang mendapat hadiah tatapan tajam Donghae.

Peace… peace… Eunhyuk langsung nyengir tidak jelas.

“Memangnya kenapa Haejoong?” tanya Yuri sabar.

Haejoong berjalan ke arah Donghae dan Jiyeon. Dia mendorong Donghae supaya lebih dekat dengan Jiyeon dan meraih tangan Jiyeon agar memegang tangan Donghae.

“Begini baru cocok. Iya kan appa?” tanya Haejoong dengan senyum lebarnya.

Jaejoong mengangkat putranya tersebut.

“Ya, itu baru cocok” Mereka berdua mengacungkan jempol.

Membuat Donghae dan Jiyeon bersemu merah seperti kepiting rebus.

“Hahaha… Mereka berdua malu wajahnya merah seperti kepiting rebus” kata Donghwan.

“Appa, kepiting rebus? Lapar aku ingin kepiting rebus” kata Haejoong.

Hahaha… Mereka semua tertawa mendengar komentar terakhir Haejoong.
—————————————————————————————————————————————————————————————–
Suasana pernikahan mereka sangat sakral. Dilakukan di daerah pinggiran Seoul agar tidak ada yang tahu pernikahan mereka. Pertimbangannya adalah status Jiyeon dan Donghae yang notabene dosen dan mahasiswa.

“Ya, saya bersedia” jawab Jiyeon.

“Mempelai pria silahkan mencium mempelai wanita”

Donghae membuka penutup wajah Jiyeon.

Dia tersenyum melihat Jiyeon yang takut-takut ketika wajahnya mendekat. Jiyeon menutup matanya rapat.

Ekspresi mukamu lucu sekali hehehe…… Jadi tidak tega

Chuuu…

Donghae mencium kening Jiyeon. Jiyeon membuka matanya dan Donghae tersenyum lebar padanya.

“Jangan khawatir. Ciuman di bibir boleh kau simpan untuk pria yang kau cintai” bisik Donghae pelan.

Kau lah yang aku cintai. Andai saja kau tahu

“Ayo, hadap kemari” teriak Jaejoong yang mengatur self timmer kamera.

Donghae, Jiyeon dan tak ketinggalan Mavin tersenyum ceria.

“Bagus. Keluarga bahagia” kata Jaejoong sambil merangkul Yuri dan menggandeng Haejoong.

Acara pesta pernikahan mereka berlangsung meriah meski hanya keluarga dekat yang datang.
Donghwan dan Jungmin dengan sigap mengcover semua pertanyaan seputar Mavin dan pernikahan dadakan ini. Mereka berusaha keras agar semua tidak curiga dan terutama Nyonya Lee, ibu Donghwan dan Donghae tidak keceplosan dan membuat masalah bertambah besar dengan kesalahpahamannya.

“Kenapa Donghae dan Jiyeon membawa bayi. Apakah itu putra mereka? Bagaimana sih ini kok bisa seperti ini?” bisik ahjumma dari pihak Donghae.

“Itu karena…” Donghwan langsung menyela.

“Ibu ada tamu yang mencari ibu. Teman ayah dulu” kata Donghwan berbohong.

“Permisi dulu” kata nyonya Lee.

“Oh… Mavin itu jangan bilang siapa-siapa yah ahjumma. Anak dari pasien yang meninggal karena kecelakaan. Mereka merawatnya, saya harap ahjumma tak cerita pada siapapun. Kasihan Mavin jika nanti dia tahu kenyataan tragis ini” kata Donghwan dengan muka sangat sedih dan seolah menahan kesedihan teramat sangat.

“Begitu yah. Jangan khawatir kalau begitu. Ahjumma akan membantu menutup mulut seluruh keluarga dan jika mereka berani komentar aneh tanpa tahu fakta. Ahjumma akan maju dan membuat perhitungan”

Berhasil…. Asal ahjumma tertua sudah masuk dalam arus putaran permainan ini semua tercover. Kau memang jenius Donghwan.
Dan benar jika ada yang mulai tanya macam-macam. Tatapan ahjumma sudah cukup membuat mereka tutup mulut dan mengurungkan niatnya.

“Kau bilang apa pada ahjumma tertua sehingga semua tak menggunjing lagi?” bisik Donghae.

“Kau tak perlu tahu hanya akui saja kejeniusan kakakmu ini” kata Donghwan menepuk dadanya bangga.

Donghae hanya menghela nafas panjang.

Sumpah…. Kenarsisan ini bakat turunan dari siapa

“Chukae, Sonsaengnim” Donghwan pamit permisi ketika Taemin datang.

“Gamsahamnida, Taemin” kata Donghae.

“Sampaikan selamatku pada Jiyeon yah sonsaengnim” kata Taemin.

Kau kekasih Jiyeon yah? Mianhae. Aku akan menjaganya dengan baik.

“Jiyeon, tadi ada temanmu yang memberi ucapan selamat” kata Donghae pada Jiyeon setelah Jiyeon kembali padanya.

“Siapa?” tanya Jiyeon.

“Lee Taemin. Dia sepertinya di taman luar. Temui dia sebentar” perintahku dan mengambil Mavin dari gendongannya.

“Ne….” balasnya ceria.

“Taemin-ah. Gamsahamnida sudah datang” kata Jiyeon.

“Ne, ohya mianhae tak bisa lama. Aku harus segera menyelesaikan tugas kita yang menumpuk. Kau sih enak ada dokter Lee yang membantumu. Aku?” kta Taemin sambil berusaha memaksakan senyumnya.

Jiyeon sedikit kecewa, tapi dia mengerti.

Sebelum pergi Taemin mengucapkan suatu hal.

Jiyeon pindah ke rumah Donghae dan mereka sepakat menempati kamar terpisah.

Saat Jiyeon sedang menyuapi Mavin, Donghae memperhatikannya dengan diam-diam.

Meski dia bukan putramu. Gamsahamnida, kau menyayanginya.

“Donghae-shi kenapa mematung disitu? Kemarilah ^^” kata Jiyeon sambil menggerakan tangan Mavin seolah melambai memanggil Donghae.

“Sudah aku bilang panggil aku oppa kan?” kata Donghae yang sudah berdiri di depan Jiyeon.

“Eh.. i..iya” jawab Jiyeon tergagap.

Donghae mengacak rambut Jiyeon dan mengelus lembut kepala Mavin yang baru ditumbuhi sedikit rambut.

“Hallo, anak appa. Sudah kenyang? Eumma kasih kamu apa hari ini?” tanya Donghae.

Appa… Eumma… Apakah ini benar-benar nyata?

Jiyeon gantian mematung dan membisu. Dia terhipnotis kata-kata Donghae.

Jiyeon sangat senang dan hatinya ingin menangis bahagia.

“Hei… Jiyeon. Kau kenapa?” tanya Donghae cemas.

“Nde…” Jiyeon langsung tersadar dari lamunannya.

Donghae mengambil Mavin dari gendongan Jiyeon dan menimangnya.

“Jadi anak yang baik. Jangan nakal yah. Jangan merepotkan eumma okay ^^”

Mavin tersenyum seperti mengerti maksud Donghae.

Jiyeon dan Donghae bermain bersama Mavin seharian.

Terima kasih Tuhan atas segala yang kau beri. Terima kasih atas suami dan anak yang kau berikan padaku. Semoga kami bisa melewati saat bahagia selamanya.

Semoga Donghae-oppa bisa mencintaiku. Amin….

Siwon POV

“Oppa, kau sakit?” tanya Tiffany yang beringsut duduk di sebelah Siwon yang termenung di pinggir tempat tidur.

Siwon tak bergeming dan larut dalam pikirannya sendiri.

Tiffany menyandarkan kepalanya di bahu Siwon.

Siwon tersadar dan memandang Tiffany yang bersandar padanya.

“Oppa, apa yang kau lakukan? Oppa jangan seperti ini” kata Tiffany saat Siwon sudah berlutut di hadapannya.

“Maafkan aku Fany. Mianhae. Aku bukanlah suami yang baik untukmu. Mianhae” tunduk Siwon dalam.

Tiffany menyentuh wajah Siwon lembut dan mengarahkan pandangan mata kepadanya. Tiffany tersenyum lembut dan mengedip tanda dia memahami semuanya.

“Oppa, aku tak peduli masa lalumu. Aku tahu kau pria baik, aku tak peduli yang dikatakan orang tadi padamu. Kita akan mulai semua dari awal, tapi ku mohon ceritakan semua padaku ya” kata Tiffany lembut.

Siwon tersenyum dan menggandeng Tiffany keluar kamar.

Siwon membawa Tiffany ke sungai Han dan menceritakan semuanya.

“Kemarin aku menerima kabar Yoona terlibat dalam kecelakaan tragis di jalan raya Seoul beberapa bulan yang lalu. Aku sudah melakukan pengecekan dan dia meninggal” kata Siwon dan menarik nafas dalam.

Pandangannya menerawang lagit biru yang tak mendung seperti hatinya.

“Lalu anaknya?” tanya Tiffany.

“Aku belum tahu. Terakhir yang aku dengar ada seorang dokter yang mengambilnya” jawab Siwon.

Kesunyian menyelimuti mereka. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Yoona… Bagaimana caraku menebus dosa padamu?

Tiffany menggeser duduknya dan duduk di depan Siwon. Dia menggenggam tangan Siwon.

“Kita cari anak kita. Kita akan membesarkannya, kau appanya dan aku eummanya” kata Tiffany.

Siwon terperangah mendengar perkataan Tiffany.

“Kau tidak bercanda kan?” tanya Siwon.

“Aku ingin memeluk anakku secepatnya” jawab Tiffany.

“Tapi….”

Cuup….

Tiffany mengecup bibir Siwon lembut dan singkat.

“Kau tak perlu ragu. Kita akan melakukannya bersama. Anakmu berarti anakku dan aku jamin aku akan memperlakukannya seperti anakku dan janji tak akan membedakannya dengan yang lain seumpama kita punya anak lagi hehehe “ kekeh Tiffany.

“Gamsahamnida” ucap Siwon dan memeluk Tiffany.

Mereka lama berpelukan hingga Tiffany mendorng Siwon. Siwon bingung dengan perlakuan Tiffany.

“Ayo, saatnya mencari anak kita. Kalau disini terus kapan ketemunya” kata Tiffany seraya mengulurkan tangannya pada Siwon.
Siwon menerima uluran tangan Tiffany dan berdiri.

“Kita sewa detektif untuk mencarinya dan aku akan mengirim sekretaris pribadi keluargaku untuk membantu mencari informasi” kata Tiffany.

Siwon mengangguk.

“Ohya, berarti dimulai dari informasi mencari dokter itu kan? Let’s go” ucap Tiffany riang.

“Fany-ya. Gamsahamnida” Siwon mengacak rambut Tiffany kasar.

“Ya!!! Choi Siwon kau merusak tatanan rambutku” ujar Tiffany sambil merapikan rambutnya.

“Nae-nampyeon perhatikan jalan. Kalau terjadi sesuatu pada kita kapan ketemunya anak kita?”

Siwon mengalihkan pandangannya ke arah jalan.

Appa pasti segera menemukanmu. Kau tak akan kekurangan kasih saying. Appa dan Tiffany eumma akan menjaga dan melindungimu.
Tuhan bantu kami menemukan anakku. Yoona, kau dengar Tiffany akan menjadi eumma baginya. Semoga kau tenang disana. Yoona, aku akan menjaga anak kita dan juga Tiffany. Aku pernah kehilangan kau dan tak akan ku biarkan harus kehilangan orang yang aku cintai lagi.

Yoona, terima kasih kau memberikan Siwon padaku. Mianhae aku tak tahu kisah kalian dari dulu. Aku janji akan menjaga Siwon dan anak kalian. Jangan khawatir aku akan menganggapnya sebagai darah dagingku sendiri ^^

Letter of Angel 7 (Would You Marry Me?/???)

Part I , Part II ,
Part III,Part IV, Part V, Part VI

Donghae POV

Kondisi Mavin semakin membaik. Meskipun, demikian dia masih harus dirawat di rumah sakit.

Lelah… hanya itu kata yang aku tahu sekarang. Aku tak menghubungi Jiyeon, dia harus keluar dari semua masalahku. Tak seharusnya dia terlibat.

Oppa, bagaimana keadaanmu dan Mavin? Kenapa tak menghubungiku.

Jaejoong POV

“Yuri, kita telah salah paham pada hubungan Donghae dan Jiyeon” kata Jaejoong saat sarapan. Yuri yang sedang menyisir rambut Haejoong berhenti dari kegiatannya.

“Maksud oppa kalau mereka kekasih? Aku kan memang ingin menjodohkan mereka” jelas Yuri.

“Haejoong, ke kamar dulu ya eumma dan appa mau bicara” kata Jaejoong dan menggendong putranya ke kamarnya, dia lalu turun menemui Yuri lagi.

“Masalah berkembang, ibu Donghae mengira Mavin adalah anak Donghae dan Jiyeon setelah memergoki mereka mengurus Mavin. Kakak Jiyeon menghajar Donghae karena salah paham atas perkataan ibu Donghae yang mengatakan kalau Donghae akan bertanggungjawab atas perbuatannya pada Jiyeon. “ desah Jaejoong.

Yuri yang merasa bersalah menundukkan kepalanya. Jaejoong berdiri dari kursi dan mendekati Yuri. Yuri menatap Jaejoong seolah berkata kita harus bagaimana.

“Maaf oppa ini salahku.”

“Sudah, tidak apa-apa. Kita akan menghubungi Eunhyuk dan Donghae untuk mendiskusikan langkah selanjutnya. Jangan kita yang langsung bertindak tanpa persetujuan Donghae agar masalah tak bertambah besar” ujar Jaejoong sambil menepuk bahu Yuri. Yuri tersenyum dan memeluk Jaejoong.

“Hai, soudesu. Arigatou gozaimasu Kim Jaejoong. Aishiteruyo” (Ya. Terimakasih Kim Jaejoong. Love You)

“Mo aishiteruyo Kim Yuri” (Love you too, Kim Yuri)

“Ehm…ehm…. Dame. Chichi to haha…ckckckck… Ima wa asha desu.” (Tidak boleh. Appa, eumma……ckckckck…… sekarang pagi).

Jaejoong dan Yuri yang gemas melihat Haejoong tiba-tiba sudah turun dari kamarnya langsung mendekati Haejoong dan mencubit pipinya.

“Nani Haejoong?” (Apa Haejoong?) tanya Jaejoong mencubit pipi putranya.

“Mau dipeluk juga?” goda Yuri.

“Peko-peko kudasai” (aku lapar)kata Haejoong kesal.

Hahaha….. Yuri dan Jaejoong tertawa mendengar jawaban putranya.

Donghwan POV

“Dokter Park nanti malam bisakah gantikan tugasku memantau pasien? Aku ada urusan penting. Jika bisa semua laporan kesehatan pasienku yang kemarin akan saya serahkan pada anda’ pintaku pada Jungsoo-hyung.

“Ne, serahkan saja padaku Donghwan” jawabnya.

“Gomawo, hyung”

Jungmin, sudah bicara dengan orangtuamu? Jam berapa aku bisa bertemu dengan kalian?

Iya. Jam 7 malam bagaimana hyung? Ayah sangat senang mendengar hyung akan kemari ^^, tapi sebenarnya ada urusan penting apa? Kenapa sampai membawa nama keluarga Lee dan keluarga Park?
Nanti malam kau akan tahu.

Aku menelpon eumma dan Donghae. Kebetulan nanti malam jadwal Donghae kosong.

Baguslah, semua bisa berjalan lancar jika begini.

“Yoboseyo, eumma. Hari ini eumma pulang ke rumah saja ya biar diantar Hae. Eumma perlu istirahat. Jangan membantahku soal urusan ini jika tidak aku tak akan membantu Hae dan Jiyeon” ancamku.

Eumma langsung menurut. Dia pasti tak akan peduli dengan perintahku jika ini menyangkut kesehatannya. Eumma lebih peduli pada Hae dan Jiyeon serta Mavin. Jadi, menggunakan mereka sebagai alasan sangat logis untuk menekan eumma.

Dokter Kim tolong pantau keadaan Mavin. Hae sedang kosong hari ini, tapi aku memerlukannya.

Pesanku pada dokter Kim Jaejoong

Ne, akan aku pantau perkembangan Mavin. Hae perlu sedikit refreshing
Sekarang saatnya aku menuntaskan masalah ini.

Jam 7 tepat aku telah berada di rumah Jungmin. Appa dan eummanya sangat senang melihatku, Jiyeon juga menyambutku dengan ramah.

“Hyung, senang kau bertamu ke rumah kami. Ini pertama kalinya kan? Ohya, masih ingat Jiyeon?” tanya Jungmin. Aku mengangguk dan tersenyum.

Mereka mengajakku makan malam. Aku menunggu saat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Setelah makan malam kami berkumpul di ruang tengah.

Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah atau entahlah jikapun harus menambah masalah

“Ada masalah penting yang membawa saya kemari” kataku. Mereka berempat menatapku.

“Ini mengenai keluarga Lee dan keluarga Park” lanjutku.

Aku mendesah panjang dan mulai berbicara lagi.

“Ahjumma, ahjushi, Jungmin, Jiyeon. Aku tahu kalian sedang menghadapi masalah. Jungmin menceritakan semuanya padaku mengenai Jiyeon”

Jiyeon menunduk.

“Hyung, maaf aku rasa aku belum menjelaskan kalau masalah kemarin salah paham. Eumma dan appa telah menjelaskannya padaku jadi masalah itu bisa dianggap selesai” kata Jungmin.

“Jika masalah itu yang membawa nak Donghwan kemari. Kami rasa itu tak perlu dibicarakan” kata appa Jungmin.

“Paman, aku ingin meminta Jiyeon menjadi menantu keluarga Lee” kataku langsung.

Mata Jiyeon terbelalak. Eumma dan appanya juga kaget, begitu juga dengan Jungmin.

“Maksud hyung menikah dengan hyung?” tanya Jungmin.

Eumma dan appa Jiyeon saling berpandangan.

“Kalau itu aku setuju saja. Lagipula, aku akan sangat senang menyerahkan Jiyeon pada hyung karena pasti hyung bisa menjaganya dengan baik.” kata Jungmin.

Jiyeon yang semula terdiam, angkat bicara.

“Maaf, Donghwan-shi aku tak bisa. Mianhae….” kata Jiyeon dan pergi meninggalkan kami.

“Jiyeon….” Jungmin hendak menarik Jiyeon agar duduk kembali, tapi aku menahannya.

Jiyeon POV

“Donghwan-shi aku tak bisa. Mianhae….” kataku dan pergi meninggalkan mereka.

“Jiyeon….” Oppa memanggilku, tapi aku tak peduli.

Aku kembali ke kamar dan mulai menangis.

Kenapa bukan Donghae-oppa yang melamarku, kenapa justru orang lain yang baru ku kenal. Kenapa tidak kau saja Donghae-oppa?

Donghae POV

Hae, ke rumah Jiyeon sekarang juga.

Ada apa Donhwan menyuruhku ke rumah Jiyeon ya?

Segera setelah mengantarkan eumma, aku menuju rumah Jiyeon.

Tunggu itu kan mobil Donhwan. Kenapa dia kemari?

Aku memencet bel rumah Jiyeon. Pelayannya yang membukakan, dia mempersilahkanku ke ruang tengah. Dimana disana eumma, appa, Jungmin dan Donhwan sedang bicara dengan serius.

Donhwan POV

“Tunggu Jungmin” kataku pada Jungmin yang hendak menyuruh Jiyeon duduk bersama kami lagi.

Jungmin menurut. Setelah, Jiyeon pergi aku mengatakan tujuanku sebenarnya.

“Ahjumma, ahjushi, Jungmin. Aku melamar Jiyeon bukan untukku, tapi untuk keluarga Lee yang lain yakni adikku” kataku.
Jungmin kaget.

Bisa aku lihat ekspresi mukanya, sulit untuk digambarkan.

“Maksud hyung? Bukan hyung yang ingin menikah dengan Jiyeon” tanya Jungmin.

Aku mengangguk mantap.

“Maaf, nak Donhwan. Sejujurnya ahjushi bingung dengan lamaran mendadak nak Donhwan, tapi sekarang ahjushi lebih bingung ketika nak Donhwan mengatakan kalau tujuan kemari melamar Jiyeon untuk adik nak Donhwan. Bagaimana bisa kami menyerahkan putrid kami pada orang yang tak kami tahu” kata appa Jiyeon.

“Saya tak bisa menjamin kalau keluarga Park akan setuju dengan lamaran ini, tapi saya mohon tanyakan dulu pada Jiyeon. Ini menyangkut hidup dan kebahagiaannya” kataku.

Mereka bertiga tambah bingung.

Donghae lama sekali sih kau.

“Permisi” aku menoleh dan ternyata Donghae sudah datang.

Donghae POV

“Permisi” kataku.

Jungmin terperanjat melihatku, begitu juga dengan orangtua Jiyeon.

Donhwan tersenyum ketika melihatku. Dia berdiri dan menghampiriku.

“Inilah keluarga Lee yang saya maksud” katanya sambil tersenyum ke arah mereka bertiga.

Aku memandang Donhwan dengan ekspresi tanda tanya.

“Silahkan duduk, nak Donghae. Kita bicarakan semua sekarang” kata eumma Jiyeon mempersilakan. Aku duduk di samping Donhwan berhadapan dengan Jungmin.

Muka Jungmin masih sedikit kesal.

“Jadi, nak Donghae yang ingin meminang Jiyeon?” tanya appa Jiyeon.

Aku tersedak dan menatap Donhwan minta penjelasan. Donhwan hanya tersenyum innocent.

Lee Donhwan ini yang kau sebut membantu menyelesaikan masalah? Ini justru menambah masalah.

Donhwan menyodokku.

Baiklah kau yang membuat semua tambah parah. Mau apa lagi?

“Kami menyerahkan semuanya pada Jiyeon” kata appa Jiyeon lagi.

Aku permisi sebentar dan mengajak Donhwan bicara.

“Apa maksudmu meminang Jiyeon untukku?” tanyaku marah.

“Menyelamatkanmu, Jiyeon, dan eumma” desah Donhwan.

“Eumma? Ini apalagi Donhwan? Kau membuatku bingung. Katakana pa yang terjadi pada eumma” paksaku.

“Hae, kondisi jantung eumma memburuk. Jungsoo-hyung bilang kita harus menjaga emosi eumma tetap stabil. Kau pikir jika aku menjelaskan semua apa itu yang terbaik?”

“Tapi melamar Jiyeon, bisakah disebut terbaik?” tanyaku.

“Untuk sekarang iya. Pikirkan dirimu, Jiyeon, Mavin. Kau tak perlu memikirkan eumma jika memang menurutmu menikahi Jiyeon adalah kesalahan atau kau masih mencintai Yoona?” tanya Donhwan dan kembali menemui keluarga Jiyeon.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Yoona, andai saja kau disini. Semua tak akan sesulit ini. Yoona, apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku.

“Ini tak ada hubungannya dengan perasaanku pada Yoona. Itu sudah kukubur sejak lama” tandasku.

“Jadi tak masalah, kau tak mencintai Yoona. Menikah saja dengan Jiyeon” kata Donhwan datar.

“Kau ingin aku mengorbankan Jiyeon? Menikah dengan pria yang tak dicintainya? Apa kau sudah gila Donhwan?” tanyaku dengan nada sedikit tinggi.

“Kenapa tak kau tanyakan sendiri pada Jiyeon. Dia mau menikah denganmu atau tidak. Satu hal yang perlu kau camkan Donghea, Mavin butuh figur seorang ibu. Anggap saja kau berbuat baik pada semua orang termasuk dirimu sendiri” kata Donhwan mantap.

Jungmin POV

Sejujurnya, aku lebih menyukai Donhwan dibanding Donghae. Namun, sekarang yang dicintai Jiyeon adalah Donghae bukan Donhwan. Aku tak bisa mengorbankan kebahagiaan Jiyeon demi keinginanku. Meski tak yakin lebih baik semua keputusan aku serahkan pada Jiyeon.

Ketika Donhwan dan Donghae sudah kembali berkumpul dengan kami. Appa sudah mengambil keputusan. Ternyata appa juga mengambil kesimpulan yang sama denganku.

“Nak Donhwan dab Donghae. Mengenai pinangan ini semua kami serahkan pada Jiyeon” kata appa.

“Aku akan menyuruhnya turun” kataku.

Saat tiba di kamar Jiyeon. Keadaan kamarnya tertutup.

Jiyeon POV

Cukup lama aku menangis. Beberapa saat kemudian pintu kamarku diketuk.

“Jiyeon, kami ingin bicara” suara Jungmin-oppa.

Lama dia mengetuk pintu.

Tak akan kubukakan….. Aku tak mau menikah dengan Donhwan-shi. Tidak mau

“Jiyeon, buka sekarang atau kudobrak”

“Aku tak mau buka. Kau mau apa terserah…. Aku… hix…tak mau… menikah dengan Donhwan-shi. Tak mau” kataku sambil menangis. Ku benamkan wajahku memeluk lutut.

Kenapa Jungmin-oppa selalu memaksakan kehendaknya? Kenapa dia tak mengerti kalau aku mencintai……….

Aku mencintai Donghae-oppa.

“Jiyeon, tak kau bukakan kujamin menyesal seumur hidup. Terserah saja ini hidupmu bukan hidupku” ancam Jungmin.

“Aku tak peduli. Memangnya siapa kau bisa mengancamku” jawabku.

Jungmin tak membalas perkataanku.

“Jiyeon, ini aku Donghae”

Deg….. Donghae

“Kau tak perlu membuka pintunya. Cukup dengarkan perkataanku saja.” kata Donghae.

Aku berjalan ke dekat pintu dan duduk bersandar pada pintu.

“Maaf sudah melibatkanmu sejauh ini. Jiyeon mungkin kami terlalu egois, tapi aku mohon maafkan kami dan terutama keluarga Lee. Donhwan kemari meminangmu untukku, adiknya. Aku tak bisa menjelaskan alasannya sekarang. Kau berhak menolak lamaran ini, tidak mungkin menjalani sebuah pernikahan dengan pria yang tak kau cintai. Kau tak perlu menerima pernikahan ini hanya dengan pertimbangan menyayangi Mavin, tapi sebelum kau memutuskannya…………….”

Donghae tiba-tiba terdiam, suasana hening sejenak.

“Would You Marry Me?”

%d bloggers like this: