Category Archives: Action

UNUSUAL WAY part 2 [Freelance]

Title    :  Unusual Way (Part 2)

Genre    :  Romance, a little action and tragedy

Rate    : PG 15 (Just because of the scurrility, so then)

Tags    : Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Kim Kibum

Author    : Kafkanisa Octaryoto (Hong Yoo Ra)

“Hipnotis?  Tidak, bukan. Bukan sekedar hal itu hyung. Mana mungkin ia melakukan hipnotis padaku hanya dengan tersenyum? Aku gila hanya karena gadis itu tersenyum,hyung. Wajahnya, aku terlalu terbiasa melihat wajahnya, seperti oksigen untukku”

Author P.O.V

Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang cukup besar, lalu seorang gadis yang mengenakan skinny jeans dan sweater longgar berwarna peach itu keluar, dan membungkukkan badan pada sang pengemudi. Gadis itu berbalik dan memegang dadanya. Jantungnya masih berdetak dengan cepat, padahal si pencuri hati itu sudah meluncur pergi entah kemana.

Jung Nara P.O.V

Aku memandang rumah dihadapanku, menghela nafas berat dan bergumam “baiklah, terima nasibmu, Jung Nara”

Perlahan aku masuk ke rumah. Membuka kenop pintu, lalu mengintip keadaan didalamnya.

“Masuklah”

Suara bass itu terdengar dari balik sofa, sedang memegang remote TV dan mengalih-alihkan channelnya sembarang.Kututup pintu lalu berjalan pelan kearah tangga.

“apakah aku tidak pernah mengajarkanmu sopan santun ?!” ia sedikit berteriak, aku kembali turun dan menghadapinya. Ia lalu berdiri dan berjalan kearahku.

“apakah aku juga lupa untuk mengajarimu bertatak rama yang baik? Nara-ya ! KAU TAHU INI JAM BERAPA?”

aku hanya bisa menunduk, meremas tali tas selempangku, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitku. Sudah lama sekali ia tidak marah besar seperti ini. Terakhir kali, ia marah karena nilai ulanganku jelek, dan kau tahu? ia mendekapku di gudang dengan setumpuk buku untuk dipelajari selama sehari semalam. Mengingatnya saja sudah bisa dibayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya padaku.

“kau sedang berbicara padaku, Jung Nara, tatap mataku!” kali ini lebih pelan, tapi aura membunuh dari kalimat ini tetap saja membuatku lemas seketika. Tak kunjung menatapnya, iapun mengangkat daguku dan..

“PLAKKK !!!”

baiklah, ini sudah seharusnya, Nara-ya. Perih sekali. Bukan hanya pipiku, tapi hatiku. Bagaimana bisa orang yang dilahirkan dari rahim yang sama denganku, melakukan ini?

“sudah selesai, oppa?” aku menjawabnya dengan nada dingin, air mataku terus mengalir, membuat perih pipiku yang baru saja ditampar. Tersenyum miris, aku menatapnya yang sedang mendengus, lalu pergi ke kamarku, dan menangis sejadi-jadinya disana.

***

Cho Kyuhyun P.O.V

Kuraih gelas berisi wine itu, lalu meneguknya sampai aku melirik meja disampingku, terlihat amplop berwarna coklat yang akan menjadi santapanku untuk 2 bulan kedepan. Kuambil, lalu ku amati setiap kata yang tertulis dilembar kertas pertama.

“Jung Yunho, polisi divisi penyelidikan, Seoul.” kubuka lembar berikutnya, dan ..

“Jung Nara?!”

aku terhenyak, meneguk wine yang tersisa, lalu menelaah setiap informasi didalam kertas itu.

“Bagaimana bisa? tsk.. dunia tidak seluas yang kubayangkan” aku menyunggingkan smirk-ku, lalu segera merogoh HP dari saku jas dan menekan sebuah dial nomor.

“yoboseyo? hmm. aku, Cho Kyuhyun. Tidak, sepertinya, bukan itu rencanaku..”

Author P.O.V

Nara memasuki gerbang sekolah, beberapa murid di sekolah meliriknya. Ya, ia maklumi, karena sekarang ia menggunakan sebuah plester kecil tepat di tulang pipinya, akibat tamparan tadi malam, pipinya terluka karena cincin yang dikenakan oppanya sedikit menggores kulitnya. Belum lagi matanya yang bengkak akibat menangis semalam suntuk.

“Nara-yaa!” nara melirik kearah suara, Soo Jung sudah melompat-lompat dan melambaikan tangannya ke arah Nara.

Soo Jung berlari menghampirinya, lalu panik saat melihat keadaan temannya itu. “Ya ! ini.. kau kenapa?” Soo Jung menunjuk plester di wajah Nara.

“Nara, oppa-mu lagi?” Nara melirik kearah suara bass itu, ia mendapati Kibum sedang mendekat kearahnya dan Soo Jung. Nara menghela nafas, lalu tesenyum kecil. “Sudahlah, kalian seperti tidak tahu oppa-ku saja. Kaja ! aku sudah tidak ikut pelajaran Park Saem kemarin. Aku tak mau dikeluarkan lagi hari ini”

Continue reading

Letter of Angel XXIV “INSANE”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI, Part XXII, Part XXIII

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

Korea…. I back…..

Langit Seoul hari ini sangat cerah. Sinar matahari yang hangat, menghangatkan dinginnya pagi.

“Tuan Kim, selamat datang kembali di Korea” ujar sekretarisku. Sekretaris aku tak pernah berpikir untuk memiliki tangan kanan yang akan menyelesaikan semua urusan yang tak sempat aku urus sendiri. Dokter Kim Jaejoong hidupmu sudah berubah. Bukan lagi dokter Kim yang selalu mengurusi rumah sakit dan keluarganya saja, Yuri Haejoong sebenarnya kemana takdir akan membawaku?

“Tuan Kim” Sekretarisku menyadarkanku dari lamunan.

“Nyonya Kim menelpon. Dia ingin memastikan anda sudah sampai dengan selamat” Segera kurogoh ponsel dan memakai headset. Suzzy pasti khawatir. Aku sudah janji untuk menghubunginya segera setelah sampai di Seoul.

“Yeoboseyo” ujarku.

“Yeoboseyo, oppa” Aku bisa merasa kelegaan dari suaranya.

“Mianhae, baru bisa menghubungi sekarang”

“Gwaenchana. Asal kau baik-baik saja. Oppa, semua baik saja kan?” tanyanya.

“Maaf Tuan mengganggu. Doojoon menunggu anda di mansion. Ini laporan penyidikan yang anda minta. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan jas anda untuk pemakaman Tuan Shim. Kita akan sampai di mansion kurang dari 15menit lagi. Buket bela sungkawa sudah dikirim. Kikwang dan Junhyung sudah mengirim orang-orang terbaik untuk pengamanan dan pengawasan keluarga dan sahabat anda.”
Jaejoong mengambil nafas panjang.

“Kematian Changmin apa sudah ada titik terang? Bagaimana laporan hasil penyelidikan dan olah TKP?” Sebagai seorang dokter yang juga pernah mengalami rotasi dokter muda di berbagai bagian termasuk bagian forensik sebelum memutuskan menjadi dokter bedah jantung, Jaejoong cukup mengetahui hal-hal semacam ini.

“Sementara ini polisi masih menganggap ini kasus pencurian biasa terkait hilangnya beberapa barang berharga serta mobil di kediaman Kyuhyun, tetapi kemungkinan besar ini adalah alibi”
Jaejoong terdiam sejenak dan berpikir.

“Saat kejadian siapa saja yang berada di sana?”

“Adik Cho Kyuhyun, Lee Jieun. Tidak lama kemudian Goo Hara tiba di TKP dan langsung memanggil ambulance dan polisi”

“Jieun? Jangan katakan kalau…..” Tenggorokan Jaejoong tercekat. The worst thing is standing beside someone that you love in lifeless stage, but the worse than that is realized your soul die in your arms.

“Oppa” Suara Suzzy membawa Jaejoong kembali ke dunia nyata.

“Are you okay?”

“Yes” jawab Jaejoong pendek.

Suzzy menarik nafas panjang.

“I’m your wife even we didn’t know each other so long. I know you’re not okay. Never say you’re happy when you’re sad, never say you’re fine when you’re not okay, never say you feel good when you feel bad. There are times you are afraid, times you are confused and times you feel uneasy. You start to cry, you feel alone, you stop to love. Oppa, you still have me. Even you didn’t want make me worry, you make me worry already. Be strong and courage as you’re, but don’t be afraid to be weak in front of me. It’s not time to act strong. We are here oppa and always be here to support you. Kris has missed you already.” Suzy memberi penekanan pada kata-kata yang menurutnya mampu membuat Jaejoong terbuka padanya.

“I miss you two” Jaejoong tersenyum kecil setelah mendengar kata-kata Suzy.

“Oppa, ….”

“I’m okay. I must stay strong, I ever through this before. Sky is falling down, froze, dark cloud commit to kill myself. I knew it better. If I didn’t have them, I wouldn’t be able met you and had chance once more to have family. Have Kris to protect and feel his slow breath in my tight embrace. I’ll be back soon. Please, take care of Kris and you too for sure. Send Kris my kiss, tell him his father really wants to see his peaceful sleeping face and his cute laugh”

“Tuan, ada telpon dari Kikwang. Nona Lee Jeun berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil yang lewat. Dia diselamatkan nona Jung Jessica yang berlari dan menariknya sebelum sempat tertabrak”

“Suzy, I’ll call you later” Jaejoong siap mengakhiri sambungan telponnya.

“Oppa, wait” Jaejoong bisa mendengar suara kecil tawa Kris.

We love you. Take care appa” teriak Suzy dan menutup telpon. Jaejoong tersenyum.
Jaejoong sampai di mansion dan terlibat pembicaraan sebentar dengan Doojoon dan segera mengganti pakaiannya dengan jas hitam.

Doojoon dan beberapa bodyguard mengikuti Jaejoong yang menggunakan mobil sendiri dan berusaha menjaga jarak agar tidak ada yang curiga.

Di pemakaman Jaejoong bertemu Donghae, Donghwa, Eunhyuk, Siwon dan masih banyak lagi. Suasana yang kembali mengingatkannya dengan suasana waktu itu. Jaejoong segera menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak membuat dirinya lemah di saat seperti ini.

“Hyung” panggil Donghae. Jaejoong mengangguk. Pemakaman Changmin diwarnai tangisan dari ayah, ibu dan saudara serta keluarga besarnya.

Setelah pemakaman mereka berkumpul di rumah Donghae dan sebagian memutuskan untuk menjenguk Jieun yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Kyuhyun tidak bisa membiarkan Jieun semakin terluka karena tinggal di rumah mereka akan mengingatkan Jieun dengan kematian Changmin.

“Bagaimana kronologinya?” ujar Jaejoong memulai pembicaraan. Tidak ada yang bicara.

“Jieun belum bisa dimintai keterangan” Junsu membuka mulut.

“Maksudmu?”

“Jieun adalah saksi kunci” Lanjut Junsu sambil menarik nafas panjang.

“Aku akan mengantar Jiyeon ke rumah sakit” kata Donghae, tetapi Donghwa menahan Donghae.

“Biar aku yang antar Jiyeon. Aku juga ingin menjenguk Jieun”

Donghwa berdiri, Donghae memberi kecupan singkat dan pelukan pada Jiyeon serta menghapus airmata Jiyeon.

Suasana kembali sunyi. Mereka semua terdiam, tidak tahu bagaimana untuk memulai pembicaraan. Terlalu banyak masalah yang terjadi dan semua terasa semakin berat sekarang.

“Donghae, lebih baik kau istirahat. Besok sidang akan dilaksanakan” nasihat Jungsoo.

“Kau pikir aku masih memikirkan sidang setelah apa yang terjadi pada Changmin. Kematian Changmin dan semua hal yang terjadi semua adalah karena aku. Andai saja bukan karena aku pasti tidak akan seperti ini. Aku yakin mereka melakukannya untuk mendapatkan Mavin. Seandainya aku melepas Mavin dari awal maka…”

Jaejoong memukul wajah Donghae dengan keras. Junsu dan Jungsoo berusaha menahan Jaejoong.

“Hyung, Junsu lepaskan aku. Anak ini perlu diberi pelajaran. Aku tahu yang aku lakukan” Junsu dan Jungsoo akhirnya mundur setelah mendengar teriakan Jaejoong yang juga memberi keyakinan pada mereka kalau Jaejoong tahu dengan benar apa yang dilakukannya.

“Kau pikir menyerahkan Mavin akan menyelesaikan masalah. Kau pikir jika sejak awal memberikan Mavin hal ini dapat dicegah? Hah??? Lee Donghae dimana otakmu? Bagaimana kau bisa menyalahkan Mavin atas segalanya” Jaejoong masih memegang kerah baju Donghae.

“Aku tak menyalahkan Mavin” teriak Donghae.

“Kau menyalahkannya. Jika tidak kau tak akan berkata demikian. Mana ada ayah yang berkata demikian? Hah???? Kau ingin berkata menyalahkan dirimu sendiri, tetapi ini sama saja kau menyesali keberadaan Mavin. Kau tahu kami semua berada disini untuk mendukungmu, kami aku, Junsu, Jungsoo hyung, Eunhyuk, Donghwa, Hara, Kyuhyun, dan Yuri, Haejoong, Changmin kami mendukungmu. Mavin adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kau jaga dan kami sudah menganggapnya sebagai bagian hidup kami. Kau pikir aku akan diam saja ketika pikiran bodohmu menguasai otakmu atau perasaanmu membutakan dirimu”

“Look who says that. Kau bahkan ingin mengakhiri hidupmu ketika Yuri noona dan Haejoong meninggalkanmu. Pernah kau memikirkan kami yang berada di sampingmu? Hah?” Jaejoong siap memukul Donghae, tetapi pukulannya jatuh di lantai beberapa inchi dari wajah Donghae.

Jaejoong berdiri dan menarik Donghae untuk berdiri dan memberinya pelukan saudara. Donghae seolah membeku, tetapi sesaat kemudian memeluk Jaejoong. Mereka diam dalam posisi itu dan Jaejoong melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku Hyung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tak tahu ini mimpi, drama atau benar hidup. Kenapa hidupkku seperti scenario drama? Drama sedih yang diatur untuk mendapatkan banyak rating dan nominasi serta penghargaan karena mampu menghadirkan alur sedih tanpa akhir? Pathetic… So pathetic”

“It’s fate not scenario. If it is scenario, God must will be the director” Jaejoong menepuk bahu Donghae.

Junsu meninggalkan mereka berdua dan segera menuju kantor kejaksaan. Laporan terkait penyidikan kasus Changmin yang dia minta langsung dari kepala penyidikan kasus telah keluar. Junsu memohon bantuannya, meski itu jelas terlarang untuk membocorkan dokumen, tetapi akhirnya dia menyerah dan memberikan Junsu informasi paling penting meski tidak semuanya dia berikan.

“Jaksa Kim ada 2 orang tamu di ruang anda. Mereka menunggu anda sejak tadi”

Junsu berpikir kalau Kepala Penyidik datang bersama staff atau polisi lain, Junsu terkejut ketika melihat Yunho di kantornya bersama kepala penyidik.

“Jaksa Junsu ada yang ingin saya bicarakan sebentar” Kepala penyidik keluar untuk memberikan mereka privacy.

“Saya mengajukan ke pengadilan untuk mengundur persidangan sampai pengacara pengganti Shim Changmin diperoleh” kata Yunho. Junsu mengangguk.

“Ada yang lain yang kau ingin sampaikan?” tanya Junsu.

“Temukan pembunuhnya. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku ingin kita bekerjasama, aku akan selidiki keluarga Choi. Harusnya aku menggunakan praduga tak bersalah, tetapi kuakui aku curiga pada Tuan Besar Choi”

“Bukankah dia klienmu?” tanya Junsu.

“Klien? Klien adalah orang yang mempercayai pengacaranya entah bagaimanapun itu. Bagiku klien adalah orang yang mengatakan dirinya bersalah jika bersalah dan tidak jika dia tidak bersalah. Aku bisa meringankan hukumannya dengan memperjuangkannya, tetapi ketika dia sudah menutupi sesuatu yang harusnya aku ketahui, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Berapa banyak kebohongan yang dia rakit, aku tak ingin menjadi boneka dari klien. Dan lagi….”
Yunho menarik nafas panjang.

“Melihat rival pengacaramu dimakamkan bukanlah hal yang mudah. Aku tak punya kata yang baik untuk menyampaikannya. Namun, satu yang pasti aku akan kehilangan seorang rival yang aku prediksi mampu menjatuhkanku untuk pertama kalinya. Seseorang yang mampu membuatku merasakan ketegangan dan harus berpikir sangat keras di persidangan. Aku akan merindukan sensasinya dan aku akan merindukan tatapan dinginnya saat menghadapiku. Shim Changmin…. Prince of Court Yard”

———————————————————————————————–

I will leave for you so I will get to hate you
Now I won’t cling onto you anymore
I’m gonna be better – it’s better if I’m not here
Especially today, you have so many secrets

“Maaf bisa keluar sebentar. Kami perlu memeriksa keadaan pasien”

“Dokter aku ingin berada disini. Aku perlu tahu keadaan adikku” Kyuhyun bersikeras.

“Eunhyuk…. Maaf Dokter Lee. Bolehkah saya juga tinggal disini. Saya harus memastikan kalau dia baik-baik saja agar semua merasa lebih tenang. Kyuhyun, Hara, Jiyeon aku janji akan memberikan informasi kepada kalian. Kami tak akan bohong dan pegang janjiku Kyuhyun. Aku tak akan mengatakan hal yang hanya membuatmu tenang saja” ujar Donghwa meyakinkan.

Kyuhyun akhirnya dengan berat hati mengikuti Hara yang memegang tangannya mengajak keluar dan Jiyeon memberikan tatapan sedih sejenak sebelum keluar menyusul Kyuhyun dan Hara.

Donghwa melihat Eunhyuk yang memeriksa Jieun.

“Hyung, kau meyukainya?” Donghwa terkejut mendengar pernyataan Eunhyuk.

“Aku bisa melihatnya dari matamu”

Donghwa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa.

“Hahaha…. Kau membuatku terkejut. Benar aku memang menyukainya. Dia gadis yang ceria dan manis, dia juga menyenangkan. Siapa yang tidak akan menyukainya?” tanya Donghwa balik.

“Hyung, aku serius” Donghwa menarik nafas panjang dan menatap Eunhyuk yang penasaran menunggu jawaban Donghwa.

“Changmin baru dimakamkan. Apa kau pikir itu pertanyaan wajar sekarang? Dan Jieun masih shock serta depresi. Aku rasa jikapun aku mencurahkan seluruh waktuku dan memandangnya, itu tak lebih karena empati. Kehilangan bukanlah hal yang mudah sebagai dokter kita tahu itu dengan baik. Meski kita terbiasa hidup dengan melihat begitu banyak adegan kesedihan, kemalangan, kehilangan, tetapi kita masih saja merasa bahwa dunia kita runtuh. Mungkin bagi kita dokter yang menangani pasien. Kehilangan pasien mungkin kurang dari 2%-3% dibanding banyaknya jumlah pasien lain yang pernah kita selamatkan selama karir kita, tetapi bagi keluarga dan orang-orang yang mencintainya itu berarti 100% kehilangan. Aku manusia dan aku bisa merasakan perasaan orang lain terutama kehilangan. Big hole inside your heart I ever experienced it. My father, my uncle, my dear patient, my first patient who was die in front of me. I ever knew how misserable it. I don’t know how much pain must endure when your lover left you, but I know really know how much pain that love could cause”

Eunhyuk mengangguk. You love her hyung… You love her

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

——————————————————————————————–

It was a moment where time got slower
The beauty that I learned of, felt and believed in till now
You have changed it all

The front of my eyes became as dark as dawn
Like a single ray of light, she finally found me
My girl, my destiny

As I stomped on the ground, control my exploding breath
I ran (Tonight I’m so lonely, don’t wanna be alone without you)
To you

“Eunhyuk” panggil Jaejoong dan Donghae bersamaan. Eunhyuk langsung berlari dan memberikan big-tight-hug-crush-bone pada Jaejoong.

“Eun…Eun..hyuk… Kau membuatku …ti..dak…bi…bi..sa …ber…nafas” Donghae langsung memisahkan Jaejoong dari Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum tak bersalah dan Jaejoong berusaha mengatur nafasnya yang terpotong akibat pelukan maut Eunhyuk. Donghae memukul kepala Eunhyuk.

“Hei, what was that for?” kata Eunhyuk dan justru menerima pukulan lain dari Donghae. Jaejoong tertawa dan menghentikan aksi Donghae.

“Kau tak bisa membalasku jadi kau melampiaskannya pada Eunhyuk?” seringai Jaejoong. Donghae mengangkat dua jempolnya.

Eunhyuk bingung, tetapi tidak mempermasalahkannya.

“Tuan Kim” beberapa pria berjas mendekati Jaejoong. Jaejoong tersenyum pada mereka. Donghae dan Eunhyuk hanya bertukar pandang. Pria-pria berjas itu membawa banyak plastik berisi makanan dan berbagai macam snack yang kemudian Jaejoong bagikan ke dokter-dokter, suster dan para staff rumah sakit. Jaejoong juga memberikan coklat dan balon pada anak-anak yang dirawat di bangsal anak.

Eunhyuk melongo sedangkan Donghae sedang menerima apa yang terjadi di depannya.

“Hyung, berapa banyak yang kau habiskan untuk itu semua dan siapa pria-pria berjas tadi”

“Tidak banyak dan mereka mungkin orang-orang yang dipekerjakan oleh restoran dan pusat oleh-oleh yang aku pesan” jawab Jaejoong.

Donghae dan Eunhyuk mengangguk.

“Donghae, kau masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan dengan Eunhyuk” kata Jaejoong.

“Bagaimana keadaan Lee Jieun”

“Depresi” Eunhyuk menjawab singkat. Jaejoong mengangguk dan ingin masuk ke dalam ruangan.

“Hyung, ada yang ingin aku sampaikan soal Donghwa hyung” Jaejoong memutar tubuhnya dan kembali menghadap Eunhyuk.

“Ada apa?”

“Ini rahasia bisa kita bicara di tempat lain?” ajak Eunhyuk.

Jaejoong mendekati Eunhyuk dan berbisik.

“Jika ini menyangkut Lee Jieun. Aku sudah tahu dari dulu” Jaejoong tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi Eunhyuk.

“Maybe it’s not good time, but when Jieun find someone else it will ease her pain. I have experienced it”

“Tunggu. Kau menemukan wanita lain?” Jaejoong hanya memberi wink dan masuk ke ruang rawat Jieun.

“Jiyeon” panggil Donghae. Jiyeon, Donghwa dan Hara duduk di kursi tunggu di ruang Jieun. Sedangkan, Kyuhyun duduk di samping ranjang Jieun memegang tangan adiknya dan ekspresinya yang benar-benar lelah dan sedih.

Donghae membawakan makanan untuk mereka.

“Bagaimana keadaan Jieun?” tanya Jaejoong. Donghwa menarik nafas dalam.

“Dia sudah diberi obat penenang dan obat tidur. Dia dalam keadaan shock berat”
Jaejoong mengangguk mengerti. Donghae memberi tatapan aneh pada Jaejoong, tetapi Jaejoong menatap Donghae dengan sedikit tatapan intimidasi dan membuat Donghae mengalihkan pandangannya pada Jiyeon.

“Jiyeon, Donghae kalian pulanglah setelah makan. Hara bawa Kyuhyun pulang. Biar aku yang menunggu Jieun bersama Donghwa”

“Tapi….” Sebelum meneruskan perkataannya Jaejoong memotong Hara.

“Kyuhyun membutuhkan istirahat. Kau boleh khawatir pada Jieun, tapi aku rasa Kyuhyun…”

Mereka mengikuti arah pandangan Jaejoong. Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan mereka dan seolah tidak mempedulikan segala pembicaraan, terlarut dalam dunianya sendiri.
Hara mengangguk. Hara segera menyelesaikan makannya dan mendekati Kyuhyun.

“Oppa” panggil Hara sambil menepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan memberikan senyum kecil yang lebih terlihat sebagai senyum getir pada Hara.

“Kita pulang” tanya Hara. Kyuhyun menggeleng. Jaejoong mendekati mereka berdua.

“Kyuhyun pulanglah bersama Hara. Kalian berdua sama-sama lelah. Biar aku yang menjaga adikmu. Pulanglah sekarang” Kyuhyun masih ingin tinggal disitu, tetapi melihat Jiyeon, Donghae, Hara, Donghwa, dan Jaejoong yang seolah memohon padanya dia akhirnya mengangguk.

“I’ll be back soon, my sister” Kyuhyun mencium kening Jieun dan meninggalkan ruang rawat Jieun.
Setelah mereka semua pergi. Jaejoong duduk di sebelah Donghwa.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghwa.

“Aku yang harusnya bertanya demikian. Bagaimana kabarmu Lee Donghwa?”

“I’m fine” Donghwa tersenyum kecil.

“Bagaimana hatimu?” tanya Jaejoong. Donghwa menoleh pada Jaejoong bingung.

“Lee Donghwa kau lupa aku adalah sahabatmu. Aku mengenalmu dengan cukup baik meski hanya sebagai teman kuliah. Aku mengenal adik dan keluargamu. Aku….”

“Tskk… Kim Jaejoong, kau tetap saja menyebalkan” kata Donghwa.

“Kau juga sangat menyebalkan kau orang kesekian yang memotong perkataanku hari ini” tawa Jaejoong.

“You know me better than anyone else” Donghwa melemparkan pandangannya pada Jieun.

“You love her”

“It’s useless to lie to you. First, I laid my eyes on her I felt something different I want to touch her, want to kiss her. I want her so desperately. I know it is sin to have this feeling. She belongs to someone else. I tried my best to keep this feeling , I could say I’m not good friend at all. I love her Jaejoong and it’s hard for me to see her in this stage. Why… Why it’s not me who killed so she can smile and has beautiful life with Changmin”

Donghwa menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Jaejoong menepuk-nepuk bahu Donghwa dan berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Believe or not. I felt my sky was falling down when I lost Yuri and Haejoong, but from now on from that day I met Suzy my world becomes the bright one. God gives me angels not to replace Yuri and Haejoong. God gives me son and wife to protect better than before. God makes me strong and I know I became stronger to convince everyone in my life that life goes on and is getting better even you got bit sadness, you will get slice of happiness. God has his scenario if I could compare life and film, life would be the best perfect film. You could change the scenario because the director gives you power to do it. We’re not doll actors and actresses, we’re actors and actresses who given choice by God. To live and willing that led survive to reach our aim of happiness or to give up and feel sorrow inside your heart”

Donghwa memandang Jaejoong.

“I have new family. I’ll tell you later, but I tell you I will do everything to pursue my perfect dream of life. Not just imagination or fiction, make it real in real life as fate. Suzy is my wife and Kris is my son. They’re my dream of perfectness that could be I imagine. Lost something precious gave me power to hold the worst scenario on my shoulder, no doubt I could do this because when I do something it will never happen. Just pursue your perfect life”

Donghwa berdiri dari duduknya dan menuju ke sisi ranjang Jieun. Jaejoong tersenyum dan berdiri meninggalkan ruang rawat Jieun.

“Kau sudah disini sejak tadi dan menguping kan?” kata Jaejoong pada Donghae.

“Kau sejak lama sudah menyadari perasaan Donghwa hyung pada Jiyeon? Sejak kapan?” tanya Donghae.
“It’s not such a big deal, Donghae. Did you confess to your wife that you love her a lot?” Mata Donghae membesar.

“I….I….” Jaejoong melihat Jiyeon datang menghampiri mereka dari belakang dan membawa 2 cangkir kopi.

“Kau belum pulang?” tanya Jaejoong.

“Donghae oppa bilang ingin sejenak disini untuk menunggu Jaejoong oppa. Dia memintaku membeli kopi untuk kalian” Jiyeon menyorongkan cangkir berisi kopi pada Jaejoong dan pada Donghae.
“Ohya, ada yang ingin dikatakan Donghae. Dengarkan baik-baik yah. Terima kasih kopinya” kata Jaejoong sambil meneguk kopinya dan berjalan meninggalkan mereka.

Donghae bingung harus bilang apa. Dia menarik nafas dalam dan menatap mata Jiyeon.

“Jiyeonie, Saranghaeyo” Donghae menarik Jiyeon dalam pelukannya. Jiyeon memeluk Donghae erat dan membiarkan air matanya tumpah.

“Nado Saranghaeyo… Nado.. Nado.. saranghaeyo Lee Donghae” ujar Jiyeon.

Dari kejauhan Jaejoong tersenyum melihat mereka berdua.

“Yeoboseyo”

“Suzy-ya. Listen carefully. I love you” It’s my confession.

Lee Jieun, I’ll be your guardian. I’ll never let you sink in sorrow. I’ll make you mine and give the heaven to you. My heaven won’t be heaven if it’s not you here.

I stole those lips, I had to
I want you, without an explanation or excuse, I stole your lips
It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying
I had to make a memory that the both of us can never forget

———————————————————————————————–

DIBUTUHKAN AUTHOR BARU UNTUK SFF. PERSYARATAN BERSEDIA UPDATE STORY DAN MINIMAL SETIAP MINGGU BERSEDIA MENULIS CERITA BARU. SILAHKAN TINGGALKAN EMAIL DI BAWAH. BAGI YANG BERMINAT MENJADI AUTHOR SILAHKAN TULISKAN JUGA KEINGINAN KAMU MENJADI AUTHOR, BAGI READERS YANG TIDAK BERMINAT MENJADI AUTHOR MAKA AKAN DIKIRIM PESAN BERUPA PASSWORD UNTUK LOA PART XXV.

KAMSAHAMNIDA

Lily191

Protected: Letter of Angel XXIII “Dawn”

This content is password protected. To view it please enter your password below:

My Bourgeois Kingka! (Part 3)

My Bourgeois Kingka! (Part-3)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Action, School Life, Slice of Life, Drama, Continue, Romance, Angst, Fantasy, Comedy.

Cast:Kim Kibum, Song Seunghyun, Lee Donghae (Aiden Lee), Shim Changmin (Max).

Original Character: Shim Minra.

 

-Author’s POV-

Ruangan kelas kembali heboh dengan kepergian Kibum. Namun apa daya, semua guru—bahkan kepala sekolah, tidak berani untuk protes ataupun melarang Kibum melakukan apa saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kakek Kibum sendiri adalah pemimpin organisasi mafia terbesar di Korea Selatan. Berdasarkan kenyataan itu, tentu saja tidak ada yang berani mencari masalah dengannya.

“Ya! Sepertinya Kibum akan ke sana…” bisik salah seorang gadis di kelas mereka.

Continue reading

My Bourgeois Kingka! (Part 2)

My Bourgeois Kingka! (Part-2)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Tragedy, Action, School Life, Slice of Life, Drama, Continue, Romance, Angst, Fantasy, Comedy.

Cast:Kim Kibum, Song Seunghyun, Lee Donghae (Aiden Lee), Shim Changmin (Max).

Original Character: Shim Minra.

-Author’s POV-

Pintu yang dilapisi kertas tradisional itu bergeser, terbuka lebar. Seorang pemuda melangkah masuk ke dalam bangunan utama. Seluruh pelayan dan pengawal yang berpakaian serba hitam kembali menunduk begitu ia menghampiri pria tua itu. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya, gayanya terlihat acuh tak acuh. Tatapan matanya sangat dingin, ia memandang lurus ke arah pria tua itu tanpa perasaan takut sedikit pun.

“Permainan apa yang sedang kau rencanakan kali ini, Harabeoji?” tanya pemuda itu datar.

“Kau telat, Kim Kibum,” seringai kakeknya yang kemudian memberikan surat pernikahan itu. “Tandatangani surat ini.”

Pemuda yang bernama Kim Kibum itu menaikkan sebelah alisnya, menatap surat itu dengan penuh keraguan sebelum menerimanya. Lantas ia melirik ke arah gadis semrawut yang berdiri tidak jauh dari sana. Satu meter dari tempat gadis itu berdiri, terlihat seorang pemuda yang terikat dengan erat di sebuah kursi, memandangnya sengit. Lalu di seberang sana, ia juga menemukan kepingan-kepingan vas bunga yang telah pecah, berhamburan di lantai. Rumahnya saat ini benar-benar seperti kapal pecah, di tambah lagi dengan kemunculan dua orang asing yang entah dari mana.

“Ini perintah?” ucapnya, tersenyum misterius. “Kau berkata sebagai Harabeoji—atau sebagai pimpinan organisasi gelap di Korea?”

Kakeknya tertawa sejenak. “Kalau kubilang ini perintah, kau akan melakukannya kan?”

“Aku tidak akan melakukan apapun jika aku tidak mendapat keuntungan,” tandas Kibum serius. “Kau sendiri yang mengajariku. Jangan pernah tunduk pada siapapun jika aku tidak mendapatkan keuntungan dari hal itu sama sekali. Ingat?”

“Geureom—bila kau ingin berbisnis denganku, sepertinya tidak ada pilihan lain,” desis kakeknya tajam. “Kau pernah bilang, kan? Kau ingin bebas dari para pengawal-pengawal yang kau sebut pengganggu itu,” lanjut kakeknya. “Bila kau menikah, aku akan tenang. Jika ada seseorang di sampingmu, aku tidak akan menyuruh para pengawal itu untuk menemanimu setiap hari.”

Kibum menyeringai sekilas. “Jadi ini permainan barumu? Menarik.”

“Permainan? Kurasa kau bisa menyebutnya begitu,” sahut kakeknya tak peduli.

Tanpa sempat membaca isi surat itu, Kibum menorehkan pena tintanya di atas kertas putih tersebut. Sementara itu, seulas senyuman puas tampak jelas di wajah kakeknya.

“Bagaimana? Bertransaksi denganku tidak buruk juga, kan?” tanya kakeknya. “Kau bebas dari pengawal pengganggu, sedangkan aku dapat melihatmu menikah sebelum aku mati.”

“Terserah,” balas Kibum dingin, lalu ia mendekat ke arah gadis yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan tak suka. “Jadi… kau ini istriku?”

Gadis itu mendelik tajam. “Kalau ya?”

“Aniya,” tukas Kibum acuh tak acuh, lalu ia menatap telapak tangan gadis itu yang masih meneteskan darah segar. “Hanya saja… aku tidak suka dengan yeoja yang penuh darah. Rawat dulu lukamu.”

“YA! Ini bukan urusanmu!” teriak gadis itu sebal.

“Baiklah—karena sudah ditetapkan, mulai hari ini Minra dan Changmin akan tinggal di rumah ini,” tukas kakeknya tegas. “Patuhi semua peraturan di rumah ini. Perkataanku adalah hukum yang tak bisa di ubah. Mengerti?”

Changmin melengos.

“Ah, satu hal lagi… Mulai besok, Minra dan Changmin akan mulai bersekolah di sekolah yang sama dengan Kibum,” kakeknya bangkit berdiri dari tempat duduknya, menatap Kibum dan Minra secara bergantian. “Untuk saat ini, tidak akan ada upacara pernikahan sampai kalian lulus sekolah. Meski begitu, kalian telah resmi menikah secara legal.”

Minra menarik napas panjang. Ini bukanlah pernikahan. Baginya, ini adalah caranya untuk bertahan hidup berdua dengan kakaknya. Menjual dirinya demi sesuap nasi dan tempat tinggal yang nyaman.

Kibum berbalik dan berjalan pergi ke kamarnya, tidak terlalu memedulikan omongan kakeknya.

“Cih! Anak itu…” geram kakeknya naik darah, lantas ia memanggil salah satu pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari sana. “Tolong obati luka Minra dan lepaskan ikatan pemuda ini.”

Dua pelayan wanita tergopoh-gopoh menghampiri Minra dan Changmin. Mereka melepaskan ikatan Changmin dan membalut telapak tangan Minra dengan perban. Untungnya, goresan luka tersebut tidak terlalu dalam.

Dan karena perintah kakek Kibum, para pelayan itu bergegas mengantar Minra dan Changmin menuju kamar baru mereka. Dalam perjalanan menuju kamarnya, Minra tak melepaskan pandangannya dari keadaan sekitar. Rumah yang ukurannya terlampau besar ini benar-benar dapat membuat siapapun berdecak kagum. Walaupun rancangan interiornya terlalu tradisional, namun ia tahu bahwa rumah ini mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Bila rumah ini di lelang, mungkin banyak orang yang berani memasang harga selangit.

“Ini kamar Changmin Doryeonnim,” ucap pelayan wanita itu sembari membungkuk sopan.

“Bagaimana denganku?” tanya Minra bingung.

“Kamar Agassi terpisah dengan kamar Changmin Doryeonnim,” jelasnya. “Sekarang aku akan menunjukkan kamar Agassi.”

Changmin menundukkan kepalanya sedikit, menyejajarkan tingginya dan mendekatkan bibirnya ke telinga adiknya itu. “Kalau terjadi sesuatu, kau bebas datang ke kamarku kapan pun kau mau.”

Minra mengangguk paham, lalu ia mengikuti pelayan tersebut melewati halaman tengah rumah itu, membawa dirinya menuju ruangan yang terletak paling ujung. Ruangan yang cukup besar dengan matras gulung yang terletak begitu saja di atas lantai kayu. Di sudut ruangan, terlihat Kibum yang sedang melonggarkan dasinya dan melepas kancing atas kemejanya.

“Ya! Kenapa kau ada di sini?? Ini kamarku!” protes Minra.

Kibum terdiam, sama sekali tidak berniat untuk menghabiskan suaranya karena berdebat dengan yeoja yang baru saja ia kenal.

“Agassi, kau akan berbagi kamar dengan Kibum Doryeonnim…” jelas pelayan itu dengan takut-takut.

Minra terperangah, sepasang matanya melebar setelah mendengar penjelasan yang keluar dari mulur pelayan tersebut. “Sekamar dengannya? Kau bercanda??”

“Ne, ini perintah Seojangnim…” jawab pelayan itu lagi. “Dan karena kalian sudah menikah, jadi…”

“Kau boleh pergi,” perintah Kibum pada pelayan itu.

Pelayan wanita itu segera menggeser pintu kertas tersebut dan menutupnya rapat-rapat. Meninggalkan Minra yang masih terpaku di dalamnya. Sementara itu, Kibum terlihat tidak terlalu ambil pusing dengan kedatangan yeoja asing di kamarnya.

“Kehidupan yang menyebalkan,” gumam Minra tertahan, meratapi keputusannya yang sedikit tidak wajar.

Kibum melangkah mendekat ke arah Minra, lalu ia tersenyum sinis. “Karena uangkah?”

“Mwo?”

“Menikah denganku—semuanya hanya karena uang. Benar begitu, Shim Minra?” tanya Kibum sekali lagi, tatapan matanya sungguh dingin. Dalam hatinya, ia benar-benar tidak mengharapkan jawaban apapun. Ia hanya bertanya untuk menyinggung perasaan gadis yang berdiri di hadapannya ini, tidak ada maksud lain.

“Kau tidak bodoh rupanya,” kekeh Minra tak kalah sinis. “Oh, eotteohge? Bagiku, pernikahan hanyalah sebuah kedok agar aku dapat bertahan hidup.”

“Baguslah kalau begitu,” Kibum menghempaskan tubuhnya di atas matras, lalu menatap tajam ke arah Minra. “Di dalam pernikahan ini, aku tidak akan menyetujui adanya cinta. Dengar… bagiku, cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda.”

“Terserah kau saja,” Minra mengangkat bahunya dan terduduk di sisi matras. “Lagipula, aku tidak peduli soal cinta. Orang sepertiku tidak bisa hidup tanpa uang, bukan tanpa cinta.”

Kibum mendekatkan tubuhnya dan duduk di belakang Minra. Kepalanya mendekat ke tengkuk Minra, membuat yeoja itu dapat merasakan deru napas yang melewati lehernya. Ia berbisik dengan suara rendah. “Kalau begitu, berjanjilah padaku… Jangan campuri kehidupan pribadiku, baik di sekolah ataupun di luar sana. Dengan begitu, aku juga tak akan mengganggu hidupmu.”

Minra mengangguk asal, memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. Ia membaringkan tubuhnya di atas matras gulung itu, tidur memunggungi Kibum yang kemudian ikut berbaring di sebelahnya. Karena hanya ada satu matras besar, mereka terpaksa berbagi matras dan selimut.

Meskipun Minra telah menutup matanya selama setengah jam, namun otaknya masih dapat bekerja. Ia masih belum tertidur sepenuhnya. Anehnya, ia sama sekali tidak dapat tertidur di kamar barunya ini! Padahal selama ini ia dapat tertidur di mana saja. Di tepi jalan, di kursi taman, bahkan di gang kumuh sekali pun! Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Entah apa itu. Namun ia terus berusaha untuk tidak memikirkannya dan terus memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya melangkah damai di alam mimpi.

{~My.Bourgeois.Kingka!~}

Continue reading

My Bourgeois Kingka! (Part 1)

My Bourgeois Kingka! (Part-1)

Author: Shim Min Ra.

Genre(s): Action, Tragedy, School Life, Slice of Life, Drama, Continue, Romance, Angst, Fantasy, Comedy.

Cast:Kim Kibum, Song Seunghyun, Lee Donghae (Aiden Lee), Shim Changmin (Max).

Original Character: Shim Minra.

-Author’s POV-

Di dalam taman indah yang bernuansa hijau, angin bertiup perlahan, menerbangkan dedaunan dan kelopak-kelopak bunga yang berguguran. Matahari pagi di musim gugur yang sejuk menyinari seorang anak manusia—tepatnya seorang gadis yang sedang memejamkan sepasang matanya di atas kursi taman. Ia tertidur hanya dengan berselimutkan koran bekas yang tersusun rapi di atas tubuhnya. Cukup pulas, sampai seorang pemuda datang dan mulai membangunkannya.

“Dongsaeng…” pria tersebut menggoyang-goyangkan bahu gadis yang tertidur pulas itu. “Dongsaeng-ah, ireona…”

Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ia terdiam, tak bergerak sedikit pun.

Pria itu berdeham beberapa kali, mempersiapkan suara lengkingan mautnya yang berkisar antara delapan oktaf. “SHIM MINRA!! IREONAAAAA~~~~~!!!”

Sepasang mata gadis itu terbelalak lebar, ia segera terduduk dengan wajah kagetnya. “Changmin Oppa… Aku… Aku menang undian!”

Pria yang di panggil Changmin itu menghela napas frustasi. “Dongsaeng-ah, itu hanya mimpi…”

Selama beberapa detik, gadis itu diam terpaku. Kemudian ia mengedarkan bola matanya ke sekeliling sudut taman itu dan beralih ke arah beberapa lembar koran yang tersebar di atas tubuhnya.

Gadis itu tertunduk lemas ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya. “Aish… Ternyata kita masih ada di jalanan.”

“Makanlah,” ucap Changmin sembari menyodorkan sebungkus roti pada adiknya itu. “Sisakan separuh untukku.”

Minra memicingkan matanya dengan curiga. “Oppa… kau… tidak mencuri, kan?”

“Tentu saja tidak!” sergah Changmin cepat, lalu ia merebut roti itu dari tangan adiknya. “Kalau kau tidak mau, ini untukku saja!”

Minra merebut kembali roti itu sebelum roti itu berhasil masuk ke dalam mulut kakaknya. “Siapa bilang aku tidak mau?”

Changmin terkekeh pelan. “Kalau begitu, makanlah.”

-Shim Min Ra’s POV-

Sembari mengunyah roti tersebut, aku menerawang jauh ke atas langit. Memandang terik matahari pagi yang menyinari seluruh kota Seoul.

Gedung-gedung tinggi pencakar langit dapat terlihat dari tempatku berdiri sekarang. Jalan raya yang dipadati oleh mobil-mobil mewah, murid-murid berseragam yang sibuk berlarian ke sekolah pada pagi hari, dan beberapa orang yang masih asyik berolahraga di taman ini.

Kau lihat kota besar ini? Seluruh kota ini adalah rumahku. Kau lihat Oppa-ku yang sedang duduk di sampingku? Dialah satu-satunya orang yang kupunya saat ini. Eomma-ku berselingkuh dan pergi dengan laki-laki lain, sedangkan Appa-ku… Oh, haruskah aku jujur pada kalian? Appa-ku adalah seorang pengecut. Dia tidak sanggup dikhianati oleh istrinya, sehingga ia membunuh dirinya sendiri. Meninggalkan kedua anaknya dengan setumpuk beban dan tanggung jawab untuk menghadapi kehidupan yang kejam.

Jadi… bisakah kau membayangkan kehidupanku selama setahun terakhir ini? Buruk. Bahkan lebih buruk daripada imajinasimu. Dan selama setahun inilah, aku menyadari sesuatu yang berharga.

Uang.

Uang lebih penting daripada apapun juga.

“Oppa, eodisseo?” tanyaku yang melihatnya pergi menuju keluar taman.

“Aku akan mencari makan siang dan minuman!” sahutnya setengah berseru. “Bertahanlah dengan roti untuk saat ini.”

Kuanggukkan kepalaku ke arahnya dengan mantap, berharap bahwa Changmin Oppa tidak akan kembali dengan tangan kosong.

{~My.Bourgeois.Kingka!~}

-Author’s POV-

Ratusan pria berpakaian hitam berdiri tegap, mengelilingi seorang pria tua yang sedang menyesap kopinya. Pria tua itu melirik sebentar ke atas mejanya, terdapat secarik foto yang sudah lusuh dan menguning. Foto seorang pria separuh baya yang menggendong gadis kecil. Gadis kecil itu tersenyum, sangat ceria. Di belakang gadis kecil itu, seorang anak laki-laki yang energik sedang bermain bersama yeoja yang sangat cantik.

“Seojangnim, kami menemukannya,” lapor salah satu pria berkacamata hitam pada pria tua itu.

Pria tua itu dengan perlahan meletakkan cangkirnya di atas meja, ia menatap lurus ke arah bawahannya. Seluruh bawahannya tetap membungkuk, tak berani mengangkat kepala mereka dan balas menatap pria tua itu.

“Mereka… masih hidup?” tanya pria tua itu dengan suara lirih.

Pria berkacamata hitam yang tadi mengangguk pelan. “Ye, Seojangnim.”

“Kalian… mengerti keinginanku, kan?” pria tua itu menyeringai sadistis seraya menghisap cerutunya. “Bawa mereka ke hadapanku. Kalau perlu, gunakan cara paksa.”

Tanpa menjawab apapun, ratusan pria berpakaian serba hitam itu terbagi menjadi dua barisan secara otomatis. Barisan pertama segera keluar dari ruangan itu, sedangkan barisan kedua tetap membungkuk dan tidak bergerak dari tempatnya.

“Mereka… tidak akan kulepaskan lagi,” pria tua itu mengambil pisau lipat kecil dan menghujamkan pisau itu ke atas meja, tepat di mana foto itu berada. Setelah itu ia tersenyum puas. “Tidak akan kulepaskan… Tidak akan!”

{~My.Bourgeois.Kingka!~}

“Oppa!” panggil Minra yang tersenyum riang setelah melihat Oppa-nya membawakan sebungkus gimbap untuk makan siang.

“Lihat apa yang kubawa!” bangga Changmin sembari menunjukkan bungkusan itu tinggi-tinggi. “Oppa-mu memang terlalu tampan, sampai-sampai Ajumma penjual gimbap pun memberikan ini secara gratis.”

Minra memutar kedua bola matanya, jenuh. “Oppa, prince syndrome-mu kumat…”

BRUUK!

Tiba-tiba salah satu pria berbadan tegap menabrak punggung Changmin sehingga bungkusan gimbap itu terjatuh ke tanah. Sebelum Changmin sempat mengambilnya kembali, pria itu telah menginjak bungkusan gimbap itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Sorot matanya tidak menunjukkan kehidupan, sorot mata yang kosong—dan dingin.

Dan lagi-lagi, tanpa sempat memberikan perlawanan, puluhan pria berpakaian serba hitam telah mengelilingi mereka berdua dalam sekejap. Dapat dipastikan, masing-masing dari mereka membawa senjata tajam—setidaknya pistol, di saku jas mereka. Bila di lihat, sepertinya senjata-senjata itu di dapat dari pasar gelap.

“Berlindung di belakangku,” bisik Changmin yang sudah merentangkan kedua tangannya, berusaha melindungi adik perempuan satu-satunya yang ia miliki sekarang. Ia memicingkan matanya ke arah pria yang tadi menabrak punggungnya. “Kalian… mau apa?”

“Ikut kami,” jawab pria itu datar tanpa emosi.

“Nugusijyo…?” tanya Changmin ragu.

“Kau tidak perlu tahu siapa kami,” jawab pria itu lagi.

Changmin menyeringai sinis. “Kau kira… kami ini bodoh?!” Ia langsung melayangkan tendangannya ke wajah pria itu. “Aku lebih baik mati daripada di perintah oleh orang yang tak kukenal!”

“Oppa!” pekik Minra panik. “Jumlah mereka terlalu banyak, biarkan aku ikut berkelahi!”

Karena mendengar teriakan Minra, Changmin segera menoleh ke belakang dengan gelisah. “BABO!! Mana mungkin yeoja membantu pria berkelahi?!”

“Jadi… kalian mau main kasar?” tukas pria berpakaian hitam itu seraya menghapus darah di sudut bibirnya karena terkena tendangan Changmin, lalu ia mengeluarkan pistol dari saku jasnya.

Namun terlambat. Begitu Changmin kembali menoleh ke depan, pria tersebut telah menarik pelatuk pistol itu dalam hitungan detik.

Dan detik berikutnya, salah seorang dari mereka telah memukul tengkuk Minra. Ia ambruk begitu saja di atas tanah. Semuanya terjadi dalam sekelebat. Gerakan pria-pria itu secepat angin, tak terlihat sama sekali.

Dengan setengah sadar, Changmin jatuh terduduk. Samar-samar, ia masih dapat melihat Minra yang tengah di bawa masuk ke dalam mobil hitam meskipun sekarang matanya amat sangat perih karena terkena pistol gas air mata yang ditembakkan tepat ke arah kedua matanya. Yang ia tahu pada saat-saat terakhir, badannya terasa melayang di udara. Seseorang seperti mengangkat tubuhnya, lalu meletakkan ke atas kursi empuk.

{~My.Bourgeois.Kingka!~}

Dentuman musik terdengar sangat kencang dari dalam mobil Ferrari berwarna biru yang tengah melaju cepat di jalan raya. Di dalamnya, seorang namja sedang menginjak gas mobilnya gila-gilaan. Tatapannya lurus ke depan. Sudah dua jam ia menyetir tanpa henti, tanpa tujuan. Ia hanya berputar-putar di salah satu area Dongdaemun selama tiga jam berturut-turut. Ekspresi wajahnya sedingin es, seakan-akan ia telah membunuh perasaannya sejak lama.

“Kibum-ah~~” rengek seorang yeoja sembari mengangkat rok mininya dan mulai memamerkan paha mulusnya. Ia menegak botol wine merahnya, lalu mengecup pipi namja di sampingnya dengan mesra. “Kita mau ke mana, Jagi?”

Namja itu tidak bereaksi sama sekali, ia hanya terdiam dan tetap menyetir dengan tenang.

“Jagiyaa~~~~”

Pria yang bernama Kibum itu segera menginjak rem mobilnya secara mendadak. “Nawa.”

Yeoja tersebut mengangkat alisnya tinggi-tinggi, ia menatap Kibum tak percaya. “Mwo??”

“Keluar dari mobilku,” gumam Kibum pelan.

“Apa kau bilang??” tanya yeoja itu histeris.

“Perlukah aku mengulanginya sekali lagi…” balas Kibum seraya tersenyum sinis. “…Noona?”

“Kibum-ah… Apa maksudmu…?” tanya yeoja itu pelan, berharap bahwa namja di hadapannya sekarang akan bersimpati padanya. “Kau mau aku turun dari mobilmu? Di jalan raya seperti ini…?”

Kibum mengangguk sekilas.

“Tapi… kita masih bisa berhubungan kan?” ucap yeoja itu mulai panik. “Kau masih mencintaiku kan??”

“Sepertinya kau salah besar,” sahut Kibum yang masih menatap jalan raya tanpa ekspresi. “Kau sangat membosankan. Mulai dari sekarang, jangan menemuiku lagi. Ah, satu hal yang perlu kau ketahui—aku tidak pernah mencintaimu, Noona.”

Yeoja itu tertawa getir, berusaha untuk menutup-nutupi emosinya. “Jadi… kau masih mencintai Im Sanghee?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Kim Kibum!!” jerit yeoja itu frustasi. “Im Sanghee telah mengkhianatimu! Yeoja sampah itu telah menusukmu dari belakang!!”

Kibum tersenyum sinis. “Yeoja pelacur sepertimu mau mengguruiku?”

“Kibum!! Neo…!”

“Nawa,” perintah Kibum tegas. “Enyah dari hadapanku.”

Setelah menutup pintu dan kaca jendela mobilnya, Kibum kembali menginjak gasnya dengan cepat. Ia tidak peduli bahwa jauh di belakangnya, yeoja berpakaian minim itu berteriak-teriak memanggil namanya seperti orang gila.

Tak sampai satu jam, mobil Ferrari biru milik Kibum telah di hadang oleh lima mobil hitam yang sama. Kibum mendengus kesal. Ia sangat mengenal kelima mobil itu. Mobil hitam dengan ukuran yang sama dan model yang sama. Mobil yang setiap hari ia lihat di sekeliling rumahnya.

DRRRTT!!

“Wae gurae?” tanya Kibum seraya menerima panggilan dari ponsel iPhone hitamnya.

“Sopan sekali kau ini,” sindir seseorang yang terdengar dari ponselnya. “Kau bahkan tidak menyapaku terlebih dulu?”

“Harabeoji, aku tidak punya banyak waktu,” ucap Kibum datar. “Katakan apa maumu.”

Kakeknya tergelak. “Ha, ha, ha! Kau memang cucuku… Baiklah. Pulanglah ke rumah sekarang juga. Mobil-mobil itu akan mengawalmu, jadi jangan coba-coba kabur.”

Kibum memandang lima mobil hitam yang mengelilingi mobilnya secara bergantian. “Apa rencanamu kali ini? Bisnis narkoba? Pasar gelap? Atau… pembunuhan seseorang?”

“Aigooo… Jangan berpikiran buruk tentangku,” ujar kakeknya setengah bergurau. “Pulanglah ke rumah dan kau akan mendapat tontonan menarik malam ini.”

“Sebagai kakekku, seharusnya kau yang paling tahu…” seringai Kibum sinis. “Seorang Kim Kibum tidak suka di perintah.”

“Jadi kau tidak mau pulang??!” bentak kakeknya kasar. “Dengar. Aku tidak akan segan-segan menggunakan cara paksa, Kim Kibum.”

“Anni, aku akan pulang,” jawab Kibum tenang. “Aku tidak ingin melihat pertumpahan darah malam ini.”

“Geurae, kutunggu kau di rumah,” kata kakeknya yang langsung mengakhiri pembicaraan mereka.

Kibum mengelos. “Cih! Orang itu selalu seenaknya…”

Ferrari biru miliknya melaju dengan sangat cepat begitu ia menginjak gas mobilnya lagi, membuat kelima mobil hitam yang berada di belakangnya sedikit kesulitan untuk mengejar Ferrari itu.

{~My.Bourgeois.Kingka!~}

Continue reading

Marrying an Antis ??? 7 (Forgive Me)

Part I, Part II, Part III, Part IV, Part V, Part VI

“Biar aku yang bawakan” kata Jaejoong pada Haengjin yang sedang menarik kopernya.

Haengjin menurut saja ketika Jaejoong mengambil alih kopernya.

“Gomawo, Jaejoong-shi”

Aiiishhhh…. Akting lagi malas. Kapan sih kamera akan pergi?

“Ne. Bawaanmu banyak juga yah” komentar Jaejoong.

Haengjin hanya tersenyum.

“Ngomong-ngomong panggil aku oppa saja yah?”

Haengjin membulatkan matanya dan Jaejoong tersenyum penuh kemenangan.

“Ehm…. Kurang sopan kesannya Jaejoong-shi” kata Haengjin.

“Aku suamimu jangan seperti itu santai saja anae”

Anae????? Nampyeon??? Sialan kau Kim Jaejoong.

Haengjin mengangguk lemah. Mau tak mau dia harus menurut.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di sebuah rumah.

“Apa ini rumah yang akan kita tinggali?” tanya Haengjin.

“Ehm…. Sepertinya iya. Ayo kita masuk” kata Jaejoong.

Dia menarik tangan Haengjin masuk dan meletakkan koper Haengjin di belakang pintu.

“Kosong? Belum ada apa-apanya yah?” tanggap Jaejoong ketika memasuki rumah.

“Eh…. Ada memo disini” kata Haengjin yang berdiri di depan kulkas.

“Barang perabotan ada di dalam kamar utama. Silahkan kalian tata sesuai keinginan. Mala mini kalian harus masak di meja makan kami sudah meninggalkan uang untuk belanja” baca Haengjin.

Siiaaallllaaannn…. Apa-apaan ini? Masak? Siapa yang akan masak?

Jaejoong POV

“Barang perabotan ada di dalam kamar utama. Silahkan kalian tata sesuai keinginan. Mala mini kalian harus masak di meja makan kami sudah meninggalkan uang untuk belanja” baca Haengjin.

Asyik masak pasti akan menyenangkan. Belanja bersamanya kita lihat seberapa kemampuannya.

Aku melirik Haengjin yang berekspresi datar sepertinya tidak masalah baginya.

Kami menuju supermarket terdekat.

“Omooo…. Hero Jaejoong dari JYJ” teriak seorang yeoja.

“Iya, itu pasangan WGM-nya yah? Cantik ya?” tanggap yang lain.

“Andai saja aku yang jadi pasangannya” seseorang histeris.

Hadeuh…. Ya, sudahlah. Kapan ini bakal jadi acara belanja romantis? TOT

Aku melirik ke sampingku. Haengjin sudah tidak ada, aku melihat sekitar dan aku lihat dia membantu seorang anak kecil mengambil snack di atas. Dia memang tinggi, tapi tangan kirinya kan memegang keranjang belanjaan.

Aku menhampirinya dan mengambil kotak snack yang ingin dia ambil. Dia berbalik ketika aku melakukannya.

“Ini yang kau inginkan nak?” kataku dan menyerahkannya pada anak itu.

“Gamsahamnida, ahjushi dan ahjumma” kata anak itu.

Aku mengacak rambutnya.

“Panggil aku Jaejoong-hyung saja yah” kataku.

Anak itu tersenyum kemudian ibunya datang.

“Hwangmin… Kau tadi….” Kata-kata ibunya terputus.

“Anda Kim Jaejoong JYJ? Beruntung sekali bertemu anda. Gamsahamnida telah membantu putra saya” ujarnya tulus.

Aku mengangguk.

“Jaejoong-shi bolehkah aku minta tanda tangan anda? Saya penggemar berat anda” kata ibu itu.

Aku melirik Haengjin yang berada di sebelahku. Dia mengangguk.

“Tentu saja. Siapa nama anda dan putra anda?” tanyaku.

“Yong Aeri, putraku Yong Hwangmin” jawabnya.

Aku menuliskan nama mereka dan menandatanganinya. Tak lupa kata-kata untuk mereka.

Terima kasih telah menjadi penggemarku dan mohon dukungannya. Doakan WGM Kim Jaejoong dan Park Haengjin yah ^^

Saat aku menyerahkannya ibu itu menepuk Haengjin dan mengatakan

“Semoga sukses Haengjin-shi” katanya dan berlalu meninggalkan kami berdua.

Haengjin bingung dengan perkataan ibu itu.

“Kau tadi menulis apa?” tanyanya tajam.

“Ada saja. Ayo, kita segera tuntaskan belanjanya. Satu lagi ingat kamera nona” jawabku santai.

Haengjin POV

Susah juga belanja dengan orang terkenal. Terkenal? Wei…. tak salah dia terkenal. Banyak yang melihat dan memandangi kami. Apa sih menariknya ahjushi menyebalkan ini?

“Kau melamun?” tanya Jaejoong membuyarka lamunanku.

“Nde….” jawabku cepat.

Aku terburu-buru meninggalkannya ke kasir.

“Sudah ini saja. Semuanya 57.000 won” kata kasir.

“Ne” jawabku.

“Tambah ini yah” kata Jaejoong.

Dia menyorongkan sekotak coklat pada kasir dan membayarnya.

Kami terdiam dalam perjalanan ke rumah.

“Untukmu” katanya dan menyerahkan coklat itu padaku.

“Gomawo” jawabku.

“Eh…. Bagaimana kalau kita jajan saja. Kau mau makan bulgogi tidak? Aku tadi lihat kedai tidak jauh dari rumah. Tak perlu masak karena yakin kau sudah lelah. Aku yang traktir” kata Jaejoong lagi.

Aku mengangguk.

Sepertinya dia tak terlalu jahat

Kami bercerita banyak hal selama menikmati bulgogi. Dia aigoo dan kacau juga. Meski tak terlalu pintar bercanda dia cukup enak diajak ngobrol, ekspresinya juga lucu. Sumpah dia sangat aneh saat menunjukkan ekspresi menggunakan bibir yang dimajukan. Hahaha……

Dia berbisik kepadaku.

“Semua untuk keperluan WGM. Ingat itu baik-baik”

Tidak jadi aku menganggap kau orang baik. Menyesal aku berpikir demikian.

Jaejoong POV
Kegiatan kami yang disiarkan hanya sampai kami selesai makan bulgogi dan tiba di rumah. Selanjutnya sudah terpisah dari acara.

“Selamat malam” kataku pada Haengjin yang menuju kamarnya.

“Selamat malam” balasnya.

Aku memasuki kamar dan ternyata OMG…. Belum ditata hanya ada ranjang dan bantal baru. Barang perabot juga masih ditutp kain. Terpaksa aku bersih-bersih dan baru tidur.

Aku menyukai tiap momen yang kami lalui. Bagaimana dengan Haengjin yah?

Haengjin POV
Ampun…. Kamar ini masih belum diapa-apakan. Aku harus memasang bed cover dan semua sendiri?

Pekerjaan rumah tangga adalah semua hal dimana aku mendapatkan nilai E. TOT

Eumma, appa, Ryo, Yunhwa, Soojin….. Bantu aku hix..hix..hix

Yah, bodoh dah yang jelas tidur dulu.

Besok shooting WGM hari kedua libur. Hari pertama kenapa seperti memburu jadwal baru bertemu dan berputar-putar pasangan, kami langsung masuk rumah baru.

C-Jes gila…. Harusnya aku bisa pulang kan malam ini? Kenapa aku dan Jaejoong menerima pesan ancaman macam itu.
Park Haengjin, Kim Jaejoong hari ini kalian dapat rumah dan harus tidur disana meski shooting hari kedua belum ditentukan. Disana nanti juga akan ada orang C-Jes yang mengawasi kalian. Kim Jaejoong besok kau ada jadwal latihan JYJ, Park Haengjin sekarang kau berada dalam manajemen C-Jes dan menjadi artis kami. Satu lagi tidak bersedia, kami siap menerima uang ganti rugi.

CEO C-Jes

Pagi-pagi manager datang ke tempat kami. Saat itu aku dan Haengjin masih sarapan ala kadarnya roti oles selai di pagi buta.
Yunhwa datang dan membawakan seragam sekolah Haengjin.

“Ini seragammu. Cepat ganti sana. Aku antar ke sekolah. Ohya, bukumu apa kau bawa kesini saja?” tanya Yunhwa.

“Bingung, oppa. Shooting WGM juga tidak tiap hari kan?” kata Haengjin dan berlari ke kamarnya.

“Jaejoong kalian akan mengadakan sesi wedding secepatnya. Preweddingnya akan dilaksanakan di Jeju dan wedding sendiri akan diadakan di Thailand” kata manager.

Aku menyemburkan kopi yang aku minum.

“Mwoo??? “ Aku kaget bukan kepalang.

Haengjin keluar kamar dan wowh…….

Pandanganku beralih padanya. Tubuh tinggi dibalut seragam SMA membuatnya sangat manis dan terlihat seperti boneka.

“Ayo, oppa kita berangkat. Tak mau aku terlambat. Jaejoong-shi, manager kami pamit dulu yah” kata Haengjin dan mencomot rotinya.

Yunhwa membungkuk pamit dan mengejar Haengjin.

Kembali ke manager. Aku belum mengerti kenapa semuanya terkesan cepat.

“Cepat sekali. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya” sergahku.

“Sudah. Sekarang ini pemberitahuan kan?” jawab manager santai.

Aiiissshhh….. Pemaksaan

Haengjin POV

Suasana sekolah menjadi menakutkan. Banyak yeoja yang menatapku sinis.

“Cih… Model yah? Baru juga kembali ke Korea sudah mau ambil semua”

“Bagaimana bisa pasangannya Kim Jaejoong JYJ? Tidak cocok”

Aku mempercepat langkahku. Bagaimanapun aku juga punya perasaan.

Siapa juga yang mau sama ahjushi itu jika tidak ada ancaman sialan itu.

Jaejoong POV

“Kemana Yoochun? Kok setelah latihan pagi, dia menghilang?” tanya Jaejoong pada Junsu.

“Pemotretan” jawab Junsu singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari drama panggung yang ditontonnya.

Pemotretan??? Sendiri??? Tumben. Biasanya brand selalu meminta kami bertiga bukan satu atau dua.

“Pemotretan apa?” tanyaku.

“Lihat saja di studio sebelah” kata Junsu.

“Kau tak mau ikut?” tanyaku.

“Malas ah… Lihat saja sendiri” kata Junsu.

Jaejoong mengendikkan bahu dan menuju tempat pemotretan Yoochun yang kata Junsu di sebelah, tapi ternyata di sebelah mana tidak jelas.

Lama dia memutari ruang di lantai itu sampai matanya menangkap bayangan seseorang.

Kenapa dia ada disini?

“Mau yang rasa coklat atau strawberry” tawar Yoochun.

“This one” jawab Haengjin dan mengambil es krim strawberry dari tangan Yoochun.

“What do you feel? You like our photograph session?” tanya Yoochun.

“Yeah, I like it” jawab Haengjin sambil menjilati es krimnya.

Yoochun mengacak rambut Haengjin.

“Oppa, don’t do that. Look my hairstyle” Haengjin menggembungkan pipinya.

Yoochun terkekeh.

“Hei, at first I guess you hate me” kata Yoochun seolah menerawang.

“Why?” katanya lagi.

“Owh… No, I don’t feel like that. Yeah actually at first ehm you’re really … ehm”

“Really what?” Yoochun penasaran.

“Nothing” Haengjin memasang tampang innocent dan membuat Yoochun gemas. Yoochun mencubit pipi Haengjin.

“Hei… kalian berdua saatnya sesi pemotretan berikutnya” kata seorang crew menghampiri mereka.

“Ne” jawab Haengjin dan Yoochun bersamaan, membuat mereka tertawa sedetik kemudian.

Mereka tidak sadar sedari tadi sepasang mata memperhatikan mereka. Jaejoong merasa ada yang aneh yang menyergap hatinya. Dia ingin sekali berteriak melihat mereka berdua tadi.

Junsu POV

Jaejoong kembali dengan muka yang sangat sulit diartikan. Terlihat marah dan entahlah apa itu. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengacak rambutnya.

Super aneh…. Ini orang kenapa lagi?

“Sudah ketemu Yoochun?” tanyaku mendekatinya.

Dia tak berbalik dan justru membenamkan mukanya di bantal.

“Kenapa tak bilang pasangan Yoochun itu Haengjin?” tanya Jaejoong.

“Pasangan pemotretan maksudmu?” tanyaku.

Jaejoong duduk dan mengangguk.

“Oh… aku pikir kau sudah tahu. Kalian kan pasangan di WGM jadi yah soal kegiatan kalian sudah saling berbagi” jawabku.
Jaejoong mendengus dan keluar ruangan.

“Mau kemana?” tanyaku.

“Mendinginkan otakku” teriaknya.

Aneh…. Dia cemburu gara-gara sesi pemotretan? Aneh…

Haengjin POV

Yunhwa ada urusan dengan pacarnya. Jadi, aku terpaksa harus pulang sendiri. Lama aku menunggu di halte, tapi tak ada bus yang lewat.

Sebuah mobil berhenti di depanku. Tak terlalu jelas aku melihat pemudinya karena lampu sorot mobilnya yang terang.

Tiinnn…Tiiinn..Tiiinnn….

Dia membunyikan klakson. Aku bingung maksudnya dan aku putuskan memarahinya.

“Hei… Kau buka kacanya. Enak saja main klak……….”

Di dalamnya aku lihat Jaejoong yang dengan santai membuka pintu mobilnya.

“Masuklah. Aku antar kau pulang” kata Jaejoong.

Sebenarnya aku enggan masuk dan memilih menunggu bus.

“Jangan buat aku jadi nampyeon yang terlihat jahat. Anggap saja sekarang WGM” kata Jaejoong lagi.

Hufth…. Aku menarik nafas panjang.

Jika sampai dia mengadu pada C-Jes, tamatlah riwayatku. Sabar Haengjin, sabar.

Selama di perjalanan kami terdiam. Tak ada bahasan menarik, Jaejoong konsentrasi menyetir dan mendengarkan lagu dari i-podnya.

Iri….. I-podku. Huwaaa… Ryo…..

“Hei, aku punya lagu bagus. Mau ikut mendengarkan?” tanya Jaejoong. Aku sedikit bingung, dia memberikan i-podnya padaku.

“Maksudnya?”

“Aku punya i-pod lain. Itu untukmu, kau akan mendengarkan lagu yang sama dengan yang aku dengarkan” kata Jaejoong.

Aku terdiam dan berusaha mencerna kalimatnya.

“Ngomong-ngomong bagaimana pemotretanmu hari ini?” tanya Jaejoong.

Terlonjak kaget darimana dia tahu aku ada pemotretan hari ini.

“Ehm… Baik saja” jawabku.

“Bukankah kau menikmati setiap momen baik di dalam maupun di luar pemotretan. Menyenangkan bukan bersama Yoochun?” tanya Jaejoong.

Bola mata Haengjin membulat.

Jaejoong POV

“Bukankah kau menikmati setiap momen baik di dalam maupun di luar pemotretan. Menyenangkan bukan bersama Yoochun?”

Apa yang aku ucapkan? Kenapa nada bicaraku seolah menginterogasinya.

“Apa maksudmu hah?” tanya Haengjin.

“Tak usah berpura-pura nona. Kau tahu maksudku” kataku tajam.

“Bukan urusanmu” teriak Haengjin.

Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan dan menyeretnya keluar.

“KAU ITU ANAEKU. MESKI BOHONGAN AKU HARAP KAU TAHU” teriakku.

“Anae apa hah? Anae di WGM. Hei…. Wedding bohongan saja belum. Kau sudah berani mengaturku” teriak Haengjin.

Aiiishhhh…… Aku kehilangan kesabaran.

Aku langsung memasuki mobil dan meninggalkannya di jalan.

Daripada melampiaskan kemarahan tak jelas lebih baik aku pergi.

Haengjin POV

Sialan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Nampyeon macam apa kau? Apanya agar tak dianggap nampyeon jahat? Kau memang jahat Kim Jaejoong. Awas kau!!!!

Untung masih ada handphone. Baru aku mau menghubungi Yunhwa pakai acara baterai habis lagi.

Sialan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Jaejoong POV

“Yoboseyo”

“Yoboseyo, Jaejoong. Aku tadi lihat kau mengantar Haengjin. Bagaimana kalian sedang apa berdua?” tanya Junsu terkekeh.

Yoochun… Kenapa kau kembali?

Aku lupa kunci mobilku. Hehehe….

Sebal mendengar suara Yoochun kali ini.

“Semoga sukses yah” kata Junsu.

“Sukses? Sukses menurunkannya di jalan. Itu benar” kataku.

“Apa?” teriak Junsu.

“Aku menurunkannya di jalan. Puas” kataku.

“Kau menurunkan Haengjin di jalan?” teriak Junsu.

Apa kau bilang Junsu? Berikan handphonemu.

“Kau turunkan Haengjin di jalan. Kembali kesana jemput Haengjin” teriak Yoochun.

“Tak mau. Tidak ada gunanya menjemput wanitamu” kataku kasar.

“Kau….” telpon kututup. Malas aku mendengar Yoochun bicara.

Junsu POV

“Hyung, tadi Jaejoong bilang apa?” tanyaku khawatir.

Yoochun tak menjawab pertanyaanku dan langsung menyambar kunci mobilnya.

“Kau mau kemana?” tanyaku.

“Men jemput Haengjin setelah itu menghajar Jaejoong” kata Yoochun.

Junsu terlihat menelan ludah.

“Hyung, tunggu aku rasa sebaiknya….”

“Sebaiknya apa? Dia sudah kurang ajar seperti itu. Kau tadi dengar sendiri kan? Dia bilang Haengjin wanitaku biar aku jadikan dia wanitaku sekalian” Yoochun terlihat sangat marah.

Glleeekkkk…. Kenapa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Haengjin POV
Jalan benar-benar gelap, aku tak tahu ini dimana. Aku benar-benar takut sekarang.
Aku hanya bisa memeluk lututku. Malam dingin menusuk sedangkan aku bahkan tak membawa jaket. Aku harap ada orang yang menolongku.
Lama aku berdiam, tubuhku sudah lelah karena pemotretan seharian.
Jaejoong… Kau jahat….. Kau benar-benar jahat
Jaejoong POV
Aku sudah masuk rumah dan meminum susu coklat hangat. Menyalakan televise dan menikmati berita malam. Tiba-tiba hujan mengguyur, aku melihat lewat jendela. Hujannya sangat deras. Aku teringat Haengjin yang aku tinggalkan di jalan.

Aku menyambar kunci mobil dan berlari keluar.

Ku kemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.

Yoochun POV

Aku dan Junsu menyusuri jalan yang dibasahi hujan. Kami berdua sekarang benar-benar khawatir karena belum menemukan Haengjin.

“Hyung, berhenti sepertinya itu Haengjin” tunjuk Junsu pada seseorang yang meringkuk memeluk lututnya di tengah guyuran hujan.
Aku menghentikan mobilku tepat disisinya. Kami berdua turun di tengah guyuran hujan.

Saat kami berdiri di depannya dia menengadahkan wajah. Wajahnya benar-benar pucat. Kami membantunya berdiri, tapi…

Brruuugghhhh…..

Jaejoong POV

Saat aku tiba disana aku melihat Junsu dan Yoochun membopong seseorang.

Haengjin….. Dia pingsan?

Aku turun dan menuju mereka berdua.

Yoochun yang melihatku memukul wajahku.

“Hei… kau ingin membunuhnya ya?” teriak Yoochun.

Aku tersungkur karena pukulannya yang keras.

“Hentikan. Sekarang kita harus membawanya ke rumah sakit. Dia menggigil hebat” kata Junsu.

Yoochun segera memasuki mobil dan meninggalkanku yang masih diam terpaku di jalan.

Maaf… Maaf… Ini salahku. Andai saja aku tak meninggalkanmu di jalan. Maafkan aku

Can you forgive me again?
I don’t know what I said
But I didn’t mean to hurt you

I heard the words come out
I felt that I would die
It hurt so much to hurt you

Then you look at me
You’re not shouting anymore
You’re silently broken

I’d give anything now
to kill those words for you

Each time I say something I regret I cry “I don’t want to lose you.”
But somehow I know that you will never leave me, yeah.

‘Cause you were made for me
Somehow I’ll make you see
How happy you make me

I can’t live this life
Without you by my side
I need you to survive

So stay with me
You look in my eyes and I’m screaming inside that I’m sorry.

And you forgive me again
You’re my one true friend
And I never meant to hurt you

%d bloggers like this: