Author Archives: Hotaru

From Hearts {Meeting With Destiny} (Part 1)

Alih2 nge stuck saya rilis ff lagi xDD cast nya sama disini.. si Yoochun sebagai tokoh utama ^^

Happy reading~ ^o^

..::o::..

Title : From Hearts (Meeting With Destiny)

Author : Hota

Cast : Park Hanni (OC), Park Yoochun (TVXQ’s Micky), Kim Jaejoong (TVXQ’s Hero), Hwang Miyoung (SNSD’s Tifanny).

Other Cast : cari ndiri -_____-“

Type : Straight

Genre : Romance, Drama, Sad, Angst

Rating : PG-15

Length : 1/?

OST : TVXQ – Love Is, Yiruma – Do You?

Warn : Typo(s), Miss typo(s), EYD salah mulu, kagak rapi,plot gaje, ide cerita ngawur, serba gaje pokoknye.. Ini asli karangan dari imajinasi aye.. siap2 yang bilang aye plagiat ato ngeplagiatin masuk neraka.. =_=

NB : oh ya, ini dilengkapi beberapa soundtrack biar dapet feelnya.. xDD kalo yg belum punya cari aja digoogle pasti dapet kok xD tapi, sebenarnya aku gak begitu ngerti makna lagu nya apa.. Cuma ngikutin musiknya aja soalnya menurutku cocok xD #nyemplung sumur

..::o::..

Seorang pria tengah berdiri di samping sebuah pusara yang terlihat masih baru. Langit cerah yang membumbung tinggi di atasnya seakan menjadi hal yang berbalik mengenai perasaan di hati pria itu. Angin kecil membelai pipinya, mencoba untuk menghiburnya dari keterpurukan yang dialami olehnya. Hatinya yang hancur dan jiwanya yang terasa kosong… itulah yang terjadi jauh dalam dirinya.

Kehidupannya mulai berangsur-angsur terasa hampa.. Membuatnya seakan hidup di dalam kematiannya. Raganya hidup, tetapi hati dan jiwanya sudah mati.

Mata bening pria itu.. Menggenang banyak air mata yang begitu menyakitkan. Ingin ia menumpahkan semuanya. Ini semua begitu berat untuknya. Bisakah kau merasakan betapa sakitnya jika kau harus ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kau cintai?

Dengan rasa sedih dari puing-puing hatinya yang sudah remuk itu,ia berlutut. Kakinya begitu lemas, bahkan hanya untuk menahan beban tubuhnya sendiri. Tangannya menggenggam tanah pusara itu. matanya berkaca-kaca. Dan tak lama..

Tes..

Air mata itu mengalir dari pipinya. Membasahi sebuah titik dari pusara itu. Ia menangis…

“Hanni-ya…” pria itu mengucapkan sebuah nama ditengah isaknya yang memilukan. Pria itu.. adalah Park Yoochun. Yang kini merupakan salah satu pria termalang. “Park Hanni…” ia tetap menangis. Kepalanya menunduk karena merasa begitu terpukul. Nyaris bibirnya menyentuh pusara itu.

Jauh di dalam pikirannya, ia kembali memutar masa lalu yang sudah dirajutnya dalam memori. Memori itu manis, tetapi menyakitkan. Memori yang berhasil ia ciptakan dengan wanita itu. Wanita yang bernama Park Hanni. Park Hanni yang sangat dicintai oleh Yoochun, namun ia sudah pergi meninggalkan Yoochun ditengah-tengah kesepiannya…

(Ini ceritanya kayak flashback gitu yah.. okeh? xD)

::Flashback ON::

..::o::..

(“TVXQ – Love Is” playing..)

Seorang gadis tengah berlari secepat yang ia bisa menyusuri trotoar Gang-hwamun yang tampak ramai di pagi menjelang siang itu. Langkahnya yang begitu cepat pun tak urung menabrak beberapa orang yang berada di sekelilingnya ketika ia berlari.

“Ah, jeongmal choseonghamnida.. jeongmal choseonghamnida..” gadis itu berkata demikian sambil membungkukkan badan nya beberapa kali ketika ia sudah menabrak beberapa pejalan kaki saat ia tengah berlari. Dan setelah berkata demikian, ia pun kembali melanjutkan langkah larinya.

Ia pun masih berlari dengan kencang ketika ia hendak menyebrangi zebra cross di tengah jalan. Tanpa memperhatikan lampu jalan untuk para pejalan kaki, gadis itu langsung saja melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan. Yeah, ini semua terpaksa ia lakukan karena ia merasa begitu terburu-buru.

Gadis itu pun melangkahkan kakinya dengan cepat menyebrangi zebra cross itu, tetapi tiba-tiba saja..

Ciitt…!!

“Hyaaa~!!” gadis itu langsung berteriak dan berjongkok di aspal seketika saat menyadari ada sebuah mobil yang hampir menabraknya. Dalam posisi jongkoknya, ia memejamkan matanya sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia begitu takut dan refleks saja berjongkok.

Mobil yang hampir menabraknya itu pun berhenti mendadak tepat di depan gadis yang masih memejamkan matanya dengan takut itu. Bibir gadis itu bergetar. Sedikit memanjatkan doa sembari berbisik agar Tuhan mau memberikannya kesempatan untuk hidup.

Dari mobil itu, terdengar suara pintu mobil yang terbuka oleh sang pengemudi. Pengemudi yang rupanya seorang pria berjas dokter itu menghampiri gadis yang hampir ditabraknya. Dengan perasaan yang cukup kesal, pria itu berdiri tepat di samping gadis itu.

“Hei, nona! Bangunlah! Aku tidak menabrakmu!”ujar pria itu pada si gadis.

Pria yang bernama Park Yoochun itu mendengus kesal karena gadis yang ditegurnya itu tidak mau bangkit dari posisinya yang masih berjongkok ketakutan. Park Hanni, nama gadis itu, masih belum mau menggubris Yoochun karena masih terlalu ketakutan.

Yoochun berdecak. Ia pun berjongkok dan menepuk pundak Hanni. Ketika Yoochun mendekatkan tubuhnya pada Hanni, ia mendengar bahwa gadis itu tengah memanjatkan doa-doa dengan begitu khusyuk, “Nona, kau tidak mati. Kau masih hidup. Jadi, tenanglah..” Yoochun berkata demikian sambil menepuk pundak Hanni bermaksud untuk menyadarkan gadis itu atas keberadaannya.

Mendengar suara Yoochun, Hanni membuka matanya. Ia memutar kepalanya menghadap Yoochun hingga matanya menangkap sosok tampan itu. Tetapi, Hanni malah memasang raut wajah kesal pada Yoochun. Alisnya menukik dan mempout-kan bibirnya. Hanni bangkit berdiri dari posisinya. Ditatapnya pria itu, Park Yoochun, dengan pandangan marah.

“Hei, kau! Kau mau membunuhku yah?!” Hanni membentak sambil mengepalkan tangannya. Matanya memandang Yoochun berkilat-kilat tajam.

Yoochun menghela nafasnya. Begitu jengah bila harus menghadapi gadis yang sepertinya merepotkan ini. “Kau yang menyebrang sendiri tanpa memperhatikan lampu untuk pejalan kaki,”balas Yoochun datar.

Hanni terdiam sebentar. Matanya menerawang lurus ketika ia sedang memikirkan satu hal. Oh ya, tadi ia sedang terburu-buru. Ya ampun! Sekarang sudah jam berapa?! Hanni semakin terlambat dan itu membuatnya semakin panik. Ia sungguh tidak mau bila ia harus dimarahi oleh boss nya karena datang terlambat saat bekerja.

“Omona! Aku harus pergi sekarang! Jeongmal choseonghamnida! Sampai jumpa!” Hanni berkata demikian seraya membungkukkan badannya pada Yoochun. Sejurus kemudian ia pun kembali melanjutkan larinya dengan kecepatan yang melebihi sebelumnya.

Menyadari bahwa Hanni kini tengah berlari meninggalkannya, Yoochun menghela nafas. Ditatapnya punggung gadis itu yang semakin menjauh darinya. Dengan mata yang masih mengikuti gerak-gerik gadis itu yang masih berlari, Yoochun mengulas senyuman kecut dibibirnya.

‘Pagi-pagi begini sudah mengalami kesialan..’

Dan ia pun melangkah menuju pintu mobilnya dan kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat yang menjadi tujuannya sejak tadi…

..::o::..

*Hanni POV*

Aku membuka pintu toko bunga yang merupakan tempat kerjaku dengan terburu-buru karena aku datang dengan waktu yang sangat terlambat. Ya Tuhann.. sudah pukul berapa ini? sudah tahu aku mendapat shift pagi pukul delapan, tapi mengapa aku datang pukul sepuluh?! Aish.. Park Hanni babo!

Dan ketika membuka pintu toko, kulihat bossku sudah berdiri di dalam toko sambil menatapku tajam. Tangannya ia lipat didada dan raut wajahnya dengan sangar tertunjuk padaku. Aku menelan ludahku gugup. Oh tidak.. aku akan kena omel.

Dengan langkah ragu, aku pun maju beberapa langkah ke arah bossku. “Maafkan aku, boss.. tadi ada masalah di jalan..”ujarku takut-takut sambil membungkukkan badanku pada boss. Mengingat tadi aku memang ada masalah dengan seorang pria di jalan yang tidak kuketahui siapa namanya. Tapi, alasan yang sebenarnya karena aku sibuk mencari lowongan pekerjaan hingga larut malam diinternet.

Tetapi, tiba-tiba saja..

Bletakk!

Aku meringis kesakitan setelah mendapat jitakan keras dikepalaku dari boss. Aku pun mengangkat kepalaku sambil mengelus kepalaku karena kesakitan. Gigiku merapat untuk menahan rasa sakitnya.

“Kau selalu saja membuat alasan! Apa yang membuatmu terlambat?! Sudah beberapa hari ini kau terlambat dan kau selalu membuat alasan yang sama!”amuk bossku.

Aku berdecak, “Aish.. aku memang ada masalah tadi dengan seseorang di jalan. Kali ini aku serius,” aku cemberut.

Bossku menghela nafas. Sepertinya lelah karena aku memang tidak mau mengalah jika harus berdebat. “Ya sudah, kau bekerja lah sekarang. Cepat sana kau gunting dahan bunga yang sudah jelek agar pembeli tetap mau datang!”pintanya dan kemudian pergi meninggalkanku.

“Baik, boss..”jawabku dan langsung pergi ke toilet untuk mengganti pakaianku dengan seragam toko bunga ini.

Yeah, begini lah aku.. aku memang bekerja di toko bunga empat bulan belakangan ini. Aku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupku.. dan juga kakak perempuanku. Kini, aku butuh uang untuk perawatannya di rumah sakit. Beberapa bulan ini, ia memang dirawat di rumah sakit karena koma akibat kecelakaan yang ia alami. Eonni hanyalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku tidak peduli seberapa mahalnya tagihan rumah sakit untuk merawat Eonni, tetapi aku harus tetap bertahan. Aku akan terus mencari uang dan kemudian Eonni bisa kembali sadar dan menemaniku. Aku sudah lelah hidup sendiri selama ini.

Sebelum Eonni dirawat, kehidupan kami lancar-lancar saja karena Eonni juga bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan. Tetapi, itu semua menjadi sulit ketika perusahaan itu bangkrut dan kemudian Eonni mengalami kecelakaan. Dan begitulah.. hidup ini begitu sulit. Hanya semangat yang paling berharga dan terdapat dalam diriku.

Oleh sebab itu, aku akan terus melakukan hal yang terbaik untuk bertahan hidup.

..::o::..

*Author POV*

Yoochun memasuki ruangannya yang kini sudah ada seorang wanita yang duduk di salah satu kursi ruangannya. Yoochun mendapati wanita itu kini tengah berdiri dan tersenyum padanya.  Wanita cantik dengan pakaian modis dengan rambut panjang cokelat bergelombang. Yoochun menutup pintu. Ditatapnya wanita itu dengan pandangan datar.

“Pagi, Yoochun-ah..”sapa wanita itu dan melangkah mendekati Yoochun.

Yoochun menghela nafas menyadari keberadaan wanita itu. Dan ketika tangan wanita itu terjulur untuk merapihkan jas dokter yang dikenakan Yoochun, Yoochun menghindar dan menjauhi wanita itu. Yoochun duduk di kursinya tanpa berkata apapun atau menganggap wanita itu ada.

Wanita itu tersenyum getir menyadari penolakan Yoochun. Ia sempat hampir putus asa ketika menyadari betapa dinginnya sikap Yoochun kepadanya. Wanita itu adalah Hwang Miyoung. Seorang gadis cantik yang merupakan tunangan Yoochun. Wanita itu bekerja sebagai pemilik sebuah boutiq terkenal di Seoul. Seorang gadis kaya dan penuh prestasi dengan segala usaha mengembangkan bisnisnya itu. Tetapi, entah mengapa seluruh kelebihan Miyoung tidak dapat mengambil hati Yoochun yang dingin seperti bongkahan es itu? Miyoung mencintai Yoochun, meski pria itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Bagi pria itu, perjodohan yang dilakukan oleh pihak orangtua nya dan pihak orangtua Miyoung adalah beban untuk Yoochun. Tetapi, dibalik semua itu Miyoung bersyukur atas perjodohan ini. Ini semakin membuka jalan Miyoung untuk memiliki Yoochun. Tentu saja karena Miyoung memang sudah jatuh cinta pada Yoochun.

“Yoochun-ah, lihat. Aku membawa makanan untukmu. Apa kau mau?” Miyoung menawarkan sebuah kotak bekal pada Yoochun sambil mengulum senyuman diwajahnya.

Yoochun yang saat itu tengah membaca dokumen tentang pasiennya menghela nafas bosan. Ia sangat malas jika harus menghadapi wanita yang tidak disukainya ini. “Letakkan saja diatas meja, nanti aku akan memakannya. Sekarang kau keluarlah dari ruanganku. Praktekku akan segera dimulai..”

..::o::..

(“Yiruma – Do You?” playing..)

Hanni berdiri diambang pintu sebuah kamar dirumah sakit ketika ia membuka pintunya. Dengan perlahan, tangannya bergerak untuk menutup pintu itu. Langkah kecilnya mengantar tubuh itu menuju ranjang yang tergolek sebuah tubuh wanita yang begitu lemah dan tidak berdaya. Wanita yang kini tengah koma dalam keadaan yang menyedihkan.

Hanni duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang. Ia tersenyum saat melihat wajah Eonni nya yang masih terlihat cantik meski tampak pucat dan matanya yang menutup sempurna. Suara mesin rumah sakit yang memeriksa denyut jantung Eonni nya yang lemah terdengar jelas ditelinga Hanni.

Tangan Hanni bergerak menggenggam tangan Eonni nya yang terulur begitu saja. Hanni menggenggam tangan wanita itu penuh dengan kehangatan dan penuh kasih sayang. Melawan rasa dingin yang menyelimuti tangan kurus Eonninya itu.

“Janrang Eonni..” Hanni membisikkan nama Eonninya itu. Yeah, Park Janrang. Itulah nama wanita cantik yang menjadi kakak perempuan Hanni itu. Wanita yang kini tengah terbujur koma, berada diambang kehidupan atau kematian.

“Kau bertahanlah.. aku akan selalu berjuang untuk Eonni. Sampai kapanpun aku akan terus berjuang..” Tak terasa gadis itu mulai menititkkan air matanya. Ia mengucapkan kata yang begitu tulus yang keluar dari dalam hatinya. “Oleh sebab itu, ayolah Eonni. Buka mata mu.. aku ingin melihat Eonni tersenyum lagi. Meskipun itu hanya sebentar, aku benar-benar ingin melihatnya,” Hanni benar-benar menangis sekarang. Tak kuasa menahan beban yang ia coba untuk memikulnya selama ini.

Tetapi tiba-tiba, pintu ruangan itu dibuka dari luar tanpa sepengetahuan Hanni. Hanni terkejut ketika menyadari seseorang telah membuka pintu ruangan itu dengan cukup kasar. Ditatapnya seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu dan tengah menatap Hanni. Hanni buru-buru menghapus air matanya dan bergerak mendekati pria itu. Pria yang cukup tampan, meski sekilas tampak cantik, dengan rambut cokelat almond itu membalas tatapan Hanni.

“Maaf, anda mencari siapa?”tanya Hanni sambil memandang pria itu bingung.

Pria itu terlihat canggung sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Eungg, maaf.. Apakah ini kamar nomor 67?”tanya pria itu pada Hanni.

Hanni mengerutkan keningnya, “Ini kamar nomor 54,”Hanni menunjuk sebuah papan nomor yang tergantung di pintu.

Lantas pria itu membuka mulutnya terkejut. Ia berdecak dan bergumam sendiri mengutuk dirinya karena kebodohan sendiri. “Ah, jeongmal choseonghamnida. Aku terburu-buru jadi tidak sempat melihat papan nomornya. Maafkan aku..” pria itu membungkuk penuh dengan rasa bersalah pada Hanni. Pria itu pun mengulas senyuman manis sebelum ia pergi meninggalkan Hanni yang masih berdiri di ambang pintu.

Hanni masih tetap berdiri di tempatnya sambil menatap pria itu yang kini berjalan cepat meninggalkannya. Sepertinya ia memang tampak terburu-buru.

Tetapi, ketika mata bening Hanni menatap pria itu, ia menggumam kecil. “Pria itu.. sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana, ya? Di TV? Ah, tidak mungkin..”

..::o::..

Jaejoong menolehkan kepalanya kearah samping kanan dan kiri mencari kamar bertuliskan nomor 67 di pintunya. Di dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya karena tadi sempat salah memasuki sebuah ruang inap yang bukan tujuannya. Jaejoong merasa malu ketika menyadari bahwa ada seorang wanita disitu yang mengetahui kebodohannya.

“Aish, bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu, Kim Jaejoong?!”

Jaejoong memaki dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa malu. Hingga akhirnya, mata besar pria itu menangkap sebuah pintu yang berpapan angka 67. Ia tersenyum puas ketika sudah menemukan pintu yang sudah dicarinya. Tangannya terjulur membuka kenop pintu.

Dan ketika pintu terbuka dan sosoknya muncul diambang pintu, dua manusia yang berada di dalam ruangan itu langsung mengalihkan pandangan seutuhnya pada Jaejoong.

Jaejoong tersenyum pada beberapa orang itu, tetapi senyumannya langsung memudar ketika melihat seorang pria yang sebaya dengannya tengah dalam posisi tertidur. Pria yang dilihat Jaejoong itu penuh dengan perban ditubuhnya dan kakinya serta tangannya yang patah itu memakai gips. Jaejoong berdecak ketika melihat kondisi pria yang dipandangnya itu. Berdecak antara kasihan dan kesal.

“Jaejoong-ah, kau kemari?” seorang rekan kerja menegur Jaejoong.

Tetapi, Jaejoong tidak menggubrisnya dan melangkah cepat kearah pria yang tengah tergolek di atas ranjang. “Ya, Kim Junsu! Bagaimana bisa keadaanmu jadi begini?! Sudah kubilang jika kau tidak mengikuti lombar bersepeda gunung itu kau akan baik-baik saja!” Jaejoong mengomel pada pria yang kini keadaannya cukup menyedihkan itu, yang bernama Kim Junsu.

Junsu yang melihat Jaejoong mengomel, mendecakkan lidahnya. Ia menatap Jaejoong dengan tatapan “dasar cerewet”. Junsu menatap Jaejoong kesal, “Ya, kau bisa sekali bicara seperti itu, hyung?! Aku ini kan adikmu!”

“Justru karena kau adikku, aku mengomelimu seperti ini! dasar dongsaeng bodoh! Bodoh!” tangan Jaejoong melayang diudara hendak menjitak kepala Junsu.

Junsu pun langsung memejamkan matanya mencoba untuk siap menerima jitakan Jaejoong. Tetapi, melihat Junsu dalam keadaan baru saja mengalami kecelakaan, Jaejoong membatalkan niatnya untuk menjitak Junsu. ia menurunkan kembali tangannya. Pria itu menghela nafas. Sebenarnya ia memang marah pada dongsaengnya itu, tetapi ia juga tidak tega. Bayangkan saja bagaimana perasaanmu ketika mengetahui adik kesayanganmu mengikuti lomba bersepeda gunung tergelincir jatuh dari puncak bukit hingga terguling-guling dan terbentur bebatuan..

Yeah, hal itu lah yang dialami Kim Junsu.

“Junsu-ya, kau benar-benar membuatku repot. Aku baru saja melakukan tur konser di luar negeri dan langsung buru-buru kembali ke Korea setelah mendengar keadaanmu begini..” Jaejoong kali ini berbicara dengan nada yang lebih lembut. Tidak tinggi seperti tadi.

Benar. Kim Jaejoong. Si penyanyi solo dan merupakan Hallyu Star yang kini tengah naik daun. Hero Jaejoong.. Siapa yang tidak tahu penyanyi terkenal yang satu itu? Pria tampan dan mempesona.. Semua wanita memujanya. Semua wanita tergila-gila dan terhipnotis atas dirinya. Sudah hampir satu dekade Jaejoong menjalani hidupnya sebagai penyanyi solo yang tenar. Dan tentu saja, Jaejoong menikmati semua itu..

Junsu yang mendengar perkataan Hyungnya itu memajukan bibirnya. Bibir tipis Junsu dengan berat mengeluarkan kata ; “Maaf, Hyung…” begitulah ucap Junsu dengan nada yang berat hati. Ia menyesal telah membuat Hyung nya yang super sibuk ini menjadi cemas karena nya. Seharusnya ia menuruti perkataan Jaejoong untuk tidak mengikuti perlombaan tersebut, karena bukit yang menjadi lokasi lomba sering dilanda kabut yang cukup tebal.

“Sudahlah. Semua sudah terjadi.. Aku akan meminta pada pihak rumah sakit untuk memindahkanmu ke ruang VIP,” Jaejoong berkata putus asa. Ia duduk di sebuah kursi yang berada di sisi ranjang Junsu. “Bagaimana keadaanmu? Kaki dan tangan kananmu patah, eoh? Ah, apa bisa cepat sembuh kalau parah begini? Kau sudah harus menjalani perusahaan Appa dua minggu lagi, Junsu,”ujar Jaejoong. Rasa khawatir terpancar jelas dari dalam matanya.

“Aish, maka dari itu doa kan aku cepat sembuh!” kesal Junsu. Jaejoong yang mendengar perkataan adiknya itu berdecak kecil. Ditatapnya tubuh Junsu yang penuh luka dengan pandangan tak tega. “Oh ya, hyung. Bagaimana kau bisa sampai disini?”tanya Junsu pada Jaejoong.

Jaejoong yang mendengar pertanyaan Junsu, merubah ekspresinya menjadi seakan-akan teringat akan sesuatu. Otaknya memutar kejadian dimana ia salah memasuki ruang inap. Dan disana, ia bertemu dengan seorang gadis yang tampak menderita. Tetapi, gadis itu membuatnya malu karena gadis itu tahu kebodohan yang sudah Jaejoong perbuat. Jaejoong yang tahu bagaimana raut wajah gadis itu ketika mengetahui kesalahan yang sudah Jaejoong perbuat, mengacak rambut sedikit frustasi. Tetapi, tiba-tiba saja ia teringat ketika ia sempat mendengar sebuah kalimat dari bibir gadis itu dari luar ruangan. Yeah, meskipun tidak begitu jelas, tetapi Jaejoong yakin itu lah kalimatnya..

“Kau bertahanlah.. aku akan selalu berjuang untuk Eonni. Sampai kapanpun aku akan terus berjuang..”

 

“Oleh sebab itu, ayolah Eonni. Buka mata mu.. aku ingin melihat Eonni tersenyum lagi. Meskipun itu hanya sebentar, aku benar-benar ingin melihatnya…”

 

Kalimat dengan nada tulus itu.. seakan menyetrum salah satu sudut hati Jaejoong. Nada yang begitu tulus dan lembut. Membuat Jaejoong merasakan sesuatu yang aneh, menyadari kalimat itu cukup berkesan menurutnya. Gadis yang penuh perjuangan. Gadis yang jauh dilubuk hatinya masih percaya akan keajaiban. Gadis yang begitu tulus.

Dan Jaejoong benar-benar yakin ketika ia sempat berbicara dengan gadis itu dan menatap matanya, terpancar bahwa hati gadis tersebut murni. Polos. Dan dipenuhi oleh ketulusan.

Sangat natural bila Jaejoong perlahan merasa bahwa gadis itu lucu. Masih ada saja gadis yang seperti itu jenisnya dizaman seperti ini. Dan tanpa disadari olehnya, salah satu sudut bibir nya terangkat. Membentuk sebuah senyuman kecil. Kini, pikirannya dikuasai sudah oleh gadis yang menurutnya lucu meski Jaejoong tak mengenalnya sama sekali.

Junsu yang rupanya tadi menyadari perubahan sikap Hyungnya itu mulai menatap Jaejoong aneh, “Hyung? Ya, Hyung! Kau kenapa tersenyum seperti itu? Apa yang kau pikirkan?” Junsu memberondongi Jaejoong dengan beberapa pertanyaan guna menyadarkan pria itu dari lamunan yang ia ciptakan.

Jaejoong tersentak menyadari Junsu yang memanggilnya. Dengan salah tingkah, Jaejoong menatap Junsu, dongsaengnya, dengan canggung, “Ah, ani.. aku hanya berpikir betapa suksesnya konser kemarin malam..” jawab Jaejoong sedikit berbohong.

Junsu dengan polosnya hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tanpa mengetahui bahwa ada seorang gadis yang berkelebatan dipikiran hyungnya, Kim Jaejoong. Benar.. Gadis itu..

Park Hanni.

..::o::..

*Hanni POV*

“Hanni Eonni,mengapa kau terlihat makin kurus sekarang? Apa karena kau terlalu lelah bekerja?”

Aku sedikit tersentak dengan pertanyaan seorang teman kerjaku yang tiba-tiba saja ia lontarkan ketika aku sedang fokus mengikat bunga yang menjadi salah satu bagian dari pekerjaanku.

Aku membalikkan tubuhku. Mataku memandang teman sekaligus sahabatku yang selalu menemaniku sejak aku bekerja di toko bunga ini. Yeah, meskipun aku beberapa tahun lebih tua darinya. “Aku tidak apa-apa, Jiyeon-ah..”jawabku sambil tersenyum pada gadis yang bernama Park Jiyeon ini. Ia adalah temanku yang juga bekerja di toko bunga ini. Ia adalah gadis yang baik dan cantik. Ia pun tak segan-segan mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya sendiri. Hmm, bukankah ia adalah gadis yang mandiri?

“Kau semakin kurus, Eonni. Berapa berat badanmu sekarang? beberapa waktu yang lalu aku melihatmu tidak sekurus ini. Dan lagi, kulihat wajahmu juga sering pucat. Apa kau baik-baik saja, Eonni?” tanya Jiyeon lagi. Kali ini nadanya jelas terdengar khawatir ditelingaku. “Pergilah ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatanmu, Eonni..”

Tetapi, aku malah tersenyum. Membuatnya untuk tidak terlalu memikirkanku dan bersikap baik-baik saja. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Jiyeon-ah. Ayo, kita kembali bekerja!”kataku pada Jiyeon.

Jiyeon yang sepertinya mulai yakin bahwa aku baik-baik saja hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Gadis itu pun kembali melakoni pekerjaannya, begitu pun juga diriku. Tetapi, diam-diam aku bertanya dalam hati.

‘Apakah aku semakin kurus? Wajahku juga sering pucat katanya.. Aish, adakah sesuatu yang aneh dalam diriku?’

..::o::..

Aku tengah berjalan mondar-mandir di salah satu rumah sakit kecil di kota Seoul. Aku bingung apakah aku harus memeriksa kesehatanku atau tidak sore ini. Aku menjadi kepikiran mengenai perkataan Jiyeon tadi siang.

“Hanni Eonni,mengapa kau terlihat makin kurus sekarang? Apa karena kau terlalu lelah bekerja?”

“Kau semakin kurus, Eonni. Berapa berat badanmu sekarang? beberapa waktu yang lalu aku melihatmu tidak sekurus ini. Dan lagi, kulihat wajahmu juga sering pucat. Apa kau baik-baik saja, Eonni?”

Kalimat Jiyeon kembali terngiang dikepalaku. Membuatku semakin tidak tenang dengan keadaan kesehatanku sendiri. Bagaimana jika aku benar-benar sakit? Bagaimana jika aku terserang penyakit mematikan? Jika aku sakit, lalu bagaimana aku bisa mengumpulkan uang? Aku harus mengumpulkan uang demi kehidupanku sendiri dan biaya rumah sakit Janrang Eonni. Apa yang harus aku lakukan bila itu benar-benar terjadi?

Terlebih lagi, aku pernah demam berkepanjangan beberapa waktu lalu. Aku juga sering nyeri dibagian tulang-tulang sendi. Apa ini gejala salah satu penyakit?

Pikiran buruk berhasil menguasai pikiranku ketika aku masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakit kecil ini. Aku benar-benar bingung dan kalut. Untuk memeriksa kesehatan saja aku harus pergi ke rumah sakit yang kecil karena takut biaya periksa akan lebih tinggi di rumah sakit pusat yang jauh lebih besar.

Aku menghela nafas. Terlalu bingung untuk apa yang harus aku lakukan sekarang. Hingga akhirnya, aku pun memutuskannya.. Lalu, kakiku pun bergerak masuk ke dalam rumah sakit itu untuk memeriksa kesehatanku… Yeah, ini lah keputusanku.

..::o::..

“Bagaimana keadaan saya, dokter?” tanyaku ketika aku sedang duduk dihadapan seorang Dokter yang sudah memeriksa ku tadi.

Kami duduk berhadap-hadapan dan sebuah meja menjadi pembatas diantara kami berdua. Dokter yang dipanggil Dokter Han ini, kini sudah menggenggami beberapa lembar hasil check-up ku tadi. Hal ini semakin membuatku penasaran karena Dokter Han belum menunjukkan hasil check-up nya padaku.

Dokter Han menatap kertas-kertas yang berada digenggamannya itu sekilas. Sampai akhirnya, ia menatapku. “Nona Park, jika kau ingin melakukan pengobatan dan pemeriksaan lebih lanjut, ku anjurkan untuk mendatangi rumah sakit pusat..” nada Dokter Han terdengar sedih.

Ah? Apa artinya ini? Apa jangan-jangan…

Dokter Han menghela nafasnya panjang. Jarinya bergerak membenahi posisi kacamata yang menggantung dihidungnya. Sampai akhirnya, mata Dokter Han pun kembali menatapku. Hendak melanjutkan kalimatnya…

“Kemungkinan besar.. Kau terserang penyakit leukemia, Nona Park..”

..::TBC::..

Wkwkwkwkw~ sudah aku duga pasti Chap 1 bakal jadi awal mula ff yang aneh xD
bahkan, dari chap pertama aja udah ketahuan kalo si Hanni akhirnya mati. Wkwkwkw.. saia cinta ff angst xDD nyahahaha~ #ketawa nista bareng changmin
Ini non edit lho.. langsung aku publish seketika pas udah selesai.. jadi maap kalo ada typo atau EYD salah2.. kata ketinggalan atau gimana.. #nyengir
Yang baca jangan ragu2 untuk komen dan like ya? aku bakal publish chap 2 paling lambat minggu depan.. ^___^

No bash please~ 😀

Gomawo ^^

 

After A Long Time Has Passed (Oneshot FF)

Annyeong!!! Hota balik lagi dengan epep oneshot gajee… seperti biasa ni ff ancur bin gaje.. banyak banget kekurangan dan kesalahan yg author perbuat disini… tapi mohon komen ya.. huwahahahahahaha..

Dan ini saya gak ngeplagiat apapun!! Kalo ada yg bilang gw plagiat ntar saya cincang jadi daging giling santapan makan malam!!

Whuahahahaha~~

Happy reading sajo lah…

..::o::..

Title : After A Long Time Has Passed
Author : Saiaaaa…
Genre/Type : Romance, Drama, School life, Flashback, Angst/Straight
Cast : Park Hyejin (OC), Jung Yunho, Go Ahra, etc
Length : Oneshot

..::o::..

Kereta ini penuh sekali.. Kalau keadaannya seperti ini apa aku harus berdiri saja,ya? ah, tidak! Aku tidak mau berdiri! Aku tidak mau kelelahan berdiri sebelum sampai ke kantorku. Sebaiknya, aku terus bertahan di tempat dudukku meskipun ku akui, bokong besar dari ibu-ibu disampingku ini membuatku sangat terganggu karena selalu ingin mengambil tempatku. Aish, kalau saja mobilku sudah selesai diservice, aku tidak perlu berdesak-desakkan di kereta seperti ini.

Ah, karena terlalu asyik berpikir sendiri, aku sampai lupa mengenalkan diriku sendiri. Baiklah, namaku Park Hyejin. Mengenai umurku.. apakah itu penting? Yaah sebenarnya,aku tidak  terlalu menyukaimu bila kau bertanya berapa umurku. Umurku tiga puluh empat tahun! Dan aku belum menikah. Kau puas? Apakah kalian kira aku ini bujang lapuk atau perawan tua? Tidak! Aku akan menolaknya jika itu memang takdirku. Lihat saja nanti, aku akan menikah lebih cepat dari yang kalian kira!

Dan saat aku masih tenggelam dipikiranku sendiri, mataku menuju pada seorang pria yang duduk bersebrangan denganku. Pakaiannya rapi. Memakai jas hitam, dasi merah, sepatu kulit, dan membawa tas kerja yang menurutku kualitasnya bagus. Dan wajahnya! Tampan.. mata musangnya, bibir yang berbentuk hati, dan wajah kecilnya memang sangat menawan. Ah, kalau aku terus menatapnya seharian dengan santai sih aku bisa puas. Tapi, kalau keadaan berdesakan di kereta seperti ini mana bisa?! Dari tadi aku hanya bisa menatapnya dari celah kecil yang disisakan oleh seorang bapak-bapak yang berdiri di depanku.

Tapi kalau dicermati lagi, pria itu sebenarnya terlihat seperti orang kaya. Tapi, kenapa ia menggunakan kendaraan umum sepertiku? Apa mungkin mobilnya juga mempunyai nasib yang sama dengan mobilku? Yah, itu terlihat jelas dimatanya. Dari tadi ia terus memasang tampang cemas seolah-olah berpikir : ‘Bagaimana nasib mobilku..?’

Darimana aku mengetahuinya kalau mobilnya sedang diservice? Aku mengetahuinya dari brosur yang ia bawa. Brosur yang mengiklankan sebuah tempat service mobil. Brosur itu juga aku dapatkan setelah aku mengantarkan mobilku ke tempat service waktu itu.

Tapi… sebentar.. aku sepertinya…mengenal wajah orang ini? Wajahnya ini mirip dengan… teman sekolah menengah ku..? bukan teman..tapi, sahabat! Yeah, saat itu aku hanya menganggapnya demikian. Dan ia memasang name tag di jasnya bertuliskan : “Jung Yun Ho”.
Benarkah dia Jung Yunho? sahabatku di masa lalu?

*Flashback ON*

“Hyejin-ah…” seseorang menepuk bahuku. Aku yang saat itu sedang konsentrasi membaca buku di perpustakaan sekolah langsung menoleh kearah orang itu. Oh, ternyata kekasih Yunho yang memanggilku ini.. Namanya Go Ahra. Ah, sebenarnya Ahra ini sering cemburu karena kedekatanku dan Yunho yang menurut Ahra sudah lebih daripada sahabat. Hmm,mungkin ini karena sikap Yunho yang terlalu cuek pada Ahra. Aneh sekali Jung Yunho itu.. Kalau pada akhirnya ia bersikap seperti itu, untuk apa ia menerima pernyataan cinta Ahra dua bulan yang lalu?

“Apa..?”tanyaku dengan nada sepelan mungkin. Tidak mungkin aku berteriak di tempat seperti ini.. Kalian tahu sendirikan kalau ini perpustakaan?

“Yunho memanggilmu. Dia ada di dekat rak buku nomor tujuh belas,”jawabnya.

Aku terdiam sebentar. Mungkin Yunho sudah menemukan bahan yang tepat untuk diskusi tentang pelajaran Sosiologi kali ini. Benar, aku dan Yunho memang sedang berada di perpustakaan. Tapi kami berada di sudut perpustakaan yang berbeda.

Sebenarnya, aku dan Yunho sama-sama mengalami kesulitan mengerjai tugas Sosiologi ini. Ini karena pembahasan Guru yang kurang jelas, sehingga kami juga harus berpikir bagaimana cara mengerjakannya. Ck, memangnya Guru kira murid-muridnya sudah mengerti bagaimana cara mengerjakannya?

Aku pun menemui Yunho. Dan aku pun menemukan nya di samping rak buku .

“Kau memanggilku?”tanyaku pada Yunho. “Apa kau sudah menemukan bahan untuk tugasnya?”

Yunho menoleh kearahku. Ia menyengir dan kemudian menggeleng, “Belum..”jawabnya.

Aku mendengus. Aish, Jung Yunho ini memang benar-benar.. Tapi beginilah ia. Selalu tersenyum padaku tapi cuek pada Ahra.

“..Kalau begitu ikut aku saja! Kita tidak perlu mengerjakan tugas ini!”kata Yunho tiba-tiba.

Aku langsung menatapnya. Apa yang ia pikirkan? membolos? “Mengikutimu?”ujarku menatapnya bingung.

Yunho berdecak, “Sudah! Ikut aku saja!” tiba-tiba saja Yunho menarikku keluar dari perpustakaan dengan cepat.

Aku yang diseret oleh Yunho mencoba memberontak. Anak ini suka sekali menyeretku! Memangnya ia pikir aku hewan ternak? Dasar anak bodoh!

“Ya! Jung Yunho!”bentakku kearahnya ketika ia sudah melepaskan tanganku. Sekarang kami sedang berada di dekat pagar sekolah. Entah apa yang anak ini pikirkan sampai ia membawaku ke tempat ini..

“Loncat! Cepat loncat!”ujar Yunho berbisik. Wajahnya seolah-olah mengatakan : ‘Cepat! Ayo cepat!’

Aku yang mengerti maksudnya mengerutkan alisku, “Membolos lagi? Tidak! Aku tidak mau!”tolakku dan kemudian pergi meninggalkannya. Kemarin ia juga mengajakku untuk melakukan hal ini. Tetapi, saat sudah beberapa meter berjalan keluar sekolah, kami ditangkap oleh penjaga sekolah dan kami dihukum untuk mengepel satu sekolahan. Dan aku tidak mau hal itu terulang lagi. Kalau pun sampai terulang, Jung Yunho lah yang harus bertanggung jawab!

Yunho pun menahan tanganku, “Ayolah sekali ini sajaa..”ujarnya dengan tampang memelas. Aish, jangan beri aku tatapan seperti itu! kalau ia menatapku seperti itu, tentu saja aku akan kasihan padanya dan aku akan mengikutinya! Ck.. Tuhkan.. Akhirnya pertahananku runtuh juga, “Baiklah.. sekali ini saja!”kataku ketus.

Yunho tersenyum senang. Ia pun langsung membungkuk dan menyuruhku untuk menaiki punggungnya untuk melompati pagar. Aku pun melakukannya dan tak seberapa lama, aku sudah berhasil keluar dari sekolah. Yunho pun menyusulku dan ia melompat-lompat gembira ketika mengetahui bahwa dirinya sudah diluar sekolah. Anak ini memang mengalami kelainan jiwa..

“Kalau begitu, ayo!” ia pun kembali mengajakku untuk melakukan hal gila lainnya. Ia mengajakku ke toko baju dan menyuruhku untuk mengambil sepasang baju apa saja yang kuinginkan. Ah, akhirnya.. sahabatku ini mau membelikanku pakaian sebagai hadiah..“Langsung dipakai saja..”kata Yunho ketika aku sedang memilih-milih baju. Dan aku pun memutuskan untuk mengambil baju kaus oversize bergambar puppy dan shorts berwarna hitam. Lalu, kulihat Yunho sudah memakai kaus putih dengan jaket abu-abu, topi putih dan celana jeans.

“Nah, ayo kau yang bayar!”ujarku ketika kami berdua melintasi meja kasir.

Tapi Yunho langsung menyuruhku untuk diam. Perlahan, ia menggenggam tangan kananku dan mengajakku pergi keluar toko dengan langkah yang pelan. Aku yang melihat tingkahnya menatapnya aneh, “Ada apa sih?”tanyaku bingung. Tetapi, Yunho tidak menjawab dan tetap menyuruhku untuk diam.

Dan ketika kami sudah di dekat pintu toko dan hendak keluar, seorang penjaga berteriak kerah kami, “Hei, kalian belum bayar bajunya!”teriak penjaga itu pada kami.

Aku pun langsung menatap Yunho, “Cepat kau bayar pakaiannya!”kataku pada Yunho.

Tapi, Yunho tidak menjawabku. Dan satu detik kemudian, ia berlari kencang-sekencang-kencangnya keluar toko sambil menarik tanganku sehingga terpaksa aku juga ikut berlari bersamanya. Dan kusadari bahwa beberapa penjaga toko itu berlarian mengejar kami sambil berteriak agar kami mau membayar pakaian ini.

“Jung Yunho! apa yang kau lakukan?!”seruku pada Yunho masih terus berlari.

“Sudah! Lari saja yang kencang! Kau mau ditangkap mereka?!”balas Yunho.

“Memangnya kau tidak mau membayar pakaian ini dulu?”tanyaku.

“Tentu saja tidak! Sudah, lari saja yang kencang!”ujar Yunho lagi dan menyuruhku untuk bersembunyi di samping toko bunga. Aku pun langsung bersembunyi bersamanya dan mengamati penjaga toko itu yang terus berlari karena tidak menyadari bahwa kami sedang bersembunyi.

Dan ketika menyadari bahwa penjaga toko itu sudah tidak ada lagi, aku dan Yunho pun langsung jatuh terduduk. Kami berdua sama-sama tegang dan mengatur nafas kami yang sudah tidak beraturan. Setelah itu, aku pun menatap Yunho geram, “Hei! Tadi kita hampir mati! Kenapa kau menyuruhku untuk melakukan aksi gilamu?”bentakku sambil memukul lengan Yunho.

Yunho menatapku sebentar. Namun, tak seberapa lama ia malah tertawa keras. Aku yang melihatnya bingung karena tiba-tiba saja ia tertawa keras. Tetapi, ketika melihatnya yang tertawa seperti itu, aku malah ikut tertawa bersamanya karena mengingat kegiatan bodoh kami tadi..

“Hyejin-ah..ini untukmu,” Yunho menyodorkan setangkai bunga mawar padaku.

Aku pun mengamatinya sebentar, “Darimana kau dapatkan ini?”tanyaku pada Yunho.

Yunho pun tersenyum dan menunjuk ke sebuah rak yang dipajang di depan toko bunga. Di rak itu banyak sekali bunga mawar yang sengaja di pajang. Aku pun sudah mengerti pikiran Yunho. Pasti ketika sebelum bersembunyi disini, diam-diam Yunho mengambil bunga mawar itu. ah.. dasar..

Sambil tertawa, aku menerima bunga itu darinya. Dan kami pun kembali tertawa bersama…

*Flashback OFF*

Kusadari kereta ini berhenti disebuah stasiun. Lumayan banyak penumpang yang turun di stasiun ini. Tapi,stasiun ini bukanlah tujuanku. Aku masih menunggu sampai tempat perbehentian selanjutnya.

Dan ketika sudah banyak sekali penumpang yang turun atau ada beberapa penumpang yang naik ke kereta ini, aku masih saja menatap pria itu.. Pria yang kucurigai bernama Jung Yunho. sekarang aku bisa menatapnya lebih leluasa. Di gerbong ini hanya ada sepuluh orang saja sekarang. Namun tetap saja, sepertinya pria yang kuduga sebagai Jung Yunho itu masih tidak menyadari kalau aku terus menatapnya dari tadi. Seandainya jika benar ia Jung Yunho.. apa kah ia benar-benar lupa?

*Flashback ON*

Ahra menahan lenganku ketika aku melangkahkan kakiku menuju kelasku. Yeah, Go Ahra.. kekasih Yunho.
Karena merasa lenganku disentuh oleh Ahra, otomatis aku menatap kearahnya.

“Ahra-ah?”ujarku sambil menatapnya bingung.

“Hyejin-ah…” kudengar suaranya seperti tercekat. Matanya pun berkaca-kaca. Aneh.. ada apa dengannya?

“Ahra-ah.. kau baik-baik saja?”ujarku sambil berusaha untuk memeluknya. Kurasa Ahra juga sahabatku. Bukankah ia adalah kekasih Yunho yang merupakan sahabatku sejak lama?

Namun, kurasakan Ahra menolak pelukanku. Aku pun tidak mau memaksanya dan tidak jadi memeluknya. Aku menatapnya dengan lembut, “Sebenarnya ada apa?”tanyaku lembut sambil menatapnya. Kudengar ia terisak. Aku pun semakin bingung dibuatnya. Ada apa dengan yeoja cantik ini? Kenapa malah menangis?

Ahra mencoba berkata-kata, “Hyejin-ah.. ada yang ingin kubicarakan denganmu,”katanya dan mulai mengajakku menuju lapangan belakang sekolah.

Dan tak lama kami sampai di lapangan belakang sekolah. Kami berdiri di bawah pohon rindang dan berhasil melindungi kami dari sinar matahari.

“Ada apa Ahra-ah? Katakan padaku sekarang..”ucapku pada Ahra.

“Yunho… Yunho membenciku,”kata Ahra tiba-tiba.

Dan tentu saja aku kaget setengah mati. Apa?! Tidak mungkin Yunho membenci Ahra! “Ahra-ah.. itu tidak mungkin,”aku mencoba menghibur Ahra.

Ahra menggeleng, “Ini semua karena kau!”seru Ahra tiba-tiba.

Aku mengerutkan alisku bingung, “A..apa..?”tanyaku tidak mengerti.

“Yunho bilang ia tidak mencintaiku dan ia hanya memberikan hatinya untukmu! Kau tidak tahu kalau Yunho mencintaimu! Kau jahat! Selama ini ku kira kau adalah gadis yang baik! kau merusak hubunganku dengan Yunho!” seru Ahra sambil menangis.

Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Ahra. Gadis ini bicara apa? Tidak mungkin Yunho mencintaiku! Kami hanya bersahabat.. Kupikir Ahralah satu-satunya wanita yang ada di dalam hati Yunho.

“Aku membencimu!”ujar Ahra dan mulai mendorongku ke sebuah pohon. Tiba-tiba ia mencekikku dengan kuat sehingga aku tidak bisa bernafas.

“A..Ahra..akh.. lepas..”ujarku sekuat tenaga agar Ahra mau melepaskanku. Tapi, Ahra tetap tidak mau. Ahra tetap mencekikku dan aku terus meronta minta dilepaskan sambil menggenggam tangannya yang mencekik leherku. Jujur.. aku sangat takut.. Ahra.. ada apa denganmu?

Ahra pun mulai merogoh saku roknya. Diambilnya sebilah pisau kecil dari dalam saku roknya itu dan ia pun hendak melukai leherku dengan pisau itu, “J..jangan..”kataku takut.. Aku sungguh takut.. Siapapun cepat tolong aku!

Ahra tidak mendengarkanku. Ia pun masih melancarkan aksinya sampai seseorang mendorong keras tubuh Ahra. Alhasil, aku terlepas dari Ahra dan menatap kearah seseorang yang telah mendorong tubuh Ahra itu, “Y..Yunho-ya?”kataku sambil menatap Yunho yang telah mendorong Ahra hingga terjatuh di tanah.

Yunho menatapku sebentar. Dan kemudian ia melangkahkan kakinya kearah Ahra yang jatuh terduduk ditanah sambil menangis dan menggenggam pisau kecil itu. Entah apa yang Yunho pikirkan, Yunho menarik kerah Ahra hingga yeoja itu berdiri.

“Apa yang kau lakukan,hah?!!!”teriak Yunho di depan wajah Ahra yang tengah menangis.

Ahra tidak menjawab. Tangisannya malah semakin keras.

“Jung Yunho! cukup! Hentikan!” kataku pada Yunho agar Yunho mau melepaskan Ahra.

Yunho tidak mau mendengarkanku. Terlihat sekali Yunho sangat marah pada Ahra, “Aku muak melihat yeoja sepertimu! Kau menjijikkan!”seru Yunho dan melepaskan Ahra dengan kasar.

Ahra pun kembali jatuh terduduk di tanah dan masih menangis. Ia menatap Yunho dengan sendu.

“Yunho! kau..!”seruku geram pada Yunho karena tidak terima perilakunya yang begitu kasar pada Ahra. Aku pun mencoba menghampiri Ahra untuk menenangkan yeoja itu, namun Yunho menahanku. Aku pun menepisnya dan menatap Yunho kesal, “Kau pikir kau itu siapa?! Kejam sekali kau terhadap Ahra!”teriakku pada Yunho.

Yunho mendengus. Kemudian ia menyeretku ke suatu tempat. Sedangkan aku memberontak karena sikapnya yang membuatku kesal, “Yunho! lepaskan!!”seruku pada Yunho. Namun, Yunho tidak mau melepaskanku. Dan akhirnya, aku berhasil melepaskan tanganku dari cengkeramannya. Tapi setelah itu, Yunho malah mendorongku ke sebuah tembok dan mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ia hendak menciumku. Tetapi, dengan cepat aku mendorong tubuhnya agar ia tidak menciumku.

“Apa yang kau lakukan?!”seruku pada Yunho. Yunho tidak menggubrisku. Ia kembali mendekatkan wajahnya padaku, namun aku kembali mendorongnya.

 Yunho yang menyadari sikapku menghela nafas. Kemudian ia menatapku putus asa, “Aku sudah putus dari Ahra..”kata Yunho padaku.

Aku terdiam sebentar. Baiklah, aku sudah tahu tentang ini.. “Aku sudah tahu..”jawabku mencoba untuk tenang walaupun sikap aneh Yunho tadi masih saja menjadi tanda tanya untukku.

“Aku memutuskannya karena aku lebih memilihmu,”kata Yunho.

Aku menatapnya dengan pandangan tidak mengerti, “A..apa?”tanyaku bingung. Ya Tuhan, kenapa Yunho dan Ahra sama-sama bersikap aneh padaku hari ini?

Yunho menghela nafas, “Aku menyukaimu, Hyejin-ah..”

*Flashback OFF*

Kereta kembali berhenti ke tempat perbehentian selanjutnya. Dan akhirnya banyak sekali penumpang yang turun dari kereta. Gerbong ini yang tadinya diisi oleh sepuluh orang, sekarang sisa aku dan pria yang kuduga adalah Yunho. Hanya sisa kami berdua disini.

Dan dengan keadaan berdua seperti ini, aku masih saja menatapnya. Benarkah ia Jung Yunho..? dan pria itu sepertinya sadar karena dari tadi terus aku pandangi. Dan ia pun menatapku dengan mata musangnya. Aku terdiam.. Aku membiarkannya memandangku dengan tatapan matanya..

*Flashback ON*

Aku menatap kedua orangtuaku tidak percaya saat kami berdua berkumpul untuk menyantap makan malam bersama di meja makan..

“Apa..? pindah sekolah?”tanyaku dengan nada tak percaya pada ayah dan ibuku.

Kulihat ibu mengangguk, “Ne. Kita pindah ke Boseong untuk beberapa saat. Setelah beberapa tahun menetap disana, kau boleh kembali ke Seoul,”jawab ibu.

Aku menggeleng tidak percaya. Kuletakkan sumpitku disamping mangkuk nasiku. Aku sudah tidak nafsu makan lagi. Kabar ini membuatku terkejut dan kehilangan selera makan.

“Kanapa harus pindah sekolah?”tanyaku lagi. Sungguh,aku tidak ingin pindah dari Seoul!

“Ayah mendapat tugas disana. Ayah harap kau mau mengerti,”jawab Ayah sambil menatapku.

Aku yang mendengarnya menundukkan kepalaku. Hatiku sungguh menolak hal ini. Aku tidak mau pindah..
“Ayah,Ibu.. aku tidak ingin pindah…”ujarku halus agar Ayah dan Ibu tidak marah akan keputusanku ini.

Ayah langsung menatapku marah, “Park Hyejin! Mengapa kau tidak mau menuruti Ayah?! Apa susahnya pindah ke Boseong?! Apa kau tidak suka jika harus meninggalkan sahabatmu yang bernama Jung Yunho itu?! apa kau pikir di Boseong tidak ada orang yang akan menjadi sahabatmu seperti anak itu,eoh?!!”bentak Ayah. Ibu yang mendengar Ayah berbicara sekeras itu cukup terkejut.

Aku menundukkan kepalaku, “Benar…”jawabku.. “Maafkan aku..”ujarku pada Ayah..

Setelah malam tentang berita kepindahanku berlangsung,paginya aku dan Yunho sedang duduk dibawah pohon yang berada di samping sekolah. Kami berdua duduk dalam diam. Sebenarnya aku yang mengajaknya duluan untuk duduk disini. Aku ingin memberitakan tentang kepindahanku. Tapi, aku tidak tahu harus memulai darimana. Apalagi setelah Yunho mengungkapkan perasaannya padaku dua hari yang lalu, hubungan kami semakin memburuk. Dan Go Ahra yang hampir melukaiku waktu itu juga tidak masuk sekolah karena insiden itu.

“Aku…” aku mencoba membuka suara duluan. Aku tidak berani menatap Yunho. Sama sekali tidak berani..

Yunho terdiam. Menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibirku. Aku menghela nafas dan memejamkan mataku untuk mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk menyatakan hal ini, “Aku.. akan pindah ke Boseong..”lanjutku sekuat tenaga. Aku meremas ujung rokku karena perasaanku yang tidak menentu. Apa Yunho akan marah karena aku yang akan pindah tiba-tiba seperti ini?

Yunho langsung menatapku. Namun dengan cepat, ia kembali memandang lurus ke depan, “Mengapa?”tanyanya dengan nada setenang mungkin. Walaupun aku sendiri tahu, bahwa ia sangat terkejut mendengar kabar ini.

“Ayahku mendapat tugas disana. Dan aku harus ikut..”jawabku masih menunduk. Aish, Jung Yunho! sebenarnya aku tidak mau ke Boseong! Hal yang paling berat adalah meninggalkanmu! Kau adalah sahabatku yang terbaik!

Yunho terdiam sejenak. Entah, apa yang ia pikirkan.. “Apa benar begitu?”tanyanya lagi dengan nada lirih.

Aku mengangguk pelan, “Aku akan pindah esok hari..”jawabku dengan nada tercekat. Aku hampir menangis. Aku tidak mau.. aku tidak mau pindah ke kota itu..Kumohon Yunho.. Kuharap kau mau mengerti.  Dan tak terasa air mataku mulai menetes dan mengalir di pipiku.

Yunho yang melihat tetesan air mataku memandang wajahku dengan sedih, “Kalau kau tidak mau,jangan pergi..”

“Aku terpaksa, Yunho…”balasku sambil menangis.

Yunho yang sepertinya mengerti perasaanku langsung memelukku dengan lembut. Aku malah semakin menangis karena pelukannya. Sedangkan, dia mengelus punggungku untuk memberiku ketenangan, “Sudah, jangan menangis.. Aku mengerti. Aku mengerti..”bisiknya lembut. Aku tidak membalasnya.. aku masih menangis. Yunho melepaskan pelukannya dan mencium bibirku. Aku hanya terdiam. Tidak membalas ciumannya sama sekali. Tetapi, aku memejamkan mata. Entahlah.. kurasa aku semakin merasa lebih baik jika ia seperti ini..

Yunho melepaskan ciumannya. Dan kemudian aku kembali ke posisiku semula. Hendak kuhapus air mataku, namun Yunho menghapusnya duluan dengan ibu jarinya.

“Tidak apa-apa.. Aku baik-baik saja kalau kau memang harus ke Boseong..”kata Yunho sambil menatapku lembut. Aku tahu.. Ada rasa sedih yang tersirat dari mata Yunho.

Aku mengangguk. Dan kemudian ia kembali memelukku. Aku membiarkan hari ini menjadi hari terakhir untuk kami berdua..

Dan esoknya, aku sudah berada di bus station untuk menunggu bus yang akan membawaku dan kedua orangtuaku menuju Boseong. Dan ketika aku hendak masuk ke dalam bus, seseorang memanggilku dari belakang.

“Hyejin-ah!!”

Otomatis, aku berbalik. Ayah dan Ibu yang mendengar seruan itu juga berbalik menuju sumber suara. Kulihat teman-teman sekelasku berlarian ke arahku. Aku yang melihat mereka tersenyum.

“Ah, kalian..?”ujarku pada teman-temanku.

“Apa benar kau akan pindah secepat ini?”tanya seorang temanku sambil memasang wajah sedih.

Aku mengangguk, “Benar.. kalian baik-baiklah disini..”jawabku sambil tersenyum.

“Kalau begitu jangan lupakan kami,”ujar mereka sambil cemberut.

Aku tersenyum dan kembali mengangguk, “Mana mungkin? kalian kan teman-temanku..”balasku sambil tertawa kecil. Dan diantara mereka, aku mencari sosok Yunho.. Tapi, aku tidak menemukannya. Dimana dia? Ahra juga tidak ada..

“Ini..”seorang temanku menyerahkan sebuah kotak berukuran cukup besar padaku, “Ini untukmu.. Dari kami semua..”kata temanku. Teman-temanku yang lain tersenyum sambil mengangguk. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan terimakasih.

“Hyejin, ayo..”Ayah mengajakku untuk masuk ke dalam bus.

Aku pun menurut dan melambaikan tanganku pada teman-temanku. Mereka pun membalasnya juga dengan lambaian tangan. Aku masuk ke dalam bus dan tak lama kemudian pintu bus ditutup. Bus mulai berjalan dan aku masih melambaikan tanganku lewat jendela. Ahh, aku akan sangat merindukan mereka..

Setelah itu, aku duduk di kursi penumpang dan mulai penasaran dengan kotak hadiah yang mereka berikan.

“Teman-temanmu sangat baik,ya..”ujar Ibu yang duduk disampingku ketika aku hendak membuka hadiah dari teman-temanku.

Aku tersenyum sambil mengangguk. Aku pun berhasil membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah tas berwarna merah. Wah, tas ini bagus sekali..

Setelah melihat hadiahku itu, aku menghela nafas.. Rasanya ada yang kurang. Tidak ada Yunho disana? Mengapa ia tidak hadir bersama teman-temanku yang lain? Apa ia marah karena aku pindah sekolah?

Kurasakan bus melaju semakin kencang. Aku memejamkan mataku sejenak. Aku mencoba untuk tidur di perjalanan yang cukup panjang ini. Aku hanya ingin menenangkan diriku.. Tapi tidak bisa.. pikiranku masih saja melayang dan terus memikirkannya.. Benar, memikirkan namja itu. Jung Yunho.

Yunho-ya.. mengapa kau tidak datang..?

Kau jahat.. kau sungguh pria kejam.. Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi,eoh?!

Namun, ditengah pergumulan batinku ini, tiba-tiba saja kurasakan bahwa jendela bus disampingku diketuk kencang dari luar. Otomatis,aku yang tadinya memejamkan mataku langsung membuka mataku dan menatap kearah jendela. Dan betapa terkejutnya aku melihat sosok Jung Yunho disitu yang sedang mengetuk jendela disampingku sembari berlari kencang. Aku yang melihatnya pun langsung meminta pengendara bus untuk berhenti sebentar. Setelah bus berhenti, buru-buru aku keluar bus dan menemui Yunho. Aku berlari kearah Yunho yang tampak kehabisan nafas karena terlalu lelah berlari.

“Hye..Hyejin-ah..”ujarnya ketika melihat sosokku yang sudah di hadapannya. Nafasnya begitu tidak beraturan dan ia terlihat cukup lelah.

Aku pun mendekatinya, “Yunho-ya.. kenapa kau lakukan ini?”tanyaku sambil menatapnya.

“Aku hanya ingin melihatmu. Sekali lagi..”ujarnya sambil menatap mataku, “..pada awalnya aku tidak ingin mengantarkan kepergianmu karena aku tidak mau melihatmu pergi. Tapi, aku tidak tahan. Aku sangat ingin melihatmu, sekali lagi..”sambung Yunho dengan nada yang tulus.

Aku yang mendengarnya langsung memeluknya. Ia pun membalas pelukanku, “Yunho-ya.. aku sudah tahu..”ujarku saat memeluknya. Aku tersenyum dan kemudian melepaskan pelukanku. Dan entah mengapa, air mataku menetes.. Aku sangat menyayangi Yunho. Dia adalah sahabatku yang paling istimewa.

Yunho menghapus air mataku dengan ibu jarinya, “Tak akan ku biarkan kau menangis..”kata Yunho sambil menatap mataku lembut. Sedangkan, Ayah dan Ibuku yang masih di dalam bus hanya menatap kami dari dalam sana.

Aku menggenggam tangannya yang ia pakai untuk menghapus air mataku. Tangan besar dan hangat ini.. akan selalu kuingat..

“Ini untukmu..” Yunho menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna putih padaku. Aku pun menerimanya dan menatap kearah kotak itu. “Kembalilah ke dalam bus..”kata Yunho sambil tersenyum padaku.

Aku yang mendengarnya mengangguk kecil dan hendak melangkah menuju bus. Namun, aku berbalik ke arah Yunho dan memeluknya sekali lagi. Memeluknya dengan lebih erat dan hangat..

Dan setelah itu, kami mengucapkan selamat tinggal.. Aku kembali ke dalam bus dan menuju tempat dudukku. Ketika di jendela, aku melambaikan tanganku kearah Yunho, “Kau akan selalu kuingaaat!!”teriakku pada Yunho lewat jendela bus.

“Kau juga akan kuingaat!!”teriak Yunho sambil melambaikan tangannya padaku.

Bus pun kembali berjalan.. Aku menutup jendela bus dengan berat hati.. Yunho dan kenangan manis bersamanya, akan kusimpan dalam memoriku.

 Ketika aku hendak membuka kotak yang diberikan oleh Yunho padaku,Ibu bertanya padaku,“Dari Yunho?”tanya Ibuku. Aku mengangguk dan membuka kotak itu. Ternyata, isinya adalah sebuah cincin. Dan aku melihat dikotak itu ada secarik kertas. Sebuah surat..?
Dengan cepat aku membaca surat itu. Dari Yunho..

‘Hyejin-ah.. Maaf, rasanya begitu sulit jika aku membiarkanmu pergi..Kita sudah bersahabat cukup lama..Aku tidak sanggup melihatmu pergi meninggalkanku.. meninggalkan kami semua.. Sungguh menyenangkan apabila menghabiskan waktu bersamamu seperti yang sudah pernah kita lakukan. Tertawa bersama, menangis bersama.. Semuanya terasa begitu indah. Aku berharap bahwa kau selalu baik-baik saja. Aku akan selalu mendoakanmu dari sini. Kuharap, dimasa depan kita bisa bertemu lagi. Aku menyayangimu, Hyejin-ah.. Aku akan sangat merindukanmu.. Terima kasih kau sudah mau menjadi sahabatku selama ini. Aku sangat berterimakasih…’

*Flashback OFF*

Kereta pun berhenti di tempat pemberhentian selanjutnya. Di tempat pemberhentian inilah sebenarnya aku harus turun. Tapi, bagaimana bisa aku melakukannya? Pria yang kuduga adalah Jung Yunho itu masih saja menatapku.. dengan tatapan tidak percaya..

Aku pun mencoba untuk menormalkan diriku dan menghilangkan anggapan bahwa pria itu memang benar-benar Jung Yunho. Sudah cukup dengan kegiatan mengingat masa laluku sendiri hari ini. Aku pun mulai melangkahkan kakiku keluar dari kereta dan meninggalkan pria itu. Tidak mungkin dia Jung Yunho.. Bukankah banyak sekali orang yang bernama Jung Yunho di dunia ini? Meskipun ia memang benar-benar Jung Yunho, pasti ia sudah melupakanku.. Apalagi, setelah aku putus kontak dengannya karena Ayah yang tidak suka melihatku bergaul dengan Yunho, mungkin menjadi sebuah alasan ia bisa melupakanku. Yeah, dia lupa.. Anggap saja kalau ia telah melupakanku.

Baru saja beberapa langkah kakiku keluar dari kereta, sebuah suara dari belakangku memanggil diriku dengan suara yang lantang, “Hei!!”

Aku yang mendengarnya pun langsung berbalik. Seketika, aku melihat pria yang kuduga bernama Jung Yunho itu tengah berlari kecil kearahku. Mungkinkah..? Apa benar ia adalah Jung Yunho dan ia masih mengingatku?

“Apa kita pernah saling mengenal?”tanyanya padaku. Benar.. ini memang Jung Yunho.. Sungguh, ini memang Jung Yunho!

“Yunho-ya!” belum sempat aku menjawab, sebuah suara menghampiri kami berdua. Kulihat seorang wanita tengah berlari kecil kearah Yunho. Wanita itu menatap aneh kearahku, seolah-olah berkata : ‘Siapa dia..?’

“Ahra-ya?”kata Yunho pada wanita yang menghampirinya itu. Apa? Ahra? Go Ahra?

Dan kulihat di jari manis mereka berdua tersemat cincin yang sama. Apakah itu.. cincin pernikahan? Entah mengapa ketika melihat hal itu, hatiku terasa remuk dan hancur. Ada apa dengan diriku?

“Sepertinya aku pernah melihatnya…”gumam Ahra sambil memandangku penuh selidik.

Aku yang mendengarnya langsung membungkukkan badanku dengan cepat, “Maaf.. mungkin kalian salah orang..”kataku pada Yunho dan Ahra yang kini sudah menjadi sepasang suami istri itu. Buru-buru aku berlari meninggalkan mereka berdua.. meninggalkan Yunho dan Ahra..

Hmmh, baiklah.. kalian berdua adalah bagian dari masa laluku. Bagian dari masa laluku yang entah mengapa tiba-tiba muncul di masa sekarang. Dan kau Jung Yunho… ingatlah,kau akan selalu ada di dalam hatiku…

*END*

Huwhahahaha… author comeback dengan ff oneshot nista author.. sebenarnya ni ff udah pernah aku post di akun fb ku, tapi aku coba buat post di blog ini lagi.. ^^
tapi kalo yang di fb genre nya beda… bukan straight… wehehehe~

Makasih udah mau baca.. mohon tinggalkan komentar, ne?

Yang komen aku doain dinikahin sama biasnya.. xDD

I’m Married! (Part 4)

Nah,ini dia Part 4 nya ^^ Pasti banyak yg nunggu deh ^^ *author kepedean*
mohon dinikmati aja deh ceritanya,,mian kalo gaje,,

FF INI KARYA SAYA!! TANPA NGEPLAGIAT FF LAIN!! JADI,KALAU ADA FF YANG MUNGKIN MIRIP DENGAN YANG SAYA PUNYA,ITU KETIDAK SENGAJAAN!! JADI AWAS AJA KALO ADA YANG SAMPE BILANG KALO AKU INI PLAGIAT!!!! TAK TENDANG KOWE!! *jawanya keluar*

Author nggak akan pernah bosan untuk mengatakan jangan pernah menjadi Silent Reader!! Tolong hargai apa yang sudah aku tulis,,meskipun ceritaku nggak bagus2 banget,seenggaknya tolong kasih komentar yang sekiranya bisa membangun untuk aku dan karyaku,,

Aku nggak akan terima bash! Jadi mendingan komen aja deh,,komennya yang positif,ok? J

..::o::..

Title : I’m Married
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Length : 4/?
Rating : PG 15
Main Cast : Nam Joomin,Park Yoochun,Hwang Miyoung (Tiffany SNSD),Jung Yunho
Other Cast : (Saya males nyantumin nama2nya,, ==” *plakk)

..::o::..

*Cuplikan Part 3*

“Ajusshi,wanita yang bernama Hwang Miyoung ini siapa? Pacarmu?”tanyaku pada Yoochun sambil menunjuk wanita yang berada di samping Park Yoochun.

Yoochun menoleh dan melihat wajah wanita yang bernama Hwang Miyoung itu. Akan tetapi,ia langsung merebut foto berbingkai itu dengan cepat dari tanganku dan langsung menyimpannya kembali ke dalam laci dengan cepat dan agak kasar,sehingga menimbulkan suara yang sedikit keras.

“Bukan siapa-siapa,”jawabnya. Aku yang mendengar jawabannya pun mengangguk. “Ayo, belajar lagi,”kata Yoochun dan memintaku untuk memfokuskan diriku pada pelajaran.

Tetapi,diam-diam aku mengamati laci yang merupakan tempat foto itu berada. Entah mengapa,aku menjadi penasaran akan wanita yang berada di dalam foto tersebut.. Apakah itu kekasih Yoochun? Namun entah mengapa,dadaku terasa sesak jika memikirkan kalau wanita itu adalah kekasih Park Yoochun..

..::o::..

*Author POV*

Seorang wanita yang tengah menggeret kopernya sedang berjalan keluar dari bandara Incheon pagi itu. Setelah keluar dari bandara dan menumpang taksi,wanita itu mulai melepas kacamata hitamnya. Ia tersenyum dan memandang pemandangan disepanjang jalan yang ia lalui lewat kaca jendela taksi.

“Korea Selatan.. Hwang Miyoung sudah kembali…”senyum wanita itu sambil terus memandang antusias pemandangan disepanjang jalan dengan mata indahnya..

*Part 4*

Joomin sedang berjalan ditrotoar sambil menikmati satu cone ice cream bersama dua sahabatnya,yaitu Junsu dan Seorin. Ketiganya baru saja pulang sekolah dan habis melakukan rapat club. Kebetulan mereka bertiga mengikuti club musik disekolah mereka.

“Malam semakin larut,kurasa aku akan pulang sekarang. Aku duluan ya!”pamit Seorin dan mulai bergegas untuk pulang.

“Eh,benar.. Aku juga akan pulang. Joomin Noona,sampai ketemu besok ya!”pamit Junsu pada Joomin. Joomin tersenyum dan sedikit melambaikan tangannya. Junsu pun mengangguk dan mulai menyusul Seorin yang sudah beberapa langkah di depannya, “Yaa,Seorin Ajumma!! Tunggu aku!!”

Seorin yang dipanggil seperti itu hanya bisa mendengus pelan. Sudah selama lima tahun Junsu selalu memanggil Seorin dengan sebutan ‘Ajumma’. Bosan juga rasanya jika harus terus-terusan memarahi Junsu yang notabenenya adalah sahabat Seorin dan Joomin sejak lahir. Seorin pun hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik oleh Junsu untuk naik subway. Joomin yang mengamati mereka dari kejauhan tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

Dan setelah subway itu pergi,Joomin menghela nafas panjang. Mau tidak mau,Joomin harus pulang sendirian. Kebetulan hari ini Yoochun tidak menjemputnya. Mungkin Yoochun sedang sibuk.

Joomin pun mulai memasang headsetnya dan mulai mendengar lagu dari boyband favoritnya,2PM. Ia menikmati alunan musik dari MP3 miliknya sambil menikmati ice creamnya. Tetapi,karena terlalu asyik mendengarkan lagu,tiba-tiba saja Joomin tersandung sesuatu dan..

Bruuukkk!

Joomin terjatuh diatas tanah dan ice cream yang dipegangnya tiba-tiba saja hilang setengah. Dan ternyata,sisa ice cream yang setengahnya lagi ada pada rambut seorang Ajumma-ajumma yang saat itu berada di depan Joomin. Kontan saja,Ajumma itu melompat kaget ketika merasakan sesuatu yang dingin tengah menyelimuti rambutnya. Ia pun bertambah shock ketika menyadari bahwa ada cairan ice cream rasa cokelat menetes dari atas kepalanya. Kini,kepalanya penuh dengan ice cream….

“Aduh..”rintih Joomin yang merasa tubuhnya sakit karena jatuh tersungkur begitu saja. Ia masih tidak menyadari kalau ice creamnya tadi telah tertumpah dan mengotori rambut seorang Ajumma yang berada di depannya. Ketika Joomin hendak bangkit,Ajumma yang berada di depan Joomin pun langsung berteriak shock.

“Kyaaaaa!!! Apa-apaan ini?!! Ada ice cream dirambutku?!! Yaa,kau gadis bodoh!! Kau mau menghancurkan rambutku,huh?!!”jerit Ajumma itu sambil memandang Joomin seram.

Langsung saja,orang-orang yang berada di sekitar situ langsung menatap Ajumma itu dan Joomin dengan bingung dan aneh.

“Ah? Ch..Choseonghamnida..” Joomin buru-buru minta maaf sambil membungkukkan badannya sembilan puluh derajat berulang kali. Joomin benar-benar merasa bersalah dan berharap dalam hati kalau Ajumma itu akan memaafkannya.

“Apa katamu?! Kau hanya meminta maaf saja?!! Aku sudah menata rambut ini disalon setengah jam yang lalu,dan kau merusaknya dengan ice creammu itu?!!”amuk Ajumma itu lagi.

“Choseonghamnida.. Aku juga tidak sengaja melakukan hal ini..”kata Joomin lagi dan berusaha agar Ajumma itu mau memaafkannya.

Dan bersamaan dengan itu,sebuah mobil berwarna hitam tengah melintasi tempat dimana Joomin dan Ajumma itu berada. Ternyata,di dalam mobil itu ada seorang Park Yoochun yang sedang memeriksa beberapa dokumen dan Sekretaris Lee yang sedang menyetir mobil.

“Sekretaris Lee! Sudah pukul berapa ini?!! Kau menyetir lambat sekali! Lain kali,aku tidak akan mengijinkanmu untuk menyetir mobil milik perusahaan!!”bentak Yoochun galak pada Sekretaris Lee.

Sekretaris Lee yang dibentak seperti itu langsung menggigit bibir bawahnya dengan takut, “Ch..choseonghamnida,Sajangnim…”kata Sekretaris Lee takut-takut.

Yoochun yang mendengar hal tersebut mendengus pelan. Dan tak sengaja,manik matanya menangkap sosok Joomin yang sedang membungkuk berkali-kali pada seorang Ajumma di pinggir jalan. Yoochun yang melihat hal tersebut pun langsung menyuruh Sekretaris Lee untuk menghentikan mobil, “Sekretaris Lee! Cepat berhenti!”pinta Yoochun.

“Ye? T.. Tapi,Sajangnim…”

“Kubilang berhenti,ya berhenti!! Kau mau aku pecat,huh!?”bentak Yoochun memotong kalimat Sekretaris Lee. Karena merasa sangat takut atas kegalakan Yoochun,Sekretaris Lee pun langsung menghentikan mobil di sisi jalan. Setelah mobil berhenti,Yoochun pun langsung keluar dari mobil dan langsung diikuti oleh Sekretaris Lee.

Yoochun pun mengarahkan langkah kakinya pada Joomin yang sedang dimarahi oleh seorang Ajumma yang dikepalanya terdapat banyak ice cream.

“Kau ini bodoh sekali! Bagaimanapun kau harus tanggung jawab atas kejadian ini!!”amuk Ajumma itu pada Joomin.

Joomin pun kembali membungkukkan badannya meminta maaf, “Aku tidak sengaja.. Aku tidak tahu kalau hal ini bisa terja..”

“Ada apa ini?”tanya Yoochun yang kini telah berdiri di samping Joomin.

Joomin dan Ajumma itu yang mendengar suara Yoochun pun langsung menatap kearah Yoochun.

“Ajusshi?”gumam Joomin kaget menyadari keberadaan Yoochun.

Ajumma yang kepalanya terdapat ice cream itu langsung tersenyum canggung ketika melihat keberadaan Yoochun. Ajumma itu tampak sungkan ketika melihat sosok Yoochun yang terlihat begitu berwibawa dengan jas ala Presdir yang dikenakannya.

“Ah..begini.. tadi gadis ini menumpahkan ice creamnya dikepalaku..”jelas Ajumma itu sambil tersenyum.

Yoochun yang mendengarnya langsung menatap kearah Joomin, “Apa benar begitu?”tanya Yoochun pada Joomin. Joomin yang mendengarnya pun mengangguk pelan dan kemudian menundukkan kepalanya. “Aku kan tidak sengaja…”kata Joomin takut-takut pada Yoochun. Yoochun yang mendengarnya menghela nafas pendek dan kembali berfokus pada Ajumma itu kembali, “Dia sudah meminta maaf?”tanya Yoochun lagi pada Ajumma tersebut.

“Sudah.. tapi,bagaimanapun rambutku ini sangat berharga. Aku baru menatanya disalon.. Dia juga tidak bertang..”

“Jadi,kau belum memaafkannya?” Yoochun memotong kalimat Ajumma tersebut sambil memandang Ajumma itu lurus.

“Eh?”Ajumma itu memandang bingung kearah Yoochun.

“Dia ini sudah meminta maaf padamu,tetapi kau tidak memaafkannya. Apa kau bisa membayangkan apabila kau lah yang berada diposisi gadis ini? Bagaimana perasaanmu?”ucap Yoochun sambil memandang Ajumma itu. Joomin yang mendengar kalimat Yoochun mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanya kearah Yoochun.

Ajumma itu tampak gugup seketika, “T..tapi..”

Namun,dengan cepat Yoochun memotong kembali kalimat Ajumma itu, “Lagipula,apa kau tidak malu dilihat oleh orang banyak? Apa kau tidak menghiraukan tanggapan orang lain kalau kau lebih memperhatikan rambutmu daripada perasaan seseorang? Apakah kau tidak pernah diajarkan untuk memaafkan orang lain sewaktu kau kecil?”kata Yoochun lagi sambil memandang Ajumma itu tajam.

Joomin yang melihat itu hanya memandang Yoochun kaget dan bingung. Mana bisa Yoochun berkata seperti itu pada seseorang yang lebih tua? Yoochun terlampau berani.. Apa semua ini dilakukan oleh Yoochun untuk membela Joomin?

Ajumma itu kini terlihat gugup dan hendak menjelaskan hal itu sekali lagi, “Be..begini..”

“Masih tidak terima? Baiklah,aku akan memberikanmu uang untuk menata rambutmu kembali,” Yoochun pun mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikan uang itu pada sang Ajumma. “Sekretaris Lee,” Yoochun memanggil Sekretaris Lee yang berada di sampingnya setelah Ajumma itu menerima uang dari tangan Yoochun.

“Y..ye,Sajangnim?”respon Sekretaris Lee.

“Kita antarkan gadis ini pulang,”kata Yoochun sambil melirik Joomin yang sedang menatap Yoochun dengan bingung.

..::o::..

*Joomin POV*

“A..ajusshi! berhenti!” Aku menghadang langkah Yoochun yang hendak menaiki mobil. Kini tubuhku berada di hadapan Yoochun dan berhasil membuat langkah Yoochun berhenti karena terhalang oleh ku.

Yoochun yang menyadari akan tingkahku langsung menatapku, “Apa?”tanyanya.

“K..kau melakukan hal itu untuk..untuk..m..membelaku?”tanyaku dengan nada agak gugup. Aku takut kalau ia menjawab tidak. Kalau ia menjawab ‘tidak’,berarti aku terlalu GR.

Yoochun menghela nafas, “Ne,”jawab Yoochun singkat dan mengambil jalan di samping tubuhku lalu naik ke dalam mobil.

Aku yang mendengar jawabannya mematung di tempatku. A..Apa benar dia melakukan hal ini untuk membelaku? Mengapa ia membelaku? Dia baik sekali..

..::o::..

Malam ini aku sedang menonton TV di ruang tamu. Sejak tadi,Yoochun belum pulang. Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Apa dia kerja lembur,ya? Lalu..Apakah ia sudah makan? Dari pada bingung begini,lebih baik aku mengirimnya pesan singkat..

Ajusshi,kenapa belum pulang? Cepat pulang.. Aku akan membuat makan malam.

From : Joomin
To : Yoochun Ajusshi

Aku mengetik kata-kata itu di ponselku dan hendak mengirimkannya pada Yoochun Ajusshi. Eh,tapi tunggu sebentar! Kenapa aku mulai mencemaskannya? Kenapa aku malah bertingkah seperti seorang istri? Kalau dia belum pulang dan kelaparan,itu bukan urusanku. Terserah saja dia mau melakukan apa.. Apapun yang terjadi padanya,itu tidak ada sangkut pautnya denganku.

Setelah berpikir seperti itu,aku pun menghapus semua kalimat-kalimat itu dan batal untuk mengirimkannya.Tetapi,perlahan aku mengetik kalimat-kalimat itu kembali. Dengan ragu,aku pun hendak mengirim pesan itu. Dan akhirnya,pesan itu terkirim dengan sukses.

“Hyaaa,apa yang telah aku lakukan?!”rutukku ketika menyadari bahwa pesan itu sukses terkirim. Aduh,memalukan.. Kenapa aku mengirimi Ajusshi itu pesan?! Ck,pasti Ajusshi itu akan menganggapku sebagai gadis yang memalukan! Ia pasti tidak akan membalas pesanku..

Beberapa detik kemudian,tiba-tiba saja ada suara mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumah. Ah,pasti itu Yoochun Ajusshi! Semoga,ia belum membaca pesanku! Dengan secepat kilat,aku bangkit dari sofaku dan langsung membuka pintu. Kulihat bahwa Yoochun keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil itu. Ia juga sedikit mengendurkan dasinya dan melepas kancing jasnya. Lalu,ia mulai melangkah hendak masuk ke dalam rumah.

“A..Ajusshi!”seruku di hadapannya.

Dengan cepat Yoochun langsung memandangku. Sepertinya ia agak kaget.

Aku pun langsung berjalan mendekati Yoochun. Kulihat kalau Yoochun membawa sebuah aquarium plastik berisi dua ekor ikan koi. Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahas soal ikan. Yang terpenting adalah pesan singkatku itu!

“Aku pinjam ponselmu!”kataku.

Yoochun pun memandangku heran, “Memangnya kenapa?”tanyanya.

“Sudah,berikan saja!”

Yoochun yang mendengar perkataanku mendengus pelan. Ia pun memberikan ponselnya padaku. Dan secepat kilat,aku menerima ponsel itu darinya dan memeriksa kotak masuk. Hahh…syukurlah..pesanku belum terbaca. Dengan cepat,aku langsung menghapus pesan itu.

“Kau memeriksa kotak masuk?”tanya Yoochun sambil memandangku.

Aku yang mendengarnya langsung terlonjak kaget lalu menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhku, “T..tidak!”bohongku. Aish,pasti dia mengetahui apa yang sedang aku lakukan..

“Tadi kulihat ada pesan masuk dan aku belum membacanya..itu dari siapa?”

“T..tidak ada pesan masuk,”bohongku lagi dengan nada bicara yang gugup.

Tetapi sepertinya Yoochun tidak mempercayaiku begitu saja. Ia pun memandangku dengan curiga. Perlahan,ia meletakkan aquarium plastik yang dibawanya itu ke atas tanah. Dan ia mulai melangkah mendekatiku dengan tatapannya yang lurus kearah bola mataku. Menyadari kalau ia semakin berjalan mendekatiku,aku sedikit berjalan mundur untuk menghindarinya.

Dan tiba-tiba saja,tumitku tersandung oleh sebuah batu. Karena tidak siap,aku pun hendak terjatuh sambil berteriak, “Kyaaaaa!! E..eh?” tiba-tiba saja aku mendadak bingung karena aku tidak jadi terjatuh. Tetapi dengan cepat kusadari,bahwa dengan posisi siap jatuhku,tangan kanan Yoochun menahan pinggangku dan tangan kirinya menggenggam tangan kananku. Tangan kiriku mencengkram bahu kanannya dan kaki kananku tertekuk ke belakang. Namun,yang membuatku tidak sanggup berkata-kata adalah posisi kami yang sekarang ini telah mengakibatkan wajah kami menjadi begitu dekat. Kulihat matanya yang bersinar itu memandang wajahku dengan tatapan yang sedikit kaget. Sedangkan,aku menatapnya dengan gugup dan kaget.

‘Deg..deg..deg..deg..’

Jantungku melompat-lompat di dalam tubuhku. Dengan susah payah,aku menelan ludahku dengan gugup. Tetapi,aku langsung mendorong tubuh Yoochun dan mencoba untuk menormalkan kembali diriku. Kulihat bahwa Yoochun melakukan hal yang sama denganku. Sepertinya ia cukup salah tingkah akan hal ini.

“P..ponselmu terjatuh!”kataku dan langsung menyambar ponsel Yoochun yang terjatuh di atas tanah. Aku mengeluarkan tampilan dari menu kotak masuk dan memberikannya pada Yoochun kembali. Yoochun Ajusshi pun langsung menerima ponselnya dari tanganku dan membawa aquarium plastik berisi ikan itu ke dalam rumah. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukanku. Huh,cuek sekali dia..

*Author POV*

Diluar pagar rumah Yoochun dan Joomin,ternyata ada seseorang yang melihat kejadian yang baru saja terjadi,kejadian dimana Joomin hendak terjatuh namun Yoochun menahannya.

Sosok yang merupakan seorang namja yang memakai jaket training sambil menggenggam tali yang digunakan untuk mengajak anjingnya jalan-jalan itu,tersenyum melihat kejadian itu. tetapi,kemudian ia kembali melirik pada anjingnya yang kini tengah bersamanya, “Taepoong-ah,sepertinya sudah cukup jogging malam-malam seperti ini. Ayo kembali ke rumah,”kata Yunho dan kembali membawa anjingnya yang bernama Taepoong itu untuk pulang ke rumah.

*Joomin POV*

Hari ini adalah hari Minggu. Jadi,aku dan Yoochun hanya berdiam di rumah pada hari ini. Hari sudah siang dan aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke luar rumah. Aku merasa bosan. Bayangkan saja,di hari Minggu ini aku sama sekali tidak ada kerjaan. Apalagi,si Ajusshi itu hanya mengurung diri di kamarnya sepanjang hari. Entah apa yang ia lakukan,aku tidak peduli..

Akhirnya aku memakai sepatuku dan mencoba berjalan keluar rumah. Dan setelah berada di luar rumah,aku tersenyum. Hmmh,setidaknya aku bisa menghirup udara diluar sekarang.

Aku pun membuka pintu pagar dan keluar rumah. Aku berjalan-jalan sebentar sambil mengamati beberapa rumah lainnya yang bersebelah dengan rumahku. Perumahan ini cukup asri dan nyaman. Meskipun sekarang tampak agak sepi,itu tidak menggangguku. Ketika sedang asyik berjalan-jalan,aku melihat seekor anjing besar yang tengah berlari ke arahku. Aku yang melihat anjing itu pun terlonjak kaget. Apalagi ia sedang berlari ke arahku sambil menjulurkan lidahnya. Karena takut,aku pun langsung berlari secepat mugkin.

Hyaaaa,bagaimana bisa hal ini terjadi?! Aku kan takut anjing! Aku pun semakin mempercepat lariku. Tetapi,semakin cepat aku berlari,anjing itu semakin cepat mengejarku.

“Kyaaaa,tolong! Tolong aku! Jauhkan aku dari anjing ini! Kyaaa, jangan mendekat anjing aneehh!”jeritku sambil mencoba untuk mengusir anjing itu.

Tetapi percuma saja,anjing itu masih bersemangat mengejarku. Akhirnya,aku sampai disuatu rumah yang pagarnya terbuka. Aku pun langsung masuk begitu saja ke dalam pekarangan rumah tersebut dan menarik-narik baju sang pemilik rumah yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.

“Hyaaa,tolong! Tolong aku! Anjing itu mengikutiku terus! Tolong jauhkan anjing itu dariku.. Kumohon!”kataku sambil menarik-narik baju si pemilik rumah itu sambil memejamkan mataku takut.

“Eh? Murid Joomin?”

Tiba-tiba saja suara sang pemilik rumah itu sanggup membuka mataku seketika. Aku kenal suara ini. Ini suara… Jung Yunho Seonsaengnim!! Lantas,aku pun langsung menatap wajah Jung Seonsaengnim  dan melepaskan tanganku dari bajunya.

“Ch..choseonghamnida…”ujarku gugup sambil memandangnya takut.

Seonsaengnim hanya tersenyum melihatku dan kemudian ia menghampiri anjing yang tadi mengejarku. Ia mengelus puncak kepala anjing itu dengan penuh kasih sayang. Sedangkan,anjing itu hanya duduk manis sambil menggoyangkan ekornya kesana-kemari ketika menerima sentuhan Seonsaengnim.

“Dia ini anjingku. Namanya Taepoong..”kata Jung Seonsaengnim sambil tersenyum kearahku, “Apa dia ini yang mengejarmu?”tanya Jung Seonsaengnim.

Aku pun mengangguk pelan, “B..benar…”

..::o::..

Sekarang aku dan Jung Seonsaengnim sedang duduk di kursi taman yang terletak di halaman rumah Jung Seonsaengnim. Ia memberiku segelas susu dan beberapa keping biskuit.

“Seonsaengnim tinggal disini?”tanyaku pada Jung Seonsaengnim.

Jung Seonsaengnim mengangguk, “Setelah pindah dari Pusan,aku langsung tinggal disini,”jawabnya sambil mengelus Taepoong yang berada di depan kami. Yahh,ternyata anjing yang mengejarku tadi adalah anjing milik Jung Seonsaengnim. Taepoong namanya.. Kata Jung Seonsaengnim,Taepoong mengejarku karena ia menyukaiku. Huh,apa Taepoong naksir padaku? Menakutkan sekali.. Untung saja di sampingku ada Jung Seonsaengnim. Jadi,aku tidak perlu merasa was-was pada Taepoong.

“Seonsaengnim berasal dari Pusan?”tanyaku.

“Sebenarnya aku orang Gwangju. Tapi,setelah lulus kuliah di Seoul,aku diminta untuk mengajar di Pusan. Setelah beberapa tahun di Pusan,aku dipindah tugaskan ke Seoul,”jawab Jung Seonsaengnim sambil tersenyum.

Oh,ternyata begitu.. dari Gwangju ke Seoul,lalu ke Pusan,dan kemudian kembali lagi ke Seoul. Wah,rumit juga ya.. Pantas saja,saat pernikahanku di Pusan,aku sempat melihat Jung Seonsaengnim di tepi pantai, “Seonsaengnim tinggal sendiri disini?”tanyaku lagi.

“Aku tinggal bersama Ibuku.. Ibuku tinggal di Seoul meskipun aku di Pusan dulu,”jawabnya lagi.

Aku mengangguk tanda mengerti. Dan kemudian,aku pun bertanya, “Seonsaengnim umurnya berapa?”

“Ng? Umurku…”

“Eomoni sudah pulang!” tiba-tiba saja sebuah suara terdengar dari arah pintu pagar. Sontak saja,aku dan Jung seonsaengnim memandang ke arah sumber suara.

“Eomoni?”sambut Jung Seonsaengnim sambil menghampiri Ibunya yang sedang membawa beberapa kantung belanjaan.

Oh Tuhan! Aku..aku kenal akan wajah Mrs. Jung ini! Aku menatap Mrs. Jung dengan kaget. Mrs. Jung juga memandangku kaget. Ya ampun..ada apa ini? Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Mrs. Jung ini kan… Ajumma yang rambutnya terkena ice cream olehku kemarin!! Hyaaaa,bagaimana bisa aku bertemu dengannya disini?!! Dan pada kenyataannya,ia adalah Ibu dari Jung Seonsaengnim!!

“Kau?!”pekik Mrs. Jung sambil menatapku kaget. Aish..pasti dia masih ingat akan kejadian kemarin.. Ck,tamatlah riwayatku sekarang…

..::o::..

“Jadi,Eomoni dan Murid Joomin sudah saling mengenal?”kata Jung Seonsaengnim antusias ketika kami bertiga sedang duduk diruang tamu rumah Jung Seonsaengnim.

Mrs. Jung yang mendengar hal itu mendengus dan kemudian meminum segelas air putih di atas meja dengan cepat. Sepertinya,Mrs. Jung cukup frustasi karena harus bertemu denganku lagi. Apalagi,Yoochun Ajusshi sudah melontarkan kata-kata yang sepertinya menyakitkan hati Mrs. Jung karena membelaku. Aku pun menunduk dalam-dalam karena tidak berani menatap Mrs. Jung.

“Jung Yunho! Apa gadis ini adalah muridmu?! Apa kau tahu kalau dia lah yang sudah mengotori rambutku dengan ice cream kemarin?!”seru Mrs. Jung pada Jung Seonsaengnim.

Seonsaengnim yang mendengarnya sedikit terkejut dan kemudian tertawa kecil, “Sungguh? Hahaha,lucu sekali.. Kebetulan ya,Eomoni dan Murid Joomin bisa bertemu lagi. Hahahaha..,”tawa Seonsaengnim.

“Ya,Jung Yunho! Apa kau tertawa ketika Ibumu ini sedang kesal?!”dengus Mrs. Jung sambil menatapku sinis. Sedangkan,aku yang ditatap seperti itu berusaha menghindar dari tatapan Mrs. Jung. “Ya,neo! Siapa nama pria yang telah membelamu kemarin?! Dia tampan tapi tidak memiliki sopan santun!” tiba-tiba saja Mrs. Jung bertanya padaku dengan nada seketus mungkin.

Aku yang ditanya seperti itu langsung tergugup seketika. Masa aku harus menjawab : ‘Dia suamiku…’
Huh,mana mungkin aku menjawab dengan kata-kata seperti itu?!

“I..itu kerabatku…”jawabku gugup. Setelah berkata seperti itu,kurasakan bahwa Jung Seonsaengnim mendelik kearahku. Apa mungkin ia tahu kalau jawabannya bukanlah ‘Kerabat’ melainkan ‘Suami’?

..::o::..

Aku membuka pintu rumah dengan lesu. Langkahku terasa lambat dan wajahku menunjukkan kalau aku sedang cemberut. Huh,aku merasa sial hari ini.. Aku dikejar oleh anjing dan bertemu dengan Ajumma yang kepalanya terkena ice cream.. Dan parahnya lagi,Ajumma itu adalah Ibu dari Jung Yunho Seonsaengnim!! Ck,aku ini benar-benar malang sekali..

Aku pun menutup pintu rumah perlahan. Tetapi tanpa sengaja,aku melihat Yoochun sedang berdiri di ruang tamu sambil berbicara dengan seseorang diponselnya. Aish,apakah ia baru keluar setelah aku pergi?

“Kenapa… kenapa kau ke Korea? Miyoung-ah,apa yang kau harapkan lagi? Bukankah aku sudah melepaskanmu?”

Diam-diam aku mendengar kalimat Yoochun yang sepertinya sedang berbicara di telepon. Raut wajahnya terlihat kacau dan agak sedih. Ada apa dengannya? Dan siapa itu Miyoung? Ah! apa benar Miyoung yang dimaksudkan oleh Yoochun Ajusshi adalah Hwang Miyoung,gadis yang ada di foto itu?!

“Mianhae,aku tidak bisa…Kumohon,lupakan aku Miyoung-ah..”

Dan setelah berbicara seperti itu,Yoochun Ajusshi terlihat menyudahi percakapan secara sepihak. Ia melemparkan ponselnya disofa dan duduk disofa dengan raut wajah frustasi namun sedih.

“Ajusshi..?” perlahan aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.

Yoochun menolehkan kepalanya kearahku dan kemudian menegakkan posisi duduknya, “Apa?”responnya.

Aku menggeleng, “Ani..”

“Kau habis darimana?”tanya Yoochun Ajusshi lagi.

“Tadi aku jalan-jalan.”

“Oh,jalan-jalan…”angguknya dan ia memandang kearah aquarium kaca berisi ikan koi yang dibawanya tadi malam. Kini,aquarium berisi ikan itu berada di samping sofa.

“Ikan itu..dari siapa?”tanyaku.

Yoochun Ajusshi terlihat menghembuskan nafas panjang, “Sepertinya aku memang salah menerima dua ekor ikan ini darinya..”gumam Yoochun Ajusshi sambil memandang dua ekor ikan yang berenang-renang di dalam aquarium itu.

“Apa?”tanyaku bingung. Apa maksudnya? Aku tidak mengerti gumamannya itu..

Yoochun Ajusshi menggeleng, “Bukan apa-apa.. Malam ini,mau tidak jalan-jalan bersamaku?”

..::o::..

Malam ini aku dan Yoochun Ajusshi sedang berjalan-jalan di sebuah pasar malam. Pasar malam terlihat sangat ramai di datangi oleh pengunjung. Lampion-lampion beraneka bentuk pun digantung di setiap pohon-pohon yang ada disini. Banyak sekali stand-stand yang menjajakan aneka dagangan.. Mulai dari makanan,perhiasan,penghias rambut.. bahkan ada juga stand tempat meramal nasib orang. Tetapi,sekarang aku dan Yoochun Ajusshi sedang berada di sebuah stand kue beras pedas.

“Wahh,ini enak sekali!”kata Yoochun Ajusshi sambil memakan berpotong-potong kue beras.

Aku yang sedang makan kue beras pun menatapnya bingung, “Ajusshi belum pernah makan kue beras pedas?”

“Sudah pernah.. tapi,aku tidak pernah makan yang dijajakan seperti ini.. Biasanya,aku membeli kue ini di restoran. Dan aku rasa yang ini lebih enak,”jawabnya sambil tersenyum.

Ah? Restoran? Ya ampun.. orang ini benar-benar kaya..

“Joomin-ah,ayo kita kesana! Disana ada penjual kue Yaksik!” tiba-tiba saja ia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah stand kue. T..tapi,sebentar.. Apa tadi dia bilang? ‘Joomin-ah’? dia memanggilku.. ‘Joomin-ah’?! Bukan ‘Nam Joomin’?!

Kulihat ia memakan beraneka kue yang dijajakan dengan tampang bahagia. Humh,entah mengapa Yoochun Ajusshi bukan lagi seorang namja yang dingin dimataku. Tapi,ia menjadi berubah seperti ini apa karena seseorang yang meneleponnya tadi siang? Ah,yang benar saja.. Tidak mungkin.. Mungkin saja,Yoochun Ajusshi melakukan hal ini karena ia sedang bosan..

Ketika sedang asyik menyantap kue yaksik sambil berjalan dan mengobrol,tiba-tiba saja tubuhku tertabrak oleh seseorang dari belakang. Aku pun hampir terjatuh,namun aku berhasil menahan diriku. Kulihat seseorang menabrakku tengah berlari secepat mungkin diantara kerumunan orang-orang yang ada.

“Astaga,kau baik-baik saja?”tanya Yoochun Ajusshi padaku. Kemudian, ia memandang orang yang berlari dan telah menabrakku tersebut.

“Aku baik-baik saja,”jawabku sambil tersenyum. Hei! T..tapi.. mana ponselku?!! “P..ponselku hilang!”jeritku sambil memandang Yoochun panik.

Seketika,Yoochun Ajusshi membelalakkan matanya lebar-lebar, “M..mwo?! Pasti orang itu yang sudah mengambil ponselmu!” setelah berkata seperti itu, secepat kilat Yoochun Ajusshi langsung mengejar seseorang yang telah menabrakku.  Aku yang melihat hal tersebut pun ikut berlari untuk mendapatkan ponselku.

“Hei,heii! Ada penjambret!!!”jeritku sambil berlari secepat mungkin.

Meskipun begitu,kerumunan orang-orang banyak menyulitkan kami untuk mengejar penjambret itu. Tadi,pejambret itu hampir saja tertangkap oleh Yoochun Ajusshi. Tetapi gagal karena pejambret itu larinya sangat cepat. Akhirnya,aku dan Yoochun Ajusshi pun berhenti berlari.

“Sial!”umpat Yoochun Ajusshi sambil memandang sekeliling untuk mencari keberadaan pejambret ulung tersebut.

“Ck,bagaimana ini? Ponselku hilang..”kataku sedih. Aku menundukkan kepalaku sambil menggigit bibir bawahku dengan sedih. Kenapa harus hilang?! Ponsel itu adalah ponselku satu-satunya! Kalau sampai hilang,apa yang harus aku lakukan?! Aku tidak bisa lagi menelepon Eomma dan Eonni yang berada di Jepang,ataupun teman-temanku Seorin dan Junsu..

Yoochun Ajusshi yang mendengar perkataanku pun mengelus puncak kepalaku dengan lembut, “Sudahlah..,nanti aku akan membelikan ponsel yang baru untukmu,”kata Yoochun Ajusshi sambil tersenyum.

Aku yang melihatnya tersenyum mulai merasa tenang. Sesuatu yang hangat pun mulai menyelimuti hatiku ketika melihatnya seperti ini.. Kenapa ia bersikap lembut seperti ini padaku? Ini sungguh tidak biasanya..

*Author POV*

Seorin dan Junsu sedang berjalan disebuah pasar malam yang sama dengan Yoochun dan Joomin. Keduanya terlihat sedang adu mulut. Tidak ada yang mau mengalah dan selalu melempar argumen.

“Mana aku tahu kalau jadinya seperti ini!? Aku’kan lupa membawa uang!”sewot Junsu.

“Dasar tidak bertanggung jawab! Tadi katamu kau akan mentraktirku makan! Toh,aku juga yang membayar semuanya!”balas Seorin geram.

“Sudah kubilang kalau uangku ketinggalan!”bantah Junsu.

“Kalau begitu,tidak usah mengajakku keluar!”

“Cerewet!”

“Tidak bertanggung jawab!”

Keduanya terus saja bertengkar sehingga beberapa orang yang berada di dekat mereka menatap Junsu dan Seorin dengan tatapan yang aneh karena keributan mereka.

“Huh..aku sangat kesal!”rajuk Seorin sambil memajukan bibirnya kesal.

Junsu yang melihatnya mendengus dan mencibir sebentar. Sampai akhirnya,tanpa sengaja mata Junsu menangkap sosok Joomin yang sedang berbincang-bincang dengan seorang namja yang tidak dikenal oleh Junsu. Joomin terlihat sedih saat itu dan seorang namja yang berada disamping Joomin berusaha untuk menghibur Joomin. Yeah,Joomin sedih karena ponselnya baru saja hilang dan namja yang berada di samping Joomin adalah Park Yoochun.

Junsu yang merasa bingung pun langsung menyikut Seorin, “Ya,Ajumma!”panggil Junsu pada Seorin.

Seorin mengangkat kepalanya dan menatap Junsu dengan malas, “Ada apa,Duckbutt bodoh?”

“Itu.. ada Joomin Noona!” Junsu menunjuk-nunjuk Joomin yang berjarak beberapa meter darinya.

Seorin yang mendengar kalimat Junsu pun langsung menatap kearah yang ditunjukkan oleh Junsu. Dan benar saja,ada seorang Nam Joomin disitu dan ia didampingi oleh seseorang yang tidak dikenal oleh Seorin. Seorin yang melihatnya pun sedikit mengernyitkan alisnya heran, “Siapa namja yang berada disampingnya itu?”tanya Seorin sambil terus memperhatikan sosok namja yang berada disamping Joomin.

“Benar,aku juga tidak tahu,”kata Junsu.

Seorin berpikir sebentar.. “Wajahnya mirip dengan.. Park Yoochun Sajangnim dari Big East Group!”terka Seorin sambil menatap Junsu. “Aku juga pernah melihat Park Sajangnim disekolah! Sepertinya,saat itu Park Sajangnim sedang mengantar Joomin ke sekolah!”

Junsu kelihatan bingung, “Park Yoochun Sajangnim? Lalu apa hubungannya dengan Joomin Noona?”tanya Junsu pada Seorin.

Seorin pun menghela nafas, “Joomin bilang, dia itu kerabatnya..”

“Tidak mungkin!”kata Junsu tiba-tiba dan berhasil membuat Seorin menatapnya penuh tanda tanya.

“Lalu apa?”tanya Seorin penasaran.

“Pasti Park Yoochun Sajangnim itu pacarnya Joomin Noona!”seru Junsu sambil menatap Seorin.

Seorin yang mendengar Junsu berkata seperti itu pun terlonjak kaget dan membelalakkan matanya lebar,“Mwo?!”pekik Seorin tidak percaya.

*TBC*

Eu kyang kyang,akhirnya selesai juga part 4 nya *tebar kembang 7 rupa#plaakk

Maaf ne Author jarang apdet.. kalo udah apdet pasti lama banget TT^TT
ni Author publish langsung setelah Author bener2 luang.. kebetulan Author abis selesai UN dan kelar semuanya… mohon maaf ne readerdeul TT^TT

Setelah ini Author janji bakal sering apdet.. paling nggak seminggu sekali deh… atau dua minggu sekali #plaakk

Mohon komennya,ne? Yang jd silent reader masuk nerakaaa!! >O<
Okelah,ditunggu aja part selanjutnya ^^

Kamsahamnidaaaaa~!!! *kabuuuuurrrrr

I’m Married! (Part 3)

Nah,ini dia Part 3 nya ^^ Pasti banyak yg nunggu deh ^^ *author kepedean*
mohon dinikmati aja deh ceritanya,,mian kalo gaje,,
Oh ya, maap juga klo saia kelamaan apdetnya.. soalnya banyak tugas+ulangan+persiapan TO & UN.. saia udh kelas 9 sih, jadi sibuk bukan main.. wuahahaha #sok sibuk
FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar
Okelah,cekidot!!
..::o::..
Title : I’m Married
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Length : 3/?
Rating : PG 15
Main Cast : Nam Joomin,Park Yoochun,Hwang Miyoung (Tiffany SNSD), Jung Yunho
Other Cast : (Saya males nyantumin nama2nya,, ==” *plakk)
Warn : BANYAK TYPO ato MISSING TYPO #entah mengapa dari dulu saia selalu bermasalah sama typo..==#! EYD berantakan! Alur gaje & aneh! Sulit di mengerti, amburadul, cerita awut2an kayak rambutnya nenek lampir..==#pletak!

..::o::..
*Cuplikan Part 2*
Aku dan Yoochun sedang makan malam bersama di ruang makan. Dari tadi,kami tidak berbicara sedikit pun saat kami makan. Suasana ruang makan sangat hening dan hanya ada suara sumpit dan sendok yang merupakan alat makan kami. Sambil mengunyah makananku,aku melirik ke arah Yoochun diam-diam yang juga sedang melahap makanannya. Oh,untunglah dia mau memakan masakanku. Semoga di lidahnya, rasa masakanku tidak buruk.
Karena tidak tahan dengan suasana yang begitu sunyi mencekam. Aku mencoba untuk angkat bicara, “Ajusshi,bagaimana rasa masakannya?”tanyaku pada Yoochun.
Yoochun tidak mengalihkan pandangannya dari makanannya dan ia sama sekali tidak menatapku, “Tidak buruk,”jawabnya sangat-sangat-sangat singkat. Oh Tuhan,aku sampai menyatakan kata ‘Sangat’ hingga tiga kali.
Mendengar jawabannya yang begitu singkat,aku mengangguk kecil tanda memberi respon. Berarti,memang tidak ada masalah dengan rasa masakanku. Ilmu memasak dari Min Ajumma memang sangat berguna. Hahahaha..
“Ngomong-ngomong,siapa nama pria yang berbincang denganmu saat di pantai? Ketika hari pernikahan kita,”tanya Yoochun tiba-tiba tanpa menatap ku sama sekali. Ia masih terlihat asyik menyantap makanannya.
Aku langsung memandangnya ketika ia bertanya seperti itu, “Eum? Oh..itu Jung Yunho…”jawabku.
“Siapa dia?”
“Dia.. orang yang baru saja aku kenal..”
“Orang asing?”
“Eumm.. Bisa dibilang seperti itu.”
Kulihat Yoochun hanya mengangguk. Yeah,Jung Yunho.. Sepertinya dia seumuran dengan Park Yoochun. Tetapi,Yunho tampaknya lebih keren. Ia sama sekali bukan seorang ‘Ajusshi’ dimataku. Yunho lebih pantas jika di panggil ‘Oppa’.
Hmm,Jung Yunho.. Apa aku bisa bertemu dengannya kembali?
*Part 3*
Kini aku sedang berada di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Yoochun. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju sekolahku dan kantor Yoochun. Yoochun memutuskan untuk mengantarku ke sekolah lebih dulu agar aku tidak terlambat. Dari tadi kami hanya diam saja di dalam mobil. Tidak ada satu pun yang berbicara di dalam mobil. Suasana sungguh kaku. Dan ketika kami berhenti disebuah lampu merah,tanpa sengaja aku melirik ke arah Yoochun. Aku menyadari kalau dasi yang dipakai oleh Yoochun sedikit berantakan. Karena melihat dirinya yang tidak menyadari hal tersebut,tanpa ragu aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arah Yoochun bermaksud untuk merapikan dasinya.
“Dasimu berantakan,Ajusshi..”kataku dan mulai merapikan dasi yang dipakai oleh Yoochun.
Yoochun yang menyadari kalau aku mencondongkan tubuhku kearahnya sedikit tersentak kaget. Aku yang mengetahui kalau Yoochun kaget seperti itu langsung menatapnya. Dan ketika mata kami berdua saling bertemu,kami menyadari kalau jarak wajah kami begitu dekat. Aku pun membelalakkan mataku dan Yoochun menatapku kaget. Cepat-cepat,akupun langsung menjauh dari Yoochun dan kembali ke posisiku semula. Oh Tuhan,apa yang sudah aku lakukan?
Aku pun menggigit bibirku karena menyadari sikapku tadi yang spontan saja mendekatinya. Aduh,mengapa aku sebodoh ini?
Yoochun yang menyadari kecanggunganku berusaha untuk menyikapinya dengan santai dan berdeham pendek. Aku yang menyadari tingkahnya menatap Yoochun frustasi. Aish,Ajusshi ini…
“Kita sudah sampai,”ujar Yoochun tiba-tiba.
Aku mengangguk. Setelah beberapa lama di perjalanan,akhirnya kami sampai di SMA Dongshin.
“Aku turun disini saja. Tidak perlu masuk,”kataku.
Yoochun sepertinya tidak menghiraukanku. Dengan santainya,ia malah memasuki halaman SMA Dongshin. Aku yang melihat tingkahnya menatap Yoochun kesal, “Yaa,sudah aku bilang turun di luar saja! Bagaimana kalau ada yang lihat kalau aku berduaan di dalam mobil bersama seorang Ajusshi sepertimu?!”amukku.
Yoochun masih saja tidak mempedulikanku. Dari balik saku jasnya,ia mengambil sesuatu dan memberikannya padaku, “Ambillah,”kata Yoochun sambil menyodorkanku sesuatu yang diambilnya dari saku jasnya.
Aku menatap pemberiannya sebentar. Setangkai permen loli. “Itu..bukan racun’kan?”tanyaku ragu.
Yoochun menghela nafas, “Kau kira aku ini penjahat? Cepat ambil dan keluar dari mobilku. Aku mendapatkannya dari pegawai wanita yang baru saja menyatakan cintanya padaku kemarin.”
Aku cemberut mendengar ucapannya. Dia ini ketus sekali. Bahkan dia mengusirku. Dengan cepat,aku menyambar permen itu dari tangannya dan keluar dari mobil. Aku pun menyimpan permen itu ke dalam saku rokku. Lagipula, kenapa ia memberiku permen dari seorang wanita yang menembaknya? Dia memang benar-benar bukan pria yang baik karena tidak mau menerima pemberian seorang wanita yang mencintainya..
Ketika sudah diluar mobil,aku menutup pintu mobil dengan kasar karena aku sudah terlanjur kesal padanya. Huh,biar saja kalau si bodoh Park Yoochun itu tidak terima. Dan ketika sudah beberapa langkah menjauh dari mobilnya,tiba-tiba saja Yoochun memanggilku dari belakang.
“Yaa,Nam Joomin!”

Continue reading

I’m Married! (Part 2)

Annyeong,readerdeul…akhirnya Author paling cantik dateng lagi…^^ *readers pada bubar
Masih dimohon untuk memberikan komennya pada FF gaje saya ini,, so,jangan jadi Silent Reader ya 😉

FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar

Title : I’m Married
Length : 2/?
Author : Me ^^
Genre : Romance & Comedy
Main Cast : Park Yoochun,Nam Joomin,Jung Yunho (Lainnya nyusul yaaaa ^^)
Other Cast : (saya males nyantumin nama2nya…==” *plakk)

Okelah,ini ceritanya……….

..::o::..

*Part 1*

Siang ini,Yoochun berjalan disepanjang pantai sambil menggendongku. Sampai akhirnya,kami sampai di sebuah tempat dimana tempat mobil Yoochun diparkirkan. Ternyata, ia sampai disini dengan cepat karena menggunakan mobil. Ia membuka pintu bagian passenger dan membantuku untuk masuk. Tetapi,setelah aku sudah masuk ke dalam mobil,ia masih diluar dan belum menutup pintunya. Ia pun sedikit membungkukkan badannya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajahku. Aku yang melihat wajahnya sedikit berdekatan denganku pun mencoba memberi jarak.

“Aku tidak menyangka kau akan menjadi istriku,”katanya dengan nada datar sambil memandangku dengan ejekan. Sepertinya dalam hatinya ia berkata : ‘Aku menikahi anak SMA yang sama sekali bukan tipeku’

Aku mendengus mendengarnya, “Aku sangat terkejut bisa menjadi istrimu,”kataku ketus.

Yoochun yang mendengarnya tertawa sinis dan kemudian ia menutup pintu mobil dengan suara yang cukup lantang. Ia pun mulai berlari kecil menuju pintu driver dan membukanya. Ia pun masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mobil.

“Akan kubuat kau menderita!”ancamku padanya sambil memandangnya kesal.

Ia tersenyum mengejek ketika mendengar ucapanku seolah-olah aku ini bukan apa-apa untuknya, “Coba saja. Kita akan lihat nanti siapa yang akan menderita..”

*Part 2*

“Joomin-ah,kenapa dua hari ini kau tidak masuk sekolah? Jangan bilang padaku kalau kau tertular penyakit flu dari Junsu,”kata Seorin padaku saat kami sedang berada di kantin untuk jam makan siang.

Junsu yang satu meja dengan kami merasa tidak terima, “Ya,fluku tidak separah yang Ajumma kira!” Junsu mencoba membela diri sambil membanting sumpit ke atas meja. Benar,Junsu memanggil Seorin dengan panggilan Ajumma. Ini semua karena menurut Junsu,Seorin sangat cerewet seperti Ajumma-ajumma kebanyakan. Tetapi,Seorin yang masih muda tentu saja tidak terima jika harus dipanggil seperti itu oleh Junsu. Tak jarang mereka bertengkar. Namun,walaupun begitu,kami sangat dekat dan kedua orang ini adalah sahabatku.

“Ya,anak bodoh! Kau memanggilku apa tadi? Akan kuadukan sikapmu ini pada Eommamu!”ancam Seorin sambil mencoba melempar Junsu dengan sumpit.

“Sudahlah. Aku sedang pusing..”keluhku sambil sedikit menarik rambutku.

Seorin dan Junsu yang melihat tingkahku menatap ku agak panik, “Pusing? Joomin Noona,sebaiknya kau ke UKS sekarang!”kata Junsu. Junsu memang memanggilku Noona. Padahal aku hanya lebih tua dua bulan darinya.

“Yaa,Kim Junsu.. Kau ini bodoh sekali. Joomin tidak sakit,ia pusing karena ada sesuatu yang membebani pikirannya. Kau ini tidak bisa menggunakan otakmu dengan baik,ya Kim Junsu? Kau tidak pantas masuk ke SMA ini. SMA Dongshin terlalu bagus untukmu,”kata Seorin pada Junsu. Junsu pun merengut sebal ketika dikatai seperti itu oleh Seorin. Yeah,nama sekolah kami adalah SMA Dongshin. SMA yang tergolong bagus meskipun tidaklah semua muridnya adalah orang kaya. Hanya saja,sekolah kami ini sering mendapatkan prestasi. Oleh sebab itu,sekolah kami selalu dilirik oleh lembaga pendidikan dan masyarakat lainnya.

“Memangnya ada apa,Joomin-ah?”tanya Seorin padaku.

‘Karena aku menikah dengan Park Yoochun! Presdir Big East Group yang merupakan departement store yang super besar itu! Tidak hanya departement store! Ia juga memiliki hotel,swalayan dan restoran super mewah!’

Sebenarnya aku hendak menjawab pertanyaan Seorin dengan kalimat tersebut. Tetapi,aku harus bisa menjaga mulut. Mana boleh aku mengatakan bahwa aku sudah menikah dan tidak masuk sekolah karena melangsungkan pernikahan? Otakku masih berfungsi dengan baik. Oleh sebab itu aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Bagaimanapun,kedua sahabatku ini tidak boleh tahu akan hal ini.

“Tidak.. tidak ada. Ayo,kita makan saja,”kataku dan mulai melahap bekalku.

Junsu dan Seorin pun mengangguk dan mulai menyantap bekal mereka. Dan tak lama kemudian,Junsu dan Seorin bertengkar. Ini karena Junsu yang mengambil lauk daging dari bekal Seorin tanpa ijin.

“Oh ya,apa kalian tahu Big East Departement Store?”tanyaku tiba-tiba pada mereka berdua. Aku menyampaikan pertanyaan ini karena aku ingin tahu dan aku ingin mereka berdua berhenti bertengkar.

Seorin yang mendengarnya mengangguk, “Aku tahu. Itu kan Departement Store yang pelayanannya sangat mewah. Kudengar,harga barang disana semuanya hampir diatas delapan ratus ribu won!”kata Seorin.

Junsu yang mendengarnya pun mulai tersedak, “Itu kan gaji karyawan dalam satu bulan.. Pasti pengunjungnya adalah orang kaya semua.. Wah,pasti pemiliknya kaya raya,”ujar Junsu takjub.

Aku yang mendengar nya cukup takjub. Wah,berarti hebat juga Park Yoochun ini. Pantas saja rumahnya sangat mewah dan mobilnya sangat keren. Ternyata,ia memang kaya raya..

“Memangnya ada apa kau bertanya tentang itu?”tanya Seorin sambil mengunyah rumput laut  miliknya.

Aku yang mendengarnya sempat tergagap. Tetapi,aku masih bisa mengatasi kegagapanku, “Ani..” balasku sambil menggelengkan kepalaku.

Memang tidak rugi sepenuhnya juga jika harus menikah dengan seseorang yang sangat kaya seperti Park Yoochun. Kuharap sesuatu yang baik akan terjadi ditengah-tengah pernikahanku. Apa aku harus bersikap menjadi istri yang sesungguhnya? Pikiranku belum terlalu jauh tentang pernikahan. Karena aku tidak pernah membayangkan tentang pernikahan ataupun jatuh cinta. Namun,ada satu pikiran yang muncul dibenakku.. Apakah Park Yoochun adalah seseorang yang ditakdirkan untukku?

..::o::..

Yoochun sedang berkutat dengan berbagai dokumen diruangannya. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan seorang sekretarisnya. Sekretaris Lee. Sekretaris Lee adalah pria yang bekerja sebagai Sekretaris di Big East Group dan umurnya sebaya dengan Yoochun. Sekretaris Lee saat itu sedang berdiri sambil mengamati Yoochun yang sedang membaca sebuah dokumen dengan tegang. Ia takut kalau Yoochun sampai marah karena ada yang salah ketika ia mengoreksinya.

Dan setelah itu,Yoochun menghela nafas kasar. Ia melempar dokumen itu dengan keras ke atas meja. Sekretaris Lee yang melihat tingkah Yoochun tersentak kaget dan menatap Yoochun takut. Ia yakin pekerjaan nya kali ini salah besar.

“Apa yang kau berikan padaku? Itu?”tanya Yoochun sambil menunjuk dokumen yang baru saja dibacanya.

“I..Itu Laporan-“

“Laporan,laporan,laporan! Laporan apa?! Cepat buat yang baru! Aku tidak mau membacanya! Sampai mati pun aku tidak mau! Semuanya disusun dengan sangat berantakan!!”bentak Yoochun memotong kalimat Sekretaris Lee sambil memukul mejanya. Sekretaris Lee yang mendengarnya pun menunduk dalam-dalam sambil menahan diri untuk tidak menangis.

“Ch..Choseonghamnida..”gagap Sekretaris Lee takut-takut sambil membungkukkan badannya. Sekretaris Lee pun mengambil laporan tersebut dari meja Yoochun dengan hati-hati.

Tokk..tokk..

Pintu ruangan Yoochun diketuk dari luar. Yoochun yang mendengarnya pun mulai memberikan sahutan, “Masuk!”sahut Yoochun pendek.

Dan tampaklah seorang namja dari balik pintu tersebut, “Sajangnim,ada yang ingin bertemu dengan anda,”kata namja itu yang merupakan karyawan Yoochun. Namja yang merupakan Sekretaris Yang itu membungkuk dengan hormat dihadapan Yoochun.

Yoochun menghela nafas tanpa memandang Sekretaris Yang sedikitpun, “Siapa namanya?”tanya Yoochun.

“Namanya Nam Joomin.”

Yoochun tersentak ketika mendengar nama tersebut. Ia langsung menatap Sekretaris Yang dengan shock, “A..apa katamu!?” Yoochun berteriak tidak percaya. Sedangkan,Sekretaris Yang dan Sekretaris Lee bergidik mendengar seruan Yoochun. Yoochun mendengus. Ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangannya yang masih terdapat Sekretaris Lee dan Sekretaris Yang disitu. Ketika Yoochun membanting pintu ruangannya dan melangkah keluar,Sekretaris Lee dan Sekretaris Yang menarik nafas lega karena mereka selalu tegang ketika berada di dekat Yoochun yang terkenal galak dan perfeksionis dalam dunia kerja. Yeah,semua pegawai Big East Group sangat tunduk dan takut padanya. Sepertinya Park Yoochun adalah Presdir yang cukup mengerikan..

Dan ketika dibalik pintu ruangannya,ia melihat ada seorang gadis yang memakai jaket bergambar Piglet lengkap dengan tudung jaket yang berhiaskan kedua telinga Piglet. Gadis itu kelihatan sangat kesal karena dipiting oleh dua orang security.

Yoochun yang melihat hal tersebut menghela nafas panjang, “Lepaskan dia,”kata Yoochun pada dua orang security tersebut.

“Tapi,Sajangnim. Gadis ini mencoba masuk ke dalam kantor dengan mengendap-endap. Dia sangat mencurigakan..”jelas salah satu security yang memiting Joomin.

Joomin yang mendengar hal tersebut memajukan bibirnya kesal dan memandang kedua security itu dengan geram, “Lepaskan aku! Kau kira aku ini teroris atau apa? Aku bukan penjahat!”seru Joomin memberontak.

“Lepaskan dia,”pinta Yoochun singkat.

“Tapi,Park Sajangnim-“

“Kubilang lepaskan dia!! Apa kurang jelas!!?”bentak Yoochun seram dan membuat kedua security itu bungkam. Joomin yang saat itu melihat sikap Yoochun mengerjabkan matanya tidak percaya. Joomin tidak menyangka kalau Yoochun sangat mengerikan dan galak.

Dengan gemetaran karena ketakutan,kedua orang security itu pun melepaskan Joomin. Joomin yang sudah merasa terbebas itu memasang senyuman kemenangan yang ditujukan pada kedua security tersebut. Menyadari hal tersebut,kedua security itu pun menghela nafas panjang. Yeah,kedua security itu memang tidak tahu kalau Joomin adalah istri dari Yoochun.

“Cepat kembali bekerja!”pinta Yoochun dan langsung dituruti oleh kedua security tersebut.

Setelah security itu pergi,Yoochun mulai memandang Joomin, “Jangan bicara disini. Kita diluar kantor saja,”kata Yoochun pada Joomin dan langsung melangkah duluan meninggalkan Joomin.

Joomin yang berada dibelakang Yoochun pun langsung mengekori langkah Yoochun. Ketika mereka berdua melewati beberapa karyawan yang sedang bekerja,para karyawan langsung berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang mengetahui pernikahan Yoochun dan Joomin hanyalah beberapa orang dari Dewan Komisaris dan beberapa orang direktur. Jumlahnya saja tidak lebih dari lima orang.

Dan setelah itu,mereka sampai di luar kantor dan Yoochun pun menghentikan langkahnya. Spontan,Joomin pun juga menghentikan langkahnya dan memandang Yoochun. Kemudian,Yoochun berbalik dan memandang Joomin, “Untuk apa kau kesini? Kau mau buat masalah? Lagipula darimana kau tahu kalau ini kantorku?”tanya Yoochun ketus.

“Siapa yang tidak tahu kantor Big East Group?”balas Joomin. Tiba-tiba saja,Joomin menunjukkan telapak tangannya pada Yoochun seolah-olah sedang meminta sesuatu, “Oh ya.. Berikan aku uang.”

“Mwo?”

“Uang. Kau tahu uang kan,Ajusshi? Uang,uang..” Joomin masih saja membalikkan telapak tangannya sambil memandang Yoochun dengan santai.

Yoochun yang mendengar hal tersebut memandang Joomin tak percaya. Tetapi,Yoochun langsung mengubah ekspresinya menjadi sinis sambil mendengus sebal, “Jadi,kau menghabiskan waktuku hanya untuk itu?”

Joomin memandang Yoochun sambil mengernyitkan alisnya, “Apa itu masalah? Uangku hilang. Padahal aku harus kembali ke rumah. Lihatlah,aku masih pakai seragam!”kata Joomin sambil membuka resleting jaketnya dan memperlihatkan tubuhnya yang masih terbalut seragam sekolah. “Kebetulan tadi aku lewat sini. Makanya aku minta uang padamu.”

Yoochun yang mendengar pertanyaan Joomin menutup matanya untuk meredam emosinya mendengar penjelasan Joomin. Dan dengan gusar,Yoochun meletakkan beberapa lembar uang won dari dompetnya diatas telapak tangan Joomin, “Aku sudah memberikanmu uang. Pergilah!”pinta Yoochun dengan dingin, “Jangan menggangguku.”

“Kau mengusirku?! Jadi inikah sikapmu ketika istrimu datang,Ajusshi?”kata Joomin sambil menatap Yoochun sewot.

Yoochun yang mendengar kalimat Joomin,terdiam sebentar. Tetapi tiba-tiba saja,Yoochun mendorong Joomin ke sebuah pohon yang berada di dekat mereka. Joomin tersentak kaget ketika menyadari perilaku Yoochun terhadap nya. Joomin pun hendak mengembalikan posisinya seperti sebelumnya,tapi terlambat ketika Yoochun menahan tubuh Joomin dengan tangan kanan yang berada di samping kepala Joomin dan tubuh Yoochun yang menempel pada tubuh Joomin. Joomin yang menyadari hal ini menelan salivanya tegang. Sekarang jarak antar mereka berdua sangat dekat. Joomin yang terlihat gugup itu berbanding terbalik dengan Yoochun yang sepertinya santai saja meskipun matanya memandang Joomin dengan tajam.

“Ajusshi,kau ini! Lepaskan aku!”bentak Joomin yang menyembunyikan kegugupannya dengan wajah yang digalak-galakan.

Yoochun tidak menghiraukan Joomin, “Apa? Apa katamu? Istriku? Jadi maksudmu, kau itu istriku?”ucap Yoochun sambil menatap Joomin lurus.

Joomin tidak menyahut. Menyadari kalau wajahnya dan wajah Yoochun begitu dekat,Joomin memalingkan wajahnya ke samping kanan agar wajahnya tidak berhadapan dengan wajah Yoochun. Tetapi,tangan kiri Yoochun meraih dagu Joomin dan memaksa wajah yeoja itu untuk berhadapan dengannnya. “Jadi.. kau mengakui bahwa kau adalah istriku?”tanya Yoochun sambil memandang mata Joomin.

“Ajusshi! Apa yang kau lakukan?!”teriak Joomin.

“Jawab aku!”

“Yaa,kita ini sudah menikah! Kalau kita menikah,apa aku akan menjadi anakmu?!”balas Joomin sewot dengan pipi yang memerah karena wajah Yoochun yang sangat dekat. Joomin mengakui bahwa Yoochun sangatlah tampan. Yoochun tidak pantas dipanggil Ajusshi. Mana ada Ajusshi setampan Park Yoochun? Aish,kalau begitu apa Joomin harus memanggilnya ‘Oppa’? Ah,tidak tidak tidak! Itu terdengar sangat konyol..

Yoochun menyeringai mendengar perkataan Joomin, “Kalau jawabanmu begitu,apa kau siap melakukan tugas seorang istri?”bisik Yoochun ditelinga Joomin. Entah mengapa,kali ini suara Yoochun terdengar lebih sexy dan mampu membuat Joomin bergidik ngeri.

“N..ne?” Joomin terlihat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yoochun. Joomin rasa,Yoochun menjadi sangat mengerikan jika bersikap seperti ini..

“Tugas seorang istri ditempat tidur. Apa kau tidak mau mencobanya? Bukankah kau adalah istriku?”balas Yoochun dengan suara yang masih terdengar seksi. “Bukankah kita belum pernah melakukan malam pertama setelah pernikahan kita?”

Joomin melotot ketika menyadari apa yang sedang dimaksudkan oleh Yoochun. Ini gila.. Sejak kapan Yoochun bersikap seperti ini? Kenapa Yoochun seolah-olah sedang menggoda Joomin? Joomin merasa ngeri dan takut. Dalam pikiran Joomin,berarti memang benar kalau Park Yoochun ini adalah  namja mesum. Joomin benar-benar tidak siap untuk menjadi seorang istri. Tetapi,statusnya sudah menjadi istri dari seorang Park Yoochun. Ah,ini memang gila.. Pernikahan mereka memang sudah di daftarkan di negara,namun sangat sangat dirahasiakan. Itu pun mengurusnya juga sangat sulit karena Joomin masih duduk di bangku SMA.

Dan tak lama kemudian,tiba-tiba saja Yoochun semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Joomin. Joomin yang menyadari hal tersebut hanya bisa memejamkan matanya pasrah. Ia tidak berani melihat hal selanjutnya yang menimpa dirinya. Apakah akan berciuman..? Oh tidak! Itu merupakan kemungkinan yang sangat buruk!

“Cih,yeoja bodoh. Yakin sekali kau kalau aku akan menciummu. Buat apa aku mencium dan bercinta dengan anak kecil sepertimu? Buka matamu!”

Joomin langsung membuka matanya ketika namja yang tepat berada di hadapannya berkata demikian dengan nada dingin. Joomin mengerjabkan matanya ketika menyadari bahwa tubuh Yoochun sudah menjauh darinya. Jadi.. Apa tadi Yoochun hanya main-main dengannya? Joomin merutuki kebodohannya karena ia pasrah saja dan sempat berpikir kalau Yoochun akan menciumnya. Seharusnya,Joomin menginjak kaki Yoochun atau menjambak rambut Yoochun. Astaga,Joomin benar-benar merasa malu bukan main! ‘Ya ampun,Nam Joomin! Apa yang kau harapkan?! Berciuman dengannya?! Dasar bodoh!’rutuk Joomin dalam hati.

“A.. apa? T.. tidak kok! Aku tidak berpikir kalau kau akan menciumku!”bohong Joomin dengan terbata-bata dan salah tingkah. Joomin benar-benar merasa malu. Sangat malu.

Yoochun menghela nafas panjang, “Aku masih banyak urusan. Aku akan kembali bekerja,”kata Yoochun dan langsung pergi melangkah meninggalkan Joomin.

Joomin yang masih berdiri diam di tempatnya menatap punggung Yoochun sebal. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Yoochun akan mempermalukan Joomin.

“Aish! Harga diriku terluka! Kau bodoh,Nam Joomin!!”rutuk Joomin sambil membenturkan kepalanya di pohon walaupun pada akhirnya ia merasa kesakitan karena telah membenturkan kepalanya sendiri di pohon.

..::o::..

“Jung Seonsaengnim,kau akan dipindahkan ke SMA Dongshin di Seoul. Kami memindahkanmu di sekolah Dongshin karena kinerjamu sangat cocok untuk sekolah sebagus itu. Apa kau menerima tawaranku,Jung Seonsaengnim? Kepala sekolah SMA Dongshin sangat menyukai prestasimu sebagai seorang guru. Kalau kau menolak,tidak apa-apa.. Aku bisa mengatakannya pada Kepala Sekolah SMA Dongshin,”kata seorang namja paruh baya pada seorang namja yang duduk di hadapannya sambil tersenyum. Namja paruh baya itu adalah seorang kepala sekolah dan namja yang berada di hadapannya adalah seorang guru. Mereka berdua tengah berbincang-bincang di ruangan Kepala Sekolah.

Jung Seonsaengnim yang bernama lengkap Jung Yunho itu tersenyum sambil mengangguk, “Saya tidak bisa berpikir panjang untuk hal ini. Ini benar-benar merupakan kebanggaan yang besar jika harus mengajar di SMA sebagus Dongshin. Saya menerima tawaran ini,Kepala Sekolah Kim..”angguk Yunho sambil tersenyum..

..::o::..

Joomin melangkah masuk ke dalam rumahnya setelah ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Dengan santai,Joomin meneruskan langkahnya hingga ia sampai di kamarnya. Tetapi,langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang ganjil di ruang tamu. Beberapa koper diletakkan di salah satu sudut ruang tamu. Joomin sedikit memiringkan kepalanya menanggapi keganjilan tersebut dengan perasaannya yang bingung. Dan tak lama,saudari Joomin,Nam Jooyoung berjalan melewati ruang tamu. Menyadari akan keberadaan Eonninya,Joomin hendak bertanya pada Jooyoung,

“Jooyoung eonni!” Joomin memanggil Jooyoung dan mendatangi eonninya yang sedang menyumbat telinganya dengan earphone. Jooyoung pun memberhentikan langkahnya sambil memandang Joomin.

Menyadari akan keberadaan adiknya,Jooyoung langsung menatap Joomin,“Joomin-ah? Wae?”tanya Jooyoung pada Joomin sambil melepaskan earphone dari telinganya.

Joomin melirik ke arah koper-koper  itu, “Koper-koper itu-”

“Oh itu..kau akan dipindahkan ke rumah kalian yang baru,”Jooyoung memotong kalimat Joomin sambil tersenyum cerah pada Joomin.

Joomin mengernyitkan alisnya bingung, “K..Kalian? ‘Kalian’ apa?”tanya Joomin bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Jooyoung berdecih, “Kau dan Park Yoochun! Memang siapa lagi?! Koper-koper itu berisi pakaian milikmu. Aku sudah membereskannya bersama Min Ajumma. Sore nanti,aku akan mengantarmu ke rumah Yoochun dan Park Halmeoni,”balas Jooyoung.

Joomin membelalakkan matanya lebar. Apa kah yang dimaksud oleh Jooyoung adalah : “Tinggal bersama Park Yoochun”??!!! Joomin tidak sanggup berkata-kata. Pikirannya kacau menerima kenyataan ini. Tubuhnya lemas seketika.

“Eomma..mana Eomma?”tanya Joomin pada Jooyoung sambil berusaha untuk tetap stabil meskipun ia sangat kacau karena harus tinggal bersama Park Yoochun.

“Eomma sudah berangkat ke Jepang tadi. Besok aku juga akan kembali ke Jepang. Liburanku kan hanya satu minggu. Hahahaha,semoga kau bahagia tinggal bersama Park Yoochun! Aku tidak menyangka bahwa kau menikah lebih cepat dibandingkan aku! Hahahaha!!”tawa Jooyoung sambil memasang kembali earphone nya dan berlalu meninggalkan Joomin yang saat itu benar-benar shock. Joomin benar-benar merasa kesal. Entah ini karena harus tinggal bersama dengan Park Yoochun ataupun karena Jooyoung yang mengejeknya tadi. Intinya sama saja. Semuanya membuat Joomin kesal. Joomin benar-benar butuh penghiburan untuk menghadapi segala kenyataan ini..

..::o::..

*Joomin POV*

“Joomin-ah,Jooyoung-ah..kalian sudah datang?”sambut Park Halmeoni ketika aku dan Jooyoung eonni sudah sampai di rumah milik Park Yoochun.

Aku memaksakan senyumku sambil membungkukkan badan untuk menanggapi sambutan Park Halmeoni. Jooyoung eonni melakukan hal yang sama denganku. Tapi perbedaannya,senyumanku dipaksakan,sedangkan eonni tidak.

“Ayo masuk dulu. Yoochun sedang bersiap-siap,”kata Park Halmeoni sambil mempersilahkanku dan Eonni untuk masuk.

Tetapi,aku menolak dengan sopan, “Ah,choseonghamnida Halmeoni.. Kami menunggu diluar saj-“

“Ah? Kau.”

Sebuah suara memotong kalimatku. Sesosok namja dengan pakaian kemeja tipis berwarna abu-abu yang digulung sampai lengan dengan celana jeans muncul di belakang Park Halmeoni sambil memandangku ketus. Aku menelan salivaku ketika namja itu menatapku dengan tatapan yang sangat tajam,dan itu sangat mengerikan. Benar,namja itu..Namja itu adalah.. PARK YOOCHUN!! Hyaaaa,kenapa dia muncul?!

Tetapi,tiba-tiba saja,kurasakan kalau Jooyoung Eonni menyikut lenganku keras.

“Ayo beri salam!”bisik Jooyoung eonni sambil memasang death glarenya yang paling mengerikan padaku.

Terpaksa,aku mengikutinya yang juga membungkukkan badan memberi salam untuk Park Yoochun. Uh,Jooyoung Eonni terlalu sopan untuk berhadapan dengan Park Yoochun. Untuk apa membungkukkan badan demi Park Yoochun!?

Yoochun merespon kami dengan sebuah bungkukkan kecil,“Baiklah,kita bisa berangkat sekarang. Tadi semua barang-barangku sudah aku masukkan ke dalam bagasi,”kata Yoochun. Aku sempat menyadari kalau tadi dia sempat melirikku yang membuang muka dari padanya.

“Ah,ye.. Kau bisa berangkat dengan Joomin sekarang. Barang-barang Joomin akan aku masukkan ke dalam bagasi,”kata Jooyoung Eonni sambil tersenyum manis pada Yoochun. Tetapi,percuma saja. Yoochun hanya memandang Eonni dengan sangat-sangat datar.

“Tidak perlu. Biar aku saja yang memasukkan barang-barangnya ke dalam mobilku,”ucap Park Yoochun menawarkan diri untuk memasukkan barang-barangku ke dalam bagasi mobil.

..::o::..

“Ini tempatnya?”tanyaku pada Yoochun yang duduk di sampingku sambil memandang sebuah rumah lewat jendela mobil. Aku menumpang mobilnya agar kami bisa berdua bisa sampai di sebuah rumah yang diperuntukkan bagiku dan Yoochun.

Yoochun tidak menjawabku dan masuk ke dalam pekarangan rumah itu lalu memakirkan mobilnya disitu. Yoochun pun melepas sabuk pengamannya dan hendak keluar dari mobil, “Cepat keluar,”ucap Yoochun singkat dan kemudian keluar dari mobil.

Aku menghela nafas dan kemudian keluar dari mobil. Ketika aku sudah keluar dari mobil,aku memandang rumah itu baik-baik. Rumah ini tidak begitu besar dan memiliki dua lantai. Kesannya minimalis namun sangat elegan. Beberapa pepohonan dan berbagai tanaman hias juga tumbuh di sekitar pekarangan rumah. Ada juga sebuah kursi panjang yang diletakkan di bawah pohon dan kursi itu berhadapan dengan sebuah kolam ikan kecil yang dihiasi bebatuan disetiap sisinya. Sangat indah dan asri. Sepertinya dalam waktu dekat aku bisa menyukai rumah ini. Tetapi,sayangnya Park Yoochun merupakan pengganggu yang mengusik kecintaanku pada rumah ini karena keberadaan dirinya. Aish,aku benci Yoochun Ajusshi!!

“Ya,sampai kapan kau disitu? Cepat bantu aku membawa barang-barang ini dan buka pintu rumah!”pinta Yoochun yang sedang berkacak pinggang di samping mobil.

Aku berdecak, “Kunci rumahnya saja aku tidak tahu ada dimana,”kataku malas.

“Ambil saja dibawah pot bunga di dekat pintu itu,”balas Yoochun cuek dan mulai membuka bagasi mobil.

Aku merengut dan mulai melangkah menuju pot bunga yang dimaksud olehnya. Ajusshi ini sangat tidak asyik. Bicaranya saja sangat ketus. Dia juga dingin dan galak. Ia tidak pernah memberikan jawaban yang terbaik. Ia sungguh menjengkelkan!

..::o::..

Setelah memasukkan seluruh barang-barang kami ke dalam rumah,Yoochun berkata padaku.

“Rumah ini memiliki tiga buah kamar. Kita bisa menggunakan kamar terpisah. Aku tidur dilantai satu dan kau dilantai dua. Bagaimana?” Yoochun mengajukan tawaran padaku. Karena malas memikirkannya,aku hanya mengangguk menurut.

Lalu,kami pun mulai meletakkan barang-barang kami di kamar kami masing-masing. Kami hanya membawa pakaian-pakaian kami dan beberapa barang kebutuhan lainnya. Walaupun begitu,barang-barang yang kami bawa sangat banyak. Di rumah ini,berbagai properti sudah disiapkan. Seperti lemari,televisi,kulkas,meja,kursi,AC dan lain sebagainya sudah lengkap di rumah ini. Hanya tinggal pakaian atau barang-barang milik kami sendiri yang sekiranya perlu dibawa.

Sekarang,aku dan Yoochun hanya duduk di sofa ruang tamu rumah ini untuk melepas lelah. Kulihat kalau Yoochun berkeringat dengan sangat hebat. Ia tampak sangat kepanasan. Dan tak lama kemudian,ia membuka tiga kancing kemejanya sehingga dadanya yang bidang itu dapat terlihat olehku. Aku yang menyadari hal tersebut pun langsung mengalihkan pandanganku dan mencoba untuk menahan pipiku yang mulai memerah. Melihat Yoochun yang membuka tiga buah kancing kemejanya dengan tubuh yang mengkilap oleh keringat dan rambut Yoochun yang basah yang juga disebabkan oleh keringat mungkin adalah pemandangan yang sangat sexy. Dan juga nafas Yoochun yang bertempo cepat karena lelah itu menjadi nilai tambahan dari ke-sexy-an seorang Park Yoochun kali ini. Dan lihatlah,dia memiliki tato di dada nya dan itu membuatnya tampak maskulin. Oh ya ampun! Apa yang sedang aku pikirkan?!

“Aku akan membuat makan malam,”kataku cepat dan langsung beranjak menuju dapur.. Aku tidak mau melihatnya lama-lama kalau kondisinya seperti itu. Membuatku panas saja..

Aku memotong sayuran dan memasaknya di dalam sebuah panci berukuran sedang. Aku cukup terkejut juga ketika menyadari kalau di dalam kulkas sudah tersedia berbagai jenis bahan makanan. Sekarang aku sedang memasak Sup Gamjatang dan sedikit Bindaetteok. Aku tidak peduli apakah Park Yoochun menyukainya atau tidak. Yang penting,sekarang aku ingin makan makanan ini.

Ketika aku sedang memasak,kusadari bahwa ada seseorang menghampiriku dan berdiri di sampingku. Aku pun menoleh ke arah orang tersebut dan terlonjak kaget ketika melihat siapa orang tersebut.

P..Park Yoochun! Park Yoochun berdiri disampingku sambil mengamatiku yang sedang memasak. T..Tapi,bukan itu masalahnya!! Masalahnya adalah,ia hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya dengan handuk yang dilingkarkan di lehernya. Tubuhnya sedikit basah dan bau sabun. Kupastikan bahwa ia baru saja mandi. Aduuhhh,Ajusshi ini sudah tidak waras ya?! Kenapa ia tidak berpakaian dihadapanku?!

“Kau bisa masak?”tanyanya sambil sedikit mencicipi Bindaetteok yang sudah matang diatas meja.

“S..Sedikit..”jawabku dan kembali berfokus pada masakanku. Aku tidak berani menatapnya kalau ia tidak berpakaian seperti itu! “Sebentar lagi,masakanku akan matang. Sebaiknya kau memakai pakaianmu lalu makan malam. Aku akan mandi dulu,”sambungku.

Yoochun terdiam sebentar. Kemudian ia membalikkan tubuhku sehingga aku berhadapan dengannya. Menyadari akan tingkahnya,aku terlonjak kaget. Ia pun menatap bibirku dengan sorotan matanya. Sedangkan,aku menatapnya tegang dan tidak berani untuk berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Menyadari kalau tatapannya semakin dalam dan wajahnya semakin mendekat,akupun langsung menutup kedua mataku. Apa jangan-jangan dia mau menciumku? Aahh,tidaaaaakkkk!!

“Ada pasta kacang,”katanya singkat sambil mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Sontak aku membuka kedua mataku dengan cepat setelah ia berbicara seperti itu. A..apa?!! jadi dia hanya membersihkan pipiku dari pasta kacang dan bukan menciumku?! Astaga,aku salah sangka (lagi).. Tapi,kenapa tadi dia menatap bibirku?! Uh,dasar Ajusshi bodoh!! Bikin panik saja!

Kulihat ia pun melangkah menjauhiku. Ia pun kembali menyambar Bindaetteok di atas meja dan kembali melahapnya. Dan tanpa bicara apapun,ia melangkah keluar dari dapur tanpa menghiraukanku yang sedang mengutuk diri karena aku terlalu GR. Huh,pasta kacang yang menyebalkan! Harusnya tadi aku tidak usah mencolek-colek pasta kacang..

..::o::..

Aku dan Yoochun sedang makan malam bersama di ruang makan. Dari tadi,kami tidak berbicara sedikit pun saat kami makan. Suasana ruang makan sangat hening dan hanya ada suara sumpit dan sendok yang merupakan alat makan kami. Sambil mengunyah makananku,aku melirik ke arah Yoochun diam-diam yang juga sedang melahap makanannya. Oh,untunglah dia mau memakan masakanku. Semoga di lidahnya, rasa masakanku tidak buruk.

Karena tidak tahan dengan suasana yang begitu sunyi mencekam. Aku mencoba untuk angkat bicara, “Ajusshi,bagaimana rasa masakannya?”tanyaku pada Yoochun.

Yoochun tidak mengalihkan pandangannya dari makanannya dan ia sama sekali tidak menatapku, “Tidak buruk,”jawabnya sangat-sangat-sangat singkat. Oh Tuhan,aku sampai menyatakan kata ‘Sangat’ hingga tiga kali.

Mendengar jawabannya yang begitu singkat,aku mengangguk kecil tanda memberi respon. Berarti,memang tidak ada masalah dengan rasa masakanku. Ilmu memasak dari Min Ajumma memang sangat berguna. Hahahaha..

“Ngomong-ngomong,siapa nama pria yang berbincang denganmu saat di pantai? Ketika hari pernikahan kita,”tanya Yoochun tiba-tiba tanpa menatap ku sama sekali. Ia masih terlihat asyik menyantap makanannya.

Aku langsung memandangnya ketika ia bertanya seperti itu, “Eum? Oh..itu Jung Yunho…”jawabku.

“Siapa dia?”

“Dia.. orang yang baru saja aku kenal..”

“Orang asing?”

“Eumm.. Bisa dibilang seperti itu.”

Kulihat Yoochun hanya mengangguk. Yeah,Jung Yunho.. Sepertinya dia seumuran dengan Park Yoochun. Tetapi,Yunho tampaknya lebih keren. Ia sama sekali bukan seorang ‘Ajusshi’ dimataku. Yunho lebih pantas jika di panggil ‘Oppa’.

Hmm,Jung Yunho.. Apa aku bisa bertemu dengannya kembali?

 

::TBC::

Hahahaha,aku ngebut buat FF ini ^^
Masih belum di edit,jadi kalo ada typo ato missing typo mohon maap yaa XD

Mohon komennya, ok?
Mohon dukungannya utk FF ini ^^
Next Part akan aku publish secepatnya ^^

Kamsahamnidaaaaaa~!!!! *kabuuuuuurrrrr*

I’m Married! (Part 1)

Annyeonghaseyo,readerdeul,,,^^
Aku Author baru disini,dan ini adalah karya perdanaku yg dipublish disini,,,, 😀

FF INI KARYA SAYA!!! JADI AWAS AJA KALO ADA YG BILANG SAYA PLAGIAT ATO ADA YG NGEPLAGIAT FF SAYA!! TAK SATE KOWE!! *jawanya keluar

Okelah,ini ceritanya……….

..::o::..

Suasana kota Seoul malam itu cukup ramai. Dimana ibukota dari negara Korea Selatan itu terus bekerja dan memicu keringat orang banyak untuk bekerja keras sampai malam. Mesin-mesin berjalan dan memiliki roda empat masih banyak yang beradu untuk berjalan diatas aspal. Lampu-lampu kota dan tiang lampu jalan bergemerlapan untuk memancarkan sinarnya menerangi gelapnya malam. Gedung-gedung pencakar langit yang tampak bak tiang hitam bertitik-titikan sinar menjadi saksi bisu kesibukan malam menjelang musim panas itu.

Ditengah keramaian kota Seoul,terdapat sebuah kedai minum yang cukup ramai karena terus didatangi oleh banyak pengunjung. Dan disalah satu meja,terdapat seorang gadis sedang berbicara dengan seorang temannya yang sudah mabuk berat dan sudah menghabiskan berbotol-botol shoju.

“Ya,Nam Joomin! Kau ini mau bunuh diri,huh? Jangan minum terlalu banyak.. Kau masih SMA,tapi sudah berani minum banyak!”tegur seorang gadis pada temannya yang sudah mabuk karena minum terlalu banyak. Gadis itu memandang temannya dengan raut wajah kesal. Bibirnya dimajukan beberapa senti untuk menunjukkan kekesalannya.

“Nona Go Seorin yang cantik,aku sangat haus dan ingin minum banyak! Hahaha.. Ayo,kita minum dan setelah itu kita pergi ke Paris! Lalala…”balas Joomin yang sudah sangat mabuk,sehingga kepalanya jatuh diatas meja.

Seorin mencibir, “Kau memang sudah benar-benar mabuk! Ayo,pulang! besok kita harus sekolah,dan aku tidak mau ke Paris bersama orang mabuk!” Seorin bangkit dari tempat duduknya dan berusaha mengajak Joomin pergi dari situ,namun Joomin menolak ajakan Seorin dan tetap minum shoju sebanyak-banyaknya.

“Kalau tadi nilai tesku bagus,aku tidak akan minum! ”balas Joomin yang sudah semakin mabuk sambil meneguk botol kedua nya dengan cepat. Baru dua botol tapi sudah mabuk. Nam Joomin ini memang payah.

Perlahan,Seorin kembali duduk di tempat duduknya,di hadapan Joomin yang mabuk berat. Yeah,Joomin jadi begini karena nilai tes Fisika nya yang kurang…ani,tidak memuaskan. Joomin mendapatkan nilai yang buruk. Sangat-sangat buruk. Yaitu,NOL. Karena nilai ini,Joomin dimarahi habis-habisan oleh Shim Seonsaengnim.

“Joomin-ah.. Ayo,kita pulang! kau tidak mengerjakan tugas fisika?”tanya Seorin pada Joomin. Tugas fisika? Hmm,sepertinya fisika sedang tidak ada tugas yang harus dikerjakan dirumah.. Ini hanya trik yang dilakukan oleh Seorin untuk mengajak Joomin pulang. Berbohong sedikit tidak apa-apa’kan?

“Huh? Mwo..? fisika? Apakah itu nama manager boyband 2PM?”balas Joomin yang sudah kehilangan akal sehatnya karena mabuk.

Seorin menghela nafas mendengar kalimat Joomin yang sangat tidak masuk akal.. “Fisika? Mana ada manager 2PM bernama Fisika? Dasar mabuk..”dengus Seorin frustasi.

“Hahaha,Seorin-ah.. Kau itu mirip sekali dengan simpanse milik Michael Jackson! Kalian berdua sangat tampan!! Hahaha… Put your hands up! Put your hands up! Put put put put!! Yuhuuu…!! Taecyeon oppa saranghaeyooo!!”kata Joomin lagi sambil menyanyikan lagu milik boyband papan atas 2PM. Dasar mabuk,pertama membahas simpanse Michael Jackson,tapi malah menyanyikan lagu milik 2PM.

Seorin mengerutkan alisnya, “Mwo? Simpanse? Tampan? Yaa,aku ini yeoja! Huuh,lagipula buat apa kau bawa-bawa Taecyeon Oppa?”

“Hahaha..kalau begitu kau sama cantiknya dengan Taecyeon Oppa! Listen to my heartbeat!” lagi-lagi Joomin menyanyikan lagu 2PM. Astaga,sepertinya Nam Joomin ini adalah seorang Hottest dan menyukai Ok Taecyeon..

Seorin berdecak kesal, “Untung aku tidak mabuk dan masih memelihara kewarasanku..”

“Hahaha.. dan sekarang aku akan memecahkan botol ini dengan kepalaku! Akan kupastikan kalau botol ini pecah,Taecyeon Oppa akan melamarku esok hari!” Joomin mengambil sebuah tempat tissue dari atas meja dan hendak melayangkannya pada kepalanya sendiri.

Continue reading

%d bloggers like this: