Category Archives: SHINee

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 6]

Harin’s POV

“Sejarah, Matematika, Biologi…,” gumamku memasukkan buku pelajaranku satu per satu ke dalam tas. Setelah selesai dengan itu aku menyambar sebuah ikat rambut dan menguncir ekor kuda rambutku. Setelah selesai bersiap, aku melirik lagi ke arah Key yang masih berbaring di lantai. Dalam wujud anjing.

Aku perlahan berjalan ke arahnya. “Yah, ireona,” panggilku menggendongnya. Satu bulan ini berjalan dengan sangat mulus. Key tidak pernah macam-macam, eomma juga tidak tahu kalau anjingku itu Key.

“Key~” panggilku mengelitiki perutnya. Ia mendengkur pelan dan berbalik ke arah lain. Aku mengernyit. Tidak biasanya dia susah dibangunkan begini.

 Ah, jangan-jangan dia cuma main-main.

“Yah,” panggilku mengguncangnya perlahan. Ia masih tidur. Aku memutar bola mataku. Dasar bocah ini!

Aku mendekatkan bibirku dan mengecupnya pelan. Seperti biasa, asap tipis seperti di komik-komik muncul dan Key berubah jadi manusia.

 Tapi posisinya…

“Yah!!!” aku menjambak pelan rambutnya. “Minggir dari pahaku! Byuntae!!” panggilku. Dia masih saja tertidur. Di pahaku!!!

“Key! Neo-” aku terdiam saat tanganku mengenai keningnya. Eh?

“Key? Gwaenchanha?” tanyaku menepuk pelan pipinya. “Kau sakit?”

“Hngg,” cuma itu yang kudengar keluar dari mulutnya. Aku mengerutkan alisku.

“Jinjja?”

Tak ada jawaban. Tiba-tiba aku jadi panik. Duh! Key sakit dan wujudnya wujud manusia, sedangkan aku harus ke sekolah. Kalau kutinggal di rumah eomma atau appa bisa saja tahu kalau aku menyelundupkan cowok di kamar!

Dengan susah payah akhirnya kuangkat Key dan menyeretnya ke kasurku. Aku mengambil berlapis-lapis selimut tebal dari lemari dan menyelimutinya. Di sampingnya kuletakan boneka racoonku, supaya wajahnya tak terlihat kalau eomma masuk.

Dasar merepotkan!

***

Aku mengetuk pelan pipiku dengan bolpen sambil sesekali melirik keluar jendela. Hari ini tidak begitu cerah, walaupun matahari masih sangat terik. Hari ini entah kenapa aku tidak tertarik dengan pelajaran apapun. Sama sekali. Mungkin terdengar bodoh, tapi jujur aku memikirkan Key. Mungkin begini ya rasanya kalau merawat binatang kesayangan dan yang sakit?

 Atau mungkin orang kesayangan?

Aku mengerutkan alisku dan menggeleng pelan mengusir pemikiran aneh yang baru saja lewat di kepalaku. Apa itu? Aku mungkin peduli dengan Key, tapi aku bukannya suka, atau sayang sama Key.

Tapi Key tampan, walaupun mengesalkan, kadang juga baik. Sayangnya cerewet! Bawel!

Ugh! Kenapa aku malah menilai-nilai Key sih?

Aku membaringkan kepalaku di meja sambil mencoret-coret kertas buramku. Menggambar teru-teru bozu, supaya hari ini tidak hujan. Supaya aku bisa lebih cepat pulang ke rumah.

Supaya Key bisa sembuh karena keringatan..

Pluk!

Sebuah pesawat kertas mendarat di mejaku. Aku mengernyit lalu membukanya.

 ’Hey yeoja aneh, memikirkan hyung?’ – Minho

Aku mengernyit dan memutar kepalaku ke arah Minho yang duduk santai menulis catatan di papan. Ia seperti merasa diperhatikan, ia langsung melirik ke arahku dan mengangkat alisnya seakan meminta jawaban. Aku memasang wajah datar.

“Aniya, kau tuan sok tahu,” aku menggerak-gerakkan mulutku tanpa suara. Ia menatapku sejenak sebelum kembali memperhatikan papan. Dasar orang aneh!

***

Aku duduk menatap tray makananku. Sayur lagi, sayur lagi. Menyebalkan. Aku jadi ingat Key yang suka mengomel kalau aku tidak mau makan sayur. Padahal melihat sayur saja rasanya ingin kubuang saja.

 Eh? Bagaimana kalau membawa sayurnya untuk Key? Daripada kubuang kan? Nanti kalau makan sayur dia bisa sembuh juga kan? Lagipula aku tidak bisa masak untuk Key ._.

Aku mengeluarkan kotak bekal pink yang selalu kubawa-bawa kalau ada kelas memasak. Kusisihkan setengah dari nasiku, lalu kumasukkan semua sayuran yang tidak akan kumakan, dan beberapa daging juga tamagomaki.

Baru saja aku selesai dan hendak menutup kotak bekalku seseorang menepuk keras kepalaku.

“Yah, kok tidak dimakan?” aku berbalik dan mendapati seseorang berdiri di sana dengan seragam yang sangat tidak rapi. Aku bisa melihat wajahnya pucat namun memerah karena panas. “Sudah berapa kali aku bilang makan sayur yang banyak? Dasar.”

Aku tercengang menatapnya lekat-lekat. Key?!! Kok di sini??

“Kau kok datang ke sekolah?” tanyaku mengerutkan alisku dalam-dalam. Ish! Orang ini tidak tahu ya kalau sakit harus istirahat??

“Kenapa? Aku kan murid sini,” jawabnya santai.

“Tapi kau sakit!” aku mengulurkan tanganku menyentuhnya. “Tuh kan! Masih panas! Harusnya kau itu istirahat saja di kamarku. Aku bawakan makanan nanti, araseo? Sekarang kau malah di sini! Hih!”

Ia menatapku sepanjang aku mengoceh. Wajahnya semakin merah, aku tidak tahu kenapa.

“Wae? Ada yang salah?” tanyaku menyadari ia sudah menatapku selama itu.

“A-ani,” jawabnya berdeham pelan membenahi dasinya. “Jadi itu untukku, kan?” ia menunjuk kotak bekalku. Sekarang giliran wajahku yang memerah. Untuk apa aku mempedulikannya?!

“Karena kau sudah di sini, ini bukan untukmu lagi! Hmph!” aku kembali membuka bekal itu dan berniat menghabiskannya. Baru saja aku mengangkat sumpitku yang menjepit tamagomaki dan hendak memasukkannya ke mulut, Key mencondongkan tubuhnya dan melahapnya habis.

Aku mengerjapkan mataku.

“Pelit,” Key menjulurkan lidahnya di sela-sela mengunyah. “Suapi lagi~”

 Bletak!

Aku memukulkan sumpitku di kepalanya sebelum kuletakan di meja dan berdiri dari bangkuku, hendak pergi. Aku tidak peduli kalau aku terlihat tidak sopan. Aku kesal.

 Dasar Key! Tidak berterimakasih! Harusnya aku tidak perlu memikirkannya!

Baru tiga langkah aku berjalan tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan di pipiku.

“Gomawo,” gumam Key dengan suara direndahkan. Pipiku langsung merona merah dan terasa panas. Aku berbalik mengintip Key yang sekarang sedang melahap makanannya dengan senyum. Dan tanpa sadar aku juga tersenyum sambil berjalan meninggalkannya.

***

Aku mendengus kesal sambil berpangku tangan menatap jendela. Hujan lagi, hujan lagi. Walaupun sekarang Key sudah ada di sini tapi satu hal lagi yang paling buruk, aku dan Key sama-sama meninggalkan payung di rumah!

Sudah lima belas menit aku dan Key duduk berteduh di depan sekolah menunggu hujan reda. Hari ini Sungra pulang duluan karena sakit, dan Minyeon tidak datang karena urusan keluarga. Minho dan Taemin masih ada kegiatan klub, yang baru berakhir dua setengah jam lagi.

“Yah, kenapa kau ke sini tidak bawa payung?” omelku masih menatap keluar memandangi hujan. “Kan sudah tahu hari ini tidak cerah,” gumamku.

“Mana kutahu?” balasnya cepat. “Aku kan bukan peramal cuaca.”

“Aku mau pulang,” desahku. “Hujannya malah tambah deras.”

Tiba-tiba Key berdiri dan menarik tanganku. “Geurom, ayo berlari pulang.”

“Hah?”

Belum sempat aku melontarkan reaksiku ia sudah menyeretku melewati deraian hujan.

***

Aku menggigil mencengkeram erat lengan baju Key. Key sialan! Hujan angin deras dingin begini masih diterobos saja!

“Yah!” seruku dengan suara bergetar karena dingin. “Jinjja chuwo! Kenapa kau mengajakku berlari??”

Ia menatapku diam.

“Ahh! Jadi basah semua, nanti flu bagaimana?” tanyaku menggigil. Ia tiba-tiba mengecup pipiku lagi.

“Ttatteutdan aniya?” tanyanya tersenyum menunjukkan barisan giginya. Seakan ada rasa panas yang merasuk ke tubuhku, pipiku ikut merona.

“A-aniya!” balasku. “Sudahlah. Ayo masuk!”

***

“Hatchii!!”

“Achoo!!”

Aku dan Key menutup hidung bersamaan. Aku meliriknya sinis.

“Sudah kubilang nanti bisa kena flu!” aku mendorong lengannya. Kami berdua sedang duduk di ranjang dengan piyama masing-masing, dan berebut tisu dari tadi. Dan percaya atau tidak ia memakai piyama berwarna pink, sama sepertiku. Tidak seperti cowok! Dasar aneh!

“Aku sakit gara-gara kau!” omelnya. Aku memicingkan mataku lagi.

“Mworago? Ya! Yang benar itu aku sakit gara-gara kau!” balasku menunjuk-nunjuk wajahnya.

“Che. Sana tidur. Kubuatkan sup,” ia mendorongku perlahan ke kasur. Aku mengerutkan alisku.

“Chamkkamaneyo!” aku menyetopnya. “Harusnya kau yang tiduran! Aku ambilkan air dingin,” perintahku. Ia menatapku aneh.

Ia mengangkat tangannya menyentuh keningku. “Kau lebih panas dariku. Jadi kau saja yang tidur.”

Kini giliran aku yang menyentuhnya. “Kau lebih panas, dasar tuan sok tahu,” balasku.

“Seolma! Aku masih bisa melakukan elephant turn sepuluh kali tanpa jatuh!” tantangnya.

“Che. Aku bisa dua kali lipatmu,” balasku. Ia kemudian membongkar-bongkar laciku. “Yah! Kau mau apa??”

“Cari termometer,” jawabnya masih membongkar laciku. “Yang kalah harus di ttakbam! Dan tidur.”

Aku hanya memutar bola mataku. Jelas kau yang kalah, Key. Kau sudah sakit dari pagi dan hujan-hujanan begitu.

“Watda!” serunya ia memasang termometernya di mulut.

“38.5,” gumamnya mengerutkan alis. “Tinggi sekali?!” protesnya. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Pasti kau yang kalah!” ejekku memasang termometernya di mulutku.

Beberapa saat kemudian kulepaskan termometernya. Key juga mendekat untuk melihat hasilnya.

“Aku menang!!!!” serunya tepat di telingaku. Yah! Apa-apaan ini?!! Kok 39.1??? Lebih tinggi dari Key!

“Sudah sana tidur! Ara? Aku mau masak~” ia memakaikanku bertumpuk-tumpuk selimut. Ugh! Termometer sialan!

Setelah Key lenyap dari pintu, aku memastikan ia sudah ke turun dan langsung mengendap-endap ke kamar mandi, mengisi baskom kecil dengan air dingin dan mencarikan handuk kecil.

 Ah, obat…..eodiseo? ._.

Setelah beberapa lama akhirnya aku menemukan kotak obat di laci kamar mandi. Baru saja aku membuka pintu kamar mandi, Key sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu menatapku tajam.

“Hah! Gamjakiya!” desahku mengelus dadaku. Mengagetkan orang saja!

“Yah, bukannya aku menyuruhmu tidur?” tanyanya. “Kenapa malah keluyuran??” omelnya.

Aku mengangkat sebelah tanganku yang membawa obat dan handuk kecil. “Igeoyo, aku mencarinya,” balasku.

Ia berdecak kesal namun akhirnya tetap membawaku kembali ke kasur dan menyodorkan sepiring sup sayuran. Aku mengerutkan dahiku.

“Ige mwoya?” tanyaku spontan. “Hah! An meogeo! An meogo!” aku menggeleng kuat.

“Wae andweneunde?” tanyanya balik. “Ini bagus untuk kesehatan! Meogeo! Ppalli!”

“Geunyang danggeun,” gumamku memilah-milah wortel dan sayur lainnya. Cukup wortel saja! Aku tidak mau yang lain!

“Yah, kenapa cuma wortel??” tanyanya. “Justru yang tidak enak itu wortel!”

Aku menatapnya aneh. “Wortel itu satu-satunya wortel enak tahu! Dasar!”

“Ani! Itu tidak en-”

Aku memasukkan paksa sesendok sup penuh wortel ke mulutnya. Rasakan itu! Muahahaha!

“Mhnp!!?” ia terpaksa menelan wortelnya, karena tidak sopan ia membuang makanannya. “Yah! Neo!” ia balas merebut sendok dan menyuapiku sesendok penuh sayuran hijau saat aku tertawa terpingkal-pingkal.

Akhirnya lima belas menit berakhir dengan kami suap-suapan sayuran yang tidak kami suka =.=

“Yah,” panggilnya sambil mengunyah. “Gara-gara kau aku jadi makan wortel!” omelnya. Ia meraih handuk kecil dan membasahinya di baskom.

“Kau juga memaksaku makan sayur,” gerutuku. Ia kemudian memeras handuknya dan memasangkannya di dahiku. Belum sempat aku protes ia sudah menempelkan dahinya di handuk yang sama. Pipiku yang panas karena sakit spontan bertambah panas lagi. Bayangkan, jarak dahi kami hanya terpisah oleh selembar handuk dingin.

“Aku cuma mau makan wortel karena kau, ara?” gumamnya dengan suara rendah, yang membuat jantungku seakan mau meloncat keluar. Aku juga berusaha keras supaya tidak tersenyum – Key bisa menertawaiku!

Ia kemudian menutup kedua matanya, mungkin pusing karena suhu tubuhnya yang panas. Tapi kalau dilihat begini, wajahnya sudah seperti peran utama cowok di komik-komik Jepang – memiliki garis frame yang halus tapi tegas, dengan detail wajah seperti ukiran tangan seniman kelas dunia.

Ah, belakangan ini aku jadi sering menilai-nilai Key…

Kalau kalian bertanya-tanya sebenarnya perasaan apa yang kurasakan tentang Key, mungkin aku belum bisa memberi jawaban pasti. Tapi aku sudah punya satu jawaban sementara. Perasaan itu, sudah berada satu tingkat di atasrasa biasa saja, tapi masih satu tingkat di bawah rasa suka. Aku juga tidak tahu apa maksudnya. Aku cuma sedikit takut kalau ia tidak menyukaiku…

 Ani, aku benar-benar takut ia tidak merasakan hal yang sama.

Aku bingung bagaimana. Yah, jangan salahkan aku, karena aku juga cewek, dan aku normal : suka cowok. Jadi intinya, aku memang belum mengakui rasa sukaku, tapi aku tahu aku menganggap Key orang yang spesial.

Tiba-tiba ia menegakkan duduknya sehingga handuk di dahi kami terlepas. Ia kemudian menatapku.

“Kita lupa ttakbam-nya,” ujarnya menunjuk-nunjuk keningku. OH……. ._______.

“Ah!! Andwae! Andwae! And-

TTAK!!

“YAHHH!!!!!!” seruku mengusap-usap keningku.

“Well, perjanjiannya memang begitu kan?”

***

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

 …Sesuatu yang dianggap berharga sejak jaman Aztec. Bahkan dahulu hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan, hingga sekarang rakyat jelata pun bisa dengan bebas membelinya. Bersifat menenangkan karena salah satu kandungan didalamnya. Dan menjadi populer sebagai lambang kasih sayang, di hari Valentine maupun White Day…

“Yah,” panggil Key.

“Hm?”

“Baca apa?” tanyanya. Aku mengangkat kepalaku menatapnya, sebelum menunjuk-nunjuk cover depan buku putih setebal novel dengan titik-titik berwarna gelap di permukaannya.

“Chocolate Story,” balasku.

Hari ini, aku dan Key tidak masuk sekolah karena sakit. Dari kemarin kami tidak sembuh-sembuh. Mungkin karena aku lupa pakai selimut malamnya =.=

“Kenapa baca begituan?” tanyanya meneliti cover bukuku.

“Bosan,” desahku kembali serius dengan bacaanku.

 …Disebut sebagai lambang kasih sayang karena rasanya yang manis dan pahit, melambangkan susah senangnya dalam suatu cerita cinta…

“Yah,” panggilnya lagi. “Kau suka cokelat?” tanyanya. Aku cuma mengangguk.

…Cokelat bersifat memperbaiki mood. Dan membuat orang merasa senang, apalagi yang memberinya orang yang disukai…

Tiba-tiba bukuku tertutup. Tangan Key menahanku untuk membukanya. Ia menatapku lekat-lekat.

“Aku mau masak, mau ikut?” tanyanya. Aku mengernyit.

“Aku kan tidak bisa masak?” balasku.

“Ck, gwaenchanha. Aku ajari, ara?” tawarnya. Mungkin tidak ada salahnya mencoba? Aku pun mengangguk setuju.

***

“Kenapa jadinya masak jjajangmyeon??” tanyaku. Ia mengeluarkan sebuah panci.

“Karena kita sama-sama single,” balasnya sambil bercanda.

“Ini kan bukan valentine!” gerutuku. Ia terkikik geli.

“Arayo, arayo,” balasnya menyalakan kompor dan memanaskan mi. “Kita tidak punya bahan untuk bikin cokelat. Waktu valentine nanti, kuajari buat cokelat, eothae?”

Aku mengangguk-angguk pasrah.

***

Aku mengernyit saat ia cuma memasak satu mangkuk jajangmyeon. Sedikit sekali?!

“Yah, kenapa masak cuma satu,” tanyaku begitu kami tiba di kamar. Ia duduk di depanku dan mengulurkan tangannya.

“Mwo?”

“Ayo main,” ajaknya. “Truth or Eat,” lanjutnya. Hah??

“Geuge mwoya?” tanyaku lagi. Ia menunjuk mangkok jajangmyeon.

“Kita masing-masing akan memakan ujung mi yang tersambung, tapi tidak boleh digigit!” lalu ia menunjuk pen dan notes yang tadi dikeluarkan dari tas sekolahnya. “Tidak boleh bicara, cuma boleh menulis jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan lawan, dan harus jujur. Kalau tidak mau jawab kau harus maju sampai-”

“Maksudmu kita pepero game dengan jajangmyeon?” tanyaku. “Ini belum November! Pepero day masih lama! Dan aku tidak bilang aku mau pepero game denganmu!”

“Ini kan cuma game,” balasnya. “Jebal~ kau tidak takut kan?? Kita sudah sering sekali tiap hari melakukan kiss, jadi-”

“Arayo! Arayo!” potongku. Key menyebalkan!

“Yeah!” ia menyuapiku ujung sehelai mi sedangkan ia memakan ujung satunya. Bibir kami hanya terpisah sebatas mi jajangmyeon seuntas ._.

“Junbi….si…jak!” gumamnya. “Kawi! Bawi! Bo!”

 Sial.

Key tersenyum licik melihat tangannya membentuk gunting sedangkan aku kertas. Ia kemudian menuliskan sesuatu di notesnya.

 ‘Neon nugu johahae?’

Aku mengerutkan alisku. Pertanyaan apa ini?!

 ’Sekarang tidak ada.’

Gunting! Batu! Kertas!

Key gunting, aku batu. Aku memasang wajah berpikir keras. Pertanyaan.. Pertanyaan…

‘Orang paling penting di hidupmu?’

Ia terlihat seperti memutar otak. Tanpa memberi jawaban ia malah memakan mi nya lagi sehingga jarak kami lebih dekat sekarang.

Kami mengangkat tangan lagi menandakan akan menentukan sekarang giliran siapa.

Key batu. Aku gunting.

‘Menurutmu aku orang yang bagaimana?’

Aku terdiam. Apa aku harus jujur? Tapi memang game ini harus jujur kan walaupun aku bisa bohong sekalipun?

 ’Spesial.’

Well, aku tidak bisa bohong padanya entah kenapa.

“Kawi! Bawi! Bo!” gumamnya tak jelas.

Key kertas lagi. Aku batu lagi.

 ’Sejauh apa kamu tahu tentang aku?’

Aku terdiam. Aku harus jawab apa? Itu pertanyaan yang sulit.

Akhirnya dengan pasrah aku memakan sedikit mi di mulutku. Semakin kuingat betapa dekat jarak kami semakin jantungku berdebar keras.

 Kawi! Bawi! Bo!

Aku menang dengan mengeluarkan gunting.

Hmm… Tanya apa ya?

 First Impression tentang aku?

Ia menatapku sejenak sebelum maju lagi. Aku mengernyit. Apa pertanyaanku terlalu susah? Kalau begitu aku tanya gampang-gampang saja lain kali supaya dia tidak mendekat!

Kawi! Bawi Bo!

Aku gunting lagi dan menang. Kali ini aku harus menanyakan yang gampang!

Makanan kesukaanmu?

Ia mengernyit dan menatapku ingin protes tapi karena peraturannya tidak boleh berbicara jadi ia diam saja. Sampai tiba-tiba ia malah maju lagi dan membuatku mengernyit.

Hah! Aku tahu strateginya! Ia tidak mau jujur di setiap pertanyaan supaya maju terus dan membuat aku gugup! Dasar licik! Kalau begini aku harus bagaimana? Kalah di setiap suit? Tapi nanti ia tanya aneh-aneh!

Kali ini aku mencoba untuk kalah. Dan berhasil. Key menang.

 Cowok yang pernah kau sukai.

Aku membulatkan mataku. Tuh kan! Ia menjebakku!

Dengan malas-malasan aku memakan sedikit mi-ku. Ugh! Eotteohke?! Makin lama jantungku makin berdebar-debar!

Kawi..bawi..bo!

Key menang lagi. Sial! Ia menatapku sejenak lalu tersenyum licik. Dan yang paling kutakuti : ia memasang wajah mesum…

 Ukuran dada?

Sekarang kepalaku malah berdenyut keras karena kesal. Byuntae!!!!

Dengan muka merah padam karena marah, kesal, dan malu aku maju lagi walaupun sedikit. Sekarang aku bahkan bisa merasakan nafasnya berhembus di wajahku. Ugh!

 Kawi! Bawi! Bo!

Tanganku membentuk sebuah kepalan sedangkan telapak tangannya terbuka lebar. Dia menang.

Dari jarak sedekat ini ia menatapku. Cukup lama sampai aku tidak tahu ia belum menuliskan pertanyaannya.

 Kalau aku suka padamu, kau mau jadi pacarku?

Pipiku merona makin merah membaca tulisan tangannya dari spidol merah yang dipakainya dari tadi. Aku menatapnya lagi seakan bertanya apakah dia serius atau tidak.

Sekarang aku harus bagaimana?

 

To Be Continued…

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 5]

lovely_puppy_wallpaper_da237071e_wallcoo_com_e589afe69cac

Harin’s POV

“Satu, tidak boleh tidur di kasurku sembarangan. Dua, tidak boleh menggangguku belajar. Tiga, jangan bongkar-bongkar lemariku karena itu privasi cewek. Peraturan lain bisa dibuat kapanpun diperlukan,” ujarku terus terang pada Key yang cemberut mengerutkan alisnya.

“Kenapa masih tidak boleh tidur di kasur?” rengeknya. “Lantainya keras dan dingin!”

“Pokoknya itu peraturannya, titik,” desisku. “Oh, dan satu lagi,” aku menarik tangannya duduk di kasur denganku.

“Mwo?” tanyanya mengernyit. Aku mendengus kesal. Dasar pura-pura polos!

“Babo,” umpatku. “Kau pura-pura lupa ya? Kau masih berhutang cerita padaku,” aku meluncurkan telunjukku ke depan wajahnya.

Ia mengerjap sejenak. “Uh? Jigeum?” aku mengangguk kuat-kuat. Aku menatapnya datar. “Arasseo, arasseo. Tak perlu menatapku seakan kau mau menelanku,” ia mengibaskan tangannya.

“Cepat mulai!” paksaku. Ia terlihat seperti ragu-ragu untuk bercerita.

 

Key’s POV

Aku masih ingat persis. Hari paling bodoh tak masuk akal yang pernah kualami.

Aku masih mengenakan kemeja sekolah, yang kutumpuk dengan hoodie merahku. Aku berjalan dengan langkah-langkah besar sambil memainkan peluit anjing di tanganku.

“Selamat datang, tuan kecil,” sapa salah satu pelayanku. Aku hanya memasang wajah datar. “Sajangnim berpesan sesuatu-”

“Appa pulang?” potongku. Aku memasang ekspresi masam. Tak biasanya appa pulang tanpa alasan.

“Ye, doryeonim. Ia berpesan untuk menemui tuan sulung Kim,” lanjutnya. Aku masih memasang wajah datar. Hyung lagi.

“Shireo,” tolakku. Aku benci dipaksa.

“Tapi-”

“Annyeong, Kibum-ah,” sesosok pria bertubuh lebih pendek dariku muncul di hadapanku dengan tersenyum. Cih. Sok baik.

“Mwoya?” desisku. Aku melihat tangannya menenteng anjing keluarga kami.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dengan Miroo? Aku perlu membahas sesuatu,” lagi-lagi ia tersenyum. Aku jadi ingin menyobek wajahnya itu.

Aku menghela nafas panjang. Kesal. Karena tak ada pilihan lain tepatnya.

***

“Kibum-ah,” panggil Jonghyun hyung yang berjalan di sampingku. Orang-orang yang melihat pasti mengira kalau kami adalah saudara yang akrab – melihat Jonghyun berjalan di sisiku yang sedang memegangi tali anjing Miroo.

“Mwo?”

“Mianhae,” gumamnya. Tersenyum lagi. Aku hanya terdiam. Aku tahu apa maksudnya. “Soal Yoonji-”

“Aku tidak mau dengar!” pekikku. Ia menatapku penuh perasaan bersalah. Aku tidak peduli.

“Aku benar-benar tidak bermaksud merebutnya darimu,” jelasnya. Aku tidak butuh penjelasanmu!

Kim Jonghyun. Jung Yoonji. Dua orang paling menjijikan yang pernah kutemui.

Hyung-ku sendiri menghamili Yoonji yang statusnya saat itu adalah pacarku. Padahal baru dua hari kami pacaran, percaya atau tidak. Minggu lalu saja mereka baru saja menikah karena dipaksa appa setelah tiga bulan Yoonji mengandung anak hyung. Lihat, bahagia bukan? Mereka, bukan aku.

“Key-”

“Yah, neo,” sentakku. “Jangan sebut namaku,” desisku.

Ia mendengus kesal. Aku tahu, ia hanya tersenyum palsu dari tadi.

“Neo, saekki-ya, neon baboya?” balasnya. “Yoonji tidak pernah suka padamu, tidak bisakah kau terima itu?”

Aku mengerutkan keningku. “Mwo malhae?” aku melepaskan peganganku pada Miroo. Aku menerjang ke arah hyung dan memegangi kerah bajunya.

“Kau itu tidak dibutuhkan,” ejeknya. “Aku yakin kau tidak tahu kalau sebenarnya dulu kau berniat digugurkan oleh eomma dan appa, benar?” ia menyeringai arogan.

Mataku memanas. Aku tahu memang appa dan eomma tidak pernah peduli padaku. Namaku saja tidak hafal.

  Bagi mereka anak mereka cuma satu, Kim Jonghyun.

Mereka tidak pernah mempublikasikanku. Hanya pihak rumah, dan sekolah tahu siapa aku.

“Aku ingin tahu apa yang terjadi kalau kau menghilang, hyung,” gumamku mengeratkan kepalan tanganku di kerahnya. Aku melayangkan tinjuan cukup keras ke wajahnya hingga ia jatuh tersungkur ke jalanan. Tepat saat itu kudengar Miroo menggonggong keras dan berlari ke arah Jonghyun hyung. Yang dengan segera terhantam sebuah truk.

 

Harin’s POV

Aku terdiam. Mungkin karena tidak tahu harus bereaksi apa. Aku tidak tahu kalau aku jadi Kibum aku harus bagaimana.

“Lalu..?” tanyaku pelan. Ia menghela nafasnya.

“Saat itu awalnya aku berpikir kalau Miroo lebih memilih Jonghyun hyung,” gumamnya. “Ternyata salah,” lanjutnya lirih.

“Wae?”

“Malamnya Miroo masuk di mimpiku. Ajaibnya dia bisa bicara,” ia tersenyum tipis. “Tidak percaya bukan?” Aku mengangguk.

“Dia bilang, sampai sekarang tidak ada yang tahu kalau yang menyebabkan kecelakaan itu aku,” ia mengaku. “Semuanya berkata kalau Jonghyun kecelakaan saat Miroo membawanya berjalan ke tengah jalan.”

“Lalu hyung-mu?” tanyaku.

“Koma, di rumah sakit,” balasnya. “Miroo tidak selamat, justru hyung yang selamat, walaupun koma,” jelasnya. “Lalu aku berubah jadi anjing begitu saja. Lalu saat itu aku mendengar appa bilang, tak ada untungnya menyimpan Kibum saat Jonghyun sedang terpuruk. Makanya aku kabur dan berakhir di pet shop.”

“Miroo….seperti apa?” tanyaku lagi. Ia tersenyum lagi.

“Mirip kau,” ia mencubit pipiku.

“Hah? Miroo cewek?”

“Tentu saja!”

“Tapi dia kan anjing!” aku mengerutkan alisku. “Kupikir mirip denganmu!”

Ia tertawa kecil. Aku ikut tersenyum.

“Oh iya,” panggilnya tiba-tiba. “Kalau kau jadi Miroo, kau lebih memilih aku atau Jonghyun hyung?”

Aku terdiam. Pertanyaan apa itu. “Tentu saja kau, Key,” jawabku langsung. Ia terlihat mengerjap sekilas dan pipinya merona tipis.

“Ahh~~ Kau suka padaku, ya?” godaku. Ia mengerutkan alisnya.

“Aniya!”

“Aku kasihan padamu, makanya aku memilihmu,” godaku lagi tersenyum licik.

“Aku bukannya suka padamu!”

“Mengaku saja~” aku menjulurkan lidahku. Ia menatapku sebal. “Mwo?”

Tiba-tiba saja ia mendorongku berbaring di atas ranjang. “Yang benar itu kau, suka padaku, iya kan?” ia menyeringai.

  Dugeun.. Dugeun…

“A-aniya!”

Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya bertukar dengan nafasku.

“Jinjja?” tanyanya lagi mengangkat daguku. Mata tajamnya masuk menatap mataku. “Lalu siapa yang tadi membalas ciumanku begitu saja dan bilang kalau aku miliknya?” bisiknya.

“Neo-”

Belum selesai aku bicara ia sudah menggulum bibirku lagi. Mwoya ige?!!

“Kwibwum!!!!!!!!!!!” pekikku tertahan.

  Kibum sialan!

  Kibum menyebalkan!

  Kibum byuntae!!!!!!

“Waeyo, Ha….,” pintu kamarku melayang terbuka begitu saja. “…rin-ah?” Jinki oppa menatap kami tanpa ekspresi.

Aku spontan langsung mendorong Kibum menjauh dan duduk tegak di tempat.

“Oppa, kau salah pah-”

“AAAAAAAAAAAAAAHHH!!!! ADA BYUNTAE BERANDALAN MACAM-MACAM SAMA DONGSAENGKU!!!!!!” serunya.

“Yah!! Oppa!” aku berdiri dan berlari ke arahnya lalu membekap mulutnya. “Kau salah paham!”

“Mwapmwamuawuangmuawahmuaham?!!” rengeknya dengan wajah memerah kehabisan nafas karena kubekap. Aku melepaskan tanganku dari mulutnya. “Nuguya???” ia menunjuk-nunjuk Key. Aku mendesah pelan.

“Dia Kibum,” jawabku singkat.

“Pacarmu?” balasnya. Aku mengerutkan alisku.

“Ani-”

“Kalau bukan kenapa kalian berdua berciuman di ranjang?” potongnya. Aku memasang wajah aneh menatapnya.

“Oppa, kau mengatakannya seakan kami melakukan hal senonoh,” balasku.

“Memang begitu kelihatannya,” ia menaikkan pundaknya. Aku mengerang pelan dan meniup poniku.

“Kau. Salah. Paham,” ucapku ketus. “Pokoknya kami tidak ada hubungan apa-apa, titik,” lanjutku menatap Onew tajam. Ia mengerjap sejenak.

“Ara. Ara,” ia mengangguk pasrah. “Kalian pacaran juga aku tidak akan bilang pada eomma-mu,” lanjutnya.

“Oppa!!!” aku menyipitkan mataku ketus. Ia langsung berlari ketakutan keluar. “JUGGETDA!!!”

***

Aku melirik ke arah jendela yang basah karena air hujan yang mengalir tanpa henti. Suara hujan terdengar seperti derapan kaki kuda yang terus berlari. Aku menarik nafas panjang dan menarik selimutku. Mataku tertutup rapat-rapat sesekali saat petir menyambar di langit gelap dan membuat bayangan menyeramkan di kamarku.

Duh, Key sudah tidur lagi!

Bayangan petir itu sesekali membentuk cakar, terkadang menjadi bayangan kelelawar. Dan aku benci itu.

Aku berbalik membelakangi jendela dan bersembunyi di balik selimut. Aku taku gelap! Dan hari ini gelap sekali!

Krekk…

Aku melebarkan mataku. OMO! Apa itu?! Hantu???

Bulu kudukku meremang begitu aku merasakan ada yang menatapku dari belakang. Bahkan bayangan gelap terbentuk menutupi cahaya dari petir di luar.

“Hnggg,” erangku pelan. Jangan berbalik! Jangan berbalik.

“Hey,” sebuah tangan mendarat di pundakku diikuti bisikan pelan.

“KYAAAAAAAA-hmp!!!!!” tangan yang tadi memegangi pundakku sudah berpindah ke mulutku. Tidak!! Aku diculik hantu!!!! X__x

“Pssssttt!!! Diam babo!” desis hantu itu. Mataku sudah berkaca-kaca mengeluarkan butir tipis air mata.

“Heh? Yah! Uljima!” hantu itu panik dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Aneh, di hadapanku malah muncul seseorang yang tidak jelas karena terhalang air mataku.

Tiba-tiba sebuah ibu jari menempel di pelupuk mataku menghapus air mata yang menggenang. Sekarang yang kulihat malah sosok seorang pangeran tampan yang wajahnya diterangi sinar bulan.

“Gwaenchanha?” tanyanya khawatir. Aku mengerjap. Suara ini….

“K-key?” panggilku terheran-heran. Aku tidak pernah sadar kalau Key *ehem* setampan ini.

“Wae?” tanyanya lagi.

“M-museowo,” gumamku menunduk malu. Aku menangis di depan Key hanya karena takut hantu =.=

Ia menghela nafas dan mengusap-usap kepalaku sebelum akhirnya duduk di sampingku. “Tidur sana. Aku di sini kok,” ujarnya.

Pipiku merona merah diikuti degupan jantungku. Aku memang payah.

Tiba-tiba Key berbaring memelukku erat dan memejamkan matanya. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya juga memejamkan mata.

 

Key’s POV

Aku membuka sebelah mataku. Harin sudah terlelap mencengkram kuat-kuat lengan bajuku. Aku tidak tahu apa yang dia takutkan petir, hujan, atau apa. Yang pasti hati kecilku menyuruhku untuk melindunginya.

Kalau kau bertanya kenapa aku peduli pada Harin, itu karena aku dia menolongku. Kalau kalian bilang aku suka padanya aku bisa mencakar kalian karena itu tidak benar! Aku cuma ingin melindunginya, jangan salah sangka!

Tiba-tiba tangan Harin meninggalkan lengan bajuku dan berpindah memelukku seperti boneka beruang. Aku mengerjap sejenak karena merasa seperti tersengat listrik saat dia melakukannya. Maksudku aku benar-benar merasakannya, bukan melebih-lebihkannya.

“Nae kkeoya,” gumam Harin. Tanpa sadar bibirku membentuk seulas senyuman.

 

Harin’s POV

“Key,” desisku mengedarkan pandanganku ke pelosok lorong. “Lepaskan tanganku!” aku menarik-narik tanganku yang berada dalam genggaman Key.

“Shireo,” gumamnya. Aku mendengus kesal. Key terus menggandeng tanganku dari pagi. Dan itu mengundang perhatian lebih dari separuh siswa sekolah.

“Wae shireunde??” gerutuku. Ia menatapku tajam membuatku mengerjap terkejut sejenak.

“Aku benci dikerumuni cewek sekolah ini,” gumamnya. Aku mengernyit.

“Maksudmu aku bukan cewek,” tanyaku curiga. Ia balas menatapku sebelum akhirnya tersenyum menahan tawa.

“Memangnya kau cewek??” balasnya tertawa mengejek. Aku memicingkan mataku dan memukul pundaknya.

“Mwo malhae?!” seruku. “Yah!! Kim Kibum!!”

“Mana panggilan sayangku??” potongnya cepat. Aku mendengus kesal. “Kalau kau cewek apa buktinya?” ia tersenyum seperti ahjussi mesum.

Aku mengulurkan telunjukku tepat di depan wajahnya. “Neo!! Byuntae!!”

“Eh, enak aja!” ia mencubit pipiku. “Aku kan nggak bilang apa-apa!”

“Tapi-”

“Hey, kalian!” seru Joo sonsaengnim dari lantai atas. “Sudah bel kok belum masuk??”

Belum sempat aku bereaksi Key sudah menarik tanganku, tapi kami tidak menuju kelas.

***

“Ya!” seruku. “Kita mau ke mana?”

“Skipping class,” jawabnya santai masih menyeretku. Mwoya?! Kok skipping class?!

“Yah! Shireo! Aku-”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki datang. Key langsung buru-buru mendorongku ke dinding bersembunyi di samping loker. Tangannya mendekapku kuat-kuat.

“Pstt,” desisnya sembari mengintip ke balik loker. “Joo sonsaengnim datang,” bisiknya menatapku. Aku terdiam menyadari jarak kami yang terlalu dekat. Ugh! Padahal ini bukan pertama kalinya Key dekat-dekat denganku.

Tiba-tiba ia memutar kepalanya menghadapku dan pandangan kami bertemu. Hawa panas seakan merasuk menjalar ke kedua pipiku begitu aku mendengar jelas deruan nafasnya.

“Yah!” seru sonsaengnim membuyarkan sesi ‘tatap-menatap’ kami. “Kalian masih di sini?!” ia berjalan dengan wajah menyeramkan dan langkah super besar ke arah kami.

“Lari!!” pekik Key kembali menyeretku pergi. Aigooya…

***

“Keeeeeey!!!” desisku. Aku mengangkat tanganku hendak memukul pundaknya. Namun malah berakhir ia menangkap tanganku dan menarikku dalam pelukannya.

“Sikeureo,” gumamnya. “Nawa,” ia membawaku sembunyi di bawah meja. Aku memicingkan mataku melihat sekeliling ruangan. Key menyebalkan! Tempat bersembunyi apa ini? Ini ruang biologi yang penuh dengan benda-benda aneh! Awetan binatang, tiruan rangka manusia, peraga alat pencernaan…..ugh! Kami sudah sepuluh menit di sini dan aku tidak betah!

 Deg!

Aku mengerutkan alisku. Ada yang masuk ke dalam bajuku! Jangan-jangan binatang?!! O_o

“Kyaaa!!” aku melonjak ke arah Key. “Apa itu?? Binatang?”

Baru selesai aku bicara, Key sudah tertawa kecil. Aku memutar kepalaku menatapnya tajam.

“Mwo?” tanyaku. Ia mengangkat tangan kanannya yang tadinya mendekapku.

“Itu tanganku,” jawabnya santai.

 BLETAK!

“Byuntae!” desisku. Ia mengelus-elus kepalanya yang terkena kepalan tanganku. Aku meliriknya cuek.

“Aish,” gerutunya. “Kalau ada binatang pasti aku juga lari,” gumamnya. Aku mengernyit. Dia cowok, tapi takut binatang?

Tiba-tiba terbesit ide untuk balas dendam di kepalaku. Salah siapa menggangguku duluan? Dasar ahjussi byuntae.

“K-key,” aku membulatkan mataku. Perlahan aku menunjuk ke balik pundaknya. “Cicak! Ada cicak!” desisku. Ia ikut membulatkan mata suneonya.

“MWOYA?!” pekiknya tertahan. Ia melonjak ke arahku. “Eodi?? Eodiya??” tanyanya panik. Ia terus mendorongku sampai aku sendiri jatuh di lantai. Ugh! Dasar makhluk berat!

“Yah!” panggilku. “Kau berat!”

“Mana cicaknya??” tanyanya. Aku memutar kedua bola mataku.

“Aku bohong,” balasku santai. “Dasar cowok pengecut. Jijiri-ya,” ejekku.

Ia memicingkan matanya seakan menudingku. “Neodo jijiri!” ia mencubit kedua pipiku.

“Yahhhh!!!” aku berusaha duduk dan menarik tangannya dari pipiku. “Aphayo!!”

“Geunyang aphago? Jijiri~” lanjutnya. Ugh! Orang ini..

“Key!!” aku menarik tangannya kuat-kuat sampai terlepas dari pipiku. Yang sayangnya kusesali karena setelah itu Key kehilangan keseimbangannya dan malah jatuh di atasku. Jarak wajahnya saja bisa diukur dengan penggaris lima belas senti.

Bola matanya bergerak pelan mencari tatapanku. Aku cuma terdiam memperhatikan wajahnya. Wajah Key memang selalu sedekat ini denganku, tapi daya tariknya tidak pernah habis.

  Eh, tunggu! Aku bukannya suka dengan Key! Yah tapi aku kan cewek! Aku boleh dong bilang cowok ini tampan?

Aku membuka mataku yang ternyata sudah tertutup sejak beberapa waktu yang lalu, saat bibir Key sudah menggulum bibirku tanpa kusadari. Aku merasakan pipi dan dadaku memanas. Ujung bibirku juga perlahan membentuk seulas senyuman tipis dan membalas ciumannya.

Menurutmu ini apa?

 Klik!

Aku dan Key menghentikan ‘kegiatan’ kami dan memutar kepala kami spontan ke sumber suara. Minho dan Taemin berjongkok di samping meja tempat kami bersembunyi dengan tampang polos.

Minho mengangkat kamera digital di tangannya. “Hyung, kami sedang pelajaran biologi sejak lima menit yang lalu,” gumamnya santai. Mereka memang sedang mengenakan jas laboratorium.

Aku kemudian membulatkan mataku. Hah?! Pelajaran biologi? Lima menit yang lalu? Minho? Berarti kelasku sedang ada di sini dari tadi .______.

“Dan kau,” Minho menunjukku. “Berbuat hal senonoh dengan hyung kami di kelas saat pelajaran,” ia berdecak sok cool.

“Minho-ya,” aku mendengar suara Sungra dari balik meja satunya. Oh tidak! “Aku mendengar suara Harin, kau?”

Aku mendelik tajam ke arah Minho yang cuma menatapku datar dan mengalihkan pandangannya pada Sungra. “Andeullini, keutchi Taeminnie?”

Taemin mengangguk-angguk penuh semangat seperti anak beruang. “Harin kan dibawa kawin lari oleh Kibum hyung,” balasnya polos. Aku melemparan tatapan membunuhku padanya. Anak ini sama sekali tidak polos!

Aku mendengar suara Sungra dan Minyeon terkekeh. “Padahal dia bilang dia tidak suka pada Kibum,” ujar Minyeon. Benar! Benar!

“Siapa tahu mereka jodoh?” Minho bangkit berdiri, membuatku hanya bisa melihat kakinya yang super panjang itu. Kalau saja tidak ada anak kelasku di sini, aku pasti sudah menendang kakinya itu sampai ia jatuh dan merusak image sok keren-nya itu.

“Hey,” bisik Key menyenggol-nyenggol lenganku. Ia kemudian mengarahkan jempolnya ke arah Minho. “Nanti siang mari kita balas dendam,” ujarnya. Aku mengangguk setuju. Kami melirik ke arah Taemin menyuruhnya diam dan ia cuma mengangguk pasrah.

 

To Be Continued…

A/N : maaf author lama banget nggak update soalnya sekolah di luar negeri yang gak bisa buka wordpress x____x author baru pulang dan tanggal 22 pergi lagi >.<

Semoga menikmati bacaannya!

Look At Me, Please -part1-

1_¸±±¾

Annyeong ^^

Author kembali setelah lama hiatus wkwkwkk ..

sebelumnya gak pernah nge post ff ..

kali ini seriusan deh ff nya ..

enjoy ya ..

need comment n saran soalnya author habis kena komentar pedes banget .. *curcol*

mian kalo banyak typo n pic nya jelek *autho ga bsa edit foto T.T *

LOOK AT ME PLEASE -PART1- 

“Selamat Pagi Minho seonbaenim” sapa anak perempuan yang berdiri di depan meja Minho dengan muka yang ceria. “Pagi” Minho membalas sapaan anak itu lalu kembali membaca buku tebalnya. Inilah kebiasaan baru Krystal, menyapa kakak kelasnya lalu kembali kekelasnya. “Ah, indahnya pagi ini.” gumam Krystal setelah sampai dikursinya.

 

Mata indahnya yang terbingkai oleh kacamata itu menerawang jauh kea rah luar jendela yang ada disebelah kirinya. Ia sedang membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa lompat kelas dan sekelas dengan anak yang sedang ia sukai itu, tepatnya yang sudah ia sukai sejak lama. Ia pasti bisa memandangi wajah Minho setiap kali bosan pelajaran, atau curi-curi pandang ketika Minho menampakkan wajah seriusnya. Ah, betapa indahnya. Hari-hariku pasti tidak membosankan gumamnya.

 

“Ya! Soojung-ah!” teriakan itu memecahkan balon-balon udara yang mengambang diudara diatas kepalanya. “Ada berita buruk!” ucap suara itu lagi. Krystal membuka matanya lalu menatap sahabatnya dari sekolah dasar itu. “Ada apa lagi ?” Tanya Krystal malas sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.

“Minho..Minho..” ucap anak itu terputus-putus. “Ada apa dengan Minho, Sulli-ssi?!” nada Krystal berubah menjadi penuh rasa keingin tahuan. “Minho berpacaran dengan Angela, Angela anak pengusaha terkenal itu” akhirnya Sulli sahabatnya itu bisa mengeluarkan kata-kata yang dimaksudnya.

 

“Ah, itu. Aku sudah tahu.” Krystal kembali menyandar pada kursinya. “Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Sulli penasaran. “Berita itu sudah tersebar dimana-mana” Krystal mengeluarkan smartphone terbarunya. “Benarkah tapi berita itu baru heboh di sekolah hari ini” Sulli keheranan lalu memutar duduknya menghadap ke depan.

 

“Selamat pagi, anak-anak” seorang guru memasuki kelas 1-2 yang terkenal nakal itu. “Pagi!” jawab mereka serempak. “Pagi ini kita akan belajar kimia. Segera siapkan buku kalian” setelah berbicara seperti itu guru dengan baju berwarna hijau cerah serta dasi kupu-kupu itu melangkah menuju ke meja belakang dan menghampiri Krystal yang sudah menyiapkan buku-bukunya sebelum pelajaran dimulai.

 

“Kau tetap seperti biasanya Jung Soo Jung” bisik guru itu pelan. “Jangan panggil aku seperti itu guru norak!” desis Krystal. “Ara ara. Jangan seperti itu atau akan aku laporkan pada Ibu mu.” Ancam guru itu. “coba saja kalau berani jungsoo samchon” Krystal segera membuka bukunya lalu membiarkan guru itu tertegun dan kembali ketempat semula.

 

“Hari ini ada pengumuman, akan diadakan seleksi untuk ikut kelas akselerasi. Bagi yang ingin mendaftar segera hubungi saya karena ini sangat terbatas dan sangat jarang diadakan.” Ucapan Jungsoo ‘samchon’ itu membat Krystal mengalihkan pandangannya dari buku dihadapannya menjadi tatapan tidak percaya yang dilayangkannya kepada guru yang juga samchonnya itu. Dengan begini aku punya kesempatan untuk satu kelas dengan Minho.

 

“Samchon!” panggil Krystal begitu melihat seseorang dengan baju berwarna hijau cerah melintas di hadapannya. “Jangan panggil aku samchon aku tidak sudi punya keponakan sepertimu” Jungsoo melirik Krystal. “Jangan begitulah samchon” rengek Krystal sambil mengeluarkan aegyo-nya. “Ada apa?” Jungsoo akhirnya mengikuti langkah Krystal. “Samchon.. ehm, saem, benarkah kali ini akan diadakan tes utnuk aklselerasi?” Tanya Krystal antusias. “Apa kau tidak mendengarku tadi?” Jungsoo menolehkan kepalanya melihat Krystal. “Ani, hanya saja aku tidak percaya” gumam Krystal. “Kalau tidak percaya ya sudah” Jungsoo mempercepat langkahnya menuju ruang guru. Tapi ketika membuka pintu ruang guru Krystal mencegahnya “Aku akan ikut tes itu!”. “Baiklah aku rasa nilai-nilaimu mencukupi syarat untuk mengikuti tes itu.” Jawab Jungsoo pelan. “Jeongmal??” Krystal membelakkan matanya. Jungsoo hanya menanggapinya dengan menganggukan kepala. “Tapi, samchon. Bisakah aku mendapat bocoran soalnya??” Krystal membuat Jungsoo membelalakkan mata lalu menyentil dahi Krystal. “Tidak akan” sahut Jungsoo singkat lalu masuk ke dalam ruang guru.

 

“Soojung-ah!” lagi-lagi Sulli memanggilnya dengan nama itu. “Jangan memanggilku seperti itu. Namaku Krystal” Krystal menatap mata Sulli tajam. “Iya, iya mian” Krystal mulai melangkah menuju kelasnya diikuti Sulli disampingnya. “Kau akan ikut tes itu ?” Tanya Sulli. Krystal hanya menganggukkan kepalanya singkat. “Kalau begitu aku juga akan mengikuti tes itu” ujar Sulli tiba-tiba membuat Krystal berhenti melangkah dan menoleh menatap Sulli tidak percaya. “Benarkah?” Tanya Krystal heran. Selama ini Sulli memang tidak pernah belajar dan tidak berminat untuk ikut akselerasi. “Tentu, karena kau ikut aku juga harus ikut. Aku tidak ingin kita terpisah Soojung-ah.” Sulli memeluk Krystal tapi segera dilepaskan paksa oleh Krystal. “Kau tidak sakitkan?” Krystal menyentuh dahi Sulli. “tentu tidak chingu-ya” Sulli menarik tangan Krystal dari dahinya. “Kalau begitu mulai sekarang kita harus sering belajar bersama” ucap Krystal lalu menggandeng tangan Sulli dan berjalan menuju kelas.

 

“Minho-ya!” seorang wanita berambut pendek menghampiri Minho. “Sudah kubilang. Kau harus memanggilku oppa. Minho oppa” Minho meraih pinggang wanita itu. “Aku akan mengikuti ujian akselerasi itu bersama sahabatku.” Wanita itu tersenyum cerah kepada Minho. “Benarkah?? Kuharap nanti kita akan sekelas” Minho meraih tangan wanita itu dan menciumnya.

 

Ddrrrt..drrtt..

“Siapa itu?” Tanya Minho. “Dari Soojung” wanita itu menjawab sambil menunjukkan layar handphone-nya.

 

“Kemana Sulli ini? Aku kan sudah bilang padanya hari ini jadwalnya untuk belajar bersama” gumam Krystal yang sedang kedinginan di depan coffee shop biasanya. “Soojung-ah!” teriak seorang wanita dari kejauhan. “Sulli-ya! Kenapa lama sekali?? Aku sudah kedinginan dari tadi.” Krystal kemudian menarik tangan Sulli memasuki coffee shop langganan mereka itu.

 

“Darimana saja kau?” Tanya Krystal dengan wajah penuh tanya. “ah, itu.. itu..” Sulli menjawabnya putus-putus membuat Krystal semakin jengkel. “Apa? Kenapa?” Krystal mendesak Sulli untuk segera menjawab pertanyaannya. “Tadi aku baru saja selesai mengantar makanan untuk Ayahku dikantornya hari ini ayahku akan lembur dikantor” jelas Sulli dengan asap yang keluar dari mulutnya.

 

“Jadi bagaimana ini kita akan mulai berlajar dari mana?” Sulli mengeluarkan buku dari dalam tasnya. “Mood belajarku sudah hilang.” Ujar Krystal cemberut. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja??” raut wajah Krystak mendadak bersemangat. “Baiklah” Sulli kemudian memasukkan kembali buku-bukunya kedalam tas lalu berdiri sambil memegang kopinya.

 

Mereka memutuskan untuk pergi ke Myeongdeong melihat barang-barang terbaru yang belum mereka miliki. “Soojung-ah, ini bagaimana?” Tanya Sulli menunjukkan baju yang dicobanya. “Kau terlihat sangat lucu Sulli-ya.” Ucap Krystal lalu tertawa sambil memandangi Sulli yang mengenakan coat warna merah kebesaran yang panjangnya melebihi lututnya. “Benarkah?” Tanya Sulli lagi. Krystal hanya tertawa lalu mengangguk. “Kalau yang ini?” Tanya Sulli tak lama setelah berganti baju yang lain. Krystal menggeleng. “Yang ini?” Sulli mencoba baju yang lainnya. Lagi-lagi Krystal menggeleng.

 

Tak lama kemudian Krystal dan Sulli keluar dari ruang ganti mengenakan baju yang sama. Kemudian mereka saling memandang dan mengangguk serta tertawa. Mereka memutuskan membeli hoodie berwarna biru muda dengan gambar Jerapah ditengahnya. “Lihat ini begitu cute bukan” ujar Krystal sambil menunjuk pada salah satu case yang di jual diseberang toko hoodie. “Iya.” Sulli mengangguk lalu mengambil buah. “Banyak sekali?” Tanya Krystal. “Satu untukmu dan satu untukku” Sulli kemudian membayar dikasir. “Aku saja yang bayar. Sebagai tanda persahabatan kita” Sulli tersenyum ketika Krystal hendak mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. “gomawo” Krystal membalas senyum Sulli.

 

“Sulli-ya, aku gugup sekali” Krystal memegang tangan Sulli erat. “Tenanglah, ini juga pertama untukku” Sulli juga memegang tangan Krystal erat. “Kau masih ingat apa yang kita pelajari kemarin?” Tanya Krystal penasaran. “Tentu aku masih ingat. Jangan-jangan kau sudah lupa ya?” Sulli melihat Krystal yang memejamkan mata mencoba mengingat-ingat pelajaran yang sudah dipelajarinya. “Aku rasa hanya sedikit” Krystal tersenyum pahit.

 

Perhatian-perhatian bagi seluruh peserta ujian akselerasi diharapkan masuk ke ruangannya masing-masing karena ujian akan segera dilaksanakan

 

“Inilah saatnya” batin Krystal. “Hwaiting!” seru Krystal dan Sulli sebelum mereka memasuki kelas masing-masing. Ujian tersebut memakan waktu kurang lebih 3 jam. Menguras otak Krystal dan Sulli lebih dari sebelumnya.

 

“Bagaimana hasil ujianmu?” Tanya Minho merangkul pundak wanita berambut pendek yang ada disebelahnya. “Aku dan sahabatku berhasil lolos” ucapnya sedih. “Lalu apa yang membuatmu sedih?” tanya Minho. “Aku tidak satu kelas denganmu.” Wanita itu menunduk. “Yang sekelas denganmu justru sahabatku”tambahnya. Minho menarik kepala wanita itu dan menaruhnya di pundaknya. “Tenanglah kita masih bisa bertemu kan” Minho berusaha memperbaiki hati wanita yang ada disebelahnya itu.

 

“Soojung-ah! Selamat kau satu kelas dengan Minho oppa” Sulli member selamat kepada Krystal yang sedari tadi tersenyum menatap lantai. “Gomawo Sulli-ah. Tapi aku sedih.” Ucap Krystal pelan. “Kenapa? Bukannya itu keinginanmu ya?” Sulli menatap tak percaya. “Aku tak sekelas denganmu.” Krystal menatap Sulli sedih. “Tenanglah, aku akan sering kekelasmu” ujar Sulli tersenyum. Krystal mengangguk. “Atau kita bertukar kelas saja ?” Tanya Sulli. “Sirheo” jawaban Krystal membuat Sulli terkekeh.

 

Trringg..triinngg..

 

“Sudah bel rupanya masuklah ke kelasmu dan bertemu pangeranmu itu. Hahaha.. ” Sulli mendorong Krystal kedepan pintu kelasnya lalu berlari menuju kelasnya sendiri.

 

“Selamat pagi anak-anak!” sapa Jungsoo ramah begitu memasuki kelas 2-2. “Pagi ini kita kedatangan teman baru. Sebenarnya bukan baru sih, hanya saja dia adalah adik kelas kalian yang lulus ujian akselerasi” Jungsoo melanjutkan. “Masuklah.” Krystal melangkah masuk ke kelas barunya dengan perasaan ragu. Bagaimanapun juga ia adalah junior. “Annyeonghaseyo Krystal-Jung imnida” Krystal membungkuk 90 derajat lalu disambut tepuk tangan serta siulan ringan dari seluruh penjuru kelas. “Sudah-sudah jangan ramai. Krystal duduklah disebelah Baekhyun.” Ujar Jungsoo sabar lalu membiarkan Krystal duduk disebelah BaekHyun. “Annyeong!” sapa Baekhyun ramah. “Annyeonghaseyo seonbaenim” sahut Krystal penuh kesopanan. “Tidak usah terlalu sopan. Bukankah kita sering bertemu. Kau kan yang sering kemari untuk member ucapan selamat pagi kepada Minho kan?” Tanya Baekhyun langsung. Krystal hanya mengangguk “ne”. Lalu Krystal menoleh kearah depan sebelah kanan, terlihat Minho yang sedang memperhatikan pelajaran dengan wajah yang serius. Ini adalah apa yang diinginkan Krystal sejak lama satu kelas dengan Minho, cowok idealnya itu. “Jangan melihatinya terus nanti dia terasa. Dia itu orangnya sangat peka.” Ujar Baekhyun pelan yang membuat Krystal langsung mengalihkan pandangannya kepada Jungsoo yang sedang mengajar didepan. Jungsoo yang melihat tingkah laku Krystal hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Soojung-ah!” kali ini Sulli berteriak dari pintu belakang kelas barunya itu. Krystal langsung menoleh dan menyuruh Sulli masuk. “Mwohae?” Tanya Krystal. “Aku ingin tahu kelas barumu Soojung-ssi.” Sulli berkata lalu melihat seisi kelas itu. “Mana Minho oppa?” Tanya Sulli penasaran. Krystal hanya menggelengkan kepalanya kearah Minho yang berdiri di depan pintu kelas. Sulli berdiri dibelakang Krystal lalu berbisik “lihatlah betapa kerennya Minho oppa. OMO! Dia sangat keren kau tahu”. Krystal kembali memandangi Minho dan teman-temannya yang sedang bergurau sambil tersenyum. Tak lama kemudian mungkin karena merasa dipandangi Minho memutar tubuhnya menghadap Krystal yang sedang tersenyum sendiri. Minho ikut tersenyum. Sangat tampan! Ia pasti sedang tersenyum kepadaku. Batin Krystal. Tapi tanpa Krystal sadari. Sulli juga ikut tersenyum kepada Minho.

TBC~

Jangan lupa di tunggu comment + sarannya ..

Gomawo ^^

 

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 4]

Harin’s POV

“Harin-ahh!!” samar-samar kudengar namaku dipanggil-panggil. “Ya! Ireona! Kau tidak sekolah??”

 Ugh… Ini suara Onew oppa..?

“Nee!!” seruku mengusap-usap mataku sambil berusaha duduk. “Yah! Ke-”

Aku mengerjap menyadari sesuatu. Sebelahku kosong. Semalam Key memaksa untuk tidur di kasurku, sekali saja. Tapi ke mana dia sekarang??

  Key…..benar-benar pergi?

“Yah! Harin! Kau ini!” Onew oppa mendobrak masuk. “Menjawab ‘Nee!!’ tapi tidak segera turun!”

“Oh?” aku melihat ke arah jam. Tiga puluh menit sebelum masuk sekolah dan aku belum mandi?!! “Kok tidak bangunkan aku lebih pagi?!!”

“Ck! Aku sudah bangunkan kau!” omel Onew oppa. “Kau malah menendang-nendang orang!”

“Ohhhhh… Mian,” balasku. “Oppa, kau lihat Kibum?” tanyaku.

“Kibum?” ia menatapku curiga. “Siapa Kibum??”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arahnya. “Key! Aku bilang Key! Anjingku!” aku melongok ke bawah ranjang. “Kok tidak ada?” tanyaku.

“Oh? Entahlah, aku tidak lihat,” balasnya. “Tapi tadi pagi-pagi sekali aku dengar ada yang membuka pintu. Entah itu siapa, tapi saat kulihat tidak ada orang,” lanjutnya.

Oh… Key benar-benar pergi..

  Tapi kenapa aku merasa ingin mencarinya?

“Hey, nanti kucarikan. Kau mandi dan ke sekolah dulu sana,” perintahnya. Aku mengangguk. Lagipula aku satu sekolah dengan Key. Apa susahnya bertemu dengannya? Yang penting ia tidak di rumahku.

***

Aku tiba di sekolah tepat saat bel berbunyi. Setibaku di kelas aku mendengus kesal karena belum sempat mencari Key. Aku memang tidak ada urusan dengannya. Tapi….ah, siapa peduli!

 

“Pagi, anak-anak!”

“Pagi, sonsaengnim!” seruku, dan anak-anak lainnya malas-malasan. Huft… Membosankan.

“Kalian sekarang maju ke depan ambil undian. Hari ini kalian akan melakukan research singkat tentang range vocal dan musik dalam kelompok empat orang,” jelas Baek sonsaengnim mengeluarkan kotak berisi kertas-kertas undian. Aku mendesah lagi. Aku, Minyeon dan Sungra sudah jelas cuma bertiga dan kurang satu orang lagi.

“Psst!” desis Minyeon yang duduk di belakangku menepuk-nepuk pundakku. “Harin-ah! Beritahu aku kau dapat apa! Aku tidak mau sekelompok dengan orang lain, ya? Ya??” bisiknya. Aku mengangguk. Aku juga tidak mau.

“..Kalian akan sekelompok dengan yang mendapat kertas berwarna sama-Minyeon-ssi bisa duduk dengan benar??” Baek sonsaengnim menatap kami tajam.

“Ne, sonsaengnim,” gumam Minyeon pelan.

Kami satu per satu maju dan mengambil kertas undian termasuk aku. Aku mendapat warna merah. Dan untung saja belum ada yang mengambil warna merah.

Author’s POV

Minho yang duduk di tengah-tengah kelas itu terus-terusan memicingkan matanya ke arah Harin. Mau tidak mau, hari ini dia harus bicara dengan cewek itu.

  Ish! Murid-murid ini mengganggu!

Minho memanjangkan lehernya berusaha melihat kertas warna apa yang di dapatkan Harin saat banyak siswa-siswi yang menghalangi pandangannya.

“Key sialan,” desisnya menggerutu masih berusaha mengetahui warna kertas Harin.

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 3]

Harin’s POV

Aku kembali menyesap teh citrus yang diseduhkan Key untukku dan Minyeon. Aku tidak tahu sejak kapan aku pandai berbohong, tapi setidaknya sekarang Minyeon benar-benar tidak mencurigaiku. Tumben bukan? Biasanya saja dia paling curigaan.

“Jadi,” Minyeon membuka mulutnya memulai pembicaraan. “Jam berapa Jongwoon akan mengembalikan anjingmu?” tanyanya polos.

Jadi, tadi begitu bangun dan menyadari Key babo itu belum berubah menjadi anjing aku buru-buru menyeretnya meminta penjelasan. Setelah selesai penjelasan kilat tiga puluh detiknya itu, cerita bohong yang lebih masuk akal dari kisah binatang peliharaan yang bisa berubah menjadi manusia meluncur dari mulutku begitu saja. Aku bilang padanya kalau Key dibawa Jongwoon oppa jalan-jalan. Sedangkan Key yang di sini adalah tetangga – seperti yang diketahui eomma dan appa.

“Memangnya Kibum-ssi sejak kapan kenal denganmu? Bukannya kau tinggal di Jepang dengan sepupumu?” tanyanya lagi. Hahh… Ternyata ia masih saja curiga.

“Ingat, aku pindah ke sana waktu kelas tiga. Jadi, Kibum ini teman kecilku juga, sama seperti kamu dan Sungra,” jelasku. Aku melirik ke arah dapur. Key sudah berubah wujud belum ya?

“Kau suka pada Kibum sunbaenim?” tanya Minyeon tiba-tiba. Aku membulatkan mataku.

“Eh? Sunbaenim?” tanyaku.

“Ne. Bukannya dia anak kelas tari? Ini sudah tahun keduanya bukan? Dia jadi kingka di situ sejak tahun lalu sampai Minho dan Taemin juga masuk sekolah kita tahun ini,” balas Minyeon. “Masa kau tidak tahu? Kau kan teman kecilnya?”

  Ugh.. Ternyata Minyeon masih menginterogasiku…

“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang lebih tua denganku, makanya aku lupa,” balasku tersenyum canggung.

“Ohh,” gumamnya. “Jadi kau benar-benar menyukainya,” sambungnya. Mwo?!

“Hah? Kok bisa??” pekikku tertahan.

“Pertama, kau tidak menganggap Kibum sunbaenim sebagai orang yang perlu dihormati, jadi dengan kata lain kau merasa akrab dengannya. Kedua, ia kau seret-seret tadi pagi di kelas. Ketiga, yang menculikmu dari aku dan Sungra saat makan siang tadi Kibum sunbaenim. Keempat, ia menggendongmu sepulang sekolah tadi. Lucu sekali! Kelima, kau menamai anjingmu dengan nama yang sama dengan Kibum sunbaenim. Terakhir, ia berada di rumahmu dan kau berkali-kali melirik ke arah dapur dari tadi,” jelasnya panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.

  Minyeon-ah, kau benar-benar aneh.

Tidak kusangka ia akan penasaran dan curiga terhadap topik yang sama sekali tidak terpikirkan olehku.

“Aku tidak menyukainya,” jawabku jujur, singkat, padat, dan jelas.

“Ey.. Seolma,” gumamnya lagi. “Padahal kalian lucu sekali!”

“Lucu apa-”

Ting.. Tong..

Siapa sore-sore begini datang? Kukira cuma Minyeon yang akan datang.

“Aku buka pintu dulu ya,” gumamku pada Minyeon sebelum aku bangkit dari tempatku duduk dan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, sepupuku yang selama ini menemaniku di Jepang sudah berdiri sambil tersenyum di depan pintu.

“Oppa!!!” seruku memeluknya. “Eh, tunggu, kau kok di sini?” tanyaku.

“Aku liburan di sini!” balas Onew.

“Jinjja? Waa!!” seruku bahagia melupakan masalah apa yang barusan menimpaku.

“Eh, dapur di mana? Aku haus!” rengek oppa menerobos masuk. Dapur? Oh tidak…

  Key!! Key!! Key!! Berubah!! Cepat!!

“O-oppa! Aku saja yang ambilkan air!” seruku menyusulnya sebelum ia sempat ke dapur.

“Oh? Aku sudah di dekat dapur aku saja yang ambil,” balasnya berteriak. “Kau bawa teman ke sini?” lanjutnya. Eh?! Kibum ketahuan?!

Aku segera berlari menuju ke tempat di mana oppa berada – di depan dapur, di ruang makan. “Ne?”

“Kenapa temanmu kau tinggal sendirian? Dasar,” ceramah Onew menunjuk Minyeon yang duduk bengong menatap oppa-ku. Eh? Untung Onew belum masuk!

“Eh… Hehehe. Mian…,” gumamku.

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 2]

Key’s POV

  Ugh… Panas sekali kamarku?! Sempit pula!

Aku langsung membuka mataku dan melihat Harin yang masih tertidur pulas sambil memelukku. Ah, ani. Memeluk aku dalam wujud anjing. Ternyata aku sudah berubah dalam semalam.

Aku berusaha melepaskan pelukan Harin dari badanku yang menyusut. Sebenarnya kemarin aku dipaksa tidur di lantai saja beralaskan selimut. Tapi karena kedinginan aku menyelinap ke kasurnya. Jangan katakan ini pada Harin! Aku harus segera kembali ke lantai sebelum dia bangun!

  KRIIIIING!!!

Suara alarm di meja mengejutkanku. Aku melirik ke arah Harin yang masih saja tidak mendengar suara jam-nya. Babo.

Aku dengan susah payah melompat ke atas meja untuk mematikan alarm itu. Dasar Harin babo. Untuk apa memasang alarm kalau tidak mendengarnya? Eh tunggu, hari ini dia sekolah bukan? Hemm… Di mana ya kalungku?

Mengobrak-abrik meja Harin, aku akhirnya menemukan kotak berisi kalung anjingku. Key. Ha. Bukankah itu nama yang keren? Tentu saja karena aku ini orang yang keren~

Aku menggigit ujung kalung itu berusaha melingkarkannya di leherku. Aish! Ini lebih sulit dari yang kukira. Sepertinya ini tidak akan berhasil kalau aku tidak meminta bantuan tuanku.

“Woof! Woof!” aku menyeret kalung itu kembali ke kasur Harin. Dengan bersusah payah aku berusaha membangunkannya.

YAH!! LEE HARIN IREONA PPALI!!

“Woof!!!” aku menarik-narik piyamanya. Jinjja! Yeoja atau bukan sih?!!

Harin’s POV

“Hnngg…,” erangku merasakan sesuatu berbulu masuk ke dalam bajuku. Aish! Mengganggu tidurku saja.

“Woof!! Woof!!”

Eh? Suara anjing? Sejak kapan di rumah ada-

KEY!!!!

“YAH!!” pekikku langsung duduk dan menarik ekor Key keluar dari bajuku. “Kau!! Byuntae!!!”

“Woof!” anjing itu menatapku dengan tatapan aneh seperti sedang mengejek.

“Mwo?” tanyaku dengan nada datar. Ia kemudian membawakanku kalung anjing kemarin. “Eh?”

“Woof! Woof!”

Hah… Sepetinya ia ingin aku memakaikannya kalung.

“Ne. Ne. Arasseo,” gumamku meraih kalung itu. Pelan-pelan kulingkarkan di lehernya.

Baru saja selesai kupakaikan ia tiba-tiba melompat ke arahku.

 Oh no. Jangan lagi…

PUFF!

Lagi-lagi aku tertindih Kibum yang sudah kembali mmenjadi manusia. Bibirnya masih tepat berada di bibirku. Aku mengerjapkan mataku dan berusaha mendorongnya.

 Ugh! Sial! Tangannya menahan tanganku!!

Continue reading

Pet Kiss! Kiss! Kiss! [Part 1]

Harin’s POV

  Sinar matahari sangat terik hari ini. Aku mengikat rambutku menjadi dua dan mengambil topi baseball pink dari lemari. Begitu selesai dengan kegiatanku aku langsung keluar menuruni anak tangga dan segera menuju pintu utama.

  “Eomma, aku pergi dulu, ya!” seruku mengenakan sandalku.

  “Ne, aegi-ya! Jalgayo!” balas eomma. Aku hanya tersenyum sebelum melangkahkan kakiku keluar rumah.

  Aku bersenandung kecil sambil melangkah ke rumah samping mini market dan rental CD di ujung perumahan. Ini salah satu hari libur musim panasku. Dan aku berniat ke petshop sekaligus rumah milik ahjussi yang kukenal sejak kecil.

  “Annyeonghaseyo, Sooman ahjussi!” seruku membuka pintu putih rumah kecil itu. Begitu aku tiba di dalam aku disambut dengan suara kicauan burung dan beberapa gonggongan anjing. Ada juga suara kucing mendengkur dan ayam berebut makanan.

  “Oh? Harin-ah annyeong!” sapa pria berkaus putih yang berdiri di balik meja kasir tersenyum padaku. Aku balas tersenyum padanya. “Sooman ahjussi sedang ke dokter hewan.”

  “Annyeong, Jongwoon oppa!” sapaku. Ia salah satu pekerja favoritku di sini dan aku hafal betul shift kerjanya. Seperti misalnya pagi ini.

  “Harin-ah kau butuh sesuatu?” tanya Jongwoon oppa. Aku menggeleng.

  “Aniya,” gumamku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. “Oppa, tebak apa yang kudapat dari eomma semalam!”

  “Ne?” ia mengerjapkan matanya. “Hm.. Mwonde?”

  “Eomma memberiku ijin untuk memelihara binatang peliharaan!” seruku senang memeluk lengan Jongwoon oppa. “Kyaaa~ haengbokhaeyo! Sudah lama aku ingin sekali memelihara binatang,” pekikku diikuti tawa kecil Jongwoon oppa.

  “Jadi kau ingin membeli binatang peliharaan?” tanyanya mengernyit. Aku mengangguk penuh semangat. “Kajja. Mari kita lihat binatang apa yang cocok untukmu,” ia meraih tanganku dan mulai mengajakku keliling petshop.

  “Kau suka binatang seperti apa? Seperti hewan air? Hewan berbulu? Reptil? Unggas?” tanyanya. Aku mengangkat kedua bahuku.

  “Molla,” jawabku singkat menatap lekat-lekat setiap koleksi binatang di sana.

  “Hm.. Kau mau binatang yang spesial?” tanyanya. Aku langsung memutar kepalaku ke arahnya.

  “Mwo?”

  “Igeo,” ia mengangkat sebuah keranjang kecil dengan kain pink kotak-kotak di atasnya. Ia lalu meletakkannya di tanganku dan dapat kulihat dengan jelas seekor anjing golden retriever sedang berbaring tertidur di atasnya dengan sebuah bantal kecil menyangga kepalanya.

  “U-uwaaa…! Kyeopta!” bisikku supaya tidak membangunkannya.

  “Kau boleh mengambilnya,” tawar Jongwoon oppa. “Anggap saja itu hadiah dariku.”

  “Jinjja?” aku membulatkan mataku. Ia mengangguk lalu menyerahkan sebuah kotak persegi panjang berwarna pink padaku.

  “Itu kuberi kalung namanya,” ujarnya. Aku mengernyit.

  “Oppa, dia ini cewek?” tanyaku menatap semua benda milik binatang peliharaanku ini. Rata-rata pink semua.

  “Oh? Aniya. Itu cowok,” balas Jongwoon oppa. Aku mengernyit.

  “Jeongmal? Barangnya pink semua,” gumamku. “Ah, sudahlah. Gomawoyo, oppa!” aku melambaikan tanganku pada Jongwoon oppa.

  Aku melompat-lompat kecil memeluk keranjang itu pulang. Dari kecil aku sudah ingin memelihara binatang. Jongwoon oppa baik sekali tahu apa yang aku suka! Tidak salah aku menganggapnya seperti oppa-ku sendiri.

***

  “Annyeonghaseyo, eomma! Aku pulang!” seruku masuk segera melepas sandalku dan berlari ke kamarku di lantai atas.

  Aku meletakkan keranjang anjingku di lantai dan duduk di depannya. Kulihat anjing itu mengerjapkan matanya lalu menatapku. Matanya ada yang berbeda dari golden retriever temanku?

  Anjing itu terus-terusan menatapku lalu berjalan ke arahku. Aku menggendongnya perlahan kubawa ke tempat tidurku. Aku berbaring memeluknya.

  “Aigoo! Neomu kyeopta!” pekikku senang. Anjing itu terus bergerak melepaskan pelukanku lalu lari ke arahku lalu menjilati mulutku.

  PUFF!

  Aku menutup mataku begitu terdengar suara-suara aneh diikuti asap putih cukup tebal mengepul di hadapanku. Aku mengerjap sejenak merasakan beban yang berat tertimpa di atasku.

  Aku membuka mataku menatap sepasang mata coklat yang balas menatapku. Tatapanku turun menelusuri hidungnya lalu berhenti di bibirnya yang menempel di bibirku. Aku mengerjap lagi begitu menyadari sesuatu.

  “KYAAA~~!!!!” teriakku mendorong pria itu menjauh. Aku duduk dan menggeser tempatku mundur menatap dinding. Aku menatap pria itu bingung bercampur kaget. Ige mwoya?! “N-neon nuguya?!” pekikku. Ia hanya menatapku polos.

  “Na?” ia menunjuk dirinya sendiri. “Naneun Kim Kibum-iyeyo,” jawabnya santai.

  “Kau..bagaimana..itu-”

  “Gomawo kiss-nya,” ia mengerling padaku. Mukaku langsung memerah padam.

  “Neo!!” seruku menunjuknya dan baru sadar ia topless.

  “Harin-ah gwaenchanha?” panggil eomma. Kudengar langkah kaki ringan menuju ke kamarku. Aku membulatkan mataku.

  “A-aigoo?!! Eotteohke?!” gumamku panik. Aku menarik tangan Kibum itu dan menariknya ke dalam selimut denganku.

  Tepat setelah aku bersembunyi di bawah selimut pintu kamarku terbuka. “Gwaenchanha, aegiya?” tanya eomma melongok ke dalam.

  Aku menyembulkan kepalaku keluar selimut. “Aniya, aku baca komik seram,” jawabku tertawa hambar. Eomma mengangguk-angguk lalu kembali menutup pintu kamarku. Aku bernafas lega lalu kembali duduk diikuti ‘Kibum’ tadi.

  Aku melirik ke arahnya. “Neo, pakailah bajumu, babo,” desisku kesal menatapnya intens. Ia menaikkan pundaknya.

  “Kau tidak memasangkan kalungku. Aku tidak bisa pakai baju sampai aku kembali menjadi anjing lagi dan kau memasangkan kalungku,” jawabnya santai kembali berbaring di ranjangku.

  “Ya! Neo-”

  “Aku punya nama,” potongnya cepat. Aku mendengus kesal.

  “Aku tidak peduli! Ya! Sana minggir! Ini kasurku!” desisku supaya tidak terdengar eomma lagi. Ia masih belum mau bergerak dan malah meringsut memeluk gulingku.

  “Tadi kan yang membawaku ke kasur ini kau,” balasnya. “Iya kan, Tuan?” ia menyeringai.

  Aku mengernyit. “Tuan?” tanyaku. Ia mengangguk.

  “Kau yang mengembalikan wujudku jadi manusia lagi, jadi kau akan jadi tuanku. Dan kau harus melakukan ‘kiss’ seperti tadi setiap kali aku berubah menjadi anjing supaya aku bisa kembali menjadi manusia,” jelasnya. Aku mengerutkan alisku.

  “Mwo?” pekikku tertahan. “Jadi kau anjing- tunggu, aku belum memberi nama padamu,” gumamku. Ia terkekeh.

  “Kelihatannya kau setuju untuk menciumku tiap kali aku ingin menjadi manusia,” ia tersenyum licik. Aku membulatkan mataku lalu menendangnya jatuh ke lantai.

  “Neo! PA.BO! Kapan kau kembali menjadi anjing lagi huh?” desisku. “Lebih baik kau tetap saja dalam wujud anjing,” lanjutku. Ia mengusap-usap kepalanya yang terbentur lantai.

  “Ck! Jangan begitu!” gerutunya. “Aku…tidak bisa terus-terusan dalam wujud anjing seperti itu.”

  “Wae?” tanyaku. Ia bangkit lalu duduk di tepi ranjangku.

  “Ceritanya panjang,” balasnya. “Pokoknya lama aku menjadi manusia tergantung pada ciumanmu. Dan kuharap lain kali kau menciumku jangan didorong lagi, ara? Lalu aku juga maunya kau menciumku lebih lama supaya aku bisa tahan lama jadi manusia~” godanya mengerling lagi padaku. Pipiku kembali merona kemerahan.

  “Andw-”

  Trrt.. Trrt..

  “Yoboseyo?” sapaku begitu menyambar ponselku di meja.

  “Yoboseyo Harin-ah~!” pekik Minyeon di ujung telepon satunya. “Kudengar kau punya binatang peliharaan?? Boleh aku melihatnya?” serunya lagi.

  “Ne, tentu saja,” jawabku.

  “Oh iya, binatangmu apa? Tokki?” tanyanya. Aku menghela nafas dan menatap makhluk yang sedang bermain-main dengan gulingku di hadapanku.

  “Anjing,” balasku. “Golden Retriever.”

  Yang pabo. Tidak waras. Menyebalkan. Cerewet.

  “Jinjja? Kau beri nama siapa?”

  Aku berhenti sejenak lalu teringat dengan kalung yang diberikan Jongwoon oppa. Aku membuka box pink itu dan mendapati kalung anjing berwarna baby blue dengan liontin berbentuk tulang terukir tulisan ‘KEY’.

  “I-ireum…,” gumamku. “Namanya Key,” sambungku. Kudengar tawa Minyeon bercampur tawa kecil Kibum yang menatapku.

  “Key?” bisik Kibum merangkak ke arahku. “Gomawo panggilan ‘sayang’-nya~” bisiknya. Aku mendorong wajahnya menjauh dan menyuruhnya diam.

  “Ohh, namanya singkat sekali? Aku jadi ingin cepat-cepat ke sana!” ujar Minyeon.

  “Ne, kau bisa datang besok,” balasku sebelum menutup teleponnya. Aku kembali melirik ke makhluk yang sedang membongkar-bongkar rak bukuku.

  “Ya! Neo-”

  “Aku Kim Kibum, bukan ‘neo’,” potongnya. Aku mendengus kesal.

  “Kau itu Kim Babo bukan Kim Kibum,” desisku. “Jangan bongkar-bongkar laciku!” seruku mendorongnya menjauh.

  “Cih! Berhentilah mendorongku! Bagaimana dengan semua ‘Aigoo! Neomu Kyeopta!’ tadi?” omelnya menirukan nada suaraku. Pipiku terasa panas karena marah bercampur malu.

  “Aku tidak akan mengatakannya lagi!” bantahku.

  “Ish! Kau itu yeoja aneh,” gumamnya cukup pelan namun bisa ditangkap telingaku.

  “Apa maksudmu hah?”

  Ia menaikkan pundaknya. “Kenyataannya begitu. Kau itu yeoja aneh,” jawabnya santai. “Ribuan bahkan mungkin jutaan yeoja jatuh hati pada ketampananku, tapi kau malah mengatakan aku bodoh,” lanjutnya.

  “Mwo? Apa mereka gila? Atau buta?” balasku. Ia langsung melemparkan pandangan membunuhnya padaku.

  “Kau tidak tahu siapa aku?” pekiknya. “Kau tidak tahu aku? Kim Kibum? Key?”

  “Aku tahu,” balasku. “Kau anjing.”

  Ia mendesah kasar lalu merebahkan dirinya ke kasurku lagi.

  “Kau benar-benar yeoja aneh,” desisnya.

  “Jangan salahkan aku. Aku baru saja kembali dari Tokyo,” balasku membereskan bukuku yang berantakan karena dibongkar-bongkar olehnya. “Ya! Bereskan bukuku!”

  “Tokyo?” tanyanya mengabaikan perintahku. Matanya berkilat-kilat kagum. “Kau tinggal di Tokyo?”

  “Kau tidak lihat? Ini rumahku, berarti aku tinggal di Seoul,” balasku. Ia mendengus kesal.

  “Maksudku kau dulu tinggal di Tokyo?” tanyanya. Aku mengangguk.

  “Aku baru pindah, dan akan mulai masuk sekolah lusa,” tambahku.

  “Sekolah di mana?”

  “Di SOPA. Aku masuk kelas musik,” jawabku membereskan buku-bukuku.

  “SOPA?” ia menyeringai. “Pantas saja kau belum mengenalku. Aku yakin lusa kau akan tahu siapa aku,” gumamnya. Aku mengernyit.

  “Siapa juga yang mau tahu kau siapa? Aku tidak butuh itu,” cibirku. “Ya! Jangan bongkar-bongkar barang-barangku!”

  “Ish! Nanti saja!”

 

Author’s POV

  Piring-piring tertata rapi di meja kayu bertaplak biru muda itu beserta sendok dan sumpit di sampingnya. Ibu Harin meletakkan masakan-masakannya di tengah-tengah dengan perlahan lalu melepas apronnya.

  “Harin-ah!! Makanan sudah siap!!” teriaknya memanggil Harin.

  Di lain sisi, Harin sedang tertidur pulas di ranjangnya selagi Kibum duduk bersila di lantai membaca beberapa buku. Kibum yang mendengar teriakkan ibu Harin segera berdiri dan berjalan ke arah tubuh mungil Harin. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Harin.

  “Ya! Hey! Eommamu memanggil! Ya! Ish! Kau mau makan tidak sih!” desis Kibum. “Kalau kau tidak makan aku yang makan!”

  Mendengarnya, Harin langsung terduduk dengan mata terbelalak. “Mwo? Andwae! Kau tidak boleh ikut makan di bawah!” serunya.

  “Wae???” tanya Kibum memanyunkan bibirnya.

  “Andwae.. Eomma tidak oleh tahu kau ada di sini! Eh? Tunggu! Kapan kau berubah jadi anjing lagi?! Kau makan makanan anjing saja bagaimana?” ujar Harin segera merapikan rambutnya yang berantakan.

  “Ey, andwaeyo! Aku juga mau makan nasi! Makan makanan manusia!” rengek Kibum.

  “Ck! Andwae! Kau tidak boleh turun! Ara?”

  “Shireo!”

  “Gajima! Tetap di sini!”

  “Neon jugullae? Aku tidak mau mati kelaparan!

  “Sudah kubilang, tunggulah sampai wujudmu kembali!”

  “Ya! Ini wujud nyataku!”

  “Huh! Aku tak peduli!”

  “Ck! Kau-”

  “Harin-ah?”

  Mereka berdua menoleh ke arah pintu yang suda dibuka. Ibu Harin berdiri di sana menatap keduanya bergantian.

  “Kau bawa teman? Kenapa tidak bilang? Ayo ajak makan,” ajak ibunya tersenyum ramah. Harin hanya mendengus kesal dibalas senyum kemenangan Key yang duduk di sampingnya.

  “Ne, eomma,” gumam Harin.

  Ketiganya tiba di ruang makan yang sudah dihuni oleh seorang pria paruh baya. Ia melirik ke arah Kibum sejenak.

  “Nugu, Harin-ah?” tanya ayahnya. Hari lagi-lagi mendengus kesal.

  “Nae chinguda,” jawab Harin sebelum duduk di kursinya di samping Kibum.

  “Ohh,” gumam ayahnya. Harin memasukkan sepotong bulgogi ke mulutnya. “Kukira namja chingumu,” lanjut ayahnya mengunyah bibimbab.

  Harin otomatis langsung terbatuk sedangkan Key hanya menyeringai. “Appa!” seru Harin setelah batuknya terhenti.

  “Hahaha.. Appa hanya bercanda. Kau baru saja pindah kemari, masa sudah punya namja chingu?” tawa ayahnya. “Kalian bertemu di mana?” tanyanya lagi.

  “Di petshop. Jongwoon oppa yang mengenalkannya padaku,” jawab Harin polos. Itulah kenyataannya.

  “Oh, dia juga pekerja di petshop milik Sooman? Ahh… Siapa namamu?” tanya ayahnya beralih memandang Kibum.

  “Kim Kibum imnida,” jawab Kibum mengangguk pelan.

  “Tinggal di mana?” pertanyaan itu membuat Harin mengentikan segala aktivitasnya. Kibum sendiri juga terdiam.

  “Di dekat sini,” kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Harin. “Beberapa blok dari sini.”

  “Bagaimana kau tahu rumahku di dekat sini?” bisik Key pelan pada Harin. Harin hanya menaikkan pundaknya dan mengatakan tidak tahu tanpa suara.

  “Oh? Kalau begitu kau tahu tentang rumah kosong di ujung blok ini?” tanya ibu Harin. Key mengangguk.

  Tentu saja. Itu tempatku tinggal dulu.

  “Kau tahu siapa penghuninya? Kami baru saja tiba di sini. Dengar-dengar di sana ada seorang anak muda yang tiba-tiba menghilang lari? Dengar-dengar juga ibu dan ayahnya di luar negeri,” ujar ibunya.

  Key mengeratkan pegangannya pada sumpit, “Molla. Aku hanya tahu marga keluarganya dan nama kepala keluarganya,” gumamnya. “Aku tidak kenal juga dengan mereka,” dustanya.

  “Oh? Jinjja? Aku juga hanya tahu marganya. Kulihat di pagar. Kim bukan?” sambut Harin. “Kim…siapa ya? Jumin? Jungshin? Jungin?”

  “Kim Junmin,” gumam Key menatap datar makanannya. Baru saja ia menyebut nama orang yang paling dihindarinya.

 

To be continued…

Annyeong!!!
Author is back~~!!! XD
Gimana? Gimana?
Buat yang mulai sekolah, fighting!! semangat!!
Dan author mau bilang juga gak akan bisa sering-sering update karena mau pergi menuntut ilmu ke tempat yg jauh T_T *alay*

Thanks for readers!!
But I’ll appreciate it more if you leave your comment 😉

%d bloggers like this: