Tag Archives: Kim JaeJoong

Marry YOU??!! OH GOD !! (Part 1)

“Shim changmin….sekarang kau harus menjaga Danni sepenuhnya…..jangan lukai atau sakiti dia…walaupun ini hanya sandiwara belaka…”bisik jaejoong pelan ditelinga changmin.

“Uwaaa….aku capek…” Teriak Changmin sambil mengipasi dirinya yang bercucuran keringat.

“Good Job….Shim Changmin….” Kata seseorang pria lanjut usia yang adalah bos SM.

“Lee Soo Man Sshi…” sapa changmin.

“Lalu yang ini Danni kan?? Adik nya Kim Jaejoong??” Tanya LSM sambil menghampiri Danni.

“Ye…Soo Man Sshi… Annyeong Haseyo…” sapa Danni.

Continue reading

Letter of Angel XXIV “INSANE”

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI, Part XVI,Part XVII , Part XVIII, Part XIX, Part XX, Part XXI, Part XXII, Part XXIII

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

Korea…. I back…..

Langit Seoul hari ini sangat cerah. Sinar matahari yang hangat, menghangatkan dinginnya pagi.

“Tuan Kim, selamat datang kembali di Korea” ujar sekretarisku. Sekretaris aku tak pernah berpikir untuk memiliki tangan kanan yang akan menyelesaikan semua urusan yang tak sempat aku urus sendiri. Dokter Kim Jaejoong hidupmu sudah berubah. Bukan lagi dokter Kim yang selalu mengurusi rumah sakit dan keluarganya saja, Yuri Haejoong sebenarnya kemana takdir akan membawaku?

“Tuan Kim” Sekretarisku menyadarkanku dari lamunan.

“Nyonya Kim menelpon. Dia ingin memastikan anda sudah sampai dengan selamat” Segera kurogoh ponsel dan memakai headset. Suzzy pasti khawatir. Aku sudah janji untuk menghubunginya segera setelah sampai di Seoul.

“Yeoboseyo” ujarku.

“Yeoboseyo, oppa” Aku bisa merasa kelegaan dari suaranya.

“Mianhae, baru bisa menghubungi sekarang”

“Gwaenchana. Asal kau baik-baik saja. Oppa, semua baik saja kan?” tanyanya.

“Maaf Tuan mengganggu. Doojoon menunggu anda di mansion. Ini laporan penyidikan yang anda minta. Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan jas anda untuk pemakaman Tuan Shim. Kita akan sampai di mansion kurang dari 15menit lagi. Buket bela sungkawa sudah dikirim. Kikwang dan Junhyung sudah mengirim orang-orang terbaik untuk pengamanan dan pengawasan keluarga dan sahabat anda.”
Jaejoong mengambil nafas panjang.

“Kematian Changmin apa sudah ada titik terang? Bagaimana laporan hasil penyelidikan dan olah TKP?” Sebagai seorang dokter yang juga pernah mengalami rotasi dokter muda di berbagai bagian termasuk bagian forensik sebelum memutuskan menjadi dokter bedah jantung, Jaejoong cukup mengetahui hal-hal semacam ini.

“Sementara ini polisi masih menganggap ini kasus pencurian biasa terkait hilangnya beberapa barang berharga serta mobil di kediaman Kyuhyun, tetapi kemungkinan besar ini adalah alibi”
Jaejoong terdiam sejenak dan berpikir.

“Saat kejadian siapa saja yang berada di sana?”

“Adik Cho Kyuhyun, Lee Jieun. Tidak lama kemudian Goo Hara tiba di TKP dan langsung memanggil ambulance dan polisi”

“Jieun? Jangan katakan kalau…..” Tenggorokan Jaejoong tercekat. The worst thing is standing beside someone that you love in lifeless stage, but the worse than that is realized your soul die in your arms.

“Oppa” Suara Suzzy membawa Jaejoong kembali ke dunia nyata.

“Are you okay?”

“Yes” jawab Jaejoong pendek.

Suzzy menarik nafas panjang.

“I’m your wife even we didn’t know each other so long. I know you’re not okay. Never say you’re happy when you’re sad, never say you’re fine when you’re not okay, never say you feel good when you feel bad. There are times you are afraid, times you are confused and times you feel uneasy. You start to cry, you feel alone, you stop to love. Oppa, you still have me. Even you didn’t want make me worry, you make me worry already. Be strong and courage as you’re, but don’t be afraid to be weak in front of me. It’s not time to act strong. We are here oppa and always be here to support you. Kris has missed you already.” Suzy memberi penekanan pada kata-kata yang menurutnya mampu membuat Jaejoong terbuka padanya.

“I miss you two” Jaejoong tersenyum kecil setelah mendengar kata-kata Suzy.

“Oppa, ….”

“I’m okay. I must stay strong, I ever through this before. Sky is falling down, froze, dark cloud commit to kill myself. I knew it better. If I didn’t have them, I wouldn’t be able met you and had chance once more to have family. Have Kris to protect and feel his slow breath in my tight embrace. I’ll be back soon. Please, take care of Kris and you too for sure. Send Kris my kiss, tell him his father really wants to see his peaceful sleeping face and his cute laugh”

“Tuan, ada telpon dari Kikwang. Nona Lee Jeun berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil yang lewat. Dia diselamatkan nona Jung Jessica yang berlari dan menariknya sebelum sempat tertabrak”

“Suzy, I’ll call you later” Jaejoong siap mengakhiri sambungan telponnya.

“Oppa, wait” Jaejoong bisa mendengar suara kecil tawa Kris.

We love you. Take care appa” teriak Suzy dan menutup telpon. Jaejoong tersenyum.
Jaejoong sampai di mansion dan terlibat pembicaraan sebentar dengan Doojoon dan segera mengganti pakaiannya dengan jas hitam.

Doojoon dan beberapa bodyguard mengikuti Jaejoong yang menggunakan mobil sendiri dan berusaha menjaga jarak agar tidak ada yang curiga.

Di pemakaman Jaejoong bertemu Donghae, Donghwa, Eunhyuk, Siwon dan masih banyak lagi. Suasana yang kembali mengingatkannya dengan suasana waktu itu. Jaejoong segera menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak membuat dirinya lemah di saat seperti ini.

“Hyung” panggil Donghae. Jaejoong mengangguk. Pemakaman Changmin diwarnai tangisan dari ayah, ibu dan saudara serta keluarga besarnya.

Setelah pemakaman mereka berkumpul di rumah Donghae dan sebagian memutuskan untuk menjenguk Jieun yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Kyuhyun tidak bisa membiarkan Jieun semakin terluka karena tinggal di rumah mereka akan mengingatkan Jieun dengan kematian Changmin.

“Bagaimana kronologinya?” ujar Jaejoong memulai pembicaraan. Tidak ada yang bicara.

“Jieun belum bisa dimintai keterangan” Junsu membuka mulut.

“Maksudmu?”

“Jieun adalah saksi kunci” Lanjut Junsu sambil menarik nafas panjang.

“Aku akan mengantar Jiyeon ke rumah sakit” kata Donghae, tetapi Donghwa menahan Donghae.

“Biar aku yang antar Jiyeon. Aku juga ingin menjenguk Jieun”

Donghwa berdiri, Donghae memberi kecupan singkat dan pelukan pada Jiyeon serta menghapus airmata Jiyeon.

Suasana kembali sunyi. Mereka semua terdiam, tidak tahu bagaimana untuk memulai pembicaraan. Terlalu banyak masalah yang terjadi dan semua terasa semakin berat sekarang.

“Donghae, lebih baik kau istirahat. Besok sidang akan dilaksanakan” nasihat Jungsoo.

“Kau pikir aku masih memikirkan sidang setelah apa yang terjadi pada Changmin. Kematian Changmin dan semua hal yang terjadi semua adalah karena aku. Andai saja bukan karena aku pasti tidak akan seperti ini. Aku yakin mereka melakukannya untuk mendapatkan Mavin. Seandainya aku melepas Mavin dari awal maka…”

Jaejoong memukul wajah Donghae dengan keras. Junsu dan Jungsoo berusaha menahan Jaejoong.

“Hyung, Junsu lepaskan aku. Anak ini perlu diberi pelajaran. Aku tahu yang aku lakukan” Junsu dan Jungsoo akhirnya mundur setelah mendengar teriakan Jaejoong yang juga memberi keyakinan pada mereka kalau Jaejoong tahu dengan benar apa yang dilakukannya.

“Kau pikir menyerahkan Mavin akan menyelesaikan masalah. Kau pikir jika sejak awal memberikan Mavin hal ini dapat dicegah? Hah??? Lee Donghae dimana otakmu? Bagaimana kau bisa menyalahkan Mavin atas segalanya” Jaejoong masih memegang kerah baju Donghae.

“Aku tak menyalahkan Mavin” teriak Donghae.

“Kau menyalahkannya. Jika tidak kau tak akan berkata demikian. Mana ada ayah yang berkata demikian? Hah???? Kau ingin berkata menyalahkan dirimu sendiri, tetapi ini sama saja kau menyesali keberadaan Mavin. Kau tahu kami semua berada disini untuk mendukungmu, kami aku, Junsu, Jungsoo hyung, Eunhyuk, Donghwa, Hara, Kyuhyun, dan Yuri, Haejoong, Changmin kami mendukungmu. Mavin adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kau jaga dan kami sudah menganggapnya sebagai bagian hidup kami. Kau pikir aku akan diam saja ketika pikiran bodohmu menguasai otakmu atau perasaanmu membutakan dirimu”

“Look who says that. Kau bahkan ingin mengakhiri hidupmu ketika Yuri noona dan Haejoong meninggalkanmu. Pernah kau memikirkan kami yang berada di sampingmu? Hah?” Jaejoong siap memukul Donghae, tetapi pukulannya jatuh di lantai beberapa inchi dari wajah Donghae.

Jaejoong berdiri dan menarik Donghae untuk berdiri dan memberinya pelukan saudara. Donghae seolah membeku, tetapi sesaat kemudian memeluk Jaejoong. Mereka diam dalam posisi itu dan Jaejoong melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku Hyung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tak tahu ini mimpi, drama atau benar hidup. Kenapa hidupkku seperti scenario drama? Drama sedih yang diatur untuk mendapatkan banyak rating dan nominasi serta penghargaan karena mampu menghadirkan alur sedih tanpa akhir? Pathetic… So pathetic”

“It’s fate not scenario. If it is scenario, God must will be the director” Jaejoong menepuk bahu Donghae.

Junsu meninggalkan mereka berdua dan segera menuju kantor kejaksaan. Laporan terkait penyidikan kasus Changmin yang dia minta langsung dari kepala penyidikan kasus telah keluar. Junsu memohon bantuannya, meski itu jelas terlarang untuk membocorkan dokumen, tetapi akhirnya dia menyerah dan memberikan Junsu informasi paling penting meski tidak semuanya dia berikan.

“Jaksa Kim ada 2 orang tamu di ruang anda. Mereka menunggu anda sejak tadi”

Junsu berpikir kalau Kepala Penyidik datang bersama staff atau polisi lain, Junsu terkejut ketika melihat Yunho di kantornya bersama kepala penyidik.

“Jaksa Junsu ada yang ingin saya bicarakan sebentar” Kepala penyidik keluar untuk memberikan mereka privacy.

“Saya mengajukan ke pengadilan untuk mengundur persidangan sampai pengacara pengganti Shim Changmin diperoleh” kata Yunho. Junsu mengangguk.

“Ada yang lain yang kau ingin sampaikan?” tanya Junsu.

“Temukan pembunuhnya. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku ingin kita bekerjasama, aku akan selidiki keluarga Choi. Harusnya aku menggunakan praduga tak bersalah, tetapi kuakui aku curiga pada Tuan Besar Choi”

“Bukankah dia klienmu?” tanya Junsu.

“Klien? Klien adalah orang yang mempercayai pengacaranya entah bagaimanapun itu. Bagiku klien adalah orang yang mengatakan dirinya bersalah jika bersalah dan tidak jika dia tidak bersalah. Aku bisa meringankan hukumannya dengan memperjuangkannya, tetapi ketika dia sudah menutupi sesuatu yang harusnya aku ketahui, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Berapa banyak kebohongan yang dia rakit, aku tak ingin menjadi boneka dari klien. Dan lagi….”
Yunho menarik nafas panjang.

“Melihat rival pengacaramu dimakamkan bukanlah hal yang mudah. Aku tak punya kata yang baik untuk menyampaikannya. Namun, satu yang pasti aku akan kehilangan seorang rival yang aku prediksi mampu menjatuhkanku untuk pertama kalinya. Seseorang yang mampu membuatku merasakan ketegangan dan harus berpikir sangat keras di persidangan. Aku akan merindukan sensasinya dan aku akan merindukan tatapan dinginnya saat menghadapiku. Shim Changmin…. Prince of Court Yard”

———————————————————————————————–

I will leave for you so I will get to hate you
Now I won’t cling onto you anymore
I’m gonna be better – it’s better if I’m not here
Especially today, you have so many secrets

“Maaf bisa keluar sebentar. Kami perlu memeriksa keadaan pasien”

“Dokter aku ingin berada disini. Aku perlu tahu keadaan adikku” Kyuhyun bersikeras.

“Eunhyuk…. Maaf Dokter Lee. Bolehkah saya juga tinggal disini. Saya harus memastikan kalau dia baik-baik saja agar semua merasa lebih tenang. Kyuhyun, Hara, Jiyeon aku janji akan memberikan informasi kepada kalian. Kami tak akan bohong dan pegang janjiku Kyuhyun. Aku tak akan mengatakan hal yang hanya membuatmu tenang saja” ujar Donghwa meyakinkan.

Kyuhyun akhirnya dengan berat hati mengikuti Hara yang memegang tangannya mengajak keluar dan Jiyeon memberikan tatapan sedih sejenak sebelum keluar menyusul Kyuhyun dan Hara.

Donghwa melihat Eunhyuk yang memeriksa Jieun.

“Hyung, kau meyukainya?” Donghwa terkejut mendengar pernyataan Eunhyuk.

“Aku bisa melihatnya dari matamu”

Donghwa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa.

“Hahaha…. Kau membuatku terkejut. Benar aku memang menyukainya. Dia gadis yang ceria dan manis, dia juga menyenangkan. Siapa yang tidak akan menyukainya?” tanya Donghwa balik.

“Hyung, aku serius” Donghwa menarik nafas panjang dan menatap Eunhyuk yang penasaran menunggu jawaban Donghwa.

“Changmin baru dimakamkan. Apa kau pikir itu pertanyaan wajar sekarang? Dan Jieun masih shock serta depresi. Aku rasa jikapun aku mencurahkan seluruh waktuku dan memandangnya, itu tak lebih karena empati. Kehilangan bukanlah hal yang mudah sebagai dokter kita tahu itu dengan baik. Meski kita terbiasa hidup dengan melihat begitu banyak adegan kesedihan, kemalangan, kehilangan, tetapi kita masih saja merasa bahwa dunia kita runtuh. Mungkin bagi kita dokter yang menangani pasien. Kehilangan pasien mungkin kurang dari 2%-3% dibanding banyaknya jumlah pasien lain yang pernah kita selamatkan selama karir kita, tetapi bagi keluarga dan orang-orang yang mencintainya itu berarti 100% kehilangan. Aku manusia dan aku bisa merasakan perasaan orang lain terutama kehilangan. Big hole inside your heart I ever experienced it. My father, my uncle, my dear patient, my first patient who was die in front of me. I ever knew how misserable it. I don’t know how much pain must endure when your lover left you, but I know really know how much pain that love could cause”

Eunhyuk mengangguk. You love her hyung… You love her

When I walked you back home, it was the house of another guy
I felt like you always walked a bit farther from me when there were a lot of people
Just like a big balloon shrinking down, we have cooled down
I can’t hide my frustrated heart
What went wrong?

——————————————————————————————–

It was a moment where time got slower
The beauty that I learned of, felt and believed in till now
You have changed it all

The front of my eyes became as dark as dawn
Like a single ray of light, she finally found me
My girl, my destiny

As I stomped on the ground, control my exploding breath
I ran (Tonight I’m so lonely, don’t wanna be alone without you)
To you

“Eunhyuk” panggil Jaejoong dan Donghae bersamaan. Eunhyuk langsung berlari dan memberikan big-tight-hug-crush-bone pada Jaejoong.

“Eun…Eun..hyuk… Kau membuatku …ti..dak…bi…bi..sa …ber…nafas” Donghae langsung memisahkan Jaejoong dari Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum tak bersalah dan Jaejoong berusaha mengatur nafasnya yang terpotong akibat pelukan maut Eunhyuk. Donghae memukul kepala Eunhyuk.

“Hei, what was that for?” kata Eunhyuk dan justru menerima pukulan lain dari Donghae. Jaejoong tertawa dan menghentikan aksi Donghae.

“Kau tak bisa membalasku jadi kau melampiaskannya pada Eunhyuk?” seringai Jaejoong. Donghae mengangkat dua jempolnya.

Eunhyuk bingung, tetapi tidak mempermasalahkannya.

“Tuan Kim” beberapa pria berjas mendekati Jaejoong. Jaejoong tersenyum pada mereka. Donghae dan Eunhyuk hanya bertukar pandang. Pria-pria berjas itu membawa banyak plastik berisi makanan dan berbagai macam snack yang kemudian Jaejoong bagikan ke dokter-dokter, suster dan para staff rumah sakit. Jaejoong juga memberikan coklat dan balon pada anak-anak yang dirawat di bangsal anak.

Eunhyuk melongo sedangkan Donghae sedang menerima apa yang terjadi di depannya.

“Hyung, berapa banyak yang kau habiskan untuk itu semua dan siapa pria-pria berjas tadi”

“Tidak banyak dan mereka mungkin orang-orang yang dipekerjakan oleh restoran dan pusat oleh-oleh yang aku pesan” jawab Jaejoong.

Donghae dan Eunhyuk mengangguk.

“Donghae, kau masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan dengan Eunhyuk” kata Jaejoong.

“Bagaimana keadaan Lee Jieun”

“Depresi” Eunhyuk menjawab singkat. Jaejoong mengangguk dan ingin masuk ke dalam ruangan.

“Hyung, ada yang ingin aku sampaikan soal Donghwa hyung” Jaejoong memutar tubuhnya dan kembali menghadap Eunhyuk.

“Ada apa?”

“Ini rahasia bisa kita bicara di tempat lain?” ajak Eunhyuk.

Jaejoong mendekati Eunhyuk dan berbisik.

“Jika ini menyangkut Lee Jieun. Aku sudah tahu dari dulu” Jaejoong tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi Eunhyuk.

“Maybe it’s not good time, but when Jieun find someone else it will ease her pain. I have experienced it”

“Tunggu. Kau menemukan wanita lain?” Jaejoong hanya memberi wink dan masuk ke ruang rawat Jieun.

“Jiyeon” panggil Donghae. Jiyeon, Donghwa dan Hara duduk di kursi tunggu di ruang Jieun. Sedangkan, Kyuhyun duduk di samping ranjang Jieun memegang tangan adiknya dan ekspresinya yang benar-benar lelah dan sedih.

Donghae membawakan makanan untuk mereka.

“Bagaimana keadaan Jieun?” tanya Jaejoong. Donghwa menarik nafas dalam.

“Dia sudah diberi obat penenang dan obat tidur. Dia dalam keadaan shock berat”
Jaejoong mengangguk mengerti. Donghae memberi tatapan aneh pada Jaejoong, tetapi Jaejoong menatap Donghae dengan sedikit tatapan intimidasi dan membuat Donghae mengalihkan pandangannya pada Jiyeon.

“Jiyeon, Donghae kalian pulanglah setelah makan. Hara bawa Kyuhyun pulang. Biar aku yang menunggu Jieun bersama Donghwa”

“Tapi….” Sebelum meneruskan perkataannya Jaejoong memotong Hara.

“Kyuhyun membutuhkan istirahat. Kau boleh khawatir pada Jieun, tapi aku rasa Kyuhyun…”

Mereka mengikuti arah pandangan Jaejoong. Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan mereka dan seolah tidak mempedulikan segala pembicaraan, terlarut dalam dunianya sendiri.
Hara mengangguk. Hara segera menyelesaikan makannya dan mendekati Kyuhyun.

“Oppa” panggil Hara sambil menepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan memberikan senyum kecil yang lebih terlihat sebagai senyum getir pada Hara.

“Kita pulang” tanya Hara. Kyuhyun menggeleng. Jaejoong mendekati mereka berdua.

“Kyuhyun pulanglah bersama Hara. Kalian berdua sama-sama lelah. Biar aku yang menjaga adikmu. Pulanglah sekarang” Kyuhyun masih ingin tinggal disitu, tetapi melihat Jiyeon, Donghae, Hara, Donghwa, dan Jaejoong yang seolah memohon padanya dia akhirnya mengangguk.

“I’ll be back soon, my sister” Kyuhyun mencium kening Jieun dan meninggalkan ruang rawat Jieun.
Setelah mereka semua pergi. Jaejoong duduk di sebelah Donghwa.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghwa.

“Aku yang harusnya bertanya demikian. Bagaimana kabarmu Lee Donghwa?”

“I’m fine” Donghwa tersenyum kecil.

“Bagaimana hatimu?” tanya Jaejoong. Donghwa menoleh pada Jaejoong bingung.

“Lee Donghwa kau lupa aku adalah sahabatmu. Aku mengenalmu dengan cukup baik meski hanya sebagai teman kuliah. Aku mengenal adik dan keluargamu. Aku….”

“Tskk… Kim Jaejoong, kau tetap saja menyebalkan” kata Donghwa.

“Kau juga sangat menyebalkan kau orang kesekian yang memotong perkataanku hari ini” tawa Jaejoong.

“You know me better than anyone else” Donghwa melemparkan pandangannya pada Jieun.

“You love her”

“It’s useless to lie to you. First, I laid my eyes on her I felt something different I want to touch her, want to kiss her. I want her so desperately. I know it is sin to have this feeling. She belongs to someone else. I tried my best to keep this feeling , I could say I’m not good friend at all. I love her Jaejoong and it’s hard for me to see her in this stage. Why… Why it’s not me who killed so she can smile and has beautiful life with Changmin”

Donghwa menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Jaejoong menepuk-nepuk bahu Donghwa dan berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Believe or not. I felt my sky was falling down when I lost Yuri and Haejoong, but from now on from that day I met Suzy my world becomes the bright one. God gives me angels not to replace Yuri and Haejoong. God gives me son and wife to protect better than before. God makes me strong and I know I became stronger to convince everyone in my life that life goes on and is getting better even you got bit sadness, you will get slice of happiness. God has his scenario if I could compare life and film, life would be the best perfect film. You could change the scenario because the director gives you power to do it. We’re not doll actors and actresses, we’re actors and actresses who given choice by God. To live and willing that led survive to reach our aim of happiness or to give up and feel sorrow inside your heart”

Donghwa memandang Jaejoong.

“I have new family. I’ll tell you later, but I tell you I will do everything to pursue my perfect dream of life. Not just imagination or fiction, make it real in real life as fate. Suzy is my wife and Kris is my son. They’re my dream of perfectness that could be I imagine. Lost something precious gave me power to hold the worst scenario on my shoulder, no doubt I could do this because when I do something it will never happen. Just pursue your perfect life”

Donghwa berdiri dari duduknya dan menuju ke sisi ranjang Jieun. Jaejoong tersenyum dan berdiri meninggalkan ruang rawat Jieun.

“Kau sudah disini sejak tadi dan menguping kan?” kata Jaejoong pada Donghae.

“Kau sejak lama sudah menyadari perasaan Donghwa hyung pada Jiyeon? Sejak kapan?” tanya Donghae.
“It’s not such a big deal, Donghae. Did you confess to your wife that you love her a lot?” Mata Donghae membesar.

“I….I….” Jaejoong melihat Jiyeon datang menghampiri mereka dari belakang dan membawa 2 cangkir kopi.

“Kau belum pulang?” tanya Jaejoong.

“Donghae oppa bilang ingin sejenak disini untuk menunggu Jaejoong oppa. Dia memintaku membeli kopi untuk kalian” Jiyeon menyorongkan cangkir berisi kopi pada Jaejoong dan pada Donghae.
“Ohya, ada yang ingin dikatakan Donghae. Dengarkan baik-baik yah. Terima kasih kopinya” kata Jaejoong sambil meneguk kopinya dan berjalan meninggalkan mereka.

Donghae bingung harus bilang apa. Dia menarik nafas dalam dan menatap mata Jiyeon.

“Jiyeonie, Saranghaeyo” Donghae menarik Jiyeon dalam pelukannya. Jiyeon memeluk Donghae erat dan membiarkan air matanya tumpah.

“Nado Saranghaeyo… Nado.. Nado.. saranghaeyo Lee Donghae” ujar Jiyeon.

Dari kejauhan Jaejoong tersenyum melihat mereka berdua.

“Yeoboseyo”

“Suzy-ya. Listen carefully. I love you” It’s my confession.

Lee Jieun, I’ll be your guardian. I’ll never let you sink in sorrow. I’ll make you mine and give the heaven to you. My heaven won’t be heaven if it’s not you here.

I stole those lips, I had to
I want you, without an explanation or excuse, I stole your lips
It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying
I had to make a memory that the both of us can never forget

———————————————————————————————–

DIBUTUHKAN AUTHOR BARU UNTUK SFF. PERSYARATAN BERSEDIA UPDATE STORY DAN MINIMAL SETIAP MINGGU BERSEDIA MENULIS CERITA BARU. SILAHKAN TINGGALKAN EMAIL DI BAWAH. BAGI YANG BERMINAT MENJADI AUTHOR SILAHKAN TULISKAN JUGA KEINGINAN KAMU MENJADI AUTHOR, BAGI READERS YANG TIDAK BERMINAT MENJADI AUTHOR MAKA AKAN DIKIRIM PESAN BERUPA PASSWORD UNTUK LOA PART XXV.

KAMSAHAMNIDA

Lily191

Protected: Letter of Angel XXIII “Dawn”

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Letter of Angel XVII (Desperation)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV, Part XVI

Bakground Song : Iridescent_Linkin Park, If I let You Go_Westlife, Raining_FT Island

It’s so cold here. My heart is desperate, who’ll fill the empty space? I thought love would never end. I’d been searching my other help and found you. Now, I lose you… Is it ending of my story? Love is going to be tragedy…… I’ll never let you go, but how can I force God to bring you back stand by me…. Will you be happier after leave me alone? Don’t look behind, I’m still live. Bears my self and tell all that I’m fine. I wish I could die with you.

Setting : SNU Hospital, Santa Maria Hospital

“Eumma, kita ke rumah sakit bareng appa yah?”

“Nde. Kita jemput appa di universitas dulu. Kau bisa jajan dulu di kantin sebelum ke rumah sakit. Ottoke?”
“Asyik. Ehm eumma masih lama yah? Kenapa macet sekali?”

“Sebentar lagi juga lampunya pasti hijau kok”

Jam makan siang di Seoul memang sangat padat. Bukan hal yang aneh jika kami selalu terjebak macet.

“Eumma mobil di depan sudah jalan” Aku menjalankan mobilku, tapi tiba-tiba mobil di depanku ditabrak mobil dari kiri jalan yang membanting setir ke kanan menabrak pembatas masih kaget aku berusaha menghindarinya
sayangnya…..

Donghae POV

“Panggilan untuk dokter Hwan Hyosoo. Dimohon segera ke resepsionis” terdengar panggilan dari pengeras suara.

Hwan Hyosoo…. Tidak ada Hwan Hyosoo di rumah sakit ini. Jangan-jangan….

“Jiyeon, aku harus pergi” kataku meninggalkan Jiyeon dan Mavin. Segera aku menyambar jas dan berlari ke pintu belakang masuk rumah sakit. Panggilan seperti ini menandakan adanya kecelakaan atau musibah besar, peristiwa semacam ini bisa membuat panic para penghuni rumah sakit karena itu panggilan atas nama dokter yang tidak ada digunakan.

“Dokter Donghae kami telah menyiapkan ruang operasi apa anda siap? Kekurangan dokter maaf membuat anda terpaksa terlibat padahal sedang libur” tanya seorang rekan dari ER.

Aku mengangguk. Suster memanduku menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Semua staf bekerja keras, sekarang jam makan siang dokter banyak yang keluar. Saat berlari menuju ruang operasi dokter-dokter lain yang baru datang berlari ke bagian belakang rumah sakit. Aku lihat Jaejoong dan Hyukjae-hyung juga.

Segera aku mempersiapkan diri membersihkan tangan kaki untuk keperluan operasi. Suster membantuku menggunakan perlengkapan operasi. Masuk ruang operasi aku diberitahu siapa saja personel yang akan membantuku.

Suster Jessica bertugas menyerahkan alat operasi, asisten operasi, dokter anastesi dan semua yang berada disini campuran bagian ER, internist, bedah jantung. Komposisi dadakan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Aku sendiri bertugas sebagai dokter operasi.

“Bagaimana keadaan pasien?”

“Tingkat kesadaran………”

Aku tak mendengarkan penjelasan suster setelah melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Dokter Donghae anda tidak apa-apa?” tanya asisten operasi. Dia sudah tahu bahwa sekarang yang akan kami operasi bukan hanya pasien melainkan Yuri-noona.

Changmin POV

“Changmin-shi bisa kau lihat kenapa Donghae keluar terburu-buru?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih bermain dengan Jiyeon.

Saat aku ingin bertanya pada seorang suster yang sedang terburu-buru, siaran tv menyita perhatianku.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lebih dari 10 mobil dan truk. Kecelakaan ini ikut mengulang kecelakaan besar yang terjadi 6 bulan lalu di jalan yang sama. 3 orang meninggal di tempat dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit”

Jalan itu…….. berarti kemungkinan rumah sakit yang dituju Santa Maria Hospital, Seoul National University Hospital, Seoul Hospital…..

Segera aku mengganti chanel di tv rumah sakit mencari berita ini.

Pemirsa kecelakaan di jalan rawat macet di Seoul disebabkan sebuah truk yang kehilangan keseimbangan dan ambruk ke badan jalan. Pengemudi mobil yang lain berusaha menghindari truk, namun karena arus lalu lintas yang padat dan kecepatan tinggi, mobil di belakangnya tidak mampu menghindar dan terjadi kecelakaan beruntun.

“Saat itu truk menggunakan sisi kanan jalan dan tiba-tiba saja oleng ke kiri badan jalan. Mobil di belakangnya membanting setir ke kanan untuk menghindari truk. Sayangnya mobil lain yang berada di kanan jalan tak mampu menghindar dan justru menabrak mobil itu sehingga terjadi kecelakaan beruntun”
Menurut keterangan terakhir kepolisian 3 orang meninggal di tempat dan sisanya dilarikan ke rumah sakit. Kecelakaan ini menyebabkan terjadinya penutupan jalan lebih dari 5 jam dan mengalihkan jalur pengendara ke jalan lain. Sekian breaking news

Tragis sekali…. Kenapa perasaanku tidak enak? Tunggu wanita dan anak yang bersimbah darah itu?

“Suster dimana dokter-dokter?” tanyaku pada suster yang kelihatan sibuk sekali.

“Makan siang” jawab suster itu kaget dan berusaha setenang mungkin.

“Suster saya seorang pengacara, saya tahu benar bagaimana orang yang berbohong. Katakan sekarang” aku mengurangi volume suara agar tak ada yang mendengar.

“Maaf, saya sibuk” kata suster berusaha menghindar.

“Kecelakaan di jalan padat yang mengarah ke SNU university, para korban dilarikan kesini dan membuat para dokter dan suster langsung sibuk kan?”

Suster tertegun dan berbalik.

“Mianhae, itu….”

“Sekarang saya akan ikut anda. Saya memaksa”

Kami tergesa menuju bagian belakang rumah sakit. Disana aku melihat korban kecelakaan, Jaejoong-uisha berada di sisi lain sedang menutup mukanya dan bersandar ke dinding. Bahunya berguncag hebat, Eunhyuk berusaha menenangkannya. Dokter lain sambil menangani pasien melihat Jaejoong dengan tatapan sendu.

Jangan-jangan benar Yuri dan Haejoong terlibat dalam kecelakaan ini?

“Hyung” panggilku, Eunhyuk langsung menatapku.

“Hyukjae uisha, kami membutuhkan tenaga tambahan. Seorang wanita mengalami patah tulang pinggul dan tulang belakangnya dikhawatirkan cedera, operasi harus dilakukan secepatnya” Eunhyuk jelas merasa keberatan meninggalkan Jaejoong.

“Pergilah. Ada pasien yang harus diselamatkan” Jaejoong menatap Eunhyuk sambil menyunggingkan senyum terpaksa.

“Changmin-shi, jaga Jaejoong-hyung” kata Eunhyuk berbisik padaku.

Eunhyuk meninggalkan kami beruda, pandanganku beralih pada Jaejoong.

“Lebih baik kita……” Perkataanku terpotong.

Jaejoong entah menuju kemana. Aku mengikutinya dan ternyata ke parkiran, dia hendak masuk mobil.

“Biar aku yang menyetir, katakan saja uisha mau kemana” Jaejoong mengangguk dan duduk di kursi penumpang.

“Changmin-shi antarkan aku ke Santa Maria Hospital” pintanya.

Jaejoong POV

“Seberapa parah keadaan anak itu?”

“Aku tak tahu yang jelas di dalam kamar 5.01 ruang operasi bedah anak sekarang berkumpul dokter terbaik rumah sakit kita dan seorang dokter Seoul Hospital”

“Siapa?”

“Godhand Bae Yong Joon. Aku dengar karena tulang rusuk anak itu patah dan mengenai jantungnya, beliau yang kebetulan juga lewat situ tidak bisa menggunakan CPR sehingga memilih memberi bantuan pernafasan dengan melewatkan tenggorokan. Mengerti maksudku kan?”

“Menggunakan scalpel dan memotong bagian tenggorokan?”

Lawan bicaranya mengangguk, aku bergetar mendengarnya.

Ya, Tuhan… Kenapa seperti ini?

Mereka berdua kaget saat melihat aku dan Changmin serta buru-buru pergi.

“Tunggu dimana ruang bedah 5.01, aku dokter SNU Hospital yang dipanggil kesini untuk membantu operasi” ujarku berbohong dan berusaha sekuat tenaga menahan airmata yang hampir jatuh.

Donghwan POV

“Dokter Donghwan mari ikut saya” ajak suster.

“Seorang anak berusia 5 tahun. E+M+V 5, E dan V 2, sedangkan M 1. Tingkat GCS berada pada tingkat stupor. Patah 2 tulang rusuk dan mengenai bagian jantungnya. Sempat kehilangan kesadaran dan denyut jantung menghilang. Pertolongan pertama setelah kecelakaan adalah pembukaan jalur pernafasan melewati leher karena CPR tidak memungkinkan dilakukan oleh dokter yang kebetulan berada di lokasi kejadian” jelas suster sepanjang perjalanan.

Aku mengangguk dan mempercepat langkahku. Anak itu sudah dilarikan ke ruang bedah anak.

“Donghwan!” Saat aku akan memasuki ruang operasi Jungsoo-hyung memanggilku dengan berteriak.

“Kau siap? Yang kau operasi adalah Haejoong” kata Jungsoo setenang mungkin.

Deg…..

Ingin rasanya aku merosot ke lantai saat itu juga.

“Biarkan aku yang mengoperasinya” tawar seorang pria yang aku ketahui dokter Bae Yong Joon dari Seoul Hospital.

Kami bertiga sepakat saat itu juga, dokter Yong Joon yang akan menjadi dokter kepala operasi, Jungsoo dokter penanggung jawab operasi dan aku sebagai asisten dokter operasi. Jungsoo hyung tak memungkinkan untuk menjadi dokter operasi karena drop pasca bekerja tanpa henti menggantikan pekerjaan Donghae di Santa Maria Hospital, lini bedah jantung tempat Donghae bernaung sangat sibuk setelah Donghae cuti seminggu lalu. Aku sendiri keadaan psikologisku tak memungkinkan menjadi dokter operasi terhadap Haejoong. Dokter Yong Joon akhirnya berinisiatif mengambil tugas dokter operasi setelah mendengar penggambaran sekilas Jungsoo-hyung mengenai kami dan Haejoong.

“Sekarang saatnya operasi. Kalian siap bukan? Aku harap kalian menanggalkan kehidupan pribadi dan perasaan kalian, disini gunakanlah perasaan dan kemampuan kalian sebagai dokter bukan individu” Langkahku berat memasuki ruang operasi dengan jelas yang berada di depan kami Haejoong. Di meja operasi ini, di tangan kami.

Haejoong sudah dibius. Denyut jantungnya lemah dan kami sekarang mematikan kerja jantung untuk sementara.
“Pisau bedah” suster mengangsurkan pisau bedah ke dokter Yong Joon.

Dokter Yong Joon melakukan pembelahan dada dan aku menunjang operasi dengan mengimbangi kecepatannya. Aku bisa mendengar suster penyedia peralatan operasi berdecak, ya patahan tulang rusuk Haejoong menancap di jantungnya.

“Kita harus hati-hati supaya luka di jantungnya tidak semakin melebar” Aku mengangguk dan berfokus pada pisau bedah.

Kami berhasil mengambil patahan tulang yang menusuk jantung Haejoong.

“Benang jahit, jarum. Lakukan penjahitan dari dalam” Penjahitan luka dalam? Aku sejenak berhenti dan memandang dokter Yong Joon.

Kau bisa Donghwan… Lakukan… Profesional demi keselamatan pasien…

“Jika kau tak mampu akan aku lakukan sendiri” Aku tersadar dan melakukan penjahitan dengan menyesuaikan diri dengan kecepatan tangan dokter Yong Joon. Alat henti kerja jantung dimatikan.

Detak jantungnya semula tak ada, tapi kemudian ajaibnya pada EKG terdapat garis peningkatan kerja jantung meski lemah.

“Jahit rongga dadanya sekarang”

Operasinya berhasil 6 jam. Operasinya berhasil… Kami berhasil.

Jaejoong POV

Setelah lama menunggu akhirnya lampu ruang operasi dimatikan. Aku langsung mendatangi dokter yang ternyata Donghwan dan Jungsoo serta aku tak kenal siapa.

“Hyung… Haejoong” Donghwan menangis dan memelukku.

“Dia selamat” kata dokter Jungsoo.

“Berdoalah supaya dia melalui masa kritis. Kau ayahnya? Akan aku jelaskan semua mengenai operasi dan kemungkinan-kemungkinan selanjutnya”

Aku mengangguk dan mengikutinya.

Changmin POV

“Donghwan. Yuri gagal diselamatkan” Setelah Jaejoong-hyung pergi bersama seorang dokter. Dokter lain yang bersama Donghwan-hyung memberikan kabar yang membuat kami tak bisa berkata-kata

Donghae POV

Tiiiitttttttttttttttttttt…………..

“Kejut jantung”

“Dokter sudahlah… Dokter… Dokter” Jessica berbicara sambil menangis.

Ya, Tuhan… Noona… Ya, Tuhan….

Eunhyuk POV

Setelah operasi aku mendengar bahwa operasi Donghae meski berhasil Yuri-noona tak bisa diselamatkan. Aku menghubungi Jungsoo-hyung dan memintanya memberitahu Donghwan. Aku juga mendengar operasi Haejoong berhasil, Jaejoong jika kau mendengar Yuri telah meninggal….

“Yoboseyo” jawabku lemah.

“Hyukjae-uisha ini aku Changmin. Keadaan Donghae bagaimana?” tanyanya.

Aku terdiam dan tidak menyahut.

“Hyukjae-uisha, yang telah pergi tak akan bisa kembali tapi Donghae-uisha aku yakin dia tergoncang sekarang. Akan aku hubungi semua orang termasuk Hara. Hyukjae-uisha, serahkan Jaejoong-uisha pada kami yang sekarang di Santa Maria Hospital. Tolong, kau tetap kuat ”

Kyuhyun POV

“Operasi Yuri-noona gagal” kata Hara padaku.

Ya… Tuhan…

“Hara kau bercanda kan?” Hara menggeleng.

Nishishima Group akan memberi bantuan dana pada Cho Corp. Eh bukan maksudnya investasi. Lau Corp. pasti juga membantumu, tenang saja ya ^^

Noona, tapi saya belum bisa memberi kepastian keuntungan

Jangan khawatir aku percaya padamu saeng… Boleh aku memanggilmu demikian? Kau tahu sendiri tak mungkin aku memanggil saeng pada Donghae, Eunhyuk, tapi kau jelas lebih muda dariku.

Kyuhyun-ah… Perusahaanmu sudah membaik? Kalau butuh bantuan lain hubungi aku.

Masih kelihatan aneh ya logatnya. Aku memang orang Jepang, baru beberapa tahun tinggal di Seoul karena menikah dengan orang Korea.

Salam untuk adikmu yah… Dia sangat manis, baiklah aku sampaikan salammu pada Jaejoong.

Hahaha…. Kyuhyun-ah, kau berniat melamar Hara? Gadis itu sepertinya baik. Hwaiting! Izin pada Donghae kalau tak mau dia mencincangmu hidup-hidup.

Saat itu aku sudah akan ambruk. Noona yang baru aku miliki, noona… Noona…

“Hara-ya” Aku langsung memeluk Hara yang menatapku.

“Dia noonaku. Dia noonaku”

Donghwan POV

Suster menelpon kami, grafik EKG menunjukkan penurunan. Saat kami tiba…

“Dokter Jungsoo… Nafasnya berhenti” teriak seorang suster.

“Donghwan”

“Lakukan semua yang kita bisa” kataku.

Kau harus bertahan…. Nak, kau harus bertahan.

“Alat kejut jantung…. Haejoong bertahanlah, kau harus bertahan”

Jaejoong berlari dari pintu ICU. Dia langsung histeris.

“Haejoong, kau harus hidup. Jangan tinggalkan appa. Haejoong!!!!”

Tiiiiittttt…………….

Do you feel cold and lost at the desperation
You build up all the failiures all you’ve known
Remember all, the sadness and frustration
And let it go, let it go

Jiyeon POV

Suster datang ke kamarku dengan wajah tertunduk. Dia hanya mengganti infuse yang aku gunakan, tidak hanya itu rumah sakit seolah berduka ketika aku melongok ke luar. Dokter-dokter dan suster berjalan dengan langkah gontai dan lesu.

Aku putuskan melepas jarum infuse dan berjalan di koridor sambil menggendong Mavin, di ujung koridor aku melihat Taemin memeluk Jessica. Entah kenapa dari tadi perasaanku tidak enak dan sekarang aku melihat Jessica berada di dalam pelukan Taemin. Aku mendekat ke arah mereka.

“Taemin… Kita kehilangan Yuri-eonni… Kami tak bisa mendapatkannya kembali…”

Kehilangan Yuri-eonni? Apa maksudnya? Aku terdiam di posisiku dan sepertinya Taemin melihat keberadaanku. Dia melepas pelukannya pada Jessica.

“Jiyeonie” gumam Taemin lemah.

Airmata mengalir di pelupuk mataku. Aku pingsan saat itu juga.

Eunhyuk POV

“Donghae…. Setiap dokter akan mengalami guncangan ketika kehilangan pasien, tapi kita tak bisa memungkiri bahwa itu semua di luar kuasa kita. Tuhan, pasti punya rencana tersendiri untuk kita semua. We are standing in the way of the unknown, We are standing under the blue sky which will change to be dark sky or even becomes brighter than light. Keep our spirit to trought out all problem we get. We can erase sadness and don’t have power to turn back the time. Let it go, Donghae. It’s not the end of your life, just slice of life which be part of whole story. Like a puzzle is a piece… Piece by piece… I’ll leave you alone till you feel better. Thinking of my words”

Aku berjalan meninggalkan Donghae, tepat ketika aku membuka pintu ruang kerjanya.

“Changmin tidak mungkin. Haejoong juga”

Aku menjatuhkan ponselku dan langsung merosot ke lantai.
Bagaimana mungkin….

Donghae POV

Aku mengambil ponsel Eunhyuk dan mendengar suara histeris di seberang sana.

“Haejoong… Jangan tinggalkan appa, Haejoong!!!!!”

“Apa kami juga kehilangan Haejoong?” tanyaku dengan suara bergetar.

“I’m sorry uisha. We’ve lost him…” jawaban Changmin meruntuhkan tembok pertahananku. Aku langsung terhuyung dan bersandar pada dinding.

Junsu POV

“Yoboseyo, Chaerin-ah? Apa!!”

Aku terburu meninggalkan ruanganku dan tak sengaja menubruk hakim Seunghun yang kebetulan lewat.

“Mianhae…” aku kembali berlari.

“Tunggu. Ada apa?” Seunghun menahan langkahku. Aku menjelaskan dengan tergesa.

“Aku ikut. Kau tak bisa mengemudi dengan pikiran kalut seperti sekarang”

But If I let you go I’ll never know
What my life would be
Holding you close to me
Will I ever see You’re smiling back at me
How will I know
If I let you go

Dari semua orang disini hanya aku yang tersisa. Kau tak boleh ikut ambruk juga Changmin… IU yang semula aku pikir bisa ikut menguatkanku ternyata langsung down mendengar kabar ini. Aku memandang langit Seoul yang sedang tak bersahabat dengan kami.

“Aku ingin menyewa rumah duka. Uangnya akan saya transfer. Atas nama Shim Changmin, untuk 2 jenazah”

Di rumah duka maupun pemakaman, Jaejoong-uisha terlihat berusaha setegar mungkin. Justru kami yang merasa lemah. IU, Kyuhyun, Hara dan aku kami bisa disebut orang luar bisa merasakan kedukaan yang amat sangat. Tak perlu waktu lama kau merasa dekat dengan seseorang, waktu itu akan terasa lama saat kau sadar dia sudah tidak ada. Aku harap mereka semua yang ada disini dapat melanjutkan hidup…. Jaejoong, bagaimana perasaanmu? Donghae, Donghwan kalian sudah berusaha semaksimal mungkin. Jiyeon, Jungmin, Mavin, Junsu, Chaerin, Jessica, Taemin…. Pertemuan pasti memiliki akhir. Yuri dan Haejoong tahukah kalian, aku menyesal tak sempat mengenal kalian dengan baik, tapi aku yakin kehidupan kalian tidak sia-sia. Di pemakaman kau justru bisa merasakan banyak cinta meski itu juga berarti kedukaan yang mendalam.

I’m waiting to be called for the next death
I lose everything
How can I live without them beside me?
No one feel the pain… No one know what I feel?

Like not getting wet in the unending rain
Shoulder pressed to the way home
From that place you disappeared
Even now, the rain keeps falling on me

———————————————————————————————————–
“Hah…hah..hah….”

“Hei, ahjushi are you okay?”

Aku memeluk gadis di depanku, aku kembali mengingat kepergian Yuri dan Haejoong.

“What’s wrong with you? Hei, ahjushi. You’re not impolite!!! Don’t hug me!!!…”

Aku justru menangis di bahunya. Dia yang semula berontak kemudian mengelus punggungku.

“Just this time. Cry out, I’ll be your shoulder to cry on. I’m here, everything is gonna be okay. I promise you”

Entah kenapa aku bisa merasa tenang bersama dengan gadis yang sama sekali tak aku kenal ini.

Keterangan :
Glasgow Coma Scale = GCS, yang pertama kali diperkenalkan oleh Teasdale & Jennet pada tahun 1974 dan banyak digunakan dalam klinik digunakan untuk mengetahui derajat kesadaran. Dengan 3 aspek :
1. kemampuan membuka mata : EYE opening = E
2. aktifitas motorik : MOTOR response = M
3. kemampuan bicara : VERBAL response = V

Disini kami memakai E =2, M = 1, V = 2 (Keadaan Haejoong)
E  dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2
M  tidak ada gerakan : 1
V  tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2

EKG : elektrokardiogram (alat untuk mengetahui kerja jantung) dengan menunjukkan grafik naik turun tergantung lemah kuat detak jantung.

CPR : Cardiopulmonary resuscitation secara umum dikenal dengan pernafasan buatan.

Keterangan mengenai bidang kedokteran diusahakan sebenar-benarnya, basicnya author sendiri teknologi hasil perikanan jadi jangan tanya kenapa gini gitu. Semua dipercayakan pada keterangan teman yang kuliah di kedokteran umum. Gomawo, atas semua informasinya chingu.

Yang mau tahu operasi pembelahan dada, alat henti kerja jantung, suasana operasi bisa lihat di MV Zang Li Yin featuring Kim Junsu JYJ judulnya Timeless bintang video clipnya Siwon ma Hangeng. he33

Note :
Semula tak ada rencana adanya chapter mengenai penjelasan kecelakaan, tapi karena pada bingung maka chapter ini dibuat. Sebelumnya di chapter XV hanya ada singkat cerita kepanikan SNU University Hospital dimana Donghae dan Jessica terlibat dalam operasi Yuri, sedangkan Haejoong ditangani Donghwan dan Jungsoo di Santa Maria Hospital.

Sekarang, author sibuk menyiapkan berkas seleksi program. Mohon doanya supaya lolos yah ^^

Tinggalkan jejak yah… Bete banget viewer di dashboard cukup lumayan, tapi commentnya dikit banget. Buat next chapter bakal di password so pastikan comment dan ehm tinggalkan email kalian biar aku kirim pw-x.

Am I cruel to Jae? The answer is in real life, he is getting many problems, faces injustice. Sometime he feels desperate, but he proves can standing like hero. So, I want to tell you in this world and our life sadness, frustration can’t stop you to trought way out and in the end you’ll find happiness. We wouldn’t been able to learning how beautiful and meaningful life is If We hadn’t gotten sadness.

Letter of Angel XVI (Holding Back the Tears)

Background Song : My Heart Will Go On_Celline Dion, How Do I live Without You

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV, Part XV

Duniaku sudah berakhir…. Aku sudah tak punya apa-apa lagi. Kalian adalah hal terpenting dalam hidupku. Saatnya aku melepas semua dan pergi, aku tak mapu lagi menjalani semua tanpa kalian.

Seunghun POV

“Kenapa kau mengizinkan mereka membawa Mavin?” teriak Tiffany. Siwon yang berusaha menenangkan Tiffany tak mampu menahan kemarahan istrinya yang berteriak-teriak di ruanganku.

Tok…tok…tok…

Aku tak mengindahkan tatapan marah Tiffany dan membuka pintu ruang kantorku.

“Sajangnim, karangan bunga sudah dikirim” kata sekretarisku.

“Gamsahamnida” jawabku. Aku memandang Siwon dan Tiffany bergantian.

“Jika kau punya hati biarkan untuk sementara Mavin bersama Jiyeon dan Donghae. Aku akan menghadiri pemakaman” kataku.

Tiffany dan Siwon terlonjak. Pandangan Tiffany melembut.

“Seunghun siapa yang meninggal?” tanyanya dengan suara lirih.

“Sahabat sekaligus keluarga mereka berdua”

Diluar dugaanku Tiffany meminta Siwon untuk ikut bersamaku.

“Biarkan kami berdua ikut” pinta Tiffany. Aku mengangguk.

Donghwan POV

Kami semua datang di pemakaman paling menyedihkan. Saat kehilangan appa seolah dunia kami runtuh, sekarang aku harus melihat seorang lelaki yang berusaha setegar mungkin menghadapi takdir Tuhan.

“Kami turut berduka cita” kata para pengiring.

Jiyeon memeluk Mavin sambil menangis, Donghae tak kalah shocknya saat memeluk mereka berdua. Dia merasa bersalah tak mampu menyelamatkannya.

Aku dan dokter Jungsoo, kami seolah gagal. Hari terberat bagi kami adalah saat kami tak mampu menyelamatkan pasien, sekarang kami mengalaminya tak hanya tak mampu menyelamatkan pasien. Kami mengenal pasien, kami dekat dengan pasien dan kami berdiri menghadiri pemakamannya.

Jungmin POV

Noona, kita baru berinteraksi beberapa bulan. Melewati hal-hal yang menyedihkan dan menyenangkan. Haejoong, kau tahu tingkahmu yang lucu akan sangat ahjushi rindukan. Noona, Haejoong terima kasih dalam perkenalan yang begitu pendek denganku dan Jiyeon, kalian membawa adikku pada cinta sejatinya. Gamsahamnida…..

Changmin POV

Aku memeluk IU yang menaruh buket di atas dua makam di depan kami. Kyuhyun dan Hara berdoa di depan makam.

“Kau tahu dia adalah wanita yang baik, walau baru mengenalnya aku tahu dia wanita yang sangat baik” kata Kyuhyun pada Hara. Hara merangkul Kyuhyun.

“Oppa” IU berbisik dalam pelukanku.

Aku meliriknya sejenak.

“Ketika aku kehilangan eumma dan appa Cho rasanya semua duniaku berakhir. Aku nyaris berpikir bunuh diri andai saja aku tak punya Kyuhyun oppa. Meski, kakak tiriku dia tak pernah mempermasalahkan itu dan menjaga hati serta hidupku. Lalu….” IU tak bisa meneruskan kalimatnya dan membenamkan wajahnya di dadaku. Dia pasti merasakan sulitnya kehilangan.

Jiyeon POV

Eonni… Aku baru mengenal eonni, kenapa eonni begitu cepat pergi. Eonni lah yang meyakinkanku untuk berjuang demi cintaku. Eonn, siapa yang akan menguatkanku sekarang? Haejoong…. Ahjumma ingin memelukmu lagi. Ahjumma ingin mendengar tawa dan teriakanmu.

Donghae POV

Kenapa kau mengambil mereka berdua Tuhan? Kenapa Tuhan? Noona, Haejoong…. Andai saja aku mampu menyelamatkan noona. Andai saja dengan tanganku ini aku mampu menyelamatkan noona.

Jessica POV

Eonni, Haejoong, aku harap kalian tenang di alam sana. Kami akan menjaga Jaejoong-uisha. Meski aku mengenal kalian sebatas suster dengan keluarga dokter, tapi aku menyayangi kalian.

“Sicca….” Taemin meraih tanganku dan mengajakku menghadap Jaejoong-uisha.

Chaerin POV

“Nak… Kau tahu sekarang kita di depan makam ahjumma dan juga kakakmu. Eumma tidak menyangka kalau mereka pergi secepat ini. Nak….”

“Chaerin-ah” kata Junsu. Aku berdiri dan memeluk Junsu, tak pernah aku bayangkan bayiku tak sempat melihat dan bertemu ahjumma serta kakaknya.

Tiffany POV

Pemakaman sangat ramai. Karangan bunga sepanjang jalan masuk, pemakaman ini penuh dengan orang.
Saat kami menerobos kerumunan orang, aku terkesiap melihat orang-orang yang berada disitu. Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Donghae. Mavin dan Jiyeon. Jiyeon memeluk Mavin sambil menangis dalam pelukan Donghae. Semua orang kelihatan sangat sedih dan berduka. Aku melihat seorang lelaki tampan yang dikelilingi beberapa pria yang menyentuh bahunya.

Hara POV

Aku melihat Siwon, Seunghun dan seorang wanita yang aku yakini istri Siwon. Apa mereka mau mengambil Mavin di saat seperti ini. Siiiaalllll…..
Aku melepaskan rangkulan Kyuhyun dan berjalan menuju mereka. Changmin yang menyadari hal ini melepaskan pelukannya pada IU dan meminta Kyuhyun menopang IU. Aku melirik Changmin sekilas dan dia mengangguk tanda mengerti. Jaksa wilayah Kim Junsu juga bergabung bersama kami. Sekarang kami bertiga menemui Seunghun dan Siwon.

“Ada urusan apa kalian kemari?” tanyaku berusaha tenang.

“Kami hanya ingin mengucapkan belasungkawa dan memberi penghormatan terakhir” kata Seunghun.

Aku menatap Siwon dan wanita itu intens. Mereka sepertinya cukup mengerti.

“Kedatangan kami bukan untuk mengambil putra kami. Changmin-shi soal semua yang terjadi, saya minta maaf” ujar wanita itu.

“Aku dan Tiffany benar-benar minta maaf” Siwon ikut membungkuk bersama wanita yang ternyata bernama Tiffany itu.

Kami tersenyum dan bersama kembali ke tempat pemakaman.

Jiyeon POV

Aku terkesiap melihat Tiffany dan Siwon yang baru datang ke pemakaman bersama hakim Seunghun dan disambut Hara, Junsu dan Changmin.

Tiffany mendekat ke arahku dan Donghae. Aku memeluk Mavin lebih erat.

“Kau boleh membawa Mavin sampai keputusan dijatuhkan. Kau sekarang lebih membutuhkannya, tapi bolehkah aku memeluknya disini” kata Tiffany. Aku mengangguk, Donghae melepaskan pelukannya padaku. Tiffany malah merengkuhku.

“Kau harus kuat” ucapnya dan melepas pelukannya. Dia mengelus dan mencium kening Mavin. Siwon tak ku sangka dia merangkul Donghae.

Jaejoong POV

Semua orang berangsur meninggalkan makam. Jungmin, Donghwan, Eunhyuk, Junsu, Chaerin, Jiyeon, Donghae bersikeras menemaniku, tapi aku tak bersedia. Kyuhyun, Hara, IU, Changmin, Jessica, Taemin juga tetap tak beranjak. Akhirnya dengan amat sangat aku memohon agar meninggalkanku sendiri. Dengan berat hati mereka meninggalkanku.

“Yuri, Haejoong kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa Haejoong meninggalkan appa? Yuri bukankah kau berjanji akan menamaniku seumur hidup. Kau bilang tak akan pernah meninggalkanku. Kenapa sekarang kalian meninggalkanku sendiri?”

Aku menangis sendirian disini. Menumpahkan semua kesedihan yang aku rasa.

“Aarrrrggghhhhhhh”

Sepertinya Tuhan mendengar tangisanku. Alam menangis bersamaku, hujan menemaniku. Dinginnya hujan sama dinginnya dengan hatiku.

“Tuhan…. Lebih baik kau mengambil nyawaku. Kenapa kau begitu kejam padaku? Tuhan !!!!!!!!!!…..”

Aku berteriak sekuat tenagaku. Tuhan… Buat apa aku masih hidup? Lebih baik mati bersama Yuri dan Haejoong.
Aku merogoh pisau lipat yang aku siapkan saat akan menuju pemakaman. Meski ini dosa besar dan mendahului kehendak Tuhan, aku tak peduli. Aku hanya ingin mengakhiri kesedihan ini.

Aku membuka lipatan pisau dan mengarahkannya pada pembuluh di leherku.Menutup mataku dan….

“Jangan bertindak bodoh” Tanganku tertahan, kubuka mataku, melebarkan pupil dan melihat seseorang yang berdiri di hadapanku.

Aku merasakan ada yang memayungiku saat aku menengadah dia tersenyum.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua” katanya sambil menyerahkan payung pada pria di depanku. Dia berlari menembus hujan dan meninggalkan kami berdua.

Siwon POV

“Jangan bertindak bodoh” aku menghentikan tindakan pria di depanku. Tiffany dan aku sedari tadi belum meninggalkan pemakaman. Entah mengapa ada perasaan yang mengatakan aku harus tetap disini.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua” kata Tiffany dan memberikan payungnya padaku. Fany pulang bersama pengawal yang aku suruh untuk menjemputnya.

“Mereka pasti akan sangat kecewa jika kau mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini”

Aku beralih menghadap dua makam di depan kami.

“Kim Yuri, Kim Haejoong sekarang aku bersama dengan orang yang berarti dalam hidup kalian. Yuri kau pasti sangat bahagia hidup bersama pria yang mencintaimu sepenuh jiwa raganya, Haejoong kau pasti sangat senang memiliki ayah yang selalu menjaga dan menyayangimu. Kalian tahu baginya kalian adalah segala-galanya. Aku bangga bisa mengenal pria sepertinya, kalian masih akan selalu hidup dalam hatinya”

Aku beralih pada Jaejoong yang menangis sambil menunduk.

“Kita nikmati hujannya sampai selesai. Setelah itu ada yang ingin aku tunjukkan padamu” aku melepaskan payung yang kami gunakan dan membiarkan hujan menerpa kami berdua.

Tiffany POV

“Nyonya, anda basah sebaiknya kita pulang dulu” kata pengawal.

“Tidak antarkan saja aku ke tempat yang aku minta” kataku pada pengawal.

Ting…Tong… Ting… Tong….

Seorang pembantu membukakan pintu untukku.

“Tuan Cho Kyuhyun ada?” tanyaku.

“Ada beliau dengan para tamu sedang di dalam” kata pembantu itu. Aku memintanya memanggilkan Kyuhyun.
“Tolong langsung sampaikan padanya Choi Tiffany mencarinya” pintaku.

Tak lama Kyuhyun keluar dan terlihat kaget melihat aku basah kuyup.

“Kyuhyun-shi, saya…”

“Masuklah dulu keringkan tubuhmu baru bicara” katanya padaku. Aku menurut.

Di dalam ternyata semua berkumpul. Aku semula hendak memberitahu Changmin atas kejadian tadi, tapi pembantu di rumahnya mengatakan kalau dia sedang melayat jadi yang terpikir di otakku hanya Kyuhyun. Dan di rumah Kyuhyun aku melihat semua orang berkumpul.

Adik Kyuhyun dan seorang perempuan membantuku mengeringkan badan.

“Pakai ini eonni” kata adik Kyuhyun padaku. Aku mengangguk dan mengganti pakaianku di kamar mandi di kamar adik Kyuhyun. Setelah selesai aku duduk di ranjang.

“Ini teh untuk menghangatkan badanmu. Go Hara imnida”

“Choi Tiffany imnida” balasku.

“Lee Jieun imnida” adik Kyuhyun memperkenalkan dirinya padaku.

Aku meminum sedikit teh yang Hara berikan.

“Mian bisakah panggilkan Kyuhyun atau Changmin ada hal penting yang harus aku katakan” Jieun mengangguk dan pergi meninggalkan kami berdua.

IU POV

Tanpa pikir panjang aku menarik Changmin dan Kyuhyun oppa meninggalkan semuanya di ruang tamu. Aku mengajak mereka ke kamarku, Hara eonni mengajakku keluar setelah Changmin dan Kyuhyun masuk.

“Ada apa eonni?” Hara tidak menjawab.

Changmin POV

“Ada yang ingin kau bicarakan? Tadi pembantuku menelpon kalau kau mencariku?” kataku dingin.
Tiffany menghela nafas panjang.

“Aku tahu kita tak memiliki hubungan yang baik” Dia menggoyang-goyangkan cangkir tehnya.
Aku sudah tak sabar mendengar apa yang ingin dia katakan.

“Tiffany-shi sepertinya ada masalah penting. Apa yang ingin anda sampaikan?” Kyuhyun buka mulut dengan kediaman Tiffany.

“Siapakah yang dekat dengan pria di pemakaman tadi?” tanya Tiffany. Kyuhyun sepertinya mulai mengerti dan berlari ke bawah.

Sekarang di kamar IU berkumpul aku, Kyuhyun, Donghae, Donghwan, Eunhyuk, dan Junsu.

“Tiffany-shi kami semua berhak mengetahui apa yang akan kau sampaikan. Kamilah orang terdekatnya” kata Kyuhyun.

“Dia berniat bunuh diri setelah kalian pergi, Siwon menghentikannya dan sekarang bersamanya”

Helaan nafas panjang dan juga ketidakpercayaan jelas terpancar dari wajah semuanya.

“Dimana mereka sekarang?” Junsu segera saja menanyakan hal tersebut. Dia sangat khawatir terhadap keadaan Jaejoong.

“Handphone Siwon mati, tadi aku meninggalkannya di makam bersama dengan pria itu. Aku yakin sebentar lagi Siwon akan menelpon” jawab Tiffany.

“Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku pamit” kata Tiffany dan meninggalkan kami.

“Tiffany-shi, gamsahamnida” ucap Donghae, Tiffany berbalik dan mengangguk.

Donghae POV

“Justru Siwon yang menyelamatkan hidupnya” ucapku lemah dihadapan yang lain. Kami masih berada di kamar IU. Kami harus bersikap seolah Tiffany tak membawa kabar apa-apa.

Junsu masih terlihat shock. Eunhyuk menepuk pundaknya. Donghwan memandang hujan di luar jendela. Kyuhyun dan Changmin bersandar pada dinding dan hanya diam.

Kami kalut dalam pikiran masing-masing. Bukan kami sahabat Jaejoong-hyung yang bersamanya sekarang, melainkan Choi Siwon orang luarlah yang menyelamatkan hidup dan menemaninya di saat berat seperti ini.

Jaejoong POV

Siwon mengajakku ke sebuah kapel dan masuk ke dalamnya.

“Silahkan mengadu sepuasmu kepada-Nya” kata Siwon. Kami berdua duduk di baris paling depan.
Aku menumpahkan segala kesedihanku. Hatiku menumpahkan segala macam hal yang membelenggu dan menyiksaku.
Siwon terdiam di sampingku dan entah berdoa apa.

“Gamsahamnida” ucapku.

Dia menatapku dan tersenyum. Dia melepas salib yang dia kenakan dan menyerahkannya padaku. Aku menatap Siwon lekat.

“Aku pernah melakukan suatu kesalahan besar. Aku meniduri seorang gadis dan justru menikahi gadis lain. Aku tak berani menentang orangtuaku dan menikahi gadis pilihan mereka, Tiffany Hwang istriku sekarang ini. Meski, menikah dengan Tiffany aku tak bisa melupakan Yoona, wanita yang aku cintai. Butuh waktu untuk mencintai Tiffany bahkan hingga sekarang Tiffany sadar aku masih mencintai Yoona. Aku shock saat mendengar Yoona meninggal setelah melahirkan putra kami, dia Mavin seperti yang kau tahu. Aku merasa berdosa dan kehilangan Yoona, tapi Tiffany membantuku melewati itu dan bertekad menemukan putraku dan Yoona. Aku tahu kisahku tak bisa dibandingkan denganmu, tapi satu hal yang perlu kau tahu. Sampai akhir hayat mereka dan dalam dirimu, semua terbingkai dalam memori yang indah. Mungkin sampai akhir hayat Yoona aku dikenang sebagai pria bejat yang tak bertanggungjawab dan bagiku penyesalan karena meninggalkan Yoona”

Siwon berpaling padaku dan tersenyum.

“Tuhan tak akan menguji manusia di luar kemampuan hamba-nya. Tuhan pasti punya tujuan dari tiap putusan yang telah Dia atur. Hidupmu belum berakhir, kau masih punya kekuatan yang terhebat…… TUHAN”

“Memandang ke depan dan terus melangkah itulah yang bisa kita lakukan. Kau tak mau kan Yuri dan Haejoong sedih? Kau pasti bisa, kau mampu menjalaninya. Jika kau merasa tak kuat, kau memiliki sahabat dan kau juga punya aku. Terlebih lagi Tuhan bersamamu”

Siwon mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya.

“Choi Siwon”

“Kim Jaejoong”

Siwon POV

Aku baru sadar handphoneku mati, aku ingat di mobilku ada handphone lain. Aku menelpon Tiffany, dia kelihatan sangat khawatir dan menanyakan keadaan Jaejoong.

“Kami baik saja. Iya, aku tahu. Iya, baiklah” Tiffany menyuruhku menemani Jaejoong sampai tenang, dia takut jika Jaejoong berniat bunuh diri lagi. Namun, aku yakin Jaejoong tak akan melakukannya bahkan mencoba memikirkannya pun tidak.

Donghae POV

“Tiffany menelponku dia bilang Siwon sudah menghubunginya. Jaejoong baik-baik saja” kata Changmin.

“Dia dimana?” Junsu bertanya pada Changmin.

“Tiffany tidak bilang”

“Sebaiknya kita kembali. Semua sudah menunggu di bawah, kasihan mereka pasti capek” kata Kyuhyun. Aku mengangguk dan bersama yang lain pergi ke bawah.

Junsu membawa Chaerin pulang. Donghwan, Jungmin dan Eunhyuk memutuskan mencari Jaejoong dan Siwon. Kyuhyun, Hara, Changmin dan IU mengantar semua keluar. Jiyeon sudah tertidur, aku terpaksa membangunkannya.

“Kita pulang” kataku. Aku mengambil Mavin yang tidur dalam gendongannya. Jiyeon mengikuti langkahku ke mobil.

“Kau lelah?” tanyaku pada Jiyeon. Dia hanya terdiam dan memandang Mavin, aku mengalihkan pandanganku ke jalan.

Di rumah, Jiyeon hanya terdiam. Dia terus memandangi Mavin yang tertidur di box bayi.

“Jiyeonie, tidur ya?” Jiyeon menatap tepat di bola mataku.

“Berjanjilah oppa tak akan meninggalkanku. Berjanjilah oppa akan disampingku, berjanjilah oppa… Berjanjilah” Jiyeon kembali menangis.

“Aku berjanji padamu” aku mencium bibirnya lembut.

Jungmin POV

Aku, Eunhyuk dan Donghwan memutari Seoul. Kami sepakat berpencar mencari Jaejoong dan Siwon. Ponselku berdering dan ternyata Donghwan-hyung mengirim pesan. Sepertinya ini pesan berantai.

Siwon dan Jaejoong berada di kapel Incheon. Jaraknya tidak jauh dari Inha University.

Incheon yah? Baiklah saatnya ke Incheon. Sekitar 30 menit dengan kecepatan penuh akhirnya sampai di Incheon. Melewati Inha University dan bertanya pada orang-orang dimana kapel terdekat dari situ. Setibanya di kapel Eunhyuk dan Donghwan sudah sampai dan menungguku. Bertiga kami masuk kapel. Kami sudah sangat khawatir dan siap melihat keadaan Jaejoong yang terpuruk.

“Liburan saja” kata Siwon.

“Liburan? Sepertinya akan menyenangkan” ucap Jaejoong.

“Sebelum itu seperti yang kita bahas kau harus urus semuanya. Aku ingatkan daripada dosa bunuh diri lebih baik kau telpon aku, pasti ada pembunuh bayaran yang bisa aku usahakan. Hahaha… Tapi pesannya jauh-jauh hari, harus cari dulu. Hahaha…”

“Sialan kau…”

“Besok siang eh siang nanti mau makan siang bersama? Just you and I. Kencan pria patah hati hahaha….”

“Hei… aku bukan guy ya” teriak Jaejoong.

“Aku juga bukan…hyung hahaha…”

Kami bertiga tersenyum melihat keceriaan Jaejoong.

Siwon sepertinya menyadari kehadiran kami dan menoleh.

Donghwan POV

Siwon dan Jaejoong langsung berdiri dan berjalan ke arah kami. Siwon tersenyum dan menepuk pundakku lalu berlalu.

“Hyung, kau…”

“Aku baik saja. Bisa antar aku ke rumah sakit? Ada yang harus aku selesaikan” pinta Jaejoong.
Jaejoong bersama Eunhyuk dan aku serta Jungmin mengikuti mobil Eunhyuk menuju rumah sakit Seoul National of University.

Di sana para dokter dan suster kaget melihat kedatangan Jaejoong. Mereka berusaha bersikap professional dan sebiasa mungkin. Kami membiarkan Jaejoong mengurus urusannya. Tak lama dia keluar dari ruangannya lalu menitipkan surat pada Eunhyuk.

“Bisakah aku menitipkan surat-surat ini padamu. Surat pertama untuk pemimpin rumah sakit, surat kedua untuk dekan fakultas kedokteran SNU dan yang ketiga untuk Shim Changmin” Jaejoong menyerahkan 3 surat yang di depannya sudah tertuliskan tujuan suratnya.

“Ini apa?” tanya Eunhyuk sambil mengacungkan surat-surat itu.

“Dokter Lee Hyukjae, aku titipkan pasien-pasienku padamu. Gamsahamnida” Jaejoong menundukkan badannya.
“Hyung, kau mundur?”

“Tolong sampaikan saja surat-surat itu. Anyeong”

Maafkan diriku yang lari dari kenyataan. Biarkan aku melepas semua sejenak. Hidupku sudah berakhir ketika Tuhan mengambil Haejoong dan Yuri, tapi seseorang menyadarkanku bahwa hidup ini berharga.

Letter Of Angel XV (Love Blossom)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII,Part XIII, Part XIV

Jiyeon POV

Aku memberanikan diri datang ke kantor Pengacara Shim Changmin, aku meminta Taemin mengantarku. Aku tak mau membebani Donghae dengan perasaan tertekan lebih besar karena mengkhawatirkanku juga.

“Taemin, maaf sudah merepotkanmu”

Taemin tersenyum dan mengangguk.

“Tadi ada titipan dari Sicca untukmu. Dia bilang saat terakhir melihatmu kau sangat kurus jadi sengaja saat mendengar aku akan mengantarmu ke tempat pengacara Shim dia membuatkan makanan untukmu. Sicca tak terlalu pandai memasak, tapi aku harap kau suka” kata Taemin.

“Sampaikan terima kasihku padanya dan maaf sudah sering merepotkan kalian berdua”

“Tenang saja. Aku dan Sicca senang bisa menemani kalian di saat sulit seperti sekarang” Taemin tersenyum sekilas padaku dan berkonsentrasi menyetir mobil.

Changmin POV

“Sajangnim ada yang mencari anda. Beliau bilang ada urusan penting dan saya mempersilahkannya masuk” kata sekretarisku.

Aku mengangguk dan berjalan memasuki ruangan kerjaku. Ternyata Jiyeon dan seorang namja yang tak aku kenal. Aku mengerutkan dahi, bingung dengan kedatangan mereka kemari. Jiyeon berdiri dan langsung mengatakan niatnya datang kemari.

“Pengacara Shim, maaf sudah lancang datang kemari. Saya ingin minta bantuan anda” kata Jiyeon.

“Silahkan duduk dulu. Kita bicarakan dengan tenang” kataku.

Jiyeon mengangguk dan kembali duduk.

“Anda butuh bantuan apa?” tanyaku to the point.

“Bisakah anda mengusahakan agar saya bisa bertemu Mavin. Saya sangat khawatir padanya. Meskipun yakin mereka akan mengurusnya dengan baik, tapi bagaimanapun saya ingin memastikan keadaannya. Mavin baru berusia 6 bulan dan saya….” Jiyeon berusaha mengendalikan airmatanya yang hampir jatuh. Keadaan Jiyeon justru lebih mengkhawatirkan dibanding Mavin sendiri. Wajahnya pucat, letih, matanya sembab, bibirnya kering dan dia tampak lebih kurus dibanding saat pertama kali kami bertemu.

“Saya mengerti. Akan saya usahakan, tapi berjanjilah anda harus tetap kuat demi Mavin” hatiku trenyuh melihat keadaan Jiyeon. Terlepas dari dia bukan ibu kandung Mavin, aku yakin dia sangat menyayangi Mavin.

“Gomawo… Gomawo” Airmatanya menetes deras. Dia kelihatan senang sekali. Aku tersenyum padanya.

Namja itu menepuk pundak Jiyeon, mencoba memberi Jiyeon semangat.

Mavin, kami akan memperjuangkanmu. Begitu banyak yang menyayangimu tak akan aku biarkan Choi Siwon, Tiffany Hwang, Choi Seunghun atau siapapun mengambilmu dari keluarga Lee.

Kyuhyun POV

Iseng-iseng aku mengunjungi kantor Changmin, bukan untuk melihat Changmin. Hara membuatku tak bisa tidur nyenyak….. Selalu membuatku berdebar ketika mengingat wajah, senyum, dan semua hal tentang dirinya.

“Itu kan istri dokter Lee dan siapa namja itu?”

Aku menghampiri mereka berdua..

“Nyonya Lee” sapaku. Dia sedikit bingung saat aku menyapanya.

“Mianhae, nugu?” tanyanya.

“Oh iya. Cho Kyuhyun imnida, saya kakak pasien Lee Jieun yang ditangani Lee Donghae uisha” ujarku memperkenalkan diri.

“Lee Jiyeon imnida. Senang bertemu anda” ujarnya tersenyum. Pucat sekali… Apa dia sakit?

Aku melirik namja disampingnya. Dia sepertinya mengerti maksudku.

“Lee Taemin imnida. Sahabat Jiyeon” ujarnya sambil tersenyum.

“Jiyeon-shi apa anda sakit?” tanyaku.

“Hanya sedikit lelah” ujarnya dengan senyum dipaksakan.

“Ohya, anda kesini ada urusan apa?” tanya Taemin berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ehm… Aku ada urusan dengan Pengacara Shim Changmin” ujarku.berbohong tak mungkin aku mengatakan ingin melihat seorang gadis bukan.

“Kasus?” tanya Taemin.

“Ani. Urusan keluarga” jawabku.

Heh… Urusan keluarga… Bagus tambah aneh saja alasanku. Taemin mengerutkan dahinya bingung.

“Hyung….” Changmin berlari menghampiri kami.

“Kalian semua sudah saling kenal?” Kami serempak mengangguk.

“Ada yang lapar bagaimana kalau kita semua makan di luar. Jiyeon dan….”

“Lee Taemin” ujarku pada Changmin.

“Nde, Taemin ikut makan bersama kami yah” tawar Changmin. Sedikit enggan, tapi Jiyeon mengangguk.
Kenapa malah seperti ini? Tidak jadi bertemu Hara kalau begini.

Hara POV

Saat aku memasuki gedung kantor. Aku melihat Jiyeon, Changmin, dan seorang namja yang tak aku kenal. Di belakang mereka…

Deg… Deg… Deg…

Jantungku berpacu dan berdetak sangat kencang. Kyuhyun…..
Ya Tuhan jangan sampai mereka melihatku. Harus cari jalan lain.

“Hara-shi” teriak Changmin.

Matilah aku…..

Aku pun terpaksa menemui mereka.

“Changmin-shi, Jiyeon-shi senang bertemu kalian disini” Aku tersenyum pada namja disamping Jiyeon.

“Go Hara imnida” kataku sambil membungkuk.

“Lee Taemin imnida senang bertemu anda” balasnya.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ohya, Hara-shi kenalkan ini Cho Kyuhyun” kata Changmin memperkenalkanku pada Kyuhyun.

“Senang bertemu anda Cho Kyuhyun-shi. Go Hara imnida”

“Senang juga bertemu anda, Go Hara-shi” ujarnya dingin.

Perkataannya yang dingin membuat hatiku sakit. Entah kenapa seolah membuat udara di sekitarku terasa menipis.

“Mau ikut makan?” tanya Changmin mencairkan suasana.

“Saya sudah makan. Terima kasih atas tawarannya” tolakku sopan. Mereka semua tersenyum kecuali Kyuhyun. Dia tampak acuh dan tak mempedulikanku.

Kyuhyun POV

Hara bersikap seolah tak mengenalku. Sikapnya membuatku kesal, baiklah nona jika memang demikian anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.

Aku meninggalkan Hara tanpa senyum sedikitpun. Bukan tipeku untuk bersikap basa-basi.

Jiyeon POV

Kami tiba di restoran. Saat akan memesan makanan, ponselku berdering.

“Yeoboseyo, Oppa”

“Iya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah belakangan ini. Jangan khawatir aku dan Donghae bisa menjaga diri. Salam untuk eumma dan appa yah” jawabku.

“Telpon dari Jungmin-hyung?” tanya Taemin. Aku mengangguk.

Kami berempat makan dalam diam. Tak ada yang berusaha memecah keheningan. Semuanya seperti bergumul dengan pikiran masing-masing.

“Mianhae, gara-gara kasus Mavin semua menjadi terbebani. Mianhae” kataku tulus. Mereka bertiga terkesiap.

“Ani. Itu sudah tugas saya sebagai pengacara. Anda tak perlu khawatir” ujar Changmin sambil tersenyum.

“Kau kenapa berkata demikian, kita kan teman sedih senang kita lalui bersama kan?” kata Taemin dengan sungguh-sungguh.

Aku memandang Kyuhyun yang tersenyum kecil ke arahku.

“Tuhan tak akan memberikan cobaan yang tak mampu dilewati umatnya. Tuhan sudah mengatur kita dalam suatu takdir yang tak terelakkan. Kecelakaan Jieun, Lee Donghae uisha yang mengoperasi Jieun, Changmin sebagai pengacaramu, Siwon sebagai pihak penggugat, semua sudah diatur dalam suatu scenario. Jiyeon-shi anda tak perlu merasa tidak enak karena kami yang berada disini dengan senang hati akan membantu anda. Kita bersama yang akan menciptakan scenario baru yang berakhir bahagia, scenario ini berada dalam tangan kita. Tinggal kita berjuang keras untuk menulis sesuai dengan harapan kita. Saya justru sangat berterima kasih pada Tuhan telah mengenal kalian semua dan jika perlu bantuan dengan senang hati saya akan membantu. Saya berhutang budi karena Lee Donghae-uisha sampai sekarang saya masih bisa melihat tawa dan senyum adik saya. Gamsahamnida” Kyuhyun berdiri dan membungkuk berterima kasih.

Tuhan terima kasih… Kau mendatangkan orang-orang ini dalam hidupku.

Taemin POV

Setelah mengantar Jiyeon pulang, aku meluncur ke rumah sakit menjemput Sicca. Dia sudah menunggu di depan gerbang rumah sakit.

“Mianhae, noona. Aku telat” kataku menyesal. Sicca tersenyum dan menarik tanganku.

“Kajja. Ceritakan semua” katanya setelah kami berada di mobil.

“Apa yang harus aku ceritakan?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari jalan.

“Aiissshhh… Pertemuan dengan Pengacara Shim” kata Sicca tak sabaran.

“Oh itu. Jiyeon meminta Pengacara Shim mengusahakan agar dia bisa bertemu dengan Mavin. Sepertinya bukan hal mudah. Setelah itu kami berempat makan siang hanya itu saja” jelasku.

“Owh… Eh berempat? Satu lagi siapa? Bukan Donghae-uisha kan?” tanya Sicca.

“Bukan. Dia Cho Kyuhyun. Paling kau tak kenal” jawabku datar.

“Sok tahu. Tentu saja aku tahu dia kakak pasien Lee Jieun kan? Pasien yang berada dalam tanggungjawab Jaejoong-uisha. Lagipula pengacara Shim dan Kyuhyun sering ke rumah sakit menjenguk Jieun” papar Sicca.

“Pengacara Shim? Apa hubungan Pengacara Shim, Kyuhyun, dan Jieun. Aku hanya tahu Pengacara Shim dan Kyuhyun adalah teman” aku mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Shim Changmin setahuku calon suami dari Lee Jieun, jadi Cho Kyuhyun adalah calon adik ipar Kyuhyun”

“Cho Kyuhyun, Lee Jieun kakak beradik? Maksudmu saudara tiri?”

Sicca mengangguk. Oh, jadi ini maksudnya urusan keluarga. Sepertinya semua orang yang berada di dekat Donghae dan Jiyeon dihubungkan semacam benang merah.

Jiyeon POV

Ting… tong… ting… tong

“Sebentar” teriakku dari dalam. Buru-buru aku membukakan pintu. Ternyata Yuri-eonni, Jaejoong-oppa, dan Haejoong datang berkunjung.

Yuri-eonni langsung memelukku, aku balas memeluknya dan kemudian memeluk Haejoong. Jaejoong-oppa tersenyum padaku.

“Donghae belum pulang?” tanya Yuri setelah aku mempersilahkan mereka masuk.

“Belum eonni. Masih sibuk di rumah sakit mungkin” jawabku seadanya.

“Iya, belakangan banyak yang harus ditangani” timpal Jaejoong.

“Harusnya kau membantu kalau begitu” sergah Yuri dengan nada sewot.

“Kau ini, aku ambil cuti hari ini juga kau kan yang minta” Jaejoong menjulurka lidahnya pada Yuri. Lucu sekali pasangan ini.

“Eumma, appa!!!!” Haejoong berteriak. Kami melupakan keberadaan Haejoong.

Dia menggembungkan pipinya tanda bahwa dia kesal.

“Anak eumma sini” Haejoong menghambur ke pangkuan Yuri.

Aku meninggalkan mereka dan menuju dapur untuk mengambilkan minuman. Saat sedang berusaha mengambil gelas tiba-tiba kepalaku pusing dan semua menjadi gelap.

Jaejoong POV

“Hahaha… Jadi kau merasa dikucilkan sayang?” tanyaku pada Haejoong.

Dia mengangguk, aku mengacak rambutnya.

“Appa jangan merusak hairstyle ku!” teriak Haejoong.

Hairstyle… Darimana dia belajar kata itu. Aku melirik Yuri yang seolah berpura-pura bukan aku yang mengajarkannya.

Praaannnggg…..

Kami terkejut mendengar suara benda pecah dari arah dapur. Segera saja aku menuju dapur dan disana Jiyeon sudah tak sadarkan diri.

Aku mengangkat Jiyeon dan membawanya ke sofa.

“Yuri ambilkan peralatanku di mobil”

Aku segera mengecek tekanan darah dan mendengarkan detak jantungnya.

Detak jantungnya lemah, 60/30 mmHg tekanan darahnya hanya segini. Dengan tekanan darah serendah ini dia harus mendapat perawatan.

“Kita bawa dia ke rumah sakit” kataku pada Yuri dan Haejoong.

Haejoong POV

Eumma duduk di belakang dan memeluk ahjumma. Mukanya sangat pucat.

“Appa, apa ahjumma akan baik saja?” tanyaku pada appa.

“Dia tidak apa-apa. Berdoa saja ya” kata appa sambil tersenyum. Appa sendiri terlihat khawatir.

Ahjumma, harus baik-baik saja. Kami sayang ahjumma.

Donghae POV

Aku baru saja menyelesaikan karte beberapa pasien saat suster Jessica memasuki ruanganku dengan terengah.
Aku mengerutkan dahi dan beranjak dari dudukku.

“Uisha… uisha”

“Tenang ada apa?”

“Jiyeon-shi sekarang di ruang ICU”

Deg…..
Aku berlari menuju ruang ICU. Didepan ICU ada Jaejoong-hyung yang sedang memeluk Yuri-noona dan Haejoong. Eunhyuk keluar ruangan dengan wajah tertekuk.

“Untung dia dibawa tepat pada waktunya. 60/30 mmHg . Sementara waktu dia harus dirawat di ICU sampai keadaannya memungkinkan. Kalian sudah mengerti maksudku kan?” tanya Eunhyuk.

Aku dan Jaejoong mengangguk, kami sudah sangat jelas dengan penjelasan Eunhyuk. Yuri meminta penjelasan Jaejoong. Sepertinya Eunhyuk sengaja mengatakan itu hanya kepada kami agar yang lain tak perlu khawatir.

“Donghae, jaga dia baik-baik” aku mengangguk.

Donghae POV

“Sekian kuliahnya. Terima kasih atas perhatiannya. Maaf untuk sementara waktu tidak bisa mengajar kalian, jangan khawatir Kim Jaejoong akan menggantikan tugas mengajar saya. Kalian bisa keluar sekarang” kataku pada para mahasiswa.

Aku memutuskan cuti agar bisa fokus pada kasus Mavin dan menjaga Jiyeon.
Aku membereskan buku yang aku gunakan mengajar tadi dan bersiap menjenguk Jiyeon di rumah sakit.

“Donghae-shi, ada yang ingin saya bicarakan” kata Taemin yang tiba-tiba masuk ke ruang kuliah.

“Ada apa Taemin? Apa ada sesuatu yang sangat penting?”

“Soal Jiyeon”

“Jiyeon kenapa lagi?” aku menjadi sangat khawatir.

“Saya mohon jaga dia baik-baik. Sebelum dirawat di rumah sakit anda pasti sudah merasa Jiyeon menjadi pemurung, dia seolah kehilangan semangat hidup. Jiyeon yang ceria dan bersemangat seolah telah kehilangan arah hidupnya. Sebagai sahabatnya tak ada yang bisa dilakukan selain menghibur di saat dia membutuhkan, tapi anda selaku suaminya tentu mengerti apa yang saya maksud. Mianhae” kata Taemin dan meninggalkanku sendiri.

Aku menarik nafas panjang, sebagai suami dan ayah apa aku pantas dikatakan suami dan yang baik.

Donghae POV

Aku mendekat padanya dan memandangi wajahnya. Tampak lelah dan tertekan, aku menyentuh wajah dan bibirnya. Sudah 3 hari Jiyeon dirawat di rumah sakit, keadaannya sudah membaik meski masih mengkhawatirkan. Tekanan emosionalnya membuat progress penyembuhannya berjalan lambat, tapi aku tetap bersyukur dia sudah membaik.

“Kau pasti sangat sedih ya. Mianhae, menyeretmu hingga sampai seperti ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik”

Aku membenarkan selimut yang dia pakai. Aku beranjak duduk di sofa.

“Mavin… Mavin… Eumma disini.. Mavin!” Jiyeon berteriak dan langsung menangis sejadi-jadinya. Aku langsung memeluknya dan berusaha menenangkannya.

“Mavin… Oppa… Mavin…..” Jiyeon makin histeris.

Ya Tuhan….

“Jiyeon, Jiyeon. Oppa disini, Mavin baik-baik saja. Tenanglah… Tenanglah” aku mengeratkan peukanku. Mungkin karena terlalu lelah Jiyeon akhirnya tidur di pelukanku.

Aku terjaga sepanjang malam, menjaga Jiyeon. Aku tak mau dia bermimpi buruk lagi.

Changmin POV

“IU untuk sementara waktu aku tak bisa menjengukmu. Ada kasus yang harus aku tangani dan membutuhkan perhatian ekstra” kataku pada IU yang sekarang sudah keluar dari rumah sakit.

“Ne. Memangnya kasus apa, oppa?” tanya IU.

“Kau tak perlu tahu, tapi doakan ya agar kasusnya cepat selesai dan memberikan hasil terbaik bagi semua” kataku sambil tersenyum. Dia mengangguk.

Saat aku berpamitan IU mencium pipiku.

“Oppa, hwaiting ^^. Semoga berhasil yah. Jaga diri baik-baik” kata IU.

“Gomawo, jagi” aku meninggalkan IU dengan perasaan bahagia. Rasanya aku tak sendirian, aku akan melakukan apapun untuk membantu mereka.

Seunghun POV

“Kali ini saya rendahkan harga diri saya sebagai pengacara dengan memohon pada anda. Izinkan saya membawa Mavin menemui Jiyeon” Changmin membungkuk memohon padaku.

Aku hanya tersenyum sinis.

“Kau tahu prosedurnya kan?”

“Karena saya tahu prosedur tersebut memerlukan waktu maka saya melakukan hal ini. Saya tahu anda sangat patuh hukum, tapi saya mohon sekali ini saja” kata Changmin.

Tahukah kau Changmin kau adalah orang ketiga yang memohon padaku.

Flashback

“Oppa, aku mohon izinkan Jiyeon dan Donghae menemui Mavin” kata Hara.

“Kau bisa melakukannya setelah mengurus prosedurnya” kataku tegas.

“Seunghun-shi sampai sekarang aku masih menganggapmu sebagai orang baik dan oppaku. Meski, kau tak pernah bersikap baik padaku tak pernah aku membencimu. Jangan paksa aku membencimu” kata Hara.

“Beginikah caramu memohon nona Go” kataku dengan nada tinggi.
Tiba-tiba Hara berlutut di hadapanku.

“Oppa, satu kali aku memohon padamu hanya kali ini. Aku mohon biarkan Donghae dan Jiyeon menemui Mavin. Aku mohon, aku mohon, aku mohon”

“Pengacara Go Hara yang terkenal dengan kearogansian, harga diri tinggi bisa melakukan ini hanya untuk klien dari kantor pengacara tempat dia bekerja. Lucu sekali Changmin mengirimmu kemari. Sangat lucu” kekehku.

Hara terdiam dan tak membalas perkataanku. Aku meninggalkannya yang masih berlutut di depan rumahku. Paling sebentar lagi dia pergi, aku meninggalkan Hara untuk kembali ke kantor.
Ternyata dugaanku salah. Dia tetap berlutut disana meski sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia berlutut dari siang.

“Nona Go kenapa kau belum pergi. Tidak cukup kah perkataanku tadi siang” kataku padanya. Hara memandangku dengan mata berkaca-kaca.

“Seunghun-shi, seumur hidup aku belum pernah mengemis pada seseorang, tapi jika sekarang aku harus mengemis belas kasihan padamu akan aku lakukan” Airmata mengalir dari mata indah Hara.

“Bagiku Donghae sangat berarti. Bagiku Donghae bukan hanya klien dari Shim Changmin. Bagiku Donghae adalah sahabat, kakak, ayah. Dia menjagaku, melindungiku, menguatkanku. Ketika aku merasa hanya punya ibu, Donghae datang dan menemaniku. Saat aku merasa ketakutan dan duniaku akan berakhir dia menyelamatkanku. Donghae menyelamatkan kehormatan dan nyawa adik yang tak pernah kau akui ini. Donghae sangat berharga untukku, apapun akan aku lakukan agar dia bisa bahagia termasuk membuang harga diriku” kata Hara dengan airmata berlelehan.

“Berdirilah Hara. Akan aku pikirkan lebih baik kau pulang sekarang” Hara menggeleng, tapi dari gerbang tiba-tiba seorang namja tepatnya Cho Kyuhyun langsung membantu Hara berdiri
———————————————————————————————————
“Seunghun aku tahu kau akan berkata jika membawa Mavin maka itu melanggar prosedur dan jika ingin Jiyeon diperbolehkan melihat Mavin maka kami harus mematuhi prosedur. Namun, satu yang ingin aku katakan kau akan jadi orang terjahat dalam cerita ini jika membiarkan Jiyeon menderita tanpa bergerak sedikitpun” kata Junsu dan berlalu meninggalkan kantorku.
———————————————————————————————————–
“Pengacara Shim berterima kasihlah pada orang-orang yang telah membantumu. Jika tidak belum tentu aku bersedia melakukan ini. Kau bisa membawa Lee Mavin besok pagi, tapi dengan pengawasan kepolisian. Ini surat pengantarnya” kataku seraya menyerahkan surat pada Changmin.

Dia tertegun dengan perkataanku, tapi langsung tersenyum dan membungkuk berterima kasih berulang kali.

Siwon… Kau tahu Donghae dan Jiyeon memiliki orang tepatnya sahabat-sahabat yang rela melakukan apapun demi mereka. Inilah beda kekuatan antara kalian.

Jiyeon POV

“Selamat pagi kau sudah bangun?” tanya Donghae dengan senyum merekah. Dia membawa nampan berisi bubur, susu, dan jus jeruk.

“Kau pasti lapar. Sekarang makan ya” katanya padaku. Aku menggeleng tak ada nafsu sama sekali.

“Jiyeonie, buka mulutmu” Donghae menyorongkan sesendok bubur padaku. Terpaksa aku membuka mulutku, sedikit aku paksakan menelannya. Donghae ingin aku menghabiskan bubur yang dia bawa. Dia juga meminumkan susu dan jus jeruk padaku.

“Gomawo” kataku. Dia tersenyum lebar dan hendak pergi meninggalkan kamar.

Aku menahan tangannya dan menatap memohon agar dia tetap berada di dekatku. Donghae meletakkan nampan di nakas dan duduk di tepi bangsal.

“Oppa, kapan kita bisa bertemu Mavin?”

Donghae terlihat sedih saat aku menanyakannya. Dia langsung memelukku dan mengecup puncak kepalaku.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tak bisa menjaga kalian berdua” ujar Donghae.

Kau tak boleh menangis Jiyeon. Jangan menangis lagi, Donghae sudah berusaha sebaik mungkin. Kau harus kuat jangan sampai kau malah menjadi alasan Donghae menjadi lemah.

“Aniyo. Bukan salah, oppa. Mavin pasti kembali pada kita. Aku yakin itu” kataku sambil menggigit bibir bawahku menahan tangis.

Kyuhyun POV

Kejadian kemarin masih jelas terekam dalam otakku. Hara yang dari siang memohon pada Seunghun, oppanya agar mengizinkan Jiyeon dan Donghae bertemu Mavin. Bahkan rela berlutut di depannya membuatku mengerti betapa dia menyayangi Donghae. Aku membiarkan Hara tidur di kamarku karena aku khawatir terjadi sesuatu padanya jika dia sendiri di apartemennya.

“Oppa, apa eonni sudah bangun?” Jiyeon datang ke kamarku dan membawa sarapan untuk Hara. Aku menggeleng.

“Oppa, sarapan dulu saja di bawah. Biar aku menjaga eonni ^^” kata Jiyeon. Aku mengangguk dan turun ke bawah untuk sarapan. Hari ini hari minggu sehingga aku tak perlu kerja.

IU POV

Wowh….. Eonni memang cantik pantas saja oppa tergila-gila padanya.

“Errrggghhhh….” Eonni mengucek matanya dan memandang sekeliling. Dia bingung saat melihatku.

“Eonni tak usah takut. Aku Jieun adik dari Kyuhyun-oppa, sekarang eonni ada di kamar oppa” kataku dan membantunya duduk.

“Eonni lapar? Ini sarapan dulu kataku sambil menyerahkan sarapan padanya”

“Gomawo. Kyuhyun-shi dimana?”

“Oppa, sedang sarapan nanti setelah sarapan eonni turun saja. Aku ke bawah dulu yah” kataku dan menutup pintu kamarnya.

Hara POV

Aku menikmati sarapanku sambil menelusuri tiap inchi kamar Kyuhyun. Pandanganku tepat tertumbuk pada stick PS, deretan kaset game, serta PSP di kamarnya.

Dia maniac game yah. Aku tersenyum membayangkan dia bermain game, akankah berteriak atau bagaimana. Pintu kamar berdecit, aku menoleh dan melihat Kyuhyun masuk.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kyuhyun yang sekarang bersandar ke dinding.

“Baik, gomawo Kyuhyun-shi”

“Baguslah” jawabnya dan hendak keluar lagi.

“Kyuhyun-shi” aku memanggil namanya. Dia berbalik dan menuju ke arahku. Detak jantungku semakin cepat dan aku rasa pipiku memerah.

“Ada apa lagi?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ehm… ehm…ehm….”

“Ehm…????”

“Ehm…ehmm”

“Kau ingin bilang apa?” tanyanya.

“Kenapa kau bisa berada disana kemarin?” Dia sedikit terlonjak, tapi kemudian menjawab dengan santai.

“Aku tertarik untuk mengetahui orang macam apa itu Seunghun sehingga aku memutuskan untuk membuntutinya, tapi justru aku lebih terkejut melihat kau disana” jawabnya.

“Oh…” Ada sesuatu yang membuatku kecewa. Aku pikir dia sengaja mengikutiku karena mengkhawatirkanku.

“Kyuhyun-shi maaf soal kejadian di kantor pengacara Shim” kataku menyesal.

Dia hanya tersenyum dan mengacak rambutku. Aku tertegun dengan perlakuannya.

Cuppp….

Apa dia menciumku? Aku langsung tersadar dari lamunanku dan mendorongnya.

“Mianhae…” katanya pelan. Aku berlari menuruni tangga dan tidak mengindahkan Jiyeon yang memanggilku.

Airmataku mengalir. Brengsek…. Meski aku menyukaimu kau tak boleh memperlakukanku seperti ini Tuan Cho.

“Hara tunggu” Kyuhyun menarik tanganku dan memelukku.

Aku meronta dan memukul dadanya, tapi tenagaku tak cukup kuat untuk membuatnya melepaskanku.

“Uhuk…uhukk” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan memegangi dadanya.

“Kyuhyun kau kenapa?” aku panik dan menopang Kyuhyun yang hampir ambruk dan terus memegangi dadanya.

“Jieun…. Jieun” aku berteriak dan Jieun langsung menghampiri kami.

“Oppa, kau kenapa?” Kami berdua membantu Kyuhyun naik ke kamarnya.

Kyuhyun berbaring dan Jieun menelpon dokter.

“Iya, dokter. Oppa, terus memegang dadanya. Tolong segera kemari” kata Jieun.

Aku memegang tangan Kyuhyun, mukanya sangat pucat. Kenapa kau Kyuhyun?

Jieun menepuk pundakku.

“Eonni tak perlu khawatir. Kesehatan oppa memang naik turun akibat kecelakaan yang pernah menimpa oppa”

“Seberapa parah kecelakaan itu?’ tanyaku pada Jieun tanpa mengalihkan pandanganku pada Kyuhyun.

“Oppa mengalami patah tulang pinggul dan pneumothorax” jelas Jieun.

Kyuhyun maafkan aku. Kau harus baik-baik saja.
Ku genggam tangan Kyuhyun, aku tak mau terjadi sesuatu padanya.

Kyuhyun POV

Saat aku tersadar, Hara sedang tidur di samping ranjang sambil menggenggam tanganku. Aku mengelus puncak kepalanya membuatnya terbangun.

“Kyuhyun kau sudah bangun” Hara terlihat sangat senang, tapi tak lama kemudian dia menangis.
“Hei… Kau kenapa?”

“Jangan lagi membuatku khawatir, jangan lagi membuatku berpikir aku akan kehilangan dirimu. Kenapa kau tak bilang kau sakit hah?” teriaknya.

“Memangnya kau siapaku?” tanyaku dengan ekspresi menahan tawa.

“Kyuhyun!!!!!”

“Kau tak akan pernah kehilangan diriku. I promise you” kataku sambil memeluk Hara.

Aku melepas pelukanku dan menatap mata Hara.

“Eventhough It’s too fast, but I want to say… Would you marry me?”

Hara membelalakkan matanya. Sudah ku duga pasti dia akan shock dan dugaan paling buruk dia akan meminta waktu untuk berpikir atau justru mengatakan kalau dia menolakku.

“I do”

Aku shock mendengar jawabannya.

“I promise myself. I’ll give my first kiss to my husband and I guess ehm…. “

“Don’t worry I’ll be your husband” kataku seraya mengecup keningnya.

Donghae POV

“Aku meminta izin untuk menikahi Hara?” Kyuhyun berkata serius padaku.
Aku kaget bukan kepalang.

“Kau… kau serius?” tanyaku tak percaya. Dia mengangguk.

“Kalau boleh tahu berapa lama kalian mengenal?” tanyaku.

“2 minggu” jawabnya. Tak ayal kopiku langsung tersembur dengan sempurna.

“2minggu? 2minggu?” tanyaku meyakinkan diriku sendiri.

“Meski baru mengenalnya 2minggu, aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku mohon izinkan aku” kataku.

Mengingat dulu pernikahanku dan Jiyeon juga berlangsung setelah pertemuan yang sangat singkat, aku rasa tak masalah. Dan lagi aku percaya Cho Kyuhyun adalah pria yang bertanggungjawab.

“Baiklah., tapi selain padaku kau harus minta izin pada Choi Seunghun serta ayah Hara” kataku.

Dia langsung menatapku intens seolah berkata ‘anda mengenal mereka’

“Aku tahu Hara masih punya ayah dan kakak di Seoul. Meski dia tak cerita hal itu padaku”

Sebenarnya Seunghun lah yang menelponku dan menjelaskan semuanya. Seunghun menyayangi Hara walau tak pernah menunjukkannya.

Hara POV

“Jagi, kau mau makan apa?” tanya Kyuhyun padaku. Aku tak menjawa pertanyaannya dan melihat pernikahan di gereja di depan kami.

“Kyu, mendekat yuk. Aku mau lihat” kataku. Kyuhyun sedikit sebal, tapi menurut. Saat itu pengantin perempuan bersiap melempar buket bunga. Para yeoja sudah bersiap-siap menangkapnya, mereka sudah mencari posisi yang tepat agar mendapatkan buket tersebut. Aku dan Kyuhyun hanya berdiri menyaksikan dari pinggir.

“Satu… dua… tiga” Hitungan dimulai dan buket dilempar.

Grrreeeppp…
Buket justru jatuh di tanganku. Aku bingung dan menunjukkan bunga itu pada Kyuhyun.

“Wah… Selamat sebentar lagi pasti akan menikah” kata seorang yeoja.

“Itu….” Aku berusaha menjelaskan kalau ini hanya kebetulan.

“Minggu depan kami memang akan menikah” kata Kyuhyun. Aku memandang Kyuhyun tak percaya.

“Kajja” Dia menarik tanganku meninggalkan tempat itu.

Apa dia serius?

Changmin POV

“Kau sadar atas apa yang kau katakan hyung? Menikah dengan Hara. Secepat ini?” ujarku tak petcaya dengan apa yang aku dengar. Kyuhyun mengangguk yakin.

“Besok Ibu Hara akan tiba di Seoul. Dia sudah setuju kalau kami menikah. Pernikahan ini hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat saja. Termasuk appa dan oppa-nya” papar Kyuhyun.

“Appa dan oppa?” tanyaku.

“Hara adalah adik Choi Seunghun. Itu yang perlu kau tahu” kata Kyuhyun sambil menepuk bahuku.
Aku mengusap rambutku kasar. Bagaimana mungkin?

IU POV

Setelah keluar dari rumah sakit Changmin sama sekali tak menemuiku. Changmin tanpa basa-basi langsung menyodorkan cincin padaku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Masa kau tidak mengerti?” tanyanya tak sabaran.

“Memangnya untuk apa kau memberiku cincin?” tanyaku memancing.

“Ah, sudahlah kalau begitu aku mau pulang”

Hah mau pulang? Aku rasa dia hanya menggertak, tapi ternyata tidak. Jangan bilang dia…..

“Oppa, tunggu” teriakku saat Changmin menyalakan mesin mobilnya.

“Ada apa?”

“Aku mau” jawabku malu-malu.

“Mau apa?”

“Cincinnya”

“Oh… Jadi cincinnya? Ini” katanya menyodorkan kotak berisi cincin itu padaku. Tunggu mudah sekali dia menyerahkannya.

“Oppa, tidak ada yang ingin kau katakan?” aku mulai khawatir. Shim Changmin kau ini mau mempermainkanku atau apa.

Changmin POV

Wajah IU menjadi pucat pasi saat aku berakting seolah-olah cincin yang aku berikan tidak berarti apa-apa. Aku berusaha berakting sedater mungkin padahal kebahagiaan jelas membuncah di hatiku.

“Kau berharap aku mengatakan apa?” godaku.

Dia terlihat berpikir keras.

“Nothing” jawabnya. Baiklah aku tak akan bicara. Kami terdiam cukup lama sampai dia berteriak.

“Ya!!!! Shim Changmin kau tidak pengertian sama sekali ya”

“Memangnya soal apa?” tanyaku pura-pura bingung.

IU menggembungkan pipinya dan sukses membuat tawaku meledak.
Chu…

“Diam” Benar saja ciumannya tepat di bibirku membuatku tak berkutik.

IU POV

Changmin justru terpingkal saat aku menggembungkan pipiku. Aiiissshhh… Bisa-bisanya tertawa.

Chu…

Tanpa pikir panjang kuhentikan tawanya dengan mencium tepat di bibirnya.

“Diam” kataku. Benar dia diam dan mematung. Pipiku memanas saat menyadari apa yang telah aku lakukan, My first kiss.

Chu….

Lho kok…. Aku memandang Changmin saat aku memandangnya dia justru kembali menciumku lagi.

“I like your lips try another one” kata Changmin.

Dia merengkuh pinggangku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya meraih belakang kepalaku. Posisi apa ini ?

Changmin menekan bibirnya dengan lembut ke bibirku, membasahi bibirku dan sesekali menggigitnya , sensasi ini mendorongku melakukan hal yang sama. Lidah Changmin berusaha masuk ke mulutku, aku buka sedikit mulutku membiarkan lidah Changmin masuk dan menjelajah ruang dalam mulutku. Ku remas bagian depan jas Changmin, kupejamkan mataku merasakan setiap moment dalam ciuman kami, dia juga semakin erat memeluk pinggangku. Kuberanikan diri memainkan lidahku dan mendorongnya ke mulut Changmin, lidah kamipun bertaut dan saling menjelajah rongga mulut satu sama lain, ciuman kami semakin panas dan aku menikmatinya.

“Hei….” Teriak seseorang yang langsung membuat kami melepas ciuman dan menjauhkan diri.

“Ya!!!! Shim Changmin berani-beraninya kau mencium adikku” teriak Kyuhyun dan menjitak kepala Changmin.

“Hyung, appo”

“Kau ini tanggungjawab enak saja main cium adik orang” kata Kyuhyun dengan senyum lebar.

“Tenang saja hyung. Dengan senang hati akan aku nikahi adikmu”

Perkataan Changmin sukses membuat semburat merah di wajahku. Aku bisa mati menahan malu disini, aku putuskan untuk kembali ke dalam rumah.

Saat aku baru berjalan beberapa langkah Changmin membalikkan badanku.
Chu….

“Aku pergi dulu ya”

Kyuhyun terlihat shock dengan apa yang dilakukan Changmin dan pelakunya tak merasa bersalah, justru langsung pergi mengendarai mobilnya dan melambaikan tangan.

“Ehm.. Ehm… Lee Jieun… Eh Shim Jieun yah?” sialan….

“OPPA!!!!!” teriakku.

Changmin POV

Aku langsung beranjak dari rumah IU. Bodohnya kenapa aku sangat beringas sekali. Bahkan aku menciumnya di pekarangan, kami melakukan French Kiss di depan Kyuhyun.

Pabo….

“Yeoboseyo. Nde, saya akan menjemput Lee Mavin sekarang”

Aku memutar mobilku dan menuju kejaksaan untuk menjemput Mavin.

Jaejoong POV

“Yeoboseyo, Yuri. Aku masih di universitas, kau mau kesini? Baik, aku tunggu” jawabku saat Yuri menelponku.

“Hyung… Kau mau kopi?” Eunhyuk menyorongkan kopi padaku.

“Gomawo”

“Tadi Yuri-noona yah?”

“Iya, dia mau kemari”

“Pasti bareng Haejoong, kalian jadi menjenguk Jiyeon?”

“Nde. Rencananya kami akan pergi bersama”

Jiyeon POV

“Oppa, aku bosan keluar yuk” ajakku pada Donghae yang sedang mengupaskan apel untukku. Dia meletakkan pisau dan menyuapkan potongan apelnya.

“Kau belum sehat benar. Nanti saja ya”

“Tapi oppa semakin aku disini semakin aku merasa sendiri”

“Kan ada aku. Kau masih merasa sendiri? Lalu apa gunanya aku disini” tanya Donghae seraya menaikkan alisnya.
Aku menggeleng dan memeluknya, dia tersenyum.

“Changmin-shi, Mavin…” Donghae langsung menengok ke arah pintu.

Donghae POV

Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan mengambil Mavin dari gendongan Donghae. Aku mencium bayi kecilku. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Kau sekarang sudah berusia 6 bulan yah putraku sayang.

“Oppa, aku mau menggendongnya juga” kata Jiyeon.

Aku mendekatkannya pada Jiyeon dan Jiyeon langsung memeluknya. Mavin tertawa kecil saat Jiyeon memeluknya. Jiyeon menangis bahagia.

“Oppa, dia tertawa. Putra kita tertawa” kata Jiyeon senang. Aku mendekat pada Jiyeon, memeluk mereka berdua. Memainkan tangan kecil Mavin.

Aku melirik pada Changmin dan mengucapkan terima kasih dengan lirih. Dia tersenyum dan mengangguk.

Jessica POV

Tuhan, bagaimana ini?

“Periksa kesadaran”

“Ukur tekanan darah”

“Siapkan ruang operasi”

Ya, Tuhan mereka.

Donghae POV

“Panggilan untuk dokter Hwan Hyosoo. Dimohon segera ke resepsionis” terdengar panggilan dari pengeras suara.

Hwan Hyosoo…. Tidak ada Hwan Hyosoo di rumah sakit ini. Jangan-jangan….

“Jiyeon, aku harus pergi” kataku meninggalkan Jiyeon dan Mavin. Segera aku menyambar jas dan berlari ke pintu belakang masuk rumah sakit. Panggilan seperti ini menandakan adanya kecelakaan atau musibah besar, peristiwa semacam ini bisa membuat panik para penghuni rumah sakit karena itu panggilan atas nama dokter yang tidak ada digunakan.

“Dokter Donghae kami telah menyiapkan ruang operasi apa anda siap? Kekurangan dokter maaf membuat anda terpaksa terlibat padahal sedang libur” tanya seorang rekan dari ER.

Aku mengangguk. Suster memanduku menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Semua staf bekerja keras, sekarang jam makan siang dokter banyak yang keluar. Saat berlari menuju ruang operasi dokter-dokter lain yang baru datang berlari ke bagian belakang rumah sakit. Aku lihat Jaejoong dan Hyukjae-hyung juga.
Segera aku mempersiapkan diri membersihkan tangan kaki untuk keperluan operasi. Suster membantuku menggunakan perlengkapan operasi. Masuk ruang operasi aku diberitahu siapa saja personel yang akan membantuku.

Suster Jessica bertugas menyerahkan alat operasi, asisten operasi, dokter anastesi dan semua yang berada disini campuran bagian ER, internist, bedah jantung. Komposisi dadakan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Aku sendiri bertugas sebagai dokter operasi.

“Bagaimana keadaan pasien?”

“Tingkat kesadaran………”
Aku tak mendengarkan penjelasan suster setelah melihat siapa yang berada di hadapanku.

“Dokter Donghae anda tidak apa-apa?” tanya asisten operasi. Dia sudah tahu bahwa sekarang yang akan kami operasi bukan hanya pasien melainkan……

Changmin POV

“Changmin-shi bisa kau lihat kenapa Donghae keluar terburu-buru?” tanya Jiyeon. Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih bermain dengan Jiyeon.

Saat aku ingin bertanya pada seorang suster yang sedang terburu-buru, siaran tv menyita perhatianku.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan lebih dari 10 mobil dan truk. Kecelakaan ini ikut mengulang kecelakaan besar yang terjadi 6 bulan lalu di jalan yang sama. 3 orang meninggal di tempat dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit”

Jalan itu…….. berarti kemungkinan rumah sakit yang dituju Santa Maria Hospital, Seoul National University Hospital, Seoul Hospital…..

Donghwan POV

“Dokter Jungsoo… Nafasnya berhenti” teriak seorang suster.

“Donghwan”

“Lakukan semua yang kita bisa” kataku.

Kau harus bertahan…. Nak, kau harus bertahan.

Letter Of Angel XIII (Is it Love?)

Part I , Part II , Part III,Part IV, Part V, Part VI, Part VII, Part VIII , Part IX,Part X,Part XI, Part XII

Background Song : Sarang Hae Yo (OST. Sassy Girl Chunyang)

“ Oppa, kenapa murung?” tanya IU pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak mendengar apa yang IU katakan.

“Oppa, oppa” panggil IU.

“Ne?” Kyuhyun baru tersadar setel. lah IU menggoyang bahunya.

IU menatap ke dalam mata Kyuhyun. Dia tahu oppanya sedang menghadapi masalah dan bukan masalah kecil. Jelas sekali Kyuhyun terlihat lebih pucat dan matanya lebih sayu dibanding biasanya.

“Oppa kenapa?” tanya IU.

“Nothing” jawab Kyuhyun. IU sudah hafal jika oppanya bersikap demikian berarti dia sedang tak ingin diganggu. IU diam saja menunggu Kyuhyun sendiri yang mengajaknya bicara.

“Oppa, pergi dulu yah. Jangan nakal selama di rumah sakit. Nanti, oppa kembali” kata Kyuhyun. IU hanya memandang oppanya dengan tatapan bingung tak mengerti.

Oppa ada apa?

Donghae POV

“Bisakah anda menerima kasus ini?” tanyaku setelah menjelaskan semuanya ke Changmin.

Changmin terlihat berpikir sejenak, masih menimbang-nimbang apakah akan membantu atau tidak.

“Tuan Lee sebelumnya boleh saya bertanya?” tanya Changmin hati-hati.

“Ne” jawab Donghae.

“Apa hubungan anda, Choi Siwon, dan tentu saja Im Yoona”

Apa yang dia inginkan?

“Tuan Lee, bukankah anda meminta saya menjadi kuasa hukum anda? Bisakah anda percaya pada saya?” tanya Changmin sambil meletakkan tangannya diatas meja.

Apa aku harus cerita yang sebenarnya?

“Saya tak akan memaksa anda cerita, tapi jika memang tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan silahkan keluar dari kantor saya. Masih ada kasus yang harus saya tangani” kata Changmin ringan.

“Tunggu Tuan Shim akan saya ceritakan” kataku akhirnya.

“Saya adalah adik kelas Im Yoona dan Choi Siwon dulu saat masih kuliah di Universitas Seoul” kataku.
Lama aku diam tak tahu harus mulai darimana dan harus apa.

“Miss Aeri, tolong bawakan snack kemari yah” Changmin menelpon sekretarisnya.

Aku sedikit aneh ketika sekretarisnya masuk dan membawa banyak sekali kue kering beraneka jenis dan keripik-keripik untuknya.

“Gamsahamnida” kata Changmin dan tersenyum sumringah.

Sekretarisnya mengangguk dan pamit keluar.

“Kau mau dokter Lee?” tanyanya dan menyorongkan keripik kentang padaku.

Aku menggeleng, tak habis pikir suasana serius seperti ini dai masih sempat ngemil.

“Sunbae, kita bicara informal saja. Ceritakan semua tak masalah, anggap saja sekarang di luar kasusmu. Aku sudah bosan dengan suasana formal tadi tepatnya suasana yang tidak mampu membuat bicara” katanya.

Aku terkesiap, sunbae?

“Aku juga lulusan Universitas Seoul. Jadi, wajar kan aku panggil sunbae. Berarti Choi Siwon dan Im Yoona semua yang terlibat disini adalah sunbaeku” aku mengangguk mengiyakan.

“Kau yakin tak mau?” dia menawarkan keripik kentang yang tinggal sedikit. Aku menggeleng.

“Sunbae, kau bisa cerita atau kita akan tetap bertahan seperti ini sampai semua snackku habis dan waktumu selesai. Satu lagi aku peringatkan kita tak akan bertahan lama dalam posisi ini” Aku memperhatikan snack di atas meja tersebut. Sepertinya kecepatan makannya melebihi orang normal. Baiklah, mulai saja semuanya.

“Aku pernah menyukai Im Yoona dan ……” dia menyelaku.

“Cukup. Aku sudah bisa menebak jalan ceritanya. Kau menyukainya, tapi dia mencintai Choi Siwon dan Choi Siwon menikah dengan wanita lain meninggalkan Yoona yang sedang mengandung. Kemudian, Yoona meninggal dalam kecelakaan kemudian kau mengasuh anaknya”

Gila. Tepat sekali.. Bagaimana dia bisa menebaknya? Aku menatapnya tak percaya.

“Choi Siwon pernah memintaku menjadi kuasa hukumnya. Saat itu aku belum berpikir sejauh itu, tapi karena dokter Jaejoong mengatakan kau butuh bantuanku. Aku mulia mencari informasi mengenai Choi Siwon. Dari berkas yang aku dapat dari kantor pengadilan, aku mendapatkan keterangan mengenai Mavin. Lalu aku mencari keterangan dari rumah sakit Santa Maria dan juga rumah sakit universitas Seoul mengenai ibu Mavin. Layaknya, puzzle aku melengkapi semuanya. Dan potngan terkahir puzzle sudah genap, yakni keteranganmu” aku kaget apa memang seperti ini pekerjaan pengacara? Mencari tahu semua yang berhubungan dengan kasus bahkan hal kecil semacam ini.

“Apa hal pribadi juga termasuk hal yang perlu diketahui?”

“Jangan salah sangka. Aku hanya ingin mengetahui latar belakang kasus saja. Pada dasarnya kasus kalian memang berhubungan dengan urusan pribadi bukan?” tanyanya dengan mimik serius lagi.

“Lalu apa anda bersedia menjadi kuasa hukum saya?” tanyaku to the point.

“Kita coba saja. Sepertinya anda klien yang bisa saya percaya” katanya sambil mengangsurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya dan tersenyum lebar. Aku melangkah meninggalkan kantornya.

“Ohya, dokter Lee. Istri anda saya harap anda juga melibatkannya dalam kasus ini. Anda sudah punya istri kan?” katanya.

Aku berbalik dan mengangguk.

Kyuhyun POV

“Apa maksud semua ini?” teriakku di ruangan rapat.

“Kami tidak tahu, sajangnim Hyundai Corp. serta Hwang Corp. menarik semua pinjaman pada kita. Apa yang harus kita lakukan sajangnim?”

“Beri aku waktu. Besok kita adakan rapat lagi” kataku dan beranjak meninggalkan ruang rapat.
Sekarang yang ingin aku lakukan hanya meminta kejelasan mengenai semua ini. Saat tiba di Hyundai Corp. aku melihat Choi Siwon berbincang dengan istrinya di depan gedung. Mereka sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

“Dengan begini Shim Changmin tak punya pilihan selain membantu kita” kata Tiffany, istri Choi Siwon.

“Tapi apa tidak keterlaluan menarik dana dari Kyu Corp. Mereka rekanan appa dan abeoji sejak lama. Kita tak bisa lakukan ini” Siwon meyakinkan Tiffany. Tiffany menggeleng.

“Aku butuh putra kita dan aku tak peduli harus melakukan cara kotor sekalipun” tegas Tiffany.
Siwon terdiam, dia bingung mau bilang apa.

“Chagiya, kita bicarakan ini di rumah yah. Saranghae” Tiffany mengecup pipi Siwon dan masuk ke dalam mobil.
Putra? Changmin? Apa maksudnya semua ini?

Aku urungkan niatku dan mencoba menenangkan pikiranku.
————————————————–
Jaejoong POV

“Aiishhh… Yuri. Jadwalku padat sekali. Ayolah, jangan bertingkah seperti anak-anak Mrs. Kim” kataku pada Yuri yang tengah duduk di depanku.

“Oppa, yah. Please” mohon Yuri dengan puppy eyes dan menangkupkan dua tangannya.

Kalau sudah begini susah. Haruskah ditolak…. Menimbang sejenak akankah aku menemani Yuri datang ke pesta pembukaan kantor cabang baru di Gwangju.

“Baiklah, tapi setelah semua pasien selesai aku periksa. Ottokae?”

“Ye” jawab Yuri senang dan satu lagi lama-lama dia mirip Haejoong eh apa Haejoong mirip dia yah. Selalu membuntuti di belakangku.

Aku memeriksa pasien satu persatu dan sekarang tiba giliran di kamar Lee Jieun. Aku melihat kekasihnya, Pengacara Shim Changmin sedang mengobrol dengan kakak Jieun.

“Sore” sapaku.

Kedua namja itu berdiri dan membungkuk padaku.

“Uisa, mau memeriksa IU?” tanya kakak IU yang aku sendiri lupa siapa namanya.

“Ne” aku mengangguk.

“Silahkan” katanya.

“Oppa, kenapa meninggalkanku” Yuri menepuk bahuku.

“Kau lama sekali sih” kataku. Shim Changmin dan namja itu tersenyum melihat Yuri.

“Yuri, aku akan memeriksa keadaan Lee Jieun dulu yah” kataku. Yuri mengangguk, aku masuk ke ruang inap Jieun dan diikuti Changmin dan kakak Jieun.

Jiyeon POV

“Oppa, Mavin dimana?” tanyaku pada Donghae.

“Mavin bersama Jaejoong hyung dan Yuri noona. Mereka bilang sekarang mereka di Gwangju untuk pembukaan kantor cabang perusahaan Yuri noona yang baru” jawabku.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Kami masih sangat canggung, semuanya jadi aneh. Tak tahu harus bilang apa.

“Jiyeon soal perkataanku kemarin. Aku serius” kata Donghae sambil berjalan meninggalkanku.
Aku masih tertegun dan tak terasa air mata mengalir membasahi wajahku.

Aku tak akan meninggalkanmu…….

Aku hapus cepat air mataku dan berlari menaiki tangga memeluk Donghae dari belakang.

“Oppa, saranghae” kataku membenamkan wajahku di puanggungnya. Bahuku bergetar hebat dan kembali menangis. Kami berada di posisi ini tanpa melakukan apapun.

Donghae POV

Jiyeon memelukku dari belakang membuatku sedikit kaget.

“Oppa, saranghae” katanya. Aku tak mampu mengatakan apapun, aku tak bisa menjawabnya. Aku masih belum 100 % yakin dengan perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintainya atau apa. Kami hanya terdiam dan berada dalam hening. Yang terdengar hanya isakan Jiyeon disela tangisannya.

saranghaeyo dashi shija-khaeyo
himdul-geman-haet-don kudae-ji-man
I love my friend no animyon an-dwae
uri sarangun chong-hae-jyo-bori-nun-myo-ngin-gol

chigum-chorom-man sarang-hae-yo dashi shija-khae-yo
himdul-geman haet-don kudae-jiman
I love my friend no-animyon an-dwae
modun gol it-go haeng-bo-kha-geman hae-julkke

I love you, I’ll start again
You may be hard on me, but
I love my friend
It has to be you
Our love had already been decided by fate

It was so hard for you that you cried
Now I’ll repay you with all of myself
That smile of yours gives me joy
Now I look that way too

Siwon POV

“Yoboseyo, Cho Kyuhyun ini aku Choi Siwon. Aku ingin bertemu denganmu. Restaurant Lumiere 1 jam lagi” kataku dan menutup telponku. Aku hanya ingin bertemu empat mata dengan Kyuhyun.

Bagaimanapun tindakan Tiffany benar-benar kelewatan. Aku tak bisa membiarkannya menghancurkan Cho Corp.

Tak lama sejak aku tiba, Kyuhyun pun datang dan mengambil kursi di depanku.

“Ada urusan apa anda memintaku menemui anda?” tanya Kyuhyun. Dari nada suaranya aku yakin dia tidak senang.

“Langsung saja. Aku minta maaf Choi Corp. dan Hwang Corp. menarik bantuan dana dari Cho Corp. Aku sangat menyesal melibatkanmu dalam masalah ini” kataku.

“Tidak masalah buatku yang aku perlukan hanya alasan kenapa kalian melakukannya. Kami sudah mematuhi semua kontrak dan bekerja secara professional. Adakah alasan yang bisa anda berikan terkait keputusan sepihak ini?” tanya Kyuhyun.

“Shim Changmin. Aku membutuhkannya sebagai kuasa hukumku untuk…….”

“Menangani kasus? Begitukah? Anda licik sekali. Anda menghancurkan Cho Corp. dan berniat menekan Shim Changmin begitukah?” kata Kyuhyun sambil menggebrak meja.

“Tenang. Aku bisa jelaskan” kataku berusaha meredam kemarahan Kyuhyun.

“Istriku berpikir kalau Changmin akan menyerah ketika mengetahui Cho Corp. berada dalam kesulitan dan…..” dia kembali menyelaku.

“Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Tuan Choi. Anda boleh menarik semua bantuan anda. Dan saya peringatkan anda jangan pernah memanfaatkan perasaan orang lain untuk mendapatkan apa yang anda inginkan” kata Kyuhyun.

Sedikit kurang mengerti apa yang Kyuhyun katakan. Dia kembali berbalik

“Shim Changmin adalah calon adik iparku. Tak akan aku biarkan anda mengintimidasinya dengan memanfaatkan perasaannya” kata Kyuhyun tegas dan meninggalkanku.
————————————————————————————————————

“Katakan pada Choi Siwon tidak ada hubungan antara kasus ini dengan Cho Corp.” teriak Changmin dari dalam kantornya.

“Kalian memang…” Changmin tidak melanjutkan perkataannya dan memilih menutup telponnya. Changmin mengenakan jas yang berada di kursinya dan berjalan ke luar ruangan.

“Batalkan janjiku dengan klien pindahkan jadi lusa dan tolong urus semua file untuk persidangan minggu depan. Aku ingin ke rumah sakit” kata Changmin pada sekretarisnya.

Sekretarisnya mengangguk. Changmin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sekarang pikirannya benar-benar kacau.

Jika anda tidak membantu kami maka kami pastikan Cho Corp. akan collapse

Changmin bergegas turun dari mobil dan menuju kamar IU.

“Oppa, tumben datang jam segini. Tidak sibuk kah?” tanya IU. Changmin tak menghiraukan pertanyaan IU dan memilih duduk di samping ranjang IU dan menatapnya lekat.

IU menyadari ada yang tidak beres dengan kekasihnya. IU menyentuh pipi Changmin lembut.

“Gwencanayo?” tanya IU, Changmin hanya menggeleng dan menaruh tangannya di atas tangan IU yang memegang pipinya.

“Mianhae” kata Changmin sambil menunduk.

“Oppa, tell me what did happen? Why did you say sorry? You never made false” kata IU tegas.

Changmin menatap mata IU lekat dan sekejap kemudian dia memeluk IU.

“I’ll always protect you. I won’t let tears falling down on your face. Everything I do, even If I must ignore principe as

“Saranghae, Lee Jieun” Meski bingung IU pun menjawab.

“Nado saranghae Shim Changmin”

Mereka berpelukan cukup lama. Hingga ponsel Changmin pun berdering dan memaksa Changmin melepaskan pelukannya.

Changmin melihat seklias nama yang tertera di layar ponsel. Dia berdiri dari tepi ranjang dan berjalan keluar.

“Anda janji Choi Corp. dan Hwang Corp. tidak akan menarik dana dari Cho Corp jika saya bersedia menjadi kuasa hukum Tuan Choi. Baiklah, kalau begitu saya …..” Belum selesai kalimat itu dia ucapkan. Seseorang merebut ponselnya.

“Meski perusahaanku collapse, aku tak peduli. Katakan pada Tuan Choi Siwon kalau Cho Kyuhyun bisa menjalankan perusahaannya tanpa bantuan dana dari kalian” ujar Kyuhyun berapi-api.

“Hyung…..” Changmin tak percaya dengan perkataan Kyuhyun.

“Pabo, untung saja aku tidak terlambat, kau ini. Kenapa tak bilang mereka mengancammu hah? “ kata Kyuhyun sambil menoyor kepala Changmin.

Changmin hanya mendengus kesal dan memegangi kepalanya.

“Hyung, mianhae. Hanya saja aku tak ingin membuatmu mendapat masalah karena kasus yang akan aku tangani. Hyung, mianhae” kata Changmin menyesal.

“Sejak kapan kau memanggilku hyung?” Kyuhyun terkekeh dan berusaha mencairkan suasana.

Changmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang lebih tua beberapa bulan dibanding Kyuhyun, tapi karena dia menyukai adik tiri Kyuhyun. Maka, entah kenapa dia bersedia memanggil Kyuhyun yang notebene salah satu kliennya dengan sebutan hyung.

“Jadi hyung sudah tahu?” tanya Changmin.

“Aku hanya tahu kau entahlah aku rasa kau diancam Choi Siwon dengan memanfaatkan Cho Corp. Sisanya aku tak tahu dan aku harap kau ceritakan kasus itu” ucap Kyuhyun dengan penekanan pada kalimat terakhir.

Changmin menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya. Kyuhyun menghela nafas sambil mendengarkan cerita Changmin. Tak habis pikir kenapa Choi Siwon yang terkenal terhormat itu menggunakan cara licik seperti ini.

“Lalu apa tindakan hyung selanjutnya?” tanya Changmin.

“Maksudmu mengenai perusahaan? Entahlah aku belum berpikir sejauh itu” jawab Kyuhyun sekenanya.

“Mianhae” tunduk Changmin.

“Hei kau ini kenapa? Shim Changmin sang Pangeran Meja Hijau kenapa jadi selemah ini. Ayolah, jangan khawatir. Aku pasti menemukan cara lain. Percayalah, tenang saja” jawab Kyuhyun bersemangat.

Pandangan Kyuhyun dan Changmin beralih pada suster yang ribut karena berita di televisi. Mereka memang sedang berada di ruang tunggu rumah sakit.

“Wowh… Tak aku sangka istri dokter Jaejoong semakin sukses saja. Lau Group itu punya anak kedokteran yang kesini itu bukan sih” kata seorang suster.

“Iya… itu dia Henry Lau” kata suster lain menanggapi.

Nishishima Group dan Lau Group dua perusahaan berskala internasional kembali memperluas jaringannya dengan membuka perusahaan cabang baru di Gwangju sebagai salah satu kantor bersama. Pembukaan ini dihadiri oleh banyak orang penting di Korea Selatan, Jepang, dan beberapa pengusaha internasional termasuk Menteri Perdagangan dan Menteri Perhubungan Republik Korea Selatan.

“Lihat dokter Jaejoong dan istrinya. Wah… wah…” kata suster lain.

Kyuhyun dan Changmin langsung melihat ke arah tv yang dipasang di atas ruang tunggu.

“Sepertinya aku sudah mendapat ide Changmin” kata Kyuhyun tersenyum senang.

“Mwo?? Apa?” tanya Changmin. Kyuhyun menunjuk pada layar televisi.

Changmin sedikit bingung dan bertanya.

“Apa?” tanya Changmin.

“Lihat saja nanti” seringai Kyuhyun dan berdiri meninggalkan Changmin. Kyuhyun berbalik sejenak.

“Titip IU yah adik ipar” ujar Kyuhyun dan melambaikan tangannya pada Changmin.

Changmin tersenyum penuh makna mendengar kata-kata Kyuhyun.

Donghwan POV

“Eumma, bagaimana masih berniat memisahkan mereka berdua?” tanyaku pada eumma yang melihat pemandangan Jiyeon yang memeluk Donghae dari belakang.

“Aku rasa ini sudah cukup” kata eumma dan memintaku mendorong kursi rodanya keluar dari rumah Donghae.

Junsu POV

“Sajangnim, kasus Lee Donghae dan Choi Siwon akan semakin menarik” kata seorang karyawan.

“Maksudmu?” aku tidak mengerti.

“Shim Changmin, sang Pangeran Meja Hijau menelpon dan mengatakan dia adalah kuasa hukum Lee Donghae”

Sepertinya akan sangat menarik….. Tak aku sangka mereka mampu membuat Shim Changmin membantu mereka.

“Saya dengar yang akan menjadi hakim dalam kasus kali ini adalah Choi Seunghun”
Aku sedikit terlonjak.

“Kau yakin?” tanyaku berusaha memastikan.

“Iya, sajangnim” jawabnya.

Jaejoong, sekarang tidak ada lagi istilah keberuntungan. Prince of Court, Cool Blood Judge…. Semua sekarang adalah soal hukum dan aturan. Aku harap temanmu berada dalam lindungan hukum.

%d bloggers like this: